Optimalkan Ibadah di Bulan Sya’ban

Optimalkan Ibadah di Bulan Sya’ban

Bulan Sya’ban adalah bulan yang terletak setelah bulan Rajab dan sebelum bulan Ramadhan. Bulan ini memiliki banyak keutamaan. Ada juga ibadah-ibadah yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada bulan ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisinya dengan memperbanyak berpuasa di bulan ini sebagai persiapan menghadapi bulan Ramadhan. Bulan ini dinamakan bulan Sya’ban karena di saat penamaan bulan ini banyak orang Arab yang berpencar-pencar mencari air atau berpencar-pencar di gua-gua setelah lepas bulan Rajab. Ibnu Hajar Al-‘Asqalani mengatakan:

وَسُمِّيَ شَعْبَانُ لِتَشَعُّبِهِمْ فِيْ طَلَبِ الْمِيَاهِ أَوْ فِيْ الْغَارَاتِ بَعْدَ أَنْ يَخْرُجَ شَهْرُ رَجَبِ الْحَرَامِ وَهَذَا أَوْلَى مِنَ الَّذِيْ قَبْلَهُ وَقِيْلَ فِيْهِ غُيْرُ ذلِكَ.

“Dinamakan Sya’ban karena mereka berpencar-pencar mencari air atau di dalam gua-gua setelah bulan Rajab Al-Haram. Sebab penamaan ini lebih baik dari yang disebutkan sebelumnya. Dan disebutkan sebab lainnya dari yang telah disebutkan.”1

Adapun hadits yang berbunyi:

إنَّمَا سُمّي شَعْبانَ لأنهُ يَتَشَعَّبُ فِيْهِ خَيْرٌ كثِيرٌ لِلصَّائِمِ فيه حتى يَدْخُلَ الجَنَّةَ.

Sesungguhnya bulan Sya’ban dinamakan Sya’ban karena di dalamnya bercabang kebaikan yang sangat banyak untuk orang yang berpuasa pada bulan itu sampai dia masuk ke dalam surga.”2

Hadits tersebut tidak benar berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Banyak orang menyepelekan bulan ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan hal tersebut di dalam hadits berikut:

عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنَ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ، قَالَ: ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ.

Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhuma bahwasanya dia berkata, “Ya Rasulullah! Saya tidak pernah melihat engkau berpuasa dalam satu bulan di banding bulan-bulan lain seperti engkau berpuasa di bulan Sya’ban ?” Beliau menjawab, “Itu adalah bulan yang banyak manusia melalaikannya, terletak antara bulan Rajab dan Ramadhan. Dia adalah bulan amalan-amalan di angkat menuju Rabb semesta alam. Dan saya suka jika amalanku diangkat dalam keadaan saya sedang berpuasa”.3

Amalan-amalan apa yang disyariatkan pada bulan ini?

Ada beberapa amalan yang biasa dilakukan oleh Rasulullah dan para as-salafush-shalih pada bulan ini. Amalan-amalan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Memperbanyak puasa

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperbanyak puasa pada bulan ini tidak seperti beliau berpuasa pada bulan-bulan yang lain.

عَنْ عَائِشَةَ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا- قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يَصُومُ, فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha bahwasanya dia berkata, “Dulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa sampai kami mengatakan bahwa beliau tidak berbuka, dan berbuka sampai kami mengatakan bahwa beliau tidak berpuasa. Dan saya tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyempurnakan puasa dalam sebulan kecuali di bulan Ramadhan. Dan saya tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada bulan Sya’ban.”4

Begitu pula istri beliau Ummu Salamah radhiallahu ‘anha mengatakan:

مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يَصُومُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ إِلاَّ شَعْبَانَ وَرَمَضَانَ.

“Saya tidak pernah mendapatkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa dua bulan berturut-turut kecuali bulan Sya’ban dan Ramadhan.”5

Ini menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hampir berpuasa Sya’ban seluruhnya. Para ulama menyebutkan bahwa puasa di bulan Sya’ban meskipun dia hanya puasa sunnah, tetapi memiliki peran penting untuk menutupi kekurangan puasa wajib di bulan Ramadhan. Seperti shalat fardhu, shalat fardhu memiliki shalat sunnah rawatib, yaitu: qabliyah dan ba’diyah. Shalat-shalat tersebut bisa menutupi kekurangan shalat fardhu yang dikerjakan. Sama halnya dengan puasa Ramadhan, dia memiliki puasa sunnah di bulan Sya’ban dan puasa sunnah enam hari di bulan Syawwal. Orang yang memulai puasa di bulan Sya’ban insya Allah tidak terlalu kesusahan menghadapi bulan Ramadhan.

2. Membaca Al-Qur’an

Membaca Al-Qur’an mulai diperbanyak dari awal bulan Sya’ban , sehingga ketika menghadapi bulan Ramadhan, seorang muslim akan bisa menambah lebih banyak lagi bacaan Al-Qur’an-nya. Salamah bin Kuhail rahimahullah berkata:

كَانَ يُقَالُ شَهْرُ شَعْبَانَ شَهْرُ الْقُرَّاءِ

“Dulu dikatakan bahwa bulan Sya’ban adalah bulan para qurra’ (pembaca Al-Qur’an).” Begitu pula yang dilakukan oleh ‘Amr bin Qais rahimahullah apabila beliau memasuki bulan Sya’ban beliau menutup tokonya dan mengosongkan dirinya untuk membaca Al-Qur’an.6

3. Mengerjakan amalan-amalan shalih

Seluruh amalan shalih disunnahkan dikerjakan di setiap waktu. Untuk menghadapi bulan Ramadhan para ulama terdahulu membiasakan amalan-amalan shalih semenjak datangnya bulan Sya’ban , sehingga mereka sudah terlatih untuk menambahkan amalan-amalan mereka ketika di bulan Ramadhan. Abu Bakr Al-Balkhi rahimahullah pernah mengatakan:

شَهْرُ رَجَب شَهْرُ الزَّرْعِ، وَشَهْرُ شَعْبَانَ شَهْرُ سُقْيِ الزَّرْعِ، وَشَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرُ حَصَادِ الزَّرْعِ.

“Bulan Rajab adalah bulan menanam, bulan Sya’ban adalah bulan menyirami tanaman dan bulan Sya’ban adalah bulan memanen tanaman.” Dan dia juga mengatakan:

مَثَلُ شَهْرِ رَجَبٍ كَالرِّيْحِ، وَمَثُل شَعْبَانَ مَثَلُ الْغَيْمِ، وَمَثَلُ رَمَضَانَ مَثَلُ اْلمطَرِ، وَمَنْ لَمْ يَزْرَعْ وَيَغْرِسْ فِيْ رَجَبٍ، وَلَمْ يَسْقِ فِيْ شَعْبَانَ فَكَيْفَ يُرِيْدُ أَنْ يَحْصِدَ فِيْ رَمَضَانَ.

“Perumpamaan bulan Rajab adalah seperti angin, bulan Sya’ban seperti awan yang membawa hujan dan bulan Ramadhan seperti hujan. Barang siapa yang tidak menanam di bulan Rajab dan tidak menyiraminya di bulan Sya’ban bagaimana mungkin dia memanen hasilnya di bulan Ramadhan.”7

4. Menjauhi perbuatan syirik dan permusuhan di antara kaum muslimin

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala akan mengampuni orang-orang yang tidak berbuat syirik dan orang-orang yang tidak memiliki permusuhan dengan saudara seagamanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَيَطَّلِعُ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ, فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ, إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ.

Sesungguhnya Allah muncul di malam pertengahan bulan Sya’ban dan mengampuni seluruh makhluknya kecuali orang musyrik dan musyahin.”8

Musyahin adalah orang yang memiliki permusuhan dengan saudaranya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga secara khusus tentang orang yang memiliki permusuhan dengan saudara seagamanya:

تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلاَّ رَجُلاً كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ فَيُقَالُ أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا.

Pintu-pintu surga dibuka setiap hari Senin dan Kamis dan akan diampuni seluruh hamba kecuali orang yang berbuat syirik kepada Allah, dikecualikan lagi orang yang memiliki permusuhan antara dia dengan saudaranya. Kemudian dikatakan, ‘Tangguhkanlah kedua orang ini sampai keduanya berdamai. Tangguhkanlah kedua orang ini sampai keduanya berdamai. Tangguhkanlah kedua orang ini sampai keduanya berdamai’9

Oleh karena itu sudah sepantasnya kita menjauhi segala bentuk kesyirikan baik yang kecil maupun yang besar, begitu juga kita menjauhi segala bentuk permusuhan dengan teman-teman muslim kita.

5. Bagaimana hukum menghidupkan malam pertengahan bulan Sya’ban?

Pada hadits di atas telah disebutkan keutamaan malam pertengahan bulan Sya’ban. Apakah di-sunnah-kan menghidupkan malam tersebut dengan ibadah? Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan:

وَصَلَاةُ الرَّغَائِبِ بِدْعَةٌ مُحْدَثَةٌ لَمْ يُصَلِّهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا أَحَدٌ مِنْ السَّلَفِ، وَأَمَّا لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَفِيهَا فَضْلٌ، وَكَانَ فِي السَّلَفِ مَنْ يُصَلِّي فِيهَا، لَكِنَّ الِاجْتِمَاعَ فِيهَا لِإِحْيَائِهَا فِي الْمَسَاجِدِ بِدْعَةٌ وَكَذَلِكَ الصَّلَاةُ الْأَلْفِيَّةُ.

“Dan shalat Raghaib adalah bid’ah yang diada-adakan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah shalat seperti itu dan tidak ada seorang pun dari salaf melakukannya. Adapun malam pertengahan di bulan Sya’ban, di dalamnya terdapat keutamaan, dulu di antara kaum salaf (orang yang terdahulu) ada yang shalat di malam tersebut. Akan tetapi, berkumpul-kumpul di malam tersebut untuk menghidupkan masjid-masjid adalah bid’ah, begitu pula dengan shalat alfiyah.”10

Jumhur ulama memandang sunnah menghidupkan malam pertengahan di bulan Sya’ban dengan berbagai macam ibadah. Tetapi hal tersebut tidak dilakukan secara berjamaah.11 Sebagian ulama memandang tidak ada keutamaan ibadah khusus pada malam tersebut, karena tidak dinukil dalam hadits yang shahih atau hasan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau pernah menyuruh untuk beribadah secara khusus pada malam tersebut. Hadits yang berbicara tentang hal tersebut lemah.

6. Bagaimana hukum shalat alfiyah dan shalat raghaib di malam pertengahan bulan Sya’ban ?

Tidak ada satu pun dalil yang shahih yang menyebutkan keutamaan shalat malam atau shalat sunnah di pertengahan malam di bulan Sya’ban . Baik yang disebut shalat alfiyah (seribu rakaat), dan shalat raghaib (12 rakaat). Mengkhususkan malam tersebut dengan ibadah-ibadah tersebut adalah perbuatan bid’ah. Sehingga kita harus menjauhinya. Apalagi yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin. Mereka berkumpul di masjid, beramai-ramai merayakannya, maka hal tersebut tidak diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Imam An-Nawawi mengatakan tentang shalat Ar-Raghaib yang dilakukan pada Jumat pertama di bulan Rajab dan malam pertengahan bulan Sya’ban :

وَهَاتَانِ الصَّلاَتَانِ بِدْعَتَانِ مَذْمُومَتَانِ مُنْكَرَتَانِ قَبِيحَتَانِ ، وَلاَ تَغْتَرَّ بِذِكْرِهِمَا فِي كِتَابِ قُوتِ الْقُلُوبِ وَالإْحْيَاءِ

“Kedua shalat ini adalah bid’ah yang tercela, yang mungkar dan buruk. Janganlah kamu tertipu dengan penyebutan kedua shalat itu di kitab ‘Quutul-Qulub’ dan ‘Al-Ihya’’.”12

7. Bagaimana hukum berpuasa di pertengahan bulan Sya’ban ?

Mengkhususkan puasa di siang pertengahan bulan Sya’ban tidak dianjurkan untuk mengerjakannya. Bahkan sebagian ulama menghukumi hal tersebut bid’ah. Adapun hadits yang berbunyi:

إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا نَهَارَهَا.

Apabila malam pertengahan bulan Sya’ban, maka hidupkanlah malamnya dan berpuasalah di siang harinya.”13

Maka hadits tersebut adalah hadits yang palsu (maudhu’), sehingga tidak bisa dijadikan dalil. Akan tetapi, jika kita ingin berpuasa pada hari itu karena keumuman hadits tentang sunnah-nya berpuasa di bulan Sya’ban atau karena dia termasuk puasa di hari-hari biidh (ayyaamul-biid/puasa tanggal 13, 14 dan 15 setiap bulan hijriyah), maka hal tersebut tidak mengapa. Yang diingkari adalah pengkhususannya saja. Demikian beberapa ibadah yang bisa penulis sebutkan pada artikel ini. Mudahan kita bisa mengoptimalkan latihan kita di bulan Sya’ban untuk bisa memaksimalkan ibadah kita di bulan Ramadhan. Mudahan bermanfaat. Amin. ***

Footnotes

[1] Fathul-Bari (IV/213), Bab Shaumi Sya’ban.

[2] HR Ar-Rafi’i dalam Tarikh-nya dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu. Syaikh Al-Albani mengatakan, “Maudhu’, ” dalam Dha’if Al-Jami’ Ash-Shaghir no. 2061.

[3] HR An-Nasai no. 2357. Syaikh Al-Albani menghasankannya dalam Shahih Sunan An-Nasai.

[4] HR Al-Bukhari no. 1969 dan Muslim 1156/2721.

[5] HR An-Nasai no. 2175 dan At-Tirmidzi no. 736. Di-shahih-kan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan An-Nasai.

[6] Lihat: Lathaiful-Ma’arif libni Rajab Al-Hanbali hal. 138.

[7] Lihat: Lathaiful-Ma’arif libni Rajab Al-Hanbali hal. 130.

[8] HR Ibnu Majah no. 1390. Di-shahih-kan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibni Majah.

[9] HR Muslim no. 2565/6544.

[10] Al-Fatawa Al-Kubra (V/344).

[11] Lihat: Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah (XXXIV/123).

[12] Al-Majmu’ lin-Nawawi (XXII/272). [13] HR Ibnu Majah no. 1388. Syaikh Al-Albani mengatakan, “Sanadnya Maudhu’,” dalam Adh-Dha’ifah no. 2132.

Daftar Pustaka
  1. Al-Khulashah fi Syarhil-Khamsiin Asy-Syamiyah. ‘Ali bin Nayif Asy-syahud. Darul-Ma’mur.
  2. At-Tibyan li Fadhail wa Munkarat Syahri Sya’ban. Nayif bin Ahmad Al-Hamd.
  3. Sya’ban, Syahrun Yaghfulu ‘anhu Katsir minannas. Abdul-Halim Tumiyat. www.nebrasselhaq.com
  4. Dan sumber-sumber lain yang sebagian besar telah dicantumkan di footnotes.

Penulis: Ustadz Said Yai Ardiansyah, Lc., M.A.

Sumber: Muslim.Or.Id

Kiat Khusyu’ Dalam Shalat

Kiat Khusyu’ Dalam Shalat

Segala puji hanya milik Allah Ta’ala yang telah mengaruniakan berbagai kenikmatan kepada kita dan menghindarkan berbagai mara bahaya dari kita. Sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga, sahabat dan seluruh orang yang senantiasa meniti sunnahnya hingga hari akhir.

Setiap muslim pasti mengetahui bahwa ibadah sholat adalah rukun Islam kedua setelah syahadatain. Agama seseorang tidak akan pernah tegak kecuali bila ia mendirikannya dengan baik, bagaikan suatu bangunan, tidak akan pernah tegak bila tonggak dan tiangnya rapuh.

(أَوَّلَ ما يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يوم الْقِيَامَةِ من عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ) رواه أبو داود والترمذي والطبراني

“Amalan pertama yang akan dipertanggung jawabkan oleh setiap hamba adalah sholatnya. Bila sholatnya telah baik, niscaya ia akan bahagian dan selamat. Akan tetapi bila ibadah sholatnya rusak, maka sungguh ia telah gagal lagi merugi”. Riwayat Abu Dawud, At Tirmizy, At Tabrani dan dihasankan oleh Al Albani.

Tidak mengherankan bila kita dapatkan banyak dalil yang menekankan agar kita senantiasa mendirikan sholat kita dan tidak meninggalkannya.

]وَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ وَآتُواْ الزَّكَاةَ وَارْكَعُواْ مَعَ الرَّاكِعِينَ[ البقرة 43

“Dan dirikanlah sholat, sunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.” Al Baqarah 43.

Dan Rasulullah r bersabda:

(إِنَّ بين الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلَاةِ) رواه مسلم

“Sesungguhnya penghalang seseorang dari menjadi seorang musyrik dan kafir adalah karena ia tidak meninggalkan sholat.” Riwayat Muslim.

Ayat dan hadits di atas, adalah sekelumit dalil yang membuktikan akan betapa besar kedudukan dan peranan sholat dalam kehidupan seorang muslim. Setiap muslim berkewajiban untuk memikirkan ibadah sholatnya dan mengerahkan segala daya dan upayanya agar dapat mendirikan sholatnya sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah Ta’ala.

]وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ[ العنكبوت 45

“Dan dirikanlah sholat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (dalam sholat) itu adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah lainnya). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Al Ankabuut 45.

Lebih terperinci, Rasulullah r menjelaskan makna ayat di atas dengan bersabda:

(إن العبد ليصلي الصلاة، ما يكتب له منها إلاَّ عُشْرُها تسعها ثمنها سبعها سدسها خمسها ربعها ثلثها نصفها ) رواه أحمد وأبو داود وحسنه الألباني

“Sesungguhnya seorang hamba sungguh telah mengerjakan sholat, akan tetapi tidaklah dituliskan pahala untuknya dari ibadah sholatnya tersebut selain sepersepuluh, sepersembilan, seperdelapan, sepertujuh, seperenam, seperlima, seperempat, sepertiga, atau setengahnya.” Riwayat Ahmad, Abu Dawud, dan dihasankan oleh Al Albani.

Al Hasan Al Bashri berkata: “Setiap orang mendirikan sholat, akan tetapi hatinya tidak ikut serta sholat, maka sholatnya itu lebih layak untuk menjadi penyebab turunnya siksa, dibanding penyebab turunnya rahmat.”

Berangkat dari pemahaman terhadap hadits ini, saya mengajak saudara-saudaraku sekalian untuk bersama-sama merenungkan kembali praktek sholat kiat.

Kiat Pertama: Mengenal Allah Ta’ala Yang Kita Ibadahi.

Betapa pentingnya bagi setiap muslim untuk mengenal Allah Ta’ala Yang ia ibadahi. Mengenal Allah Ta’ala dengan segala Nama dan Sifat-Nya adalah dasar bagi setiap amalan, bahkan dasar bagi keislaman kita. Allah Ta’ala berfirman:

]فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ[ محمد 19

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang berhak diibadahi) melainkan Allah.” Muhammad 19

Sebesar ilmu pengetahuan kita tentang Allah Ta’ala, maka sebesar itupulalah kekhusyu’an kita dalam ibadah. Tidak heran bila Allah Ta’ala berfirman:

]إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ[ فاطر 28

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hama-Nya hanyalah ulama’. Fathir 28

Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini dengan berkata: “Sesungguhnya orang yang dapat memiliki sebenar-benarnya rasa khasyyah hanyalah para ulama’ yang berilmu tentang Allah. Dengan demikian, setiap ilmu pengetahuan seseorang tentang Allah Yang Maha Agung, Maha Kuasa, Maha Berilmu, Yang memiliki Sifat-sifat Yang Sempurna dan Nama-nama Yang Indah, bertambah sempurna, maka rasa khasyyahnya  juga bertambah besar dan tinggi.([1]) ”

Bila kita mengingat bahwa Allah Ta’ala Maha Mengetahui, Maha Mendengar dan Maha Melihat setiap gerak dan ucapannya, baik yang lahir ataupun  yang batin, niscaya kita akan khusyu’. Bila ketika sholat, kita mengingat makna ucapan kita : “سمع الله لمن حمده : Allah Maha Mendengar orang yang memuji-Nya”, niscaya kita akan khusyu’.  Bila ketika sholat, kita menyadari bahwa Allah Maha Melihat setiap gerak kita, niscaya kita akan khusyu’.

(إِنَّ اللَّهَ قِبَلَ وَجْهِ أَحَدِكُمْ إذا صلى فلا يَبْزُقْ بين يَدَيْهِ) رواه البخاري ومسلم وأبو داود

“Sesungguhnya Allah menghadap ke wajah kalian di saat ia sedang mendirikan sholat, maka janganlah ia meludah ke arah depannya.” Riwayat Bukhary, Muslim  dan Abu Dawud.

Tidakkah kita malu untuk berhadapan dengan Allah Ta’ala dalam keadaan lalai, banyak bergerak, dan tidak menyempurnakan amalan sholat kita?

Dahulu Imam Al Warraq berkata: “Aku tidak pernah selesai dari mendirikan sholat, melainkan aku ditimpa rasa malu yang sangat mendalam, melebihi rasa malu seorang gadis pingitan yang selesai dari berzina.”

Sebagaimana hendaknya kita senantiasa menjadikan sholat kita sebagai gambaran singkat tentang apan yang akan kita alami kelak di alam mahsyar, ketika kita berhadapan langsung dengan Allah.

Sahabat Abu Hurairah t  berkata: “Kelak pada hari qiyamat, seluruh manusia akan dibangkitkan, masing-masing sesaui dengan apa yang ia lakukan ketika ia sholat.”

Bila kita mengetahui bahwa Allah Maha pedih siksa-Nya, niscaya kita akan khusyu’, dan kalbu kita akan tertutup dari godaan setan dan hal-hal lain.Oleh karena itu, banyak ayat  yang memerintahkan kita untuk mengamalkan sesuatu di akhiri dengan peringatan bahwa: Allah Maha pedih siksa-Nya.

Mazyad bin hausyab mengisahkan: Aku tidak pernah melihat orang yang lebih memiliki rasa khasyyah dibanding Al Hasan Al Bashri dan Umar bin Abdul Aziz, seakan-akan neraka jahannam hanya dipersiapkan untuk mereka.([2])

Bila kita mengetahui bahwa Allah Ta’ala Maha Indah dan Maha Sempurna,  niscaya akan berkobar rasa rindu dalam hati kita untuk berjumpa dengan Allah. Allah Ta’ala berfirman:

]فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاء رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا[ الكهف 110

“Barang siapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhan-nya, maka hendaknya ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan sesuatu apapun dengan beribadah kepada Tuhan-nya.”  Al Kahfi 110.

Andai kita mampu menghayati pujia-pujian yang kita ucapkan ketika sholat, di mulai dari takbir, bacaan Al Fatihah, dzikir ketika ruku’, sujud dan lainnya, niscaya kita khusyu’. Andai kita menyadari bahwa Allah Ta’ala adalah Tuhan Yang telah melimpahkan segala kenikmatan kepada kita, niscaya kita akan khusyu’.

Wahai saudaraku: Perumpamakanlah sholat yang kita peruntukkan kepada Allah Ta’ala Yang senantiasa melimpahkan kenikmatan dan kerahmatan kepada kita, bagaikan seperangkat hidangan yang kita kirimkan kepada seorang kaya raya, yang senantiasa memberi berbagai hadiah kepadamu. Layakkah, kita membalas segala kemurahan dan kerahmatan Allah dengan ibadah sholat yang compang camping, lagi kosong, bak binatang yang tidak bernyawa alias bangkai?.

Ketika  hendak memulai sholat, kita mengikrarkan bahwa Allah adalah Maha Agung, lebih Agung dibanding segala sesuatu selain-Nya? Akan tetapi mengapa ketika kita telah berada dalam sholat, Allah Ta’ala menjadi paling remeh, sehingga kita lupakan?

Kiat Kedua : Mengingat Kematian.

Kematian pasti menghampiri kita, tidak ada seorangpun dari kita yang dapat menghindar darinya. Kematian bukanlah akhir dari kehidupan kita, akan tetapi kematian adalah awal dari kehidupan yang sebenarnya. Oleh karena itu, hendaknya kita pandai-pandai mempersiapkan bekal untuk menghadapinya.

Kamatian hanya ada satu, akan tetapi masing-masing dari kita berbeda-beda dalam menghadapinya. Dari kita ada yang dimudahkan sehingga ia matipun dengan tersenyum, dan dari kita ada yang mati –na’uzubillah- dalam keadaan ketakutan dan kesakitan.

Pada suatu hari Umar bin Al Khatthab berkata kepada Ka’ab Al Ahbaar: Wahai, Ka’ab, ceritakan kepada kami tentang kematian. Ka’abpun berkata: Baiklah wahai Amirul Mukminin. Kematian bagaikan dahan pohon yang berduri banyak, lalu dimasukkan ke dalam kerongkongan seseorang. Setelah setiap duri menancap, sekonyong-konyong dahan tersebut dicabut oleh orang yang perkasa.”

Lain lagi dengan Syaddad bin Aus, ia menggambarkan kematian yang akan kita hadapi dengan berkata: Bagi seorang mukmin, kematian adalah hal paling menakutkan di dunia dan akhirat. Kematian itu lebih menyakitkan dibanding digorok dengan gergaji, atau dipoong dengan gunting atau direbus di dalam panci.”

Andai kita mengingat akan kematian yang demikian ini halnya, niscaya kita dapat melupakan segala hal yang tidak ada kaitannya dengan sholat. Oleh karena itu Nabi r berpesan:

(إذا قُمْتَ في صَلاَتِكَ فَصَلِّ صَلاَةَ مُوَدِّع) رواه احمد وابن ماجه وصححه الألباني

Bila engkau hendak mendirikan sholatlah, maka dirikanlah sholatmu seakan-akan engkau segera akan  menghadapi kematian (berpisah)“. Riwayat Ahmad, Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Al Albani

Kiat Ketiga : Ingatlah Dosa-dosa Kita.

Masing-masing dari kita pasti memiliki banyak dosa dan khilaf, baik dosa besar atau kecil. Dengan mengingat kembali perbuatan dosa tersebut ketika hendak sholat, akan menjadikan hati kita lunak. Bila kita mengingat akan dosa-dosa kita, niscaya kita akan mengharapkan ampunan Allah dan takut akan siksa-Nya. Oleh karena itu tatkala Rasulullah r menceritakan tentang keutamaan berwudlu, beliau bersabda:

(ما مِنْكُمْ رَجُلٌ يُقَرِّبُ وَضُوءَهُ فَيَتَمَضْمَضُ وَيَسْتَنْشِقُ فَيَنْتَثِرُ إلا خَرَّتْ خَطَايَا وَجْهِهِ وَفِيهِ وَخَيَاشِيمِهِ، ثُمَّ إذا غَسَلَ وَجْهَهُ كما أَمَرَهُ الله إلا خَرَّتْ خَطَايَا وَجْهِهِ من أَطْرَافِ لِحْيَتِهِ مع الْمَاءِ، ثُمَّ يَغْسِلُ يَدَيْهِ إلى الْمِرْفَقَيْنِ إلا خَرَّتْ خَطَايَا يَدَيْهِ من أَنَامِلِهِ مع الْمَاءِ، ثُمَّ يَمْسَحُ رَأْسَهُ إلا خَرَّتْ خَطَايَا رَأْسِهِ من أَطْرَافِ شَعْرِهِ مع الْمَاءِ، ثُمَّ يَغْسِلُ قَدَمَيْهِ إلى الْكَعْبَيْنِ إلا خَرَّتْ خَطَايَا رِجْلَيْهِ من أَنَامِلِهِ مع الْمَاءِ. فَإِنْ هو قام فَصَلَّى فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عليه وَمَجَّدَهُ بِالَّذِي هو له أَهْلٌ وَفَرَّغَ قَلْبَهُ لِلَّهِ إلا انْصَرَفَ من خَطِيئَتِهِ كَهَيْئَتِهِ يوم وَلَدَتْهُ أُمُّهُ) رواه مسلم

“Tidaklah ada seseorang dari kalian yang mengambil air wudlunya, kemudian ia berkumur-kumur, memasukkan air ke hidung lalu mengeluarkannya kembali, melainkan dosa-dosa wajah, mulut dan hidungnya akan berguguran bersama. Kemudian bila ia membasuh wajahnya sebagaimana yang Allah perintahkan, maka dosa-dosa wajahnya akan berguguran melalui ujung jenggotnya bersama tetesan air. Kemudian bila ia membasuh kedua tangan hingga kedua sikunya, maka kesalahan tangannya akan berguguran melalui ujung jemarinya bersama tetesan air. Kemudian bila ia mengusap kepalanya, maka kesalahan kepalanya akan berguguran melalui ujung rambutnya bersama tetesan air. Kemudian bila ia membasuh kedua kaki hingga kedua mata kakinya, maka dosa kakinya akan berguguran melaui ujung jemari kakinya bersama tetesan air. Lalu bila ia berdiri dan sholat, dan ketika ia sholat ia memuji Allah, menyanjung, dan mengagung-Nya dengan pujian yang sesuai dengan Allah, serta ia mengosongkan seluruh hatinya untuk Allah (khusu’), melainkan ia akan terbebas dari dosanya, seperti ketika ia dilahirkan oleh ibunya.”  Riwayat Muslim.

Kiat Keempat : Mengharapkan Doa Kita Dikabulkan.

Dalam kehidupan di dunia ini, kita senantiasa diliputi oleh berbagai cita-cita dan harapan. Berbagai daya dan upaya akan senantiasa kita kerahkan guna mewujudkan seluruh cita-cita tersebut. Diantara cara yang paling mudah dan cepat untuk mewujudkan cita-cita kita adalah dengan berdoa. Betapa tidak, Allah Ta’ala Yang Maha Kuasa dan Maha Kaya telah berjanji:

]وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ [البقرة 186

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasannya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu dalam kebenaran.” Al Baqarah 186.

Tahukah kita bahwa pada saat kita mendirikan sholat, doa kita lebih dikabulkan oleh Allah? Sehingga tidak mengherankan bila Nabi r berpesan kepada kita agar memperbanyak doa dalam sholat kita?

(ألا وَإِنِّي نُهِيتُ أَنْ اقرأ الْقُرْآنَ رَاكِعًا أو سَاجِدًا فَأَمَّا الرُّكُوعُ فَعَظِّمُوا فيه الرَّبَّ عز وجل وَأَمَّا السُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا في الدُّعَاءِ فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ) رواه مسلم

“Ketahuilah bahwa aku dilarang untuk membaca Al Qur’an ketika sedang ruku’ atau sujud. Adapun ruku’, maka hendaknya engkau mengagungkan Allah Azza wa Jalla padanya. Sedangkan sujud, maka hendaknya engkau bersungguh-sungguh dalam berdoa, karena doa kala itu sangat layak untuk dikabulkan.” Riwayat Muslim.

Pada hadits lain Rasulullah r, seusai mengajarkan bacaan tasyahhud, beliau berpesan:

(ثم ليتخير من الدعاء أعجبه إليه) . رواه أحمد والنسائي وصححه الألباني

“Kemudian hendaknya ie memilih doa-doa yang paling ia sukai,” Riwayat Ahmad, An Nasai dan dishohihkan oleh Al Albani.

Kiat Keempat : Sholatlah Sebagaimana Rasulullah r Sholat.

Diantara hal yang paling efektif agar kita dapat khusyu’ dalam sholat ialah dengan cara menjalankan sholat yang benar-benar selaras dengan sholat Nabi r. Dan diantara yang beliau rajarkan kepada kita adalah sholat dengan berjamaah. Oleh karena itu beliau berpesan kepada kita dengan bersabda:

(صَلُّوا كما رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي وإذا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أحدكم ثُمَّ لِيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ) رواه البخاري

“Hendaknya engkau mendirikan sholat sebagaimana engkau menyaksikan aku sholat. Dan bila waktu sholat telah tiba, hendaknya salah seorang dari kamu mengumandangkan azan, kemudian hendaknya orang yang paling tua dari kamu memimpin kalian sholat.” Riwayat Al Bukhary.

Kiat Kelima : Yakinlah Bahwa Rizqi Kita Telah Dijamin dan Tentukan Allah.

Para ualama’ menjelaskan bahwa diantara penyebab hilangnya khusyu’ dari kita adalah berkobarnya ambisi duniawi dalam sanubari dan terkikisnya keimanan kita terhadap takdir Allah. Andai kita yakin bahwa rizqi kita tidak akan terkurangi dan juga tidak akan dapat diambil orang, niscaya kita dapat khusyu’ ketika sholat.

لا تستبطئوا الرزق ، فإنه لن يموت العبد حتى يبلغه آخر رزق هو له، فأجملوا في الطلب: أخذ الحلال، وترك الحرام، وصححه الألباني

“Janganlah kamu merasa bahwa rizqimu telat datangnya, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga telah datang kepadanya rizqi terakhir (yang telah ditentukan) untuknya, maka tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rizqi, yaitu dengan mengambil yang halal dan meninggalkan yang haram.” Riwayat Abdurrazzaq, Ibnu Hibban, dan Al Hakim, serta dishohihkan oleh Al Albani.

Kiat Keenam : Doa.

Upaya dan kiat apapun yang kita lakukan bila tidak mendapatkan taufiq dan kemudahan dari Allah, niscaya akan berakhir dengan kegagalan. Bahkan andai, Allah tidak melimpahkan hidayahnya kepada kita, niscaya kita tidak akan pernah mengenal islam, apalagi menjadi umatnya.

]الْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَـذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلا أَنْ هَدَانَا اللّهُ[ الأعراف 43

“Segala puji hanya milik Allah yang telah melimpahkan petunjuk kepada kami kepada (surga ini). Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat pentunjuk kalau Allah tidak melimpahkan petunjuk kepada kami.”  AL A’araf 43.

Oleh karena itu Rasulullah  r mengajarkan kepada kita doa berikut:

(اللهم أَعِنَّا على شُكْرِكَ وَذِكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ)

“Ya Allah, tolonglah kami untuk dapat beryukur kepada-Mu, senantiasa mengingat-Mu dan dapat beribadah kepada-Mu dengan baik.” Riwayat Ahmad, dan lain-lain.

Demikian, sekelumit kiat yang dapat saya sampaikan pada kesempatan ini, semoga bermanfaat bagi kita semua, amiin.

 Keterangan:

[1] ) Tafsir Ibnu Katsir 3/553.

[2] ) Tarikh Madinah Ad Dimasyq 45/236.

Buang Air Kecil sambil Berdiri

Buang Air Kecil sambil Berdiri

Apabila ada hajat (kebutuhan), boleh buang air kecil sambil berdiri

Pada asalnya, buang air kecil hendaknya dilakukan dalam kondisi sambil duduk. Diriwayatkan dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,

مَنْ حَدَّثَكُمْ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَالَ قَائِمًا فَلَا تُصَدِّقُوهُ؛ مَا كَانَ يَبُولُ إِلَّا جَالِسًا

“Siapa saja yang mengabarkan kepada kalian bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam buang air kecil sambil berdiri, janganlah kalian benarkan. Beliau tidaklah buang air kecil kecuali sambil duduk.” (HR. An-Nasa’i no. 29, At-Tirmidzi no. 12 dan Ibnu Majah no. 307, shahih)

Hal ini karena ketika buang air kecil sambil berdiri kemungkinan besar akan menyebabkan terperciknya air kencing ke badan atau ke pakaian.

Akan tetapi, jika terdapat kebutuhan (hajat) untuk buang air kecil sambil berdiri, maka diperbolehkan. Sebagaimana sebuah hadits yang diriwayatkan dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu,

رَأَيْتُنِي أَنَا وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَتَمَاشَى، فَأَتَى سُبَاطَةَ قَوْمٍ خَلْفَ حَائِطٍ، فَقَامَ كَمَا يَقُومُ أَحَدُكُمْ، فَبَالَ، فَانْتَبَذْتُ مِنْهُ، فَأَشَارَ إِلَيَّ فَجِئْتُهُ، فَقُمْتُ عِنْدَ عَقِبِهِ حَتَّى فَرَغَ

“Aku ingat ketika aku berjalan-jalan bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau lalu mendatangi tempat pembuangan sampah suatu kaum di balik tembok dan buang air kecil sambil berdiri sebagaimana kalian berdiri. Aku lalu menjauh dari beliau, namun beliau memberi isyarat kepadaku agar aku mendekat. Aku pun mendekat dan berdiri di belakang beliau hingga beliau selesai.” (HR. Bukhari no. 225 dan Muslim no. 273)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta Hudzaifah untuk mendekat karena ingin menjadikan badan Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu sebagai penutup (pembatas) beliau yang sedang buang air kecil sehingga aman dari pandangan orang lain.

Hadits riwayat Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu di atas tidaklah bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Hadits ‘Aisyah menceritakan mayoritas keadaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau buang kecil. Sedangkan hadits Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu menjelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah buang air kecil sambil berdiri dalam sebagian kondisi (keadaan). Para ulama menjelaskan bahwa perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut menunjukkan bolehnya buang air kecil sambil berdiri. Atau ketika itu tidak memungkinkan bagi beliau untuk buang air kecil sambil duduk.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala menjelaskan bahwa terdapat dua syarat ketika buang air kecil sambil berdiri, yaitu: (1) aman dari terkena percikan air kencing; dan (2) aman dari dilihat orang lain. (Syarhul Mumti’, 1: 92)

Bagaimana dengan tempat buang air kecil sambil berdiri (urinoir) yang terdapat di fasilitas umum?

Sering kita jumpai tempat buang air kecil sambil berdiri (urinoir) yang disediakan di fasilitas umum, dalam kondisi berjejer di toilet dan disediakan untuk kaum laki-laki. Fasilitas semacam ini tentu bermasalah, karena belum memenuhi persyaratan ke dua yang disebutkan oleh Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullahu Ta’ala di atas.

Di antara adab yang perlu diperhatikan ketika buang air kecil adalah menjauh dari pandangan orang lain. Yang menjadi kewajiban adalah menjaga tertutupnya aurat, dan disunnahkan (dianjurkan) untuk menutupi semua anggota badan dari pandangan orang lain.

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Ja’far radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

أَرْدَفَنِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ خَلْفَهُ. فَأَسَرَّ إِلَيَّ حَدِيثًا لَا أُحَدِّثُ بِهِ أَحَدًا مِنَ النَّاسِ وَ كَانَ أَحَبَّ مَا اسْتَتَرَ بِهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِحَاجَتِهِ، هَدَفٌ أَوْ حَائِشُ نَخْلٍ. قَالَ ابْنُ أَسْمَاءَ فِي حَدِيثِهِ: يَعْنِي حَائِطَ نَخْلٍ

“Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memboncengku di belakangnya, lalu beliau membisikkan satu hadits yang tidak aku ceritakan kepada seorang pun. Dan sesuatu yang paling disukai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk dijadikan sebagai penghalang ketika buang hajat adalah bukit pasir atau rerimbunan pohon kurma.” Ibnu Asma’ berkata, “Yaitu (semacam) pagar dari pohon kurma.” (HR. Muslim no. 342)

Dalam hadits di atas, yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah beliau menjadikan sesuatu yang cukup tinggi sebagai penghalang badan beliau, misalnya bukit pasir atau rerimbunan pohon kurma. Sehingga tidak ada yang bisa melihat beliau ketika sedang buang air kecil.

Adab semacam ini tidaklah bisa kita laksanakan ketika buang air kecil di urinoir tersebut, karena tidak ada sekat antara urinoir satu dengan yang lainnya. Kalaupun ada sekat, sekat tersebut sangat pendek (rendah). Sehingga kita masih bisa melihat orang lain yang sedang buang air kecil.

Oleh karena itu, kami berharap kepada pihak-pihak yang memiliki kewenangan dalam penyediaan fasilitas umum seperti ini untuk tetap memperhatikan bagaimanakah ketentuan atau adab yang diajarkan oleh Islam ketika buang air kecil, mengingat pengguna fasilitas umum tersebut tentunya mayoritasnya adalah umat Islam.

 

@Markas YPIA, 3 Jumadil akhir 1440/ 8 Februari 2018

Penulis: M. Saifudin Hakim

Referensi:

Kitaabul Adab, karya Fuad ‘Abdul ‘Aziz Asy-Syahlub, hal. 182-184 (penerbit Daarul Qaasim Riyadh KSA, cetakan pertama tahun 1423).

Sumber: https://muslim.or.id/

Sucikan Jiwamu Dengan Berwudlu

Sucikan Jiwamu Dengan Berwudlu

Sering kali kita menyaksikan tanda-tanda keesaan Allah. Sudah berapa kali kita mendapatkan teguran dari Allah, melalui musibah, penyakit dan lainnya?!. Betapa banyak, kita membaca ayat-ayat Allah?! Akan tetapi, mengapa hati kita tidak tergetarkan oleh itu semua?!. Bahkan kita tetap merasa tidak terpanggil untuk kembali kepada Allah. Tidakkah kita berpikir walau sejenak: mengepa hati kita sedemikian keras?! Mengapa jiwa kita sedemikian kaku?! Bukankah Allah Ta’ala telah berfirman:

فَوَيْلٌ لِّلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكْرِ اللَّهِ أُوْلَئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ {22} اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاء وَمَن يُضْلِلْ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

“Maka kecelakaan yang besar teruntuk orang-orang yang hatinya telah membatu untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik, (yaitu) Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang. Gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhan-nya, kemudian menjadi lunak/ tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Ia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun yang dapat memberinya petunjuk.” Az Zumar 23.

Ibnu Katsir berkata: “Inilah kriteria orang-orang yang baik ketika mendengar firman Allah Yang Maha Perkasa, Maha Menguasai, Maha Mulia lagi Maha Pengampun. Ini terjadi karena mereka dapat memahami berbagai janji dan ancaman yang terkandung di dalamnya. Kulit mereka menjadi tergetar, karena merasa takut.”([1])

Bukan hanya itu, kita juga sering kali merasakan mudah untuk tergoda dan terjerumus dalam kubangan maksiat. Seakan-akan kita tak kuasa untuk menahan diri darinya, sampai-sampai kita sering berkata: berat bagi saya untuk meninggalkan pacaran, melirik wanita, merokok, makan riba dst.

Tahukan, wahai saudaraku, bahwa ini semua adalah dampak langsung dari jiwa kita yang telah kaku, dan dipenuhi oleh noda-noda.

Pada suatu hari ada seorang pemuda yang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan sepontan ia berkata: Wahai Rasulullah! Izinkanlah aku untuk berzina,”! Menyikapi pemuda ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersikap arif, beliau tidak berang atau murka. Beliau jelaskan kepadanya tentang kedudukan zina, selanjutnya berliau r meletakkan tangannya di dada pemuda tersebut, dan berdoa:

اللهم اغفر ذنبه وطهر قلبه وحصن فرجه . فلم يكن بعد ذلك الفتى يلتفت إلى شيء. رواه أحمد والطبراني والبيهقي وصححه الألباني

. “Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan jagalah kemaluannya.” Maka semenjak hari itu, pemuda tersebut tidak pernah menoleh ke sesuatu hal (tidak pernah memiliki keinginan untuk berbuat serong). ” Riwayat Ahmad, At Thabrani, Al Baihaqy dan dishahihkan oleh Al Albany.

Dari hadits ini, kita dapat simpulkan bahwa yang menjadikan pemuda tersebut berpikiran dan berkeinginan buruk adalah karena hatinyanya yang kurang suci. Oleh karenanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan agar Allah melimpahkan mensucikan hatinya.

Ini menunjukkan kepada kita betapa besarnya peranan hati yang suci dalam keistiqamahan seseorang.

Dikarenakan sedemikian pentingnya kesucian jiwa, sampai-sampai Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa perlu untuk mengajarkan kepada sahabatnya agar berdoa memohon kesucian jiwa kepada Allah Ta’ala:

اللهم آت نفسي تقواها وزكها أنت خير من زكَّاها. رواه مسلم وغيره

“Ya Allah, limpahkanlah kepada jiwaku ketaqwaan, dan sucikanlah, sesungguhnya Engkau adalah Sebaik-baik Dzat yang mensucikan jiwa.” Riwayat Muslim dll.

Syeikh As Sa’dy berkata: “Kesucian jiwa adalah sarana tercapainya segala kebaikan. Sebagaimana jiwa yang suci merupakan penyeru terbesar kepada setiap ucapan yang baik dan amalan yang benar.” ([2])

Oleh karena itu tidak mengherankan bila Allah Ta’ala berfirman tentang ahlul kitab dan orang-orang munafiq:

أُوْلَـئِكَ الَّذِينَ لَمْ يُرِدِ اللّهُ أَن يُطَهِّرَ قُلُوبَهُمْ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَلَهُمْ فِي الآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Mereka itulah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Bagi mereka kehinaan di dunia dan bagi mereka di akhirat siksa yang besar.” Al Maidah 41.

Berangkat dari ini semua, melalui tulisan ini, saya mengajak saudaraku seiman dan seakidah untuk bersama-sama berjuang menggapai kesucian jiwa. Dan diantara salah metode yang sangat efektif guna mensucikan jiwa adalah dengan berwudlu.

Wudlu, adalah ibadah yang sangat agung, bukan hanya dapat mensucikan raga kita dari najis atau hadats, wudlu juga dapat mensucikan jiwa. Akan tetapi agar, wudlu kita dapat memerankan peranannya yang sebenarnya, ada beberapa hal yang sebelumnya harus kita perhatikan:

Hal Pertama: Sebelum Berwudlu Bersihkan Jiwa Anda Dari Noda Syirik & Kemunafikan.

Dosa syirik, baik syirik akbar atau asghar adalah noda terbesar yang mengotori jiwa manusia. Dan tidak ada yang dapat membersihkan noda syirik dan kemunafikan selain tauhid (mengesakan Allah), dan ikhlas dalam beramal, termasuk ketika berwudlu.

Apalah manfaat kita berwudlu, bila ternyata batin kita ternodai oleh najis yang berupa syirik, riya’, sum’ah, ujub atau kemunafikan?! Walaupun kita berwudlu berjuta-juta kali, akan tetapi bila noda syirik tetap melekat dalam jiwa kita, maka kita tidak akan pernah suci. Oleh karena itu tidak mengherankan bila Allah Ta’ala mengharamkan atas orang-orang yang berjiwa najis untuk memasuki kota Makkah.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ فَلاَ يَقْرَبُواْ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هَـذَا

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini.” At Taubah 28.

Ibnu Katsir berkata: ”Allah Ta’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman dan yang suci agama dan lahirnya, untuk mengusir orang-orang musyrikin yang agamanya adalah najis dari masjid Haram. Dan agar mereka tidak mendekatinya, setelah diturunkannya ayat ini.”([3])

Oleh karena itu, sebelum kita berwudlu, hendaknya kita menata kembali jiwa dan niat kita, sehingga kita dapat menggapai dua kesucian sekaligus; kesucian jiwa dan raga.

Hal Kedua : Wudlu Membebaskan Kita Dari Cengkeraman Syetan.

Syetan senantiasa berjuang dengan segala daya dan upayanya untuk menodai dan menguasai jiwa kita, agar kita tunduk kepada setiap bisikannya? Oleh karena itu, syetan senantiasa menanti kesempatan untuk dapat sampai kepada hati kita.

Oleh karena itu ketika kita sedang tidur, syetan bergegas untuk mencari celah agar dapat menguasai jiwa kita. Diantara cara syetan untuk itu ialah dengan mengikatkan tiga ikatan pada kepada kita, agar kita terlelap tidur dan tidak mudah terjaga ketika dikumandangkan seruan untuk sholat. Sebagaimana syetan juga bersiaga dengan bermalam di dalam hidung kita, menunggu kesempatan untuk dapat masuk ke dalam hati kita.

Diantara metode yang diajarkan islam guna menghadapi makar syetan ini ialah dengan berwudlu.

يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ على قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إذا هو نَامَ ثَلَاثَ عُقَدٍ يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ فَإِنْ اسْتَيْقَظَ فذكر اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ صلى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلاَّ أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلاَنَ متفق عليه

“Syetan senantiasa mengikatkan tiga ikatan di pangkal kepala kalian, bila ia sedang tidur. Syetan menepuk pada setiap ikatan, sambil berkata: malam masih panjang, maka tidurlah. Bila ia terjaga lalu berdzikir kepada Allah, maka satu ikatan akan terurai, dan bila ia berwudlu, maka satu ikatan lagi akan terurai, dan bila ia sholat, maka satu ikatan lagi akan terurai, sehingga ia pada pagi itu akan menjadi bersemangat (energic) dan berjiwa baik, dan bila ia tidak melakukan hal itu, maka jiwanya menjadi buruk dan pemalas.” Muttafaqun ‘alaih.

Pada hadits lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إذا اسْتَيْقَظَ أحدكم من مَنَامِهِ فَلْيَسْتَنْثِرْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فإن الشَّيْطَانَ يَبِيتُ على خَيَاشِيمِهِ متفق عليه

“Bila salah seorang dari kalian terjaga dari tidurnya, maka hendaknya ia memasukkan air ke dalam hidungnya lalu ia mengeluarkannya kembali, karena sesungguhnya syetan bermalam di dalam hidungnya.” Muttafaqun ‘alaih.

Al Qadli ‘Iyadh berkata: “Bisa saja yang dimaksud dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ” sesungguhnya syetan bermalam di dalam hidungnya” adalah benar-benar syetan berada dalam hidungnya. Karena hidung adalah salah satu lubang badan yang dapat menghubungkan ke hati kita, terlebih-lebih tidak ada lubang badan yang tidak bertutup selain hidung dan kedua telinga. Dan dalam hadits disebutkan bahwa syetan tidak dapat membuka sesuatu yang tertutup. Sebagaimana, kita diperintahkan untuk menahan (mulut kita agar tidak terbuka) ketika kita menguap, guna mencegah masuknya syetan melalui mulut kita.”([4])

Hal Ketiga: Wudlu Membersihkan Dosa.

Dosa dan khilaf adalah suatu hal yang sering kita lakukan. Akan tetapi yang jarang kita lakukan adalah menyesali dan bertaubat dari kekhilafan tersebut. Dan setiap perbuatan dosa, baik besar atau kecil, merupakan noda yang mengotori jiwa kita. Bila kita terus menerus melakukan dosa dan tidak bertaubat, lambat lahun jiwa kita akan mati. Dan bila jiwa seseorang telah mati-na’uzubillah min dzalika- , maka ia tidak akan dapat membedakan antara yang baik dan buruk.

إن المؤمن إذا أذنب ذنبا، كانت نكتة سوداء في قلبه، فإن تاب ونزع واستغفر، صقل منها قلبه، فإن عاد رانت، حتى يغلق بها قلبه، فذاك الذي ذكر الله عز وجل في كتابه كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا يَكْسِبُونَ رواه أحمد والترمذي والحاكم والبيهقي وحسنه الألباني

“Sesunggunya bila seorang mukmi melakukan suatu dosa, maka dosa itu menjadi satu titik hitam di hatinya. Bila ia bertaubat, berhenti dan beristrighfar, maka hatinya akn kembali cemerlang. Akan tetapi bila ia mengulanng kembali, maka hatinya akan berkerak, hingga (suatu saat hatinya akan tetutup dengannya. Itulah yang Allah Azza wa Jalla sebutkan dalam kitab-Nya: “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu telah menutup hati mereka.” Riwayat Ahmad, At Tirmizy, Al Hakim, Al Baihaqy dan dihasankan oleh Al Albani.

Demikianlah halnya dosa-dosa yang sering kita lakukan, dan demikianlah peranan taubat dan istighfar dalam menjaga kesucian jiwa kita. Walau demikian, ternyata bukan hanya istighfar saja yang dapat menjaga kebersihan jiwa kita dari noda dosa. Terdapat banyak hal yang dapat berfungsi membersihkan jiwa kita dari noda-noda kemaksiatan, diantaranya ialah wudlu.

ما مِنْكُمْ رَجُلٌ يُقَرِّبُ وَضُوءَهُ فَيَتَمَضْمَضُ وَيَسْتَنْشِقُ فَيَنْتَثِرُ إلا خَرَّتْ خَطَايَا وَجْهِهِ وَفِيهِ وَخَيَاشِيمِهِ، ثُمَّ إذا غَسَلَ وَجْهَهُ كما أَمَرَهُ الله إلا خَرَّتْ خَطَايَا وَجْهِهِ من أَطْرَافِ لِحْيَتِهِ مع الْمَاءِ، ثُمَّ يَغْسِلُ يَدَيْهِ إلى الْمِرْفَقَيْنِ إلا خَرَّتْ خَطَايَا يَدَيْهِ من أَنَامِلِهِ مع الْمَاءِ، ثُمَّ يَمْسَحُ رَأْسَهُ إلا خَرَّتْ خَطَايَا رَأْسِهِ من أَطْرَافِ شَعْرِهِ مع الْمَاءِ، ثُمَّ يَغْسِلُ قَدَمَيْهِ إلى الْكَعْبَيْنِ إلا خَرَّتْ خَطَايَا رِجْلَيْهِ من أَنَامِلِهِ مع الْمَاءِ. فَإِنْ هو قام فَصَلَّى فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عليه وَمَجَّدَهُ بِالَّذِي هو له أَهْلٌ وَفَرَّغَ قَلْبَهُ لِلَّهِ إلا انْصَرَفَ من خَطِيئَتِهِ كَهَيْئَتِهِ يوم وَلَدَتْهُ أُمُّهُ رواه مسلم

“Tidaklah ada seseorang dari kalian yang mengambil air wudlunya, kemudian ia berkumur-kumur, memasukkan air ke hidung lalu mengeluarkannya kembali, melainkan dosa-dosa wajah, mulut dan hidungnya akan berguguran bersama. Kemudian bila ia membasuh wajahnya sebagaimana yang Allah perintahkan, maka dosa-dosa wajahnya akan berguguran melalui ujung jenggotnya bersama tetesan air. Kemudian bila ia membasuh kedua tangan hingga kedua sikunya, maka kesalahan tangannya akan berguguran melalui ujung jemarinya bersama tetesan air. Kemudian bila ia mengusap kepalanya, maka kesalahan kepalanya akan berguguran melalui ujung rambutnya bersama tetesan air. Kemudian bila ia membasuh kedua kaki hingga kedua mata kakinya, maka dosa kakinya akan berguguran melaui ujung jemari kakinya bersama tetesan air. Lalu bila ia bangun dan sholat, dan ketika ia sholat ia memuji Allah, menyanjung, dan mengagung-Nya dengan pujian yang sesuai dengan Allah, serta ia mengosongkan seluruh hatinya untuk Allah (khusu’), melainkan ia akan terbebas dari dosanya, seperti tatkala ia dilahirkan oleh ibunya.” Riwayat Muslim/.

Demikianlah peranan wudlu dalam membersihkan noda-noda kemaksiatan yang dapat mengotori jiwa kita. Andai kata, ketika hendak berwudlu, terlebih dahulu kita bertaubat dari segala dosa, niscaya peranan wudlu dalam membersihkan jiwa kita akan lebih sempurna.

Hal Keempat : Berkesempatan Minum Dari Telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Setiap kita pasti mendambakan untuk mendapatkan syafa’at nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkesempatan minum dari telaga beliau. Dan pada saat itu, Nabi r tidak akan mengizinkan kepada selain umatnya untuk minum dari telaga tersebut. Ini adalah suatu kebanggaan bagi umat Islam.

Pernahkan anda berpikir, bagaimanakah caranya agar anda dapat dikenali oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga diizinkan oleh beliau untuk minum dari telaganya? Padahal seluruh manusia dan jin dari zaman nabi Adam ‘alaihissalaam hingga manusia terakhir dikumpulkan di tempat yang sama?

Saudaraku, tidakkah anda ingin tahu bagaimana caranya agar dapat dikenal oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Bila anda benar-benar menginginkannya, maka simaklah sabda Nabi r berikut:

إِنَّ حَوْضِي أَبْعَدُ من آيلة من عَدَنٍ لَهُوَ أَشَدُّ بَيَاضًا من الثَّلْجِ وَأَحْلَى من الْعَسَلِ بِاللَّبَنِ وَلَآنِيَتُهُ أَكْثَرُ من عَدَدِ النُّجُومِ وَإِنِّي لَأَصُدُّ الناس عنه كما يَصُدُّ الرَّجُلُ إِبِلَ الناس عن حَوْضِهِ قالوا يا رَسُولَ اللَّهِ: أَتَعْرِفُنَا يَوْمَئِذٍ؟ قال: نعم، لَكُمْ سِيما لَيْسَتْ لأَحَدٍ من الأُمَمِ تَرِدُونَ عَلَيَّ غُرًّا مُحَجَّلِينَ من أَثَرِ الْوُضُوء. رواه مسلم

“Sesungguhnya telagaku lebih luas dibanding jarak antara Ailah (terletak diperbatasan antara Mesir dan Syam/Palestina) dengan kota Aden (Yaman). Telagaku lebih putih dibanding salju, lebih manis dibanding madu yang dicampur dengan susu. Bejananya lebih banyak dibanding jumlahnya bintang. Dan aku akan menghalang-halangi orang lain, layaknya seseorang yang menghalang-halangi onta orang lain (agar tidak minum) dari telaganya. Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah! Apakah kala itu engkau dapat mengenali kami ? Beliau menjawab: Ya, kalian memiliki pertanda yang tidak dimiliki oleh siapapun dari umat-umat lain. Kalian datang kepadaku dalam keadaan dahi, kedua tangan dan kedua kaki kalian bercaha dari bekas berwudlu.” Riwayat Muslim.

Hal Kelima : Tinggikan Derajat Anda Dengan Berwudlu.

Orang-orang yang mendapatkan kedudukan tinggi di sisi Allah adalah orang-orang yang telah berhasil merealisasikan iman dalam jiwa dan raganya. Sehingga tidaklah ia berperilaku dan bertutur kata melainkan dengan hal-hal yang diridlai Allah, yang semua itu merupakan cerminan dari kesucian jiwanya.

وَمَنْ يَأْتِهِ مُؤْمِنًا قَدْ عَمِلَ الصَّالِحَاتِ فَأُوْلَئِكَ لَهُمُ الدَّرَجَاتُ الْعُلَى {75} جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ جَزَاء مَن تَزَكَّى

“Sesungguhnya barang siapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman lagi sungguh-sungguh telah beramal shaleh, maka mereka itu orang-orang yang memperoleh derajat-derajat yang tinggi (mulia). (Yaitu) surga ‘Aden yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan itu adalah balasan bagi orang-orang yang telah mensucikan dirinya (dari kekafiran dan kemaksiatan). Thoha 75-76.

Bila kita membaca ayat ini, niscaya berkobar harapan untuk dapat menggapai kedudukan yang tinggi nan mulia di sisi Allah, yang berupa surga ‘Aden, tempat tinggal orang-orang yang telah mensucikan diri mereka.

Saudaraku! Tahukan engkau, bahwa wudlu adalah salah satu hal yang dapat menghantarkan kita kepada derajat yang tinggi nan mulia di sisi Allah?!

Sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(ألا أَدُلُّكُمْ على ما يَمْحُو الله بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟) قالوا: بَلَى يا رَسُولَ اللَّهِ. قال (إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ على الْمَكَارِهِ وَكَثْرَةُ الْخُطَا إلى الْمَسَاجِدِ وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَذَلِكُمْ الرِّبَاطُ)

“Sudikah kalian aku tunjukkan kepada suatu hal yang dengannya Allah akan menghapuskan dosa-dosa dan meninggikan derajat?” Spontan para sahabat menjawab: Tentu Ya Rasulullah!. Rasulullah bersabda: “Menyempurnakan wudlu walau dalam keadaan susah (karena dingin, atau panas atau sakit atau lainnya-pen), banyak melangkahkan kai ke masjid , menantikan (datangnya waktu sholat) selepas menunaikan sholat, maka itu adalah berjaga-jaga (di jalan Allah), maka itu adalah berjaga-jaga (di jalan Allah)”. Riwayat Muslim.

Bila kita telah memahami kelima kiat diatas, mungkin kita akan lebih mudah untuk memahami sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut:

من تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ قال: أَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إلا الله وَحْدَهُ لا شَرِيكَ له وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللهم اجْعَلْنِي من التَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنِي من الْمُتَطَهِّرِينَ، فُتِحَتْ له ثَمَانِيَةُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ يَدْخُلُ من أَيِّهَا شَاءَ

“Barang siapa yang berwudlu, dan ia menyempurnakan wudlunya, lalu ia berdoa: “Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang layak untuk diibadahi selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bersuci” niscaya akan dibukakan untuknya kedelapan pintu surga (semuanya), dan ia dipersilahkan untuk masuk dari pintu manupun yang ia kehendaki”. Riwayat At Tirmizyi dan dishahihkan oleh Al Albany.

Al Mubarakfuri berkata: “Dikarenakan taubat itu adalah kesucian batin dari noda-noda dosa, sedangkan wudlu adalah kesucian lahir dari hadats-hadats yang menghalangi seseorang dari mendekatkan dirinya kepada Allah Ta’ala, maka sangat tepat bila orang yang berwudlu menggabungkan keduanya dalam doa.”([5])

Saudaraku seiman dan seakidah! Andai setiap berwudlu, kita menghadirkan berbagai hikmah dan pelajaran agung di atas, niscaya –atas izin Allah- kesucian jiwa akan mudah kita gapai. Cobalah saudaraku! bila anda hendak berwudlu untuk sholat atau lainnya, hadirkanlah hikmah-hikmah di atas dalam niat (batin) anda, agar anda dapat merasakan betapa indahnya kesucian jiwa.

Semoga, uraian singkat ini bermanfaat bagi saya dan anda semua, dan semoga Allah senantiasa melimpahkan taufiq-Nya kepada kita, sehingga kita dapat mensucikan jiwa kita yang penuh dengan noda dosa dan maksiat. Wallahu a’lam bis showaab.

[1] ) Tafsir Ibnu Katsir 4/51-52.

[2] ) Tafsir As Sa’dy 231.

[3] ) Tafsir Ibnu Katsir 2/347.

[4] ) Syarah Shohih Muslim oleh Imam An Nawawi 3/127.

[5] ) Tuhfatul Ahwazy oleh Al Mubarukfuri 1/150.

Sumber : https://arifinbadri.com

.

Amalan di Bulan Rajab

Amalan di Bulan Rajab

Segala puji bagi Allah Rabb Semesta Alam, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan para pengikut beliau hingga akhir zaman. Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah Ta’ala karena pada saat ini kita telah memasuki salah satu bulan haram yaitu bulan Rajab. Apa saja yang ada di balik bulan Rajab dan apa saja amalan di dalamnya? Insya Allah dalam artikel yang singkat ini, kita akan membahasnya. Semoga Allah memberi taufik dan kemudahan untuk menyajikan pembahasan ini di tengah-tengah pembaca sekalian.

Rajab di Antara Bulan Haram

Bulan Rajab terletak antara bulan Jumadil Akhir dan bulan Sya’ban. Bulan Rajab sebagaimana bulan Muharram termasuk bulan haram. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (Qs. At Taubah: 36)

Ibnu Rajab mengatakan, “Allah Ta’ala menjelaskan bahwa sejak penciptaan langit dan bumi, penciptaan malam dan siang, keduanya akan berputar di orbitnya. Allah pun menciptakan matahari, bulan dan bintang lalu menjadikan matahari dan bulan berputar pada orbitnya. Dari situ muncullah cahaya matahari dan juga rembulan. Sejak itu, Allah menjadikan satu tahun menjadi dua belas bulan sesuai dengan munculnya hilal.

Satu tahun dalam syariat Islam dihitung berdasarkan perpuataran dan munculnya bulan, bukan dihitung berdasarkan perputaran matahari sebagaimana yang dilakukan oleh Ahli Kitab.” (Latho-if Al Ma’arif, 202)

Lalu apa saja empat bulan suci tersebut? Dari Abu Bakroh, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

“Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679)

Jadi empat bulan suci yang dimaksud adalah (1) Dzulqo’dah; (2) Dzulhijjah; (3) Muharram; dan (4) Rajab.

Di Balik Bulan Haram

Lalu kenapa bulan-bulan tersebut disebut bulan haram? Al Qodhi Abu Ya’la rahimahullah mengatakan, “Dinamakan bulan haram karena dua makna.

Pertama, pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang-orang Jahiliyyah pun meyakini demikian.

Kedua, pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan tersebut. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan.” (Lihat Zaadul Maysir, tafsir surat At Taubah ayat 36)

Karena pada saat itu adalah waktu sangat baik untuk melakukan amalan ketaatan, sampai-sampai para salaf sangat suka untuk melakukan puasa pada bulan haram. Sufyan Ats Tsauri mengatakan, “Pada bulan-bulan haram, aku sangat senang berpuasa di dalamnya.” (Latho-if Al Ma’arif, 214)

Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan sholeh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.” (Latho-if Al Ma’arif, 207)

Bulan Haram Mana yang Lebih Utama?

Para ulama berselisih pendapat tentang manakah di antara bulan-bulan haram tersebut yang lebih utama. Ada ulama yang mengatakan bahwa yang lebih utama adalah bulan Rajab, sebagaimana hal ini dikatakan oleh sebagian ulama Syafi’iyah. Namun An Nawawi (salah satu ulama besar Syafi’iyah) dan ulama Syafi’iyah lainnya melemahkan pendapat ini. Ada yang mengatakan bahwa yang lebih utama adalah bulan Muharram, sebagaimana hal ini dikatakan oleh Al Hasan Al Bashri dan pendapat ini dikuatkan oleh An Nawawi. Sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa yang lebih utama adalah bulan Dzulhijjah. Ini adalah pendapat Sa’id bin Jubair dan lainnya, juga dinilai kuat oleh Ibnu Rajab dalam Latho-if Al Ma’arif (hal. 203).

Hukum yang Berkaitan Dengan Bulan Rajab

Hukum yang berkaitan dengan bulan Rajab amatlah banyak, ada beberapa hukum yang sudah ada sejak masa Jahiliyah. Para ulama berselisih pendapat apakah hukum ini masih tetap berlaku ketika datang Islam ataukah tidak. Di antaranya adalah haramnya peperangan ketika bulan haram (termasuk bulan Rajab). Para ulama berselisih pendapat apakah hukum ini masih tetap diharamkan ataukah sudah dimansukh (dihapus hukumnya). Mayoritas ulama menganggap bahwa hukum tersebut sudah dihapus. Ibnu Rajab mengatakan, “Tidak diketahui dari satu orang sahabat pun bahwa mereka berhenti berperang pada bulan-bulan haram, padahal ada faktor pendorong ketika itu. Hal ini menunjukkan bahwa mereka sepakat tentang dihapusnya hukum tersebut.” (Lathoif Al Ma’arif, 210)

Begitu juga dengan menyembelih (berkurban). Di zaman Jahiliyah dahulu, orang-orang biasa melakukan penyembelihan kurban pada tanggal 10 Rajab, dan dinamakan ‘atiiroh atau Rojabiyyah (karena dilakukan pada bulan Rajab). Para ulama berselisih pendapat apakah hukum ‘atiiroh sudah dibatalkan oleh Islam ataukah tidak. Kebanyakan ulama berpendapat bahwa ‘atiiroh sudah dibatalkan hukumnya dalam Islam. Hal ini berdasarkan hadits Bukhari-Muslim, dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ فَرَعَ وَلاَ عَتِيرَةَ

“Tidak ada lagi faro’ dan  ‘atiiroh.” (HR. Bukhari no. 5473 dan Muslim no. 1976). Faro’ adalah anak pertama dari unta atau kambing, lalu dipelihara dan nanti akan disembahkan untuk berhala-berhala mereka.

Al Hasan Al Bashri mengatakan, “Tidak ada lagi ‘atiiroh dalam Islam. ‘Atiiroh hanya ada di zaman Jahiliyah. Orang-orang Jahiliyah biasanya berpuasa di bulan Rajab dan melakukan penyembelihan ‘atiiroh pada bulan tersebut. Mereka menjadikan penyembelihan pada bulan tersebut sebagai ‘ied (hari besar yang akan kembali berulang) dan juga mereka senang untuk memakan yang manis-manis atau semacamnya ketika itu.” Ibnu ‘Abbas sendiri tidak senang menjadikan bulan Rajab sebagai ‘ied.

‘Atiiroh sering dilakukan berulang setiap tahunnya sehingga menjadi ‘ied (sebagaimana Idul Fitri dan Idul Adha), padahal ‘ied (perayaan) kaum muslimin hanyalah Idul Fithri, Idul Adha dan hari tasyriq. Dan kita dilarang membuat ‘ied selain yang telah ditetapkan oleh ajaran Islam. Ada sebuah riwayat,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَنْهَى عَن صِيَامِ رَجَبٍ كُلِّهِ ، لِاَنْ لاَ يَتَّخِذَ عِيْدًا.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang berpuasa pada seluruh hari di bulan Rajab agar tidak dijadikan sebagai ‘ied.” (HR. ‘Abdur Rozaq, hanya sampai pada Ibnu ‘Abbas (mauquf). Dikeluarkan pula oleh Ibnu Majah dan Ath Thobroniy dari Ibnu ‘Abbas secara marfu’, yaitu sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam)

Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Intinya, tidaklah dibolehkan bagi kaum muslimin untuk menjadikan suatu hari sebagai ‘ied selain apa yang telah dikatakan oleh syari’at Islam sebagai ‘ied yaitu Idul Fithri, Idul Adha dan hari tasyriq. Tiga hari ini adalah hari raya dalam setahun. Sedangkan ‘ied setiap pekannya adalah pada hari Jum’at. Selain hari-hari tadi, jika dijadikan sebagai ‘ied dan perayaan, maka itu berarti telah berbuat sesuatu yang tidak ada tuntunannya dalam Islam (alias bid’ah).” (Latho-if Al Ma’arif, 213)

Hukum lain yang berkaitan dengan bulan Rajab adalah shalat dan puasa.

Mengkhususkan Shalat Tertentu dan Shalat Roghoib di bulan Rajab

Tidak ada satu shalat pun yang dikhususkan pada bulan Rajab, juga tidak ada anjuran untuk melaksanakan shalat Roghoib pada bulan tersebut.

Shalat Roghoib atau biasa juga disebut dengan shalat Rajab adalah shalat yang dilakukan di malam Jum’at pertama bulan Rajab antara shalat Maghrib dan Isya. Di siang harinya sebelum pelaksanaan shalat Roghoib (hari kamis pertama  bulan Rajab) dianjurkan untuk melaksanakan puasa sunnah. Jumlah raka’at shalat Roghoib adalah 12 raka’at. Di setiap raka’at dianjurkan membaca Al Fatihah sekali, surat Al Qadr 3 kali, surat Al Ikhlash 12 kali. Kemudian setelah pelaksanaan shalat tersebut dianjurkan untuk membaca shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebanyak 70 kali.

Di antara keutamaan yang disebutkan pada hadits yang menjelaskan tata cara shalat Raghaib adalah dosanya walaupun sebanyak buih di lautan akan diampuni dan bisa memberi syafa’at untuk 700 kerabatnya. Namun hadits yang menerangkan tata cara shalat Roghoib dan keutamaannya adalah hadits maudhu’ (palsu). Ibnul Jauzi meriwayatkan hadits ini dalam Al Mawdhu’aat (kitab hadits-hadits palsu).

Ibnul Jauziy rahimahullah mengatakan, “Sungguh, orang  yang telah membuat bid’ah dengan membawakan hadits palsu ini sehingga menjadi motivator bagi orang-orang untuk melakukan shalat Roghoib dengan sebelumnya melakukan puasa, padahal siang hari pasti terasa begitu panas. Namun ketika berbuka mereka tidak mampu untuk makan banyak. Setelah itu mereka harus melaksanakan shalat Maghrib lalu dilanjutkan dengan melaksanakan shalat Raghaib. Padahal dalam shalat Raghaib, bacaannya tasbih begitu lama, begitu pula dengan sujudnya. Sungguh orang-orang begitu susah ketika itu. Sesungguhnya aku melihat mereka di bulan Ramadhan dan tatkala mereka melaksanakan shalat tarawih, kok tidak bersemangat seperti melaksanakan shalat ini?! Namun shalat ini di kalangan awam begitu urgent. Sampai-sampai orang yang biasa tidak hadir shalat Jama’ah pun ikut melaksanakannya.” (Al Mawdhu’aat li Ibnil Jauziy, 2/125-126)

Shalat Roghoib ini pertama kali dilaksanakan di Baitul Maqdis, setelah 480 Hijriyah dan tidak ada seorang pun yang pernah melakukan shalat ini sebelumnya. (Al Bida’ Al Hawliyah, 242)

Ath Thurthusi mengatakan, “Tidak ada satu riwayat yang menjelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat ini. Shalat ini juga tidak pernah dilakukan oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum, para tabi’in, dan salafush sholeh –semoga rahmat Allah pada mereka-.” (Al Hawadits wal Bida’, hal. 122. Dinukil dari Al Bida’ Al Hawliyah, 242)

Mengkhususkan Berpuasa di Bulan Rajab

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Adapun mengkhususkan bulan Rajab dan Sya’ban untuk berpuasa pada seluruh harinya atau beri’tikaf pada waktu tersebut, maka tidak ada tuntunannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat mengenai hal ini. Juga hal ini tidaklah dianjurkan oleh para ulama kaum muslimin. Bahkan yang terdapat dalam hadits yang shahih (riwayat Bukhari dan Muslim) dijelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa banyak berpuasa di bulan Sya’ban. Dan beliau dalam setahun tidaklah pernah banyak berpuasa dalam satu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya’ban, jika hal ini dibandingkan dengan bulan Ramadhan.

Adapun melakukan puasa khusus di bulan Rajab, maka sebenarnya itu semua adalah berdasarkan hadits yang seluruhnya lemah (dho’if) bahkan maudhu’ (palsu). Para ulama tidaklah pernah menjadikan hadits-hadits ini sebagai sandaran. Bahkan hadits-hadits yang menjelaskan keutamaannya adalah hadits yang maudhu’ (palsu) dan dusta.”(Majmu’ Al Fatawa, 25/290-291)

Bahkan telah dicontohkan oleh para sahabat bahwa mereka melarang berpuasa pada seluruh hari bulan Rajab karena ditakutkan akan sama dengan puasa di bulan Ramadhan, sebagaimana hal ini pernah dicontohkan oleh ‘Umar bin Khottob. Ketika bulan Rajab, ‘Umar pernah memaksa seseorang untuk makan (tidak berpuasa), lalu beliau katakan,

لَا تُشَبِّهُوهُ بِرَمَضَانَ

“Janganlah engkau menyamakan puasa di bulan ini (bulan Rajab) dengan bulan Ramadhan.” (Riwayat ini dibawakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al Fatawa, 25/290 dan beliau mengatakannya shahih. Begitu pula riwayat ini dikatakan bahwa sanadnya shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil)

Adapun perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berpuasa di bulan-bulan haram yaitu bulan Rajab, Dzulqo’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, maka ini adalah perintah untuk berpuasa pada empat bulan tersebut dan beliau tidak mengkhususkan untuk berpuasa pada bulan Rajab saja. (Lihat Majmu’ Al Fatawa, 25/291)

Imam Ahmad mengatakan, “Sebaiknya seseorang tidak berpuasa (pada bulan Rajab) satu atau dua hari.” Imam Asy Syafi’i mengatakan, “Aku tidak suka jika ada orang yang menjadikan menyempurnakan puasa satu bulan penuh sebagaimana puasa di bulan Ramadhan.” Beliau berdalil dengan hadits ‘Aisyah yaitu ‘Aisyah tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa sebulan penuh pada bulan-bulan lainnya sebagaimana beliau menyempurnakan berpuasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan. (Latho-if Ma’arif, 215)

Ringkasnya, berpuasa penuh di bulan Rajab itu terlarang jika memenuhi tiga point berikut:

  1. Jika dikhususkan berpuasa penuh pada bulan tersebut, tidak seperti bulan lainnya sehingga orang-orang awam dapat menganggapnya sama seperti puasa Ramadhan.
  2. Jika dianggap bahwa puasa di bulan tersebut adalah puasa yang dikhususkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana sunnah rawatib (sunnah yang mengiringi amalan yang wajib).
  3. Jika dianggap bahwa puasa di bulan tersebut memiliki keutamaan pahala yang lebih dari puasa di bulan-bulan lainnya. (Lihat Al Hawadits wal Bida’, hal. 130-131. Dinukil dari Al Bida’ Al Hawliyah, 235-236)

Perayaan Isro’ Mi’roj

Sebelum kita menilai apakah merayakan Isro’ Mi’roj ada tuntunan dalam agama ini ataukah tidak, perlu kita tinjau terlebih dahulu, apakah Isro’ Mi’roj betul terjadi pada bulan Rajab?

Perlu diketahui bahwa para ulama berselisih pendapat kapan terjadinya Isro’ Mi’roj. Ada ulama yang mengatakan pada bulan Rajab. Ada pula yang mengatakan pada bulan Ramadhan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Tidak ada dalil yang tegas yang menyatakan terjadinya Isro’ Mi’roj pada bulan tertentu atau sepuluh hari tertentu atau ditegaskan pada tanggal tertentu. Bahkan sebenarnya para ulama berselisih pendapat mengenai hal ini, tidak ada yang bisa menegaskan waktu pastinya.” (Zaadul Ma’ad, 1/54)

Ibnu Rajab mengatakan, “Telah diriwayatkan bahwa di bulan Rajab ada kejadian-kejadian yang luar biasa. Namun sebenarnya riwayat tentang hal tersebut tidak ada satu pun yang shahih. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa beliau dilahirkan pada awal malam bulan tersebut. Ada pula yang menyatakan bahwa beliau diutus pada 27 Rajab. Ada pula yang mengatakan bahwa itu terjadi pada 25 Rajab. Namun itu semua tidaklah shahih.”

Abu Syamah mengatakan, “Sebagian orang menceritakan bahwa Isro’ Mi’roj terjadi di bulan Rajab. Namun para pakar Jarh wa Ta’dil (pengkritik perowi hadits) menyatakan bahwa klaim tersebut adalah suatu kedustaan.” (Al Bida’ Al Hawliyah, 274)

Setelah kita mengetahui bahwa penetapan Isro’ Mi’roj sendiri masih diperselisihkan, lalu bagaimanakah hukum merayakannya?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Tidak dikenal dari seorang dari ulama kaum muslimin yang menjadikan malam Isro’ memiliki keutamaan dari malam lainnya, lebih-lebih dari malam Lailatul Qadr. Begitu pula para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik tidak pernah mengkhususkan malam Isro’ untuk perayaan-perayaan tertentu dan mereka pun tidak menyebutkannya. Oleh karena itu, tidak diketahui tanggal pasti dari malam Isro’ tersebut.” (Zaadul Ma’ad, 1/54)

Begitu pula Syaikhul Islam mengatakan, “Adapun melaksanakan perayaan tertentu selain dari hari raya yang disyari’atkan (yaitu idul fithri dan idul adha, pen) seperti perayaan pada sebagian malam dari bulan Rabi’ul Awwal (yang disebut dengan malam Maulid Nabi), perayaan pada sebagian malam Rojab (perayaan Isro’ Mi’roj), hari ke-8 Dzulhijjah, awal Jum’at dari bulan Rojab atau perayaan hari ke-8 Syawal -yang dinamakan orang yang tidak mengerti agama dengan Idul Abror (ketupat lebaran)-; ini semua adalah bid’ah yang tidak dianjurkan oleh para salaf (sahabat yang merupakan generasi terbaik umat ini) dan mereka juga tidak pernah melaksanakannya.” (Majmu’ Fatawa, 25/298)

Ibnul Haaj mengatakan, “Di antara ajaran yang tidak ada tuntunan yang diada-adakan di bulan Rajab adalah perayaan malam Isro’ Mi’roj pada tanggal 27 Rajab.” (Al Bida’ Al Hawliyah, 275)

Catatan penting:

Banyak tersebar di tengah-tengah kaum muslimin sebuah riwayat dari Anas bin Malik. Beliau mengatakan, “Ketika tiba bulan Rajab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengucapkan,

“Allahumma baarik lanaa fii Rojab wa Sya’ban wa ballignaa Romadhon [Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan perjumpakanlah kami dengan bulan Ramadhan]”.”

Hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad dalam musnadnya, Ibnu Suniy dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah. Namun perlu diketahui bahwa hadits ini adalah hadits yang lemah (hadits dho’if) karena di dalamnya ada perowi yang bernama Zaidah bin Abi Ar Ruqod. Zaidah adalah munkarul hadits (banyak keliru dalam meriwayatkan hadits) sehingga hadits ini termasuk hadits dho’if. Hadits ini dikatakan dho’if (lemah) oleh Ibnu Rajab dalam Lathoif Ma’arif (218), Syaikh Al Albani dalam tahqiq Misykatul Mashobih (1369), dan Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam Takhrij Musnad Imam Ahmad.

Demikian pembahasan kami mengenai amalan-amalan di bulan Rajab dan beberapa amalan yang keliru yang dilakukan di bulan tersebut. Semoga Allah senantiasa memberi taufik dan hidayah kepada kaum muslimin. Semoga Allah menunjuki kita ke jalan kebenaran.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Allahumma sholli ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallim.

Selesai disusun di Wisma MTI, 5 Rajab 1430 H

***
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Sumber: www.muslim.or.id

.

Shalat Shubuh Berjamaah

Shalat Shubuh Berjamaah

Salah seorang syaikh pernah shalat di mesjid sebuah kampung yang terkenal dengan keberadaan sebagian para penuntut ilmu yang masyhur dengan keilmuan mereka. Seusai shalat syaikh tersebut menjumpai salah seorang jamaah shalat yang sudah berusia lanjut dan bertanya kepadanya tentang perihal para penuntut ilmu yang terkenal yang berasal dari  kampung tersebut. Namun apa kata orang tua itu: “Mereka bukan penuntut ilmu, mereka sering meninggalkan shalat berjamaah terutama shalat shubuh”. Serentak syaikh kaget dengan jawaban tersebut.

Fenomena yang seperti ini mungkin bukanlah hal yang asing bagi kita, apalagi di Jami’ah Islamiah ini kampus yang kita cintai bersama, kita dapati ada sebagian mahasiswa yang  kelak mereka akan menjadi da’i di negeri mereka sangat menyepelekan nilai shalat berjamaah terutama shalat shubuh. Jarang sekali mereka menampakkan batang hidungnya di mesjid untuk shalat shubuh.Sungguh sangat tercela jika seorang penuntut ilmu yang seharusnya menyeru masyarakat untuk semangat menunaikan shalat berjamaah, yang seharusnya memberi suri tauladan untuk shalat secara berjamaah malah kebiasaannya tidak shalat shubuh berjamaah. Wajar saja jika masyarakat tidak memenuhi dakwahnya karena mereka melihat praktek sang da’i yang menyepelekan shalat berjamaah.

Kalau kita buka lembaran-lembaran salaf tentang bagaimana semangat mereka untuk menunaikan ibadah shalat berjamaah maka kita akan menemui keajaiban…

Waqi’ bin Al-Jarrah berkata: “Al-A’masy (salah seorang muhaddits yang rabun matanya-pen) hampir tujuh puluh tahun tidak pernah tertinggal takbiratul ihram” (As-Siyar 6/232).
Berkata Muhammad bin Sama’ah: “Aku tinggal selama empat puluh tahun tidak pernah tertinggal takbiratul ihram kecuali satu hari tatkala ibuku meninggal. Maka aku terluput dari satu shalat jamaah…” (Tahdzibut Tahdzib 9/204)
Pada biografi Sa’id bin Al-Musayyib disebutkan bahwasanya tidaklah pernah dikumandangkan adzan selama empat puluh tahun kecuali Sa’id telah berada di mesjid. (Tahdzibut Tahdzib 4/87)
Berkata Al-Qadhi Taqiyyuddin Sulaiman: “Aku sama sekali tidak pernah shalat wajib sendirian kecuali dua kali, seakan akan aku sama sekali belum shalat” (Dzail thabaqat Al-Hanabilah 2/365)
Bahkan lebih dari ini, para salaf menjadikan sifat menjaga shalat secara berjamaah dan mempraktekan shalat sesuai sunnah termasuk timbangan untuk menilai seseorang.
Berkata Ibrohim bin Yazid: “Jika engkau melihat seseorang menyepelekan (tidak perhatian) terhadap takbiratul ihram maka cucilah tanganmu darinya” (As-Siyar 5/62)
Berkata Syu’bah bin Al-Hajjaj: “Saya melihatnya –yaitu Yahya bin “Ubaidillah At-Taimi- shalatnya tidak bagus maka saya tinggalkan haditsnya” (Tahdzibut Tahdzib 11/253, Mizanul I’tidal 4/395)
Berkata Adz-Dzahabi –setelah membawakan dua isnad dari sebuah hadits yang teksnya sebagai berikut (dan pada dua isnad ini ada sisi lemahnya yang bersumber dari Zahir dan ‘Umar, karena mereka berdua shalatnya kurang bagus)-, kemudian Adz-Dzahabi berkata –dengan penuh tawadhu’-: “Kalau saya memiliki sifat wara’ maka saya tidak akan meriwayatkan (hadits) kepada orang yang sifatnya demikian” (As-Siar 10/317)

Bagaimanapun juga bersegera untuk datang ke masjid untuk menunaikan shalat secara berjamaah akan memberi pengaruh yang kuat terhadap masyarakat. Karena memberi teladan dengan praktek terkadang lebih mengena dari pada dengan penjelasan yang mantap. Kalau kita tidak membiasakan diri untuk melawan ngantuk sehingga selalu shalat shubuh berjamaah sejak kita di Jami’ah tentunya tatkala kita sudah terjun di medan dakwah akan sulit kita praktekkan. Semoga Allah memudahkan kita semua untuk bisa selalu shalat shubuh secara berjamaah. Amin.

 

[1] Syaikh Abdurrazaq mengatakan –setelah menyampaikan kisah ini-: “Seanda’inya para penuntut ilmu yang tidak shalat shubuh berjamaah itu ditanya tentang keutamaan shalat shubuh berjamaah, maka mungkin mereka akan mendatangjkan puluhan dalil yang menjelaskan akan hal itu. Namun walaupun hal ini tidak menjadikan mereka bisa shalat shubuh secara berjamaah. Adapun orang tua yang awam itu jika ditanya dalil tentang keutamaan shalat shubuh secara berjamaah mungkin saja dia tidak tahu sama sekali. Namun ketidaktahuannya ini tidaklah mencegah dia untuk shalat shubuh berjamaah”.

Sumber: https://firanda.com

.