Lakukan Hal-Hal Berikut Sebelum Memutuskan Operasi Caesar

Lakukan Hal-Hal Berikut Sebelum Memutuskan Operasi Caesar

Operasi caesar sebaiknya dihindari sebisa mungkin dan selalu mengusahakan persalinan normal. Ini yang kita harapkan bersama. Karena bagi mereka yang ingin memiliki anak banyak dalam rangka menerapkan sunnah Nabi, operasi caesar 2 atau 3 kali bisa mengecilkan kemungkinan untuk melahirkan lagi. Disebabkan rahim sudah di robek untuk operasi caesar beberapa kali sehingga beresiko membahayakan persalinan selanjutnya. Oleh karena itu, sebisa mungkin menghindari operasi caesar.

Gambaran operasi caesar

Mengenai indikasi operasi caesar ada beberapa perbedaan pendapat dikalangan para ahli. Kami berupaya mengumpulkannya sedikit dan tetap saja harus merujuk kepada konsultan dokter kandungan dokter spesialis (yang mengambil subspesialisasi lagi) yang ada di negara kita karena faktor resiko setiap tempat dan manusianya berbeda-beda.

Berikut Ini hanya gambaran awal indikasi operasi caesar. Karena keputusan operasi caesar mempertimbangkan banyak hal dan atas keputusan dari ahlinya. Indikasi tersebut bisa karena pertimbangan kondisi ibu atau bayi.

Proses persalinan normal yang lama atau kegagalan proses persalinan normal (distosia)
Misalnya persalinan sudah berlangsung selama setengah jam lebih dan tidak ada perkembangan dalam persalinan.

  • Detak jantung janin melambat (fetal distress). Kemungkinan bayi mengalami gangguan baik karena penyakit atau keadaan di dalam rahim yang kurang mendukung.
  • Adanya kelelahan persalinan. Sang ibu sudah tidak kuat lagi mengedan dan kelelahan atau bahkan sempat akan pingsan.
  • Komplikasi pre-eklampsia. Pre-eklampsia atau sering juga disebut toksemia adalah suatu kondisi yang bisa dialami oleh setiap wanita hamil. Penyakit ini ditandai dengan meningkatnya tekanan darah yang diikuti oleh peningkatan kadar protein di dalam urine. Jadi sekedar peningkatan tekanan darah tidak melazimkan operasi caesar.
  • Sang ibu menderita herpes. Dikhawatirkan bayi akan tertular melalui jalan lahir nanti.
  • Putusnya tali pusar. Didalam rahim tali pusar bisa putus atau lepas dari tempat sambungan di rahim.
  • Sang bayi dalam posisi sungsang atau menyamping.
  • Ini adalah salah satu penyulit persalinan normal lewat vagina.
  • Kegagalan persalinan dengan induksi. Yaitu diinduksi dengan oksitoksin. Karena rahim tidak bisa dipaksa terus berkontraksi dengan bantuan obat.
  • Kegagalan persalinan dengan alat bantu (forceps atau vakum). Persalinan dengan alat bantu menunjukkan bahwa ada masalah jika menempuh persalinan normal. Maka jika sudah tidak bisa lagi dengan alat bantu. Jalan terakhir adalah operasi.
  • Bayi besar (makrosomia – berat badan lahir lebih dari 4,2 kg). Biasanya pada ibu yang menderita diabetes melitus. Atau ibu yang salah pola makannya sejak hamil dengan terlalu banyak mengkonsumsi karbohidrat. Apalagi postur ibu kecil dan pendek dengan lingkar pinggul yang sempit.
  • Masalah plasenta. Seperti plasenta previa yaitu ari-ari menutupi jalan lahir. Abrosio plasenta yaitu plasenta terlepas dari rahim. Atau placenta accreta yaitu plasenta menempel terlalu dalam dan abnormal misalnya pada endometrium atau myomentrium.
  • Sebelumnya pernah menjalani bedah caesar (masih dalam kontroversi). Hal ini tidak mutlak. Kami berpendapat ini sekedar pertimbangan saja. Karena alasan caesar dahulunya bermacam-macam yang sekarang penyebabnya mungkin sudah hilang.
  • CPD atau cephalo pelvic disproportion. Yaitu proporsi panggul dan kepala bayi yang tidak pas, sehingga persalinan terhambat. Bisa karena ukuran kepala bayi yang besar misalnya hidrosepalus.

Tetap berkonsultasi dengan dokter

Walaupun sudah mencari, ada baiknya tetap konsultasi kepada dokter kandungan mengenai info yang didapatkan. Karena sebagian orang justru dengan mencari sendiri terkadang menimbulkan kekhawatiran yang berlebihan. Misalnya sekedar ada benjolan, kemudian ia mencari diinternet dan mendapatkan info tentang kanker dan tumor, kemudian ia malah menjadi sangat khawatir dan panik. Kita diperintahkan untuk bertanya kepada ahlinya jika kita tidak mengetahui.

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

Maka bertanyalah kepada orang yang berilmu jika kamu tidak mengetahui!” (QS. An-Nahl:  43).

Minta second opinion dan musyawarahkan

Jika perlu, anda para suami perlu membawa istri anda ke dokter kandungan yang lain untuk minta pendapatnya. Dan ini diperbolehkan dalam dunia kedokteran dan sudah diatur. Tetapi agar tidak terkesan mengadu kepintaran antar dokter kandungan, sebaiknya anda tidak mengatakan bahwa sebelumnya sudah periksa ke dokter kandungan A, kemudian menyarankan operasi. Cukup memberikan hasil-hasil pemeriksaan sebelumnya. Atau jika dokter tersebut berlapang dada, maka tidak mengapa diberi tahu atau minta izin untuk melakukan second opinion. Dan dokter dalam aturan medis tidak boleh melarang pasien melakukan second opinion. Atau jika sangat perlu third opinion juga bisa dilakukan.

Kemudian musyawarahkanlah dengan anggota keluarga mengenai masukan dan saran dari para ahli. Karena musyawarah adalah perintah dalam agama Islam. Allah Ta’ala berfirman,

وَشَاوِرْهُمْ فِي الأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّهِ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya” (QS. Ali Imran: 159).

Wallahu a’lam.

Penulis: dr. Raehanul Bahraen

Sumber: https://muslimah.or.id/

Jangan Sampai Iblis Ikut Membina Harta dan Anak Kita

Jangan Sampai Iblis Ikut Membina Harta dan Anak Kita

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Sepenggal hikmah di surat Al-Isra ayat 61 sampai 65. Ketika Iblis diusir dari surga karena membangkang perintah Allah, dia diberi kesempatan untuk menyesatkan manusia untuk menjadi temannya di neraka Jahanam. Dia juga diberi kesempatan untuk memanfaatkan setiap harta dan anak yang dimiliki manusia agar menjadi propertinya. Allah berfirman,

وَشَارِكْهُمْ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ وَعِدْهُمْ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلَّا غُرُورًا

Bergabunglah dengan mereka (manusia) pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. dan tidak ada yang dijanjikan oleh setan kepada mereka melainkan tipuan belaka” (QS. Al-Isra: 64).

Ulama berbeda pendapat tentang bentuk bergabungnya iblis bersama manusia dalam hal anak dan harta. Al-Hafidz Ibnu Katsir menyimpulkan perbedaan tafsir tersebut dengan menyebutkan keterangan Ibnu Jarir at-Thabari,

قال ابن جرير: وأولى الأقوال بالصواب أن يقال: كل مولود ولدته أنثى، عصى الله فيه، بتسميته ما يكرهه الله، أو بإدخاله في غير الدين الذي ارتضاه الله، أو بالزنا بأمه، أو بقتله ووأده، وغير ذلك من الأمور التي يعصي الله بفعله به أو فيه، فقد دخل في مشاركة إبليس فيه من ولد ذلك الولد له أو منه… فكل ما عصي الله فيه -أو به، وأطيع فيه الشيطان -أو به، فهو مشاركة

“Ibnu Jarir mengatakan, pendapat yang paling mendekati kebenaran, bahwa setiap anak yang dilahirkan wanita, dan menjadi sebab seseorang bermaksiat kepada Allah, baik dengan memberikan nama untuknya dengan nama yang Allah Allah benci, atau dengan memasukkan anak ini ke dalam agama yang tidak Allah ridhai, atau anak hasil zina dengan ibunya, atau anak yang dibunuh dan dikubur hidup-hidup, atau perbuatan lainnya yang termasuk maksiat kepada Allah terhadap anak itu, semua keadaan di atas termasuk dalam bentuk ikut campurnya Iblis terhadap anak. Oleh karena itu, semua anak dan harta yang menjadi sarana bermaksiat kepada Allah dan sebab mentaati setan maka Iblis ikut bergabung di dalamnya” (Tafsir Ibnu katsir, 5/94).

Ayat ini mengingatkan kita untuk lebih mawas diri dalam mendidik dan memperhatikan manfaat harta dan pendidik anak. Bisa jadi secara zahir itu harta dan anak kita, namun sejatinya telah dikendalikan iblis.

Perhatikan dengan baik, jangan beri kesempatan Iblis untuk bergabung membina harta dan anak kita.

Allahu a’lam

Penulis: Ust. Ammi Nur Baits, BA.

Sumber: https://muslimah.or.id/

Pilih Tetangga Dulu sebelum Rumah

Pilih Tetangga Dulu sebelum Rumah

الجار قبل الدار

“Pilih tetangga dulu sebelum rumah”

Sebuah perumpamaan dalam bahasa Arab yang sangat populer, yang mengajarkan tentang pentingnya mencari tetangga atau lingkungan yang baik.

Hal ini didukung oleh Al Qur’an. Ayat yang paling mendukung perumpamaan di atas adalah perkataan istri Fir’aun yang diabadikan di satu-satunya tempat dalam Al Qur’an sebagai percontohan untuk orang-orang beriman. Allah Ta’ala berfirman:

إذ قالت رب ابن لي عندك بيتا في الجنة

ketika istri Fir’aun berkata: ‘Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga’” (QS. At Tahrim: 11)

Lihatlah, kata “عندك” didahulukan daripada kata “بيتا”. Seakan-akan istri Fir’aun berkata, “Menjadi dekat dengan Mu lebih penting daripada sekedar menempati sebuah rumah”.

Demikianlah, al jaar qabla -d daar, pilih tetangga dulu sebelum rumah.

Penulis: Ustadz Abu Yazid Nurdin

Sumber: https://muslimah.or.id/

Memperlihatkan Dada Pria

Memperlihatkan Dada Pria

Aurat pria memang antara pusat dan lutut. Namun pantaskah seorang pria membuka dadanya atau memamerkan bodynya yang six pack?

Tidak pantas seorang laki-laki memamerkan bodynya, lebih-lebih lagi di hadapan para wanita. Taruhlah dada tidak termasuk aurat, namun memamerkan dada semacam itu termasuk khawarim al-muruah (menjatuhkan martabat dan wibawa seseorang). Memamerkan body seperti itu pula termasuk perilaku orang fasik yang tidak pantas untuk diikuti.

Ada kaedah pula yang perlu dipahami bahwa perkara mubah jika berdampak jelek (mafsadat), maka perkara mubah tersebut menjadi terlarang karena adanya dampak tadi. Jikalau memamerkan dada akan menimbulkan godaan syahwat atau membuka pintu kejelekan, perbuata tersebut menjadi terlarang.

Kita berpakaian itu punya beberapa tujuan (hikmah):

  • secara fitrah kita dituntut berpakaian
  • berpakaian untuk berpenampilan atau tampil menawan
  • berpakaian untuk melindungi diri dari panas dan dingin
  • berpakaian untuk menutup aurat.

Namun ada pakaian yang lebih dituntut bagi kita untuk memakainya yaitu libasut taqwa (pakaian takwa). Disebutkan dalam ayat Al-Qur’an,

يَا بَنِي آَدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآَتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ ذَلِكَ مِنْ آَيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ , يَا بَنِي آَدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآَتِهِمَا

Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat. Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya.” (QS. Al-A’raf: 26-27)

Semoga jadi ilmu yang bermanfaat.

Referensi:

Fatwa Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid, https://islamqa.info/ar/49836
Oleh: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber https://rumaysho.com/

Bujukan Syaithon di Hari “Valentine”

Bujukan Syaithon di Hari “Valentine”

Sesaat lagi kawula muda di berbagai belahan dunia akan dibuat gaduh dengan isu “hari cinta”. Banyak dari pemuda dan pemudi muslim yang turut hanyut dalam perayaan hari cinta ini.

Saudaraku! Bila anda amati perilaku mereka pada hari ini, niscaya anda temukan banyak keanehan. Mitos “cinta” yang diekspresikan dengan sekuntum bunga dan sepotong coklat. Kaum hawa jadi lupa daratan bila telah mendapat sekuntum bunga mawar dan akhirnya pasrah bila telah mendapatkan sepotong coklat. Padahal anda tahu, berapalah harga sekuntum bunga dan sepotong coklat? Harga diri dan kesucian diri diserahkan begitu saja hanya karena bunga atau sepotong coklat yang dibubuhi dengan janji- janji gombal.

Anda tidak percaya, silahkan buktikan dengan anda menuntut untuk segera menikah pada malam itu juga. Anda pasti tahu bahwa tidak ada obat cinta paling manjur selain pernaikahan.

لم ير للمتحابين مثل التزويج

“Tidak ada penawar yg lebih manjur bagi dua insan yg saling mencintai dibanding pernikahan“. (HR. Ibnu Majah, Al Hakim, Al Bazzar, dihasankan Al Albani dalam Silsilah Ahadits Ash Shahihah, 2/196-198)

Atau pintalah pemuda yang konon pangeran anda untuk membayangkan wajah anda yang telah kriput atau mungkin cacat karena suatu kecelakaan atau penyakit. Mungkinkah dia kuasa melakukannya?

Atau sebaliknya coba anda membayangkan wajah pemuda pujaan hati anda yang telah ompong atau cacat karena suatu kecelakaan atau penyakit. Masihkah cinta anda seperti sedia kala? Atau mungkinkah anda masih siap untuk meneruskan hubungan cinta dengannya?

Atau mungkin bayangkan lelaki lain yang lebih tampan dan lebih berduit yang datang melamar anda, akankah anda masih mencintainya, padahal dia telah jatuh miskin, berpakaian seperti gembel, dan hidup dipinggir kali?

Renungkan baik baik saudara-saudariku, janganlah engkau korbankan kehormatan dirimu hanya demi janji-janji gombal dan isu-isu menyesatkan. Bila anda cinta kepadanya karena penampilannya, maka tidak lama lagi akan luntur bersama pudarnya penampilan. Bila cinta karena harta kekayaan maka akan dengan mudah dibeli oleh orang lain dengan penawaran yang lebih mahal. Bila cinta karena jabatan, maka tidak lama lagi akan luntur bersama habisnya masa jabatannya.

Cinta sejati tidak kenal penampilan atau jabatan atau harta kekayaan. Hanya ada satu alasan cinta abadi yang suci, yaitu karena iman dan akhlak yang mulia.

تُنْكَحُ المَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ، تَرِبَتْ يَدَاكَ

“Biasanya wanita dinikahi karena satu dari empat alasan berikut: hartanya, kedudukan sosialnya, kecantikannya dan agamanya, maka pilihlah wanita yang beragama bagus, niscaya engkau beruntung” (Muttafaqun ‘Alaih)

Cinta abadi tidak kenal hari, bulan atau tempat. Namun cinta abadi yang dilandasi oleh iman akan abadi hingga hari akhir nanti.

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

“Orang yang saling mencintai pada hari itu (hari qiyamat) akan saling memusuhi kecuali orang-orang yg cintanya karena alasan takwa” (QS. Az Zukhruf: 67)


Penulis: Ustadz DR. Muhammad Arifin Baderi, Lc., MA.

Sumber: https://muslim.or.id/

 

Wanita dan Dakwah

Wanita dan Dakwah

Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Tidaklah kami, para sahabat Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam mendapati masalah dalam suatu hadits lalu kami bertanya kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha melainkan kami mendapatkan dari sisi beliau ilmu tentang hal itu.”

Dakwah sering diartikan identik dengan keluar rumah, bahkan keluar daerah atau safar. Berdiri di atas podium atau mimbar, berceramah di muka umum. Belum dinamakan dakwah apabila seseorang tinggal di dalam rumah dan jarang keluar, khususnya bagi kaum hawa. Sehingga ada anggapan bahwa wanita yang tidak keluar rumah dan tidak berdiri di atas podium atau berceramah di hadapan umum tidak akan bisa berkiprah dalam lapangan dakwah. Justru isi, substansi, dan tujuan dakwah itu sendiri sering dilupakan. Padahal itulah yang terpenting.

Sudah menjadi kodrat Allah ta’ala ketika menciptakan wanita berbeda dengan pria, baik dari sisi fisik, sifat, maupun karakter mereka. Demikianlah fitrah yang ada dalam diri kaum hawa, meskipun mereka memiliki kedudukan yang sama dengan kaum Adam, yaitu sebagai hamba Allah ta’ala dan kewajiban sebagai manusia terhadap Allah.

Oleh karenanya, Allah memberikan kekhususan para wanita dengan beberapa perintah dan larangan dalam syari’at yang berbeda dengan kaum laki-laki, di antaranya adalah syari’at agar mereka tetap tinggal di rumah. Jadi hukum asal seorang wanita adalah tinggal di dalam rumahnya. Tidaklah para wanita keluar dari rumahnya melainkan untuk kebutuhan yang mendesak dan hajat yang tidak mungkin dilakukan di dalam rumahnya.

Sebagaimana Khadijah bintu Kuwailid radhiyallahu ‘anha, seorang saudagar di dalam rumahnya merupakan salah satu sosok paling penting dalam dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada fase paling berat di awal masa diutusnya beliau sebagai seorang Rasul.

Lihatlah juga ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, sosok teladan bagi para wanita yang ingin terjun dalam kancah dakwah, dengan tanpa mengurangi kepribadian dan karakter seorang wanita yang secara fitrah dan syar’i adalah tinggal di dalam rumahnya, dan tanpa berdiri di atas podium dan berceramah di atas mimbar atau di hadapan umum. Namun begitu, ilmu yang ada pada dirinya mengalir kepada para sahabat dan tabi’in, baik laki-laki maupun wanita. Mereka datang dan bertanya tentang berbagai masalah dalam urusan agama.

Itu semua karena ilmu yang ada pada dirinya, pemahaman dan fiqihnya yang sangat dalam dan luas hingga para sahabat menjadikannya sebagai rujukan dalam berbagai masalah yang mereka hadapi. Apalagi dalam perkara yang tidak diketahui kecuali oleh para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terutama ‘Aisyah. Para sahabat bertanya kepadanya dari balik hijab, sebagaimana hal ini diperintah Allah dalam firman-Nya:

وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ

“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri- isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (QS Al Ahzab: 53)

Ayat di atas hukumnya bukanlah khusus ditujukan kepada para istri Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam saja, namun bersifat umum kepada semua wanita. Bahkan, selain mereka lebih layak dan lebih harus mengamalkan ayat ini. Sebab, apabila para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah menjadi ummahatul mu’minin (para ibu kaum mukminin), yang mana para sahabat -manusia yang suci dan bersih hatinya- tidak boleh menikahinya sepeninggal Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam diharamkan untuk meminta atau bertanya kecuali dari balik tabir atau hijab, lalu bagaimana halnya dengan selain mereka? Tentu fitnah atau godaan yang dikhawatirkan dan ditimbulkan akan lebih besar daripada mereka, para istri Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.

Bagaimana pula dengan wanita yang terjun ke dunia politik, bergabung dengan laki-laki dan bersaing dalam memperoleh suara terbanyak untuk mendapatkan kursi parlemen (dewan) atau jabatan dengan alasan dakwah dan memperjuangkan hak para wanita? Atau mereka yang turun ke jalan berdemonstrasi, membawa spanduk sambil meneriakkan tuntutan mereka, dan merasa dengan demikian telah melakukan gerakan dan perjuangan dakwah membela Islam, bahkan menganggap hal ini adalah salah satu bagian terpenting dalam Islam?!

Bandingkanlah dengan sosok ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Kaum muslimin banyak mendapatkan warisan ilmu darinya dari balik tabir atau hijab dan dari dalam rumahnya. Dia adalah sosok ulama teladan dari balik hijab dan seorang wanita da’iya ilallah. Wanita paling fasih pada zamannya, seorang istri yang paling dicintai oleh suami terbaik, di dunia dan akhirat. Juga seorang wanita yang mendapatkan salam dari malaikat Jibril, dan tidaklah wahyu turun kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan berada di dalam selimut istrinya melainkan hanya dia, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.

“Telah banyak laki-laki yang sempurna. Namun, tidaklah sempurna dari kalangan wanita melainkan Maryam bintu ‘Imran dan Asiyah, istri Fir’aun. Dan keutamaan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha atas para wanita adalah seperti keutamaan tsarid atas seluruh makanan.” (HR Bukhari dalam kitab Fadho’ilush Shahabah)

Keutamaan dan kesempurnaan seorang wanita terletak pada ketaatan mereka kepada Allah ta’ala, kesabaran mereka di dalam menjaga dan memelihara kehormatan dan keimanan, ketaatan, nasihat dan dorongan mereka kepada suaminya, menjadi istri terbaik untuk suaminya, teman dan sahabat, penasihat dan pendorong baginya untuk taat kepada Allah ta’ala dan berdakwah ilallah. Juga menjaga kehormatan diri dan hartanya, mendidik dan berdakwah kepada anak-anaknya hingga menjadi anak-anak yang shalih dan shalihah hingga mereka dewasa, dan sekaligus menjadi ibu yang terbaik untuk anak-anaknya, menjadi teladan dan ustadzah bagi mereka dan juga teladan dan pendidik bagi para wanita selainnya, serta berusaha untuk menjadi hamba terbaik untuk Rabbnya.

Demikian seharusnya sosok wanita da’iyah terbaik, sebagai buah dari ilmu yang ada pada dirinya. Sebab dakwah adalah ibadah, sementara modal utama dalam dakwah adalah ilmu syar’i. Seorang wanita yang semakin berilmu akan semakin menetap di dalam rumahnya. Dan bukanlah termasuk modal dakwah dengan sekadar mampu dan berani bicara di hadapan umum, namun tidak didukung oleh ilmu syar’i.

Kita tidak perlu terpukau dengan public figure yang terkenal, fotonya banyak terpampang, sering muncul di televisi dan life show, dan suaranya banyak terdengar di radio, aktivis organisasi, dan segala kesibukan lain di luar rumahnya dengan nama emansipasi wanita dalam dakwah. Semua itu tidak pernah ada pada masa salaf, generasi terbaik umat ini.

Sesungguhnya segala kebaikan adalah dengan mengikuti kaum salaf, dan segala keburukan terdapat pada berbagi perkara dan pemahaman yang diadakan oleh kaum khalaf (belakangan). Wallahu a’lam.

**

Dikutip dari: Artikel “Wanita dan Dakwah” oleh Al Ustadz Abu Abdirrahman, dalam Majalah Al Mawaddah, Edisi 12 Tahun Ke-2, Rajab 1430 H/Juli 2009, dengan pengubahan seperlunya.

 

Sumber: https://muslimah.or.id/5