Orangtua Pecinta Dunia Maya

Orangtua Pecinta Dunia Maya

Nasehat asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafidzahullahu Ta’ala

Segala puji hanyalah milik Allah yang menjadikan anak-anak shalih menjadi penyejuk mata bagi kedua orang tuanya yang shalih. Aku bersaksi tiada illah yang berhak disembah kecuali Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, Dialah wali bagi orang beriman. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, Nabi yang paling utama di antara para nabi. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada beliau, keluarga beliau, sahabat-sahabat beliau, serta orang yang mengikuti petunjuk beliau hingga hari kiamat.

Wahai manusia sekalian, perlu diketahui bahwa masyarakat yang baik dibangun di atas pergaulan dan rumah tangga yang baik. Sementara rumah tangga yang baik disokong oleh peran seorang istri yang shalihah. Untuk itu seorang laki-laki muslim wajib memilih istri yang shalihah. Sebagaimana wejangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

Pilihlah wanita karena agamanya, niscaya engkau akan beruntung.” (Muttafaqun ‘alaihi).

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ

Wanita-wanita shalihah lagi bertakwa, menjaga diri saat ditinggal suaminya.” (QS an-Nisa’: 34) .

Hendaknya seorang laki-laki memilih istri yang shalihah karena dia adalah penopang rumah tangga, pendidik anak-anak sekaligus penjaga rahasia-rahasia suaminya. Adapun makna firman Allah Ta’ala,

[فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَات] yaitu wanita-wanita yang taat kepada Allah.

[حَافِظَاتٌ لِلْغَيْب] yaitu jika suami pergi meninggalkan istri maka sang istri berusaha menjaga dirinya, harta suami, dan anak-anaknya sampai suaminya kembali.

Wahai hamba-hamba ar-Rahman, diantara bentuk doa yang mereka panjatkan,

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ

Wahai Rabb kami anugerahkanlah kepada kami istri-istri dan keturunan yang menyejukkan pandangan.”

Dalam doa ini penyebutan istri didahulukan. Seorang penyair berkata,

الأم مدرسة إذا أعددتها *** اعتددت شعبا طيب الأعراق

Seorang ibu, madrasah bagi anaknya bila engkau menyiapkannya… (berarti) engkau turut memperhatikan bangsa yang baik generasinya.”

Seseorang yang dikarunia anak baik laki-laki ataupun perempuan, hendaknya ia mengutamakan pendidikan mereka sedari kecil, saling tolong menolong bersama sang ibu untuk mendidik mereka di atas kebaikan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا لعَشْرِ سِنِينَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِع

Perintahkanlah anak-anak kalian melaksanakan shalat saat umur 7 tahun. Dan pukullah (jika tidak mau shalat) saat umur 10 tahun serta pisahkan tempat tidur mereka.” (HR. Abu Dawud No. 495).

Inilah pendidikan bertahap yang dilakukan semenjak mereka kecil. Tidak diragukan lagi semua ini membutuhkan kesabaran dan keletihan, tetapi tentunya dalam rangka menaati Allah. Kesabaran yang lezat. Kesudahan yang baik bagi orang yang bertakwa.

Hendaknya ayah ibu saling membantu untuk mendidik anak-anaknya. Seorang ibu lebih banyak menyiapkan bekal pendidikan untuk putri-putrinya tentang akhlak yang luhur, menutup aurat, menanamkan rasa malu. Adapun sang ayah lebih banyak porsi pendidikan untuk putra-putranya semua hal tentang kelaki-lakian, adab seorang laki-laki hingga akhirnya ia tumbuh menjadi anak yang shalih bermanfaat bagi orang tuanya saat keduanya hidup ataupun setelah tiada. biidznillah.

Proses pendidikan anak dalam rangka perbaikan keturunan tidak akan tercapai kecuali dengan kelelahan. Mau tak mau harus dengan rasa letih, membutuhkan kesabaran, perencanaan dan pengawasan. Jika tidak demikian maka keluarga tersebut akan sia-sia seperti halnya yang terjadi pada sebagian besar rumah tangga kaum muslimin. Terlebih di zaman ini. Begitu banyak fitnah, berbagai macam keburukan dan pemalingan dari kebenaran.

Duhai dimanakah para ayah?
Dimanakah para ibu?

Para ayah sibuk dengan dunianya, membanting tulang bekerja siang dan malam. Mereka juga semangat berkumpul dengan temannya hanya untuk ngegosip hingga larut malam. Atau bahkan lebih parah dari itu. Para ibu sibuk berkeliaran di jalanan, seabrek jadwal meeting dengan dalih untuk belajar, penelitian atau pekerjaan.

Sementara sang anak dilemparkan (tanggung jawab pendidikan) kepada guru atau dimasukkan ke PAUD. Mereka tak ubahnya seperti anak-anak yatim, anak-anak jalanan yang tak mengenal siapa orangtuanya.

Aduhai di manakah amanah itu wahai manusia?
Di manakah gerangan amanah yang dipikulkan di atas pundak-pundak kalian?

Bertakwalah kalian kepada Allah. Anak-anak adalah amanah yang dipikul di atas pundak kalian. Kelak kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Merekalah bawahan yang menjadi tanggungjawab kalian.

الرَّجُلَ رَاعٍ في بَيْتِهِ، مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Setiap laki-laki adalah pemimpin rumah tangganya kelak akan dimintai tanggungjawab tentang keluarganya.” (Muttafaqun ‘alaihi).

Orang yang menyia-nyiakan keluarganya akan mendapatkan ancaman keras kelak di hari kiamat. Sebagimana disebutkan dalam hadits shahih,

ما من راع يسترعيه الله رعية ثم يموت يوم يموت وهو غاش لرعيته إلا حرم الله عليه الجنة

Tidak ada seorangpun pemimpin dimana Allah mengikat dirinya dengan orang yang menjadi tanggungannya, kemudian ia mati dalam keadaan berbuat dzalim kepada mereka kecuali Allah haramkan baginya surga.” (HR. ath-Thabrani No. 533 dalam al-Mu’jamul Kabir, No. 4916 dan 8713 dalam al-Mu’jamul Ausath).

Takutlah wahai hamba Allah… Terlebih di zaman sekarang ini berbagai macam fitnah/ujian menggelora. Fitnah bermunculan di jalanan, di sekolah-sekolah, di rumah-rumah. Berbagai jenis fitnah masuk begitu mudahnya hanya melalui kontak dengan media. Sebut saja media internet, dengan hitungan menit seseorang bisa menjelajah kehidupan di Eropa, Amerika dan negara-negara kafir lainnya. Ironisnya media itu terpasang di rumah-rumah negeri kaum muslimin.

Tak terelakkan lagi, pengaruh negatif berdatangan dan masuk ke dalam rumahnya dalam format video, audio ataupun media cetak saat dia bersantai di atas kasurnya. Lebih parah lagi apabila istri-istri dan anak-anak perempuan sambil tiduran di atas kasurnya, engkau melihat mereka berada di dalam rumah, namun hakikatnya pikiran dan lamunannya berkelana keluar rumah hanya dengan media ini. Media yang telah memenuhi rumah-rumah kebanyakan kaum muslimin.

Inilah media yang menghantarkan kepada keburukan, kerusakan, kehancuran akal pikiran, akhlak, agama dan akidah sementara engkau tidak menyadarinya. Obsesi kalian hanyalah sebatas dunia saja, menghabiskan malam dengan kawan, jalan-jalan, dan yang lainnya. Atau terus berpacu tanpa henti menghitung-hitung barang dagangan, harta, kesehatan. Karena anak kalian sejatinya adalah berapa keuntungan.

Tatkala engkau melupakan anak-anakmu, maka ketika itu engkau telah menyia-nyiakan agama dan dunimu. Sehingga mereka hanya akan menjadi penyesalanmu di masa yang akan datang. Allah Ta’ala berfirman,

فَلا تُعْجِبْكَ أَمْوَالُهُمْ وَلا أَوْلادُهُمْ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ بِهَا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَتَزْهَقَ أَنفُسُهُمْ وَهُمْ كَافِرُونَ

Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak. Itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir.” (QS. At Taubah:55).

Takutlah kalian wahai hamba Allah… Masalah ini benar-benar serius, bahayanya sangat dahsyat di zaman ini. Sementara kebanyakan kalian melalaikannya.

Awasilah anak kalian, perhatikanlah mereka… Ajaklah mereka ke masjid… Ajaklah mereka mendatangi majelis ilmu dan ceramah agama yang bermanfaat… Teruslah mengajaknya menghadiri pertemuaan kalian agar mereka terbiasa mendengarkan pembicaraan orang alim… Didiklah mereka hingga memiliki budi pekerti yang luhur…

Pendidikan tidak akan terwujud hanya dengan banyaknya harta dan anak… Pendidikan yang baik tidak akan berhasil dengan harta dan keturuanan yang banyak… Pendidikan tidak akan berhasil kecuali dengan keletihan, usaha keras dan kepayahan, akan tetapi buahnya sangatlah manis jika pendidikan yang baik bisa tercapai…

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ

Setiap anak dilahirkan di atas fitrah.” Anak dilahirkan diatas fitrahnya yaitu di atas keselamatan, kebaikan seperti pendidikan yang baik nan subur. Namun terkadang ia dikuasai pendidikan buruk yang memalingkannya dari kebenaran hingga akhirnya merusaknya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِه أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya sebagai seorang Yahudi atau menjadikannya sebagai seorang Nasrani atau Majusi.” (Muttafaqun ‘alaihi).

Inilah pendidikan yang buruk. Baik karena sebab kelalaian orang tuanya atau karena pengaruh negatif media perusak dari mulai video, audio sampai media cetak. Semua layanan negatif ini tersedia di HP, internet, Facebook sebagaimana yang mereka namakan dan nama lain yang aku sendiri tidak mengetahuinya.

Inilah media perusak dan penghancur rumah tangga, pergaulan dan tatanan kehidupan masyarakat. Kondisi inilah yang diinginkan oleh musuh-musuh Islam. Musuh Islam tidaklah memerangi kalian dengan senjata namun menyerang kalian dengan ideologi buruk, menyerang kalian dengan alat-alat penghancur dengan media yang kalian miliki sendiri sementara kalian tidak menyadarinya.

Wahai hamba Allah bertakwalah kepada-Nya… Bertakwalah kalian tentang urusan rumah tangga kalian, tentang anak-anak kalian.

Lihatlah kisah Nuh ‘alaihissalam saat menaiki kapal bersama orang beriman, sementara anaknya tersesat dan tidak mau menaikinya. Nabi Nuh dengan lemah lembut mengajaknya,

يَا بُنَيَّ ارْكَبْ مَعَنَا وَلا تَكُنْ مَعَ الْكَافِرِي

Wahai anakku naiklah ke kapal bersama kami dan janganlah kamu bersama orang-orang kafir.” (QS. Hud: 42).

Sang anak malah menimpali,

سَآوِي إِلَى جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنْ الْمَاء

Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!” (QS. Hud: 43).

Sang ayah berkata,

لا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلاَّ مَنْ رَحِمَ

Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah kecuali Allah (saja) Yang Maha Penyayang.” (QS. Hud: 43).

Allah lanjutkan firman-Nya,

وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنْ الْمُغْرَقِينَ

“Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.” (QS. Hud: 43).

Tatkala Nabiyullah Nuh ‘alaihissalam berlabuh di daratan beliau berkata,

رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَق

Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar.” (QS. Hud: 45).

Yaitu janji Allah untuk menyelamatkan Nabi Nuh bersama keluarganya. Allah Ta’ala menjawab,

يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِك

Wahai Nuh sesungguhnya anakmu bukanlah keluargamu.” (QS. Hud: 46).

Kenapa?

إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ

Sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik.” (QS. Hud: 46).

Dalam qiro’ah lain berbunyi,

عَمَيل غَيْر صَالِحٍ فَلا تَسْأَلْنِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنِّي أَعِظُكَ أَنْ تَكُونَ مِنْ الْجَاهِلِينَ* قَالَ رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ وَإِلاَّ تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنْ الْخَاسِرِينَ

Sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak mengetahui.. Nuh berkata: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakekat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Hud: 46-47).

Perhatikanlah, apa akibat perbuatan anak Nabi Nuh yang tidak patuh kepada ayahnya dan lebih memilih bersama orang kafir? Ya, ia tenggelam bersama orang-orang kafir sementara dia anak Nabi Nuh meski demikian kedudukan ayahnya tidak memberi manfaat padanya.

Takutlah kalian kepada Allah tentang urusan anak-anak kalian. Perbaikan tidak akan terwujud hanya dengan harta dan anak yang banyak namun tanpa kelelahan.

ومن طلب العلا من غير كدٍ *** فقد أضاع العمر في طلب المحالِ.

Barangsiapa yang menginginkan kemuliaan tanpa ketekunan, maka sungguh dia hanya menyia-nyiakan umur tentang cita-citanya itu.”

Pendidikan tidak akan terwujud tanpa kesungguhan dan tanpa kelelahan… Maka bersabarlah… Mendidik anak termasuk jihad fi sabilillah bahkan jihad yang paling agung. Engkau berjihad mendidik anak-anakmu untuk taat kepada Allah, bersabar di atas penderitaan dan terus menerus istiqamah di atasnya sampai kalian ditakbirkan (disholatkan). Karena engkau kelak akan dimintai pertanggungjawaban tentang mereka. Kelak di hari kiamat engkau akan ditanya Allah tentang anak-anakmu.

Ketahuilah, sekarang ini kalian seperti halnya penggembala kambing di lembah sarang binatang buas. Jika engkau lengah sedikit saja maka kambingmu diterkam.

ومن رعى غنماً في أرض مسبعةٍ *** ونام عنها تولى رعيها الأسدُ

Barangsiapa yang menggembala kambing di sarang binatang buas… Lalu dia terlelap, maka singa akan menguasai kambingnya.”

Demikian juga halnya anak-anak kalian. Engkau membiarkan anak-anak dikuasai oleh musuh kalian sendiri. Baik secara langsung dengan adanya guru pendidik yang jelek ataupun secara tidak langsung melalui media penghancur sementara kalian sendiri lalai darinya. Dada-dada anak kalian dipenuhi oleh pengaruh negatif media, begitu juga rumah-rumah mereka.

Takutlah kalian wahai hamba Allah… Bertakwalah kepada Allah… Sekarang lihatlah tempat tinggal kalian, lihatlah fitnah bertebaran di sekelilingmu di negerimu… Ia telah menghancurkan kalian hingga kebanyakan kelompok orang berpecah belah. Inilah hukuman dari Allah Subahanahu wa Ta’ala.

Berhati-hatilah jangan sampai apa yang telah menimpa tetangga kalian juga menimpa kalian.

وَمَا هِيَ مِنْ الظَّالِمِينَ بِبَعِيدٍ

Siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim.”

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدَادٌ لا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُون

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. at-Tahrim: 6).

Semoga Allah memberkahi diriku dan kalian dengan al-Qur’an yang agung. Semoga penjelasan al-Qur’an dan peringatan di dalamnya bermanfaat bagi kita. Aku katakan ini dengan sebenarnya. Dan semoga Allah mengampuniku, kalian dan seluruh kaum muslimin dari segala dosa. Minta ampunlah kepada-Nya, bertaubatlah kepada-Nya sesungguhnya Dia Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
—-

Diterjemahkan oleh: Ummu Fatimah Umi Farikhah

Pemuraja’ah: Ustadz Raehanul Bahraen

Catatan tambahan dari Ustadz pemurojaah:
Internet bagaikan pedang bermata dua; ada yang bermanfaat dan ada yang mudharat. Sehingga kita sebagai kaum muslimin harus bijak menyikapinya.

Sumber

Mandi Air Panas di Malam Hari

Mandi Air Panas di Malam Hari

Apakah anda suka mandi air panas di malam hari? Sebagian orang memilih mandi dengan air panas pada malam hari supaya bisa menghilangkan capeknya setelah seharian bekerja atau untuk menghindari suatu penyakit tertentu, namun hal itu dari segi medis. Namun, dari segi agama bagaimana pendapat ulama mengenai hal ini, apakah diperbolehkan mandi air panas di malam hari?

Soal:
Ibuku selalu berkata kepadaku tentang mandi air panas di malam hari atau di akhir waktu, hal itu tidak diperbolehkan dalam agama karena bisa menyebabkan setan akan terganggu dan setan akan terbunuh oleh air panas. Apakah hukumnya atau adakah dalil yang berkaitan dengan hal tersebut?

Jawab:

Segala puji bagi Allah. Terdapat dua rincian mengenai hal ini:

Pertama,
Mandi dan masuk ke kamar mandi pada waktu malam hari atau siang hari tidak dimakruhkan. Sebagian ulama berpendapat, makruh hukumnya masuk ke dalam kamar mandi mendekati waktu maghrib atau antara waktu maghrib dan isya. Karena hal tersebut waktu dimana setan menyebar. Namun, pendapat yang shohih tidak makruh hukumnya masuk ke dalam kamar mandi di antara dua waktu tersebut atau waktu selainnya karena tidak ada satupun dalil syar’i yang melarangnya. Karena pada waktu tersebut sesungguhnya terdapat kebutuhan manusia yang mendesak dengan masuknya ke kamar mandi yaitu untuk mandi junub ataupun kebutuhan yang lainnya.

Dalam kitab Mathaalib Ulin-Nuha (1/189) dinyatakan,

وَلَا يُكْرَهُ دُخُولُهُ حَمَّامًا قُرْبَ غُرُوبٍ وَلَا بَعْدَهُ ، لِعَدَمِ النَّهْيِ الْخَاصِّ عَنْهُ

“Tidak dimakruhkan masuknya seseorang ke kamar mandi mendekati waktu maghrib dan tidak pula waktu setelahnya, tidak ada larangan yang khusus mengenai hal tersebut”.

Kedua,
Menuangkan air panas di kamar mandi ataupun di tempat lainnya, terkadang bisa mengganggu jin. Semacam ini merupakan suatu yang maklum dan diketahui banyak orang, karena itu, seharusnya dihindari.

Seorang muslim hendaknya berhati-hati ketika menumpahkan air panas di kamar mandi atau tempat lainnya. Agar tidak mengganggu jin sementara dia tidak tahu. Mereka para jin akan terganggu dengan adanya air panas tersebut. Perkara seperti ini banyak terbukti di lapangan. Meskipun kami tidak mengetahui adanya suatu riwayat pun (yang menjelaskan itu), baik dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ataupun para sahabat radhiyallahu ‘anhum.

Dan jika seorang muslim butuh untuk menuangkan air panas, maka ucapkanlah: bismillah, ketika menuangkan air panas atau sebelum masuk ke kamar mandi.

Wallaahu a’lam.

 

Sumber

 

Yang Berlalu Biarlah Berlalu

Yang Berlalu Biarlah Berlalu

Bismillahirrahmanirrahim..

Terkadang banyak sekali orang yang ingin memperbaiki kualitas dirinya dengan lebih mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala namun ketika ia mengingat dosa-dosa di masa lalunya yang begitu kelam dan gelap, dia menganggap dirinya paling kotor dan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan menerima dirinya.

Sikap putus asa terhadap rahmat dari-Nya merupakan tipu daya setan agar manusia berpaling dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, padahal rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala sangatlah luas dan agung. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda,

اللَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا

Sungguh Allah lebih penyayang terhadap hamba-hamba-Nya daripada seorang ibu terhadap anak bayinya”[1]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَمَّا قَضَى الْخَلْقَ كَتَبَ عِنْدَهُ فَوْقَ عَرْشِهِ إِنَّ رَحْمَتِى سَبَقَتْ غَضَبِى

Ketika Allah menciptakan makhluk, Dia menuliskan di sisinya di atas arsy-Nya: sesungguhnya kasih sayang-Ku mendahului/mengalahkan kemurkaan-Ku”[2]

Maa syaa Allah, begitu luar biasanya Alloh sayang kepada hambanya. Masih pantaskah kita berputus asa dari rahmat-Nya? Masihkah kita meragukan keagungan dan kasih sayangNya?

Allah Subhanahu wa Ta’alajuga telah memberikan nasehat sekaligus kabar gembira kepada kita dalam kitab-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’alaberfirman:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu terputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS az-Zumar: 53).

Cobalah simak kisah yang sangat luar biasa di bawah ini tentang agungnya ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Imam Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah menukil[3] sebuah kisah yang menarik untuk kita jadikan renungan; dari imam besar ahlus sunnah dari kalangan Atbaa’ut taabi’iin, Fudhail bin ‘Iyaadh rahimahullah[4], ketika beliau menasehati seseorang lelaki, beliau berkata kepada lelaki itu: “Berapa tahun usiamu (sekarang)?”. Lelaki itu menjawab: Enam puluh tahun. Fudhail berkata: “(Berarti) sejak enam puluh tahun (yang lalu) kamu menempuh perjalanan menuju Allah dan (mungkin saja) kamu hampir sampai”. Lelaki itu menjawab: Sesungguhnya kita ini milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Maka Fudhail berkata: “Apakah kamu paham arti ucapanmu? Kamu berkata: Aku (hamba) milik Allah dan akan kembali kepada-Nya, barangsiapa yang menyadari bahwa dia adalah hamba milik Allah dan akan kembali kepada-Nya, maka hendaknya dia mengetahui bahwa dia akan berdiri (di hadapan-Nya pada hari kiamat nanti), dan barangsiapa yang mengetahui bahwa dia akan berdiri (di hadapan-Nya) maka hendaknya dia mengetahui bahwa dia akan dimintai pertanggungjawaban (atas perbuatannya selama di dunia), dan barangsiapa yang mengetahui bahwa dia akan dimintai pertanggungjawaban (atas perbuatannya) maka hendaknya dia mempersiapkan jawabannya”. Maka lelaki itu bertanya: “(Kalau demikian) bagaimana caranya (untuk menyelamatkan diri ketika itu)?”. Fudhail menjawab: “(Caranya) mudah”. Lelaki itu bertanya lagi: “Apa itu?”. Fudhail berkata:

تُحْسِنُ فِيمَا بَقِيَ ، يُغْفَرُ لَكَ مَا مَضَى وَمَا بَقِيَ , فَإِنَّكَ إِنْ أَسَأْتَ فِيمَا بَقِيَ أُخِذْتَ بِمَا مَضَى وَمَا بَقِيَ

Engkau berbuat kebaikan (amal shaleh) pada sisa umurmu (yang masih ada), maka Allah akan mengampuni (dosa-dosamu) di masa lalu, karena jika kamu (tetap) berbuat buruk pada sisa umurmu (yang masih ada), kamu akan di siksa (pada hari kiamat) karena (dosa-dosamu) di masa lalu dan (dosa-dosamu) pada sisa umurmu”.

Allah Ta’ala juga berfirman:

إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ

Sesungguhnya Rabb-mu maha luas pengampunan-Nya” (QS an-Najm: 32).

Subhanallah. Lagi dan lagi Allah Ta’ala telah menunjukkan kepada kita betapa pemurah dan sayang kepada setiap hambanya. Setiap hamba yang ingin menghambakan, memperbaiki diri dan istiqomah di jalan yang telah Alloh Ta’ala tunjukkan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Taubat (yang benar) akan menghapuskan (semua dosa yang dilakukan) di masa lalu”. Dalam hadits lain yang semakna, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

التائب من الذنب كمن لاذنب له

Orang yang telah bertaubat dari dosa-dosanya (dengan sungguh-sungguh) adalah seperti orang yang tidak punya dosa“. (HR Ibnu Majah no. 4250, dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Ibnu Majah)

Janganlah bersedih dan terpuruk atas banyaknya dosa-dosa kita di masa lalu, ketika kita tidak bisa mengubah masa lalu yang kelam tapi kita masih bisa untuk mengupayakan dan merubah masa depan menjadi lebih baik dan penuh rahmat. Allahu a’lam.

Catatan:

Baca selengkapnya https://muslimah.or.id/6943-yang-berlalu-biarlah-berlalu.html

Jangan Mudah Ucapkan Kata “Cerai..”

Jangan Mudah Ucapkan Kata “Cerai..”

Ketika terjadi percekcokan dengan suami, banyak di antara istri yang langsung mengambil jalan pintas, minta cerai. Ada juga perceraian itu disebabkan sang suami tidak mampu memberi nafkah seperti yang diinginkan istri.

Padahal, terkadang keputusan itu diambil hanya karena pengaruh dari sebagian keluarganya atau tetangga yang memang hendak merusak keluarga orang lain. Bahkan tak jarang yang menantang sang suami dengan kata-kata yang menegangkan urat leher. Misalnya, “kalau kamu memang laki-laki, ceraikan saya!”.

Semua mengetahui bahwa talak melahirkan banyak kerugian besar; terputusnya tali keluarga, lepasnya kendali anak, dan terkadang disudahi dengan menyesali pada saat penyesalan tak lagi berguna, dan sebagainya.

Dengan akibat-akibat seperti disebutkan diatas, menjadi nyatalah hikmah syari’at mengharamkan perbuatan tersebut. Dalam sebuah hadits marfu’ riwayat Tsauban –radhiyallaahu ‘anhu– disebutkan,

ايما امراة سالت زوجهاالطلاق من غير ما باس فحرام عليها راءحة الجنة

Siapa saja wanita yang minta diceraikan suaminya tanpa alasan yang dibolehkan maka haram baginya bau surga.” (HR Ahmad , 5/277 ; dalam Shahihul Jami‘ hadits no. 2703)

Hadits marfu‘ lain riwayat Uqbah bin Amir –radhiyallaahu ‘anhu– menyebutkan,

ان المختلعات و المنتزعات هن المنافقات

Sesungguhnya wanita-wanita yang melepaskan dirinya dan memberikan harta kepada suaminya agar diceraikan, mereka adalah orang-orang munafik.” (HR Thabrani dalam Al Kabir, 17/339, dalam Shahihul Jami‘ hadits no. 1934)

Namun jika memang ada sebab-sebab yang dibolehkan menurut syara‘, seperti suaminya suka meninggalkan shalat, suka minum minuman keras dan narkotika, atau memaksa istrinya berbuat haram, suka menyiksanya dan menolak memberikan hak-hak istri, tidak lagi mau mendengar nasihat dan tak berguna lagi upaya ishlah (perbaikan), maka tidak mengapa bagi sang istri meminta cerai, sehingga ia tetap dapat memelihara diri dan agamanya.

Ditulis ulang dari “Dosa-dosa yang dianggap Biasa“, hal. 47-48. Syaikh Muhammad Shalih al Munajjid. Cet. Pertama 1418 H/1997. Yayasan al Sofwa.

Sumber

Jangan Mudah Ucapkan Kata “Cerai..”

Menjaga Anak dan Pemuda dari Paham Liberal dan Pluralisme

Orang Tua, Engkau Mempunyai Tugas yang Berat

Tugas terbesar dan terberat orang tua bukanlah menjadikan anaknya semata-mata memiliki banyak harta dan berkedudukan tinggi, tetapi tugas terbesar orang tua adalah menjadikan anak tersebut dekat dengan Allah dan memiliki akidah yang baik dan benar.

Jika ada anak-anak dan pemuda yang memiliki akidah tidak benar, seperti mengarah kepada pemikiran liberal atau pluralisme, sebaiknya jangan menyalahkan mereka secara total, apalagi di-bully habis-habisan. Mereka adalah anak-anak dan pemuda yang sedang mencari jati diri dan lebih banyak butuh bimbingan daripada celaan atau cacian.

Bisa jadi ini adalah kesalahan dan kelalaian kita bersama terhadap pendidikan akidah dasar pada anak-anak dan remaja. Sebagai orang tua bahkan kita sendiripun kadang lalai mempelajari dan mendakwahkan cara beragama yang benar kepada mereka. Jangan sampai buku-buku dan bacaan akidah tersimpan rapi di rumah tetapi sangat jarang bahkan tidak pernah disentuh.

Orang Tua, Jangan Hanya Fokus Pada Pendidikan Dunia Saja

Bisa jadi sebagian orang tua hanya fokus pada pendidikan dunia semata, sedangkan pendidikan agama benar-benar lalai. Bahkan demi mengejar pendidikan dunia tersebut, orang tua sampai mendatangkan guru les matematika atau fisika ke rumah, akan tetapi guru ngaji dan guru agama tidak diperhatikan sama sekali.

Orang Tua, Sadarilah Bahaya Pemikiran Liberal dan Pluralisme pada Anak

Paham liberal dan pluralisme secara sederhana adalah suatu pemikiran yang bebas dalam menafsirkan agama. Mereka beranggapan bahwa semua agama itu sama dan tidak ada kebenaran mutlak pada satu agama. Paham ini tidak hanya menimpa orang dewasa saja, tetapi saat ini mulai memasuki pikiran anak-anak. Padahal  sangat jelas, ajaran Islam menolak dan bertentangan dengan paham ini. dalil-dalilnya sudah sangat jelas dan mudah didapatkan  di dalam ajaran dasar-dasar Islam. Ini bukti bahwa kita benar-benar mulai lalai akan pendidikan akidah dan agama bagi anak-anak dan para pemuda.

Orang Tua, Lebih Awaslah Terhadap Perilaku Anak di Sosial Media

Terlebih di zaman modern sekarang ini, berkembangnya internet dan sosial media akan semakin memudahkan anak dalam  mendapatkan akses berbagai informasi. Orang tua benar-benar harus memperhatikan akidah anak-anak dan para pemuda. Inilah yang dicontohkan oleh nabi Ya’qub, beliau benar-benar memastikan akidah dan agama anak-anak beliau.

Allah berfirman mengenai kisah nabi Ya’qub,

ﺃَﻡْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺷُﻬَﺪَﺍﺀَ ﺇِﺫْ ﺣَﻀَﺮَ ﻳَﻌْﻘُﻮﺏَ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕُ ﺇِﺫْ ﻗَﺎﻝَ ﻟِﺒَﻨِﻴﻪِ ﻣَﺎ ﺗَﻌْﺒُﺪُﻭﻥَ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِﻱ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻧَﻌْﺒُﺪُ ﺇِﻟَٰﻬَﻚَ ﻭَﺇِﻟَٰﻪَ ﺁﺑَﺎﺋِﻚَ ﺇِﺑْﺮَﺍﻫِﻴﻢَ ﻭَﺇِﺳْﻤَﺎﻋِﻴﻞَ ﻭَﺇِﺳْﺤَﺎﻕَ ﺇِﻟَٰﻬًﺎ ﻭَﺍﺣِﺪًﺍ ﻭَﻧَﺤْﻦُ ﻟَﻪُ ﻣُﺴْﻠِﻤُﻮﻥَ

“Adakah kamu hadir ketika Ya’kub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: ”Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab:”Kami akan menyembah Sesembahanmu dan Sesembahan nenek moyangmu; Ibrahim, Isma’il, dan Ishak, (yaitu) Sesembahan satu-satu-Nya yang Maha Esa dan kami hanya tunduk kepada-Nya”. (Al-Baqarah/2:133)

Dalam Tafsir Al-Baghawi dijelaskan bahwa nabi Ya’qub benar-benar ingin memastikan anak dan cucunya memiliki akidah yang baik. Beliau mengumpulkan semua anak dan cucunya menjelang kematiannya untuk memastikan hal ini. Al-Baghawi berkata,

ﻓﺠﻤﻊ ﻭﻟﺪﻩ ﻭﻭﻟﺪ ﻭﻟﺪﻩ ، ﻭﻗﺎﻝ ﻟﻬﻢ ﻗﺪ ﺣﻀﺮ ﺃﺟﻠﻲ ﻓﻤﺎ ﺗﻌﺒﺪﻭﻥ ﻣﻦ ﺑﻌﺪﻱ

“Nabi Ya’qub pun mengumpulkan anak  dan cucunya, kemudian bertanya kepada mereka tatkala akan datang ajalnya, apa yang akan mereka sembah setelah kematiannya.” (Lihat Tafsir Al-Baghawi)

Orang Tua, Contohlah Orang-Orang Shalih Terdahulu Dalam Mendidik Anaknya

Demikian juga orang-orang shalih sebelum kita, semisal Luqman yang menasehati anak-anaknya agar menjaga akidah dan agama mereka, jangan sekali-kali menyekutukan Allah atau berbuat syirik. Luqman berkata kepada anak-anaknya

ﻭَﺇِﺫْ ﻗَﺎﻝَ ﻟُﻘْﻤَﺎﻥُ ﻟِﺎﺑْﻨِﻪِ ﻭَﻫُﻮَ ﻳَﻌِﻈُﻪُ ﻳَﺎ ﺑُﻨَﻲَّ ﻟَﺎ ﺗُﺸْﺮِﻙْ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ۖ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﺸِّﺮْﻙَ ﻟَﻈُﻠْﻢٌ ﻋَﻈِﻴﻢٌ

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya : “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (Luqman: 13)

Orang Tua, Jangan Takut Menolak Paham Liberal dan Pluralisme

Untuk menolak dan membantah paham liberal dan pluralisme cukup mudah dan jelas, karena ada dalam pelajaran agama yang sangat mendasar. Jika sampai anak-anak dan pemuda kita tidak paham, berarti kita memang benar-benar lalai akan hal ini.

Misalnya untuk membantah paham mereka bahwa semua agama itu sama dan kebenaran pada satu agama itu tidaklah mutlak yang mereka kampanyekan dengan bertopeng toleransi, bijaksana dan merangkul/menyenangkan semua pihak. Sangat jelas bahwa dalam ajaran Islam, agama yang diridhai adalah Islam saja, sedangkan agama selain Islam tidak benar.

Yaitu firman Allah,

ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﺒْﺘَﻎِ ﻏَﻴْﺮَ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡِ ﺩِﻳﻨًﺎ ﻓَﻠَﻦْ ﻳُﻘْﺒَﻞَ ﻣِﻨْﻪُ ﻭَﻫُﻮَ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺂﺧِﺮَﺓِ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺨَﺎﺳِﺮِﻳﻦَ

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran: 85)

Orang Tua, Tanamkan Sejak Dini Bahwa Hanya Islam Agama yang Benar

Hanya Islam agama yang benar, sehingga untuk menyenangkan dan merangkul agama lain bukan dengan membuat pernyataan semua agama sama baiknya dan sama-sama benar, akan tetapi dengan menjelaskan bahwa Islam adalah agama yang adil dan indah, tidak memaksakan ajaran kepada orang lain serta larangan keras menzalimi agama lain tanpa uzur syariat. Oleh karena itu, sebagai bentuk kasih sayang kepada manusia, Islam mengajak agar manusia memeluk Islam.

Contohnya adalah perintah Allah agar adil meskipun kepada orang non-muslim sekalipun

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ.

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (Al-Mumtahanah: 8)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir  As-Sa’diy  rahimahullah menafsirkan,

لا ينهاكم الله عن البر والصلة، والمكافأة بالمعروف، والقسط للمشركين، من أقاربكم وغيرهم، حيث كانوا بحال لم ينتصبوا لقتالكم في الدين والإخراج من دياركم، فليس عليكم جناح أن تصلوهم، فإن صلتهم في هذه الحالة، لا محذور فيها ولا مفسدة

“Allah tidak melarang kalian untuk berbuat baik, menyambung silaturahmi, membalas kebaikan, berbuat adil kepada orang-orang musyrik, baik dari keluarga kalian dan orang lain. Selama mereka tidak memerangi kalian karena agama dan selama mereka tidak mengusir kalian dari negeri kalian, maka tidak mengapa kalian menjalin hubungan dengan mereka, karena menjalin hubungan dengan mereka dalam keadaan seperti ini tidak ada larangan dan tidak ada kerusakan.” [Taisir Karimir Rahmah hal. 819, Dar Ibnu Hazm]

Demikian juga dasar-dasar Islam lainnya. Satu-satunya kebenaran adalah dari nabi Muhammad shallallahualaihiwasallam dan Al-Qur’an yang diwahyukan kepadanya.

Nabi shallallahualaihiwasallam bersabda,

ﻭَﺍﻟَّﺬِﻱْ ﻧَﻔْﺲُ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺑِﻴَﺪِﻩِ ﻻَ ﻳِﺴْﻤَﻊُ ﺑِﻲْ ﺃَﺣَﺪٌ ﻣِﻦْ ﻫَﺬِﻩِ ﺍﻷُﻣَّﺔِ ﻳَﻬُﻮْﺩِﻱٌّ ﻭَﻻَ ﻧَﺼْﺮَﺍﻧِﻲٌّ ﺛُﻢَّ َﻳﻤُﻮْﺕُ ﻭَﻟَﻢْ ﻳُﺆْﻣِﻦْ ﺑِﺎﻟَّﺬِﻱْ ﺃُﺭْﺳِﻠْﺖُ ﺑِﻪِ ﺇِﻻَّ ﻛَﺎﻥَ ﻣِﻦْ ﺃَﺻْﺤَﺎﺏِ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ

“Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, tidak seorangpun dari umat manusia yang mendengarku; Yahudi maupun Nasrani, kemudian mati dan tidak beriman dengan ajaran yang aku bawa melainkan dia adalah penghuni neraka.” (HR Muslim)

Mari kita giatkan  kembali dakwah serta pelajaran akidah kepada anak-anak dan pemuda kita. Semoga Allah menjaga mereka dan kaum muslimin dari akidah dan pemahaman yang rusak seperti pemahaman liberal dan pluralisme.

Yogyakarta tercinta, dalam keheningan jaga malam

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

Sumber

Hukum Cium Tangan

Hukum Cium Tangan

Hadits Berkaitan dengan Masalah Cium Tangan

Cium tangan bagi sebagian besar kaum muslimin sudah menjadi suatu budaya.  Tradisi cium tangan ini dijadikan sebagai wujud dari rasa kasih sayang dan penghormatan. Lalu bagaimana Islam memandang hal ini? berikut hadits yang berkaitan dengan cium tangan.

عن جابر أن عمر قام إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقبل يده

Dari Jabir Radhiallahu anhu, bahwa Umar bergegas menuju Rasulullah lalu mencium tangannya” (HR. Ahmad dan Ibnul Muqri dalam Taqbilu Al-Yad, Ibnu Hajar mengatakan, sanadnya Jayyid [1/18]).

عن صفوان بن عسال أن يهوديا قال لصاحبه: اذهب بنا إلى هذا النبي صلى الله عليه وسلم .قال: فقبلا يديه ورجليه وقالا: نشهد أنك نبي الله صلى الله عليه وسلم

Dari Sofwan bin Assal, bahwa ada dua orang yahudi bertanya kepada Rasulullah  (tentang tujuh ayat yang pernah diturunkan kepada Musa Alaihi Salam), setelah dijawab mereka menicum tangan dan kaki Rasulullah lalu  mereka berkata, kami bersaksi bahwa engkau adalah nabi” (HR. Tirmdizi, beliau berkata, Hasan Shahih, Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan di dalam At-Talkhis sanadnya kuat 240/5).

عن أسامة بن شريك قال: قمنا إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقبلنا يده

Dari Usamah bin Syarik, kami bertemu Rasulullah lalu kami mencium tangannya” (HR. Ibnul Muqri dalam Taqbilul Yad, berkata Ibnu Hajar dalam Al-Fath sanad nya kuat).

Cium Tangan Bukan Kekhususan Rasulullah

Dari Ammar bin abi Ammar, pernah Zaid bin Tsabit mengatakan kepada Ibnu Abbas, “berikanlah tanganmu.” Maka diberikanlah tangan ibnu Abbas lalu zaid menciumnya” (HR. Ibnu Saad dan Al-Hafidz ibnu hajar mengatakan sanadnya Jayyid).

Boleh Mencium Tangan Ahlul Fadli (Guru, Orang Tua, dan Semisal Sebagai Wujud Kasih Sayang dan Penghormatan

Dari Aisyah bahwa ia berkata, “Tidaklah aku pernah melihat seseorang yang lebih mirip cara bicaranya dengan Rasulullah melainkan fatimah, jika fatimah datang ke rumah Rasulullah, beliau menyambutnya mencium tangannya, dan jika hendak pulang fatimah mencium tangan Rasulullah” (HR. Abu Dawud 5217, di shahihkan pula oleh Al-Albani dalam Misyaktul Masabih).

Dari ‘Abdurahman bin Razin beliau berkata, “kami pernah menjumpai Salamah bin Akwa’ lalu kami bersalaman dengannya. Kemudian aku bertanya, “kamu pernah membaiat Rasulullah dengan tanganmu ini?” Maka kami cium tangannya (HR. Bukhari di dalam Adabul Mufrad (1/338) dan Tabrani dalam Al-Ausat (1/205) dihasankan oleh syeikh Al-Albani dalam Shahih Adabul Mufrad, dan berkata haistamy, Rijaluhu tsiqot)

Dari Musa bin Dawud bahwa dahulu aku pernah bersama dengan Sufyan bin ‘Uyainah kemudian datang Husain Al-Ju’fi lalu diciumlah tangan Husain oleh Sufyan (Taqbilul yad 1/77).

Pendapat Ulama Mengenai Masalah Cium Tangan

  1. Di dalam kitabul wara karya Imam Ahmad diriwayatkan bahwa Sufyan At Stauri mengatakan, “Tidak mengapa mencium tangan seorang imam, namun jika untuk kedunian maka tidak boleh.”
  2. Berkata Al-Tahtawi dalam Hasyiah Maraqil Falah, “maka diketahui dari dalil-dalil yang kami bawakan bahwa bolehnya mencium tangan, kaki, kasyh, kepala, jidat, bibir, dan di antara kedua mata, AKAN TETAPI harus dalam rangka kasih sayang, dan penghormatan ,bukan syahwat, karena syahwat hanya diperbolehkan untuk pasangan suami istri.”
  3. Berkata Al-Imam An-Nawawi dalam Raudhatu Thalibin, “Adapun menicum tangan karena keshalihannya, keilmuan, kemulian, atau jasanya atau sebab-sebab lain yang berkaitan dengan keagamaan maka mandub (disukai), namun jika untuk dunia, untuk jabatan, dan lain sebagainya maka sangat dibenci. Berkata Al Mutawali, hukumnya haram.
  4. Berkata Abu Bakr Al-Marwazi dalam kitab Al-Wara’, “Saya pernah bertanya kepada Abu Abdillah (IMAM AHMAD) tentang mencium tangan, beliau mengatakan tidak mengapa jika alasannya karena agama, namun jika karena kedunian maka tidak boleh, kecuali dalam keadaan jika tidak menicum tangannya akan di tebas dengan pedang.
  5. Berkata Syaikh Ibnu ‘Ustaimin dalam Fatawa Al-Bab Al-Maftuh, “Mencium tangan sebagai bentuk penghormatan kepada orang-orang yang berhak dihormati seperti ayah, para orang-orang tua, guru tidaklah mengapa.”

Dari riwayat-riwayat di atas jelas kepada kita akan bolehnya mencium tangan.

Syarat dan Batas Bolehnya Mencium Tangan

Namun para Imam ada yang memberikan syarat-syarat agar mencium tangan tetap dalam koridor yang dibolehkan, syeikh Al-AlBani rahiamhullah menuliskan di dalam Silisalah Ahadistu Shahihah beberapa syarat dalam mencium tangan kepada seorang alim,

  1. Tidak dijadikan kebiasaan, yakni tidak menjadikan si alim tersebut terbiasa menjulurkan tangannya kepada para murid dan tidaklah murid untuk mencari berkahnya, ini karena Nabi jarang tangannya dicium oleh para sahabat, maka ini tidak bisa dijadikan sebuah perbuatan yang dilakukan terus menerus sebagaimana yang kita ketahui dalam Qawaidul Fiqhiyah
  2. Tidak menjadikan seorang alim sombong, dan melihat dirinya hebat.
  3. Tidak menjadikan sunnah yang lain ditinggalkan, seperti hanya bersalaman, karena hanya bersalaman tanpa cium tangan merupakan perintah Rasul.

Semoga bermanfaat

Penulis: Muhammad Halid Syar’i

Sumber