Allah Ta’ala Memberkahi Para Penghafal Al-Qur’an

Allah Ta’ala Memberkahi Para Penghafal Al-Qur’an

Wahai saudaraku yang tercinta, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala memberkahi setiap waktu dan keperluan para penghafal Al-Qur’an. Tahukah Anda bahwa para penghafal Al-Qur’an adalah orang yang paling banyak kesibukannya? Tidakkah Anda mengetahui bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak menyia-nyiakan waktunya untuk hal yang tidak bermanfaat walau sejenak?

Saya katakan kepada Anda bahwa sesungguhnya ini adalah barokah Al-Qur’an. Ketika mereka sibuk dengan Al-Qur’an pada siang dan malam hari mereka, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberkahi waktu demi waktu yang mereka lalui, meskipun mereka sibuk dengan menghafal, membaca, dan muraja’ah (mengulang) Al-Qur’an.

Bersamaan dengan itu, sebagaimana sebelumnya bahwa mereka tidak bermalas-malasan dalam setiap kesempatan apa pun, dan hal ini tidak mudah bagi setiap orang.

Oleh karena itu, tidakkah Anda suka jika Allah Subhanahu wa Ta’ala memberkahi setap waktu yang Anda lalui? Apakah Anda juga ingin mengambil manfaat dari waktu Anda tanpa menyia-nyiakannya untuk hal yang tidak bermanfaat walaupun sejenak?

Saya nasihatkan kepada Anda, “Jagalah Al-Qur’an pada siang dan malam serta berdoalah, ‘Ya Rabb, aku memohon kepada-Mu kebaikan dan barakah dalam setiap waktu yang aku lalui.’”

Dikutip dari buku Revolusi Menghafal Al-Qur’an (Cetakan ke-2), karya Syaikh Yahya Abdul Fatah Az-Zawawi, 2010, Penerbit Insal Kamil, Solo.

Disertai sedikit pengeditan bahasa oleh Redaksi Muslimah.Or.Id

Sumber: https://muslimah.or.id/

Faedah Surat An Naas, Berlindung dari Godaan Setan Yang Terkutuk

Faedah Surat An Naas, Berlindung dari Godaan Setan Yang Terkutuk

Begitu indahnya jika kita giat mengkaji Al Qur’anul Karim. Saat ini kami akan mengulas tafsir surat An Naas yang kami ambil dari Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim karya Ibnu Katsir rahimahullah. Semoga bermanfaat.

 Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ (1) مَلِكِ النَّاسِ (2) إِلَهِ النَّاسِ (3) مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ (4) الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ (5) مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ (6)

Artinya,

1. Katakanlah: “Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.

2. Raja manusia.

3. Sembahan manusia.

4. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi,

5. yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,

6. dari (golongan) jin dan manusia.

Sifat-Sifat Allah

Ayat-ayat ini menerangkan  mengenai sifat-sifat Rabb, yaitu: [1] sifat rububiyah (yang dimintai perlindungan karena dialah yang menguasai manusia), [2] sifat mulkiyah (yang Maha Merajai) dan [3] sifat ilahiyah (yang berhak diibadahi). Jadi, Allah-lah yang menjadi Rabb (yang mengatur) segala sesuatu, Dialah yang merajainya dan Dialah ilah (yang berhak diibadahi). Oleh karenanya segala sesuatu itu makhluk yang diatur, dikuasai dan sebagai hamba bagi-Nya.

Meminta Perlindungan dari Was-Was Syaithon

Dari sini, segala sesuatu yang ingin mencari perlindungan diperintahkan untuk meminta perlindungan pada Rabb  yang memiliki sifat yang mulia ini. Segala sesuatu tersebut diperintahkan untuk meminta perlindungan dari gangguan syaithon yang biasa memberikan was-was sedang mereka dalam keadaan tersembunyi[1]. Setan yang memberikan was-was inilah setan yang biasa menemani manusia. Karena setiap insan (manusia) tidak bisa lepas dari qorin (setan yang terus menemaninya tadi) lalu membisikkan agar ia melakukan perbuatan keji. Setan akan berusaha melalaikan manusia ketika ia lalai dari Allah. Yang selamat dari gangguannya adalah orang yang mendapatkan perlindungan dari Allah Ta’ala. Sebagaimana terdapat dalam hadits yang shahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ وَقَدْ وُكِّلَ بِهِ قَرِينُهُ مِنَ الْجِنِّ ». قَالُوا وَإِيَّاكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « وَإِيَّاىَ إِلاَّ أَنَّ اللَّهَ أَعَانَنِى عَلَيْهِ فَأَسْلَمَ فَلاَ يَأْمُرُنِى إِلاَّ بِخَيْرٍ ».

“Tidaklah seorang pun dari kalian melainkan dikuasai pendamping dari kalangan jin.” Mereka bertanya, “Apakah engkau juga, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Aku juga termasuk, hanya saja Allah membantuku mengalahkannya lalu ia masuk Islam. Ia hanya memerintahkan kebaikan padaku.” (HR. Muslim no. 2814, dari ‘Abdullah bin Mas’ud)

Begitu juga terdapat hadits shahih dari Anas mengenai kisah Shofiyah yang mengunjungi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan saat itu beliau sedang i’tikaf. Ketika itu beliau keluar bersama Shofiyah karena waktu itu malam hari untuk menemaninya ke rumahnya. Di tengah jalan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditemui oleh dua orang Anshor. Ketika mereka berdua melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka lantas berjalan dengan cepatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda,

« عَلَى رِسْلِكُمَا إِنَّهَا صَفِيَّةُ بِنْتُ حُيَىٍّ » . فَقَالاَ سُبْحَانَ اللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ . قَالَ « إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِى مِنَ الإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ ، وَإِنِّى خَشِيتُ أَنْ يَقْذِفَ فِى قُلُوبِكُمَا سُوءًا – أَوْ قَالَ – شَيْئًا »

“Hendaklah kalian pelan-pelan saja jalannya. Ini adalah Shofiyah binti Huyay (istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).” Mereka berdua pun lantas mengatakan, “Subhanallah (Maha Suci Allah), wahai Rasulullah.”  Beliau lantas bersabda, “Sesungguhnya syaithon mengalir dalam diri manusia di tempat mengalirnya darah. Aku sungguh khawatir jika kejelekan telah merasuk ke dalam hati-hati kalian.” (HR. Bukhari no. 3281 dan Muslim no. 2175, dari Shofiyah binti Huyay)

Setan pun bisa semakin bangga jika seseorang menjelek-jelekkannya. Jika kendaraan mogok, janganlah menjelek-jelekkan syaithan karena syaithan akan semakin besar kepala. Namun ucapkanlah basmalah (bacaan “bismillah”).

Dari Abul Malih dari seseorang, dia berkata, “Aku pernah diboncengi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu tunggangan yang kami naiki tergelincir. Kemudian aku pun mengatakan, “Celakalah syaithan”. Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyanggah ucapanku tadi,

لاَ تَقُلْ تَعِسَ الشَّيْطَانُ فَإِنَّكَ إِذَا قُلْتَ ذَلِكَ تَعَاظَمَ حَتَّى يَكُونَ مِثْلَ الْبَيْتِ وَيَقُولَ بِقُوَّتِى وَلَكِنْ قُلْ بِسْمِ اللَّهِ فَإِنَّكَ إِذَا قُلْتَ ذَلِكَ تَصَاغَرَ حَتَّى يَكُونَ مِثْلَ الذُّبَابِ

Janganlah engkau ucapkan ‘celakalah syaithan’, karena jika engkau mengucapkan demikian, setan akan semakin besar seperti rumah. Lalu setan pun dengan sombongnya mengatakan, ‘Itu semua terjadi karena kekuatanku’. Akan tetapi, yang tepat ucapkanlah “Bismillah”. Jika engkau mengatakan seperti ini, setan akan semakin kecil sampai-sampai dia akan seperti lalat.” (HR. Abu Daud no. 4982)[2]

Setan Akan Menggoda Di Saat Manusia Lalai

Yang dimaksud ayat,

مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ

Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi.”

Sebagian ulama mengatakan bahwa yang dimaksud “waswasil khonnas” adalah setan akan berdiam di hati manusia. Jika ia lalai, maka setan tersebut akan membuat lalai dan membuat was-was atau kerancuan (setan akan menggambarkan bahwa yang baik itu jelek atau sebaliknya[3]). Namun jika ia mengingat Allah, setan pun akan khonnas (bersembunyi).[4]

Yang Memberikan Was-was dalam Hati: Jin dan Manusia

Allah Ta’ala berfirman,

الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ (5) مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ (6)

Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.” (QS. An Naas: 5-6)

Yang selalu memberikan was-was (berbagai kerancuan) dalam hati manusia adalah setan dari kalangan jin dan manusia[5]. Sebagaimana hal ini dapat dilihat dalam ayat lainnya,

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (QS. Al An’am: 112)[6]

Puji Syukur pada Allah Di Kala Terlepas dari Godaan Syaithon

Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أُحَدِّثُ نَفْسِي بِالشَّيْءِ لَأَنْ أَخِرَّ مِنْ السَّمَاءِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَتَكَلَّمَ بِهِ

“Seseorang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Ya Rasulullah sesungguhnya terbersit di dalam hatiku sesuatu, sungguh aku terjatuh dari langit lebih aku sukai dari pada aku mengatakannya.”  Ibnu ‘Abbas berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي رَدَّ كَيَدَهُ إِلَى الْوَسْوَسَةِ

“ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR ALHAMDULILLAH yang dapat menolak tipu dayanya dari perasaan was-was.” (HR. Abu Daud no. 5112 dan Ahmad 1/235)[7]

Semoga Allah senantiasa memberi kita taufik untuk giat merenungkan ayat-ayat-Nya. Amin Yaa Mujibas Saa-ilin.

 

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/

Akhir Kehidupan

Akhir Kehidupan

Surat Al Qoori’ah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
الْقَارِعَةُ، مَا الْقَارِعَةُ، وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْقَارِعَةُ، يَوْمَ يَكُونُ النَّاسُ كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوثِ، وَتَكُونُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوشِ، فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ، فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ، وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ، فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ، وَمَا أَدْرَاكَ  ا هِيَهْ، نَارٌ حَامِيَةٌ .

  1. Hari Al-Qaari’ah
  2. Apakah hari Al-Qaari’ah itu ?
  3. Tahukah kamu apakah hari Al Qaari’ah itu ?
  4. Pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebaran
  5. Dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan
  6. Dan adapun orang-orang yang berat timbangan(kebaikan)nya.
  7. Maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan.
  8. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya.
  9. Maka kembalinya adalah naar Hawiyah.
  10. Dan tahukah kamu apakah naar Hawiyah itu ?
  11.  (Yaitu) api yang sangat panas.

(Qs. Al Qariah)

Tafsir Surat Al Qoori’ah

Al Qaari’ah adalah salah satu nama Hari Kiamat. Al Qaari’ah berasal dari kata qara’a yang artinya mengetuk. Hari kiamat disebut al-Qariah, karena hari kiamat mengetuk dan mengejutkan seluruh manusia dengan berbagai kejadian yang mengerikan. Oleh karena itu kejadian tersebut dikolosalkan dan ditampakkan keagungannya oleh Allah ‘azza wa jalla melalui firmannya:

الْقَارِعَةُ، مَا الْقَارِعَةُ، وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْقَارِعَةُ، يَوْمَ يَكُونُ النَّاسُ …

“Hari Al Qaari’ah. Apakah hari Al Qoori’ah itu? Tahukah kamu apakah hari Al Qaari’ah itu? Pada hari itu manusia…” (Qs. Al Qaari’ah: 1-4)

karena sangat takut dan kagetnya,

كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوثِ ….

“…seperti anai-anai yang bertebaran” (Qs. Al Qoori’ah: 4)

Layaknya belalang yang bertebaran, sebagian menabrak yang lain.

Anai-anai sendiri adalah sejenis hewan yang ada di waktu malam, beterbangan saling bertabrakan, tidak tahu kemana mau pergi. Kalau dinyalakan api, binatang-bnatang itu akan saling menubrukkan diri ke dalamnya karena tidak mampu melihat dengan jelas. Demikianlah kondisi ummat manusia yang sudah kehilangan akal.

Adapun gunung yang memang bisu dan membatu di sebutkan :

كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوشِ …

“…seperti bulu yang dihambur-hamburkan” (Qs. Al Qoori’ah: 5)

Seperti bulu wol yang tercukur bersih sehingga menjadi lemah sekali, bisa beterbangan karena angin yang lembut saja.

Allah berfirman dalam surat An Naml,

وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ

“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan seperti jalannya awan.” (Qs. An-Naml: 88)

Setelah itu menjadi debu yang beterbangan lalu musnah tanpa tersisa sedikitpun yang bisa disaksikan. Saat itulah mizan terhadap amal perbuatan ditegakkan. Umat manusia terbagi dua kelompok, yaitu kaum yang bahagia dan kaum yang sengsara.

فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ

“Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya. (Qs. Al Qoori’ah: 6)

Yakni orang yang lebih banyak amal kebajikannya dibanding amal keburukannya

فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ،

“maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan.”(Qs. Al Qoori’ah: 7)

Artinya dalam Jannah yang penuh kenikmatan.

Sebaliknya,

وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ،

“Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan(kebaikan)nya” (Qs. Al Qoori’ah: 8)

Yakni amal kebajikannya tidak mampu mengimbangi amal keburukannya

فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ

“maka tempat kembalinya adalah Naar Haawiyah” (Qs. Al Qoori’ah: 9)

Yakni tempat tinggal dan kediamannya. Salah satu nama neraka (naar) adalah Haawiyah. Naar sebagai tempat tinggal itu bisa diibaratkan seperti ibu terhadap anaknya (ummuhu).

Allah berfirman dalam surat Al Furqaan ayat 65

إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا

“Sesungguhnya adzabnya itu adalah kebinasaan yang kekal”

Ada yang menafsirkan bahwa artinya adalah ‘induk otaknya’ (ubun-ubun) dicampakkan ke dalam naar (neraka), yakni penghuninya akan dilemparkan ke dalam naar dengan kepala di bawah.

وَمَا أَدْرَاكَ مَا هِيَه

“Dan tahukah kamu apakah Naar Haawiyah itu?” (Qs. Al Qoori’ah: 10)

Pertanyaan retorik ini untuk menunjukkan kehebatan peristiwa tersebut. Ini dijelaskan melalui  firman-Nya:

نَارٌ حَامِيَةٌ

“Yaitu api yang sangat panas” (Qs. Al Qoori’ah: 11)

Neraka yang sangat panas. Dibandingkan dengan api dunia, panasnya mencapai tujuh puluh kali lipat.

Kita memohon perlindungan kepada Allah subhaanahu wa ta’aala agar dijauhkan dari adzab neraka.

***

Disusun dari: Tafsir Juz ‘Amma Karimirrahman karya Asy Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’diy
Oleh: Ummu Afifah
Murajaah: Ustadz Ammi Nur Baits

Sumber: https://muslimah.or.id/

Kaidah Yang Dibutuhkan Seorang Muslim di Zaman Fitnah

Kaidah Yang Dibutuhkan Seorang Muslim di Zaman Fitnah

Aturan Dan Kaidah Yang Dibutuhkan Seorang Muslim Di Zaman Fitnah

  1. Jangan mengikuti perasaan dan membentenginya dengan syariat.
  2. Memastikan kebenaran suatu berita dan jangan terburu-buru.
  3. Hati-hatilah terhadap kebodohan dan bersemangatlah dalam mendapatkan ilmu dan belajar.
  4. Ketika terjadi perselisihan, berhati-hatilah kalian terhadap pendapat orang awam dan pegangi nasehat ulama.
  5. Berhati-hatilah kalian terhadap perkara baru dan tetaplah mengikuti sunnah
  6. Jangan mendekati fitnah dan menjauhlah dari fitnah.
  7. Mencegah terjadinya fitnah lebih mudah dari pada menghilangkannya.
  8. Berhati-hati, jangan mengikuti hawa nafsu ketika mengambil fatwa dan ambillah fatwa yang berdasarkan dalil.
  9. Jika anda adalah orang awam, janganlah mengambil fatwa berdasarkan nafsu dan ikutilah (taqlidlah) kepada orang yang lebih berilmu.
  10. Berhati-hatilah terhadap perubahan yang tak pasti dan tetaplah di atas aturan agama (Islam) dengan cahaya quran dan sunnah.
  11. Janganlah menentang nash-nash untuk mengikuti apa yang Anda inginkan, namun jadikan keinginan Anda sesuai nash.
  12. Berhati-hatilah terhadap perpecahan dan tetaplah bersatu dengan jama’ah.
  13. Berhati-hatilah terhadap kedzaliman, kejahatan dan penyiksaan. Pegangi sikap adil dan orang-orang yang adil, ikuti kebenaran dan orang-orang yang benar.
  14. Janganlah mengharapkan terjadi fitnah (revolusi) dan berlindunglah kepada Allah dari keburukan fitnah.
  15. Jangan tertipu dengan gemerlap fitnah (revolusi), namun lihatlah hakekat di balik fitnah dengan pandangan seorang mukmin.
  16. Berhati-hati dari sikap ghuluw (berlebihan) dan tetap pada sikap seimbang
  17. Berhati-hati dari maksiat (kedurhakaan) dan lakukanlah ketaatan.
  18. Jangan apriori ketika menilai dan pahami kebenaran dari akar hingga ujung.

 

Diambil dari Syarah Kitab Shahih Muslim, Bab tentang fitnah dan tanda kiamat. Rekaman volume 24 – Syaikh Sulaiman bin Salimullah Ar-Ruhaili – hafidzhullah – Diterjemahkan oleh Tim Penerjemah Muslimah.Or.Id

SUmber: https://muslimah.or.id/

Hikmah di Balik Qurban

Hikmah di Balik Qurban

Pernahkah kita berpikir untuk mempersiapkan qurban sejak saat ini? Terasa masih jauh, tapi jika tidak direncanakan, bisa jadi idul adha tahun ini tetap sama dengan tahun-tahun sebelumnya, dilewati tanpa berqurban walaupun seekor kambing. Bukankah beban itu menjadi ringan jika dicicil? Seekor kambing akan terasa sangat mahal jika baru kita rencanakan beberapa hari sebelum penyembelihan. Oleh karena itu, kami mengingatkan kembali kepada pembaca untuk menguatkan tekadnya agar bisa berqurban.
Terkait qurban, artikel kali ini akan membahas tentang hikmah di balik ibadah qurban, semoga dengan mengetahui hikmah kebaikan qurban, kita lebih bersemangat untuk menjalankan syariat qurban.

1. Qurban dilakukan dalam rangka bersyukur kepada Allah atas nikmat hayat (kehidupan) yang diberikan.

2. Qurban dilaksanakan untuk menghidupkan ajaran Nabi Ibrahim –khalilullah (kekasih Allah) ‘alaihissalam yang ketika itu Allah memerintahkan beliau untuk menyembelih anak tercintanya sebagai tebusan yaitu Ismail ‘alaihissalam ketika hari an-nahr (Idul Adha)

3. Agar setiap mukmin mengingat kesabaran Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, yang ini membuahkan ketaatan kepada Allah dan kecintaan kepada-Nya lebih dari diri sendiri dan anak. Pengorbanan seperti inilah yang menyebabkan lepasnya cobaan. Sehingga yang sebelumnya akan disembelih adalah Isma’il, akhirnya seekor dombalah yang disembelih. Jika setiap mukmin mengingat kisah ini, seharusnya mereka mencontoh dalam bersabar ketika melakukan ketaatan kepada Allah dan seharusnya mereka mendahulukan kecintaan kepada Allah dari hawa nafsu dan syahwatnya (Al-Mausuah al-Fiqhiyyah, 5:76)

4. Ibadah qurban lebih baik daripada bersedekah dengan uang yang senilai dengan hewan qurban.
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Penyembelihan yang dilakukan pada waktu mulia lebih afdal daripada sedekah senilai penyembelihan tersebut. Oleh karenanya, jika seseorang bersedekah untuk menggantikan kewajiban penyembelihan pada manasik tamattu’ dan qiran (dalam ibadah haji) meskipun dengan sedekah yang bernilai berlipat ganda, tentu tidak bisa menyamai keutamaan qurban.” (Talkhish Kitab Ahkamil Ushiyyah wadz Dzakaah, hlm 11-12 dan Shahih Fiqh Sunnah, 2:379)

5. Qurban dilakukan untuk meraih taqwa. Yang ingin dicapai dari ibadah qurban adalah keikhlasan dan ketakwaan. Allah Ta’ala berfirman,

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS. Al-Hajj: 37)

Disarikan dari buku Belajar Qurban Sesuai Tuntunan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, cetakan pertama, Dzulqa’dah 1439 H.

Sumber: https://muslimah.or.id/

Mengambil Manfaat dari Al-Qur’an

Mengambil Manfaat dari Al-Qur’an

Jika Anda ingin mengambil manfaat Al-Qur’an Al-Karim, maka bulatkanlah hatimu tatkala membaca dan mendengarkannya, pasanglah telingamu, hadirkan hatimu, rasakanlah firman siapa yang sedang engkau baca, siapa yang dituju dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala, karena sesungguhnya objek yang dituju adalah Anda melalui lisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah berfirman:

إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.”(QS. Qaaf: 37)

Yang demikian itu karena kesempurnaan pengaruh tergantung kepada sesuatu yang diharapkan pengaruhnya, objek yang hendak menerima pengaruh serta terpenuhinya syarat-syarat untuk timbulnya suatu pengaruh. Juga tiadanya penghalang yang menghambatnya. Ayat di atas mencakup penjelasan semua itu dengan lafadz yang ringkas, jelas, dan menunjukkan makna yang dimaksud. Ibnu Qutaibah berkata,”Dengarkanlah kitabullah yakni dengan kesaksian hati dan pemahaman, bukan dengan kelalaian dan kehampaan.”

Jika yang diharapkan pengaruhnya adalah Al-Qur’an, objek yang hendak menerima pengaruh adalah hati yang hidup, terpenuhi pula syarat, yakni adanya perhatian, ditambah lagi dengan tiadanya penghalang berupa kesibukan hati dan kelalaiannya terhadap makna yang terkandung maupun berpaling pada sesuatu yang lain, niscaya muncullah pengaruhnya, yakni bisa mendapatkan manfaat dan peringatan.

Dengan memperhatikan kalamullah dan khithab (objek yang ditujunya), niscaya akan kita dapatkan bahwa Dialah pemilik seluruh kerajaan, pemilik segala pujian, segala urusan berada di tangan-Nya, berasal dari-Nya, kembali pula kepada-Nya, bersemayam di singgasana-Nya dan tak tersembunyi sedikitpun atas-Nya segala apa yang ada dalam kekuasaan-Nya. Maha mengetahui apa yang terdetik dalam hati para hamba-Nya, Maha Melihat apa-apa yang dirahasiakan mereka dan apa-apa yang ditampakkan.

Maka perhatikanlah, bagaimana Dia memuji diri-Nya dan menasehati hamba-hamba-Nya, menunjukkan kepada mereka apa-apa yang mendatangkan kebahagiaan bagi mereka dan memberikan peringatan dan apa-apa yang dapat menyebabkan mereka binasa.

Nampakkanlah dari khithab yang ditujunya, bahwa Allah memberikan teguran-teguran kepada orang-orang yang dicintai-Nya dengan teguran yang halus, padahal mereka seringkali tergelincir namun Allah mengampuni mereka, menerima udzur mereka, memperbaiki keadaan yang rusak di antara mereka, menjadi penolong atas mereka, menjamin kemaslahatan bagi mereka dan mengentaskan mereka dari kegundahan. Maka tatkala hati menyaksikan dari Al-Qur’an tentang Maha Raja Yang Maha Agung, Maha Penyayang, Pemurah, Maha Indah, bagaimana mungkin hati tidak terdorong untuk mencintai-Nya dan berlomba untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dia akan pertaruhkan jiwanya untuk mencintai-Nya, sehingga Dia menjadi sesuatu yang paling dicintai dari selain-Nya, keridhaan-Nya lebih didahulukan olehnya daripada keridhaan siapapun selain-Nya.

Bagaimana mungkin hati tidak nyaman untuk berdzikir kepada-Nya, melestarikan kecintaannya kepada-Nya, rindu kepada-Nya dan senang dekat dengan-Nya, padahal unsur itulah yang merupakan makanan, kekuatan dan obat baginya. Ketika unsur tersebut itu tiada, menjadi rusak dan binasalah hati. Hidupnya pun tak lagi bermanfaat baginya. (Al-Fawa’id)

 

Diambil dari buku Menjadi Kekasih Allah (Terjemahan dari Raudhah Al Mahbub min Kalaam Muharrik Al Quluub), karya Ibnu Qayyim Al Jauziyyah, penerbit Pustaka At Tibyan

Sumber: https://muslimah.or.id/