Antara Pola Makan Kita dengan Pola Makan ala Rasul

Antara Pola Makan Kita dengan Pola Makan ala Rasul

Penjelasan singkat tentang perbedaan ibadah dan adat

Hukum asal adat (kebiasaan, ed.) itu boleh sampai ada dalil yang melarangnya. Sedangkan hukum asal ibadah adalah haram sampai ada dalil yang membolehkannya. Perlu diketahui bahwa adat bisa menjadi ibadah dan bukan bid’ah ketika memenuhi salah satu dari dua syarat:

1. Dilakukan dengan niat dan tata cara yang benar.

Sesungguhnya engkau tidaklah menafkahkan suatu nafkah dalam rangka mengharap wajah Allah melainkan engkau akan dibalas karena usaha itu, sampai pun sesuap makanan yang engkau masukan dalam mulut istrimu.” (HR. Bukhari)

Di sini disebutkan dengan “niat ikhlas mengharap pahala di sisi Allah”, barulah perbuatan yang asalnya bukan ibadah berbuah pahala.

2. Sebagai wasilah (perantara) dan mendukung amal shalih.

ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ لاَ يُصِيبُهُمْ ظَمَأٌ وَلاَ نَصَبٌ وَلاَ مَخْمَصَةٌ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَلاَ يَطَؤُونَ مَوْطِئاً يَغِيظُ الْكُفَّارَ وَلاَ يَنَالُونَ مِنْ عَدُوٍّ نَّيْلاً إِلاَّ كُتِبَ لَهُم بِهِ عَمَلٌ صَالِحٌ

Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan, dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amanah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskan bagi mereka dengan yang demikian itu amal shalih.” (QS. At-Taubah:120)

Ayat ini menunjukkan bahwa wasilah (sarana) dan mendukung terwujudnya ketaatan dianggap sebagai ketaatan dan bernilai pahala.

Catatan penting: perkara non-ibadah itu dijadikan sebagai sarana dan bukan tujuan. Jangan sampai keliru dengan menjadikan perkara non-ibadah tersebut sebagai tujuan itu sendiri. Tidak ada ibadah yang bentuknya adat atau kebiasaan yang statusnya mubah. Melakukan ibadah dengan perkara mubah termasuk perbuatan bid’ah.

Kehati-hatian menyandarkan sesuatu pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Kehati-hatian menyandarkan sesuatu pada nabi, tidak terlepas dari benar tidaknya amalan yang dilakukan seorang hamba. Maka, amalan yang dilakukan seorang hamba akan benar bila sesuai pada enam hal, yaitu:

  1. Harus benar dan sesuai dengan syariat dalam hal “sebab”nya. Maka jika seseorang mensyari’atkan suatu ibadah karna suatu sebab yang tidak ditetapkan oleh syari’at maka ibadah itu tidak diterima.
  2. Sesuai dalam hal “jenis”nya.
  3. Sesuai dalam hal “takarannya” atau “ukurannya” atau “jumlahnya”.
  4. Sesuai dalam hal tata caranya, jika seseorang berpuasa dengan tata cara yang tidak pernah dilakukan Rasulullah dan para shahabatnya, maka puasanya tidak diterima.
  5. Sesuai dalam hal “waktunya”.
  6. Sesuai dengan syari’at dalam hal tempatnya.

Jadikanlah enam kaidah ini sebagai barometer kehati-hatian dalam menyandarkan sesuatu pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan timbanglah setiap amal yang kita lakukan dengan keenam hal tersebut.

Hadits-hadits tentang makanan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Salah satu yang sedang ramai di bicarakan saat ini tentang FC yang dikaitkan dengan sunnah Nabi yang konsekuensinya menjadikan FC sebagai amal ibadah yang berpahala.

FC — atau kita kenal dengan istilah “food combining” — adalah pola makan yang diselaraskan dengan ritme sirkardian (mekanisme alamiah tubuh manusia). Metode ini tidaklah membatasi jenis makanan tertentu, namun mengatur kombinasi makanan sehingga sesuai dengan kemampuan dan siklus pencernaan tubuh. Dengan menerapkan metode ini diharapkan beban pencernaan akan lebih ringan, tubuh dapat menyerap nutrisi secara sempurna, racun dapat dikeluarkan dari tubuh, dan sisa energi untuk pencernaan dapat disalurkan bagi perbaikan organ tubuh lainnya.

Dalam pola makan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita mengenal istilah “food balancing” (menyeimbangkan sifat yang berlebih dari suatu makanan dengan lawannya). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membatasi diri pada suatu makanan sehingga tidak makan selainnya. Ini artinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyantap berbagai varian makanan secara berimbang. Makanan yang dibatasi pada satu atau jenis makanan tertentu tidak baik dari sisi keseimbangan tubuh, yang dapat mengakibatkan tubuh kehilangan keseimbangan sehingga berujung pada rusaknya kesehatan. Jika salah satu makanan memerlukan penyeimbang (balancing) maka beliau akan makan penyeimbangnya (balancer), seperti panasnya kurma beliau seimbangkan dengan semangka atau mentimun yang bersifat dingin. (Imam Ibnul Qayim Al-Jauziyah dalam Zadul Ma’ad fi Hadyi Khayril ‘Ibad)

Beberapa faedah yang disebutkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Al-Qur’an dan as-sunnah:

1. Buah utruj, semacam jeruk (citron)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَثَلُ المُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ كَمَثَلِ الأُتْرُجَّةِ، رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ

Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al-Qur’an seperti limau, rasanya manis dan aromanya harum.” (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Semangka (biththikh)

Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau makan semangka dengan kurma muda seraya bersabda,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” يَأْكُلُ الْبِطِّيخَ بِالرُّطَبِ فَيَقُولُ: نَكْسِرُ حَرَّ هَذَا بِبَرْدِ هَذَا، وَبَرْدَ هَذَا بِحَرِّ هَذَا

Kami memecah panasnya ini (kurma muda) dengan dinginnya ini (semangka) dan dinginnya ini (semangka) dengan panasnya ini (kurma muda).” (Sunan Abu Dawud; dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani)

3. Mentimun (qitstsa)

Dari Abdullah bin Jafar,

رأيت النبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يأكل القثاء بالرطب

Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam makan mentimun dengan ruthab (kurma muda).” (HR. Bukhari dan Muslim)

4. ‘Ajwah (kurma ‘ajwa)

Dari Jabir dan Abu Said bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

العَجْوَةُ مِنَ الجَنَّةِ وَفِيهَا شِفَاءٌ مِنَ السُّمِّ، وَالكَمْأَةُ مِنَ المَنِّ وَمَاؤُهَا شِفَاءٌ لِلْعَيْنِ

Kurma ‘ajwah berasal dari surga, ia merupakan penangkal racun, daging buahnya manis, yang airnya merupakan obat mata.” (HR. An-Nasa’i dan Ibnu Majah)

5. Tin

وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ

Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun.” (QS. At-Tin:1)

6. Cuka (khall)

نِعْمَ الْإِدَامُ الْخَلُّ

Sebaik-baik lauk adalah cuka.” (HR. Muslim)

7. Delima (rumman)

فِيهِمَا فَاكِهَةٌ وَنَخْلٌ وَرُمَّانٌ

Di dalam keduanya (ada macam-macam) buah-buahan dan kurma serta delima.” (QS. Ar-Rahman:68)

8. Minyak zaitun

ائْتَدِمُوا بِالزَّيْتِ، وَادَّهِنُوا بِهِ، فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ

Berlauklah dengan minyak zaitun dan jadikanlah ia sebagai minyak oles, karena ia berasal dari pohon yan diberkahi.” (HR. Ibnu Majah)

9. Jahe (zanjabil)

وَيُسْقَوْنَ فِيهَا كَأْسًا كَانَ مِزَاجُهَا زَنْجَبِيلًا

Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe.” (QS. Al-Insan:17)

10. Ikan (samak)

أُحِلَّتْ لَكُمْ مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ، فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ، فَالْحُوتُ وَالْجَرَادُ، وَأَمَّا الدَّمَانِ، فَالْكَبِدُ وَالطِّحَالُ

Dihalalkan bagi kalian dua bangkai dan dua darah: ikan dan belalang, hati dan limpa.” (HR. Imam Ahmad dan Ibnu Majah)

11. Pisang

وَطَلْحٍ مَنْضُودٍ

Dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya).” (QS. Al-Waqi’ah:29)

12. Anggur

Disebutkan bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah makan anggur dan semangka. Anggur disebutkan di enam tempat dalam kitabullah, di antaranya Al-Baqarah ayat 266.

13. Daging
14. Sayur rebus (silqh)

Ummi Al-Mundzir berkata bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mampir ke rumahnya bersama Ali yang baru saja sembuh dari suatu penyakit. Maka mereka makan beberapa tandan kurma. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berkata kepada Ali, “Jangan, Ali! Engkau baru saja sembuh.” Ali berhenti makan. Kemudian Penulis membuatkan barli dengan silqh dan menghidangkannya kepada mereka. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Ali,

يَا عَلِيُّ أَصِبْ مِنْ هَذَا فَهُوَ أَنْفَعُ لَكَ

Wahai Ali, makanlah, karena ini lebih baik bagimu.” (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud)

15. Daging panggang (syawiyy)

Allah berfirman tentang kisah Nabi Ibrahim alaihis salam ketika menerima tamu,

فَمَا لَبِثَ أَنْ جَاءَ بِعِجْلٍ حَنِيذٍ

Dan ia (Ibrahim) bersegera melayani mereka dengan daging anak sapi yang dipanggang.” (QS. Hud:69)

Catatan penulis: masih terdapat beberapa makanan lainnya yang belum dicantumkan.

Antara kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan panduan dalam FC

  • Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya mengonsumsi sesuatu yang pada umumnya ada di derahnya. Beliau tidak pernah bersusah payah mencari sesuatu yang tidak ada di daerahnya. Adapun FC menghimbau untuk mengonsumsi makanan lokal, karena semakin dekat dengan tempat panen, maka semakin baik pula kondisi sayur/buah.
  • Salah satu cara nabi menjaga kesehatannya yaitu dengan mengonsumsi buah-buahan. Karena buah-buahan akan menjadi obat apabila dikonsumsi dengan semestinya. Allah telah menyiapkan buah-buahan yang cocok untuk daerah masing-masing. Nabi biasa makan buah-buahan hasil panen negerinya pada musimnya dan beliau tidak berpantang. Adapun FC menghimbau untuk mengonsumsi makanan lokal, karena semakin dekat dengan tempat panen, maka semakin baik pula kondisi sayur/buah.
  • Termasuk kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah makan buah-buahan di negerinya yang sedang musim. Hal itu termasuk memelihara kesehatan karena Allah melimpahkan suatu jenis buah-buahan dalam jumlah yang besar supaya bisa dikonsumsi dan bermafaat untuk hamba-Nya. (Zadul Ma’ad)
  • Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyukai dan minum madu, tetapi tidak setiap hari.
  • Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mencampur susu dengan daging. Perkataan Ibnul Qayyim dalam Ath-Thibbun Nabawi, hlm. 228—229, “Barang siapa yang mencermati tentang makanan dan segala sesuatu yang dimakan oleh Rasulullah, pasti dia akan mendapati bahwa Rasulullah tidak pernah menggabungkan antara susu dengan ikan atau antara susu dengan makanan masam. Bila susu bertemu dengan yang masam akan menyebabkan penggumpalan, pemicu iritasi pencernaan.” Adapun dalam juklak (petunjuk pelaksanaan) FC, susu dan daging bukanlah kombinasi serasi.
  • Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mencampurkan makanan yang sulit dicerna dengan yang mudah dicerna. Dalam FC, makanan yang mudah dicerna adalah buah-buahan (30 menit). Buah-buahan tidak serasi jika dikonsumsi dengan makanan lainnya yang sulit dicerna, misalnya karbohidrat (yang membutuhkan lebih dari 2 jam untuk dicerna), protein hewani (3 jam dan bahkan bisa lebih dari itu).
  • Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memakan makanan yang segardengan makanan yang diawetkan. Dalam FC pun demikian.
  • Tidak memakan susu dengan telur. Dalam FC, keduanya memang bukan kombinasi serasi.
  • Tidak memakan daging susu. Dalam FC, keduanya memang bukan kombinasi serasi.
  • Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak makan makanan yang dibusukkan dan digarami, misal: asaman, asinan, manisan (sejenis tape, manisan buah dll) karena makanan ini berbahaya dan elahirkan gangguan kesehatan atau merusak keseimbangan tubuh. Dalam FC, kedua jenis tersebut memang bukan kombinasi serasi.
Beberapa hal yang ditulis oleh Ibnu Mawasiah (Masuyah) dalam kitab Al-Mahadzir sangat baik untuk dinukil secara harfiah:
  1. Barang siapa memakan susu dengan jus buah sekaligus lalu terkena penyakit kusta atau encok, hendaklah ia menyalahkan dirinya sendiri.
  2. Barang siapa yang memakan telur rebus dingin lalu terkena asma, hendaklah menyalahkan dirinya sendiri.
  3. Jangan makan telur dan ikan asin bersamaan karena dapat menyebabkan mencret atau ambeien dan sakit gigi.
  4. Terlalu banyak makan telur dapat menimbulkan gatal-gatal pada wajah.
  5. Memakan yang asin-asin, ikan asin atau melakukan gurah sesudah mandi dapat menyebabkan panu dan eksim.
  6. Selalulah menjaga kesehatan dengan tidak malas bekerja dan tidak terlalu banyak makan dan minum.
  7. Barang siapa yang ingin sehat, hendaklah ia mengatur makanannya dengan baik.
Kesimpulan Penulis sejauh ini:
  1. Penulis setuju dengan konsep umum food combining selama hal itu tidak bertentangan dengan syari’at. Dan Penulis pribadi telah merasakan manfaatnya.
  2. Mau FC ataupun tidak, jangan sampai kita mengharamkan yang Allah halalkan, meskipun untuk diri sendiri.
  3. Sejauh pemahaman Penulis, kebiasaan-kebiasaan yang biasa dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ada yang dianjurkan untuk diikuti dan ada yang sebatas mubah (tidak ada anjuran untuk mengikutinya/tidak termasuk sunnah).
  4. Jangan sampai karena perbedaan sepele menyebabkan perpecahan yang tidak perlu.
  5. Untuk thibbun nabawi yang ada dalil khususnya, Penulis percaya 100% meskipun belum ada penelitian ilmiahnya.
  6. Penulis pribadi menjalankan FC (utamanya untuk ikhtiar menjaga kesehatan), tetapi kedudukan sunnah/syariat lebih utama. Jika ada juklak FC yang tidak sesuai dengan sunnah, tentu saja Penulis lebih memilih syariat. Tapi sampai sekarang, tidak menemukan kasus demikian. Wallahu alam.
  7. Dalam juklak FC memang ada beberapa yang mirip dengan pola makan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tapi Penulis tidak bisa menyamakan FC dengan sunnah apalagi dengan menjalankan FC = menjalankan sunnah. Bagi Penulis, sesuatu yang ada contohnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, insya Allah baik untuk kita semua.
  8. Menjalankan FC atau tidak, yang terpenting sebagai muslim kita harus menjaga adab makan dan minum seperti yang dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Referensi:
  • Food Combining: Kombinasi Makanan Serasi. Andang Gunawan. Gramedia.
  • Jamuan Makan dan Minum bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mahmud Nashar. Pustaka At-Tibyan.
  • Mengapa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Tidak Gampang Sakit. Asadullah Al-Faruq. As-Salam Publishing.
  • Mitos dan Fakta Kesehatan. Erikar Lebang. Penerbit Buku Kompas.
  • Praktek Kedokteran Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Penerbit Hikam Pustaka.
  • Shahih Thibbun Nabawi. Aiman bin Abdullah bin Abdul Fattah. Pustaka Imam Ahmad.
  • http://rumaysho.com/belajar-islam/jalan-kebenaran/4225-beda-antara-adat-dan-ibadah.html

*) Catatan Pemuraja’ah:

 

  • Dari artikel di atas, Penulis telah menyebutkan teori FC konvensional beserta contohnya (baik dalam bentuk juklak maupun jurnal), kemudian Penulis membandingkannya dengan tuntunan pola makan yang disebutkan dalam kitab-kitab para ulama.
  • Menjadikan hal mubah sebagai sarana ibadah tidak memerlukan dalil. Jika pelaksanaan FC mesti “menunggu” dalil berarti FC menjadi sebuah ibadah yang mengikuti sunnah, bukan lagi berstatus ibadah dengan sarana yang mubah.

Penulis : Oky Key Primela
Muraja’ah : Ustadz Ammi Nur Baits

Sumber: https://muslimah.or.id/

Waktu-waktu Mustajab Untuk Berdo’a

Waktu-waktu Mustajab Untuk Berdo’a

Allah memberikan masing-masing waktu dengan keutamaan dan kemuliaan yang berbeda-beda, diantaranya ada waktu-waktu tertentu yang sangat baik untuk berdoa, akan tetapi kebanyakan orang menyia-nyiakan kesempatan baik tersebut. Mereka mengira bahwa seluruh waktu memiliki nilai yang sama dan tidak berbeda. Bagi setiap muslim seharusnya memanfaatkan waktu-waktu yang utama dan mulia untuk berdoa agar mendapatkan kesuksesan, keberuntungan, kemenangan dan keselamatan. Adapun waktu-waktu mustajabah tersebut antara lain:

Sepertiga Akhir Malam

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya : “Sesungguhnya Rabb kami yang Maha Berkah lagi Maha Tinggi turun setiap malam ke langit dunia hingga tersisa sepertiga akhir malam, lalu berfirman ; barangsiapa yang berdoa, maka Aku akan kabulkan, barangsiapa yang memohon, pasti Aku akan perkenankan dan baran1gsiapa yang meminta ampun, pasti Aku akan mengampuninya”  (Shahih Al-Bukhari, kitab Da’awaat bab Doa Nisfullail 7/149-150).

Tatkala Berbuka Puasa Bagi Orang Yang Berpuasa

Dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash Radhiyallahu ‘anhu bahwa dia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya:

Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa pafa saat berbuka ada doa yang tidak ditolak” (Sunan Ibnu Majah, bab Fis Siyam La Turaddu Da’watuhu 1/321 No. 1775. Hakim dalam kitab Mustadrak 1/422. Dishahihkan sanadnya oleh Bushairi dalam Misbahuz Zujaj 2/17).

Setiap Selepas Shalat Fardhu

Dari Abu Umamah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang doa yang paling didengar oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, beliau menjawab:

Di pertengahan malam yang akhir dan setiap selesai [dubur shalat, yg benar mungking penghujung shalat, bukan selesai shalat. krn syaikhul islam menegaskan Nabi tdk pernah berdoa setelah shalat] shalat fardhu” (Sunan At-Tirmidzi, bab Jamiud Da’awaat 13/30. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi 3/167-168 No. 2782).

Sesaat Pada Hari Jum’at

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Abul Qasim Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Sesungguhnya pada hari Jum’at ada satu saat yang tidak bertepatan  seorang hamba muslim shalat dan memohon sesuatu kebaikan kepada Allah melainkan akan diberikan padanya, beliau berisyarat dengan tangannya akan sedikitnya waktu tersebut” (Shahih Al-Bukhari, kitab Da’awaat 7/166. Shahih Muslim, kitab Jumuh 3/5-6)

Waktu yang sesaat itu tidak bisa diketahui secara persis dan masing-masing riwayat menyebutkan waktu tersebut secara berbeda-beda, sebagaimana yang telah disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 11/203.

Dan kemungkinan besar waktu tersebut berada pada saat imam atau khatib naik mimbar hingga selesai shalat Jum’at atau hingga selesai waktu shalat ashar bagi orang yang menunggu shalat maghrib.

Pada Waktu Bangun Tidur Pada Malam Hari Bagi Orang Yang Sebelum Tidur Dalam Keadaan Suci dan Berdzikir Kepada Allah

Dari ‘Amr bin ‘Anbasah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Tidaklah seorang hamba tidur dalam keadaan suci lalu terbangun pada malam hari kemudian memohon sesuatu tentang urusan dunia atau akhirat melainkan Allah akan mengabulkannya” (Sunan Ibnu Majah, bab Doa 2/352 No. 3924. Dishahihkan oleh Al-Mundziri 1/371 No. 595)

Terbangun tanpa sengaja pada malam hari (An-Nihayah fi Gharibil Hadits 1/190) Yang dimaksud dengan “ta’ara minal lail” yaitu terbangun dari tidur pada malam hari.

Doa Diantara Adzan dan Iqamah

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

Doa tidak akan ditolak antara adzan dan iqamah” (Sunan Abu Daud, kitab Shalat 1/144 No. 521. Sunan At-Tirmidzi, bab Jamiud Da’waat 13/87. Sunan Al-Baihaqi, kitab Shalat 1/410. Dishahihkan oleh Al-Albani, kitab Tamamul Minnah hal. 139)

Doa Pada Waktu Sujud Dalam Shalat

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

Adapun pada waktu sujud, maka bersungguh-sungguhlah berdoa sebab saat itu sangat tepat untuk dikabulkan”. (Shahih Muslim, kitab Shalat bab Nahi An Qiratul Qur’an fi Ruku’ wa Sujud 2/48)

Yang dimaksud adalah sangat tepat dan layak untuk dikabulkan.

Pada Saat Sedang Kehujanan

Dari Sahl bin a’ad Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda.

Dua doa yang tidak pernah ditolak ; doa pada waktu adzan dan doa pada waktu kehujanan”. (Mustadrak Hakim dan dishahihkan oleh Adz-Dzahabi 2/113-114. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami‘ No. 3078).

Imam An-Nawawi berkata bahwa penyebab doa pada waktu kehujanan tidak ditolak atau jarang ditolak dikarenakan pada saat itu sedang turun rahmat khususnya curahan hujan pertama di awal musim. (Fathul Qadir 3/340).

Pada Saat Ajal Takziah

Dari Ummu Salamah bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi rumah Abu Salamah (pada hari wafatnya), dan beliau mendapatkan kedua mata Abu Salamah terbuka lalu beliau memejamkannya kemudian bersabda:

Sesungguhnya tatkala ruh dicabut, maka pandangan mata akan mengikutinya’. Semua keluarga histeris. Beliau bersabda : ‘Janganlah kalian berdoa untuk diri kalian kecuali kebaikan, sebab para malaikat mengamini apa yang kamu ucapkan” (Shahih Muslim, kitab Janaiz 3/38)

Pada Malam Lailatul Qadar

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya:

Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar“. (Al-Qadr : 3-5)

Imam As-Syaukani berkata bahwa kemuliaan Lailatul Qadar mengharuskan doa setiap orang pasti dikabulkan. (Tuhfatud Dzakirin hal. 56)

Doa Pada Hari Arafah

Dari ‘Amr bin Syu’aib Radhiyallahu ‘anhu dari bapaknya dari kakeknya bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya:

“Sebaik-baik doa adalah pada hari Arafah” (Sunan At-Tirmidzi, bab Jamiud Da’waat 13/83. Dihasankan oleh Al-Albani dalam Ta’liq alal Misykat 2/797 No. 2598).

 

 

Penulis: Siti Anisa, AR

Muraja’ah: Ustadz Ammi Nur Baits

Sumber: https://muslimah.or.id/

Ada Apa di Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah

Ada Apa di Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah

Adakah keutamaan sepuluh hari pertam bulan Dzulhijjah dibanding dengan hari-hari lainnya? Amalan apakah yang disunnahkan untuk di kerjakan diwaktu-waktu tersebut?


Ahamdulillah,

Diantara waktu-waktu yang agung adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Dimana Allah Ta’ala mengutamakannya diantara hari-hari yang lain. Dari Ibnu Abbas radhiallahu”anhuma dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

ﻣﺎ ﻣﻦ ﺃﻳﺎﻡ ﺍﻟﻌﻤﻞ
ﺍﻟﺼﺎﻟﺢ ﻓﻴﻬﻦ ﺃﺣﺐ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻨﻪ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﻳﺎﻡ
ﺍﻟﻌﺸﺮ . ﻗﺎﻟﻮﺍ ﻭﻻ ﺍﻟﺠﻬﺎﺩ ﻓﻲ ﺳﺒﻴﻞ ﺍﻟﻠﻪ !! ﻗﺎﻝ : ﻭﻻ
ﺍﻟﺠﻬﺎﺩ ﻓﻲ ﺳﺒﻴﻞ ﺍﻟﻠﻪ ، ﺇﻻ ﺭﺟﻞ ﺧﺮﺝ ﺑﻨﻔﺴﻪ ﻭﻣﺎﻟﻪ
ﻭﻟﻢ ﻳﺮﺟﻊ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ ﺑﺸﻲﺀ ( ﺃﺧﺮﺟﻪ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ
2/457

“Tidak ada amalan shalih yang lebih dicintai Allah daripada amalan yang dilakukan di sepuluh hari ini (hari-hari pertama bulan Dzulhijjah). Maka para sahabat bertanya, “Tidak juga jihad fi sabilillah? ” Beliau menjawab, “Tidak juga jihad fi sabilillah. Kecuali seseorang yang keluar dengan membawa jiwa dan hartanya namun tidak ada satupun yang kembali.” (HR. Bukhari 2/457)

Juga dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

ﻣﺎ ﻣﻦ ﻋﻤﻞ ﺃﺯﻛﻰ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻠﻪ
ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ، ﻭﻻ ﺃﻋﻈﻢ ﺃﺟﺮﺍ ﻣﻦ ﺧﻴﺮ ﻳﻌﻤﻠﻪ ﻓﻲ ﻋﺸﺮ
ﺍﻷﺿﺤﻰ . ﻗﻴﻞ : ﻭﻻ ﺍﻟﺠﻬﺎﺩ ﻓﻲ ﺳﺒﻴﻞ ﺍﻟﻠﻪ ؟ ﻗﺎﻝ :
ﻭﻻ ﺍﻟﺠﻬﺎﺩ ﻓﻲ ﺳﺒﻴﻞ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ، ﺇﻻ ﺭﺟﻞ ﺧﺮﺝ
ﺑﻨﻔﺴﻪ ﻭﻣﺎﻟﻪ ، ﻓﻠﻢ ﻳﺮﺟﻊ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ ﺑﺸﻲﺀ ( ﺭﻭﺍﻩ
ﺍﻟﺪﺍﺭﻣﻲ 1/357 ﻭﺇﺳﻨﺎﺩﻩ ﺣﺴﻦ ﻛﻤﺎ ﻓﻲ ﺍﻹﺭﻭﺍﺀ
3/398

“Tidak ada satupun amalan yang lebih bagus dan lebih besar pahalanya disisi Allah ‘azza Wa Jalla daripada amalan kebaikan yang dikerjakan di sepuluh hari bulan berkurban (Dzulhijjah).” Beliau ditanya, “Tidak juga jihad fi sabilillah?” beliau menjawab, “Tidak juga jihad fi sabilillah kecuali seseorang yang keluar dengan membawa jiwa dan hartanya dan tidak ada satupun yang kembali darinya.” (Diriwayatkan Ad-Darimy 1/357 dengan sanad hasan sebagaimana tercantum dalam Irwa’ 3/398)

Dalil-dalil diatas dan dalil yang lainnya menunjukkan akan keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dibandingkan dengan hari-hari lainnya tanpa terkecuali sekalipun sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Akan tetapi malam hari di sepuluh terakhir bulan Ramadhan lebih utama dibandingkan dengan sepuluh malam pertama bulan Dzulhijjah. Karena dimalam itu diturunkan Lailatul Qadr yang lebih baik dari seribu bulan. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 5/412)

Oleh karena itu, seorang muslim sudah sepantasnya membuka amalan di hari pertama bulan Dzuhijjah dengan taubat yang murni kepada Allah ‘Azza Wa Jalla. Kemudian memperbanyak amalan-amalan shalih apapun bentuknya (tanpa mengkhususkan amal tertentu- terj) dan memusatkan konsentrasinya pada amalan berikut:

1. Puasa

Seorang muslim disunahkan berpuasa di sembilan hari pertama bulan Dzulhijjah. Karena Nabi shallallahu’alaihi wasallam memberi dorogan untuk beramal di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah sementara puasa adalah salah satu amalan yang utama. Dan sungguh Allah Ta’ala telah memilih ibadah puasa untuk diri-Nya. Sebagaimana dalam hadist qudsi Allah Ta’ala berfirman, “Semua amalan Bani Adam untuk dirinya kecuali puasa. Karena amalan ini untuk-Ku, dan aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari 1805)

Dan Nabi shallallahu’alaihi wasallam juga berpuasa di sembilan hari pertama bulan dzulhijjah. Dari Hunaidah bin Khalid dari istrinya, dari sebagian istri-istri Nabi shallallahu’alaihi wasallam. Ia berkata,

ﻛﺎﻥ ﺍﻟﻨﺒﻲ
ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻳﺼﻮﻡ ﺗﺴﻊ ﺫﻱ ﺍﻟﺤﺠﺔ ﻭﻳﻮﻡ
ﻋﺎﺷﻮﺭﺍﺀ ﻭﺛﻼﺛﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﻣﻦ ﻛﻞ ﺷﻬﺮ . ﺃﻭﻝ ﺍﺛﻨﻴﻦ ﻣﻦ
ﺍﻟﺸﻬﺮ ﻭﺧﻤﻴﺴﻴﻦ ” ﺃﺧﺮﺟﻪ ﺍﻟﻨﺴﺎﺋﻲ 4/205 ﻭﺃﺑﻮ
ﺩﺍﻭﺩ ﻭﺻﺤﺤﻪ ﺍﻷﻟﺒﺎﻧﻲ ﻓﻲ ﺻﺤﻴﺢ ﺃﺑﻲ ﺩﺍﻭﺩ 2/462

“Dahulu Nabi shallallahu’alaihi wasallam berpuasa di sembilan hari pertama bulan dzulhijjah, hari ‘Asyura, tiga hari setiap bulan dan hari senin pertama pada setiap bulan dan di dua kamis.” (Dikeluarkan oleh An-Nasai 4/205 dan Abu Dawud. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Abu Dawud 2/462)

2. Memperbanyak tahmid, tahlil dan takbir (takbiran)

Disunnah membaca tahmid, takbir, tahlil dan tasbih di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dan mengeraskan bacaannya tatkala di masjid, di rumah, di jalan-jalan dan setiap tempat yang dibperbolehkan untuk berdzikir kepada Allah. Demikian ini dilakukan untuk menampakkan syiar ibadah, sekaligus pengumuman (bagi orang lain yang belum tahu keutamaan bulan Dzulhijjah -penj) mengagungkan Allah Ta’ala.

Mengeraskan bacaan ini hanya dilakukan oleh kaum laki-laki, sementara perempuan, cukup dengan suara yang lirih.

Allah Ta’ala berfirman,

ﻟﻴﺸﻬﺪﻭﺍ ﻣﻨﺎﻓﻊ ﻟﻬﻢ ﻭﻳﺬﻛﺮﻭﺍ ﺍﺳﻢ
ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﺃﻳﺎﻡ ﻣﻌﻠﻮﻣﺎﺕ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﺭﺯﻗﻬﻢ ﻣﻦ ﺑﻬﻴﻤﺔ
ﺍﻷﻧﻌﺎﻡ ( ﺍﻟﺤﺞ. 28/

“Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan agar mereka menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Dia berikan kepada mereka berupa hewan ternak.” (QS. Al Hajj: 28)

Jumhur berpendapat makna kalimat, al ayyamul ma’lumat adalah sepuluh hari pertama bulan Dzuhijjah. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhuma, “ l Ayyam Al ma’lumat yaitu sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.”

Dalil lainnya hadits yang dibawkan Ibnu ‘Umar radhiallahu’anhuma, dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam, beliau bersabda, ”Tidak ada amalan yang lebih dicintai Allah daripada amalan yang dilakukan pada hari-hari yang sepuluh ini, maka perbanyaklah membaca tahlil, takbir dan tahmid.” (Diriwayatkan Ahmad 7/224 dengan sanad hasan menurut Ahmad Syakir)

Adapun bacaan takbiran diantaranya kalimat: Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaha Illallah, wallahu Akbar walillahil hamd. Atau kalimat takbiran bacaan lainnya.

Di zaman sekarang ini membaca takbir menjadi amalan yang ditinggalkan, terutama di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah, hampir tidak pernah kita dengar, kecuali dari segelintir orang. Karena itu, hendaknya takbiran ini dibaca dengan suara keras demi menghidupkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sekaligus mengingatkan orang-orang yang lalai.

Terdapat riwayat yang shahih bahwasanya Ibnu Umar dan Abu Hurairah radhiallahu’anhuma mereka berdua pergi ke pasar pada sepuluh hari Dzulhijah. Keduanya bertakbir hingga orang-pun ikut bertakbir sebagaimana beliau berdua bertakbir. Dan yang dimaksudkan “orang-orang bertakbir dengan bacaan takbir ” adalah membaca takbir secara sendirian tidak berjama’ah dengan satu suara karena takbir jama’ah ini bukan termasuk ajaran syari’at.

Sesungguhnya menghidupkan sunnah yang hampi-hampir saja dilupakan orang termasuk amalan yang mendatangkan pahala yang besar. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam,
“ﻣﻦ ﺃﺣﻴﺎ

ﺳﻨﺔ ﻣﻦ ﺳﻨﺘﻲ ﻗﺪ ﺃﻣﻴﺘﺖ ﺑﻌﺪﻱ ﻓﺈﻥ ﻟﻪ ﻣﻦ ﺍﻷﺟﺮ ﻣﺜﻞ
ﻣﻦ ﻋﻤﻞ ﺑﻬﺎ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺃﻥ ﻳﻨﻘﺺ ﻣﻦ ﺃﺟﻮﺭﻫﻢ ﺷﻴﺌﺎ (
ﺃﺧﺮﺟﻪ ﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ 7/443 ﻭﻫﻮ ﺣﺪﻳﺚ ﺣﺴﻦ ﻟﺸﻮﺍﻫﺪﻩ

“Barangsiapa yang menghidupkan sunnahku yang telah hilang sepeninggalku maka ia akan mendapatkan pahala sebagaimana pahala orang-orang yang megikutinya tanpa dikurangi sedikitpun.” [Dikeluarkan oleh Imam At-Tirmidzi 7/443, hadist tersebut hadits hasan dengan syawahid (hadits penguat)]

3. Menunaikan haji dan umrah

Sesungguhnya amalan yang paling utama yang dilakukan selama sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah adalah haji di Baitullah. Siapa yang Allah beri taufiq untuk menunaikan ibadah haji di rumah-Nya dan melakukan syarat-syarat serta rukun-rukun haji sebagaimana yang dituntunkan syariat maka insyaallah dia termasuk orang yang disebutkan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dalam hadits berikut, “Haji yang mabrur tidak ada balasannya kecuai surga”.

4. Berkurban

Diantara amalan shalih selama sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah sebagai bentuk taqarrub kepada Allah adalah dengan menyembelih hewan kurban yang baik dan yang gemuk serta menginfakkan harta dijalan Allah.

Untuk itu, bersegeralah memanfaatkan waktu dihari-hari yang agung tersebut sebelum menyesal seperti penyesalan orang lalai atas apa yang ia lakukan dan sebelum ia diminta pulang sementara belum terjawab apa yang ia tanyakan.

Sumber: http://islamqa.info/ar/ref/49042
Penerjemah: Tim Penerjemah Muslimah
Muroja’ah: Ust. Ammi Nur Baits

 

Sumber: https://muslimah.or.id/

Ada Apa di Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah

Bekal di Bulan Dzulhijjah

Diantara kasih sayang Allah azza wa jalla terhadap hamba-Nya Dia menjadikan untuk mereka musim-musim ketaatan, dimana di dalamnya mereka dianjurkan untuk memperbanyak amal sholeh. Walaupun pada hakikatnya ketaatan hakiki itu tidak mengenal musim. Dan diantara musim ketaatan tersebut adalah bulan Dzulhijjah.

Berikut ini beberapa amalan yang disunnahkan dibulan Dzulhijjah.

  1. Menjaga amalan-amalan fardhu dan memperbanyak sholat-sholat nafilah (sunnah). Hal ini berdasarkan keumuman dalil yang menganjurkan memperbanyak amal sholeh di bulan ini.
  2. Berpuasa pada 9 hari pertama di bulan Dzulhijjah. Sebagian istri nabi menuturkan, “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berpuasa pada 9 hari di bulan Dzulhijjah, hari Asyuro’ dan tiga hari pada setiap bulan” (HR. Ahmad, Abu Daud dan An-Nasai).
    Bila tidak mampu berpuasa 9 hari berturut turut, maka jangan sampai melewatkan puasa Arafah. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang puasa hari Arafah, lalu beliau menjawab,

    يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ

    Puasa itu menghapus dosa satu tahun yang lalu dan satu tahun berikutnya” (HR. Muslim)

  3. Bertakbir, bertahlil dan bertahmid. Hal ini berdasarkan hadits Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

    مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ وَلَا أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعَمَلُ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنْ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ

    Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan amal shalih di dalamnya lebih dicintai oleh-Nya daripada hari yang sepuluh (sepuluh hari pertama dari Dzulhijjah), karenanya perbanyaklah tahlil, takbir, dan tahmid di dalamnya” (HR. Ahmad. Sanad hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir).

    Imam Bukhari mengatakan, “Dahulu Umar –radhiallahu anhu– mengumandangkan takbir di dalam kemahnya di mina, maka penghuni masjipun mendengarnya, lalu mereka bertakbir, orang-orang dipasarpun ikut bertakbir hingga mina dipenuhi gema takbir”.

    Disunnahkan untuk mengeraskan takbir, baik di jalanan, di pasar-pasar, bahkan diatas pembaringan sekalipun sebagaimana praktek yang dilakukan salafus sholeh. Berikut ini beberapa bentuk lafdz takbir yang disunnahkan.

    • Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Kabiiran
    • Allahu Akbar, Allahu Akbar, la Ilaaha Illallahu Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd.
    • Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, la Ilaaha illallahu Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd.

    Catatan: Sunnah memperbanyak takbir, tahlil dan tahmid ini mulai dilalaikan banyak orang tidak hanya orang awam, bahkan orang-orang sholeh pun mulai meninggalkan sunnah ini, tentu ini sangat disayangkan. Kondisi ini jauh berbeda dengan kondisi di zaman salafussholeh –ridhwanullah alaihim-. Jadi sudah selayaknya kita menghidupkan kembali sunnah yang mulai dilalaikan banyak orang ini.

  4. Berqurban. Allah azza wa jalla berfirman:

    فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

    Maka dirikanlah Shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah” (Al-Kautsar;2).

    Ibadah ini merupakan sunnah muakkadah tidak sampai pada derajad wajib. Imam At-Thahawi mengatakan:

    ويدل على عدم الوجوب أن أبا بكر ـ رضي الله عنه ـ ترك التضحية, وكذلك عمر وابن عباس وعدد من الصحابة, خشية أن يرى الناس أن التضحية واجبة،

    “Dan yang menunjukkan bahwa ibadah ini tidaklah wajib adalah perbuatan Abu Bakar -radhiallahu anhu- yang pernah meninggalkan berkurban, demikian juga Umar, Ibnu Abbas dan beberapa sahabat lain -radhiallahu anhum-. Mereka tidak berkurban karena khawatir orang-orang akan menyangkanya sebagai ibadah yang wajib”.

    As-Sya’bi –rahimahullah– meriwayatkan bahwa Imam Syuraih mengatakan,

    رأيت أبا بكر وعمر ـ رضي الله عنهما ـ وما يضحيان كراهة أن يقتدى بهما

    “Aku melihat Abu Bakar dan Umar –radhiallahu anhuma– tidak melakukan Ibadah Qurban karena takut orang-orang akan mengikuti keduanya”. Maksudnya mereka meninggalkannya karena takut orang-orang akan menganggapnya sebagai sesuatu yang wajib.

    Adapun Hadits Abu Hurairah –radhiallahu anhu– yang berbunyi:

    من وجد سعة لأن يضحي فلم يضح فلا يحضر مصلانا

    Barangsiapa memiliki kesanggupan lantas ia tidak berkurban, maka janganlah ia menghadiri lapangan tempat shalat kami ini“.
    Hadits tersebut di atas mauquf kepada Abu Hurairah. Bahkan Al- Arna’uth di dalam takhrij Musnad mendhaifkan hadits tersebut dikarenakan adanya rowi yang bernama Abdullah Ibnu Ayyasy, dan beliau dhoif.

    Meskipun tidak sampai pada derajad wajib tetap saja ibadah ini tidak layak ditinggalkan apalagi disaat Allah memberi kelapangan rezeki kepada kita.

  5. Melaksanakan Ibadah Haji bagi yang mampu. Dan diwajibkan bagi orang yang belum menunaikan haji islam.

Hendaklah seorang muslim menyambut musim ketaatan ini dengan taubat yang tulus, tekad yang kuat untuk tidak kembali melakukan dosa serta bersungguh-sungguh dalam melakukan amal sholeh seperti membaca Al-Quran, Dzikrullah dan amalan baik lainnya.

Sekian, semoga bermanfaat.

Madinah 29 Dzulhijjah 1435 H

[diadaptasi dari risalah seputar bulan Dzulhijjah oleh Syaikh Muhammad sholeh Al Utsaimin –rahimahullah– ]

Penulis: Aan Chandra Thalib, Lc.

 

Sumber: https://muslimah.or.id/

Seputar Puasa Syawwal

Seputar Puasa Syawwal

Pertanyaan: Bolehkah berpuasa 6 hari di bulan Syawal sementara dia belum menunaikan hutang puasa Ramadhannya ?

Demikianlah permasalahan yang seringkali mengusik hati kaum muslimin berkenaan dengan semangatnya menjalankan amalan puasa Syawal. Fatwa Lajnah Da’imah yang diketuai oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz menegaskan:

Ulama berselisih pendapat dalam masalah ini. Pendapat yang lebih mendekati kebenaran adalah disyariatkannya mendahulukan hutang puasa daripada puasa sunnah 6 hari bulan Syawal dan puasa sunnah lainnya . Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah yang berbunyi :

من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر

Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian puasa 6 hari di bulan Syawal seolah–olah ia berpuasa 1 tahun penuh.” (HR. Muslim)

Barangsiapa mendahulukan puasa 6 hari bulan syawwal daripada hutang puasa Ramadhannya, berarti ia belum mengikutkan puasa Ramadhan, akan tetapi hanya mengikutkan sebagian puasa Ramadhannya. Kemudian perlu diketahui pula, hutang puasa adalah wajib, sedangkan puasa 6 hari dibulan syawwal adalah Sunnah. Maka memperhatikan yang wajib itu lebih utama daripada yang Sunnah. (Majmu’ Fatawa wa Maqolat Mutanawwi’ah 15/ 392)

Para ulama berselisih pendapat dalam masalah apakah boleh mendahulukan puasa sunnah Syawal sementara ia menanggung hutang puasa Ramadhan. Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i dan Ahmad berpendapat bolehnya melakukan itu. Mereka mengqiyaskan dengan sholat thathawu’ sebelum  pelaksanaan sholat fardhu.

Sedangkan madzhab Imam Ahmad yang masyhur  berpendapat tidak diperbolehkan mengerjakan puasa sunnah dan tidak sah, selama masih mempunyai tanggungan puasa wajib. Sementara itu Abu Malik, penulis kitab shahih Fiqhis Sunnah berpendapat, masih memungkinkan bolehnya melaksanakan puasa 6 hari di bulan Syawal, meskipun masih memiliki tanggungan puasa Ramadhan.

Demikianlah puasa 6 hari di bulan Syawal yang memiliki keutamaan, seolah – olah ia berpuasa setahun penuh. Itulah nikmat yang diberikan Allah untuk hamba-hamba-Nya yang menunaikan ibadah puasa karena Allah.

Dari Tsauban, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

من صام رمضان فشهر بعشرة أشهر وصيام ستة أيام بعد الفطر فذلك تمام صيام السنة

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan, satu bulan seperti 10 bulan dan berpuasa 6 hari setelah Idul Fitri, maka itu merupakan kesempurnaan puasa setahun penuh.” (Hadits Shahih, riwayat Ahmad, 5/ 280; An-Nasa’ai, 2860; dan Ibnu Majjah, 1715. Lihat pula Shahih Fiqhis Sunnah 2/ 134 ).

Semoga Allah memudahkan kita melakukan puasa Syawal baik dilakukan berurutan atau terpisah–pisah asalkan masih di bulan Syawal. Puasa Sunnah ini sebagai cerminan kecintaan seorang hamba kepada Allah, dan bukti ia sangat menyegerakan berpuasa Sunnah setelah sebulan penuh menjalankan puasa wajib di bulan Ramadhan yang penuh berkah.

Dan kita berdo’a semoga Allah memberikan kemudahan kepada kita untuk selalu istiqomah di jalan Allah dan Rasul-Nya meskipun Ramadhan telah berlalu.

*****

Referensi :

  1. Majalah Al-Furqon edisi 3 Tahun V Syawwal 1426 H.
  2. Majalah As Sunnah edisi 07 dan 08 TH 1427 H.

 

Penulis: Isruwanti Ummu Nashifah

Baca selengkapnya https://muslimah.or.id/9617-seputar-puasa-syawwal.html

Romadhon Akan Segera Pergi

Romadhon Akan Segera Pergi

Segala puji hanya milik Allah. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, dan sahabatnya.

Tak diragukan lagi bahwa penutup suatu amal memiliki urgensi yang sangat agung. Dahulu para salaf (pendahulu) rahimahumullah menaruh perhatian kepada penghujung amal mereka dalam rangka meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sekaligus mengamalkan kandungan firman Allah Ta’ala,

وَالَّذِيْنَ يُؤْتُوْنَ مَا ءَاتَوا وَقُلُوْبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُوْنَ

Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut. Sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka.”  (QS. Al-Mu’minun : 60).

Allah Subhanahu wa Ta’ala mendeskripsikan hamba-Nya yang beriman bahwa mereka mempersembahkan amal shalih dan ketaatan serta bersungguh-sungguh dalam beribadah. Di samping itu, mereka sangat takut kepada Tuhan mereka Subhanahu wa Ta’ala karena mereka tidak tahu apakah amal mereka diterima atau tidak. Oleh karena itu, seseorang tidak boleh merasa ‘ujub (bangga) dengan amalnya, meskipun sangatlah banyak amalnya. Karena, jika Allah tidak menerimanya, maka amal tersebut tidaklah berguna sama sekali, meskipun jumlahnya sangat banyak maupun besar. Selama amal tersebut tertolak, maka ia bagaikan debu yang berterbangan, hanya tersisa lelah, tanpa faidah.

Namun, jika Allah menerimanya, meskipun kadarnya sedikit, maka Dia Jalla wa ‘Ala akan melipatgandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللهَ لاَ يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيْمًا

Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar dzarrah. Dan jika ada kebaikan sebesar dzarrah, niscaya Allah akan melipat-gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya ganjaran yang agung.” (QS. An-Nisa’ : 40).

Akan tetapi, amal hanyalah sebagai sebab. Sedangkan parameter yang sesungguhnya adalah qabul (diterimanya amal). Ditinjau dari sudut pandang hamba, maka hendaknya ia mencurahkan sebab dengan mengerjakan amal. Adapun dari sudut pandang Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Dia lebih mengetahui siapa orang-orang yang muhsin (yang amalannya baik). Akan tetapi, seorang mukmin harus yakin bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan ganjaran hamba-Nya yang beramal meskipun sedikit. Oleh karena itu, hendaknya seorang hamba memperbanyak amal, memurnikan niat, menjadikan amalnya sesuai tuntunan, dan berharap kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan tidak putus asa dari rahmat Allah. Di samping itu, ia tidak merasa ‘ujub atau menganggap banyak amalnya. Akan tetapi, ia memohon kepada Allah agar amalnya diterima dan mengiringi amalnya dengan istighfar (memohon ampun). Sebab, manusia adalah tempatnya salah dan keliru. Boleh jadi seseorang amalnya banyak, tetapi ada cacat dan kekurangan dalam amalnya atau dinodai dengan sesuatu yang dapat merusak dan mengurangi pahala amal. Lantas ia tambal cacat dan kekurangan tersebut dengan istighfar.

Hendaknya seseorang memperbanyak istighfar di penghujung amal dan ibadahnya, semisal penghujung bulan Ramadhan. Seorang muslim yang diberi taufiq oleh Allah untuk berpuasa dan shalat malam, sepatutnya ia menyertai amal tersebut istighfar dan merendah di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak selayaknya ia merasa dirinya telah menunaikan amal sesuai dengan tuntutan syariat. Karena, dia tidak tahu, bisa jadinya pada amalnya terdapat cela yang banyak. Oleh karenanya, hendaknya ia memperbanyak istighfar dan menganggap bahwa amalnya sangatlah sedikit dibandingkan hak Allah Subhanahu wa Ta’ala yang semestinya ia penuhi.

Meskipun amalannya banyak, ikhlas, dan sungguh-sungguh, tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap berdoa kepada Rabbnya,

لاَ أُحْصِيْ ثَنَاءً عَلَيْكَ

Aku tak sanggup menghitung sanjungan atas-Mu.” (HR. Muslim no. 486).

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakui bahwa beliau belum menunaikan hak Rabbnya ‘Azza wa Jalla secara sempurna. Lantas bagaimana lagi dengan manusia selain beliau? Mereka yang Allah sifati bahwa mereka adalah “Orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut.” Yakni dengan hati yang khawatir karena mereka tidak merasa aman dengan makar (tipu daya) Allah. Mereka mengatakan, “Kami shalat, puasa, dan menunaikan kewajiban kami.” Mereka tidak mengatakan bahwa amal mereka pasti diterima. Karena, itu adalah merasa ‘ujub dengan amal dan men-tazkiyah (menyucikan) diri sendiri dan amalnya. Seberapa pun besar amal seorang muslim, semestinya ia menganggap kecil amalnya di hadapan Allah. Seberapa pun banyak amalnya, ia tak tahu apakah amalnya sah dan diterima ataukah tidak. Betapa banyak keburukan yang muncul dari manusia baik dengan lisan, perbuatan, maupun tingkah lakunya. Terjadi banyak kejelekan dari manusia. Boleh jadi keburukan itu akan menghabiskan pahala amal atau minimal menguranginya dengan jumlah yang banyak.

Selayaknya bagi seorang muslim untuk menghitung-hitung kejelekannya dan tidak menghitung-hitung kebaikannya. Demikian pula hendaknya ia melakukan muhasabah (introspeksi) terhadap dirinya. Ia hitung keburukan dan dosanya lantas ia ber-istighfar dan bertaubat kepada Allah. Janganlah ia hitung kebaikannya lantas mengatakan, “Aku telah beramal ini dan itu.” Hendaknya ia serahkan amalnya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ia yakini bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala hamba-Nya yang beramal dan amalnya telah tercatat jika amalnya sah dan diterima. Ia tidak khawatir bahwa Allah akan menelantarkan kebaikannya,

وَمَا كَانَ اللهُ لِيُضِيْعَ إِيْمَانَكُمْ إِنَّ اللهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوْفٌ رَحِيْمٌ

Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan iman kalian. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah : 143).

Akan tetapi, ia khawatirkan dirinya terjerumus dalam kesalahan, dosa, dan keburukan yang membinasakan. Maka hendaknya ia mengintrospeksi dirinya dan merenungkan kejelekan yang terjadi padanya. Lantas ia bertaubat dan ber-istighfar untuk setiap dosanya. Inilah yang sepatutnya dilakukan oleh seorang hamba.

Di penghujung Ramadhan, dahulu para salafush shalih memperbanyak istighfar dan taubat kepada Allah ‘Azza wa Jalla serta takut amalnya tidak diterima. Mereka dahulu sungguh-sungguh beramal di bulan Ramadhan maupun selainnya. Kemudian, terbersit di hati mereka rasa khawatir bahwa tidak ada satu pun amal yang diterima. Lantas mereka ber-istighfar dan bertaubat kepada Allah. Bahkan, diriwayatkan bahwa mereka berdoa kepada Allah selama enam bulan agar dipertemukan dengan bulan Ramadhan. Apabila mereka berjumpa dengan bulan Ramadhan, mereka berpuasa dan melakukan qiyamul lail (shalat malam). Lalu, mereka berdoa kepada Allah selama enam bulan setelahnya agar Allah menerima amal mereka di bulan Ramadhan.

Di antara tanda diterimanya amal di bulan Ramadhan maupun selainnya adalah kebaikan yang diikuti dengan kebaikan setelahnya. Jika keadaan seorang muslim setelah Ramadhan tetaplah baik dan banyak melakukan kebaikan dan amal shalih, maka ini adalah bukti amalnya diterima. Namun, jika sebaliknya, kebaikan yang disusul dengan keburukan sesudahnya, ia keluar dari Ramadhan lantas diiringi dengan keburukan, kelalaian, dan berpaling dari ketaatan kepada Allah, maka ini adalah indikator amalnya tidak diterima. Setiap orang mengetahui dan melihat keadaan dirinya sendiri setelah Ramadhan. Jika kondisinya lebih baik, maka hendaknya ia memuji Allah karena ini adalah tanda amalnya diterima. Akan tetapi, jika kondisinya lebih buruk, maka hendaknya ia bertaubat dan ber-istighfar kepada Allah karena ini adalah indikator amalnya tidak diterima dan bukti dirinya malas dan lalai.

Janganlah seorang hamba merasa putus asa dari rahmat Allah sehingga tertutuplah pintu antara dirinya dengan Allah,

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِيْنَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لاَ تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللهِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Katakanlah, Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa. Sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS.Az-Zumar : 53).

Hendaknya ia bertaubat dan ber-istighfar serta kembali kepada Allah ‘Azza wa Jalla karena Allah Jalla wa ‘Ala menerima taubat hamba-Nya yang bertaubat,

وَهُوَ الَّذِيْ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُوا عَنِ السَّيِّئَاتِ وَيَعْلَمُ مَا تَفْعَلُوْنَ

Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Asy-Syura : 25).

Demikian. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad.

Diterjemahkan dari Majalis Syahri Ramadhan Al-Mubarak, karya Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan, cetakan Darul ‘Ashimah, cetakan kedua, tahun 1422 H, Riyadh, hal. 117-120.

Penerjemah: Deni Putri Kusumawati

Murojaah: Ustadz Yulian Purnama, S.Kom

Baca selengkapnya https://muslimah.or.id/11190-ramadhan-akan-segera-pergi.html