Jika Imam dan Makmum Berbeda Niat

Jika Imam dan Makmum Berbeda Niat

Syaikh ‘Abdul Aziz bin Baz rahimahullahu pernah ditanya: “Jika niat imam dan makmum berbeda, apakah shalatnya sah?

Beliau rahimahullahu menjawab:

الصو أنها صحيحة، الصواب أنها صحيحة إذا كان الإمام مثلاً يصلي العصر وجاء إنسان ما صلى الظهر فصلى خلفه بنية الظهر صحت على الصحيح، أو كان الإمام قد أدى الفريضة وصلى بالناس الآخرين النافلة وهي لهم فريضة كذلك، كما فعل معاذ كان يصلي مع النبي -صلى الله عليه وسلم- فريضته ثم يأتي بقومه ويصلي بهم فريضتهم وهو متنفل، أو كان الأمام مفترض والمأمومون متنفلون لا حرج في ذلك. جزاكم الله خيراً.

“Yang benar, shalatnya tetap sah (menurut pendapat yang lebih kuat). Jika imam sedang shalat ‘ashar misalnya, dan datang seseorang yang belum melaksanakan shalat dzuhur, kemudian dia shalat di belakang imam tersebut dengan niat shalat dzuhur, shalatnya sah menurut pendapat yang benar. Atau jika imam telah melaksanakan shalat fardhu, kemudian dia shalat mengimami orang-orang lainnya dengan niat shalat sunnah, dan para makmum tersebut shalat fardhu, maka shalatnya juga sah. Sebagaimana yang dilakukan Mu’adz, di mana beliau dahulu shalat fardhu bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian ia mendatangi kaumnya dan mengimami shalat fardhu mereka sedang ia berniat shalat sunnah. Atau (sebaliknya), imam melaksanakan shalat fardhu, dan para makmum berniat melaksanakan shalat sunnah, yang demikian itu juga tidak berdosa. Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan yang banyak.”

Beliau rahimahullahu juga pernah ditanya dengan pertanyaan yang serupa, “Jika niat makmum dan imam berbeda, apakah shalatnya sah?”

Maka beliau rahimahullahu menjawab:

الصواب أنها صحيحة؛ لأن الرسول -صلى الله عليه وسلم- صلى في الخوف ببعض المسلمين ركعتين صلاة الخوف، ثم صلى بالطائفة الأخرى ركعتين، فصارت الأولى له فريضة، والثانية له نافلة وهم لهم فريضة، وكان معاذ -رضي الله عنه- يصلي مع النبي -صلى الله عليه وسلم- في العشاء صلاة الفريضة، ثم يرجع ويصلي بقومه صلاة العشاء نافلةً له وهي لهم فرض، فدل ذلك على أنه لا حرج في اختلاف النية، وهكذا لو أن إنسان جاء إلى المسجد وصلى العصر, وهو لم يصلي الظهر, فإنه يصلي معهم العصر بنية الظهر ولا حرج عليه في أصح قولي العلماء, ثم يصلي العصر بعد ذلك. جزاكم الله خيراً

“Yang benar, shalatnya sah. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu shalat khauf mengimami sebagian kaum muslimin sebanyak dua raka’at, kemudian beliau shalat mengimami sebagian lainnya sebanyak dua raka’at. Maka shalat beliau yang pertama adalah shalat fardhu, dan yang kedua adalah shalat sunnah, sedangkan bagi para makmum merupakan shalat fardhu. Demikian juga Mu’adz radhiyallahu ‘anhu shalat isya’ bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian ia kembali kepada kaumnya dan mengimami shalat isya’ bagi mereka, yang merupakan shalat sunnah baginya dan shalat fardhu bagi mereka. Perbuatan beliau tersebut menunjukkan bahwa tidak mengapa jika terdapat perbedaan niat antara imam dengan makmumnya. Demikian pula, apabila seseorang masuk ke dalam masjid dan jama’ah yang ada sedang melaksanakan shalat ‘ashar, sedangkan dia belum menunaikan shalat dzuhur, maka dia shalat ‘ashar bersama mereka dengan niat shalat dzuhur. Hal tersebut tidaklah mengapa, menurut pendapat yang paling tepat diantara dua perkataan ulama. Baru setelahnya dia melaksanakan shalat ‘ashar. Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan yang banyak.”

Sumber:

Diterjemahkan oleh tim muslimah.or.id

Pemuraja’ah: Ustadz Raehanul Bahraen

Sumber

Amalan Paling Utama Sebelum Menunaikan Sholat

Amalan Paling Utama Sebelum Menunaikan Sholat

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz pernah ditanya:

تجديد الوضوء هل هو أفضل, أو الاعتكاف في مسجد, أو قراءة القرآن, أو تصلي السنة, أيهما أولى في هذه الأمور قبل إقامة الصلاة؟

Manakah amalan yang lebih utama sebelum melaksanakan shalat fardhu? Apakah memperbarui wudhu, i’tikaf di masjid, membaca al-Quran atau melaksanakan shalat sunnah?

Beliau rahimahullah menjawab:

تجديد الوضوء مستحب إذا كان قد توضأ سابقاً إذا جدد فهو أفضل ولا يلزمه تجدد الوضوء, والسنة أن يتقدم إلى الصلاة والجلوس في المسجد ينتظر الصلاة فيه خير عظيم, وإذا سمي اعتكاف فلا بأس؛ لأن اللبث في المسجد يسمى اعتكاف إذا نوى اعتكافاً عند انتظاره الصلاة أو الجلوس في المسجد يقرأ هذه قربة إلى الله-جل وعلا- فالمؤمن يتقرب إلى الله بما شرع فإذا قصد مسجد أن يقرأ فيه ويتعبد, ويصلي ونواه اعتكافا سواء ساعة أو ساعتين, أو يوم, أو يومين كله لا بأس, ولكن عليه أن يحافظ على الصلاة في جماعة في أوقاتها, ويحذر التخلف عن ذلك، وإذا أراد تجديد الوضوء إذا توضأ للظهر وأراد أن يجدد للعصر أو المغرب هذا أفضل, وإن صلى بالوضوء السابق فلا حرج

Memperbaharui wudhu dianjurkan jika orang yang melakukannya telah berwudhu sebelumnya. Jika ia memperbarui wudhu hal itu lebih utama, namun perkara tersebut tidaklah wajib. Dianjurkan bersegera (menuju masjid) untuk melaksanakan shalat dan duduk di dalamnya dalam rangka menunggu pelaksanaan sholat. Sebab padanya terdapat kebaikan yang besar. Tidak mengapa jika duduk di masjid tersebut dinamakan i’tikaf. Karena berada di dalam masjid pun bisa disebut i’tikaf jika diniatkan seperti itu sambil menunggu sholat atau duduk di dalam masjid sembari membaca al-Qur’an. Ini merupakan bentuk pendekatan diri kepada Allah Jalla wa ‘Alaa.

Seorang mukmin mendekatkan dirinya kepada Allah dengan amalan yang Allah syari’atkan. Apabila ia bermaksud mendatangi masjid untuk membaca al-Qur’an di dalamnya, beribadah, melaksanakan sholat dan ia meniatkannya sebagai i’tikaf, baik itu satu jam atau dua jam, sehari atau dua hari, seluruhnya adalah perkara baik. Akan tetapi wajib baginya menjaga shalat berjamaah pada waktu-waktunya serta berhati-hati dari meninggalkannya. Jika ia ingin memperbarui wudhunya, misalnya ia telah berwudhu untuk shalat Dzuhur, kemudian ia ingin memperbarui wudhunya untuk shalat Ashar atau shalat Maghrib, maka hal ini lebih utama. Namun jika ia sholat dengan wudhu yang sebelumnya maka tidak mengapa.

Dari fatwa ini, kita dapat mengetahui kearifan ulama, di mana mereka memberikan motivasi bagi umat untuk beramal shalih yang mustahab sebanyak dan sebaik mungkin, namun tetap mengutamakan perkara wajib. Karena menjaga hal wajib, meskipun tampak sedikit, jauh lebih utama dibandingkan memperbanyak yang sunnah, betapapun jumlahnya banyak.

Demikian hendaknya seorang muslim yang cerdas menyikapi waktu dan kesempatannya beramal. Ia memprioritaskan hal-hal yang wajib baginya, kemudian sunnah-sunnah yang utama, kemudian yang di bawahnya, sesuai dengan kondisi dan keadaannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam salah satu hadits qudsi:

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ

Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepadaKu dengan sesuatu yang lebih Aku cintai melainkan dengan apa-apa yang telah Aku wajibkan kepadanya” (HR. Bukhari no. 6502).

Mengenai hadits ini, Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad hafizhahullahu menjelaskan bahwa mendekatkan diri kepada Allah dengan menunaikan perkara wajib lebih dicintai di sisi Allah dibandingkan perkara-perkara yang sifatnya sunnah. Karena padanya terkandung pelaksanaan amalan yang Allah wajibkan dan meninggalkan apa yang Allah haramkan.

Orang yang melaksanakan kewajiban dan meninggalkan yang diharamkan disebut sebagai muqtashid. Barangsiapa melakukan hal tersebut dan mengiringinya dengan amalan-amalan sunnah maka dialah yang termasuk “as-sabiqu bil khairat” (yang berlomba-lomba dalam kebaikan).

Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita semua termasuk golongan hamba-Nya yang senantiasa berlomba dalam melakukan kebaikan dan ketaatan.


Penyusun: Ummu Qanita
Muraja’ah: Ustadz dr. Raehanul Bahraen
Rujukan: http://www.binbaz.org.sa/mat/20435

Sumber

Tata Cara Berdoa

Tata Cara Berdoa

Do’a ketika ada hajat atau permintaan kepada Allah

Disebut juga do’a mas’alah. Merupakan jenis yang umumnya dilakukan dalam berdo’a. Bentuk ini juga yang digunakan ketika membaca do’a qunut, dan pada beberapa rangkaian ibadah haji. Termasuk juga berdo’a ketika seperti malam akhir, berdo’a di antara adzan dan iqomah, berdoa ketika i’tikaf dan berdo’a pada semua waktu-waktu mustajab secara umum.

Caranya:

  1. Dianjurkan menghadap kiblat;
  2. Mengangkat kedua tangannya dengan telapak tangan terbuka di depan dada, tepatnya di pertengahan dada;
  3. Bentuk tangan terdapat beberapa pilihan cara:
    1. Kedua telapak tangan dibuka namun kedua tidak saling menempel, melainkan ada celah diantara keduanya, tidak harus di arahkan ke langit. Ini pendapat Hanafiyah.
    2. Telapak tangan mengarah ke langit dan punggung tangan ke arah bumi, boleh ditempelkan ataupun tidak, ini pendapat Syafi’iyyah
    3. Telapak tangan mengarah ke langit dan punggung tangan ke arah bumi, keduanya ditempelkan. Ini pendapat Hanabilah
    4. Boleh juga seseorang menutup wajahnya dengan telapak tangannya dan kedua punggung tangannya menghadap kiblat, menurut sebagian ulama.
  4. Memuji Allah dan bershalawat kepada Rosulullah;
  5. Membaca do’a-do’a;
  6. Tangan kembali seperti semula, tanpa mengusap wajah.

 

 

Sejatinya Hanya Ada Dua Hari Raya

Sejatinya Hanya Ada Dua Hari Raya

Dalam Islam, hari raya besar itu cuma dua, tidak ada yang lainnya, yaitu hari raya Idul Fithri (1 Syawal) dan Idul Adha (10 Dzulhijjah). Jadi Islam tidak memperingati perayaan lainnya seperti kelahiran Nabi, tahun baru Islam atau tahun baru lainnya, tidak ada peringatan turunnya Al Qur’an atau yang menandakan Nabi melakukan peristiwa tertentu. Seharusnya seorang muslim atau yang baru merasakan Islam, mencukupkan dengan dua perayaan tersebut.

Anas radhiyallahu ‘anhu berkata,

قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْمَدِينَةَ وَلأَهْلِ الْمَدِينَةِ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ « قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ يَوْمَيْنِ خَيْراً مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ النَّحْرِ

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa jahiliyah. Maka beliau berkata, “Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya Idul Fithri dan Idul Adha (hari Nahr)” (HR. An Nasai no. 1556 dan Ahmad 3: 178, sanadnya shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim sebagaimana kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth).

Kalau dikatakan bahwa dua hari raya di atas (Idul Fithri dan Idul Adha) yang lebih baik, maka selain dua hari raya tersebut tidaklah memiliki kebaikan. Sudah seharusnya setiap muslim mencukupkan dengan ajaran Islam yang ada, tidak perlu membuat perayaan baru selain itu. Karena Islam pun telah dikatakan sempurna, sebagaimana dalam ayat,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (QS. Al Maidah: 3). Kalau ajaran Islam sudah sempurna, maka tidak perlu ada perayaan baru lagi.

Perayaan di luar dua perayaan di atas adalah perayaan Jahiliyah karena yang dimaksud ajaran jahiliyah adalah setiap ajaran yang menyelisihi ajaran Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Sehingga merayakan perayaan selain perayaan Islam termasuk dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَبْغَضُ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ ثَلاَثَةٌ مُلْحِدٌ فِى الْحَرَمِ ، وَمُبْتَغٍ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ ، وَمُطَّلِبُ دَمِ امْرِئٍ بِغَيْرِ حَقٍّ لِيُهَرِيقَ دَمَهُ

Manusia yang dibenci oleh Allah ada tiga: (1) seseorang yang berbuat kerusakan di tanah haram, (2) melakukan ajaran Jahiliyah dalam Islam, dan (3) ingin menumpahkan darah orang lain tanpa jalan yang benar.” (HR. Bukhari no. 6882).

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

Disusun di pagi hari penuh berkah, 28 Rabi’ul Awwal 1435 H di Warak, Girisekar @ Pesantren Darush Sholihin
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://muslim.or.id/

Sejatinya Hanya Ada Dua Hari Raya

Ucapan Selamat pada Hari Raya Idul Fitri

Apa yang mesti kita ucapkan ketika bertemu saudara kita di hari raya Idul Fitri? Adakah ucapan khusus yang diajarkan?

Taqobbalallahu minna wa minkum

Perlu diketahui bahwa telah terdapat berbagai riwayat dari beberapa sahabat radhiyallahu ‘anhum bahwa mereka biasa mengucapkan selamat di hari raya di antara mereka dengan ucapan “Taqobbalallahu minna wa minkum” (Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian).

فعن جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ قَالَ : كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اِلْتَقَوْا يَوْمَ الْعِيدِ يَقُولُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ : تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْك . قال الحافظ : إسناده حسن

Dari Jubair bin Nufair, ia berkata bahwa jika para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berjumpa dengan hari ‘ied (Idul Fithri atau Idul Adha, pen), satu sama lain saling mengucapkan, “Taqobbalallahu minna wa minka (Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian).” Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan.[1]

Imam Ahmad rahimahullah berkata,

وَلَا بَأْسَ أَنْ يَقُولَ الرَّجُل لِلرَّجُلِ يَوْمَ الْعِيدِ : تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْك

“Tidak mengapa (artinya: boleh-boleh saja) satu sama lain di hari raya ‘ied mengucapkan: Taqobbalallahu minna wa minka”.

وَقَالَ حَرْبٌ : سُئِلَ أَحْمَدُ عَنْ قَوْلِ النَّاسِ فِي الْعِيدَيْنِ تَقَبَّلَ اللَّهُ وَمِنْكُمْ .قَالَ : لَا بَأْسَ بِهِ ، يَرْوِيه أَهْلُ الشَّامِ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قِيلَ : وَوَاثِلَةَ بْنِ الْأَسْقَعِ ؟ قَالَ : نَعَمْ .قِيلَ : فَلَا تُكْرَهُ أَنْ يُقَالَ هَذَا يَوْمَ الْعِيدِ .قَالَ : لَا

Salah seorang ulama, Harb mengatakan, “Imam Ahmad pernah ditanya mengenai apa yang mesti diucapkan di hari raya ‘ied (‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha), apakah dengan ucapan, ‘Taqobbalallahu minna wa minkum’?” Imam Ahmad menjawab, “Tidak mengapa mengucapkan seperti itu.” Kisah tadi diriwayatkan oleh penduduk Syam dari Abu Umamah.

Ada pula yang mengatakan, “Apakah Watsilah bin Al Asqo’ juga berpendapat demikian?” Imam Ahmad berkata, “Betul demikian.” Ada pula yang mengatakan, “Mengucapkan semacam tadi tidaklah dimakruhkan pada hari raya ‘ied.” Imam Ahmad mengatakan, “Iya betul sekali, tidak dimakruhkan.”

وَذَكَرَ ابْنُ عَقِيلٍ فِي تَهْنِئَةِ الْعِيدِ أَحَادِيثَ ، مِنْهَا ، أَنَّ مُحَمَّدَ بْنَ زِيَادٍ ، قَالَ : كُنْت مَعَ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ وَغَيْرِهِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانُوا إذَا رَجَعُوا مِنْ الْعِيدِ يَقُولُ بَعْضُهُمْ لَبَعْضٍ : تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْك .وَقَالَ أَحْمَدُ : إسْنَادُ حَدِيثِ أَبِي أُمَامَةَ إسْنَادٌ جَيِّدٌ

Ibnu ‘Aqil menceritakan beberapa hadits mengenai ucapan selamat di hari raya ‘ied. Di antara hadits tersebut adalah dari Muhammad bin Ziyad, ia berkata, “Aku pernah bersama Abu Umamah Al Bahili dan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya. Jika mereka kembali dari ‘ied (yakni shalat ‘ied, pen), satu sama lain di antara mereka mengucapkan,Taqobbalallahu minna wa minka” Imam Ahmad mengatakan bahwa sanad riwayat Abu Umamah ini jayyid.

‘Ali bin Tsabit berkata, “Aku pernah menanyakan pada Malik bin Anas sejak 35 tahun yang lalu.” Ia berkata, “Ucapan selamat semacam ini tidak dikenal di Madinah.”

Diriwayatkan dari Ahmad bahwasanya beliau berkata, “Aku tidak mendahului dalam mengucapkan selamat (hari raya) pada seorang pun. Namun jika ada yang mengucapkan selamat padaku, aku pun akan membalasnya.” Demikian berbagai nukilan riwayat sebagaimana kami kutip dari Al Mughni[2].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan, “Adapun tentang ucapan selamat (tah-niah) ketika hari ‘ied seperti sebagian orang mengatakan pada yang lainnya ketika berjumpa setelah shalat ‘ied, “Taqobbalallahu minna wa minkum wa ahaalallahu ‘alaika” dan semacamnya, maka seperti ini telah diriwayatkan oleh beberapa sahabat Nabi. Mereka biasa mengucapkan semacam itu dan para imam juga memberikan keringanan dalam melakukan hal ini sebagaimana Imam Ahmad dan lainnya. Akan tetapi, Imam Ahmad mengatakan, “Aku tidak mau mendahului mengucapkan selamat hari raya pada seorang pun. Namun kalau ada yang mengucapkan selamat padaku, aku akan membalasnya”. Imam Ahmad melakukan semacam ini karena menjawab ucapan selamat adalah wajib, sedangkan memulai mengucapkannya bukanlah sesuatu yang dianjurkan. Dan sebenarnya bukan hanya beliau yang tidak suka melakukan semacam ini. Intinya, barangsiapa yang ingin mengucapkan selamat, maka ia memiliki qudwah (contoh). Dan barangsiapa yang meninggalkannya, ia pun memiliki qudwah (contoh).”

Diselesaikan menjelang shalat tarawih, 30 Ramadhan 1431 H (8 September 2010) di Panggang-Gunung Kidul

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Muslim.Or.Id

[1] Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, Darul Ma’rifah, 1379, 2/446. Syaikh Al Albani dalam Tamamul Minnah (354) mengatakan bahwa sanad riwayat ini shahih.

[2] Al Mughni, Ibnu Qudamah Al Maqdisi, Darul Fikr, cetakan pertama, 1405, 2/250.

[3] Majmu’ Al Fatawa, Ibnu Taimiyah, Darul Wafa’, cetakan ketiga, 1426, 24/253.

[4] Majmu’ Fatawa Rosail Ibni ‘Utsaimin, Asy Syamilah, 16/129.

[5] Majmu’ Fatawa Rosail Ibni ‘Utsaimin, 16/128.

Sumber: https://muslim.or.id/

Lailatul Qodr Bisa Dilihat dan Dirasakan?

Lailatul Qodr Bisa Dilihat dan Dirasakan?

Seorang muslim tidak perlu memaksakan diri mencari-cari tanda-tanda malam lailatul qodr atau melihatnya. Hendaknya fokus pada 10 malam terakhir untuk beribadah. Hikmah dirahasiakan kapan malam tersebut agar terlihat siapa dari mereka yang memang bersungguh-sungguh mencari keutamaan malam lailatul qadar.

Namun sebagian orang bisa merasakan dan melihat malam lailatul qodr. Tanda-tandanya malam lailatul qodr diantaranya:

  • Udara terasa sejuk, tenang dan cerah. Dari Ibnu Abbas radhiallahu‘anhuma, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    ليلة لقدر ليلة سمحة, طلقةو لا حارة, ولا باردة, تصبح الشمس صبيحتها ضعيفة حمراء

    [malam] lailatul qodr adalah malam yang indah, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin, keesokan harinya cahaya sinar mataharinya melemah kemerah-merahan” (HR. At-Thayalisy 349, Ibnu Khuzaimah III/231, Bazzar I/486, dihasankan oleh syaikh Ali Hasan Al-Halabi).

  • Matahari pada pagi harinya jernih dan tidak ada sinar yang menyilaukan. Dari Ubay radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    صبيحة ليلة لقدر تطلع الشمس لا شعاع لها كأنها طست حتى ترتفع

    pagi hari malam lailatul qodr, matahari terbit tidak ada sinar menyilaukan, seperti bejana hingga meninggi” (HR. Muslim no. 762).

  • Ada rasa ketenangan dan kelezatan dalam beribadah karena para malaikat Jibril ‘alaihissalam malaikat turun pada malam tersebut. Allah Ta’ala berfirman,

    تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا

    Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril” (QS. Al Qodar: 4).
    Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan, “Banyak malaikat yang akan turun pada Lailatul Qodr karena banyaknya berkah pada malam tersebut. Karena sekali lagi, turunnya malaikat menandakan turunnya berkah dan rahmat. Sebagaimana malaikat turun ketika ada yang membacakan Al-Qur’an, mereka akan mengitari orang-orang yang berada dalam majelis dzikir (majelis ilmu). Dan malaikat akan meletakkan sayap-sayap mereka pada penuntut ilmu karena malaikat sangat mengagungkan mereka. Adapun “ar-ruh” ada pendapat yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah malaikat Jibril” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim 8/444, Darul Thayyibah, 1420 H, Syamilah).

Malam lailatul qodr terkadang bisa dilihat dan dirasakan. Pertanyaan berikut diajukan kepada syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, “apakah lailatul qodr bisa dilihat oleh mata manusia? Karena sebagian orang mengatakan jika mampu manusia melihat lailatul qodr maka ia akan melihat cahaya di langit. Bagaimana Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat melihatnya? Bagaimana seseorang bisa tahu bahwa ia melihat malam lailatul qodr? Apakah ia tetap mendapat pahala jika pada malam itu ia tidak melihatnya? Kami memohon penjelasan bersama dalilnya”.

Beliau menjawab, “malam lailatul qodr bisa dilihat dengan mata bagi mereka yang mendapat taufik dari Allah Subhanahu, dengan melihat tanda-tandanya. Para sahabat radhiallahu ‘anhum melihat dengan tanda-tandanya. Akan tetapi tidak melihatnya tidak menjadi penghalang mendapatkan pahala bagi mereka yang beribadah karena beriman dan mengharap pahala.

Hendaknya seorang muslim bersungguh-sungguh mencarinya pada 10 malam terakhir Romadhon –sebagaimana Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para sahabatnya rodhiallahu ‘anhum– untuk mencari pahalanya. Jika bertepatan dengan malam lailatul qodr ketika ia beribadah maka ia mendapat pahalanya walaupun ia tidak mengetahuinya.

Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من قام ليلة القدر إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه

Barangsiapa yang mengerjakan qiyamullail pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaq ’alaihi) (Majmu’ fatawa bin Baz, sumber: http://binbaz.org.sa/mat/638)

Demikian semoga bermanfaat. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam.

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

Sumber: https://muslim.or.id