Select Page
Jangan Sampai Iblis Ikut Membina Harta dan Anak Kita

Jangan Sampai Iblis Ikut Membina Harta dan Anak Kita

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Sepenggal hikmah di surat Al-Isra ayat 61 sampai 65. Ketika Iblis diusir dari surga karena membangkang perintah Allah, dia diberi kesempatan untuk menyesatkan manusia untuk menjadi temannya di neraka Jahanam. Dia juga diberi kesempatan untuk memanfaatkan setiap harta dan anak yang dimiliki manusia agar menjadi propertinya. Allah berfirman,

وَشَارِكْهُمْ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ وَعِدْهُمْ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلَّا غُرُورًا

Bergabunglah dengan mereka (manusia) pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. dan tidak ada yang dijanjikan oleh setan kepada mereka melainkan tipuan belaka” (QS. Al-Isra: 64).

Ulama berbeda pendapat tentang bentuk bergabungnya iblis bersama manusia dalam hal anak dan harta. Al-Hafidz Ibnu Katsir menyimpulkan perbedaan tafsir tersebut dengan menyebutkan keterangan Ibnu Jarir at-Thabari,

قال ابن جرير: وأولى الأقوال بالصواب أن يقال: كل مولود ولدته أنثى، عصى الله فيه، بتسميته ما يكرهه الله، أو بإدخاله في غير الدين الذي ارتضاه الله، أو بالزنا بأمه، أو بقتله ووأده، وغير ذلك من الأمور التي يعصي الله بفعله به أو فيه، فقد دخل في مشاركة إبليس فيه من ولد ذلك الولد له أو منه… فكل ما عصي الله فيه -أو به، وأطيع فيه الشيطان -أو به، فهو مشاركة

“Ibnu Jarir mengatakan, pendapat yang paling mendekati kebenaran, bahwa setiap anak yang dilahirkan wanita, dan menjadi sebab seseorang bermaksiat kepada Allah, baik dengan memberikan nama untuknya dengan nama yang Allah Allah benci, atau dengan memasukkan anak ini ke dalam agama yang tidak Allah ridhai, atau anak hasil zina dengan ibunya, atau anak yang dibunuh dan dikubur hidup-hidup, atau perbuatan lainnya yang termasuk maksiat kepada Allah terhadap anak itu, semua keadaan di atas termasuk dalam bentuk ikut campurnya Iblis terhadap anak. Oleh karena itu, semua anak dan harta yang menjadi sarana bermaksiat kepada Allah dan sebab mentaati setan maka Iblis ikut bergabung di dalamnya” (Tafsir Ibnu katsir, 5/94).

Ayat ini mengingatkan kita untuk lebih mawas diri dalam mendidik dan memperhatikan manfaat harta dan pendidik anak. Bisa jadi secara zahir itu harta dan anak kita, namun sejatinya telah dikendalikan iblis.

Perhatikan dengan baik, jangan beri kesempatan Iblis untuk bergabung membina harta dan anak kita.

Allahu a’lam

Penulis: Ust. Ammi Nur Baits, BA.

Sumber: https://muslimah.or.id/

Buah Anggur yang Disebutkan dalam Al-Qur’an

Buah Anggur yang Disebutkan dalam Al-Qur’an

Diantara makanan yang disebut dalam Al Qur’an Al Karim adalah buah anggur. Dan penelitian para ahli pengobatan dan ahli medis memaparkan bahwa buah anggur memiliki banyak manfaat dan khasiat.

Allah ta’ala berfirman,

أَيَوَدُّ أَحَدُكُمْ أَنْ تَكُونَ لَهُ جَنَّةٌ مِنْ نَخِيلٍ وَأَعْنَابٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ لَهُ فِيهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ وَأَصَابَهُ الْكِبَرُ وَلَهُ ذُرِّيَّةٌ ضُعَفَاءُ فَأَصَابَهَا إِعْصَارٌ فِيهِ نَارٌ فَاحْتَرَقَتْ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ

Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya.” (QS Al Baqarah: 266)

Ibnul Qayyim menjelaskan, “Anggur termasuk buah-buahan yang terbaik dan paling banyak kegunaannya, bisa dimakan dalam keadaan basah maupun kering, yang hijau dan masak maupun yang masih mengkal. Anggur menjadi buah sesungguhnya bila dikombinasikan dengan buah-buahan, menjadi makanan pokok bila digabungkan dengan makanan lain, menjadi lauk bila dikombinasikan dengan lauk lain, menjadi obat bila dicampur dengan obat lain dan menjadi minuman bila dicampur dengan minuman lain.”

Di antara manfaat buah anggur untuk kesehatan antara lain:

  1. Untuk kesehatan jantung
    Kandungan flavonoid pada buah anggur terdiri dari dua jenis, yaitu quercitin dan reveratrol. Resveratrol pada anggur terbukti dapat menghambar endothelin-1 (ET-1). Untuk jenis anggur merah ini kaya akan gizinya.
  2. Mengobati gangguan pencernaan
    Karena mengandung magnesium. Perjalanan anggur sebagai makanan obat ternyata telah berawal pada zaman Mesir kuno. Selian disajika sebagai buah meja di lingkungan kekaisaran Yunani dan Mesir Kuno, buah anggur telah dimanfaatkan sebagai bagian dalam pengobatan alami gangguan pencernaan.
  3. Sebagai penggelontor kotoran (buang air besar)
    Prosesnya, lantaran kandungan serat kasarnya yang melimpah dalam kulit buah dan zat pencahar ringan (laksatif) yang terdapat dalam buah anggur.
  4. Meningkatkan energi tubuh
    karena kandungan zat besi dan mineral penyusun sel-sel darah merah yang merupakan pengangkut sumber energi untuk jenis anggur yang berwarna gelap.
  5. Mencegah kanker
    Prosesnya dengan meningkatkan daya tahan tubuh, melalui keampuhan resveratrol alami dalam buah anggur ini sudah terbukti lewat kemampuannya mengganyang sel-sel kanker dalam tiga tahapan. Bila anggur lebih dini dikonsumsi, reveratrol sudah akan beraksi meredam kerusakan DNA dalam sel pada tahap awal pertunasan sel benih kanker.
  6. Mencegah penuaan dini
    Biji anggur memiliki kekuatan antioksidan yang dipunyai vitamin A, C, dan E.
  7. Mencegah kerusakan gigi
    Yakni dengan kandungan tanin dalam anggur. Asal elegat dalam anggur juga mampu menghancurkan hidrokarbon, senyawa penyebab kakner yang disebabkan asap rokok.
  8. Menjaga vitalitas pria
    Karena dalam anggur merah terdapat mineral mikro yakni mangan dan seng untuk menjaga libido seks pria, menjaga kesuburan pria, serta mncegah dan membantu mengatasi peradangan prostat.
  9. Mengurangi gejala insomnia/sulit tidur
    Sebuah penelitian di Italia menunjukkan bahwa pada anggur terdapat melatonin, suatu hormon yang dikenal bisa membantu mengatur jam biologis manusia. Hormon melatotnin umumnya akan muncul di malam hari, sehingga mengantarkan orang untuk tertidur pulas.

Sebagai buah makanan yang biasa disantap sebagai pencuci mulut, untuk mengatasi segala keluhan dan penyakit-penyakit di atas, maka anggur cukup dikonsumsi dengan takaran sewajarnya setiap sesudah makan. Kecuali untuk kasus insomsia, dianjurkan mengkonsumsinya satu jam setelah makan malam.

 

Sumber: https://muslimah.or.id/

Hukum Membunuh Semut yang Mengganggu

Hukum Membunuh Semut yang Mengganggu

Pertanyaan: Bolehkah membunuh semut yang mengganggu? Padahal semut itu diharamkan untuk dibunuh.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

إِنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنْ قَتْلِ أَرْبَعٍ مِنَ الدَّوَابِّ النَّمْلَةُ وَالنَّحْلَةُ وَالْهُدْهُدُ وَالصُّرَدُ.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang membunuh empat hewan: semut, lebah, burung Hudhud dan burung Shurad.” (HR. Abu Daud, no. 5267; Ibnu Majah, no. 3224; Ahmad 1:332. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih).

Ada soal yang pernah diajukan pada Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah dalam kajian Liqaat Al-Bab Al-Maftuh, “Ada hadits tentang larangan membunuh empat hewan, yaitu semut, lebah, burung Hudhud, dan burung Shurad. Namun semut di rumah kadang mengganggu, kadang masuk ke kamar dan biasa bergerombol. Apakah boleh kami membunuh semut tadi dengan racun dan semisal itu?”

Jawab Syaikh rahimahullah:

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang membunuh empat hewan yaitu semut, lebah, burung Hudhud, dan burung Shurad.

Allah juga meralang membunuh seorang muslim. Namun jika ada muslim yang mengganggu seperti pelaku begal di jalanan atau pelaku semisal itu yang halal dibunuh, maka hukumnya boleh dibunuh.

Kalau ada seseorang yang menghalangimu lantas ingin merampas hartamu, maka janganlah berikan ia harta. Jika ia ingin membunuhmu, lawanlah dia. Engkau halal untuk membunuhnya (dalam rangka membela diri, pen.). Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan tentang orang yang merampas harta, “Janganlah memberikan harta padanya.” “Bagaimana jika ia sampai mencoba membunuhku?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Bunuhlah dia.” “Bagaimana jika ia malah membunuhku?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Engkau syahid.” “Bagaimana jika aku membunuhnya?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Dia di neraka.” Kesimpulannya, yang mengganggu berarti boleh dibunuh.

Maka semut yang mengganggu yang tidak bisa dihilangkan kecuali dengan membunuhnya, maka silakan membunuhnya. Melakukan seperti itu tidaklah berdosa. Namun ada cara lain sebelum membunuhnya, yaitu di rumah diberi sesuatu untuk mengusir semut (seperti kapur semut dan semacamnya, pen.). Kami sendiri sudah mencobanya. Kami pandang seperti itu akan mengusir semut yang mengganggu tadi, akhirnya semut-semut tersebut pergi, tidak tersisa lagi dalam rumah. Jika mungkin lakukan demikian, itu lebih baik. Jika tidak mungkin seperti itu, maka tidaklah masalah membunuhnya.

(Liqaat Al-Bab Al-Maftuh, 6:277, pertemuan ke-130 dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, Penerbit Muassasah Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, Cetakan pertama, Tahun 1438 H)

Sumber https://rumaysho.com/

Hadits Tentang Puasa Rojab, Shahihkah?

Hadits Tentang Puasa Rojab, Shahihkah?

Pertanyaan:

Assalamualaykum ustadz, ana mau tanya. Apakah amalan (pada broadcast WA –ed) di bawah ini benar ada tuntunannya? karena di bawah ada haditsnya shohih… Mohon penjelasannya ustadz
Jazaakallahu khairan

(Dilampirkan Isi broadcast sebagai berikut)
BULAN RAJAB
In-Syaa Alloh SWT. Tanggal 1 Rajab 1440 H./2019 M. jatuh pada hari Jum’at, tanggal 8 Maret 2019. (Perhitungan Pergantian Hari dalam Islam, terhitung selepas Sholat Maghrib, pada hari Kamis, tanggal 7 Maret 2019).
Awal malam bulan Rajab adalah Salah satu malam pengabulan Do’a. Berkata Imam Syafi’i, rohimahulloh:

إن الدعاء يستجاب فى خمس ليال فى ليلة الجمعة وليلة الأضحى وليلة الفطر واول ليلة من رجب وليلة نصف الشعبان

Artinya:
“Sungguh Do’a akan dikabulkan pada 5 (lima) malam, yaitu:
1. Malam Jum’at,
2. Malam Lebaran ‘Idul Adha,
3. Malam Lebaran ‘Idul Fitri,
4. Malam Pertama Bulan Rajab,
5. Malam Nishfu Sya’ban (malam kelima belas bulan Sya’ban)”.
{Keterangan dari kitab “As-Sunanul Kubra”, karya Imam Al-Baihaqi: 3 / 319, cetakan “Darul Fikr”, Beirut, Lebanon}.
Selain itu, ada 3 (tiga) Hadits Rosululloh SAW di dalam Kitab “Al-Hawi lil Fatawi”, karya Imam Jalaluddin as-Suyuthi: 1 / 352, cetakan “Darul Fikr”, Beirut, Lebanon tentang keutamaan Puasa di bulan Rajab, yaitu:
1. (HR Anas), Rasululloh ﷺ . bersabda

ان فى الجنة نهرا يقال له رجب. ماؤه أبيض من اللبن وأحلى من العسل. من صام يوما من إن فى الجنة نهرا يقال له رجب. ماؤه أبيض من اللبن وأحلى من العسل. من صام يوما من رجب سقاه الله من ذلك النهر

Artinya:
Sungguh di dalam surga terdapat sebuah sungai yang disebut Rajab. Airnya lebih putih daripada susu dan lebih manis daripada madu. Barangsiapa puasa sehari di bulan Rajab, maka Allah akan memberi minum dari air sungai itu.”
2. (HR Anas), Rasululloh ﷺ. bersabda:

من صام من شهر حرام الخميس والجمعة والسبت كتب له عبادة سبعمائة سنة

Artinya:
Barangsiapa puasa di bulan haram, yaitu hari kamis, jum’at dan sabtu, maka akan ditulis baginya ibadah 700 (tujuh ratus) tahun.”
Adz Dzahabi berkata (tentang hadits ini –ed): “Hadits batil” (Mizanul I’tidal, 2/215)
3. (HR Ibnu Abbas), Rasululloh ﷺ bersabda:

من صام من رجب يوما كان كصيام شهر ومن صام منه سبعة أيام غلقت عنه أبواب الجحيم السبعة ومن صام منه ثمانية أيام فتحت له أبواب الجنة الثمانية ومن صام منه عشرة أيام بدلت سيئاته حسنات

Artinya:
Barangsiapa puasa sehari di bulan Rajab, bagaikan puasa sebulan. Barangsiapa puasa 7 (tujuh) hari di bulan rajab, maka 7 (tujuh) pintu neraka jahim dikunci gembok. Dan barangsiapa puasa 8 (delapan) hari di bulan rajab, maka 8 (delapan) pintu Surga dibuka. Juga, barangsiapa puasa 10 (sepuluh) hari di bulan rajab, maka amal-amal buruknya diganti dengan amal-amal baik.”
Selain itu, Rasululloh ﷺ bersabda:

من صام ثلاثة أيام من شهر حرام، الخميس والجمعة والسبت كتب له عبادة سنتين

Artinya:
Barangsiapa puasa 3 (tiga) hari di bulan haram (Dzul-Qo’dah, Dzul-Hijjah, Muharram, dan Rajab), yaitu puasa hari kamis, jum’at, dan sabtu, maka dituliskan baginya ibadah 2 (dua) Tahun.”
والله اعلم…

Yuuk bantu sebarkan In Syaa Allah akan menadi amal jariyah untuk kita semua …
Aaamiiin Yaa’ Robbal Alaamiiin…

Jawaban

Wa’alaikumussalam,

Perkataan anda “karna di bawah ada haditsnya shahih” ini sama sekali tidak benar. Dari mana kesimpulan bahwa haditsnya shahih?

Kita simak satu persatu haditsnya:

Hadits 1

إن فى الجنة نهرا يقال له رجب. ماؤه أبيض من اللبن وأحلى من العسل. من صام يوما من رجب سقاه الله من ذلك النهر

Artinya:
Sungguh di dalam surga terdapat sebuah sungai yang disebut Rajab. Airnya lebih putih daripada susu dan lebih manis daripada madu. Barangsiapa puasa sehari di bulan Rajab, maka Allah akan memberi minum dari air sungai itu.”

Ibnu Hajar berkata (tentang hadits ini –ed): “Dhaif” (Tabyinul Ujab, 15)
Asy Syaukani berkata: “Batil, tidak ada asalnya” (A- Fathur Rabbani, 6/3209)
Syaikh Al Albani berkata: “Hadits maudhu’ (palsu)” (Dhaif Al-Jami, 1902)

Hadits 2

من صام من شهر حرام الخميس والجمعة والسبت كتب له عبادة سبعمائة سنة

Artinya:
Barangsiapa puasa di bulan haram, yaitu hari kamis, jum’at dan sabtu, maka akan ditulis baginya ibadah 700 (tujuh ratus) tahun.”

Adz Dzahabi berkata (tentang hadits ini –ed): “Hadits batil” (Mizanul I’tidal, 2/215)

Hadits 3

من صام من رجب يوما كان كصيام شهر ومن صام منه سبعة أيام غلقت عنه أبواب الجحيم السبعة ومن صام منه ثمانية أيام فتحت له أبواب الجنة الثمانية ومن صام منه عشرة أيام بدلت سيئاته حسنات

Artinya:
Barangsiapa puasa sehari di bulan Rajab, bagaikan puasa sebulan. Barangsiapa puasa 7 (tujuh) hari di bulan rajab, maka 7 (tujuh) pintu neraka jahim dikunci gembok. Dan barangsiapa puasa 8 (delapan) hari di bulan rajab, maka 8 (delapan) pintu Surga dibuka. Juga, barangsiapa puasa 10 (sepuluh) hari di bulan rajab, maka amal-amal buruknya diganti dengan amal-amal baik.”

Al Baihaqi berkata (tentang hadits ini –ed): “Hadits munkar” (Syu’abul Iman, 3/1392)
Ibnu Hajar berkata: “Hadits batil” (Tabyinul Ujab, 22)
Ibnul Arabi berkata: “Maudhu’ (palsu)” (Aridhatul Ahwadzi, 2/204)
Asy Syaukani berkata: “Batil, tidak ada asalnya” (Al-Fathur Rabbani, 6/3211)

Hadits 4

من صام ثلاثة أيام من شهر حرام، الخميس والجمعة والسبت كتب له عبادة سنتين

Artinya:
Barangsiapa puasa 3 (tiga) hari di bulan haram (Dzul-Qo’dah, Dzul-Hijjah, Muharram, dan Rajab), yaitu puasa hari kamis, jum’at, dan sabtu, maka dituliskan baginya ibadah 2 (dua) Tahun.

Ibnul Jauzi berkata: “Tidak shahih” (Al-Ilal Al Mutanahiah, 2/554)
Al Albani berkata: “Dha’if” (Silsilah Adh-Dha’ifah, 4611).

Kesimpulannya, hadits di atas tidak ada yang shahih, maka tidak perlu diamalkan isinya.

***

Dijawab oleh Ustadz Yulian Purnama Hafidzahullaahu Ta’ala melalui WAG Tanya Jawab Muslimah.or.id

Sumber: https://muslimah.or.id/

Nikmatnya Berkendaraan

Nikmatnya Berkendaraan

Pada masa silam, manusia bepergian dengan berjalan kaki dari satu tempat ke tempat yang lain dengan membawa barang atau perbekalan di atas punggungnya. Sebagian yang lain bepergian dengan menunggang hewan tunggangan sambil membawa berbagai muatan, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta’ala

وَتَحْمِلُ أَثْقَالَكُمْ إِلَى بَلَدٍ لَمْ تَكُونُوا بَالِغِيهِ إِلا بِشِقِّ الأنْفُسِ إِنَّ رَبَّكُمْ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ (٧)وَالْخَيْلَ وَالْبِغَالَ وَالْحَمِيرَ لِتَرْكَبُوهَا وَزِينَةً وَيَخْلُقُ مَا لا تَعْلَمُونَ

“Dan ia (hewan ternak) mengangkut beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup mencapainya, kecuali dengan susah payah. Sungguh, Rabbmu Maha Pengasih, Maha Penyayang. Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai untuk kamu tunggangi dan (menjadi) perhiasan. Allah menciptakan apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. An-Nahl: 7-8)

Adapun di masa sekarang, begitu mudahnya seseorang untuk bepergian dari satu tempat ke tempat yang lain dalam waktu cepat tanpa banyak mengeluarkan tenaga dan pikiran, walaupun terkadang tidak sedikit biaya yang harus dikeluarkan.

Kendaraan sebagai bukti kasih sayang Allah

Kendaraan merupakan salah satu nikmat yang Allah Ta’ala anugerahkan kepada manusia. Hal ini juga sebagai bukti curahan kasih sayang Allah Ta’ala kepada para makhluk-Nya. Hal ini karena segala nikmat yang kita terima atau musibah yang kita terhindar darinya merupakan tanda kasih sayang Allah Ta’ala kepada kita. Allah Ta’ala berfirman

وَآيَةٌ لَهُمْ أَنَّا حَمَلْنَا ذُرِّيَّتَهُمْ فِي الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ (٤١)وَخَلَقْنَا لَهُمْ مِنْ مِثْلِهِ مَا يَرْكَبُونَ (٤٢)

“Dan suatu tanda (kebesaran Allah) bagi mereka adalah Kami angkut keturunan mereka dalam perahu yang penuh muatan, dan Kami ciptakan bagi mereka (angkutan lain) seperti apa yang mereka kendarai.” (QS. Yasin: 41-42)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata ketika menjelaskan ayat di atas, “Tanda dalam ayat tersebut maksudnya adalah tanda kekuasaan Allah. Namun, di dalamnya juga terdapat tanda yang lain, yaitu rahmat Allah kepada makhluk, serta kenikmatan yang diberikan kepada kita.” Selanjutnya beliaujuga menerangkan bahwa ayat tersebut menjadi dalil atas kekuasaan Allah Ta’ala, rahmat, dan karunia-Nya bagi kita, yaitu dengan adanya perahu untuk mengarungi lautan menuju ke tempat yang lain, mengangkut manusia, hewan-hewan ternak, dan semua yang bermanfaat untuk kita. Dan Allah Ta’ala menjadikan perahu tersebut nyaman untuk dikendarai sebagai nikmat bagi kita semua.

Ayat di atas juga menerangkan nikmat yang Allah Ta’ala anugerahkan kepada manusia berupa pengetahuan mengenai tata cara pembuatan perahu. Seandainya tidak ada perahu, tentunya seseorang tidak akan mampu menyeberang sungai dan lautan untuk menuju tempat tujuannya. Namun, Allah Ta’ala memberi pengetahuan tentang tata cara membuatnya, sehingga seseorang dapat menjangkau tempat tujuannya tersebut.

Allah Ta’ala mengajarkan manusia cara membuatnya

Keahlian manusia dalam memproduksi suatu kendaraan canggih bukanlah semata-mata karena kecerdasannya. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menunjang kemajuan berbagai alat transportasi masa kini, tidak lain karena karunia yang Allah Ta’ala berikan kepada kita. Jika bukan karena kehendak Allah Ta’ala atas makhluk-Nya untuk memahami ilmu-ilmu tersebut, tentu manusia tidak akan mampu memanfaatkan seonggok besi untuk membawa dirinya ke suatu tempat tujuan. Bahkan Allah Ta’ala mengajarkan ilmu tersebut kepada manusia agar dapat diterapkan.

Allah Ta’ala berfirman

وَحَمَلْنَاهُ عَلَى ذَاتِ أَلْوَاحٍ وَدُسُرٍ

“Dan kami angkut Nuh ke atas (perahu) yang terbuat dari papan dan paku.” (QS. Al Qomar: 13)

Dalam ayat ini Allah Ta’ala tidak langsung menyebut “perahu”, namun menyebutnya sebagai “sesuatu yang terbuat dari papan dan paku”. Hal ini mengisyaratkan adanya pengajaran dari Allah Ta’ala kepada manusia tentang bahan baku pembuatan perahu. Seakan-akan Allah Ta’ala mengabarkan bahwa perahu Nabi Nuh ‘alaihissalam terbuat dari papan dan paku agar menjadi contoh bagi manusia untuk membuatnya.

Allah Ta’ala menisbatkan pembuatan perahu kepada diri-Nya seperti dalam ayat (yang artinya), “Kami ciptakan untuk manusia semisal (perahu Nuh ‘alaihis salam) …”. Padahal perahu tersebut dibuat oleh manusia (Nabi Nuh ‘alaihis salam), bukan diciptakan oleh Allah Ta’ala sebagaimana Dia menciptakan unta yang kita tunggangi, kuda, dan yang serupa dengannya. Hal ini dikarenakan Allah-lah yang mengajari manusia tata cara membuat perahu.

Ketika nikmat berkendaraan terlupakan

Sering kali manusia menganggap rumput tetangga jauh lebih hijau sehingga membuatnya merasa perlu memiliki sesuatu seperti milik si tetangga. Orang yang hanya memiliki sepeda akan terbetik dalam benaknya suatu angan-angan untuk memiliki sepeda motor sebagaimana yang dikendarai oleh kebanyakan orang. Namun, bagi yang telah memiliki sepeda motor, mungkin dia juga berangan-angan untuk memiliki sepeda motor yang lebih bagus atau malah sebuah mobil yang dapat melindunginya dari terik matahari dan hujan, demikian seterusnya. Obsesi tersebut dapat menjadi bencana berupa lenyapnya kebaikan demi kebaikan sebagaimana lenyapnya kayu bakar yang dilahap api, apabila diiringi dengan harapan hilangnya kenikmatan tersebut dari tangan orang lain. Itulah hasad yang terlarang.

Untuk mencegah hal tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telahmemperingatkan umatnya agar tidak duduk-duduk di pinggir jalan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ عَلَى الطُّرُقَاتِ فَقَالُوا مَا لَنَا بُدٌّ إِنَّمَا هِيَ مَجَالِسُنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا قَالَ فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلَّا الْمَجَالِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهَا قَالُوا وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ قَالَ غَضُّ الْبَصَرِ وَكَفُّ الْأَذَى وَرَدُّ السَّلَامِ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ

“Tinggalkanlah oleh kalian duduk-duduk di jalan-jalan”. Maka para sahabat berkata, “Kami tidak bisa untuk tidak duduk-duduk di jalan-jalan karena di sanalah tempat kami berbincang-bincang.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian menolak untuk tidak duduk-duduk di sana, maka tunaikanlah hak jalan.” Mereka berkata, “Apakah hak jalan itu?” Beliau menjawab, “Menundukkan pandangan, menyingkirkan gangguan, menjawab salam, memerintahkan yang baik dan mencegah kemungkaran.” (HR. Al-Bukhari)

Menundukkan pandangan di sini maksudnya adalah menjaga diri dari memandang hal-hal yang diharamkan, termasuk di dalamnya berupa memandang kemewahan-kemewahan duniawi, misalnya kendaraan-kendaraan mewah yang lewat. Sehingga menyebabkan seseorang menjadi panjang angan-angan, dan tidak mampu mensyukuri nikmat yang Allah Ta’ala karuniakan untuknya.

Ketika orang musyrik zaman dahulu dan sekarang tertimpa marabahaya saat berkendaraan

Orang musyrik zaman dahulu, mereka memohon kepada Allah Ta’ala dengan penuh keikhlasan ketika kondisi genting meliputi dirinya saat berkendaraan. Bahkan orang musyrik zaman dulu, yang tadinya menyekutukan Allah Ta’ala, dengan serta-merta mereka meninggalkan sesembahan selain Allah demi mengharap pertolongan Allah atas marabahaya yang menimpa mereka ketika berkendara di lautan. Hal ini Allah Ta’ala kabarkan dalam firman-Nya

وَإِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَنْ تَدْعُونَ إِلا إِيَّاهُ فَلَمَّا نَجَّاكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ وَكَانَ الإنْسَانُ كَفُورًا

“Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilang semua yang (biasa) kamu seru, kecuali Dia. Tetapi ketika Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling (dari-Nya).” (QS. Al-Isra: 67)

Seperti inilah keadaan orang-orang musyrik zaman dahulu saat tertimpa kesulitan ketika naik kapal atau perahu di tengah lautan. Mereka mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah Ta’ala dan mengetahui bahwasanya Allah-lah satu-satunya yang bisa menyelamatkan mereka serta tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain-Nya. Namun, manakala kondisi telah lapang (selamat sampai daratan), mereka pun kembali menyekutukan Allah dengan sesembahan mereka.

Adapun orang-orang musyrik zaman sekarang ini, sama saja bagi mereka antara kondisi susah ataupun senang, mereka senantiasa melakukan kemusyrikan. Bahkan ketika marahabahaya menimpa mereka ketika naik perahu atau kapal di lautan, semakin parah-lah kemusyrikan yang mereka lakukan dengan meminta pertolongan kepada sesembahan mereka selain Allah Ta’ala. Dan lebih-lebih lagi ketika selamat sampai daratan, mereka akan semakin mengagungkan sesembahan mereka -selain Allah- yang mereka yakini telah menyelamatkan mereka. Kondisi seperti ini disebabkan karena ketidakfahaman serta kebodohan akan hakikat tauhid yang melingkupi kebanyakan manusia zaman sekarang, wal ’iyaadzu billah.

Mensyukuri nikmat-Nya

Kendaraan yang kita gunakan sebagai fasilitas untuk dapat pergi ke suatu tempat merupakan suatu nikmat yang sepatutnya kita syukuri. Rasa syukur hamba terhadap Rabb yang telah memberinya karunia ditunjukkan melalui lisan berupa pujian dan sanjungan, dan juga melalui anggota badan dengan menundukkannya dalam ketaatan kepada Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba yang paling bersyukur, beliau memberikan keteladanan bagi umatnya ketika berkendaraan yaitu dengan:

1. Berdoa ketika naik kendaraan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kita untuk berdoa

(سُبْحَانَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَـهُ مُقْرِنِيْنَ. وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ) اَلْحَمْدُ لِله اَلْحَمْدُ لِلََّهِ اَلْحَمْدُ لِله ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ ، سُبْحَانَكَ إِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ فَاغْفِرْلِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ

“Dengan nama Allah, segala puji bagi Allah, Maha Suci Allah yang menundukkan kendaraan ini untuk kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Rabb kami (pada hari kiamat). Segala puji bagi Allah (3x), Allah Maha Besar (3x), Maha Suci Engkau, ya Allah! Sesungguhnya aku menganiaya diriku, maka ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Doa ini mengandung sanjungan kepada Allah Ta’ala yang telah menjadikan kendaraan tersebut dapat dikendarai, padahal sebelumnya manusia tidak memiliki kemampuan untuk mengendarainya. Di dalam doa ini juga terkandung pengakuan bahwasanya kita akan kembali kepada Allah pada hari kiamat, serta pengakuan atas kelalaian dan dosa yang telah kita lakukan.

2. Bertakbir dan bertasbih selama perjalanan

Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kami bertakbir ketika melewati jalan yang naik, dan bertasbih ketika melewati jalan yang turun”. (HR. Al-Bukhari) Maksudnya adalah ketika menaiki tempat-tempat yang tinggi mengucapkan: “Allahu Akbar”, dan ketika menuruni tempat-tempat yang lebih rendah mengucapkan: “Subhanallah”. Bertakbir manakala menaiki tempat yang tinggi akan membuat kita merasakan kebesaran Allah Ta’ala serta keagungan-Nya. Sedangkan bertasbih ketika menuruni tempat yang rendah akan membuat kita merasakan kesucian Allah Ta’ala dari segala kekurangan.

3. Berdoa ketika kendaraan tergelincir

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita mengumpat setan ketika tergelincir dan mengajarkan kita untuk mengucapkan, “bismillah”. Usamah bin ‘Umair radhiyallahu ‘anhu menceritakan, “Aku pernah dibonceng Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas tunggangannya tergelincir, maka aku berkata, ‘tergelincirlah setan.’ Maka Nabi berkata, ‘Janganlah kamu katakan tergelincirlah setan. Jika kamu berkata demikian, dia (setan) akan membesar hingga sebesar rumah, dan berkata, ‘Dengan kekuatanku.’ Akan tetapi katakanlah, ‘bismillah’. Jika kamu berkata demikian, dia akan mengecil hingga sekecil lalat.’” (HR. Abu Dawud) Menyebut nama Allah Ta’ala akan meleburkan setan sebagaimana air meleburkan garam.

4. Membebani kendaraan sesuai daya angkut

Di antara adab berkendaraan adalah dibolehkannya berkendaraan dengan beberapa penumpang selama tidak melebihi daya angkut kendaraan tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memboncengkan sebagian sahabatnya seperti Mu’adz, Usamah, Al-Fudhail, begitu juga memboncengkan ‘Abdullah bin Ja’far dan Hasan atau Husain bersama-sama, semoga Allah Ta’ala meridhai mereka semua.

Membebani kendaraan melebihi daya angkut yang telah ditetapkan merupakan suatu bentuk kedzaliman. Hal ini akan menyebabkan rusaknya kendaraan dan ini merupakan bentuk penyia-nyiaan harta.

5. Tidak menjadikan kendaraan semata-mata sebagai tempat duduk

Terdapat hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, “Janganlah kalian menjadikan punggung-punggung hewan tunggangan kalian sebagai mimbar (semata-mata sebagai tempat duduk). Sesungguhnya Allah menundukkannya untuk kalian supaya mengantarkan ke negeri yang belum pernah kalian capai kecuali dengan bersusah payah. Dan Allah menciptakan bumi untuk kalian, maka hendaklah kalian tunaikan kebutuhan kalian di atas tanah”. (HR. Abu Dawud)

Maksud dari hadits ini adalah larangan untuk duduk-duduk dan berbincang-bincang dalam rangka jual beli atau yang selainnya di atas kendaraan (berupa hewan) yang sedang berhenti. Hendaknya seseorang menunaikan keperluannya dengan cara turun dari kendaraan dan mengikatnya di tempat yang semestinya.

Adapun berdirinya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas hewan tunggangan beliau saat Haji Wada’ adalah demi kemaslahatan yang besar. Hal ini supaya khutbah beliau kepada para manusia mengenai perkara-perkara Islam serta hukum-hukum yang terkait ibadah dapat didengar dengan jelas oleh sahabat-sahabat beliau ketika itu. Apalagi, perbuatan beliau tersebut juga tidak dilakukan secara terus-menerus sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah, sehingga hal ini tidak membuat hewan tunggangan merasa letih dan bosan. Berbeda dengan sekedar duduk-duduk dan berbincang-bincang di atas hewan tunggangan yang sedang berhenti tanpa ada maslahat, dalam waktu lama, dan dilakukan berulang-ulang maka dapat menyebabkan hewan tunggangan merasa letih dan bosan.

Kendaraan pada zaman ini tidak bisa disamakan dengan hewan tunggangan yang dapat merasa letih dan bosan. Meskipun demikian, tidak selayaknya seorang pengendara duduk-duduk dan berbincang-bincang di atas kendaraannya yang sedang berhenti karena akan mengganggu serta menyusahkan pengguna jalan yang lain. Berhenti di sembarang tempat juga akan mempersempit jalan yang seharusnya dapat dipergunakan oleh pengguna jalan yang lain. Allah Ta’ala berfirman

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا

“Dan orang-orang yang menyakiti kaum mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 58)

6. Memandang kendaraan yang lebih rendah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi petunjuk kepada umatnya bagaimana cara memperkuat rasa syukur atas berbagai nikmat yang Allah Ta’ala anugerahkan, yaitu dengan selalu memandang orang-orang yang berada di bawahnya dalam akal, nasab (keturunan), harta, dan berbagai nikmat. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ ؛ فَهُوَ أجْدَرُ أنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ الله عَلَيْكُمْ

“Lihatlah orang yang lebih rendah dari kalian, dan jangan melihat orang yang di atas kalian. Itu lebih layak untuk kalian agar tidak memandang hina nikmat yang Allah anugerahkan kepada kalian.” (HR. Muslim)

Demikianlah paparan ringkas yang dapat kami tuliskan. Semoga kita dapat mengambil keteladanan dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Hanya kepada Allah-lah kita mohon pertolongan.

Referensi:

  1. Tafsir Al-Quran Al-Karim Surat Yasin hal 150-155, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, Dar Ats-Tsurayya.
  2. Bahjah Qulub Al-Abrar hal 66, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah.
  3. Kitab Al-Adab hal 301-304, Fuad bin ‘Abdil ‘Aziz Asy Syalhubi, Dar Al-Qosam.
  4. Syarh Kitab Al-Qawa’id Al-Arba’ hal 22-23, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz, Dar As-Salafiyyah.
  5. Syarh Hishnul Muslim hal 292, 298, 301, Majdi bin ‘Abdil Wahhab Ahmad, Muassasah Al-Jaraysi Littauzi’ wal-I’lan.

***

Penulis: Ummu ‘Ubaidillah

Sumber: https://muslimah.or.id/

Keutamaan Berdzikir Sendirian

Keutamaan Berdzikir Sendirian

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya: Zuhair bin Harb menuturkan kepadaku demikian juga Muhammad bin al-Mutsanna. Mereka semua menuturkan dari Yahya al-Qaththan. Zuhair mengatakan, Yahya bin Sa’id menuturkan kepada kami dari Ubaidillah. Dia berkata, Khubaib bin Abdurrahman mengabarkan kepadaku dari Hafsh bin ‘Ashim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

“Ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari di saat tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. (1) Seorang pemimpin yang adil, (2) Seorang pemuda yang tumbuh dalam ketekunan beribadah kepada Allah, (3) Seorang lelaki yang hatinya selalu bergantung di masjid, (4) Dua orang lelaki yang saling mencintai karena Allah, bertemu dan berpisah karena-Nya, (5) Seorang lelaki yang diajak berzina oleh seorang perempuan cantik lagi berkedudukan namun mengatakan, ‘Aku merasa takut kepada Allah’, (6) Seorang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi sampai-sampai tangan kanannya tidak mengerti apa yang diinfakkan oleh tangan kirinya (terbalik, seharusnya ‘sampai-sampai tangan kirinya tidak mengerti apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya’, pent), (7) Dan juga seorang yang mengingat Allah di saat sendirian hingga kedua matanya mengalirkan air mata.” (Hadits ini juga diriwayatkan oleh Bukhari dalam Kitab az-Zakah dengan judul bab ‘Shadaqah dengan tangan kanan’. Diterjemahkan secara bebas dari as-Shahih al-Musnad min Adzkar al-Yaum wa al-Lailah, Syaikh Musthofa al-Adawi, hal. 12-13)

Hadits ini mengandung banyak pelajaran berharga, di antaranya:

  1. Penetapan adanya hari kiamat.
  2. Penetapan adanya pembalasan amal.
  3. Dahsyatnya peristiwa di hari kiamat.
  4. Betapa lemahnya manusia di hadapan Allah ta’ala.
  5. Kecintaan Allah kepada orang-orang yang taat kepada-Nya.
  6. Yang dimaksud dengan naungan Allah di sini adalah naungan Arsy-Nya sebagaimana disebutkan dalam hadits lainnya yang disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari.
  7. Allah mencintai keadilan dan membenci kezaliman.
  8. Perintah untuk menegakkan keadilan.
  9. Keutamaan pemimpin yang adil.
  10. Beratnya cobaan dan godaan yang menimpa seorang pemimpin.
  11. Keutamaan pemuda yang tekun beribadah kepada Allah.
  12. Beratnya cobaan dan godaan yang dialami para pemuda, dan perintah kepada para orang tua agar membina generasi muda untuk gemar taat beribadah kepada Rabbnya.
  13. Keutamaan lelaki yang hatinya bergantung di masjid.
  14. Keutamaan masjid.
  15. Cinta dan benci karena Allah.
  16. Beramal karena Allah.
  17. Dahsyatnya godaan wanita.
  18. Jalan ke Surga diliputi oleh hal-hal yang tidak menyenangkan, sedangkan jalan menuju Neraka diliputi hal-hal yang disukai oleh hawa nafsu manusia.
  19. Kewajiban menjauhkan diri dari zina.
  20. Keutamaan rasa takut kepada Allah dan ia merupakan bukti kekuatan iman.
  21. Keutamaan bersedekah, terlebih lagi dengan sembunyi-sembunyi.
  22. Bersedekah dengan tangan kanan.
  23. Keutamaan berdzikir kepada Allah, terlebih apabila sendirian.
  24. Dorongan untuk ikhlas dalam beramal.
  25. Keutamaan menangis karena Allah.
  26. Iman mencakup ucapan, perbuatan, dan keyakinan, bisa bertambah dan berkurang.
  27. Baiknya amal lahir tergantung pada amal hati.
  28. Semakin sulit keadaan seseorang untuk taat kepada Allah namun dia tetap taat kepada-Nya maka balasan dari sisi Allah juga akan semakin besar.
  29. Penetapan kehendak pada diri Allah.
  30. Penetapan kehendak pada diri makhluk, ini adalah bantahan bagi Jabriyah (kelompok yang mengatakan bahwa seorang hamba dipaksa dalam melakukan perbuatan dan tidak ada hak untuk memilih, tidak ada kekuatan, serta tidak ada kehendak baginya -ed).
  31. Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah maka Allah akan menggantikannya dengan sesuatu yang lebih baik. Dan lain sebagainya yang belum kami ketahui, wallahu a’lam.

***

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi

Sumber: https://muslim.or.id/