Select Page
Kebiasaan-kebiasaan yang Wajib Dijauhi dalam Pesta Pernikahan

Kebiasaan-kebiasaan yang Wajib Dijauhi dalam Pesta Pernikahan

Islam adalah agama yang universal. Agama yang mencakup seluruh aspek kehidupan. Tidak ada satu persoalan pun dalam kehidupan ini melainkan telah dijelaskan dan tidak ada satu masalah pun melainkan telah disentuh oleh nilai Islam, kendati masalah tersebut nampak ringan dan sepele. Itulah Islam, agama yang menebar rahmat bagi semesta alam.

Dalam hal pernikahan, Islam telah berbicara banyak. Dari sejak mencari kriteria calon pendamping hidup, hingga bagaimana cara berinteraksi dengannya tatkala resmi menjadi penyejuk hati. Islam memberikan tuntunan, begitu pula Islam mengarahkan bagaimana panduan menyelenggarakan sebuah pesta pernikahan yang suka ria, namun tetap memperoleh berkah dan tidak menyelisihi sunnah Rasulullah shallaallahu ‘alaihi wasallam, demikian pula dengan pernikahan yang sederhana namun tetap ada daya tarik tersendiri. Maka Islam mengajarkannya.

Adapun sebagian kebiasaan yang wajib dijauhi dalam pesta pernikahan:

Pertama : Menyandingkan Pengantin Pria Bersama Pengantin Wanita

Syaikh Ibnu Jibrin –rahimahullāh– ditanya : “Apakah boleh menyandingkan pengantin pria bersama pengantin wanita di tengah-tengah para tamu wanita dalam pesta pernikahan?”

Jawaban: Perbuatan ini tidak dibolehkan. Sebab ini adalah bukti atas tercabutnya rasa malu dan taqlid (mengekor) kepada kaum yang suka berbuat keburukan. Bahkan perkaranya jelas. Sebab, pengantin wanita merasa malu menampakkan diri di hadapan manusia, lalu bagaimana halnya bersanding di hadapan orang-orang yang sengaja menyaksikan?[1]

Syaikh Ibnu Baaz berkata: “Di antara perkara munkar yang diadakan manusia pada zaman ini ialah meletakkan pelaminan untuk pengantin wanita di tengah kaum wanita dan menyandingkan suaminya di dekatnya, dengan dihadiri kaum wanita yang berdandan dan bersolek. Mungkin juga ikut hadir, bersama pengantin pria, kaum pria dan kalangan kerabatnya atau kerabat pengantin wanita. Orang yang memiliki fitrah yang lurus dan memiliki ghirah (kecemburuan) beragama, akan mengetahui apa yang terkandung dalam perbuatan ini yaitu berupa keburukan yang besar dan memungkinkan kaum pria asing menyaksikan kaum wanita yang menggoda lagi bersolek, serta akibat buruk yang akan dihasilkannya. Oleh karena itu, wajib mencegah hal itu dan menghapuskannya, untuk mencegah sebab-sebab fitnah dan melindungi komunitas wanita dari perkara yang menyelisihi syari’at yang suci.[2]

Kedua : Saweran

Al-Bukhari meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Yazid al-Anshari –kakeknya adalah Abu Umamah–, ia mengatakan: “Nabi shallaallahu ‘alaihi wasallam melarang nahbah[3] dan mutslah[4] .”[5]

Ibnu Qudamah –rahimahullāh– berkata: “Karena dalam kebiasaan ini (yakni saweran) berisi perebutan, berdesak-desakkan dan perkelahian. Barangkali mungkin diambil oleh orang yang tidak disukai oleh pemilik barang yang ditaburkan tersebut, karena kerakusan dan ketamakannya serta kekerdilan jiwanya. Sementara orang yang disukai pemilik harta yang ditaburkan tersebut terhalang, karena beradab baik serta menjaga diri dan kehormatannya. Demikianlah pada umumnya. Sebab, orang-orang yang beradab baik akan memelihara dirinya dari berdesak-desakan dengan manusia rendahan untuk suatu makanan atau selainnya. Juga karena ini adalah kehinaan, sedang Allah menyukai perkara-perkara yang luhur daripada berdesak-desakan untuk perkara yang murahan. Yang diperselisihkan hanyalah mengenai kemakruhan hal itu. Adapun kebolehannya, maka tidak diperselisihkan di dalamnya, dan tidak pula mengambilnya. Karena ini semacam membolehkan (orang lain) terhadap hartanya, sehingga ini serupa dengan semua hal yang dibolehkan.”[6]

Al-Hafizh berkata dalam al-Fath: “Malik dan segolongan ulama memakruhkan perbuatan dalam saweran pengantinan.” [7]

Ketiga : Mengatakan “Bir Rafaa’ wal Baniin” (Semoga Rukun dan Banyak Anak)

Tidak boleh mengatakan: “Bir rafaa’ wal baniin, sebagaimana yang dilakukan orang-orang yang tidak mengetahui. Sebab, itu termasuk perbuatan Jahiliyyah.

Al-Hafizh Ibnu Hajar –rahimahullāh– berkata: “Kalimat ini biasa diucapkan oleh kaum Jahiliyyah sehingga ucapan ini dilarang, sebagaimana diriwayatkan oleh Baqi bin Makhlad dari jalan Ghalib dari al-Hasan, dari seseorang dari Bani Tamim. Ia menuturkan: ‘Semasa Jahiliyyah, kami biasa mengucapkan: ‘Bir rafaa’ wal baniin.’ Ketika Islam datang, Nabi shallaallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada kami. Beliau bersabda: ‘Ucapkanlah:

بَارَكَ اللّهُ لَكُمْ، وَ بَارَكَ فِيْكُمْ، وَ بَارَكَ عَلَيْكُمْ

‘Semoga Allah memberkahi kalian, memberkahi pada kalian dan memberkahi atas kalian.’”

An-Nasai dan ath-Thabrani meriwayatkan dari jalan lain, dari ‘Aqil bin Abi Thalib bahwa ia tiba di Bashrah lalu menikahi seorang wanita, maka mereka mengucapkan kepadanya: “Bir rafaa’ wal baniin.” Maka ia mengatakan: “Jangan mengatakan demikian, tapi ucapkanlah sebagaimana ucapan Rasulullah shallaallahu ‘alaihi wasallam:

اللّهُمَّ بَارِكْ لَهُمْ وَ بَارِكْ عَلَيْهِمْ

Ya Allah, berkahilah mereka, dan berkahilah atas mereka.’” (Para perawinya tsiqat). [8]

 ——————————————–

Catatan kaki

[1] Fataawaa Islamiyyah (III/188)

[2] Ibid.

[3] Nahbah ialah apa yang ditebarkan pada saat pesta berupa harta, permen (coklat), makanan atau selainnya.

[4] Mutslah yakni tamtsil (melukai atau merusak anggota tubuh). Di antara mutslah ialah seorang bernadzar untuk melukai hidungnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits ‘Imran bin Hushain dalam riwayat Ahmad (no. 19437).

[5] HR. Al-Bukhari (no. 2474), kitab al-Mazhaalim wal Ghadhab, Ahmad (no. 18265)

[6] Al-Mughni bisy Syarhil Kabiir (VIII/118)

[7] Fat-hul Baari (V/120)

[8] Fat-hul Baari (IX/222)

 

Referensi : Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin ‘Abdir Razzaq. “Panduan Lengkap Nikah dari A sampai Z”. Pustaka Ibnu Katsir.

Sumber

Kebiasaan-kebiasaan yang Wajib Dijauhi dalam Pesta Pernikahan

Undangan Walimahan (Walimatul ‘Urs)

Banyak sekali hadits yang mewajibkan untuk memenuhi undangan. Di antaranya sabda Rasulullah shallaallahu ‘alaihi wasallam, “Hak seorang Muslim terhadap Muslim lainnya ada lima: menjawab salam,menjenguk yang sakit, mengiringi jenazah, memenuhi undangan, dan mendo’akan yang bersin.”

Dan sabdanya, “Penuhilah undangan ini apabila kalian diundang untuk datang.” Nafi’ berkata, “Dan Abdullah bin Umar memenuhi undangan pernikahan dan undangan lainnya meskipun dia dalam keadaan berpuasa.” (Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, At-Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Malik, dan Ad-Darimi)

Mayoritas para ulama mengatakan bahwasanya memenuhi undangan adalah mustahabb (dianjurkan), kecuali undangan pernikahan. Memenuhi undangan pernikahan itu diwajibkan. Sesuai dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

(Makanan terburuk adalah makanan pada walimah) yang hanya mengundang orang-orang kaya dan tidak mengundang orang-orang fakir. Dan siapa yang tidak memenuhi undangan, maka dia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya shallaallahu ‘alaihi wasallam.” (Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, Malik, Ad-Darimi)

Dan pada sebagian riwayat Imam Muslim dan lainnya: “Makanan terburuk adalah makanan pada walimah yang tidak mengundang yang seharusnya diundang, dan mengundang orang yang tidak mau diundang.”

Akan tetapi, sebagian ulama mensyaratkan beberapa ketentuan untuk menghadiri berbagai undangan, beberapa ketentuan ini disebutkan oleh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin:

  1. Orang yang mmengundang bukan orang yang wajib atau disunnahkan untuk diboikot (hajr).
  2. Di tempat yang akan dihadiri tidak ada kemungkaran. Jika di sana ada kemungkaran bila memungkinkan untuk dihilangkan, dia wajib menghadirinya karena dua sebab: wajib memenuhi undangan dan mengubah kemungkaran. Jika tidak mungkin dihilangkan, maka haram untuk menghadiri undangan itu.
  3. Yang mengundang seorang Muslim. Jika bukan Muslim, maka tidak wajib menghadirinya. Sesuai dengan sabda Rasulullah shallaallahu ‘alaihi wasallam, “Kewajiban seorang muslim terhadap muslim lainnya ada enam, … (di antaranya), jika dia mengundangmu, maka penuhilah undangannya!
  4. Biaya yang digunakan untuk resepsi bukan harta yang haram. Apabila memenuhi undangannya –bila dari harta yang haram–, maka kita akan memakan makanan yang diharamkan dan ini tidak boleh. Ini yang dikatakan oleh sebagian ulama. Sebagian lain berkata, “Jika biaya yang digunakan dari harta yang haram, maka dosanya atas orang yang melaksanakan itu, bukan yang memakannya dengan cara yang dihalalkan. Berbeda dengan dzatnya memang sudah diharamkan seperti khamr, harta rampasan dan lain-lain.” Dan pendapat ini kuat.
  5. Ketika memenuhi undangan tidak melalaikan kewajiban lain, atau melalaikan yang lebih wajib dari memenuhi undangan tersebut. Ketika mengandung hal tersebut, maka diharamkan memenuhi undangan tersebut.
  6. Undangan tersebut tidak menyebabkan kemudharatan bagi yang diundang, seperti: harus pergi jauh, atau harus meninggalkan keluarganya yang sangat membutuhkan keberadaannya.
  7. Dan kami menambahkan: Yang mengundang tidak mengkhususkan seseorang atau tidak mengkhususkan undangannya. Jika tidak mengkhususkan seseorang, seperti yang mengundang mengumumkan undangannya di majelis umum, maka ketika itu tidak wajib memenuhi undangannya karena itu adalah undangan umum (Al-Jafala).

***

Catatan kaki

[1] Diriwayatkan Al-Bukhari, (1240); Muslim, (2162); Ahmad, (27511); At-Tirmidzi, (2737); An-Nasa’i, (1938); Abu Dawud,(5030); dan Ibnu Majah, (1435).
[2] Al-Bukhari, (5179); Muslim, (1429); Ahmad, (4698); At-Tirmidzi, (1098); Abu Dawud, (3736); Ibnu Majah, (1914); Malik, (1159); dan Ad-Darimi, (2205).
[3] Al-Bukhari, (5177); Muslim, (1432); Ahmad, (10040); Abu Dawud, (3742); Ibnu Majah, (1913); Malik, (1160); dan Ad-Darimi, (2066).
[4] Al-Qaul Al-Mufid ‘Ala Kitab At-Tauhid, (3/111-113), dengan sedikit perubahan.
[5] Dalam Lisan Al-Arab: Mereka mengundang dengan cara Al-Jafala: yaitu engkau mengundang orang untuk mendatangi penjamuan makan yang bersifat umum. Tharfah berkata, “Kami di musim dingin mengundang orang secara umum … kamu tidak melihat adab-adab yang membuat marah”, Al-Akhfasy berkata, “Undanglah Fulan dalam bentuk undangan yang khusus bukan yang umum dan Al-Ajfala adalah undangan yang khusus bukan umum.” (11/114) akar kata: جفل

Referensi :
Fuad bin Abdul ‘Aziz Asy-Syalhub. Ringkasan Kitab Adab. Darul Falah

Sumber

Aku Bukan Suamimu

Aku Bukan Suamimu

Jika suami mengatakan kepada istrinya, ”Aku bukan suamimu lagi.” apakah jatuh talak?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Sebelumnya kita perlu mengenal pembagian talak ditinjau dari nilai ketegasannya.

Pertama, Lafadz talak sharih

Adalah lafadz talak yang sudah bisa dipahami maknanya dari ucapan yang disampaikan suami. Atau dengan kata lain, lafadz talak yang sharih adalah lafadz talak yang tidak bisa dipahami maknanya kecuali perceraian.

Misalnya: Kamu saya talak, kamu saya cerai, kita bubar…, atau kalimat semacamnya.

Kedua, Lafadz talak kinayah (tidak tegas)

Kebalikan dari yang pertama, lafadz talak kinayah merupakan kalimat talak yang mengandung dua kemungkinan makna. Bisa dimaknai talak dan bisa juga bukan talak. Misalnya pulanglah ke orang tuamu, keluar sana.., jangan pulang sekalian..,

Cerai dengan lafadz tegas hukumnya sah, meskipun pelakunya tidak meniatkannya.

Dalam Ensiklopedi Fiqh dinyatakan,

واتفقوا على أن الصريح يقع به الطلاق بغير نية

“Para ulama sepakat bahwa talak dengan lafadz sharih (tegas) statusnya sah, tanpa melihat niat (pelaku)” (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 29/26)

Sementara itu, cerai dengan lafadz tidak tegas (kinayah), dihukumi dengan melihat niat pelaku. Jika pelaku melontarkan kalimat itu untuk menceraikan istrinya, maka status perceraiannya sah.

”Aku Bukan Suamimu!” Jatuh Cerai?

Sebelumnya, kita perlu ingat, bahwa semua kalimat yang tidak sesuai realita adalah kalimat dusta dan itu kemungkaran.

Dalam kasus dzihar, seorang suami menyamakan istrinya dengan ibunya, yang haram untuk dia gauli. Allah menyebut pernyataan suami semacam ini sebagai ucapan munkar dan kedustaan.

الَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنْكُمْ مِنْ نِسَائِهِمْ مَا هُنَّ أُمَّهَاتِهِمْ إِنْ أُمَّهَاتُهُمْ إِلَّا اللَّائِي وَلَدْنَهُمْ وَإِنَّهُمْ لَيَقُولُونَ مُنْكَرًا مِنَ الْقَوْلِ وَزُورًا

Orang-orang yang menzhihar isterinya di antara kalian, (menganggap isterinya sebagai ibunya, padahal) Tiadalah isteri mereka itu ibu mereka. ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. dan Sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu Perkataan mungkar dan dusta.” (QS. al-Mujadilah: 2)

Terlepas apakah jatuh talak ataukah tidak, kalimat ini sendiri adalah kedustaan. Bagaimana mungkin wanita yang berstatus masih sah sebagai istrinya dan dia sah sebagai suaminya, sementara dia menyatakan, ”Aku bukan suamimu!”?? Bohong.. dia belum pernah menceraikannya sebelum itu. Berarti masih suaminya.

Untuk itu, kewajiban suami yang tega mengucapkan kalimat ini kepada istrinya, padahal mereka belum pernah bercerai, dia harus bertaubat dan memohon ampun kepada Allah, karena telah berbohong.

Apakah jatuh cerai?

Ulama menggolongkannya sebagai talak kinayah. Sehingga keabsahannya dikembalikan kepada niat suami. Jika suami berniat menceraikannya maka jatuh cerai satu. Sebaliknya, jika tidak berniat menjatuhkan cerai maka tidak jatuh cerai.

Kita simak keterangan dari an-Nasafi – ulama hanafi – (w. 710 H). Beliau menjelaskan salah satu kalimat talak,

وتطلق بلست لي بامرأة أو لست لك بزوج إن نوى طلاقا

”Wanita jatuh cerai dengan ucapan suami: ”Kamu bukan istriku” atau ”Aku bukan suamimu”, jika suami berniat talak.” (Kanzu ad-Daqaiq, dengan Syarh Tabyin al-Haqaiq, 6/292)

Az-Zaila’i ketika menjelaskan keterangan ini menyatakan,

وهذا عند أبي حنيفة ، وقالا لا تطلق ؛ لأنه نفي النكاح فلا يكون طلاقا بل يكون كذبا فصار كما لو قال لم أتزوجك

Ini merupakan pendapat Abu Hanifah. Beliau mengatakan, tidak jatuh talak. Karena dia mengingkari pernikahannya, sehingga bukan talak. Namun kedustaan. Sehingga seperti orang yang mengatakan, ’Saya tidak pernah menikahimu.’ (Tabyin al-Haqaiq Syarh Kanzu ad-Daqaiq, 6/292)

 

Allahu a’lam.
Penulis: Ustadz Ammi Nur Baits, ST., BA.

Sumber

Menolak Ajakan Suami karena Tidak Dinafkahi

Menolak Ajakan Suami karena Tidak Dinafkahi

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Suami maupun istri, masing-masing memiliki hak dan kewajiban yang sebanding dengan posisinya. Karena itu, bentuk hak dan tanggung jawab masing-masing berbeda. Kaidah baku ini Allah nyatakan dengan tegas dalam al-Quran,

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Para istri memiliki hak yang sepadan dengan kewajibannya, sesuai ukuran yang wajar.” (QS. al-Baqarah: 228).

Diantara tanggung jawab terbesar suami adalah memberi nafkah istri. Allah berfirman,

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) di atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS. An-Nisa’: 34).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga berpesan,

فاتَّقوا الله في النِّساء؛ فإنَّكم أخذتموهنَّ بأمانة الله، واستحْلَلْتم فروجَهنَّ بكلمة الله، ولهُنَّ عليكم رزقُهن وكسوتُهن بالمعروف

Bertaqwalah kepada Allah dalam menghadapi istri. Kalian menjadikannya sebagai istri dengan amanah Allah, kalian dihalalkan hubungan dengan kalimat Allah. Hak mereka yang menjadi kewajiban kalian, memberi nafkah makanan dan pakaian sesuai ukuran yang sewajarnya.” (HR. Muslim No.3009).

Karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi ancaman keras bagi suami yang tidak memperhatikan nafkah istrinya. Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كفى بالمرْء إثمًا أن يضيِّع مَن يقوت

“Seseorang dikatakan berbuat dosa, ketika dia menyia-nyiakan orang yang wajib dia nafkahi.” (HR. Abu Daud No.1694, Ibnu Hibban No.4240 dan dishahihkan oleh Syuaib al-Arnauth).

Ibnu Qudamah menyebutkan,

اتَّفق أهلُ العلم على وجوب نفقات الزَّوجات على أزْواجِهن، إذا كانوا بالغين؛ إلا النَّاشزَ منهنَّ، ذكره ابن المنذر وغيرُه

“Ulama sepakat suami wajib memberi nafkah istri, jika suami telah berusia baligh. Kecuali untuk istri yang nusyuz (membangkang). Demikian yang disebutkan Ibnul Mundzir dan yang lainnya.” (al-Mughni, 9/230).

Tanggung Jawab Istri

Sebaliknya, istri diperintahkan untuk mentaati suaminya. Selama suami tidak memerintahkan untuk maksiat.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

“Jika seorang wanita melaksanakan shalat lima waktu, melaksanakan puasa pada bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya, dan mentaati suaminya, maka dia dipersilahkan untuk masuk surga dari pintu mana saja yang dia kehendaki.” (HR Ahmad No.1683, Ibnu Hibban No.4163 dan dishahihkan oleh Syuaib al-Arnauth).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah mengatakan,

وليس على المرأة بعد حق الله ورسوله أوجب من حق الزوج

“Tidak ada hak yang lebih wajib untuk ditunaikan seorang wanita –setelah hak Allah dan Rasul-Nya- daripada hak suami” (Majmu’ al-Fatawa, 32/260)

Ketika Kewajiban Tidak Ditunaikan

Ketika salah satu tidak memenuhi kewajiban, maka yang terjadi adalah kedzaliman. Suami yang tidak memenuhi kewajibannya, dia mendzalimi istrinya dan sebaliknya. Hanya saja, dalam keluarga, Islam tidak mengajarkan membalas pengkhianatan dengan pengkhianatan. Karena masing-masing akan mempertanggung jawabkan tugasnya di hadapan Allah kelak di hari kiamat.

Sehingga, ketika suami tidak melaksanakan kewajibannya untuk istrinya, Islam tidak mengajarkan agar tindakan itu dibalas dengan meninggalkan kewajibannya. Karena yang terjadi, justru timbul masalah baru.

Syaikh Khalid bin Abdul Mun’im ar-Rifa’i mengatakan,

فإذا قصَّر أحدُ الزَّوجيْن في حقِّ الآخر، فليس للآخَر أن يقصِّر في حقِّه، فكلٌّ مسؤول عن تقْصيره يوم القيامة.

“Jika salah satu pasangan tidak menunaikan kewajibannya kepada yang lain, bukan berarti dia harus membalasnya dengan tidak menunaikan kewajibannya kepada pasangannya. Karena masing-masing akan dimintai pertanggung jawaban disebabkan keteledorannya, pada hari kiamat.”

Pelanggaran yang dilakukan oleh suami, tidak boleh dibalas dengan pelanggaran dari istri. Sehingga dua-duanya melanggar. Karena itu, solusi yang diberikan pelanggaran balas pelanggaran, tapi diselesaikan dengan cara yang baik, antara bersabar atau pernikahan dihentikan.

Lalu apa yang harus dilakukan wanita?

Syaikh ar-Rifa’i melanjutkan,

وفي حالة تقْصير الزَّوج في الإنفاق، فالمرأة مخيَّرة بين أن تصبِر على ذلك، وبين أن تطلُب الطَّلاق، فإنِ اختارت الصَّبر، فإنَّه يَجب عليْها أن تُطيع زوْجَها، ويَجب عليها أن تؤدِّي كلَّ الحقوق الواجبة عليْها لزوجها، ومن ذلك حقُّه في الفراش، وإنِ اختارت الطَّلاق لَم تأثم بذلك

“Ketika suami tidak menafkahi istrinya, ada dua pilihan untuk si wanita, antara bersabar atau melakukan gugat cerai. Jika dia pilih bersabar, maka istri wajib untuk memenuhi kewajibannya kepada suaminya. Termasuk hak untuk melayani di ranjang. Dan jika istri memilih talak, dia tidak berdosa.”

Sumber: http://ar.islamway.net/fatwa/42859/حكم-امتناع-المرأة-عن-فراش-زوجها-إذا-قصر-في-واجباته

Al-Qurthubi mengatakan,

فهِم العُلماء من قوله تعالى: {وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ} أنَّه متى عجَز عن نفقتها لم يكن قوَّامًا عليها، وإذا لم يكن قوَّامًا عليها، كان لها فسخ العقد لزوال المقْصود الذي شرع لأجْلِه النكاح

“Para ulama memahami dari firman Allah, ‘Disebabkan mereka menginfakkan harta mereka.’ bahwa ketika seorang suami tidak mampu memberikan nafkah istrinya, dia tidak disebut pemimpin bagi istrinya. Jika suami tidak lagi menjadi pemimpin bagi istrinya, maka istri berhak untuk melakukan gugat cerai. Karena tujuan nikah dalam kasus ini telah hilang.” (Tafsir al-Qurthubi, 5/168).

Ibnul Mundzir mengatakan,

ثبت أنَّ عمر كتبَ إلى أُمراء الأجناد أن ينفقوا أو يطلِّقوا

“Terdapat riwayat shahih bahwa Umar menulis surat untuk para panglima perang, agar para suami memberikan nafkah istrinya atau mentalak mereka.” (Dinukil dari Subul as-Salam, 3/224).

Allahu a’lam.
Penulis: Ustadz Ammi Nur Baits

Sumber

Bolehkah Berdalil dengan Khilafiyah

Bolehkah Berdalil dengan Khilafiyah

Fatwa dari Syaikh Abdul Aziz bin Baz

Soal:

Jika ulama berselisih pendapat dalam masalah haramnya suatu barang, bolehkan seseorang tetap menjual benda barang?

Jawab:

Jawabannya bisa berbeda-beda. Jika barang yang dimaksud ada dalil khusus yang mengharamkannya maka tidak boleh seorang Muslim menjualnya kepada orang lain dan tidak boleh menawarkannya atau memotivasi orang untuk memilikinya dan menggunakannya. Jika ia tahu Allah Jalla wa ‘Ala mengharamkan barang tersebut maka ia tidak boleh berhujjah dengan khilafiyah. Bahkan wajib baginya untuk menjauhi apa yang Allah haramkan atasnya serta menjauhinya.

Contohnya, masalah (minuman atau makanan) yang hanya memabukkan ketika dikonsumsi dalam jumlah banyak. Sebagian fuqaha mengatakan, jika hanya sedikit dan tidak memabukkan maka boleh mengonsumsinya. Ini adalah sebuah kesalahan. Bahkan (dalam hadits) :

ما أسكر كثيره فقليله حرام

Sesuatu yang memabukkan jika banyak, maka sedikitnya juga haram” (HR. Tirmidzi no. 1865, Ibnu Hajar mengatakan: “Sanadnya shahih sesuai syarat Muslim.” [Fathul Baari, 10/47])

Demikian sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam yang shahih. Maka jika seseorang mengetahui bahwa suatu minuman perasan buah atau suatu makanan jika dalam jumlah banyak bisa memabukkan, wajib meninggalkannya walaupun sedikit. Diharamkan bagi manusia untuk mengonsumsinya baik sedikit ataupun banyak. Dalam rangka saddudz dzari’ah dan mengarahkan kepada yang lebih baik. Ini juga dalam rangka mengamalkan hadits yang shahih: “Sesuatu yang memabukkan jika banyak, maka sedikitnya juga haram”.

Maka demikian juga kasus-kasus yang semisalnya.

***

Sumber: https://binbaz.org.sa/fatwas/10874
Penerjemah: Yulian Purnama

Sumber

Tanda Kena Gangguan Jin dan ‘Ain

Tanda Kena Gangguan Jin dan ‘Ain

Fatwa Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafidzahullahu Ta’ala

Pertanyaan:

Bagaimana seseorang bisa mungkin mengetahui kalau dirinya terkena gangguan jin atau terkena penyakit ‘ain?

Jawaban:

Segala puji bagi Allah Ta’ala.

Orang-orang yang ahli ruqyah syar’iyyah meneyebutkan beberapa tanda (gejala) yang bisa digunakan sebagai petunjuk bahwa seseorang terkena gangguan jin atau terkena penyakit ‘ain. Ini adalah tanda gangguan jin atau penyakit ain yang tidak pasti, terkadang berbeda-beda sesuai dengan keadaan, dan terkadang bertambah parah atau ringan pada keadaan yang lain.

Adapun tanda-tanda gangguan jin adalah:

  1. Berpaling atau lari (menjauh) yang ekstrim dari mendengar adzan atau mendengar (bacaan) Al-Qur’an.
  2. Pingsan, tidak sadar, kejang (kesurupan), atau jatuh saat dibacakan Al-Qur’an kepadanya.
  3. Banyaknya melihat hal-hal yang menakutkan.
  4. Menyendiri, menyepi atau perilaku-perilaku aneh.
  5. Terkadang jin yang mengganggu tersebut bisa berbicara ketika dibacakan (Al-Qur’an) kepadanya.

Adapun tanda terkena gangguan ‘ain, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz As-Sadhan hafidzahullahu Ta’ala berkata,

Tanda-tanda (‘ain) berikut ini, jika bukan karena penyakit jasmani (penyakit medis), maka umumnya dalam bentuk :

Sakit kepala yang berpindah-pindah; pucat di wajah; sering berkeringat dan buang air kecil; nafsu makan lemah; mati rasa, panas atau dingin di anggota badan; “deg-degan” di jantung (detak jantung yang cepat dan tidak beraturan, pen.); rasa sakit yang berpindah dari bawah punggung dan bahu; bersedih dan merasa sempit (sesak) di dada; berkeringat di malam hari; perilaku (emosi) berlebihan, seperti ketakutan yang tidak wajar; sering bersendawa, menguap atau terengah-engah; menyendiri atau suka mengasingkan diri; diam atau malas bergerak; senang (terlalu banyak) tidur; adanya masalah kesehatan tertentu tanpa ada sebab-sebab medis yang diketahui.

Tanda-tanda tersebut atau sebagiannya bisa ditemukan tergantung pada kuat atau banyaknya ‘ain.” (Ar-Ruqyah Syar’iyyah, hal. 10)

@Erasmus MC NL Na-1001, 16 Dzulqa’dah 1439/ 31 Juli 2018 Penerjemah: M. Saifudin Hakim

Sumber