Keutamaan Berdzikir Sendirian

Keutamaan Berdzikir Sendirian

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya: Zuhair bin Harb menuturkan kepadaku demikian juga Muhammad bin al-Mutsanna. Mereka semua menuturkan dari Yahya al-Qaththan. Zuhair mengatakan, Yahya bin Sa’id menuturkan kepada kami dari Ubaidillah. Dia berkata, Khubaib bin Abdurrahman mengabarkan kepadaku dari Hafsh bin ‘Ashim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

“Ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari di saat tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. (1) Seorang pemimpin yang adil, (2) Seorang pemuda yang tumbuh dalam ketekunan beribadah kepada Allah, (3) Seorang lelaki yang hatinya selalu bergantung di masjid, (4) Dua orang lelaki yang saling mencintai karena Allah, bertemu dan berpisah karena-Nya, (5) Seorang lelaki yang diajak berzina oleh seorang perempuan cantik lagi berkedudukan namun mengatakan, ‘Aku merasa takut kepada Allah’, (6) Seorang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi sampai-sampai tangan kanannya tidak mengerti apa yang diinfakkan oleh tangan kirinya (terbalik, seharusnya ‘sampai-sampai tangan kirinya tidak mengerti apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya’, pent), (7) Dan juga seorang yang mengingat Allah di saat sendirian hingga kedua matanya mengalirkan air mata.” (Hadits ini juga diriwayatkan oleh Bukhari dalam Kitab az-Zakah dengan judul bab ‘Shadaqah dengan tangan kanan’. Diterjemahkan secara bebas dari as-Shahih al-Musnad min Adzkar al-Yaum wa al-Lailah, Syaikh Musthofa al-Adawi, hal. 12-13)

Hadits ini mengandung banyak pelajaran berharga, di antaranya:

  1. Penetapan adanya hari kiamat.
  2. Penetapan adanya pembalasan amal.
  3. Dahsyatnya peristiwa di hari kiamat.
  4. Betapa lemahnya manusia di hadapan Allah ta’ala.
  5. Kecintaan Allah kepada orang-orang yang taat kepada-Nya.
  6. Yang dimaksud dengan naungan Allah di sini adalah naungan Arsy-Nya sebagaimana disebutkan dalam hadits lainnya yang disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari.
  7. Allah mencintai keadilan dan membenci kezaliman.
  8. Perintah untuk menegakkan keadilan.
  9. Keutamaan pemimpin yang adil.
  10. Beratnya cobaan dan godaan yang menimpa seorang pemimpin.
  11. Keutamaan pemuda yang tekun beribadah kepada Allah.
  12. Beratnya cobaan dan godaan yang dialami para pemuda, dan perintah kepada para orang tua agar membina generasi muda untuk gemar taat beribadah kepada Rabbnya.
  13. Keutamaan lelaki yang hatinya bergantung di masjid.
  14. Keutamaan masjid.
  15. Cinta dan benci karena Allah.
  16. Beramal karena Allah.
  17. Dahsyatnya godaan wanita.
  18. Jalan ke Surga diliputi oleh hal-hal yang tidak menyenangkan, sedangkan jalan menuju Neraka diliputi hal-hal yang disukai oleh hawa nafsu manusia.
  19. Kewajiban menjauhkan diri dari zina.
  20. Keutamaan rasa takut kepada Allah dan ia merupakan bukti kekuatan iman.
  21. Keutamaan bersedekah, terlebih lagi dengan sembunyi-sembunyi.
  22. Bersedekah dengan tangan kanan.
  23. Keutamaan berdzikir kepada Allah, terlebih apabila sendirian.
  24. Dorongan untuk ikhlas dalam beramal.
  25. Keutamaan menangis karena Allah.
  26. Iman mencakup ucapan, perbuatan, dan keyakinan, bisa bertambah dan berkurang.
  27. Baiknya amal lahir tergantung pada amal hati.
  28. Semakin sulit keadaan seseorang untuk taat kepada Allah namun dia tetap taat kepada-Nya maka balasan dari sisi Allah juga akan semakin besar.
  29. Penetapan kehendak pada diri Allah.
  30. Penetapan kehendak pada diri makhluk, ini adalah bantahan bagi Jabriyah (kelompok yang mengatakan bahwa seorang hamba dipaksa dalam melakukan perbuatan dan tidak ada hak untuk memilih, tidak ada kekuatan, serta tidak ada kehendak baginya -ed).
  31. Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah maka Allah akan menggantikannya dengan sesuatu yang lebih baik. Dan lain sebagainya yang belum kami ketahui, wallahu a’lam.

***

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi

Sumber: https://muslim.or.id/

Yang Kita Lupakan dalam Menuntut Ilmu

Yang Kita Lupakan dalam Menuntut Ilmu

Bertahun-tahun sudah kita luangkan waktu kita untuk menuntut ilmu. Suka duka yang dirasakan juga begitu banyak. Mengingat masa lalu terkadang membuat kita tersenyum, tertawa dan terkadang membuat kita menangis. Inilah kehidupan yang harus kita jalani. Kehidupan sebagai seorang thalibul’ilmi. Akan tetapi, mungkin kita sering melupakan, apakah ilmu yang kita dapatkan adalah ilmu yang bermanfaat ataukah sebaliknya.

Penulis teringat sebuah hadis yang diriwayatkan oleh seorang sahabat yang bernama Zaid bin Arqam radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata,

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا

Artinya: “Ya Allah. Sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dari jiwa yang tidak pernah merasa kenyang dan dari doa yang tidak dikabulkan.” (HR Muslim No. 6906 dan yang lainnya dengan lafaz-lafaz yang mirip)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saja, yang dijamin oleh Allah untuk menjadi pemimpin Bani Adam di hari akhir nanti, sangat sering mengulang doa-doa ini, apalagi kita, yang sangat banyak berlumuran dosa, sudah seharusnya selalu membacanya.

Mengetahui ciri-ciri ilmu yang bermanfaat dan yang tidak bermanfaat sangatlah penting. Oleh karena itu, berikut ini penulis sebutkan beberapa ciri ilmu yang bermanfaat dan yang tidak bermanfaat yang penulis ambil dari kitab Al-Hafiz Ibnu Rajab Al-Hanbali yang berjudul Bayan Fadhli ‘Ilmissalaf ‘ala ‘Ilmilkhalaf.

Ciri-ciri ilmu yang bermanfaat di dalam diri seseorang:

  1. Menghasilkan rasa takut dan cinta kepada Allah.
  2. Menjadikan hati tunduk atau khusyuk kepada Allah dan merasa hina di hadapan-Nya dan selalu bersikap tawaduk.
  3. Membuat jiwa selalu merasa cukup (qanaah) dengan hal-hal yang halal walaupun sedikit yang itu merupakan bagian dari dunia.
  4. Menumbuhkan rasa zuhud terhadap dunia.
  5. Senantiasa didengar doanya.
  6. Ilmu itu senantiasa berada di hatinya.
  7. Menganggap bahwa dirinya tidak memiliki sesuatu dan kedudukan.
  8. Menjadikannya benci akan tazkiah dan pujian.
  9. Selalu mengharapkan akhirat.
  10. Menunjukkan kepadanya agar lari dan menjauhi dunia. Yang paling menggiurkan dari dunia adalah kepemimpinan, kemasyhuran dan pujian.
  11. Tidak mengatakan bahwa dia itu memiliki ilmu dan tidak mengatakan bahwa orang lain itu bodoh, kecuali terhadap orang-orang yang menyelisihi sunnah dan ahlussunnah. Sesungguhnya dia mengatakan hal itu karena hak-hak Allah, bukan untuk kepentingan pribadinya.
  12. Berbaik sangka terhadap ulama-ulama salaf (terdahulu) dan berburuk sangka pada dirinya.
  13. Mengakui keutamaan-keutamaan orang-orang yang terdahulu di dalam ilmu dan merasa tidak bisa menyaingi martabat mereka.
  14. Sedikit berbicara karena takut jika terjadi kesalahan dan tidak berbicara kecuali dengan ilmu. Sesungguhnhya, sedikitnya perkataan-perkataan yang dinukil dari orang-orang yang terdahulu bukanlah karena mereka tidak mampu untuk berbicara, tetapi karena mereka memiliki sifat wara’ dan takut pada Allah Taala.

Adapun ciri-ciri ilmu yang tidak bermanfaat di dalam diri seseorang:

  1. Ilmu yang diperoleh hanya di lisan bukan di hati.
  2. Tidak menumbuhkan rasa takut pada Allah.
  3. Tidak pernah kenyang dengan dunia bahkan semakin bertambah semangat dalam mengejarnya.
  4. Tidak dikabulkan doanya.
  5. Tidak menjauhkannya dari apa-apa yang membuat Allah murka.
  6. Semakin menjadikannya sombong dan angkuh.
  7. Mencari kedudukan yang tinggi di dunia dan berlomba-lomba untuk mencapainya.
  8. Mencoba untuk menyaing-nyaingi para ulama dan suka berdebat dengan orang-orang bodoh.
  9. Tidak menerima kebenaran dan sombong terhadap orang yang mengatakan kebenaran atau berpura-pura meluruskan kesalahan karena takut orang-orang lari darinya dan menampakkan sikap kembali kepada kebenaran.
  10. Mengatakan orang lain bodoh, lalai dan lupa serta merasa bahwa dirinya selalu benar dengan apa-apa yang dimilikinya.
  11. Selalu berburuk sangka terhadap orang-orang yang terdahulu.
  12. Banyak bicara dan tidak bisa mengontrol kata-kata.

Al-Hafiz Ibnu Rajab Al-Hanbali berkata, “Di saat sekarang ini, manusia boleh memilih apakah dia itu ridha untuk dikatakan sebagai seorang ulama di sisi Allah ataukah dia itu tidak ridha kecuali disebut sebagai seorang ulama oleh manusia di masanya. Barang siapa yang merasa cukup dengan yang pertama, maka dia akan merasa cukup dengan itu… Barang siapa yang tidak ridha kecuali ingin disebut sebagai seorang ulama di hadapan manusia, maka jatuhlah ia (pada ancaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam),

من طلب العلم ليباهي به العلماء أو يماري به السفهاء أو يصرف وجوه الناس إليه فليتبوأ مقعده من النار

Artinya: “Barang siapa yang menuntut ilmu untuk menyaing-nyaingi para ulama, mendebat orang-orang bodoh atau memalingkan wajah-wajah manusia kepadanya, maka dia itu telah mempersiapkan tempat duduknya dari neraka.” (*)

*) Dengan Lafaz yang seperti ini, penulis belum menemukannya dengan sanad yang shahih. Akan tetapi, terdapat lafaz yang mirip dengannya di Sunan At-Tirmidzi No. 2653 dengan sanad yang hasan, yaitu:

من طلب العلم ليجاري به العلماء أو ليماري به السفهاء أو يصرف به وجوه الناس إليه أدخله الله النار

***

اللهم إني أسألك علما نافعا و رزقا طيبا و عملا متقبلاز آمين

Maraji’:

  1. Bayan Fadhli ‘Ilmissalaf ‘ala ‘Ilmilkhalaf oleh Al-Hafiz Ibnu Rajab Al-Hanbali, Dar Al-Basya’ir Al-Islamiah
  2. Shahih Muslim, Dar As-Salam
  3. Sunan At-Tirmidzi, Maktabah Al-Ma’arif

***

Penulis: Ustadz Said Yai Ardiansyah (Mahasiswa Fakultas Hadits, Jami’ah Islamiyah Madinah, Saudi Arabia)

Sumber: https://muslim.or.id/

Mencerdaskan Diri dengan Ilmu Syar’i

Mencerdaskan Diri dengan Ilmu Syar’i

Tidak diragukan lagi bahwa memahami ilmu syar’i (ilmu agama) adalah hal yang sangat penting, baik bagi seorang muslim maupun muslimah. Kita membutuhkan ilmu syar’i sebagai bekal hidup, bahkan dalam setiap tarikan nafas yang kita hirup dan setiap detik yang kita lalui, semuanya membutuhkan ilmu. Hal ini karena sesungguhnya setiap perkataan, perbuatan, bahkan apa yang ada di hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban. Allah Ta’ala berfirman

وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا

“Dan janganlah engkau mengikuti sesuatu yang kamu tidak mengetahui pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semua itu akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Al Israa`: 36)

Oleh karena itu, kita harus mempelajari ilmu syar’i karena ilmu syar’i merupakan sumber kebahagiaan, baik di kehidupan dunia maupun akhirat. Kita juga membutuhkan ilmu syar’i sebagai pedoman hidup. Terlebih lagi bagi seorang wanita, karena wanita akan menjadi ibu yang kelak akan mendidik anak-anaknya. Seorang ibu adalah pendidik yang utama bagi anak-anaknya. Lantas bagaimanakah jadinya jika pendidiknya adalah seorang yang tidak berilmu? Bagaimana mungkin seseorang yang tidak mempunyai sesuatu akan dapat memberikan sesuatu kepada orang lain?

Keutamaan Ilmu dan Pemilik Ilmu

Allah Ta’ala berfirman

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat.” (QS. Al Mujadilah: 11)

Ilmu akan menjadi sebab diangkatnya derajat seseorang yang dikehendaki oleh Allah, yaitu orang-orang yang mengilmui agama yang benar ini dengan baik.

Allah Ta’ala berfirman

هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الألْبَابِ

“Apakah sama antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu? Sesungguhnya hanya orang yang berakallah yang bisa mengambil pelajaran.” (QS. Az-Zumar: 9)

Sesungguhnya tidaklah sama antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu, sebagaimana tidak sama antara orang yang hidup dengan orang yang mati, antara orang yang mendengar dengan orang yang tuli, serta antara orang yang buta dengan orang yang melihat. Karena ilmu adalah cahaya yang akan memberikan petunjuk kepada manusia sehingga mereka bisa keluar dari kegelapan menuju kepada cahaya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkannya dalam perkara agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwasanya kefahaman terhadap agama merupakan tanda adanya kebaikan pada diri seseorang. Dan sebaliknya, orang yang tidak dikehendaki untuk mendapatkan kebaikan oleh Allah, maka Allah tidak akan memahamkannya terhadap urusan agamanya sehingga ia akan tercegah dari kebaikan. Nas`alullaha as-salamah (Kita memohon keselamatan kepada Allah Ta’ala)…

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

“Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Wahai Saudariku, lihatlah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut. Surga duhai Saudariku, surga! Tidakkah engkau ingin meraihnya? Jika ya, maka tempuhlah jalan untuk mencari ilmu. Tentunya yang dimaksud dengan menuntut ilmu adalah menuntut ilmu syar’i yang benar yang berasal dari Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.

Wahai Saudariku, itulah beberapa ayat dan hadits yang menyebutkan tentang keutamaan seorang ahli ilmu, dan sungguh masih banyak ayat dan hadits lain yang menyebutkan tentang keutamaannya.

Sedangkan di antara keutamaan ilmu adalah:

  1. Sesungguhnya ilmu adalah warisan para nabi dan rasul, karena sesungguhnya para nabi tidaklah mewariskan harta benda, akan tetapi mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya, maka sungguh ia telah mengambil bagian dari warisan para nabi.
  2. Ilmu itu abadi, sedangkan harta adalah fana. Contohnya adalah Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia termasuk sahabat yang faqir sehingga ia sering terjatuh pingsan karena menahan lapar. Akan tetapi lihatlah wahai Saudariku, bukankah engkau melihat nama beliau banyak disebut-sebut hingga sekarang? Semua itu bukanlah disebabkan karena kekayaan beliau, akan tetapi semua itu karena ilmu beliau. Lihatlah wahai Saudariku, betapa ilmu itu akan kekal dan harta itu akan habis.
  3. Ilmu tidak akan membuat lelah pemiliknya dalam menjaganya, karena tempat ilmu adalah di dalam hati, sehingga hal itu tidak membutuhkan kotak khusus ataupun kunci khusus untuk menjaganya.
  4. Ilmu adalah jalan menuju surga.

Persiapan Menuntut Ilmu

Seseorang jika hendak menuntut suatu ilmu –terlebih lagi ilmu syar’i- maka hendaknya dia mempersiapkan dirinya dan mencurahkan waktunya untuk ilmu, dan hendaknya ia tidak cepat bosan terhadap ilmu tersebut.

Terdapat sebuah kisah yang diriwayatkan oleh Al-Khatib Al-Baghdadiy dalam kitab beliau Al-Jaami’ li Akhlaaqir Rawi wa Adaabis Saami’ bahwasanya terdapat seorang penuntut ilmu hadits yang rajin mencari ilmu. Dia rajin menghadiri majelis-majelis ilmu para ulama ahli hadits. Akan tetapi, seiring dengan berlalunya waktu, dia merasa bahwa dirinya belumlah mendapatkan ilmu dan faidah yang banyak. Kemudian dia berkata pada dirinya sendiri, “Sesungguhnya aku tidaklah cocok mempelajari ilmu ini.” Selanjutnya dia meninggalkan ilmu tersebut karena menyangka bahwa pemahamannya terhadap ilmu tersebut sangatlah lemah sehingga dia tidaklah pantas mempelajarinya.

Setelah waktu berlalu, suatu hari dia berjalan melewati sebuah batu besar dan terdapat air yang terus menetes di atasnya hingga mampu melubangi batu besar tersebut. Maka ia berhenti dan berfikir sejenak, lalu berkata kepada dirinya, “Air dengan kelembutannya saja mampu melubangi batu yang keras, maka sungguh otak dan hatiku tidaklah lebih keras dari batu, dan ilmu tentulah tidak lebih lembut daripada air.” Semenjak itu dia mempunyai tekad yang kuat untuk kembali mempelajari ilmu yang telah lama dia tinggalkan. Maka jadilah dia termasuk orang yang mendapat petunjuk sehingga dia menguasai ilmu tersebut.

Wahai Saudariku, dari kisah tersebut terdapat sebuah pelajaran yang sangat berharga yaitu hendaknya siapa saja yang ingin mempelajari suatu ilmu, maka hendaknya dia mempunyai suatu tekad yang kuat dan tidak cepat berputus asa ketika jalan yang dilaluinya dalam menuntut ilmu adalah jalan yang sulit. Hendaknya pula kita tidak mengatakan, “Saya mungkin tidak berbakat belajar bahasa Arab –misalnya- karena pemahaman saya terhadap bahasa Arab tidaklah kuat” atau perkataan-perkataan lainnya yang menunjukkan keputus-asaan dan ketidaksabaran. Akan tetapi hendaknya kita melihat cara-cara yang ditempuh oleh orang-orang sebelum kita dalam mempelajari suatu ilmu. Di samping itu, hendaknya kita juga jangan pernah lupa untuk terus memohon kepada Allah Ta’ala agar senantiasa memberikan pertolongan kepada kita agar mendapatkan ilmu yang bermanfaat.

Beberapa Cara yang Bisa Ditempuh untuk Memperoleh Ilmu

Ketika seseorang hendak menuju suatu tempat, dia harus mengetahui jalan yang bisa mengantarkannya ke tempat tersebut. Jika jalan yang mengantarkan ke tempat tersebut banyak, maka ia harus mencari jalan yang termudah dan terdekat. Oleh karena itulah, di antara hal-hal penting yang harus diketahui oleh orang yang hendak mencari ilmu adalah mengetahui jalan yang akan mengantarkannya ke sana.

Di antara sebab-sebab yang bisa meneguhkan hati dalam menuntut ilmu syar’i yaitu:

1. Mengikhlaskan niat

Sesungguhnya menuntut ilmu agama termasuk ibadah karena hal ini merupakan sesuatu yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sesuatu yang terdapat perintah di dalam Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk melakukannya merupakan ibadah. Adapun ibadah harus dikerjakan dengan ikhlas. Imam Ahmad rahimahullah pernah ditanya tentang bagaimanakah niat yang benar dalam menuntut ilmu. Beliau rahimahullah menjawab, “Ia berniat untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya.”

Ikhlas dalam menuntut ilmu adalah menjadikan tujuan dari menuntut ilmu tersebut untuk mencari wajah Allah Ta’ala, bukan untuk mencari berbagai macam tujuan dunia. Di samping itu, dia niatkan dalam menuntut ilmu untuk menghilangkan kebodohan pada dirinya.

2. Bertahap

Yaitu belajar sedikit demi sedikit dimulai dari perkara yang ringan. Begitulah seharusnya seorang penuntut ilmu, hendaknya ia belajar dari yang ringan terlebih dahulu baru kemudian meningkat secara bertahap. Karena seseorang yang baru saja belajar bisa jadi dia akan mendapati rasa bosan atau mudah putus asa ketika langsung berhadapan dengan hal-hal yang rumit. Para ulama terdahulu tidaklah memulai belajar hadits langsung dari kitab Fathul Bari Syarah Shahih Bukhari, akan tetapi mereka mengawalinya dari yang ringan seperti Hadits Arba’in An-Nawawi. Maka sudah sepantasnya kita mengambil contoh dari metode para ulama terdahulu yang mereka tempuh dalam menuntut ilmu syar’i.

3. Waktu khusus

Hendaknya seorang penuntut ilmu mempunyai waktu-waktu khusus untuk belajar, muroja’ah (mengulang pelajaran), ataupun mentelaah. Sebaiknya waktu yang digunakan untuk belajar adalah waktu-waktu semangat, bukan malah menggunakan waktu-waktu ‘mati’ yaitu ketika semangat sudah tidak ada lagi, ketika energi yang ada hanyalah sisa-sisa dari kesibukannya terhadap dunia. Belajar di waktu semangat –dengan izin Allah Ta’ala– akan membuat ilmu lebih meresap di dalam hati dibandingkan dengan belajar di waktu-waktu mati.

Itulah hal-hal yang dapat membuat seseorang bisa istiqomah (konsisten) dalam menuntut ilmu. Dari ketiga hal di atas yang paling penting adalah keikhlasan niat, karena keikhlasan merupakan hal pokok. Keikhlasan mampu meneguhkan seseorang ketika rintangan yang dihadapinya sangatlah besar. Berbeda dengan orang yang tidak ikhlas, bisa jadi ujian kecil menjadi terasa sangat besar baginya hingga menjadikan hilangnya keteguhan dalam menuntut ilmu.

Buah Ilmu adalah Amal

Wahai Saudariku, semoga Allah Ta’ala merahmatimu, aku ingin mengingatkan diriku sendiri dan begitu juga denganmu, bahwasanya ilmu bukanlah tujuan utama. Namun, ilmu hanyalah perantara yang akan mengantarkan kita agar bisa melakukan amal ibadah sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, agar kita dapat berjalan di atas jalan yang telah ditempuh oleh para sahabat, tabi’in, dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan.

Ilmu yang terpuji adalah ilmu yang membuahkan amal bagi pemiliknya. Dan ilmu yang membuahkan amal, itulah ilmu yang bermanfaat. Dengan ilmu yang bermanfaat, semoga kita tidak menjadi orang yang sesat karena melakukan amal ibadah tanpa landasan ilmu yang benar. Dengan ilmu yang bermanfaat pula, semoga kita tidak menjadi orang yang dimurkai Allah Ta’ala karena tidak mengamalkan ilmu yang telah kita pelajari.

Yang terakhir wahai Saudariku, semoga Allah Ta’ala senantiasa menjagaku dan menjagamu agar senantiasa melangkah di atas jalan yang diridhai-Nya. Semoga Allah Ta’ala meneguhkan langkah kita dalam mencari ilmu syar’i yang benar berdasarkan pemahaman para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.

Ya Allah sesungguhnya aku mohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik, dan amal yang diterima.

***

Penulis: Ummu Zaid

Artikel Buletin Zuhairah

Referensi:

– Syarah Adab dan Manfaat Menuntut Ilmu [terj. Syarh Hilyah Thalibil ‘Ilmi], Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, Pustaka Imam Syafi’i.
– Manhajiyyah fii Tholabil ‘Ilmi, Syaikh Shalih Alu Syaikh, Maktabah Syaikh Shalih Alu Syaikh (www.islamspirit.com).
– Nashiihatii lin Nisaa’, Ummu Abdillah bintu Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i, Darul Atsar, Shan’aa.
– Kitaabul ‘Ilmi, Syaikh Muhammad bin Shalih ‘Utsaimin, Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah.
– Tsamratul ‘Ilmi Al ‘Amal, Syaikh ‘Abdur Razaq bin ‘Abdul Muhsin Al-‘Abbad, Maktabah Al-Malik Fahd.

Sumber: https://muslimah.or.id/

Habis Gelap Terbitlah Terang

Habis Gelap Terbitlah Terang

Ujian dalam Perjalanan Hidup Manusia

Siapapun yang hidup di dunia pasti akan menghadapi hal-hal yang tidak enak. Berupa musibah, sakit, sedih, problematika, kekurangan harta dan yang semisalnya. Itu sudah merupakan sunnatullah yang pasti terjadi. Allah Ta’ala menjelaskan,

“وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Artinya: “Kami (Allah) pasti akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa juga buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar”.  [QS. Al-Baqarah (2): 155]

Kiat Menghadapi Ujian Kehidupan

Dalam menghadapi berbagai ujian tersebut, agar hati terasa lapang, ada beberapa hal yang perlu kita realisasikan. Antara lain:

Beratnya Ujian Tidak Akan Melebihi Batas Kemampuan Kita

Seberat apapun ujian yang Allah timpakan pada kita, pasti hal itu tidak akan melewati batas kemampuan kita. Alias kita akan mampu untuk menghadapinya, dengan izin Allah. Sebab Allah Ta’ala tidak akan membebani hamba-Nya melampaui batas kemampuannya.

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

Artinya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. [QS. Al-Baqarah (2): 286]

Berkurangnya Dosa dengan Kesabaran dalam Menghadapi Ujian

Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam menjelaskan,

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ”

“Tidaklah ada kelelahan, rasa sakit, kesedihan, kekhawatiran, gangguan dan kegundah-gulanaan yang diderita seorang muslim, bahkan sampai duri yang menancap di tubuhnya; melainkan Allah akan menjadikannya sebagai penggugur sebagian dosa-dosanya.” [HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah radhiyallahu’anhuma.]

Habis Gelap Terbitlah Terang

Andaikan kita mau jujur membandingkan antara kenikmatan yang Allah karuniakan dengan musibah yang Allah timpakan pada kita, niscaya akan kita temukan bahwa musibah tersebut jauh lebih sedikit. Contoh kecilnya adalah masalah kesehatan. Antara sehatnya tubuh kita dengan sakitnya, pasti rata-rata kehidupan kita didominasi oleh kesehatan dibandingkan sakit.

Kemudian, musibah itu ada selesainya. Bahkan semakin berat ujian, biasanya itu pertanda bahwa sebentar lagi akan berakhir. Allah Ta’ala menjelaskan,

“فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا”

Artinya: “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan”. [QS. Al-Insyirah (94): 5]

Yakinlah, bahwa cahaya itu akan muncul setelah kegelapan! Habis gelap terbitlah terang…

 

Pesantren ”Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 18 Syawal 1435 / 15 Agustus 2014

Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc. MA.

Sumber: https://muslim.or.id/

Kesempatan Mengetuk Pintu Sang Raja

Kesempatan Mengetuk Pintu Sang Raja

Kesempatan mengetuk pintu Sang Raja tidaklah terbatas di saat pelaksanaan shalat lima waktu semata. Akan tetapi, Allah Ta’ala memberikan banyak kesempatan sepanjang siang dan malam.

Mengetuk Pintu Sang Raja

Sahabat ‘Abdullah Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu pernah berujar,

مَا دُمْتَ فِي صَلاةٍ فَأَنْتَ تَقْرَعُ بَابَ الْمَلِكِ ، وَمَنْ يَقْرَعْ بَابَ الْمَلِكِ يُفْتَحْ لَهُ

“Engkau tengah mengetuk pintu Sang Raja di sepanjang sholat. Dan setiap orang yang mengetuknya, niscaya akan dibukakan jalan keluar.” [Shifat ash-Shafwah, 1:156]

Siapakah Raja dimaksud, yang senantiasa kita ketuk pintu-Nya di setiap kali shalat? Tentulah Dia adalah Allah, Rabb semesta alam, yang di Tangan-Nya-lah segala perbendaharaan bumi dan langit berada, begitu pula dengan seluruh perbaikan hati dan keadaan yang dialami hamba.

Kesempatan mengetuk pintu Sang Raja tidaklah terbatas di saat pelaksanaan shalat lima waktu semata. Akan tetapi, Allah Ta’ala memberikan banyak kesempatan sepanjang siang dan malam. Hebatnya lagi, Allah Ta’ala justru bergembira jika para hamba-Nya senantiasa mengetuk pintu-Nya, memanjatkan permohonan dan permintaan kepada-Nya. Hal yang sungguh berbeda jika kita melakukan hal yang sama kepada makhluk. Mereka akan menggerutu dan justru bosan dengan permintaan yang kita lakukan terus-menerus!

Kesempatan kita untuk mengetuk pintu Sang Raja adalah kesempatan yang berharga, namun tidak perlu meminta izin atau membuat janji sebagaimana hal itu harus dilakukan terlebih dahulu jika kita ingin bertemu dengan raja-raja dan orang-orang penting di dunia. Kesempatan yang merupakan nikmat luar biasa seperti yang dikatakan al-Muzani rahimahullah,

من مثلك يا ابن آدم؟! خلي بينك وبين المحراب والماء ، كلما شئت دخلت على الله عز وجل ليس بينك وبينه ترجمان

“Siapakah yang hidupnya lebih nikmat darimu, wahai anak cucu Adam?! Engkau bisa berkhalwat di dalam mihrab bermodalkan air untuk berwudhu, sehingga setiap kali ingin bertemu dengan Allah, Engkau tinggal masuk ke dalam mihrab dan mengerjakan shalat, dimana Engkau bisa berkomunikasi dengan Allah tanpa adanya penerjemah.” [az-Zuhd, hlm. 246]

Bukan Berarti Solusi akan Otomatis dan Segera Diberikan

Akan tetapi, ketika sahabat Abdullah ibn Mas’ud radhiallahu ‘anhu menyatakan bahwa setiap orang yang mengerjakan shalat tengah mengetuk pintu Allah Ta’ala dan pasti akan menemui solusi atas permasalahan hidup yang dikeluhkannya, hal itu bukan berarti bahwa solusi akan otomatis dan segera diberikan. Terkadang Allah Ta’ala menunda untuk membuka pintu-Nya dan memberikan solusi bagi permasalahan yang dihadapi hamba-Nya karena adanya hikmah yang mendalam. Dengan demikian, ada kebaikan di atas kebaikan yang mungkin tidak akan diperoleh hamba ketika do’a dan permintaannya langsung dikabulkan Allah Ta’ala!

Boleh jadi tertundanya jalan keluar atas permasalahan yang dihadapi hamba melahirkan berbagai ibadah pada diri hamba seperti ikhbaat (merendahkan diri di hadapan Allah) dan inaabah (kembali kepada Allah); merasakan kelezatan tatkala memohon dan bermunajat kepada Allah; dan berbagai ibadah kalbu yang membawa kehidupan bagi hati, yang mungkin tidak pernah terbayang dalam benak hamba sebelumnya.

Setiap orang yang terus-menerus mengetuk pintu Sang Raja, tentu akan mendapatkan solusi atas permasalahannya. Akan tetapi, apakah hakikat solusi itu? Apakah hanya terkabulnya do’a semata? Sebagaimana yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pengabulan do’a itu hanya salah satu respon atas do’a yang dipanjatkan hamba. Terkadang Allah mencegah musibah agar tidak menimpa hamba, yang bisa jadi lebih buruk dari permasalahan yang tengah dihadapi. Atau Allah menundanya agar balasannya diberikan kelak di hari kiamat. Minimal, dan tentu hal ini bukan berarti sedikit, Allah akan menetapkan pahala atas upayanya mengetuk pintu Sang Raja, pahala yang tentu sangat dibutuhkan karena lebih berharga daripada seisi dunia di kala seluruh hamba membaca lembaran-lembaran catatan amalnya.

Solusi yang lebih besar dari itu semua adalah Allah Ta’ala menjadikan hamba cinta dan larut dalam kesenangan bermunajat, memanjatkan do’a kepada-Nya, dan merasakan kedekatan dengan-Nya. Tidak ada nikmat dunia yang sebanding dengan itu, dan tidak ada musibah yang lebih besar ketika hamba kehilangan setelah mampu merasakannya. Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,

العبد قد تنزل به النازلة فيكون مقصوده طلب حاجته، وتفريج كرباته، فيسعى في ذلك بالسؤال والتضرع، وإن كان ذلك من العبادة والطاعة، ثم يكون في أول الأمر قصده حصول ذلك المطلوب: من الرزق والنصر والعافية مطلقا، ثم الدعاء والتضرع يفتح له من أبواب الإيمان بالله عز وجل ومعرفته ومحبته، والتنعم بذكره ودعائه، ما يكون هو أحب إليه وأعظم قدرا عنده من تلك الحاجة التي همته. وهذا من رحمة الله بعباده، يسوقهم بالحاجات الدنيوية إلى المقاصد العلية الدينية

“Terkadang hamba mengalami permasalahan, sehingga dia pun bertujuan memanjatkan keperluan dan memohon solusi dari kesulitan. Hal itu mendorongnya untuk meminta dan merendahkan diri di hadapan Allah, yang merupakan salah satu bentuk ibadah dan ketaatan. Pertama kali boleh jadi tujuan hamba itu adalah sekadar memperoleh rizki, pertolongan, dan keselamatan yang diinginkan. Namun, do’a dan perendahan diri membukakan pintu keimanan, makrifat, dan kecintaan kepada Allah; memberi kesempatan kepada dirinya untuk bersenang-senang dengan berdzikir dan berdo’a kepada-Nya, yang semua itu sebenarnya lebih baik baginya dan lebih bernilai daripada keperluan duniawi yang diinginkannya. Inilah salah satu bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya, di mana Dia menggiring hamba untuk memanjatkan kebutuhan dunianya, namun memberikan hasil mulia yang membawa kebaikan pada agama” [Iqtidha ash-Shirath al-Mustaqim, 3: 312-313]

Semoga Allah Ta’ala tidak menghalangi diri kita dari kelezatan bermunajat kepada-Nya dan kenyamanan berdekatan dengan-Nya.

 

Penulis: Muhammad Nur Ichwan Muslim, ST.

Sumber: https://muslim.or.id/

Pentingnya Mengenal Para Salaf

Pentingnya Mengenal Para Salaf

Dewasa ini keruntuhan iman pada kebanyakan remaja sudah sangat mendalam dan merata. Ibadah baik sholat jama’ah di Masjid, membaca Al-Qur`an dan belajar Islam sudah sangat minim sekali. Padahal dahulu para pemuda dan remaja di zaman Nabi dan setelahnya demikian semangat untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan shalih.

Para salaf disini maksudnya adalah generasi sahabat Nabi, tabiin dan tabiit tabiin. Sahabat adalah orang yang pernah bertemu Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dalam keadaan beriman dan meninggal dalam keadaan muslim. Sedang tabi’in adalah para murid sahabat yang tegak dan berjalan diatas ajaran Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan petunjuk para sahabat. Adapun tabi’it tabi’in adalah para murid tabi’in yang istiqamah dalam ajaran dan petunjuk para sahabat yang diajarkan para tabi’in pada mereka.

Ketiga generasi ini berbeda dengan generasi setelahnya, karena mereka adalah generasi terbaik umat ini sebagaimana dijelaskan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dalam sabda beliau :

خَيْرُ أُمَّتِي الْقَرْنُ الَّذِينَ بُعِثْتُ فِيهِمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

Sebaik-baiknya umatku adalah generasi yang aku diutus pada mereka (Sahabat Nabi-ed) kemudian yang setelahnya (Tabi’in-ed) kemudian yang setelahnya (Tabiit Tabi’in-ed).” (Hadits Shahih riwayat Abu Daud)

Bahkan para sahabat khususnya telah direkomendasikan Allah Ta’ala sebagai umat terbaik dalam firman-Nya yang artinya: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al Imran/3 : 110)

Setiap orang yang membaca sejarah kehidupan para salaf dan merenungi keadaan mereka, pasti akan mengerti dan mendapatkan kehebatan dan keagungan mereka. Mereka memiliki akhlak yang sangat mulia dan sangat kuat dan teguh dalam meneladani sikap dan prilaku Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dalam segala keadaannya. Disamping juga mereka sangat menjaga keimanan dan sangat takut berbuat dosa dan kemaksiatan serta senantiasa berlomba-lomba dalam mengamalkan amal shalih dan kebaikan.

Keagungan dan kehebatan mereka sebagai generasi terbaik dilukiskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam penuturannya : “Siapa yang lebih dekat kemiripannya dengan mereka maka akan lebih sempurna”.

Hal ini tidaklah mengherankan, karena Allah telah memilih mereka sebagai pendamping perjuangan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dalam menegakkan dan membela agama Islam ketika beliau Shallallahu’alaihi Wasallam hidup dan setelah kematian beliau. Mereka telah mengorbankan harta dan jiwa mereka untuk menyebarkan ajaran yang mulia ini dengan melakukan penaklukan-penaklukan terhadap negeri-negeri disekitar jazirah Arabia. Dalam perjuangan mereka tersebut nampak sangat jelas kekuatan iman, kedalaman ilmu, kesucian hati dan kebersihan jiwa mereka.

Pantaslah bila Allah berfirman yang artinya: “Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, Sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. dan Dia-lah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui“. (QS. Al Baqarah: 137).

Dalam ayat diatas Allah menjelaskan seorang dapat dikatakan benar dalam iman dan mendapat petunjuk apabila beriman kepada semua yang telah diimani Rasulullah dan para sahabatnya. Dengan demikian seorang yang ingin mendapat petunjuk dan berjalan di atas jalan yang lurus sangat perlu melihat dan mengerti kehidupan para salaf yang indah dan fenomenal. Yakinlah setelah mengenal kehidupan mereka, kita akan semakin kuat iman dan semakin sejuk hati dan jiwa kita.

Mau bukti? Silahkan membaca sejarah kehidupan mereka yang telah tertulis di buku-buku sejarah dan biografi para salaf yang sudah banyak diterjemahkan kedalam bahasa kita.

 

 

Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.

Sumber: https://muslimah.or.id/