Akhir Kehidupan

Akhir Kehidupan

Surat Al Qoori’ah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
الْقَارِعَةُ، مَا الْقَارِعَةُ، وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْقَارِعَةُ، يَوْمَ يَكُونُ النَّاسُ كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوثِ، وَتَكُونُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوشِ، فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ، فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ، وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ، فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ، وَمَا أَدْرَاكَ  ا هِيَهْ، نَارٌ حَامِيَةٌ .

  1. Hari Al-Qaari’ah
  2. Apakah hari Al-Qaari’ah itu ?
  3. Tahukah kamu apakah hari Al Qaari’ah itu ?
  4. Pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebaran
  5. Dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan
  6. Dan adapun orang-orang yang berat timbangan(kebaikan)nya.
  7. Maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan.
  8. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya.
  9. Maka kembalinya adalah naar Hawiyah.
  10. Dan tahukah kamu apakah naar Hawiyah itu ?
  11.  (Yaitu) api yang sangat panas.

(Qs. Al Qariah)

Tafsir Surat Al Qoori’ah

Al Qaari’ah adalah salah satu nama Hari Kiamat. Al Qaari’ah berasal dari kata qara’a yang artinya mengetuk. Hari kiamat disebut al-Qariah, karena hari kiamat mengetuk dan mengejutkan seluruh manusia dengan berbagai kejadian yang mengerikan. Oleh karena itu kejadian tersebut dikolosalkan dan ditampakkan keagungannya oleh Allah ‘azza wa jalla melalui firmannya:

الْقَارِعَةُ، مَا الْقَارِعَةُ، وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْقَارِعَةُ، يَوْمَ يَكُونُ النَّاسُ …

“Hari Al Qaari’ah. Apakah hari Al Qoori’ah itu? Tahukah kamu apakah hari Al Qaari’ah itu? Pada hari itu manusia…” (Qs. Al Qaari’ah: 1-4)

karena sangat takut dan kagetnya,

كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوثِ ….

“…seperti anai-anai yang bertebaran” (Qs. Al Qoori’ah: 4)

Layaknya belalang yang bertebaran, sebagian menabrak yang lain.

Anai-anai sendiri adalah sejenis hewan yang ada di waktu malam, beterbangan saling bertabrakan, tidak tahu kemana mau pergi. Kalau dinyalakan api, binatang-bnatang itu akan saling menubrukkan diri ke dalamnya karena tidak mampu melihat dengan jelas. Demikianlah kondisi ummat manusia yang sudah kehilangan akal.

Adapun gunung yang memang bisu dan membatu di sebutkan :

كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوشِ …

“…seperti bulu yang dihambur-hamburkan” (Qs. Al Qoori’ah: 5)

Seperti bulu wol yang tercukur bersih sehingga menjadi lemah sekali, bisa beterbangan karena angin yang lembut saja.

Allah berfirman dalam surat An Naml,

وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ

“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan seperti jalannya awan.” (Qs. An-Naml: 88)

Setelah itu menjadi debu yang beterbangan lalu musnah tanpa tersisa sedikitpun yang bisa disaksikan. Saat itulah mizan terhadap amal perbuatan ditegakkan. Umat manusia terbagi dua kelompok, yaitu kaum yang bahagia dan kaum yang sengsara.

فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ

“Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya. (Qs. Al Qoori’ah: 6)

Yakni orang yang lebih banyak amal kebajikannya dibanding amal keburukannya

فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ،

“maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan.”(Qs. Al Qoori’ah: 7)

Artinya dalam Jannah yang penuh kenikmatan.

Sebaliknya,

وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ،

“Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan(kebaikan)nya” (Qs. Al Qoori’ah: 8)

Yakni amal kebajikannya tidak mampu mengimbangi amal keburukannya

فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ

“maka tempat kembalinya adalah Naar Haawiyah” (Qs. Al Qoori’ah: 9)

Yakni tempat tinggal dan kediamannya. Salah satu nama neraka (naar) adalah Haawiyah. Naar sebagai tempat tinggal itu bisa diibaratkan seperti ibu terhadap anaknya (ummuhu).

Allah berfirman dalam surat Al Furqaan ayat 65

إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا

“Sesungguhnya adzabnya itu adalah kebinasaan yang kekal”

Ada yang menafsirkan bahwa artinya adalah ‘induk otaknya’ (ubun-ubun) dicampakkan ke dalam naar (neraka), yakni penghuninya akan dilemparkan ke dalam naar dengan kepala di bawah.

وَمَا أَدْرَاكَ مَا هِيَه

“Dan tahukah kamu apakah Naar Haawiyah itu?” (Qs. Al Qoori’ah: 10)

Pertanyaan retorik ini untuk menunjukkan kehebatan peristiwa tersebut. Ini dijelaskan melalui  firman-Nya:

نَارٌ حَامِيَةٌ

“Yaitu api yang sangat panas” (Qs. Al Qoori’ah: 11)

Neraka yang sangat panas. Dibandingkan dengan api dunia, panasnya mencapai tujuh puluh kali lipat.

Kita memohon perlindungan kepada Allah subhaanahu wa ta’aala agar dijauhkan dari adzab neraka.

***

Disusun dari: Tafsir Juz ‘Amma Karimirrahman karya Asy Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’diy
Oleh: Ummu Afifah
Murajaah: Ustadz Ammi Nur Baits

Sumber: https://muslimah.or.id/

Memperhatikan Orang Lemah, Sebab Kemenangan

Memperhatikan Orang Lemah, Sebab Kemenangan

Dari Mush’ab bin Sa’ad, beliau berkata bahwa Sa’ad radhiyallahu’anhu memandang dirinya memiliki keutamaan di atas yang lainnya (dari para sahabat). Maka Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Bukankah kalian ditolong (dimenangkan) dan diberi rezeki melainkan dengan sebab orang-orang yang lemah di antara kalian?”.

Takhrij hadits

Hadits ini shahih, dikeluarkan olehal Imam Al Bukhari, di dalam Shahih-nya, Kitab al Jihad was-Siyar, Bab Man Ista’ana bidh- Dhu’afa-i wash Shalihina fil-Harbi, nomor (2896) dari jalan Muhammad bin Thalhah, dari Thalhah, dari Mush’ab bin Sa’ad.

Kosa kata

  • (رَأَى), yakni, melihat atau memandang. Maksudnya adalah ظَنَّ, yakni menyangka atau mengira. Sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat an Nasa-i.1
  • (عَلَى مَنْ دُونَهُ), yakni, di atas yang lainnya dari para sahabat Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, baik berupa keberaniannya, atau kelebihan hartanya, atau pun keutamaan lainnya secara umum.2

Penjelasan Hadits

Hadits ini, menjelaskan kepada kita bahwa orang-orang yang lemah merupakan sumber kebaikan, kekuatan dan kemenangan umat Islam. Hal ini dijelaskan juga dalam hadits shahih lainnya dari Abu ad-Darda’a, beliau berkata:

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ :ابْغُونِي الضُّعَفَاءَ فَإِنَّمَا تُرْزَقُونَ وَتُنْصَرُونَ بِضُعَفَائِكُمْ

Aku mendengar Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Carikan untukku orang-orang yang lemah, karena sesungguhnya kalian diberi rezeki dan ditolong (dimenangkan) dengan sebab orang-orang yang lemah (di antara) kalian”.3

Namun, satu hal yang perlu kita pahami dari hadits ini, bahwa tertolongnya dan menangnya kaum Muslimin bukanlah dengan sebab dzat dan kedudukan atau kehormatan orang-orang shalih yang lemah dan miskin dari kaum Muslimin semata. Namun hal itu karena doa, shalat, dan keikhlasan mereka dalam beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Al Hafizh Ibnu Hajar al ‘Asqalani rahimahullah berkata, “Ibnu Baththal berkata, penafsiran (makna) hadits ini adalah, orang-orang yang lemah itu jauh lebih ikhlas dalam berdoa (kepada Allah), dan mereka lebih khusyu’ dalam beribadah (kepada Allah). Karena tidak terdapat dalam hati mereka ketergantungan terhadap perhiasan dunia”.4

Syaikh al Albani rahimahullah berkata,”… Hadits ini (dengan lafazh yang dikeluarkan oleh al Imam an- Nasa-i) menjelaskan bahwa kemenangan yang dimaksud, hanyalah dengan sebab doa orang-orang yang shalih, bukan dengan sebab dzat dan kedudukan mereka … Sehingga, dengan demikian kita bisa mengetahui dan memahami bahwa maksud dari tertolongnya kaum Muslimin dengan orang-orang yang shalih adalah dengan sebab doa, shalat, dan keikhlasan mereka.”5

Al Imam Abdur-Ra’uf al Munawi rahimahullah berkata:

(Makna hadits ini) ialah, dengan sebab doa mereka dan keikhlasan mereka. Karena ibadah orang-orang yang lemah lebih ikhlas, dengan sebab kosongnya hati mereka dari ketergantungan terhadap dunia, juga dengan sebab bersihnya hati mereka dari apa-apa yang memutuskan hubungan mereka dengan Allah. Sehingga, tujuan dan konsentrasi mereka tertuju pada satu hal saja (dalam beribadah kepada Allah). Maka, sucilah amal-amal ibadah mereka, dan dikabulkanlah doa mereka. Adapun sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam “dengan sebab doa mereka“, hal ini sama sekali tidak berarti kelemahan dan kemiskinan menunjukkan tidak adanya kekuatan pada tubuh mereka. Juga tidak berarti kelemahan dan kemiskinan menunjukkan tidak adanya kekuatan untuk melakukan perintah-perintah Allah! Maka, hal ini sama sekali tidak bertentangan dengan hadits-hadits yang diterangkan di dalamnya pujian terhadap orang-orang yang kuat, tidak juga hadits yang menjelaskan bahwa “orang beriman yang kuat lebih dicintai Allah daripada orang beriman yang lemah“.

Beberapa Pelajaran dari Hadits ini.6

1. Orang-orang yang lemah merupakan sumber kebaikan umat Islam. Karena sesungguhnya, walaupun tubuh mereka lemah, namun keimanan mereka kuat. Demikian pula keyakinan dan kepercayaan mereka (kuat) kepada Rabb. Mereka pun tidak peduli terhadap kepentingan pribadi dan tujuan-tujuan keduniaan. Dengan sebab inilah, maka apabila mereka berdoa dengan ikhlas, Allah pun mengabulkan doa mereka. Allah juga memberi rezeki kerpada umat ini dengan sebab (doa) mereka.

2. Hadits ini mengandung anjuran untuk tawadhu’ (merendah hati) dan tidak sombong kepada orang lain.

3. Hadits ini mengandung (penjelasan) hikmah Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dalam merubah kemungkaran, melunakkan hati orang lain, dan mengarahkannya kepada apa-apa yang Allah cintai dan Allah ridhai.

Demikianlah, mudah-mudahan tulisan singkat ini bermanfaat, bisa menambah iman, ilmu, dan amal shalih kita semua. Amin.

Wallahu A’lam bish-Shawab.

Catatan kaki

1 Lihat Fat-hul Bari (6/89).

2 Lihat Fat-hul Bari (6/89),

3 Hadits shahih riwayat Abu Dawud (3/32 no. 2594), at-Tirmidzi (4/206 no. 1702), an-Nasa-i (6/45 no. 3179), Ahmad (5/198), dan lain-lain. Lihat pula as-Silsilah ash-Shahihah (2/408 no. 779).

4 Fat-hul Bari (6/89).

5 At-Tawassul, Anwa’uhu wa Ahkamuhu, halaman 114-115.

6 Lihat Bahjatun-Nazhirin Syarhu Riyadhish-Shalihin (1/355).

Penulis : Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.

Sumber: https://muslimah.or.id/

Ayat-Ayat Qur’an tentang Hak Anak

Ayat-Ayat Qur’an tentang Hak Anak

Bismillah, assalamualaykum Saudara dan saudariku se Muslim,

Ayat-ayat yang berbicara mengenai hak-hak anak kecil itu banyak sekali. Diantaranya ayat-ayat yang menyatakan bahwa anak-anak itu adalah perhiasan dunia. Sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala:

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا {الكهف: 46}

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia” (QS. Al Kahfi: 46).

Diantaranya juga ayat-ayat yang bicara bahwa janin itu baik laki-laki maupun perempuan adalah nikmat dan pemberian dari Allah. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ (49) أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا {الشورى: 49-50}

Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa yang dikehendaki-Nya), dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa” (QS. Asy Syura: 49-50).

Diantaranya juga ayat-ayat yang bicara mengenai hak anak untuk hidup, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ * بِأَيِّ ذَنْبٍ قُتِلَتْ{التكوير: 8-9}

apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh” (QS. At Takwir: 8-9).

juga firman Allah Ta’ala:

وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِالْأُنْثَى ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ * يَتَوَارَى مِنَ الْقَوْمِ مِنْ سُوءِ مَا بُشِّرَ بِهِ أَيُمْسِكُهُ عَلَى هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرَابِ أَلَا سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ {النحل: 58-59}

Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu” (QS. An Nahl: 58-59).

Juga firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

وكقوله سبحانه: وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ مِنْ إِمْلَاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ {الأنعام: 151}.

dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan.  Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka” (QS. Al An’am: 151).

Diantaranya juga ayat-ayat yang berbicara mengenai hak anak untuk mendapatkan ASI, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا لَا تُضَارَّ وَالِدَةٌ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُودٌ لَهُ بِوَلَدِهِ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذَلِكَ فَإِنْ أَرَادَا فِصَالًا عَنْ تَرَاضٍ مِنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا وَإِنْ أَرَدْتُمْ أَنْ تَسْتَرْضِعُوا أَوْلَادَكُمْ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِذَا سَلَّمْتُمْ مَا آتَيْتُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ {البقرة: 233}

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang makruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan juga seorang ayah karena anaknya, dan waris pun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Baqarah: 233).

Diantaranya juga ayat yang membicarakan tentang hak anak untuk mendapatkan tarbiyah (pembinaan dan pendidikan) juga ayat-ayat yang mengisyaratkan hal itu, sebagaimana dalam surat Luqman:

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ ….{لقمان: 13}

Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kelaliman yang besar” (QS. Luqman: 13).

Dan masih banyak ayat-ayat lain yang tidak terhitung banyaknya yang berbicara menyinggung mengenai hak-hak anak yang kami sebutkan dalam fatwa semisal ini.

Selain itu banyak dalil dari sunnah Nabawiyah juga yang membahas hal ini, seperti hak nasab, hak dipilihkan nama yang baik, dan hak-hak yang lain. Wallahu’alam.

 

Sumber: http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=70936

Penulis: Syaikh Abdullah Al Faqih

Penerjemah: Yulian Purnama

Sumber: https://muslimah.or.id/

Dua Jenis Ma’iyyatullah

Dua Jenis Ma’iyyatullah

Ahlussunnah menetapkan sifat ma’iyyah bagi Allah, yaitu bahwa Allah bersama hamba-Nya. Namun para ulama menjelaskan bahwa ma’iyyatullah ada yang khusus (ma’iyyah khashah) dan ada yang umum (ma’iyyah ‘ammah). Apa perbedaannya?

Syaikh Abdul ‘Aziz Ar Rajihi menjelaskan:

Ma’iyyah ‘ammah sifatnya umum bagi mu’min dan kafir. Ma’iyyah ‘ammah adalah kebersamaan berupa keilmuan Allah yang teliti dan meliputi seluruh makhluk. Ma’iyyah ‘ammah ini dalam banyak ayat disebutkan dalam konteks mujaazah (pembalasan amalan) dan muhaasabah (perhitungan amal), sebagaimana ditunjukan dalam firman Allah Ta’ala

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَا يَكُونُ مِن نَّجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِن ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُم بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah yang keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitakan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan.  Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS. Al Mujadilah: 7).

Dan juga firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنزِلُ مِنَ السَّمَاء وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ} [سورة الحديد: آية 4].

Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada” (QS. Al Hadid: 4).

Juga firman-Nya:

وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Hadid: 4).

Inilah ma’iyyah ‘ammah, dan konsekuensi dari ma’iyyah ‘ammah adalah sifat ihathah yaitu ilmu Allah meliputi semua makhluk-Nya. Ma’iyyah ‘ammah disebut dalam Al Qur’an dalam konteks mujaazah (pembalasan amalan), muhaasabah (perhitungan amal) serta takhwiif (ancaman).

Adapun ma’iyyah khashah, itu khusus bagi kaum mu’minin. Ma’iyyah khashah disebutkan dalam Al Qur’an dalam konteks al mad-hu wats tsana-u (pujian dan sanjungan). Allah Ta’ala berfirman mengenai ini:

اصْبِرُواْ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

bersabarlah, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar” (QS. Al Anfal: 46)

لاَ تَحْزَنْ إِنَّ اللّهَ مَعَنَا

janganlah bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita” (QS. At Taubah: 40)

إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى

sesungguhnya Aku bersama kalian (Musa dan Harun), Aku mendengar dan melihat kalian” (QS. Thaha: 46)

 

Ini semua khusus bagi kaum mu’minin dan disebutkan dalam konteks pujian dan sanjungan bagi mereka.

Ma’iyyah ‘ammah sifatnya umum bagi mu’min dan kafir, tetapi ketika Allah berfirman kepada Musa dan Harun (yang artinya) “sesungguhnya Aku bersama kalian Aku mendengar dan melihat kalian” ini ma’iyyah khashah. Adapun ketika Fir’aun termasuk dalam konteks pembicaraan, yang disebutkan adalah ma’iyyah ‘ammah

إِنَّا مَعَكُم مُّسْتَمِعُونَ

sesungguhnya Kami bersamamu mendengarkan (apa-apa yang mereka katakan)” (QS. Asy Syu’ara)

Dalam surat Asy Syu’ara ini ketika dalam konteks pembicaraan termasuk di dalamnya Fir’aun, Musa dan Harun, maka ini ma’iyyah ‘ammah “sesungguhnya Kami bersamamu mendengarkan (apa-apa yang mereka katakan)“. Tapi ketika hanya Musa dan Harun, “sesungguhnya Aku bersama kalian (Musa dan Harun), Aku mendengar dan melihat kalian“, disebutkan ma’iyyah khashah.

 

Sumber: http://ar.islamway.net/fatwa/14575

Penerjemah: Yulian Purnama

Sumber: https://muslimah.or.id/

Makna Ayat “Robbana Atina Fid Dunya Hasanah, wa Fil Akhirati Hasanah”

Makna Ayat “Robbana Atina Fid Dunya Hasanah, wa Fil Akhirati Hasanah”

Fatwa Syaikh Muhammad Al Imam

Soal:

Apa yang dimaksud ayat

ربنا آتنا في الدنيا حسنة، وفي الآخرة حسنة

Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat

Jawab:

Ibnu ‘Athiyyah menukil ijma bahwa makna hasanah di akhirat adalah surga. Sedangkan makna hasanah di dunia, diperselisihkan oleh para ulama. Sebagian ulama mengatakan maknanya ‘ilmu yang bermanfaat’. Sebagian lagi menyatakan maknanya ‘sifat qana’ah‘. Sebagian lagi menyatakan maknanya ‘keshalihan’, dan beberapa pendapat lain.

Namun tidak diragukan lagi bahwa lafadz hasanah dalam ayat ini adalah lafadz umum, sehingga mencakup semua kebaikan bagi hamba, termasuk ilmu yang bermanfaat, amal shalih, sifat qana’ah, zuhud, dan wara’. Semua ini tercakup dalam makna في الآخرة حسنة (kebaikan di dunia).

Dan kebaikan di akhirat pun demikian, mencakup surga, rahmah, ampunan, keselamatan dari neraka, dan lainnya. Adapun yang disebutkan Ibnu ‘Athiyyah tadi (baca: surga) adalah kebaikan akhirat yang paling besar.

 

Sumber Tanya Jawab: http://www.sh-emam.com/show_fatawa.php?id=587

Penerjemah: Yulian Purnama

Sumber: https://muslimah.or.id/