Select Page
Hikmah Perpisahan (Ketika Mendapat Musibah)

Hikmah Perpisahan (Ketika Mendapat Musibah)

Mengingat kembali masa paling sulit umat ini akan melatih kita lebih bersyukur dan lebih tegar dalam mengadapi hal-hal sulit yang baru saja kita hadapi. Lalu angkasakan benakmu, apakah musibah paling sulit itu?

Pertama-tama tengoklah ke sekeliling, banyak kerusakan dalam tubuh umat yang pernah berjaya ini.. kemaksiatan mencekik lehernya, penyimpangan syari’at menyandung kakinya.. lantas tubuh umat ini jatuh ke jurang-jurang kehinaan dan kekalahan. Kemenangan manis yang pernah diingat sebagai kemenangan paling menakjubkan dalam sejarah, kini tidak hanya hilang dalam lembar-lembar sejarah itu sendiri, tapi benar-benar hilang dari benak-benak umatnya. Sejak kapan itu pergi? Sejak kapan kemenangan ini menjauhi umat ini? Yaitu sejak iman dan kepercayaan di hati umat ini semakin berdegradasi.. Sejak kita menjauh sedepa demi sedepa dari pemurnian penyembahan kita pada Allah Ta’ala. Sampai-sampai sekarang kita tengah berada di lembah kesyirikan namun bak semut hitam di atas batu hitam di dalam kegelapan, kita tidak mampu melihat dan menyadari dimana keyakinan, akidah, dan amalan kita sekarang berdiri.

Inilah garis yang Allah Ta’ala buat untuk kaum akhir zaman. Diantara hikmahnya agar mereka mencari kemana kemenangan itu pergi dan sejak kapan menghilang. Tidakkah kaum yang berakal sehat itu berfikir? Sejak wahyu diputus dari langit. Sejak Nabi terakhir kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam diwafatkan dalam pilihannya untuk bertemu dengan Allah Ta’ala. Setitik noda mulai melukai tubuh umat ini dan luka itu membesar bak borok yang terus berproliferasi. Tidakkah datang di benak kaum yang berakal? Ini justru mengokohkan keyakinan bahwa apa yang Nabi terakhir itu bawa adalah benar adanya sebagai kebenaran yang nyata. Yang semakin kita menjauhinya, niscaya semakin jatuh kita dalam kehancuran sebagaimana sekarang ini.

Adapun hikmah lain yang akan kita dalami dari sana, saat ini.. adakah kita pantas meratap dan mengeluh atas musibah duniawi semacam kehilangan harta dan anak, sedangkan ada musibah besar yang 1400 tahun lalu mengancam umat ini dengan kehinaan dan kehancuran? Bersedihlah di tempat yang pantas.. lalu carilah pelajaran dari musibah itu.

Sungguh ratapan dan keluhan pada hal yang tidak benar-benar me-mudharatkanmu (merugikan-red) hanyalah kesia-siaan di dunia dan hisab-adzabnya berat di akhirat. Berpikirlah dua kali dan berkali-kali lagi untuk bersedih karena kehilangan harta, kesulitan duniawi, kehilangan anak, penyakit yang kian tidak sembuh dan nasib yang kian tidak membaik. Pun lebih dari itu menangislah atas putusnya wahyu dari langit, kerusakan yang bertolak dari sana dan usaha kita yang kian tak membaik dalam memperbaikinya.

Jika hati keras yang banyak tertawanya, banyak makannya, banyak bicara tak bermanfaatnya ini tidak bisa merasakan kesedihan yang pantas. Maka mari kita melakukan flash back ke masa lalu, bagaimana para shahabat yang membersamai nabi semasa hidupnya harus menerima ujian berat kematian al-musthafa itu. Hari dimana hari-hari setelah itu akan jauh lebih sulit dari biasa bahkan hanya untuk sekedar mempertahankan aqidah yang susah payah kita tanamkan pada hati tandus yang gemar bermaksiat ini. Bagaimana mereka memaknai kesedihan terberat itu dan bagaimana rasa dari kesedihan itu.

Kaum akhir zaman ini mungkin tidak bertemu langsung dengan utusan Allah terakhir itu, belum pernah mencicipi pertemuan bahkan perpisahan dengannya, langsung di dunia. Namun bagi yang syahadatnya diucap dengan penuh kesadaran akan konsekuensinya.. tentu mengimani utusan Allah Ta’ala tercinta itu melazimkan kesedihan atas kepergiannya.

Bagimu yang kehilangan kesedihan itu.. adakah berkenan kalian mengulang lagi sepotong kisah perpisahan yang berat dan warisan hikmah cobaan besar yang lebih pantas kau tangisi ini…? barangkali di dalam pengulangan kisah yang sudah pernah kau dengar ini, kau temukan hatimu dan kau kurangi kesedihanmu atas musibah lain yang tak sebanding dengan peristiwa ini..

“Pada awal bulan ke-3 Hijriah… bulan itu adalah bulan dimana umat Islam pantas bersyukur. Betapa Allah Yang Maha Pengasih telah memberikan umat ini hadiah besar berupa kelahiran utusan yang akan membawa wahyu dariNya sehingga kebenaran dari-Nya akan tegak kembali.. janji Allah di kitab-kitab terdahulu terpenuhi..

Begitu pun janji Allah pada kitab-Nya yang mulia, Al-Qur’an..

“1. Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, 2. dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, 3. maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.”(An-Nashr :1-3) 

Kemenangan telah nampak, panji-panji perang boleh beristirahat. Berbondong-bondong penduduk kota dimana nabi tercinta kita diutus telah ‘berserah diri’ dalam agungnya kebenaran yang dibawa Al-Amin, pemuda paruh baya yang 63 tahun lalu lahir di tengah-tengah mereka sebagai anak yatim yang ditinggal mati ayahnya. Dia telah menemui kemenangan itu.. di hari itu. Genaplah yang genap, sempurnalah apa yang dituju, sampailah jangkar pada dasar lautan.

Berita kemenangan itu telah jelas.. apa yang perlu diselesaikan setelahnya juga telah jelas.. Maka jiwa terjaga itu hanya tinggal menunggu keputusan Allah Ta’ala dan memilih apa yang bisa dipilih.

Dari kepalanya yang telah dia gunakan untuk menantang rantai-rantai logam di perang uhud, terasa olehnya sakit dan pening yang menguar tiba-tiba. Racun dari Khaibar yang mengendap dan menanti dititah untuk beraksi kini memulai onsetnya. Sebelum itu, tepatnya beberapa hari sebelum mulainya rasa sakit itu.. Nabi telah berkhutbah di atas mimbar demi menyampaikan belasungkawa terkait dirinya dan tentang pilihannya yang telah jatuh, atas tawaran Rabb-Nya yang Maha suci itu..

“Sesungguhnya Allah memberikan pilihan kepada seorang hamba, antara (kehidupan) dunia dan apa yang ada di sisi-Nya. Namun sang hamba lebih memilih apa yang ada di sisi-Nya”

Maka dari keheningan di tengah pendengar khutbah Nabi, pecahlah tangis Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu, sehingga orang terheran-heran dengan tangisannya. Ia bisa jadi satu-satunya yang memahami di antara banyak shahabat di hadapan mimbar itu, bahwa sang hamba yang diberi pillihan itu tidak lain adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri. Dan ada makna tersembunyi dalam umumnya kalimat itu.

Nabi menatap lembut kawan sejatinya itu, tak salah dia berikan banyak harapan dan cinta pada sosok penuh kasih sayang yang tengah terisak itu. Tak heran betapa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat mencintai-Nya.. tak heran mengapa cinta itu terbalas dengan bukti betapa mudahnya perasaan dan pemahaman Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu untuk bersatu dengan maksud Nabi kala itu.

Nabi mengambil nafasnya untuk memulai kata-katanya kembali; “Sesungguhnya orang yang paling aku percayai dalam mendampingi dan (berkorban dengan) hartanya adalah Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu

Mungkin isakan tangis Abu bakar Radhiyallahu ‘anhu akan semakin keras demi mendengarnya lagi.

“Seandainya aku boleh mengambil Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu sebagai khalil (kekasih), niscaya aku telah mengambil Abu Bakar sebagai khalil, akan tetapi yang dibolehkan hanyalah persaudaraan Islam dan kecintaan dalam Islam. Tidak satu pun pintu di masjid melainkan telah ditutup, kecuali pintu Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu

***
Permohonan Nabi Di tengah Malam

Pada tengah malam sebelum datang musibah berat umat ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membangukan mantan hamba sahayanya, Abu Muwaihibah lalu berkata,

“Wahai Abu Muwaihibah! Seseungguhnya aku diperintahkan untuk memohonkan ampunan bagi penghuni (pemakaman) Baqi’ ini. Karena itu, ikutlah bersamaku.”

Tatkala berdiri di tengah mereka, beliau bersabda:

“Semoga kesejahteraan tercurah atas kalian, wahai para penghuni kubur. Selamat atas kalian di pagi hari, dimana orang-orang memasuki pagi hari mereka. Berbagai fitnah telah datang bagaikan potongan malam yang gelap gulita, dimana penghujungnya mengikuti permulaannya. Yang terjadi di penghujungnya lebih buruk dari permulaannya”.

Kemudian beliau menghadap ke arah Abu Muwaihibah seraya berkata:

“Wahai Abu Muwaihibah! Sesungguhnya aku telah diberikan kunci-kunci perbenderaharaan dunia dan keabadian di dalamnya, juga surga..

Lalu aku diberi pilihan antara hal itu dengan menjumpai Rabb-ku dan Surga.”

Abu Muwaihibah berkata, “ Ayah dan Ibuku menjadi tebusanmu, ambillah pintu-pintu dunia, keabadaian di dalamnya, dan Surga”. Maka Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Demi Allah, Tidak, wahai Abu Muwaihibah! Aku telah memilih pertemuan dengna Rabb-ku dan Surga.”

Kemudian beliau memohonkan ampunan untuk penghuni al-Baqi’ lalu pulang. Selepas itu, mulailah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengalami sakit yang berhujung pada wafatnya beliau. Sepulang dari Al-Baqi’ beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengunjungi istri-istrinya sekaligus meminta ijin pada mereka, agar dirawat di rumah Ibunda Aisyah Radhiyallahu ‘anhaa. Maka mereka pun setuju.

Di Rumah Aisyah Radhiyallahu ‘anhaa

Kemudian beliau mengalami demam dan sakitnya bertambah parah. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sempat meminta dituangkan 7 kantung air agar bisa cukup segar demi menemui orang-orang dan mengimami shalat dan berkhutbah di hadapan mereka. Akan tetapi setelah itu sakitnya justru semakin parah. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan Aisyah agar Abu Bakar menggantikannya menjadi imam shalat. Meski sempat ditolak oleh Aisyah dengan kuat karena Abu Bakar nanti hanya akan menangis di tengah shalat. Namun Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap bersikeras mengiginkan Abu Bakar menjadi imam shalat jamaah kaum muslimin menggantikannya.

Pada hari Senin, di hari beliau wafat, di saat orang sedang shalat shubuh dengan diimami Abu Bakar, mereka dikejutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyingkap tirai bilik Aisyah. Beliau memandang mereka dalam shaf shalat, kemudian beliau tersenyum sambil tertawa. Lalu Abu Bakar mundur ke belakang untuk mencapai shaff karena mengira bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin keluar untuk shalat. Orang-orang hampir tergoda dalam shalat mereka karena begitu senang dengan kondisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun beliau mengisyaratkan kepada mereka dengan tangannya, agar menyempurnakan shalat mereka lalu beliau masuk kembali ke dalam bilik dan menutup tirai.

Lalu pulanglah Abu Bakar ke keluarganya di Sanh, beberapa orang juga bubar, beranggapan Nabi telah sembuh. Di dalam bilik, Aisyah Radhiyallahu ‘anhaa menyandarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada dadanya ketika Abdurahman bin Abu Bakar masuk sambil membawa siwak. Lalu Aisyah menawarkan diri untuk mengambilkan siwak untuk nabi, dan juga karena melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memandang siwak milik Abdurrahman. Lalu Aisyah Radhiyallahu ‘anhaa haluskan siwak itu untuk Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan bersiwaklah Rasul dengan itu, sedangkan beliau masih dalam posisi bersandar pada Aisyah Radhiyallahu ‘anhaa. Di antara kedua tangan beliau ada teko air. Beliau memasukkan tangannya ke dalam air seraya mengucapkan:

“Tidak ada Illah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah. Sesungguhnya kematian itu ada sekaratnya.” Dan akhir kata yang di ucapkan beliau,“Ya Allah.. bersama Pendamping Yang Maha Tinggi. Aisyah awalnya tidak menyadari telah berpulangnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke sisi Allah Ta’ala, karena usianya yang muda. Begitu beliau sadar, Aisyah meletakkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas bantal, dan mulai meratap dan menangis bersama wanita lain.

Kesedihan memenuhi langit Madinah. Wajah-wajah kaum muslimin gelisah dan gelap karena kebingungan dan kesedihan. Bahkan ‘Umar Radhiyallahu ‘anhu, yang demikian agung itu pun, bangkit berdiri dan bersumpah di depan khalayak bahwa Rasul tidak wafat. Hingga Abu Bakar datanng dari Sanh. Dia menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mendapatinya telah ditutupi kain kerudung, kemudian ia menyingkap wajahnya dan menciumnya lalu menangis dan berkata:

“Ayah dan Ibuku menjadi tebusanmu, Engkau selalu baik, semasa hidup maupun setelah mati. Demi Dzat Yang jiwaku ada di tangan-Nya. Allah selamanya tidak akan menimpakan kepadamu dua kematian.”

Kemudian dia keluar, sementara ‘Umar Radhiyallahu ‘anhu tengah berkhutbah di hadapan banyak masyarakat. Lalu Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu berkata “Duduklah, Wahai ‘Umar!” Namun ‘Umar menolak untuk duduk. Orang-orang menyambut kedatangan Abu Bakar dan meninggalkan ‘Umar Radhiyallahu ‘anhu. Kemudian ia memuji Allah dan menyanjung-Nya, lantas berkata:

“Amma Ba’du, barang siapa (selama ini) menyembah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat, dan barang siapa menyembah Allahl, maka sesungguhnya Allah Maha Hidup, tidak pernah mati. Allah Ta’ala berfirman,

Sesungguhnya engkau (Muhammad) akan mati dan mereka akan mati (pula)” (AzZumar :30).

Dan Allah Ta’ala berfirman,

” Dan Muhammad hanyalah seorang Rasul; sebelumnya telah berlalu beberapa Rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)” (Ali ‘Imran :144).””

Seketika orang-orang tersedu-sedu, Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Demi Allah, sungguh seakan-akan orang-orang belum pernah mengetahui bahwa Allah telah menurunkan ayat ini, hingga Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu membacanya, lalu orang-orang mengambil ayat ini darinya. Tidak seorang pun yang ia perdengarkan ayat ini kepadanya melainkan ia membacakannya.”

***

Beratnya hari-hari setelah wafatnya Rasulullah. Fitnah akan semakin mudah tumbuh. Dan wahyu Allah akan terputus dengan wafatnya utusan terakhir tersebut. Beratnya musibah ini dirasakan oleh para shahabat digambarkan dalam perkataan Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu;

“Ketika hari pertama Rasulullah datang ke Madinah, maka bersinarlah segala sesuatu. Dan ketika terjadi hari wafat beliau, maka gelaplah segala sesuatu. Belum lama tangan-tangan kami menguburkan jenazah beliau, akan tetapi hati kami mengingkarinya (seakan-akan tidak percaya hal itu terjadi).”

Anas Radhiyallahu ‘anhu juga bercerita:

“Setelah meninggal Rasulullah, Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu berkata pada ‘Umar Radhiyallahu ‘anhu: ‘Mari kita berkunjung ke Ummu Aiman, sebagiaman Rasulullah pun suka mengunjunginya.’

Sesampainya disana, Ummu Aiman Radhiyallahu ‘anha menangis. Keduanya berkata, ‘Apa yang menyebabkan engkau menangis? Padahal apa yang ada di sisi Allah Ta’ala adalah yang terbaik bagi Rasulullah”

Ummu Aiman berkata “Aku menangis karena wahyu telah terputus dari langit. Maka perkataan tersebut menggoncangkan hati keduanya (Abu Bakar dan ‘Umar), sehingga keduanya menangis bersama Ummu Aiman.”

***

Tidaklah kematian Rasulullah melainkan ada banyak hikmah di dalamnya. Diantaranya adalah sebagai ujian kepada kita agar kita banyak mengoreksi iman dan perbuatan kita, apakah kita terlalu ghuluw atau malah terlalu ingkar pada Rasul-Nya. Adapun buah dari sifat pertengahan dari keduanya akan melazimkan seorang mukmin banyak-banyak bersyukur meski musibah dunia melandanya, karena musibah dunia tidak lebih berat sama sekali dengan musibah agama, bahkan musibah dunia dapat menjadi kafarat dosa bagi yang bersabar dari keluhan dan ratapan.

Semoga pengulangan kisah perpisahan ini akan menambah rasa rindu kita pada Rasulullah dan menambah keimanan kita kepada beliau. Bagi kita umat akhir zaman yang tidak sempat bertemu dengan-nya, maka sepantasnya kita menjadi yang paling merindukan perjumpaan dengan Rasulullah setelah perjumpaan dengan Allah Ta’ala. Maka dengan itu semoga Allah Ta’ala memudahkan jalan kita untuk berkumpul dengannya di Surga-Nya bersama orang-orang mukmin lain dan semoga kita termasuk orang-orang yang banyak bersyukur dan bersabar. Aamiin.

Maha Suci Tuhanmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. 181. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. 182. Dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam. (Ash-Shaffat:180-182)

——————————-

Artikel muslimah.or.id

Oleh : Lungit Fika Fauzia Ummu ‘Imran

Sumber :

  • Al Qur’an Al Karim
  • Al Habib Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Syaikh Abu Bakar Al-Jazairi
  • Tafsir Juz’Amma, Syaikh Utsaimin
  • Ketika Wanita Mendapat Musibah, Abu Muhammad Ibnu Shalih bin Hasbullah

Sumber

Pesan-pesan Luqman

Pesan-pesan Luqman

Siapakah Luqman?

Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman.” (QS. Luqman: 12).

Luqman adalah seorang lelaki yang dikaruniai hikmah oleh Allah berupa ilmu, agama dan kebenaran dalam ucapan. Dia memberi fatwa sebelum Dawud diutus dan sempat menjumpai masanya. Lalu Lukman menimba ilmu dari Nabi Dawud dan meninggalkan fatwanya sendiri.

Mujahid berkata,”Luqman adalah seorang budak hitam dari Habasyah, tebal kedua bibirnya, dan lebar kedua telapak kakinya. Pada suatu hari ketika dia duduk di majelis sedang berceramah kepada orang banyak, datanglah seorang lelaki menemuinya, lalu bertanya, ‘Bukankah engkau yang tadi menggembala kambing di tempat ini dan itu?’ Luqman menjawab, ‘Benar.’ Lelaki itu bertanya, ‘Lalu apa yang menghantarkanmu sampai pada kedudukan terhormat seperti yang kulihat sekarang ini?’ Luqman menjawab, ‘Benar dalam berbicara dan diam terhadap hal-hal yang bukan menjadi urusanku.’”

Jangan Berbuat Syirik

Allah bercerita tentang pesan Luqman,

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, pada waktu ia memberi pelajaran kepadanya, ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13).

Luqman berpesan kepada anaknya untuk beribadah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun karena syirik adalah dosa yang paling besar.

Allah Mengetahui Keadaan Hamba-Nya

Allah melanjutkan cerita Luqman,

يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ

“(Luqman berkata), ‘Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha halus lagi Maha Mengetahui.” (QS. Luqman: 16).

Al-Qurthubi mengatakan, “Telah diceritakan bahwa putra Luqman bertanya kepada ayahnya tentang sebutir biji yang jatuh ke dasar laut, apakah Allah mengetahuinya? Maka Luqman menjawab dengan mengulangi jawaban semula dalam firman-Nya, ‘Sesungguhnya Allah Maha halus lagi Maha Mengetahui.’” (QS. Luqman: 16).

Dirikan Shalat, Amar Ma’ruf Nahi Munkar, dan Sabar

Luqman terus-menerus memberikan pengarahan kepada putranya dalam pesan selanjutnya. Kisahnya disebutkan dalam firman-Nya,

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS. Luqman: 17).

Ibnu Katsir mengatakan dalam kitab tafsirnya, “Dirikanlah shalat lengkap dengan batasan-batasan, fardhu-fardhu, dan waktu-waktunya. Perintahkanlah yang baik dan cegahlah yang munkar sesuai kemampuan dan jerih payahmu. Karena untuk merealisasikan amar ma’ruf dan nahi munkar, pelakunya pasti akan mendapat gangguan dari orang lain. Oleh karena itu, dalam pesan selanjutnya Luqman memerintahkan kepada putranya untuk bersabar.”

Jangan Sombong

Luqman juga berpesan,

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18)

Makna ayat di atas menurut Al-Qurthubi, “Janganlah kamu palingkan mukamu dari orang-orang karena sombong terhadap mereka, merasa besar diri, dan meremehkan mereka.” Maka yang dimaksud adalah hadapkanlah wajahmu ke arah mereka dengan penampilan yang simpatik dan menawan. Apabila orang yang paling muda diantara mereka berbicara dengannya, dengarkanlah ucapannya sampai dia menghentikan pembicaraannya. Demikian yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam.

Bersikaplah Pertengahan

Pesan Luqman yang lain,

وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ

“Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (QS. Luqman: 19).

Al-Qurthubi mengatakan, setelah Luqman memperingatkan anaknya agar waspada terhadap akhlak tercela, ia lalu menggambarkan kepadanya akhlak mulia yang harus dikenakannya. Yakni bersikap pertengahanlah kamu dalam berjalan. Cara jalan pertengahan yaitu antara langkah cepat dan lambat. Hanya Allah yang lebih mengetahui makna yang dimaksud. Akan tetapi, Allah sendiri memuji orang yang bersikap demikian sebagaimana yang telah disebutkan keterangannya dalam surat Al-Furqan,

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا

Dan hamba-hamba Rabb yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati” (QS. Al-Furqan: 63).

“Lunakkanlah suaramu.” maksudnya kurangilah suaramu dari suara yang keras.Dengan kata lain, janganlah kamu memaksakan diri mengeluarkan suara yang sangat keras, tetapi dalam batasan seperlunya. Makna secara keseluruhan dari surat Lukman ayat 19 di atas ialah bersikaplah tawadhu’ atau rendah hati.

Allahu a’lam

***

Referensi: Islamic Parenting (mendidik anak metode nabi), Syaikh Jamal Abdurrahman)
Penyusun: Zulfa Sinta Filavati
Pemuraja’ah: Ustadz Ammi Nur Baits

Sumber

Harta di Tangan Orang Yang Shalih

Harta di Tangan Orang Yang Shalih

Dari Amru bin Al’Ash, ia berkata:

‹‹خُذْ عَلَيْكَ ثِيَابَكَ وَسِلَاحَكَ ، ثُمَّ ائْتِنِي›› . فَأَتَيْتُهُ وَهُوَ يَتَوَضَّأُ فَصَعَّدَ فِيَّ النَّظَرَ ثُمَّ طَأْطَأَهُ فَقَالَ‹‹ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أَبْعَثَكَ عَلَى جَيْشٍ فَيُسَلِّمَكَ اللَّهُ وَيُغْنِمَكَ وَأَزْغَبُ لَكَ مِنَ الْمَالِ زَغْبَةً صَالِحَةً ›› . قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَسْلَمْتُ مِنْ أَجْلِ الْمَالِ وَلَكِنِّي أَسْلَمْتُ رَغْبَةً فِي الْإِسْلَامِ وَأَنْ أَكُونَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ‐صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‐. فَقَالَ ‹‹ يَا عَمْرُو نِعِمَّ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلْمَرْءِ الصَّالِحِ››

 “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus seseorang kepadaku agar mengatakan, “Bawalah pakaian dan senjatamu, kemudian temuilah aku.” Maka akupun datang menemui beliau, sementara beliau sedang berwudlu. Beliau kemudian mendatangiku dengan serius dan mengangguk-anggukkan (kepalanya), Beliau lalu bersabda, “Aku ingin mengutusmu berperang bersama sepasukan prajurit. Semoga Allah menyelamatkanmu, memberikan ghanimah dan aku berharap engkau mendapatkan harta yang baik.” Saya berkata, “Wahai Rasulullah, saya tidaklah memeluk Islam lantaran ingin mendapatkan harta, akan tetapi saya memeluk Islam karena kecintaanku terhadap Islam dan berharap bisa bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Maka beliau bersabda, “Wahai Amru, sebaik-baik harta adalah harta yang dimiliki oleh hamba yang shalih.” (HR. Ahmad 197, Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim).

Beberapa faedah dari hadits di atas:

Pertama: Yang dimaksud orang yang shalih adalah orang yang memperhatikan dan menunaikan hak-hak Allah dan hak-hak sesama.

Kedua: Harta yang baik adalah harta yang dimanfaatkan untuk maslahat dunia dan akhirat. Ini tentu saja yang pintar mengolahnya adalah hamba Allah yang shalih yang mengerti kedua masalah ini.

Ketiga: Harta yang tidak digunakan di jalan kebaikan dan melupakan kewajiban, harta seperti ini bisa jadi hilang berkah dan kebaikan di dalamnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أنفقي أَوِ انْفَحِي ، أَوْ انْضَحِي ، وَلاَ تُحصي فَيُحْصِي اللهُ عَلَيْكِ ، وَلاَ تُوعي فَيُوعي اللهُ عَلَيْكِ

“Infaqkanlah hartamu. Janganlah engkau menghitung-hitungnya (menyimpan tanpa mau menginfakkan). Jika tidak, maka Allah akan menghilangkan berkah rezeki tersebut. Janganlah menghalangi anugerah Allah untukmu. Jika tidak, maka Allah akan menahan anugerah dan kemurahan untukmu.” (HR. Bukhari no.1433 dan Muslim no.1029, 88)

Oleh karena itu, harta tersebut sudah sepantasnya disalurkan pada hal-hal yang wajib, mulai dari menafkahi keluarga serta menunaikan zakat jika sudah mencapai nishob dan haul. Setelah itu, barulah disalurkan pada hal-hal lain yang bermanfaat.

Keempat: Hadits ini merupakan pertanda bolehnya seseorang mngumpulkan harta yang halal yang nantinya akan ia gunakan untuk memunaikan kewajiban-kewajiban yang dibebankan pada dirinya. Ibnu Hibban membawakan hadits ini dalam kitab Shahihnya pada Bab “Mengumpulkan harta yang halal”.

Kelima: Tidak apa-apa seseorang itu kaya, asalkan bertakwa dan memiliki sifat qona’ah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنِ اتَّقَى وَالصِّحَّةُ لِمَنِ اتَّقَى خَيْرٌ مِنَ الْغِنَى وَطِيبُ النَّفْسِ مِنَ النِّعَمِ

“Tidak apa-apa dengan kaya bagi orang yang bertakwa. Dan sehat bagi orang yang bertakwa itu lebih baik dari kaya. Dan bahagia itu bagian dari kenikmatan.” (HR. Ibnu Majah no. 2141 dan Ahmad 4/69, shahih kata Syaikh Al Albani).

Al Baihaqi dalam kitab Adabnya membawakan hadits yang kita bahas ini dalam Bab “Tidak mengapa seseorang itu kaya, asalkan ia bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla dan ia menyalurkan hak tadi serta menempatkannya pada tempat yang benar.”

Oleh karena itu kaya harta tidaklah tercela. Namun yang tercela adalah tidak pernah merasa cukup dan puas (qona’ah) dengan apa yang Allah beri. Padahal sungguh beruntung orang yang punya sifat qona’ah. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ

“Sungguh sangat beruntung orang yang telah masuk Islam, diberikan rezeki yang cukup dan Allah menjadikannya merasa puas dengan apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim)

***

Diketik ulang dari buku “Bermodalkan Ilmu Sebelum Berdagang”, karya Ust.Muhammad Abduh Tuasikal, ST, MSc.

Sumber

Dulu Mengenggam Dunia tapi Meninggal Membawa Kafan

Dulu Mengenggam Dunia tapi Meninggal Membawa Kafan

Saudaraku, kita perlu sadari dan selalu ingat bahwa dunia ini hanya sementara saja. Hendaknya kita sadar bahwa dunia yang kita cari dengan susah payah ini tidak akan bisa kita bawa menuju kampung abadi kita yaitu kampung akhirat.

Ibnu Sammak Muhammad bin Shubaih rahimahullah berkata,

هب الدنيا في يديك ، ومثلها ضم إليك ، وهب المشرق والمغرب يجيء إليك ، فإذا جاءك الموت ، فماذا في يديك

“Anggaplah dunia ada di genggaman tanganmu dan ditambahkan yang semisalnya. Anggaplah (perbendaharaan) timur dan barat datang kepadamu, akan tetapi jika kematian datang, apa gunanya yang ada di genggamanmu?” (Siyarul A’lam An-Nubala 8/330)

Banyak sekali ayat dalam Al-Quran yang mengingatkan kita bahwa kehidupan dunia ini hanya sementara saja. Janganlah kita lalai dan tertipu seolah-olah akan hidup di dunia selamanya dengan mengumpulkan dan menumpuk harta yang sangat banyak sehingga melalaikan kehidupan akhirat kita.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُم بِاللَّهِ الْغَرُورُ

Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah.” (Luqmaan: 33)

Allah juga berfirman,

ﻭَﻣَﺎ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺓُ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺇِﻟَّﺎ ﻣَﺘَﺎﻉُ ﺍﻟْﻐُﺮُﻭﺭِ

“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Ali Imran: 185)

Allah juga berfirman,

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآَخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Al Hadid: 20)

Jika direnungi, ternyata harta kita yang sesungguhnya hanya tiga saja. Selain itu, bukan lah harta kita, walaupun hakikatnya itu adalah milik kita di dunia, karena MAYORITAS harta sejatinya hanya kita tumpuk saja dan bisa jadi BUKAN kita yang menikmati, hanya sekedar dimiliki saja atau KOLEKSI saja.

Tiga harta sejati yang kita nikmati, itupun menikmati sementara saja yaitu

1. Makanan yang kita makan

Makanan yang di kulkas belum tentu kita yang menikmati semua. Makanan yang di gudang belum tentu kita yang menikmati semua. Uang yang kita simpan untuk beli makanan belum tentu kita yang menikmati. Ketika menikmati makanan pun ini hanya sesaat dari keseharian kita, hanya melewati lidah dan kerongkongan sebentar saja

2. Pakaian yang kita pakai

Termasuk sarana yang kita pakai seperti sepatu, kendaraan serta rumah kita. Ini yang kita nikmati. Akan tetapi inipun sementara saja karena pakaian bisa usang sedangkan rumah akan diwariskan

3. Sedekah

Ini adalah harta kita yang sebenarnya, sangat berguna di akkhirat kelak. Inipun berlalu sebentar dari genggaman kita di dunia

Selebihnya harta yang kita tumpul hakikatnya bukan harta kita, kita tidak menikmatinya atau hanya menikmati sesaat saja. Misalnya menumpuk harta:
-Rumah ada dua atau tiga, yang kita nikmati utamanya hanya satu rumah saja
-Uang tabungan di bank beratus-ratus juta atau miliyaran, yang kita nikmati hanya sedikit saja selebihnya kita hanya kita simpan
-Punya kebun yang luas, punya toko yang besar, hanya kita nikmati sesaat saja

Inilah yang dimaksud hadits, harta sejati hanya tiga

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﺑْﻦُ ﺁﺩَﻡَ ﻣَﺎﻟِﻰ ﻣَﺎﻟِﻰ – ﻗَﺎﻝَ – ﻭَﻫَﻞْ ﻟَﻚَ ﻳَﺎ ﺍﺑْﻦَ ﺁﺩَﻡَ ﻣِﻦْ ﻣَﺎﻟِﻚَ ﺇِﻻَّ ﻣَﺎ ﺃَﻛَﻠْﺖَ ﻓَﺄَﻓْﻨَﻴْﺖَ ﺃَﻭْ ﻟَﺒِﺴْﺖَ ﻓَﺄَﺑْﻠَﻴْﺖَ ﺃَﻭْ ﺗَﺼَﺪَّﻗْﺖَ ﻓَﺄَﻣْﻀَﻴْﺖَ

“Manusia berkata, “Hartaku-hartaku.” Beliau bersabda, “Wahai manusia, apakah benar engkau memiliki harta? Bukankah yang engkau makan akan lenyap begitu saja? Bukankah pakaian yang engkau kenakan juga akan usang? Bukankah yang engkau sedekahkan akan berlalu begitu saja? ” (HR. Muslim no. 2958)

Riwayat yang lain,

ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟْﻌَﺒْﺪُ ﻣَﺎﻟِﻰ ﻣَﺎﻟِﻰ ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻟَﻪُ ﻣِﻦْ ﻣَﺎﻟِﻪِ ﺛَﻼَﺙٌ ﻣَﺎ ﺃَﻛَﻞَ ﻓَﺄَﻓْﻨَﻰ ﺃَﻭْ ﻟَﺒِﺲَ ﻓَﺄَﺑْﻠَﻰ ﺃَﻭْ ﺃَﻋْﻄَﻰ ﻓَﺎﻗْﺘَﻨَﻰ ﻭَﻣَﺎ ﺳِﻮَﻯ ﺫَﻟِﻚَ ﻓَﻬُﻮَ ﺫَﺍﻫِﺐٌ ﻭَﺗَﺎﺭِﻛُﻪُ ﻟِﻠﻨَّﺎﺱِ

“Hamba berkata, “Harta-hartaku.” Bukankah hartanya itu hanyalah tiga: yang ia makan dan akan sirna, yang ia kenakan dan akan usang, yang ia beri yang sebenarnya harta yang ia kumpulkan. Harta selain itu akan sirna dan diberi pada orang-orang yang ia tinggalkan. ” (HR. Muslim no. 2959)

Dunia memang kita butuhkan dan tidak terlalrang kita mencari harta dan dunia akan tetapi harus kita tujukan untuk orientasi akhirat.

Demikian semoga bermanfaat

Sumber

Jalan Hidayah Salman al-Farisi

Jalan Hidayah Salman al-Farisi

Salman berkisah,

Aku adalah seorang pemuda Persia penduduk kota Ashbahan (kota di tengah Iran, di antara Teheran dan Syiraz) dari desa yang dikenal dengan nama Jayyan. Ayahku adalah kepala kampung, orang yang paling kaya dan paling mulia kedudukannya di sana. Aku adalah orang yang paling dicintai ayahku sejak lahir. Cintanya kepadaku semakin bertambah seiring dengan berjalannya waktu, sampai-sampai ayahku menahanku di rumah seperti anak-anak perempuan karena begitu mengkhawatirkan keadaanku.

Aku belajar agama Majusi dengan sungguh-sungguh sehingga aku diberi tugas menjaga api yang kami sembah, menyalakan api ini dan menjaganya agar tidak padam. Semuanya diserahkan kepadaku siang dan malam.

Ayahku memiliki ladang yang luas, hasilnya melimpah, ayahku sendiri yang mengurusnya dan memanen hasilnya. Suatu hari suatu kesibukan menghalangi ayahku untuk pergi ke ladang, maka ia berkata kepadaku, “Anakku, aku disibukkan oleh pekerjaanku sehingga aku tidak bisa mengurusi ladang. Pergilah kesana, mulai hari ini kamu yang mengurusinya.”

Aku berangkat menuju ladang kami, di tengah jalan aku melewati gereja orang-orang Nashrani, Aku mendengar suara mereka yang sedang beribadah, hal itu menarik perhatianku. Aku memperhatikan ibadah mereka, ibadah mereka membuatku takjub, aku jadi berminat pada agama mereka. Aku berkata pada diriku,”Demi Tuhan, ini lebih baik daripada yang aku anut selama ini.” Demi Tuhan aku tidak meninggalkan mereka sampai matahari terbenam, aku batal berangkat ke ladang bapakku. Kemudian aku bertanya kepada mereka, “Dari mana asal-usul agama ini?” Mereka menjawab, “Negeri Syam.”

Malam pun tiba, aku pulang ke rumah. Bapakku menyambutku dan menanyakan kepadaku tentang apa yang aku lakukan. Aku berkata, “Bapak, aku melewati orang-orang yang sedang beribadah di gereja mereka, agama mereka sungguh menakjubkanku, aku terus bersama mereka sampai matahari terbenam.”

Bapakku terkejut bukan kepalang dari apa yang telah aku lakukan, dia berkata, “Anakku, agama tadi tidak membawa kebaikan. agamamu dan agama leluhurmulah yang lebih baik darinya.” Aku menjawab, “Tidak mungkin, demi Tuhan, agama mereka lebih baik daripada agama kita.” Bapakku pun sangat ketakutan terhadap kata-kataku, dia khawatir aku akan murtad dari agamaku,  maka dia memenjarakanku di rumah dan memasung kedua kakiku.

Manakala kesempatan datang, aku bertanya kepada orang-orang Nashrani (yang tinggal di gereja mereka), “Jika ada beberapa orang dari kalian hendak berangkat ke negeri Syam maka beritahu aku.”

Tidak lama berselang, kesempatan itu pun datang. Beberapa orang dari mereka hendak berangkat ke negeri Syam, mereka mengabariku, Aku pun berusaha mencari cara untuk membuka pasungku dan aku berhasil membukanya. Aku berangkat secara sembunyi-sembunyi bersama mereka sehingga kami tiba di negeri Syam.

Tiba di Syam, aku bertanya, “Siapa orang yang paling utama dalam agama ini?” Mereka menjawab, “Seorang uskup penanggung jawab gereja.” Aku datang kepadanya, aku bertanya, “Aku ingin masuk agama Nashrani. Aku ingin menyertaimu, melayanimu dan belajar darimu serta beribadah denganmu.” Uskup itu berkata, “Masuklah.” Aku masuk dan mulai menjadi pelayannya.

Namun tidak lama setelah itu, aku mengetahui bahwa laki-laki ini adalah laki-laki busuk. Dia memerintahkan para pengikutnya untuk bersedekah dan mendorong mereka untuk mencari pahala. Namun ketika mereka menyerahkan sedekah kepadanya untuk selanjutnya disalurkan ke jalan Allah, dia malah menyimpannya untuk dirinya sendiri dan tidak memberikan kepada fakir miskin sedikit pun, sehingga laki-laki ini bisa mengumpulkan bergentong-gentong emas.

Aku pun sangat membencinya karena akhlak dan perilakunya. Tidak lama kemudian dia pun mati, orang-orang Nashrani berkumpul untuk menguburnya, aku berkata kepada mereka, “Laki-laki ini bukan orang baik. Dia menyuruh kalian bersedekah dan mendorong kalian agar kalian suka bersedekah, tetapi jika kalian menyerahkan sedekah kepadanya maka dia menyimpannya untuk dirinya, dia tidak memberikan sedikit pun kepada orang-orang miskin.” Mereka bertanya, “Dari mana kamu tahu hal itu?” Aku menjawab, “Kemarilah, aku tunjukkan kekayaannya kepada kalian.”

Aku membawa mereka ke tempat penyimpanan hartanya, mereka pun membongkarnya dan menemukan tujuh buah gentong yang penuh dengan emas dan perak. Ketika mereka melihatnya, mereka berkata, “Demi Allah kami tidak akan menguburnya.” Kemudian mereka menyalibnya dan melemparinya dengan batu.

Tidak berlangsung lama setelah itu, mereka sudah memiliki penggantinya, aku tetap menyertainya. Aku melihatnya sebagai laki-laki yang paling zuhud terhadap dunia, paling ingin meraih akhirat, paling tekun beribadah di malam dan siang hari, maka aku sangat mencintainya.

Ketika ajalnya sudah dekat, aku berkata kepadanya, “Wahai Fulan kepada siapakah kamu akan menyerahkanku, kepada siapakah kamu menasehatiku agar aku bersamanya sesudahmu?” Dia menjawab, “Anakku, aku tidak mengetahui seseorang yang sama agamanya denganku kecuali laki-laki di al-Maushil (kota tua di pinggir sungai Dajlah di Irak). Dia adalah fulan, dia tidak mengganti agama dan tidak pula menyelewengkan, pergilah kepadanya.”

Ketika laki-laki shalih ini wafat, aku berangkat kepada laki-laki yang dia katakan di al-Maushil. Aku bertemu dengannya, aku menceritakan kisahku kepadanya dan Aku berkata, “Sesungguhnya Fulan mewasiatkan di hari menjelang kewafatannya agar aku menemuimu. Dia mengatakan kepadaku bahwa engkau berpegang kepada kebenaran yang dia pegang selama hidupnya.” Maka dia menjawab, “Tinggallah di sini.” Aku tinggal bersamanya dan aku melihatnya dalam keadaan baik.

Namun tidak lama setelah itu dia pun wafat pula. Sebelum dia wafat, aku bertanya kepadanya, “Wahai Fulan, ketetapan Allah telah tiba seperti yang engkau rasakan saat ini. Engkau telah mengetahui apa yang aku perlukan, kepada siapa engkau akan mewasiatkanku? Kepada siapa engkau memerintahkanku untuk bertemu?” Dia menjawab, “Anakku, demi Allah aku tidak mengetahui seorang pun di atas apa yang aku pegang saat ini kecuali seorang laki-laki di Nashibin (Kota terletak di jalan para kafilah dagang dari al-Maushil ke Syam, jaraknya adalah enam hari perjalanan dari al-Maushil). Dia adalah Fulan, temuilah dia.”

Ketika laki-laki ini sudah dimakamkan di liang lahatnya, aku berangkat untuk menemui laki-laki di Nashibin. Aku menceritakan kisahku dan pesan laki-laki sebelumnya kepadaku, maka dia berkata, “Tinggallah di sini.”

Aku pun tinggal bersamanya, aku melihatnya seperti dua kawannya sebelumnya, baik. Demi Allah tidak lama aku tinggal bersamanya, kematian telah menghampirinya. Ketika ajalnya sudah tiba, aku berkata kepadanya, “Engkau telah mengetahui keinginanku, kepada siapa engkau berpesan kepadaku agar aku menemuinya?” Dia menjawab, “Anakku, demi Allah Aku tidak mengetahui seorang laki-laki yang masih memegang apa yang kita pegang kecuali seorang laki-laki di Ammuriyah, dia adalah Fulan, pergilah kepadanya.”

Maka aku pergi kepadanya, aku bertemu dengannya dan menyampaikan keperluanku. Dia berkata, “Tinggallah bersamaku.” Maka aku pun tinggal bersama seorang laki-laki yang berjalan di atas jalan sahabat-sahabatnya sebelumnya. Selama aku tinggal bersamanya, aku bisa mempunyai beberapa ekor sapi dan beberapa ekor kambing.

Namun tidak lama berselang, keputusan Allah atasnya menghampirinya seperti ia menghampiri kawan-kawanya. Manakala ajal tiba, aku bertanya kepadanya, “Sesungguhnya engkau mengetahui urusanku seperti yang engkau ketahui, kepada siapa engkau mewasiatkan aku? Apa yang kamu perintahkan kepadaku untuk aku kerjakan?”

Dia menjawab, “Anakku, demi Allah Aku tidak mengetahui masih ada seseorang di muka bumi ini yang berpegang kepada apa yang kita pegang. Namun telah dekat sebuah zaman, dimana di zaman itu seorang Nabi akan muncul di bumi Arab. Dia diutus untuk membawa agama Ibrahim. Kemudian dia berhijrah dari negeri ke negeri yang berpohon kurma di antara dua gunung hitam. Dia mempunyai tanda-tanda sangat jelas. Dia menerima hadiah dan tidak memerima sedekah. Di antara kedua pundaknya terdapat stempel kenabian. Jika kamu mampu berangkat ke negeri itu maka lakukanlah.”

Kemudian laki-laki itu meninggal. Setelah kepergiannya, aku tinggal di Ammuriyah beberapa waktu lamanya. Sampai beberapa orang dari para pedagang Arab dari kabilah Kalb lewat daerah kami, aku berkata kepada mereka, “Aku memberikan sapi-sapi dan kambing-kambingku ini kepada kalian jika kalian mau membawaku ke bumi Arab.” Mereka menjawab, “Ya, kami akan membawamu.”

Maka aku memberikan sapi-sapi dan kambing-kambingku dan mereka pun membawaku. Ketika kami tiba di sebuah tempat yang bernama Wadil Qura (sebuah lembah di antara Madinah dan Syam, ia lebih dekat ke Madinah), mereka mengkhianatiku dan menjualku kepada seorang laki-laki Yahudi, sehingga aku pun hidup dengannya sebagai budak yang harus melayaninya.

Tidak lama aku melayani laki-laki Yahudi ini, karena sepupunya dari Bani Quraizhah datang berkunjung dan membeliku untuk kemudian membawaku ke Yatsrib. Di sana Aku melihat pohon-pohon kurma seperti yang dikatakan oleh uskupku di Ammuriyah. Aku mengetahui bahwa inilah Madinah melalui sifat-sifat yang dia katakan kepadaku, aku pun tinggal di sana bersama majikanku.

Pada saat ini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih di Mekkah berdakwah kepada kaumnya, dan aku belum mendengar apa pun tentangnya karena kesibukanku sebagai hamba sahaya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Yatsrib, pada saat itu aku sedang berada di atas pucuk kurma milik majikanku untuk melakukan pekerjaanku, sementara majikanku duduk di bawahnya. Tiba-tiba sepupunya datang dan berkata kepadanya, “Semoga Allah mencelakakan Bani Qailah –yakni Aus dan Khazraj– demi Allah mereka sekarang sedang berkumpul di Quba’ dengan seorang laki-laki yang pada hari ini datang dari Mekkah yang mengaku sebagai Nabi.”

Begitu aku mendengar ucapannya, aku langsung terserang sesuatu yang mirip demam, tubuhku bergoncang keras, sampai-sampai aku takut  jatuh di atas majikanku. Aku segera turun dari pohon, aku berkata kepada sepupu majikanku, “Apa yang Tuan katakan? Tolong ulangi sekali lagi.” Majikanku marah melihat sikapku, dia menamparku dengan keras dan berkata kepadaku, “Apa urusanmu dengannya. Kembalilah kepada pekerjaanmu.”

Di sore hari sku mengambil beberapa biji kurma yang sebelumnya aku kumpulkan. Aku pergi ke tempat di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam singgah, aku menemuinya dan aku berkata kepadanya, “Aku mendengar bahwa Anda adalah laki-laki shalih dengan shahabat-shahabat yang asing dalam kondisi membutuhkan uluran tangan. Ini kurma yang telah aku siapkan untuk sedekah, aku melihat Anda semua adalah orang yang paling berhak untuk menerimanya.” Kemudian aku menyodorkan kurma kepadanya, dia bersabda kepada shahabat-shahabatnya, “Makanlah.” Dan dia sendiri menahan tangannya dan tidak makan. Maka Aku berkata dalam diriku, “Ini satu bukti (bahwa dia tidak menerima shadaqah).”

Kemudian aku pulang, aku mengumpulkan beberapa biji kurma untuk kedua kalinya. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah masuk Madinah meninggalkan Quba’, aku datang kepadanya, aku berkata, “Aku melihatmu tidak makan sedekah, ini adalah hadiah yang dengannya aku ingin memuliakanmu.” Maka dia makan sebagian dan memerintahkan shahabat-shahabatnya untuk makan pula. Aku berkata dalam diriku, “Ini bukti yang kedua (dia menerima hadiah).”

Kemudian aku datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat beliau berada di Baqi’ al-Gharqad (sebuah tempat di Madinah yang dijadikan sebagai kuburan) sedang menguburkan sebagian shahabatnya. Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk dengan memakai dua helai kain. Aku mengucapkan salam, kemudian aku memutar ke belakangnya untuk melihat punggungnya dengan harapan bisa melihat stempel kenabian yang dikatakan oleh uskupku di Ammuriyah.

Manakala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat bahwa aku telah berupaya untuk melihat punggung Beliau dan beliau mengetahui maksudku, Beliau pun menurunkan kain dari punggungnya, dan aku pun melihat stempel kenabian. Saat itu aku mengetahuinya, maka aku pun menghambur kepadanya, menciumnya sambil menangis.

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadaku, “Apa kisahmu?” Maka aku menceritakan kisahku kepada beliau. Beliau terkagum-kagum dibuatnya, beliau berbahagia kalau para shahabat juga mendengarnya dariku. Maka aku pun berkisah kepada mereka, mereka sangat takjub kepada kisahku dan sangat berbahagia karenanya.

Keselamatan untuk Salman al-Farisi di hari dimana dia mencari kebenaran di setiap tempat.

Keselamatan untuk Salman al-Farisi di hari dimana dia mengenal kebenaran lalu dia beriman kepadanya dengan iman yang paling kuat.

Keselamatan untuk Salman al-Farisi di hari dimana dia wafat dan di hari di mana dia dibangkitkan.

***

Diketik ulang dari buku “Mereka adalah Para Shahabat, Kisah-Kisah Manusia Pilihan dari Generasi Terbaik Umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam” karya Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya. Penerbit At-Tibyan. Halaman 89-95.

Sumber

Sibukkanlah Dirimu dalam Amal Shalih

Sibukkanlah Dirimu dalam Amal Shalih

Para salaf rahimahumullahu Ta’ala banyak menyampaikan perkataan dan nasihat untuk orang-orang yang tidak menyibukkan dirinya dalam berbagai macam amal ketaatan atau amal ibadah. Juga tidak memiliki perhatian dalam beramal kebaikan.

Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata,

مثل علم لايعمل به كمثل كنز لاينفق منه في سبيل الله عز و جل

“Permisalan ilmu (agama) yang tidak diamalkan itu seperti tabungan harta yang tidak dibelanjakan di jalan Allah.”

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah ditanya tentang seseorang yang memperbanyak menulis hadits, beliau berkata,

“Sepatutnya dia memperbanyak amal dengan hadits sekadar dengan peningkatan (tambahan) hadits yang dia dapatkan.”

Kemudian beliau berkata lagi,

سبل العلم مثل سبل المال، إن المال إذا ازداد ازدادت زكاته

“Jalan (untuk mendapatkan) ilmu itu seperti jalan (untuk mendapatkan) harta. Jika harta bertambah, bertambah pula zakatnya.”

Al-Khathib Al-Baghdadi rahimahullah berkata,

“Sebagaimana harta itu tidak bermanfaat kecuali dengan dibelanjakan, demikian pula ilmu itu tidaklah bermanfaat kecuali bagi orang yang mengamalkannya, dan memperhatikan kewajibannya. Maka hendaklah seseorang itu memperhatikan dirinya sendiri dan memanfaatkan waktunya. Karena sesungguhnya tempat tinggal kita di dunia hanyalah sebentar, kematian kita sudah dekat dan jalan itu sungguh menakutkan. Mayoritas manusia tertipu dengan dunia dan masalah (nasib di akhirat) adalah masalah yang besar. Adapun yang mengawasi kita adalah Dzat Yang maha melihat, Allah Ta’ala senantiasa mengawasi kita, dan kepada Allah-lah tempat kembali.

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (7) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ (8)

“Barangsiapa yang beramal seberat semut kecil berupa kebaikan, dia pun akan melihat hasilnya. Dan barangsiapa yang beramal seberat semut kecil berupa keburukan, dia pun akan melihat hasilnya.” (QS. Az-Zalzalah [99]: 7-8)

Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata,

أنزل القرآن ليعمل به؛ فاتخذ الناس تلاوته عملا

“Al-Qur’an itu diturunkan untuk diamalkan. Sedangkan manusia menjadikan membaca Al-Qur’an sebagai amalnya.”

Ibnul Jauzi rahimahullah menjelaskan perkataan Hasan Al-Bashri di atas dengan mengatakan, “Maksudnya, sesungguhnya manusia hanya mencukupkan diri dengan membaca Al-Qur’an dan meninggalkan beramal dengan Al-Qur’an.”

Seseorang berkata kepada Ibrahim bin Adham, “Allah Ta’ala berfirman,

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan.’ (QS. Ghafir [40]: 60)

Apa pendapatmu ketika kami berdoa namun tidak dikabulkan?”

Ibrahim pun berkata kepada orang tersebut, “Ini disebabkan oleh lima perkara.”

Orang tersebut bertanya, “Apa itu?”

Ibrahim bin Adham menjawab, “(1) Engkau mengenal Allah, namun Engkau tidak menunaikan hak Allah (yaitu ibadah, pen.). (2) Engkau membaca Al-Qur’an, namun Engkau tidak mengamalkan isi kandungan Al-Qur’an. (3) Kalian mengatakan, ‘Kami mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam’, namun kalian tinggalkan sunnah-sunnah beliau. (4) Kalian mengatakan, ‘Kami melaknat iblis’, namun kalian justru mentaatinya. (5) Kalian tinggalkan aib-aib (kekurangan) kalian, dan kalian sibuk dengan aib orang lain.”

Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Semoga Allah merahmati Abu Hazim yang mengatakan,

رضي الناس اليوم بالعلم و تركوا العمل

“Hari ini manusia puas dengan ilmu dan mereka meninggalkan amal.”

Malik bin Dinar rahimahullah berkata,

“Sesungguhnya seorang hamba jika mencari ilmu untuk mengamalkannya, maka ilmu akan masuk ke dalam hatinya (sehingga membuahkan amal, pen.). Jika dia menuntut ilmu untuk selain tujuan tersebut, maka dia akan semakin bertambah maksiat atau semakin sombong (dengan ilmunya).” 

Termasuk perkataan yang paling indah dalam masalah ini adalah perkataan Sufyan rahimahullah ketika ditanya, “Dikatakan kepada beliau, manakah yang lebih Engkau cintai, menuntut ilmu ataukah beramal?”

Sufyan menjawab,

إنما يراد العلم للعمل، فلا تدع طلب العلم للعمل، ولا تدع العمل لطلب العلم

“Sesungguhnya ilmu itu hanyalah dimaksudkan untuk diamalkan. Maka janganlah Engkau meninggalkan menuntut ilmu dengan alasan sibuk beramal. Namun janganlah Engkau meninggalkan beramal dengan alasan sibuk menuntut ilmu.” 

Artinya, dua hal ini (menuntut ilmu dan mengamalkan ilmu), haruslah dilaksanakan secara seimbang.

Semoga Allah Ta’ala senantiasa memudahkan kita untuk mengamalkan ilmu yang telah kita dapatkan.

 

Penulis: M. Saifudin Hakim

Sumber