Select Page
Hakikat Kemuliaan di Sisi Allah

Hakikat Kemuliaan di Sisi Allah

Tidak perlu bangga karena kita keturunan bangsawan, berdarah biru, keturunan orang sholih, mempunyai jabatan tinggi. Karena semua ini tidak otomatis membuat seorang mulia di sisi Allah, tanpa takwa dan amal sholih.

Ingat… Ketika Iblis mendapat perintah untuk sujud kepada Adam. Dia menolak serambi beralasan: aku lebih mulia dari Adam. Katanya Adam tercipta dari tanah, sementara dia tercipta dari api. Buat apa saya sujud kepadanya, sementara saya tercipta dari zat yang lebih mulia.

أَأَسْجُدُ لِمَنْ خَلَقْتَ طِينًا

“Iblis berkata, “Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?” (QS. Al-Isra: 61)

قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ ۖ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

Iblis berkata: “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. Shod: 76)

Akan tetapi.. apakah alasan Iblis ini kemudian mengangkat kedudukannya di sisi Allah? Sebagaimana apa yang dia sangkakan?! Ia tercipta dari api; bahan yang lebih mulia dari tanah?! Apakah alasan ini kemudian membuatnya lebih mulia di sisi Allah?! hanya karena beralasan, saya berasal dari api; zat yang lebih mulia?!

Ternyata tidak…

Justru karena alasan itu membuatnya menjadi makhluk yang paling hina. Meski ia tercipta dari zat yang lebih mulia dari penciptaan Adam. Karena tidak adanya kepatuhan kepada Allah ‘azza wa jalla Sang Penciptanya. Maka tidak berguna di hadapan Allah, bila tidak ada takwa.

Kita lihat Malaikat…

Karena sebab apa mereka menjadi makhluk yang mulia? Karena kepatuhan mereka kepada Allah dan amalan mereka yang senantiasa sejalan dengan ridho Allah; mereka tidak pernah melanggar larangan Allah. Disebabkan inilah mereka menjadi makhluk yang mulia di sisi-Nya.

Allah berfirman tentang Malaikat,

لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Para malaikat itu tidak pernah mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)

***

27 Rabi’us Tsani 1436 H

Penulis: Ustadz Ahmad Anshori

Sumber

Shalat Sunnah Dua Raka’at di Malam Pertama Pengantin Baru

Shalat Sunnah Dua Raka’at di Malam Pertama Pengantin Baru

Bagi Anda yang akan menikah atau sebentar lagi akan menikah. Pernikahan adalah babak baru dari kehidupan, awal dari kebahagiaan dan kebersamaan. Hendaknya dua insan yang telah terikat dalam suatu janji pernikahan, mengawali bahtera hidupnya dengan kebaikan untuk memperoleh kebahagiaan yang hakiki. Kebahagiaan yang hakiki adalah semuanya didasarkan karena cinta kepada Allah hanya mengharapkan wajah-Nya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika pada suatu hari kamu menikah, maka hendaklah pertama kali yang harus ditegakkan bersama adalah taat kepada Allah.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir VII:209/1-2 dari Salman dan dari Ibnu ‘Abbas).

Salah satunya adalah shalat sunnah dua raka’at di malam pertama pengantin baru

Bagaimanakah hukumnya?

Syaikh Al Albani mengatakan dianjurkan bagi keduanya (suami isteri) agar melaksanakan shalat dua raka’at bersama, karena hal ini pernah dinukil dari salaf. Terdapat dua atsar yaitu:

Pertama, Dari Abu Sa’aid mantan budak Abu Usaid, beliau mengatakan,

Aku menikah dalam keadaan aku masih seorang budak, maka aku mengundang di hari pernikahanku sejumlah para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diantaranya ada Ibnu Mas’ud, Abu Dzar dan Hudzaifah. Abu Sa’id berkata: para sahabat radhiyallahu ‘anhum memberitahukanku dan mereka berkata,

إذا أدخل عليك أهلك فصل عليك ركعتين ، ثم سل الله تعالى من خير ما دخل عليك ، وتعوذ به من شره ، ثم شأنك وشأن أهلك

Jika kamu masuk menemui istrimu maka shalatlah dua raka’at, kemudian mohonlah kepada Allah kebaikan yang dimasukkan kepadamu, berlindunglah kepada Allah dari keburukannya, kemudian setelah itu terserah urusanmu dan istrimu.” (HR. Ibnu Abu Syuaibah dalam Al Mushannaf, 3/401. Dan ‘Abdurrazaq dalam Al-Mushannaf, 6/191. Syaikh Al Albani rahimahullahu berkomentar sanadnya shahih hingga Abu Sa’id dan beliau tertutupi periwayatannya).

Kedua, dari Syaqiq ia menceritakan, ada seorang laki-laki mendatangi ‘Abdullah bin Mas’ud, namanya Abu Jarir, ia mengadukan, ‘Aku menikahi seorang gadis belia yang masih perawan, aku takut pada akhirnya ia akan membenciku.’ Kemudian ‘Abdullah memberi nasehat,

إن الإلف من الله ، والفرك من الشيطان ، يريد أن يكره إليكم ما أحل الله لكم ، فإذا أتتك فمرها أن تصلي وراءك ركعتين

Sesungguhnya keharmonisan itu datangnya dari Allah dan benci itu datangnya dari setan. Setan ingin membuat kalian benci apa yang Allah halalkan bagi kalian. Karena itu, jika istrimu mendatangimu maka perintahkanlah ia agar shalat dua raka’at di belakangmu.” (Adab Az Zifaaf, hal 94-98).

يروى في ذلك بعض الآثار عن بعض الصحابة صلاة ركعتين قبل الدخول ولكن ليس فيها خبر يعتمد عليه من جهة الصحة، فإذا صلى ركعتين كما فعل بعض السلف فلا بأس وإن لم يفعل فلا بأس، والأمر في هذا واسع، ولا أعلم في هذا سنةً صحيحة يعتمد عليها.

Syaikh bin Baz rahimahullahu pun pernah ditanya mengenai perkara ini. Syaikh bin Baz rahimahullahu berpendapat, shalat sunnah dua raka’at sebelum melakukan hubungan badan pernah diriwayatkan oleh sebagian atsar dari sebagian sahabat akan tetapi tidak ada khabar (hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) yang bisa dipertanggung jawabkan keshahihannya. Apabila seseorang melaksanakan shalat dua raka’at sebagaimana yang telah dilakukan oleh sebagian ulama salaf maka tidaklah mengapa, dan tidak melakukannya pun juga tidak mengapa. Perkara ini longgar dan saya tidak mengetahui ada riwayat yang benar. (sumber: http://www.binbaz.org.sa/mat/15590)

Bagaimana Wanita yang Sedang Haid di Malam Pertama Pengantin Baru?

Selama istri sedang haid maka tidak diperbolehkan baginya untuk shalat ataupun berpuasa, dan apabila ia telah suci maka ia wajib mengqodho puasa yang wajib dan tidak wajib mengqodho shalat. Tidaklah mengapa jika suaminya mencumbui istrinya tanpa melakukan hubungan badan (jima’). Karena jima’ tidak boleh dilakukan ketika sedang haid. Akan tetapi ia boleh mencumbui istrinya dari selain kemaluannya dengan syarat ia mampu menahan dirinya dan ia tidak boleh berjima’ ketika sedang haid karena hal itu diharamkan oleh Allah. Jadi kami menasihati anda agar tidak berhubungan badan hingga istri suci dari haidnya.

Tidak diwajibkan suami istri di malam pengantin baru melaksanakan shalat sunnah dua raka’at akan tetapi dianjurkan. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani, Ibnu Abu Syuhaibah dari Ibnu Mas’ud. Jika seorang istri sedang haid, maka disyariatkan bagi suami agar shalat dua raka’at. Dan jika seorang istri dalam keadaan suci maka ia shalat bersama suaminya kemudian sang suami memberikan nasihat kepada istrinya dan berdoa dengan doa yang terkenal,

اَللَّهُمَّ إِنِي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ

Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan yang Engkau berikan kepadanya, dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan yang engkau berikan kepadanya.” (HR. Abu Daud, hasan). (Sumber: http://fatwa.islamweb.net)

Semoga bermanfaat.

Wallahu a’lam

——

Penyusun: Anita Rahmawati

Pemuraja’ah: Ustadz Ammi Nur Baits

Maraji’:

  • Adabuz Zifaaf Fis Sunnati wal Muthahharati (pdf), Syaikh Nashiruddin Al Albani, hal 94-98 penerbit Al-Maktabah Al-Islamiyah.
  • http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=29694
  • http://www.binbaz.org.sa/mat/15590
  • http://www.ajurry.com/vb/showthread.php?t=10112
  • http://islamhouse.com/ar/fatwa/417412/
  • http://islamqa.info/ar/147020

Baca selengkapnya https://muslimah.or.id/7037-shalat-sunnah-dua-rakaat-di-malam-pertama-pengantin-baru.html

Lebih Besar dari Dosa Riba

Lebih Besar dari Dosa Riba

Tahukah anda seberapa besar dosa riba?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

دِرْهَمُ رِبًا يَأْكُلُهُ الرَّجُلُ وَهُوَ يَعْلَمُ أَشَدُّ مِنْ سِتَّةِ وَثَلاَثِيْنَ زَنْيَةً

“Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari transaksi riba sedangkan dia mengetahui, lebih besar dosanya daripada melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali.” (HR. Ahmad dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Syaikh Al-Albani dalam Misykatul Mashabih mengatakan bahwa hadits ini sahih).

Subhanallah, ternyata dosa riba lebih berat dari dosa zina 36 kali lipat. Padahal dosa zina besar di sisi Allah ta’ala.

Banyak diantara kita yang lari dari riba. Ini adalah kebaikan dan menunjukkan ketakwaan hati dan keimanan. Namun terkadang masih jatuh kepada dosa yang lebih berat dari riba..

Tahukah anda apa yang lebih berat dari riba ?

Dari Al-Bara bin Azib, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الرِّبَا اثنان وسبعون بابًا، أدناها مثل إتيان الرجل أمَّه، وإن أرْبَى الربا استطالة الرجل في عرض أخيه

“Riba memiliki tujuh puluh dua pintu, yang paling rendah seperti menzinahi ibu kandungnya. Dan sesungguhnya riba yang paling riba adalah merusak kehormatan saudaranya.” (HR.  Ath-Thabrani. Lihat silsilah shahihah no. 1871).

Perhatikanlah ini saudaraku… Berapa banyak orang yang asyik membicarakan aib saudaranya baik di majelis ataupun di media-media sosial. Ini adalah musibah yang menimpa agama seseorang. Karena perbuatan tersebut merusak amalnya, bahkan mencukur agamanya. Karena perbuatan tersebut merusak hubungannya dengan sesama muslim.

Nabi shallallhu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلَ مِنْ دَرَجَةِ الصِّيَامِ وَالصَّلاَةِ وَالصَّدَقَةِ؟ قَالُوا : بَلَى، قَالَ : صَلاَحُ ذَاتِ الْبَيْنِ فَإِنَّ فَسَادَ ذَاتِ الْبَيْنِ هِيَ الْحَالِقَةُ

“Maukah aku kabarkan kepada kalian yang lebih baik daripada derajat puasa, salat, dan sedekah?”. Mereka berkata, “Tentu”. Baiknya hubungan di antara sesama, karena rusaknya hubungan di antara sesama mengikis habis (agama)”. ( HR. At-Tirmidzi no. 2509, dan dinilai sahihkan oleh At-Tirmidzi) dan ada tambahannya:

هِيَ الْحَالِقَةُ لاَ أَقُوْلُ تَحْلِقُ الشَّعْرَ وَلَكِنْ تَحْلِقُ الدِّيْنَ

“Rusaknya hubungan di antara sesama adalah mengikis, dan tidaklah aku berkata mengikis habis rambut, akan tetapi mengikis habis agama”.

Baca juga:

Ingatlah saudaraku, kehormatan seorang muslim mulia di sisi Allah. Jangan sampai kita bangkrut di hari kiamat akibat lisan yang tak dijaga.

Penulis: Ustadz Abu Yahya Badrusalam

Sumber

Al Wahn & Ad Dukhan dari Realitas Umat Islam

Al Wahn & Ad Dukhan dari Realitas Umat Islam

Pada kenyataannya, ada dua hal yang membuat umat Islam kehilangan keseimbangan, sehingga berjalan limbung ke kanan dan ke kiri, sampai ada sekelompok darinya keluar dari jalan induk (lurus).

Pertama : Al Wahn

Keadaan ini telah diisyaratkan dan dijelaskan dengan sangat tegas dan tidak ada kebimbangan, sangat jelas dan tidak ada kesamaran padanya, sangat gamblang, dalam hadits Tsauban -radhiyallaahu ‘anhu-, maula Rasulullaah Shallallaahu’alaihi wa Sallam, beliau berkata: telah bersabda Rasulullaah Shallallaahu’alaihi wa Sallam:

” يوشك الأمم أن تداعى عليكم كما تداعى الأكلة إلى قصعتها ” ، فقال قائل : ومن قلة نحن يومئذ ؟ قال : ” بل أنتم يومئذ كثير ، ولكنكم غثاء كغثاء السيل ، ولينزعن الله من صدور عدوكم المهابة منكم وليقذفن في قلوبكم الوهن ” ، فقال قائل : يا رسول الله وما الوهن ؟ قال : ” حب الدنيا ، وكراهية الموت ”

Artinya: “Nyaris sudah para umat (selain Islam) berkumpul (bersekongkol) menghadapi kalian sebagaimana berkumpulnya orang-orang yang makan menghadapi bejana makanannya.” Lalu bertanya seseorang, “Apakah kami pada saat itu sedikit?” Beliau menjawab, “Tidak, bahkan kalian pada saat itu banyak, akan tetapi kalian itu buih seperti buih banjir, dan Allah akan menghilangkan dari diri musuh-musuh kalian rasa takut terhadap kalian dan menimpakan ke dalam hati-hati kalian wahn (kelemahan).” Maka seseorang bertanya, “Wahai Rasulullaah, apakah wahn itu?”. Kata beliau, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR Abu Daud no. 4297, shohih li ghairihi).

Kedua : Keadaan Ad Dakhan

Hal ini didapatkan melalui petunjuk kenabian yang terdapat dalam hadits Hudzaifah bin Al Yaman -radhiyallaahu ‘anhu-, beliau berkata.

كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ ، وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي ، فَقُلْتُ : ” يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ ، فَجَاءَنَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهَذَا الْخَيْرِ ، فَهَلْ بَعْدَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ ؟ ، قَالَ : نَعَمْ . قُلْتُ : فَهَلْ بَعْدَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ ؟ قَالَ : نَعَمْ ، وَفِيهِ دَخَنٌ . قُلْتُ : وَمَا دَخَنُهُ ؟ قَالَ : قَوْمٌ تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ . قُلْتُ : فَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ ؟ قَالَ : نَعَمْ ، دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا . قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، فَمَا تَأْمُرُنِي إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ ؟ قَالَ : تَلْزَمَ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ ، قُلْتُ : فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلا إِمَامٌ ؟ قَالَ : فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعُضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ كَذَلِكَ ، قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، صِفْهُمْ لَنَا ، قَالَ : هُمْ قَوْمٌ مِنْ جِلْدَتِنَا ، وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا ”

Artinya: “Orang-orang bertanya kepada Rasulullaah Shallallaahu’alaihi wa Sallam tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan, karena takut jangan-jangan menimpaku. Maka aku bertanya, “Wahai Rasulullaah, kami dahulu berada di zaman jahiliyah dan keburukan, lalu Allah memberikan kami kebaikan ini, apakah setelah kebaikan ini ada keburukan?”. Beliau menjawab, “Ya.” Aku bertanya, “Dan apakah setelah keburukan itu ada kebaikan?”. Beliau menjawab, “Ya, dan ada padanya kabut (dakhan)!”. Aku bertanya lagi, “Apakah kabut (dakhan) tersebut?”. Beliau menjawab, “Satu kaum yang mengikuti teladan selain sunnahku, dan mengambil petunjuk selain petunjukku, kamu menganggap baik mereka dan kamu pun mengingkarinya.” Aku bertanya lagi, “Apakah setelah kebaikan itu ada keburukan lagi?”. Beliau menjawab, “Ya, para dai yang mengajak ke pintu-pintu neraka (jahannam)! Barangsiapa yang menerima ajakan mereka, niscaya mereka menjerumuskan ke dalam neraka.” Aku bertanya lagi, “Wahai Rasulullaah, berilah tahu kami sifat-sifat mereka?”. Beliau menjawab, “Mereka dari kaum kita dan berbicara dengan bahasa kita.” Aku bertanya lagi, “Wahai Rasulullaah, apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menemuinya?”.Beliau menjawab, “Berpegang teguhlah pada jama’ah kaum muslimin dan imamnya.” Aku bertanya lagi, “Bagaimana jika tidak ada jama’ah maupun imam?”. Beliau menjawab, “Hindarilah semua kelompok-kelompok itu, walaupun dengan menggigit pokok pohon, hingga kematian menjemputmu dalam keadaan seperti itu.” (HR Bukhori dan Muslim).

Beraneka ragam ibarat (keterangan) para pensyarah hadits ini seputar pengertian ad Dakhan, akan tetapi bertemu pada satu hasil yang sama.

Berkata al Baghawy -rahimahullaahu- dalam Syarhus Sunnah (15/15): “Dan sabdanya (و فيه دخن) bermakna kebaikan tersebut tidak murni bahkan telah ada padanya kekeruhan dan kegelapan, dan asal kata dakhon adalah kekeruhan yang menuju warna gelap yang ada pada warna binatang tunggangan.

Aladzim Abaady -rahimahullaahu- telah menukilkan dalam Aunul Ma’bud (11/316) perkataan dari Al Qaary, “Dan asal kata ‘Dukhan’ adalah kekeruhan dan warna yang kehitam-hitaman, maka ada padanya satu penunjukan bahwa kebaikan telah terkeruhkan oleh kerusakan.”

Dan kerusakan dan kekeruhan tersebut diantaranya disebabkan oleh banyaknya bid’ah yang merusak dan mengaburkan ajaran Nabi yang murni, sehingga timbullah berbagai macam pencemaran syari’at, serta tipu daya dan muslihat kaum kafir yang merongrong generasi kaum muslimin dan berusaha merusaknya dari dalam dan dari luar.

Diringkas dari buku “Mengapa Memilih Manhaj Salaf?” terjemahan karya Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied al Hilaly. 2002. Pustaka Imam Bukhari, Solo.

Sumber

Putus Asa yang Dibolehkan

Putus Asa yang Dibolehkan

Bismillah. Washsholatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.

Sebagai seorang muslim, kita tentu memahami bahwa berputus asa merupakan hal yang tercela dalam agama Islam yang mulia ini. Bahkan berputus asa dari rahmat Allah Ar Rahman merupakan salah satu tanda kebinasaan. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al Qur’an, mengisahkan perkataan Nabi Ya’qub ‘alaihissalam kepada putra-putranya,

يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

Artinya: “Wahai anak-anakku, pergilah kalian dan carilah berita mengenai Yusuf dan saudaranya, dan janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya tidaklah ada yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali orang-orang kafir.” (QS. Yusuf: 87)

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu memasukkan berputus asa dari rahmat Allah sebagai salah satu dosa besar yang letaknya di hati. Setelah membawakan ayat di atas sebagai dalil, beliau menambahkan dengan riwayat dari Abdullah ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma secara marfu’ (yang artinya), Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya,

“’Apa sajakah yang termasuk dosa-dosa besar?’. Beliau menjawab, ‘Mempersekutukan Allah, merasa aman dari makar Allah, dan berputus asa dari rahmat Allah.’” [1]

Islam senantiasa mengajarkan optimisme dalam segala hal yang bermanfaat, baik bagi dunia maupun akhirat pemeluknya. Hal ini tercermin dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

احْرِصْ عَلَى مَايَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجَزْ

Artinya: “Bersemangatlah dalam apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah merasa lemah.” (HR. Muslim).

Namun tahukah kita, ada jenis putus asa yang dibolehkan?

Itu adalah berputus asa dari mengharap apa yang ada di tangan manusia. Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al Badr hafizhohullahu menjelaskan,

مَن كان يائسًا ممَّا في أيدي النَّاس عاش حياتَه مهيبًا عزيزًا، ومَن كان قلبه معلَّقًا بما في أيديهم عاش ‎حياته مهينًا ذليلًا، ومَن كان قلبه معلَّقًا بالله لا يرجو إلَّا الله، ولا يطلب حاجته إلَّا من الله، ولا ‎يتوكَّل إلَّا على الله كفاه اللهُ في دنياه وأخراه، والله – جلَّ وعلا – يقول: {أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ} [الزمر: ‎‎36]، ويقول – جلَّ وعلا -: {وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ} [الطلاق: 3] ، والتَّوفيق بيد الله وحده لا ‎شريك له.‎

Artinya: “Barangsiapa yang berputus asa (tidak mengharapkan) apa yang ada di tangan manusia, maka ia akan menjalani hidupnya dengan penuh wibawa dan mulia. Dan barangsiapa yang hatinya bergantung kepada apa yang ada di tangan orang lain, maka ia akan hidup dengan kehinaan dan kerendahan. Dan barangsiapa yang hatinya bergantung kepada Allah, ia tidaklah mengharap kecuali kepada Allah, tidak meminta kebutuhannya kecuali kepada Allah, tidak bertawakkal kecuali kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya kebutuhan kehidupan dunia dan akhiratnya. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,

أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَه

‘Bukankah Allah cukup bagi hambaNya?’ (QS Az Zumar: 36).

Dan Dia Jalla wa ‘Ala berfirman,

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, Ia akan mencukupinya. (QS. Ath Tholaq: 3).

Dan taufik itu ada di tangan Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya.” [2]

Hal ini pula yang diisyaratkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Sa’d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, ketika seorang lelaki datang dan meminta Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mewasiatinya,

عَلَيْكَ بِالْيَأْسِ مِمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ

Artinya: Hendaknya engkau berputus asa dari apa yang ada di tangan manusia.” (HR. Al Hakim dan Al Baihaqi. Syaikh Al Albani menyatakan, “Hasan lighoirihi.”). [3]

Namun, hal ini bukan berarti kita tidak diperbolehkan menuntut hak kita. Semisal gaji setelah bekerja, atau piutang yang belum dibayarkan, atau harta kita yang diambil dengan cara tidak halal (seperti penipuan atau pencurian). Yang dimaksud dalam hadist ini adalah bergantungnya hati pada harta-harta tersebut, seakan-akan rizki kita terbatas padanya. Sehingga jika tidak segera mendapatkannya, hati dan pikiran kita terus dihantui perasaan resah dan kesal, bahkan tidak jarang berujung pada stres dan gangguan kejiwaan, atau penumpahan darah, sebagaimana yang marak kita jumpai di masyarakat kita akhir-akhir ini. Semoga Allah Ta’ala menjaga kita semua darinya.

 

Wabillahittaufiiq.

———————————————-

Penulis: Ummu Qonita Ika Kartika

Muraja’ah: Ustadz Ammi Nur Baits

Maroji’:

[1] Al Kaba’ir. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Muhaqqiq: Isma’il Al Anshory. (e-book version via www.waqfeya.net)

[2] www.al-badr.net

[3] Shohih Targhib wa Tarhib. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani. Maktabah Ma’arif Riyadh. Cet.I 1412 H. (e-book version)

Sumber

Hisab Atas Amalan di Dalam Hati Kita

Hisab Atas Amalan di Dalam Hati Kita

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Ulama sepakat, bahwa iman terdiri dari 3 unsur: keyakinan dalam hati, ikrar di lisan, dan amalan anggota badan. Karena itu, ketiga hal ini adalah posisi keberadaan amalan manusia: hati, lisan, dan anggota badan. Konsekuensinya, ketiganya yang akan dihisab di hari kiamat.

Hisab Bagi Amalan Hati

Kita fokuskan pembahasan pada bagian ini. Mengingat amal lisan dan anggota badan, selama dilakukan dengan sengaja, kita sepakat akan dihisab. Sehingga tidak kita singgung. Allah berfirman di ayat ketiga terakhir surat al-Baqarah,

لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللَّهُ فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Artinya: “Hanya milik Allah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. dan jika kamu menampakkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehandaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (al-Baqarah: 284)

Ayat ini salah satu diantara dalil yang menunjukkan bahwa Allah mengetahui segala isi para hamba-Nya. Allah juga mengabarkan bahwa Dia akan menghisab apa yang disembunyikan dalam hati manusia. Hanya saja, ulama berbeda pendapat dalam dua hal:

  1. Tentang status hisab ini, apakah masih berlaku ataukah sudah dihapus.
  2. Batasan amal hati yang akan dihisab. Apakah semua amal hati, ataukah amal hati tertentu.

Kira-kira, dua inilah yang akan menjadi inti pembahasan kita.

Sikap Sahabat

Sebelum melangkah lebih jauh, terlebih dahulu kita akan membaca sebuah hadist yang menceritakan bagaimana sikap para sahabat ketika turun ayat ini.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau bercerita, ‘ketika turun surat al-Baqarah ayat 284, para sahabat merasa sangat keberatan dalam mengamalkannya. Merekapun mengadu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَيْ رَسُولَ اللهِ، كُلِّفْنَا مِنَ الْأَعْمَالِ مَا نُطِيقُ، الصَّلَاةَ وَالصِّيَامَ وَالْجِهَادَ وَالصَّدَقَةَ، وَقَدِ اُنْزِلَتْ عَلَيْكَ هَذِهِ الْآيَةُ وَلَا نُطِيقُهَا

Ya Rasulullah, kami mendapat beban amal yang mampu kami kerjakan, seperti shalat, puasa, jihad dan sedekah. Sementara, telah turun kepada anda ayat ini, yang kami tidak mampu mengamalkannya”.

Mendengar aduhan ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehatkan,

أَتُرِيدُونَ أَنْ تَقُولُوا كَمَا قَالَ أَهْلُ الْكِتَابَيْنِ مِنْ قَبْلِكُمْ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا؟ بَلْ قُولُوا: سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

Apakah kalian ingin berkomentar seperti yang dikatakan ahli kitab sebelum kalian, ’Sami’na wa ’ashainaa?’ (kami dengar, namun kami tidak mau taat). Seharusnya kalian mengatakan, ’Sami’na wa atha’naa.’ (kami dengar dan kami taat). Kami mengharap ampunan-Mu yang Allah, dan hanya kepada-Mu tempat kembali.

Mendengar nasehat ini, para sahabatpun menirukan apa yang diperintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka mengulang-ulang kalimat,

سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

Hingga akhirnya Allah menurunkan ayat lanjutannya,

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

“Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan Kami taat.” (mereka berdoa): “Ampunilah Kami Ya Tuhan Kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.” (al-Baqarah: 285).

Abu Hurairah melanjutkan, ‘Setelah para sahabat mengikuti pesan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, untuk siap tunduk dan taat, Allah menghapus kandungan ayat itu (al-Baqarah: 284), dengan menurunkan firman-Nya,

لَا يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa): “Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau hukum Kami jika Kami lupa atau Kami tidak sengaja”.

Allah menjawab doa ini dengan berfirman, ”Ya, Aku Kabulkan.” Hingga akhir ayat. (HR. Muslim no. 125)

Pelajaran yang bisa kita ambil dari hadis ini adalah bagaimana karakter para sahabat yang sangat tunduk terhadap semua titah syariat. Sekalipun itu berat bagi mereka. Mereka tetap menyatakan, ‘Kami dengar dan kami taat.’ Sejauh kemampuan yang mereka miliki. Ini berbeda dengan karakter ahli kitab. Setiap mereka mendapatkan tugas yang dirasa berat, mereka mengatakan, ’sami’na, wa ’ashaina.’ Kami dengar dan kami tidak taat.

Karena itu, Allah beri keringanan bagi umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Allah bebankan tugas syariat yang berat bagi umat sebelumnya.

Beda Pendapat tentang Tafsir Ayat?

Kita kembali fokus terhadap ayat,

وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللَّهُ فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ

Artinya: “Hanya milik Allah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. dan jika kamu menampakkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Allah mengampuni siapa yang dikehandaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya.”

Ulama berbeda pendapat terkait cakupan makna ayat ini. Berikut rincian yang disarikan dari Tafsir Zadul Masir, karya Ibnul Jauzi.

Perbedaan pendapat pertama, tentang makna ’sesuatu yang disembunyikan dalam hati’ yang akan dihisab oleh Allah. Apakah semua isi hati atau khusus menyinggung orang musyrik dan munafik?
Ada dua pendapat dalam kasus ini.

Pertama, isi hati yang disembunyikan itu bersifat khusus. Yaitu terkait penyembunyian kebenaran (kitman as-Syahadah) akan kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang ini dilakukan para ahli kitab, serta menyembunyikan keraguan terhadap kebenaran islam, yang ini dilakukan orang-orang munafik. Pendapat ini merupakan pendapat Ibnu Abbas dalam salah satu riwayat, ikrimah, dan as-Sya’bi.
Dengan mengacu pendapat ini, berarti ayat di atas tidak mansukh (dihapus). Hanya saja cakupannya sempit, hanya terkait isi hati orang yahudi dan orang munafik.

Kedua, pendapat mayoritas ulama, bahwa isi hati yang disembunyikan itu bersikap umum. Mencakup yang disembunyikan semua manusia dalam hatinya. Tidak dibatasi untuk kasus orang yahudi dan orang munafik.

Dan dari dua pendapat di atas, pendapat yang lebih kuat adalah pendapat kedua, bahwa peringatan akan adanya hisab bagi isi hati, bersifat umum, mencakup isi hati semua manusia. Diantara dalil yang menunjukkan bahwa ini berlaku umum adalah hadis Abu Hurairah di atas, dimana para sahabat merasa resah ketika ayat ini diturunkan. Artinya, mereka memahami bahwa ayat ini juga berlaku bagi mereka. Andai ayat ini hanya berlaku bagi orang yahudi dan munafik saja, tentu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menjelaskannya ketika para sahabat mengadu kepada beliau.

Selanjutnya, ulama yang berpendapat bahwa ayat ini berlaku umum, mereka berbeda pendapat, apakah hukum dalam ayat ini berlaku ataukah telah mansukh? Ada dua pendapat dalam hal ini,

Pertama, ancaman hukuman di ayat ini mansukh dengan ayat lanjutannya,

لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْساً إِلَّا وُسْعَها

Artinya: “Allah tidak membebani jiwa di luar kemampuannya.”

Ini merupakan pendapat Ibn Mas’ud, Ibn Abbas dalam salah satu riwayat.

Kedua, ancaman hukuman ayat ini tetap berlaku. Hanya saja, Allah mengampuni siapa saja yang Allah kehendaki dan Allah menghukum siapa saja yang Dia kehendaki. Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu Umar, Hasan al-Bashri, dan al-Qadhi Abu Ya’la.

Setelah menyebutkan perbedaan di atas, Ibnul Jauzi mengatakan,

والذي نختاره أن تكون الآية محكمة، لأن النسخ إنما يدخل على الأمر والنهي

“Pendapat yang kami pilih, ayat ini muhkamah (tidak mansukh), karena nasakh itu hanya ada pada perintah dan larangan”. (Zadul Masir, 1/254).

Bentuk Amal Hati yang Dihisab

Setelah kita memahami bahwa ancaman hisab ini tidak mansukh, dan itulah pendapat yang lebih kuat, selanjutnya kita akan mengkaji, seperti apakah amalan hati yang akan dihisab oleh Allah?

Ibnu Asyura dalam tafsirnya – at-Tahrir wa at-Tanwir –, dan Imam Ibnu Utsaimin dalam tafsirnya surat al-Baqarah, memberikan rincian bahwa amal hati ada 2:

Pertama, Amal hati yang murni menjadi tugas hati, artinya tidak ada kaitannya dengan amal lahir, seperti iman & kufur (mencakup semua aqidah yang benar dan yang salah), kemudian hasad, sombong, suudzan, tawakkal, dst., untuk amalan jenis ini, ulama sepakat akan dihisab. Karena amalan semacam ini masuk dalam taklif (beban syariat) yang mampu dikendalikan manusia.

Kedua, Amal hati yang memiliki kaitan dengan amal lahir, seperti niat dan keinginan, ulama memberikan rincian sebagai berikut:

1. Sebatas lintasan batin dan was-was yang tidak mengendap, ulama sepakat, semacam ini tidak dihisab. Dalilnya hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa pernah datang beberapa orang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka mengatakan,

إِنَّا نَجِدُ فِي أَنْفُسِنَا مَا يَتَعَاظَمُ أَحَدُنَا أَنْ يَتَكَلَّمَ بِه، قَالَ: «وَقَدْ وَجَدْتُمُوهُ؟» قَالُوا: نَعَمْ، قَالَ: ذَاكَ صَرِيحُ الْإِيمَانِ

Artinya: ‘Kami menjumpai dalam diri kami lintasan yang sangat berat bagi kami untuk mengucapkannya.’ Beliau bertanya kepada mereka, “Benar kalian menjumpai perasaan itu?” Kata Beliau, “Itu bukti adanya iman.” (HR. Muslim 132).

An-Nawawi menjelaskan, “Makna hadis, kalian merasa berat untuk mengucapkannya merupakan bukti adanya iman. Karena dia merasa berat mengucapkan kalimat semacam ini, disertai perasaan sangat takut untuk mengucapkannya. Lebih-lebih dia dia yakini. Sikap semacam ini hanya ada pada orang yang imannya kokoh dan teruji, sehingga hilang darinya segala keraguan dan bimbang.” (Syarh Shahih Muslim, 2/154).

Inilah makna hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ لِي عَنْ أُمَّتِي مَا وَسْوَسَتْ بِهِ صُدُورُهَا، مَا لَمْ تَعْمَلْ أَوْ تَكَلَّمْ

Artinya: “Sesungguhnya Allah memberi ampunan kepada umatku, apa yang menjadi bisikan dalam hati mereka, selama tidak dikerjakan atau diucapkan”. (HR. Ahmad & Bukhari)

2. Keinginan untuk melakukan sesuatu yang terlarang, kemudian dia tinggalkan karena Allah. Orang semacam ini mendapatkan pahala. Terdapat banyak dalil tentang hal ini, diantaranya,

– Hadis dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كُتِبَتْ لَهُ حَسَنَةٌ

Artinya: ”Siapa yang bertekad untuk melakukan maksiat, lalu dia tidak mewujudkannya, maka dicatat untuknya sebagai amal soleh.” (HR. Bukhari 6126)

– Hadis tentang 3 orang bani israil yang terperangkap di dalam gua. Kemudian ketiganya berdoa, dengan menggunakan wasilah amalnya masing-masing. Salah satunya adalah lelaki yang hendak menzinai dengan kekasihnya, namun dia diingatkan si wanita untuk takut kepada Allah, dan langsung dia tinggalkan wanita itu, sekaligus uang yang dia berikan kepadanya. Allah memberikan pahala bagi orang ini, dengan bukti, Allah kabulkan permintaannya. (HR. Bukhari 5517)

3. Terpikir untuk melakukan maksiat, namun dia tinggalkan karena dia bukan tipe pelaku maksiat semacam ini. misalnya, seorang muslim yang baik terbayang untuk menegak khamr, atau muslimah yang menjaga kehormatan terbayang untuk lepas jilbab, atau terbayang untuk berpacaran karena melihat teman sekitarnya, dan dia sama sekali tidak berharap bisa melakukannya. Keinginan semacam ini sama sekali tidak ada dosa dan tidak berpahala. Karena lintasan ’terpikir’ semacam ini belum disebut niat. Sementara seseorang baru mendapat sesuatu sesuai yang dia niatkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Artinya: “Sesungguhnya amal itu berdasarkan niat, dan sesungguhnya yang diperoleh seseorang sesuai apa yang dia niatkan.” (HR. Bukhari & Muslim)

4. Keinginan untuk melakukan maksiat, dan bertekad untuk melakukannya. Hanya saja, dia tidak punya fasilitas untuk melakukannya. Orang ini mendapatkan dosa niat. Dalilnya, hadis dari Abu Kabsyah al-Anmari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat permisalan 4 tipe manusia, diantaranya adalah orang yang Allah beri harta namun tidak diberi ilmu agama. Sehingga dia habiskan hartanya untuk yang bukan haknya (maksiat). Dan orang yang tidak diberi harta maupun ilmu, kemudian dia berangan-angan, andai saya memiliki harta, akan dia gunakan hartanya seperti yang dilakukan si tukang maksiat itu. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi komentar,

فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ

Artinya: “Dia karena niatnya, dosanya sama dengan temannya“. (HR. Turmudzi 2325 dan dishahihkan al-Albani)

5. Keinginan untuk melakukan maksiat, dan dia telah mewujudkan semua sebab untuk melakukannya, namun gagal karena situasi tidak mendukungnya. Orang ini mendapat dosa sempurna. Dalilnya, hadis dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا التَقَى المُسْلِمَانِ بِسَيْفَيْهِمَا فَالقَاتِلُ وَالمَقْتُولُ فِي النَّارِ»، فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا القَاتِلُ فَمَا بَالُ المَقْتُولِ قَالَ: «إِنَّهُ كَانَ حَرِيصًا عَلَى قَتْلِ صَاحِبِهِ

Artinya: “Apabila ada dua muslim datang dengan membawa pedang masing-masing, maka yang membunuh dan yang dibunuh, keduanya di neraka. Aku bertanya, ‘Ya Rasulullah, si pembunuh di neraka wajar. Tapi mengapa korban juga ikut di neraka?’ Jawab beliau, “Karena dia sudah berusaha untuk membunuh saudaranya.” (HR. Bukhari 31 dan yang lainnya)

Allahu a’lam

***

Penulis: Ustadz Ammi Nur Baits

Sumber