Select Page
Membalas Hadiah ketika Diberi Hadiah

Membalas Hadiah ketika Diberi Hadiah

Salah satu kemuliaan ajaran Islam adalah sunnah memberikan hadiah kepada orang lain. Hal ini akan menimbulkan rasa cinta dan kasih sayang serta menghilangkan perasaan yang dapat merusak persaudaraan seperti hasad, dengki, iri dan lain-lainnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَهَادُوا تَحَابُّوا

Hendaklah kalian saling memberi hadiah, Niscaya kalian akan saling mencintai“.[1]

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menjelaskan bahwa hadiah ini bisa menyebabkan persatuan dan saling cinta, bahkan terkadang memberikan hadiah lebih utama daripada sedekah pada keadaan tertentu. Beliau berkata,

ولأنها سبب للألفة والمودة. وكل ما كان سبباً للألفة والمودة بين المسلمين فإنه مطلوب؛ ولهذا يُروى عن النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم أنه قال: (تهادوا تحابوا)، وقد تكون أحياناً أفضل من الصدقة وقد تكون الصدقة أفضل منها

“Karena hadiah merupakan sebab persatuan dan rasa cinta. Apapun yang dapat menjadi sebab persatuan dan rasa cinta antar kaum muslimin, maka ini dianjurkan. Diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ‘“Hendaklah kalian saling memberi hadiah, Niscaya kalian akan saling mencintai’. Terkadang memberi hadiah itu lebih baik dan terkadang sedekah itu lebih baik (pada keadaan tertentu).”[2]

Ketika kita diberi hadiah, hendaknya kita menerima hadiah tersebut walaupun nilainya kecil, karena hakikat dari hadiah adalah ingin menunjukkan perhatian, menimbulkan persatuan dan rasa cinta sesama kaum muslimin.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَا نِسَاءَ الْمُسْلِمَاتِ لاَ تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا وَلَوْ فِرْسِنَ شَاةٍ

“Wahai kaum muslimah, janganlah sekali-kali seorang wanita meremehkan pemberian tetangganya walaupun hanya ujung kaki kambing.”[3]

Bahkan ada anjuran untuk tidak menolak saat diberikan hadiah karena bisa jadi akan menyakiti hati orang yang memberikan hadiah. Terima saja hadiah tersebut, jika kita tidak berkehendak kita bisa memberikan kepada yang lebih membutuhkan.

Rasulullahu shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَجِيبُوا الدَّاعِيَ، وَلَا تَرُدُّوا الْهَدِيَّةَ

“Hadirilah undangan dan jangan tolak hadiah!”[4]

Selain disunnahkan memberikan hadiah, Islam juga menganjurkan kita agar membalas memberikan hadiah ketika diberikan hadiah. Bisa membalas saat itu juga atau membalas selang beberapa hari atau pekan berikutnya ketika kita mampu memberi balasan hadiah tersebut.

‘Aisyah menceritakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقْبَلُ الْهَدِيَّةَ وَيُثِيبُ عَلَيْهَا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa menerima hadiah dan biasa pula membalasnya.”[5]

As-Shan’ani menjelaskan,

فيه دلالة على أن عادته يَةِ كانت جارية بقبول الهدية والمكافأة عليها

“Hadits ini menunjukan bahwa merupakan kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima hadiah kemudian beliau membalas memberikan hadiah.”[6]

 

Demikian semoga bermanfaat

Penyusun: Raehanul Bahraen

 

Catatan kaki:
[1] HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad
[2] sumber: http://www.ibnothaimeen.com/all/noor/article_6080.shtml
[3] HR.Bukhari dan Muslim
[4] HR. Ahmad. Arnauth menyatakan hadis ini jayyid
[5] HR. Bukhari
[6] Subulus salam, kitabul buyu’ hal. 174

Sumber

Aku Bukan Suamimu

Aku Bukan Suamimu

Jika suami mengatakan kepada istrinya, ”Aku bukan suamimu lagi.” apakah jatuh talak?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Sebelumnya kita perlu mengenal pembagian talak ditinjau dari nilai ketegasannya.

Pertama, Lafadz talak sharih

Adalah lafadz talak yang sudah bisa dipahami maknanya dari ucapan yang disampaikan suami. Atau dengan kata lain, lafadz talak yang sharih adalah lafadz talak yang tidak bisa dipahami maknanya kecuali perceraian.

Misalnya: Kamu saya talak, kamu saya cerai, kita bubar…, atau kalimat semacamnya.

Kedua, Lafadz talak kinayah (tidak tegas)

Kebalikan dari yang pertama, lafadz talak kinayah merupakan kalimat talak yang mengandung dua kemungkinan makna. Bisa dimaknai talak dan bisa juga bukan talak. Misalnya pulanglah ke orang tuamu, keluar sana.., jangan pulang sekalian..,

Cerai dengan lafadz tegas hukumnya sah, meskipun pelakunya tidak meniatkannya.

Dalam Ensiklopedi Fiqh dinyatakan,

واتفقوا على أن الصريح يقع به الطلاق بغير نية

“Para ulama sepakat bahwa talak dengan lafadz sharih (tegas) statusnya sah, tanpa melihat niat (pelaku)” (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 29/26)

Sementara itu, cerai dengan lafadz tidak tegas (kinayah), dihukumi dengan melihat niat pelaku. Jika pelaku melontarkan kalimat itu untuk menceraikan istrinya, maka status perceraiannya sah.

”Aku Bukan Suamimu!” Jatuh Cerai?

Sebelumnya, kita perlu ingat, bahwa semua kalimat yang tidak sesuai realita adalah kalimat dusta dan itu kemungkaran.

Dalam kasus dzihar, seorang suami menyamakan istrinya dengan ibunya, yang haram untuk dia gauli. Allah menyebut pernyataan suami semacam ini sebagai ucapan munkar dan kedustaan.

الَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنْكُمْ مِنْ نِسَائِهِمْ مَا هُنَّ أُمَّهَاتِهِمْ إِنْ أُمَّهَاتُهُمْ إِلَّا اللَّائِي وَلَدْنَهُمْ وَإِنَّهُمْ لَيَقُولُونَ مُنْكَرًا مِنَ الْقَوْلِ وَزُورًا

Orang-orang yang menzhihar isterinya di antara kalian, (menganggap isterinya sebagai ibunya, padahal) Tiadalah isteri mereka itu ibu mereka. ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. dan Sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu Perkataan mungkar dan dusta.” (QS. al-Mujadilah: 2)

Terlepas apakah jatuh talak ataukah tidak, kalimat ini sendiri adalah kedustaan. Bagaimana mungkin wanita yang berstatus masih sah sebagai istrinya dan dia sah sebagai suaminya, sementara dia menyatakan, ”Aku bukan suamimu!”?? Bohong.. dia belum pernah menceraikannya sebelum itu. Berarti masih suaminya.

Untuk itu, kewajiban suami yang tega mengucapkan kalimat ini kepada istrinya, padahal mereka belum pernah bercerai, dia harus bertaubat dan memohon ampun kepada Allah, karena telah berbohong.

Apakah jatuh cerai?

Ulama menggolongkannya sebagai talak kinayah. Sehingga keabsahannya dikembalikan kepada niat suami. Jika suami berniat menceraikannya maka jatuh cerai satu. Sebaliknya, jika tidak berniat menjatuhkan cerai maka tidak jatuh cerai.

Kita simak keterangan dari an-Nasafi – ulama hanafi – (w. 710 H). Beliau menjelaskan salah satu kalimat talak,

وتطلق بلست لي بامرأة أو لست لك بزوج إن نوى طلاقا

”Wanita jatuh cerai dengan ucapan suami: ”Kamu bukan istriku” atau ”Aku bukan suamimu”, jika suami berniat talak.” (Kanzu ad-Daqaiq, dengan Syarh Tabyin al-Haqaiq, 6/292)

Az-Zaila’i ketika menjelaskan keterangan ini menyatakan,

وهذا عند أبي حنيفة ، وقالا لا تطلق ؛ لأنه نفي النكاح فلا يكون طلاقا بل يكون كذبا فصار كما لو قال لم أتزوجك

Ini merupakan pendapat Abu Hanifah. Beliau mengatakan, tidak jatuh talak. Karena dia mengingkari pernikahannya, sehingga bukan talak. Namun kedustaan. Sehingga seperti orang yang mengatakan, ’Saya tidak pernah menikahimu.’ (Tabyin al-Haqaiq Syarh Kanzu ad-Daqaiq, 6/292)

 

Allahu a’lam.
Penulis: Ustadz Ammi Nur Baits, ST., BA.

Sumber

Menolak Ajakan Suami karena Tidak Dinafkahi

Menolak Ajakan Suami karena Tidak Dinafkahi

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Suami maupun istri, masing-masing memiliki hak dan kewajiban yang sebanding dengan posisinya. Karena itu, bentuk hak dan tanggung jawab masing-masing berbeda. Kaidah baku ini Allah nyatakan dengan tegas dalam al-Quran,

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Para istri memiliki hak yang sepadan dengan kewajibannya, sesuai ukuran yang wajar.” (QS. al-Baqarah: 228).

Diantara tanggung jawab terbesar suami adalah memberi nafkah istri. Allah berfirman,

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) di atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS. An-Nisa’: 34).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga berpesan,

فاتَّقوا الله في النِّساء؛ فإنَّكم أخذتموهنَّ بأمانة الله، واستحْلَلْتم فروجَهنَّ بكلمة الله، ولهُنَّ عليكم رزقُهن وكسوتُهن بالمعروف

Bertaqwalah kepada Allah dalam menghadapi istri. Kalian menjadikannya sebagai istri dengan amanah Allah, kalian dihalalkan hubungan dengan kalimat Allah. Hak mereka yang menjadi kewajiban kalian, memberi nafkah makanan dan pakaian sesuai ukuran yang sewajarnya.” (HR. Muslim No.3009).

Karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi ancaman keras bagi suami yang tidak memperhatikan nafkah istrinya. Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كفى بالمرْء إثمًا أن يضيِّع مَن يقوت

“Seseorang dikatakan berbuat dosa, ketika dia menyia-nyiakan orang yang wajib dia nafkahi.” (HR. Abu Daud No.1694, Ibnu Hibban No.4240 dan dishahihkan oleh Syuaib al-Arnauth).

Ibnu Qudamah menyebutkan,

اتَّفق أهلُ العلم على وجوب نفقات الزَّوجات على أزْواجِهن، إذا كانوا بالغين؛ إلا النَّاشزَ منهنَّ، ذكره ابن المنذر وغيرُه

“Ulama sepakat suami wajib memberi nafkah istri, jika suami telah berusia baligh. Kecuali untuk istri yang nusyuz (membangkang). Demikian yang disebutkan Ibnul Mundzir dan yang lainnya.” (al-Mughni, 9/230).

Tanggung Jawab Istri

Sebaliknya, istri diperintahkan untuk mentaati suaminya. Selama suami tidak memerintahkan untuk maksiat.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

“Jika seorang wanita melaksanakan shalat lima waktu, melaksanakan puasa pada bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya, dan mentaati suaminya, maka dia dipersilahkan untuk masuk surga dari pintu mana saja yang dia kehendaki.” (HR Ahmad No.1683, Ibnu Hibban No.4163 dan dishahihkan oleh Syuaib al-Arnauth).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah mengatakan,

وليس على المرأة بعد حق الله ورسوله أوجب من حق الزوج

“Tidak ada hak yang lebih wajib untuk ditunaikan seorang wanita –setelah hak Allah dan Rasul-Nya- daripada hak suami” (Majmu’ al-Fatawa, 32/260)

Ketika Kewajiban Tidak Ditunaikan

Ketika salah satu tidak memenuhi kewajiban, maka yang terjadi adalah kedzaliman. Suami yang tidak memenuhi kewajibannya, dia mendzalimi istrinya dan sebaliknya. Hanya saja, dalam keluarga, Islam tidak mengajarkan membalas pengkhianatan dengan pengkhianatan. Karena masing-masing akan mempertanggung jawabkan tugasnya di hadapan Allah kelak di hari kiamat.

Sehingga, ketika suami tidak melaksanakan kewajibannya untuk istrinya, Islam tidak mengajarkan agar tindakan itu dibalas dengan meninggalkan kewajibannya. Karena yang terjadi, justru timbul masalah baru.

Syaikh Khalid bin Abdul Mun’im ar-Rifa’i mengatakan,

فإذا قصَّر أحدُ الزَّوجيْن في حقِّ الآخر، فليس للآخَر أن يقصِّر في حقِّه، فكلٌّ مسؤول عن تقْصيره يوم القيامة.

“Jika salah satu pasangan tidak menunaikan kewajibannya kepada yang lain, bukan berarti dia harus membalasnya dengan tidak menunaikan kewajibannya kepada pasangannya. Karena masing-masing akan dimintai pertanggung jawaban disebabkan keteledorannya, pada hari kiamat.”

Pelanggaran yang dilakukan oleh suami, tidak boleh dibalas dengan pelanggaran dari istri. Sehingga dua-duanya melanggar. Karena itu, solusi yang diberikan pelanggaran balas pelanggaran, tapi diselesaikan dengan cara yang baik, antara bersabar atau pernikahan dihentikan.

Lalu apa yang harus dilakukan wanita?

Syaikh ar-Rifa’i melanjutkan,

وفي حالة تقْصير الزَّوج في الإنفاق، فالمرأة مخيَّرة بين أن تصبِر على ذلك، وبين أن تطلُب الطَّلاق، فإنِ اختارت الصَّبر، فإنَّه يَجب عليْها أن تُطيع زوْجَها، ويَجب عليها أن تؤدِّي كلَّ الحقوق الواجبة عليْها لزوجها، ومن ذلك حقُّه في الفراش، وإنِ اختارت الطَّلاق لَم تأثم بذلك

“Ketika suami tidak menafkahi istrinya, ada dua pilihan untuk si wanita, antara bersabar atau melakukan gugat cerai. Jika dia pilih bersabar, maka istri wajib untuk memenuhi kewajibannya kepada suaminya. Termasuk hak untuk melayani di ranjang. Dan jika istri memilih talak, dia tidak berdosa.”

Sumber: http://ar.islamway.net/fatwa/42859/حكم-امتناع-المرأة-عن-فراش-زوجها-إذا-قصر-في-واجباته

Al-Qurthubi mengatakan,

فهِم العُلماء من قوله تعالى: {وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ} أنَّه متى عجَز عن نفقتها لم يكن قوَّامًا عليها، وإذا لم يكن قوَّامًا عليها، كان لها فسخ العقد لزوال المقْصود الذي شرع لأجْلِه النكاح

“Para ulama memahami dari firman Allah, ‘Disebabkan mereka menginfakkan harta mereka.’ bahwa ketika seorang suami tidak mampu memberikan nafkah istrinya, dia tidak disebut pemimpin bagi istrinya. Jika suami tidak lagi menjadi pemimpin bagi istrinya, maka istri berhak untuk melakukan gugat cerai. Karena tujuan nikah dalam kasus ini telah hilang.” (Tafsir al-Qurthubi, 5/168).

Ibnul Mundzir mengatakan,

ثبت أنَّ عمر كتبَ إلى أُمراء الأجناد أن ينفقوا أو يطلِّقوا

“Terdapat riwayat shahih bahwa Umar menulis surat untuk para panglima perang, agar para suami memberikan nafkah istrinya atau mentalak mereka.” (Dinukil dari Subul as-Salam, 3/224).

Allahu a’lam.
Penulis: Ustadz Ammi Nur Baits

Sumber

Orang Tua Wajib Bersikap Adil terhadap Semua Anaknya

Orang Tua Wajib Bersikap Adil terhadap Semua Anaknya

Yang dimaksud dengan anak dalam pembahasan ini mencakup anak lelaki dan wanita. Hak anak sangatlah banyak. Yang terpenting adalah tarbiyah (memberikan pendidikan), yaitu mengembangkan agama dan akhlak mereka sehingga hal itu menjadi bagian terbesar dalam kehidupan mereka. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),

Wahai orang-orang yang beriman jagalah dirimu dan keluarga kalian dari api neraka yang kayu bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. At-Tahrim: 6).

Salah satu hak anak adalah tidak mengistimewakan salah satu di antara mereka dibandingkan saudaranya yang lain, dalam hal pemberian dan hibah. Tidak boleh memberikan sesuatu kepada salah seorang anaknya sedangkan dia tidak memberikan kepada anaknya yang lain. Hal tersebut termasuk perbuatan curang dan zalim, padahal Allah Ta’ala tidak mencintai orang-orang yang zalim. Perbuatan semacan itu akan menyebabkan kekecewaan anak yang tidak diberi dan menimbulkan permusuhan di antara mereka, bahkan terkadang permusuhan terjadi antara anak yang tidak diberi dengan orang tua mereka.

Di dalam Shahihain (kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim), terdapat riwayat dari Nu’man bin Basyir, bahwa bapaknya (yakni Basyir bin Sa’ad) telah memberikan kepadanya seorang budak sahaya. Kemudian ia memberitahukan itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bertanya kepada Basyir, “Apakah seluruh anakmu engkau berikan sama seperti ini?”

Dia menjawab, “Tidak.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kembalikanlah!”

Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Bertakwalah kalian kepada Allah dan bersikaplah adil kepada anak-anak kalian.”

Dalam lafal lain disebutkan, “Carilah saksi orang lain, karena aku tidak mau menjadi saksi atas perbuatan curang.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut sikap melebihkan salah satu anak dalam hal pemberian dengan istilah “perbuatan curang”. Perbuatan curang adalah kezaliman dan hukumnya haram.

Bila terjadi kondisi ketika orang tua perlu memberikan suatu barang yang dibutuhkan oleh seorang anak, namun orang tua tersebut tidak memberikan kepada anak yang lain karena anak tersebut tidak membutuhkannya — misalnya salah seorang anak membutuhkan alat tulis, berobat, atau menikah — maka dalam kasus seperti ini hukumnya tidak mengapa mengistimewakan salah seorang anak atas anaknya yang lain, karena hal ini sesuai dengan kebutuhan sehingga hukumnya sama seperti memberi nafkah.

**

Disarikan dari buku “10 Hak dalam Islam” (terjemahan), karya Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, penerbit Pustaka Al-Minhaj.

Sumber

Istri Cekatan

Istri Cekatan

Istri teladan harus menjauhi sifat-sifat malas dan lamban. Dia mengetahui nilai waktu, karena waktu merupakan umurnya yang kelak akan dipertanyakan. Oleh karena itu dia mengembangkan segala potensi dan tidak menghambat kemampuan yang dianugerahkan Allah kepadanya. Dia kembangkan potensi dan kemampuan dirinya di jalan Allah. Baik kemampuan dia dalam menjahit, menenun, membaca atau keterampilan-keterampilan lainnya yang merupakan anugerah Allah yang harus dimanfaatkan.

Siapa yang mempunyai keahlian membaca, maka ia bisa membaca bacaan-bacaan yang bermanfaat, sehingga bisa membekali dirinya dengan berbagai pengetahuan. Selain itu dia juga bisa mengajarkan kepada orang lain.

Siapa yang bisa menjahit, dia bisa menjahit pakaian yang bermanfaat sehingga dia bisa mengambil manfaat dari keterampilannya itu dan bisa bekerja.

Siapa yang mempunyai keterampilan dalam masak-memasak, dia bisa memasak dan menyantuni orang miskin, orang-orang kelaparan dan sanak saudaranya yang membutuhkan, karena ini merupakan shadaqah baginya.

Dari Abu Musa bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Setiap orang muslim punya hak shadaqah.” Beliau ditanya, “Jika ia ia tidak mendapatkan suatu untuk dishadaqahkan?” Beliau bersabda, “Dia harus bekerja untuk memberi manfaat bagi dirinya.” “Bagaimana bila ia tidak mampu berusaha?” Beliau bersabda, “Menolong yang sedang kesusahan.” Beliau ditanya, “ Bagaimana bila ia juga tidak mampu?” Beliau bersabda, “ Menahan diri dari segala keburukan adalah shadaqah. (HR. Bukhari dan Muslim).

Hidup dengan serba terampil dan cekatan itu dimaksudkan untuk menciptakan kemajuan dan peradaban bagi umat kita. Tidak ada tempat untuk bermain-main dan bersantai-santai serta hal-hal yang tidak bermanfaat dalam kehidupan muslimah. Sehingga semangat masyarakat semakin bertambah, jiwa manusia semakin unggul dan potensi yang terpendam bisa dimanfaatkan. Para muslimah bisa belajar dan mengajari orang lain. Aktifitas seseorang tidak berhenti pada umur tertentu.

Ummul Mu’minin Hafshah juga belajar menulis dari Asy –Syifa’, karena memang dia seorang wanita yang pandai menulis. Dari Asy-Syifa’ binti Abdullah bin Abdi Syams radhiyallahu ‘anhaa dia berkata: ‘Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mendatangi tempat kami dan aku berada di sisi Hafshah lalu dia bersabda, “ Mengapa engkau tidak mengajarkan pengobatan sebagaimana engkau mengajarkan kepadanya tulis menulis?”

Istri shalihah selalu mengefektifkan waktunya yang dianggap sebagian orang waktu senggang, yang bisa menimbulkan rasa jemu dan bosan yang dianggap berat dan pahit. Tetapi dengan kerajinan istri yang teladan mampu menjadikan kehidupan bernilai tinggi. Oleh karena itu dia bersungguh-sungguh dalam mempelajari ilmu agama, seperti memahami kitab Allah dan hukum-hukum fiqih yang dibutuhkannya, agar bisa mengetahui hukum-hukum halal dan haram.

Dia bisa meringkas buku-buku yang dibaca sehingga sang suami bisa mengambil manfaat darinya. Di samping itu, dia juga bisa mengikuti radio, mendengarkan berbagai berita dan peristiwa di penjuru dunia, sehingga dia bisa menyadari keberadaannya di dunia. Semua ini dilakukan karena mengharap pahala dari Allah Ta’ala. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barangsiapa menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim).

Jika pekerjaannya menumpuk dan banyak tuntutan di sekelilingnya, maka ia tidak boleh menyerah kalah sebelum bertindak dengan meremehkan semuanya, lalu dia tidak berbuat apa-apa. Tetapi dia harus mendahulukan yang prioritas, menyusun pekerjaan dan tidak boleh lalai.

Kewajibannya terhadap keluarga suami, silaturahmi dan mengunjungi orang yang sakit harus diprioritaskan dari pada pekerjaan lain yang bisa ditangguhkan. Dia bisa menangguhkan tugas mencuci dan menyeterika pakaian sehari, agar waktu dan pekerjaan bisa berjalan selaras, sehingga dia memanfaatkan waktu sebaik mungkin, tanpa meremehkan pekerjaan yang lain.

Bukan berarti seorang wanita harus mengaktifkan setiap jengkal waktunya. Tetapi ada saat-saat tertentu bagi keluarga untuk bersantai.

Kita mempunyai keteladanan yang baik pada diri Rasulullah dan canda beliau bersama ‘Aisyah, dan perlombaan larinya dengan ‘Aisyah. Suatu kali ‘Aisyah menang dan tatkala ‘Aisyah sudah gemuk maka beliaulah yang menang, sebagaimanan yang telah dirriwayatkan Imam Ahmad dan Abu Dawud dalam hadits yang shahih.

Seorang istri bisa bertamasya dengan keluarganya, bercanda dengan suaminya dan anak-anaknya sehingga bisa membangkitkan semangat untuk menapaki kehidupan ini.

***

Disalin dari buku Rahasia Sukses Istri Shalihah (Terjemah Az-Zaujatul Mitsaaliyah), Haulah Darwaisy, Hal 95-100, Pustaka Darul Ilmi, Bogor, dengan sedikit perbaikan dari Tim Muslimah.

Sumber

Berkumpul dengan Suami/Istri Kita di Surga Kelak

Berkumpul dengan Suami/Istri Kita di Surga Kelak

Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz

Pertanyaan:

Seorang wanita muslimah yang masuk surga, siapa yang kelak menjadi suaminya di surga jika suaminya ketika di dunia adalah orang yang fajir (ahli maksiat)? Sedangkan Allah meridhai si suami dan ia masuk neraka. Dan apakah ada suami lain bagi si wanita tadi jika ternyata suami-istri tersebut masuk surga? Dan apakah orang yang masuk surga akan bertemu dengan para kerabatnya yang masuk surga juga? Semisal ibunya, ayahnya anak-anaknya dan para kerabat lainnya? Semoga Allah memberikan taufik kepada anda dan semoga Allah membalas anda dengan kebaikan.

Jawab:

Mengenai seorang istri yang suaminya meninggal lebih dulu darinya atau meninggal setelahnya, atau wanita yang ditalak, tidak ada satu pun dalil yang shahih dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dalam pandangan kami. Dan tidak ada juga dalil dalam Al Qur’an yang menjelaskan hal itu. Namun perkaranya menjadi urusan Allah, terkadang Allah mengembalikannya kepada suaminya atau terkadang yang lain. Sebagaimana juga suami, terkadang ia diberikan satu istri dari istrinya ketika di dunia atau sebagian dari istri-istrinya di dunia. Dan terkadang juga diberikan dan dinikahkan dengan istri dari selain mereka. Dan semuanya (pria dan wanita) akan diberikan huurun iin sebagai tambahan dari suami/istri yang ada ketika di dunia. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan apa-apa yang diberikan kepada para hamba-Nya di surga sesuai keinginan-Nya.

Dan para penduduk surga mendapatkan kenikmatan apa saja yang mereka inginkan. Dan yang zhahir dari dalil-dalil mengenai surga, bahwa seorang lelaki jika meminta dikumpulkan bersama istrinya ketika dunia, yang ia cintai ketika di dunia, maka akan diberikan. Karena Allah Ta’ala berfirman:

وَلَهُمْ مَا يَدَّعُونَ

dan bagi mereka apa saja yang mereka minta” (QS. Yunus: 57).

لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ

bagi mereka apa yang mereka inginkan di dalamnya (surga) dan dan pada sisi Kami ada tambahannya” (QS. Qaaf: 35).

Dan jika sang suami menginginkan dan meminta dikumpulkan denan istrinya di surga, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikannya apa yang mereka inginkan, dan memberikan apa yang mereka minta.

Adapun memastikan bahwa istri si Fulan akan berkumpulkan kembali dengan si Fulan di surga, dan terkadang seseorang lelaki menikah empat kali, lima kali atau lebih, maka tidak demikian adanya. Terkadang si Fulan ini menikahi sebagiannya dan mentalaknya lalu menikahi yang lain, maka perincian hal ini dikembalikan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Allah lah yang berhak mengatur semua itu sesuai kehendak-Nya.

Adapun istri-istri Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, semuanya akan menjadi istri beliau di akhirat. Khusus istri-istri Nabi, kelak semuanya akan menjadi istri-istri beliau di akhirat. Demikian juga istri-istri beliau yang wafat setelah beliau, mereka akan menjadi istri-istri beliau di akhiat.

Adapun mengenai kerabat, tidak ragu lagi bahwa penduduk surga itu diberikan apa yang mereka minta, Dan diantara nikmat yang mereka dapatkan adalah mereka dapat bertemu dengan kerabat mereka, yaitu saudara-saudara mereka, ayah-ayah mereka, ibu-ibu mereka. Dan Allah Jalla wa ‘ala mengabarkan bahwa penduduk surga kelak akan di angkat kerabat-kerabat mereka bagi mereka. Allah Jalla wa ‘Ala mengumpulkan mereka dengan anak-cucu mereka walaupun anak-cucu mereka lebih sedikit amalnya. Dan ini merupakan bentuk sempurnanya nikmat, yaitu diangkatnya anak-cucu mereka kepada mereka. Oleh karena itu Allah berfirman:

أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ

kami pertemukan mereka dengan anak-cucu mereka” (QS. Thur: 21).

Maka Allah mempertemukan penduduk surga dengan anak-cucu mereka sebagai bentuk kesempurnaan nikmat mereka. Demikian juga para kerabat mereka yang lain. Jika seorang mukmin menginginkannya, maka ia akan bertemu dengan mereka. Karena Allah Ta’ala memberikan apa saja yang diinginkan penduduk surga.

***

http://www.binbaz.org.sa
Penerjemah: Ustadz Yulian Purnama

Sumber