Select Page
Puasa dan Berhari Raya Bersama Pemerintah

Puasa dan Berhari Raya Bersama Pemerintah

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : ” الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَالْأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ

“Dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ‘Hari puasa adalah hari ketika orang-orang berpuasa, Idul Fitri adalah hari ketika orang-orang berbuka, dan Idul Adha adalah hari ketika orang-orang menyembelih‘” (HR. Tirmidzi 632, Ad Daruquthni 385)

Dalam lafadz yang lain:

صَوْمُكُمْ يَوْمَ تَصُومُونَ , وَفِطْرُكُمْ يَوْمَ تُفْطِرُونَ

Kalian berpuasa ketika kalian semuanya berpuasa, dan kalian berbuka ketika kalian semua berbuka” (HR Ad Daruquthni 385, Ishaq bin Rahawaih dalam Musnad-nya 238)

Derajat Hadits

At Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan gharib”. An Nawawi berkata: “Sanad hadits ini hasan” (Al Majmu’, 6/283). Syaikh Al Albani berkata: “Sanad hadits ini jayyid” (Silsilah Ahadits Shahihah, 1/440).

Faidah Hadits

Pertama: Puasa dan lebaran bersama pemerintah dan mayoritas orang setempat

At Tirmidzi setelah membawakan hadits ini ia berkata: “Hadits ini hasan gharib, sebagian ulama menafsirkan hadits ini, mereka berkata bahwa maknanya adalah puasa dan berlebaran itu bersama Al Jama’ah dan mayoritas manusia”.

Ash Shan’ani berkata: “Hadits ini dalil bahwa penetapan lebaran itu mengikuti mayoritas manusia. Orang yang melihat ru’yah sendirian wajib mengikuti orang lain dan mengikuti penetapan mereka dalam shalat Ied, lebaran dan idul adha” (Subulus Salam 2/72, dinukil dari Silsilah Ash Shahihah 1/443)

Al Munawi mengatakan: “Makna hadits ini, puasa dan berlebaran itu bersama Al Jama’ah dan mayoritas manusia” (At Taisiir Syarh Al Jami’ Ash Shaghir, 2/106)

Syaikh Al Albani menjelaskan, bahwa makna ini juga dikuatkan oleh hadits ‘Aisyah, ketika Masruq (seorang tabi’in) menyarankan beliau untuk tidak berpuasa ‘Arafah tanggal 9 Dzulhijjah karena khawatir hari tersebut adalah tanggal 10 Dzulhijjah yang terlarang untuk berpuasa. Lalu ‘Aisyah menjelaskan kepada Masruq bahwa yang benar adalah mengikuti Al Jama’ah. ‘Aisyah radhiallahu’anha berdalil dengan hadits:

النحر يوم ينحر الناس، والفطر يوم يفطر الناس

An Nahr (Idul Adha) adalah hari ketika orang-orang menyembelih dan Idul Fitri adalah hari ketika orang-orang berlebaran” (Lihat Silsilah Ahadits Shahihah 1/444)

Perlu diketahui, bahwa istilah Al Jama’ah maknanya adalah umat Islam yang berkumpul bersama ulama dan penguasa muslim yang sah, mereka yang senantiasa meneladani ajaran Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dengan pemahaman para sahabat Nabi. Mengenai istilah ini silakan baca artikel Makna Al Jama’ah dan As Sawadul A’zham. Maka mengikuti Al Jama’ah dalam hal penentuan Ramadhan dan hari raya adalah mengikuti keputusan pemerintah muslim yang sah yang berkumpul bersama para ulamanya yang diputuskan melalui metode-metode yang sesuai dengan sunnah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam.

Hal ini juga dalam rangka mengikuti firman Allah Ta’ala :

أطِيعُوا الله وأطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولى الأمْرِ مِنْكُمْ

Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul-Nya serta ulil amri kalian” (QS. An Nisa: 59)

Memang bisa jadi imam atau pemerintah berbuat kesalahan dalam penetapan waktu puasa, semisal melihat hilal yang salah, atau menolak persaksian yang adil dan banyak, atau juga menerima persaksian yang sebenarnya salah, atau kesalahan-kesalahan lain yang mungkin terjadi. Namun yang dibebankan kepada kita sebagai rakyat adalah hal ini adalah sekedar ta’at dan menasehati dengan baik jika ada kesalahan. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

اسمعوا وأطيعوا فإنما عليكم ما حملتم وعليهم ما حملوا

Dengar dan taatlah (kepada penguasa). Karena yang jadi tanggungan kalian adalah yang wajib bagi kalian, dan yang jadi tanggungan mereka ada yang wajib bagi mereka” (HR. Muslim 1846)

Kedua: Urusan penetapan waktu puasa dan lebaran adalah urusan pemerintah

As Sindi menjelaskan, “Nampak dari hadits ini bahwa urusan waktu puasa, lebaran dan idul adha, bukanlah urusan masing-masing individu, dan tidak boleh bersendiri dalam hal ini. Namun ini adalah urusan imam (pemerintah) dan al jama’ah. Oleh karena itu wajib bagi setiap orang untuk tunduk kepada imam dan al jama’ah dalam urusan ini. Dari hadits ini juga, jika seseorang melihat hilal namun imam menolak persaksiannya, maka hendaknya orang itu tidak menetapkan sesuatu bagi dirinya sendiri, melainkan ia hendaknya mengikuti al jama’ah” (Hasyiah As Sindi, 1/509).

Hal ini juga didukung oleh dalil yang lain yang menunjukkan bahwa urusan penetapan puasa dan lebaran adalah urusan pemerintah. Sebagaimana yang dipraktekan di zaman Nabi. Sahabat Ibnu Umar berkata:

«تَرَائِى النَّاسُ الْهِلَالَ،» فَأَخْبَرْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَنِّي رَأَيْتُهُ فَصَامَهُ، وَأَمَرَ النَّاسَ بِصِيَامِهِ

Orang-orang melihat hilal, maka aku kabarkan kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bahwa aku melihatnya. Lalu beliau memerintahkan orang-orang untuk berpuasa” (HR. Abu Daud no. 2342, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud)

أَنَّ رَكْبًا جَاءُوا إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَشْهَدُونَ أَنَّهُمْ رَأَوُا الْهِلَالَ بِالْأَمْسِ، فَأَمَرَهُمْ أَنْ يُفْطِرُوا، وَإِذَا أَصْبَحُوا أَنْ يَغْدُوا إِلَى مُصَلَّاهُمْ

Ada seorang sambil menunggang kendaraan datang kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam ia bersaksi bahwa telah melihat hilal di sore hari. Lalu Nabi memerintahkan orang-orang untuk berbuka dan memerintahkan besok paginya berangkat ke lapangan” (HR. At Tirmidzi no.1557, Abi Daud no.1157 dishahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud)

Hadits Ibnu Umar di atas menunjukkan bahwa urusan penetapan puasa diserahkan kepada pemerintah bukan diserahkan kepada masing-masing individu atau kelompok masyarakat.

Ketiga: Persatuan umat lebih diutamakan daripada pendapat individu atau kelompok

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah menuturkan:

Ketentuan seperti inilah yang layak bagi syariat yang samahah ini yang salah satu tujuannya adalah persatuan ummat dan bersatunya mereka dalam satu barisan, serta menjauhkan segala usaha untuk memecah belah umat dengan adanya pendapat-pendapat individu. Pendapat-pendapat individu (walaupun dianggap benar), dalam perkara ibadah jama’iyyah seperti puasa, shalat jama’ah, pendapat-pendapat itu tidak teranggap dalam syariat.

Tidakkah anda lihat para sahabat Nabi bermakmum kepada sahabat yang lain? Padahal diantara mereka ada yang berpendapat bahwa menyentuh wanita, menyentuh kemaluan, keluar darah adalah pembatal wudhu sedangkan sebagiannya tidak berpendapat demikian. Sebagian mereka ada yang shalat dengan rakaat sempurna ketika safar, dan ada yang meng-qashar. Namun ikhtilaf ini tidak membuat mereka enggan bersatu dalam satu shaf shalat dan menjadi makmum bagi yang lain dan tetap menganggap shalatnya sah. Itu karena mereka mengetahui bahwa berpecah-belah dalam masalah agama itu lebih buruk daripada kita menyelisihi sebagian pendapat.

Pernah terjadi di antara mereka, sebuah kasus adanya sahabat yang enggan mengikuti pendapat imam yang berkuasa dalam sebuah masyarakat yang besar di Mina. Bahkan sampai ia enggan beramal dengan pendapat sang imam secara mutlak karena khawatir terjadi keburukan jika beramal sesuai dengan pendapat sang imam. Abu Daud (1/307) meriwayatkan

أن عثمان رضي الله عنه صلى بمنى أربعا، فقال عبد الله بن مسعود منكرا عليه: صليت مع النبي صلى الله عليه وسلم ركعتين، ومع أبي بكر ركعتين، ومع عمر ركعتين، ومع عثمان صدرا من إمارته ثم أتمها، ثم تفرقت بكم الطرق فلوددت أن لي من أربع ركعات ركعتين متقبلتين، ثم إن ابن مسعود صلى أربعا! فقيل له: عبت على عثمان ثم صليت أربعا؟ ! قال: الخلاف شر

Utsman bin ‘Affan radhiallahu’anhu shalat di Mina empat raka’at. Maka Ibnu Mas’ud pun mengingkari hal ini dan berkata: “Aku pernah shalat bersama Nabi Shallallahu’alahi Wasallam dua raka’at (diqashar), bersama Abu Bakar dua raka’at, bersama Umar dua rakaat, dan bersama ‘Utsman di awal pemerintahannya, beliau melakukannya dengan sempurna (empat raka’at, tidak diqashar). Setelah itu berbagai jalan (manhaj) telah memecah belah kamu semua. Dan aku ingin sekiranya empat raka’at itu tetap menjadi dua raka’at. Namun setelah itu Ibnu Mas’ud shalat empat raka’at. Ada yang bertanya: ‘Ibnu Mas’ud, engkau mengkritik Utsman namun tetap shalat empat raka’at?’. Ibnu Mas’ud menjawab: ‘Perselisihan itu buruk’

Sanad hadits ini shahih, diriwayatkan juga oleh Ahmad (5/155) semisal ini dari sahabat Abu Dzar radhiallahu’anhu.

Renungkanlah hadits ini dan juga atsar yang kami sebutkan, khususnya bagi orang-orang yang selalu saja berselisih dalam shalat mereka, tidak mengikuti para imam masjid. Terutama dalam shalat witir di bulan Ramadhan, dengan alasan beda madzhab. Sebagian mereka juga ada yang menyerukan ilmu falak, lalu mereka berlebaran sendiri lebih dahulu atau lebih akhir daripada mayoritas kaum muslimin, karena menggunakan pendapat dan ilmu falak mereka. Dengan sikap acuh-tak-acuh mereka menyelisihi kaum muslimin. Hendaknya mereka ini merenungkan ilmu yang kami sampaikan, mudah-mudahan mereka bisa memahaminya. Sebagai obat dari kejahilan dan ketertipuan mereka. Sehingga akhirnya mereka bisa bersatu dalam barisan bersama kaum muslimin yang lain, karena tangan Allah bersama Al Jama’ah (Silsilah Ahadits Shahihah, 1/445)

Keempat: Isyarat tentang adanya perselisihan umat dalam masalah penetapan puasa

Hadits di atas juga merupakan isyarat dari Nabi bahwa akan ada orang dan kelompok-kelompok yang menyelisihi petunjuk Nabawi dalam penentuan waktu puasa. Al Mubarakfuri berkata: “Sebagian ulama menafsirkan hadits ini, maknanya adalah kabar bahwa manusia akan terpecah menjadi kelompok-kelompok dan menyelisihi petunjuk Nabawi. Ada kelompok yang menggunakan hisab, ada kelompok yang berpuasa atau berwukuf lebih dulu bahkan mereka menjadikan hal itu syi’ar kelompok mereka, merekalah bathiniyyah. Namun yang selain mereka adalah mengikuti petunjuk Nabawi, yaitu golongan orang-orang yang zhahir ‘alal haq, merekalah yang didalam hadits di atas disebut an naas, merekalah as sawaadul a’zham, walaupun jumlah mereka sedikit”. (Tuhfatul Ahwazi, 3/313)

Jika Pemerintah Menggunakan Metode Hisab?

Syaikh Dr. Saad asy Syatsri, mantan anggota Lajnah Daimah dan Haiah Kibar Ulama KSA, mengatakan, “Seandainya penguasa di sebuah negara menetapkan hari raya berdasarkan hisab maka apa yang seharusnya dilakukan oleh rakyat ketika itu?” Hal ini diperselisihkan oleh para ulama.

Mayoritas ulama mengatakan hendaknya rakyat mengikuti keputusan pemerintah. Dosa ditanggung pemerintah sedangkan rakyat bebas dari tanggung jawab terkait hal ini.

Alasan mayoritas ulama adalah karena dalil-dalil syariat memerintahkan dan mewajibkan rakyat untuk mentaati pemerintah. Dengan demikian, gugurlah kewajiban rakyat dengan mentaati keputusan pemerintah dan tanggung jawab di akhirat tentang hal ini dipikul oleh pemerintah.

Sedangkan Imam Malik berpendapat bahwa jika pemerintah menetapkan hari raya berdasarkan hisab maka keputusannya tidak ditaati sehingga rakyat berhari raya sebagaimana hasil rukyah yang benar. Rakyat tidak boleh beramal berdasarkan keputusan pemerintah tersebut.

Imam Malik mengatakan bahwa alasannya adalah adanya ijma ulama yang mengatakan bahwa hisab tidak boleh menjadi dasar dalam penetapan hari raya dan dalil-dalil syariat pun menunjukkan benarnya hal tersebut.

Dalam kondisi tidak taat kepada pemerintah tidaklah bertentangan dengan berbagai dalil yang memerintahkan rakyat untuk mentaati pemerintah dalam kebaikan semisal hadits

إنما الطاعة في المعروف

Ketaatan kepada makhluk itu hanya berlaku dalam kebaikan

dan hadits:

لا طاعة لمخلوق في معصية الله

Tidak ada ketaatan kepada makhluk jika untuk durhaka kepada Allah

Kesimpulannya, yang tepat pendapat mayoritas ulama dalam masalah ini itu lebih kuat dari pada pendapat Imam Malik. Sehingga wajib bagi rakyat untuk mengikuti keputusan pemerintah terkait penetapan hari raya sedangkan dosa menjadikan hisab sebagai landasan penetapan hari raya itu ditanggung oleh pemerintah yang memutuskan hari raya berdasarkan hisab” (Di kutip dari blog ustadz aris munandar)

Penulis: Yulian Purnama
Artikel Muslim.Or.Id

Hukum Menikahi Sepupu Dalam Islam

Hukum Menikahi Sepupu Dalam Islam

Hukum Menikahi Sepupu Dalam Islam

A. Pendahuluan

Bagaimanakah hukum menikahi sepupu dalam islam? Banyak dari kita yang mungkin bertanya-tanya tentang masalah yang satu ini. Hal tersebut dikarenakan kurangnya pemahaman dengan kurangnya referensi-referensi dari permasalahan tersebut untuk dijadikan rujukan. Oleh sebab itu, kami akan mencoba membantu teman-teman yang butuh penjelasan tentang masalah ini. Semoga, dengan adanya artikel kami ini, bisa bermanfaat bagi kita semua. Selamat membaca

B. Permasalahan.

Hukum menikahi sepupu dalam Islam.

Misan atau sepupu atau saudara sepupu (kakak maupun adik) adalah saudara senenek. Sepupu berasal dari kata “pupu” yang artinya nenek moyang. (wikipedia).

Untuk menjawab permasalahan ini, alangkah lebih baiknya bila kita lihat keterangan-keterangan di bawah ini yang menjelaskan tentang orang-orang yang haram untuk dinikahi.

Orang yang haram untuk dinikahi:

  • Ibu dan orang tua dari ibu dan seterusnya
  • Anak perempuan dan anaknya anak perempuan tersebut dan seterusnya
  • Saudara perempuan dari bapak atau ibu  maupun keduanya
  • Saudara perempuan ibu secara haqiqotan atau saudara perempuan ibunya bapak
  • Saudara perempuan dari bapak atau saudara perempuan dari bapaknya bapak
  • Anak perempuan dari saudara laki-laki
  • Anak perempuan dari saudara perempuan
  • Perempuan yang menyusuimu, walaupun ia bukan ibu kandungmu
  • Saudara perempuan sepersusuan. Jadi, perempuan yang satu sepersusuan denganmu adalah saudara perempuan sepersusuanmu, walaupun ia bukan saudara perempuan kandungmu
  • Ibu dari istri atau ibu dari ibunya istri, entah itu dari nasab atau satu sepersusuan. Hal ini berdasarkan surat An-Nisa’ ayat 23
  • Anak perempuan dari istri dengan catatan suami dan istri telah berhubungan suami istri. Hal ini berdasarkan keterangan dari surat An-Nisa’ ayat 23.
  • Istri dari anak, berdasarkan keterangan dari surat An-Nisa’ ayat 23

Keterangan di atas adalah orang-orang yang haram untuk dinikahi selamanya. Namun, ada juga orang yang haram untuk dinikahi, namun tidak haram untuk selamanya, hanya saja tidak boleh dinikahi semuanya dan hanya boleh dinikahi salah satunya saja. Agar lebih memahamkan contohnya adalah: Saudara perempuan dari istri. Saudara perempuan dari istri haram hukumnya untuk dinikahi, namun tidak bersifat selamanya, sehingga misalkan istri meninggal, sang suami boleh untuk menikahi saudara perempuan istrinya tersebut.

Orang yang haram dinikahi namun tidak untuk selamanya selain dari saudara perempuan istri ialah:

  • Saudara perempuan dari bapaknya istri
  • Saudara perempuan dari ibunya istri

Saudara perempuan dari bapak atau ibunya istri tersebut haram untuk dinikahi, namun tidak haram untuk selamanya, sehingga apabila misalkan istri meninggal, suami boleh menikahi saudara perempuan bapak atau ibunya istri tersebut.

C. Kesimpulan

Dari keterangan-keterangan di atas, dapat kita simpulkan bahwa hukum menikahi sepupu dalam islam adalah boleh (dalam keterangan tidak ada larangan untuk menikahi sepupu), bahkan dalam kitab Haasyiyyah Asy-Syiekh Ibraahiim Al-Bayjuriy dijelaskan secara langsung tentang masalah hukum menikahi saudara sepupu. Di situ dijelaskan bahwa: Orang yang diharamkan untuk dinikahi sebab adanya hubungan nasab ada dua, yang mana salah satunya adalah perempuannya saudara kecuali anak perempuannya saudara perempuan dari bapak atau saudara perempuan dari ibu.

(Referensi: Haasiyyah Asy-syiekh Ibraahiim Al-Baijury, cetakan Daarul kutub, Baerut Lebanon, Juz 2, halaman 205-215)

D. Penutup

Demikianlah pembahasan tentang seputar hukum menikahi sepupu dalam islam, semoga bermanfaat bagi kita semua. Komentar dan kritikan anda sangat kami butuhkan agar lebih baik kedepannya. Mohon share dengan memberikan Like, Tweet atau komentar anda di bawah ini agar dapat menjadi referensi bagi teman-teman jejaring sosial anda. Terima kasih.

https://hukum-islam.net/

Hukum Dan Cara Bersiwak Dalam Islam

Hukum Dan Cara Bersiwak Dalam Islam

Hukum Dan Cara Bersiwak Dalam Islam

A. Pendahuluan.

Gigi adalah salah satu aset untuk menunjang penampilan seseorang. Dengan gigi yang putih dan bersih, maka kita akan tampak lebih percaya diri dihadapan orang lain. Oleh sebab itu, untuk menjaga agar gigi tetap bersih dan putih salah satunya adalah dengan bersikat gigi atau dalam dunia pondok pesantren juga dikenal dengan bersiwak. Bahkan, agar lebih maksimal dalam perawatannya, tidak sedikit orang merawat giginya dengan memeriksakan gigi mereka ke dokter gigi. Saking pentingnya,bahkan islam pun menganjurkan kita agar selalu bersiwak. Lalu, bagaimanakah hukum dan cara bersiwak dalam islam?

B. Penjelasan hukum dan cara bersiwak dalam Islam

Pengertian

Siwak menurut lughat (bahasa) adalah menggosok-gosok. Adapun siwak menurut Syara’ adalah: “Menggunakan kayu atau yang lainnya di dalam gigi dan sebelahnya. (I’anatu Ath-Thaalibiin, cetakan Daarulkutub, juz 1 halaman 77). Yang benar, siwak ketika diucapkan mempunyai dua pengertian, yaitu: siwak menurut syara’ (telah disebutkan di atas) dan siwak yang mempunyai ma’na alat yang digunakan untuk bersiwak.

Hukum bersiwak

Bersiwak hukumnya adalah sunnah. Alasan disunnahkannya bersiwak dikarenakan melanggengkannya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dalam bersiwak. Dalam hadits shahih juga disebutkan: “Andai aku tidak memberatkan atas umatku, maka aku akan memerintahkan mereka dengan bersiwak setiap akan berwudlu”. Dalam riwayat lain disebutkan: “Maka aku akan memfardhukan (mewajibkan) atas mereka dengan bersiwak beserta setiap akan berwudlu”. Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Al-Humaidi dengan isnad yang bagus juga disebutkan: “Dua rakaat (shalat) dengan bersiwak itu lebih utama dari tujuh puluh rakaat tanpa bersiwak”. Hadits tersebut adalah dalil dari kesunnahan bersiwak sebelum shalat. Kesunnahan bersiwak berlaku pada setiap tingkah (entah itu tingkah berdiri, tingkah duduk), kecuali setelah zawaal (matahari condong ke arah barat/masuk waktu dzuhur) bagi orang yang berpuasa, entah itu puasa sunnah atau fardhu. Sehingga, bagi orang yang berpuasa dimakruhkan bersiwak setelah zawaal. Namun, Imam An-Nawawi memilih tidak adanya kemakruhan dalam bersiwak bagi orang yang berpuasa secara mutlak ( entah itu sebelum atau sesudah zawaal).

Kesunnahan bersiwak menjadi lebih kuat lagi ketika berada dalam situasi atau keadaan tertentu, seperti:

  • ketika mulut berubah dikarenakan azm (diam terlalu lama. Ada juga ulama yang mengatakan sebab makanan).
  • ketika bangun dari tidur.
  • Ketika akan melakukan shalat, entah itu shalat fardhu atau sunnah.
  • ketika akan membaca Al-Qur’an. Lebih tepatnya sebelum membaca ta’awwudz.
  • Ketika gigi menguning
  • ketika akan berwudlu
  • ketika akan membaca hadits
  • ketika akan mengaji
  • ketika akan dzikir
  • ketika akan hendak tidur
  • ketika akan masuk ka’bah

Pada dasarnya, hukum asal dari bersiwak memang sunnah, namun terkadang bersiwak diwajibkan, seperti:

  • ketika nadzar akan bersiwak
  • tidak bisa menghilangkan najis kecuali dengan cara bersiwak
  • orang yang bau mulut dalam sebuah jama’ah dan diketahui bahwa bau mulutnya menyakiti para jamaah.

Bahkan, bersiwak terkadang juga menjadi haram, seperti:

  • bersiwak dengan menggunakan siwak milik orang lain tanpa izin dan tidak diketahui ridho atau tidaknya pemilik dari siwak tersebut.

 

Manfaat bersiwak

Manfaat bersiwak sangatlah banyak, salah satunya adalah:

  • Membersihkan mulut
  • memutihkan gigi
  • membuat punggung menjadi tegap (lurus)
  • menguatkan gusi
  • memperlambat uban
  • memperlipat gandakan pahala
  • memudahkan sakaratul maut
  • memudahkan rizki
  • mulut wangi
  • menghilangkan segala penyakit di dalam kepala dan menghilangkan balghom (jawa: riyak).
  • Mempermudah keluarnya ruh ketika sakaratul maut

 

Cara bersiwak yang disunnahkan

  • Mengawali bersiwak dengan bagian sebelah kanan mulut sampai rata dengan cara memasukkan siwak kedalam gigi bagian atas luar dan dalam, begitu juga bagian bawah sampai pertengahan gigi.
  • Menjalankan siwak dengan lembut pada langit-langit rongga mulut
  • jari kelingking diletakkan di bawah siwak, lalu jari manis, jari tengah, jari telunjuk di atas siwak, kemudian jempol di bawah kepala siwak
  • bersiwak menggunakan tangan kanan

Doa bersiwak

Sebagian Ulama mensunnahkan untuk membaca (berdoa) dalam awal bersiwak: “Allahumma Bayyidl Bihi Asnaaniy Wa Syaddi Bihi Latsaatiy Wa Tsabbit Bihi Lahaatiy Wa Baarik Liy Fiihi Yaa Arhama Ar-Raahimiin.”

Niat bersiwak

Ketika kita akan bersiwak, kita dianjurkan untuk berniat agar mendapat kesunnahan bersiwak. Lafaldz niatnya adalah: Nawaitu Al-Istiyaak (aku niat bersiwak).

C. Penutup.

Demikianlah sedikit tentang masalah hukum dan cara bersiwak dalam islam, semoga bermanfaat. Share dengan memberikan Like, Twett atau komentar anda di bawah ini agar bermanfaat bagi teman jejaring sosial anda. Terima kasih

https://hukum-islam.net/

Hukum Melakukan Aqiqah Dalam Islam

Hukum Melakukan Aqiqah Dalam Islam

Hukum Melakukan Aqiqah Dalam Islam

A. Pendahuluan.

Sering kita lihat orang yang baru melahirkan melaksanakan aqiqah. Tapi, tahukah anda sebenarnya apa itu aqiqah? Bagaimanakah hukum melakukan aqiqah dalam Islam? dan bagaimanakah tata cara melakukan aqiqah? Berikut ini adalah keterangan-keterangan tentang hukum melakukan aqiqah dalam Islam dan  tata cara melakukan aqiqah serta permasalahan yang berhubungan tentang aqiqah.

B. Keterangan-keterangan.

Aqiqah menurut lughat (bahasa) adalah: nama untuk rambut bayi ketika baru lahir. Adapun menurut Syara’ adalah: sesuatu (hewan) yang disembelih ketika memotong rambut maulud (anak yang dilahirkan).

Dari apa yang ditampilkan para ulama bahwa menamai aqiqah dengan nama aqiqah tidaklah makruh. Namun, Imam Abu Dawud meriwayatkan sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam berkata kepada orang yang bertanya tentang masalah aqiqah: Allah tidak suka Al-Uquuq (aqiqah). Yang meriwayatkan hadits tersebut berkata: seakan-akan Allah benci nama Al-Aquuq. Imam Ibnu Abi Dam berkata: Ashhab (Ulama Syafi’iyyah) kita berkata: Disunnahkan menamakan aqiqah dengan Nasiykah atau dzabiihah. Dan dimakruhkan menamai aqiqah dengan nama aqiqah.

Hukum dari akikah adalah sunnah muakkad. Kesunnahan ini berlaku untuk orang yang berkewajiban untuk menafkahi  anaknya dengan memperkiran kefakirannya.

Apabila anaknya terlahir berkelamin laki-laki, maka aqiqahnya adalah dua kambing. Adapun bila anaknya terlahir perempuan maka aqiqahnya adalah satu kambing. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Sayyidatina ‘Aisyah, yaitu: “Rasulullah SAW memerintahkan kita untuk beraqiqah dari anak laki-laki dengan dua kambing dan dari perempuan dengan satu kambing.” [HR. At-Tirmidzi]. Beliau (At-Tirmidzi) berkata bahwa ini adalah hadits hasan lagi shahih.

Adapun umur, keselamatan (kambing tidak cacat), makan daging aqiqah (kadar kira yang diambil dari daging aqiqah) dan daging yang disedekahkan sama dengan kambing yang dijadikan daging qurban pada hari raya Idul Adha. Alasannya  adalah karena aqiqah adalah suatu kesunnahan. Maka, hal itu menyerupai dengan Udhiyyah (hukum dari berqurban adalah sunnah muakkad).

Tata cara aqiqah:

Tata caranya (sekaligus kesunnahannya) adalah:

  1. Disunnahkan menyembelih pada hari ke tujuh dari kelahiran
  2. Disunnahkan untuk dimasak dagingnya. Disunnahkan lagi untuk memasaknya dengan rasa yang manis, berharap agar yang dilahirkan manis akhlaknya.
  3. Disunnahkan tidak memecah tulang dari hewan aqiqah. Sebaiknya dipotong setiap persendian tulang (sambungan tulang). Namun, tidak mengapa memecah tulangnya, hanya saja khilaafu Al-Aulaa (tidak melakukan perkara yang lebih baik).
  4. Disunnahkan untuk mencukur rambut bayinya setelah melakukan penyembelihan aqiqah.
  5. Disunnahkan lagi memberi nama pada bayi pada hari ketujuh kelahirannya.

Orang yang berhak menerima daging aqiqah

Adapun daging aqiqah diberikan kepada orang fakir dan orang miskin. Jangan membagikan daging aqiqah dengan cara mengundang mereka seperti acara walimahan.

Referensi: (Mughni Al-Muhtaaj, cetakan Daarulkutub, Baerut, Lebanon, juz 4, halaman 338-341)

Demikianlah permasalahan-permasalahan yang berhubungan tentang hukum melakukan aqiqah dalam Islam, semoga bermanfaat. Bantu share dengan memberikan Like, Tweet atau komentar anda di bawah ini, agar menjadi referensi bagi teman jejaring sosial anda. Terima kasih.

Hukum Walimah Dalam Islam

Hukum Walimah Dalam Islam

Hukum Walimah Dalam Islam

A. Pendahuluan

Mungkin kita sudah tidak asing mendengar kata walimah. Namun, masih banyak dari kita yang belum tahu benar tentang apa itu pengertian walimah dan apa hukumnya. Mungkin dari kita banyak yang mendengar orang mengatakan bahwa hukum melakukan walimah itu sunnah tanpa mengetahui apa dasarnya. Artikel ini akan membantu anda untuk mengetahui lebih jauh lagi mengenai masalah walimah, seperti pengertian, hukum dan dalil-dalil dari walimah itu sendiri.

B. Pembahasan.

Menurut Imam Al-Azhary, walimah diambil dari kata Al- walm,yang berarti ijtima’ (berkumpul), sebab, orang-orang berkumpul untuk walimah. Pendapat Al-Azhary ini lebih luas cakupannya daripada pendapat imam Al-Mahasiy yang mengatakan walimah berarti berkumpul karena berkumpulnya suami dan istri (kedua mempelai) didalam acara walimah tersebut, sebab pendapat imam Al-Mahasyi  hanya sebatas walimatul ursy (walimah pernikahan), sedangkan walimah tidak terkhusus hanya walimatul ‘Urs saja, misalkan walimatul khitaan dan lainnya.  Adapun Ursy/Urus mempunyai makna Al- Aqdu (akad) dan juga Ad-Dukhul (masuk).

Sedangkan yang dimaksud walimah dalam walimatul ursy adalah makanan yang disediakan untuk walimatul urus itu sendiri.

Disini kami hanya akan membahas walimatu Al-‘Ursy saja (seperti pada kitab Haasiyyah Asy-Syeikh Ibraahiim Al-Baijury), karena kesunnahannya lebih kukuh daripada walimah-walimah yang lainnya. Berikut penjelasan tentang masalah yang berkaitan dengan walimatul urus:

Hukum walimatul ursy

Hukum melaksanakan walimatul urus adalah sunnah muakkad, dikarenakan adanya ketetapan melaksanakan walimatul ursi dari baginda nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dengan perkataan dan perbuatan. Didalam Shahih Bukhari disebutkan: “Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam melaksanakan walimah atas sebagian istri-istri beliau. Mereka ialah ummi Salamah (Nama beliau adalah Hindun) dengan dua mud sya’ir…….” Beliau (nabi) berkata kepada Abdurrahmaan Bin Auf dan saat itu ia (Abdurrahman) sedang menikah: “Laksanakanlah walimah (ursi) walaupun hanya dengan satu ekor kambing.” Perintah nabi tersebut adalah perintah sunnah karena diqiyaskan pada masalah bab udhiyyah dan walimah-walimah yang lain.

Sedikit-sedikitnya walimah agar sempurna bagi orang kaya adalah satu ekor kambing. Apabila lebih sedikit dari satu ekor kambing tetap mendapatkan kesunnahan walimah, namun hal itu kurang sempurna. Sedangkan bagi orang miskin ialah semampunya. Dengan makanan dan minuman apapun, walimah tetap diperbolehkan.

Hukum menghadiri walimah

Hukum menghadiri walimatul urus adalah wajib (fardhu ‘Ain). Ada pendapat yang mengatakan bahwa menghadiri walimatul ursi adalah Fardhu Kifayah. Sedangkan menghadiri walimah selain walimatul ursi adalah sunnah berdasarkan hasdits Ash-Shahihain (hadits dari Bukhari dan Muslim): “Ketika salah satu dari kalian diundang untuk walimah, maka datangilah”. Yang perlu diketahui adalah: Walimah ketika diucapkan (tanpa adanya embel-embel seperti walimatul khitan dan sebagainya) maksudnya adalah walimatul ursi.

Kewajiban menghadiri walimah secara syar’i ini apabila syarat di bawah ini sudah terpenuhi, yaitu:

  • Orang yang mengundang tidak mengkhususkan undangan hanya untuk orang kaya dan mengundangnya karena kekayaannya,  namun turut juga mengundang fakir miskin. Tidak mengapa mengkhususkan undangan untuk orang kaya, asal niatnya tidak karena kekayaan mereka, namun karena mereka adalah sahabat, atau karena tetangga orang yang punya hajat walimah semuanya orang kaya. Yang tidak diperbolehkan adalah menkhususkan undangan kepada orang kaya karena kekayaannya.
  • Mengundang para undangan pada hari pertama walimah (seperti orang yang punya hajat mengadakan walimah lebih dari satu kali). Adapun hari yang kedua hukumnya menjadi sunnah dan hari ke tiga dan seterusnya hukumnya makruh. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daawud dan yang lainnya: “Walimah di hari yang pertama adalah haq dan di hari kedua diketahui dan di hari ke tiga riya’ dan sum’ah”.
  • Adanya Udzur atau halangan, seperti: “Di tempat walimah ada orang yang menyakitinya bila bertemu dikarenakan adanya permusuhan.

Macam-macam walimah

Macam-macam walimah sangat banyak. Sebagian Ulama menyebutkannya dalam bentuk Nadzom dan macam-macam walimah di bawah ini kami ambil dari nadzom tersebut. Berikut macam-macam walimah tersebut:

  1. Walimah Al-Khurs: Ketika nifas
  2. walimah aqiqah
  3. walimah Al-I’dzar: ketika khitan
  4. walimah dikarenakan hafal Al-Qur’an dan adab
  5. Walimah Al-Hidzaaq: Untuk kecerdikan dan menjelaskan Al-Qur’an
  6. Walimah Miilak: Untuk akad nikah
  7. Walimatul ursi: Resepsi pernikahan
  8. Walimah Ma’dubah: Walimah tanpa sebab yang diketahui
  9. Walimah wakiirah: Untuk bangunan rumah yang ditempati
  10. Walimah naqiiah: Untuk orang yang datang dari bepergian jauh
  11. Walimah wadhiimah: Untuk orang yang mendapatkan musibah dan jamuannya dari tetangganya.

(Semua referensi: Haasiyyah Asy-Syeikh Ibraahiim Al-Baijury, cetakan Daarulkutub, juz 2, halaman 232-235)

C. Penutup.

Demikianlah sedikit ulasan tentang masalah hukum walimah dalam islam, semoga bermanfaat. Share dengan memberikan Like, Tweet atau komentar anda di bawah ini, agar menjadi referensi bagi teman jejaring sosial anda. Terima kasih.

https://hukum-islam.net

Dakwah Kepada Syahadat Laa’ilaha IllAlloh

Dakwah Kepada Syahadat Laa’ilaha IllAlloh

BAB 5

DAKWAH KEPADA SYAHADAT  “LA ILAHA ILLAlloh”

 

Firman Alloh Subhanahu wa Subhanahu wa Ta’ala :

]قل هذه سبيلي أدعو إلى الله  على بصيرة أنا ومن اتبعني وسبحان الله وما أنا من المشركين[

“Katakanlah : ”inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku, aku berdakwah kepada Alloh dengan hujjah yang nyata, maha suci Alloh, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik”. (QS. Yusuf, 108)

Ibnu Abbas RadhiAllohu’anhu berkata : ketika Rasululloh ShallAllohu’alaihi wa Sallam mengutus Muadz bin Jabal ke Yaman beliau bersabda kepadanya :

“إنك تأتي قوما من أهل الكتاب، فليكن أول ما تدعوهم إليه شهادة أن لا إله إلا الله – وفي رواية : إلى أن يوحدوا الله -، فإن هم أطاعوك لذلك فأعلمهم أن الله افترض عليهم خمس صلوات في كل يوم وليلة، فإن هم أطاعوك لذلك فأعلمهم أن الله افترض عليهم صدقة تؤخذ من أغنيائهم فترد على فقرائهم، فإن هم أطاعوك لذلك فإياك وكرائم أموالهم، واتق دعوة المظلوم فإنه ليس بينها وبين الله حجاب”

“Sungguh kamu akan mendatangi orang-orang ahli kitab (Yahudi dan Nasrani), maka hendaklah pertama kali yang harus kamu sampaikan kepada mereka adalah syahadat La Ilaha IllAlloh – dalam riwayat yang lain disebutkan “supaya mereka mentauhidkan Alloh”-, jika mereka mematuhi apa yang kamu dakwahkan, maka sampaikan kepada mereka bahwa Alloh telah mewajibkan kepada mereka sholat lima waktu dalam sehari semalam, jika mereka telah mematuhi apa yang telah kamu sampaikan, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Alloh telah mewajibkan kepada mereka zakat, yang diambil dari orang-orang kaya diantara mereka dan diberikan pada orang-orang yang fakir. Dan jika mereka telah mematuhi apa yang kamu sampaikan, maka jauhkanlah dirimu dari harta pilihan mereka, dan takutlah kamu dari doanya orang-orang yang teraniaya, karena sesungguhnya tidak ada tabir penghalang antara doanya  dan Alloh” (HR. Bukhori dan Muslim).

Dalam hadits yang lain, Imam Bukhori dan Muslim meriwayatkan dari Sahl bin Sa’d, bahwa Rasululloh ShallAllohu’alaihi wa Sallam disaat perang khaibar bersabda :

“لأعطين الراية غدا رجلا يحب الله ورسوله، ويحبه الله ورسوله، يفتح الله على يديه”، فبات الناس يدوكون ليلتهم أيهم يعطاها، فلما أصبحوا غدوا على رسول الله  كلهم يرجون أن يعطاها، فقال : ” أين علي بن أبي طالب ؟، فقيل : هو يشتكي عينيه، فأرسلوا إليه فأتي به، فبصق في عينيه ودعا له، فبرأ كأن لم يكن به وجع، فأعطاه الراية، فقال :” انفذ على رسلك حتى تنـزل بساحتهم، ثم ادعهم إلى الإسلام، وأخبرهم بما يجب عليهم من حق الله تعالى فيه، فوالله لأن يهدي الله بك رجلا واحدا خير لك من حمر النعم”، يدوكون أي يخوضون “.

“Sungguh akan aku serahkan bendera (komando perang) ini besok pagi kepada orang yang mencintai Alloh dan RasulNya, dan dia dicintai oleh Alloh dan RasulNya, Alloh akan memberikan kemenangan dengan sebab kedua tangannya”, maka semalam suntuk  para sahabat memperbincangkan siapakah diantara mereka yang akan diserahi bendera itu, di pagi harinya mereka mendatangi Rasululloh,. masing-masing berharap agar ia yang diserahi bendera tersebut, maka saat itu Rasul bertanya : “di mana Ali bin Abi Tholib ?, mereka menjawab : dia sedang sakit pada kedua matanya, kemudian mereka mengutus orang untuk memanggilnya, dan datanglah ia, kemudian Rasul meludahi kedua matanya, seketika itu dia sembuh seperti tidak pernah terkena penyakit, kemudian Rasul menyerahkan bendera itu kepadanya dan bersabda : “melangkahlah engkau kedepan dengan tenang hingga engkau sampai ditempat mereka, kemudian ajaklah mereka kepada Islam ([1]), dan sampaikanlah kepada mereka akan hak-hak Alloh dalam Islam, maka demi Alloh, sungguh Alloh memberi hidayah kepada seseorang dengan sebab kamu itu lebih baik dari onta-onta yang merah” ([2]).

 

 

 

Kandungan bab ini :

  1. Dakwah kepada “ La Ilaha IllAlloh” adalah jalannya orang-orang yang setia mengikuti Rasululloh.
  2. Peringatan akan pentingnya ikhlas [dalam berdakwah semata mata karena Alloh], sebab kebanyakan orang kalau mengajak  kepada kebenaran, justru mereka mengajak kepada [kepentingan] dirinya sendiri.
  3. Mengerti betul akan apa yang didakwahkan adalah termasuk kewajiban.
  4. Termasuk bukti kebaikan tauhid, bahwa tauhid itu mengagungkan Alloh.
  5. Bukti kejelekan syirik, bahwa syirik itu merendahkan Alloh.
  6. Termasuk hal yang sangat penting adalah menjauhkan orang Islam dari lingkungan orang-orang musyrik, agar tidak menjadi seperti mereka, walaupun dia belum melakukan perbuatan syirik.
  7. Tauhid adalah kewajiban pertama.
  8. Tauhid adalah yang harus didakwahkan pertama kali sebelum mendakwahkan kewajiban yang lain termasuk sholat.
  9. Pengertian “supaya mereka mentauhidkan Alloh” adalah pengertian syahadat.
  10. Seseorang terkadang termasuk ahli kitab, tapi ia tidak tahu pengertian syahadat yang sebenarnya, atau ia memahami namun tidak mengamalkannya.
  11. Peringatan akan pentingnya sistem pengajaran dengan bertahap.
  12. Yaitu dengan diawali dari hal yang sangat penting kemudian yang penting dan begitu seterusnya.
  13. Salah satu sasaran pembagian zakat adalah orang fakir.
  14. Kewajiban orang yang berilmu adalah menjelaskan tentang sesuatu yang masih diragukan oleh orang yang belajar.
  15. Dilarang mengambil harta yang terbaik dalam penarikan zakat.
  16. Menjaga diri dari berbuat dzolim terhadap seseorang.
  17. Pemberitahuan bahwa do’a orang yang teraniaya itu dikabulkan.
  18. Diantara bukti tauhid adalah ujian yang dialami oleh Rasululloh ShallAllohu’alaihi wa Sallam dan para sahabat, seperti kesulitan, kelaparan maupun wabah penyakit.
  19. Sabda Rasululloh ShallAllohu’alaihi wa Sallam : “Demi Alloh akan aku serahkan bendera …” adalah salah satu dari tanda-tanda kenabian beliau.
  20. Kesembuhan kedua mata Ali, setelah diludahi Rasululloh adalah salah satu dari tanda-tanda kenabian beliau.
  21. Keutamaan sahabat Ali bin Abi Tholib.
  22. Keutamaan para sahabat Rasul, [karena hasrat mereka yang besar sekali dalam kebaikan dan sikap mereka yang senantiasa berlomba-lomba dalam mengerjakan amal sholeh] ini dapat dilihat dari perbincangan mereka dimalam [menjelang perang Khaibar, tentang siapakah diantara mereka yang akan diserahi bendera komando perang, masing-masing mereka menginginkan agar dirinyalah yang menjadi orang yang memperoleh kehormatan itu].
  23. Kewajiban mengimani takdir Alloh, karena bendera tidak diserahkan kepada orang yang sudah berusaha, malah diserahkan kepada orang yang tidak berusaha untuk memperolehnya.
  24. Adab di dalam berjihad, sebagaimana yang terkandung dalam sabda Rasul : “berangkatlah engkau dengan tenang”.
  25. Disyariatkan untuk mendakwahi musuh sebelum memeranginya.
  26. Syariat ini berlaku pula terhadap mereka yang sudah pernah didakwahi dan diperangi sebelumnya.
  27. Dakwah harus dilaksanakan dengan bijaksana, sebagaimana yang diisyaratkan dalam sabda Nabi : “ … dan sampaikanlah kepada mereka tentang hak-hak Alloh dalam Islam yang harus dilakukan”.
  28. Wajib mengenal hak-hak Alloh dalam Islam [3].
  29. Kemuliaan dakwah, dan besarnya pahala bagi orang yang bisa memasukkan seorang saja kedalam Islam.
  30. Diperbolehkan bersumpah dalam menyampaikan petunjuk.

 

([1])   Ajaklah mereka kepada Islam, yaitu kepada pengertian yang sebenarnya dari kedua kalimat syahadat, yaitu : berserah diri kepada Alloh, lahir dan batin, dengan mentaati segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya, yang disampaikan melalui RasulNya.

([2])   Onta-onta merah adalah harta kekayaan yang sangat berharga dan menjadi kebanggaan orang arab pada masa itu.

([3])   Hak Alloh dalam Islam yang wajib dilaksanakan ialah seperti sholat, zakat, puasa, haji dan kewajiban kewajiban lainnya.