Select Page

Banyak suami, bahkan dari kalangan thullaabul ‘ilmi yang kurang merasa cemburu jika istrinya kedapatan banyak haha-hihi dengan lelaki lain. Malah yang lebih parah, suami-suami ini ikut nimbrung dengan asyiknya cengengesan bersama lelaki bukan mahram itu dan istrinya sendiri di muka publik. Di mana cemburu yang syar’i itu berada? Cemburu memang ada yang syar’i dan tidak (cemburu buta). Sebagian orang berkata, cemburu itu tanda benar-benar cinta [?].

Maka, seorang suami khususnya tidak boleh menjadi dayyuts yang tidak memiliki kecemburuan (ghiirah) ketika istrinya melakukan tindakan yang melanggar syariat dan melakukan maksiyat!

Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثَةٌ لاَ يَنْظُرُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: الْعَاقُّ لِوَالِدَيْهِ وَالْمَرْأَةُ الْمُتَرَجِّلَةُ وَالدَّيُّوْثُ

Ada tiga golongan yang tidak akan dilihat oleh Allah pada hari kiamat nanti, yaitu orang yang durhaka kepada kedua orangtuanya, perempuan yang menyerupai laki-laki, dan Ad-Dayyuts . . . “ (HR. An-Nasa’i)

Dayyuts adalah seorang lelaki yang tidak memiliki rasa cemburu, sehingga dia membiarkan keluarganya melakukan tindakan keji; maksiat dan melanggar syariat.

Memiliki kecemburuan yang syar’i (ketika cemburu itu ada landasannya, bukan hanya cemburu buta) tidak lalu kita bisa seenaknya bersu’uzhzhan kepada pasangan; memata-matai pasangan; mencari aib pasangan;penuh curiga dan tuduhan terhadap pasangan tanpa DASAR dan indikasi apapun. Jika memang salah satu pasangan harus menjaga rahasia yang telah diamanahkan oleh seseorang, maka wajib baginya untuk menjaganya bahkan terhadap pasangannya sendiri, kecuali jika yang memberi amanah ridha ketika yang dititipi amanah memberitahukan kepada pasangannya.

Sebagian pasangan mengambil prinsip “Akunmu akunku…inboxmu inboxku” (apa yang ada di akunmu, inboxmu, termasuk HP mu… aku boleh membukanya dan akupun mengetahui apa yang ada di dalamnya. Tidak ada rahasia di antara kita)…ya tidak apa-apa , jika memang berdasarkan keridhaan masing-masing, kecuali pada hal yang memang harus menjadi rahasia pribadi yang sudah dititipkan pemberi amanah itu tadi.

Maka, taatilah perintah Allah tatkala Dia berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا…

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (Qs. At-Tahriim: 6).

***

Penulis: Ummu Yazid Fatihdaya Khoirani

Sumber