Select Page
Tafsir Do’a Setelah Witir

Tafsir Do’a Setelah Witir

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Di bagian pertama kita membaca,

اللَّهُمَّ إِني أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ ، وَبِـمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَـتِكَ

“Ya Allah, aku berlindung dengan ridha-Mu dari kemurkaan-Mu, aku berlindung dengan maaf-Mu dari hukuman-Mu.”

Dalam doa ini kita melakukan tawassul. Dan inilah salah satu tawassul yang disyariatkan. Tawassul dengan menyebut sifat Allah, sebagai pengantar doa yang kita pinta.

Pertama, ketika kita membaca,

اللَّهُمَّ إِني أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ

“Ya Allah, aku berlindung dengan ridha-Mu dari kemurkaan-Mu

Kita bertawassul dengan ridha Allah, agar Dia melindungi kita dari murka-Nya. Dan ridha adalah lawan dari murka. Sehingga kita berlindung dari sesuatu dengan lawannya. Kita menjadikan ridha sebagai wasilah untuk membebaskan diri dari murka.

Kedua, kemudian kita membaca,

وَبِـمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَـتِكَ

“Aku berlindung dengan maaf-Mu dari hukuman-Mu.”

Di situ ada kata Mu’afah [مُعَافَات], dari kata ‘aafa – yu’aafi [عَافَى – يُعَافِي] yang artinya menjaga dan menyelamatkan dari segala bahaya. Ketika Allah memberikan ‘Afiyah kepada kita, berarti Allah menjaga kita dan menyelamatkan kita dari segala bencana, baik dalam urusan agama maupun bencana dunia.

Bencana dalam masalah agama berarti kesesatan. Yang itu menjadi penyebab, manusia bisa celaka di akhirat.

Lawan dari Mu’afah adalah Uqubah (hukuman). Hukuman Allah berikan, karena hamba melakukan dosa.

Dalam kalimat ini, kita berlindung dengan mu’afah Allah agar terhindar dari hukuman Allah. Artinya, kita berlindung dari dampak buruk dosa, sampai Allah memaafkan kita. Dan ada dua cara, seorang hamba mendapat ampunan Allah,

Pertama, Allah ampuni secara langsung. Allah maafkan, dan dosanya tidak dihitung.

Kedua, Allah berikan kita hidayah untuk bertaubat atau beramal. Kita diberi hidayah untuk mencari sebab ampunan dosa.

Ketiga, kita membaca,

وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ

Kalimat ini jika kita terjemahkan seperti tertera di teks berarti, “Aku berlindung kepada-Mu dari-Mu.”

Tapi kita bisa menambahkan di situ, kata yang diprediksikan. Kita tambahkan jadi:

“Aku berlindung kepada-Mu dari siksa-Mu”

Allah Dzat Yang Maha Agung, Maha Perkasa, Maha Kuasa. Apa yang bisa kita bayangkan, ketika Allah murka kepada salah satu makhluk-Nya? Kepada siapa dia bisa berlindung? Apa ada yang bisa dimintai tolong untuk menghindari murka Allah?

Jawabannya, Jelas tidak ada makhluk yang mampu melindungi! Tidak mungkin kita berlindung dari murka Allah, kecuali kepada Allah. Hanya Dia yang bisa melindungi kita dari hukuman-Nya.

Dalam kalimat ini, benar-benar menunjukkan puncak kepasrahan kita di hadapan Allah.

Bayangkan di saat kita berada di hadapan Allah. Tidak ada yang bisa kita andalkan ketika kita menghadap Allah. Tidak ada yang bisa dijadikan pembela ketika berhadapan dengan Allah. Selain kita bersimpuh, memohon perlindungan kepada-Nya, Dzat Yang Maha Pemurah. Innahu arhamur rahimiin..

Keempat, selanjutnya, kita menunjukkan keterbatasan kita,

لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ ، أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

“Aku tidak bisa menyebut semua pujian untuk-Mu, sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri..”

Di saat kita telah mengakui segala kelemahan kita dengan berlindung kepada-Nya, ternyata kita sendiri tidak bisa menunaikan kewajiban kita kepada Allah sebagaimana mestinya. Termasuk dalam hal memuji Allah. Kita menyatakan, betapa keterbatasan kita dalam melakukannya.

Di sana ada kata tsana’ [ثَنَاء], artinya mengulang-ulang pujian.

Kita menyatakan, bahwa kita tidak mampu memuji Allah dengan sebenar-benarnya. Dan tidak mungkin kita mampu melakukannya. Karena ada banyak sekali sifat-sifat baik Allah dan nama-nama-Nya yang tidak kita ketahui.

Perbuatan Allah tidak ada batasnya. Sementara semua perbuatan Allah adalah sempurna.

Firman Allah tidak ada batasnya, dan semua firman Allah itu sempurna.

Kebaikan Allah kepada makhluk-Nya tidak ada batasnya. Dan semua itu sempurna.

Di sini, kita mengikrarkan kesempurnaan semua sifat-sifat Allah.

(Disadur dari as-Syarh al-Mumthi, Imam Ibnu Utsaimin, jilid 4, hlm. 36 – 37.)

Allahu akbar…

Ternyata ada makna yang luar biasa dibalik doa yang kita baca. Meskipun kita sering melalaikannya. Hanya kita baca di lisan, tanpa perenungan.

Allahu a’lam

——-

Penulis: Ustadz Ammi Nur Baits

Baca selengkapnya https://muslimah.or.id/7523-tafsir-doa-setelah-witir.html

Kesalahan-kesalahan Seputar Waktu Sholat

Kesalahan-kesalahan Seputar Waktu Sholat

1. Kesalahan ketika mengqadha’ shalat yang telah lalu

Apabila ketinggalan shalat Maghrib misalnya, sebagian kaum muslimin mengqadha’nya bersama dengan shalat Maghrib pada keesokan harinya. Ini adalah suatu kesalahan yang besar, sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

إِنَّهُ لَيْسَ فِى النَّوْمَ تَفْرِيْطُ إِنَّمَا التَّفْريْطُ فِى الْيَقْظَةِ, فَإِذَا نَسِىَ أَحَدُكُمْ صَلَاةً أَوْ نَامَ عَنْهَا فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا

Tidak ada kelalaian ketika tidur. Sesungguhnya kelalaian itu terjadi hanya ketika terjaga. Oleh karena itu, apabila salah seorang di antara kalian lupa mengerjakan shalat ataupun tertidur, hendaknya dia mengerjakannya selagi ingat.”1

Hal itu disebabkan karena dia tidak tahu kapan dirinya akan menemui kematian. Maka alangkah baiknya bila dia mendahulukan hak Allah atas segala sesuatu.

2. Shalat pada waktu-waktu yang dilarang

Kadangkala, sebagian orang mengerjakan shalat nafilah (sunnah) pada waktu-waktu yang dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini adalah kesalahan yang jelas di kalangan mereka. Sebab, shalat nafilah itu tidak dibenarkan bila dikerjakan di setiap waktu. Akan tetapi, ada waktu-waktu yang dilarang mengerjakannya.

Dari Amr bin Abasah, dia berkata, “Aku bertanya, ‘Wahai Nabiyullah, beritahukan kepadaku tentang shalat?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Kerjakanlah shalat Subuh kemudian berhentilah mengerjakannya hingga matahari terbit dan naik karena matahari terbit di antara dua tanduk setan.pada saat itu, orang-orang kafir sedang bersujud kepadanya. Kemudian baru shalatlah, karena shalat pada waktu itu akan disaksikan dan dihadiri hingga ia akan membawa naungan dengan tombak. Kemudian berhentilah mengerjakan shalat ketika matahari tegak di atas kepalamu, karena pada saat itu neraka Jahannam tengah dinyalakan. Jika engkau telah mendapat bayangan, maka kerjakanlah shalat. Karena shalat pada saat itu akan disaksikan dan dihadiri hingga engkau mengerjakan shalat Ashar. Kemudian berhentilah shalat hingga menjelang Maghrib, karena matahari terbenam di antara dua tanduk setan. Pada saat itu, orang-orang kafir bersujud kepadanya.” Diriwayatkan oleh Ahmad dan Muslim, juga oleh Abu Dawud dan yang pertama adalah darinya. Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, waktu malam manakah yang didengar (oleh Allah ketika manusia berdoa, -ed.)? Beliau lalu menjawab:

جُوْفُ اللَّيْلِ الآخِرِ فَصَلُّ مَا شِئْتَ, فَإِنَّ الصَّلَاةَ مَشْهُوْدَةٌ مَكْتُوْبَةٌ حَتَّى تُصَلِّى الصُّبْحِ

Yaitu sepertiga akhir malam, lantas shalatlah sesukamu. Karena shalat pada waktu itu akan disaksikan dan dicatat (pahalanya) hingga engkau mengerjakan shalat Subuh”2

Sabda Rasulullah ‘tartafi’ (naik)’ dalam hadits tersebut menunjukan bahwa larangan shalat setelah Subuh tidak otomatis hilang dengan terbitnya matahari, tetapi harus setelah matahari naik. Hadits di atas menunjukan makruhnya mengerjakan shalat sunnah setelah shalat Ashar dan shalat Subuh serta makruhnya mengerjakan shalat ketika matahari terbit, berada di tengah (tengah hari), dan terbenam.

Uqbah bin Amir berkata, “Tiga waktu yang dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kami untuk mengerjakan shalat atau menguburkan orang yang meninggal dari kami, yakni; ketika matahari mulai terbit hingga naik, ketika matahari berada di tengah (tengah hari), dan ketika matahari doyong hendak terbenam hingga terbenam.”3

Imam Asy-Sayukani berkata, “Mereka berselisih mengenai shalat nawafil yang memiliki sebab seperti shalat Tahiyat, sujud tilawah, sujud syukur, shalat Id, shalat Kusuf, shalat Jenazah, dan shalat-shalat yang diqadha’.

Menurut madzhab Imam Syafi’I beserta kelompoknya, semua shalat di atas diperbolehkan tanpa dimakruhkan. Adapaun menurut madzhab Imam Abu Hanifah dan madzhab lainnya, shalat-shalat di atas termasuk yang dilarang berdasarkan keumuman hadits.4

Adapun shalat-shalat fardhu yang telah lalu, maka jumhur ulama berpendapat boleh mengqadha’nya kapan saja hingga pada waktu yang dilarang mengerjakannya berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ نَسِىَ صَلَاةً أَوْ نَامَ عَنْهَا فَكَفَرَتُهَا أَنْ يُصَلِّيْهَا إِذَا ذَكَرهَا

Barangsiapa yang lupa mengerjakan shalat atau tertidur, maka kafaratnya adalah hendaknya dia mengerjakannya ketika dia ingat.”5

Dalam suatu riwayat disebutkan, “Barangsiapa yang lupa mengerjakan shalat, maka hendaknya dia mengerjakan ketika dia ingat.” Sebab Allah ta’ala berfirman:

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِى

Dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku“. (Thaha [20]: 14)6

Adapun mengenai shlat Jenazah, apakah termasuk dalam keumuman larangan.

Al-Albani mengatakan, “Wajib mengakhirkan penguburan jenazah hingga keluar waktu yang dimakruhkan kecuali jika dikhawatirkan mayitnya akan berubah.”7

***

Catatan kaki

1 Diriwayatkan Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa-I, dan Ibnu Majah, Shahih Al-Jami’ (2410).

2 Dikeluarkan oleh Muslim (I/294) dan Abu Dawud (2/1277).

3 Dikeluarkan oleh Muslim (1/293) Musafirin, dan At-Tirmidzi (3/1030)

4 Nail Al-Authar (3/110).

5 Bukhari, Muslim dari Anas, Shahih Al-Jami’ (6571).

6 Dikeluarkan oleh Muslim, Abu Dawud, dan An-Nasa-I dari Abu Hurairah, Shahih Al-Jami’(6569).

7 Ahkamul Janaiz, karya Al-Albani (hal. 83).

Disalin ulang dari buku “400 Kesalahan dalam shalat“, Mahmud Al-Mishri, penerbit Media Zikir

Sumber

Keutamaan dan Pentingnya Sholat

Keutamaan dan Pentingnya Sholat

Ditulis oleh: Al-Faaqihuuz Zaman (ahli fiqih abad ini) Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin1
rahimahullah

بسم الله الرحمن الرحيم

Sholat adalah rukun kedua dari rangkaian lima rukun-rukun Islam, dan shalat adalah rukun yang paling ditekankan setelah dua kalimat syahadat.

Sholat adalah washilah (media) antara seorang hamba dengan Rabb-nya. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam telah bersabda,

إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا صَلَّى يُنَاجِي رَبَّهُ…

Sesungguhnya apabila seorang hamba mengerjakan shalat, maka ia sedang bermunajat kepada Rabb-nya…”2

Dan Allah berfirman dalam hadits Qudsi:

قَسَمْتُ الصَّلاَةَ بَيْنِى وَبَيْنَ عَبْدِى نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِى مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ ( الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ). قَالَ اللَّهُ تَعَالَى حَمِدَنِى عَبْدِى وَإِذَا قَالَ (الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ). قَالَ اللَّهُ تَعَالَى أَثْنَى عَلَىَّ عَبْدِى. وَإِذَا قَالَ (مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ). قَالَ مَجَّدَنِى عَبْدِى – وَقَالَ مَرَّةً فَوَّضَ إِلَىَّ عَبْدِى – فَإِذَا قَالَ (إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ). قَالَ هَذَا بَيْنِى وَبَيْنَ عَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَأَلَ. فَإِذَا قَالَ (اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ ). قَالَ هَذَا لِعَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَأَلَ

Aku membagi ash-Shalat (surat Al-Fatihah) antara Diri-Ku dan diri hamba-Ku menjadi dua bagian, dan bagi hamba-Ku adalah apa yang dipintanya. Apabila hamba tersebut membaca, ‘Segala puji hanya bagi Allah, Rabb semesta alam,’ maka Allah Ta’ala berfirman, ‘Hamba-Ku telah memuji-Ku.’ Jika ia mengucapkan, ‘Yang Maha Pemurah, lagi Maha Penyayang,’ maka Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah memujiku.’ Jika ia mengucapkan, ‘Yang Menguasai hari Pembalasan,’ maka Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah memuliakan-Ku.’ Jika ia mengucapkan, ‘Hanya kepada-Nya kami menyembah, dan hanya kepada-Nya kami memohon,’ maka Allah berfirman, ‘Inilah bagian bagi Diri-Ku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku dalah apa yang dia minta.’ Dan jika ia mengucpakan, ‘Berilah petunjuk kepda kami atas jalan yang lurus, yaitu jalan yang telah Engkau beri kenikmatan bagi yang mengikutinya, bukan jalan-jalan yang Engkau murkai dan bukan pula yang Kau sesatkan,’ maka Allah berfirman, ‘Ini hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang dimintanya.”’3

Sholat adalah latihan atas beragam bentuk peribadahan dalam serangkaian ritual shalat (yang tersusun) dari setiap pasangan yang indah. Takbir yang dengannya ibadah shalat dibuka, berdiri yang di dalamnya kalamullah (Al-Qur’an) dibacakan oleh para pelaku shalat, ruku’ yang di dalamnya Rabb diagungkan, berdiri dari ruku’(i’tidal) yang dipenuhi dengan pujian kepada Allah, sujud yang padanya Allah Ta’ala disucikan dengan ke-Mahatinggian-Nya, hadirnya sepenuh hati padanya do’a, lalu duduk untuk memohon dan memuliakan, serta diakhiri dengan salam.

Shalat adalah permohonan atas perkara-perkara yang penting dan pencegahan dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar. Allah Ta’ala berfirman:

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ

Dan mohonlah kalian dengan kesabaran dan shalat.” (QS. Al-Baqarah: 45).

Juga firman-Nya:

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ

Raihlah apa-apa yang diwahyukan kepadamu dari Al-Kitab dan tegakkanlah shalat. Sesungguhnya shalat melarang dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar.” (QS. Al-Ankabuut: 45).

Sholat adalah cahaya di dalam hati-hati kaum Mukminin dan yang melapangkan (dada-dada) mereka. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

الصَّلَاةُ نُوْرٌ.

Shalat adalah cahaya.”4

Juga sabda beliau:

مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَتْ لَهُ نُوْرًا وَبُرْهَانًا وَنَجَاةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

Barangsiapa yang menjaga shalat, dijadikan baginya cahaya, petunjuk dan keselamatan di hari kiamat.”5

Sholat adalah kebahagiaan jiwa kaum Mukminin dan keindahan pandangan-pandangan mereka. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Dijadikanlah indah dalam pandanganku ketika shalat.”6

Sholat adalah penyebab dihapuskannya kesalahan dan penolak beragam keburukan. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Bagaimana menurut kalian apabila ada sungai di depan pintu salah seorang di antara kalian, lalu ia mandi lima kali sehari padanya. Masihkan tertinggal kotoran walapun sedikit?” Para Sahabat menjawab, “Tidaklah ada kotoran yang tertinggla sedikit pun.” Beliau melanjutkan, “Demikianlah perumpamaan shalat yang lima waktu. Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan dengannya.”7

Juga sabda beliau Shallallahu’alaihi Wasallam, “Shalat yang lima waktu dan shalat Jumat hingga hari Jumat berikutnya sebagai penebus atas apa yang ada di antaranya, selama tidak melakukan dosa-dosa besar.”8

Sholat berjamaah lebih utama 70 derajat dari pada shalat sendirian. (Riwayat Ibnu ‘Umar dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam).

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Barangsiapa ingin dimudahkan untuk bertemu dengan Allah di kemudian hari dalam keadaan Muslim, maka hendaklah ia menjaga seluruh shalat-shalat yang lima waktu dimana saja ada seruan adzan. Sesungguhnya Allah Ta’ala mensyari’atkan bagi Nabi kalian sunnah-sunnah agama. Dan sesungguhnya kesemuanya itu termasuk sunnah-sunnah agama. Maka sekiranya kalian mengerjakan shalat-shalat tersebut di rumah-rumah kalian sebagaimana shalatnya orang yang lalai di rumahnya, maka sungguh kalian telah meninggalkan Sunnah Nabi kalian. Dan apabila kalian meninggalkan Sunnah Nabi kalian, maka sungguh kalian akan sesat. Tidaklah seorang laki-laki besuci(berwudhu’) dan membaguskan wudhu’nya, kemudian ia berangkat ke masjid dari masjid-masjid yang ada ini, melainkan Allah akan menuliskan (menetapkan) baginya satu kebaikan pada ayunan langkahnya, dan mengangkat satu derajatnya, serta menghapuskan satu kesalahan(dosa)nya. Sungguh kami telah melihat bahwa tiada seorang pun yang meninggalkannya melainkan dia seorang munafiq yang telah jelas kemunafiqkannya. Dan sungguh ada seseorang yang menunaikankannya dengan dipapah pada kedua kakinya hingga ia berdiri pada barisannya.”9

Khusyu’ dalam sholat adalah adanya kehadiran hati, dan penjagaan terhadapnya termasuk dari sebab-sebab masuk surga. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya beuntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu)orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat(yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi Surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Mukminuun 1-11).

Ikhlas hanya kepada Allah Ta’ala dalam shalat dan melaksanakannya sebagaimana yang telah dijelaskan dalam As-Sunnah merupakan dua syarat asasi bagi diterimanya ibadah shalat. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى.

Sesungguhnya amal itu bergantung niatnya, dan sesungguhnya bagi setiap orang adalah apa yang diniatkannya.”10

Juga sebagaimana sabda beliau Shallallahu’alaihi Wasallam,

صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّى

Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.”11

***

Ditulis pada tanggal 13/4/1406 H

Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin -Semoga Allah memasukan beliau dalam Surga-Nya-

Ditulis ulang dari buku “Sifat Shalat Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam Seakan-akan Anda shalat bersama beliau Shallallahu’alaihi Wasallam“, penerjemah: Ust. Ahmad Sabiq Abu Yusuf, Lc & Ust. Hayik el Bahja, Lc, penerbit: Media Tarbiyah, Bogor.

Catatan kaki

1 Dinukil dan diterjemahkan dari kitab Risalah fil Shifati Shalat Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam.
2 HR. Al-Bukhari (no. 531).
3 HR. Muslim
4 HR. Muslim
5 HR. Ahmad, Ibnu Hibban, dan ath-Thabrani.
6 HR. Ahmad dan an-Nasa-i
7 HR. Al-Bukhari dan Muslim
8 HR. Muslim
9 HR. Muslim
10 HR. Al-Bukhari dan Muslim
11 HR. Al-Bukhari

Sumber

Kesalahan-kesalahan Seputar Waktu Sholat

Makmum Datang Ketika Imam Sedang Tasyahud Akhir Sholat Jum’at

Pertanyaan:

Apakah ketika Masbuk mendapati imam sedang tasyahud akhir ketika shalat jum’at ia berniat jum’at atau dhzuhur?

Jawab:

Yang benar dalam masalah ini ia hendaknya meniatkan shalat dhzuhur karena makmum masbuk yang mendapati imam sedang tasyahud akhir dishalat jum’at maka ia tidak dianggap mendapatkan shalat jum’at, sehingga kewajiban dia mengerjakan shalat dhzuhur empat raka’at.
As-syaikh ibnu utsaimin ditanya:
السؤال: ماذا يفعل الإنسان إذا جاء يوم الجمعة والإمام في التشهد من صلاة الجمعة؟

Artinya:” Apa yang harus dilakukan seseorang ketika datang untuk shalat jum’at sedang imam posisinya sedang tasyahud?

الإجابة: إذا جاء الإنسان والإمام في التشهد في صلاة الجمعة فقد فاتته الجمعة فيدخل مع الإمام ويصلي ظهراً أربعاً؛ لأن الجمعة قد فاتته لقول النبي صلى الله عليه وسلم: “من أدرك ركعة من الصلاة فقد أدرك الصلاة”، فإن مفهومه أن من أدرك أقل من ذلك لم يكن مدركاً للصلاة. وقد روي عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: “من أدرك ركعة من الجمعة فقد أدرك”. أي: فقد أدرك صلاة الجمعة إذا أتى بالركعة الثانية. ـــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ
ـ مجموع فتاوى و رسائل الشيخ محمد صالح العثيمين المجلد السادس عشر – باب صلاة الجمعة.
Jawab:
Artinya: “Apabila seseorang datang untuk shalat jum’at sedang imam dalam posisi tasyahud, maka ia dianggap telah terlewatkan shalat jum’at, sehingga ia hendaknya masuk bergabung dengan imam dengan niat shalat dhzuhur empat raka’at, karena jum’at telah terlewatkan, hal ini berdasarkan sabda Nabi shalallahu alaihi wasallam: “Barangsiapa mendapati satu raka’at maka ia mendapati shalat.” sehingga hal ini bermakna barangsiapa yang mendapati kurang dari satu raka’at maka ia tidak dianggap mendapatkan shalat. Telah diriwayatkan dari Nabi shalallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:” barangsiap mendapatkan satu raka’at shalat jum’at maka dia telah mendapatkan shalat “.maksudnya ia telah mendapatkan shalat jum’at jika telah mendapatkan raka’at yang kedua.

(Majmu Fatawa wa Rasail Fadhilah al-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin jilid:16 bab shalat jum’at)

Semoga Allah memberikan kepada kita ilmu yang bermanfaat dan amal yang shalih. Amiin.
Wallahu a’lam bish-shawab

Ustadz Abu Umair Kuswoyo
@ Yayasan Islam Nurus Sunnah, Semarang

Kesalahan-kesalahan Seputar Waktu Sholat

Sholat Isya’ di Belakang Imam yang sedang Sholat Maghrib

Pertanyaan:

Ustadz, jika musafir shalat isya tapi bermakmum kepada imam yang sedang shalat magrib apakah diperbolehkan mengqosor isya dengan mencukupkan dua rakaat saja?

Jawab:

Jika jenis shalat imam dan makmum berbeda maka dalam hal ini makmum ada dua pilihan:
1. Boleh mengqosor shalat isyanya,
2. Menyempurnakan isya empat roka’at.

Hal ini dikarenakan magrib tidak bisa diqosor, adapun ketika antara imam dan makmum jenis shalatnya sama maka makmum wajib sempurna ketika bermakmum dengan imam yang shalat dengan sempurna, As-syaikh ibnu utsaimin pernah ditanya tentang masalah ini:

سئل فضيلة الشيخ‏:‏ عن رجل مسافر دخل المسجد، ووجد جماعة يصلون المغرب، وهو قد صلى المغرب، فصلى معهم بنية العشاء، ولما قام الإمام للركعة الثالثة، وجلس وتشهد وسلم‏.‏ فما حكم ذلك‏؟‏

Artinya: “As-syaikh pernah ditanya tentang seorang musafir yang masuk masjid, mendapatkan jama’ah sedang shalat magrib, dan ia sudah shalat magrib, kemudian ia shalat bersama mereka dengan niat isya, ketika imam berdiri ke raka’at ketiga: dia duduk, kemudian membaca tasyahud dan salam, apa hukumnya?

فأجاب فضيلته بقوله‏:‏ إذا دخل رجل مسافر قد صلى المغرب، فوجدهم يصلون المغرب، فدخل معهم بنية صلاة العشاء‏.‏ فمن العلماء من قال‏:‏ لا يصح دخوله؛ لاختلاف الصلاتين نية وعملاً‏.‏ ومنهم من قال‏:‏ يصح ذلك، فإذا قام الإمام للثالثة أكمل الداخل التشهد وسلم من ركعتين، وهذا هو الصحيح‏.‏ وله أن يقوم معه في الثالثة ويتم العشاء أربعاً‏.‏

Artinya: “Apabila seorang musafir masuk masjid sedang ia telah mengerjakan shalat magrib, kemudian ia mendapati jama’ah sedang shalat magrib dan bergabung ikut berjama’ah dengan mereka dengan niat shalat isya: maka para ulama dalam masalah ini, ada yang mengatakan: tidak boleh bergabung; karena berbeda niat dan paraktek shalat keduanya, dan sebagian lagi mengatakan: boleh bergabung”, sehingga ketika imam berdiri ke roka’at yang ketiga: hendaknya ia sempurnakan dengan tasyahud lalu salam dan ini yang benar, dan boleh juga baginya berdiri ikut rokaat ketiga kemudian sempurnakan menjadi empat raka’at”. (Majmu Fatawa As- syaikh Al-Utsaimin)

Semoga Allah memberikan hidayah taufiq kepada kita sekakian untuk isriqomah diatas jalan yang lurus. Amiin.
Wallahu a’lam bish-shawab

Ustadz Abu Umair Kuswoyo

Kesalahan-kesalahan Seputar Waktu Sholat

Hukum Menggabungkan Niat Beberapa Ibadah

Pertanyaan:

Ustadz, boleh tidak menggabungkan niat shalat tahiyatul masjid dengan qobliyah dzuhur? Dan apa dalilnya?

Jawab:

Boleh, menggabungkan shalat tahiyatul masjid dan qobliyah dzuhur, karena dua ibadah ini mungkin untuk digabung dalam satu waktu.

Dalilnya adalah sabda Nabi shalallahu alaihi wasallam:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ ، وَإِنَّمَا لاِمْرِئٍ مَا نَوَى ، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا ، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Artinya: “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, mkaa hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907).

Hadits ini menunjukan bahwa amal perbuatan kita akan dinilai tergantung niatnya, sehingga ketika seseorang melakukan suatu ibadah dengan niat berberapa amal ibadah maka dia akan mendapatkan pahala beberapa amal ibadah tersebut karena amal perbuatan dinilai tergantung niatnya.

BERBERAPA SYARAT IBADAH BISA DIGABUNG NIATNYA:

1. Jenis ibadah tersebut satu jenis, sperti: shalat digabung dengan shalat.
2. Waktunya sama
3. Tata caranya sama, ( baik gerakanya jumlah roka’atnya dll.)
4. Masing-masing ibadah tersebut bukan ibadah maksudah lidzatihi ( keberadaan ibadah tersebut merupakan tujuan utama disyari’atkannya ibadah tersebut)
5. Masing-masing ibadah tersebut bukan ibadah yang tab’i ( ngikut ) dengan ibadah yang lain, seperti: qobliyah dzuhur tidak bisa digabung dengan shalat dzhuhur.
6. Salah satu ibadah tersebut atau kedua-duanya bukan ibadah yang setausnya qadha, sperti: qadha puasa ramadhan tidak bisa digabung dengan puasa senin dan kamis ( menurut pendapat yang paling hati-hati)

Ketika ibadah-ibadah tersebut terpenuhi syarat-syarat diatas maka boleh digabung niatnya.

MANA YANG AFDHAL DIGABUNG ATAU DIPISAH NIATNYA

Dalam hal ini ada dua keadaan:
1. Jika waktu pelaksanaan ibadah tetsebut longgar maka yang terbaik dipisah-pisah niatnya.
2. Jika waktu pelaksanaan ibadah tetsebut sempit maka yang terbaik digabung niatnya: seperti ketika seseorang masuk masjid mendekati iqamah, maka ketika itu yang terbaik adalah diagbungkan niat shalat setelah wudhu, tahiyatul masjid dan qabliyah dzuhur.

Disebutkan dalam fatwa sual wa jawab:
وقال ابن رجب الحنبلي، رحمه الله:
” إذا اجتمعت عبادتان من جنس في وقت واحد، ليست إحداهما مفعولة على جهة القضاء، ولا على طريق التبعية للأخرى في الوقت؛ تداخلت أفعالهما، واكتفي فيهما بفعل واحد.

Artinya: Imam ibnu rajab al-hambali mengatakan:” jika dua ibadah yang sejenis berkumpul dalam satu waktu, salah satunya bukan ibadah qadha, bukan ibadah yang ngikut dengan ibadah yang lainnya yang satu waktu, maka pelaksanaannya boleh digabung, dan mengerjakan salah satunya sudah mencukupi yang lainnya “.

Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan bisa mengamalkannya didalam kehidupan sehari-hari. Amiin
Wallahu a’lam bish-shawab

oleh Ustadz Abu umair kuswoyo