Select Page
Islam Sumber Kebahagiaan Hidup

Islam Sumber Kebahagiaan Hidup

Christina Onassis, konon ia seorang wanita yang memiliki kecantikan luar biasa dan terkenal. Soal kekayaan, dari mendiang ayahnya ia mewarisi kapal pesiar pribadi, pulau pribadi, danau, real estate, pesawat terbang pribadi, deposito milyaran dollar, serta armada kapal. Akan tetapi, dalam masalah pernikahan selalu berakhir dengan kekecewaan. Dia tak menemukan kebahagiaan. Akhirnya ia bunuh diri di Argentina.

Kebahagiaan, begitu mudah diucapkan namun semudah itukah diwujudkan? Banyak orang tak menemukan kebahagiaan hidup karena ia tak tahu apa makna dari kebahagiaan dan dimana kebahagiaan itu berada. Hanya dalam agama Islamlah ketenangan hati, kebahagiaan hakiki dan impian-impian nyata itu akan dinikmati.

Demi sebuah kebahagian sejati, seorang Salman al-Farisi tahan menempuh ribuan kilometer melintasi gurun pasir gersang, menembus belantara dan menyeberang samudera. Pengembaraan spektakuler itupun akhirnya berlabuh ketika ia bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hanya agama Islamlah yang menjanjikan kebahagiaan hidup abadi. Banyak cerita dan kisah para dokter, pendeta, biarawati, selebritis maupun tokoh–tokoh politik yang telah bermetamorfosa hingga mereka memilih Islam sebagai jalan hidup.

Kaum muslimin tak perlu terkecoh dan terpesona oleh orang–orang yang memiliki kekayaan melimpah, jabatan yang prestisius, pasangan hidup yang menawan, namun mereka jauh dari nilai–nilai Islam yang lurus. Mungkin kelihatannya mereka selalu happy, namun pada hakikatnya mereka belumlah mendapatkan kedamaian hakiki.

Ulama sekaliber Ibnu Taimiyah, meski hidup dalam penjara yang sangat jauh dari kenikmatan dunia, namun beliau dengan semangat dan lantang mengatakan,

أنا جنّتي في قلبي، وبستاني في صدري

“Surgaku ada di dadaku”

Seorang mukmin akan merasakan manisnya iman ketika ia mengenal Allah, Rasul dan agamanya. Itulah sumber kebahagiaan tertinggi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. meski kehidupannya sangat bersahaja dengan serba minimalis, namun beliau pun mengatakan, “Rumahku surgaku.”

Menjadikan dunia di tangan hanya dalam genggaman, sedangkan hatinya tetap tertuju pada akhirat. Hal ini akan terjadi jika anda berorientasi pada kebahagiaan di kampung keabadian. Karena puncak kesuksesan seorang muslim hanyalah di saat ia dimasukkan ke dalam surga Allah Ta’ala dan dijauhkan dari neraka-Nya.

Jika anda berfikir tentang kebahagiaan, berarti anda berupaya keras agar kebahagiaan itu terjadi dalam hidup anda. Tentu semuanya dengan izin Allah. Malik bin Dinar mengatakan, “Kebanyakan penduduk dunia, ketika meninggalkan dunia mereka belum mencicipi kenikmatan dunia yang paling nikmat, yakni mengenal Allah.”

***

Penyusun: Ummu Nashifah Isruwanti
Pemuraja’ah: Ustadz Ammi Nur Baits

Sumber

Taqwa adalah Sumber Selamat

Taqwa adalah Sumber Selamat

Ibnul Jauzi rahimahullahu menuturkan:

“Ketahuilah, hidup tak selalu sama. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وتلكَ الأيامُ نداولها بينَ الناس

Hari-hari itu kami pergilirkan dalam (hidup) manusia.”

Manusia itu … kadang miskin, kadang kaya. Kadang mulia, kadang hina. Kadang membuat gembira orang tercinta, kadang membuat senang musuh-musuhnya (karena dia ditimpa kesusahan, pent).

Karena itu, orang yang bahagia adalah mereka yang senantiasa berpijak pada satu prinsip dalam setiap keadaan, yaitu taqwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Ketika dia kaya, ketaqwaannya akan menghiasi dirinya.
Ketika dia miskin, ketaqwaannya akan menjadikan dirinya senantiasa sabar.
Ketika dia sehat, ketaqwaannya akan menyempurnakan nikmat sehat itu.
Ketika dia tertimpa cobaan hidup, ketaqwaannya akan membuat dirinya tetap tegar.

Ia tidak akan rugi bila hidup menurunkan derajatnya, meninggikannya, menelanjanginya, mengenyangkannya, atau membuatnya lapar. Karena memang itu semua selalu naik-turun dan terus berubah.

Demikianlah, taqwa adalah sumber keselamatan.

—-
Sumber: Shayyidul Khathir, Ibnul Jauzi.
Penerjemah: Anita Rahmawati
Pemuraja’ah: Ustadz Ammi Nur Baits

Sumber

Hukum Berdo’a Mengharapkan Kematian

Hukum Berdo’a Mengharapkan Kematian

Larangan mengharapkan kematian karena musibah yang menimpa

Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمُ المَوْتَ لِضُرٍّ نَزَلَ بِهِ، فَإِنْ كَانَ لاَ بُدَّ مُتَمَنِّيًا لِلْمَوْتِ فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتِ الحَيَاةُ خَيْرًا لِي، وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتِ الوَفَاةُ خَيْرًا لِي

“Janganlah salah seorang di antara kalian berangan-angan untuk mati karena musibah yang menimpanya. Kalau memang harus berangan-angan, hendaknya dia mengatakan, “Ya Allah, hidupkanlah aku jika kehidupan itu baik untukku. Dan matikanlah aku jika kematian itu baik bagiku.” (HR. Bukhari no. 6351, 5671 dan Muslim no. 2680)

Dalam hadits di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang berangan-angan agar mati. Dalam riwayat dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يَتَمَنَّى أَحَدُكُمُ الْمَوْتَ، وَلَا يَدْعُ بِهِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَهُ

“Janganlah seseorang mengharapkan kematian dan janganlah berdoa meminta mati sebelum datang waktunya.” (HR. Muslim no. 2682)

Dari dua hadits di atas dapat dipahami bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang berangan-angan mati dalam pikiran dan juga berdoa (dengan diucapkan) meminta kematian.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata,

لَوْلاَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَانَا أَنْ نَدْعُوَ بِالْمَوْتِ لَدَعَوْتُ بِهِ

“Jika bukan karena aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita untuk berdoa meminta kematian, niscaya aku akan memintanya.” (HR. Bukhari no. 7234)

 

Dua alasan mengapa dilarang berangan-angan meminta kematian

Dalam hadits di atas terkandung larangan bagi setiap muslim untuk berangan-angan atau meminta kematian karena musibah yang dia alami, baik berupa kemiskinan, kehilangan sesuatu yang berharga, penyakit tertentu yang parah, luka secara fisik, atau musibah-musibah lainnya. Larangan ini karena dua alasan:

Alasan pertama, perbuatan tersebut menunjukkan keluh kesah terhadap musibah yang menimpa, tidak ridha dengan takdir Allah Ta’ala dan menentang takdir yang telah Allah Ta’ala tetapkan.

Yang menjadi kewajiban bagi seorang muslim adalah bersabar dalam menghadapi musibah. Kewajiban sabar ini berdasarkan ijma’ ulama. Yang lebih utama dari sabar adalah bersikap ridha terhadap musibah atau takdir dari Allah Ta’ala tersebut. Ridha terhadap musibah hukumnya sunnah, tidak sampai derajat wajib, menurut pendapat yang paling kuat.

Alasan kedua, berdoa meminta kematian tidaklah mendatangkan maslahat, namun di dalamnya justru terdapat mafsadah (keburukan), yaitu meminta hilangnya nikmat kehidupan dan berbagai turunannya yang bermanfaat.

Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَا يَتَمَنَّى أَحَدُكُمُ الْمَوْتَ، وَلَا يَدْعُ بِهِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَهُ، إِنَّهُ إِذَا مَاتَ أَحَدُكُمُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ، وَإِنَّهُ لَا يَزِيدُ الْمُؤْمِنَ عُمْرُهُ إِلَّا خَيْرًا

“Janganlah seseorang mengharapkan kematian dan janganlah meminta mati sebelum datang waktunya. Karena orang mati itu amalnya akan terputus, sedangkan umur seorang mukmin tidaklah bertambah melainkan akan menambah kebaikan.” (HR. Muslim no. 2682)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

وَلاَ يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمُ المَوْتَ: إِمَّا مُحْسِنًا فَلَعَلَّهُ أَنْ يَزْدَادَ خَيْرًا، وَإِمَّا مُسِيئًا فَلَعَلَّهُ أَنْ يَسْتَعْتِبَ

“Janganlah salah seorang di antara kalian mengharapkan kematian. Jika dia orang baik, semoga saja bisa menambah amal kebaikannya. Dan jika dia orang yang buruk (akhlaknya), semoga bisa menjadikannya bertaubat.” (HR. Bukhari no. 5673)

 

Bagaimana jika musibah tersebut menimpa agama seseorang?

Dzahir hadits-hadits di atas menunjukkan bahwa “musibah” tersebut bersifat umum, baik musibah yang terkait dengan dunia atau yang terkait dengan agama. Akan tetapi, sejumlah ulama salaf memaknai larangan tersebut jika musibah tersebut berkaitan dengan dunia. Maksudnya, jika musibah tersebut berkaitan dengan agama seseorang, di mana seseorang mengkhawatirkan akan adanya fitnah atau kerusakan pada agamanya, maka hal ini tidak termasuk dalam larangan di atas.

Dalam riwayat An-Nasa’i, terdapat hadits di atas dengan lafadz,

لَا يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمُ الْمَوْتَ لِضُرٍّ نَزَلَ بِهِ فِي الدُّنْيَا

“Janganlah salah seorang di antara kalian berharap mati karena musibah duniawi yang menimpanya.” (HR. An-Nasa’i no. 1820, shahih)

Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menjelaskan,

على أن في في هذا الحديث سببية أي بسبب أمر من الدنيا

“Bahwa kata “fii” dalam hadits tersebut menunjukkan “sebab”. Maksudnya, dengan sebab suatu perkara (musibah) duniawi.” (Fathul Baari, 10: 128)

Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَمُرَّ الرَّجُلُ بِقَبْرِ الرَّجُلِ فَيَقُولُ: يَا لَيْتَنِي مَكَانَهُ

“Kiamat tidak akan terjadi sampai seseorang melewati makam orang lain dan mengatakan, “Duhai, seandainya aku menempati posisinya.” (HR. Bukhari no. 7115 dan Muslim no. 157)

Juga dalam hadits panjang yang diriwayatkan dari sahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, di dalamya diceritakan kalau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الخَيْرَاتِ، وَتَرْكَ المُنْكَرَاتِ، وَحُبَّ المَسَاكِينِ، وَأَنْ تَغْفِرَ لِي وَتَرْحَمَنِي، وَإِذَا أَرَدْتَ فِتْنَةً فِي قَوْمٍ فَتَوَفَّنِي غَيْرَ مَفْتُونٍ

“Ya Allah, sesungguhnya aku memintamu berbuat kebaikan, meninggalkan kemungkaran, mencintai orang-orang miskin, ampunilah aku dan rahmatilah aku, dan bila Engkau menghendaki fitnah pada hamba-hamba-Mu, wafatkanlah aku dalam keadaan tidak terkena fitnah.” (HR. Tirmidzi no. 3235, shahih)

 

Jika harus berangan-angan kematian

Dalam hadits pertama di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kalau memang harus berangan-angan, hendaknya dia mengatakan, “Ya Allah, hidupkanlah aku jika kehidupan itu baik untukku. Dan matikanlah aku jika kematian itu baik bagiku.”

Artinya, jika tidak boleh tidak dia ingin berangan-angan kematian karena keinginan kuat dari jiwa dan hawa nafsunya, sehingga mencegahnya untuk menjauhi larangan, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan solusi untuk berdoa dengan lafadz di atas.

Dari kalimat doa yang diajarkan dan diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut, terkandung makna pasrah dan tunduk terhadap ketentuan Allah Ta’ala, memasrahkan semua urusan kepada Allah Ta’ala yang Maha Mengetahui semua urusan dan hasil akhirnya. Yaitu, seseorang menggantungkan urusannya kepada ilmu Allah Ta’ala.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berdoa dengan lafadz tersebut dalam hadits yang diriwayatkan dari sahabat ‘Ammar bin Yasir radhiyallahu ‘anhu,

اللهُمَّ بِعِلْمِكَ الْغَيْبَ، وَقُدْرَتِكَ عَلَى الْخَلْقِ، أَحْيِنِي مَا عَلِمْتَ الْحَيَاةَ خَيْرًا لِي، وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتِ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي

“Ya Allah, dengan ilmu ghaib-Mu dan kekuasaanmu atas seluruh makhluk, hidupkanlah aku jika Engkau mengetahui bahwa kehidupan itu lebih baik untukku, dan wafatkanlah aku jika kematian itu lebih baik untukku … “ (HR. Ahmad 30: 265, shahih)

 

Demikian pembahasan ini, semoga bermanfaat.

***

@Sint-Jobskade 718 NL, 4 Muharram 1440/ 15 September 2018

Penulis: M. Saifudin Hakim

Sumber

Do’a agar Terhindar dari Hilangnya Nikmat dan Bencana yang Tiba-tiba

Do’a agar Terhindar dari Hilangnya Nikmat dan Bencana yang Tiba-tiba

Ketika banyak muncul bencana tiba-tiba seperti gempa, banjir, kebakaran dan musibah lainnya hendaknya kita memperbanyak membaca doa berikut.

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ, وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ, وَفَجْأَةِ نِقْمَتِكَ, وَجَمِيعِ سَخَطِكَ

Ya Allah, Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari lenyapnya nikmat-Mu, dari beralihnya keselamatan (yang merupakan anugerah)-Mu; dari datangnya siksa-Mu (bencana) secara mendadak, dan dari semua kemurkaan-Mu. (HR. Muslim)

Maksud dari kata-kata (فَجْأَةِ نِقْمَتِكَ) “siksa yang tiba-tiba” adalah bencana dan musibah yang tiba-tiba, hal ini lebih parah daripada bencana yang tidak datang tiba-tiba. Syaikh Abdul Mushin Az-Zamili menjelaskan,

ﻓﺠﺄﺓ ﺍﻟﻨﻘﻤﺔ ﺃﻭ ﻓﺠﺎﺀﺓ ﺍﻟﻨﻘﻤﺔ ﻣﻦ ﺑﻼﺀ ﺃﻭ ﻣﺼﻴﺒﺔ ﻳﺄﺗﻲ ﻋﻠﻰ ﻓﺠﺄﺓ ﺑﺨﻼﻑ ﻣﺎ ﺇﺫﺍ ﺳﺒﻘﻪ ﺷﻲﺀ ﺑﺄﻥ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻓﺠﺄﺓ ﻓﺈﻧﻪ ﻳﻜﻮﻥ ﺃﺧﻒ

“Siksa yang tiba-tiba yaitu berupa bencana atau musibah yang datang secara mendadak.Tentunya berbeda dengan musibah yang didahului oleh sesuatu (sebagai awalnya semisal penyakit) dan tidak mendadak, hal ini lebih ringan perkaranya.”. (Syarh Bulughul Maram)

Bencana seperti gempa, banjir dan musibah akan menghilangkan nikmat dan bisa jadi merupakan murka dari Alllah karena banyaknya kesyirikan dan maksiat. Untuk menghindari terjadi musibah dan bencana pada kita hendaknya kita benar-benar memhami bahwa sebab turunnya musibah dan bencana akibat keyirikan dan kemaksiatan yang dilakukan oleh manusia. Hendaknya kita melakukan muhasabah dan segera kembali kepada Allah serta menghentikan keyirikan dan kemaksiatan yang merajalela agar terhindar dari hilangnya nikmat, datangnya bencana dan terhindar dari murka Allah.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalahdisebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Asy Syura: 30).

Bisa jadi Allah kirimkan bencana dan musibah kepada manusia agar manusia takut kepada Allah dan agar kaum muslimin kembali kepada Allah dan menghentian kesyirikan dan maksiat.

Allah berfirman,

وَمَا نُرْسِلُ بِالْآيَاتِ إِلَّا تَخْوِيفًا

“Tidaklah Kami mengirim tanda-tanda kekuasaan Kami kecuali untuk menakut-nakuti“. (Al-Isra’ : 59)

 

Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa maksud menakuti-nakuti di sini adalah agar manusia takut kepada Allah. Beliau berkata,

أذن الله سبحانه لها في الأحيان بالتنفس فتحدث فيها الزلازل العظام فيحدث من ذلك لعباده الخوف والخشية والإنابة والإقلاع عن معاصيه والتضرع إليه والندم

“Terkadang Allah subhanahu mengizinkan bumi untuk bernafas maka terjadilah gempa bumi yang dahsyat, maka muncul rasa takut dan khawatir pada hati hamba-hamba Allah dan agar mau kembali kepada-Nya, meninggalkan kemaksiatan dan merendahkan diri dihadapan-Nya serta menyesal (atas dosa dan maksiat).” (Miftah Daris Sa’adah 1/229)

Demikian semoga bermanfaat

 

Penyusun: raehanul Bahraen

Sumber

Cara Memperbaiki Umat Sesuai Manhaj Salaf

Cara Memperbaiki Umat Sesuai Manhaj Salaf

Dakwah salaf adalah dakwah pembaharuan, memperbaharui kembali ajaran yang telah dikotori oleh pengajaran syirik, bid’ah dan khurafat. Kata pepatah minang, “membangkit batang teredam”, batang yang selama ini telah tumbang dimakan oleh kumbang zaman dan telah lapuk ditelan usia, sekarang diangkat kembali, diperbagus kembali.

Bukan pembaharuan seperti orang yang memakai pakaian, ketika telah terasa sempit, ia buang lalu ia ganti dengan pakaian lain. Tidak begitu, kalau ada pakaian yang tidak pernah usang dimakan zaman dan sesuai dengan semua orang maka ia adalah pakaian Islam. Dia hanya membutuhkan orang-orang yang membersihkan dan mencuciya dari kotoran dan daki yang melekat.

Bagaimana Salaf memulai ishlah (perbaikan)? Dengan apa mereka mempersenjatakan diri? Sarana apa yang mereka pergunakan?

Dalam menjawab pertanyaan tersebut, Salaf mempunyai dua metode, yakni metode yang telah dipraktekkan oleh pendahulu mereka dan telah dilalui oleh para Nabi dan Rasul, yaitu:

Metode At-Tashfiyah

At-Tashfiyah dari kata ‘shaffa’ secara bahasa bermakna menyaring dan memurnikan, seperti orang yang hendak menyaring minyak dari sisa ampasnya. Dan secara istilah yaitu menyaring kembali Islam dari pemikiran dan ajaran, dan yang bukan berasal darinya.

Jarak masa antara zaman kita dengan zaman kenabian lebih dari 14 abad dan jarak antara negeri kita dengan negeri kenabian sangat jauh dipisahkan oleh samudera dan ribuan mil perjalanan. Dapat kita bayangkan bahwa keadaan masyarakat sudah begitu jahiliah. Sebagai perbandingan adalah masa setara kenabian Isa ‘alaihis sallam dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahala hanya dipisahkan dengan 7 abad dari pengajaran Isa ‘alaihis sallam, sedangkan antara negerinya dengan negeri Arab masih berdekatan. Berati penyelewengan pada masa sekarang ini sungguh dahsyat, wajah kebenaran sulit dikenali dengan banyaknya wajah-wajah kebathilan, sehingga keindahannya tertupi oleh rupa-rupa buruk kebathilan.

Diantara aspek-aspek pemurnian yang dilakukan oleh Salaf adalah:

  • Aqidah Islam, yaitu dengan membersihkan aqidah Islam dari pemahaman dan pemikiran kelompok yang sesat, seperti Mu’tazilah, Khawrij, Jahmiyyah dan yang lainnya. Memurnikan Islam dari pengajaran yang dating dari luar Islam, seperti filsafat, adat dan kebudayaan umat lain. Seperti, pernyataan Allah ada di mana-mana dalam permasalahn shifat, atau mengkafirkan pelaku dosa besar dan sebagainya.
  • As-Sunnah, yaitu membersihkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari hadits-hadits palsu, dha’if dan munkar. Seperti perkataan, “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina,” atau “Perbedaan pendapat itu rahmat,” dan yang lainnya.
  • Tafsir, yaitu membersihkan semua penafsiran terhadap Al-Qur’an yang tidak berdasarkan tafsir yang benar atau ta’wil yang salah dan juga membersihkan tafsir dari riwayat yang tidak shahih. Seperti kisah Tsa’labah bin Hatib radhiyallahu ‘anhu yang kufur nikmat, atau cerita khurafat tentang jenis kayu tongkat Musa ‘alaihis sallam atau warna anjing As-habul Kahfi dan sebagainya.
  • Fikih, yaitu membersihkan semua pelajaran fiqih dari pengambilan dalil yang tidak shahih atau kekeliruan dalam berijtihad dan menjauhkan umat dari fanatik madzhab.
  • Bahasa Arab, yaitu membersihkan berbagai istilah yang tidak ada asalnya dalam bahasa Arab yang telah disisipkan oleh pelaku kesesatan.
  • Sirah an-Nabawiyyah dan sejarah Islam, yaitu membersihkan keindahan sejarah Islam dari tangan-tangan kebencian dan kedengkian. Seperti pertikaian para sahabat pada perang Jamal dan Shiffin.

Metode At-Tarbiyyah (Pembinaan)

Setelah Islam jelas bagi kita, telah nampak yang haq dan yang bathil, maka kita marilah melakukan pembicaraan di atas Islam yang telah bersih tadi. Seperti orang yang hendak mendirikan bangunan, setelah tampak baginya tempat tegaknya, telah nyata keras tanahnya, maka di atas itulah dibangun pondasi, sehingga ia kokoh tidak goyah, ia kuat tidak mudah runtuh.

Secara bahasa tarbiyah diambil dari kata rabba bermakna membentuk sesuatu secara bertahap sampai pada tingkat kesempurnaan. Dan secara istilah adalah upaya yang dilakukan dengan berbagai cara dan metode yang tidak bertentangan dengan syari’at dan membentuk manusia serta memeliharanya, sehingga ia menjadi tuan di permukaan bumi ini, sebagian tuan yang terikat dengan penghambaan diri yang sempurna kepada Allah Ta’ala.

Syaikh Ali Hasan rahimahullahu berkata, “Ini semua nyata bagi kita akan hakikat tarbiyah dan pengaruhnya, dan ia berpijak pada 3 landasan, yaitu:

  • Pembinaan harus difokuskan dalam membangkitkan aqidah tauhid dan membersihkan kehidupan umat dari bid’ah dan penyelewengan sebagai muqaddimah untuk mempersiapkan diri dalam mengemban Islam untuk kedua kalinya.
  • Standar pembinaan yang benar adalah berdirinya tarbiyah berdasarkan Al-Kitab dan As-Sunnah dengan menyelaraskan penerapan Salaf, dan mengembalikan penyampaian ilmu Al-Qur’an dan As-Sunnah secara langsung, dengan mengacu kepada pemahaman Salafush Shalih dengan bantuan para ulama rabbani yang telah kenyang dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah
  • Pembinaan tidak akan mungkin dipisahkan dengan masyarakat. Ia mempunyai kaitan erat dengan kehidupan keseharian dan ia dapat beradaptasi dari penaruh pemahaman, akhlaq, adat,  kebudayaan  sosial dan politik.

Siapa yang mengerti tentang landasan ini, berarti ia telah mengerti dengan sebenarnya tentang hakikat tarbiyah, dan ia yakin bahwa yang dimaksud tarbiyah adalah pembinaan generasi muda di atas Islam yang telah dibersihkan dari semua yang telah kita sebutkan, dengan pembinaan yang benar semenjak ia kecil tanpa dipengaruhi oleh pendidikan Barat yang rusak”.

***

Diketik ulang dari buku “Untukmu Yang Berjiwa Hanif“, karya Ust. Armen Halim Naro rahimahullah, penerbit: Darul Ilmi Publishing

Sumber

Hakikat Kemuliaan di Sisi Allah

Hakikat Kemuliaan di Sisi Allah

Tidak perlu bangga karena kita keturunan bangsawan, berdarah biru, keturunan orang sholih, mempunyai jabatan tinggi. Karena semua ini tidak otomatis membuat seorang mulia di sisi Allah, tanpa takwa dan amal sholih.

Ingat… Ketika Iblis mendapat perintah untuk sujud kepada Adam. Dia menolak serambi beralasan: aku lebih mulia dari Adam. Katanya Adam tercipta dari tanah, sementara dia tercipta dari api. Buat apa saya sujud kepadanya, sementara saya tercipta dari zat yang lebih mulia.

أَأَسْجُدُ لِمَنْ خَلَقْتَ طِينًا

“Iblis berkata, “Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?” (QS. Al-Isra: 61)

قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ ۖ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

Iblis berkata: “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. Shod: 76)

Akan tetapi.. apakah alasan Iblis ini kemudian mengangkat kedudukannya di sisi Allah? Sebagaimana apa yang dia sangkakan?! Ia tercipta dari api; bahan yang lebih mulia dari tanah?! Apakah alasan ini kemudian membuatnya lebih mulia di sisi Allah?! hanya karena beralasan, saya berasal dari api; zat yang lebih mulia?!

Ternyata tidak…

Justru karena alasan itu membuatnya menjadi makhluk yang paling hina. Meski ia tercipta dari zat yang lebih mulia dari penciptaan Adam. Karena tidak adanya kepatuhan kepada Allah ‘azza wa jalla Sang Penciptanya. Maka tidak berguna di hadapan Allah, bila tidak ada takwa.

Kita lihat Malaikat…

Karena sebab apa mereka menjadi makhluk yang mulia? Karena kepatuhan mereka kepada Allah dan amalan mereka yang senantiasa sejalan dengan ridho Allah; mereka tidak pernah melanggar larangan Allah. Disebabkan inilah mereka menjadi makhluk yang mulia di sisi-Nya.

Allah berfirman tentang Malaikat,

لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Para malaikat itu tidak pernah mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)

***

27 Rabi’us Tsani 1436 H

Penulis: Ustadz Ahmad Anshori

Sumber