Select Page
Sebab Kista pada Wanita

Sebab Kista pada Wanita

Istilah “kista” mungkin sudah sering kita dengar. Kista pada dasarnya adalah suatu jaringan tak normal, berbentuk seperti kantung, yang dapat ditemukan di bagian tubuh manapun. Kista biasanya mengandung “isi” berupa gas, cairan, atau cairan kental atau semi-padat, dan memiliki dinding luar yang membatasinya dari jaringan normal di sekitarnya, yang disebut dengan kapsul. Kista dapat berukuran kecil dan hanya dapat tampak jika diamati dengan mikroskop, namun bisa juga tumbuh hingga mencapai ukuran yang sangat besar sehingga menggeser atau menekan jaringan tubuh yang normal.

Kista dapat timbul pada berbagai jenis jaringan dan organ tubuh, dan biasanya dinamakan sesuai dengan lokasi dimana kista tersebut ditemukan. Misalnya kista ovarium atau indung telur, kista payudara, kista pada ginjal, kista pada kulit, pada tiroid, dan seterusnya. Selain itu, ada pula jenis kista yang memiliki penamaan khusus di luar lokasi anatomisnya. Seperti kista dermoid, suatu jenis tumor jinak pada ovarium yang berisi beberapa jenis jaringan seperti rambut dan kuku, atau kista ganglion, jenis kista yang muncul di sekitar tendon, dan paling sering dijumpai di pergelangan tangan.

Dari Mana Datangnya Kista?

Kista merupakan jenis kondisi yang sangat sering dijumpai dan dapat terjadi pada seluruh kelompok usia. Penyebabnya pun sangat beragam. Adanya kegagalan atau penyimpangan perkembangan pada masa embrio dapat menyebabkan timbulnya kista yang dapat diamati sejak lahir. Penuaan organ-organ tubuh dan adanya sumbatan kecil pada aliran cairan tubuh juga dapat menyebabkan timbulnya kista, demikian pula dengan beragam proses penyakit seperti infeksi, tumor, peradangan kronis, dan beberapa jenis penyakit yang diturunkan.

Beda Kista dengan Tumor

Kista berbeda dengan tumor, dilihat dari bentuknya dan isinya, dimana kista berbentuk kantung dengan isi berupa cairan atau cairan semi padat, sedangkan tumor cenderung padat karena terdiri dari sel-sel. Meskipun sebagian besar kista bersifat jinak, namun sebagaimana tumor, kista juga dapat berkembang menjadi ganas.

Bagaimana Gejala Kista?

Kista berukuran kecil bahkan sedang di organ dalam tubuh biasanya tidak akan menimbulkan gejala apapun. Gejala akan timbul jika ukuran kista membesar, cukup besar hingga menimbulkan gangguan terhadap jaringan sekitarnya, atau mengeluarkan zat yang mempengaruhi kerja tubuh, seperti pada kista ovarium.

Kista di daerah kulit atau jaringan tepat di bawah kulit dapat dikenali sebagai benjolan yang tidak nyeri, dengan konsistensi lembut hingga keras. Jika kista timbul sebagai akibat dari proses penyakit seperti infeksi atau tumor, gejalanya dipengaruhi oleh lokasi, keparahan, dan luasnya penyakit tersebut.

Khusus untuk kista ovarium yang berukuran besar, gejalanya antara lain adalah rasa tidak nyaman di perut, keinginan berkemih yang sering (bila posisi kista menekan kandung kemih), nyeri panggul sebelum menstruasi atau setelahnya, nyeri saat berhubungan intim, hingga mual, muntah, atau rasa nyeri pada payudara seperti yang dialami saat kehamilan.

Meskipun kista umumnya tidak berbahaya, namun pada beberapa keadaan, kista dapat membahayakan dan harus segera ditangani, seperti pada kista yang pecah atau terpuntir. Gejalanya antara lain adalah nyeri perut atau panggul yang mendadak dan sangat berat, nyeri yang disertai demam atau muntah, atau gejala syok (renjatan), seperti kulit yang dingin dan berkeringat, nafas cepat, dan perasaan lemas atau ingin pingsan.

Apakah Kista Bisa Menyebabkan Kemandulan?

Kista pada ovarium dapat menyebabkan kemandulan, jika kista tersebut berukuran besar hingga menekan dan merusak jaringan ovarium normal. Selain itu, beberapa kondisi khusus seperti sindrom ovarium polikistik dan kista akibat endometriosis, suatu pertumbuhan jaringan dinding rahim di luar rahim, juga dapat menyebabkan siklus menstruasi tidak teratur, sehingga pembuahan lebih sulit terjadi.

Bagaimana Mengobati Kista?

Pengobatan kista bervariasi, bergantung pada ukuran, lokasi, dan penyebabnya. Kista berukuran kecil dan tidak menimbulkan gejala apapun tidak memerlukan penanganan khusus, dan hanya perlu diamati perkembangannya. Beberapa jenis kista bahkan bisa menghilang dengan sendirinya seiring waktu, seperti kista folikel dan kista korpus luteum pada ovarium.

Terkadang kista dapat ditangani dengan mengeluarkan isinya menggunakan jarum dan syringe steril. Penanganan bedah diindikasikan pada kista yang berukuran sangat besar atau jika kista berpotensi menjadi kanker dan diagnosis harus dilakukan untuk mengetahuinya.

Jika kista timbul sebagai akibat dari proses pengobatan dalam jangka panjang, sebagai contoh, pada sindrom ovarium polikistik atau fibrokistik pada payudara, terapi ditujukan terhadap penyakit asal yang mendasari timbulnya kista,

——-

Penulis: dr. Ika Kartika Sari

 

Sumber

Nikmat Aman adalah Nikmat Terbesar

Nikmat Aman adalah Nikmat Terbesar

Berikut sedikit renungan bagi kita bahwa nikmat kita sekarang sangat banyak, nikmat sehat dan yang paling penting nikmat rasa aman dan kondusif.

Nikmat yang paling nikmat adalah adanya rasa aman, oleh karena itu Allah menyebutkan bahwa ujian yang disebutkan pertama kali adalah ujian rasa takut (yang sedikit), sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala,

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit [1] ketakutan, [2] kelaparan, [3]kekurangan harta, [4] jiwa, dan buah-buahan”. (QS. al-Baqarah: 155).

Rasa aman lebih baik dari nikmat sehat dan waktu luang. Ar-Razi rahimahullah berkata,

سئل بعض العلماء: الأمن أفضل أم الصحة؟ فقال: الأمن أفضل، والدليل عليه أن شاة لو انكسرت رجلها فإنها تصح بعد زمان ولو أنها ربطت في موضع وربط بالقرب منها ذئب فإنها تمسك عن العلف ولا تتناوله إلى أن تموت، وذلك يدل على أن الضرر الحاصل من الخوف أشد من الضرر الحاصل من ألم الجَسَد”

Sebagian ulama ditanya, apakah rasa aman lebih baik dari kesehatan? Maka jawabannya rasa aman labih baik. Dalilnya adalah seandainya kambing kakiknya patah maka akan sembuh beberapa waktu lagi… kemudian seandainya kambing diikat pada usatu tempat dekat dengan serigala, maka ia tidak akan makan sampai mati. Hal ini menunjukkah bahwa bahaya yang akibat rasa takut lebih besar daripada rasa sakit di badan” (Tafsir al-Kabir, 19/107).

Hendaknya kaum muslimin selalu menjaga rasa aman ini dan menjaga agar suasana selalu kondusif. Kita tidak ingin ada darah yang tertumpah, anak-anak menjadi yatim dan para wanita menjadi janda. Perlu kesabaran dan bimbingan para ulama ketika terjadi fitnah atau ujian yang menimpa kaum muslimin.

Kita harus banyak bersyukur karena semua nikmat ini ada pada diri kita, karena ada tiga pokok kenikmatan yaitu sehat, aman dan ada makanan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ آمِنًا فِي سِرْبِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

Barangsiapa di antara kamu masuk pada waktu pagi dalam keadaan [1] sehat badannya,[2] aman pada keluarganya, dia [3]memiliki makanan pokoknya pada hari itu, maka seolah-olah seluruh dunia dikumpulkan untuknya” (HR. Ibnu Majah, no: 4141, Shahih Al-Jami’ush Shaghir no. 5918).

Semoga Allah menjaga kaum muslimin dan menjaga keamanan dan kestabilan negara kita.

***

Di Yogyakarta Tercinta

Penulis: dr. Raehanul Bahraen

Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/28897-nikmat-aman-adalah-nikmat-terbesar.html

Penyakit Campak (Morbili, Measles, Rubeola)

Penyakit Campak (Morbili, Measles, Rubeola)

Pada kesempatan kali ini, kita akan belajar bersama-sama tentang penyakit yang banyak dialami anak-anak dan dewasa saat ini, yaitu penyakit campak – yang dikenal juga dengan istilah morbili, measles, atau rubeola.

Penyebab campak

Genus morbilivirus yang terdapat dalam sekret di hidung, tenggorokan, darah, dan urin.

Cara penularan

Droplet (percikan air ludah saat batuk dan bersin) dan kontak langsung dengan penderita.

Gejala

Gejala dapat muncul setelah terpapar dengan pasien campak 9-14 hari sebelumnya.

Penyakit ini dapat dibagi atas 3 stadium:

1. Stadium prodormal/kataral

  • Berlangsung selama 4-5 hari disertai panas, lemas, batuk, mata berair, merah, dan terasa nyeri saat melihat cahaya matahari.
  • Secara klinis gambaran penyakit menyerupai influenza dan sering didiagnosis sebagai influenza.
  • Untuk membedakannya, pada stadium ini ibu-ibu mengamati di mulut anak ada bercak koplik atau tidak, yaitu bercak putih kelabu kecil dikelilingi oleh area merah pada daerah pipi yang berhadapan dengan gigi geraham bawah.

2. Stadium erupsi

  • Gejala batuk dan pilek bertambah berat, muncul titik-titik merah di langit-langit mulut.
  • Muncul ruam yang disertai dengan bertambah tingginya panas. Ruam mula-mula muncul di belakang telinga dan bagian leher belakang, kemudian dalam 24 jam pertama menyebar ke muka, dada, dan lengan atas. Kemudian 24 jam berikutnya ruam menyebar ke perut, paha, dan kaki.

Keparahan penyakit dapat dilihat dari ruam:

  • Sangat ringan: ruam hanya sedikit.
  • Ringan: ruam cenderung tidak menyatu.
  • Berat: ruam menyatu, kulit tertutup secara sempurna, termasuk telapak tangan dan kaki, dan muka membengkak

3. Stadium konvalesensi

  • Suhu menurun sampai menjadi normal, kecuali bila ada komplikasi (seperti: radang otak, infeksi telinga tengah, bronkopneumonia).
  • Menghilangnya ruam sesuai dengan munculnya, yakni di hari ke 2 atau 3 saat ruam mencapai kaki, ruam di muka dan leher mulai menghilang, begitu seterusnya sampai di tempat terakhir munculnya ruam. Biasanya muncul dan menghilangnya ruam berlangsung selama 6 hari.
  • Kulit meninggalkan bekas yang berwarna lebih tua (hiperpigmentasi)
  • Terapi: Pengobatan hanya bersifat mengobati gejala, seperti penurun panas, obat batuk, dan vitamin untuk daya tahan tubuh, terutama vitamin A.
  • Antibiotik diberikan jika dicurigai ada infeksi sekunder bakteri.

Demikian penjelasan singkat tentang campak. Semoga bermanfaat.

Wallohu a’lam.

Sumber pustaka:

Penyusun: dr. Reni A. (Ummu Hamaam)

Sumber: https://muslimah.or.id/

Penyakit Campak (Morbili, Measles, Rubeola)

Cedera Kepala pada Anak

Salah satu kecelakaan yang sering terjadi saat anak-anak bermain adalah trauma kepala, dan hal ini sering membuat orang tua bingung dan khawatir.

Ibu-ibu, trauma kepala lumrah terjadi pada anak-anak terutama anak-anak yang masih dalam usia balita. Baik itu saat mereka belajar berjalan, bersepeda, ataupun bermain bersama teman-temannya. Asalkan trauma yang terjadi bukan karena jatuh dari tempat yang tinggi sekali atau dalam posisi kecepatan tinggi (misalnya: bersepeda atau membonceng motor), ibu-ibu tidak usah kuatir. Umumnya cedera kepala karena trauma tersebut adalah cedera kepala ringan.

Hal-hal yang perlu diketahui ibu-ibu saat anak menderita trauma kepala

  • Cek kesadaran anak. Ajak anak berbicara, amati apakah ia mampu menjawab dengan tepat.
  • Perhatikan apakah ada luka atau benjolan di kepala anak.
  • Lihat apakah luka tersebut berdarah atau tidak. Jika luka lebar dan terbuka, segera tutup dengan kain kasa dan bawa ke dokter. Jika luka hanya berupa luka gores dan memar, cukup tutup dengan kain kasa dan bersihkan dengan betadine.
  • Raba kepala dan leher anak, lihat dan amati adakah tanda-tanda keretakan tulang atau tidak.
  • Observasi selama 2×24 jam. Apabila tidak ada tanda-tanda kegawatan maka anak tidak usah dibawa ke rumah sakit.

Gejala yang perlu diwaspadai dan perlu mendapatkan pemeriksaan dokter

  1. Pada bayi: tampak ubun-ubun sangat menonjol atau tampak pelebaran dari sambungan-sambungan di tulang tengkorak kepala.
  2. Muntah terus menerus.
  3. Kejang.
  4. Kesadaran menurun, anak mengantuk, dan sulit dibangunkan.
  5. Pingsan.
  6. Pingsan, kemudian bangun seperti biasa, kemudian pingsan lagi.
  7. Adanya baal/kesemutan atau kelemahan anggota tubuh.
  8. Sakit kepala hebat.
  9. Perdarahan dari hidung dan telinga.
  10. Pandangan mata kabur.
  11. Nafas tidak seperti biasa (misalnya: terlalu cepat atau “ngorok”, atau tidak teratur).
  12. Cedera tulang rahang dan pipi: amati tulang rahang dan pipinya dengan menyuruh anak menggigit (misalnya kain) dengan keras. Jika gerak simetris kanan dan kiri dan penyatuan cocok, berarti tidak ada kelainan pada kedua tulang ini.

Penanganan lebam pada kepala anak karena benturan

Jika tidak ada luka, anak langsung dikompres dingin pada bagian yang terbentur. Hal ini untuk mencegah bertambah banyak darah yang merembes ke jaringan. Pengompresan juga akan mengurangi udema (pembengkakan). Pada hari berikutnya, lihat kondisi pembengkakan: berkurang atau tidak. Pada periode ini, penatalaksanaan ditujukan untuk mengurangi/menghilangkan pembengkakan. Cara yang digunakan dengan memberikan kompres panas selama 3-5 menit, untuk melebarkan pembuluh darah setempat, setelah itu dikompres dingin selama 1-2 menit. Hal ini dilakukan 4 – 5 kali sehari sampai bengkak menghilang.

Alhamdulillaah, sekian penjelasan singkat tentang cedera kepala pada anak. Semoga menambah pengetahuan ibu-ibu semua.

Allohu a’lam bishshowab.

Sumber pustaka:

Penyusun: dr. Reni A. (Ummu Hamaam)

 

Sumber: https://muslimah.or.id/

Nikmatnya Berkendaraan

Nikmatnya Berkendaraan

Pada masa silam, manusia bepergian dengan berjalan kaki dari satu tempat ke tempat yang lain dengan membawa barang atau perbekalan di atas punggungnya. Sebagian yang lain bepergian dengan menunggang hewan tunggangan sambil membawa berbagai muatan, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta’ala

وَتَحْمِلُ أَثْقَالَكُمْ إِلَى بَلَدٍ لَمْ تَكُونُوا بَالِغِيهِ إِلا بِشِقِّ الأنْفُسِ إِنَّ رَبَّكُمْ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ (٧)وَالْخَيْلَ وَالْبِغَالَ وَالْحَمِيرَ لِتَرْكَبُوهَا وَزِينَةً وَيَخْلُقُ مَا لا تَعْلَمُونَ

“Dan ia (hewan ternak) mengangkut beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup mencapainya, kecuali dengan susah payah. Sungguh, Rabbmu Maha Pengasih, Maha Penyayang. Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai untuk kamu tunggangi dan (menjadi) perhiasan. Allah menciptakan apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. An-Nahl: 7-8)

Adapun di masa sekarang, begitu mudahnya seseorang untuk bepergian dari satu tempat ke tempat yang lain dalam waktu cepat tanpa banyak mengeluarkan tenaga dan pikiran, walaupun terkadang tidak sedikit biaya yang harus dikeluarkan.

Kendaraan sebagai bukti kasih sayang Allah

Kendaraan merupakan salah satu nikmat yang Allah Ta’ala anugerahkan kepada manusia. Hal ini juga sebagai bukti curahan kasih sayang Allah Ta’ala kepada para makhluk-Nya. Hal ini karena segala nikmat yang kita terima atau musibah yang kita terhindar darinya merupakan tanda kasih sayang Allah Ta’ala kepada kita. Allah Ta’ala berfirman

وَآيَةٌ لَهُمْ أَنَّا حَمَلْنَا ذُرِّيَّتَهُمْ فِي الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ (٤١)وَخَلَقْنَا لَهُمْ مِنْ مِثْلِهِ مَا يَرْكَبُونَ (٤٢)

“Dan suatu tanda (kebesaran Allah) bagi mereka adalah Kami angkut keturunan mereka dalam perahu yang penuh muatan, dan Kami ciptakan bagi mereka (angkutan lain) seperti apa yang mereka kendarai.” (QS. Yasin: 41-42)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata ketika menjelaskan ayat di atas, “Tanda dalam ayat tersebut maksudnya adalah tanda kekuasaan Allah. Namun, di dalamnya juga terdapat tanda yang lain, yaitu rahmat Allah kepada makhluk, serta kenikmatan yang diberikan kepada kita.” Selanjutnya beliaujuga menerangkan bahwa ayat tersebut menjadi dalil atas kekuasaan Allah Ta’ala, rahmat, dan karunia-Nya bagi kita, yaitu dengan adanya perahu untuk mengarungi lautan menuju ke tempat yang lain, mengangkut manusia, hewan-hewan ternak, dan semua yang bermanfaat untuk kita. Dan Allah Ta’ala menjadikan perahu tersebut nyaman untuk dikendarai sebagai nikmat bagi kita semua.

Ayat di atas juga menerangkan nikmat yang Allah Ta’ala anugerahkan kepada manusia berupa pengetahuan mengenai tata cara pembuatan perahu. Seandainya tidak ada perahu, tentunya seseorang tidak akan mampu menyeberang sungai dan lautan untuk menuju tempat tujuannya. Namun, Allah Ta’ala memberi pengetahuan tentang tata cara membuatnya, sehingga seseorang dapat menjangkau tempat tujuannya tersebut.

Allah Ta’ala mengajarkan manusia cara membuatnya

Keahlian manusia dalam memproduksi suatu kendaraan canggih bukanlah semata-mata karena kecerdasannya. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menunjang kemajuan berbagai alat transportasi masa kini, tidak lain karena karunia yang Allah Ta’ala berikan kepada kita. Jika bukan karena kehendak Allah Ta’ala atas makhluk-Nya untuk memahami ilmu-ilmu tersebut, tentu manusia tidak akan mampu memanfaatkan seonggok besi untuk membawa dirinya ke suatu tempat tujuan. Bahkan Allah Ta’ala mengajarkan ilmu tersebut kepada manusia agar dapat diterapkan.

Allah Ta’ala berfirman

وَحَمَلْنَاهُ عَلَى ذَاتِ أَلْوَاحٍ وَدُسُرٍ

“Dan kami angkut Nuh ke atas (perahu) yang terbuat dari papan dan paku.” (QS. Al Qomar: 13)

Dalam ayat ini Allah Ta’ala tidak langsung menyebut “perahu”, namun menyebutnya sebagai “sesuatu yang terbuat dari papan dan paku”. Hal ini mengisyaratkan adanya pengajaran dari Allah Ta’ala kepada manusia tentang bahan baku pembuatan perahu. Seakan-akan Allah Ta’ala mengabarkan bahwa perahu Nabi Nuh ‘alaihissalam terbuat dari papan dan paku agar menjadi contoh bagi manusia untuk membuatnya.

Allah Ta’ala menisbatkan pembuatan perahu kepada diri-Nya seperti dalam ayat (yang artinya), “Kami ciptakan untuk manusia semisal (perahu Nuh ‘alaihis salam) …”. Padahal perahu tersebut dibuat oleh manusia (Nabi Nuh ‘alaihis salam), bukan diciptakan oleh Allah Ta’ala sebagaimana Dia menciptakan unta yang kita tunggangi, kuda, dan yang serupa dengannya. Hal ini dikarenakan Allah-lah yang mengajari manusia tata cara membuat perahu.

Ketika nikmat berkendaraan terlupakan

Sering kali manusia menganggap rumput tetangga jauh lebih hijau sehingga membuatnya merasa perlu memiliki sesuatu seperti milik si tetangga. Orang yang hanya memiliki sepeda akan terbetik dalam benaknya suatu angan-angan untuk memiliki sepeda motor sebagaimana yang dikendarai oleh kebanyakan orang. Namun, bagi yang telah memiliki sepeda motor, mungkin dia juga berangan-angan untuk memiliki sepeda motor yang lebih bagus atau malah sebuah mobil yang dapat melindunginya dari terik matahari dan hujan, demikian seterusnya. Obsesi tersebut dapat menjadi bencana berupa lenyapnya kebaikan demi kebaikan sebagaimana lenyapnya kayu bakar yang dilahap api, apabila diiringi dengan harapan hilangnya kenikmatan tersebut dari tangan orang lain. Itulah hasad yang terlarang.

Untuk mencegah hal tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telahmemperingatkan umatnya agar tidak duduk-duduk di pinggir jalan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ عَلَى الطُّرُقَاتِ فَقَالُوا مَا لَنَا بُدٌّ إِنَّمَا هِيَ مَجَالِسُنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا قَالَ فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلَّا الْمَجَالِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهَا قَالُوا وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ قَالَ غَضُّ الْبَصَرِ وَكَفُّ الْأَذَى وَرَدُّ السَّلَامِ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ

“Tinggalkanlah oleh kalian duduk-duduk di jalan-jalan”. Maka para sahabat berkata, “Kami tidak bisa untuk tidak duduk-duduk di jalan-jalan karena di sanalah tempat kami berbincang-bincang.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian menolak untuk tidak duduk-duduk di sana, maka tunaikanlah hak jalan.” Mereka berkata, “Apakah hak jalan itu?” Beliau menjawab, “Menundukkan pandangan, menyingkirkan gangguan, menjawab salam, memerintahkan yang baik dan mencegah kemungkaran.” (HR. Al-Bukhari)

Menundukkan pandangan di sini maksudnya adalah menjaga diri dari memandang hal-hal yang diharamkan, termasuk di dalamnya berupa memandang kemewahan-kemewahan duniawi, misalnya kendaraan-kendaraan mewah yang lewat. Sehingga menyebabkan seseorang menjadi panjang angan-angan, dan tidak mampu mensyukuri nikmat yang Allah Ta’ala karuniakan untuknya.

Ketika orang musyrik zaman dahulu dan sekarang tertimpa marabahaya saat berkendaraan

Orang musyrik zaman dahulu, mereka memohon kepada Allah Ta’ala dengan penuh keikhlasan ketika kondisi genting meliputi dirinya saat berkendaraan. Bahkan orang musyrik zaman dulu, yang tadinya menyekutukan Allah Ta’ala, dengan serta-merta mereka meninggalkan sesembahan selain Allah demi mengharap pertolongan Allah atas marabahaya yang menimpa mereka ketika berkendara di lautan. Hal ini Allah Ta’ala kabarkan dalam firman-Nya

وَإِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَنْ تَدْعُونَ إِلا إِيَّاهُ فَلَمَّا نَجَّاكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ وَكَانَ الإنْسَانُ كَفُورًا

“Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilang semua yang (biasa) kamu seru, kecuali Dia. Tetapi ketika Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling (dari-Nya).” (QS. Al-Isra: 67)

Seperti inilah keadaan orang-orang musyrik zaman dahulu saat tertimpa kesulitan ketika naik kapal atau perahu di tengah lautan. Mereka mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah Ta’ala dan mengetahui bahwasanya Allah-lah satu-satunya yang bisa menyelamatkan mereka serta tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain-Nya. Namun, manakala kondisi telah lapang (selamat sampai daratan), mereka pun kembali menyekutukan Allah dengan sesembahan mereka.

Adapun orang-orang musyrik zaman sekarang ini, sama saja bagi mereka antara kondisi susah ataupun senang, mereka senantiasa melakukan kemusyrikan. Bahkan ketika marahabahaya menimpa mereka ketika naik perahu atau kapal di lautan, semakin parah-lah kemusyrikan yang mereka lakukan dengan meminta pertolongan kepada sesembahan mereka selain Allah Ta’ala. Dan lebih-lebih lagi ketika selamat sampai daratan, mereka akan semakin mengagungkan sesembahan mereka -selain Allah- yang mereka yakini telah menyelamatkan mereka. Kondisi seperti ini disebabkan karena ketidakfahaman serta kebodohan akan hakikat tauhid yang melingkupi kebanyakan manusia zaman sekarang, wal ’iyaadzu billah.

Mensyukuri nikmat-Nya

Kendaraan yang kita gunakan sebagai fasilitas untuk dapat pergi ke suatu tempat merupakan suatu nikmat yang sepatutnya kita syukuri. Rasa syukur hamba terhadap Rabb yang telah memberinya karunia ditunjukkan melalui lisan berupa pujian dan sanjungan, dan juga melalui anggota badan dengan menundukkannya dalam ketaatan kepada Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba yang paling bersyukur, beliau memberikan keteladanan bagi umatnya ketika berkendaraan yaitu dengan:

1. Berdoa ketika naik kendaraan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kita untuk berdoa

(سُبْحَانَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَـهُ مُقْرِنِيْنَ. وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ) اَلْحَمْدُ لِله اَلْحَمْدُ لِلََّهِ اَلْحَمْدُ لِله ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ ، سُبْحَانَكَ إِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ فَاغْفِرْلِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ

“Dengan nama Allah, segala puji bagi Allah, Maha Suci Allah yang menundukkan kendaraan ini untuk kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Rabb kami (pada hari kiamat). Segala puji bagi Allah (3x), Allah Maha Besar (3x), Maha Suci Engkau, ya Allah! Sesungguhnya aku menganiaya diriku, maka ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Doa ini mengandung sanjungan kepada Allah Ta’ala yang telah menjadikan kendaraan tersebut dapat dikendarai, padahal sebelumnya manusia tidak memiliki kemampuan untuk mengendarainya. Di dalam doa ini juga terkandung pengakuan bahwasanya kita akan kembali kepada Allah pada hari kiamat, serta pengakuan atas kelalaian dan dosa yang telah kita lakukan.

2. Bertakbir dan bertasbih selama perjalanan

Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kami bertakbir ketika melewati jalan yang naik, dan bertasbih ketika melewati jalan yang turun”. (HR. Al-Bukhari) Maksudnya adalah ketika menaiki tempat-tempat yang tinggi mengucapkan: “Allahu Akbar”, dan ketika menuruni tempat-tempat yang lebih rendah mengucapkan: “Subhanallah”. Bertakbir manakala menaiki tempat yang tinggi akan membuat kita merasakan kebesaran Allah Ta’ala serta keagungan-Nya. Sedangkan bertasbih ketika menuruni tempat yang rendah akan membuat kita merasakan kesucian Allah Ta’ala dari segala kekurangan.

3. Berdoa ketika kendaraan tergelincir

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita mengumpat setan ketika tergelincir dan mengajarkan kita untuk mengucapkan, “bismillah”. Usamah bin ‘Umair radhiyallahu ‘anhu menceritakan, “Aku pernah dibonceng Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas tunggangannya tergelincir, maka aku berkata, ‘tergelincirlah setan.’ Maka Nabi berkata, ‘Janganlah kamu katakan tergelincirlah setan. Jika kamu berkata demikian, dia (setan) akan membesar hingga sebesar rumah, dan berkata, ‘Dengan kekuatanku.’ Akan tetapi katakanlah, ‘bismillah’. Jika kamu berkata demikian, dia akan mengecil hingga sekecil lalat.’” (HR. Abu Dawud) Menyebut nama Allah Ta’ala akan meleburkan setan sebagaimana air meleburkan garam.

4. Membebani kendaraan sesuai daya angkut

Di antara adab berkendaraan adalah dibolehkannya berkendaraan dengan beberapa penumpang selama tidak melebihi daya angkut kendaraan tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memboncengkan sebagian sahabatnya seperti Mu’adz, Usamah, Al-Fudhail, begitu juga memboncengkan ‘Abdullah bin Ja’far dan Hasan atau Husain bersama-sama, semoga Allah Ta’ala meridhai mereka semua.

Membebani kendaraan melebihi daya angkut yang telah ditetapkan merupakan suatu bentuk kedzaliman. Hal ini akan menyebabkan rusaknya kendaraan dan ini merupakan bentuk penyia-nyiaan harta.

5. Tidak menjadikan kendaraan semata-mata sebagai tempat duduk

Terdapat hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, “Janganlah kalian menjadikan punggung-punggung hewan tunggangan kalian sebagai mimbar (semata-mata sebagai tempat duduk). Sesungguhnya Allah menundukkannya untuk kalian supaya mengantarkan ke negeri yang belum pernah kalian capai kecuali dengan bersusah payah. Dan Allah menciptakan bumi untuk kalian, maka hendaklah kalian tunaikan kebutuhan kalian di atas tanah”. (HR. Abu Dawud)

Maksud dari hadits ini adalah larangan untuk duduk-duduk dan berbincang-bincang dalam rangka jual beli atau yang selainnya di atas kendaraan (berupa hewan) yang sedang berhenti. Hendaknya seseorang menunaikan keperluannya dengan cara turun dari kendaraan dan mengikatnya di tempat yang semestinya.

Adapun berdirinya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas hewan tunggangan beliau saat Haji Wada’ adalah demi kemaslahatan yang besar. Hal ini supaya khutbah beliau kepada para manusia mengenai perkara-perkara Islam serta hukum-hukum yang terkait ibadah dapat didengar dengan jelas oleh sahabat-sahabat beliau ketika itu. Apalagi, perbuatan beliau tersebut juga tidak dilakukan secara terus-menerus sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah, sehingga hal ini tidak membuat hewan tunggangan merasa letih dan bosan. Berbeda dengan sekedar duduk-duduk dan berbincang-bincang di atas hewan tunggangan yang sedang berhenti tanpa ada maslahat, dalam waktu lama, dan dilakukan berulang-ulang maka dapat menyebabkan hewan tunggangan merasa letih dan bosan.

Kendaraan pada zaman ini tidak bisa disamakan dengan hewan tunggangan yang dapat merasa letih dan bosan. Meskipun demikian, tidak selayaknya seorang pengendara duduk-duduk dan berbincang-bincang di atas kendaraannya yang sedang berhenti karena akan mengganggu serta menyusahkan pengguna jalan yang lain. Berhenti di sembarang tempat juga akan mempersempit jalan yang seharusnya dapat dipergunakan oleh pengguna jalan yang lain. Allah Ta’ala berfirman

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا

“Dan orang-orang yang menyakiti kaum mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 58)

6. Memandang kendaraan yang lebih rendah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi petunjuk kepada umatnya bagaimana cara memperkuat rasa syukur atas berbagai nikmat yang Allah Ta’ala anugerahkan, yaitu dengan selalu memandang orang-orang yang berada di bawahnya dalam akal, nasab (keturunan), harta, dan berbagai nikmat. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ ؛ فَهُوَ أجْدَرُ أنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ الله عَلَيْكُمْ

“Lihatlah orang yang lebih rendah dari kalian, dan jangan melihat orang yang di atas kalian. Itu lebih layak untuk kalian agar tidak memandang hina nikmat yang Allah anugerahkan kepada kalian.” (HR. Muslim)

Demikianlah paparan ringkas yang dapat kami tuliskan. Semoga kita dapat mengambil keteladanan dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Hanya kepada Allah-lah kita mohon pertolongan.

Referensi:

  1. Tafsir Al-Quran Al-Karim Surat Yasin hal 150-155, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, Dar Ats-Tsurayya.
  2. Bahjah Qulub Al-Abrar hal 66, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah.
  3. Kitab Al-Adab hal 301-304, Fuad bin ‘Abdil ‘Aziz Asy Syalhubi, Dar Al-Qosam.
  4. Syarh Kitab Al-Qawa’id Al-Arba’ hal 22-23, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz, Dar As-Salafiyyah.
  5. Syarh Hishnul Muslim hal 292, 298, 301, Majdi bin ‘Abdil Wahhab Ahmad, Muassasah Al-Jaraysi Littauzi’ wal-I’lan.

***

Penulis: Ummu ‘Ubaidillah

Sumber: https://muslimah.or.id/

Kerak pada Kepala Bayi (Cradle Cap)

Sering kita melihat kerak yang terdapat pada kepala bayi. Apakah penyebabnya dan bagaimana cara mengatasinya?

Ciri-ciri kerak kepala atau cradle cap, yaitu munculnya lapisan sisik-sisik tebal berminyak berwarna kuning di dahi dan bagian atas kepala bayi. Biasanya kerak ini akan terkelupas sendiri, menjadi serpihan-serpihan tipis seperti ketombe, jika sudah mengering.

Kerak kepala ini muncul akibat masih adanya kandungan hormon dari ibu dalam tubuh bayi. Kerak kepala ini hanya bersifat sementara, yang akan hilang dengan sendirinya seiring berkurangnya kadar hormon ibu dalam tubuh bayi. Gangguan kulit ini mungkin akan berlangsung sampai bayi berusia 8 – 12 bulan.

Meskipun nantinya akan menghilang sendiri seiring dengan usia bayi, namun sebaiknya kita bersihkan. Selain mengganggu penampilan, kerak ini juga membuat gatal dan mengganggu pertumbuhan rambutnya.

Perawatan

  1. Siapkan baby oil, sisir-sikat yang halus, sampo bayi, dan waslap. Menurut pengalaman, baby oil bisa diganti dengan minyak kelapa, VCO (virgin coconut oil), atau minyak zaitun. Tergantung apakah bayi alergi atau tidak dengan salah satu minyak tersebut.
  2. Oleskan minyak pada kulit kepala bayi yang berkerak sambil dipijat perlahan. Biarkan kira-kira 12 jam atau diinapkan semalam, agar kerak melunak dan mudah dibersihkan. Kita bisa melakukannya pada saat bayi tidur.
  3. Sisir rambut bayi menggunakan sisir-sikat halus, sambil mengangkat kerak kepala yang terlepas. Lakukan perlahan dan hati-hati.
  4. Cuci rambut dan kulit kepala bayi dengan sampo bayi, waslap, dan air hangat. Bilas sampai bersih.
  5. Jika ternyata masih terdapat kerak di kepalanya, ulangi tahapan di atas keesokan harinya. Jika perlu, gunakan serangkaian produk bayi khusus untuk mengatasi dan mencegah kerak kepala.

Hati-hati infeksi

  • Ketika melakukan perawatan kerak kepala, harap berhati-hati, karena bisa terjadi infeksi pada kulit kepala bayi. Jangan melepas secara paksa kerak kepala saat kering, apalagi dilakukan dengan jemari tangan karena bisa melukai kulit kepala bayi, serta menimbulkan risiko infeksi.
  • Jika menjumpai tanda-tanda infeksi, seperti timbul ruam-ruam merah, bawa bayi ke dokter. Dokter mungkin akan menyarankan untuk menggunting rambut di bagian kulit kepala tersebut, dan memberinya salep antibiotik.

Wallohu A’lam.

Penulis: dr. Ummu Rufaid

Sumber: https://muslimah.or.id/