Lima Kiat untuk Ikhlas

Lima Kiat untuk Ikhlas

Ada beberapa hal yang membantu seorang untuk bisa ikhlas dalam beramal, yaitu :

Pertama, ketahuilah makna ikhlas terlebih dahulu.

Bagaimana mungkin engkau ingin mencapai sesuatu yang engkau sendiri tidak ketahui. Berapa banyak obrolan kita tentang ikhlas, doa kita yang berisi tentang ikhlas, tapi kita sendiri tidak tahu apa makna ikhlas yang sesungguhnya? Ketahuilah bahwa ikhlas adalah beramal karena Allah semata. Maka dengan demikian tanda seorang ikhlas dalam beramal adalah amalan lahiriah dan batiniah seorang selalu sama, dilihat atau tidak dilihat manusia. Sebaliknya seorang yang memiliki riya’ maka indikasinya adalah amalan yang ia tampakkan di hadapan manusia selalu lebih baik dari yang tidak nampak. Banyak di antara para salaf yang khawatir dirinya tertimpa penyakit kemunafikan yaitu memperbaiki amalan lahir dan tidak memperbaiki amalan batin.

Ibnu Abi Mulaikah rahimahullahu mengatakan :

أدركت ثلاثين من صحابة رسول الله صلى الله عليه وسلم كلهم يخاف على نفسه من النفاق

Aku menjumpai tak kurang dari 30 orang sahabat Rasulullah dan kesemuanya khawatir dirinya terjangkiti penyakit kemunafikan.

Beliau tidak berbicara bahwa mereka semua ikhlas dan bukan pula kita berlebihan dalam menjustifikasi hati kita apakah ikhlas atau riya’. Karena berlebihan dalam hal ini hanya memberikan celah kepada syaithan untuk merubuhkan hati manusia.

Imam an Nawawy rahimahullahu mengatakan :

Jika tersingkap kepada kita semua tentang apa-apa yang manusia lihat tentang kita dan disingkap pula prsangkaan-prasangkaan mereka kepada kita. Niscaya akan semakin tertutup banyak sekali pintu kebaikan, jiwa yang focus ke hal-hal yang tidak seharusnya, dan ini bukan jalan orang-orang yang penuh kebijaksanaan.

Dan ini benar adanya, banyak yang tidak jadi beramal kebaikan dengan alas an khawatir tertimpa riya’. Ketahuilah bahwa ini adalah celah masuk syaithan. Riya’ atau pamer disembuhkan bukan dengan meninggalkan amalan, melainkan dengan terus memperbaiki amal diiringi dengan memperbanyak amalan kebaikan. Namun yang perlu diperhatikan lebih adalah riya’ di pokok amal atau sejak awal amal sudah ditujukan kepada selain Allah, atau amalan yang tidak bisa dipisahkan awal dan akhirnya, maka ini perlu penanganan khusus berdasar keterangan para ulama’.

Kedua, memahami keagungan dan kekuasaan Allah azza wajalla. Allah befirman :

وَلَوْلا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَداً وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Kalaulah bukan karena keutamaan Allah dan rahmat-Nya atas kalian semua, niscaya tidak ada seorang pun dari kalian yang bersih dari perbuatan keji. Akan tetapi Allah membersihkan siapa saja yang dikehendaki. Dan Allah maha mendengar lagi maha mengetahui.” (QS ; An Nur : 21)

Maka apakah terpikir untuk mencari pandangan makhluk sementara ia tahu akan keagungan dan kekuasaan Allah terhadapnya? Sekali-kali tidak akan pernah. Maka kenalilah Allah dengan sebaik-baiknya, sehingga engkau bisa dengan baik berfikir tentang keagungan kekuasaan-Nya. Hanya Dial ah yang berhak untuk disembah.

Ketiga, memahami kondisi nafsu yang lebih banyak mencintai hal-hal yang melalaikan seperti malas-malas, syahwat, popularitas. Semoga Allah merahmati orang-orang yang tidak peduli pandangan manusia terhadapnya. Ketahuilah wahai anak cucu adam, engkau lahir di dunia ini sendiri, ditinggalkan dalam kubur pun sendiri, dibandkitkan bersendirian, dihisab pun demikian, maka jangan sekali-kali tertipu dengan pandangan manusia atas kalian. Kalian yang paling paham tentang kondisi kalian sendiri. Teruslah perangi nafsu-nafsu yang mengajak kepada keburukan, dan berusahalah untuk mengurangi ajakan-ajakan keburukan darinya.

Ketahuilah bahwa engkau lebih paham tentang kondisi hatimu sendiri. Pujian manusia tidak akan melenakanmu. Bertakwalah kepada Allah atas hal-hal yang tidak nampak di hadapan manusia. Senantiasalah untuk curiga dengan diri sendiri. Karena awal kerusakan seorang hamba bermula dari dia menyangka jiwanya telah baik. Dikatakan bahwa, barangsiapa yang menyangka dalam keikhlasannya ikhlas, maka dalam ikhlasnya butuh untuk diikhlaskan lagi. Sahl pun ditanya tentang amalan yang paling berat bagi jiwa, beliau pun menjawab

Berbuat ikhlas. Karena tidak ada kadar yang jelas.

Yusuf bin al Husain mengatakan :

أعز شيء في الدنيا الإخلاص، وكم أجتهد في إسقاط الرياء عن قلبي فكأنه يمقت على لون آخر.إذاً فالقضية تحتاج إلى مجاهدة، لا تتصور أنك تصل إلى الإخلاص وتثبت على هذا الأمر، إنما يحتاج القلب إلى معالجة، تحتاج النفس إلى مجاهدة مستمرة، فتنبه لنفسك وقلبك

Hal yang paling mulia di dunia ini adalah ikhlas. Betapa aku sudah berupaya menghilangkan rasa pamer dalam hatiku, toh akhirnya riya ini kembali dalam wujud yang lain. Maka untuk ikhlas butuh terus berperang melawan nafsu. Tidak ada gambaran yang jelas bahwa saat ini engkau berada dalam keikhlasan. Bahkan hati ini perlu untuk terus berbenah. Jiwa ini butuh untuk terus memerangi hal-hal buruk yang hinggap. Perhatikanlah hati dan jiwamu, wahai Hamba Allah.

Sufyan ats Tsauri rahimahullahu mengatakan :

Tidaklah aku menyembuhkan sesuatu yang lebih berat dari niatku sendiri. Ia seringkali berubah.

Sekali lagi, teruslah berupaya ikhlas bahkan dalam memerangi hawa nafsu dari keburukan, niscaya akan kalian temukan kelapangan dada. Karena Allah ta’ala berfirman :

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

dan orang-orang yang berjihad di jalan Kami niscaya akan kami berikan petunjuk yang lurus. Karena sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS ; Al Ankanbut : 69)

Keempat, ingatlah bahwa kita ini adalah hanya seorang hamba. Maka seorang hamba tidak berhak meminta ganti lain atas pelayanan kita terhadap tuan kita kecuali yang sudah ditetapkan tuannya. Selayaknya seorang hamba, maka harusnya melayani tuannya. Ketahuilah bahwa tuannya sudah berbuat baik kepadanya, memberikan nikmat yang tidak berharap ganti, dan setiap kebaikan dalam diri hamba tersebut adalah keutamaan yang Allah berikan, pemberian Allah, nikmat Allah, maka dengan ini semua apakah seorang masih saja menganggap amalannya layak mendapat balasan lain? Sekali-kali tidak akan.

Kelima, ketahuilah bahwa kita ini makhluk Allah yang lemah. Maka perbanyaklah memohon ampunan kepada Allah jalla wa’ala. Teruslah memohon untuk dikaruniai keikhlasan baik sebelum beramal, di tengah-tengah amal, atau setelahnya. Mohonlah perlindungan kepada Allah dari perbuatan riya’. Sebagaimana disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallama :

الشرك فيكم أخفى من دبيب النمل، وسأدلك على شيء إذا فعلته أذهب عنك صغار الشرك وكباره، تقول: اللهم إني أعوذ بك أن أشرك بك وأنا أعلم وأستغفرك لما لا أعلم

Berbuat syirik adalah lebih samar dari jejak langkah semut. Aku akan memberi tahu kalian tentang amalan yang dengannya akan hilang syirik besar dan kecil dari kalian. Yaitu doa :

اللهم إني أعوذ بك أن أشرك بك وأنا أعلم وأستغفرك لما لا أعلم

Allahumma inii audzubika an Usyrika bika wa ana a’lamu wa astaghfiruka limaa laa a’lamu

Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dengan sesuatu, dari yang aku tahu. Dan aku memohon ampunan kepada-Mu atas yang tidak kuketahui.”

Sumber: http://syafiqrizabasalamah.com

.

Hadits Ketetapan Surga dan Neraka

Hadits Ketetapan Surga dan Neraka

Ketetapan Surga dan Neraka untuk Hamba

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عن أبي عبدالرحمن عبدالله بن مسعود رضي الله عنه قال حدثنا رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو الصادق المصدوق ” إن أحدكم يجمع خلقه في بطن أمه أربعين يوما نطفة ثم علقه مثل ذلك ثم يكون مضغة مثل ذلك , ثم يرسل إليه الملك فينفخ فيه الروح , ويؤمر بأربع كلمات : بكتب رزقه , وأجله , وعمله , وشقي أم سعيد . فوالله الذي لا إله غيره إن أحدكم ليعمل بعمل أهل الجنة حتى ما يكون بينه وبينها إلا ذراع فيسبق عليه الكتاب فيعمل بعمل أهل النار , وإن أحدكم ليعمل بعمل أهل النار حتى ما يكون بينه وبينها إلا ذراع فيسبق عليه الكتاب فيعمل بعمل أهل الجنة

Dari Abu ‘Abdirrahman Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, bahwa Rasulullah telah bersabda, – dan beliau adalah orang yang jujur dan dibenarkan – “Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa nutfah, kemudian menjadi ‘alaqoh (segumpal darah) selama itu juga lalu menjadi mudhghoh (segumpal daging) selama itu juga, kemudian diutuslah malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya lalu diperintahkan untuk menuliskan 4 hal: rezeki, ajal, amal dan celaka/bahagianya. Maka demi Allah yang tiada Ilah selain-Nya, ada seseorang diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli surga sehingga tidak ada jarak antara dirinya dan surga kecuali sehasta saja, kemudian ia didahului oleh ketetapan Allah lalu ia melakukan perbuatan ahli neraka dan ia masuk neraka. Ada diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli neraka sehingga tidak ada lagi jarak antara dirinya dan neraka kecuali sehasta saja. kemudian ia didahului oleh ketetapan Allah lalu ia melakukan perbuatan ahli surga dan ia masuk surga.” (Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Bad’ul Khalq)

:: Penjelasan Hadits ::

Maksud hadits “Maka demi Allah yang tiada Ilah selain-Nya, ada seseorang diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli surga sehingga tidak ada jarak antara dirinya dan surga kecuali sehasta saja,” adalah seseorang yang menurut pandangan mata manusia mengerjakan amalan surga dan ketika sudah mendekati ajalnya mengerjakan amalan penduduk neraka, kemudian ia dimasukkan ke dalam neraka. Jadi yang dimaksud ‘jaraknya dengan surga atau neraka tinggal sehasta‘ bukan tingkatan dan kedekatannya dengan surga, namun waktu antara hidupnya dengan ajalnya tinggal sebentar, seperti sehasta.

Yang patut kita pahami dari hadits ini, bukan berarti ketika kita sudah berusaha melakukan kebaikan dan amalan ibadah maka Allah akan menyia-nyiakan amalan kita. Karena hadits di atas diperjelas dengan hadits lainnya, yaitu,

Sesungguhnya ada di antara kalian yang beramal dengan amalan ahli Surga menurut pandangan manusia, padahal sebenarnya ia penduduk Neraka.” (HR. Muslim no. 112 dengan sedikit perbedaan lafazh dari yang tercantum)

Syaikh ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan maksud hadits ini, “Amalan ahli surga yang dia amalkan hanya sebatas dalam pandangan manusia, padahal amalan ahli surga yang sebenarnya menurut Allah, belumlah ia amalkan. Jadi yang dimaksud dengan ‘tidak ada jarak antara dirinya dengan surga melainkan hanya sehasta’ adalah begitu dekatnya ia dengan akhir ajalnya.”

Sedangkan maksud hadits, “Kemudian ia didahului oleh ketetapan Allah lalu ia melakukan perbuatan ahli neraka dan ia masuk neraka,” artinya, kemudian orang tersebut meninggalkan – kebiasaan – amalan ahli surga yang sebelumnya dia amalkan. Hal itu disebabkan adanya sesuatu yang merasuk ke dalam hatinya – semoga Allah melindungi kita dari hal ini – yang menjerumuskan orang tersebut ke dalam neraka.

Hal ini perlu diperjelas agar tidak ada prasangka buruk terhadap Allah ta’ala. Karena seorang hamba yang melaksanakan amalan ahli surga dan ia melakukannya dengan jujur dan penuh keikhlasan, maka Allah tidak akan menelantarkannya. Allah pasti memuliakan orang-orang yang beribadah kepada-Nya. Namun bencana dalam hati bukan merupakan suatu perkara yang mustahil – semoga Allah melindungi kita dari hal ini -.

Contoh kisah untuk memperjelas hadits ini yang terjadi di zaman nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebagai berikut:

Ada seorang sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang bersama beliau dalam suatu peperangan. Sahabat ini tidak pernah membiarkan kesempatan untuk membunuh lawan melainkan ia pasti melakukannya, sehingga orang-orang merasa takjub melihat keberaniannya dan mereka berkata, “Dialah yang beruntung dalam peperangan ini.” Lalu Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dia termasuk ahli Neraka.”

Pernyataan Rasulullah ini menjadi perkara besar bagi para sahabat radhiallahu ‘anhum dan membuat mereka bertanya-tanya keheranan. Maka seseorang diantara mereka berkata, “Aku akan mengikutinya kemanapun dia pergi.”

Kemudian orang yang pemberani ini terkena panah musuh hingga ia berkeluh kesah. Dalam keadaan itu ia mencabut pedangnya, kemudian ujung pedangnya ia letakkan pada dadanya, sedangkan genggaman pedangnya ia letakkan di tanah, lalu ia menyungkurkan dirinya (ke arah depan), hingga pedang tersebut menembus punggungnya (alias ia bunuh diri). Na’udzu billah.

Orang yang mengikutinya tadi datang menghadap Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan mengabarkan apa yang terjadi seraya berkata, “Aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah.”

Kenapa engkau katakan itu?” sabda Rasulullah.

Ia berkata, “Sesungguhnya orang yang engkau katakan tentangnya dia termasuk ahli neraka, telah melakukan suatu tindakan (bunuh diri, ed.).” Maka setelah itu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Sesungguhnya orang itu telah beramal dengan amalan ahli surga pada pandangan manusia, padahal sebenarnya ia penduduk neraka.” (HR. Bukhari (no.2898) dan Muslim (no.112))

Kisah lain adalah seorang sahabat yang bernama al-Ushairim dari kabilah ‘Abdul Asyhal dari kalangan Anshar. Dahulu ia dikenal sebagai penghalang sekaligus musuh dakwah Islam. Tatkala para sahabat pergi ke perang Uhud, Allah memberikan ilham kepadanya berupa iman, lalu ia ikut berjihad dan berakhir dengan mati syahid. Setelah perang selesai, orang-orang mencari para korban dan mendapatkan Ushairin dalam keadaan terluka.

Para sahabat bertanya, “Wahai Ushairin, apa yang menndorongmu berbuat seperti ini, apakah untuk membela kaummu ataukah kecintaanmu terhadap Islam?”

Ia menjawab, “Bahkan karena kecintaanku terhadap Islam.”

Sebelum wafatnya, ia meminta untuk disampaikan salamnya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Maka, meskipun dulunya Ushairin ini buruk dan suka mendzalimi kaum muslimin, namun karena hatinya yang baik, Allah jadikan dia orang yang mati di medan jihad.

Semoga Allah menjadikan kita hamba yang ikhlas dan beramal dan menjadikan akhir kehidupan yang baik untuk kita. Aamiin.

 

Sumber: https://muslimah.or.id/

.
Menghindari Dampak Buruk Dosa

Menghindari Dampak Buruk Dosa

Dampak Buruk Maksiat di Dunia

Banyak orang belum mengetahui bahwa dosa dan maksiat itu memiliki dampak buruk yang sangat serius bagi pelakunya. Di dunia maupun di akhirat. Bahkan seluruh keburukan itu pemicunya adalah dosa.

Efek buruk maksiat di dunia antara lain: menyebabkan rezeki seret. Memunculkan kegelisahan. Menimbulkan ketidakharmonisan hubungan. Segala urusan menjadi ruwet. Melemahkan tubuh dan hati. Mengakibatkan malas beribadah. Menghilangkan keberkahan umur. Dan masih banyak lagi dampak buruk lain dari maksiat.

Itu baru efek negatifnya di dunia.

Dampak Buruk Maksiat di Akhirat

Adapun di akhirat, maka sungguh dampak buruk maksiat jauh lebih mengerikan. Para pelakunya terancam siksa neraka Jahannam.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menuturkan,

“وَسُئِلَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ، فَقَالَ: «الفَمُ وَالفَرْجُ»”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang hal yang paling banyak memasukkan orang ke neraka. Beliau menjawab, “(Dosa) mulut dan kemaluan”. HR. Tirmidziy dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban.

Menghindari Dampak Buruk Dosa

Manusia dengan kelemahan imannya, berpeluang besar untuk terjerumus pada dosa dan maksiat. Bahkan teramat sering terperosok ke dalam kubangannya. Lantas bisakah manusia yang sudah terlanjur berbuat dosa, terhindar dari dampak buruknya?

Jawabannya: bisa! 

Caranya adalah dengan memperbanyak taubat dan istighfar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan,

“كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ”

“Setiap anak keturunan Adam banyak dosa. Sebaik-baik orang yang banyak dosa adalah yang sering bertaubat”. HR. Tirmidziy dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Al-Hakim menyatakan isnad hadits ini sahih.

Mendalami Makna Istighfar

Istighfar berarti memohon maghfirah (ampunan). Makna maghfirah adalah: terhindar dari dampak buruk dosa dan ditutupi. Jadi orang yang beristighfar itu, sejatinya sedang memohon kepada Allah agar dihindarkan dari dampak buruk dosa-dosanya. Baik di dunia maupun di akhirat. Serta memohon kepada Allah ta’ala agar aib-aibnya tersebut ditutupi.

Jika kita merasa sering berbuat dosa, maka seharusnya kita lebih sering lagi untuk beristighfar. Dengan harapan bisa terhindar dari dampak buruk dosa-dosa itu.

Abu Musa al-Asy’ariy radhiyallahu ‘anhu menceritakan,

“جَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ جُلُوسٌ فَقَالَ: «مَا أَصْبَحْتُ غَدَاةً قَطُّ، إِلَّا اسْتَغْفَرْتُ اللَّهَ فِيهَا مِائَةَ مَرَّةٍ»”

Suatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang saat kami sedang duduk-duduk. Beliau bersabda, “Setiap pagi aku pasti selalu beristighfar seratus kali”. HR. Ibn Abi Syaibah dalam al-Mushannaf dan dinilai sahih oleh al-Albaniy.

Inilah kebiasaan harian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Padahal beliau telah diampuni dosa-dosanya oleh Allah dan sudah dijamin masuk surga. Bagaimana dengan kita?

 

Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc. MA.

Sumber: https://muslim.or.id/

.
Lima Kiat untuk Ikhlas

Lafadz-Lafadz yang Ringan di Lidah

Banyak kata…keluar dari lisan kita. Tapi entah berapa yang mengeluarkan sepatah dua patah yang menambah bekal pahala di akhirat nanti. Ya saudariku…hanya sepatah dua patah kata…yang terasa ringan untuk diucapkan, mudah untuk dihafalkan, dan dapat menambah keimanan kita. Bukankah iman bertambah dan berkurang? Semoga kita tidak lupa untuk mengamalkan sunnah ini dan bersemangat untuk menghafalkan dan mengamalkan do’a dan dzikir lainnya (yang membutuhkan waktu untuk menghafalkan dan mengamalkannya) yang shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Bismillah

Untuk lafadz yang satu ini, mungkin kita sendiri lupa entah kapan mulai mempelajarinya. Ternyata banyak saat-saat yang kita disunnahkan untuk mengluarkan lafadz ini. Yang pertama adalah saat hendak mulai makan. Hei…mungkin langsung ada yang bertanya-tanya, bukankah saat hendak makan doa yang dibaca “Allahumma bariklana…?”

Jawabnya, “Bukan saudariku.” Bahkan do’a tersebut tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena hanya disebutkan dalam hadits yang lemah riwayat dari Ibnu Sunni. Cukup dengan ‘bismillah’. Maka setan tidak akan dapat ikut makan bersama kita.

Dari Jabir radhiallahu ‘anhu, dia berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‘Apabila seseorang masuk rumahnya dia menyebut Allah Ta’ala pada waktu masuknya dan pada waktu makannya, maka setan berkata kepada teman-temannya, ‘Kalian tidak punya tempat bermalam dan tidak punya makan malam.’ Apabila ia masuk tidak menyebut nama Allah pada waktu masuknya itu, maka setan berkata, ‘Kalian mendapatkan tempat menginap’, dan apabila ia tidak menyebut nama Allah pada waktu makan, maka setan berkata, ‘Kalian mendapatkan tempat bermalam dan makan malam.’” (HR. Muslim)

Adapun jika kita terlupa membaca ‘bismillah’ di awal waktu kita makan, maka kita cukup membasa ‘bismillah awwalahu wa aakhirohu’ di saat kita ingat.

Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, ‘Apabila salah seorang kamu makan, maka sebutlah nama Allah Ta’ala (bismillah -pen). Jika ia lupa menyebut nama Allah di awal makannya, maka hendaklah ia mengucapkan,

بِسْمِ اللهِ أوَّلَهُ وَ اخِرَهُ

(Dengan menyebut nama Allah pada awalnya dan pada akhirnya)’.”
(HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dia berkata, “Hadits hasan shahih”)

Kita juga disunnahkan membaca bismillah ketika kendaraan yang kita kendarai mogok. (HR. Abu Daud, dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Daud III/941)

Subhanallah
Alhamdulillah, dzikir yang satu ini pun sudah kita hafal sejak lama. Dzikir ini dapat kita amalkan setelah sholat sebanyak 33 kali (HR. Bukhari dan Muslim) atau kita dzikirkan pula sebelum tidur sebanyak 33 kali (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam satu riwayat lain, dibaca sebanyak 34 kali sebelum tidur. Lafadz ini juga disunnahkan untuk diucapkan ketika kita dalam perjalanan dengan kondisi jalan yang menurun (HR. Bukhari dalam al-Fath VI/135). Dapat pula kita ucapkan ketika kita sedang takjub dengan kebesaran ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala (HR. Bukhari)

Adapula lafadz tasbih lainnya yang telah diajarkan Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagai berikut:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dua kalimat yang ringan di lidah, berat dalam timbangan, dicintai Allah Yang Maha Pengasih, (yaitu),

سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

ّ
“Maha suci Allah dan segala puji bagi-Nya, maha suci Allah Yang Maha Agung.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pada hadits lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya ucapan yang paling dicintai Allah adalah

سُبْحَانَ اللهِ وَ بِحَمْدِ هِ

(HR. Muslim)

Alhamdulillah
Lafadz ini adalah ungkapan rasa syukur seorang hamba kepada Rabbnya dengan memberikan pujian kepada-Nya. Lafadz ini juga disunnahkan dibaca setelah sholat sebanyak 33 kali dan juga sebelum tidur 33 kali.

Setelah bersin, kita juga disunnahkan mengucapkan alhamdulillah atau alhamdulillah ‘ala kulli haal (HR. Bukhari). Nah, bagi yang mendengar lafadz alhamdulillah dari orang yang bersin, maka berikanlah do’a kepadanya, yaitu

يَر حَمُكَ اللّه

yarhamukallah
“Semoga Allah merahmatimu.”

Kalau sudah mendapat do’a ini, maka orang yang bersin tadi membaca

يَهْدِ يكُمُ اللّهُ و يُصلح بَالَ كُمْ


yahdikumullah wa yuslih baalakum’
“Semoga Allah memberi petunjuk dan memperbaiki keadaanmu.”

Keutamaan dzikir alhamdulillah dan dzikir subhanallah juga terdapat dalam hadits berikut,

“Dari Abu Malik al-Asy’ary dia berkata, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Bersuci adalah setengah iman, الحَمْدُ لِلَّهِ memenuhi timbangan, dan سُبْجَانَ اللّهِ وَ الْحَمْدُ لِلَّهِ (Maha suci Allah dan segala puji bagi-Nya) memenuhi antara tujuh langit dan bumi.”‘” (HR. Muslim)

Allahu Akbar
Sama seperti dua lafadz sebelumnya, lafadz ini juga disunnahkan dibaca setelah sholat dan sebelum tidur. Setelah shalat sebanyak 33 kali dan sebelum tidur sebanyak 33 kali (dalam riwayat lain 34 kali).

Lafadz Allahu Akbar juga sunnah diucapkan ketika melihat sesuatu yang menakjubkan dari ciptaan Allah (HR. Bukhari dalam al-Fath). Dan tahukah saudariku, ternyata lafadz ini juga termasuk dzikir yang sunnah diucapkan ketika dalam perjalanan dengan kondisi jalan yang menanjak. (HR. Bukhari dalam al-Fath VI/135)

Laa ilaha illallah
Alhamdulillah, kita semua tentu telah melafadzkan ini karena inilah salah satu pembeda antara muslim dengan kafir. Tentu saja pelafalan lafadz laa ilaha illallah harus disertai dengan keyakinan hati dan pemaknaan yang benar, bahwa tidak ada ilah atau sesembahan yang berhak disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan tentang lafadz ini dalam haditsnya,

“Sebaik-baik dzikir adalah ada لا اله الا الله (tiada Ilah yang berhak disembah melainkan Allah).” (HR. Tirmidzi dan dia berkata, “Hadits hasan.”)

Dan sungguh manis ganjaran orang yang yang melafadzkan dzikir ini, sebagaimana dijelaskan oleh Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Barangsiapa mengucapkan laa ilaah illallah, maka ditanamkan baginya sebatang pohon kurma di Surga.” (HR. Tirmidzi dan dia berkata, “Hadits hasan.”)

Saudariku tentu juga mengetahui, pernah menjadi tren ‘latah’ yang menyebar di berbagai kalangan. Salah satu ciri latah ini adalah jika seseorang dikagetkan atau terkejut, maka akan keluar kata-kata yang tidak dia sadari. Atau bahkan ia bisa dikontrol oleh orang yang mengejutkannya sehingga berkata-kata atau bertingkah laku yang tidak-tidak. Padahal untuk urusan yang terlihat kecil ini, ternyata telah pula diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seorang yang terkejut disunnahkan untuk mengucapkan lafadz ‘laa ilaha illallah’. (HR. Bukhari dalam Fathul Baari VI/181 dan Muslim IV/22208)

Masya Allah
Yang satu ini, seringkali penulis dengar dilafalkan bukan pada tempatnya. Masya Allah memiliki makna “Atas kehendak Allah”. Lafadz ini diucapkan ketika kita takjub melihat kelebihan yang dimiliki oleh orang lain, baik berupa harta, kondisi fisik atau yang lainnya. Dalam surat Al Kahfi, terdapat tambahan,

“Masya Allah laa quwwata illa billah”

“Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tidak ada kekuatan kecuali dengan bantuan Allah.”

Lafadz ini juga berkaitan dengan penyakit ‘ain. Dengan melafadzkan “Masya Allah” ketika kita mengaggumi kelebihan yang dimiliki orang lain, diharapkan orang tersebut tidak terkena penyakit ‘ain disebabkan pandangan kita. Karena penyakit ‘ain ini dapat terjadi baik kita sengaja ataupun tidak.

Nah…yang sering menarik pandangan seseorang adalah tingkah dan fisik anak kecil yang menggoda. Pipinya yang lucu, matanya yang nakal dan lain sebagainya. Lalu datanglah pujian dari sanak, saudara atau teman sekitar kita. Namun kita mungkin lupa, bahwa anak juga merupakan anugrah yang dapat terkena ‘ain. Maka, ingatkanlah orang-orang sekitar untuk mengucapkan masya Allah ketika memberikan pujian kepada anak kita. Begitupula dengan kita sendiri ketika memuji anak atau benda milik seseorang, maka ucapkanlah ‘masya Allah’ ini.

Astaghfirullah
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Pujian yang paling tinggi adalah la ilaha illallah, sedangkan doa yang paling tinggi adalah perkataan astaghfirullah. Allah memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengesakan Allah dan memohon ampunan bagi diri sendiri dan bagi orang-orang mukmin.”

Memohon ampunan dengan lafadz ini sunnah diucapkan sebanyak 3 kali setelah selesai salam dari sholat wajib. Kita juga dapat memohon ampunan sebanyak-banyaknya, sebagaimana banyak ayat Al-Qur’an menunjukkan hal ini. Begitupula dari contoh perbuatan Rasululllah shallallahu’alaihi wa sallam (padahal beliau sudah diampuni dosanya yang telalu lalu dan akan datang). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar memohn ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari.” (HR. Bukhari)

Kita sebagai wanita juga diperintah untuk memperbanyak istighfar, sebagaimana dalam hadits berikut,

“Wahai sekalian kaum wanita, bersedekahlah dan perbanyaklah istighfar, karena sesungguhnya aku melihat kalian adalah kebanyakan penghuni neraka!”

Seorang wanita dari mereka bertanya, “Wahai Rasululllah, mengapa kami menjadi kebanyakan penghuni neraka?”

Beliau menjawab, “Kalian terlalu banyak melaknat dan ingkar (tidak bersyukur) terhadap (kebaikan) suami, aku tidak melihat orang yang kurang akal dan agamanya bisa mengalahkan lelaki yang berakal kecuali kalian.”

Ia bertanya, “Apa maksudnya kurang akal dan agama?”

Beliau menjawab, “Persaksian dua orang wanita sama dengan seorang laki-laii dan wanita berdiam diri beberapa hari tanpa shalat.”
(HR. Muslim)

Ini adah lafadz-lafadz dzikir yang ringan di lidah dan mudah untuk dihafal dan diamalkan, insya Allah. Semoga yang ringan ini juga menjadi pemicu untuk menghafal dan mempraktekkan do’a dan dzikir-dzikir lain yang lebih panjang. Barakallahufikunna.

Maraji’:
Hisnul Muslim (terj), Said bin Ali bin Wahf al-Qahthani, at-Tibyan
Istighfar (terj), Ibnu Taimiyah, Darul Falah, cetakan pertama 2002 M
Riyadus Shalihin, Jilid 1 (terj), Imam Nawawi dengan tahkik Syaikh Nashiruddin al-Albani, Duta Ilmu, cetakan kedua 2003
Riyadus Shalihin, Jilid 2 (terj), Imam Nawawi dengan tahkik Syaikh Nashiruddin al-Albani, Duta Ilmu, cetakan kedua 2003

***

Sumber: muslimah.or.id

.

Mengenal Islam

Mengenal Islam

Suatu ketika, terjadi percakapan antara sepasang suami istri.

“Bang, jumlah orang Islam tuh lebih sedikit ya daripada Nasrani?”
“Iya kalau ukurannya internasional lebih sedikit.”
“Hmm… belum lagi kaum munafiqin di dalam Islam itu sendiri ya bang? (wal’iyya dzubillah.)”
“Iya…”
“Belum lagi orang-orang yang berpikiran liberal ya?
“Iya…”
“Belum lagi…”

Tahu tidak saudariku, belum lagi yang terakhir itu apa?
Belum lagi orang yang mungkin sebenarnya mengaku dirinya Islam, tapi ia tidak mengenal Islam dan mungkin tidak paham bahwa dia telah keluar dari Islam. Kita berlindung kepada Allah dari hal demikian.

Apa Itu Islam?

Makna Islam sebagaimana didefinisikan para ulama adalah

االأِسْتِسْلامُ لِلَّهِ بِالتّوحيدد

al istislamu lillahi bit tauhid

و الأنقياد له بالطاعة
wal inqiyaadu lahu bit too’ah

و البراءة من الشرك و أهله
wal barooatu minasyirki wa ahlihi

Mari kita perjelas satu persatu definisi tersebut.

1. Berserah diri kepada Allah dengan cara hanya beribadah kepada-Nya dan tidak kepada selain-Nya.

Artinya kita benar-benar melakukan peribadatan dan segala bentuk penghambaan hanya kepada Allah.

“Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (Qs. Al Ikhlas [112]: 1-4)

Sebagai contoh, sebagian besar dari saudara kita masih sulit meninggalkan kepercayaan pada ramalan bintang (zodiak) dan penentuan nasib baik dan buruk berdasarkan hal ini (artinya ia menggantungkan urusannya dan pengharapannya pada sesuatu selain Allah). Padahal perkara ghaib hanyalah Allah yang mengetahui dan hanya kepada Allah-lah seseorang menggantungkan segala urusannya selain usaha yang dilakukannya.

Akhirnya, dari perkara yang sulit ditinggalkan ini merambat ke hal-hal lain yang juga merupakan bentuk-bentuk kesyirikan yang dapat mengeluarkan seseorang dari Islam. Maka untuk poin pertama ini, kita harus memperbaiki ilmu tentang tauhid. Dan janganlah merasa aman dan merasa pintar sehingga mengatakan “Ah, bosan bahasannya tauhid terus.” Bukankah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam berdakwah di Mekah selama 13 tahun untuk menanamkan pondasi penting ini kepada para sahabat? Begitu pentingnya tauhid, karena menjadi dasar untuk peribadahan yang lain. Dan begitu pentingnya tauhid ini, agar segala amal ibadah tercatat sebagai amalan ibadah dan tidak terhapus begitu saja oleh kesyirikan.

Sebagai contoh pentingnya tauhid, tidak akan ada kemenangan besar dalam jihad fi sabilillah jika di dalamnya terdapat hal-hal yang merusak tauhid, seperti jimat, bergantung pada jin, aji tolak bala dan sebagainya.

2. Menundukkan ketaatan

Artinya, seorang muslim menundukkan segala bentuk ketaatan kepada Allah dengan melaksanakan segala perintah Allah dan Rasul-Nya. Mungkin kita tidak sadar, bahwa selama ini kita bukan taat kepada Allah dan Rasul sebagaiman yang diperintahkan oleh syari’at. Bahkan kita terjatuh pada perilaku orang-orang jahiliyyah yang lebih mengedepankan ketaatan kepada tetua yang jika ditelusuri ternyata tidak mengajarkan hal-hal yang sesuai dengan syari’at-Nya.

َاوَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْاْ إِلَى مَا أَنزَلَ اللّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُواْ حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ شَيْئاً وَلاَ يَهْتَدُونَ

“Apabila dikatakan kepada mereka: Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul.” Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.” Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?” (Qs. Al Maaidah [5]: 104)

Sebagai contoh kecil, karena sudah dari kecil diajarkan merayakan maulid nabi, isra mi’raj dan hari-hari besar yang bahkan dijadikan libur nasional, maka kita menganggap bahwa kita harus tunduk dan ikut merayakannya. Padahal jika benar kita taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka kita tunduk dan pasrah tidak merayakan hari-hari tersebut karena memang hari-hari tersebut tidak disyari’atkan (tidak diperintahkan) oleh Allah dan Rasul-Nya.

3. Berlepas diri dari syirik dan pelakunya

Jika seseorang berserah diri hanya kepada Allah dan tidak kepada yang lain, maka ia akan berlepas diri dari kesyirikan dan pelakunya. Karena sungguh sia-sialah seluruh amalan seorang muslim jika ia melakukan kesyirikan.

وَلَوْ أَشْرَكُواْ لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ

“…Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (Qs. Al An’am [6]: 88}

Contoh dalam masalah ini adalah ucapan selamat natal kepada kaum nasrani. Padahal jelas-jelas natal dirayakan oleh mereka dalam rangka ‘kelahiran’ yesus (yang dianggap tuhan). Maka jika kita memberi ucapan selamat kepada mereka, ini dapat diartikan menyetujui hari tersebut dan berarti mengakui adanya tuhan selain Allah.

Begitulah kesyirikan, kadang samar sekali tak terlihat secara langsung, namun sungguh sangat membinasakan. Oleh sebab itulah, kaum muslimin disarankan membaca do’a sebagai berikut agar segala bentuk kesyirikan yang mungkin secara tidak sadar dilakukan, diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

اللهمَّ إنّي أعوذُ بكَ أنْ أُشْركَ بكَ وَ انا أعْلمُ و أستغفرُك لما لا اعْلمُِ
Allahuma inni ‘a udzu bika an usyrika bika wa ana a’lamu wa astaghfiruka limaa laa a’ lam.

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dari berbuat kesyirikan kepadamu yang aku ketahui, dan aku memohon ampunanmu dari kesyirikan yang aku tidak ketahui.” (HR. Ahmad)

Semoga menjadi pengenalan singkat tentang Islam yang bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.

Maraji’:

  1. Majalah Al Furqon edisi 5 tahun ke-8 1429/2008
  2. Syarah Tsalatsatul Ushul (terjemah) Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin, Pustaka Al Qowam cetakan ke-6 2005

***

Sumber: muslimah.or.id

.

Berbakti kepada Orang Tua

Berbakti kepada Orang Tua

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum,
Ustadz yang dirahmati Allah.
Saya memiliki seorang sahabat yang menceritakan pengalaman pahit pribadinya kepada saya. Sahabat saya ini memiliki hubungan yang sangat buruk dengan bapak kandungnya, bapaknya kerap berlaku kasar padanya dan ibunya sehingga menanamkan sifat dendam yang sangat mengakar di dalam diri sahabat saya ini, meski demikian ia sangat sayang pada ibunya dan rasa inilah yang menyebabkan ia masih bisa menganggap bapaknya.

Saat ia masih kecil, kakeknya (dari bapak) tinggal bersama mereka dan sahabat saya ini merasa keberadaan kakeknya menjadi salah satu penyebab kekasaran bapaknya. Sampai pada suatu ketika saat kakeknya menghadapi masa tua dengan sakit-sakitan, bahkan sampai-sampai hanya bisa terkulai/tergeletak di ranjang (dia dan ibunya merasa bahwa kondisi kakeknya itu merupakan adzab dunia dari Allah). Meski menyadari bahwa kakeknya sedang “diadzab” oleh Allah, kebenciannya pada bapaknya (dan juga keluarga bapaknya) yang sangat besar mendorongnya untuk membalas dendam.

Dalam kondisi kakeknya yang sakit parah itu dia justru menggunakannya sebagai ajang balas dendam dengan melakukan tindakan fisik yang sama seperti yang kerap dilakukan bapaknya kepadanya. Sampai akhirnya kakeknya itu kemudian meninggal dunia…

Kini, ia benar-benar menyesali semua perbuatannya itu. Ia ingin meminta maaf tapi tidak tahu harus berbuat apa. Dan dosa itu benar-benar menghantui hidupnya. Ia tidak pernah bercerita kepada seseorangpun sebelumnya, termasuk kepada kedua orang tuanya karena ia takut ibunya shock berat jika tahu sedangkan bapaknya pasti marah besar, mengamuk, bahkan… naudzubillah… saya pun takut untuk membayangkannya.

Demikian cerita dari sahabat saya, besar sekali harapan saya ustadz berkenan memberikan solusi, apa yang harus dilakukan sahabat saya. Sungguh, saya sangat tidak tega melihat hidupnya dihantui perasaan bersalah seumur hidupnya. Jazakallah Khairan Katsira.
Wassalamu’alaikum.

Jawaban Ustadz:

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga terlimpahkan kepada nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, sahabat dan seluruh orang yang mengamalkan sunnahnya hingga hari kiamat.

Langsung saja, saya dapat mengerti permasalahan yang dihadapi oleh kawan akhi Ahmad Rafi’e, dan betapa berat dan tertekannya perasaan akhi kita ini. Akan tetapi, apapun yang terjadi, yang jelas kejadian itu telah berlalu dan bagaikan dalam pepatah: Nasi telah menjadi bubur. Tapi saya sedikit lega ketika mengetahui bahwa kejadian ini terjadi ketika akhuna yang memiliki pengalaman ini masih kecil, (dan semoga saja belum baligh). Yang dapat dilakukan oleh akhuna ini adalah bertaubat dan menyesali perbuatannya tersebut. Dengan cara inilah dosa perbuatannya (bila ia ketika melakukan kesalahan itu telah baligh) dapat dihapuskan.

“Seorang yang bertaubat dari dosa, bagaikan orang yang tidak pernah berbuat dosa.” (Ibnu Majah, At Thabrani dan dihasankan oleh Al Albani)

Untuk semakin meyakinkan dan menenangkan hati antum, baca dan renungkanlah ayat 68-70 Surat Al Furqan.

Akhuna, semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada antum: Setelah Allah menyebutkan dalam Al Qur’an surat Al Furqan ayat 68 bahwa orang yang berbuat kesyirikan, membunuh jiwa yang diharamkan, dan berzina, akan mendapatkan balasan yang setimpal atas perbuatannya, yaitu dilipat gandakan atasnya azab, dan ia akan kekal di neraka, Allah berfirman:

“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman, dan beramal saleh, maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Furqan: 70)

Saya yakin dosa atau kesalahan yang pernah antum lakukan lebih ringan bila dibanding dengan kesalahan dan dosa yang disebutkan dalam ayat 68 surat Al Furqan, sehingga bila antum benar-benar bertaubat, saya yakin Allah akan mengampuni dosa antum, dan menggantikannya dengan kebajikan.

Akhi, bila Allah ta’ala mengampuni dosa Umar bin Khatthab, Khalid bin Walid, Abu Sufyan, yang dahulunya berbuat syirik, dan menentang Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, karena mereka bertaubat, yaitu dengan masuk islam, dan meninggalkan seluruh perbuatannya tersebut, maka percayalah bahwa bila antum benar-benar bertaubat, Allah pasti menerima taubat antum dan menggantikannya dengan kebajikan.

Dan mungkin sebagai salah satu bentuk taubat antum adalah dengan banyak-banyak mendoakan kakek antum tersebut, semoga Allah menghapuskan dosa-dosanya, dan meninggikan derajatnya di sisi Allah. Kemudian, hendaknya antum berbakti kepada kedua orang tua antum walaupun ayah antum berbuat tidak baik kepada antum, tetaplah bersabar, berupaya sekuat tenaga untuk berbakti kepada keduanya. Semoga Allah senantiasa melimpahkan kepada kita semua taufik dan hidayah-Nya, sehingga kita dapat berbakti kepada orang tua kita. Wallahu a’lam bishshowab.

***

Penanya: Ahmad Raf’ie
Dijawab Oleh: Ustadz Muahmmad Arifin Badri

Sumber: muslim.or.id

.