Kedudukan Ibu Lebih Utama

Kedudukan Ibu Lebih Utama

Kita sudah memahami bersama mengenai wajibnya dan pentingnya berbakti kepada kedua orang tua1. Kemudian setelah itu, ketahuilah bahwa jika kita melihat dalil-dalil, kita temukan bahwa kedudukan ibu lebih utama.

Dalil-dalil mengenai lebih utamanya kedudukan ibu

Diantara dalil yang menunjukkan hal tersebut:

Dalil 1

Dari Mu’awiyah bin Haidah Al Qusyairi radhiallahu’ahu, beliau bertanya kepada Nabi:

يا رسولَ اللهِ ! مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ : قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أباك ، ثُمَّ الأَقْرَبَ فَالأَقْرَبَ

wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak aku perlakukan dengan baik? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: ayahmu, lalu yang lebih dekat setelahnya dan setelahnya” (HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad, sanadnya hasan).

Syaikh Fadhlullah Al Jilani, ulama India, mengomentari hadits ini: “ibu lebih diutamakan daripada ayah secara ijma dalam perbuatan baik, karena dalam hadits ini bagi ibu ada 3x kali bagian dari yang didapatkan ayah. Hal ini karena kesulitan yang dirasakan ibu ketika hamil, bahkan terkadang ia bisa meninggal ketika itu. Dan penderitaannya tidak berkurang ketika ia melahirkan. Kemudian cobaan yang ia alami mulai dari masa menyusui hingga anaknya besar dan bisa mengurus diri sendiri. Ini hanya dirasakan oleh ibu” 2.

Al Harits Al Muhasibi juga menukil ijma’ bahwa kedudukan ibu lebih utama dari ayah. Walaupun ada sebagian ulama yang menukil adanya khilaf dalam hal ini. Yaitu sebagian ulama mengatakan kedudukan ayah dan ibu sama, dan ini disandarkan kepada pendapat Imam Malik. Namun insya Allah yang tepat adalah klaim ijma’ karena tegasnya dalil-dalil yang menunjukkan hal tersebut 3.

Dalil 2

Dari Miqdam bin Ma’di Yakrib radhiallahu’ahu, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

نَّ اللَّهَ يوصيكم بأمَّهاتِكُم ثلاثًا، إنَّ اللَّهَ يوصيكم بآبائِكُم، إنَّ اللَّهَ يوصيكم بالأقرَبِ فالأقرَبِ

sesungguhnya Allah berwasiat 3x kepada kalian untuk berbuat baik kepada ibu kalian, sesungguhnya Allah berwasiat kepada kalian untuk berbuat baik kepada ayah kalian, sesungguhnya Allah berwasiat kepada kalian untuk berbuat baik kepada kerabat yang paling dekat kemudian yang dekat” (HR. Ibnu Majah, shahih dengan syawahid-nya).

Dalil 3

Dari Atha bin Yassar, ia berkata:

عن ابنِ عبَّاسٍ أنَّهُ أتاهُ رجلٌ ، فقالَ : إنِّي خَطبتُ امرأةً فأبَت أن تنكِحَني ، وخطبَها غَيري فأحبَّت أن تنكِحَهُ ، فَغِرْتُ علَيها فقتَلتُها ، فَهَل لي مِن تَوبةٍ ؟ قالَ : أُمُّكَ حَيَّةٌ ؟ قالَ : لا ، قالَ : تُب إلى اللَّهِ عزَّ وجلَّ ، وتقَرَّب إليهِ ما استَطعتَ ، فذَهَبتُ فسألتُ ابنَ عبَّاسٍ : لمَ سألتَهُ عن حياةِ أُمِّهِ ؟ فقالَ : إنِّي لا أعلَمُ عملًا أقرَبَ إلى اللَّهِ عزَّ وجلَّ مِن برِّ الوالِدةِ

Dari Ibnu ‘Abbas, ada seorang lelaki datang kepadanya, lalu berkata kepada Ibnu Abbas: saya pernah ingin melamar seorang wanita, namun ia enggan menikah dengan saya. Lalu ada orang lain yang melamarnya, lalu si wanita tersebut mau menikah dengannya. Aku pun cemburu dan membunuh sang wanita tersebut. Apakah saya masih bisa bertaubat? Ibnu Abbas menjawab: apakah ibumu masih hidup? Lelaki tadi menjawab: Tidak, sudah meninggal. Lalu Ibnu Abbas mengatakan: kalau begitu bertaubatlah kepada Allah dan dekatkanlah diri kepadaNya sedekat-dekatnya. Lalu lelaki itu pergi. Aku (Atha’) bertanya kepada Ibnu Abbas: kenapa anda bertanya kepadanya tentang ibunya masih hidup atau tidak? Ibnu Abbas menjawab: aku tidak tahu amalan yang paling bisa mendekatkan diri kepada Allah selain birrul walidain” (HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad, sanadnya shahih).

Dan telah dikenal bahwa metode Ibnu Abbas jika dimintai fatwa mengenai kafarah dosa, beliau akan menyarankan dengan amalan yang pahalanya benar-benar seimbang dosa tersebut atau lebih besar pahalanya dari dosa yang ditanyakan, hingga dosa tersebut hilang sama sekali. Selama tidak ada nash khusus mengenai kafarah dosa yang ditanyakan 4. Dan ini menunjukkan bahwa pahala berbakti kepada orang tua terutama kepada ibu itu sangat besar hingga seimbang dan menjadi kafarah dosa membunuh tanpa hak atau bahkan melebihinya sehingga dosa tersebut hilang sama sekali.

Dalil 4

Mengenai kisah Uwais Al Qorni yang sampai-sampai sahabat Nabi sekelas Umar bin Khathab radhiallahu’anhu dan yang lainnya dianjurkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam untuk menemui Uwais. Hal ini disebabkan begitu hebatnya birrul walidain Uwais terhadap ibunya. Nabi bersabda:

إن خيرَ التابعين رجلٌ يقالُ له أويسٌ . وله والدةٌ . وكان به بياضٌ . فمروه فليستغفرْ لكم

sesungguhnya tabi’in yang terbaik adalah seorang lelaki bernama Uwais, ia memiliki seorang ibu, dan ia memiliki tanda putih di tubuhnya. Maka temuilah ia dan mintalah ampunan kepada Allah melalui dia untuk kalian” (HR. Muslim).

Dalil 5

Hadits panjang yang dikeluarkan Imam Muslim dalam Shahih-nya mengenai kisah Juraij. Yang intinya ketika Juraij dipanggil oleh ibunya sedangkan ia sedang shalat, Juraij lebih mementingkan shalatnya dan tidak memenuhi panggilan ibunya. Akhirnya ibunya mendoakan keburukan padanya dan terkabul.

Imam An Nawawi dalam Syarah Muslim mengatakan: “Para ulama mengatakan: ‘ini dalil bahwa yang benar adalah memenuhi panggilan ibu, karena Juraij sedang melakukan shalat sunnah. Terus melanjutkan shalat hukumnya sunnah, tidak wajib. Sedangkan menjawab panggilan ibu dan berbuat baik padanya itu wajib, dan mendurhakainya itu haram’”.

Kesimpulannya, dari dalil-dalil ini, para ulama mengatakan:

الأم أحق الناس بحسن الصحبة

Ibu adalah orang yang paling layak untuk mendapatkan perlakuan yang paling baik

 

Pertanyaan: jika opini ibu bertentangan dengan opini ayah, maka siapa yang diambil opininya?

Jika ayah dan ibu memberikan opini kepada anak dan opini mereka saling bertentangan, maka opini siapa yang diambil? Dijawab Syaikh Musthofa Al ‘Adawi: “Yang diambil opininya adalah yang lebih sesuai dengan kebenaran dan lebih dekat kepada ketaqwaan dan ihsan. Adapun jika tidak bisa dibedakan mana opini yang lebih shahih, maka jika perkaranya terkait dengan sikap atau perlakuan baik, maka ibu didahulukan. Adapun jika perkaranya terkait dengan hal umum yang memang bidangnya para lelaki maka opini ayah didahulukan. Wallahu a’lam” 5.

Pertanyaan: jika ayah dan ibu saling berselisih, apa yang semestinya dilakukan anak?

Syaikh Musthofa Al ‘Adawi mengatakan: “jika anak mendapati ayah dan ibu saling berselisih, maka wajib baginya untuk mendamaikan keduanya dengan cara yang baik, karena perdamaian itu lebih baik. Dan hendaknya tidak membela salah satunya dengan tangan atau dengan lisan. Yang benar adalah mendamaikannya dengan baik. Allah Ta’ala berfirman:

وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya” (QS. Al Isra: 23)” 5.

Demikian, semoga yang sedikit ini bermanfaat. Semoga Allah melimpahkan hidayahnya kepada kita semua agar menjadi insan yang berbakti dengan sungguh-sungguh kepada orang tua. Wabillahi at taufiiq was sadaad.

***

Referensi: Fiqhul Ta’amul ma’al Walidain, Syaikh Musthofa Al ‘Adawi

Penyusun: Yulian Purnama

Baca selengkapnya https://muslim.or.id/27393-kedudukan-ibu-lebih-utama.html

Berprasangka “Dia telah Berbuat Riya

Berprasangka “Dia telah Berbuat Riya

Dorongan untuk menghentikan setiap kemungkaran terkadang membuat seseorang lupa akan kadar kemampuan yang sudah Allah patenkan kepada hamba-Nya perihal yang ghaib, atau tersembunyi. Pun dalam mengorek informasi ghaib dalam hati manusia, yang itu bukan kapasitasnya sebagai hamba. Jika demikian saja tidak mampu, lantas bagaimana dia hendak membongkarnya?

Sebuah pitutur nabawi patut direnungkan dalam-dalam:

من رأى منكم منكرا فليغيره بيده…

Barangsiapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran hendaknya ia ubah dengan tangannya…” (HR. Muslim).

Sabda nabawi di atas sangat jelas memberikan informasi bahwa dalam menindak sebuah kemungkaran sangat bergantung kepada ru’yah atau apa yang disaksikan langsung oleh mata. Karenanya, apabila sebuah kemaksiatan tidak terlihat oleh mata alias tidak seorang pun dari kita menyaksikan sendiri, maka tidak layak baginya untuk memaksakan diri menindak perkara tersebut. Berangkat dari sini lah, tidak seorang pun berhak memvonis orang lain atas perkara-perkara maksiat yang ada di dalam hati, seperti riya’, hasad, sombong, dan semisalnya, karena ia tak terlihat oleh mata.

Tidak dipungkiri, dalam pergaulan, orang yang paling dekat adalah yang paling tahu kepribadian sahabatnya. Kebersamaan membuatnya mengenal betul karakter seseorang dari kode-kode maupun gerak-geriknya. Persinggungan sehari-hari antara seseorang dengan sahabatnya, tetangganya, rekan kerjanya, maupun pertemanan di dunia maya membuat seseorang semakin mengenal kepribadian saudaranya.

Pertanyaannya, apakah semua itu cukup untuk menjadi garansi bahwa seseorang sangat tahu apalagi selalu tahu apa yang ada dalam hati saudaranya? Dengan berdalih menolak kemaksiatan hati, sebagian orang tidak merasa bersalah bersikap merendahkan, dan berusaha menghentikan saudaranya mengerjakan amal kebaikan lantaran ia dianggap hanya cari muka saja atau riya’. Bolehkah sikap yang demikian?

Menarik untuk disimak tanggapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang to the point menyatakan kekeliruan sikap tersebut. Dalam Majmu Fatawa jilid 23, 173-176, beliau melansir empat argumen yang poin-poinnya sebagai berikut:

Pertama, bahwasanya sebuah amal ibadah tidak boleh dicegah hanya karena khawatir terjatuh ke dalam riya’, ia tetap lah amal yang disyari’atkan dan menuntut pelakunya untuk menjaga keikhlasan. Manakala kita melihat orang lain mengerjakan amal tersebut, maka cukup kita amini dia telah mengerjakannya, meskipun kita yakin dia melakukannya karena riya’.

Tahukah Anda, bagaimana sikap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta para sahabat terhadap kaum munafikin yang sifat buruk mereka sudah terabadikan dalam Al Quran:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلا قَلِيلا

Sesungguhnya orang-orang munafik itu hendak menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit.” (An Nisa: 142).

Beliau beserta para sahabat membiarkan mereka tetap menampakkan ibadahnya, meskipun sejatinya mereka melakukan semua itu atas dasar riya’ semata. Itulah sebabnya mereka tidak dilarang untuk beribadah, karena mafsadah yang timbul jika mereka meninggalkan ibadah yang sifatnya lahiriyah lebih besar ketimbang mafsadahnya mereka mengerjakan ibadah atas dasar riya’, seperti halnya mafsadah akibat menyembunyikan keimanan dan tidak menampakkan shalat lima waktu lebih besar daripada mafsadahnya melakukan dua amal tadi secara riya’.

Kedua, bahwasanya kemaksiatan yang boleh ditindak hanyalah yang ditampakkan saja dan demikian lah syari’at menyikapi. Sang Nabi bersabda:

إني لم أومر أن أنقب عن قلوب الناس ولا أشق بطونهم

Sesungguhnya aku tidak diperintah untuk membelah dada manusia, tidak pula membedah perutnya.” (HR. Bukhari).

Dalam hal ini Umar bin Khathab radhiallahu ‘anhu punya satu kaidah, “Barangsiapa secara lahir berlaku baik kepada kami maka kita cintai, dan kita berikan loyalitas kepadanya, meskipun yang ada dalam hatinya tidak sama. Dan barangsiapa yang secara lahir berlaku buruk kepada kami maka kami membencinya, meskipun ia mengaku-ngaku hatinya baik.”

Ketiga, jika sikap seperti ini dibiarkan, justru akan memberi kesempatan kepada orang-orang fajir dan musyrik untuk mengejek orang-orang shalih tatkala mengerjakan amal ibadah secara terang-terangan dengan menyebut “paling cuma mau pamer”, sehingga orang-orang yang sangat menjaga keikhlasan mulai enggan menampakkan perkara-perkara yang baik agar terhindar dari celaan buruk tersebut.

Dampak negatifnya, kebaikan semakin sepi, sementara orang-orang jahat semakin berani memamerkan perilaku buruknya, dan tak seorang pun berani menentang mereka. Inilah salah satu mafsadah paling besar efek dari sikap di atas.

Keempat, sikap seperti ini termasuk syi’arnya orang munafik. Allah Ta’ala berfirman:

الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لا يَجِدُونَ إِلا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ سَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

(Orang-orang munafik) yaitu mereka yang mencela orang-orang beriman yang memberikan sedekah dengan sukarela dan yang (mencela) orang-orang yang hanya memperoleh (untuk disedekahkan) sekadar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka, dan mereka akan mendapat azab yang pedih.” (al-Taubah: 79).

Tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyemangati para sahabat untuk menginfakkan hartanya di jalan Allah menjelang perang Tabuk, ada di antara para sahabat datang menenteng bundelan besar berisi kepingan uang yang saking beratnya hampir-hampir tangannya tak kuasa menahan, lalu serta merta orang-orang munafik menyeletuk, “dasar mau pamer”. Kemudian sebagian lain datang menyumbang berbagai kebutuhan logistik, lagi-lagi mereka pun berkomentar, “Allah itu Maha Kaya, tidak butuh bantuan macam itu”.

Secara ringkas cukup kita yakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menjadikan hukum di dunia berdasarkan atas sesuatu yang tersembunyi, akan tetapi berdasarkan atas apa yang terlihat oleh mata. Adapun yang tidak terlihat, maka ia sudah terwakili dengan yang terlihat.

Selanjutnya kita sadari bersama bahwa dengan tidak adanya kewenangan seseorang untuk menindak maksiat-maksiat hati, maka otomatis tugas itu menjadi tanggungjawab setiap pribadi untuk memperbaiki kondisi hatinya. Bagi setiap jiwa yang merasa hatinya terjangkit maksiat hati agar segera memeriksanya dan mencarikan obat penawarnya.

Tak lupa pula kita renungkan bahwa dalam perjalanan hidup ini banyak aral yang melintang. Jika kita terlalu disibukkan untuk mencari-cari hal semacam itu, habislah waktu kita. Lain halnya jika tiba-tiba ada aral di depan kita, maka wajib kita singkirkan.

Sebelum kita akhiri, kami ingin berbagi oleh-oleh untuk kita dari Ibnul Qayyim terkait topik yang sedang kita bicarakan, di mana Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pun turut mengapresiasi muridnya tersebut. “Aku pernah bertanya perihal ini (was-was dengan penyakit hati, -pent) kepada beberapa guruku, maka salah seorang dari mereka menjawab, “Perumpamaan penyakit-penyakit hati itu seperti ular dan kalajengking yang bertebaran di sekitar para pengguna jalan. Jika ia sibuk memeriksa setiap jengkal dari jalan yang ia lalui, lalu membunuhnya satu-persatu, maka ia tak akan pernah sampai tujuan. Oleh karena itu, jadikan lah perjalananmu itu sebagai target utama, dan palingkan wajahmu dari mengurusi hal-hal seperti itu. Akan tetapi, bila suatu waktu keduanya tiba-tiba menghalangi jalanmu, baru lah saat itu Kau bunuh, lalu lanjutkan lagi perjalanmu.”

Jika mengurusi perkara hati diri sendiri saja cukup menyita waktu, lantas bagaimana seseorang masih sempat menyibukkan dirinya dengan perkara hati orang lain?

(Disarikan dari kitab ‘Amalul Qalbi Al Faridhah Al Ghaibah)
Ditulis di Asrama Kampus Islamic University, Saudi Arabia, pada hari Jum’at, 20 Dzulqa’dah 1436.

***

Penulis: Ganang Prihatmoko

Sumber: https://muslim.or.id/26351-menuduh-orang-lain-telah-riya.html

Apabila Bendahara tidak Amanah

Apabila Bendahara tidak Amanah

Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi gelar al-amin, artinya orang yang dapat dipercaya. Beliau adalah orang yang sangat menunaikan amanah, bahkan orang kafir quraisy pun mempercayakan harta bendanya untuk dititipkan kepada beliau tatkala mereka pergi. Amanah terbesar yang beliau emban adalah amanah risalah, yaitu menyampaikan wahyu Allah Ta’ala kepada umatnya.

Lawan dari amanah adalah khianat. Allah Ta’ala berfirman,

ياايها الذين امنوا لا تخونوا الله والرسول وتخونوا امنتكم وانتم تعلمون

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul, dan janganlah kalian mengkhianati amanah kalian sedang kalian mengetahui” (QS: Al-Anfal: 27).

Model dari sikap khianat sangat banyak macamnya, salah satunya dalam hal pengelolaan uang yang sering dikaitkan dengan tugas seorang bendahara.

Kriteria yang Harus Dimiliki oleh Pekerja

Allah Ta’ala berfirman,

قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ ۖإِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ

Seorang dari salah satu perempuan itu berkata: ‘Wahai Ayahku, jadikanlah dia sebagai pekerja, sesungguhnya orang yang paling baik engkau ambil sebagai pekerja adalah orang yang kuat (Al-Qawiy) dan orang yang dapat dipercaya (Al-Amin)’” (QS. Al Qashash: 26).

Allah Ta’ala juga berfirman,

قَالَ عِفْريتٌ مِنَ الْجِنِّ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ تَقُومَ مِنْ مَقَامِكَ وَإِنِّي عَلَيْهِ لَقَوِيٌّ أَمِينٌ

“’Ifrit dari golongan Jin berkata: ‘Akulah yang akan membawanya kepadamu sebelum engkau berdiri dari tempat dudukmu, dan sungguh aku adalah seorang kuat (qawiyyun) dan dapat dipercaya (amiinun)’” (QS. An-Naml: 39)

Dari dua ayat di atas, para ulama menyimpulkan dua hal yang harus dimiliki seorang pekerja. Yang pertama adalah al-qawiy, yaitu memiliki kekuatan dan yang kedua adalah al-amin, yaitu dapat dipercaya.

1. Al-Qawiy

Syarat pertama adalah seorang itu harus memiliki kekuatan, yaitu kemampuan dalam melakukan sesuatu. Hal ini berkaitan dengan urusan dunia. Misalnya seorang yang ingin diangkat menjadi bendahara, maka dia harus memiliki kemampuan manajemen uang yang bagus, mencatat uang masuk dan keluar secara rapi, mampu memilah dan memilih uang mana saja yang berhak untuk digunakan.

2. Al-Amin

Syarat kedua adalah orang tersebut amanah, artinya dapat dipercaya dalam melakukan tugasnya. Hal ini berkaitan dengan urusan akhirat. Seseorang yang memiliki kemampuan manajemen yang baik, namun tidak amanah, maka bukanlah pekerja yang baik. Sebaliknya jika ia amanah namun tak cakap dalam bidang kerjanya, maka tidak termasuk pekerja yang baik pula.

Realitanya, menjumpai seseorang yang memiliki dua kriteria di atas pada zaman sekarang adalah hal yang tak mudah. Jika tidak terkumpul kedua tersebut, maka pilihlah salah satu yang dianggap paling mashlahat dan sesuai dengan tugasnya.

Sebagai contoh, seorang pemimpin perang lebih diutamakan orang yang memiliki kekuatan. Imam Ahmad ditanya manakah yang lebih pantas jadi pemimpin perang, orang yang kuat namun fajir, ataukah orang yang lemah namun shalih? Beliau menjawab, “orang yang kuat namun fajir, karena kekuatan orang tersebut akan bermanfaat bagi orang banyak, sedangkan kefajirannya hanya merugikan dirinya sendiri. Sebaliknya orang yang lemah namun shalih, kelemahannya akan merugikan orang banyak saat berperang, adapun keshalihannya hanya bermanfaat untuk dirinya sendiri” (Ta’liq Siyasah Syar’iyyah hal. 47-48, karya Syaikh Ibnu Utsaimin).

Contoh lain adalah seorang bendahara, harus diutamakan orang yang memiliki sifat al-amin meski kemampuan manajemen keuangannya rendah, karena untuk kemampuan manajemen uang bisa dipelajari seiring berjalannya waktu. Namun tetap yang lebih baik adalah jika terkumpul sifat al-qawiy dan al-amin.

Contoh Perbuatan Khianat Seorang Bendahara

1. Melakukan dusta

Seorang bendahara yang mencatat keluar masuknya uang, namun pencatatannya tidak sesuai dengan realita, maka telah melakukan dusta terhadap laporan keuangannya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُوْرِ، وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ

Sesungguhnya kedustaan akan membimbing menuju kejahatan, dan kejahatan akan membimbing menuju neraka” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

2. Memakai uang untuk keperluan pribadi

Hal ini jelas sebuah pelanggaran karena uang yang dipegang bendahara bukanlah uang pribadi, melainkan uang orang banyak yang dikelola oleh bendahara sebagai pengemban tugas.

3. Menyalurkan uang bukan pada haknya

Jika uang yang diberikan diamanahkan untuk kegiatan A, maka tidak boleh diselewengkan umtuk kegiatan B. Ini bukanlah sikap yang amanah.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الأمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا

Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya” (QS. An-Nisa: 58).

Ancaman Orang yang Berkhianat

1. Pembalasan di hari kiamat kelak

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إذا ضيعت الأمانة فانتظر الساعة

Jika amanah telah disia-siakan, maka tunggulah sampai hari kiamat.” Ada yang bertanya, ‘apa contoh amanah yang telah di sia-siakan?’ Rasulullah menjawab, ‘Jika suatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah sampai kiamat terjadi’” (HR. Al Bukhari). Orang yang bukan ahlinya termasuk orang yang tidak memilki dua persyaratan pekerja yang telah disebutkan di atas.

2. Tergolong orang munafik

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

آية المنافق ثلاث إذا حدث كذب وإذا وعد أخلف وإذا اؤتمن خان

Tanda-tanda orang munafiq ada tiga, jika berbicara berdusta, bila berjanji tidak menepati janjinya, dan apabila diberi amanah mengkhianatinya” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Jika Terlanjur Mendapatkan Amanah

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Abdurrahman bin Samurah,

يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ سَمُرَةَ، لاَ تَسْأَلُ الْإِمَارَةَ، فَإِنَّكَ إِنْ أُعْطِيْتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا وَإِنْ أُعْطِيْتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا

Wahai Abdurrahman, janganlah engkau meminta jabatan, jika jabatan diberikan sedang kamu tak memintanya, maka engkau akan ditolong. Tapi jika engkau diberi jabatan karena memintanya, maka engkau tidak akan ditolong” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Seorang yang telah diberikan jabatan, maka dia wajib bertakwa kepada Allah, menunaikan kewajibannya sesuai dengan kadar kemampuannya. Allah Ta’ala berfirman,

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

Bertakwalah kepada Allah sesuai dengan kadar kemampuanmu” (QS. At Taghabun: 16).

Allah Ta’ala juga berfirman,

لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا

Allah tidak akan membebani seseorang di luar dari kesanggupannya “ (QS. Al-Baqarah: 286).

Keutamaan Orang yang Amanah

1. Termasuk orang-orang yang beriman

Ingatlah janji Allah tentang sifat-sifat orang yang beriman. Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ هُمْ لأمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ

Dan orang-orang yang memelihara amanah-amanah (yang dipikulnya) dan janjinya” (QS. Al-Mukminun: 8).

2. Termasuk orang-orang yang bersedekah

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الْخَازِنُ الْمُسْلِمُ الأَمِينُ الَّذِى يُنْفِذُ – وَرُبَّمَا قَالَ يُعْطِى – مَا أُمِرَ بِهِ كَامِلاً مُوَفَّرًا طَيِّبٌ بِهِ نَفْسُهُ ، فَيَدْفَعُهُ إِلَى الَّذِى أُمِرَ لَهُ بِهِ ، أَحَدُ الْمُتَصَدِّقَيْنِ

Bendahara muslim yang diberi amanah ketika memberi sesuai yang diperintahkan untuknya secara sempurna dan berniat baik, lalu ia menyerahkan harta tersebut pada orang yang ia ditunjuk menyerahkannya, maka keduanya (pemilik harta dan bendahara yang amanah tadi) termasuk dalam orang yang bersedekah” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Penutup

Seorang muslim yang berakhlak pada Allah dan manusia, wajib untuk menjaga amanah yang telah diberikan. Jika amanah itu tidak ditunaikan, akan merusak perkara akhirat dan agama seseorang, jadilah hal ini akan merugikan diri sendiri dan orang lain.

Demikian pembahasan singkat yang dapat disampaian, semoga bermanfaat. Wallahul Muwaffiq.

***

Referensi: Kitab Siyasah Syar’iyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

Penulis: Wiwit Hardi P

Sumber: https://muslim.or.id/24965-bendahara-yang-tidak-amanah.html

Pahala Marbot Masjid

Pahala Marbot Masjid

Tulisan ini hanyalah catatan ringan. Membahas bagian kecil dari bab kehormatan masjid. Cukup beberapa paragraf ringan sebagai pengingat untuk kita. Tentang suatu pekerjaan yang seringkali dianggap hina di mata orang. Apa itu?

Tukang sapu masjid.

Iya, tukang sapu masjid, pekerjaan yang sering dipandang sebelah mata ini teenyata amalan yang mulia dan luhur. Pemilihan kata “tukang sapu” bukan bermaksud membatasi makna. Namun segala pekerjaan membersihkan masjid, seperti mengepel, mencabut rerumputan liar di halaman masjid dan yang sejenisnya, semua itu masuk dalam cakupan pembahasan ini.

Sebenarnya sudahlah cukup sebagai bukti, bahwa membersihkan masjid adalah amalan yang agung adalah sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam,

أَحَبُّ الْبِلَادِ إِلَى اللهِ مَسَاجِدُهَا، وَأَبْغَضُ الْبِلَادِ إِلَى اللهِ أَسْوَاقُهَا

Tempat yang paling dicintai oleh Allah adalah masjid, dan tempat yang paling dibenci Allah adalah pasar” (HR. Muslim)

Dia menjadi tukang sapu, tapi untuk tempat yang paling dicintai oleh Allah, bagaimana tidak mulia?! Tentu ini sebuah pekerjaan yang mulia dan harus dihargai.

Alamgkah indahnya, bila orang-orang yang memiliki kedudukan di masyarakat, untuk sesekali menyapu rumah Allah. Selain supaya masyarakat menjadi sadar akan wibawa masjid, sehingga mereka menjadi lebih sadar akan kehormatan masjid, juga untuk membuatnya menjadi lebih dekat dengan masyarakat dan mengikisifat-sifat angkuh dalam diri.

Sebagai tauladan dalam hal ini, seorang ulama karismatik bernama Abu Syuja’ Ahmad bin al-Husain al-Ashfahani (w 593 H). Beliau ini adalah ulama yang terpandang di kalangan kaum muslimin. Buku karyanya yang berjudul “Matan al-Ghayah wat-Taqriib” menjadi materi yang wajib untuk dipelajari, bagi yang hendak mendalami fikih mazhab Syafi’i. Jabatannya sebagai hakim (qodhi) di masanya, tidak membuatnya enggan untuk membersihkan masjid. Beliau biasa menyapu masjid Nabawi, dan menghidupkan lentera-lentera masjid bila senja tiba. Beliau pula yang merapikan tikar-tikar masjid bila hendak shalat. Pekerjaan ini senantiasa ditekuni, sampai ajal menjemputnya.

Bukti lain, yang menunjukkan bahwa amalan ini adalah amalan yang mulia, sebuah hadis yang menceritakan tentang seorang perempuan berkulit hitam, yang biasa menyapu masjid di masa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam.

َعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ -فِي قِصَّةِ الْمَرْأَةِ الَّتِي كَانَتْ تَقُمُّ الْمَسْجِدَ- قَال: فَسَأَلَ عَنْهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا: مَاتَتْ, فَقَالَ: “أَفَلاَ كُنْتُمْ آذَنْتُمُونِي”? فَكَأَنَّهُمْ صَغَّرُوا أَمْرَهَا. فَقَالَ: “دُلُّونِي عَلَى قَبْرِهَا”, فَدَلُّوهُ, فَصَلَّى عَلَيْهَا.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu. Beliau berkisah tentang seorang wanita yang biasa membersihkan masjid (di masa Nabi).

Nabi shallallahu’alaihiwasallam, menanyakan tentang kabar wanita itu, para sahabat menjawab, “Ia telah meninggal.”

” Mengapa kalian tidak mengabariku?” Tanya Nabi shallallahu’alaihiwasallam kepada sahabatnya.

Para sahabat mengira, bahwa pekerjaannya tersebut tidak terlalu terpandang.

Tunjukkan aku makamnya” Pinta Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam.

Merekapun menunjukkan makam wanita tersebut, kemudian beliau mensholatkannya” (Muttafaqun ‘ alaihi).

Mulia bukan…?!

Sampai Rasulullah saja menyempatkan diri untuk menyolatkan jenazahnya, meski sudah dikuburkan. Sebuah kemuliaan bila orang termulia saja sampai menegur para sahabatnya, karena lupa mengabarkan perihal kematiannya. Saat beliau tahu bahwa perempuan tersebut telah dikuburkan, beliau sempatkan diri untuk tetap menyolati jenazahnya, meski sudah dimakamkan.

Setelah menukil hadis ini, Syaikh Abdullah bin Sholih Al-Fauzan dalam bukunya  al-Fawaid al-Majmu’ah menjelaskan,

ففي هذا دليل على فضل تنظيف المسجد، لأن صلاة النبي صلى الله عليه وسلم على قبر من يكنس المسجد دليل على تعظيم عمله

“Hadis ini dalil akan utamanya pekerjaan membersihkan masjid. Karena shalatnya Nabi shallallahu ‘alaihiwasallam, atas kuburan orang yang menyapu masjid tersebut, bukti bahwa perbuatan ini adalah amalan yang luhur.” (al-Fawaid al-Majmu’ah fi Syarhi Fushulil Adab wa Makaarimil Akhlaq Al-Masyruu’ah, hal. 247).

Wabillahi at taufiq.

Penulis: Ahmad Anshori

Baca selengkapnya https://muslim.or.id/24526-tukang-sapu-masjid-bukan-orang-hina.html

Antara Orang Bijak Dan Orang Semangat

Antara Orang Bijak Dan Orang Semangat

Sobat! Orang bersemangat muda banyak ditemukan di masyarakat, namun orang bijak adalah sesuatu yang langka adanya. Kehadiran dan sikapnya sering kali ditentang bahkan dibenci oleh banyak orang.

Di sisi lain, orang orang pandir atau dangkal pikiran dan ilmunya biasanya berada pada barisan terdepan dari barisan penentang orang orang bijak. Mereka menduga bahwa orang orang bijak bersikap aneh, bahkan gila seakan kehilangan akal pikirannya. Walau demikian halnya, orang orang bijak kembali membuktikan kebijakan dan kearifannya kepada semua orang.

Walau dimusuhi dan ditentang, Orang orang bijak tetap saja sabar dan menghadapi segala kondisi dengan ilmu dan kearifannya bukan dengan emosi dan perasaannya. Karena itu, belajarlah untuk bersabar bila menghadapi orang orang berilmu dan pendapat pendapatnya. Bisa jadi saat ini, daya nalar anda belum mampu mengikuti pemikiran mereka, namun percayalah bahwa suatu saat nanti anda akan termanggut manggut karena kagum mengakui betapa dalamnya ilmu dan nalar mereka.

Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membagikan harta kepada sekelompok orang, sedangkan sahabat Sa’ad bin Abi Waqqas duduk menyaksikan pembagian tersebut. Betapa terkejutnya sahabat Sa’ad, karena menyaksikan ternyata Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak memberi seseorang yang menurutnya lebih mulia dibanding orang orang yang mendapat pembagian.

Segera sahabat Sa’ad bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai Rasulullah, mengapa engkau tidak memberi si fulan, padahal sungguh demi Allah, aku meyakininya sebagai seorang (mukmin) yang benar benar beriman?”.

Rasulullah shallallah alaihi wa sallam menimpali ucapan sahabat Sa’ad dengan bersabda: “mungkin yang lebih tepat dia adalah seorang muslim“.

Sahabat Sa’ad untuk sesaat terdiam, namun karena tidak kuasa menahan rasa herannya, maka tidak selang berapa lama sahabat Saad kembali mengulang pertanyaannya dan berkata: “Wahai Rasulullah, mengapa engkau melewatkan si fulan, padahal sungguh demi Allah, aku meyakininya sebagai seorang (mukmin) yang benar benar beriman?”.

Namun, lagi lagi Rasulullah shallallah alaihi wa sallam bersabda: “mungkin yang lebih tepat dia adalah seorang muslim“.

Kembali, Sahabat Sa’ad terdiam sejenak, namun karena tidak kuasa menahan rasa herannya, maka kembali lagi sahabat Saad mengulang pertanyaannya, dan lagi-lagi Rasulullah shallallah alaihi wa sallam mengulang jawabannya lalu bersabda:

«يَا سَعْدُ إِنِّي لَأُعْطِي الرَّجُلَ، وَغَيْرُهُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْهُ، خَشْيَةَ أَنْ يَكُبَّهُ اللَّهُ فِي النَّارِ» البخاري

Wahai Saad, sesungguhnya aku memberi harta kepada seseorang padahal orang lain yang tidak aku beri lebih aku cintai dibanding dia (yang aku beri), karena aku khawatir orang yang aku beri tersebut tersungkur dalam api neraka (karena lemah imannya, ia menggadaikan imannya demi mencari harta)” (HR. Bukhari).

Ya Allah, karuniakanlah kebijakan dan kearifan kepada para juru dakwah dan ulama’ kami agar dakwah islam ini maju dengan pesat dan persatuan ummat dapat terrajut erat. Amiin.

Penulis: Ust. Dr. Muhammad Arifin Baderi, Lc., MA.

Sumber: https://muslim.or.id/24223-antara-orang-bijak-dan-orang-semangat.html

Hukum & Larangan Melaknat

Hukum & Larangan Melaknat

Hendaknya kita berhati-hati dalam masalah laknat. Bahkan kepada orang kafir sekalipun. Orang kafir yang masih hidup tidak boleh ditujukan laknat kepadanya secara personal. Hukumnya haram melaknat orang kafir secara personal yang masih hidup. Karena boleh jadi Allah merahmati dia, sehingga dia mendapatkan hidayah untuk masuk Islam.

Dalilnya adalah ketika Nabi shallallahu’alaihiwasallam mendoakan laknat untuk Abu Jahl, begitu juga orang-orang musyrik Quraisy lainnya, Allah ta’ala menegur beliau melalui firmanNya:

لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ

Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim” (QS. Ali imran:128).

Adapun untuk orang kafir yang sudah meninggal. Maka boleh bagi Anda untuk mendoakan laknat untuknya. Karena orang yang mati dalam keadaan kafir, maka dia sudah pasti mendapatkan laknat Allah ‘azza wa jalla.

Meskipun boleh, bagi seorang mukmin meninggalkannya lebih utama. Karena Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ وَلَا الْفَاحِشِ وَلَا الْبَذِيءِ

Seorang mukmin bukanlah orang yang banyak mencela, bukan orang yang banyak melaknat, bukan pula orang yang keji (buruk akhlaqnya), dan bukan orang yang jorok omongannya” (HR. Tirmidzi, no. 1977; Ahmad, no. 3839 dan lain-lain)

Dan tanpa Anda laknat sekalipun, mereka telah divonis oleh Allah sebagai orang-orang terlaknat. Dan cukuplah ini bagi kita,

إِنَّ اللَّهَ لَعَنَ الْكَافِرِينَ وَأَعَدَّ لَهُمْ سَعِيرًا

Sesungguhnya Allah melaknati orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka).

خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۖ لَا يَجِدُونَ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا

mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; mereka tidak memperoleh seorang pelindungpun dan tidak (pula) seorang penolong (QS. Al-Ahzab: 64-65).

Bila melaknat secara personal orang kafir saja terlarang, maka melaknat seorang muslim tentu lebih terlarang lagi. Sungguh mengherankan bila seorang muslim begitu mudah mengucapan laknat kepada saudaranya. Padahal perkara laknat ini adalah perkara yang besar.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “Siapa yang melaknat seorang Mukmin maka ia seperti membunuhnya ” (HR. Bukhari dalam Shahihnya 10/464).

Beliau juga bersabda: “Orang yang banyak melaknat tidak akan diberi syafaat dan syahadatnya tidak akan diterima pada Hari Kiamat” (HR. Muslim dalam Shahihnya no. 2598 dari Abi Darda radhiallahu ‘anhu)

So… jadilah insan muslim yang santun dan lembut tutur katanya. Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah nabi yang penuh dengan kasih sayang. Beliau pernah bersabda,

إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً

Sesunguhnya aku tidak diutus sebagai tukang melaknat, sesungguhnya aku diutus hanya sebagai rahmat.”

____
(Faedah dari rekaman muhadhoroh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah di masjid Nabawi)

Madinah An-Nabawiyyah,
Catatan, 5 Muharram 1436

Penulis: Ahmad Anshori

SUmber: https://muslim.or.id/23309-jangan-sembarang-melaknat.html