Kaidah yang Lagi Viral “Mengambil yang Lebih Ringan Mudharatnya”

Kaidah yang Lagi Viral “Mengambil yang Lebih Ringan Mudharatnya”

Dalam tulisan ini, penulis ingin memberikan sedikit faedah tentang kaidah ini, dan untuk lebih mudah memahaminya, penulis akan jabarkan dalam beberapa poin berikut ini:

Pertama:

Dalam bahasa arab, ada banyak redaksi utk kaidah ini, diantaranya:

الضرر الأشد يزال بالضرر الأخف

– Mudharat yang lebih berat, harus dihilangkan dengan melakukan yang mudharat yang lebih ringan

يختار أخفَّ الضررين

– Yang harusnya dipilih adalah mudharat yang lebih ringan

يختار أهونَ الشرين

– Yang harusnya dipilih adalah keburukan yang lebih ringan

إذا اجتمع الضرران أسقط الأكبر للأصغر

– Jika ada dua mudharat yang berkumpul, maka yang lebih besar harus digugurkan, untuk melakukan yang lebih kecil.

تحتمل أخف المفسدتين لدفع أعظمهما

– Mafsadat yang lebih ringan harus dijalani untuk menolak mafsadat yang lebih besar.

إذا تعارض مفسدتان رُوعي أعظمُهما ضررًا بارتكاب أخفهما

– Apabila ada dua mafsadat bertentangan, maka yang harus ditinggalkan adalah mafsadat yang mudharatnya lebih besar, dengan melakukan mudharat yang lebih ringan.

إذا تزاحمت المفاسد، واضطر إلى فعل أحدها، قدم الأخف منها

Jika ada banyak mafsadat berkumpul, dan terpaksa harus melakukan salah satunya, maka yang didahulukan sebagai pilihan adalah mafsadat yang paling ringan.

Baca Juga: Jangan Sembarang Share Berita Dan Wacana Yang Membuat Resah

Kedua:

Kaidah ini adalah bukti nyata kesempurnaan Islam dan betapa besar rahmat yang dibawa oleh Islam. Dalam masalah yang sulit seperti ini pun, Islam masih memberikan solusi yang memudahkan manusia, dan tentunya akan tetap mendatangkan pahala bila niatnya adalah untuk tunduk dan patuh kepada syariat Allah yang menciptakan kita.

Ketiga:

Ada banyak dalil yang menunjukkan benarnya kaidah ini, diantaranya:

1. Firman Allah Ta’ala:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ وَصَدٌّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَكُفْرٌ بِهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِخْرَاجُ أَهْلِهِ مِنْهُ أَكْبَرُ عِنْدَ اللَّهِ وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ

“Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang berperang pada bulan haram. Katakanlah: berperang dalam bulan itu adalah dosa besar. Tetapi menghalangi orang dari jalan Allah, ingkar kepada-Nya, (menghalangi orang masuk) masjidil haram, dan mengusir penduduknya darinya, itu lebih besar dosanya dalam pendangan Allah. Dan tindakan² fitnah tersebut lebih parah daripada pembunuhan”. [Al-Baqarah: 217].

Baca Juga: Hukum Pemilu / Pilpres (1) : Dibolehkan Jika Ada Maslahah

Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa mafsadat yang dilakukan oleh kaum musyrikin berupa: tindakan kufur kepada Allah, menghalangi manusia dari petunjuk Allah, mengusir kaum muslimin dari tanah mekah, ini semua lebih berat dari tindakan kaum muslimin memerangi sebagian kaum musyrikin di bulan haram itu.

Sehingga tindakan memerangi orang-orang kafir di bulan haram saat itu menjadi boleh, karena mafsadatnya lebih ringan daripada mafsadat² yang dilakukan kaum musyrikin terhadap kaum muslimin .. dan kaum muslimin tidaklah melakukan hal itu kecuali agar mafsadat yang lebih besar dari kaum musyrikin tidak terjadi.

2. Firman Allah Ta’ala tentang kisah Nabi Khidir alaihissalam yang melubangi kapal milik orang miskin dan membunuh anak kecil . Kedua tindakan ini dilakukan oleh beliau untuk menghindari mudharat yang lebih besar, yaitu: diambilnya kapal yang masih bagus oleh penguasa yang zalim, dan kufurnya kedua orang tua anak tersebut karena terfitnah oleh anaknya. [Lihat QS Al-Kahfi, ayat: 71-74, dan ayat 79-81, dan kitab Al-qawaid wal ushul A-ljamiah: 150]

3. Firman Allah Ta’ala tentang larangan mencela tuhannya kaum kafir, karena itu menyebabkan mereka mencela Allah Ta’ala [Al-An’am: 108]. Hal ini disebabkan karena mafsadat dicelanya Allah secara zalim itu jauh lebih besar daripada mafsadat tidak dicelanya tuhan-tuhan mereka yang batil itu.

4. Diantara dalil yang menjadi dasar kaidah di atas adalah kisah perjanjian Hudaibiyah, dimana ada beberapa sisi ketidak-adilan yang tampak jelas dalam perjanjian itu. Akan tetapi hal itu tetap diterima dan dipilih oleh Nabi kita shallallahu alaihi wasallam, karena mafsadat tidak menerima perjanjian itu lebih besar, yaitu dengan terancamnya kaum muslimin yang masih berada di mekah dari pembunuhan dan penyiksaan. [Shahih Bukhari: 2731].

Dan terbukti setelah perjanjian itu, tidak hanya kaum muslimin yang ada di makkah selamat, tapi lebih dari itu perkembangan dakwah beliau semakin cepat dan menguat dimana-mana.

5. Dalil lain yang menunjukkan benarnya kaidah di atas adalah kisah seorang badui yang kencing di masjid Nabi shallallahu alaihi wasallam, kemudian ada sebagian sahabat beliau yang ingin menghentikannya. Maka beliau mengatakan kepada para sahabatnya, “Biarkan dia, dan jangan kalian memutus (kencing)-nya!” Kemudian beliau meminta seember air, lalu beliau menyiram (tempat bekas kencing)-nya. [HR. Muslim 284]

Ini menunjukkan bahwa beliau lebih memilih mudharat yang lebih ringan. Jika orang badui itu dihardik dan dihentikan, maka air kencingnya akan berhamburan di masjid beliau, tentu ini mafsadat yang lebih besar. Oleh karena itu, beliau meninggalkan mafsadat tersebut dengan cara membiarkan mafsadat yang lebih ringan, yaitu:kencing di masjid beliau sampai selesai di satu tempat saja.

Baca Juga: Pelajaran dari Perdebatan Memberikan Suara dalam Pemilu

Keempat:

Sebagian orang mengatakan, bahwa “Kaidah ini hanya berlaku bila keadaannya darurat, ketika keadaannya tidak darurat, maka kaidah ini tidak boleh diterapkan”. Ini adalah kesimpulan yang prematur dan tidak sesuai dengan praktik para ulama dalam menjelaskan kaidah ini.

Tapi yang menjadi syarat kaidah ini adalah “Ketika dua mudharat tidak bisa dihindari semuanya, tapi masih bisa menghindari salah satunya dan tahu mudharat yang lebih ringan, maka itulah yang harusnya dilakukan”.

Ada beberapa bukti yang menunjukkan hal ini, diantaranya:

a. Kenyataan bahwa contoh yang diberikan oleh para ulama dalam kaidah “mengambil mudharat yang lebih ringan”, tidak semuanya sampai pada keadaan darurat. Sehingga bisa kita pahami, bahwa kaidah itu tidak hanya berlaku pada keadaan darurat saja, tapi juga bisa berlaku pada keadaan lain.

b. Kenyataan bahwa kaidah “mengambil mudaharat yang lebih ringan” sering disandingkan dengan kaidah “apabila maslahat dan mafsadat berkumpul, dan maslahatnya lebih besar, maka yang didahulukan adalah maslahatnya”. Karena kaidah ini tidak hanya berlaku ketika keadaan darurat, maka kaidah yang sering disandingkan dengannya pun demikian, tidak hanya berlaku pada keadaan darurat saja.

Di antara contohnya adalah berdakwah lewat video, ada maslahatnya, ada juga mafsadatnya. Akan tetapi kalau kita bandingkan, maka kita akan dapati lebih banyak maslahatnya, sehingga tetap boleh dilakukan.

c. Kenyataan bahwa mudharat atau mafsadah itu bisa terjadi meski keadaannya tidak darurat. Apabila ada dua mudharat atau mafsadat yang tidak bisa kita hindari semuanya, maka yang kita lakukan adalah memilih mudharat atau mafsadat yang lebih ringan.

Perlu diketahui, bahwa keadaan darurat adalah “Sesuatu yang harus ada untuk terciptanya maslahat agama dan dunia. Sehingga bila tidak ada, maka maslahat dunia akan rusak, keadaan kacau, dan terjadi kematian. Sedang di akhirat mendatangkan kerugian nyata dengan tidak mendapatkan surga dan kenikmatan”. [Al-Muwafaqat: 2/8]

Atau lebih simpelnya keadaan darurat adalah “Keadaan yang apabila seseorang tidak melakukan larangan, dia akan mati atau mendekati kematian”. [Al-Mantsur fil Qawaid liz zarkasyi 2/319] atau “Kebutuhan mendesak yang memaksa seseorang melakukan sesuatu yang diharamkan syariat”. [Haqiqatud Dharuratisy Syar’iyyah, lil jizani, hal: 25]

Baca Juga: Sogok Warga Agar Dapat Suara dalam Pemilu

Kelima:

Ada banyak contoh yang disebutkan oleh para ulama dalam penerapan kaidah ini. Kalau kita renungkan, kita akan mendapati bahwa kaidah itu bisa diterapkan pada semua keadaan, baik keadaannya darurat maupun tidak. Yang penting dua mudharat itu tidak bisa dihindari semuanya, dan hanya bisa menghindar dari salah satunya.

Berikut sebagian contoh kaidah ini:

1. Bolehnya mendiamkan kemungkaran, apabila ditakutkan timbul kemungkaran yang lebih besar dengan mengingkarinya, karena mafsadat adanya kemungkaran yang sedang terjadi = lebih ringan daripada mafsadat kemungkaran yang dikhawatirkan. [Alqawaid Alkubra, hal: 532]

2. Apabila cincin berharga seseorang dimakan oleh ayam ternak tetangganya, maka pemilik cincin itu berhak memiliki ayam tersebut dengan membelinya, lalu menyembelihnya untuk mendapatkan kembali cincinnya, karena mafsadat matinya ayam ternak lebih ringan, daripada mafsadat hilangnya cincin berharga. [Alqawaid Alkubra, hal: 532]

3. Seandainya ada orang yang shalat, dia tidak mampu menutup auratnya ketika berdiri. Tetapi bila dia duduk auratnya bisa tertutupi,  maka dia diperintahkan untuk shalat duduk, karena mafsadat tidak berdiri lebih ringan daripada mafsadat tidak menutup aurat dalam shalat. [Alqawaid Alkubra, hal: 532]

4. Boleh bagi produsen atau pemerintah membatasi harga jual suatu produk, padahal membatasi harga jual pada asalnya dilarang dan itu bisa mendatangkan mudharat kepada penjual. Tetapi hal itu menjadi boleh, karena mudharat mahalnya harga yang harus dialami oleh masyarakat umum = lebih besar dan lebih luas efeknya, daripada mudharat yang harus dialami oleh penjual.

5. Apabila ada orang terpaksa harus makan, dan di depannya hanya ada dua bangkai, yang satu bangkai kambing, dan yang satu bangkai anjing, maka yang harus dia pilih adalah bangkai kambing, karena mudharatnya lebih ringan. [Alqawaid Wal Ushul Aljamiah: 86]

6. Barangsiapa terpaksa harus menjimak salah satu dari dua isterinya, tapi yang satunya sedang haid dan yang satunya lagi puasa wajib. Maka yang harus dia pilih adalah isteri yang sedang puasa wajib, karena itu yang mudharatnya lebih ringan, karena puasa wajib boleh dibatalkan untuk kebutuhan orang lain yang mendesak, seperti: karena menyusui, khawatir dengan kesehatan janin, menyelamatkan seseorang dari kebakaran, dst. [Al-qawaid Wal Ushul Al-jamiah: 86]

Baca Juga: Menjadi Sesat Karena Hobi Berdebat Kusir

7. Boleh merusak rumah seseorang yang berada di samping rumah orang lain yang sedang terbakar dengan pertimbangan agar kebakaran tidak menjalar ke banyak rumah yang lainnya, karena rusaknya satu rumah adalah mudharat yang lebih ringan, daripada terbakar dan rusaknya banyak rumah yang lainnya. [Al-qawaid Wal Ushul Al-jamiah, ta’liq Syeikh Utsaimin: 151]

8. Boleh untuk tidak taat kepada kedua orang tua ketika melarang anaknya menunaikan ibadah haji wajib, meskipun itu menjadikan mereka marah, karena mudharat tidak menunaikan kewajiban ibadah haji lebih besar daripada mudharat tidak taat kepada kedua orang tua. Karena mudharat bermaksiat kepada Allah lebih besar daripada mudharat bermaksiat kepada kedua orang tua, maka ada sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam yang artinya: “Tidak boleh taat kepada makhluk, dalam hal bermaksiat kepada sang Khaliq” [Alqawaid Wal Ushul Aljamiah, ta’liq syeikh Utsaimin: 151]

9. Apabila seorang yang sedang ihram terpaksa harus makan, dan di depannya hanya ada dua pilihan, hewan buruan atau bangkai kambing. Maka yang menjadi pilihan adalah hewan buruan, karena memakan hewan buruan bagi dia, mudharatnya lebih ringan. Karena haramnya bangkai itu berkaitan dengan dzatnya, sedangkan haramnya hewan buruan itu bukan karena dzatnya, tapi karena keadaan dia yang sedang ihram. [Alqawaid Wal Ushul Aljamiah, ta’liq syeikh Utsaimin: 152]

10. Boleh berdusta antara suami isteri untuk menjaga keharmonisan dan rasa cinta antara keduanya. Karena mudharat dusta untuk menguatkan tali pernikahan = lebih ringan daripada rusaknya tali suci pernikahan. [Hadits At-Tirmidzi No. 1939, Hadist shahih]

11. Boleh berdusta untuk mendamaikan dua insan yang sama-sama muslim yang sedang tidak rukun. Karena mudharat berdusta untuk mendamaikan keduanya = lebih ringan daripada rusaknya persaudaraan sesama muslim. [Hadits At-Tirmidzi No. 1939, Hadist shahih]

12. Boleh membuka perut ibu hamil yang sudah meninggal, bila diperkirakan janinnya bisa diselamatkan dengan cara itu. Karena mudharat dilukainya tubuh mayit lebih ringan daripada mudharat matinya janin yang ada di rahimnya. [Al-wajiz fil qawaidil fiqhiyyah 261]

13. Seseorang yang dimintai keterangan tentang wanita yang akan dipinang, dia boleh membuka aib wanita itu kepada orang yang ingin meminangnya. Karena mudharat membuka aibnya dalam kondisi seperti ini lebih ringan daripada mudharat salah pilih istri yang akan dialami oleh orang tersebut.

14. Boleh menyebut orang dengan aib yang ada pada jasadnya, jika memang dengan itu kita mudah mengenalkannya kepada orang lain, selama tidak ada niat merendahkan. Padahal itu sebenarnya masuk dalam kategori ghibah, tapi ini dibolehkan, karena memang mudharatnya lebih ringan daripada mudharat sulitnya mengenalkan orang tersebut.

Makanya ada beberapa ulama yang masyhur dengan sebutan yang menunjukkan aib pada tubuhnya, seperti: Al-A’masy (yang matanya kabur), Al-A’raj (yang pincang), Al-Ashamm (yang tuli), Al-A’ma (yang buta), Al-Ahwal (yang juling), dst.

Baca Juga: Inilah Noda Hitam Demokrasi

15. Orang yang memamerkan kemaksiatannya, boleh disebarkan aibnya yang berhubungan dengan kemaksiatan tersebut. Karena mudharat meng-ghibah dia dalam kondisi seperti itu lebih ringan daripada mudharat tertipunya masyarakat umum dengan keadaan dia.

16. Boleh memajang gambar hewan bernyawa seperti burung tertentu atau foto figur tertentu, bila memang tanpa itu keberlangsungan lembaga pendidikan akan terkendala. Karena mudharat memajang gambar hewan bernyawa lebih ringan daripada mudharat terkendalanya kehidupan lembaga pendidikan.

17. Boleh memberikan jalan kepada kelompok-kelompok tertentu untuk mengadakan kajian di masjid fasum, bila tanpa itu kajian ahlussunnah malah akan distop oleh mereka yang mayoritas. Karena mudharat adanya kajian mereka lebih ringan, daripada mudharat distopnya kajian ahlussunnah di masjid fasum tersebut.

18. Boleh menggunakan keberadaan preman, untuk melindungi kegiatan² dakwah, bila tanpa itu kegiatan dakwah tidak bisa berlangsung dengan baik, aman, dan lancar .. karena mafsadat hidupnya preman tersebut yang dibarengi dengan aman dan lancarnya kegiatan dakwah = lebih ringan daripada terhentinya kegiatan dakwah di daerah tersebut.

19. Boleh memandang wanita yang bukan mahram ketika ada niat kuat untuk menikahinya (yakni: dalam syariat nazhar). Karena mudharat melihat wanita yang bukan mahram dalam kondisi seperti itu lebih ringan, daripada mudharat terganggunya akad nikah di kemudian hari apabila dia kurang puas dengan keadaan lahir pasangannya karena tidak nazhar sebelum melakukan akad.

20. Apabila dalam suatu keadaan, kita tidak bisa menghindar dari 2 pilihan buruk, mengorbankan kalung emas 50 gram, atau mengorbankan uang di dompet 5 juta. Maka tentunya kita akan memilih mengorbankan uang 5 juta di dompet, karena mudharatnya lebih ringan daripada mudharat kehilangan kalung emas 50 gram. [Qowaidul Ahkam 1/74]

21. Boleh ikut menyumbangkan suara di pemilu, karena mudharat ikut memilih calon yang lebih baik untuk Islam dan kaum muslimin = lebih ringan daripada mudharat dikuasainya kaum muslimin oleh mereka yang tidak perhatian kepada Islam dan kaum muslimin atau bahkan memusuhi Islam dan kaum muslimin.

Dan masih banyak contoh-contoh yang lainnya. Coba kita renungkan contoh-contoh di atas, apakah semuanya masuk dalam keadaan darurat. Orang yang obyektif dan insaf, akan mengatakan tidak semuanya masuk dalam keadaan darurat, yang ada adalah adanya dua mafsadat atau kemudharatan yang tidak memberikan pilihan kecuali mengambil salah satunya.

Baca Juga: Jangan Salah Pilih Idola!

Keenam:

Apakah penerapan kaidah “mengambil yang lebih ringan mudharatnya” dalam masalah bolehnya mengikuti pemilu, sudah tepat dan memenuhi syarat?

Kita katakan, bahwa penerapan kaidah itu dalam masalah pemilu sudah tepat dan memenuhi syarat, karena dua alasan:

a. Alasan pertama. Karena banyak Syeikh kibar ketika berfatwa tentang bolehnya ikut memilih dalam pemilu menyebutkan kaidah ini dalam penjelasannya. Jika penerapan kaidah ini dalam masalah pemilu tidak memenuhi syarat, tentunya mereka tidak akan menyebutkannya. [sebagiannya bisa dilihat di link ini: Tentang Memberikan Suara di PEMILU

b. Alasan kedua. Karena sistem demokrasi ini adalah keburukan yang dipaksakan kepada kita. Mau tidak mau kita harus mengikuti dan menjalaninya. Memilih atau tidak memilih, dua-duanya adalah pilihan yang diberikan oleh sistem demokrasi. Sehingga sebenarnya apapun keadaan kita, memilih atau tidak, tetap saja kita masih dalam sistem demokrasi, ini tidak bisa kita hindari selama kita masih hidup di negara demokrasi dan kita ikut memilih atau tidak ikut memilih, sistem itu akan tetap berjalan, dan efeknya akan mempengaruhi Islam dan kaum muslimin.

Jika keadaannya demikian, tidak diragukan lagi, bahwa menyumbangkan suara dalam pemilu untuk memilih calon pemimpin yang lebih ringan keburukannya bagi Islam dan kaum muslimin mudharatnya lebih ringan daripada mudharat tidak ikut menyumbangkan suara di pemilu, bila akhirnya akan berakibat buruk terhadap Islam dan kaum muslimin.

Cobalah kita bayangkan bila kaum muslimin yang baik-baik tidak ikut memilih dalam pemilu? Apakah dengan begitu sistem demokrasi akan berhenti? Tentunya tidak, sistem ini akan tetap berjalan selama masih ada banyak pemilih yang menyumbangkan suaranya.

Lalu jika kaum muslimin yang baik-baik tidak ikut memilih pemimpin, siapa yang akan memilih pemimpin? Tidak lain adalah kaum muslimin yang tidak baik, dan mereka yang non muslim (kafir).

Jika yang memilih pemimpin adalah orang-orang yang tidak baik, lalu apakah mereka akan memilih pemimpin yang memperjuangkan kebaikan untuk Islam dan kaum muslimin? Tentunya tidak, karena jawaban “iya” sangat jauh kemungkinannya.

Lalu jika yang dipilih oleh mereka adalah pemimpin yang tidak memperjuangkan Islam dan kaum muslimin, bukankah efeknya akan sangat buruk bagi Islam dan kaum muslimin? Tentunya iya, itulah jawaban sangat logis.

Baca Juga: Inilah Alasan Mengapa Pemimpin Hasil Pilpres Harus Tetap Ditaati

Ketujuh:

Sebagian orang menganggap, bahwa paparan yang disebutkan di akhir poin keenam, adalah jalan pemikiran kelompok haroki, sehingga harusnya sangat tabu disampaikan oleh seorang yang bermanhaj salaf.

Kita katakan, sungguh itu adalah tuduhan yang zhalim. Tuduhan yang keluar karena tidak punya jawaban yang logis untuk mematahkan dalil yang disampaikan.

Sungguh dalil logis di atas telah disampaikan oleh Syeikh Utsaimin rahimahullah sejak dahulu, coba simak perkataan beliau berikut ini:

أنا أرى أن الانتخابات واجبة ، يجب أن نعين من نرى أن فيه خيراً ، لأنه إذا تقاعس أهل الخير ، مَنْ يحل محلهم ؟ سيحل محلهم أهل الشر ، أو الناس السلبيون الذين ما عندهم خير ولا شر ، أتباع كل ناعق ، فلابد أن نختار من نراه صالحاً
فإذا قال قائل : اخترنا واحداً لكن أغلب المجلس على خلاف ذلك . قلنا : لا مانع ، هذا الواحد إذا جعل الله فيه البركة وألقى كلمة الحق في هذا المجلس سيكون لها تأثير ولا بد ، لكن الذي ينقصنا الصدق مع الله ، نعتمد على الأمور المادية الحسية ولا ننظر إلى كلمة الله عز وجل …. رَشِّحْ مَنْ ترى خيّرا ، وتوكل على الله

“Saya melihat (ikut memilih dalam) pemilu itu WAJIB, kita wajib memilih orang yang kita lihat ada kebaikan pada dirinya, karena apabila orang-orang baik tidak ikut berpartisipasi, siapa yang akan mengisi tempat mereka? Yang akan mengisi tempat mereka tentunya orang-orang buruk, atau orang-orang pasif (lemah) yang tidak punya kebaikan dan keburukan, bisanya hanya mengekor orang lain.

Baca Juga: Tidak Semua Kejadian Viral Harus Dikomentari

Oleh karenanya kita harus memilih orang yang kita lihat shalih (baik).

Apabila ada yang berkata: kita kan hanya memilih satu orang saja, padahal mayoritas orang yang di majlis tidak baik seperti dia. Kita jawab: tidak masalah, satu orang yang baik ini, apabila Allah menjadikan keberkahan padanya, dan dia sampaikan kebenaran di majlis itu, pastinya akan memiliki pengaruh baik.

Tapi memang kita itu kurang percaya kepada Allah, kita biasa bersandar pada perkara-perkara yang kasat mata saja, dan kita tidak melihat kalimat Allah ‘azza wa jalla. Maka, pilihlah orang yang engkau lihat baik, dan bertawakkallah kepada Allah”. [Liqa babil maftuh 211/13]

Inilah penjelasan yang sangat gamblang dari Syeikh Utsaimin rahimahullah dalam masalah ini, semoga bisa dipahami dengan baik. Demikian tulisan ini, semoga bermanfaat dan Allah berkahi. Aamiin…

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين، والحمد لله رب العالمين

Penulis: Dr. Musyaffa Addariny, Lc., M.A.

Sumber: Muslim.or.id

.
Belajar Ilmu Fiqih

Belajar Ilmu Fiqih

Segala puji hanya milik Allah Ta’ala Yang telah menciptakan makhluq-Nya dengan hikmah, sehingga tiada satupun makhluq yang diciptakan dengan sia-sia,

] وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاء وَالأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لاعِبِينَ [

“Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada diantara keduanya dengan bermain-main”. (Al Anbiya’ 16).

Alhamdulillah Yang telah menciptakan manusia sebagai makhluq yang mulia:

]وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلاً[ الإسراء 70

“Dan sesungguhnya Kami telah memuliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri rezki mereka dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah kami ciptakan.” Al Isra’ 70.

Bila kita berfikir dan bertanya: apakah perbedaan antara manusia dengan hewan? Niscaya jawabannya hanya ada satu, yaitu iman dan amal sholeh.

]إِنَّ اللَّهَ يُدْخِلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَّهُمْ [  محمد 12

“Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Dan orang-orang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang, dan nerakalah tempat tinggal mereka.” Muhammad 12.

Iman dan amal sholeh yang menjadi pembeda antara manusia dan binatang ternak tidaklah dapat dicapai melainkan dengan ilmu atau yang sering disebut dengan al fiqhu.

]وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيراً مِّنَ الْجِنِّ وَالإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لاَّ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَّ يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لاَّ يَسْمَعُونَ بِهَا أُوْلَـئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ[ الأعراف 179

“dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata, (tetapi ) tidak dipergunakan untuk melihat (ayat-ayat Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” Al A’raf 179.

Demikianlah kedudukan al fiqhu fiddin. Bila kita ingin menjaga martabah dan kemuliaan kita sebagai umat manusia, maka kita harus tafaqquh fiddin. Bila tidak, maka martabat kita akan turun, dan kita hanya menjadi budak dunia yang senantiasa menderita.

(تَعِسَ عبد الدِّينَارِ وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ وَعَبْدُ الْخَمِيصَةِ إن أُعْطِيَ رضي وَإِنْ لم يُعْطَ سَخِطَ تَعِسَ وَانْتَكَسَ وإذا شِيكَ فلا انْتَقَشَ) رواه البخاري

“Semoga para pemuja dinar, dirham, dan baju sutra (pemuja harta kekayaan-pen) menjadi sengsara (susah), bila diberi, ia merasa senang, dan bila tidak diberi, ia menjadi benci, semoga ia menjadi sengsara dan semakin sengsara (bak jatuh tertimpa tangga), dan bila ia tertusuk duri, semoga tiada yang dapat mencabut duri itu darinya.”  Riwayat Bukhari.

Ulama’ telah membagi al fiqhu menjadi dua macam:

  1. Al Fiqhul Akbar الفقه الأكبر, yaitu tauhid.
  2. Al Fiqhul Asghar الفقه الأصغر, yaitu ilmu fiqih yang kita kenal bersama.

Kedua macam fiqih ini saling berkaitan, saling melengkapi dan tidak bisa juga tidak boleh dipisahkan. Al Fiqhul Akbar adalah pengamalan dari syahadat لا إله إلا الله dan al fiqhul asghar adalah pengamalan dari syahadat محمد رسول الله.

Dengan mempelajari lalu mengamalkan kedua macam fiqih ini maka berarti kita telah membuktikan bahwa kita menjadi orang-orang yang baik dan bertaqwa.

(من يُرِدْ الله بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ في الدِّينِ). متفق عليه

“Barang siapa yang Allah menghendaki kebaikan baginya, niscaya Allah akan melimpahkan kefaqihan (ilmu) kepadanya.” Muttafaqun ‘alaih.

Al Baji Al Maliky berkata: “Bila seseorang telah memiliki al fiqhu fid din (ilmu agama) berarti Allah Ta’ala telah menghendaki kebaikan untuknya. Dan barang siapa yang Allah kehendaki untuk mendapatkan kebaikan, niscaya Allah akan melimpahkan ilmu agama untuknya. Dan yang dimaksud dengan kebaikan pada hadits ini adalah masuk surga dan selamat dari neraka.”

Pendapat Al Baji ini dikuatkan oleh hadits:

(من سَلَكَ طَرِيقاً يَطْلُبُ فيه عِلْماً سَلَكَ الله بِهِ طَرِيقاً إلى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّهُ لَيَسْتَغْفِرُ لِلْعَالِمِ من في السماوات وَالأَرْضِ حتى الْحِيتَانُ في الْمَاءِ وَفَضْلُ الْعَالِمِ على الَعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ على سَائِرِ الْكَوَاكِبِ إِنَّ الْعُلَمَاءَ هُمْ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ والأنبياء لم يَورِّثُوا دِينَاراً وَلاَ دِرْهَماً وَإِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ. رواه أحمد وأبو داود وغيرهما.

“Barang siapa menempuh suatu jalan guna menuntut ilmu, niscaya Allah akan membimbingnya menuju jalan ke surga. Sungguh para malaikat akan meletakkan sayapnya , sebagai pertanda bahwa mereka rela (ridho) dengan para penuntut ilmu. Seluruh penghuni langit dan bumi sampaipun ikan di lautan memohonkan ampunan untuk para penuntut ilmu. Keutamaan seorang ulama’ bila dibanding dengan seorang ahli ibadah, bagaikan bulan dengan bintang-bintang lainnya. Para ulama’lah ahli waris para Nabi, sedangkan para nabi tidaklah mewariskan dinar dan tidak juga dirham (harta kekayaan). Mereka hanyalah mewariskan ilmu, maka barang siapa mendapatkan ilmu, maka ia telah mendapatkan bagian yang banyak dari warisan para nabi.” Riwayat Ahmad, Abu Dawud, dan lainnya.

Bila demikian adanya, maka kita dapat menyimpulkan bahwa ilmu adalah tolok ukur (standar) kebaikan dan kemuliaan seseorang. Dengan ilmu dapat memiliki rasa khasyyah (takut) kepada Allah, taat mengamalkan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Allah berfirman:

]إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء[ الفاطر 28

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama’”. Fathir 28.

عن أبي هُرَيْرَةَ ,   عن رسول اللَّهِ صلى الله عليه و سلم قال : (تَجِدُونَ الناس مَعَادِنَ خِيَارُهُمْ في الْجَاهِلِيَّةِ خِيَارُهُمْ في الْإِسْلَامِ إذا فَقِهُوا.) متفق عليه

Dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Engkau dapatkan manusia berbeda-beda perangai (watak/sifat), orang yang paling baik perangainya semasa jahiliyah adalah orang yang paling baik setelah masuk islam, bila mereka berilmu.” Muttafaqun ‘alaih.

Ibnu Hajar berkata: “Orang yang semasa jahiliyyah adalah orang yang terhormat (mulia perangai/sifatnya), sehingga ia menjadi pemimpin mereka, maka bila ia masuk Islam, maka kemuliaan dan kepemimpinannya itu akan berlanjut. Orang tersebut lebih mulia daripada rakyat biasa semasa jahiliyyah dan masuk islam. Dan pada sabda Nabi r: “Bila mereka berilmu”, terdapat isyarat bahwa kemuliaan dalam islam tidak akan sempurna tanpa ilmu agama. Berdasarkan ini, manusia terbagi menjadi empat macam:

  1. Orang terhormat semasa jahiliyyah, masuk islam dan berilmu, lawannya adalah rakyat biasa semasa jahiliiyah dan tidak masuk islam, tidak pula berilmu.
  2. Orang terhormat semasa jahiyyah, masuk islam, akan tetapi tidak berilmu, lawannya rakyat biasa tidak masuk islam, akan tetapi berilmu.
  3. Orang terhormat semasa jahiliyyah, tidak masuk islam, dan tidak pula berilmu, lawannya adalah rakyat biasa semasa jahiliyyah yang masuk islam dan berilmu.
  4. Orang terhormat semasa jahiliyyah, tidak masuk islam, akan tetapi berilmu, lawannya adalah rakyat biasa yang masuk islam dan tidak berilmu.

Adapun urutan kemuliaannya sebagai berikut:

  1. orang yang paling mulia adalah orang yang mulia semasa jahiliyyah, masuk islam dan berilmu.
  2. Rakyat biasa semasa jahiliyyah, masuk islam dan berilmu.
  3. Orang terhormat semasa jahiliyyah, masuk islam, akan tetapi tidak berilmu.
  4. Rakyat biasa, masuk islam, akan tetapi tidak berilmu.

Adapun orang yang tidak masuk islam, maka ia tidak terhormat (tidak mulia), tanpa beda antara yang dihormati dengan rakyat biasa di masyarakatnya. (fathul Bari 6/529-530).

Dikisahkan bahwa ‘Atha’ bin Abi Rabah adalah seorang budak berkulit hitam, dan hidungnya pesek lagi besar. Suatu hari Kholifah Sulaiman bin Abdul Malik bersama dua putranya datang ingin menemuinya. Setibanya Khalifah Sulaiman dan kedua anaknya di masjid, didapatkan ‘Atha’ sedang sholat, ketiganya segera duduk di sebelahnya, menanti ‘Atha’ selesai dari sholatnya. Seusai ‘Atha’ dari sholatnya ia langsung menghadap kepada murid-muridnya, dan membelakangi Khalifah dan kedua anaknya.  Murid-murid beliaupun segera bertanya kepadanya tentang berbagai permasalahan tentang manasik haji. Mendapatkan perlakuan demikian, Khalifah Sulaiman berkata kepada kedua putranya: Marilah kita pergi, maka keduanyapun segera berdiri dan mengiringi ayahnya. Sambil bergegas pergi, Khalifah Sulaiman berpesan kepada kedua putranya: Wahai nak,janganlah engkau bermalas-malas dalam menuntut ilmu, karena aku tidak akan pernah melupakan betapa hinanya kita dihadapan budak hitam ini (‘Atha’ bin Abi Rabah).

Syeikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin berkata: “Yang dimaksud dengan ilmu di sini adalah ilmu syar’i, yaitu ilmu telah Allah wahyukan kepada Rasulullah sha, berupa al bayyinaat (penjelasan) dan petunjuk. Dengan demikian ilmu yang terpuji adalah ilmu syari’at, ilmu yang memahas tentang wahyu Allah kepada Rasulullah r, berupa Al Qur’an dan As Sunnah….Walau demikian, kita tidak memungkiri bahwa ilmu-ilmu lain ada gunanya. Akan tetapi kegunaan ilmu lainnya bak pisau bermata dua: Bila ilmu itu mendukung kita untuk menjalankan keta’atan, memperjuangkan agama Allah, dan mendatangkan manfaat bagi umat manusia,maka ilmu itu baik dan menguntungkan. Dan sebagian ulama’ berfatwa bahwa mempelajari ilmu industri hukumnya fardhu kifayah, akan  tetapi pendapat ini perlu ditinjau kembali. Apapun adanya, ilmu yang pelajarnya dipuji dalam banyak dalil adalah ilmu tentang kitabullah dan sunnah Rasulullah r. Sedangkan ilmu selainnya, maka bila menjadi wasilah kepada kabikan, maka ilmu itu baik, dan bila menjadi wasilah kepada kejelekan, maka ilmu itu jelek. Dan bila tidak menjadi wasilah kepada kabikan dan juga tidak kepada kejelekan, maka mempelajari ilmu itu hanya menyia-nyiakan waktu.”

Akhi, ketahuilah bahwa kesempatan untuk belajar sekarang ini terbuka lebar-lebar dihadapan kita semua, umur kita masih muda, belum banyak pekerjaan, dan kita belum menjadi pemimpin.

Bila suatu saat nati kita telah kembali ke negri kita, kita menjadi ayah, pejabat, memimpin perusahaan atau lainnya, maka tidak ada lagi kesempatan dan waktu untuk belajar.

Para ulama’ yang sekarang ada di negri kita akan mati dan kita-kitalah yang akan menggantikan mereka. Bila para ulama’ yang ada di negri kita telah mati, sedangkan kita tidak rajin belajar semasa muda, maka apakah yang akan terjadi?

(إنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعاً يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عالماً، اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوْساً جُهَّالاً، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوْا وَأَضَلُّوْا). متفق عليه

“Sesungguhnya Allah tidaklah mengangkat ilmu dengan cara mencabutnya dari para hamba-Nya, akan tetapi Ia mengangkat ilmu dengan cara mematikan para ulama’. Hingga pada saatnya nanti, Allah tidak lagi menyisakan seorang ulama’-pun, sehingga manusia akan menobatkan orang-orang bodoh sebagai pemimpin mereka, kemudian mereka ditanya, dan merekapun menjawab dengan tanpa ilmu, akibatnya merekapun tersesat dan menyesatkan”. (Muttafaqun ‘alaih)

Kholifah Umar bin Al Khatthab berkata:

تفقهوا قبل أن تسودوا

“Belajarlah sebelum engkau memimpin”.

Imam As Syafi’i juga berkata:

تفقه قبل أن ترأس , فإذا ترأست فلا سبيل إلى التفقه ”

Belajarlah sebelum engkau menjadi pemimpin, karena bila engkau telah menjadi pemimpin, maka tidak ada lagi waktu (kesempatan) untuk belajar.

Akhi, berikut beberapa contoh masalah yang mungkin tidak pernah kita pikirkan, padahal senantiasa/sering dilakukan oleh setiap orang:

  • Masyarakat banyak diganggu syetan.

عن ابن عَبَّاسٍ  عن النبي صلى الله عليه و سلم قال: (أَمَا إِنَّ أَحَدَكُمْ إذا أتى أَهْلَهُ وقال: بِسْمِ اللَّهِ اللهم جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبْ الشَّيْطَانَ ما رَزَقْتَنَا، فَرُزِقَا وَلَدًا، لم يَضُرَّهُ الشَّيْطَانُ ولم يُسَلَّطْ عليه. متفق عليه

“Dari sahabat Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma, dari Nabi r, beliau bersabda: “Ketahuilah bahwa sesungguhnya salah seorang dari kamu bila mendatangi istrinya, dan ia membaca

بِسْمِ اللَّهِ اللهم جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبْ الشَّيْطَانَ ما رَزَقْتَنَا

“Dengan menyebut Nama Allah. Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan, dan jauhkanlah setan dari anak yang Engkau karuniakan kepada kami”  kemudian mereka berdua dikaruniai anak, niscaya ia (anak) itu tidak akan diganggu (dikuasai) oleh setan, dan setan tidak akan dapat untuk menguasainya.” Muttafaqun ‘alaih.

Ibnu Hajar berkata: “Banyak dari orang yang telah memahami keutamaan bacaan dzikir ini, akan tetapi ia lalai darinya ketika hendak berjima’, dan sebagian dari yang ingat akan bacaan doa ini serta mengucapkannya tidak dikaruniai anak. (Fathul Bari 9/263).

  • Banyak wabah penyakit yang menimpa masyarakat kita.

Berbagai negara mengeluarkan uang yang sangat banyak guna menanggulangi wabah penyakit, akan tetapi mereka tidak tahu dari manakah asal usul datangnya wabah. Padahal bila kita belajar agama kita, kita akan mengetahuinya dengan mudah:

(غَطُّوا الإِنَاءَ وَأَوْكُوا السِّقَاءَ فإن في السَّنَةِ لَيْلَةً يَنْزِلُ فيها وَبَاءٌ، لاَ يَمُرُّ بِإِنَاءٍ ليس عليه غِطَاءٌ، أو سِقَاءٍ ليس عليه وِكَاءٌ، إلاَّ نَزَلَ فيه من ذلك الْوَبَاءِ). رواه مسلم

“Tutuplah bejana, dan  ikatlah geribah, karena pada setiap tahun ada satu malam (hari) yang padanya turun wabah. Tidaklah wabah itu melalui bejana yang tidak bertutup, atau geribah yang tidak bertali, melainkan wabah itu akan masuk ke dalamnya.” (Riwayat Muslim).

Bila kita merenungkan hadits di atas, niscaya kita akan dapatkan bahwa dengan menutup rapat makanan dan minuman, terlebih-lebih dengan menyebut nama Allah ketika menutupnya, kita dapat menanggulangi dua penyebab utama bagi segala penyakit:

  1. Ulah dan kejahatan syetan.
  2. Wabah penyakit yang turun dan menyebar melalui media udara.

Imam An Nawawi berkata: “Para ulama’ menyebutkan beberapa faedah dari perintah menutup bejana dan geribah, diantaranya kedua faedah yang ditegaskan dalam hadits-hadits ini, yaitu:

  1. Menjaganya (makanan dan minuman) dari setan, karena setan tidak dapat menyingkap tutup bejana, dan tidak dapat mengurai ikatan geribah.
  2. Menjaganya dari wabah yang turun pada satu malam di setiap tahun.
  3. Faedah ketiga: menjaganya dari terkena najis dan kotoran.
  4. Keempat: menjaganya dari berbagai serangga dan binatang melata, karena bisa saja serangga jatuh ke dalam bejana atau geribah, lalu ia meminumnya, sedangkan ia tidak menyadari keberadaan serangga tersebut, atau ia meminumnya pada malam hari, (sehingga ia tidak melihatnya-pen) akibatnya ia terganggu dengan binatang tersebut.” (Syarah Shohih Muslim oleh Imam An Nawawi 13/183).

Kholifah Umar bin Al Khattab berkata:

(لا يتجر في سوقنا إلا من فقه وإلا أكل الربا). ذكره ابن عبد البر بهذا اللفظ.

ورواه مالك والترمذي بلفظ: (لا يبع في سوقنا إلا من قد تفقه في الدين) حسنه الألباني

“Hendaknya tidaklah berdagang di pasar kita selain orang yang telah faham (berilmu), bila tidak, niscaya ia akan memakan riba.” Ucapan beliau dengan teks demikian ini dinukilkan oleh Ibnu Abdil Bar Al Maliky.

Dan ucapan beliau ini diriwayatkan oleh Imam Malik dan juga Imam At Tirmizy dengan teks yang sedikit berbeda: “Hendaknya tidaklah berdagang di pasar kita selain orang yang telah memiliki bekal ilmu agama.” Riwayat ini dihasankan oleh Al Albany.

Ucapan ini juga diucapkan oleh Kholifah Alin bin Abi Tholib:

الفقه قبل التجارة، إنَّه من اتجر قبل أن يفقه ارتطم في الربا ثم ارتطم. رواه الخطيب البغدادي.

“Berilmulah sebelum berniaga (berdagang), sesungguhnya orang yang berdagang sebelum berilmu niscaya ia terjatuh ke dalam riba, pasti terjetuh ke dalam riba.” Riwayat Al Khathib Al Baghdady.

Mungkin anda pernah menukarkan uang kertas @ 100 real dengan 10 lembar uang @ 10 real kepada teman anda? Mungkin, suatu saat teman anda hanya memiliki uang @ 10 real sebanyak 9 lembar, sedangkan anda benar-benar membutuhkan uang @ 10 real guna membayar taksi. Apakah yang anda lakukan saat itu? Mungkin anda akan berkata pada teman anda: ambillah uang 100 real ini, dan berikan padaku 9 lembar uang @ 10 real itu, dan sisa 10 real, dibayar pada lain waktu.

Ini adalah salah satu transaksi tukar menukar yang diharamkan.

(الذهب بالذهب والفضة بالفضة والبر بالبر والشعير بالشعير والتمر بالتمر والملح بالملح مثلا بمثل، سواء بسواء، يدا بيد، فمن زاد أو استزاد فقد أربى). رواه مسلم

“Emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum)  dijual dengan sya’ir, korma dijual dengan korma, dan garam dijual dengan garam, (takaran/timbangannya) harus sama dan kontan. Barang siapa yang menambah atau meminta tambahan maka ia telah berbuat riba”. (HRS Muslim dalam kitabnya As Shahih).

  • Mencium Hajar Aswad.

Pada saat kita berhaji atau berumrah, kita pasti menyaksikan pemandangan yang sangat menyedihkan. Pemandangan saling dorong dan mungkin saling injak antara umat Islam. Perbuatan jahat ini dilakukan oleh umat islam di sekitar ka’bah, dan disebelah hajar aswad. Mereka datang dari negri masing-masing guna mencari pahala dari Allah, akan tetapi apalah yang mereka dapat dengan berdesak-desakan tersebut?

(يَا عُمَرُ، إِنَّكَ رَجُلٌ قَوِيٌّ، لاَ تُؤْذِ الضَّعِيْفَ إِذا أَرَدْتَ اسْتِلاَمَ الحَجَرَ، فَإِنْ خَلاَ فَاسْتَلِمْهُ وَإلاَّ فاسْتَقْبِلْهُ وَكَبِّرْ)

“Wahai Umar, sesungguhnya engkau adalah lelaki yang kuat, maka janganlah engkau menyakiti orang yang lemah, bila engkau hendak mengusap hajar (aswad), bila engkau mendapatkan kesempatan senggang, maka silahkan engkau mengusap, dan bila tidak, maka silahkan engkau menghadap kepada hajar aswad, lalu bertakbirlah.” (HR Ahmad dan Al Baihaqy).

  • Sholat di Raudhah.

Pernahkah anda sholat di Ar Raudhah As Syarifah? Saya yakin kita semua pernah melakukannya. Akan tetapi apakah yang terjadi disana disaat sholat berjama’ah, terutama pada musim haji? Banyak umat islam yang ingin mendapatkan pahala sholat berjamaah dan di raudhah as syarifah, akan tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Mereka berdesak-desakan, hingga tidak dapat ruku’ dan sujud dengan baik. Maka bagaimana mereka akan dapat pahala sholat berjamah dan di raudhah, bila ternyata untuk sujud dan ruku’ saja tidak bisa?. Bukan hanya itu banyak dari mereka yang mencari berkah dengan mengusap-usap dinding, lantai dan bahkan berdoa memohon rizki kepada Nabi r.

Semoga Allah senantiasa membimbing kita kepada kebenaran, menjaga lisan kita dari kedustaan, dan hati kita dari kemunafikan.

اللهم أرنا الحق حقا وارزقنا اتباعه وأرنا الباطل باطلا وارزقنا اجتنابه

Wallahu A’alam bis showaab.

 

Sumber: https://arifinbadri.com

.

Banting-bantingan Harga

Banting-bantingan Harga

Diantara dinamika persaingan para pedagang adalah adanya praktek banting-bantingan harga. Banyak alasan yang mendasari prkatek banting harga, bisa jadi karena mengejar momentum yang tinggal sesaat, semisal yang terjadi pada akhir ramadhan. Bisa pula karena adanya pesaing, dan adanya keinginan untuk menguasai pasar dan menjatuhkan pesaing, dan masih ada alasan lainnya.

Bagi konsumen, praktek semacam ini sangat menguntungkan, karena mereka mendapatkan barang dengan harga yang relatif murah.

Namun bagaimana dengan para pedagang, terutama yang modalnya cekak alias kecil? Tentu praktek banting-bantingan harga semacam ini sangat merugikan dan mengancam eksistensi mereka. Wajar bila praktek semacam ini dilarang dalam Islam, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnul Qayyim pada penggalan ucapan beliau berikut ini :

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangkitamemakan makanan kedua orang yang berlomba-lomba (dalam jamuan tamu atau lainnya) (HR Abu Dawud dan lainnya)

Yang dimaksud dengan kedua orang yang berlomba-lomba pada hadits ini ialah dua orang yang masing-masing dari keduanya berusaha untuk mengungguli kawannya dalam hal donasi. Misalnya keduanya membuat jamuan yang mewah untuk mengungguli jamuan yang disajikan oleh kawannya, ataupun perlomba-lombaan dalam hal jual beli. Masing-masing dari penjual memberikan potongan harga pada barang dagangannya, agar para konsumen tidak membeli dari penjual lainnya.

Imam Ahmad dengan tegas membenci praktek semacam ini, dan membenci konsumen yang membeli dari keduanya.

Larangan ini bertujuan untuk mencegah terjadinya dua hal:

1) Mencegah masyarakat dari memakan harta kedua orang yang berlomba-lomba tersebut. Karena membeli dagangan atau memakan jamuan mereka dapat menjadikan mereka merasa puas sehingga menjadikan mereka semakin hanyut dan terus menerus dalam perbuatan yang dibenci oleh ALlah dan Rasul-Nya semacam ini..
2) Dengan meninggalkan hidangan keduanya dan tidak membeli dari keduanya maka keduanya akan segera menghentikan perlombaan mereka yang tercela ini. (I’ilamul Muwaqiin 3/206)

Hukum Saham

Hukum Saham

Alhamdulillah, salawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, dan sahabatnya.

Bersama pesatnya perkembangan sarana informasi dan transportasi maka berkembang pula perniagaan umat manusia, baik ditinjau dari objek, model, jangkauan, atau pun kapasitasnya. Di antara objek niaga zaman sekarang ialah berbagai surat berharga, dan saham adalah salah satunya.

Saham adalah tanda penyertaan atau kepemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas. Biasanya, saham diwujudkan dalam selembar kertas yang menerangkan bahwa pemilik lembar saham ini adalah pemilik perusahaan yang menerbitkan surat berharga ini.

Dengan demikian, sebesar penyertaan dana Anda di suatu perusahaan maka sebesar itu pula kadar kepemilikan Anda terhadap perusahaan tersebut. Sebaliknya, dapat dipahami pula, bahwa idealnya, tanggung jawab Anda atas perusahaan terkait pula dengan besar nilai saham yang Anda miliki.

Hanya saja pada praktiknya, terdapat banyak hal yang harus Anda perhatikan sebelum Anda membeli saham suatu perusahaan.

Macam-macam Saham dan Hukumnya

Saham dapat ditinjau dari berbagai sudut pandang. Ditinjau dari segi kemampuan dalam hak tagih atau klaim, saham dapat diklasifikasikan ke dalam dua jenis:

Jenis pertama, saham biasa (common stock)

Inilah saham yang paling banyak diperjual-belikan di pasar modal dan yang paling sering menjadi tema pembahasan di masyarakat. Karakteristik saham biasa (common stock):
1. Tujuan investor atau pemilik saham jenis ini biasanya adalah ingin mendapatkan pembagian deviden (keuntungan usaha perusahaan) atau memperoleh capital gain (selisih harga beli dan jual) jika terjadi kenaikan harga.
2. Pemiliknya paling terakhir dalam mendapatkan bagian deviden dan hak atas harta kekayaan perusahaan apabila perusahaan terkait mengalami kerugian atau pailit.
3. Pemiliknya hanya mendapatkan deviden bila perusahaan berhasil membukukan keuntungan.
4. Pemegang saham memiliki hak suara dalam RUPS (rapat umum pemegang saham).
5. Pemilik saham berhak mengalihkan kepemilikan sahamnya kepada orang lain, dengan cara-cara yang dibenarkan dalam.
Secara hukum dan prinsip syariat Islam, tidak mengapa jika Anda memiliki saham jenis ini. Tentunya, dengan mengindahkan beberapa catatan yang akan disebutkan pada akhir tulisan ini. Yang demikian itu dikarenakan perserikatan dagang dalam Islam dibangun di atas asas kesamaan hak dan kewajiban, dan hal ini benar-benar terwujud pada saham jenis ini. Karenanya, tidak ada keraguan bahwa menerbitkan dan memperjual-belikan saham jenis ini adalah halal. (Suq al-Auraq al-Maliyah oleh Dr. Khursyid Asyraf Iqbal, hlm. 123; Ahkamut Ta’amul fil Aswaq al-Maliyah oleh Dr. Mubarak bin Sulaiman al-Sulaiman: 1/148)

Jenis kedua, saham istimewa/preferen (preffered stock)

Sejatinya, saham preferen ini adalah gabungan antara saham biasa dengan obligasi. Karakteristik saham istimewa merupakan gabungan antara karakteristik obligasi dan karakteristik saham biasa. Karenanya, selain mendapatkan seluruh hak yang didapatkan oleh pemilik saham biasa, pemilik saham jenis ini juga mendapatkan hak-hak yang biasanya diberikan kepada para kreditur dalam obligasi.

Berikut ini adalah beberapa hak yang membedakan saham preferen dari saham biasa:
1. Mendapatkan deviden dalam jumlah yang terjamin dan tetap dalam persentase (suku bunga). Pemegang saham jenis ini tetap menerima deviden, walaupun kinerja perusahaan  merugi.
2. Mendapatkan prioritas untuk mendapatkan dividen sebelum pemilik saham biasa.
3. Mendapatkan prioritas dalam hak suara dibanding pemilik saham biasa.

Para ulama ahli fikih zaman sekarang -sebatas yang saya ketahui- sepakat untuk mengharamkan penerbitan dan memperjual-belikan saham jenis ini, dengan beberapa alasan berikut:
1. Para pemilik saham preferen tidak memiliki kelebihan yang menyebabkannya mendapatkan perilaku istimewa ini. Padahal, keuntungan dalam usaha hanya diberikan kepada pamilik modal dan atau keahlian, sedangkan pemegang saham preferen tidak memiliki kelebihan dalam dua hal itu dibanding pemegang saham biasa. Ibnu Qudamah berkata, “Seseorang berhak mendapatkan keuntungan dikarenakan ia memiliki andil dengan modal atau keahlian. Dengan demikian, tidak ada alasan untuk memberikan persentase keuntungan yang melebihi total modal sekutu pasif. Sehingga, persyaratan semacam ini tidak sah.” (Al-Mughni oleh Ibnu Qudamah, 7/139)
2. Keuntungan yang diberikan kepada pemilik saham preferen sejatinya adalah riba, karena modal mereka terjamin dan tetap mendapatkan keuntungan, walaupun kinerja perusahaan merugi. Tidak diragukan lagi, ini adalah kelaliman dan salah satu bentuk pengambilan harta orang lain dengan cara-cara yang menyelisihi syariat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

الخَرَاجُ بِالضَّمَانِ

“Penghasilan/keuntungan adalah imbalan atas kesiapan menanggung kerugian.” (Hr. Ahmad, Abu Daud, at-Tirmidzi, dan an-Nasai; oleh al-Albani dinyatakan sebagai hadits hasan)

Tidak heran bila badan fikih di bawah organisasi OKI, yaitu International Islamic Fiqih Academy, dengan tegas menyatakan,
لا يجوز إصدار أسهم ممتازة، لها خصائص مالية تؤدي إلى ضمان رأس المال أو ضمان قدر من الربح أو تقديمها عند التصفية، أو عند توزيع الأرباح
“Tidak boleh menerbitkan saham preferen yang memiliki konsekuensi pemberian jaminan atas dana investasi yang ditanamkan, atau memberikan keuntungan yang bersifat tetap, atau mendahulukan pemiliknya ketika pengembalian investasi atau pembagian deviden.”  (Sidang Ke-7, Keputusan no. 63/1/7)

Saham Kosong

Ini adalah salah satu jenis saham yang sepantasnya Anda ketahui, selain kedua jenis yang telah dibahas di atas.

Saham kosong biasanya diberikan atas kesepakatan pemegang saham lainnya kepada pihak-pihak yang dianggap atau diharapkan berjasa pada perusahaan. Para penerima saham kosong ini berhak mendapatkan deviden dari keuntungan bersih perusahaan. Akan tetapi, saham ini memiliki berbagai perbedaan dari saham biasa:
1. Saham kosong tidak memiliki nilai nominal yang tertulis pada lembar saham, sehingga haknya hanya sebatas mendapatkan dividen.
2. Pemegang saham kosong tidak berhak menghadiri RUPS dan juga tidak memiliki wewenang untuk campur tangan dalam kebijaksanaan dan arah perusahaan.
3. Saham kosong bisa dihapuskan, baik secara keseluruhan atau sebagian saja.

Berdasarkan karakter saham kosong demikian ini, kebanyakan ulama kontemporer melarang
penerbitan saham kosong, dengan beberapa alasan berikut:

Alasan pertama. Saham kosong sejatinya adalah salah satu bentuk jual-beli jasa, sehingga nominal nilai jualnya haruslah diketahui dan tidak dalam hitungan persentase dari keuntungan yang tidak menentu jumlahnya. Dengan demikian, saham kosong ini tercakup oleh keumuman hadits riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berikut:
نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَنْ بَيْعِ الْحَصَاةِ وَعَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual-beli dengan cara melempar batu dan jual-beli yang mengandung gharar (unsur spekulasi).” (Hr. Muslim)

Alasan kedua. Saham kosong sering kali menjadi ancaman masa depan perusahaan dan merugikan para pemegang saham.

Alasan ketiga. Biasanya, saham kosong adalah pintu lebar untuk terjadinya praktik manipulasi, suap, dan tindakan-tindakan tercela lainnya. (Suq al-Auraq al-Maliyaholeh oleh Dr. Khursyid Asyraf Iqbal, hlm. 320–321 dan Al-Ashum was Sanadat wa Ahkamuha fil Fiqhil Islami, oleh Dr. Ahmad bin Muhammad al-Khalil, hlm. 173–174)

Kapan Anda Halal memperjual-belikan Saham?

Setelah Anda mengetahui hukum asal penerbitan dan memperjual-belikan ketiga jenis saham di atas, tidak sepantasnya Anda menutup mata dari fakta dan berbagai hal yang erat hubungannya dengan saham. Dengan demikian, Anda dapat mengetahui hukum masalah ini dengan benar, ditinjau dari segala aspeknya.

Berikut ini, saya ringkaskan berbagai persyaratan jual-beli saham yang telah dijelaskan ulama.

Syarat pertama. Perusahaan penerbit saham adalah perusahaan yang benar-benar telah beroperasi. Saham perusahaan semacam ini boleh diperjual-belikan dengan harga yang disepakati kedua belah pihak, baik dengan harga jual yang sama dengan nilai nominal yang tertera pada surat saham atau berbeda.

Adapun saham perusahaan yang sedang dirintis, sehingga kekayaannya masih dalam wujud uang, maka sahamnya tidak boleh diperjual-belikan kecuali dengan harga yang sama dengan nilai nominal saham.

Ditambah lagi, pembayaran hendaknya dilakukan dengan cara kontan. Hal ini dikarenakan setiap surat saham perusahaan jenis ini seutuhnya masih mewakili sejumlah uang modal yang tersimpan, dan tidak mewakili aset perusahaan. Sehingga, bila diperjual-belikan lebih mahal atau lebih murah dari nilai nominal saham, berarti telah terjadi praktik tukar-menukar mata uang dengan cara yang tidak dibenarkan.

Syarat kedua. Perusahaan penerbit saham sepenuhnya bergerak dalam usaha yang dihalalkan syariat, karena sebagai pemilik saham, seberapa pun besarnya, Anda adalah salah satu pemilik perusahaan tersebut. Dengan demikian, tanggung jawab Anda atas setiap usaha perusahan sebesar nilai saham Anda. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala,

وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ,ح.
“Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (Qs. al-Maidah: 2)

Syarat ketiga. Perusahaan terkait tidak melakukan praktik riba, baik pada pembiayaan, penyimpanan kekayaan, atau lainnya. Bila suatu perusahaan dalam pembiayaan atau penyimpanan kekayaannya menggunakan konsep riba, maka Anda tidak dibenarkan untuk membeli saham perusahaan tersebut.

Sebagai contoh, misalnya suatu perusahaan yang bergerak dalam bidang produksi perabotan rumah tangga. Untuk membiayai usahanya, perusahaan tersebut memungut piutang dari bank ribawi, tentunya dengan suku bunga tertentu. Karena itu, Anda tidak dibenarkan untuk membeli saham perusahaan semacam ini. Ketentuan ini selaras dengan kaidah dalam ilmu fikih:

إِذَا اجْتَمَعَ الحَلاَلُ وَالْحَرَامُ، غُلِّبَ الْحَرَامُ
“Bila tercampur antara hal yang halal dengan hal yang haram, maka yang lebih dikuatkan adalah yang haram.”[1]

Syarat keempat. Penjualan dan pembeliannya dilakukan dengan cara-cara yang dibenarkan dalam syariat. Dengan demikian, berbagai hukum yang berlaku pada jual-beli biasa berlaku pula pada jual-beli saham. Misalnya, Anda tidak dibenarkan menjual kembali saham yang Anda beli sebelum saham tersebut sepenuhnya diserah-terimakan kepada Anda. Dengan demikian, metode jual-beli saham yang ada di masyarakat dan yang dikenal dengan sebutan “one day trading” atau yang serupa adalah metode yang tidak dibenarkan.

Berikut ini adalah gambaran singkat tentang metode ini:

Pengusaha berinisial B, misalnya, membeli sejumlah surat saham dari Broker A dengan pembayaran terutang, sedangkan surat saham yang telah dibeli tersebut tetap berada di tangan A sebagai jaminan atas pembayaran yang terhutang, sehingga B belum sepenuhnya menerima surat saham tersebut. Pada penutupan bursa saham di akhir hari, B berkewajiban menjual kembali saham tersebut kepada A. Pembayaran antara keduanya pada kedua transaksi tersebut hanya dilakukan dengan membayar selisih harga jual dari harga beli. Transaksi semacam ini termasuk transaksi riba yang diharamkan dalam Islam.
عن ابن عباس رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا  قال قال رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : (مَنْ ابْتَاعَ طَعَاماً فَلاَ يَبِعْهُ حَتَّى يَقْبِضَهُ)  قال ابن عباس: وَأَحْسِبُ كُلَّ شَيْءٍ بِمْنْزِلَةِ الطَّعَامِ. قال طاوس: قلت لابن عباس: كيف ذاك؟ قال: ذاك دراهم بدراهم والطعام مرجأ
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, ia menuturkan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa yang membeli bahan makanan, maka janganlah ia menjualnya kembali hingga ia selesai menerimanya.’”

Ibnu ‘Abbas berkata, “Dan saya berpendapat bahwa segala sesuatu barang hukumnya seperti hukum bahan makanan.” Thawus berkata, “Aku bertanya kepada Ibnu ‘Abbas, ‘Bagaimana sehingga bisa demikian adanya?” Ia menjawab, “Itu karena sebenarnya yang terjadi adalah menjual dirham dengan dirham, sedangkan bahan makanannya ditunda (sebatas kedok belaka).” (Muttafaqun ‘alaih)

Sebagaimana jual-beli ini juga dapat termasuk jual beli ‘inah yang diharamkan dalam Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَئِنْ أَنْتُمُ اتَّبَعْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَتَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ لِيُلْزِمَنَّكُمُ اللَّهُ مَذَلَّةً فِى أَعْنَاقِكُمْ ثُمَّ لاَ تُنْزَعُ مِنْكُمْ حَتَّى تَرْجِعُونَ إِلَى مَا كُنْتُمْ عَلَيْهِ وَتَتُوبُونَ إِلَى اللَّهِ
“Bila kalian telah (sibuk dengan) mengikuti ekor-ekor sapi (beternak), berjual-beli dengan cara ‘inah dan meninggalkan jihad, niscaya Allah akan melekatkan kehinaan ditengkuk-tengkuk kalian, kemudian kehinaan tidak akan dicabut dari kalian hingga kalian kembali kepada keadaan kalian semula dan bertaubat kepada Allah.” (Hr. Ahmad, Abu Daud, dan al-Baihaqi; dinyatakan shahih oleh al-Albani)

Jual-beli ‘inah ialah Anda menjual suatu barang kepada orang lain dengan pembayaran terutang. Setelah jual-beli ini selesai, Anda kembali membeli barang tersebut dengan pembayaran kontan, dan tentunya dengan harga yang lebih murah.

Pendek kata, saham tak ubahnya barang komoditi lainnya. Dalam proses jual-belinya tetap harus mengindahkan berbagai hukum dan asas yang telah digariskan dalam Islam.

Berikut ini, saya nukilkan fatwa Badan Fikih Islam di bawah Organisasi Rabithah Alam Islami/Liga Muslim Dunia (Muslim World League).

Segala puji hanya milik Allah. Salawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang tiada nabi setelahnya, yaitu pemimpin kita sekaligus nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta kepada keluarga dan sahabatnya.

Amma ba’du.

Sesungguhnya anggota rapat al-Majma’ al-Fiqhi di bawah Rabithah Alam Islami, pada rapatnya ke-14, yang diadakan di kota Mekkah al-Mukarramah, yang dimulai dari hari Sabtu tanggal 20 Sya’ban 1415 H dan yang bertepatan dengan tanggal 21 Januari 1995 M, telah membahas permasalahan ini (jual-beli saham perusahaan, pen) dan kemudian menghasilkan keputusan berikut:
1. Karena hukum dasar dalam perniagaan adalam halal dan mubah, maka mendirikan suatu perusahaan publik yang bertujuan dan bergerak dalam hal yang mubah adalah dibolehkan menurut syariat.
2. Tidak diperselisihkan akan keharaman ikut serta menanam saham pada perusahaan-perusahaan yang tujuan utamanya diharamkan, misalnya bergerak dalam transaksi riba, memproduksi barang-barang haram, atau memperdagangkannya.
3. Tidak dibolehkan bagi seorang muslim untuk membeli saham perusahaan atau badan usaha yang pada sebagian usahanya menjalankan praktik riba, sedangkan pembelinya mengetahui akan hal itu.
4. Bila ada seseorang yang terlanjur membeli saham suatu perusahaan sedangkan ia tidak mengetahui bahwa perusahaan tersebut menjalankan transaksi riba, lalu di kemudian hari ia mengetahui hal tersebut, maka ia wajib untuk keluar dari perusahaan tersebut.
Keharaman membeli saham perusahaan tersebut telah jelas, berdasarkan keumuman dalil-dalil al-Quran dan as-Sunnah yang mengharamkan riba. Hal ini dikarenakan membeli saham perusahaan yang menjalankan transaksi riba sedangkan pembelinya telah mengetahui akan hal itu, berarti pembeli telah ikut ambil andil dalam transaksi riba.

Yang demikian itu karena saham merupakan bagian dari modal perusahaan, sehingga pemiliknya ikut memiliki sebagian dari aset perusahaan. Sehingga, pada seluruh harta yang dipiutangkan oleh perusahaan dengan mewajibkan bunga atau yang harta diutang oleh perusahaan dengan ketentuan membayar bunga, pemilik saham telah memiliki bagian dan andil darinya.

Hal ini disebabkan orang-orang (pelaksana perusahaan, pen) yang mengutangkan atau menerima piutang dengan ketentuan membayar bunga, sebenarnya adalah perwakilan dari pemilik saham, dan hukum mewakilkan seseorang untuk melakukan pekerjaan yang diharamkan adalah tidak boleh.

Semoga salawat dan salam yang berlimpah senantiasa dikaruniakan kepada Nabi Muhammad, keluarga, dan sahabatnya. Serta segala puji hanya milik Allah, Tuhan semesta alam.[2]

International Islamic Fiqih Academy, organisasi fikih internasional di bawah naungan OKI (Organisasi Konferensi Islam), pada sidangnya yang ke-7, keputusan no. 63 (1/7) juga memfatwakan hal yang sama.

Mungkin Anda berkata, “Bila hukum asal memperjual-belikan saham adalah halal, mengapa para ulama menambahkan beberapa persyaratan lain agar suatu saham boleh diperdagangkan?

Saudaraku, tidak perlu heran, karena saham tidak berbeda dari berbagai harta kekayaan lainnya, semisal padi, emas, hewan ternak, dan lainnya.

Walaupun berbagai harta ini halal untuk Anda perjual-belikan, tetapi tidak berarti Anda dapat melakukannya sesuka Anda. Beberapa batasan dan ketentuan harus Anda indahkan, agar peniagaan Anda selaras dengan syariat. Karenanya, Anda tidak dibenarkan untuk menukar-tambahkan emas dengan emas, apa pun alasan Anda.
لاَ تَبِيعُوا الذَّهَبَ بِالذَّهَبِ إِلاَّ مِثْلاً بِمِثْلٍ ، وَلاَ تُشِفُّوا بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ ، وَلاَ تَبِيعُوا الْوَرِقَ بِالْوَرِقِ إِلاَّ مِثْلاً بِمِثْلٍ ، وَلاَ تُشِفُّوا بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ ، وَلاَ تَبِيعُوا مِنْهَا غَائِبًا بِنَاجِزٍ
“Janganlah engkau jual emas ditukar dengan emas melainkan sama dengan sama, dan janganlah engkau lebihkan sebagiannya di atas sebagian lainnya. Janganlah engkau jual perak ditukar dengan perak melainkan sama dengan sama, dan janganlah engkau lebihkan sebagiannya di atas sebagian lainnya. Serta janganlah engkau jual sebagiannya yang diserahkan dengan kontan ditukar dengan lainnya yang tidak diserahkan dengan kontan.”  (Hr. al-Bukhari dan Muslim)

Saudaraku, kemewahan dan kemajuan sarana dan prasarana lantai bursa, tempat memperdagangkan saham, dan berbagai surat berharga lainnya tidak sepantasnya menjadikan umat Islam silau sehingga melalaikan berbagai ketentuan syariat dalam perniagaan.

Tidak mengherankan bila berbagai hukum yang berlaku di pasar tradisional dengan berbagai jenis komoditi perdagangan dan metode transaksinya juga berlaku pada lantai bursa. Hal ini dikarenakan berbagai hukum syariat Islam senantiasa dikaitkan dengan inti setiap ucapan dan tindakan, bukan dengan penampilan luar dan berbagai hal sekunder lainnya. Wallahu Ta’ala a’lam bish-shawab.

Semoga salawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, dan sahabatnya. Amiin.

===
Catatan kaki:

[1] Al-Mantsur fi al-Qawa’id, oleh az-Zarkasyi, 1/50; al-Asybah wa an-Nazhair, oleh Jalaluddin as-Suyuthi, hlm. 105.
[2] Ensiklopedi Keputusan-keputusan al-Majma’ al-Fiqhi al-Islami, yang bermarkas di kota Mekkah al-Mukarramah, hlm. 297, rapat ke-14, keputusan no. 4.

Sumber: https://arifinbadri.com

.

Jual Beli Salam (Pemesanan Dengan Pembayaran Tunai)

Jual Beli Salam (Pemesanan Dengan Pembayaran Tunai)

Diantara bukti kesempurnaan agama Islam ialah dibolehkannya jual belia dengan cara salam, yaitu akad pemesanan suatu barang dengan kriteria yang telah disepakati dan dengan pembayaran tunai pada saat akad dilaksanakan. Yang demikian itu, dikarenakan dengan akad ini kedua belah pihak mendapatkan keuntungan tanpa ada unsur tipu-menipu atau ghoror (untung-untungan).

Pembeli (biasanya) mendapatkan keuntungan berupa:
1. Jaminan untuk mendapatkan barang sesuai dengan yang ia butuhkan dan pada waktu yang ia inginkan.
2. Sebagaimana ia juga mendapatkan barang dengan harga yang lebih murah bila dibandingkan dengan pembelian pada saat ia membutuhkan kepada barang tersebut.

Sedangkan penjual juga mendapatkan keuntungan yang tidak kalah besar dibanding pembeli, diantaranya:
1. Penjual mendapatkan modal untuk menjalankan usahanya dengan cara-cara yang halal, sehingga ia dapat menjalankan dan mengembangkan usahanya tanpa harus membayar bunga. Dengan demikian selama belum jatuh tempo, penjual dapat menggunakan uang pembayaran tersebut untuk menjalankan usahanya dan mencari keuntungan sebanyak-banyaknya tanpa ada kewajiban apapun.
2. Penjual memiliki keleluasaan dalam memenuhi permintaan pembeli, karena biasanya tenggang waktu antara transaksi dan penyerahan barang pesanan berjarak cukup lama.
Jual-beli dengan cara salam merupakan solusi tepat yang ditawarkan oleh Islam guna menghindari riba. Dan mungkin ini merupakan salah satu hikmah disebutkannya syari’at jual-beli salam seusai larangan memakan riba. Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِذَا تَدَايَنتُم بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى فَاكْتُبُوهُ
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak dengan secara tunai, untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menulisnya.” (Al Baqarah 282)

Sahabat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata:
أشهد أن السلف المضمون إلى أجل مسمى قد أحله الله في الكتاب وأذن فيه، قال الله عز وجل يا أيها الذين آمنوا إذا تداينتم بدين إلى أجل مسمى فاكتبوه الآية.
“Saya bersaksi bahwa jual-beli As Salaf yang terjamin hingga tempo yang ditentukan telah dihalalkan dan diizinkan Allah dalam Al Qur’an , Allah Ta’ala berfirman (artinya): “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak dengan secara tunai, untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menulisnya.” Riwayat As Syafi’i, At Thobary, Abdurrazzaq, Ibnu Abi Syaibah, Al Hakim dan Al Baihaqy, dan oleh Al Albany dinyatakan sebagai hadits shohih.

Diantara dalil yang menguatkan penafsiran sahabat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma di atas ialah akhir dari ayat tersebut yang berbunyi:
وَلاَ تَسْأَمُوْاْ أَن تَكْتُبُوْهُ صَغِيرًا أَو كَبِيرًا إِلَى أَجَلِهِ ذَلِكُمْ أَقْسَطُ عِندَ اللّهِ وَأَقْومُ لِلشَّهَادَةِ وَأَدْنَى أَلاَّ تَرْتَابُواْ إِلاَّ أَن تَكُونَ تِجَارَةً حَاضِرَةً تُدِيرُونَهَا بَيْنَكُمْ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَلاَّ تَكْتُبُوهَا
“Janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu pembayarannya.Yang demikian itu lebih adil di sisi Allah dan lebih dapat menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak menimbulkan keraguanmu. (Tulislah mu’amalah itu) kecuali bila mu’amalah itu berupa perdagangan tunai yang kamu jalankan diantara kamu, maka tiada dosa atasmu bila kamu tidak menulisnya.” (Al Baqarah 282)

Dengan demikian, ayat diatas merupakan dalil disyari’atkannya jual-beli salam. Diantara dalil disyari’atkannya salam ialah hadits berikut:
عن ابن عَبَّاسٍ رضي الله عنهما قال: قَدِمَ النبي صلى الله عليه وسلم الْمَدِينَةَ وَهُمْ يُسْلِفُونَ بِالتَّمْرِ السَّنَتَيْنِ وَالثَّلَاثَ. فقال: (من أَسْلَفَ في شَيْءٍ فَفِي كَيْلٍ مَعْلُومٍ وَوَزْنٍ مَعْلُومٍ إلى أَجَلٍ مَعْلُومٍ . متفق عليه
“Dari sahabat Ibnu Abbas radhiallhu ‘anhuma, ia berkata: “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di kota Madinah, sedangkan penduduk Madinah telah biasa memesan buah kurma dalam tempo waktu dua tahun dan tiga tahun, maka beliau bersabda: “Barang siapa yang memesan sesuatu, maka hendaknya ia memesan dalam jumlah takaran yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak), dan dalam timbangan yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak), dan hingga tempo yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak) pula.” (Muttafaqun ‘alaih).

Berdasarkan dalil di atas dan juga lainnya, para ulama’ telah menyepakati akan disyari’atkanya jual-beli salam.

Walau demikian, sebagaimana dapat dipahami dari hadits di atas, jual-beli salam memiliki beberapa ketentuan (persyaratan) yang harus diindahkan. Persyaratan-persyaratan tersebut bertujuan untuk mewujudkan maksud dan hikmah dari disyari’atkannya salam, serta menjauhkan akad salam dari unsur riba dan ghoror (untung-untungan/spekulasi) yang dapat merugikan salah satu pihak.

Pertama: Pembayaran Dilakukan Di Muka (kontan).

Sebagaimana dapat dipahami dari namanya, yaitu as salam yang berarti penyerahan, atau as salaf, yang artinya mendahulukan, maka para ulama’ telah menyepakati bahwa pembayaran pada akad as salam harus dilakukan di muka atau kontan, tanpa ada sedikitpun yang terhutang atau ditunda.

Adapun bila pembayaran ditunda (dihutang) sebagaimana yang sering terjadi, yaitu dengan memesan barang dengan tempo satu tahun, kemudian ketika pembayaran, pemesan membayar dengan menggunakan cek atau bank garansi yang hanya dapat dicairkan setelah beberapa bulan ayang akan datang, maka akad seperti ini terlarang dan haram hukumnya. Hal ini berdasarkan hadits berikut:
عن بن عمر رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم نهى عن بيع الكالئ بالكالئ. رواه الدارقطني والحاكم والبيهقي وضعَّفه غير واحد من أهل العلم، منهم الشافعي وأحمد وأقرهما الألباني.
“Dari sahabat Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual-beli piutang dengan piutang.” Riwayat Ad Daraquthny, Al Hakim dan Al Baihaqy dan hadits ini dilemahkan oleh banyak ulama’ diantaranya Imam As Syafi’i, Ahmad, dan disetujui oleh Al Albany.

Walau demikian halnya, banyak ulama’ yang menyatakan bahwa kesepakatan ulama’ telah bulat untuk melarang jual-beli piutang dengan piutang.

Imam Ahmad bin Hambal berkata: “Tidak ada satu haditspun yang shahih tentang hal ini (larangan menjual piutang dengan piutang-pen), akan tetapi kesepakatan ulama’ telah bulat bahwa tidak boleh memperjual-belikan piutang dengan piutang.”

Ungkapan senada juga diutarakan oleh Ibnul Munzir.(1)

Ibnul Qayyim berkata: “Allah mensyaratkan pada akad salam agar pembayaran dilakukan dengan kontan; karena bila ditunda, niscaya kedua belah pihak sama-sama berhutang tanpa ada faedah yang didapat. Oleh karena itu, akad ini dinamakan dengan as Salam; dikarenakan adanya pembayaran di muka. Sehingga bila pembayaran ditunda, maka termasuk ke dalam penjualan piutang dengan piutang, bahkan itulah sebanarnya penjualan piutang dengan piutang, dan beresiko tinggi, serta termasuk praktek untung-untungan.”(2)

Kedua : Dilakukan Pada Barang-barang Yang Memiliki Kriteria Jelas.
Telah diketahui bahwa akad salam ialah akad penjualan barang dengan kriteria tertentu dan pembayaran dimuka. Maka menjadi suatu keharusan apabila barang yang dipesan adalah barang yang dapat ditentukan melalui penyebutan kriteria. Penyebutan kriteria ini bertujuan untuk menentukan barang yang diinginkan oleh kedua belah pihak, seakan-akan barang yang dimaksud ada dihadapan mereka berdua. Dengan demikian, ketika jatuh tempo,–diharapkan- tidak terjadi percekcokan kedua belah pihak seputar barang yang dimaksud.

Adapun barang-barang yang tidak dapat ditentukan kriterianya, misalnya: kulit binatang,(3) sayur mayur dll, maka tidak boleh diperjual-belikan dengan cara salam, karena itu termasuk jual-beli ghoror (untung-untungan) yang nyata-nyata dilarang dalam hadits berikut
(أنَّ النبي صلى الله عليه وسلم نهى عن بيع الغرر) رواه مسلم
“Bahwasannya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual-beli untung-untungan.” Riwayat Muslim.

Ketiga : Penyebutan Kriteria Barang Pada Saat Akad Dilangsungkan.

Dari hadits di atas, dapat dipahami pula bahwa pada akad salam, penjual dan pembeli berkewajiban untuk menyepakati kriteria barang yang dipesan. Kriteria yang dimaksud di sini ialah segala hal yang bersangkutan dengan jenis, macam, warna, ukuran, jumlah barang serta setiap kriteria yang diinginkan dan dapat mempengaruhi harga barang.

Sebagai contoh: Bila A hendak memesan beras kepada B, maka A berkewajiban untuk menyebutkan, jenis beras yang dimaksud, tahun panen, mutu beras, daerah asal serta jumlah barang.
Masing-masing kriteria ini mempengaruhi harga beras, karena –sebagaimana diketahui bersama- harga beras akan berbeda sesuai dengan perbedaan jenisnya, misalnya: beras rojo lele lebih mahal dibanding dengan beras IR.

Sebagaimana beras hasil panen 5 tahun lalu –biasanya- lebih murah bila dibanding dengan beras hasil panen tahun ini. Beras grade 1 lebih mahal dari grade 2, dan beras yang dihasilkan di daerah Cianjur, lebih mahal dari beras hasil daerah lainnya.

Adapun jumlah barang, maka pasti mempengaruhi harga beras, sebab beras 1 ton sudah barang tentu lebih mahal bila dibandingkan dengan beras 1 kwintal dari jenis yang sama. Oleh karena itu Rasulullah  pada hadits di atas bersabda:
(من أَسْلَفَ في شَيْءٍ فَفِي كَيْلٍ مَعْلُومٍ وَوَزْنٍ مَعْلُومٍ إلى أَجَلٍ مَعْلُومٍ) . متفق عليه
“Barang siapa yang memesan sesuatu, maka hendaknya ia memesan dalam jumlah takaran yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak), dan dalam timbangan yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak), dan hingga tempo yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak) pula.” (Muttafaqun ‘alaih).

Bila warna barang memiliki pengaruh pda harga barang, maka warnapun harus disepakati kedua belah pihak. Misalnya kendaraan, harganya selain dipengaruhi oleh hal-hal diatas, juga dipengaruhi oleh warnanya. Kendaraan berwarna putih lebih murah dibanding dengan yang berwarna metalik atau yang serupa. Karenanya, bila seseorang memesan kendaraan ia harus menentukan warna kendaraan yang diinginkan.

Setelah kriteria barang yang diperlukan telah disepakati, maka kelak ketika telah jatuh tempo, ada beberapa kemungkinan yang terjadi:
A. Kemungkinan Pertama : Penjual berhasil mendatangkan barang sesuai kriteria yang dinginkan, maka pembeli harus menerimanya, dan tidak berhak untuk membatalkan akad penjualan, kecuali atas persetujuan penjual..
Rasulullah  bersabda:
(المسلمون على شروطهم) رواه أحمد والبيهقي وغيرهما وصححه الألباني
“Kaum muslimin berkewajiban memenuhi persyaratan mereka.” Riwayat Ahmad, Al Baihaqy dan lainnya, dan oleh Al Albani hadits ini dinyatakan sebagai hadits shahih.

B. Kemungkinan Kedua: Penjual hanya berhasil mendatangkan barang yang kriterianya lebih rendah, maka pembeli berhak untuk membatalkan pesanannya dan mengambil kembali uang pembayaran yang telah ia serahkan kepada penjual.
Sebagaimana ia juga dibenarkan untuk menunda atau membuat perjanjian baru dengan penjual, baik yang berkenaan dengan kriteria barang atau harga barang dan hal lainnya yang berkenaan dengan akad tersebut, atau menerima barang yang telah didatangkan oleh penjual, walaupun kriterianya lebih rendah, dan memaafkan penjual atau dengan membuat akad jual-beli baru.

Sikap apapun yang ditentukan oleh pemesan pada keadaan seperti ini, maka ia tidak dicela karenanya.

Walau demikian, ia dianjurkan untuk memaafkan, yaitu dengan menerima barang yang telah didatangkan penjual atau dengan memberikan tenggang waktu lagi, agar penjual dapat mendatangkan barang yang sesuai dengan pesanan. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :
(رَحِمَ الله رَجُلاً سَمْحاً إِذَا بَاعَ وَإِذَا اشْتَرَى وَإِذَا اقْتَضَى) رواه البخاري.
“Dari sahabat Jabir bin Abdillah semoga Allah meridhai keduanya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Semoga Allah senantiasa merahmati seseorang yang senantiasa berbuat mudah ketika ia menjual, ketika membeli dan ketika menagih.” Riwayat Bukhary.

Selain dianjurkan untuk memaafkan, pemesan juga disyari’atkan untuk tetap menampakkan budi dan perilaku luhur sebagai seorang muslim sehingga tidak hanyut dalam amarah,dan bersikap kurang terpuji. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
(من طلب حقا فليطلبه في عفاف واف أو غير واف) رواه الترمذي وابن ماجه وابن حبان والحاكم
“Barang siapa yang menagih haknya, hendaknya ia menagihnya dengan cara yang terhormat, baik ia berhasil mendapatkannya atau tidak.” Riwayat At Tirmizy, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Al Hakim.(4)

C. Kemungkinan Ketiga
: Penjual mendatangkan barang yang lebih bagus dari yang telah dipesan, dengan tanpa meminta tambahan bayaran, maka para ulama’ berselisih pendapat; apakah pemesan berkewajiban untuk menerimanya atau tidak?

Sebagian ulama’ menyatakan, bahwa pemesan berkewajiban untuk menerima barang tersebut, dan ia tidak berhak untuk membatalkan pemesanannya.

Mereka berdalih bahwa : Penjual telah memenuhi pesanannya tanpa ada sedikitpun kriteria yang terkurangi, dan bahkan ia telah berbuat baik kepada pemesan dengan mendatangkan barang yang lebih baik tanpa meminta tambahan uang.(5)

Sebagian ulama’ lainnya berpendapat: Bahwa pemesan berhak untuk menolak barang yang didatangkan oleh penjual, apabila ia menduga bahwa suatu saat penjual akan menyakiti perasaannya, yaitu dengan mengungkit-ungkit kejadian tersebut dihadapan orang lain. Akan tetapi bila ia yakin bahwa penjual tidak akan melakukan hal itu, maka ia wajib untuk menerima barang tersebut. Hal ini karena penjual telah berbuat baik, dan setiap orang yang berbuat baik tidak layak untuk dicela atau disusahkan:
مَا عَلَى الْمُحْسِنِينَ مِن سَبِيلٍ
“Tiada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik.” (At Taubah 91).(6)

Pendapat kedua inilah yang lebih moderat dan kuat, karena padanya tergabung seluruh dalil dan alasan yang ada pada permasalahan ini, wallahu a’alam bis showab.

Keempat : Penentuan Tempo Penyerahan Barang Pesanan.

Tidak aneh bila pada akad salam, kedua belah pihak diwajibkan untuk mengadakan kesepakatan tentang tempo pengadaan barang pesanan. Dan tempo yang disepakati –menurut kebanyakan ulama’- haruslah tempo yang benar-benar mempengaruhi harga barang. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :
إلى أَجَلٍ مَعْلُومٍ . متفق عليه
“Hingga tempo yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak) pula.” (Muttafaqun ‘alaih).

Sebagai contoh: Bila A memesan kepada B, 1 ton beras jenis cisedani, hasil panen tahun ini, dan mutu no 1, maka keduanya harus menyepakati tempo/waktu penyediaan beras, dan tempo tersebut benar-benar mempengaruhi harga beras, misalnya 2 atau 3 bulan.
Akan tetapi bila keduanya menyepakati tempo yang tidak berpengaruh pada harga beras, misalnya : 1 atau 2 minggu atau kurang, atau bahkan tidak ada tempo sama sekali, maka – menurut jumhur ulama’- akad mereka berdua tidak dibenarkan.

Ini adalah pendapat jumhur ulama’, mereka berdalil dengan teks hadits di atas:
(إلى أَجَلٍ مَعْلُومٍ) . متفق عليه
“Hingga tempo yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak) pula.” (Muttafaqun ‘alaih).

Pada hadits ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mensyaratkan agar pada akad salam ditentukan tempo yang disepakati oleh kadua belah pihak.
Sebagaimana mereka juga berdalil dengan hikmah dan tujuan disyari’atkannya akad salam, yaitu pemesan mendapatkan barang dengan harga yang murah, dan penjual mendapatkan keuntungan dari usaha yang ia jalankan dengan dana dari pemesan tersebut yang telah dibayarkan di muka. Oleh karenanya bila tempo yang disepakati tidak memenuhi hikmah dari disyari’atkannya salam, maka tidak ada manfaatnya akad salam yang dijalin.(7)

Pendapat kedua: Ulama’ mazhab Syafi’i tidak sependapat dengan jumhur ulama’, mereka menyatakan bahwa penentuan tempo dalam akad salam bukanlah persyaratan yang baku, sehingga dibenarkan bagi pemesan untuk memesan barang dengan tanpa tenggang waktu yang mempengaruhi harga barang, atau bahkan dengan tidak ada tenggang waktu sama-sekali.
Mereka beralasan bahwa : bila pemesanan barang yang pemenuhannya dilakukan setelah berlalu waktu cukup lama dibenarkan, yang mungkin saja penjual tidak berhasil memenuhi pesanan, maka pemesanan yang langsung dipenuhi seusai akad lebih layak untuk dibenarkan.(8)

Bila kita cermati kedua pendapat di atas, maka kita dapatkan pendapat kedualah yang lebih kuat. Hal ini berdasarkan alasan-alasan berikut:
1. Hukum asal setiap perniagaan adalah halal, kecuali yang nyata-nyata diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Sedangkan pada permasalahan kita ini, tidak ada satu dalilpun yang nyata-nyata melarang akad salam yang tidak mengandung tenggang waktu pada proses penyerahan barang pesanan.
1. Berdasarkan alasan di atas, sebagian ulama’ menyatakan bahwa selama suatu akad dapat ditafsiri dengan suatu penafsiran yang benar, maka penafsiran itulah yang semestinya dijadikan sebagai dasar penilaian.
2. Adapun hadits di atas, maka tidak tegas dalam pensyaratan tempo, sebagaimana hadits ini dapat ditafsirkan: “bila kalian memesan hingga tempo tertentu, maka tempo tersebut haruslah diketahui/disepakati oleh kedua belah pihak”. Penafsiran ini nampak kuat bila kita kaitkan dengan hal lain yang disebutkan pada hadits di atas, yaitu timbangan dan takaran. Para ulama’ telah sepakat bahwa timbangan dan takaran tidak wajib ada pada setiap akad salam. Timbangan dan takaran wajib diketahui bersama bila akad salam dijalin pada barang-barang yang membutuhkan kepada takaran atau timbangan. Adapun pada barang yang penentuan jumlahnya dilakukan dengan menentukan hitungan, misalnya, salam pada kendaraan, maka sudah barang tentu takaran dan timbangan tidak ada perlunya disebut-sebut. (9)
Setelah persyaratan tempo pengadaan barang ini disepakati oleh kedua belah pihak, maka ada tiga kemungkinan yang dapat terjadi pada saat jatuh tempo:

A. Kemungkinan pertama: Pedagang berhasil mendatangkan barang pesanan tepat pada tempo yang telah disepakati, maka pada keadaan ini, pemesan berkewajiban untuk menerimanya.

B. Kemungkinan Kedua : Pedagang tidak dapat mendatangkan barang pesanan, maka pemesan berhak menarik kembali uang pembayaran yang telah ia serahkan atau memperbaharui perjanjian, dengan membuat tempo baru.(10)

C. Kemungkinan Ketiga : Pedagang mendatangkan barang sebelum tempo yang telah disepakati. Pada keadaan ini apabila pemesan tidak memiliki alasan untuk menolak barang yang ia pesan, maka ia diwajibkan untuk menerimanya. Hal ini dikarenakan pedagang telah berbuat baik, yaitu dengan menyegerakan pesanan, dan orang yang berbuat baik tidak layak untuk disalahkan:
مَا عَلَى الْمُحْسِنِينَ مِن سَبِيلٍ
“Tiada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik.” (At Taubah 91).

Adapun bila pemesan memiliki tujuan yang dibenarkan untuk tidak menerima pesanannya kecuali pada tempo yang telah disepakati, maka ia dibenarkan untuk menolaknya. Hal ini berdasarkan hadits berikut:
(لا ضَرَرَ ولا ضِرَار). رواه احمد وابن ماجة وحسنه الألباني.
“Tidak ada kemadhorotan atau pembalasan kemadhorotan dengan yang lebih besar dari perbuatan”. Riwayat Ahmad, Ibhnu Majah dan oleh Al Albany dinyatakan sebagai hadits hasan.

Sebagai contoh: bila barang yang dipesan adalah, buah-buahan, sehingga cepat rusak, padahal pemesan bermaksud menjualnya pada tempo yang telah disepakati, karena pada saat itu harga buah tersebut lebih mahal, atau banyak peminatnya, maka pemesan dibenarkan untuk tidak menerima pesanannya kecuali pada tempo yang telah disepakati.

Atau barang pesanannya membutuhkan gudang yang luas, sedangkan saat itu gudang yang dimiliki oleh pemesan sedang penuh, maka ia dibenarkan untuk tidak menerima pesanannya kecuali pada tempo yang telah disepakati.

Kelima : Barang Pesanan Tersedia Di Pasar Pada Saat Jatuh Tempo.

Pada saat menjalankan akad salam, kedua belah pihak diwajibkan untuk memperhitungkan ketersedian barang pada saat jatuh tempo. Persyaratan ini demi menghindarkan akad salam dari praktek tipu-menipu dan untung-untungan, yang keduanya nyata-nayata diharamkan dalam syari’at Islam.

Sebagai contoh: Bila seseorang memesan buah musiman seperti durian atau mangga dengan perjanjian: “barang harus diadakan pada selain waktu musim buah durian dan mangga “, maka pemesanan seperti ini tidak dibenarkan.

Selain mengandung unsur ghoror (untung-untungan), akad semacam ini juga akan menyusahkan salah satu pihak. Padahal diantara prinsip dasar perniagaan dalam islam ialah “memudahkan”, sebagaimana disebutkan pada hadits berikut:
(لا ضَرَرَ ولا ضِرَار). رواه احمد وابن ماجة وحسنه الألباني.
“Tidak ada kemadhorotan atau pembalasan kemadhorotan dengan yang lebih besar dari perbuatan”. Riwayat Ahmad, Ibnu Majah dan oleh Al Albany dinyatakan sebagai hadits hasan.

Ditambah lagi pengabaian syarat tersedianya barang di pasaran pada saat jatuh tempo akan memancing terjadinya percekcokan dan perselisihan yang tercela. Padahal setiap perniagaan yang rentan menimbulkan percekcokan antara penjual dan pembeli pasti dilarang. Oleh karenanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (لا تحاسدوا ولا تناجشوا ولا تباغضوا ولا تدابروا ولا يبع بعضكم على بيع بعض وكونوا عباد الله إخوانا، المسلم أخو المسلم لا يظلمه ولا يخذله ولا يحقره) متفق عليه
“Dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu ia menuturkan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Janganlah engkau saling hasad, janganlah saling menaikkan penawaran barang (padahal tidak ingin membelinya), janganlah saling membenci, janganlah saling merencanakan kejelekan, janganlah sebagian dariu kalian melangkahi pembelian sebagian lainnya, dan jadilah hamba-hamba Allah yang saling bersaudara. Seorang muslim adalah saudara orang muslim lainnya, tidaklah ia menzhalimi saudaranyanya, dan tidaklah ia membiarkannya dianiaya orang lain, dan tidaklah ia menghinanya.” Muttafaqun ‘alaih

Keenam : Barang Pesanan Adalah Barang Yang Pengadaannya Dijamin Pengusaha.

Yang dimaksud dengan barang yang terjamin adalah barang yang dipesan tidak ditentukan selain kriterianya. Adapun pengadaannya, maka diserahkan sepenuhnya kepada pengusaha, sehingga ia memiliki kebebasan dalam hal tersebut. Pengusaha berhak untuk mendatangkan barang dari ladang atau persedian yang telah ada, atau dengan membelinya dari orang lain .

Persyaratan ini bertujuan untuk menghindarkan akad salam dari unsur ghoror (untung-untungan), sebab bisa saja kelak ketika jatuh tempo, pengusaha –dikarenakan suatu hal- tidak bisa mendatangkan barang dari ladangnya, atau dari perusahaannya.

Sebagai contoh: Bila seorang pedagang memesan gabah kepada seorang petani dengan kriteria yang telah disepakati, maka pada akad salam ini, petani tidak boleh dibatasi ruang kerjanya, yaitu dengan menyatakan: gabah yang didatangkan harus dari hasil ladang miliknya sendiri. Akan tetapi petani harus diberi kebebasan, sehingga ketika jatuh tempo, ia berhak menyerahkan gabah dari hasil ladang sendiri atau dari hasil ladang orang lain, yang telah ia beli terlebih dahulu .

Contoh lain: Seorang pedagang yang di tokonya telah tersedia 100 bungkus semen, @ 50 kg, dari merek tertentu, tatkala anda memesan 50 bungkus semen dari merek tersebut yang beratnya @ 50 kg, untuk tempo 4 bulan yang akan datang. Maka ketika anda membuat perjanjian salam dengannya, anda berdua tidak dibenarkan untuk mensyaratkan agar semen yang diserahkan kelak adalah dari ke 100 bungkus semen yang sekarang ini telah dimiliki oleh pedagang. Karena mungkin saja semen yang serang telah ada ketika telah jatuh tempo menjadi rusak, atau dicuri orang.

Persyaratan ini adalah pendapat jumhur ulama’, sedangkan sebagian ulama berpendapat bahwa persyaratan ini tidak diperlukan,(11) dengan alasan:
1. Hukum asal setiap perniagaan adalah halal, kecuali yang telah nyata-nyata diharamkan dalam dalil.
2. Berdasarkan hukum asal di atas, sebagian ulama’ menyatakan: selama suatu akad dapat ditafsiri dengan suatu penafsiran yang benar, maka penafsiran itulah yang semestinya dijadikan sebagai dasar penilaian.

Oleh karena itu ulama’ yang berpendapat dengan pendapat kedua ini menyatakan: bahwa akad pemesanan dari barang yang telah ada dan terbatas jumlahnya, pada hakekatnya bukanlah akad salam/pemesanan, akan tetapi akad jual beli biasa, hanya saja diiringi dengan akad lain, yaitu penitipan barang dalam tempo waktu yang disepakati.

Dengan demikian, pada contoh kasus pemesanan semen diatas, pemesan telah membeli 50 bungkus semen, ketika akad berlangsung, dan sekaligus menitipkan semen yang telah ia beli kepada pemilik toko hingga tempo 4 bulan.(12)

Permasalahan ini tercakup oleh kaedah fiqih yang sangat masyhur, yaitu:
هَلْ العِبْرَةُ بِصِيَغِ العُقُودِ أَوْ بِمَعَانِيهَا ؟
“Apakah yang menjadi pedoman dalam menghukumi suatu akad adalah kata-kata yang diucapkan ketika menjalankan akad, atau maknanya?(13)
Bila demikian adanya, maka pendapat yang lebih kuat ialah pendapat kedua.(14)

Inilah persyaratan akad salam secara global, dan yang –berdasarkan ilmu saya yang sempit- rajih dari berbagai persyaratan yang disebutkan dalam berbagai bukuh fiqih.
Selanjutnya, di bawah ini beberapa fatwa Komite Tetap Untuk Riset Ilmiyyah dan Fatwa kerajaan Saudi Arabia yang berkaitan dengan berbagai transaksi salam:

A. Pertanyaan:
Apabila ada seseorang yang sedang dalam kebutuhan, lalu ia mengambil dari orang lain sejumlah uang, dengan perjanjian: penghutang akan membayarnya setelah beberapa lamanya dengan beberapa sho’ gandum atau kurma. Dan perjanjian ini dilakukan sebelum gandum dan kurma menua siap dipanen.?

Jawaban:
Bila penghutang berjanji untuk membayar piutang dengan sejumlah sho’ yang telah disepakati, maka kasus ini tergolong ke dalam permasalahan salam. Dan salam adalah salah satu bentuk transaksi jual-beli yang dibolehkan dengan beberapa persyaratan, yaitu :
Pertama : Dilakukan pada barang-barang yang dapat ditentukan kriterianya.
Kedua : Kedua belah pihak menyepakati berbagai kriteria barang yang mempengaruhi harganya.
Ketiga : Hendaknya jumlah barang ditentukan, baik dengan takaran pada komoditi yang ditakar, atau dengan timbangan pada komoditi yang ditimbang, atau dengan meteran pada komoditi yang dihitung panjangnya.(15)
Keempat : Hendaknya pengadaan barang dilakukan setelah berlalunya tempo yang disepakati.
Kelima : Hendaknya komoditi yang dipesan adalah komoditi yang banyak diperoleh pada saat jatuh tempo.
Keenam : Hendaknya pembayaran dilakukan pada saat transaksi berlangsung.
Ketujuh : Hendaknya barang pesanan adalah barang yang pengadaannya dijamin oleh pengusaha, dan bukan barang yang telah ada.

Dasar dihalalkannya transaksi salam dari Al Qur’an adalah firman Allah Ta’ala berikut:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِذَا تَدَايَنتُم بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى فَاكْتُبُوهُ
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak dengan secara tunai, untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menulisnya.” (Al Baqarah 282)

Ibnu ‘Abbas  berkata: “Saya bersaksi bahwa transaksi salaf (salam) yang terjamin hingga tempo yang ditentukan telah dihalalkan dan diizinkan Allah dalam Al Qur’an , kemudian beliau membaca ayat tersebut. Diriwayatkan oleh Sa’id (bin Manshur-pen).

Dan diantara dalil dari As Sunnah ialah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Ibnu ‘Abbas radhiallallahu ‘anhuma bahwa tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di kota madinah, (beliau mendapatkan penduduknya) memesan buah-buahan dalam tempo satu atau dua tahun, maka beliau bersabda:
(من أسلف في شيء فليسلف في كيل معلوم ووزن معلوم إلى اجل معلوم) متفق عليه
“Barang siapa yang memesan sesuatu, maka hendaknya ia memesan dalam jumlah takaran yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak), dan dalam timbangan yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak), dan hingga tempo yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak) pula.” (Muttafaqun ‘alaih).

Wabillahit taufiq, dan semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.(16)

B. Pertanyaan:
Seseorang memberikan sejumlah pinjaman uang kepada pengusaha lebah madu, dengan perjanjian: ketika musim panen tiba, pemberi pinjaman berhak mengambil madu yang ia suka seharga pinjaman tersebut. Dan kadang kala musim panen tiba, sedangkan pengusaha lebah madu tidak mendapatkan madu sesuai kriteria pemberi piutang, atau mungkin pengusaha lebah telah menjual lebahnya atau lebahnya pergi. Apa hukum uang pinjaman tersebut? Berilah kami arahan, semoga Allah membalas kebaikan anda.

Jawaban:
Transaksi jual beli yang disebutkan pada pertanyaan adalah salah satu bentuk transaksi salam, hanya saja transaksi tersebut terlaksana dengan cara-cara yang tidak dibenarkan, karena menyelisihi ketentuan akad salam. Yang demikian itu karena salam adalah akad jual-beli terhadap sesuatu barang yang telah ditentukan kriterianya dan dijamin pengadaanya oleh pengusaha, dengan disertai persyaratan berikut:
– Penentuan kriterianya, dimulai dari jumlah takaran atau timbangan, atau meteran, dan juga jenis serta segala kriteria yang mempengaruhi harganya.
– Adanya praduga kuat tentang kemampuan pengusaha untuk mengadakan barang ketika jatuh tempo.
– Penentuan tempo pengadaan barang.
– Pembayaran sepenuhnya dilakukan dimuka, ketika akad berlangsung.

Sedangkan kasus yang disebutkan pada pertanyaan, maka itu adalah transaksi terhadap suatu barang yang pengadaannya tidak dijamin oleh pengusaha, dikarenakan ia memesan hanya dari hasil ladang lebah yang telah dimiliki. Sebagaimana halnya mereka berdua belum menyepakati jumlah madu dalam hitungan kilo yang dipesan, serta tidak menyebutkan tempo penyerahan madu.

Transaksi ini serupa dengan transaksi yang dahulu dilakukan oleh penduduk Madinah yang menerima pesanan kurma dari hasil kebun mereka sendiri. Tatkala Nabi  tiba di kota Madinah, beliau melarang akan hal itu, dengan alasan goror (untung-untungan) yang ada padanya. Karena mungkin saja kebun tersebut terkena musibah, sehingga tidak menghasilkan.

Ibnu Hajar dalam kitab (Fathul Bary 4/433) berkata: “Ibnu Munzir menukilkan kesepakatan jumhur ulama’ yang melarang transaksi salam pada ladang tertentu; karena itu adalah ghoror/untung-untungan”.

Oleh karenanya dinyatakan pada hadits Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma:
قَدِمَ النبي صلى الله عليه وسلم الْمَدِينَةَ وَهُمْ يُسْلِفُونَ بِالتَّمَارِ السَّنَتَيْنِ وَالثَّلاَثَ. فقال: (من أَسْلَفَ في شَيْءٍ فَفِي كَيْلٍ مَعْلُومٍ وَوَزْنٍ مَعْلُومٍ إلى أَجَلٍ مَعْلُومٍ) . متفق عليه
“Ketika Nabi  tiba di kota Madinah, sedangkan penduduk Madinah telah biasa memesan buah kurma dalam tempo waktu dua tahun dan tiga tahun, maka beliau bersabda: “Barang siapa yang memesan sesuatu, maka hendaknya ia memesan dalam jumlah takaran yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak), dan dalam timbangan yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak), dan hingga tempo yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak) pula.” (Muttafaqun ‘alaih).
Berdasarkan itu, maka transaksi salam yang disebutkan pada pertanyaan tidak sah, karena tidak memenuhi kebanyakan dari persyaratan salam. Dengan demikian, transaknya tidak sempurna, dan wajib atas pengusaha (lebah) untuk mengembalikan uang tersebut kepada pemesan.
Wabillahit taufiq, dan semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.(17)

C. Pertanyaan:
Di Sudan ada seseorang yang biasa memanfaatkan perekonomian masyarakat (kaum muslimin) yang susah, dengan membeli hasil panen mereka jauh-jauh hari sebelum musim panen tiba, dengan harga yang sangat murah, dan ketika musim panen tiba, ia benar-benar menerima seluruh hasil panen mereka. Menurut Syari’at, apa hukum perbuatannya tersebut?

Jawaban :
Bila orang tersebut membeli dari para petani atau lainnya hasil panen ladang mereka, dengan persyaratan yang sesuai dengan jual-beli salam, yaitu dengan cara menyebutkan kriteria hasil ladang, dalam takaran atau timbangan yang telah disepakati, serta pembayaran sepenuhnya dilakukan pada saat transaksi, tanpa menentukan bahwa hasil ladang yang ia beli adalah hasil dari ladang tertentu, maka transaksi ini dibolehkan, dan itulah transaksi salam yang disyari’atkan, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
(من أسلف في شيء فليسلف في كيل معلوم ووزن معلوم إلى اجل معلوم) متفق عليه
“Barang siapa yang memesan sesuatu, maka hendaknya ia memesan dalam jumlah takaran yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak), dan dalam timbangan yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak), dan hingga tempo yang telah diketahui (oleh kedua belah pihak) pula.” (Muttafaqun ‘alaih).

Adapun bila orang tersebut membeli hasil panen ladang tertentu sebelum masa tanaman menua dan siap panen, maka itu tidak dibolehkan. Hal itu karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita untuk menjual buah-buahan hingga menua dan biji-bijian hingga mengeras .

Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab shohihnya dari sahabat Ibnu Umar radhiallahu anhuma :
أنَّ رسول الله صلى الله عليه وسلم نهى عن بيع النخل حتى يزهو، وعن بيع السنبل حتى يبيض ويأمن العاهة، نهى البائع والمشتري) متفق عليه
“Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual-beli kurma hingga menua, dan jual-beli biji-bijian hingga memutih dan selamat dari bencana (puso), beliau melarang penjual dan pembeli.”. Muttafaqun ‘alaih.

Tanda menuanya buah-buahan ialah dengan berwarna merah atau kuning dan enak untuk dimakan.

Apabila ia membeli hasil ladang setelah buah-buahan menua dan biji-bijian mengeras, maka itu adalah transaksi yang dibolehkan, dan tidak mengapa.
Wabillahit taufiq, dan semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.(18)

D. Pertanyaan :
Apa hukumnya menyewakan kebun kelapa? Maksudnya: Seseorang yang memiliki kebun kelapa, kemudian ia menerima dari orang lain uang sebesar 1000 Peso, dengan perjanjian: Buah kelapa kebun tersebut menjadi milik penyewa selama lima tahun Apakah transaksi in dibolehkan dalam Islam atau tidak?

Jawaban:
Transaksi ini terlarang, dikarenakan padanya terdapat unsur ketidak jelasan dan ghoror (untung-untungan). Yang demikian itu karena mereka tidak dapat mengetahui seberapa banyak buah kelapa yang akan dihasilkan oleh kebun tersebut selama lima tahun kedepan. Mungkin saja kebun itu berbuah dan mungkin juga tidak berbuah, mungkin berbuah sedikit dan mungkin juga berbuah banyak. Dan telah tetap bahwa Nabi  “melarang dari jual-beli buah-buahan hingga memerah atau menguning”,(19) dan telah tetap pula bahwa beliau “melarang dari jual-beli biji-bijian hingga mengeras”.(20) Sebagaimana beliau juga melarang dari “jual-beli al mu’awamah /tahunan”,(21) serta jual-beli as sinin/tahunan”.(22)
Wabillahit taufiq, dan semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.” (23)

E. Pertanyaan
Salah seorang masyarakat mendatangi seseorang yang kaya raya, untuk memesan satu unit mobil. Pada saat itu disepakati jenis dan model mobil yang diinginkan. Kemudian Orang tersebut menyerahkan sejumlah uang yang ia mampu bayarkan, dengan perjanjian ia akan memberi keuntungan –misalnya- sebesar sepuluh ribu atau lebih, sesuai dengan harga mobil di showroom. Setelah kesepakatan itu orang kaya tersebut akan pergi ke showroom guna membeli mobil dimaksud, kemudian ia menyerahkannya kepada pemesan. Pada gilirannya pemesan melunasi sisa pembayaran dengan dicicil sesuai dengan perjanjian.

Jawaban:
Bila perjanjian jual-beli antara kedua belah pihak dengan harga dan mobil, dan setelah keduanya menyepakati kriteria mobil tanpa menentukan barangnya, dan sebelum pengusaha tersebut membeli mobil dimaksud. Bila demikian adanya, maka itu termasuk akad salam tanpa ada tempo, dikarenakan pembayaran atau sebagainnya terhutang, sehingga termasuk jual-beli piutang dengan piutang. Disebabkan dengan disepakatinya akad jual-beli, maka mobil pembeli menjadi terhutang oleh pengusaha, sebagaimana harga mobil terhutang oleh pemesan, karena keduanya sama-sama belum menyelesaikan tanggungannya. Dan transaksi semacam ini adalah terlarang.
Metode yang benar ialah: hendaknya kedua belah pihak tidak terlebih dahulu membuat akad jual-beli, akan tetapi pengusaha membeli mobil dan membawanya pulang terlebih dahulu. Setelahnya ia dibolehkan untuk menjual mobil tersebut dengan harga yang mereka sepakati. Dengan pembayaran dicicil beberapa kali atau dengan sekali pembayaran pada tempo tertentu. Metode ini disebut dengan jual-beli dengan pembayaran dihutang, dan itu dibolehkan.
Wabillahit taufiq, dan semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.”(24)

Sumber: https://arifinbadri.com

.

Modal Usaha Telah Ada Di Saku Anda

Modal Usaha Telah Ada Di Saku Anda

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Anda memiliki rencana besar dalam dunia usaha? Anda berhasil merancang sebuah konsep bisnis yang jitu, namun kantong anda cekak? Anda bingung memikirkan modal untuk memulai impian sukses di dunia usaha?

Hentikan kebingungan anda sekarang juga, dan segera mulai nikmatilah sukses besar anda. Modal bukanlah penghalang terwujudnya sukses anda. Betapa banyak dari pengusaha sukses nan kaya raya, yang memulai sukses besar mereka dari tangan hampa, alias tanpa modal. Dan sekarang andapun bisa melakukan hal yang sama.

Sahabat Abdurrahman bin ‘Auf radhiallah ‘anhu hijrah dari kota Makkah ke Madinah, tanpa membawa modal sedikitpun. Walaupun setiba di Madinah ia dipersaudarakan dengan seorang kaya raya yang bernama Sa’ad bin Ar Rabi’ Al Anshari. Mulanya, Sa’ad menawarkan separuh harta kekayaannya kepada Abdurrahman bin Auf. Akan tetapi Abdurrahman menolak dan berkata: “Semoga Allah memberkahi keluarga dan harta kekayaanmu. Namun tunjukkanlah letak pasar kepadaku. Setelah ia mengetahui letak pasar kota Madinah, iapun segera memulai sukses besar beliau sebagai saudagar kaya raya. Hari pertama ke pasar, ia berhasil membawa pulang keuntungan berupa susu kering dan minyak samin. Dan tidak selang beberapa lama, ia mampu menikahi wanita Anshar dengan mas kawin emas sebesar biji kurma. (riwayat Bukhari) Sejak saat ini, pundi-pundi kekayaannya terus bertambah, ingga akhirnya menjadi salah seorang sahabat terkaya.
Walau demikian, mungkin saja anda masih diselimuti oleh keraguan. Anda bertanya-tanya: Bagaimana bisnis dapat berjalan, sedangkan saya tidak memiliki modal? Apakah saya harus berhutang ke bank, padahal setiap bank mensyaratkan riba?

Yakinlah saudaraku! banyak jalan untuk mewujudkan impian anda, walaupun anda tidak memiliki modal uang sedikitpun.

Melalui tulisan sederhana ini saya mengajak anda untuk menemukan jawabannya, dengan tanpa menginjakkan kaki walau hanya di halaman perbankan, dan tanpa memberikan bunga satu rupiahpun kepada orang lain.

Berikut beberapa alternatif yang dibenarkan dalam Syari’at Islam. Anda dapat memilih satu darinya yang paling sesuai dengan diri anda.

1. Akad Mudharabah.
Untuk dapat menjalankan opsi ini, maka anda hanya membutuhkan dua hal, yaitu keahlian dan kepercayaan. Bila anda telah memiliki keduanya, maka dengan mudah anda menggait pemodal yang mempercayakan dananya kepada anda untuk dikeola dengan skema bagi hasil.
Bila pilihan anda jatuh pada opsi ini, maka ketahuilah bahwa pada akad mudharabah, unit usaha yang anda jalankan adalah milik pemodal. Sedangkan anda sebagai pelaku usaha hanya berhak mendapatkan bagian dari keuntungan usaha sebesar persentase yang telah disepakati.

Mungkin anda berkata: bila demikian adanya, maka pemodal mendapatkan keuntungan yang terlalu besar bila dibanding dengan keuntungan pelaku usaha.

Saudaraku! Tidak perlu berkecil hati atau iri, karena keuntungan pemodal itu setimpal dengan resiko yang membayanginya. Bila usaha yang anda jalankan merugi, maka kerugian itu sepenuhnya menjadi resiko pemodal. Asalkan kerugian itu tidak karena kesengajan atau kesalahan anda. Setimpal bukan?

2. Membeli Barang Dengan Pembayaran Terhutang.
Diantara pilihan yang dapat anda ambil untuk memulai bisnis tanpa modal ialah dengan membeli barang dengan pembayaran terhutang hingga batas waktu tertentu. Dengan demikian, selama batas tempo yang disepakati, anda bisa memasarkan barang dagangan anda ini. Bila anda bekerja keras dan lihai dalam memasarkan barang, maka tidaklah tempo pembayaran jatuh, melainkan anda telah berhasil menjual seluruh barang atau sebagian besar darinya.

Hanya saja perlu diingat, bila pilihan anda jatuh pada opsi ini, maka pertimbangkan mutu, dan harga barang serta minat dan daya beli masyarakat. Dengan demikian, anda –dengan izin Allah- dengan mudah memasarkan barang dan segera mendapatkan uang guna melunasi piutang anda.

3. Akad Salam.
Akad salam ialah akad pemesanan barang atau jasa dengan pembayaran tunai di muka sedangkan barang diserahkan setelah tempo waktu tertentu yang disepakati.
Bila anda adalah seorang produsen suatu barang atau seorang pedagang, maka opsi ini sangat berguna bagi anda. Betapa tidak, anda mendapatkan modal segar sedangkan anda memiliki kelapangan waktu dalam memenuhi barang pesanan.

Pada suatu hari Muhamad bin Abil Mujalid bertanya kepada sahabat Abdullah bin Abi Aufa, apakah dahulu para sahabat semasa hidup Nabi  memesan gandum dengan pembayaran tunai di muka? Sahabat Abdullah bin Aufapun menjawab: Dahulu semasa hidup Nabi , kami memesan gandum, sya’ir (gandum mutu rendah), dan minyak zaetun dalam takaran tertentu dan hingga batas waktu tertentu pula, dari para pedagang negri Syam dengan pembayaran di muka. Selanjutnya Muhammad kembali bertanya: Apakah kalian memesannya hanya kepada para pedagang yang benar-benar memiliki ladang? Sahabat Abdullah bin Aufa kembali menjawab: Kami tidak pernah bertanya tentang itu kepada mereka. (Riwayat Imam Bukhari).

Cermatilah hadits ini, niscaya anda menemukan kelapangan yang begitu luas. Anda bisa menjalin akad salam, walaupun anda bukan seorang produsen, petani atau peternak. Yang dibutuhkan pada akad salam hanyalah komitmen anda untuk mendatangkan barang sesuai dengan kriteria dan batas waktu yang telah disepakati.

Akad ini bersifat mutualisme, sehingga menguntungkan kedua belah pihak. Petani, peternak, dan produsen mendapatkan modal yang bebas riba guna menyelesaikan produksinya dengan mutu yang bagus. Sedangkan pemodal, mendapatkan :

Mendapatkan barang dengan harga murah.
Jaminan mendapatkan pasokan barang dagangan. (Al Mughni oleh Ibnu Qudamah 6/385 & I’Ilamul Muwaqqi’in oleh Ibnul Qayyim 2/20)

4. Serikat Dagang.
Diantara kiat untuk mensiasati keterbatasan modal, anda dapat menggandeng pengusaha lain guna bersama-sama menjalankan bisnis anda. Dengan berserikat, tentu kemampuan anda berlipat ganda, baik dari segi finansial atau lainnnya. Sebagaimana, peluang rugi menyempit, dan kalaupun terjadi, maka terasa lebih ringan.

Bila opsi ini jadi pilihan anda, maka hendaknya anda selektif dalam memilih sekutu dagang. Pilihlah seorang sekutu dagang yang beriman, bertakwa, rajin beribadah, dan memiliki amanah yang tinggi. Janganlah mudah hanyut dengan penampilan dan kata-kata manis seseorang. Telusurilah kepribadiannya lebih mendalam, tanpa harus berburuk sangka dengannya.

Pada suatu hari ada seseorang yang merekomendasikan seorang saksi di hadapan Amirul Mukminin Umar bin Al Khatthab , dengan berkata: Sesungguhnya si fulan adalah orang yang jujur alias terpercaya. Mendengar rekomendasi ini, sepontan sahabat Umar bin Al Khtatthab bertanya kepadanya: Apakah engkau pernah safar bersama dengannya? Ia menjawab: Tidak. Kembali Sahabat Umar bertanya: Apakah pernah terjalin suatu perniagaan antaramu dengannya? Orang itu kembali menjawab: Tidak. Kembali sahabat Umar bertanya: Pernahkan engkau mempercayakan kepadanya suatu amanat? Ia-pun kembali menjawab: Tidak. Mendengar semua jawaban orang itu, sahabat Umar berkesimpulan dan berkata kepadanya: Bila demikian adanya, engkau belum mengenalnya dengan baik, aku kira selama ini engkau hanya menyaksikannya membungkak-bungkukkan kepalanya di masjid.” (Al Maqasid Al Hasanah oleh As Sakhawi 389)

Dan bila pilihan anda telah jatuh pada seseorang, maka hendaknya setiap kesepakatan, hak dan kewajiban masing-masing dari anda diwujudkan dalam hitam di atas putih, dan dengan cara-cara yang formal, sehingga memiliki kekuatan hukum dan bersifat mengikat setiap pihak terkait.

5. Menjadi agen atau makelar.
Opsi ini sangat efektif, terutama bagi para pemula. Melalui opsi ini anda dapat belajar banyak tentang seluk beluk perniagaan, dengan resiko yang sangat kecil. Anda dapat mengenal barang, produksi, pasar, dan menjalin banyak relasi tanpa butuh modal, selain kecakapan anda.

Betapa banyak dari pengusaha sukses yang mengawali suksesnya dari sini. Ada baiknya anda meniru jejak mereka dengan menjadi agen, atau makelar suatu produk. Kelak, bila anda telah memiliki jaringan yang cukup, dan mendapat kepercayaan banyak orang anda bisa segera merubah haluan bisnis anda. Ketahuilah! Kepercayaan dan pengalaman adalah modal usaha yang tidak kalah penting dibanding modal finansial.

Antara Pengusaha Dengan Juragan.

Mungkin selama ini anda telah berkali-kali mencoba memulai bisnis impian anda. Namun semuanya berakhir dengan kegagalan. Atau bahkan hingga membaca artikel ini, anda masih juga takut untuk mengupayakannya. Akhirnya anda menduga bahwa memang anda tidak diciptakan sebagai pengusaha.

Saudaraku! Sejatinya tidak demikian, bisa jadi kegagalan dan ketakutan anda ini berasal dari persepsi anda yang salah tentang cita-cita anda sendiri. Bisa jadi impian anda selama ini adalah menjadi juragan besar, hidup enak, tanpa perlu bersusah payah. Namun bila cita-cita anda adalah menjadi pengusaha sukses, maka tidak ada kata terlambat atau takut. Segeralah langkahkan kaki anda dan torehkan awal sukses anda dengan menyingsingkan gengsi. Betapa banyak pengusaha sukses yang memulai suksesnya dari hal-hal remah yang dipandang sebelah mata oleh kebanyakan masyarakat.

Penutup:

Semoga pemaparan singkat ini dapat menggugah semangat anda untuk segera mulai merintis kesuksesan dalam dunia bisnis. Dan tidak lupa, saya turut beroda, semoga Allah memudahkan urusan anda dan menyegerakan keberhasilan usaha anda. Wallahu a’alam bisshawab

Sumber: https://arifinbadri.com

 

.