Seputar Puasa Syawwal

Seputar Puasa Syawwal

Pertanyaan: Bolehkah berpuasa 6 hari di bulan Syawal sementara dia belum menunaikan hutang puasa Ramadhannya ?

Demikianlah permasalahan yang seringkali mengusik hati kaum muslimin berkenaan dengan semangatnya menjalankan amalan puasa Syawal. Fatwa Lajnah Da’imah yang diketuai oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz menegaskan:

Ulama berselisih pendapat dalam masalah ini. Pendapat yang lebih mendekati kebenaran adalah disyariatkannya mendahulukan hutang puasa daripada puasa sunnah 6 hari bulan Syawal dan puasa sunnah lainnya . Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah yang berbunyi :

من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر

Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian puasa 6 hari di bulan Syawal seolah–olah ia berpuasa 1 tahun penuh.” (HR. Muslim)

Barangsiapa mendahulukan puasa 6 hari bulan syawwal daripada hutang puasa Ramadhannya, berarti ia belum mengikutkan puasa Ramadhan, akan tetapi hanya mengikutkan sebagian puasa Ramadhannya. Kemudian perlu diketahui pula, hutang puasa adalah wajib, sedangkan puasa 6 hari dibulan syawwal adalah Sunnah. Maka memperhatikan yang wajib itu lebih utama daripada yang Sunnah. (Majmu’ Fatawa wa Maqolat Mutanawwi’ah 15/ 392)

Para ulama berselisih pendapat dalam masalah apakah boleh mendahulukan puasa sunnah Syawal sementara ia menanggung hutang puasa Ramadhan. Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i dan Ahmad berpendapat bolehnya melakukan itu. Mereka mengqiyaskan dengan sholat thathawu’ sebelum  pelaksanaan sholat fardhu.

Sedangkan madzhab Imam Ahmad yang masyhur  berpendapat tidak diperbolehkan mengerjakan puasa sunnah dan tidak sah, selama masih mempunyai tanggungan puasa wajib. Sementara itu Abu Malik, penulis kitab shahih Fiqhis Sunnah berpendapat, masih memungkinkan bolehnya melaksanakan puasa 6 hari di bulan Syawal, meskipun masih memiliki tanggungan puasa Ramadhan.

Demikianlah puasa 6 hari di bulan Syawal yang memiliki keutamaan, seolah – olah ia berpuasa setahun penuh. Itulah nikmat yang diberikan Allah untuk hamba-hamba-Nya yang menunaikan ibadah puasa karena Allah.

Dari Tsauban, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

من صام رمضان فشهر بعشرة أشهر وصيام ستة أيام بعد الفطر فذلك تمام صيام السنة

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan, satu bulan seperti 10 bulan dan berpuasa 6 hari setelah Idul Fitri, maka itu merupakan kesempurnaan puasa setahun penuh.” (Hadits Shahih, riwayat Ahmad, 5/ 280; An-Nasa’ai, 2860; dan Ibnu Majjah, 1715. Lihat pula Shahih Fiqhis Sunnah 2/ 134 ).

Semoga Allah memudahkan kita melakukan puasa Syawal baik dilakukan berurutan atau terpisah–pisah asalkan masih di bulan Syawal. Puasa Sunnah ini sebagai cerminan kecintaan seorang hamba kepada Allah, dan bukti ia sangat menyegerakan berpuasa Sunnah setelah sebulan penuh menjalankan puasa wajib di bulan Ramadhan yang penuh berkah.

Dan kita berdo’a semoga Allah memberikan kemudahan kepada kita untuk selalu istiqomah di jalan Allah dan Rasul-Nya meskipun Ramadhan telah berlalu.

*****

Referensi :

  1. Majalah Al-Furqon edisi 3 Tahun V Syawwal 1426 H.
  2. Majalah As Sunnah edisi 07 dan 08 TH 1427 H.

 

Penulis: Isruwanti Ummu Nashifah

Baca selengkapnya https://muslimah.or.id/9617-seputar-puasa-syawwal.html

Romadhon Akan Segera Pergi

Romadhon Akan Segera Pergi

Segala puji hanya milik Allah. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, dan sahabatnya.

Tak diragukan lagi bahwa penutup suatu amal memiliki urgensi yang sangat agung. Dahulu para salaf (pendahulu) rahimahumullah menaruh perhatian kepada penghujung amal mereka dalam rangka meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sekaligus mengamalkan kandungan firman Allah Ta’ala,

وَالَّذِيْنَ يُؤْتُوْنَ مَا ءَاتَوا وَقُلُوْبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُوْنَ

Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut. Sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka.”  (QS. Al-Mu’minun : 60).

Allah Subhanahu wa Ta’ala mendeskripsikan hamba-Nya yang beriman bahwa mereka mempersembahkan amal shalih dan ketaatan serta bersungguh-sungguh dalam beribadah. Di samping itu, mereka sangat takut kepada Tuhan mereka Subhanahu wa Ta’ala karena mereka tidak tahu apakah amal mereka diterima atau tidak. Oleh karena itu, seseorang tidak boleh merasa ‘ujub (bangga) dengan amalnya, meskipun sangatlah banyak amalnya. Karena, jika Allah tidak menerimanya, maka amal tersebut tidaklah berguna sama sekali, meskipun jumlahnya sangat banyak maupun besar. Selama amal tersebut tertolak, maka ia bagaikan debu yang berterbangan, hanya tersisa lelah, tanpa faidah.

Namun, jika Allah menerimanya, meskipun kadarnya sedikit, maka Dia Jalla wa ‘Ala akan melipatgandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللهَ لاَ يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيْمًا

Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar dzarrah. Dan jika ada kebaikan sebesar dzarrah, niscaya Allah akan melipat-gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya ganjaran yang agung.” (QS. An-Nisa’ : 40).

Akan tetapi, amal hanyalah sebagai sebab. Sedangkan parameter yang sesungguhnya adalah qabul (diterimanya amal). Ditinjau dari sudut pandang hamba, maka hendaknya ia mencurahkan sebab dengan mengerjakan amal. Adapun dari sudut pandang Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Dia lebih mengetahui siapa orang-orang yang muhsin (yang amalannya baik). Akan tetapi, seorang mukmin harus yakin bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan ganjaran hamba-Nya yang beramal meskipun sedikit. Oleh karena itu, hendaknya seorang hamba memperbanyak amal, memurnikan niat, menjadikan amalnya sesuai tuntunan, dan berharap kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan tidak putus asa dari rahmat Allah. Di samping itu, ia tidak merasa ‘ujub atau menganggap banyak amalnya. Akan tetapi, ia memohon kepada Allah agar amalnya diterima dan mengiringi amalnya dengan istighfar (memohon ampun). Sebab, manusia adalah tempatnya salah dan keliru. Boleh jadi seseorang amalnya banyak, tetapi ada cacat dan kekurangan dalam amalnya atau dinodai dengan sesuatu yang dapat merusak dan mengurangi pahala amal. Lantas ia tambal cacat dan kekurangan tersebut dengan istighfar.

Hendaknya seseorang memperbanyak istighfar di penghujung amal dan ibadahnya, semisal penghujung bulan Ramadhan. Seorang muslim yang diberi taufiq oleh Allah untuk berpuasa dan shalat malam, sepatutnya ia menyertai amal tersebut istighfar dan merendah di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak selayaknya ia merasa dirinya telah menunaikan amal sesuai dengan tuntutan syariat. Karena, dia tidak tahu, bisa jadinya pada amalnya terdapat cela yang banyak. Oleh karenanya, hendaknya ia memperbanyak istighfar dan menganggap bahwa amalnya sangatlah sedikit dibandingkan hak Allah Subhanahu wa Ta’ala yang semestinya ia penuhi.

Meskipun amalannya banyak, ikhlas, dan sungguh-sungguh, tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap berdoa kepada Rabbnya,

لاَ أُحْصِيْ ثَنَاءً عَلَيْكَ

Aku tak sanggup menghitung sanjungan atas-Mu.” (HR. Muslim no. 486).

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakui bahwa beliau belum menunaikan hak Rabbnya ‘Azza wa Jalla secara sempurna. Lantas bagaimana lagi dengan manusia selain beliau? Mereka yang Allah sifati bahwa mereka adalah “Orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut.” Yakni dengan hati yang khawatir karena mereka tidak merasa aman dengan makar (tipu daya) Allah. Mereka mengatakan, “Kami shalat, puasa, dan menunaikan kewajiban kami.” Mereka tidak mengatakan bahwa amal mereka pasti diterima. Karena, itu adalah merasa ‘ujub dengan amal dan men-tazkiyah (menyucikan) diri sendiri dan amalnya. Seberapa pun besar amal seorang muslim, semestinya ia menganggap kecil amalnya di hadapan Allah. Seberapa pun banyak amalnya, ia tak tahu apakah amalnya sah dan diterima ataukah tidak. Betapa banyak keburukan yang muncul dari manusia baik dengan lisan, perbuatan, maupun tingkah lakunya. Terjadi banyak kejelekan dari manusia. Boleh jadi keburukan itu akan menghabiskan pahala amal atau minimal menguranginya dengan jumlah yang banyak.

Selayaknya bagi seorang muslim untuk menghitung-hitung kejelekannya dan tidak menghitung-hitung kebaikannya. Demikian pula hendaknya ia melakukan muhasabah (introspeksi) terhadap dirinya. Ia hitung keburukan dan dosanya lantas ia ber-istighfar dan bertaubat kepada Allah. Janganlah ia hitung kebaikannya lantas mengatakan, “Aku telah beramal ini dan itu.” Hendaknya ia serahkan amalnya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ia yakini bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala hamba-Nya yang beramal dan amalnya telah tercatat jika amalnya sah dan diterima. Ia tidak khawatir bahwa Allah akan menelantarkan kebaikannya,

وَمَا كَانَ اللهُ لِيُضِيْعَ إِيْمَانَكُمْ إِنَّ اللهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوْفٌ رَحِيْمٌ

Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan iman kalian. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah : 143).

Akan tetapi, ia khawatirkan dirinya terjerumus dalam kesalahan, dosa, dan keburukan yang membinasakan. Maka hendaknya ia mengintrospeksi dirinya dan merenungkan kejelekan yang terjadi padanya. Lantas ia bertaubat dan ber-istighfar untuk setiap dosanya. Inilah yang sepatutnya dilakukan oleh seorang hamba.

Di penghujung Ramadhan, dahulu para salafush shalih memperbanyak istighfar dan taubat kepada Allah ‘Azza wa Jalla serta takut amalnya tidak diterima. Mereka dahulu sungguh-sungguh beramal di bulan Ramadhan maupun selainnya. Kemudian, terbersit di hati mereka rasa khawatir bahwa tidak ada satu pun amal yang diterima. Lantas mereka ber-istighfar dan bertaubat kepada Allah. Bahkan, diriwayatkan bahwa mereka berdoa kepada Allah selama enam bulan agar dipertemukan dengan bulan Ramadhan. Apabila mereka berjumpa dengan bulan Ramadhan, mereka berpuasa dan melakukan qiyamul lail (shalat malam). Lalu, mereka berdoa kepada Allah selama enam bulan setelahnya agar Allah menerima amal mereka di bulan Ramadhan.

Di antara tanda diterimanya amal di bulan Ramadhan maupun selainnya adalah kebaikan yang diikuti dengan kebaikan setelahnya. Jika keadaan seorang muslim setelah Ramadhan tetaplah baik dan banyak melakukan kebaikan dan amal shalih, maka ini adalah bukti amalnya diterima. Namun, jika sebaliknya, kebaikan yang disusul dengan keburukan sesudahnya, ia keluar dari Ramadhan lantas diiringi dengan keburukan, kelalaian, dan berpaling dari ketaatan kepada Allah, maka ini adalah indikator amalnya tidak diterima. Setiap orang mengetahui dan melihat keadaan dirinya sendiri setelah Ramadhan. Jika kondisinya lebih baik, maka hendaknya ia memuji Allah karena ini adalah tanda amalnya diterima. Akan tetapi, jika kondisinya lebih buruk, maka hendaknya ia bertaubat dan ber-istighfar kepada Allah karena ini adalah indikator amalnya tidak diterima dan bukti dirinya malas dan lalai.

Janganlah seorang hamba merasa putus asa dari rahmat Allah sehingga tertutuplah pintu antara dirinya dengan Allah,

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِيْنَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لاَ تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللهِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Katakanlah, Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa. Sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS.Az-Zumar : 53).

Hendaknya ia bertaubat dan ber-istighfar serta kembali kepada Allah ‘Azza wa Jalla karena Allah Jalla wa ‘Ala menerima taubat hamba-Nya yang bertaubat,

وَهُوَ الَّذِيْ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُوا عَنِ السَّيِّئَاتِ وَيَعْلَمُ مَا تَفْعَلُوْنَ

Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Asy-Syura : 25).

Demikian. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad.

Diterjemahkan dari Majalis Syahri Ramadhan Al-Mubarak, karya Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan, cetakan Darul ‘Ashimah, cetakan kedua, tahun 1422 H, Riyadh, hal. 117-120.

Penerjemah: Deni Putri Kusumawati

Murojaah: Ustadz Yulian Purnama, S.Kom

Baca selengkapnya https://muslimah.or.id/11190-ramadhan-akan-segera-pergi.html

Jika Belum Mengeluarkan Zakat Fitri Sebelum Shalat ‘Id

Jika Belum Mengeluarkan Zakat Fitri Sebelum Shalat ‘Id

Jika Belum Mengeluarkan Zakat Fitri sebelum Shalat ‘Id, Apakah Wajib Mengeluarkan Sekarang?

Jawaban:
Alhamdulillah.
Zakat fitri wajib dikeluarkan sebelum shalat ‘Id. Berdasarkan hadis dalam Ash-Shahihain (shahih Bukhari & Muslim), dari Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menunaikannya sebelum orang-orang keluar melaksanakan shalat (‘Id, pen.). Jika seorang muslim belum menunaikan zakat fitri tersebut sebelum shalat sebagaimana yang menjadi kewajibannya, maka kewajiban tersebut t’Idak gugur darinya. Akan tetapi, dia wajib mengeluarkannya meskipun selepas shalat (‘Id, pen.).

“Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya, ‘Saya belum menunaikan zakat fitri karena hari ‘Id datang tiba-tiba*. Setelah ‘Idul Fitri yang penuh berkah, waktu saya belum lowong karena saya diminta menyelesaikan tugas wajib saya di daerah ini. Oleh sebab itu, apakah kewajiban saya telah gugur atau saya tetap wajib mengeluarkan zakat tersebut?’

Jawaban Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah,
Zakat fitri hukumnya wajib. Ibnu ‘Umar radhiallah ‘anhuma berkata, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitri.” Zakat fitri wajib ditunaikan oleh setiap indiv’Idu muslim, baik lelaki maupun perempuan, dewasa maupun anak-anak, orang merdeka maupun budak.

Andaikan ‘Idul Fitri datang mendadak* sebelum anda menunaikan zakat fitri maka Anda wajib mengeluarkannya pada hari ‘Id, meski setelah shalat ”Id. Karena ka’Idah dalam ibadah yang wajib, jika seseorang terlewatkan dari waktu pelaksanaannya karena uzur maka ibadah tersebut di-qadha’ ketika uzur tersebut telah hilang.

Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Barang siapa yang lupa mendirikan shalat maka dia (wajib) shalat ketika dia sudah ingat. T’Idak ada kaffarah (penebus kesalahan, pen.) baginya selain itu (H.r. Bukhari, no. 597; Muslim, no. 683).’

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah Ta’ala, yang artinya ‘Dan dirikanlah shalat untuk mengingatku.’ (Q.s. Thaha: 14)
Oleh karena itu, wahai saudaraku si penanya, sesungguhnya Anda wajib mengeluarkan zakat tersebut sekarang.’” (Majmu’ Fatawa Ibnu ‘Utsaimin, 20:271)

Sumber: http://islamqa.com/ar/ref/112108/

*) Catatan redaksi: Maksudnya, penetapan hari ‘Id oleh pemerintah diumumkan secara mendadak. Dengan demikian, ada sebagian orang yang t’Idak bisa segera membayar zakat fitri karena uzur. Wallahu ‘alam.

SUmber https://muslimah.or.id/

Bersedekah Saat Ramadhan dan Masa Sulit Pandemi Covid19

Bersedekah Saat Ramadhan dan Masa Sulit Pandemi Covid19

Apa yang mendorong Nabi lebih semangat bersedekah pada bulan Ramadhan?

Pertama: Bulan Ramadhan adalah waktu yang mulia dan pahala berlipat ganda pada bulan tersebut.

Kedua: Rajin berderma pada bulan Ramadhan berarti membantu orang yang berpuasa, orang yang melakukan shalat malam dan orang yang berdzikir supaya mereka mudah dalam beramal. Orang yang membantu di sini akan mendapatkan pahala seperti pahala mereka yang beramal. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan keutamaan orang yang memberi makan buka puasa,

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi, no. 807; Ibnu Majah, no. 1746; dan Ahmad, 5:192, dari Zaid bin Khalid Al-Juhani. At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih).

Ketiga: Di bulan Ramadhan, Allah juga berderma dengan memberikan rahmat, ampunan dan pembebasan dari api neraka, lebih-lebih lagi di malam Lailatul Qadar.

Keempat: Menggabungkan antara puasa dan sedekah adalah sebab seseorang dimudahkan masuk surga. Sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut,

عَنْ عَلِىٍّ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ فِى الْجَنَّةِ غُرَفًا تُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا ». فَقَامَ أَعْرَابِىٌّ فَقَالَ لِمَنْ هِىَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « لِمَنْ أَطَابَ الْكَلاَمَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ»

Dari ‘Ali, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya di surga ada kamar yang luarnya bisa dilihat dari dalamnya dan dalamnya bisa dilihat dari luarnya.” Lantas orang Arab Badui ketika mendengar hal itu langsung berdiri dan berkata, “Untuk siapa keistimewaan-keistimewaan tersebut, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Itu disediakan bagi orang yang berkata yang baik, memberi makan (kepada orang yang butuh), rajin berpuasa, dan melakukan shalat di malam hari ketika manusia terlelap tidur.” (HR. Tirmidzi no. 1984 dan Ahmad 1:155. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Kata Ibnu Rajab Al Hambali, sifat-sifat yang disebutkan di atas semuanya terkumpul di bulan Ramadhan. Karena orang beriman akan mengumpulkan pada dirinya amalan puasa, shalat malam, sedekah dan berkata yang baik di mana ketika berpuasa dilarang berkata kotor dan sia-sia. Lihat Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 298.

Kelima: Menggabungkan antara sedekah dan puasa adalah sebab kemudahan meraih ampunan dosa dan selamat dari siksa neraka. Lebih-lebih jika kedua amalan tersebut ditambah dengan amalan shalat malam.

Disebutkan bahwa puasa adalah tameng (pelindung) dari siksa neraka,

الصِّيَامُ جُنَّةٌ مِنَ النَّارِ كَجُنَّةِ أَحَدِكُمْ مِنَ الْقِتَالِ

Puasa adalah pelindung dari neraka seperti tameng salah seorang dari kalian ketika ingin berlindung dari pembunuhan.” (HR. Ibnu Majah no. 1639 dan An Nasai no. 2232. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

Mengenai sedekah dan shalat malam disebutkan dalam hadits,

وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ وَصَلاَةُ الرَّجُلِ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ

Sedekah itu memadamkan dosa sebagaimana api dapat dipadamkan dengan air, begitu pula shalat seseorang selepas tengah malam.” (HR. Tirmidzi no. 2616 dan Ibnu Majah no. 3973. Abu Isa At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Keenam: Dalam puasa pasti ada cacat dan kekurangan, sedekah itulah yang menutupi kekurangan tersebut. Oleh karenanya di akhir Ramadhan, kaum muslimin disyari’atkan menunaikan zakat fitrah. Tujuannya adalah menyucikan orang yang berpuasa. Disebutkan dalam hadits, Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang yang berpuasa dari kata-kata yang sia-sia dan dari kata-kata kotor, juga untuk memberi makan kepada orang miskin.” (HR. Abu Daud, no. 1609; dan Ibnu Majah, no. 1827. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

Ketujuh: Disyari’atkan banyak berderma ketika puasa seperti saat memberi makan buka puasa adalah supaya orang kaya dapat merasakan orang yang biasa menderita lapar sehingga mereka pun dapat membantu orang yang sedang kelaparan. Oleh karenanya sebagian ulama teladan di masa silam ditanya, “Kenapa kita diperintahkan untuk berpuasa?” Jawab mereka, “Supaya yang kaya dapat merasakan penderitaan orang yang lapar. Itu supaya ia tidak melupakan deritanya orang yang lapar.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 300)

Yang dicontohkan oleh para ulama di antaranya ‘Abdullah bin Al-Mubarak dan Al-Hasan Al-Bashri, mereka biasa memberi makan pada orang lain, padahal sedang berpuasa (sunnah).

Demikian tujuh faedah yang disampaikan oleh Ibnu Rajab yang mendorong kita supaya rajin membantu, memberi dan berderma di bulan Ramadhan. Sehingga itulah mengapa bulan Ramadhan disebut bulan muwasaah, yaitu bulan yang diperintahkan banyak berderma.

Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata, “Siapa yang tidak bisa menggapai derajat itsar (mendahulukan orang lain dari diri sendiri, pen.), maka jangan sampai ia tidak mencapai derajat orang yang rajin membantu orang lain (muwasah).” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 300)

Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Aku sangat senang ketika melihat ada yang bertambah semangat mengulurkan tangan membantu orang lain di bulan Ramadhan karena meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga karena manusia saat puasa sangat-sangat membutuhkan bantuan di mana mereka telah tersibukkan dengan puasa dan shalat sehingga sulit untuk mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan mereka. Contoh ulama yang seperti itu adalah Al-Qadhi Abu Ya’la dan ulama Hambali lainnya.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 301)

 

Lebih-lebih Ramadhan kali ini saat pandemi Corona

Allah Ta’ala berfirman,

فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ (11) وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ (12) فَكُّ رَقَبَةٍ (13) أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ (14)

Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan.” (QS. Al-Balad: 11-14).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah (1347-1421 H) menyatakan, “Dzi mas-ghabah berarti keadaan penuh kelaparan, bisa jadi karena kelaparan melanda, bisa jadi karena hasil pertanian dan buah-buahan berkurang, bisa jadi pula karena penyakit pada tubuh mereka, atau bisa pula ada makanan namun tidak mengenyangkan.” (Tafsir Al-Qur’an Al-Karim Juz ‘Amma, hlm. 220)

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan bahwa manfaat sedekah begitu banyak, hanya Allah yang bisa menghitungnya, di antara manfaatnya adalah:

أَنَّهَا تَقِيَ مَصَارِعَ السُّوْءِ وَتَدْفَعُ البَلاَءَ حَتَّى إِنَّهَا لَتَدْفَعَ عَنِ الظَّالِمِ , قاَلَ إِبْرَاهِيْمُ النَّخَعِي: وَكَانُوْ يَرَوْنَ أَنَّ الصَّدَقَةَ تَدْفَعُ عَنِ الرَّجُلِ الظَّلُوْمِ ,وَتُطْفِئُ الخَطِيْئَةَ وَتَحْفَظُ المَالَ وَتَجْلِبُ الرِّزْقَ وَتُفْرِحُ القَلْبَ وَتُوْجِبَ الثِّقَّةَ بِاللهِ وَحُسْنَ الظَّنِّ بِهِ

“Sungguh bersedekah itu mencegah kematian yang jelek, mencegah malapetaka (bala), sampai sedekah itu melindungi dari orang yang zalim. Ibrahim An-Nakha’i mengatakan, ‘Orang-orang dahulu memandang bahwa sedekah akan melindungi dari orang yang suka berbuat zalim.’ Sedekah juga akan menghapus dosa, menjaga harta, mendatangkan rezeki, membuat gembira hati, serta menyebabkan hati yakin dan berbaik sangka kepada Allah.” (‘Uddah Ash-Shabirin wa Dzakhirah Asy-Syakirin, hlm. 313).

Marilah kita tetap membantu saudara-saudara kita di masa sulit saat pandemi Corona, juga membantu ahli medis yang berjuang di garda terdepan. Moga dengan banyak membantu mereka yang kesulitan, Allah segera mengangkat wabah ini dari tengah-tengah kita.

 

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/

Membayar Zakat Melalui Amil Zakat atau Langsung

Membayar Zakat Melalui Amil Zakat atau Langsung

Di zaman Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, ada orang-orang yang ditugasi untuk memungut zakat dan mengumpulkannya. Dan ada juga yang ditugasi menjaga gudang hasil zakat. Diantara sahabat yang pernah menjaga gudang hasil zakat adalah Abu Hurairah radhiyallahu anhu.

Abu Hurairah radhiyallahu anhu bercerita :

وَكَّلَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحِفْظِ زَكَاةِ رَمَضَانَ

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menugasi diriku untuk menjaga (hasil) zakat Ramadan. (Riwayat Bukhari).

Orang-orang yang menjadi petugas Amil zakat adalah orang-orang yang ditunjuk oleh pemerintah, bukan inisiatif sendiri, kelompok atau ormas.

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah :

وأما العاملون عليها : فهم الجباة والسعاة يستحقون منها قسطا على ذلك

Dan adapun Al ‘Aamilun ‘Alaiha, maka mereka adalah orang-orang yang ditugaskan menagih zakat dan mengumpulkannya: mereka mendapat hak dari sebagian zakat. (Tafsir Ibnu Katsir).

Berkata Syaukani rahimahullah :

“والعاملين عليها”: أي السعاة والجباة الذين يبعثهم الإمام لتحصيل الزكاة. أ.هـ من “فتح القدير” (2/531).

Dan para Amil zakat itu adalah petugas zakat yang diutus oleh imam (pemerintah) untuk menarik zakat. Mereka berhak mendapatkan jatah. (Fathul Qadir, 2/531). Sumber : https://www.tlsasah.com/2015/09/24/blog-post_24-23/

Berkata Syekh Bin Baaz rahimahullah :

العاملون عليها هم العمال الذين يوكلهم ولي الأمر في جبايتها والسفر إلى البلدان والمياه التي عليها أهل الأموال حتى يجبوها منهم ، فهم جباتها وحفاظها والقائمون عليها ، يُعطوْن منها بقدر عملهم وتعبهم على ما يراه ولي الأمر” انتهى باختصار يسير . “مجموع فتاوى ابن باز” (14/14) .

“Para pekerja zakat adalah para pekerja yang mewakli pemerintah dalam mengambil dan safar ke daerah-daerah dan pelosok desa dimana ada pemilik dana (uang) sampai diambil dari mereka. Mereka mengumpulkan, menjaga dan melaksanakan. Mereka diberi sesuai pekerjaan dan keletihannya sesuai pandangan pemerintah.” Selesai dengan diringkas. Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, (14/14). Sumber : https://www.tlsasah.com/2015/09/24/blog-post_24-23/

Berkata Syekh Utsaimin rahimahullah :

(وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا) هم الذين أقامهم الإمام أي ولي الأمر لقبض الزكاة وتفريقها فيهم ، وهم عاملون عليها ، أي : لهم ولاية عليها .

وأما الوكيل الخاص لصاحب المال الذي يقول له : يا فلان خذ زكاتي ووزعها على الفقراء فليس من العاملين عليها ؛ لأن هذا وكيل ، فهو عامل فيها ، وليس عاملاً عليها” انتهى . “فتاوى نور على الدرب” (206/29) .

Al ‘Amiluun Alaiha adalah yang mewakili imam atau pemerintah untuk mengambil zakat dan mendistribusikannya. Mereka adalah amil (pegawai zakat) maksudnya mereka mempunyai kekuasaan atasnya.

Sementara wakil khusus pemilik uang yang dikatakan kepadanya, “Wahai fulan, ambillah zakatku dan bagikan kepada orang fakir, itu tidak termasuk amil (pegawai zakat). Karena dia ada wakil, dia sebagai pegawai (pemilik uang) bukan pegawai (untuk mengambil zakat darinya).” Selesai ‘Fatawa Nurun ‘Ala Ad-Darbi, (206/29. Sumber : https://www.tlsasah.com/2015/09/24/blog-post_24-23/

Maka dengan ini disyariatkan untuk para muzakki untuk membayar zakat ke badan amil yang ditunjuk atau ditugasi oleh pemerintah.

Berkata Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu,

ادفعوا صدقاتكم إلى من ولاه الله أمركم، فمن بر فلنفسه، ومن أثم فعليها

“Serahkan zakat kalian kepada pemerintah kalian. Jika dia pemimpin yang baik, dia akan mendapatkan pahalanya dan jika dia pemimpin yang jahat, dosanya hanya akan menimpa dirinya. (Riwayat Baihaqi).

Lantas bagaimana dengan membayar zakat langsung kepada orang yang berhak menerima zakat, tidak melalui amil ?

Maka inipun diperbolehkan selama negara tidak melarang. Di zaman Rasulullah ada orang yang menyerahkan zakatnya langsung ke mustahiq, tanpa lewat amil, akan tetapi zakatnya tidak tepat sasaran.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

قَالَ رَجُلٌ لَأَتَصَدَّقَنَّ اللَّيْلَةَ بِصَدَقَةٍ، فَخَرَجَ بِصَدَقَتِهِ فَوَضَعَهَا فِي يَدِ زَانِيَةٍ، فَأَصْبَحُوا يَتَحَدَّثُونَ تُصُدِّقَ اللَّيْلَةَ عَلَى زَانِيَةٍ، قَالَ: اللهُمَّ، لَكَ الْحَمْدُ عَلَى زَانِيَةٍ، لَأَتَصَدَّقَنَّ بِصَدَقَةٍ، فَخَرَجَ بِصَدَقَتِهِ فَوَضَعَهَا فِي يَدِ غَنِيٍّ، فَأَصْبَحُوا يَتَحَدَّثُونَ: تُصُدِّقَ عَلَى غَنِيٍّ، قَالَ: اللهُمَّ، لَكَ الْحَمْدُ عَلَى غَنِيٍّ، لَأَتَصَدَّقَنَّ بِصَدَقَةٍ، فَخَرَجَ بِصَدَقَتِهِ فَوَضَعَهَا فِي يَدِ سَارِقٍ، فَأَصْبَحُوا يَتَحَدَّثُونَ: تُصُدِّقَ عَلَى سَارِقٍ، فَقَالَ: اللهُمَّ، لَكَ الْحَمْدُ عَلَى زَانِيَةٍ، وَعَلَى غَنِيٍّ، وَعَلَى سَارِقٍ، ….

Ada seseorang mengatakan, ‘Malam ini aku akan membayar zakat.’ Dia keluar rumah dengan membawa harta zakatnya. Kemudian dia berikan kepada wanita pelacur (karena tidak tahu). Pagi harinya, masyarakat membicarakan, tadi malam ada zakat yang diberikan wanita pelacur. Orang inipun bergumam: ‘Ya Allah, segala puji bagi-Mu. Zakatku jatuh ke tangan pelacur.’
‘Saya akan bayar zakat lagi.’ Ternyata malam itu dia memberikan zakatnya kepada orang kaya. Pagi harinya, masyarakat membicarakan, tadi malam ada zakat yang diberikan kepada orang kaya. Orang inipun bergumam: ‘Ya Allah, segala puji bagi-Mu. Zakatku jatuh ke tangan orang kaya.’
‘Saya akan zakat lagi.’ Malam itu, dia serahkan zakatnya kepada pencuri. Pagi harinya, masyarakat membicarakan, tadi malam ada zakat yang diberikan kepada pencuri. Orang inipun bergumam: ‘Ya Allah, segala puji bagi-Mu. Zakatku jatuh ke tangan pelacur, orang kaya, dan pencuri…” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Berkata Imam Syafii rahimahullah di dalam (fatwa) terbarunya,

يجوز للمزكي أن يفرق زكاة الأموال الظاهرة بنفسه كزكاة الباطن؛ لأنها زكاة، فجاز أن يفرقها بنفسه كزكاة المال الباطن. المهذب: 168/ 1.

Boleh untuk muzakki menyalurkan zakat harta yang tampak, secara langsung, seperti zakat harta yang tersembunyi, karena sesungguhnya dia itu zakat. Maka boleh menyalurkannya secara langsung, seperti zakat harta yang tampak. Al Madzhab 1/168. Sumber : http://www.marqoom.org/kotob/view/feqWaAdelatah/1908

Berkata Al Hanabilah :

يستحب للإنسان أن يلي تفرقة الزكاة بنفسه…..المغني: 641/ 2.

Dianjurkan bagi orang-orang mendatangi secara langsung untuk membagikan zakat. (Al Mughni 2/641). Sumber : http://www.marqoom.org/kotob/view/feqWaAdelatah/1908

Sumber: https://abufadhelmajalengka.blogspot.com

Cara I’tikaf di Rumah Saat Masa Pandemi Covid19

Cara I’tikaf di Rumah Saat Masa Pandemi Covid19

Bagaimana cara i’tikaf saat masa pandemi?

Kalau kita melihat i’tikaf haruslah di masjid, tidak bisa di rumah, walaupun ada musala rumah. Berdiam di musala rumah tidak disebut sebagai iktikaf.

Sebagai gantinya di masa pandemi, perbanyaklah ibadah di rumah (giat baca Al-Qur’an, kaji tafsirnya, berdzikir, perbanyak shalat sunnah, dll), termasuk pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Moga kita tetap mendapatkan pahala iktikaf karena pandemi ini jadi uzur yang membuat kita hanya bisa beribadah di rumah.

Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

Jika seorang hamba sakit atau melakukan safar (perjalanan jauh), maka dicatat baginya pahala sebagaimana kebiasaan dia ketika mukim dan ketika sehat.” (HR. Bukhari, no. 2996)

Dari hadits itu, Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan,

وَهُوَ فِي حَقّ مَنْ كَانَ يَعْمَل طَاعَة فَمَنَعَ مِنْهَا وَكَانَتْ نِيَّته لَوْلَا الْمَانِع أَنْ يَدُوم عَلَيْهَا

“Hadits di atas berlaku untuk orang yang ingin melakukan ketaatan lantas terhalang dari melakukannya. Padahal ia sudah punya niatan kalau tidak ada yang menghalangi, amalan tersebut akan dijaga rutin.” (Fath Al-Bari, 6:136)

Semoga bermanfaat.

Sumber: https://rumaysho.com