Kalau Anak Saya Berhijab Syar’i, Bagaimana Dia Akan Dapat Jodoh?

Kalau Anak Saya Berhijab Syar’i, Bagaimana Dia Akan Dapat Jodoh?

Tidak bisa dipungkiri, banyak orang tua yang punya kekhawatiran seperti ini. Memang secara kasat mata, hal tersebut tampak wajar, karena begitu rusaknya lingkungan masyarakat sekarang ini.

Kalau dahulu, muda-mudi malu bila ketahuan berpacaran. Sekarang keadaan menjadi terbalik, muda-mudi akan malu bila tidak punya pacar. Semoga Allah memperbaiki keadaan ini, dan melindungi keluarga kita dari perbuatan zina, amin.

Namun, bila kita lihat masalah ini dari kaca mata iman, maka sungguh tidak ada alasan bagi orang tua untuk khawatir, mari perhatikan beberapa poin berikut ini:

  1. Bahwa mendapatkan suami, merupakah bagian dari takdir Allah, dan Allah sudah menentukan takdir itu sebelum anak Anda dilahirkan. Sehingga apapun yang terjadi, memakai jilbab syar’i atau tidak, semuanya akan berjalan sebagaimana tulisan takdir Allah.
  2. Ingatlah, bahwa sebuah barang akan laris sesuai minat pembelinya. Anak yang baik dan taat berhijab, akan diminati oleh orang yang agamanya baik. Sebaliknya anak yang mengumbar aurat dan tidak peduli agama, dia akan diminati oleh pemuda yang buruk agamanya. Maka sebagai orang tua, anda bisa memilih manakah pangsa pasar yang Anda inginkan untuk putri kesayangan Anda.
  3. Pacaran adalah musibah yang sangat besar bagi muda mudi, yang paling kasihan adalah wanita. Seringkali kehormatan wanita dalam pacaran tidak dihargai sama sekali, bahkan seringkali pelacur lebih dihargai daripada wanita yang dipacari. Apalagi jika terjadi kehamilan, justru wanita dan keluarganya akan menanggung biaya yang besar, sekaligus rasa malu seumur hidupnya.
  4. Syariat Islam telah memberikan banyak solusi untuk mencarikan suami bagi putri kita, diantaranya:
    1. Orang tua yang mencarikan suami untuk putrinya. Sebagaimana Allah kisahkan dalam Al Quran, ketika calon mertua Nabi Musa menawarkan putrinya untuk dia pinang. Dan hal ini juga bisa dilakukan oleh saudaranya, atau teman wanitanya, atau orang lain yang bisa membantu dia mencarikan calon suami yang baik.
    2. Ketika seorang putri tertarik kepada seorang pemuda, maka tidak mengapa dia meminta kepada ayahnya untnk menawarkan dirinya kepada pemuda tersebut. Ini juga yang disebutkan oleh Allah dalam kisah Nabi Musa. Ternyata calon isterinyalah yang meminta ayahnya agar menawari Nabi Musa untuk mau meminangnya dengan syarat yang diajukan.
    3. Dibolehkan juga bagi seorang wanita utk menawarkan dirinya sendiri kepada seseorang yang dia inginkan, tentunya dengan syarat hal itu tidak menimbulkan fitnah dan keburukan.

Hal ini sebagaimana dilakukan oleh seorang sahabat wanita yang menawarkan dirinya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan beliau tidak mengingkari tindakannya tersebut. Ini menunjukkan bahwa hal itu boleh dilakukan.

Intinya, jilbab yang syar’i bukanlah penghalang bagi putri Anda mendapatkan suami. Bahkan sebaliknya, jilbab itulah yang menjadikan putri Anda pantas mendapatkan suami yang baik agamanya. Suami yang bisa menuntunnya menuju surga dan selalu berdoa untuk kebaikan Anda sebagai mertuanya.

Perlu juga diingat, bahwa seorang ortu haruslah sadar, bahwa termasuk diantara hak putrinya adalah dicarikan suami yang saleh, maka tunaikanlah hak ini, dan berusahalah sebaik mungkin utk putri Anda, karena dialah nantinya yang akan meneruskan tongkat estafet perjuangan Anda. Wallahu a’lam.

 

Penulis: Ustadz Musyaffa Ad Darini, Lc., MA.

Sumber: https://muslimah.or.id
.
Dilema Tahdzir Serampangan Merusak Dakwah Islam

Dilema Tahdzir Serampangan Merusak Dakwah Islam

Di dalam menjalankan kewajiban berdakwah menuju kepada jalan Allah Ta’ala, para ulama’ pasti akan senantiasa menghadapi berbagai tantangan dan aral  yang melintang. Dan diantara tantangan yang sering menghadang setiap derap langkah para dai kebenaran ialah adanya lawan dari sesama mereka, yaitu para pelaku kesesatan dan kebatilan. Dan karena hal ini adalah hal yang telah masyhur dan dirasakan oleh setiap dai yang menyerukan kebanaran, maka saya tidak merasa perlu untuk membuktikannya. Akan tetapi yang saya anggap perlu ialah mengingatkan diri saya dan kawan-kawan saya tentang hikmah dan manfaat adanya pertentangan ini. Sebab segala hal yang ada dan terjadi di dunia ini adalah bagian dari ciptaan Allah Ta’ala dan berjalan selaras dengan kehendak-Nya. Dengan demikian tidak mungkin semua itu terjadi dengan sia-sia, tanpa ada manfaat dan hikmahnya.

]وما خلقنا السماء والأرض وما بينهما لاعبين[ النبياء 16

“Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada diantara keduanya dengan bermain-main.” (Al Anbiya’ 16)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Ia menciptakan langit dan bumi dengan kebenaran, maksudnya dengan keadilan, agar Ia mengganjar orang yang berlaku buruk setimpal dengan apa yang mereka amalkan, dan membalas orang yang berlaku baik dengan balasan kebaikan pula. Sebagaimana Allah mengabarkan bahwa Ia tidaklah menciptakan semua itu dengan sia-sia dan juga tidak karena main-main.”([1])

Dan dalam ayat lain Allah berfirman:

]وما خلقنا السماء والأرض وما بينهما باطلا ذلك ظن الذين كفروا فويل للذين كفروا من النار[ ص 27

“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah (sia-sia). Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk ke dalam neraka.” (Shaad 27) Sehingga tidaklah layak bagi seorang mukmin apalagi seorang dai untuk berkecil hati bila pada suatu saat menghadapi tantangan atau hambatan dalam menjalankan dan memperjuangkan kebenaran. Dan hendaknya adanya tantangan tersebut semakin menambah keimanan dan keyakinan kita kepada apa yang kita yakini dan perjuangkan, karena ini merupakan bukti bahwa Allah Ta’ala telah merahmati kita, sehingga kita dapat memilih jalan kebenaran dan terhindar dari kesesatan..

] ولو شاء ربك لجعل الناس أمة واحدة ولا يزالون مختلفين إلا من رحم ربك ولذلك خلقهم وتمت كلمة ربك لأملأن جهنم من الجنة والناس أجمعين[ هود 118-119

“Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia ummat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat (keputusan) Tuhanmu telah ditetapkan: sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahnnam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.” (Hud 118-119). Adanya kekufuran dan keimanan di kehidupan dunia ini adalah salah satu bagian dari sunnatullah, sehingga dengan demikian akan terbukti bagi umat manusia bahwa Allah Ta’ala Maha Pengasih lagi Penyayang dan diwaktu yang sama Allah Maha pedih siksa-Nya.

Perseteruan antara kebenaran beserta pemeluknya melawan kebatilan beserta seluruh antek-anteknya bukanlah hal yang baru, akan tetapi merupakan sunnatullah yang telah dimulai semenjak manusia pertama yaitu Nabi Adam ‘alaihis salaam dan istrinya Hawa melawan nenek moyang pemuja kebatilan, yaitu Iblis la’natullah ‘alaihi :

]وقلنا اهبطوا بعضكم لبعض عدو[ البقرة 36.

“Turunlah kamu, sebahagian kamu menjadi musuh bagi yang lain”. (Al Baqarah 36). Sebagaimana Allah Ta’ala juga telah memperingatkan umat manusia agar senantiasa waspada dari tipu daya iblis dan pengikutnya:

] يا بني آدم لا يفتننكم الشيطان كما أخرج أبويكم من الجنة ينـزع عنهما لباسهما ليريهما سوءاتهما إنه يراكم هو وقبيله من حيث لا ترونهم إنا جعلنا الشياطين أولياء للذين لا يؤمنون[ الأعراف 27

“Wahai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat tertipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-peminpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” (Al A’araf 27).

Diantara metode yang diajarkan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya kepada kaum mukminin dalam menghadapi kesesatan dan para pelakunya ialah metode tahzir, yaitu menyebutkan kesalahan dan kesesatan mereka agar masyarakat menyadari akan kesalahan dan jati diri mereka, sehingga mereka tidak terpengaruh dan terpedaya oleh berbagai propaganda dan manisnya perkataan mereka.

Untuk sedikit memberikan penjelasan kepada para pembaca tentang metode ini, saya akan sedikit sebutkan tentang beberapa dalil dan keterangan ulama’ Ahlis sunnah seputar permasalahan ini.([2])

Dalil-dalil disyari’atkannya tahzir:

Dalil Global:

Dengan kita merujuk berbagai dalil, baik dari Al Qur’an atau As Sunnah dan juga keterangan ulama’ Ahlis Sunnah, kita dapatkan bahwa upaya melindungi agama masyarakat dengan cara menyebutkan kesalahan pelaku bid’ah atau kemungkaran yang dirasa akan mempengaruhi mereka adalah suatu hal yang dibolehkan, dan bahkan tindakan ini termasuk salah satu bentuk pengingkaran terhadap kemungkaran, yaitu pengingkaran dengan lisan.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Bila seseorang menampakkan perbuatan dosa, seperti tindak kelaliman, perbuatan keji, dan berbagai amalan bid’ah yang jelas-jelas menyelisihi As Sunah, bila ia berani menampakkan kemungkarannya, maka wajib untuk mengingkarinya sekuat kemampuan kita, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

(من رأى منكم منكرا فليغيره بيده فإن لم يستطع فبلسانه فإن لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف الإيمان)

“Barangsiapa diantara kalian melihat kemungkaran, maka hendaknya ia merubahnya dengan tangannya (kekuatannya), jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya, dan jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman.”, riwayat Muslim.“([3])

Dalil Khusus :

Banyak sekali dalil-dalil, baik dari Al Qur’an atau As Sunnah yang menjelaskan akan bolehnya menyebutkan kesalahan seseorang yang dirasa akan mempengaruhi orang lain atau masyarakat luas. Diantara dalil-dalil tersebut ialah hadits-hadits berikut:

عن عائشة رضي الله عنها أنها قالت: استأذن رجل على رسول الله صلى الله عليه والسلام فقال: (ائذنوا له بئس أخو العشيرة أو ابن العشيرة، فلما دخل ألان له الكلام). قلت: يا رسول الله قلت الذي قلت، ثم ألنت له الكلام؟ قال: (أي عائشة، إن شر الناس من تركه الناس –أو ودعه الناس- اتقاء فحشه) متفق عليه

“Dari sahabat ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, ia menuturkan: Ada seorang lelaki yang memohon izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliaupun bersabda: “Izinkanlah untuknya, ia adalah seburuk-buruk kerabat ialah dia, maka ketika ia telah masuk, beliau (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) bermanis kata kepadanya.” Akupun bertanya: Wahai Rasulullah, engkau telah mengatakan perkataanmu tadi, kemudian engkau bermanis kata kepadanya? Beliau menjawab: “Wahai ‘Aisyah sesungguhnya manusia paling buruk ialah orang yang dijauhi oleh orang lain karena mereka menghindari kata-katanya yang keji.” (Muttafaqun ‘alaih)

Al Qurthuby mengomentari hadits ini dengan berkata:

في الحديث جواز غيبة المعلن بالفسق أو الفحش ونحو ذلك من الجور في الحكم والدعاء إلى البدعة، مع جواز مداراتهم اتقاء شرهم ما لم يؤد ذلك إلى المداهنة في دين الله تعالى….. والفرق بين المدارة والمداهنة: أن المداراة بذل الدنيا لصلاح الدنيا أو الدين أو هما معا، وهي مباحة وربما استحبت، والمداهنة: ترك الدين لصلاح الدنيا. والنبي صلى الله عليه والسلام إنما بذل له من دنياه حسن عشرته والرفق في مكالمته ومع ذلك فلم يمدحه بقول فلم يناقض قوله فيه فعله.

“Pada hadits ini terdapat petunjuk bolehnya mengghibahi (menyebutkan kesalahan) orang yang menampakkan kefasikan atau perbuatan keji dan yang serupa dengannya berupa tindak kelaliman ketika memutuskan sesuatu, menyeru kepada perbuatan bid’ah. Sebagaimana ada petunjuk bolehnya bersikap mudaraah (mengambil simpati/sikap bijak) kepada mereka, guna menghindari kejahatannya, selama sikap bijak  tersebut tidak sampai menjerumuskan kita kepada sikap mudahanah (menjilat) dalam urusan agama Allah Ta’ala. Dan perbedaan antara sikap bijak dan menjilat ialah sikap bijak adalah mengorbankan sebagian kepentingan duniawi demi menjaga kemaslahatan duniawi lainnya atau kemaslahatan agama atau kedua-duanya, dan sikap ini adalah sikap yang dibolehkan, bahkan kadang kala dianjurkan. Sedangkan sikap menjilat adalah mengorbankan urusan agama demi mencapai kepentingan duniawi. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kisah ini hanya mengorbankan dari kepentingan duniawinya untuk orang tersebut berupa sambutan baik dan berlemah lembut ketika berbicara dengannya. Walaupun demikian beliau sama sekali tidak pernah memujinya dengan suatu ucapan apapun, sehingga tidak ada pertentangan antara ucapan beliau pertama dengan sikapnya.”([4])

Diantara dalil yang menunjukkan akan bolehnya menyebutkan kesalahan ahlil bid’ah atau pelaku kemaksiatan demi menjaga kemurnian agama masyarakat ialah kisah sahabat Fathimah binti Qaish ketika meminta nasehat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang siapakah orang yang paling layak menjadi suaminya? Yaitu ketika datang kepadanya (Fathimah binti Qaish) dua orang sahabat yang sama-sama melamarnya, mereka itu adalah: sahabat Mu’awiyyah bin Abi Sufyan dan Abu Jahem bin Huzaifah semoga Allah senantiasa meridhai keduanya. Menjawab pertanyaan sahabat Fathimah ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(أما أبو جهم فلا يضع عصاه عن عاتقه وأما معاوية فصعلوك لا مال له. انكحي أسامة بن زيد). رواه مسلم

“Adapun Abu Jahem maka ia tidak pernah menurunkan tongkatnya dari bahunya (suka memukul istrinya), dan adapun Mu’awiyyah maka ia adalah orang yang miskin tidak memiliki harta. Menikahlah dengan Usamah bin Zaid.” (Muslim)

Bila dalam hadits ini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan kekurangan sahabat Abu Jahem dan Mu’awiyyah kepada wanita yang mereka lamar, padahal kekurangan tersebut bukan berupa kemaksiatan atau perbuatan bid’ah yang pernah mereka lakukan. Maka ini merupakan dalil nyata dan amat kuat bagi dibolehkannya menyebutkan kesalahan pelamar yang berupa perbuatan kemaksiatan atau bid’ah.

Dan bila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan kekurangan keduanya demi kepentingan seorang wanita, maka ini merupakan dalil nyata nan kuat bagi dibolehkannya menyebutkan kemaksiatan atau bid’ah seseorang yang dirasa mengancam kemurnian agama masyarakat luas, sampai-sampai Syeikhul Islam Ibnu taimiyyah menyebutkan bahwa menjelaskan kesesatan ahlul bid’ah dan para penganut paham yang menyelisihi Al Qur’an dan As Sunnah adalah wajib hukumnya, dan ulama’ islam telah menyepakati akan kewajibannya.([5])

Imam An Nawawi rahmimahullah berkata: “Ketahuilah bahwa perbuatan ghibah dibolehkan bila ada tujuan yang dibenarkan secara syari’at dan tidak mungkin untuk dicapai melainkan dengan cara ghibah, tujuan yang dibenarkan itu ada enam hal:…..sebab kelima: bila ia menampakkan dengan terang-terangan kefasikan atau bid’ahnya, misalnya orang yang minum khamer dihapan umum, merampas harta orang, memungut pajak, menarik pungutan terhadap harta orang lain dengan cara lalim, melakukan berbagai kebathilan, maka dibolehkan untuk disebutkan perbuatan yang ia lakukan dengan terang-terang tersebut, dan tidak boleh untuk disebutkan aibnya yang lain, kecuali bila ada sebab lain yang membolehkan untuk disebutkan selain yang telah kami jelaskan.”([6])

Ini adalah sekelumit dalil dan keterangan ulama’ salaf tentang disyari’atkannya tahzir ahlil bid’ah. Dan sekali lagi, bagi yang ingin mendapatkan keterangan lebih luas dan jelas, silahkan membaca kedua kitab yang saya sebutkan di atas.

Dan saya yakin bahwa kebanyakan ikhwah slafiyyin atau yang pernah mengikuti pengajian-pengajian mereka sering dan sudah cukup banyak mendengarkan penjelasan para ustadz tentang hal ini. Oleh karena itu saya rasa, sudah tidak perlu untuk dijabarkan dengan panjang lebar. Akan tetapi yang saya rasa masih amat perlu untuk didudukkan dan dijelaskan kepada masyarakat, ialah permasalahan syarat dan ketentuan-ketentuan yang harus diindahkan dalam menjalankan syari’at ini (mentahzir pelaku kesalahan atau bid’ah). Sebab tidak setiap pelaku kesalahan harus di tahzir dan tidak setiap pelaku bid’ah harus ditahzir. Dengan kata lain:  tahzir bukanlah sebuah harga mati atau tujuan, akan tetapi lebih tepat sebagai salah satu sarana ingkarul mungkar, dan upaya prefentif dalam menjaga kemurnian agama masyarakat.

Syarat-syarat disyari’atkannya tahzir:

Sebagaimana telah diketahui dari penjelasan di atas bahwa tahzir adalah salah satu bentuk ingkarul mungkar yang diajarkan dalam syari’at islam, maka sudah barang tentu berbagai persyaratan yang telah dijelaskan oleh ulama’ dalam menjalankan ingkarul mungkar,  juga berlaku dalam menjalankan tahzir. Persyaratan tersebut ialah:

  1. Ikhlas.

Maksudnya, ketika seorang dai hendak menyebutkan kesalahan atau kemaksiatan seseorang, -baik ahli bid’ah atau lainnya yang dirasa akan mengancam kemurnian agama masyarakat- ia benar-benar sadar bahwa maksud dan tujuannya ialah menjalankan kewajiban nasehat kepada umat islam secara umum, agar mereka dapat terhindar dari kesalahan dan bid’ah orang tersebut, serta tidak terperdaya oleh berbagai propaganda pelakunya. Sebagaimana ia juga harus menyingkir jauh-jauh dari niatnya berbagai tujuan lain, baik kepentingan pribadi, dendam, kecemburuan sosial, ikut-ikutan, bumbu ngobrol dll. Karena sesunggunya tujuan-tujuan lain ini tidak dapat menjadikan harga diri pelaku kesalahan atau bid’ah halal untuk dibicarakan atau ditahzir, karena tujuan-tujuan ini tak lain hanyalah kepentingan pribadi, sehingga tindakannya tidak dapat dikatakan sebagai ingkarul mungkar atau nasehat untuk umat.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Kemudian orang yang menjalankan tahzir ahlil bid’ah, yang tindakannya itu ia dasari dengan ilmu, ia harus memiliki niat yang baik. Seandainya ia berbicara atas dasar ilmu, akan tetapi karena ingin berbuat kesombongan di muka bumi, atau kerusakan, maka ia bagaikan orang yang berjihad karena dendam golongan dan karena riya’ (ingin pujian). Dan bila ia berbicara benar-benar karena Allah Ta’ala, penuh dengan ikhlas, maka ia termasuk orang-orang yang berjuang di jalan Allah, penerus para Nabi dan Rasul.”([7])

Dan pada kesempatan lain beliau juga berkata: “Sebagian orang ada yang menyebutkan kesalahan orang, hanya karena ikut-ikutan dengan rekan semajlisnya, atau sahabatnya, atau keluarganya, padahal ia sendiri tahu bahwa orang yang ia bicarakan terlepas dari apa yang mereka sebut-sebut, atau mungkin saja padanya ada sebagian dari apa yang mereka sebut. Akan tetapi ia merasa bahwa seandainya ia mengingkari perilaku kawannya, niscaya sikapnya itu akan mengacaukan jalannya majlis, atau mereka akan marah dan menjauihinya. Oleh karena itu ia beranggapan bahwa ikut-ikutan dengan mereka adalah bagian dari tuntutan dari pergaulan yang baik, dan persahabatn yang mulia. Kadang kala mereka marah, maka iapun jadi  marah, karena mengikuti kemerahan mereka, sehingga iapun hanyut bersama mereka.

Dan diantara mereka ada yang mengemas perbuatan ghibahnya dengan berbagai kedok, kadang kala ada yang menampakkannya dalam bentuk kebaikan atau amal shaleh, sehingga ia berkata: Aku tidak biasa untuk menyebutkan seseorang kecuali dengan kebaikan, dan aku tidak suka dengan perbuatan ghibah juga perbuatan dusta, yang aku lakukan hanyalah mengabarkan kepada kalian jati diri orang tersebut, kemudian iapun berkata: Sungguh demi Allah dia itu kasihan sekali, atau orangnya baik, akan tetapi padanya ada hal demikian-demikian. Dan kadang kala ia berkata: Janganlah sebut-sebut dia, semoga Allah mengampuni kita dan dia. Padahal tujuannya hanyalah untuk meremehkan orang tersebut dan melecehkannya. Mereka mengemas perbuatan ghibah dalam bentuk amal shaleh dan perbuatan baik. (Yang terjadi sebenarnya adalah) mereka itu sedang berupaya mengelabuhi Allah, sebagaimana mereka sedang berupaya mengelabuhi manusia……..Dan diantara mereka ada yang mengemas perbuatan ghibahnya dalam bentuk kemarahan, ingkarul mungkar, sehingga dalam permasalahan ini muncul berbagai kata-kata indah nan manis, padahal maksudnya berbeda dengan apa yang ia nampakkan.”([8])

Saya yakin, bila kaum muslimin yang ada di negri kita Indonesia, dan salafiyyin secara khusus sudi untuk sedikit mawas diri, dan kembali mengoreksi niat masng-masing ketika hendak menyebutkan kesalahan dan kekhilafan saudaranya, niscaya kejadian yang terjadi dimasyarakat tidak seperti yang sekarang dikeluhkan oleh banyak pihak. Karena keimanan dan ketakwaan kita masih terlalu rendah dan lemah untuk bisa senantiasa ikhlas dalam setiap perbuatan dan ucapan, apalagi bila berkaitan dengan menyebutkan kesalahan orang yang tidak sepaham dengan kita, atau pernah berseberangan kepentingan dengan kita. Semoga Allah melimpahkan kerahmatan dan maghfirah-Nya kepada kita semua, dan semoga kita dibimbing Allah agar dapat ikhlas dalam setiap ucapan dan sikap yang kita lakukan.

  1. Kesalahan orang tersebut dilakukan dengan terang-terangan.

Bila pelaku kesalahan atau bid’ah melakukan bid’ahnya dengan sembunyi-sembunyi, maka tidak boleh ditahzir, atau dibongkar kesalahannya dihadapan umum. Karena tahzir adalah salah satu bentuk ingkarul mungkar, dan ingkarul mungkar dengan cara seperti ini tidaklah dilakukan kecuali bila kemungkarannya dilakukan dengan cara terang-terangan.

Imam Al Auza’i berkata: “Dan dahulu ulama’ salaf amat keras ucapannya terhadap ahlul bid’ah, dan hati mereka membencinya, serta mereka senantiasa memperingatkan masyarakat dari bid’ah mereka. Seandainya mereka melakukan bid’ahnya dengan sembunyi-sembunyi, maka tidak boleh bagi siapapun untuk menyingkap tabir yang menutupi mereka, atau menyebarkan aib mereka. Allah-lah yang berhak untuk menghukumi mereka atau mengampuni mereka. Adapun bila mereka telah berterang-terangan dengan bid’ahnya, gencar menyebarkan bid’ahnya, pengikutnyapun telah banyak, maka menebarkan ilmu adalah kehidupan, dan menyampaikan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kerahmatan, yang dengannya kita berlindung dari kejahatan setiap orang yang menyeleweng lagi nekad.”([9])

Ibnu Taimiyyah juga berkata: “Barang siapa  yang menampakkan kemungkaran, maka wajib untuk diingkari, dijauhi dan dicela karenanya. Dan inilah maksud dari ucapan ulama’:”Barang siapa telah mencampakkan jilbab rasa malu, maka tidak ada lagi ghibah baginya”, beda halnya dengan orang yang menutup-nutupi dosanya dan ia lakukan dengan bersembunyi, maka orang semacam ini harus ditutupi, akan tetapi tetap harus dinasehati dengan cara tersembunyi, dan hendaknya orang yang kenal dengannya, memboikotnya, hingga ia benar-benar bertaubat, dan perbuatannya tersebut disampaikan (kepada orang yang dapat menasehatainya) dengan cara yang selaras dengan maksud dari nasehat.”([10])

Sebagaimana telah berlalu nukilan dari ucapan Imam An Nawawi yang semakna dengan ucapan kedua ulama’ di atas.

Bila persyaratan ini kita terapkan pada berbagai kasus tahzir yang terjadi di negri kita Indonesia, maka saya rasa masih banyak dari saudara-saudara kita yang kurang mengindahkannya. Sebagai salah satu buktinya, sering kita mendengar ucapan yang terlalu jauh menembus batasan ghaib, sampai-sampai mulai membicarakan tentang niat dan tujuan orang lain. Misalnya ucapan sebagian dari kita yang mensifati sebagian saudaranya dengan ucapan: “menjilat para donatur”, “menggunting dalam lipatan”, hingga tuduhan kepada saudaranya sesama muslim, sebagai seorang munafiq, dan ucapan-ucapan yang serupa.

  1. Pelaku kesalahan tersebut masih hidup.

Bila pelaku bid’ah atau kesalahan telah meninggal dunia, maka tidak boleh bagi kita untuk mengungkit-ungkit kesalahannya, atau menyebut-nyebut amalan bid’ahnya, atau mencelanya, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

(لا تسبوا الأموات فإنهم قد أفضوا إلى ما قدموا) رواه البخاري

“Janganlah kamu mencela orang-orang yang telah meninggal dunia, karena mereka telah mendapatkan balasan apa yang telah mereka kerjakan.” (Bukhari) Hikmahnya ialah, orang yang telah meninggal dunia sudah tidak dikhawatirkan lagi akan dapat merusak agama masyarakat. Oleh karena itu bila seorang pelaku bid’ah meninggalkan kitab atau karya tulis yang dapat dibaca oleh orang lain atau pengikut yang menyebarkan ajarannya, maka kita tetap masih dibolehkan untuk menyebutkan kesalahannya, demi menjaga kemurnian agama masyarakat, dan agar mereka tidak terpengaruh oleh buku-bukunya atau pengikutnya yeng mengajarkan kebid’ahan yang pernah ia ajarkan.

Al Qarafi Al Maliky berkata: “Orang sesat yang telah meninggal dunia, sedangkan ia tidak meninggalkan pengikut yang mengagungkannya, juga tidak kitab-kitab yang dapat dibaca, juga tidak hal lain yang dikhawatirkan akan merusak agama orang lain, maka hendaknya ia ditutup-tutupi (tidak disebut-sebut kesalahannya) sebagaimana Allah Ta’ala telah menutupinya, dan hendaknya tidak pernah lagi disebut-sebut kesalahannya, sedangkan pertanggung jawaban atas amalannya adalah terserah kepada Allah.”([11])

  1. Jujur dan obyektif ketika menyebutkan kesalahan orang.

            Hendaknya ketika menjalankan tahzir, kita senantiasa bersikap adil dan obyektif, sehingga kesalahan yang disebutkan benar-benar ada pada orang yang sedang kita tahzir. Dan hendaknya tidaklah disebutkan kecuali kesalahan yang menjadikan orang lain menjauhinya. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala:

]يأيها الذين آمنوا كونوا قوامين لله شهداء بالقسط ولا يجرمنكم شنآن قوم على ألا تعدلوا اعدلوا هو أقرب للتقوى[ سورة المائدة 8

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada ketakwaan. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al Maidah 8).

Adapun menuduh ahlul bid’ah atau pelaku kesalahan dengan hal yang tidak ada padanya, baik perbuatan bid’ah lainnya atau kesalahan lainnya, maka perilaku ini termasuk perbuatan buhtan/kedustaan, sebagaimana disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

(إن لم يكن في أخيك ما تقول فقد بهته) رواه مسلم

“Bila apa yang engkau sebut tidak ada pada diri saudaramu, maka berarti engkau telah berdusta atas namanya.” (Muslim). Dan perbuatan dusta (buhtan) tidak pernah diizinkan dalam syari’at, baik berkenaan dengan ahlus sunnah ataupun ahlul bid’ah, karena perbuatan ini termasuk kelaliman dan kelaliman adalah perbuatan haram yang tidak pernah diizinkan apalagi dihalalkan, dalam keadaan apapun.

Persyaratan ini adalah salah satu persyaratan yang paling sering dilupakan oleh sebagian dari kita, sehingga sering kali kita mendengar ucapan yang berupa tuduhan kosong: “Fulan menerima dana dari yayasan tertentu, bahkan sampai berenang-renang di lautan dinar” padahal ketika ucapan ini ia ucapkan, ia hanya berdasarkan isu, sehingga ia tidak mampu mendatangkan buktinya. Ada lagi yang berkata: “Kebanyakan mahasiswa Madinah (Jami’ah Islamiyyah) terutama yang masuk program pasca sarjana, berhasil diterima di program tersebut adalah berkat bantuan hizbiyyun, sururiyyun dll”. Padahal saya yakin ini hanya  bualan dan mimpi di siang bolong belaka, dan pelakunya tidak akan mampu mendatangkan bukti otentik tentangnya.

Ada lagi yang berkata: “Fulan adalah seorang surury, harus dijauhi, dan tidak boleh ditimba ilmu darinya” atau bahkan: “fulan adalah termasuk da’i yang mengikuti hawa nafsu, karena mengajar di sekolahan tertentu”, akan tetapi ia tidak menyebutkan satu buktipun yang dapat dibenarkan.

Mungkin ada yang berseloroh dan berkata: Ah itu kan hanya terjadi pada beberapa orang saja, dan hanya beberapa kali saja!

Maka jawabannya: kejadian ini bukan hanya sekali, akan tetapi telah terulang berpuluh-puluh kali, dan menimpa berpuluh-puluh da’i.

Untuk sedikit membuktikan kepada pembaca, maka saya merasa perlu untuk mengungkit permasalahan yang telah mulai dikubur oleh para pelakunya, yaitu permasalahan jihad di Ambon, berapa banyak orang yang di tahzir, dan diklaim telah keluar dari manhaj salaf, karena tidak setuju mengatakan bahwa jihad di sana adalah fardhu ‘ain hukumnya? Akan tetapi setelah terbukti bagi para pelakunya, bahwa tindakan mereka tidak selaras dengan fatwa ulama’, termasuk fatwa ulama’ yang mewajibkan jihad di sana, adakah perubahan sikap terhadap da’i-da’i yang telah menjadi korban mereka?! Adakah pelurusan sikap terhadap kesalahan tahzir yang terlanjur mereka kumandangkan!? Adakah pengakuan bahwa tahzir yang di dasari perbedaan pendapat dalam hal jihad tersebut tidak benar? Apa lagi pengakuan bahwa sebagian dari mereka telah berbuat kejahatan besar, yaitu menyembunyikan fakta dan fatwa ulama’ lain yang jelas-jelas menyelisihi apa yang mereka amalkan.

Bukti selanjutnya: Berapa banyak da’i-da’i yang telah menjadi korban tahziran sebagian kita, akan tetapi ternyata di kemudian hari terbukti bahwa yang mentahzir dan yang ditahzir sama-sama tidak paham atau salah paham tentang manhaj ulama’ ahlis sunnah dalam hal tahzir, dan sama-sama hanya berdasarkan isu dan kabar burung.

Diantara buktinya: Betapa banyak ikhwah du’at yang ditahzir karena mereka mengambil dana yang disalurkan oleh sebagian yayasan sosial yang dipermasalahkan oleh sebagian ulama’. Akan tetapi giliran dana tersebut, dan dari sumber yang sama, mengalir kepada dirinya dan kelompoknya, maka ia bungkam seribu bahasa, bahkan bukan hanya dari yayasan islam yang bermasalah, akan tetapi dari dukun sekalipun tidak pernah ia dan para pendukungnya permasalahkan. Mungkinkah manhaj salaf  yang mereka anut dan yakini membenarkan standar ganda semacam ini?!

Dan masih banyak lagi kasus-kasus yang telah masyhur di masyarakat.

Dan sudah barang tentu ini adalah amat memilukan bagi seorang da’i yang mengaku bermanhaj salaf, apalagi sampai menobatkan dirinya sebagai ahlil jarh wat ta’dil. La haula wala quwwata illa billah.

ست خصال يعرف بها الجاهل: الغضب في غير شيء والكلام في غير نفع والعظة في غير موضعها وإفشاء السر والثقة بكل أحد ولا يعرف صديقه من عدوه. حلية الأولياء 10/217

“Ada enam perangai, yang dengannya kita dapat mengenali orang bodoh: marah tanpa sebab, berkata-kata yang tidak ada manfaatnya, menyampaikan peringatan tidak pada tempatnya, membocorkan rahasia, senantiasa percaya kepada setiap orang, dan tidak dapat mengenali kawan dari lawannya“.([12])

  1. Tahzir dilakukan seperlunya.

            Telah disampaikan di atas bahwa tujuan tahzir ialah melindungi kemurnian agama masyarakat dari pengaruh bid’ah atau kesalahan seseorang. Maka bila tujuan ini telah tercapai dengan cara menyebutkan sebagian dari kesalahan orang tersebut, dan dengannya masyarakat telah terlindungi, dan tidak ada yang terpengaruh dengannya, maka kita tidak boleh melampaui batasan tersebut, dengan cara menyebut-nyebut kesalahan-kesalahan lain yang tidak dirasa perlu. Sebab Hukum asal menyebutkan kesalahan orang lain ialah haram, karena itu termasuk perbuatan ghibah, akan tetapi dibolehkan karena adanya kepentingan dalam agama atau dunia dan dengan berbagai syarat di atas, maka bila kepentingan ini telah tercapai, maka selebihnya kembali kepada hukum asal yaitu haram. Hal ini berdasarkan kaidah dalam ilmu fiqih:

الضرورات تقدر بقدرها

“Suatu darurat itu harus diukur sesuai dengan kadarnya”.

            Dan sikap melampaui batas adalah salah satu hal yang diharamkan dalam syari’at islam, dan dibenci oleh Allah Ta’ala:

]ولا تعتدوا إن الله لا يحب المعتدين[ البقرة 190

Janganlah kamu melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al Baqarah 190).

Oleh karena itu Ibnu Taimiyyah berkata: “Hendaknya orang yang menunaikan nasehat itu tujuannya adalah agar Allah memberi petunjuk kepada orang tersebut, dan melindungi kaum muslimin dari gangguannya, baik dalam hal agama ataupun dunia mereka. Dan hendaknya tujuan ini  ditempuh melalui jalan termudah yang dapat dilakukan.”([13])

Oleh karena itu kita tidak dapatkan ulama’-ulama’ kita senantiasa membicarakan kesalahan ahlul bid’ah dalam setiap kesempatan dan majlis. Beda halnya dengan sebagian kita yang menjadikan pembicaraan ini sebagai bumbu majlis, dan pengajian, bahkan dengan cara-cara yang jelas-jelas melampaui batas, misalnya dengan melontarkan berbagai julukan-julukan yang tidak ada dasarnya, misal: julukan munafiq, pengkhianat, penjilat, tukang macul dll.

  1. Permasalahan yang menjadi penyebab ia ditahzir benar-benar kesalahan.

Sebagaimana yang telah disinggung di atas, bahwa hukum asal ghibah (menyebutkan kesalahan dan kekurangan) orang muslim adalah haram. Dan dibolehkan karena ada kepentingan dalam urusan agama atau dunia serta dengan berbagai syarat diatas. Oleh karena itu hukum asal dari perbuatan ini tidak akan berubah hanya karena kesalah pahaman atau perbedaan pendapat belaka. Atau perbedaan tempat belajar atau guru ngaji atau yang serupa.

Ibnu taimiyyah berkata: “Tidak dibenarkan bagi siapapun untuk menggantungkan pujian, celaan, rasa cinta, kebencian, loyal, permusuhan, doa, dan kutukan dengan selain nama-nama yang telah Allah gantungkan dengannya. Misalnya nama-nama kabilah, kota, mazhab, metode belajar yang dinisbatkan kepada para guru (syeikh) dan imam atau yang serupa yang tujuannya adalah untuk membedakan, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

] يأيها الناس إنا خلقناكم من ذكر وأنثى وجعلناكم شعوبا وقبائل لتعارفوا إن أكرمكم عند الله أتقاكم[ الحجرات 13

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang wanita, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa diantara kamu.” (Al Hujuraat 13). …..Oleh karena itu menyebutkan zaman, nama-nama keturunan, perwalian, negri, menisbatkan diri kepada seorang ulama’ atau syeikh tujuannya hanyalah untuk kenal mengenali, agar ia dapat dibedakan dari lainnya. Adapun pujian, celaan, kecintaan, kebencian, loyal, dan permusuhan, hanya boleh dilakukan karena hal-hal yang telah Allah jelaskan, dan penjelasan Allah adalah kitab-Nya. Sehingga barang siapa yang beriman, maka wajib untu diloyali, dari golongan manapun ia berasal, dan siapapun yang kufur, maka wajib untuk dimusuhi, dari golongan manapun ia berasal.”([14])

Hal ini tentu bertentangan dengan perilaku sebagian da’i yang mentahzir orang lain hanya karena ia berasal dari daerah tertentu, atau dari sekolahan tertentu, atau karena pernah belajar dengan ulama’ tertentu, atau sekolahan tertentu, tanpa melihat fakta dan kenyataan yang ada padanya. Sehingga hal ini membingungkan banyak kalangan, sampai-sampai banyak orang yang mengatakan: sebenarnya antara yang ditahzir dan yang mentahzir tidak ada perbedaan, yang diajarkan juga sama, dan ulama’ yang dijadikan panutan juga sama.

Diantara pengalaman yang pernah saya saksikan sendiri di hadapan Syeikh Muhammad bin Hadi Al Madkhali hafidhahullah, ketika ada beberapa asatidzah salafiyyin yang berkunjung ke rumah beliau, dan hadir pula di majlis tersebut beberapa mahasiswa Jami’ah Islamiyyah termasuk penulis sendiri juga hadir. Ketika Syeikh Muhammad mempertanyakan sebab terjadinya kerenggangan antara asatidzah yang datang dengan beberapa mahasiswa Jami’ah Islamiyyah, maka sebagian dari asatidzah tersebut menjawab: “Wahai syeikh, mereka ini, yaitu para mahasiswa yang masih belajar di Jami’ah Islamiyyah, ketika berlibur ke tanah air, tidak ada yang berkunjung ke rumah saya.” Mendengar jawaban ini, syeikh Muhammad Al Madkhaly terkejut dan bingung, apakah hanya karena permasalahan ziarah-menziarahi, antum saling tahzir dan saling memusuhi? Subhanallah.

Ini adalah salah satu contoh nyata yang pernah saya saksikan sendiri dan langsung dihadapan seorang syeikh salafy. Maka kejadian-kejadian serupa yang tak kalah serunya, saya yakin banyak terjadi, dan diantaranya:

Mungkin sebagian ikhwah ada yang masih ingat bahwa ada sebagian da’i yang ditahzir hanya karena perbedaan pendapat dalam metode menentukan awal bulan dalam islam, apakah harus mengikuti penentuan yang dilakukan oleh pemerintah Saudi Arabia (pendapat satu mathla’/tempat terbitnya bulan), ataukah boleh mengikuti penentuan pemerintah setempat? Padahal yang benar menurut seluruh ulama’ zaman sekarang ialah masing-masing masyarakat suatu negri harus mengikuti keputusan pemerintahnya, agar tidak menimbulkan perpecahan di masyarakat, walaupun menurut sebagian mereka: yang ideal adalah seluruh umat islam di seluruh belahan bumi berpuasa secara serempak dan bersamaan. Untuk membuktikan ucapan ini, silahkan baca Fatawa Al Lajnah Ad Daimah Kerajaan Saudi Arabia, dan juga Tamamul minnah oleh Syeikh Muhammad Nashiruddin Al Al Bany.

Yang lebih ironis, sikap membabi buta ini sampai-sampai menjadikan banyak da’i berusaha menutup-nutupi keterangan Syeikh Muhammad Nashiruddin Al Albani dalam kitabnya Tamamul minnah, yang menjelaskan kewajiban mengikuti keputusan pemerintah masing-masing.

Dan sebagian da’i ada yang menjadikan tempat belajar/sekolahan sebagai standar dalam mentahzir seseorang. Sehingga sebagian mereka sampai merasa perlu untuk mentahzir Islamic University of Madinah (Al Jami’ah Al Islamiyyah), yaitu dengan menyatakan bahwa Universitas ini telah dikuasai oleh ahlul bid’ah, sehingga sudah tidak layak lagi untuk menimba ilmu di sana. Ini adalah suatu amalan hina yang tidak pernah dilakukan oleh seorang ulama’pun, dan sebagai buktinya, hingga saat ini masih terlalu banyak ulama’ ahlis sunnah yang menjadi dosen dan tenaga pengajar di Universitas ini, sebagai contohnya: Syeikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad, Sholeh As Suhaimy, Muhammad bin Hadi Al Madkhaly, Dr. Ibrahim Ar Ruhaily dll.

Yang lebih ironis lagi bila yang melakukan tahziran ini adalah salah seorang alumni Al Jami’ah Al Islamiyyah itu sendiri, dan tahziran ini ia ucapkan tak lama dari kelulusannya dari Universitas tersebut. Kenyataan pahit ini, menjadikan sebagian orang bertanya-tanya: sebenarnya  tahzir itu apa? Apakah benar tahzir itu merupakan tuntutan dan bagian dari dakwah salaf, ataukah hanya sekedar tumbal seorang da’i yang sedang mencari sensasi, seperti dalam pepatah arab: (خالف تعرف/tampillah beda, niscaya engkau akan terkenal).

Dan diantara salah satu bentuk penyelewengan yang pernah terjadi ialah adanya seorang da’i yang mentahzir orang lain, dengan ucapannya: “fulan itu tukang macul (nyangkul)”. Subhanallah, layakkah suatu pekerjaan yang mulia dan halal dijadikan sebagai bahan memperolok-olokan orang lain, bahkan bahan untuk mentahzir seorang da’i?!

Karena kerancuan berfikir sebagian da’i tentang masalah ini, sehingga bila kita membaca daftar ustadz-ustadz yang ditahzir (harus dijauhi dan diwapadai) niscaya kita dapatkan bahwa alasan dimasukkannya mereka kedalam daftar tersebut hanyalah dakwaan: fulan adalah link/jaringan yayasan tertentu, atau berkawan dengan orang tertentu. Seakan-akan kesalahan yayasan tersebut atau orang tersebut merupakan suatu hal yang tidak dapat dipungkiri lagi, bak iblis atau Abu Jahel, atau Jahem bin Shofwan, tokoh ahli bid’ah lainnya, yang nyata-nyata sesat, dan telah disepakati kesesatannya. Ini mengisyaratkan bahwa sebenarnya penulis daftar kelam tersebut kekurangan atau bahkan mungkin tidak memiliki bukti yang autentik tentang kesalahan ustadz-ustadz tersebut (terkecuali sebagian kecil).

Semoga dari sekelumit penjelasan tentang manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah ini, saya mengharapkan para pembaca sedikit mendapatkan kejelasan dan keterangan, sehingga dapat membedakan antara tahzir yang merupakan tuntutan dakwah dari tahzir  yang merupakan tumbal sensasi seorang da’i. Dan semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua dan menjaga kita dari pengaruh godaan hawa nafsu dan berbagai fitnah.

اللهم ربَّ جبرائيلَ وميكائيلَ وإسرافيلَ فاطَر السَّماواتِ والأرضِ، عالمَ الغيبِ والشَّهادة، أنتَ تحْكُمُ بين عِبَادِك فيما كانوا فيه يَخْتَلِفُون، اهْدِنَا لِمَا اخْتُلِفَ فيه من الحق بإِذْنِكَ؛ إنَّك تَهْدِي من تَشَاء إلى صراط مستقيم. وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين. والله أعلم بالصَّواب، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين.

“Ya Allah, Tuhan malaikat Jibril, Mikail, Israfil, Dzat Yang telah Menciptakan langit dan bumi, Yang Mengetahui hal yang gaib dan yang nampak, Engkau mengadili antara hamba-hambamu dalam segala yang mereka perselisihkan. Tunjukilah kami –atas izin-Mu- kepada kebenaran  dalam setiap hal yang diperselisihkan, sesungguhnya Engkau-lah Yang menunjuki orang yang Engkau kehendaki menuju kepada jalan yang lurus. Shalawat dan salam dari Allah semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan seluruh sahabatnya. Dan Allah-lah Yang Lebih Mengetahui kebenaran, dan akhir dari setiap doa kami adalah: “segala puji hanya milik Allah, Tuhan semesta alam”.

Dr. Muhammad Arifin Baderi

Footnote:

[1] ) Tafsir Ibnu Katsir 3/174-175.

[2] ) Bagi yang ingin mendapatkan kejelasan lebih banyak dan lengkap, silahkan baca keterangan Syeikhul Islam Ibnu taimiyyah dalam Majmu’ fatawa jilid 28, dan kitab Mauqif Ahlis Sunnah wal Jama’ah min Ahlil Ahwa’ wal Bida’, oleh Dr Ibrahim bin ‘Amir Ar Ruhaily. Dan tulisan saya ini, saya sarikan dari kedua kitab ini.

[3] ) Majmu’ Fatawa  oleh Ibnu Taimiyyah 28/219.

[4] ) Dinukilkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 10/454.

[5] ) Lihat Majmu’ fatawa oleh Ibnu Taimiyyah 28/231.

[6] ) Riyadhus Shalihin oleh Imam An Nawawy, 529.

[7] ) Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah 28/235.

[8] ) Idem, 28/237-238.

[9] ) Diriwayatkan oleh Ibnu Waddhah dalam kitabnya Al Bida’ wan Nahyu ‘anha, dengan perantaraan kitab Mauqif Ahlis Sunnah, oleh Dr. Ibrahim Ar Ruhaily 2/507.

[10] ) Majmu’ Fatawa oleh Ibnu Taimiyyah 28/220.

[11] ) Al Furuq, oleh Al Qarafy, 4/208.

[12] ) Hilyatul Auliya’, oleh Abu Nu’aim Al Asbahani 10/217.

[13] ) Majmu’ fatawa oleh Ibnu taimiyyah 28/221.

[14] ) Idem, 28/227-228.

 

Sumber: https://arifinbadri.com

 

.

3 Rangkaian Dosa: Buruk Sangka, Tajassus dan Ghibah

3 Rangkaian Dosa: Buruk Sangka, Tajassus dan Ghibah

Allah Ta’ala mengingatkan kita tentang adanya tiga rangkaian dosa yang bisa jadi kita terjatuh di dalamnya tanpa sadar. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujuraat [49]: 12)

Renungkanlah ayat ini, ketika Allah Ta’ala menyebutkan tiga rangkaian dosa, yaitu su’udzan (buruk sangka tanpa dasar), tajassus (berusaha mencari-cari keburukan orang lain) dan ghibah (menggunjingkan orang lain).

Baca Juga: Membicarakan Keburukan Penguasa, Apakah termasuk Ghibah?

Orang yang memiliki sifat suka berburuk sangka kepada orang lain tanpa dasar, maka dia akan berusaha mencari-cari kesalahan dan keburukan saudaranya tersebut untuk mengecek dan membuktikan prasangkanya. Inilah yang disebut dengan tajassus. Sedangkan tajassus itu sendiri adalah pintu awal menuju dosa berikutnya, yaitu ghibah. Karena orang tersebut berusaha untuk menampakkan aib dan keburukan saudaranya yang berhasil dia cari-cari, meskipun dia berhasil mendapatkannya dengan susah payah.

Al-Qasimi rahimahullahu Ta’ala berkata,

“Ketika buah dari su’udzan adalah tajassus, hati seseorang tidak akan merasa puas dengan hanya ber-su’udzan saja. Maka dia akan mencari-cari bukti (aib saudaranya tersebut) dan akan sibuk dengan tajassus. Allah Ta’ala menyebutkan larangan tajassus setelah su’udzan. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), ‘Dan janganlah mencari-cari keburukan orang.’” (Mahaasin At-Ta’wiil, 9: 3690)

Sekali lagi, renungkanlah, ketika su’udzan tersebut diiringi dengan dua dosa besar lainnya, yaitu tajassus dan ghibah. Karena ketika seseorang sudah berburuk sangka kepada saudaranya, dia akan melakukan tajassus, yaitu dia mencari-cari bukti aib dan keburukan saudaranya tersebut untuk membuktikan prasangkanya. Dan jika dia sudah menemukannya, dia akan bersemangat untuk melakukan ghibah, alias menyebarkan keburukan saudaranya tersebut. Inilah urutan yang disebutkan dalam ayat di atas.

Baca Juga: Sikap Orang Beriman Saat Saudaranya Dighibahi

Syaikh ‘Abdurrahman bin Naashir As-Sa’di rahimahullahu Ta’ala berkata,

فإن بقاء ظن السوء بالقلب، لا يقتصر صاحبه على مجرد ذلك، بل لا يزال به، حتى يقول ما لا ينبغي، ويفعل ما لا ينبغي

“Sesungguhnya adanya su’udzan buruk sangka dalam hati tidak akan menyebabkan pelakunya tersebut akan berhenti di situ saja. Akan tetapi, buruk sangka tersebut akan terus-menerus ada sampai pelakunya tersebutberkata dan berbuat yang tidak sepatutnya.” (Taisiir Karimirrahman, hal. 801)

Maksud “berbuat yang tidak sepatutnya” adalah dengan melakukan tajassus, sedangkan maksud “berkata yang tidak sepatutnya” adalah dengan melakukan ghibah. Maka hal ini menjelaskan rahasia kerasnya syariat dalam melarang salah satu akhlak yang buruk ini, yaitu su’udzan (buruk sangka) kepada saudara sesama muslim.

Penulis: M. Saifudin Hakim

 

Referensi:

Disarikan dari kitab Husnudzan bin Naas, karya Syaikh ‘Abdul Malik bin Ahmad Ramadhani hafidzahullahu Ta’ala, hal. 27-28 (penerbit Daar Al-Imam Muslim, cetakan pertama tahun 1433)

Sumber: https://muslim.or.id/

.
Alam Kubur

Alam Kubur

Saudaraku! Anda pernah dengar pemakaman mewah yang dikembangkan oleh perusahaan Lippo Karawaci? Komplek pemakaman mewah itu diberi nama : San Diego Hills Memorial Park And Funeral Homes (SDH). Konon, untuk mengembangkan komplek pemakaman itu, Lippo harus merogoh kocek  dalam-dalam hingga mencapai 10 triliun. Mega Proyek ini “katanya” bertujuan merubah citra pemakaman, yang selama ini dikenal angker. Karenanya, komplek pemakaman ini dilengkapi dengan family center seperti danau seluas 8 hektare, kapel untuk upacara sebelum pemakaman, gedung pertemuan dengan kapasitas 250 kursi, restoran Italia, sarana olah raga seperti kolam renang, jogging track dan lain-lain. Pihak pengembang mengharapkan komplek pemakaman ini menjadi asri dan indah, sehingga dapat mejadi salah satu obyek wisata.

Benarkah dengan berbagai fasilitas mewah itu pemakaman dapat berubah menjadi asri dan indah, terlebih-lebih bagi para penghuninya?

Untuk dapat mengetahui jawabannya, anda haruslah mengetahui apa sebenarnya yang terjadi di alam kubur.

Saudaraku: Bila semasa hidup di dunia anda adalah orang yang beriman dan rajin beramal sholeh, maka setelah ruh anda berpisah dari raga, maka ruh anda akan di bawa ke langit menghadap kepada Allah.

حَتَّى يَنْتَهُوا بِهَا إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَسْتَفْتِحُونَ لَهُ فَيُفْتَحُ لَهُمْ فَيُشَيِّعُهُ مِنْ كُلِّ سَمَاءٍ مُقَرَّبُوهَا إِلَى السَّمَاءِ الَّتِى تَلِيهَا حَتَّى يُنْتَهَى بِهِ إِلَى السَّمَاءِ السَّابِعَةِ فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ اكْتُبُوا كِتَابَ عَبْدِى فِى عِلِّيِّينَ وَأَعِيدُوهُ إِلَى الأَرْضِ فَإِنِّى مِنْهَا خَلَقْتُهُمْ وَفِيهَا أُعِيدُهُمْ وَمِنْهَا أُخْرِجُهُمْ تَارَةً أُخْرَى فَتُعَادُ رُوحُهُ فِى جَسَدِهِ فَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ فَيَقُولاَنَ لَهُ مَنْ رَبُّكَ فَيَقُولُ رَبِّىَ اللَّهُ. فَيَقُولاَنِ لَهُ مَا دِينُكَ فَيَقُولُ دِينِىَ الإِسْلاَمُ. فَيَقُولاَنِ لَهُ مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِى بُعِثَ فِيكُمْ فَيَقُولُ هُوَ رَسُولُ اللَّهِ . فَيَقُولاَنِ لَهُ وَمَا عِلْمُكَ فَيَقُولُ قَرَأْتُ كِتَابَ اللَّهِ فَآمَنْتُ بِهِ وَصَدَّقْتُ . فَيُنَادِى مُنَادٍ فِى السَّمَاءِ أَنْ صَدَقَ عَبْدِى فَأَفْرِشُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ وَأَلْبِسُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ وَافْتَحُوا لَهُ بَاباً إِلَى الْجَنَّةِ – قَالَ – فَيَأْتِيهِ مِنْ رَوْحِهَا وَطِيبِهَا وَيُفْسَحُ لَهُ فِى قَبْرِهِ مَدَّ بَصَرِهِ – قَالَ – وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ حَسَنُ الْوَجْهِ حَسَنُ الثِّيَابِ طَيِّبُ الرِّيحِ فَيَقُولُ أَبْشِرْ بِالَّذِى يَسُرُّكَ هَذَا يَوْمُكَ الَّذِى كُنْتَ تُوعَدُ فَيَقُولُ لَهُ مَنْ أَنْتَ فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِىءُ بِالْخَيْرِ فَيَقُولُ أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ. فَيَقُولُ رَبِّ أَقِمِ السَّاعَةَ حَتَّى أَرْجِعَ إِلَى أَهْلِى وَمَالِى.

Setibanya di langit dunia, maka para malaikat pembawa ruh orang mukmin akan memintakan izin untuknya agar dibukakan pintu langit. Setelah pintu langit dibukakan, maka serta merta para pemuka Malaikat yang menghuni langit dunia akan mengiringi ruh orang mukmin itu menuju ke langit selanjutnya. Demikianlah seterusnya hingga ruhnya tiba di langit ke tujuh. Setibanya ruh orang mukmin itu di langit ke tujuh, Allah Azza wa Jalla akan berfirman kepada para Malaikat: Tuliskanlah catatan amal hamba-Ku di tempat yang tinggi nan mulia. Selanjutnya segera kembalikanlah ruhnya ke bumi, karena darinyalah Aku ciptakan mereka, dan kepadanya Aku kembalikan mereka dan darinya pula Aku bangkitkan mereka. Maka ruh orang mukmin itupun dikembalikan ke jasadnya.

Setelah ruh kembali ke jasad, datanglah dua malaikat , yang akan mendudukkan orang mukmin itu. Dan setelah ia duduk, keduanya bertanya:

Siapakah Tuhanmu?  Maka orang mukminpun menjawab:  Tuhanku adalah Allah.

Keduanya kembali bertanya : Apakah agamamu? Orang mukmin itupun menjawab: Agamaku adalah Islam.

Keduanya kembali bertanya : Siapakah sebenarnya orang yang telah dibangkitkan ditengah-tengah umatmu ? Orang mukmin itupun kembali menjawab: Dia adalah utusan Allah.

Keduanya kembali bertanya : Darimana engkau mengetahui jawabanmu itu? Orang mukmin itupun menjawab: Aku telah mempelajari Kitabullah, selanjutnya aku beriman dan mempercayainya.

Setelah orang mukmin itu menjawab seluruh pertanyaan kedua malaikat itu, terdengar seruan dari langit: ” Hamba-Ku telah menjawab dengar benar, maka hamparkanlah untuknya kasur dari surga, berilah ia pakaian dari surga, dan bukakanlah untuknya pintu menuju ke surga.” Sehingga orang mukmin itupun dapat merasakan hawa sejuk dan harumnya surga. Kuburannya diluaskan sejauh pandangan matanya. Selanjutnya akan datang seorang lelaki rupawan, berpakaian bagus, dan harum baunya yang berkata kepadanya: Bergembiralah dengan sesuatu yang pasti menjadikanmu senang, ini adalah hari yang sebelumnya telah dijanjikan kepadamu.

Menyaksikan lelaki rupawan itu, orang mukmin itupun segera bertanya kepadanya: Siapakah engkau, wajahmu menunjukkan engkau membawa kebaikan?

Lelaki rupawan itupun menjawab: Aku adalah amal sholehmu.

Mengetahui bahwa amal sholehnya telah diterima Allah: Orang mukmin itupun segera berdoa: “Wahai Tuhanku, segera bangkitkanlah hari Qiyamat, agar aku segera dapat berkumpul kembali dengan keluarga dan harta kekayaanku.”

Saudaraku, tentu anda bercita-cita untuk menjadi orang tersebut. Anda dapat menjawab pertanyaan kedua malaikat di alam kubur, sehingga mendapatkan kenikmatan kubur.

Akan tetapi andapun pasti menyadari siapakah sebenarnya jati diri anda? Benarkah anda adalah orang yang seperti disebutkan pada kisah di atas?

Coba sekali lagi anda membaca tanya jawab antara kedua malaikat dengan ruh di atas. Coba renungkan dengan baik tanya-jawab kedua malaikat dengan orang mukmin di atas: Darimana engkau mengetahui jawabanmu itu? Orang mukmin itupun menjawab: Aku telah mempelajari Kitabullah, selanjutnya aku beriman dan mempercayainya.

Benarkah anda telah mengenal Allah, agama islam dan nabi Muhammad r karena anda telah mempelajari Kitabullah? Ataukah anda mengenal ketiganya hanya karena terlahir di masyarakat islam, sedangkan anda tidak bisa membaca Al Qur’an apalagi mengkaji makna dan kandungannya?

Ada baiknya bila saudaraku kembali berpikir! Darimanakah saya mengenal Allah, agama islam dan nabi Muhammad r? Benarkah saya telah mengenal ketiganya karena telah mempelajari Al Qur’an dan kemudian mengimani dan mengamalkan kandungannya?

Jangan-jangan selama ini saudara mengenal ketiganya hanya karena membeo apa kata orang lain! Anda mendengar orang berkata sesuatu tentang ketiganya, lalu andapun menirunya. Bila ini yang terjadi pada diri anda, maka simaklah apa yang akan anda alami di alam kubur:

حَتَّى يُنْتَهَى بِهِ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيُسْتَفْتَحُ لَهُ فَلاَ يُفْتَحُ لَهُ ». ثُمَّ قَرَأَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم ]لاَ تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاء وَلاَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ[  فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: اكْتُبُوا كِتَابَهُ فِى سِجِّينٍ فِى الأَرْضِ السُّفْلَى فَتُطْرَحُ رُوحُهُ طَرْحاً. ثُمَّ قَرَأَ ]وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِى بِهِ الرِّيحُ فِى مَكَانٍ سَحِيقٍ[ « فَتُعَادُ رُوحُهُ فِى جَسَدِهِ وَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ فَيَقُولاَنِ لَهُ مَنْ رَبُّكَ فَيَقُولُ هَاهْ هَاهْ لاَ أَدْرِى. فَيَقُولاَنِ لَهُ مَا دِينُكَ فَيَقُولُ هَاهْ هَاهْ لاَ أَدْرِى. فَيَقُولاَنِ لَهُ مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِى بُعِثَ فِيكُمْ فَيَقُولُ هَاهْ هَاهْ لاَ أَدْرِى.

وفي رواية: لاَ أَدْرِى، كُنْتُ أَقُولُ مَا يَقُولُ النَّاسُ . فَيُقَالُ لاَ دَرَيْتَ وَلاَ تَلَيْتَ . وَيُضْرَبُ بِمَطَارِقَ مِنْ حَدِيدٍ ضَرْبَةً ، فَيَصِيحُ صَيْحَةً يَسْمَعُهَا مَنْ يَلِيهِ ، غَيْرَ الثَّقَلَيْن)، فَيُنَادِى مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ أَنْ كَذَبَ فَافْرِشُوا لَهُ مِنَ النَّارِ وَافْتَحُوا لَهُ بَاباً إِلَى النَّارِ فَيَأْتِيهِ مِنْ حَرِّهَا وَسَمُومِهَا وَيُضَيَّقُ عَلَيْهِ قَبْرُهُ حَتَّى تَخْتَلِفَ فِيهِ أَضْلاَعُهُ. وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ قَبِيحُ الْوَجْهِ قَبِيحُ الثِّيَابِ مُنْتِنُ الرِّيحِ فَيَقُولُ أَبْشِرْ بِالَّذِى يَسُوءُكَ هَذَا يَوْمُكَ الَّذِى كُنْتَ تُوعَدُ. فَيَقُولُ مَنْ أَنْتَ فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِىءُ بِالشَّرِّ فَيَقُولُ أَنَا عَمَلُكَ الْخَبِيثُ فَيَقُولُ رَبِّ لاَ تُقِمِ السَّاعَةَ ).

“Sesampainya di langit dunia, para malaikat pembawa ruh orang jahat itu meminta izin agar pintu langit dibukakan untuknya, akan tetapi pintu langit tidak dibukakan untuknya. Lalu Nabi r membaca firman Allah:

]لاَ تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاء وَلاَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ[

“Tidak akan dibukakan bagi mereka (orang-orang kafir) pintu-pintu langit, dan mereka tidak akan masuk surga, hingga ada unta masuk ke dalam lubang jarum .” (QS. Al-A’raf: 40).

Saat itu Allah Azza wa Jalla berfirman: “Tuliskanlah catatan amal di Sijjin di bumi paling bawah.” Kemudian ruh itu dicampakkan ke bumi dengan keras”. Selanjutnya nabi rkembali membaca firman Allah Ta’ala :

]وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِى بِهِ الرِّيحُ فِى مَكَانٍ سَحِيقٍ[

“Barangsiapa mempersekutukan Allah (dengan sesuatu), maka seolah-olah ia terjatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.”  Al Haj 31

Kemudian ruh orang jahat itu dikembalikan ke jasadnya. Setelah ruhnya kembali ke jasadnya, datanglah dua malaikat yang mendudukannya. Setelah ia duduk kedua malaikat itu bertanya kepadanya:

Siapakah Tuhanmu? Orang jahat itu kebingungan menjawabnya dan berkata : Hah, hah, aku tidak tahu.

Kedua malaikat itu kembali bertanya: Apakah agamamu? Orang jahat itu kembali kebingungan menjawabnya dan berkata: Hah, hah, aku tidak tahu.

Kedua malaikat itupun kembali bertanya: Siapakah sebenarnya orang yang telah dibangkitkan ditengah-tengah umatmu? Kembali orang jahat itu kebingungan menjawabnya, dan lagi-lagi ia berkata: Hah, hah, aku tidak tahu.

Dan pada sebagian riwayat orang jahat itu berkata: Aku tidak tahu, dahulu aku hanya membeo dengan apa yang dikatakan orang lain.

وفي رواية: لاَ أَدْرِى، كُنْتُ أَقُولُ مَا يَقُولُ النَّاسُ . فَيُقَالُ لاَ دَرَيْتَ وَلاَ تَلَيْتَ . وَيُضْرَبُ بِمَطَارِقَ مِنْ حَدِيدٍ ضَرْبَةً ، فَيَصِيحُ صَيْحَةً يَسْمَعُهَا مَنْ يَلِيهِ ، غَيْرَ الثَّقَلَيْنِ

Mendengar jawaban orang jahat itu, kedua malaikat tersebut menghardiknya dengan berkata: Engkau tidak tahu, dan tidak pula pernah membaca (belajar)? Selanjutnya ia dipukul dengan palu dari besi dengan sangat keras, sehingga iapun menjerit kesakitan. Begitu keras jeritannya, sampai-sampai dapat didengar oleh seluruh makhluk disekitarnya selain jin dan manusia.

Selanjutnya, terdengarlah seruan dari langit: “Sungguh Hamba-Ku telah berdusta! Hamparkan untuknya kasur dari api neraka, bukakan untuknya pintu ke neraka. Maka iapun merasakan hawa panas dan bau busuk neraka. Bukan hanya itu, kuburannyapun disempitkan hingga tulang rusuknya tercerai-berai.

Setelah kuburannya menyempit, datanglah seorang lelaki yang buruk raut wajahnya, buruk pakaiannya, dan busuk bau badannya, seraya berkata: Selamat menikmati sesuatu yang menyedihkanmu, inilah hari yang telah dijanjikan kepadamu. Orang jahat itu bertanya: Gerangan, siapakah engkau? Wajahmu menandakan engkau membawa kesialan!” Lelaki itupun menjawab: Aku adalah amal kejahatanmu. Karena menyesali perbuatannya, orang jahat itupun menyeru: Wahai Tuhanku, janganlah Engkau bangkitkan hari kiamat.

Kisah ini saya sarikan dari gabungan riwayat imam Bukhari dan Ahmad.

Saudaraku! Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengisahkan bahwa penduduk Syam bila hewan ternak mereka ditimpa sakit perut , segera mereka membawanya ke pekuburan orang-orang yahudi, atau nasrani atau, Majusi, atau orang-orang munafik para pengikut aliran Ismailiyah atau kebatinan. Yang demikian itu dikarenakan para penghuni kuburan itu disiksa, sehingga mereka menjerit-jerit kesakitan:

(إِنَّهُمْ يُعَذَّبُونَ عَذَابًا تَسْمَعُهُ الْبَهَائِمُ كُلُّهَا) متفق عليه

“Sesungguhnya penghuni kuburan (yang kafir atau jahat-pen) disiksa, dan siksanya itu dapat didengar oleh seluruh binatang ternak.”  Muttafaqun ‘alah.

Karena mendengar siksa penghuni kuburan itulah, hewan penduduk Syam menjadi ketakutan, dan akhirnya badannyapun menjadi panas, dan penyakit perutnyapun sirna. (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah 4/287)

Demikianlah kehidupan penduduk kubur wahai saudaraku! Karena begitu mengerikannya, sampai-sampai pada suatu hari Nabi r bersabda kepada para sahabatnya:

(فَلَوْلاَ أَنْ لاَ تَدَافَنُوا لَدَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُسْمِعَكُمْ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ الَّذِى أَسْمَعُ مِنْهُ) رواه مسلم

“Andailah kalo bukan karena kawatir kalian akan enggan menguburkan saudara kalian yang meninggal dunia, niscaya aku akan memohon kepada Allah agar ia memperdengarkan kepada kalian sebagian dari suara siksa alam kubur sebagaimana yang aku dengar.”  Riwayat Muslim.

Saudaraku, coba kembali anda mencermati jawaban orang jahat di atas terhadap pertanyan malaikat: Aku tidak tahu, dahulu aku hanya membeo dengan apa yang dikatakan orang lain.

Saudaraku! Karena dasar apakah anda beriman kepada Allah, beragama Islam dan mengamalkan ajaran Nabi Muhammad? Apakah saudara melakukan itu semua berdasarkan ilmu yang saudara peroleh dari mempelajari Al Qur’an, ataukah hanya sekedar ikut-ikutan dengan ucapan orang tua dan masyarakat sekitar? Hanya anda yang mengetahui jawabannya.

Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita semua dan juga karib kerabat kita termasuk dari orang-orang yang menjawab pertanyaan malaikat di alam kubur sebagaimana yang diucapkan oleh orang pertama dan bukan yang diucapkan oleh orang kedua.

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ ، وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ. آمين

“Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari azab kubur, dan azab neraka. Sebagaimana aku juga berlindung kepadamu dari godaan kehidupan dunia dan kematian serta dari godaan Al Masih Ad Dajjal.” Amiin

.

Optimalkan Ibadah di Bulan Sya’ban

Optimalkan Ibadah di Bulan Sya’ban

Bulan Sya’ban adalah bulan yang terletak setelah bulan Rajab dan sebelum bulan Ramadhan. Bulan ini memiliki banyak keutamaan. Ada juga ibadah-ibadah yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada bulan ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisinya dengan memperbanyak berpuasa di bulan ini sebagai persiapan menghadapi bulan Ramadhan. Bulan ini dinamakan bulan Sya’ban karena di saat penamaan bulan ini banyak orang Arab yang berpencar-pencar mencari air atau berpencar-pencar di gua-gua setelah lepas bulan Rajab. Ibnu Hajar Al-‘Asqalani mengatakan:

وَسُمِّيَ شَعْبَانُ لِتَشَعُّبِهِمْ فِيْ طَلَبِ الْمِيَاهِ أَوْ فِيْ الْغَارَاتِ بَعْدَ أَنْ يَخْرُجَ شَهْرُ رَجَبِ الْحَرَامِ وَهَذَا أَوْلَى مِنَ الَّذِيْ قَبْلَهُ وَقِيْلَ فِيْهِ غُيْرُ ذلِكَ.

“Dinamakan Sya’ban karena mereka berpencar-pencar mencari air atau di dalam gua-gua setelah bulan Rajab Al-Haram. Sebab penamaan ini lebih baik dari yang disebutkan sebelumnya. Dan disebutkan sebab lainnya dari yang telah disebutkan.”1

Adapun hadits yang berbunyi:

إنَّمَا سُمّي شَعْبانَ لأنهُ يَتَشَعَّبُ فِيْهِ خَيْرٌ كثِيرٌ لِلصَّائِمِ فيه حتى يَدْخُلَ الجَنَّةَ.

Sesungguhnya bulan Sya’ban dinamakan Sya’ban karena di dalamnya bercabang kebaikan yang sangat banyak untuk orang yang berpuasa pada bulan itu sampai dia masuk ke dalam surga.”2

Hadits tersebut tidak benar berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Banyak orang menyepelekan bulan ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan hal tersebut di dalam hadits berikut:

عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنَ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ، قَالَ: ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ.

Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhuma bahwasanya dia berkata, “Ya Rasulullah! Saya tidak pernah melihat engkau berpuasa dalam satu bulan di banding bulan-bulan lain seperti engkau berpuasa di bulan Sya’ban ?” Beliau menjawab, “Itu adalah bulan yang banyak manusia melalaikannya, terletak antara bulan Rajab dan Ramadhan. Dia adalah bulan amalan-amalan di angkat menuju Rabb semesta alam. Dan saya suka jika amalanku diangkat dalam keadaan saya sedang berpuasa”.3

Amalan-amalan apa yang disyariatkan pada bulan ini?

Ada beberapa amalan yang biasa dilakukan oleh Rasulullah dan para as-salafush-shalih pada bulan ini. Amalan-amalan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Memperbanyak puasa

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperbanyak puasa pada bulan ini tidak seperti beliau berpuasa pada bulan-bulan yang lain.

عَنْ عَائِشَةَ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا- قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يَصُومُ, فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha bahwasanya dia berkata, “Dulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa sampai kami mengatakan bahwa beliau tidak berbuka, dan berbuka sampai kami mengatakan bahwa beliau tidak berpuasa. Dan saya tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyempurnakan puasa dalam sebulan kecuali di bulan Ramadhan. Dan saya tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada bulan Sya’ban.”4

Begitu pula istri beliau Ummu Salamah radhiallahu ‘anha mengatakan:

مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يَصُومُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ إِلاَّ شَعْبَانَ وَرَمَضَانَ.

“Saya tidak pernah mendapatkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa dua bulan berturut-turut kecuali bulan Sya’ban dan Ramadhan.”5

Ini menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hampir berpuasa Sya’ban seluruhnya. Para ulama menyebutkan bahwa puasa di bulan Sya’ban meskipun dia hanya puasa sunnah, tetapi memiliki peran penting untuk menutupi kekurangan puasa wajib di bulan Ramadhan. Seperti shalat fardhu, shalat fardhu memiliki shalat sunnah rawatib, yaitu: qabliyah dan ba’diyah. Shalat-shalat tersebut bisa menutupi kekurangan shalat fardhu yang dikerjakan. Sama halnya dengan puasa Ramadhan, dia memiliki puasa sunnah di bulan Sya’ban dan puasa sunnah enam hari di bulan Syawwal. Orang yang memulai puasa di bulan Sya’ban insya Allah tidak terlalu kesusahan menghadapi bulan Ramadhan.

2. Membaca Al-Qur’an

Membaca Al-Qur’an mulai diperbanyak dari awal bulan Sya’ban , sehingga ketika menghadapi bulan Ramadhan, seorang muslim akan bisa menambah lebih banyak lagi bacaan Al-Qur’an-nya. Salamah bin Kuhail rahimahullah berkata:

كَانَ يُقَالُ شَهْرُ شَعْبَانَ شَهْرُ الْقُرَّاءِ

“Dulu dikatakan bahwa bulan Sya’ban adalah bulan para qurra’ (pembaca Al-Qur’an).” Begitu pula yang dilakukan oleh ‘Amr bin Qais rahimahullah apabila beliau memasuki bulan Sya’ban beliau menutup tokonya dan mengosongkan dirinya untuk membaca Al-Qur’an.6

3. Mengerjakan amalan-amalan shalih

Seluruh amalan shalih disunnahkan dikerjakan di setiap waktu. Untuk menghadapi bulan Ramadhan para ulama terdahulu membiasakan amalan-amalan shalih semenjak datangnya bulan Sya’ban , sehingga mereka sudah terlatih untuk menambahkan amalan-amalan mereka ketika di bulan Ramadhan. Abu Bakr Al-Balkhi rahimahullah pernah mengatakan:

شَهْرُ رَجَب شَهْرُ الزَّرْعِ، وَشَهْرُ شَعْبَانَ شَهْرُ سُقْيِ الزَّرْعِ، وَشَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرُ حَصَادِ الزَّرْعِ.

“Bulan Rajab adalah bulan menanam, bulan Sya’ban adalah bulan menyirami tanaman dan bulan Sya’ban adalah bulan memanen tanaman.” Dan dia juga mengatakan:

مَثَلُ شَهْرِ رَجَبٍ كَالرِّيْحِ، وَمَثُل شَعْبَانَ مَثَلُ الْغَيْمِ، وَمَثَلُ رَمَضَانَ مَثَلُ اْلمطَرِ، وَمَنْ لَمْ يَزْرَعْ وَيَغْرِسْ فِيْ رَجَبٍ، وَلَمْ يَسْقِ فِيْ شَعْبَانَ فَكَيْفَ يُرِيْدُ أَنْ يَحْصِدَ فِيْ رَمَضَانَ.

“Perumpamaan bulan Rajab adalah seperti angin, bulan Sya’ban seperti awan yang membawa hujan dan bulan Ramadhan seperti hujan. Barang siapa yang tidak menanam di bulan Rajab dan tidak menyiraminya di bulan Sya’ban bagaimana mungkin dia memanen hasilnya di bulan Ramadhan.”7

4. Menjauhi perbuatan syirik dan permusuhan di antara kaum muslimin

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala akan mengampuni orang-orang yang tidak berbuat syirik dan orang-orang yang tidak memiliki permusuhan dengan saudara seagamanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَيَطَّلِعُ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ, فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ, إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ.

Sesungguhnya Allah muncul di malam pertengahan bulan Sya’ban dan mengampuni seluruh makhluknya kecuali orang musyrik dan musyahin.”8

Musyahin adalah orang yang memiliki permusuhan dengan saudaranya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga secara khusus tentang orang yang memiliki permusuhan dengan saudara seagamanya:

تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلاَّ رَجُلاً كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ فَيُقَالُ أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا.

Pintu-pintu surga dibuka setiap hari Senin dan Kamis dan akan diampuni seluruh hamba kecuali orang yang berbuat syirik kepada Allah, dikecualikan lagi orang yang memiliki permusuhan antara dia dengan saudaranya. Kemudian dikatakan, ‘Tangguhkanlah kedua orang ini sampai keduanya berdamai. Tangguhkanlah kedua orang ini sampai keduanya berdamai. Tangguhkanlah kedua orang ini sampai keduanya berdamai’9

Oleh karena itu sudah sepantasnya kita menjauhi segala bentuk kesyirikan baik yang kecil maupun yang besar, begitu juga kita menjauhi segala bentuk permusuhan dengan teman-teman muslim kita.

5. Bagaimana hukum menghidupkan malam pertengahan bulan Sya’ban?

Pada hadits di atas telah disebutkan keutamaan malam pertengahan bulan Sya’ban. Apakah di-sunnah-kan menghidupkan malam tersebut dengan ibadah? Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan:

وَصَلَاةُ الرَّغَائِبِ بِدْعَةٌ مُحْدَثَةٌ لَمْ يُصَلِّهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا أَحَدٌ مِنْ السَّلَفِ، وَأَمَّا لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَفِيهَا فَضْلٌ، وَكَانَ فِي السَّلَفِ مَنْ يُصَلِّي فِيهَا، لَكِنَّ الِاجْتِمَاعَ فِيهَا لِإِحْيَائِهَا فِي الْمَسَاجِدِ بِدْعَةٌ وَكَذَلِكَ الصَّلَاةُ الْأَلْفِيَّةُ.

“Dan shalat Raghaib adalah bid’ah yang diada-adakan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah shalat seperti itu dan tidak ada seorang pun dari salaf melakukannya. Adapun malam pertengahan di bulan Sya’ban, di dalamnya terdapat keutamaan, dulu di antara kaum salaf (orang yang terdahulu) ada yang shalat di malam tersebut. Akan tetapi, berkumpul-kumpul di malam tersebut untuk menghidupkan masjid-masjid adalah bid’ah, begitu pula dengan shalat alfiyah.”10

Jumhur ulama memandang sunnah menghidupkan malam pertengahan di bulan Sya’ban dengan berbagai macam ibadah. Tetapi hal tersebut tidak dilakukan secara berjamaah.11 Sebagian ulama memandang tidak ada keutamaan ibadah khusus pada malam tersebut, karena tidak dinukil dalam hadits yang shahih atau hasan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau pernah menyuruh untuk beribadah secara khusus pada malam tersebut. Hadits yang berbicara tentang hal tersebut lemah.

6. Bagaimana hukum shalat alfiyah dan shalat raghaib di malam pertengahan bulan Sya’ban ?

Tidak ada satu pun dalil yang shahih yang menyebutkan keutamaan shalat malam atau shalat sunnah di pertengahan malam di bulan Sya’ban . Baik yang disebut shalat alfiyah (seribu rakaat), dan shalat raghaib (12 rakaat). Mengkhususkan malam tersebut dengan ibadah-ibadah tersebut adalah perbuatan bid’ah. Sehingga kita harus menjauhinya. Apalagi yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin. Mereka berkumpul di masjid, beramai-ramai merayakannya, maka hal tersebut tidak diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Imam An-Nawawi mengatakan tentang shalat Ar-Raghaib yang dilakukan pada Jumat pertama di bulan Rajab dan malam pertengahan bulan Sya’ban :

وَهَاتَانِ الصَّلاَتَانِ بِدْعَتَانِ مَذْمُومَتَانِ مُنْكَرَتَانِ قَبِيحَتَانِ ، وَلاَ تَغْتَرَّ بِذِكْرِهِمَا فِي كِتَابِ قُوتِ الْقُلُوبِ وَالإْحْيَاءِ

“Kedua shalat ini adalah bid’ah yang tercela, yang mungkar dan buruk. Janganlah kamu tertipu dengan penyebutan kedua shalat itu di kitab ‘Quutul-Qulub’ dan ‘Al-Ihya’’.”12

7. Bagaimana hukum berpuasa di pertengahan bulan Sya’ban ?

Mengkhususkan puasa di siang pertengahan bulan Sya’ban tidak dianjurkan untuk mengerjakannya. Bahkan sebagian ulama menghukumi hal tersebut bid’ah. Adapun hadits yang berbunyi:

إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا نَهَارَهَا.

Apabila malam pertengahan bulan Sya’ban, maka hidupkanlah malamnya dan berpuasalah di siang harinya.”13

Maka hadits tersebut adalah hadits yang palsu (maudhu’), sehingga tidak bisa dijadikan dalil. Akan tetapi, jika kita ingin berpuasa pada hari itu karena keumuman hadits tentang sunnah-nya berpuasa di bulan Sya’ban atau karena dia termasuk puasa di hari-hari biidh (ayyaamul-biid/puasa tanggal 13, 14 dan 15 setiap bulan hijriyah), maka hal tersebut tidak mengapa. Yang diingkari adalah pengkhususannya saja. Demikian beberapa ibadah yang bisa penulis sebutkan pada artikel ini. Mudahan kita bisa mengoptimalkan latihan kita di bulan Sya’ban untuk bisa memaksimalkan ibadah kita di bulan Ramadhan. Mudahan bermanfaat. Amin. ***

Footnotes

[1] Fathul-Bari (IV/213), Bab Shaumi Sya’ban.

[2] HR Ar-Rafi’i dalam Tarikh-nya dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu. Syaikh Al-Albani mengatakan, “Maudhu’, ” dalam Dha’if Al-Jami’ Ash-Shaghir no. 2061.

[3] HR An-Nasai no. 2357. Syaikh Al-Albani menghasankannya dalam Shahih Sunan An-Nasai.

[4] HR Al-Bukhari no. 1969 dan Muslim 1156/2721.

[5] HR An-Nasai no. 2175 dan At-Tirmidzi no. 736. Di-shahih-kan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan An-Nasai.

[6] Lihat: Lathaiful-Ma’arif libni Rajab Al-Hanbali hal. 138.

[7] Lihat: Lathaiful-Ma’arif libni Rajab Al-Hanbali hal. 130.

[8] HR Ibnu Majah no. 1390. Di-shahih-kan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibni Majah.

[9] HR Muslim no. 2565/6544.

[10] Al-Fatawa Al-Kubra (V/344).

[11] Lihat: Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah (XXXIV/123).

[12] Al-Majmu’ lin-Nawawi (XXII/272). [13] HR Ibnu Majah no. 1388. Syaikh Al-Albani mengatakan, “Sanadnya Maudhu’,” dalam Adh-Dha’ifah no. 2132.

Daftar Pustaka
  1. Al-Khulashah fi Syarhil-Khamsiin Asy-Syamiyah. ‘Ali bin Nayif Asy-syahud. Darul-Ma’mur.
  2. At-Tibyan li Fadhail wa Munkarat Syahri Sya’ban. Nayif bin Ahmad Al-Hamd.
  3. Sya’ban, Syahrun Yaghfulu ‘anhu Katsir minannas. Abdul-Halim Tumiyat. www.nebrasselhaq.com
  4. Dan sumber-sumber lain yang sebagian besar telah dicantumkan di footnotes.

Penulis: Ustadz Said Yai Ardiansyah, Lc., M.A.

Sumber: Muslim.Or.Id

Sucikan Jiwamu Dengan Berwudlu

Sucikan Jiwamu Dengan Berwudlu

Sering kali kita menyaksikan tanda-tanda keesaan Allah. Sudah berapa kali kita mendapatkan teguran dari Allah, melalui musibah, penyakit dan lainnya?!. Betapa banyak, kita membaca ayat-ayat Allah?! Akan tetapi, mengapa hati kita tidak tergetarkan oleh itu semua?!. Bahkan kita tetap merasa tidak terpanggil untuk kembali kepada Allah. Tidakkah kita berpikir walau sejenak: mengepa hati kita sedemikian keras?! Mengapa jiwa kita sedemikian kaku?! Bukankah Allah Ta’ala telah berfirman:

فَوَيْلٌ لِّلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكْرِ اللَّهِ أُوْلَئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ {22} اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاء وَمَن يُضْلِلْ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

“Maka kecelakaan yang besar teruntuk orang-orang yang hatinya telah membatu untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik, (yaitu) Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang. Gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhan-nya, kemudian menjadi lunak/ tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Ia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun yang dapat memberinya petunjuk.” Az Zumar 23.

Ibnu Katsir berkata: “Inilah kriteria orang-orang yang baik ketika mendengar firman Allah Yang Maha Perkasa, Maha Menguasai, Maha Mulia lagi Maha Pengampun. Ini terjadi karena mereka dapat memahami berbagai janji dan ancaman yang terkandung di dalamnya. Kulit mereka menjadi tergetar, karena merasa takut.”([1])

Bukan hanya itu, kita juga sering kali merasakan mudah untuk tergoda dan terjerumus dalam kubangan maksiat. Seakan-akan kita tak kuasa untuk menahan diri darinya, sampai-sampai kita sering berkata: berat bagi saya untuk meninggalkan pacaran, melirik wanita, merokok, makan riba dst.

Tahukan, wahai saudaraku, bahwa ini semua adalah dampak langsung dari jiwa kita yang telah kaku, dan dipenuhi oleh noda-noda.

Pada suatu hari ada seorang pemuda yang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan sepontan ia berkata: Wahai Rasulullah! Izinkanlah aku untuk berzina,”! Menyikapi pemuda ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersikap arif, beliau tidak berang atau murka. Beliau jelaskan kepadanya tentang kedudukan zina, selanjutnya berliau r meletakkan tangannya di dada pemuda tersebut, dan berdoa:

اللهم اغفر ذنبه وطهر قلبه وحصن فرجه . فلم يكن بعد ذلك الفتى يلتفت إلى شيء. رواه أحمد والطبراني والبيهقي وصححه الألباني

. “Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan jagalah kemaluannya.” Maka semenjak hari itu, pemuda tersebut tidak pernah menoleh ke sesuatu hal (tidak pernah memiliki keinginan untuk berbuat serong). ” Riwayat Ahmad, At Thabrani, Al Baihaqy dan dishahihkan oleh Al Albany.

Dari hadits ini, kita dapat simpulkan bahwa yang menjadikan pemuda tersebut berpikiran dan berkeinginan buruk adalah karena hatinyanya yang kurang suci. Oleh karenanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan agar Allah melimpahkan mensucikan hatinya.

Ini menunjukkan kepada kita betapa besarnya peranan hati yang suci dalam keistiqamahan seseorang.

Dikarenakan sedemikian pentingnya kesucian jiwa, sampai-sampai Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa perlu untuk mengajarkan kepada sahabatnya agar berdoa memohon kesucian jiwa kepada Allah Ta’ala:

اللهم آت نفسي تقواها وزكها أنت خير من زكَّاها. رواه مسلم وغيره

“Ya Allah, limpahkanlah kepada jiwaku ketaqwaan, dan sucikanlah, sesungguhnya Engkau adalah Sebaik-baik Dzat yang mensucikan jiwa.” Riwayat Muslim dll.

Syeikh As Sa’dy berkata: “Kesucian jiwa adalah sarana tercapainya segala kebaikan. Sebagaimana jiwa yang suci merupakan penyeru terbesar kepada setiap ucapan yang baik dan amalan yang benar.” ([2])

Oleh karena itu tidak mengherankan bila Allah Ta’ala berfirman tentang ahlul kitab dan orang-orang munafiq:

أُوْلَـئِكَ الَّذِينَ لَمْ يُرِدِ اللّهُ أَن يُطَهِّرَ قُلُوبَهُمْ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَلَهُمْ فِي الآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Mereka itulah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Bagi mereka kehinaan di dunia dan bagi mereka di akhirat siksa yang besar.” Al Maidah 41.

Berangkat dari ini semua, melalui tulisan ini, saya mengajak saudaraku seiman dan seakidah untuk bersama-sama berjuang menggapai kesucian jiwa. Dan diantara salah metode yang sangat efektif guna mensucikan jiwa adalah dengan berwudlu.

Wudlu, adalah ibadah yang sangat agung, bukan hanya dapat mensucikan raga kita dari najis atau hadats, wudlu juga dapat mensucikan jiwa. Akan tetapi agar, wudlu kita dapat memerankan peranannya yang sebenarnya, ada beberapa hal yang sebelumnya harus kita perhatikan:

Hal Pertama: Sebelum Berwudlu Bersihkan Jiwa Anda Dari Noda Syirik & Kemunafikan.

Dosa syirik, baik syirik akbar atau asghar adalah noda terbesar yang mengotori jiwa manusia. Dan tidak ada yang dapat membersihkan noda syirik dan kemunafikan selain tauhid (mengesakan Allah), dan ikhlas dalam beramal, termasuk ketika berwudlu.

Apalah manfaat kita berwudlu, bila ternyata batin kita ternodai oleh najis yang berupa syirik, riya’, sum’ah, ujub atau kemunafikan?! Walaupun kita berwudlu berjuta-juta kali, akan tetapi bila noda syirik tetap melekat dalam jiwa kita, maka kita tidak akan pernah suci. Oleh karena itu tidak mengherankan bila Allah Ta’ala mengharamkan atas orang-orang yang berjiwa najis untuk memasuki kota Makkah.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ فَلاَ يَقْرَبُواْ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هَـذَا

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini.” At Taubah 28.

Ibnu Katsir berkata: ”Allah Ta’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman dan yang suci agama dan lahirnya, untuk mengusir orang-orang musyrikin yang agamanya adalah najis dari masjid Haram. Dan agar mereka tidak mendekatinya, setelah diturunkannya ayat ini.”([3])

Oleh karena itu, sebelum kita berwudlu, hendaknya kita menata kembali jiwa dan niat kita, sehingga kita dapat menggapai dua kesucian sekaligus; kesucian jiwa dan raga.

Hal Kedua : Wudlu Membebaskan Kita Dari Cengkeraman Syetan.

Syetan senantiasa berjuang dengan segala daya dan upayanya untuk menodai dan menguasai jiwa kita, agar kita tunduk kepada setiap bisikannya? Oleh karena itu, syetan senantiasa menanti kesempatan untuk dapat sampai kepada hati kita.

Oleh karena itu ketika kita sedang tidur, syetan bergegas untuk mencari celah agar dapat menguasai jiwa kita. Diantara cara syetan untuk itu ialah dengan mengikatkan tiga ikatan pada kepada kita, agar kita terlelap tidur dan tidak mudah terjaga ketika dikumandangkan seruan untuk sholat. Sebagaimana syetan juga bersiaga dengan bermalam di dalam hidung kita, menunggu kesempatan untuk dapat masuk ke dalam hati kita.

Diantara metode yang diajarkan islam guna menghadapi makar syetan ini ialah dengan berwudlu.

يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ على قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إذا هو نَامَ ثَلَاثَ عُقَدٍ يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ فَإِنْ اسْتَيْقَظَ فذكر اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ صلى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلاَّ أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلاَنَ متفق عليه

“Syetan senantiasa mengikatkan tiga ikatan di pangkal kepala kalian, bila ia sedang tidur. Syetan menepuk pada setiap ikatan, sambil berkata: malam masih panjang, maka tidurlah. Bila ia terjaga lalu berdzikir kepada Allah, maka satu ikatan akan terurai, dan bila ia berwudlu, maka satu ikatan lagi akan terurai, dan bila ia sholat, maka satu ikatan lagi akan terurai, sehingga ia pada pagi itu akan menjadi bersemangat (energic) dan berjiwa baik, dan bila ia tidak melakukan hal itu, maka jiwanya menjadi buruk dan pemalas.” Muttafaqun ‘alaih.

Pada hadits lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إذا اسْتَيْقَظَ أحدكم من مَنَامِهِ فَلْيَسْتَنْثِرْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فإن الشَّيْطَانَ يَبِيتُ على خَيَاشِيمِهِ متفق عليه

“Bila salah seorang dari kalian terjaga dari tidurnya, maka hendaknya ia memasukkan air ke dalam hidungnya lalu ia mengeluarkannya kembali, karena sesungguhnya syetan bermalam di dalam hidungnya.” Muttafaqun ‘alaih.

Al Qadli ‘Iyadh berkata: “Bisa saja yang dimaksud dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ” sesungguhnya syetan bermalam di dalam hidungnya” adalah benar-benar syetan berada dalam hidungnya. Karena hidung adalah salah satu lubang badan yang dapat menghubungkan ke hati kita, terlebih-lebih tidak ada lubang badan yang tidak bertutup selain hidung dan kedua telinga. Dan dalam hadits disebutkan bahwa syetan tidak dapat membuka sesuatu yang tertutup. Sebagaimana, kita diperintahkan untuk menahan (mulut kita agar tidak terbuka) ketika kita menguap, guna mencegah masuknya syetan melalui mulut kita.”([4])

Hal Ketiga: Wudlu Membersihkan Dosa.

Dosa dan khilaf adalah suatu hal yang sering kita lakukan. Akan tetapi yang jarang kita lakukan adalah menyesali dan bertaubat dari kekhilafan tersebut. Dan setiap perbuatan dosa, baik besar atau kecil, merupakan noda yang mengotori jiwa kita. Bila kita terus menerus melakukan dosa dan tidak bertaubat, lambat lahun jiwa kita akan mati. Dan bila jiwa seseorang telah mati-na’uzubillah min dzalika- , maka ia tidak akan dapat membedakan antara yang baik dan buruk.

إن المؤمن إذا أذنب ذنبا، كانت نكتة سوداء في قلبه، فإن تاب ونزع واستغفر، صقل منها قلبه، فإن عاد رانت، حتى يغلق بها قلبه، فذاك الذي ذكر الله عز وجل في كتابه كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا يَكْسِبُونَ رواه أحمد والترمذي والحاكم والبيهقي وحسنه الألباني

“Sesunggunya bila seorang mukmi melakukan suatu dosa, maka dosa itu menjadi satu titik hitam di hatinya. Bila ia bertaubat, berhenti dan beristrighfar, maka hatinya akn kembali cemerlang. Akan tetapi bila ia mengulanng kembali, maka hatinya akan berkerak, hingga (suatu saat hatinya akan tetutup dengannya. Itulah yang Allah Azza wa Jalla sebutkan dalam kitab-Nya: “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu telah menutup hati mereka.” Riwayat Ahmad, At Tirmizy, Al Hakim, Al Baihaqy dan dihasankan oleh Al Albani.

Demikianlah halnya dosa-dosa yang sering kita lakukan, dan demikianlah peranan taubat dan istighfar dalam menjaga kesucian jiwa kita. Walau demikian, ternyata bukan hanya istighfar saja yang dapat menjaga kebersihan jiwa kita dari noda dosa. Terdapat banyak hal yang dapat berfungsi membersihkan jiwa kita dari noda-noda kemaksiatan, diantaranya ialah wudlu.

ما مِنْكُمْ رَجُلٌ يُقَرِّبُ وَضُوءَهُ فَيَتَمَضْمَضُ وَيَسْتَنْشِقُ فَيَنْتَثِرُ إلا خَرَّتْ خَطَايَا وَجْهِهِ وَفِيهِ وَخَيَاشِيمِهِ، ثُمَّ إذا غَسَلَ وَجْهَهُ كما أَمَرَهُ الله إلا خَرَّتْ خَطَايَا وَجْهِهِ من أَطْرَافِ لِحْيَتِهِ مع الْمَاءِ، ثُمَّ يَغْسِلُ يَدَيْهِ إلى الْمِرْفَقَيْنِ إلا خَرَّتْ خَطَايَا يَدَيْهِ من أَنَامِلِهِ مع الْمَاءِ، ثُمَّ يَمْسَحُ رَأْسَهُ إلا خَرَّتْ خَطَايَا رَأْسِهِ من أَطْرَافِ شَعْرِهِ مع الْمَاءِ، ثُمَّ يَغْسِلُ قَدَمَيْهِ إلى الْكَعْبَيْنِ إلا خَرَّتْ خَطَايَا رِجْلَيْهِ من أَنَامِلِهِ مع الْمَاءِ. فَإِنْ هو قام فَصَلَّى فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عليه وَمَجَّدَهُ بِالَّذِي هو له أَهْلٌ وَفَرَّغَ قَلْبَهُ لِلَّهِ إلا انْصَرَفَ من خَطِيئَتِهِ كَهَيْئَتِهِ يوم وَلَدَتْهُ أُمُّهُ رواه مسلم

“Tidaklah ada seseorang dari kalian yang mengambil air wudlunya, kemudian ia berkumur-kumur, memasukkan air ke hidung lalu mengeluarkannya kembali, melainkan dosa-dosa wajah, mulut dan hidungnya akan berguguran bersama. Kemudian bila ia membasuh wajahnya sebagaimana yang Allah perintahkan, maka dosa-dosa wajahnya akan berguguran melalui ujung jenggotnya bersama tetesan air. Kemudian bila ia membasuh kedua tangan hingga kedua sikunya, maka kesalahan tangannya akan berguguran melalui ujung jemarinya bersama tetesan air. Kemudian bila ia mengusap kepalanya, maka kesalahan kepalanya akan berguguran melalui ujung rambutnya bersama tetesan air. Kemudian bila ia membasuh kedua kaki hingga kedua mata kakinya, maka dosa kakinya akan berguguran melaui ujung jemari kakinya bersama tetesan air. Lalu bila ia bangun dan sholat, dan ketika ia sholat ia memuji Allah, menyanjung, dan mengagung-Nya dengan pujian yang sesuai dengan Allah, serta ia mengosongkan seluruh hatinya untuk Allah (khusu’), melainkan ia akan terbebas dari dosanya, seperti tatkala ia dilahirkan oleh ibunya.” Riwayat Muslim/.

Demikianlah peranan wudlu dalam membersihkan noda-noda kemaksiatan yang dapat mengotori jiwa kita. Andai kata, ketika hendak berwudlu, terlebih dahulu kita bertaubat dari segala dosa, niscaya peranan wudlu dalam membersihkan jiwa kita akan lebih sempurna.

Hal Keempat : Berkesempatan Minum Dari Telaga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Setiap kita pasti mendambakan untuk mendapatkan syafa’at nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkesempatan minum dari telaga beliau. Dan pada saat itu, Nabi r tidak akan mengizinkan kepada selain umatnya untuk minum dari telaga tersebut. Ini adalah suatu kebanggaan bagi umat Islam.

Pernahkan anda berpikir, bagaimanakah caranya agar anda dapat dikenali oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga diizinkan oleh beliau untuk minum dari telaganya? Padahal seluruh manusia dan jin dari zaman nabi Adam ‘alaihissalaam hingga manusia terakhir dikumpulkan di tempat yang sama?

Saudaraku, tidakkah anda ingin tahu bagaimana caranya agar dapat dikenal oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Bila anda benar-benar menginginkannya, maka simaklah sabda Nabi r berikut:

إِنَّ حَوْضِي أَبْعَدُ من آيلة من عَدَنٍ لَهُوَ أَشَدُّ بَيَاضًا من الثَّلْجِ وَأَحْلَى من الْعَسَلِ بِاللَّبَنِ وَلَآنِيَتُهُ أَكْثَرُ من عَدَدِ النُّجُومِ وَإِنِّي لَأَصُدُّ الناس عنه كما يَصُدُّ الرَّجُلُ إِبِلَ الناس عن حَوْضِهِ قالوا يا رَسُولَ اللَّهِ: أَتَعْرِفُنَا يَوْمَئِذٍ؟ قال: نعم، لَكُمْ سِيما لَيْسَتْ لأَحَدٍ من الأُمَمِ تَرِدُونَ عَلَيَّ غُرًّا مُحَجَّلِينَ من أَثَرِ الْوُضُوء. رواه مسلم

“Sesungguhnya telagaku lebih luas dibanding jarak antara Ailah (terletak diperbatasan antara Mesir dan Syam/Palestina) dengan kota Aden (Yaman). Telagaku lebih putih dibanding salju, lebih manis dibanding madu yang dicampur dengan susu. Bejananya lebih banyak dibanding jumlahnya bintang. Dan aku akan menghalang-halangi orang lain, layaknya seseorang yang menghalang-halangi onta orang lain (agar tidak minum) dari telaganya. Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah! Apakah kala itu engkau dapat mengenali kami ? Beliau menjawab: Ya, kalian memiliki pertanda yang tidak dimiliki oleh siapapun dari umat-umat lain. Kalian datang kepadaku dalam keadaan dahi, kedua tangan dan kedua kaki kalian bercaha dari bekas berwudlu.” Riwayat Muslim.

Hal Kelima : Tinggikan Derajat Anda Dengan Berwudlu.

Orang-orang yang mendapatkan kedudukan tinggi di sisi Allah adalah orang-orang yang telah berhasil merealisasikan iman dalam jiwa dan raganya. Sehingga tidaklah ia berperilaku dan bertutur kata melainkan dengan hal-hal yang diridlai Allah, yang semua itu merupakan cerminan dari kesucian jiwanya.

وَمَنْ يَأْتِهِ مُؤْمِنًا قَدْ عَمِلَ الصَّالِحَاتِ فَأُوْلَئِكَ لَهُمُ الدَّرَجَاتُ الْعُلَى {75} جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ جَزَاء مَن تَزَكَّى

“Sesungguhnya barang siapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman lagi sungguh-sungguh telah beramal shaleh, maka mereka itu orang-orang yang memperoleh derajat-derajat yang tinggi (mulia). (Yaitu) surga ‘Aden yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan itu adalah balasan bagi orang-orang yang telah mensucikan dirinya (dari kekafiran dan kemaksiatan). Thoha 75-76.

Bila kita membaca ayat ini, niscaya berkobar harapan untuk dapat menggapai kedudukan yang tinggi nan mulia di sisi Allah, yang berupa surga ‘Aden, tempat tinggal orang-orang yang telah mensucikan diri mereka.

Saudaraku! Tahukan engkau, bahwa wudlu adalah salah satu hal yang dapat menghantarkan kita kepada derajat yang tinggi nan mulia di sisi Allah?!

Sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(ألا أَدُلُّكُمْ على ما يَمْحُو الله بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟) قالوا: بَلَى يا رَسُولَ اللَّهِ. قال (إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ على الْمَكَارِهِ وَكَثْرَةُ الْخُطَا إلى الْمَسَاجِدِ وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَذَلِكُمْ الرِّبَاطُ)

“Sudikah kalian aku tunjukkan kepada suatu hal yang dengannya Allah akan menghapuskan dosa-dosa dan meninggikan derajat?” Spontan para sahabat menjawab: Tentu Ya Rasulullah!. Rasulullah bersabda: “Menyempurnakan wudlu walau dalam keadaan susah (karena dingin, atau panas atau sakit atau lainnya-pen), banyak melangkahkan kai ke masjid , menantikan (datangnya waktu sholat) selepas menunaikan sholat, maka itu adalah berjaga-jaga (di jalan Allah), maka itu adalah berjaga-jaga (di jalan Allah)”. Riwayat Muslim.

Bila kita telah memahami kelima kiat diatas, mungkin kita akan lebih mudah untuk memahami sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut:

من تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ قال: أَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إلا الله وَحْدَهُ لا شَرِيكَ له وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللهم اجْعَلْنِي من التَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنِي من الْمُتَطَهِّرِينَ، فُتِحَتْ له ثَمَانِيَةُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ يَدْخُلُ من أَيِّهَا شَاءَ

“Barang siapa yang berwudlu, dan ia menyempurnakan wudlunya, lalu ia berdoa: “Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang layak untuk diibadahi selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bersuci” niscaya akan dibukakan untuknya kedelapan pintu surga (semuanya), dan ia dipersilahkan untuk masuk dari pintu manupun yang ia kehendaki”. Riwayat At Tirmizyi dan dishahihkan oleh Al Albany.

Al Mubarakfuri berkata: “Dikarenakan taubat itu adalah kesucian batin dari noda-noda dosa, sedangkan wudlu adalah kesucian lahir dari hadats-hadats yang menghalangi seseorang dari mendekatkan dirinya kepada Allah Ta’ala, maka sangat tepat bila orang yang berwudlu menggabungkan keduanya dalam doa.”([5])

Saudaraku seiman dan seakidah! Andai setiap berwudlu, kita menghadirkan berbagai hikmah dan pelajaran agung di atas, niscaya –atas izin Allah- kesucian jiwa akan mudah kita gapai. Cobalah saudaraku! bila anda hendak berwudlu untuk sholat atau lainnya, hadirkanlah hikmah-hikmah di atas dalam niat (batin) anda, agar anda dapat merasakan betapa indahnya kesucian jiwa.

Semoga, uraian singkat ini bermanfaat bagi saya dan anda semua, dan semoga Allah senantiasa melimpahkan taufiq-Nya kepada kita, sehingga kita dapat mensucikan jiwa kita yang penuh dengan noda dosa dan maksiat. Wallahu a’lam bis showaab.

[1] ) Tafsir Ibnu Katsir 4/51-52.

[2] ) Tafsir As Sa’dy 231.

[3] ) Tafsir Ibnu Katsir 2/347.

[4] ) Syarah Shohih Muslim oleh Imam An Nawawi 3/127.

[5] ) Tuhfatul Ahwazy oleh Al Mubarukfuri 1/150.

Sumber : https://arifinbadri.com

.