Select Page
Muhasabah dan Muraqabah (1): Tingkatan Pertama, Musyarathah

Muhasabah dan Muraqabah (1): Tingkatan Pertama, Musyarathah

Sudah sepantasnya dalam beramal kita harus bermuhasabah, apakah amalan yang kita lakukan itu sudah benar ataukah tercampuri dengan hal yang lain? Muhasabah merupakan introspeksi diri sendiri setelah ia beramal, tentang kesalahan-kesalahan kita, dosa-dosa apa saja yang telah kita perbuat. Sedangkan muraqabah adalah merasa jiwa selalu diawasi oleh Allah. Ketika seorang hamba merasa diawasi oleh Allah, maka orang tersebut akan selalu bertakwa dimanapun ia berada.

Allah Ta’ala berfirman:

يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُحْضَرًا وَمَا عَمِلَتْ مِنْ سُوءٍ تَوَدُّ لَوْ أَنَّ بَيْنَهَا وَبَيْنَهُ أَمَدًا بَعِيدًا وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ

“(Ingatlah) pada hari (ketika) setiap jiwa mendapatkan (balasan) atas kebajikan yang telah dikerjakan dihadapkan kepadanya, (begitu juga balasan) atas kejahatan yang telah dia kerjakan. Dia berharap sekiranya ada jarak yang jauh antara dia dengan (hari) itu. Dan Allah memperingatkan kamu akan diri (siksa)-Nya.” (QS. Ali-Imran: 30)

وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِينَ

Dan Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari Kiamat, maka tidak seorang pun dirugikan walau sedikit; sekalipun hanya seberat biji sawi, pasti Kami mendatangkannya (apahal). Dan cukuplah Kami yang membuat perhitungan. (QS. Al-Anbiyaa’: 47)

وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

“Dan diletakkan kitab (catatan amal), lalu engkau akan melihat orang yang berdosa merasa ketakutan terahdap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, “Betapa celaka kami, kitab apakah ini, tidak ada yang tertinggal, yang kecil dan yang besar melainkan tercatat semuanya”, dan mereka dapati (semua) apa yang telah mereka kerjakan (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menzalimi seorang jua pun.”  (QS. Al-Kahfi: 49)

يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا لِيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ ( 6 ) فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ ( 7 ) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ ( 8)

“Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan berkelompok-kelompok, untuk diperlihatkan kepada mereka (balasan) semua perbuatannya. Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.  (QS. Az-Zilzaal: 6-8)

Ayat-ayat ini menunjukkan masalah yang sangat penting yaitu berhubungan dengan hisab di hari kiamat kelak.

Orang yang menggunakan akalnya dia akan berpikir bahwa tidak ada yang bisa menyelamatkan dia di hari kiamat kelak kecuali dengan melakukan muhasabah diri sendiri dulu di dunia ini.

Sebagaimana perkataan Umar bin Khattab radhiyallaahu ‘anhu:

حاسبوا أنفسكم قبل أن تحاسبوا

“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab kelak pada hari kiamat”.

Ketika kita mengetahui kesalahan-kesalahan kita, hisablah diri kita dan segera bertaubatlah kepada Allah selagi masih di dunia.  Siapa yang menghisab dirinya sendiri mengingat kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa di dunia, maka kelak dia akan diringankan hisabnya di hari kiamat, dan barangsiapa yang lalai menghisab dirinya di dunia, barangkali ia akan menyesal yang berkepanjangan di hari kiamat kelak. Orang yang menghisab dirinya maka ia akan sibuk dengan dosa-dosa dirinya sendiri. Maka dari itu, orang yang berakal ia tidak memikirkan dosa-dosa orang lain. Setiap jiwa akan ditanya dosanya sendiri masing-masing. Semenjak kita bangun tidur hingga kita akan tidur kembali. Dosa-dosa apa saja yang kita perbuat, kemudian segera beristighfar dan bertaubat kepada Allah. Hisablah sebelum ajal menjemput kita dan penyesalan akan datang jika kita tidak menghisab apa saja amalan yang telah kita perbuat.

Ketika mereka mengetahui bahwasanya tidak ada yang meyelamatkan dia di hari kiamat  kecuali ketaatan. Dan Allah ta’ala memerintahkan mereka untuk bersabar di atas ketaatan dan melakukan murabathah. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung. (QS. Ali-Imran: 200)

Demikian pula jiwapun harus dijaga tapal batasnya, karena setan akan selalu menjaga di tapal batas tersebut. Oleh karena itu, kita harus bersabar di dalam ketaatan. Menyabarkan diri kita untuk tetap berada di atas ketaatan dan menyabarkan diri ketika meninggalkan kemaksiatan sehingga itulah yang disebut dengan murabathah.

Kemudian ia segera melakukan ribath (murabathah) untuk dirinya sendiri  yaitu dengan melakukan 6 tingkatan yaitu:

  1. Musyarathah
  2. Muraqabah
  3. Muhasabah
  4. Mu’aqabah
  5. Mujahadah
  6. Mu’atabah

Tingkatan pertama, Al-Musyarathah.

Berasal dari kata syaaratha-yusyaarithu, artinya saling memberikan syarat.

Ketahuilah, seorang pedagang dia akan meminta bantuan kepada mitranya untuk melakukan perdagangan, tujuannya untuk mendapatkan keuntungan, dia akan memberikan syarat-syarat, dan dia akan selalu mengawasi. Demikian pula akal pun butuh kepada mitra, dan mitra itu adalah  jiwa kita. Akal pun memberikan tugas-tugas,  memberikan syarat-syarat, kepada jalan kebaikan, dan akal pun tidak boleh lalai untuk mengawasinya. Sebagaimana di dalam bisnis perdagangan, apabila mitra melakukan khianat maka ia akan merugi. Maka supaya kita tidak dikhianati dengan mitra-mitra kita, caranya yaitu dengan memberikan syarat-syarat yang jelas di atas kertas yang tegas sehingga diapun tidak macam-macam. Setelah itu kita awasi gerak-geriknya, dan berbagai macam tindak tanduknya supaya tidak merugikan usaha kita. Itulah kehidupan dunia perbisnisan.

Kitapun sedang berbisnis yaitu bisnis yang tidak akan merugi ia adalah bisnis akhirat, bisnis ini keuntungannya adalah surga. Di dalam dunia perdagangan butuh kepada partner agar usaha yang kita jalankan sukses. Ibarat akal adalah pedagang, maka jiwa dan hati kita adalah mitra kita.  Akal harus bermitra kepada jiwa. Akalpun harus memberikan syarat-syarat dan memberikan sanksi. Apabila partner berkhianat, kita tidak aman karena bisa rugi. Kita meminta agar si partner selalu melaksanakan tugasnya dan mengawasinya dengan baik. Perdagangan ini keuntungannya adalah Surga Firdaus yang paling tinggi. Kalau perbisnisan dunia keuntungannya adalah uang. Namun perbisnisan di akhirat keuntungannya adalah surga. Pengawasan kita yang paling ketat adalah kepada partner kita yaitu jiwa kita.

Orang  yang mempunyai kesungguhan terhadap akhirat kewajibannya adalah tidak melalaikan jiwa dan selalu mengawasi jiwa kita. Bersungguh-sungguhlah dalam menuju  kehidupan akhirat tersebut. Bersungguh-sungguh  dalam melakukan ketaatan, bersungguh-sungguh dalam mengawasi jiwa kita. Berusaha untuk memperketat gerakan-gerakan kita dan pikiran-pikiran kita.

Ibnul Qoyyim berkata: Bahwa asal dari kebaikan itu dari pikiran, dan asal dari keburukan itu berasal dari pikiran pula.

Ketika seseorang berpikir keburukan, maka akan menimbulkan niat-niat yangg buruk, dan kebalikannya apabila kita berpikir kebaikan, maka akan muncul niat-niat yang baik dan ingin beramal yang baik-baik.

 

***

Bersambung insyaallah

(Dikutip dari kitab Mukhtashor Minhajul Qasidin (pdf), karya Syaikh Ahmad bin ‘Abdirrahman bin Qudamah al-Maqdisi, disertai faedah  penjelasan dari  Ustadz Badrusalam, Lc rekaman kajian Mukhtashor Minhajul Qashidin Bab Muhasabah dan Muraqabah, halaman 370-377).

 

Disusun ulang oleh: Anita Rahmawati

Sumber: https://muslimah.or.id/

Wanita dan Dakwah

Wanita dan Dakwah

Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Tidaklah kami, para sahabat Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam mendapati masalah dalam suatu hadits lalu kami bertanya kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha melainkan kami mendapatkan dari sisi beliau ilmu tentang hal itu.”

Dakwah sering diartikan identik dengan keluar rumah, bahkan keluar daerah atau safar. Berdiri di atas podium atau mimbar, berceramah di muka umum. Belum dinamakan dakwah apabila seseorang tinggal di dalam rumah dan jarang keluar, khususnya bagi kaum hawa. Sehingga ada anggapan bahwa wanita yang tidak keluar rumah dan tidak berdiri di atas podium atau berceramah di hadapan umum tidak akan bisa berkiprah dalam lapangan dakwah. Justru isi, substansi, dan tujuan dakwah itu sendiri sering dilupakan. Padahal itulah yang terpenting.

Sudah menjadi kodrat Allah ta’ala ketika menciptakan wanita berbeda dengan pria, baik dari sisi fisik, sifat, maupun karakter mereka. Demikianlah fitrah yang ada dalam diri kaum hawa, meskipun mereka memiliki kedudukan yang sama dengan kaum Adam, yaitu sebagai hamba Allah ta’ala dan kewajiban sebagai manusia terhadap Allah.

Oleh karenanya, Allah memberikan kekhususan para wanita dengan beberapa perintah dan larangan dalam syari’at yang berbeda dengan kaum laki-laki, di antaranya adalah syari’at agar mereka tetap tinggal di rumah. Jadi hukum asal seorang wanita adalah tinggal di dalam rumahnya. Tidaklah para wanita keluar dari rumahnya melainkan untuk kebutuhan yang mendesak dan hajat yang tidak mungkin dilakukan di dalam rumahnya.

Sebagaimana Khadijah bintu Kuwailid radhiyallahu ‘anha, seorang saudagar di dalam rumahnya merupakan salah satu sosok paling penting dalam dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada fase paling berat di awal masa diutusnya beliau sebagai seorang Rasul.

Lihatlah juga ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, sosok teladan bagi para wanita yang ingin terjun dalam kancah dakwah, dengan tanpa mengurangi kepribadian dan karakter seorang wanita yang secara fitrah dan syar’i adalah tinggal di dalam rumahnya, dan tanpa berdiri di atas podium dan berceramah di atas mimbar atau di hadapan umum. Namun begitu, ilmu yang ada pada dirinya mengalir kepada para sahabat dan tabi’in, baik laki-laki maupun wanita. Mereka datang dan bertanya tentang berbagai masalah dalam urusan agama.

Itu semua karena ilmu yang ada pada dirinya, pemahaman dan fiqihnya yang sangat dalam dan luas hingga para sahabat menjadikannya sebagai rujukan dalam berbagai masalah yang mereka hadapi. Apalagi dalam perkara yang tidak diketahui kecuali oleh para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terutama ‘Aisyah. Para sahabat bertanya kepadanya dari balik hijab, sebagaimana hal ini diperintah Allah dalam firman-Nya:

وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ

“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri- isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (QS Al Ahzab: 53)

Ayat di atas hukumnya bukanlah khusus ditujukan kepada para istri Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam saja, namun bersifat umum kepada semua wanita. Bahkan, selain mereka lebih layak dan lebih harus mengamalkan ayat ini. Sebab, apabila para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah menjadi ummahatul mu’minin (para ibu kaum mukminin), yang mana para sahabat -manusia yang suci dan bersih hatinya- tidak boleh menikahinya sepeninggal Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam diharamkan untuk meminta atau bertanya kecuali dari balik tabir atau hijab, lalu bagaimana halnya dengan selain mereka? Tentu fitnah atau godaan yang dikhawatirkan dan ditimbulkan akan lebih besar daripada mereka, para istri Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.

Bagaimana pula dengan wanita yang terjun ke dunia politik, bergabung dengan laki-laki dan bersaing dalam memperoleh suara terbanyak untuk mendapatkan kursi parlemen (dewan) atau jabatan dengan alasan dakwah dan memperjuangkan hak para wanita? Atau mereka yang turun ke jalan berdemonstrasi, membawa spanduk sambil meneriakkan tuntutan mereka, dan merasa dengan demikian telah melakukan gerakan dan perjuangan dakwah membela Islam, bahkan menganggap hal ini adalah salah satu bagian terpenting dalam Islam?!

Bandingkanlah dengan sosok ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Kaum muslimin banyak mendapatkan warisan ilmu darinya dari balik tabir atau hijab dan dari dalam rumahnya. Dia adalah sosok ulama teladan dari balik hijab dan seorang wanita da’iya ilallah. Wanita paling fasih pada zamannya, seorang istri yang paling dicintai oleh suami terbaik, di dunia dan akhirat. Juga seorang wanita yang mendapatkan salam dari malaikat Jibril, dan tidaklah wahyu turun kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan berada di dalam selimut istrinya melainkan hanya dia, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.

“Telah banyak laki-laki yang sempurna. Namun, tidaklah sempurna dari kalangan wanita melainkan Maryam bintu ‘Imran dan Asiyah, istri Fir’aun. Dan keutamaan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha atas para wanita adalah seperti keutamaan tsarid atas seluruh makanan.” (HR Bukhari dalam kitab Fadho’ilush Shahabah)

Keutamaan dan kesempurnaan seorang wanita terletak pada ketaatan mereka kepada Allah ta’ala, kesabaran mereka di dalam menjaga dan memelihara kehormatan dan keimanan, ketaatan, nasihat dan dorongan mereka kepada suaminya, menjadi istri terbaik untuk suaminya, teman dan sahabat, penasihat dan pendorong baginya untuk taat kepada Allah ta’ala dan berdakwah ilallah. Juga menjaga kehormatan diri dan hartanya, mendidik dan berdakwah kepada anak-anaknya hingga menjadi anak-anak yang shalih dan shalihah hingga mereka dewasa, dan sekaligus menjadi ibu yang terbaik untuk anak-anaknya, menjadi teladan dan ustadzah bagi mereka dan juga teladan dan pendidik bagi para wanita selainnya, serta berusaha untuk menjadi hamba terbaik untuk Rabbnya.

Demikian seharusnya sosok wanita da’iyah terbaik, sebagai buah dari ilmu yang ada pada dirinya. Sebab dakwah adalah ibadah, sementara modal utama dalam dakwah adalah ilmu syar’i. Seorang wanita yang semakin berilmu akan semakin menetap di dalam rumahnya. Dan bukanlah termasuk modal dakwah dengan sekadar mampu dan berani bicara di hadapan umum, namun tidak didukung oleh ilmu syar’i.

Kita tidak perlu terpukau dengan public figure yang terkenal, fotonya banyak terpampang, sering muncul di televisi dan life show, dan suaranya banyak terdengar di radio, aktivis organisasi, dan segala kesibukan lain di luar rumahnya dengan nama emansipasi wanita dalam dakwah. Semua itu tidak pernah ada pada masa salaf, generasi terbaik umat ini.

Sesungguhnya segala kebaikan adalah dengan mengikuti kaum salaf, dan segala keburukan terdapat pada berbagi perkara dan pemahaman yang diadakan oleh kaum khalaf (belakangan). Wallahu a’lam.

**

Dikutip dari: Artikel “Wanita dan Dakwah” oleh Al Ustadz Abu Abdirrahman, dalam Majalah Al Mawaddah, Edisi 12 Tahun Ke-2, Rajab 1430 H/Juli 2009, dengan pengubahan seperlunya.

 

Sumber: https://muslimah.or.id/5

Ibu, Maafkan Anakmu..

Ibu, Maafkan Anakmu..

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu di berkata,

“Aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ’Amal apakah yang paling utama?’ Nabi menjawab, ’Shalat pada waktunya’. Ia berkata,”Aku bertanya, ’kemudian apa?’, Beliau menjawab, ’Berbakti kepada kedua orang tua…’ (HR. Bukhari dan Muslim)

Sudahkah Kita Memuliakan Mereka?

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu , “Seseorang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata,”Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?”, beliau menjawab, ”Ibumu!”, ia kembali bertanya,”Kemudian siapa lagi?, Nabi menjawab,”Ibumu!”, “Kemudian siapa lagi?,” Nabi menjawab,”Ibumu!”, orang tersebut bertanya kembali, ”Kemudian siapa lagi?” Nabi menjawab, ”Bapakmu”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaklah kamu berbuat baik kepada ibumu,kemudian ibumu, kemudian ibumu, kemudian ayahmu, kemudian orang yang terdekat dan yang terdekat.” (Hadits hasan, riwayat Bukhari dalam al-Adabul Mufrad)

Ibu, dialah yang mengurus kita mulai dari kandungan dengan beban yang dirasakannya sangat berat dan susah payah..

Dialah yang melahirkan kita dengan mempertaruhkan jiwanya antar hidup dan mati.

Dialah yang menyusui  ketika kita telah lahir, kemudian yang membersihkan kotoran kita ketika kita buang air.

Semuanya dilakukan oleh ibu kita, bukan orang lain.

Ibu yang selalu menjaga ketika kita terjaga dan menangis, baik di waktu pagi, siang ataupun malam hari.

Apabila kita sakit, tidaklah yang pertama menangis kecuali ibu kita, sehingga kalaulah ditawarkan antara hidup atau mati, ibu kita akan memilih mati agar kita tetap hidup! Inilah jasa seorang ibu terhadap anaknya..

Carilah Surga dengan Berbakti kepada Mereka

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

الوالِدُ أوسطُ أبوابِ الجنَّةِ، فإنَّ شئتَ فأضِع ذلك البابَ أو احفَظْه

Kedua orang tua itu adalah pintu surga yang paling tengah. Jika kalian mau memasukinya maka jagalah orang tua kalian. Jika kalian enggan memasukinya, silakan sia-siakan orang tua kalian” (HR. Tirmidzi, dia mengatakan, hadits ini shahih).

Teladan  Akhlak  dari Para Salaf

Terdapat kisah dari Abu Burdah bahwasanya Ibnu Umar melihat seorang pria dari Yaman thawaf di ka’bah sambil menggendong ibunya di belakang punggungnya seraya berkata, “Sesungguhnya aku adalah onta ibuku yang tunduk. Jika ia takut untuk menungganginya aku tidak takut (untuk ditunggangi)”, lalu ia berkata, “Wahai Ibnu Umar, apakah menurutmu aku telah membalas jasa ibuku?”, Ibnu Umar berkata, “Tidak, bahkan engkau tidak bisa membalas jasa karena keluarnya satu tetes cairan tatkala melahirkan”, kemudian Ibnu Umar menuju maqam Ibrahim dan shalat dua rakaat lalu berkata, “Wahai Ibnu Abi Musa sesungguhnya setiap dua rakaat menebus dosa-dosa sebelumnya.”

Lihatlah pemuda dari yaman ini yang telah bersusah payah memikul ibunya untuk berbakti kepada ibunya tatkala thawaf demi membalas kebaikan ibunya namun seluruh keletihan itu tidaklah menyamai setetes air yang keluar tatkala ibunya melahirkan. Lihatlah saudariku.. betapa tinggi dan agungnya hak orangtua atas anaknya.

Dikisahkan bahwasanya Kihmis bin Al-Hasan At-Tamimi hendak membunuh kalajengking namun kalajengking tersebut masuk ke dalam lubangnya, maka beliaupun memasukan jari beliau ke dalam lubang tersebut dari belakang kalajengking, sehingga kalajengking itu menyengatnya. Ketika dia ditanya, mengapa ia melakukan hal itu?, Dia menjawab, “Aku khawatir kalajengking itu keluar dari lubangnya kemudian menyengat ibuku.”

Al-Ma’mun berkata, “Aku tidak melihat ada orang berbakti kepada ayahnya sebagaimana berbaktinya Al-Fadhl bin Yahya kepada ayahnya. Yahya (ayah Fadhl) adalah orang yang tidak bisa berwudhu kecuali dengan air hangat.

Pada suatu waktu Yahya dipenjara maka penjaga penjara melarangnya untuk memasukan kayu bakar di malam yang dingin, maka tatkala Yahya hendak tidur Al-Fadhl pun mengambil qumqum (yaitu tempat air dari tembaga yang atasnya sempit, semacam kendi kecil) lalu ia penuhi dengan air kemudian ia dekatkan dengan lampu sambil berdiri. Ia terus berdiri sambil memegang qumqum hingga subuh.” Kemudian para petugas penjara pun mengetahui apa yang diperbuat oleh Al-Fadhl maka merekapun melarang Al-Fadhl untuk mendekati lampu. pada malam berikutnya Al-Fadhl mengambil qumqum yang penuh dengan air kemudian ia membawanya tatkala ia hendak tidur, ia memasukannya diantara bantal-bantal hingga subuh sehingga airnya pun hangat.”

Dari Musa bin ‘Uqbah berkata, “Ali bin Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib (cucu Ali bin Abi Thalib) tidak pernah makan bersama ibunya padahal ia adalah orang yang paling berbakti kepada ibunya. Ketika ditanya, apa alasan dia melakukan hal itu, jawabnya, “Aku takut jika aku makan bersama ibuku, lantas matanya memandang pada suatu makanan dan aku tidak tahu arah pandangannya tersebut, lalu aku memakan makanan yang dipandangnya itu maka aku telah durhaka kepadanya”

Subhaanallah.. Inilah beberapa kisah salaf yang sangat menjunjung tinggi bakti terhadap ayah dan ibu mereka.

Saudariku.. Selama ibu dan ayah kita masih diberi waktu untuk menemani kita, ayo  maksimalkan diri dalam memuliakannya! Segera hampiri mereka, bantu pekerjaan mereka, berucap dengan lemah lembut terhadapnya, patuhi perintahnya, jagalah hatinya dan jangan lupa selalu do’akan mereka.

“Wahai Rabb-ku, Ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku, Sayangilah keduanya sebagaimana mereka telah mendidikku di waktu masih kecil”

***

Penulis: Fitri Ariyanti
Murajaah: Ustadz Ammi Nur Baits

Referensi:

  • Birrul Walidain Berbakti kepada Kedua Orang Tua, Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Pustaka At-Taqwa.
  • Moslemsunnah.wordpress.com, Birrul Walidain “Keteladanan Salaf & Durhaka Kepada OrangTua”, Oleh Ust Firanda Andirja.Lc, 4 Desember 2010)

Sumber: https://muslimah.or.id/

Dakwah adalah Ibadah

Dakwah adalah Ibadah

Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan siapakah yang lebih baik ucapannya daripada orang yang menyeru (berdakwah) kepada Allah dan beramal shalih serta mengatakan; ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim’.” (QS. Fushshilat: 33). Ayat ini menunjukkan bahwa tidak ada seorangpun yang lebih baik ucapannya daripada orang yang berdakwah ilallah.

Allah ta’ala juga berfirman yang artinya, “Katakanlah: ‘Inilah jalanku, aku bersama orang-orang yang mengikutiku mengajakmu kepada Allah di atas landasan bashirah, dan Maha suci Allah, aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik’.” (QS. Yusuf: 108)

Allah ta’ala juga berfirman yang artinya, “Dan hendaklah ada di antara kalian sekelompok orang yang menyuruh kepada kebaikan, memerintahkan yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104)

Allah ta’ala juga berfirman yang artinya, “Ajaklah kepada jalan Rabbmu dengan cara yang hikmah, nasihat yang baik, dan debatlah mereka dengan cara yang lebih baik…” (QS. An-Nahl: 125)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang mengajak kepada suatu kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala sebagaimana pelakunya.” (HR. Muslim)

Dengan ayat dan hadits tersebut jelaslah bagi kita bahwa dakwah adalah ibadah.

Syarat Sah Ibadah

Ibadah tidak akan diterima kecuali apabila memenuhi dua syarat: ikhlas dilakukan demi Allah ta’ala dan mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Barang siapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Allah maka hendaknya dia beramal shalih dan tidak berbuat syirik dalam beribadah kepada Rabb-nya.” (QS. Al Kahfi: 110)

Fudhail bin ‘Iyadh menafsirkan ayat “Supaya Dia menguji kalain siapakah diantara kalian orang yang paling baik amalnya.” (QS. Al Mulk: 2) dengan mengatakan: Yaitu yang paling ikhlas dan paling benar. Makna dari ikhlas adalah mengerjakan amal itu murni untuk Allah. Sedangkan makna benar adalah mengikuti tuntunan Rasulullah. Kedua syarat ini harus terpenuhi semuanya. Apabila salah satu tidak ada maka ibadah itu tidak akan diterima.

Ibnu Qasim rahimahullah berkata: Di dalam dakwah ilallah ta’ala harus terpenuhi dua syarat: yaitu harus ikhlas untuk mengharap wajah Allah ta’ala dan harus sesuai dengan tuntunan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kalau dia kehilangan syarat pertama maka dia adalah seorang musyrik. Dan kalau dia kehilangan syarat kedua maka dia adalah seorang pembuat bid’ah.

Kesempurnaan Syariat

Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Pada hari ini Aku sudah sempurnakan bagimu agamamu, dan Aku telah cukupkan atasmu nikmat-Ku dan Aku juga telah ridha Islam sebagai agama bagimu.” (QS. Al Maa’idah: 3). Oleh sebab itu tidak ada sesuatupun yang diperlukan oleh umat ini di masa kini maupun masa depan melainkan sudah dijelaskan oleh Allah dengan gamblang sehingga mereka bisa mengetahui hukumnya haram ataukah halal.

Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Alif Lam Raa’. Ini adalah sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu agar kamu mengeluarkan umat manusia dari kegelapan menuju cahaya dengan izin Rabb mereka menuju jalan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” (QS. Ibrahim: 1)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai umat manusia, sesungguhnya tidak ada sesuatupun yang dapat mendekatkan kalian ke surga dan menjauhkan dari neraka kecuali telah kuperintahkan kepada kalian. Dan tidak ada sesuatupun yang mendekatkan ke neraka dan menjauhkan kalian dari surga kecuali telah kularang kalian darinya.” (HR. Al Baghawi dalam Syarhu Sunnah)

Berpegang Teguh Dengan Tuntunan Adalah Jalan Keselamatan

Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku maka dia tidak akan sesat dan tidak juga celaka.” (QS. Thaha: 123)

Allah ta’ala juga berfirman yang artinya, “Dan berpegang teguhlah kalian dengan tali Allah secara bersama-sama dan janganlah kalian berpecah belah…” (QS. Ali Imran: 103)

Yang dimaksud dengan tali Allah adalah al-Qur’an, sebagaimana tercantum dalam hadits. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilah, sesungguhnya aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian dua buah pegangan : salah satunya adalah Kitabullah; dan itulah tali Allah. Barang siapa yang mengikutinya maka dia akan berada di atas hidayah. Dan barang siapa yang meninggalkannya maka dia berada di atas kesesatan.” (HR. Muslim)

Konsekuensi berpegang teguh dengan al-Qur’an adalah juga harus berpegang teguh dengan As Sunnah. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Apa saja yang dibawa rasul kepada kalian maka ambillah, dan apa saja yang dilarangnya dari kalian maka tinggalkanlah.” (QS. Al Hasyr: 7)

Imam Malik mengatakan: “As Sunnah adalah seperti perahu Nabi Nuh. Barang siapa yang menaikinya maka dia akan selamat. Dan barang siapa yang tertinggal darinya maka dia akan tenggelam.”

Peringatan Keras Akan Bahaya Bid’ah

Bid’ah adalah segala bentuk perbuatan melakukan atau meninggalkan sesuatu yang diniatkan untuk beribadah kepada Allah padahal cara itu bukanlah termasuk bagian dari ajaran agama. Bid’ah bisa juga menyusup dalam bidang adat, bukan ibadah saja. Hal itu karena sesuatu yang pada asalnya adat itu telah dijadikan oleh orang untuk niat beribadah. Karena meyakini sesuatu yang mubah menjadi sunnah atau wajib adalah sesuatu yang bertentangan dengan syariat. Demikianlah pendapat yang benar dan didukung oleh para ulama seperti Ibnu Taimiyah dan Imam Syathibi. Sehingga perkara-perkara adat pun bisa dimasukkan dalam kategori maksud ibadah. Oleh sebab itu perbuatan semacam memakai wol dalam rangka ibadah kepada Allah adalah termasuk bid’ah, demikianlah yang ditegaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Contoh lain adalah tidak mau memakan daging adalah sesuatu yang termasuk perkara adat kebiasaan, bukan bagian dari ibadah. Akan tetapi ketika tidak memakan daging itu dijadikan sebagai salah satu cara pendekatan diri dan beribadah kepada Allah maka amalan itu termasuk dalam kategori perbuatan bid’ah.

Dalil-dalil al-Qur’an dan as-Sunnah serta ucapan para ulama salaf yang mencela bid’ah sunguuh sangat banyak jumlahnya. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan bahwasanya yang Kami perintahkan adalah jalanku yang lurus ini, maka ikutilah ia dan jangan kalian mengikuti jalan-jalan yang lain karena itu akan memecah belah kalian dari jalan Allah. itulah yang Allah pesankan kepada kalian mudah-mudahan kalian bertakwa.” (QS. Al An’aam: 153).

Mujahid menafsirkan kata ‘jalan-jalan yang lain’ di dalam ayat tersebut sebagai bid’ah dan syubhat. Allah ta’ala juga memperingatkan dengan keras di dalam ayat-Nya, “Hendaknya merasa takut orang-orang yang menyimpang dari ajaran Rasul kalau-kalau mereka itu nanti tertimpa fitnah atau siksa yang sangat pedih.” (QS. An Nuur: 63)

Yang dimaksud dengan fitnah di dalam ayat ini adalah syirik, kekafiran, kemunafikan atau kebid’ahan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang membenci sunnahku maka dia bukan termasuk golonganku.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ibnu ‘Umar mengatakan: “Ikutilah tuntunan dan jangan kalian menciptakan kebid’ahan.” Beliau juga mengatakan: “Semua bid’ah adalah sesat meskipun orang-orang menganggapnya baik.” Sufyan Ats Tsauri mengatakan: “Bid’ah itu lebih disukai iblis daripada maksiat. Karena maksiat masih mungkin untuk diharap taubatnya. Sedangkan bid’ah susah untuk diharap taubatnya.”

Imam Ahmad mengatakan: “Landasan As Sunnah dalam pandangan kami adalah: berpegang teguh dengan pemahaman para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meneladani mereka, meninggalkan kebid’ahan-kebid’ahan, dan setiap bid’ah adalah sesat.”

Pembahasan ini disarikan dari kitab Hujajul Qawiyyah ‘ala Anna Wasa’ila Da’wah Tauqifiyah

***

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi

Sumber: https://muslim.or.id/

Mengambil Manfaat dari Al-Qur’an

Mengambil Manfaat dari Al-Qur’an

Jika Anda ingin mengambil manfaat Al-Qur’an Al-Karim, maka bulatkanlah hatimu tatkala membaca dan mendengarkannya, pasanglah telingamu, hadirkan hatimu, rasakanlah firman siapa yang sedang engkau baca, siapa yang dituju dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala, karena sesungguhnya objek yang dituju adalah Anda melalui lisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah berfirman:

إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.”(QS. Qaaf: 37)

Yang demikian itu karena kesempurnaan pengaruh tergantung kepada sesuatu yang diharapkan pengaruhnya, objek yang hendak menerima pengaruh serta terpenuhinya syarat-syarat untuk timbulnya suatu pengaruh. Juga tiadanya penghalang yang menghambatnya. Ayat di atas mencakup penjelasan semua itu dengan lafadz yang ringkas, jelas, dan menunjukkan makna yang dimaksud. Ibnu Qutaibah berkata,”Dengarkanlah kitabullah yakni dengan kesaksian hati dan pemahaman, bukan dengan kelalaian dan kehampaan.”

Jika yang diharapkan pengaruhnya adalah Al-Qur’an, objek yang hendak menerima pengaruh adalah hati yang hidup, terpenuhi pula syarat, yakni adanya perhatian, ditambah lagi dengan tiadanya penghalang berupa kesibukan hati dan kelalaiannya terhadap makna yang terkandung maupun berpaling pada sesuatu yang lain, niscaya muncullah pengaruhnya, yakni bisa mendapatkan manfaat dan peringatan.

Dengan memperhatikan kalamullah dan khithab (objek yang ditujunya), niscaya akan kita dapatkan bahwa Dialah pemilik seluruh kerajaan, pemilik segala pujian, segala urusan berada di tangan-Nya, berasal dari-Nya, kembali pula kepada-Nya, bersemayam di singgasana-Nya dan tak tersembunyi sedikitpun atas-Nya segala apa yang ada dalam kekuasaan-Nya. Maha mengetahui apa yang terdetik dalam hati para hamba-Nya, Maha Melihat apa-apa yang dirahasiakan mereka dan apa-apa yang ditampakkan.

Maka perhatikanlah, bagaimana Dia memuji diri-Nya dan menasehati hamba-hamba-Nya, menunjukkan kepada mereka apa-apa yang mendatangkan kebahagiaan bagi mereka dan memberikan peringatan dan apa-apa yang dapat menyebabkan mereka binasa.

Nampakkanlah dari khithab yang ditujunya, bahwa Allah memberikan teguran-teguran kepada orang-orang yang dicintai-Nya dengan teguran yang halus, padahal mereka seringkali tergelincir namun Allah mengampuni mereka, menerima udzur mereka, memperbaiki keadaan yang rusak di antara mereka, menjadi penolong atas mereka, menjamin kemaslahatan bagi mereka dan mengentaskan mereka dari kegundahan. Maka tatkala hati menyaksikan dari Al-Qur’an tentang Maha Raja Yang Maha Agung, Maha Penyayang, Pemurah, Maha Indah, bagaimana mungkin hati tidak terdorong untuk mencintai-Nya dan berlomba untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dia akan pertaruhkan jiwanya untuk mencintai-Nya, sehingga Dia menjadi sesuatu yang paling dicintai dari selain-Nya, keridhaan-Nya lebih didahulukan olehnya daripada keridhaan siapapun selain-Nya.

Bagaimana mungkin hati tidak nyaman untuk berdzikir kepada-Nya, melestarikan kecintaannya kepada-Nya, rindu kepada-Nya dan senang dekat dengan-Nya, padahal unsur itulah yang merupakan makanan, kekuatan dan obat baginya. Ketika unsur tersebut itu tiada, menjadi rusak dan binasalah hati. Hidupnya pun tak lagi bermanfaat baginya. (Al-Fawa’id)

 

Diambil dari buku Menjadi Kekasih Allah (Terjemahan dari Raudhah Al Mahbub min Kalaam Muharrik Al Quluub), karya Ibnu Qayyim Al Jauziyyah, penerbit Pustaka At Tibyan

Sumber: https://muslimah.or.id/

Tetap Semangat dalam Hal yang Bermanfaat

Tetap Semangat dalam Hal yang Bermanfaat

Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in. Sebuah hadits yang patut jadi renungan bersama dan digali faedah-faedah penting di dalamnya …

Dari Abu Hurairah, Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah Dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu syaithon.”

(HR. Muslim)

[Muslim: 47-Kitab Al Qodar, An Nawawi –rahimahullah- membawakan hadits ini dalam Bab “Iman dan Tunduk pada Takdir”]

 

Beberapa pelajaran berharga dapat kita petik dari hadits ini.

Mukmin yang Kuat Lebih Baik daripada Mukmin yang Lemah

Mukimin yang kuat di sini bukanlah yang dimaksudkan adalah mukmin yang kekar badannya, perkasa dan sehat. Semacam ini yang sering dipahami sebagian orang tatkala mendengar hadits ini.

Yang dimaksud dengan mukmin yang kuat di sini adalah mukmin yang kuat imannya. Bukan yang dimaksudkan dengan kuat di sini adalah mukmin yang kuat badannya. Karena kuatnya badan biasanya akan menimbulkan bahaya jika kekuatan tersebut digunakan dalam hal maksiat. Namun pada asalnya, kuat badan tidak mesti terpuji dan juga tidak mesti tercela. Jika kekuatan tersebut digunakan untuk hal yang bermanfaat untuk urusan dunia dan akhirat, maka pada saat ini terpuji. Namun jika sebaliknya, digunakan dalam perbuatan maksiat kepada Allah, maka pada saat inilah tercela.

Jadi, yang dimaksudkan kuat di sini adalah kuatnya iman. Kita dapat saja menyebut seorang itu kuat, maksudnya adalah dia perkasa dengan kejantanannya. Begitu pula kita dapat menyebut kuat dalam masalah iman.

Yang dimaksud dengan kuatnya iman di sini adalah seseorang mampu melaksanakan kewajiban dan dia menyempurnakannya pula dengan amalan sunnah. Sedangkan seorang mukmin yang lemah imannya  kadangkala tidak melaksanakan kewajiban dan enggan meninggalkan yang haram. Orang seperti inilah yang memiliki kekurangan.

Lalu yang dimaksudkan bahwa orang mukmin yang kuat itu lebih baik daripada yang lemah adalah orang mukmin yang kuat imannya lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah imannya.

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa mereka semua (yaitu mukmin yang kuat imannya dan mukmin yang lemah imannya) sama-sama memiliki kebaikan. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan demikian agar jangan disalahpahami bahwa mukmin yang lemah imannya tidak memiliki kebaikan sama sekali. Mukmin yang lemah imannya masih tetap memiliki kebaikan dan dia tentu saja lebih baik daripada orang kafir. Namun sekali lagi diingat bahwa mukmin yang kuat imannya tentu saja lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah imannya.

Bersemangatlah dalam Perkara yang Bermanfaat Bagimu

Inilah wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya. Wasiat beliau ini adalah perintah untuk bersemangat dalam melakukan hal-hal yang bermanfaat. Lawan dari hal ini adalah melakukan hal-hal yang dapat menimbulkan bahaya (dhoror), juga melakukan hal-hal yang tidak mendatangkan manfaat atau pun bahaya.

Karena yang namanya perbuatan itu ada tiga macam: [1] perbuatan yang mendatangkan manfaat, [2] perbuatan yang menimbulkan bahaya, dan [3] perbuatan yang tidak mendatangkan manfaat maupun bahaya. Sedangkan yang diperintahkan adalah melakukan macam yang pertama yaitu hal yang bermanfaat.

Orang yang berakal yang menerima wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini pasti akan semangat melakukan hal yang bermanfaat. Namun kebanyakan orang saat ini menyia-nyiakan waktunya untuk hal yang tidak bermanfaat. Bahkan kadangkala yang dilakukan adalah hal yang membahayakan diri dan agamanya. Terhadap orang semacam ini, pantas kita katakan: Kalian tidaklah mengamalkan wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Boleh jadi kalian tidak melaksanakannya karena tidak tahu atau karena menganggap remeh. Mukmin yang berakal dan mantap hatinya tentu akan melaksanakan wasiat beliau ini, juga akan semangat melakukan hal yang bermanfaat bagi agama dan dunianya.

Hal yang manfaat dalam agama kembali pada dua perkara yaitu ilmu nafi’ (yang bermanfaat) dan amalan sholeh.

Yang dimaksud dengan ilmu nafi’ adalah ilmu yang dapat melembutkan dan menentramkan hati, yang nantinya akan membuahkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Ilmu  nafi’ inilah ajaran Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terdapat dalam tiga macam ilmu yaitu ilmu hadits, tafsir dan fiqih. Yang juga bisa menolong dalam menggapai ilmu nafi’ adalah bahasa Arab dan beberapa ilmu lainnya sesuai dengan kebutuhan.

Adapun yang dimaksud amalan sholeh adalah amalan yang selalu dilandasi dengan ikhlash dan mencocoki tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Adapun hal yang manfaat dalam masalah dunia adalah seorang hamba berusaha untuk mencari rizki dengan berbagai sebab yang diperbolehkan sesuai dengan kemampuannya. Juga hendaklah setiap orang selalu merasa cukup, tidak mengemis-ngemis dari makhluk lainnya. Juga hendaklah dia mengingat kewajibannya terhadap harta dengan mengeluarkan zakat dan sedekah. Dan hendaklah setiap orang berusaha mencari rizki yang thoyib, menjauhkan diri dari rizki yang khobits (kotor). Perlu diketahui pula bahwa barokahnya rizki seseorang dibangun di atas takwa dan niat yang benar. Juga berkahnya rizki adalah jika seseorang menggunakannya untuk hal-hal yang wajib ataupun sunnah (mustahab). Juga termasuk keberkahan rizki adalah jika seseorang memberi kemudahan pada yang lainnya. Allah Ta’ala berfirman,

وَلاَ تَنسَوُاْ الْفَضْلَ بَيْنَكُمْ

Jangan lupakan untuk saling memberi kemudahan di antara kalian.” (QS. Al Baqarah: 237). Yaitu yang memiliki kemudahan rizki memudahkan yang kesulitan, bahkan seharusnya memberi tenggang waktu dalam pelunasan hutang. Apabila semua ini dilakukan, datanglah keberkahan dalam rizki.

Dahulukanlah Maslahat Agama

Hadits ini begitu baik untuk direnungkan oleh setiap insan, bahkan hadits ini bisa dijadikan pelita baginya dalam melakukan amalan dalam masalah agama maupun dunianya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Bersemangatlah kamu dalam melakukan hal yang bermanfaat bagimu”. Perkataan beliau ini mencakup segala sesuatu yang bermanfaat baik dalam masalah agama maupun dunia. Namun, apabila maslahat dunia dan agama itu bertabrakan, yang lebih didahulukan adalah maslahat agama. Karena jika maslahat agama tercapai, maka dunia pun akan diperoleh. Adapun jika maslahat dunia tercapai, namun agama malah menjadi rusak, maka nantinya maslahat tersebut akan sirna.

Semoga sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut bisa menjadi renungan bagi kita semua.

مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِى قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِىَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهَ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ

“Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai akhirat, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya, Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai, dunia pun akan dia peroleh dan tunduk padanya. Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, akan mencerai beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah ditetapkan baginya.” (HR. Tirmidzi no. 2465. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih)

Perlu Ada Skala Prioritas: Dahulukan Yang Memiliki Manfaat Lebih

Hadits ini juga menunjukkan bahwa jika bertentangan antara dua hal yang sama-sama manfaat, maka pilihlah perkata yang memiliki nilai manfaat yang lebih.

Misalnya adalah jika kita ingin bersilaturahmi dan kita punya dua pilihan yaitu bersilaturahmi ke saudara kandung dan paman. Keduanya sama-sama mendesak pada saat itu dan tidak mungkin kita berkunjung ke tempat keduanya sekaligus. Dari penjelasan di atas, kita haruslah mendahulukan silaturahmi kepada saudara kandung daripada paman karena berkunjung ke tempatnya tentu lebih utama dan lebih mendatangkan manfaat.

Begitu pula jika di dekat rumah kita ada dua masjid, yang jaraknya hampir sama. Akan tetapi salah satu dari dua masjid tersebut memiliki jama’ah lebih banyak. Dalam kondisi semacam ini, lebih utama shalat di masjid yang lebih banyak jama’ahnya.

Jadi ingatlah baik-baik kaedah yang sangat bermanfaat ini: Jika bertentangan dua hal yang sama-sama bermanfaat, yang satu memiliki nilai lebih dari yang lainnya, maka kita mendahulukan yang memiliki nilai lebih tersebut.

Namun sebaliknya, jika seseorang terpaksa harus melakukan hal yang terlarang dan dia punya dua pilihan. Di antara dua pilihan tersebut ada yang lebih berbahaya. Dalam kondisi semacam ini, dia harus memilih larangan yang lebih ringan.

Jadi, jika ada beberapa perkara yang terlarang dan kita harus menerjanginya, maka pilihlah yang paling ringan. Namun dalam beberapa perkara yang diperintahkan dan kita harus memilih salah satu, maka pilihlah yang paling bermanfaat.

Jangan Lupa Meminta Pertolongan pada Allah

Setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan kita untuk semangat dalam melakukan hal yang bermanfaat, kemudian beliau menyampaikan wasiat pula agar kita jangan sampai lupa minta pertolongan pada Allah Yang Berada di atas sana.

Seorang yang berakal dan cerdas pasti akan melakukan hal yang bermanfaat dan akan memilih melakukan yang lebih manfaat. Namun terkadang hati ini berubah, sampai-sampai kita bersandar pada diri sendiri dan lupa meminta tolong pada Allah ‘azza wa jalla. Inilah yang terjadi pada kebanyakan orang, mungkin juga kita. Kita terkadang merasa takjub dengan diri sendiri, seraya dalam benak hati ini mengatakan: Saya pasti bisa menyelesaikannya sendiri. Dalam kondisi ini, Rabb tempat kita bergantung dan tempat kita memohon segala macam hajat, posisi-Nya terpinggirkan. Ketika kita sudah bersemangat dalam melakukan suatu amalan sholeh dan yang bermanfaat, terkadang kita terlena dengan kemampuan kita sendiri, merasa takjub dan lupa meminta tolong pada Rabb kita. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan kepada kita: Bersemangatlah dalam hal yang bermanfaat bagimu dan minta tolonglah pada Allah. Maksudnya adalah janganlah kita melupakan meminta tolong pada-Nya walaupun itu adalah dalam perkara yang sepele.

Misalnya dalam hadits:

لِيَسْأَلْ أَحَدُكُمْ رَبَّهُ حَاجَتَهُ كُلَّهَا حَتَّى يَسْأَلَ شِسْعَ نَعْلِهِ إِذَا انْقَطَعَ

Hendaklah salah seorang di antara kalian meminta seluruh hajatnya pada Rabbnya, walaupun itu adalah meminta dalam hal tali sendal yang terputus.” (Diriwayatkan oleh Abu Ya’la dalam musnadnya. Husain Salim Asad mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih berdasarkan syarat Muslim). Yaitu mintalah pada Allah walaupun dalam perkara sepele sekalipun, jangan sampai engkau melupakan-Nya. Misalnya: ketika engkau ingin berwudhu atau melaksanakan shalat, bergerak ke kanan dan ke kiri, atau mungkin ingin meletakkan sesuatu, maka pada saat itu jangan lupa untuk meminta tolong pada Allah. Karena seandainya tanpa pertolongan-Nya, niscaya sedikit pun tidak akan engkau raih.

Teruslah Melakukan Suatu Amalan Hingga Usai

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan lagi: Wa laa ta’jiz, yakni janganlah engkau lemah. Yang dimaksudkan di sini adalah hendaknya seseorang terus melakukan amalan tersebut hingga selesai, janganlah menunda-nundanya, dan janganlah biarkan pekerjaan terlalaikan begitu saja. Janganlah mengatakan bahwa waktu masih panjang. Selama engkau bertekad melakukan sesuatu, yakin bahwa yang dilakukan bermanfaat, lalu engkau meminta pertolongan pada Allah, maka janganlah menunda-nunda melakukannya.

Betapa banyak kita lihat para penuntut ilmu dalam mengkaji agamanya, dia semangat mempelajari satu kitab. Setelah seminggu atau sebulan, dia pun berpindah mempelajari kitab lainnya, padahal kitab yang pertama tadi belum dipelajari hingga usai. Dia mungkin telah melakukan yang bermanfaat dan meminta pertolongan pada Allah, akan tetapi dia begitu ‘ajz (lemah). Apa ‘ajz-nya (lemahnya)? Yaitu dia tidak mampu ajeg dalam mempelajari kitab hingga usai. Karena makna dari hadits: “Janganlah engkau lemah” adalah: Janganlah engkau meninggalkan amalan. Namun setelah engkau tahu bahwa perkara tersebut bermanfaat, hendaklah engkau terus melakukannya hingga usai.

Perbuatan seperti yang dilakukan di atas cuma berpindah dari satu kitab ke kitab lain, namun tidak mendapatkan faedah apa-apa dan hanya menyia-nyiakan waktu semata.

-bersambung insya Allah, pada posting: Jangan Berkata Seandainya …

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/