Shalatlah seperti Shalatnya Orang yang Hendak Berpisah dengan Dunia

Shalatlah seperti Shalatnya Orang yang Hendak Berpisah dengan Dunia

Hadits

Dari Abu Ayub Al Anshari radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلِّمْنِي وَأَوْجِزْ قَالَ إِذَا قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ وَلَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ وَأَجْمِعْ الْيَأْسَ عَمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ

“Seorang laki-laki menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: “Ya Rasulullah. Berilah aku nasehat yang ringkas.” Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kalau Engkau mengerjakan shalat, maka shalatlah seperti shalatnya orang yang hendak meninggalkan (dunia). Jangan berbicara dengan satu kalimat yang esok hari kamu akan meminta udzur karena ucapan itu. Dan perbanyaklah rasa putus asa terhadap apa yang ditangan orang lain.”

(Hasan. Dikeluarkan oleh Ahmad (5/412), Ibnu Majah(4171), Abu Nu’aim dalam Al Hilyah (1/462) Al Mizzi (19/347) dan Lihat Ash Shahihah (401))

Penjelasan Hadits

Alangkah indahnya ketiga wasiat ini. Apabila dijalankan oleh seorang hamba, maka sempurnalah semua urusan dan tentu dia akan berhasil.

Wasiat pertama, menganjurkan untuk menyempurnakan shalat dan berijtihad agar mengerjakannya dengan sebaik-baiknya. Hal itu dengan menghisab diri terhadap semua shalat yang dikerjakan serta menyempurnakan semua kewajiban, fardhu ataupun sunnah-sunnah yang ada di dalam shalat. Hendaknya juga bersungguh sungguh merealisasikan tingkatan ihsan yang merupakan derajat tertinggi, dengan kehadiran yang betul-betul sempurna di hadapan Rabbnya. Yakni bahwa dia sedang berbicara lirih dengan Rabbnya melalui apa yang dibacanya, yakni doa ataupun dzikir-dzikir lainnya. Tunduk kepada Rabbnya dalam setiap posisi; berdiri, ruku’, sujud, turun maupun naik (dari ruku’ atau sujud serta akan berdiri).

Tujuan yang mulia ini didukung pula dengan kesiapan jiwa tanpa ragu dan rasa malas di hatinya. Bahkan, hatinya senantiasa hadir dalam setiap shalat, seakan-akan itu adalah shalat orang yang akan berpisah (mau meninggal dunia) atau seolah-olah tidak akan shalat lagi sesudah itu (karena wafat).

Sudah dimaklumi bahwa orang yang akan meninggal dunia akan berusaha dengan sunguh-sunguh mencurahkan segenap daya upayanya, bahkan selalu dalam keadaan mengingat pengertian-pengertian dan sebab yang kuat, sehingga mudahlah semua urusannya, lalu itu menjadi kebiasaannya.

Shalat dengan cara seperti itu akan mencegah pelakunya dari semua akhlak yang rendah dan mendorongnya berhias dengan akhlak yang menarik, karena hal itu akan memberi pengaruh dalam jiwanya, yaitu bertambahnya iman, cahaya, dan kegembiraan hati, serta kecintaan yang sempurna terhadap kebaikan.

Wasiat kedua, menganjurkan untuk menjaga lisan dan senantiasa mengawasinya karena menjaga lisanlah kendali semua urusan seseorang. Jika seseorang mampu menguasai lisannya, niscaya dia dapat menguasai seluruh anggota tubuhnya yang lain. Tetapi jika justru dirinya dikuasai oleh lisannya dan tidak menjaganya dari perkataan yang mengandung mudarat, maka urusannya akan sia-sia, baik agama maupun dunianya. Maka janganlah berbicara sepatah katapun melainkan harus diketahui apa manfaatnya bagi agama atau dunia. Semua pembicaraan yang di dalamnya ada kemungkinan mendapat kritik atau bantahan, hendaknya ditinggalkan, karena kalau dia berbicara maka dikuasai oleh ucapan tersebut, sehingga ia akan menjadi tawanannya. Bahkan, sering kali menimbulkan mudarat yang tidak mungkin dihindari.

Wasiat ketiga, menyiapkan diri bergantung hanya kepada Allah semata dalam semua urusan kehidupan dunia dan akhirat. Tidak meminta kecuali kepada Allah dan tidak bersikap tamak kecuali terhadap karunia-Nya. Juga menyiapkan diri untuk berputus asa terhadap apa yang ada di tangan manusia. Demikian itu karena ‘putus asa’ adalah penjaga. Siapa yang berputus asa dari sesuatu, dia akan measa tidak membutuhkannya. Sebagaimana dia tidak meminta dengan lisannya kecuali hanya kepada Allah maka hatinya pun tidak bergantung kecuali kepada Allah.

Oleh sebab itu, tetaplah menjadi seorang hamba sejati bagi Allah, selamat atau bebas dari pengabdian kepada sesama makhluk. Sungguh, dia telah memilih kebebasan dari perbudakan mereka dan dengan itu pula dia telah memperoleh kedudukan yang tinggi dan mulia. Sesungguhnya bergantung kepada sesama makhluk menimbulkan kehinaan dan jatuhnya harga diri dan kedudukan seseorang sesuai dengan tingkat ketergantungannya kepada mereka.

Wallahu a’lam.

**

Dikutip dari Buku Mutiara Hikmah Penyejuk Hati, Syarah 99 Hadits Pilihan
Terjemah dari Kitab Bahjatul Qulubil Abrar Qurratul Uyunil Akhyar fi Syarhi Jawami’il Akhbar karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di

.
Penyebab Doa Tidak Terkabul

Penyebab Doa Tidak Terkabul

Saudariku, semoga Allah menyayangi diriku dan juga dirimu…. Melakukan kesalahan dalam berdoa bisa menjadi salah satu penyebab sehingga doa tak kunjung terkabul. Mengenali berbagai kesalahan dalam berdoa merupakan salah satu bentuk ikhtiar agar Allah berkenan mengabulkan doa kita.

Saudariku, semoga Allah memberi ilmu yang bermanfaat kepada diriku dan juga dirimu…. Tahukah engkau apa saja kesalahan-kesalahan yang sering terjadi dalam berdoa?

1. Menyepelekan kekhusyukan dan perendahan diri di hadapan Allah ketika berdoa.

Allah ta’ala berfirman,

ادْعُواْ رَبَّكُمْ تَضَرُّعاً وَخُفْيَةً إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

Berdoalah kepada Rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut.” (Q.S. Al-A’raf:55)

Allah ta’ala juga berfirman,

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَباً وَرَهَباً وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

“Sesungguhnya, mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) segala kebaikan, dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” (Q.S. Al-Anbiya’:90)

Seseorang yang berdoa seharusnya bersikap khusyuk, merendahkan diri di hadapan Allah, tawadhu’, dan menghadirkan hatinya. Kesemua ini merupakan adab-adab dalam berdoa. Seseorang yang berdoa juga selayaknya memendam keinginan mendalam agar permohonannya dikabulkan, dan dia hendaknya tak henti-henti meminta kepada Allah. Seyogianya, dia selalu ingin menyempurnakan doanya dan memperbagus kalimat doanya, agar doa tersebut terangkat menuju Al-Bari (Dzat yang Maha Mengadakan segala sesuatu), dan itu dilakukannya hingga Allah mengabulkan doa itu.

Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadits, yang sanadnya dinilai hasan oleh Al-Mundziri, dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian berdoa kepada Allah maka berdoalah kepada-Nya dengan penuh keyakinan bahwa doa tersebut akan dikabulkan. Sesungguhnya, Allah tidaklah mengabulkan doa seorang hamba, yang dipanjatkan dari hati yang lalai.”

2. Putus asa, merasa doanya tidak akan terkabul, serta tergesa-gesa ingin doanya segera terwujud.

Sikap-sikap semacam ini merupakan penghalang terkabulnya doa. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

يستجاب لأحدكم ما لم يعجل يقول دعوت فلم يستجب لي

Doa yang dipanjatkan seseorang di antara kalian akan dikabulkan selama dia tidak tergesa-gesa. Dirinya berkata, ‘Aku telah berdoa namun tidak juga terkabul.’

Telah diketengahkan, bahwa seseorang yang berdoa sepatutnya yakin bahwa doanya akan dikabulkan, karena dia telah memohon kepada Dzat yang Paling Dermawan dan Paling Mudah Memberi.

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

Dan Rabbmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu” (Q.S. Al-Mu’min:60).

Barang siapa yang belum dikabulkan doanya, jangan sampai lalai dari dua hal:

  • Mungkin ada penghalang yang menghambat terkabulnya doa tersebut, seperti: memutus hubungan kekerabatan, bersikap lalim dalam berdoa, atau mengonsumsi makanan yang haram. Secara umum, seluruh perkara ini menjadi penghalang terkabulnya doa.
  • Boleh jadi, pengabulan doanya ditangguhkan, atau dia dipalingkan dari keburukan yang semisal dengan isi doanya. Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu,

أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ” ما من مسلم يدعو بدعوة ليس فيها إثم ولا قطيعة رحم إلا أعطاه الله بها إحدى ثلاث : إما أن يعجل له دعوته وإما أن يدخرها له في الآخرة وإما أن يصرف عنه من السوء مثلها ” قالوا : إذن نكثر قال : ” الله أكثر “

Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang muslim memanjatkan doa yang tidak mengandung dosa dan tidak pula pemutusan hubungan kekerabatan, melainkan Allah akan memberinya salah satu di antara tiga hal: doanya segera dikabulkan, akan disimpan baginya di akhirat, atau dirinya akan dijauhkan dari keburukan yang senilai dengan permohonan yang dipintanya.” Para shahabat berkata, “Kalau begitu, kami akan banyak berdoa.” Rasulullah menanggapi, “Allah lebih banyak (untuk mengabulkan doa kalian).” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Ya’la dengan sanad jayyid; hadits ini berderajat sahih dengan adanya beberapa hadits penguat dari jalur ‘Ubadah bin Shamit yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Al-Hakim, serta dari jalur Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Ahmad dan selainnya.)

3. Berdoa dengan kedudukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta bertawasul dengannya.

Tindakan ini merupakan salah satu bentuk bid’ah dan bentuk kelaliman dalam berdoa. Dasarnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengajarkan cara berdoa semacam itu kepada seorang shahabat pun. Ini membuktikan bahwa berdoa dengan menggunakan kedudukan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertawasul dengan para pemilik kedudukan adalah amalan bid’ah, serta merupakan sebuah cara ibadah baru yang dikarang-karang tanpa dalil. Demikian juga dengan segala bentuk sarana yang berlebih-lebihan (ghuluw) yang menyebabkan doa terhalang untuk terkabul.

Adapun riwayat,

اسألوا بجاهي فإن جاهي عند الله عظيم

Bertawasullah dengan kedudukanku! Sesungguhnya, kedudukan sangat mulia di sisi Allah,

maka riwayat ini merupakan sebuah kedustaan besar atas nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak sahih disandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

4. Bersikap lalim dalam berdoa, misalnya: doa yang isinya perbuatan dosa atau pemutusan hubungan kekerabatan.

Sebagaimana tiga perkara yang disebutkan, perkara keempat ini juga menjadi salah satu penghalang terkabulnya doa seorang hamba. Sungguh, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

سيكون قوم يعتدون في الدعاء

Akan muncul sekelompok orang yang lalim dalam berdoa.” (H.R. Ahmad, Abu Daud, dan yang lainnya; hadits hasan sahih)

Allah ta’ala berfirman,

ادْعُواْ رَبَّكُمْ تَضَرُّعاً وَخُفْيَةً إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

Berdoalah kepada Rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut.” (Q.S. Al-A’raf:55)

Contoh sikap lalim: berdoa agar bisa melakukan dosa, agar bencana ditimpakan, atau supaya hubungan kekerabatan terputus. Sebagaimana hadits riwayat At-Tirmidzi dan selainnya dari Ubadah bin Shamit, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ما على الارض مسلم يدعو الله بدعوة إلا آتاه الله إياها ، أو صرف عنه من السوء مثلها ، ما لم يدع بإثم أو قطيعة رحم

Di muka bumi ini, tidak ada seorang muslim pun yang memanjatkan doa kepada Allah melainkan Allah pasti akan memberi hal yang dipintanya atau Allah akan memalingkannya dari keburukan yang senilai dengan isi doanya, sepanjang dia tidak memohon doa yang mengandung dosa atau pemutusan hubungan kekerabatan.” (HR. Turmudzi dan Ahmad; dinilai sebagai hadits hasan-shahih oleh Al-Albani).

Saudariku, bersabarlah dalam menanti terkabulnya doa, perbanyak amalan saleh yang bisa menjadi sebab terwujudnya doa, dan jauhi segala kesalahan yang bisa menyebabkan doa tidak kunjung terkabul. Semoga Allah merahmati kita ….

Kita pungkasi tulisan ini dengan memohon kepada Allah, agar Dia tidak menolak doa kita.

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dari jiwa yang tidak pernah puas, juga dari doa yang tidak terkabul.”

(H.R. Muslim, At-Tirmidzi, An-Nasa’i; hadits sahih)

***

Penulis: Ummu Asiyah Athirah
Muraja’ah: Ustadz Ammi Nur Baits

Maraji’ (referensi):

  • Al-Minzhar fi Bayani Katsirin min Al-Akhtha’ Asy-Syai’ah, karya Syekh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syekh, terbitan Jami’ah Al-Imam Muhammad bin Su’ud Al-Islamiyyah, tahun 1413 H.
  • Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, karya Syekh Al-Albani, Maktabah Asy-Syamilah.

Sumber: https://muslimah.or.id

.
Penyebab Doa Tidak Terkabul

Keutamaan Basmalah

Bismillah, alhamdulillah wa shalaatu wassalaam ‘ala rasuulillah wa ‘ala aalihi wa man tabi’ahu bi ihsan ila yaumiddin.

Seuntai kalimat yang sangat mulia, begitu mudah dilafalkan serta mendatangkan keberkahan. Dengan basmalah Allah Ta’ala membuka kitabnya yang mulia, dengan basmalah pula pembuka surat Nabi Sulaiman kepada Bilqis, dan dengan basmalah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam membuka surat-suratnya kepada para raja untuk mengajak mereka melakukan penghambaan diri hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Dengan membaca basmallah semoga Allah melimpahkan kepada kita keberkahnnya serta melindungi kita dari keburukan setan.

Keutamaan Basmalah

1. Membacanya dapat membuat setan menjadi kecil

Imam Ahmad bin Hanbal dalam musnadnya meriwayatkan dari seseorang yang dibonceng oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, ia berkata,

“Tunggangan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tergelincir, maka aku katakan: ‘Celaka setan.’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Janganlah engkau mengucapkan ‘celakalah setan.’ Karena jika engkau mengucapkannya, maka ia akan membesar dan berkata: ‘dengan kekuatanku, aku jatuhkan dia.’ Jika engkau mengucapkan bismillah, maka ia akan menjadi kecil hingga seperti seekor lalat.’”(HR. Ahmad, Abu Daud dan dishahihkan Al-Albani)

Ini merupakan berkah dari ucapan “Bismillah

2. Disunnahkan membaca basmalah sebelum memulai pekerjaan.

Oleh karena itu disunnahkan membaca basmalah pada awal setiap ucapan maupun perbuatan. Disunnahkan juga membacanya pada awal khuthbah. Dan disunnahkan juga membaca basmalah sebelum masuk kamar mandi.

3. Tidak sempurna wudhu sebelum membaca basmalah

Berdasarkan hadist dalam musnad Imam Ahmad dan juga dalam kitab Sunan dari riwayat Abu Huraira, Sai’id bin Zaid dan Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhum. Secara marfu’, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidak sah wudhu seseorang yang tidak menyebut nama Allah Ta’ala (mengucap basmalah)” (HR. Ahmad, Abu Daud, Ibn Majah, dan dishahihkan al-Albani)

4. Membaca Basmalah sebelum jima’ kelak anaknya akan dijauhkan dari gangguan setan.

Berdasarkan hadist dalam kitab Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari Ibn ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Seandainya salah seorang dari kalian hendak mencampuri istrinya ia membaca : ‘Bismillah allahumma janibnasy syaithaana wa janibisy syaithaana maa razaqtanaa (dengan menyebut nama Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari apa yang Engkau anugrahkan kepada kami),’ maka jika Allah menaqdirkan lahirnya anak maka anak itu tidak akan diganggu oleh setan selamanya.”

5. Menjauhkan rumah dari setan.

Dari Jabir radhyallahu ‘anhu berkata, saya mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Jika seseorang masuk kedalam rumahnya lalu ia menyebut asma Allah Ta’ala saat ia masuk dan saat ia makan, maka setan berkata kepada teman-temannya, ‘ tidak ada tempat bermalam bagi kalian dan tidak ada makan malam.’ Dan jika ia masuk, tanpa menyebut asma Allah Ta’ala saat hendak masuk rumahnya berkatalah syaithan: ‘kalian mendapatkan tempat bermalam, dan apa bila dia tidak menyebut nama Allah ketika hendak makan,maka setan berkata : ‘ kalian mendapatkan tempat bermalam dan makan malam.’” (Muttafaqun ‘alaih)

Demikian beberapa keutamaan Basmalah yang dapat kami sampaikan diantara keutamaannya yang banyak.

Wa shallallahu ‘ala nabiyyina walhamdulillahi rabbil ‘aalamiin..

***
artikel muslimah.or.id
Penulis: Ismiati Ummu Maryam
Murajaah: Ust Ammi Nur Baits

Maraji’:

  • Shahih Tafsir Ibnu Katsir juz 1 pustaka ibnu katsir.
  • Riyasdhus Shalihin, Al-imam An-Nawawi, Darussalam, Mesir.
  • QS : Al-An’am:27:30

Sumber: https://muslimah.or.id/

.
Shalatlah seperti Shalatnya Orang yang Hendak Berpisah dengan Dunia

Adakah Shalat Sunnah Setelah Witir

Berikut ini penjelasan yang disampaikan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah.

Pertanyaan:
Jika seseorang telah melakukan shalat tarawih dan witir kemudian dia kembali ke rumah lalu pergi lagi ke salah satu masjid untuk mendengarkan ceramah. Apakah dia diperbolehkan shalat sunnah tahiyyatul masjid?

Jawab:
Dalam permasalahan ini perlu kita pahami dengan baik. Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

اجعلوا آخر صلاتكم بالليل وتراً

“Jadikanlah penutup shalat malam kalian dengan shalat witir.”[1]

Beliau tidaklah mengatakan, “Janganlah kalian shalat setelah shalat witir!”

Dan kedua (makna) kalimat tersebut sangatlah berbeda. Jika seandainya saja beliau mengatakan “Janganlah kalian shalat setelah shalat witir” maka kami katakan, “Begitu juga janganlah shalat setelah witir di rumah kalian, jangan pula shalat ketika masuk masjid”. Sehingga hal ini bertentangan dengan hadits (yang memerintahkan shalat tahiyyatul masjid -pen) sebagaimana sabda beliau shallallahu’alaihi wasallam,

إذا دخل أحدكم المسجد فلا يجلس حتى يصلي ركعتين

“Jika salah seorang diantara kalian memasuki masjid janganlah duduk terlebih dahulu hingga menunaikan dua rakaat shalat.”[2]

Akan tetapi beliau shallallahu’alaihi wasallam mengatakan, “Jadikanlah penutup shalat malam kalian dengan shalat witir.” Artinya, maksud hadits ini adalah jika engkau hendak mengakhiri shalat malammu maka shalat witirlah. Namun jika engkau hendak shalat lagi setelahnya maka tidaklah mengapa dengan syarat ketika shalat witir engkau berprasagka tidak akan shalat lagi. Maka diperbolehkan bagimu melaksanakan shalat setelah witir.

Sebagai contoh ada seseorang yang shalat witir bersama imam dan dia mengira tidak akan shalat lagi (setelahnya). Namun ternyata dia ditakdirkan untuk bangun di akhir malam dan berkata, “Aku ingin menghabiskan akhir malam ku dengan shalat”. Kemudian dia shalat. Boleh atau tidak boleh?

Jawabannya: Boleh. Karena Rasulullah shallallahu’alaihiiwasallam tidaklah mengatakan, “Janganlah kalian shalat setelah witir” namun beliau bersabda, “jadikanlah penutup shalat malam kalian dengan witir”. Dan aku telah menjadikan akhir shalat malamku dengan witir, akan tetapi aku ditakdirkan untuk bangun malam melaksanakan shalat malam dua raka’at dua raka’at.

Adapun jika dipastikan ada sebab yang mengharuskan dirinya shalat setelahnya maka permasalahanya lebih jelas lagi. Misalnya, engkau telah melakukan shalat witir di masjidmu, kemudian engkau pergi ke masjid lainnya, dan engkau jumpai orang-orang masih shalat berjamaah disana maka masuklah dan shalatlah berjamaah bersama mereka. Jika mereka telah selesai shalat Witir maka berdirilah satu rakaa’t lagi untuk menggenapkan bilangan raka’atnya. Karena engkau telah melakukan witir sebelumnya.[3]

Demikian pula ketika engkau memasuki masjid maka shalatlah dua raka’at tahiyyatul masjid karena Nabi shallallahu’alaihi wasallam memerintahkan,

Jika salah seorang diantara kalian memasuki masjid maka janganlah duduk hingga shalat dua raka’at.”[2]

Maraji’ : Julasat Ramadhaniyyah ‘Am 1410 H, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Maktabah Asy-Syamilah.

***

Penerjemah: Tim Penerjemah Muslimah.Or.Id
Muroja’ah: Ust. Ammi Baits

Catatan redaksi:

[1] HR. Bukhari (998) dan Muslim (751)

[2] HR. Bukhari (444) dan Muslim (714)

[3] Karena terdapat larangan shalat witir dua kali dalam semalam. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam,

Tidak ada dua witir dalam semalam.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi dan dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud no.1439)

Sumber:  https://muslimah.or.id/

.
Betapa Indah Waktu Fajar

Betapa Indah Waktu Fajar

Bagaimana tidak?

Kewajibannya, menempatkanmu dibawah lindungan dan jaminan Allah.

Shalat sunnahnya, lebih baik daripada dunia dan seisinya.

Dan malaikat Tuhan yang bertugas di malam dan siang hari berkumpul pada saat itu, dan Allah kabarkan dalam firmanNya :

إنَّ قُرۡءَانَ ٱلۡفَجۡرِ كَانَ مَشۡهُودًا

”Sungguh Shalat subuh itu disaksikan oleh malaikat-malaikat-Nya”.

Abdah bin Abi Lubabah, seorang tabi’in mulia, pernah berkata : Para Ulama mengatakan:

“2 rakaat subuh lebih kuinginkan dari pada apapun dari umurku, dan mata yang terbangun untuk melaksanakannya lebih baik dari dunia dan seisinya.

Salah seorang ulama dizaman ini pernah berkata : Bagiku shalat subuh itu, salah satu dari sekian keindahan syariat islam, dan yang paling besar ganjarannya. Karena disana ada rahasia tersembunyi ; saat orang-orang tertidur lelap, kita bangun untuk memecah kesunyian malam dengan bacaan AL-Quran, merasa bagaikan orang asing dari dunia ini yang kemudian melakukan perjalanan bersama malaikat-malaikat Allah untuk mengagungkan kebesaran-Nya dikala subuh tiba.

 

Sumber: http://syafiqrizabasalamah.com

 

.

Lima Kiat untuk Ikhlas

Lima Kiat untuk Ikhlas

Ada beberapa hal yang membantu seorang untuk bisa ikhlas dalam beramal, yaitu :

Pertama, ketahuilah makna ikhlas terlebih dahulu.

Bagaimana mungkin engkau ingin mencapai sesuatu yang engkau sendiri tidak ketahui. Berapa banyak obrolan kita tentang ikhlas, doa kita yang berisi tentang ikhlas, tapi kita sendiri tidak tahu apa makna ikhlas yang sesungguhnya? Ketahuilah bahwa ikhlas adalah beramal karena Allah semata. Maka dengan demikian tanda seorang ikhlas dalam beramal adalah amalan lahiriah dan batiniah seorang selalu sama, dilihat atau tidak dilihat manusia. Sebaliknya seorang yang memiliki riya’ maka indikasinya adalah amalan yang ia tampakkan di hadapan manusia selalu lebih baik dari yang tidak nampak. Banyak di antara para salaf yang khawatir dirinya tertimpa penyakit kemunafikan yaitu memperbaiki amalan lahir dan tidak memperbaiki amalan batin.

Ibnu Abi Mulaikah rahimahullahu mengatakan :

أدركت ثلاثين من صحابة رسول الله صلى الله عليه وسلم كلهم يخاف على نفسه من النفاق

Aku menjumpai tak kurang dari 30 orang sahabat Rasulullah dan kesemuanya khawatir dirinya terjangkiti penyakit kemunafikan.

Beliau tidak berbicara bahwa mereka semua ikhlas dan bukan pula kita berlebihan dalam menjustifikasi hati kita apakah ikhlas atau riya’. Karena berlebihan dalam hal ini hanya memberikan celah kepada syaithan untuk merubuhkan hati manusia.

Imam an Nawawy rahimahullahu mengatakan :

Jika tersingkap kepada kita semua tentang apa-apa yang manusia lihat tentang kita dan disingkap pula prsangkaan-prasangkaan mereka kepada kita. Niscaya akan semakin tertutup banyak sekali pintu kebaikan, jiwa yang focus ke hal-hal yang tidak seharusnya, dan ini bukan jalan orang-orang yang penuh kebijaksanaan.

Dan ini benar adanya, banyak yang tidak jadi beramal kebaikan dengan alas an khawatir tertimpa riya’. Ketahuilah bahwa ini adalah celah masuk syaithan. Riya’ atau pamer disembuhkan bukan dengan meninggalkan amalan, melainkan dengan terus memperbaiki amal diiringi dengan memperbanyak amalan kebaikan. Namun yang perlu diperhatikan lebih adalah riya’ di pokok amal atau sejak awal amal sudah ditujukan kepada selain Allah, atau amalan yang tidak bisa dipisahkan awal dan akhirnya, maka ini perlu penanganan khusus berdasar keterangan para ulama’.

Kedua, memahami keagungan dan kekuasaan Allah azza wajalla. Allah befirman :

وَلَوْلا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَداً وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Kalaulah bukan karena keutamaan Allah dan rahmat-Nya atas kalian semua, niscaya tidak ada seorang pun dari kalian yang bersih dari perbuatan keji. Akan tetapi Allah membersihkan siapa saja yang dikehendaki. Dan Allah maha mendengar lagi maha mengetahui.” (QS ; An Nur : 21)

Maka apakah terpikir untuk mencari pandangan makhluk sementara ia tahu akan keagungan dan kekuasaan Allah terhadapnya? Sekali-kali tidak akan pernah. Maka kenalilah Allah dengan sebaik-baiknya, sehingga engkau bisa dengan baik berfikir tentang keagungan kekuasaan-Nya. Hanya Dial ah yang berhak untuk disembah.

Ketiga, memahami kondisi nafsu yang lebih banyak mencintai hal-hal yang melalaikan seperti malas-malas, syahwat, popularitas. Semoga Allah merahmati orang-orang yang tidak peduli pandangan manusia terhadapnya. Ketahuilah wahai anak cucu adam, engkau lahir di dunia ini sendiri, ditinggalkan dalam kubur pun sendiri, dibandkitkan bersendirian, dihisab pun demikian, maka jangan sekali-kali tertipu dengan pandangan manusia atas kalian. Kalian yang paling paham tentang kondisi kalian sendiri. Teruslah perangi nafsu-nafsu yang mengajak kepada keburukan, dan berusahalah untuk mengurangi ajakan-ajakan keburukan darinya.

Ketahuilah bahwa engkau lebih paham tentang kondisi hatimu sendiri. Pujian manusia tidak akan melenakanmu. Bertakwalah kepada Allah atas hal-hal yang tidak nampak di hadapan manusia. Senantiasalah untuk curiga dengan diri sendiri. Karena awal kerusakan seorang hamba bermula dari dia menyangka jiwanya telah baik. Dikatakan bahwa, barangsiapa yang menyangka dalam keikhlasannya ikhlas, maka dalam ikhlasnya butuh untuk diikhlaskan lagi. Sahl pun ditanya tentang amalan yang paling berat bagi jiwa, beliau pun menjawab

Berbuat ikhlas. Karena tidak ada kadar yang jelas.

Yusuf bin al Husain mengatakan :

أعز شيء في الدنيا الإخلاص، وكم أجتهد في إسقاط الرياء عن قلبي فكأنه يمقت على لون آخر.إذاً فالقضية تحتاج إلى مجاهدة، لا تتصور أنك تصل إلى الإخلاص وتثبت على هذا الأمر، إنما يحتاج القلب إلى معالجة، تحتاج النفس إلى مجاهدة مستمرة، فتنبه لنفسك وقلبك

Hal yang paling mulia di dunia ini adalah ikhlas. Betapa aku sudah berupaya menghilangkan rasa pamer dalam hatiku, toh akhirnya riya ini kembali dalam wujud yang lain. Maka untuk ikhlas butuh terus berperang melawan nafsu. Tidak ada gambaran yang jelas bahwa saat ini engkau berada dalam keikhlasan. Bahkan hati ini perlu untuk terus berbenah. Jiwa ini butuh untuk terus memerangi hal-hal buruk yang hinggap. Perhatikanlah hati dan jiwamu, wahai Hamba Allah.

Sufyan ats Tsauri rahimahullahu mengatakan :

Tidaklah aku menyembuhkan sesuatu yang lebih berat dari niatku sendiri. Ia seringkali berubah.

Sekali lagi, teruslah berupaya ikhlas bahkan dalam memerangi hawa nafsu dari keburukan, niscaya akan kalian temukan kelapangan dada. Karena Allah ta’ala berfirman :

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

dan orang-orang yang berjihad di jalan Kami niscaya akan kami berikan petunjuk yang lurus. Karena sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS ; Al Ankanbut : 69)

Keempat, ingatlah bahwa kita ini adalah hanya seorang hamba. Maka seorang hamba tidak berhak meminta ganti lain atas pelayanan kita terhadap tuan kita kecuali yang sudah ditetapkan tuannya. Selayaknya seorang hamba, maka harusnya melayani tuannya. Ketahuilah bahwa tuannya sudah berbuat baik kepadanya, memberikan nikmat yang tidak berharap ganti, dan setiap kebaikan dalam diri hamba tersebut adalah keutamaan yang Allah berikan, pemberian Allah, nikmat Allah, maka dengan ini semua apakah seorang masih saja menganggap amalannya layak mendapat balasan lain? Sekali-kali tidak akan.

Kelima, ketahuilah bahwa kita ini makhluk Allah yang lemah. Maka perbanyaklah memohon ampunan kepada Allah jalla wa’ala. Teruslah memohon untuk dikaruniai keikhlasan baik sebelum beramal, di tengah-tengah amal, atau setelahnya. Mohonlah perlindungan kepada Allah dari perbuatan riya’. Sebagaimana disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallama :

الشرك فيكم أخفى من دبيب النمل، وسأدلك على شيء إذا فعلته أذهب عنك صغار الشرك وكباره، تقول: اللهم إني أعوذ بك أن أشرك بك وأنا أعلم وأستغفرك لما لا أعلم

Berbuat syirik adalah lebih samar dari jejak langkah semut. Aku akan memberi tahu kalian tentang amalan yang dengannya akan hilang syirik besar dan kecil dari kalian. Yaitu doa :

اللهم إني أعوذ بك أن أشرك بك وأنا أعلم وأستغفرك لما لا أعلم

Allahumma inii audzubika an Usyrika bika wa ana a’lamu wa astaghfiruka limaa laa a’lamu

Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dengan sesuatu, dari yang aku tahu. Dan aku memohon ampunan kepada-Mu atas yang tidak kuketahui.”

Sumber: http://syafiqrizabasalamah.com

.