Do’a Agar Setiap Urusan Berakhir dengan Baik

Do’a Agar Setiap Urusan Berakhir dengan Baik

Sahabat Busr bin Abi Artha’ah radhiallahu’anhu pernah mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah berdoa:

 

اللَّهمَّ أحسِنْ عاقبتَنا في الأمورِ كلِّها ، وأجِرْنا من خِزيِ الدُّنيا وعذابِ الآخرةِ

allahumma ahsin ‘aaqibatanaa fil umuuri kulliha wa ajirnaa min khizyid dunyaa wa ‘adzaabil aakhiroh

Ya Allah, jadikan segala urusan kami berakhir dengan baik. Dan lindungi kami dari bencana dunia dan azab akhirat

[HR. Ahmad IV/181, Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid XX/178 berkata: ‘Para periwayat hadits ini adalah orang-orang yang terpercaya’]

Sumber

Amalan Paling Utama Sebelum Menunaikan Sholat

Amalan Paling Utama Sebelum Menunaikan Sholat

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz pernah ditanya:

تجديد الوضوء هل هو أفضل, أو الاعتكاف في مسجد, أو قراءة القرآن, أو تصلي السنة, أيهما أولى في هذه الأمور قبل إقامة الصلاة؟

Manakah amalan yang lebih utama sebelum melaksanakan shalat fardhu? Apakah memperbarui wudhu, i’tikaf di masjid, membaca al-Quran atau melaksanakan shalat sunnah?

Beliau rahimahullah menjawab:

تجديد الوضوء مستحب إذا كان قد توضأ سابقاً إذا جدد فهو أفضل ولا يلزمه تجدد الوضوء, والسنة أن يتقدم إلى الصلاة والجلوس في المسجد ينتظر الصلاة فيه خير عظيم, وإذا سمي اعتكاف فلا بأس؛ لأن اللبث في المسجد يسمى اعتكاف إذا نوى اعتكافاً عند انتظاره الصلاة أو الجلوس في المسجد يقرأ هذه قربة إلى الله-جل وعلا- فالمؤمن يتقرب إلى الله بما شرع فإذا قصد مسجد أن يقرأ فيه ويتعبد, ويصلي ونواه اعتكافا سواء ساعة أو ساعتين, أو يوم, أو يومين كله لا بأس, ولكن عليه أن يحافظ على الصلاة في جماعة في أوقاتها, ويحذر التخلف عن ذلك، وإذا أراد تجديد الوضوء إذا توضأ للظهر وأراد أن يجدد للعصر أو المغرب هذا أفضل, وإن صلى بالوضوء السابق فلا حرج

Memperbaharui wudhu dianjurkan jika orang yang melakukannya telah berwudhu sebelumnya. Jika ia memperbarui wudhu hal itu lebih utama, namun perkara tersebut tidaklah wajib. Dianjurkan bersegera (menuju masjid) untuk melaksanakan shalat dan duduk di dalamnya dalam rangka menunggu pelaksanaan sholat. Sebab padanya terdapat kebaikan yang besar. Tidak mengapa jika duduk di masjid tersebut dinamakan i’tikaf. Karena berada di dalam masjid pun bisa disebut i’tikaf jika diniatkan seperti itu sambil menunggu sholat atau duduk di dalam masjid sembari membaca al-Qur’an. Ini merupakan bentuk pendekatan diri kepada Allah Jalla wa ‘Alaa.

Seorang mukmin mendekatkan dirinya kepada Allah dengan amalan yang Allah syari’atkan. Apabila ia bermaksud mendatangi masjid untuk membaca al-Qur’an di dalamnya, beribadah, melaksanakan sholat dan ia meniatkannya sebagai i’tikaf, baik itu satu jam atau dua jam, sehari atau dua hari, seluruhnya adalah perkara baik. Akan tetapi wajib baginya menjaga shalat berjamaah pada waktu-waktunya serta berhati-hati dari meninggalkannya. Jika ia ingin memperbarui wudhunya, misalnya ia telah berwudhu untuk shalat Dzuhur, kemudian ia ingin memperbarui wudhunya untuk shalat Ashar atau shalat Maghrib, maka hal ini lebih utama. Namun jika ia sholat dengan wudhu yang sebelumnya maka tidak mengapa.

Dari fatwa ini, kita dapat mengetahui kearifan ulama, di mana mereka memberikan motivasi bagi umat untuk beramal shalih yang mustahab sebanyak dan sebaik mungkin, namun tetap mengutamakan perkara wajib. Karena menjaga hal wajib, meskipun tampak sedikit, jauh lebih utama dibandingkan memperbanyak yang sunnah, betapapun jumlahnya banyak.

Demikian hendaknya seorang muslim yang cerdas menyikapi waktu dan kesempatannya beramal. Ia memprioritaskan hal-hal yang wajib baginya, kemudian sunnah-sunnah yang utama, kemudian yang di bawahnya, sesuai dengan kondisi dan keadaannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam salah satu hadits qudsi:

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ

Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepadaKu dengan sesuatu yang lebih Aku cintai melainkan dengan apa-apa yang telah Aku wajibkan kepadanya” (HR. Bukhari no. 6502).

Mengenai hadits ini, Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad hafizhahullahu menjelaskan bahwa mendekatkan diri kepada Allah dengan menunaikan perkara wajib lebih dicintai di sisi Allah dibandingkan perkara-perkara yang sifatnya sunnah. Karena padanya terkandung pelaksanaan amalan yang Allah wajibkan dan meninggalkan apa yang Allah haramkan.

Orang yang melaksanakan kewajiban dan meninggalkan yang diharamkan disebut sebagai muqtashid. Barangsiapa melakukan hal tersebut dan mengiringinya dengan amalan-amalan sunnah maka dialah yang termasuk “as-sabiqu bil khairat” (yang berlomba-lomba dalam kebaikan).

Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita semua termasuk golongan hamba-Nya yang senantiasa berlomba dalam melakukan kebaikan dan ketaatan.


Penyusun: Ummu Qanita
Muraja’ah: Ustadz dr. Raehanul Bahraen
Rujukan: http://www.binbaz.org.sa/mat/20435

Sumber

Golongan Yang Manakah Kita

Golongan Yang Manakah Kita

Betapa beragamnya sifat dan karakter manusia. Dan menilai orang lain adalah lebih mudah daripada menilai diri sendiri. Karena orang lain terpampang di hadapan kita, sedangkan yang menempel di badan kita tidak terpampang, kecuali bila kita bercermin.

Ada beberapa orang yang sering keluar rumah dengan baju terbalik, namun ia tidak merasa, dan orang-orang yang berpapasan dengannya memandangnya dengan pandangan aneh, maka bila ia ditegur niscaya ia akan segera membenahinya, atau ada juga yang cuek-cuek saja. Pantaslah bila khalifah Umar bin Khattab berkata:

رَحِمَ اللَّهُ مَنْ أَهْدَى إليَّ عُيُوبِي

Semoga Allah merahmati orang yang menghadiahkan (menampakkan) padaku aib-aibku“.

Dengan teguran atau kritikan, seorang hamba akan lebih mudah mengetahui kekurangan dirinya, dan dengannya pula ia dapat memperbaiki kekurangannya itu.

Namun tidak semua orang bisa menerima kritikan atau teguran dengan lapang dada, maka di bawah ini ada satu pertanyaan dan beberapa coretan untuk mengenali diri kita, mengkritisi sifat dan karakter diri sendiri, yang disadur dari perkataan Ibnul Qayyim dalam kitabnya al Fawaid hal 155 , semoga dengan itu kita bisa berbenah diri.

Termasuk golongan manakah anda ? Golongan A atau golongan B ?

Golongan A :

  • Bertambah ilmunya, bertambah ketawadhu’annya, bertambah kasih sayangnya.
  • Bertambah amal kebajikannya, bertambah ibadahnya, bertambah kebaikannya, bertambah pula rasa takut dan kehawatirannya. Takut amalannya tidak diterima. Khawatir ada dosa-dosa tersembunyi yang dapat menggugurkan amalannya. Takut tidak ikhlas atau terselip niat lain ketika melakukannya. Takut kuantitasnya yang banyak itu ternyata tidak berkwalitas di timbangan akhirat.
  • Bertambah umurnya, maka berkuranglah ambisi duniawinya. Semakin zuhud hidupnya, semakin berhati-hati dalam urusan halal haram, karena ia yakin sisa umurnya tidaklah banyak, dan semuanya akan ia tinggal.
  • Bertambah hartanya maka bertambah pula derma dan sedekahnya. Semakin mudah uang itu terlepas dari tangannya, semakin banyak fakir miskin yang dibantunya, semakin jarang menolak pengemis.
  • Bertambah kedudukannya dan jabatannya; bertambah kedekatannya kepada manusia dan keterbukaannya membantu menyelesaikan urusan mereka, dan berendah hati di hadapan mereka.

Golongan B

  • Bertambah ilmunya, bertambah pula kecongkakannya dan kesombongannya. Semakin alim, semakin meremehkan orang lain, merendahkan mereka. Semakin banyak buku yang dibaca, semakin merasa orang yang paling hebat.
  • Bertambah amal kebaikannya; semakin bertambah kebanggaannya, seakan hanya ia yang bakal masuk surga, dialah orang yang paling ahli ibadah dan orang lain tidaklah seperti dirinya. Seakan hanya dia yang shalat di malam hari, dan orang lain nyenyak dalam tidurnya.
    Seakan hanya dia yang puasa senin kamis, sedang orang lain sibuk dengan makanan dan minumannya.
  • Bertambah umurnya, semakin bertambah ambisinya. Seakan ia tidak akan mati, tambah tua tambah jadi. Siang malam dunia dan harta yang dipikirkannya.
  • Bertambah hartanya, bertambah pula kekikirannya. Selalu perhitungan ketika berderma, selalu berpikir panjang ketika ada yang perlu dibantu.
    Semakin sulit mengeluarkan isi dompetnya, seakan lengket di kantongnya dengan lem besi.
  • Bertambah kedudukannya dan jabatannya bertambah, pula kesombongannya, tidak mudah membantu orang, bahkan semakin sulit untuk dijumpai.

Setiap pribadi seharusnya mengenali sifat-sifat dan kepribadiannya, bila ia termasuk golongan yang pertama, maka bersyukurlah atas karunia Allah Ta’ala dan rahmat-Nya, karena itu adalah tanda-tanda kebahagian dan kesuksesan baginya di dunia dan kelak di surga yang abadi.

Dan bila termasuk golongan yang kedua, maka bersegerahalah beristighfar dan meminta petunjuk dari Allah Ta’ala agar dapat merubah diri, karena hal itu adalah tanda-tanda kesengsaraannya di dunia, menuju kesengsaraan di dalam siksaan neraka.

Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita dari golongan yang pertama … Amiin !

Penulis: Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah Lc., MA.

Sumber

3 Jalan Memperbaiki Diri

3 Jalan Memperbaiki Diri

Manusia setiap hari membuat dosa dan kesalahan, yang jika terus menumpuk akan merusak jiwanya. Akan tetapi Allah subhanahu wa ta’ala dengan kasih sayang-Nya, telah memberikan jalan bagi kita untuk memperbaiki diri kita di hadapan-Nya, dengan menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat kita.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitahukan jalan untuk memperbaiki diri kita, yaitu di antaranya adalah tiga amalan dalam sabdanya :

أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللهُ بِهِ الْخَطَايَا، وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟ ” قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: “إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ، وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ، وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ

Maukah kalian aku beritahukan amalan yang dengannya akan menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat? Para sahabat menjawab : mau wahai Rasulullah. Beliau bersabda : menyempurnakan wudhu di saat yang sulit, banyak melangkah menuju masjid, dan menunggu sholat setelah sholat, itulah ribath (perjuangan)” (HR.Muslim).

Itulah tiga jalan untuk memperbaiki diri kita, menghapus dosa-dosa kita, mengangkat derajat kita di sisi Allah.

Pertama, berwudhu di saat yang berat, misalnya setiap kali hendak tidur atau waktu lainnya, dan bahkan setiap kali batal wudhu disunnahkan untuk memperbaharui wudhu kita.

Kedua, banyak melangkah menuju masjid, yaitu senantiasa menghadiri shalat berjamaah di masjid, khususnya bagi kaum pria.

Ketiga, menunggu sholat setelah sholat, misalnya setelah sholat Maghrib berjamaah tetap duduk berdzikir atau berdoa atau kajian ilmu sambil menunggu didirikannya sholat Isya.

Inilah 3 jalan yang memperbaiki keadaan diri kita. Mari kita tempuh 3 jalan tersebut dengan penuh kesungguhan, karena membutuhkan perjuangan berat melawan malas dan lemahnya jiwa.

Mudah-mudahan Allah memberikan taufiq-Nya kepada kita agar dapat mengamalkan ketiganya.. aamiin

***

Penulis: Ustadz Askar Wardhana, Lc.

Sumber: https://muslim.or.id/29480-3-jalan-memperbaiki-diri.html

Penjelasan Hadits “Mintalah Fatwa pada Hatimu”

Penjelasan Hadits “Mintalah Fatwa pada Hatimu”

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

يَا وَابِصَةُ اسْتَفْتِ قَلْبَكَ وَاسْتَفْتِ نَفْسَكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ الْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي النَّفْسِ وَتَرَدَّدَ فِي الصَّدْرِ وَإِنْ أَفْتَاكَ النَّاسُ وَأَفْتَوْكَ

Wahai Wabishah, mintalah fatwa pada hatimu (3x), karena kebaikan adalah yang membuat tenang jiwa dan hatimu. Dan dosa adalah yang membuat bimbang hatimu dan goncang dadamu. Walaupun engkau meminta fatwa pada orang-orang dan mereka memberimu fatwa” (HR. Ahmad no.17545, Al Albani dalam Shahih At Targhib [1734] mengatakan: “hasan li ghairihi“).

Apa maksud “minta fatwa pada hati“? Kalau seseorang dalam hatinya merasa shalat itu tidak nyaman, sulit, capek, lalu akhirnya boleh tidak shalat? Kalau seorang wanita minta fatwa pada hatinya lalu hatinya mengatakan tidak usah pakai jilbab, lalu kemudian boleh tidak pakai jilbab? Apakah patokan benar-salah itu hati atau perasaan?

Demikianlah hadits ini jika dipahami serampangan akan menimbulkan pemahaman yang keliru.

Wajibnya mengikuti dalil, bukan perasaan

Ketika dihadapkan pada suatu pilihan antara benar dan salah, seorang Muslim wajib mengikuti dalil, bukan mengikuti perasaan. Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu” (Qs. Muhammad: 33).

Ia juga berfirman:

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَإِنَّمَا عَلَى رَسُولِنَا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang” (Qs. At Taghabun: 12).

Allah Ta’ala juga berfirman:

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An Nisa: 59).

Ayat-ayat ini menegaskan wajibnya kita sebagai hamba Allah untuk mengikuti dalil, yaitu firman Allah dan sabda Rasul-Nya. Syaikh Abdurrahman As Sa’di menjelaskan: “Allah Ta’ala memerintahkan kaum mu’minin dengan suatu perkara yang membuat iman menjadi sempurna, dan bisa mewujudkan kebahagiaan bagi mereka di dunia dan akhirat, yaitu: menaati Allah dan menaati Rasul-Nya dalam perkara-perkara pokok agama maupun dalam perkara cabangnya. Taat artinya menjalankan setiap apa yang diperintahkan dan menjauhi segala apa yang dilarang sesuai dengan tuntunannya dengan penuh keikhlasan dan pengikutan yang sempurna” (Taisir Karimirrahman, 789).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menyatakan, “sudah menjadi kewajiban bagi setiap hamba dalam agamanya untuk mengikuti firman Allah Ta’ala dan sabda Rasul-Nya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam, dan mengiktuti para Khulafa Ar Rasyidin yaitu para sahabat sepeninggal beliau, dan juga mengikuti para tabi’in yang mengikuti mereka dengan ihsan” (Fathu Rabbil Bariyyah, 7).

Penjelasan para ulama

Lalu bagaimana dengan hadits di atas? Apakah menunjukkan bahwa perasaan itu bisa menentukan benar dan salah? Kita lihat bagaimana para ulama menjelaskan hadits ini.

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini tidak berlaku pada semua orang dan semua keadaan, melainkan sebagai berikut:

1. Berlaku bagi orang yang shalih, bukan pelaku maksiat yang hatinya kotor

Orang yang shalih, yang hatinya bersih dan masih di atas fitrah, akan resah dan bimbang hatinya ketika berbuat dosa. Maka hadits ini berlaku bagi orang yang demikian, sehingga ketika orang yang sifatnya demikian melakukan sesuatu yang membuat hatinya resah dan bimbang, bisa jadi itu sebuah dosa.

Al Munawi mengatakan:

(استفت نفسك) المطمئنة الموهوبة نورا يفرق بين الحق والباطل والصدق والكذب إذ الخطاب لوابصة وهو يتصف بذلك

“‘mintalah fatwa pada hatimu‘, yaitu hati yang tenang dan hati yang dikaruniai cahaya, yang bisa membedakan yang haq dan yang batil, yang benar dan yang dusta. Oleh karena itu disini Nabi berbicara demikian kepada Wabishah yang memang memiliki sifat tersebut” (Faidhul Qadir, 1/495).

Wabishah bin Ma’bad bin Malik bin ‘Ubaid Al-‘Asadi radhiallahu’anhu, adalah seorang sahabat Nabi, generasi terbaik yang diridhai oleh Allah. Beliau juga dikenal ahli ibadah dan sangat wara’. Maka layaklah Nabi bersabda ‘mintalah fatwa pada hatimu‘ kepada beliau.

Ibnu Allan Asy Syafi’i mengatakan:

قال: استفت قلبك) أي اطلب الفتوى منه، وفيه إيماء إلى بقاء قلب المخاطب على أصل صفاء فطرته وعدم تدنسه بشىء من آفات الهوى الموقعة فيما لا يرضى، ثم بين نتيجة الاستفتاء وأن فيه بيان ما سأل عنه

“Sabda beliau ‘istafti qalbak‘, maknanya: mintalah fatwa pada hatimu. Ini merupakan isyarat tentang keadaan hati orang yang ajak bicara (Wabishah) bahwa hatinya masih suci di atas fitrah, belum terkotori oleh hawa nafsu terhadap sesuatu yang tidak diridhai Allah, lalu Nabi menjelaskan buah dari meminta fatwa dari hati yang demikian, dan bahwasanya di sana ada jawaban dari apa yang ia tanyakan” (Dalilul Falihin, 5/34).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan:

وهذا فيمن نفسه مطمئنة راضية بشرع الله. وأما أهل الفسوق والفجور فإنهم لا يترددون في الآثام، تجد الإنسان منهم يفعل المعصية منشرحاً بها صدره والعياذ بالله، لا يبالي بذلك، لكن صاحبَ الخير الذي وُفق للبر هو الذي يتردد الشيء في نفسه، ولا تطمئن إليه، ويحيك في صدره، فهذا هو الإثم

“Ini berlaku bagi orang yang jiwanya baik dan ridha terhadap syariat Allah. Adapun orang fasiq (yang gemar melanggar syariat Allah) dan fajir (ahli maksiat) mereka tidak bimbang dalam melakukan dosa. Engkau temui sebagian orang ketika melakukan maksiat mereka melakukannya dengan lapang dada, wal ‘iyyadzu billah. Maka ini tidak teranggap. Namun yang dimaksud di sini adalah pecinta kebaikan yang diberi taufik dalam kebaikan yang resah ketika melakukan kesalahan, hatinya tidak tenang, dan sesak dadanya, maka ketika itu, itulah dosa”(Syarah Riyadish Shalihin, 3/498-499).

Maka jika kita tahu bahwa diri kita masih sering melakukan maksiat, sering melanggar ajaran Allah, sering meremehkan ajaran agama, sering ragu terhadap kebenaran ajaran agama, jangan ikuti kata hati kita. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan:

إذا علمت أن في نفسك مرضاً من الوسواس والشك والتردد فيما أحل الله، فلا تلتفت لهذا، والنبي عليه الصلاة والسلام إنما يخاطب الناس، أو يتكلم على الوجه الذي ليس فيه أمراض، أي ليس في قلب صاحبه مرض

“Jika engkau mengetahui bahwa hatimu itu penuh penyakit, berupa was-was, ragu, dan bimbang terhadap apa yang Allah halalkan, maka jangan ikuti hatimu. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam di sini berbicara kepada orang yang di hatinya tidak ada penyakit hati”(Syarah Riyadish Shalihin, 3/499)

2. Berlaku bagi orang yang memiliki ilmu agama

Orang yang memiliki ilmu agama mengetahui yang halal dan yang haram. Mengetahui batasan-batasan Allah. Mengetahui hak-hak Allah dan hak-hak hamba. Maka dengan ilmu yang miliki tersebut tentu ia akan merasa tidak tenang jika melakukan sesuatu yang melanggar ajaran agama. Berbeda dengan orang yang jahil yang tidak paham agama, tidak paham hak-hak Allah dan hak-hak hamba, ketika melakukan kesalahan dan dosa ia merasa biasa saja atau bahkan merasa melakukan kebenaran.

Abul Abbas Dhiyauddin Al Qurthubi mengatakan:

استفت قلبك وإن أفتوك . لكن هذا إنما يصج ممن نوَّر الله قلبه بالعلم ، وزين جوارحه بالورع ، بحيث يجد للشبهة أثرًا في قلبه . كما يحكى عن كثير من سلف هذه الأمَّة

“‘mintalah fatwa pada hatimu, walaupun orang-orang memberimu fatwa‘. ini hanya berlaku bagi orang diberi cahaya oleh Allah berupa ilmu (agama). Dan menghiasi raganya dengan sifat wara’. Karena ketika ia menjumpai sebuah syubhat, itu akan mempengaruhi hatinya. Demikianlah yang terjadi pada kebanyakan para salaf umat ini” (Al Mufhim limaa Asykala min Talkhis Kitab Muslim, 14/114).

3. Berlaku pada perkara-perkara syubhat, bukan perkara yang sudah jelas hukumnya

Sebagaimana dijelaskan Abul Abbas Al Qurthubi di atas, hadits ini berlaku pada perkara-perkara yang syubhat, yang belum diketahui pasti oleh seseorang antara halal-haramnya, boleh-tidaknya. Bukan perkara-perkara yang sudah jelas hukumnya.

Oleh karena itu para ulama menggolongkan hadits ini sebagai hadits anjuran menjauhi syubhat. Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad menjelaskan,

قوله: “والإثمُ ما حاك في نفسك وكرهت أن يطَّلع عليه الناس”، من الإثم ما يكون واضحاً جليًّا، ومنه ما يحوك في الصدر ولا تطمئنُّ إليه النفس، ويكره الإنسانُ أن يطَّلع عليه الناس؛ لأنَّه مِمَّا يُستحيا من فعله، فيخشى صاحبُه ألسنةَ الناس في نيلهم منه، وهو شبيه بما جاء في الأحاديث الثلاثة الماضية: “فمَن اتَّقى الشبهات فقد استبرأ لدينه وعرضه”، و “دع ما يريبُك إلى ما لا يريبك”، و “إنَّ مِمَّا أدرك الناس من كلام النبوة الأولى إذا لم تستح فاصنع ما شئت”

“Sabda Nabi: ‘Dan dosa adalah yang membuat bimbang hatimu dan engkau tidak ingin diketahui oleh orang‘. Ada dosa yang sudah jelas hukumnya. Ada pula dosa (yang tidak jelas) yang membuat hati resah dan menyesakkan dada, dan ia tidak ingin diketahui orang-orang karena ia malu melakukannya di depan orang-orang. Ia khawatir orang-orang membicarakan perbuatannya tersebut. Maka ini semisal dengan hadits-hadits yang dibahas sebelumnya, yaitu hadits:

فمَن اتَّقى الشبهات فقد استبرأ لدينه وعرضه

barangsiapa yang menjauhkan diri dari syubhat maka ia menyelamatkan agamanya dan kehormatannya

Dan hadits:

دع ما يريبُك إلى ما لا يريبك

tinggalkan yang meragukan dan ambil yang tidak meragukan

Dan hadits;

إنَّ مِمَّا أدرك الناس من كلام النبوة الأولى إذا لم تستح فاصنع ما شئت

Diantara perkataan para Nabi terdahulu yang diketahui manusia adalah: jika engkau tidak tahu malu maka berbuatlah sesukamu” (Fathul Qawiyyil Matin, 1/93).

Maka perkara-perkara seperti haramnya berbuat syirik, wajibnya memakai jilbab bagi wanita, wajibnya shalat berjamaah, wajibnya puasa Ramadhan, haramnya memilih pemimpin kafir, ini semua tidak semestinya seseorang meminta fatwa pada hatinya karena sudah jelas hukumnya.

Wabillahi at taufiq was sadaad.

***

Penulis: Yulian Purnama

Sumber