Mengapa Perlu Menghafal Al Qur’an

Mengapa Perlu Menghafal Al Qur’an

Bismillah. Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga senantiasa terlimpah kepada Nabi Muhammad, beserta keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan ihsan.

Sebagian kaum Muslimin ternyata masih banyak yang belum memahami mengapa mereka perlu untuk menghafal Al Qur’an. Bahkan ada yang mengatakan, “mengapa kita bangga dengan anak-anak yang hafal Qur’an yang notabene bukan bahasa kita? bukankah lebih baik mengajarkan mereka membaca terjemahannya agar bisa menerapkan nilai luhur di dalamnya?

Perkataan ini keluar tentu karena ketidak-pahaman mengenai keutamaan dan urgensi menghafal Al Qur’an. Orang tersebut juga tidak memahami keutamaan Al Qur’an serta bagaimana cara mempelajari Al Qur’an, sehingga ia merasa cukup dengan terjemahan Al Qur’an saja dalam mempelajari Al Qur’an. Oleh karena itu mari kita simak pembahasan berikut..

Hukum menghafal Al Qur’an

Syaikh Ibnu Baz mengatakan, “menghafal Al Qur’an adalah mustahab (sunnah)” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, 89906). Namun yang rajih insya Allah, menghafal Al Qur’an adalah fardhu kifayah, wajib diantara kaum Muslimin ada yang menghafalkan Al Qur’an, jika tidak ada sama sekali maka mereka berdosa (Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah, 17/325).

Keutamaan menghafal Al Qur’an

1. Penghafal Qur’an adalah Shahibul Qur’an

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani menyatakan, “ketahuilah, makna dari shahibul Qur’an adalah orang yang menghafalkannya di hati. berdasarkan sabda nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:

يؤم القوم أقرؤهم لكتاب الله

hendaknya yang mengimami sebuah kaum adalah yang paling aqra’ terhadap kitabullah

maksudnya yang paling hafal. Maka derajat surga yang didapatkan seseorang itu tergantung pada banyak hafalan Al Qur’annya di dunia, bukan pada banyak bacaannya, sebagaimana disangka oleh sebagian orang. Maka di sini kita ketahui keutamaan yang besar bagi pada penghafal Al Qur’an. Namun dengan syarat ia menghafalkan Al Qur’an untuk mengharap wajah Allah tabaaraka wa ta’ala, bukan untuk tujuan dunia atau harta” (Silsilah Ash Shahihah, 5/281).

2. Al-Qur’an akan menjadi syafa’at bagi shahibul Qur’an

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

اقرأوا القرآن فإنه يأتي يوم القيامة شفيعا لأصحابه

bacalah Al Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai syafa’at bagi shahibul Qur’an” (HR. Muslim  804)

3. Derajat di surga tergantung pada hafalan Qur’an

Semakin banyak hafalannya, akan semakin tinggi kedudukan yang didapatkan di surga kelak. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

يقال لصاحب القرآن اقرأ وارتقِ، ورتل كما كنت ترتل في الدنيا، فإن منزلك عند آخر آية تقرؤها

akan dikatakan kepada shahibul qur’an (di akhirat) : bacalah dan naiklah, bacalah dengan tartil sebagaimana engkau membaca dengan tartil di dunia. karena kedudukanmu tergantung pada ayat terakhir yang engkau baca” (HR. Abu Daud 2240, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abi Daud).

4. Termasuk sebaik-baik manusia

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

خيركم من تعلم القرآن وعلَّمه

sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya” (HR. Al Bukhari 4639).

5. Allah mengangkat derajat shahibul Qur’an di dunia

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إن الله يرفع بهذا الكتاب أقواماً ويضع به آخرين

sesungguhnya Allah mengangkat beberapa kaum dengan Al Qur’an ini dan menghinakan yang lain dengannya” (HR. Muslim 817)

6. Penghafal Al Qur’an lebih diutamakan untuk menjadi imam

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

يؤم القوم أقرؤهم لكتاب الله

hendaknya yang mengimami sebuah kaum adalah yang paling aqra’ terhadap kitabullah” (HR. Abu Daud 582, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abi Daud)

Urgensi menghafal Al Qur’an

Selain keutamaan-keutamaan di atas, ada beberapa hal juga yang menjadi pendorong untuk kita semua agar menghafalkan Al Qur’an:

1. Meneladani Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam

Panutan kita, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menghafalkan Al Qur’an, dan setiap bulan Ramadhan Jibril datang kepada beliau untuk mengecek hafalan beliau. Hal ini diceritakan oleh Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma:

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم أجود الناس ، وكان أجود ما يكون في رمضان حين يلقاه جبريل ، وكان يلقاه في كل ليلة من رمضان فيُدارسه القرآن ، فالرسول الله صلى الله عليه وسلم أجودُ بالخير من الريح المرسَلة

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan saat beliau bertemu Jibril. Jibril menemuinya setiap malam untuk mengajarkan Al Qur’an. Dan kedermawanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi angin yang berhembus” (HR. Bukhari, no.6)

2. Membaca Al Qur’an adalah ibadah yang agung

Membaca Al Qur’an adalah ibadah, setiap satu huruf diganjar satu pahala.

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

barangsiapa yang membaca 1 huruf dari Al Qur’an, maka baginya 1 kebaikan. dan 1 kebaikan dilipat-gandakan 10x lipat. aku tidak mengatakan alif lam miim itu satu huruf, tapi alim satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf” (HR. At Tirmidzi 2910, ia berkata: “hasan shahih gharib dari jalan ini”)

Dan banyak lagi keutamaan dari membaca Al Qur’an. Maka seorang Muslim yang hafal Al Qur’an dapat dengan mudahnya membaca kapan saja dimana saja, langsung dari hafalannya tanpa harus membacanya dari mushaf. Dan ini merupakan ibadah yang agung. Ibnu Mas’ud berkata:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَعْلَمَ أَنَّهُ يُحِبُّ اللهَ وَرَسُولَهُ فَلْيَنْظُرْ، فَإِنْ كَانَ يُحِبُّ الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يُحِبُّ اللهَ وَرَسُولَهُ

Barangsiapa yang ingin mengetahui bahwa dia mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka perhatikanlah, jika ia mencintai Al Quran maka ia mencintai Allah dan Rasul-Nya” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, Al Haitsami dalam Majma Az Zawaid berkata: “semua rijalnya shahih”).

3. Modal utama dalam mempelajari agama

Al Qur’an adalah sumber hukum dalam Islam. Dengan menghafalkan Al Qur’an, seseorang lebih mudah dalam mempelajari ilmu agama. Ia mempelajari suatu permasalahan ia dapat mengeluarkan ayat-ayat yang menjadi dalil terhadap masalah tersebut langsung dari hafalannya. Yang kemudian ia perjelas lagi dengan penjelasan para ulama mengenai ayat tersebut. Ibnu ‘Abdl Barr mengatakan:

طلب العلم درجات ورتب لا ينبغي تعديها، ومن تعداها جملة فقد تعدى سبيل السلف رحمهم الله، فأول العلم حفظ كتاب الله عز وجل وتفهمه

“Menuntut ilmu itu ada tahapan dan tingkatan yang harus dilalui, barangsiapa yang melaluinya maka ia telah menempuh jalan salaf rahimahumullah. Dan ilmu yang paling pertama adalah menghafal kitabullah ‘azza wa jalla dan memahaminya” (dinukil dari Limaadza Nahfadzul Qur’an, Syaikh Shalih Al Munajjid).

4. Modal utama dalam berdakwah

Kata para ulama, hidayah ada 2 macam: hidayah taufiq yang ada di tangan Allah dan hidayah al irsyad wal bayan yaitu dakwah yang menjadi tugas para Nabi dan Rasul dan juga kita. Dan Al Qur’an adalah sumber dari hidayah ini, Allah Ta’ala berfirman:

(إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ) (الإسراء: من الآية9)

Sesungguhnya Al Quran ini memberikan hidayah kepada (jalan) yang lebih lurus” (QS. Al Isra: 9)

5. Menjaga keotentikan Al Qur’an

Salah satu keistimewaan Al Qur’an adalah keotentikannya terjaga, tidak sebagaimana kitab-kitab samawi yang lain. Dan salah satu sebab terjaganya hal tersebut adalah banyak kaum Muslimin yang menghafalkan Al Qur’an di dalam dada-dada mereka. Sehingga tidak mudah bagi para penyeru kesesatan dan musuh-musuh Islam untuk menyelipkan pemikiran mereka lewat Al Qur’an atau mengubahnya untuk menyesatkan umat Islam.

6. Tadabbur dan Tafakkur

Dengan menghafal Al Qur’an, seseorang bisa lebih mudah dan lebih sering ber-tadabbur dan ber-tafakkur. Yaitu merenungkan isi Al Qur’an untuk mengoreksi keadaan dirinya apakah sudah sesuai dengannya ataukan belum dan juga memikirkan tanda-tanda kebesaran Allah. Allah Ta’ala berfirman

(أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا) (محمد:24)

Maka apakah mereka tidak men-tadabburi Al Quran ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24).

7. Mengobati

Al Qur’an adalah obat bagi penyakit hati dan penyakit jasmani. Allah Ta’ala berfirman

(وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ) (الإسراء: من الآية82)

Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar” (QS. Al Isra: 82).

 

[bersambung]
Penulis: Yulian Purnama

Sumber: https://muslimah.or.id/

Buah Anggur yang Disebutkan dalam Al-Qur’an

Buah Anggur yang Disebutkan dalam Al-Qur’an

Diantara makanan yang disebut dalam Al Qur’an Al Karim adalah buah anggur. Dan penelitian para ahli pengobatan dan ahli medis memaparkan bahwa buah anggur memiliki banyak manfaat dan khasiat.

Allah ta’ala berfirman,

أَيَوَدُّ أَحَدُكُمْ أَنْ تَكُونَ لَهُ جَنَّةٌ مِنْ نَخِيلٍ وَأَعْنَابٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ لَهُ فِيهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ وَأَصَابَهُ الْكِبَرُ وَلَهُ ذُرِّيَّةٌ ضُعَفَاءُ فَأَصَابَهَا إِعْصَارٌ فِيهِ نَارٌ فَاحْتَرَقَتْ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ

Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya.” (QS Al Baqarah: 266)

Ibnul Qayyim menjelaskan, “Anggur termasuk buah-buahan yang terbaik dan paling banyak kegunaannya, bisa dimakan dalam keadaan basah maupun kering, yang hijau dan masak maupun yang masih mengkal. Anggur menjadi buah sesungguhnya bila dikombinasikan dengan buah-buahan, menjadi makanan pokok bila digabungkan dengan makanan lain, menjadi lauk bila dikombinasikan dengan lauk lain, menjadi obat bila dicampur dengan obat lain dan menjadi minuman bila dicampur dengan minuman lain.”

Di antara manfaat buah anggur untuk kesehatan antara lain:

  1. Untuk kesehatan jantung
    Kandungan flavonoid pada buah anggur terdiri dari dua jenis, yaitu quercitin dan reveratrol. Resveratrol pada anggur terbukti dapat menghambar endothelin-1 (ET-1). Untuk jenis anggur merah ini kaya akan gizinya.
  2. Mengobati gangguan pencernaan
    Karena mengandung magnesium. Perjalanan anggur sebagai makanan obat ternyata telah berawal pada zaman Mesir kuno. Selian disajika sebagai buah meja di lingkungan kekaisaran Yunani dan Mesir Kuno, buah anggur telah dimanfaatkan sebagai bagian dalam pengobatan alami gangguan pencernaan.
  3. Sebagai penggelontor kotoran (buang air besar)
    Prosesnya, lantaran kandungan serat kasarnya yang melimpah dalam kulit buah dan zat pencahar ringan (laksatif) yang terdapat dalam buah anggur.
  4. Meningkatkan energi tubuh
    karena kandungan zat besi dan mineral penyusun sel-sel darah merah yang merupakan pengangkut sumber energi untuk jenis anggur yang berwarna gelap.
  5. Mencegah kanker
    Prosesnya dengan meningkatkan daya tahan tubuh, melalui keampuhan resveratrol alami dalam buah anggur ini sudah terbukti lewat kemampuannya mengganyang sel-sel kanker dalam tiga tahapan. Bila anggur lebih dini dikonsumsi, reveratrol sudah akan beraksi meredam kerusakan DNA dalam sel pada tahap awal pertunasan sel benih kanker.
  6. Mencegah penuaan dini
    Biji anggur memiliki kekuatan antioksidan yang dipunyai vitamin A, C, dan E.
  7. Mencegah kerusakan gigi
    Yakni dengan kandungan tanin dalam anggur. Asal elegat dalam anggur juga mampu menghancurkan hidrokarbon, senyawa penyebab kakner yang disebabkan asap rokok.
  8. Menjaga vitalitas pria
    Karena dalam anggur merah terdapat mineral mikro yakni mangan dan seng untuk menjaga libido seks pria, menjaga kesuburan pria, serta mncegah dan membantu mengatasi peradangan prostat.
  9. Mengurangi gejala insomnia/sulit tidur
    Sebuah penelitian di Italia menunjukkan bahwa pada anggur terdapat melatonin, suatu hormon yang dikenal bisa membantu mengatur jam biologis manusia. Hormon melatotnin umumnya akan muncul di malam hari, sehingga mengantarkan orang untuk tertidur pulas.

Sebagai buah makanan yang biasa disantap sebagai pencuci mulut, untuk mengatasi segala keluhan dan penyakit-penyakit di atas, maka anggur cukup dikonsumsi dengan takaran sewajarnya setiap sesudah makan. Kecuali untuk kasus insomsia, dianjurkan mengkonsumsinya satu jam setelah makan malam.

 

Sumber: https://muslimah.or.id/

Anugerah Teragung

Anugerah Teragung

Sungguh besar karunia yang Allah limpahkan kepada hamba-hamba-Nya. Kalau saja mereka mau merenungkannya. Pada suatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dipertemukan dengan rombongan tawanan yang berada di dalam penjara. Di tengah-tengah mereka ada seorang ibu yang sedang mencari-cari bayinya. Setiap kali berjumpa dengan seorang bayi, maka iapun menyusuinya. Ia tidak peduli apakah anak itu bayinya atau bukan. Ini menunjukkan betapa besar kasih sayangnya kepada anak tersebut. Maka Rasulullah pun berkata kepada para sahabat, “Apakah menurut kalian perempuan ini akan tega melemparkan anaknya ke dalam kobaran api?”. Para sahabat pun menjawab, “Tidak, demi Allah…” Maka Rasul pun bersabda, “Sungguh, Allah jauh lebih penyayang kepada hamba-hamba-Nya daripada ibu ini kepada anaknya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Mendapatkan sebuah anugerah merupakan sebuah kenikmatan. Terlebih lagi apabila yang memberikan anugerah adalah sosok yang sangat terhormat dan agung di mata manusia. Belum lagi apabila anugerah yang diberikan itu merupakan penentu kebahagiaan pada diri mereka. Maka tentunya perasaan gembira dan bersyukur menerimanya menjadi semakin terasa dan senantiasa menghiasi relung hati seorang manusia. Di antara anugerah paling agung dan paling mulia yang Allah berikan kepada umat manusia adalah diutusnya para rasul ‘alaihimush shalatu was salam. Dan kenikmatan itu semakin sempurna dengan diutusnya nabi dan rasul terakhir yaitu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Sungguh Allah telah memberikan anugerah kepada orang-orang yang beriman yaitu ketika Allah membangkitkan di antara mereka seorang rasul dari jenis mereka yang membacakan ayat-ayat-Nya dan menyucikan jiwa mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah, padahal sebelumnya mereka berada di dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 164).

Dengan diutusnya para rasul maka umat manusia akan bisa mengetahui pokok-pokok dan cabang-cabang ajaran agama Allah. Sehingga mereka akan menemukan jalan untuk menggapai keridhaan-Nya. Inilah bukti besarnya kasih sayang Allah kepada umat manusia. Ibnu Abil ‘Izz Al Hanafi rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya tidak akan ada kehidupan bagi hati, kesenangan, dan ketenangan kecuali dengan mengenal Rabbnya dan sesembahan yang menciptakan dirinya melalui nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan-perbuatan-Nya. Dan hal itu disertai dengan kecintaan kepada-Nya yang jauh berada di atas kecintaan dirinya terhadap segala sesuatu selain-Nya. Hal itulah yang akan memicu kesungguhannya dalam mendekatkan diri kepada-Nya jauh lebih keras daripada upayanya untuk mencari kedekatan diri kepada seluruh makhluk ciptaan-Nya. Dan merupakan sebuah perkara yang mustahil bagi akal manusia untuk bisa mengenali dan memahami itu semua secara langsung dan terperinci. Maka sifat kasih sayang Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang menuntut perlunya diutus para rasul dalam rangka memperkenalkan diri-Nya, mengajak manusia untuk beribadah kepada-Nya, memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang memenuhi seruan mereka, dan memperingatkan orang-orang yang meyelisihi mereka…” (Syarh Al ‘Aqidah Ath Thahawiyah, hal. 69)

Dengan demikian kehidupan yang sejati hanya akan diperoleh dengan memenuhi ajakan para rasul. Sehingga kebahagiaan dan kemuliaan hanya akan diraih dengan memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul ketika ia menyeru kalian menuju sesuatu yang akan menghidupkan kalian. Dan ketahuilah sesungguhnya Allah lah yang menghalangi seorang manusia dengan hatinya. Dan sesungguhnya kepda-Nya lah nanti mereka akan dikembalikan.” (QS. Al Anfaal [8]: 28)

Berdasarkan ayat ini Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan bahwa kehidupan yang hakiki itu hanya akan bisa diperoleh dengan memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya. Maka barang siapa yang tidak mau memenuhi panggilan ini tentunya tidak ada kehidupan pada dirinya. Meskipun dia masih memiliki sisi kehidupan ala binatang yang tidak ada bedanya antara dirinya dengan hewan yang paling rendah sekalipun. Maka kehidupan yang hakiki adalah kehidupan yang dimiliki oleh orang-orang yang memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya secara lahir maupun batin. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar hidup, meskipun jasad-jasad mereka telah mati. Adapun selain mereka pada hakikatnya adalah mayat-mayat meskipun tubuh fisik mereka masih bernyawa. Oleh sebab itu maka orang yang paling sempurna hidupnya adalah orang yang paling baik dalam memenuhi panggilan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab di dalam semua ajaran yang diserukan oleh rasul tekandung unsur kehidupan. Barang siapa yang tidak mendapatkan salah satu bagian darinya maka ia akan kehilangan unsur kehidupan yang hakiki itu, walaupun di dalam dirinya masih terdapat kehidupan sesuai dengan kadar istijabah (respon/pemenuhan panggilan) yang ada pada dirinya terhadap ajakan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam (lihat Al Fawa’id, hal. 85-86)

Oleh karena itulah wahai saudaraku, janganlah kita tertipu oleh ‘kemajuan’ yang dialami oleh orang-orang kafir dan ahlul bid’ah dalam bidang teknologi, ekonomi, maupun perkara-perkara keduniaan lainnya. Sebab pada hakikatnya mereka adalah orang-orang yang sudah atau hampir mati. Semakin banyak ajaran Islam yang mereka tentang dan campakkan maka semakin lenyaplah harapan hidup yang mereka punyai. Tinggallah kehidupan mereka tidak ubahnya seperti binatang yang hidup hanya demi memuaskan naluri kebinatangannya, wal ‘iyadzu billah!

Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Apakah sama antara orang yang sudah mati (orang kafir) yang kemudian Kami hidupkan dia dan Kami berikan pancaran cahaya untuknya sehingga dia bisa berjalan di tengah-tengah manusia dengan orang sepertinya yang tetap berada di tengah kegelapan serta tidak bisa keluar darinya?” (QS. Al An’aam [6]: 122). Ibnu Abbas dan para ulama ahli tafsir menjelaskan bahwa ayat ini berbicara tentang orang yang sebelumnya kafir kemudian mendapatkan hidayah dari Allah sehingga beriman (lihat Al Fawa’id, hal. 87). Allah menyebut orang kafir sebagai orang yang sudah mati. Mengapa demikian? Sebab di dalam hatinya sudah tidak ada keimanan dan ketundukan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Oleh sebab itulah Allah menamakan wahyu-Nya yang diberikan kepada Nabi Muhammad sebagai ruh. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Demikianlah Kami telah mewahyukan kepadamu ruh dengan perintah Kami, sebelumnya kamu tidak mengerti apa itu Al Kitab dan apa itu iman, namun kemudian Kami menjadikannya sebagai cahaya yang memberikan petunjuk bagi siapa saja yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.” (QS. Asy Syura [42]: 52). Di dalam ayat yang mulia ini Allah menggambarkan wahyu-Nya sebagai ruh dan cahaya. Maka orang yang tidak mau menerima wahyu yang dibawa oleh rasul pada hakikatnya telah membinasakan dirinya sendiri dan membiarkannya terjebak di dalam kegelapan. Sungguh tepat ungkapan Syaikhul Islam Abul Abbas Al Harrani yang mengatakan, “Risalah (ajaran rasul) merupakan kebutuhan yang sangat mendesak untuk dipenuhi bagi setiap hamba. Mereka pasti memerlukannya. Kebutuhan mereka terhadapnya jauh melebihi kebutuhan mereka terhadap segala sesuatu. Sebab risalah adalah ruh, cahaya dan hakikat kehdupan alam semesta…” (Majmu’ Fatawa, 19/99)

Maka memenuhi seruan Rasul yang termuat di dalam al-Qur’an maupun As Sunnah merupakan kebutuhan setiap hamba. Namun perlu dicamkan baik-baik bahwa yang dimaksud dengan memenuhi seruan rasul bukanlah semata-mata dengan mengerjakan syari’at-syari’at lahiriyah semata seperti dengan menggerakkan tubuh untuk shalat, berwudhu, bersedekah, membaca al-Qur’an, memelihara jenggot, mengenakan jilbab, dan lain sebagainya. Akan tetapi perkara terpenting dalam hal memenuhi seruan rasul adalah ketundukan hati. Ibnul Qayyim mengatakan, “Istijabah memiliki pokok yang tertanam di dalam hati. Maka tidak akan berguna istijabah dengan tubuh apabila tidak disertai istijabah dengan hati.” (lihat Al Fawa’id, hal. 88)

Sehingga tidaklah mengherankan jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan di dalam sabdanya, “Ingatlah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila ia baik maka baiklah seluruh tubuh. Dan apabila ia rusak maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah segumpal daging itu adalah jantung.” (HR. Bukhari dan Muslim). Di dalam hadits ini beliau mengumpamakan kedudukan hati bagi amalan seperti kedudukan jantung bagi anggota badan. Dengan hati yang bersih dan tunduk itulah akan muncul sikap pengagungan pada diri seorang hamba. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Demikian itulah, barang siapa yang mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah maka sesungguhnya itu terlahir dari ketakwaan hati.” (QS. Al Hajj [32] : 32). Namun ini sama sekali bukan berarti kita boleh mengesampingkan amalan-amalan lahiriyah. Sebab konsekuensi yang muncul dari pernyataan nabi di atas adalah kerusakan amal lahiriyah merupakan bukti adanya kerusakan di dalam batin (lihat Fathu Al Qawiy Al Matin, hal. 44)

Akan tetapi sesuatu yang seharusnya paling kita khawatirkan sekarang ini adalah sebagaimana yang dikhawatirkan oleh para sahabat, yaitu kemunafikan di dalam hati. Ibnu Abi Mulaikah mengatakan, “Aku telah bertemu dengan lebih dari 30 orang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mereka semua merasa khawatir dirinya terjangkit penyakit kemunafikan.” (Fathul Bari, 1/136). Maka siapakah kita ini apabila dibandingkan dengan para sahabat? Mereka adalah manusia terbaik, orang-orang yang paling bersih hatinya, paling dalam ilmunya, paling setia dengan petunjuk Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam serta paling besar pembelaannya terhadap perjuangan dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka kalau kita mau sedikit saja berpikir, tentu kita akan bertanya kepada diri kita masing-masing: “Sudahkah rasa takut seperti itu ada di dalam hati kita?”, walaupun sebenarnya kita harus jauh lebih takut tertimpa kemunafikan daripada mereka, karena ilmu kita yang sedikit, kesungguhan kita yang minim, dan pengorbanan kita yang belum ada apa-apanya?

Aduhai sungguh malang seorang hamba yang tidak menyadari betapa hina dirinya. Sebagian ulama salaf mengatakan, “Orang yang benar-benar berakal adalah yang mengenali jati dirinya serta tidak terpedaya oleh pujian orang yang tidak mengerti tentang hakikat dirinya.” (lihat Ma’alim fi Thariq fi Thalabil ‘Ilmi, hal. 118). Di akhir tulisan ini kami teringat nasihat indah Ibnu Taimiyah. Beliau mengatakan, “Setiap hamba sudah semestinya memiliki waktu-waktu khusus untuk menyendiri di dalam memanjatkan doanya, ketika berdzikir, mengerjakan shalat, bertafakkur, berintrospeksi diri dan juga dalam rangka memperbaiki hatinya.”(Majmu’ Fatawa, 10/638). Wallahul muwaffiq.

***

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Muraja’ah: Ustadz Aris Munandar

Sumber: https://muslim.or.id/

Allah Ta’ala Memberkahi Para Penghafal Al-Qur’an

Allah Ta’ala Memberkahi Para Penghafal Al-Qur’an

Wahai saudaraku yang tercinta, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala memberkahi setiap waktu dan keperluan para penghafal Al-Qur’an. Tahukah Anda bahwa para penghafal Al-Qur’an adalah orang yang paling banyak kesibukannya? Tidakkah Anda mengetahui bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak menyia-nyiakan waktunya untuk hal yang tidak bermanfaat walau sejenak?

Saya katakan kepada Anda bahwa sesungguhnya ini adalah barokah Al-Qur’an. Ketika mereka sibuk dengan Al-Qur’an pada siang dan malam hari mereka, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberkahi waktu demi waktu yang mereka lalui, meskipun mereka sibuk dengan menghafal, membaca, dan muraja’ah (mengulang) Al-Qur’an.

Bersamaan dengan itu, sebagaimana sebelumnya bahwa mereka tidak bermalas-malasan dalam setiap kesempatan apa pun, dan hal ini tidak mudah bagi setiap orang.

Oleh karena itu, tidakkah Anda suka jika Allah Subhanahu wa Ta’ala memberkahi setap waktu yang Anda lalui? Apakah Anda juga ingin mengambil manfaat dari waktu Anda tanpa menyia-nyiakannya untuk hal yang tidak bermanfaat walaupun sejenak?

Saya nasihatkan kepada Anda, “Jagalah Al-Qur’an pada siang dan malam serta berdoalah, ‘Ya Rabb, aku memohon kepada-Mu kebaikan dan barakah dalam setiap waktu yang aku lalui.’”

Dikutip dari buku Revolusi Menghafal Al-Qur’an (Cetakan ke-2), karya Syaikh Yahya Abdul Fatah Az-Zawawi, 2010, Penerbit Insal Kamil, Solo.

Disertai sedikit pengeditan bahasa oleh Redaksi Muslimah.Or.Id

Sumber: https://muslimah.or.id/

Buah Anggur yang Disebutkan dalam Al-Qur’an

Faedah Surat An Naas, Berlindung dari Godaan Setan Yang Terkutuk

Begitu indahnya jika kita giat mengkaji Al Qur’anul Karim. Saat ini kami akan mengulas tafsir surat An Naas yang kami ambil dari Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim karya Ibnu Katsir rahimahullah. Semoga bermanfaat.

 Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ (1) مَلِكِ النَّاسِ (2) إِلَهِ النَّاسِ (3) مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ (4) الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ (5) مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ (6)

Artinya,

1. Katakanlah: “Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.

2. Raja manusia.

3. Sembahan manusia.

4. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi,

5. yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,

6. dari (golongan) jin dan manusia.

Sifat-Sifat Allah

Ayat-ayat ini menerangkan  mengenai sifat-sifat Rabb, yaitu: [1] sifat rububiyah (yang dimintai perlindungan karena dialah yang menguasai manusia), [2] sifat mulkiyah (yang Maha Merajai) dan [3] sifat ilahiyah (yang berhak diibadahi). Jadi, Allah-lah yang menjadi Rabb (yang mengatur) segala sesuatu, Dialah yang merajainya dan Dialah ilah (yang berhak diibadahi). Oleh karenanya segala sesuatu itu makhluk yang diatur, dikuasai dan sebagai hamba bagi-Nya.

Meminta Perlindungan dari Was-Was Syaithon

Dari sini, segala sesuatu yang ingin mencari perlindungan diperintahkan untuk meminta perlindungan pada Rabb  yang memiliki sifat yang mulia ini. Segala sesuatu tersebut diperintahkan untuk meminta perlindungan dari gangguan syaithon yang biasa memberikan was-was sedang mereka dalam keadaan tersembunyi[1]. Setan yang memberikan was-was inilah setan yang biasa menemani manusia. Karena setiap insan (manusia) tidak bisa lepas dari qorin (setan yang terus menemaninya tadi) lalu membisikkan agar ia melakukan perbuatan keji. Setan akan berusaha melalaikan manusia ketika ia lalai dari Allah. Yang selamat dari gangguannya adalah orang yang mendapatkan perlindungan dari Allah Ta’ala. Sebagaimana terdapat dalam hadits yang shahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ وَقَدْ وُكِّلَ بِهِ قَرِينُهُ مِنَ الْجِنِّ ». قَالُوا وَإِيَّاكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « وَإِيَّاىَ إِلاَّ أَنَّ اللَّهَ أَعَانَنِى عَلَيْهِ فَأَسْلَمَ فَلاَ يَأْمُرُنِى إِلاَّ بِخَيْرٍ ».

“Tidaklah seorang pun dari kalian melainkan dikuasai pendamping dari kalangan jin.” Mereka bertanya, “Apakah engkau juga, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Aku juga termasuk, hanya saja Allah membantuku mengalahkannya lalu ia masuk Islam. Ia hanya memerintahkan kebaikan padaku.” (HR. Muslim no. 2814, dari ‘Abdullah bin Mas’ud)

Begitu juga terdapat hadits shahih dari Anas mengenai kisah Shofiyah yang mengunjungi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan saat itu beliau sedang i’tikaf. Ketika itu beliau keluar bersama Shofiyah karena waktu itu malam hari untuk menemaninya ke rumahnya. Di tengah jalan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditemui oleh dua orang Anshor. Ketika mereka berdua melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka lantas berjalan dengan cepatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda,

« عَلَى رِسْلِكُمَا إِنَّهَا صَفِيَّةُ بِنْتُ حُيَىٍّ » . فَقَالاَ سُبْحَانَ اللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ . قَالَ « إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِى مِنَ الإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ ، وَإِنِّى خَشِيتُ أَنْ يَقْذِفَ فِى قُلُوبِكُمَا سُوءًا – أَوْ قَالَ – شَيْئًا »

“Hendaklah kalian pelan-pelan saja jalannya. Ini adalah Shofiyah binti Huyay (istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).” Mereka berdua pun lantas mengatakan, “Subhanallah (Maha Suci Allah), wahai Rasulullah.”  Beliau lantas bersabda, “Sesungguhnya syaithon mengalir dalam diri manusia di tempat mengalirnya darah. Aku sungguh khawatir jika kejelekan telah merasuk ke dalam hati-hati kalian.” (HR. Bukhari no. 3281 dan Muslim no. 2175, dari Shofiyah binti Huyay)

Setan pun bisa semakin bangga jika seseorang menjelek-jelekkannya. Jika kendaraan mogok, janganlah menjelek-jelekkan syaithan karena syaithan akan semakin besar kepala. Namun ucapkanlah basmalah (bacaan “bismillah”).

Dari Abul Malih dari seseorang, dia berkata, “Aku pernah diboncengi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu tunggangan yang kami naiki tergelincir. Kemudian aku pun mengatakan, “Celakalah syaithan”. Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyanggah ucapanku tadi,

لاَ تَقُلْ تَعِسَ الشَّيْطَانُ فَإِنَّكَ إِذَا قُلْتَ ذَلِكَ تَعَاظَمَ حَتَّى يَكُونَ مِثْلَ الْبَيْتِ وَيَقُولَ بِقُوَّتِى وَلَكِنْ قُلْ بِسْمِ اللَّهِ فَإِنَّكَ إِذَا قُلْتَ ذَلِكَ تَصَاغَرَ حَتَّى يَكُونَ مِثْلَ الذُّبَابِ

Janganlah engkau ucapkan ‘celakalah syaithan’, karena jika engkau mengucapkan demikian, setan akan semakin besar seperti rumah. Lalu setan pun dengan sombongnya mengatakan, ‘Itu semua terjadi karena kekuatanku’. Akan tetapi, yang tepat ucapkanlah “Bismillah”. Jika engkau mengatakan seperti ini, setan akan semakin kecil sampai-sampai dia akan seperti lalat.” (HR. Abu Daud no. 4982)[2]

Setan Akan Menggoda Di Saat Manusia Lalai

Yang dimaksud ayat,

مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ

Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi.”

Sebagian ulama mengatakan bahwa yang dimaksud “waswasil khonnas” adalah setan akan berdiam di hati manusia. Jika ia lalai, maka setan tersebut akan membuat lalai dan membuat was-was atau kerancuan (setan akan menggambarkan bahwa yang baik itu jelek atau sebaliknya[3]). Namun jika ia mengingat Allah, setan pun akan khonnas (bersembunyi).[4]

Yang Memberikan Was-was dalam Hati: Jin dan Manusia

Allah Ta’ala berfirman,

الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ (5) مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ (6)

Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.” (QS. An Naas: 5-6)

Yang selalu memberikan was-was (berbagai kerancuan) dalam hati manusia adalah setan dari kalangan jin dan manusia[5]. Sebagaimana hal ini dapat dilihat dalam ayat lainnya,

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (QS. Al An’am: 112)[6]

Puji Syukur pada Allah Di Kala Terlepas dari Godaan Syaithon

Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أُحَدِّثُ نَفْسِي بِالشَّيْءِ لَأَنْ أَخِرَّ مِنْ السَّمَاءِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَتَكَلَّمَ بِهِ

“Seseorang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Ya Rasulullah sesungguhnya terbersit di dalam hatiku sesuatu, sungguh aku terjatuh dari langit lebih aku sukai dari pada aku mengatakannya.”  Ibnu ‘Abbas berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي رَدَّ كَيَدَهُ إِلَى الْوَسْوَسَةِ

“ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR ALHAMDULILLAH yang dapat menolak tipu dayanya dari perasaan was-was.” (HR. Abu Daud no. 5112 dan Ahmad 1/235)[7]

Semoga Allah senantiasa memberi kita taufik untuk giat merenungkan ayat-ayat-Nya. Amin Yaa Mujibas Saa-ilin.

 

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/

Akhir Kehidupan

Akhir Kehidupan

Surat Al Qoori’ah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
الْقَارِعَةُ، مَا الْقَارِعَةُ، وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْقَارِعَةُ، يَوْمَ يَكُونُ النَّاسُ كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوثِ، وَتَكُونُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوشِ، فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ، فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ، وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ، فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ، وَمَا أَدْرَاكَ  ا هِيَهْ، نَارٌ حَامِيَةٌ .

  1. Hari Al-Qaari’ah
  2. Apakah hari Al-Qaari’ah itu ?
  3. Tahukah kamu apakah hari Al Qaari’ah itu ?
  4. Pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebaran
  5. Dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan
  6. Dan adapun orang-orang yang berat timbangan(kebaikan)nya.
  7. Maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan.
  8. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya.
  9. Maka kembalinya adalah naar Hawiyah.
  10. Dan tahukah kamu apakah naar Hawiyah itu ?
  11.  (Yaitu) api yang sangat panas.

(Qs. Al Qariah)

Tafsir Surat Al Qoori’ah

Al Qaari’ah adalah salah satu nama Hari Kiamat. Al Qaari’ah berasal dari kata qara’a yang artinya mengetuk. Hari kiamat disebut al-Qariah, karena hari kiamat mengetuk dan mengejutkan seluruh manusia dengan berbagai kejadian yang mengerikan. Oleh karena itu kejadian tersebut dikolosalkan dan ditampakkan keagungannya oleh Allah ‘azza wa jalla melalui firmannya:

الْقَارِعَةُ، مَا الْقَارِعَةُ، وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْقَارِعَةُ، يَوْمَ يَكُونُ النَّاسُ …

“Hari Al Qaari’ah. Apakah hari Al Qoori’ah itu? Tahukah kamu apakah hari Al Qaari’ah itu? Pada hari itu manusia…” (Qs. Al Qaari’ah: 1-4)

karena sangat takut dan kagetnya,

كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوثِ ….

“…seperti anai-anai yang bertebaran” (Qs. Al Qoori’ah: 4)

Layaknya belalang yang bertebaran, sebagian menabrak yang lain.

Anai-anai sendiri adalah sejenis hewan yang ada di waktu malam, beterbangan saling bertabrakan, tidak tahu kemana mau pergi. Kalau dinyalakan api, binatang-bnatang itu akan saling menubrukkan diri ke dalamnya karena tidak mampu melihat dengan jelas. Demikianlah kondisi ummat manusia yang sudah kehilangan akal.

Adapun gunung yang memang bisu dan membatu di sebutkan :

كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوشِ …

“…seperti bulu yang dihambur-hamburkan” (Qs. Al Qoori’ah: 5)

Seperti bulu wol yang tercukur bersih sehingga menjadi lemah sekali, bisa beterbangan karena angin yang lembut saja.

Allah berfirman dalam surat An Naml,

وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ

“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan seperti jalannya awan.” (Qs. An-Naml: 88)

Setelah itu menjadi debu yang beterbangan lalu musnah tanpa tersisa sedikitpun yang bisa disaksikan. Saat itulah mizan terhadap amal perbuatan ditegakkan. Umat manusia terbagi dua kelompok, yaitu kaum yang bahagia dan kaum yang sengsara.

فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ

“Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya. (Qs. Al Qoori’ah: 6)

Yakni orang yang lebih banyak amal kebajikannya dibanding amal keburukannya

فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ،

“maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan.”(Qs. Al Qoori’ah: 7)

Artinya dalam Jannah yang penuh kenikmatan.

Sebaliknya,

وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ،

“Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan(kebaikan)nya” (Qs. Al Qoori’ah: 8)

Yakni amal kebajikannya tidak mampu mengimbangi amal keburukannya

فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ

“maka tempat kembalinya adalah Naar Haawiyah” (Qs. Al Qoori’ah: 9)

Yakni tempat tinggal dan kediamannya. Salah satu nama neraka (naar) adalah Haawiyah. Naar sebagai tempat tinggal itu bisa diibaratkan seperti ibu terhadap anaknya (ummuhu).

Allah berfirman dalam surat Al Furqaan ayat 65

إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا

“Sesungguhnya adzabnya itu adalah kebinasaan yang kekal”

Ada yang menafsirkan bahwa artinya adalah ‘induk otaknya’ (ubun-ubun) dicampakkan ke dalam naar (neraka), yakni penghuninya akan dilemparkan ke dalam naar dengan kepala di bawah.

وَمَا أَدْرَاكَ مَا هِيَه

“Dan tahukah kamu apakah Naar Haawiyah itu?” (Qs. Al Qoori’ah: 10)

Pertanyaan retorik ini untuk menunjukkan kehebatan peristiwa tersebut. Ini dijelaskan melalui  firman-Nya:

نَارٌ حَامِيَةٌ

“Yaitu api yang sangat panas” (Qs. Al Qoori’ah: 11)

Neraka yang sangat panas. Dibandingkan dengan api dunia, panasnya mencapai tujuh puluh kali lipat.

Kita memohon perlindungan kepada Allah subhaanahu wa ta’aala agar dijauhkan dari adzab neraka.

***

Disusun dari: Tafsir Juz ‘Amma Karimirrahman karya Asy Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’diy
Oleh: Ummu Afifah
Murajaah: Ustadz Ammi Nur Baits

Sumber: https://muslimah.or.id/