Dilema Tahdzir Serampangan Merusak Dakwah Islam

Dilema Tahdzir Serampangan Merusak Dakwah Islam

Di dalam menjalankan kewajiban berdakwah menuju kepada jalan Allah Ta’ala, para ulama’ pasti akan senantiasa menghadapi berbagai tantangan dan aral  yang melintang. Dan diantara tantangan yang sering menghadang setiap derap langkah para dai kebenaran ialah adanya lawan dari sesama mereka, yaitu para pelaku kesesatan dan kebatilan. Dan karena hal ini adalah hal yang telah masyhur dan dirasakan oleh setiap dai yang menyerukan kebanaran, maka saya tidak merasa perlu untuk membuktikannya. Akan tetapi yang saya anggap perlu ialah mengingatkan diri saya dan kawan-kawan saya tentang hikmah dan manfaat adanya pertentangan ini. Sebab segala hal yang ada dan terjadi di dunia ini adalah bagian dari ciptaan Allah Ta’ala dan berjalan selaras dengan kehendak-Nya. Dengan demikian tidak mungkin semua itu terjadi dengan sia-sia, tanpa ada manfaat dan hikmahnya.

]وما خلقنا السماء والأرض وما بينهما لاعبين[ النبياء 16

“Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada diantara keduanya dengan bermain-main.” (Al Anbiya’ 16)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Ia menciptakan langit dan bumi dengan kebenaran, maksudnya dengan keadilan, agar Ia mengganjar orang yang berlaku buruk setimpal dengan apa yang mereka amalkan, dan membalas orang yang berlaku baik dengan balasan kebaikan pula. Sebagaimana Allah mengabarkan bahwa Ia tidaklah menciptakan semua itu dengan sia-sia dan juga tidak karena main-main.”([1])

Dan dalam ayat lain Allah berfirman:

]وما خلقنا السماء والأرض وما بينهما باطلا ذلك ظن الذين كفروا فويل للذين كفروا من النار[ ص 27

“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah (sia-sia). Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk ke dalam neraka.” (Shaad 27) Sehingga tidaklah layak bagi seorang mukmin apalagi seorang dai untuk berkecil hati bila pada suatu saat menghadapi tantangan atau hambatan dalam menjalankan dan memperjuangkan kebenaran. Dan hendaknya adanya tantangan tersebut semakin menambah keimanan dan keyakinan kita kepada apa yang kita yakini dan perjuangkan, karena ini merupakan bukti bahwa Allah Ta’ala telah merahmati kita, sehingga kita dapat memilih jalan kebenaran dan terhindar dari kesesatan..

] ولو شاء ربك لجعل الناس أمة واحدة ولا يزالون مختلفين إلا من رحم ربك ولذلك خلقهم وتمت كلمة ربك لأملأن جهنم من الجنة والناس أجمعين[ هود 118-119

“Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia ummat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat (keputusan) Tuhanmu telah ditetapkan: sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahnnam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.” (Hud 118-119). Adanya kekufuran dan keimanan di kehidupan dunia ini adalah salah satu bagian dari sunnatullah, sehingga dengan demikian akan terbukti bagi umat manusia bahwa Allah Ta’ala Maha Pengasih lagi Penyayang dan diwaktu yang sama Allah Maha pedih siksa-Nya.

Perseteruan antara kebenaran beserta pemeluknya melawan kebatilan beserta seluruh antek-anteknya bukanlah hal yang baru, akan tetapi merupakan sunnatullah yang telah dimulai semenjak manusia pertama yaitu Nabi Adam ‘alaihis salaam dan istrinya Hawa melawan nenek moyang pemuja kebatilan, yaitu Iblis la’natullah ‘alaihi :

]وقلنا اهبطوا بعضكم لبعض عدو[ البقرة 36.

“Turunlah kamu, sebahagian kamu menjadi musuh bagi yang lain”. (Al Baqarah 36). Sebagaimana Allah Ta’ala juga telah memperingatkan umat manusia agar senantiasa waspada dari tipu daya iblis dan pengikutnya:

] يا بني آدم لا يفتننكم الشيطان كما أخرج أبويكم من الجنة ينـزع عنهما لباسهما ليريهما سوءاتهما إنه يراكم هو وقبيله من حيث لا ترونهم إنا جعلنا الشياطين أولياء للذين لا يؤمنون[ الأعراف 27

“Wahai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat tertipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-peminpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” (Al A’araf 27).

Diantara metode yang diajarkan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya kepada kaum mukminin dalam menghadapi kesesatan dan para pelakunya ialah metode tahzir, yaitu menyebutkan kesalahan dan kesesatan mereka agar masyarakat menyadari akan kesalahan dan jati diri mereka, sehingga mereka tidak terpengaruh dan terpedaya oleh berbagai propaganda dan manisnya perkataan mereka.

Untuk sedikit memberikan penjelasan kepada para pembaca tentang metode ini, saya akan sedikit sebutkan tentang beberapa dalil dan keterangan ulama’ Ahlis sunnah seputar permasalahan ini.([2])

Dalil-dalil disyari’atkannya tahzir:

Dalil Global:

Dengan kita merujuk berbagai dalil, baik dari Al Qur’an atau As Sunnah dan juga keterangan ulama’ Ahlis Sunnah, kita dapatkan bahwa upaya melindungi agama masyarakat dengan cara menyebutkan kesalahan pelaku bid’ah atau kemungkaran yang dirasa akan mempengaruhi mereka adalah suatu hal yang dibolehkan, dan bahkan tindakan ini termasuk salah satu bentuk pengingkaran terhadap kemungkaran, yaitu pengingkaran dengan lisan.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Bila seseorang menampakkan perbuatan dosa, seperti tindak kelaliman, perbuatan keji, dan berbagai amalan bid’ah yang jelas-jelas menyelisihi As Sunah, bila ia berani menampakkan kemungkarannya, maka wajib untuk mengingkarinya sekuat kemampuan kita, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

(من رأى منكم منكرا فليغيره بيده فإن لم يستطع فبلسانه فإن لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف الإيمان)

“Barangsiapa diantara kalian melihat kemungkaran, maka hendaknya ia merubahnya dengan tangannya (kekuatannya), jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya, dan jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman.”, riwayat Muslim.“([3])

Dalil Khusus :

Banyak sekali dalil-dalil, baik dari Al Qur’an atau As Sunnah yang menjelaskan akan bolehnya menyebutkan kesalahan seseorang yang dirasa akan mempengaruhi orang lain atau masyarakat luas. Diantara dalil-dalil tersebut ialah hadits-hadits berikut:

عن عائشة رضي الله عنها أنها قالت: استأذن رجل على رسول الله صلى الله عليه والسلام فقال: (ائذنوا له بئس أخو العشيرة أو ابن العشيرة، فلما دخل ألان له الكلام). قلت: يا رسول الله قلت الذي قلت، ثم ألنت له الكلام؟ قال: (أي عائشة، إن شر الناس من تركه الناس –أو ودعه الناس- اتقاء فحشه) متفق عليه

“Dari sahabat ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, ia menuturkan: Ada seorang lelaki yang memohon izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliaupun bersabda: “Izinkanlah untuknya, ia adalah seburuk-buruk kerabat ialah dia, maka ketika ia telah masuk, beliau (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) bermanis kata kepadanya.” Akupun bertanya: Wahai Rasulullah, engkau telah mengatakan perkataanmu tadi, kemudian engkau bermanis kata kepadanya? Beliau menjawab: “Wahai ‘Aisyah sesungguhnya manusia paling buruk ialah orang yang dijauhi oleh orang lain karena mereka menghindari kata-katanya yang keji.” (Muttafaqun ‘alaih)

Al Qurthuby mengomentari hadits ini dengan berkata:

في الحديث جواز غيبة المعلن بالفسق أو الفحش ونحو ذلك من الجور في الحكم والدعاء إلى البدعة، مع جواز مداراتهم اتقاء شرهم ما لم يؤد ذلك إلى المداهنة في دين الله تعالى….. والفرق بين المدارة والمداهنة: أن المداراة بذل الدنيا لصلاح الدنيا أو الدين أو هما معا، وهي مباحة وربما استحبت، والمداهنة: ترك الدين لصلاح الدنيا. والنبي صلى الله عليه والسلام إنما بذل له من دنياه حسن عشرته والرفق في مكالمته ومع ذلك فلم يمدحه بقول فلم يناقض قوله فيه فعله.

“Pada hadits ini terdapat petunjuk bolehnya mengghibahi (menyebutkan kesalahan) orang yang menampakkan kefasikan atau perbuatan keji dan yang serupa dengannya berupa tindak kelaliman ketika memutuskan sesuatu, menyeru kepada perbuatan bid’ah. Sebagaimana ada petunjuk bolehnya bersikap mudaraah (mengambil simpati/sikap bijak) kepada mereka, guna menghindari kejahatannya, selama sikap bijak  tersebut tidak sampai menjerumuskan kita kepada sikap mudahanah (menjilat) dalam urusan agama Allah Ta’ala. Dan perbedaan antara sikap bijak dan menjilat ialah sikap bijak adalah mengorbankan sebagian kepentingan duniawi demi menjaga kemaslahatan duniawi lainnya atau kemaslahatan agama atau kedua-duanya, dan sikap ini adalah sikap yang dibolehkan, bahkan kadang kala dianjurkan. Sedangkan sikap menjilat adalah mengorbankan urusan agama demi mencapai kepentingan duniawi. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kisah ini hanya mengorbankan dari kepentingan duniawinya untuk orang tersebut berupa sambutan baik dan berlemah lembut ketika berbicara dengannya. Walaupun demikian beliau sama sekali tidak pernah memujinya dengan suatu ucapan apapun, sehingga tidak ada pertentangan antara ucapan beliau pertama dengan sikapnya.”([4])

Diantara dalil yang menunjukkan akan bolehnya menyebutkan kesalahan ahlil bid’ah atau pelaku kemaksiatan demi menjaga kemurnian agama masyarakat ialah kisah sahabat Fathimah binti Qaish ketika meminta nasehat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang siapakah orang yang paling layak menjadi suaminya? Yaitu ketika datang kepadanya (Fathimah binti Qaish) dua orang sahabat yang sama-sama melamarnya, mereka itu adalah: sahabat Mu’awiyyah bin Abi Sufyan dan Abu Jahem bin Huzaifah semoga Allah senantiasa meridhai keduanya. Menjawab pertanyaan sahabat Fathimah ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(أما أبو جهم فلا يضع عصاه عن عاتقه وأما معاوية فصعلوك لا مال له. انكحي أسامة بن زيد). رواه مسلم

“Adapun Abu Jahem maka ia tidak pernah menurunkan tongkatnya dari bahunya (suka memukul istrinya), dan adapun Mu’awiyyah maka ia adalah orang yang miskin tidak memiliki harta. Menikahlah dengan Usamah bin Zaid.” (Muslim)

Bila dalam hadits ini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan kekurangan sahabat Abu Jahem dan Mu’awiyyah kepada wanita yang mereka lamar, padahal kekurangan tersebut bukan berupa kemaksiatan atau perbuatan bid’ah yang pernah mereka lakukan. Maka ini merupakan dalil nyata dan amat kuat bagi dibolehkannya menyebutkan kesalahan pelamar yang berupa perbuatan kemaksiatan atau bid’ah.

Dan bila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan kekurangan keduanya demi kepentingan seorang wanita, maka ini merupakan dalil nyata nan kuat bagi dibolehkannya menyebutkan kemaksiatan atau bid’ah seseorang yang dirasa mengancam kemurnian agama masyarakat luas, sampai-sampai Syeikhul Islam Ibnu taimiyyah menyebutkan bahwa menjelaskan kesesatan ahlul bid’ah dan para penganut paham yang menyelisihi Al Qur’an dan As Sunnah adalah wajib hukumnya, dan ulama’ islam telah menyepakati akan kewajibannya.([5])

Imam An Nawawi rahmimahullah berkata: “Ketahuilah bahwa perbuatan ghibah dibolehkan bila ada tujuan yang dibenarkan secara syari’at dan tidak mungkin untuk dicapai melainkan dengan cara ghibah, tujuan yang dibenarkan itu ada enam hal:…..sebab kelima: bila ia menampakkan dengan terang-terangan kefasikan atau bid’ahnya, misalnya orang yang minum khamer dihapan umum, merampas harta orang, memungut pajak, menarik pungutan terhadap harta orang lain dengan cara lalim, melakukan berbagai kebathilan, maka dibolehkan untuk disebutkan perbuatan yang ia lakukan dengan terang-terang tersebut, dan tidak boleh untuk disebutkan aibnya yang lain, kecuali bila ada sebab lain yang membolehkan untuk disebutkan selain yang telah kami jelaskan.”([6])

Ini adalah sekelumit dalil dan keterangan ulama’ salaf tentang disyari’atkannya tahzir ahlil bid’ah. Dan sekali lagi, bagi yang ingin mendapatkan keterangan lebih luas dan jelas, silahkan membaca kedua kitab yang saya sebutkan di atas.

Dan saya yakin bahwa kebanyakan ikhwah slafiyyin atau yang pernah mengikuti pengajian-pengajian mereka sering dan sudah cukup banyak mendengarkan penjelasan para ustadz tentang hal ini. Oleh karena itu saya rasa, sudah tidak perlu untuk dijabarkan dengan panjang lebar. Akan tetapi yang saya rasa masih amat perlu untuk didudukkan dan dijelaskan kepada masyarakat, ialah permasalahan syarat dan ketentuan-ketentuan yang harus diindahkan dalam menjalankan syari’at ini (mentahzir pelaku kesalahan atau bid’ah). Sebab tidak setiap pelaku kesalahan harus di tahzir dan tidak setiap pelaku bid’ah harus ditahzir. Dengan kata lain:  tahzir bukanlah sebuah harga mati atau tujuan, akan tetapi lebih tepat sebagai salah satu sarana ingkarul mungkar, dan upaya prefentif dalam menjaga kemurnian agama masyarakat.

Syarat-syarat disyari’atkannya tahzir:

Sebagaimana telah diketahui dari penjelasan di atas bahwa tahzir adalah salah satu bentuk ingkarul mungkar yang diajarkan dalam syari’at islam, maka sudah barang tentu berbagai persyaratan yang telah dijelaskan oleh ulama’ dalam menjalankan ingkarul mungkar,  juga berlaku dalam menjalankan tahzir. Persyaratan tersebut ialah:

  1. Ikhlas.

Maksudnya, ketika seorang dai hendak menyebutkan kesalahan atau kemaksiatan seseorang, -baik ahli bid’ah atau lainnya yang dirasa akan mengancam kemurnian agama masyarakat- ia benar-benar sadar bahwa maksud dan tujuannya ialah menjalankan kewajiban nasehat kepada umat islam secara umum, agar mereka dapat terhindar dari kesalahan dan bid’ah orang tersebut, serta tidak terperdaya oleh berbagai propaganda pelakunya. Sebagaimana ia juga harus menyingkir jauh-jauh dari niatnya berbagai tujuan lain, baik kepentingan pribadi, dendam, kecemburuan sosial, ikut-ikutan, bumbu ngobrol dll. Karena sesunggunya tujuan-tujuan lain ini tidak dapat menjadikan harga diri pelaku kesalahan atau bid’ah halal untuk dibicarakan atau ditahzir, karena tujuan-tujuan ini tak lain hanyalah kepentingan pribadi, sehingga tindakannya tidak dapat dikatakan sebagai ingkarul mungkar atau nasehat untuk umat.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Kemudian orang yang menjalankan tahzir ahlil bid’ah, yang tindakannya itu ia dasari dengan ilmu, ia harus memiliki niat yang baik. Seandainya ia berbicara atas dasar ilmu, akan tetapi karena ingin berbuat kesombongan di muka bumi, atau kerusakan, maka ia bagaikan orang yang berjihad karena dendam golongan dan karena riya’ (ingin pujian). Dan bila ia berbicara benar-benar karena Allah Ta’ala, penuh dengan ikhlas, maka ia termasuk orang-orang yang berjuang di jalan Allah, penerus para Nabi dan Rasul.”([7])

Dan pada kesempatan lain beliau juga berkata: “Sebagian orang ada yang menyebutkan kesalahan orang, hanya karena ikut-ikutan dengan rekan semajlisnya, atau sahabatnya, atau keluarganya, padahal ia sendiri tahu bahwa orang yang ia bicarakan terlepas dari apa yang mereka sebut-sebut, atau mungkin saja padanya ada sebagian dari apa yang mereka sebut. Akan tetapi ia merasa bahwa seandainya ia mengingkari perilaku kawannya, niscaya sikapnya itu akan mengacaukan jalannya majlis, atau mereka akan marah dan menjauihinya. Oleh karena itu ia beranggapan bahwa ikut-ikutan dengan mereka adalah bagian dari tuntutan dari pergaulan yang baik, dan persahabatn yang mulia. Kadang kala mereka marah, maka iapun jadi  marah, karena mengikuti kemerahan mereka, sehingga iapun hanyut bersama mereka.

Dan diantara mereka ada yang mengemas perbuatan ghibahnya dengan berbagai kedok, kadang kala ada yang menampakkannya dalam bentuk kebaikan atau amal shaleh, sehingga ia berkata: Aku tidak biasa untuk menyebutkan seseorang kecuali dengan kebaikan, dan aku tidak suka dengan perbuatan ghibah juga perbuatan dusta, yang aku lakukan hanyalah mengabarkan kepada kalian jati diri orang tersebut, kemudian iapun berkata: Sungguh demi Allah dia itu kasihan sekali, atau orangnya baik, akan tetapi padanya ada hal demikian-demikian. Dan kadang kala ia berkata: Janganlah sebut-sebut dia, semoga Allah mengampuni kita dan dia. Padahal tujuannya hanyalah untuk meremehkan orang tersebut dan melecehkannya. Mereka mengemas perbuatan ghibah dalam bentuk amal shaleh dan perbuatan baik. (Yang terjadi sebenarnya adalah) mereka itu sedang berupaya mengelabuhi Allah, sebagaimana mereka sedang berupaya mengelabuhi manusia……..Dan diantara mereka ada yang mengemas perbuatan ghibahnya dalam bentuk kemarahan, ingkarul mungkar, sehingga dalam permasalahan ini muncul berbagai kata-kata indah nan manis, padahal maksudnya berbeda dengan apa yang ia nampakkan.”([8])

Saya yakin, bila kaum muslimin yang ada di negri kita Indonesia, dan salafiyyin secara khusus sudi untuk sedikit mawas diri, dan kembali mengoreksi niat masng-masing ketika hendak menyebutkan kesalahan dan kekhilafan saudaranya, niscaya kejadian yang terjadi dimasyarakat tidak seperti yang sekarang dikeluhkan oleh banyak pihak. Karena keimanan dan ketakwaan kita masih terlalu rendah dan lemah untuk bisa senantiasa ikhlas dalam setiap perbuatan dan ucapan, apalagi bila berkaitan dengan menyebutkan kesalahan orang yang tidak sepaham dengan kita, atau pernah berseberangan kepentingan dengan kita. Semoga Allah melimpahkan kerahmatan dan maghfirah-Nya kepada kita semua, dan semoga kita dibimbing Allah agar dapat ikhlas dalam setiap ucapan dan sikap yang kita lakukan.

  1. Kesalahan orang tersebut dilakukan dengan terang-terangan.

Bila pelaku kesalahan atau bid’ah melakukan bid’ahnya dengan sembunyi-sembunyi, maka tidak boleh ditahzir, atau dibongkar kesalahannya dihadapan umum. Karena tahzir adalah salah satu bentuk ingkarul mungkar, dan ingkarul mungkar dengan cara seperti ini tidaklah dilakukan kecuali bila kemungkarannya dilakukan dengan cara terang-terangan.

Imam Al Auza’i berkata: “Dan dahulu ulama’ salaf amat keras ucapannya terhadap ahlul bid’ah, dan hati mereka membencinya, serta mereka senantiasa memperingatkan masyarakat dari bid’ah mereka. Seandainya mereka melakukan bid’ahnya dengan sembunyi-sembunyi, maka tidak boleh bagi siapapun untuk menyingkap tabir yang menutupi mereka, atau menyebarkan aib mereka. Allah-lah yang berhak untuk menghukumi mereka atau mengampuni mereka. Adapun bila mereka telah berterang-terangan dengan bid’ahnya, gencar menyebarkan bid’ahnya, pengikutnyapun telah banyak, maka menebarkan ilmu adalah kehidupan, dan menyampaikan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kerahmatan, yang dengannya kita berlindung dari kejahatan setiap orang yang menyeleweng lagi nekad.”([9])

Ibnu Taimiyyah juga berkata: “Barang siapa  yang menampakkan kemungkaran, maka wajib untuk diingkari, dijauhi dan dicela karenanya. Dan inilah maksud dari ucapan ulama’:”Barang siapa telah mencampakkan jilbab rasa malu, maka tidak ada lagi ghibah baginya”, beda halnya dengan orang yang menutup-nutupi dosanya dan ia lakukan dengan bersembunyi, maka orang semacam ini harus ditutupi, akan tetapi tetap harus dinasehati dengan cara tersembunyi, dan hendaknya orang yang kenal dengannya, memboikotnya, hingga ia benar-benar bertaubat, dan perbuatannya tersebut disampaikan (kepada orang yang dapat menasehatainya) dengan cara yang selaras dengan maksud dari nasehat.”([10])

Sebagaimana telah berlalu nukilan dari ucapan Imam An Nawawi yang semakna dengan ucapan kedua ulama’ di atas.

Bila persyaratan ini kita terapkan pada berbagai kasus tahzir yang terjadi di negri kita Indonesia, maka saya rasa masih banyak dari saudara-saudara kita yang kurang mengindahkannya. Sebagai salah satu buktinya, sering kita mendengar ucapan yang terlalu jauh menembus batasan ghaib, sampai-sampai mulai membicarakan tentang niat dan tujuan orang lain. Misalnya ucapan sebagian dari kita yang mensifati sebagian saudaranya dengan ucapan: “menjilat para donatur”, “menggunting dalam lipatan”, hingga tuduhan kepada saudaranya sesama muslim, sebagai seorang munafiq, dan ucapan-ucapan yang serupa.

  1. Pelaku kesalahan tersebut masih hidup.

Bila pelaku bid’ah atau kesalahan telah meninggal dunia, maka tidak boleh bagi kita untuk mengungkit-ungkit kesalahannya, atau menyebut-nyebut amalan bid’ahnya, atau mencelanya, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

(لا تسبوا الأموات فإنهم قد أفضوا إلى ما قدموا) رواه البخاري

“Janganlah kamu mencela orang-orang yang telah meninggal dunia, karena mereka telah mendapatkan balasan apa yang telah mereka kerjakan.” (Bukhari) Hikmahnya ialah, orang yang telah meninggal dunia sudah tidak dikhawatirkan lagi akan dapat merusak agama masyarakat. Oleh karena itu bila seorang pelaku bid’ah meninggalkan kitab atau karya tulis yang dapat dibaca oleh orang lain atau pengikut yang menyebarkan ajarannya, maka kita tetap masih dibolehkan untuk menyebutkan kesalahannya, demi menjaga kemurnian agama masyarakat, dan agar mereka tidak terpengaruh oleh buku-bukunya atau pengikutnya yeng mengajarkan kebid’ahan yang pernah ia ajarkan.

Al Qarafi Al Maliky berkata: “Orang sesat yang telah meninggal dunia, sedangkan ia tidak meninggalkan pengikut yang mengagungkannya, juga tidak kitab-kitab yang dapat dibaca, juga tidak hal lain yang dikhawatirkan akan merusak agama orang lain, maka hendaknya ia ditutup-tutupi (tidak disebut-sebut kesalahannya) sebagaimana Allah Ta’ala telah menutupinya, dan hendaknya tidak pernah lagi disebut-sebut kesalahannya, sedangkan pertanggung jawaban atas amalannya adalah terserah kepada Allah.”([11])

  1. Jujur dan obyektif ketika menyebutkan kesalahan orang.

            Hendaknya ketika menjalankan tahzir, kita senantiasa bersikap adil dan obyektif, sehingga kesalahan yang disebutkan benar-benar ada pada orang yang sedang kita tahzir. Dan hendaknya tidaklah disebutkan kecuali kesalahan yang menjadikan orang lain menjauhinya. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala:

]يأيها الذين آمنوا كونوا قوامين لله شهداء بالقسط ولا يجرمنكم شنآن قوم على ألا تعدلوا اعدلوا هو أقرب للتقوى[ سورة المائدة 8

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada ketakwaan. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al Maidah 8).

Adapun menuduh ahlul bid’ah atau pelaku kesalahan dengan hal yang tidak ada padanya, baik perbuatan bid’ah lainnya atau kesalahan lainnya, maka perilaku ini termasuk perbuatan buhtan/kedustaan, sebagaimana disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

(إن لم يكن في أخيك ما تقول فقد بهته) رواه مسلم

“Bila apa yang engkau sebut tidak ada pada diri saudaramu, maka berarti engkau telah berdusta atas namanya.” (Muslim). Dan perbuatan dusta (buhtan) tidak pernah diizinkan dalam syari’at, baik berkenaan dengan ahlus sunnah ataupun ahlul bid’ah, karena perbuatan ini termasuk kelaliman dan kelaliman adalah perbuatan haram yang tidak pernah diizinkan apalagi dihalalkan, dalam keadaan apapun.

Persyaratan ini adalah salah satu persyaratan yang paling sering dilupakan oleh sebagian dari kita, sehingga sering kali kita mendengar ucapan yang berupa tuduhan kosong: “Fulan menerima dana dari yayasan tertentu, bahkan sampai berenang-renang di lautan dinar” padahal ketika ucapan ini ia ucapkan, ia hanya berdasarkan isu, sehingga ia tidak mampu mendatangkan buktinya. Ada lagi yang berkata: “Kebanyakan mahasiswa Madinah (Jami’ah Islamiyyah) terutama yang masuk program pasca sarjana, berhasil diterima di program tersebut adalah berkat bantuan hizbiyyun, sururiyyun dll”. Padahal saya yakin ini hanya  bualan dan mimpi di siang bolong belaka, dan pelakunya tidak akan mampu mendatangkan bukti otentik tentangnya.

Ada lagi yang berkata: “Fulan adalah seorang surury, harus dijauhi, dan tidak boleh ditimba ilmu darinya” atau bahkan: “fulan adalah termasuk da’i yang mengikuti hawa nafsu, karena mengajar di sekolahan tertentu”, akan tetapi ia tidak menyebutkan satu buktipun yang dapat dibenarkan.

Mungkin ada yang berseloroh dan berkata: Ah itu kan hanya terjadi pada beberapa orang saja, dan hanya beberapa kali saja!

Maka jawabannya: kejadian ini bukan hanya sekali, akan tetapi telah terulang berpuluh-puluh kali, dan menimpa berpuluh-puluh da’i.

Untuk sedikit membuktikan kepada pembaca, maka saya merasa perlu untuk mengungkit permasalahan yang telah mulai dikubur oleh para pelakunya, yaitu permasalahan jihad di Ambon, berapa banyak orang yang di tahzir, dan diklaim telah keluar dari manhaj salaf, karena tidak setuju mengatakan bahwa jihad di sana adalah fardhu ‘ain hukumnya? Akan tetapi setelah terbukti bagi para pelakunya, bahwa tindakan mereka tidak selaras dengan fatwa ulama’, termasuk fatwa ulama’ yang mewajibkan jihad di sana, adakah perubahan sikap terhadap da’i-da’i yang telah menjadi korban mereka?! Adakah pelurusan sikap terhadap kesalahan tahzir yang terlanjur mereka kumandangkan!? Adakah pengakuan bahwa tahzir yang di dasari perbedaan pendapat dalam hal jihad tersebut tidak benar? Apa lagi pengakuan bahwa sebagian dari mereka telah berbuat kejahatan besar, yaitu menyembunyikan fakta dan fatwa ulama’ lain yang jelas-jelas menyelisihi apa yang mereka amalkan.

Bukti selanjutnya: Berapa banyak da’i-da’i yang telah menjadi korban tahziran sebagian kita, akan tetapi ternyata di kemudian hari terbukti bahwa yang mentahzir dan yang ditahzir sama-sama tidak paham atau salah paham tentang manhaj ulama’ ahlis sunnah dalam hal tahzir, dan sama-sama hanya berdasarkan isu dan kabar burung.

Diantara buktinya: Betapa banyak ikhwah du’at yang ditahzir karena mereka mengambil dana yang disalurkan oleh sebagian yayasan sosial yang dipermasalahkan oleh sebagian ulama’. Akan tetapi giliran dana tersebut, dan dari sumber yang sama, mengalir kepada dirinya dan kelompoknya, maka ia bungkam seribu bahasa, bahkan bukan hanya dari yayasan islam yang bermasalah, akan tetapi dari dukun sekalipun tidak pernah ia dan para pendukungnya permasalahkan. Mungkinkah manhaj salaf  yang mereka anut dan yakini membenarkan standar ganda semacam ini?!

Dan masih banyak lagi kasus-kasus yang telah masyhur di masyarakat.

Dan sudah barang tentu ini adalah amat memilukan bagi seorang da’i yang mengaku bermanhaj salaf, apalagi sampai menobatkan dirinya sebagai ahlil jarh wat ta’dil. La haula wala quwwata illa billah.

ست خصال يعرف بها الجاهل: الغضب في غير شيء والكلام في غير نفع والعظة في غير موضعها وإفشاء السر والثقة بكل أحد ولا يعرف صديقه من عدوه. حلية الأولياء 10/217

“Ada enam perangai, yang dengannya kita dapat mengenali orang bodoh: marah tanpa sebab, berkata-kata yang tidak ada manfaatnya, menyampaikan peringatan tidak pada tempatnya, membocorkan rahasia, senantiasa percaya kepada setiap orang, dan tidak dapat mengenali kawan dari lawannya“.([12])

  1. Tahzir dilakukan seperlunya.

            Telah disampaikan di atas bahwa tujuan tahzir ialah melindungi kemurnian agama masyarakat dari pengaruh bid’ah atau kesalahan seseorang. Maka bila tujuan ini telah tercapai dengan cara menyebutkan sebagian dari kesalahan orang tersebut, dan dengannya masyarakat telah terlindungi, dan tidak ada yang terpengaruh dengannya, maka kita tidak boleh melampaui batasan tersebut, dengan cara menyebut-nyebut kesalahan-kesalahan lain yang tidak dirasa perlu. Sebab Hukum asal menyebutkan kesalahan orang lain ialah haram, karena itu termasuk perbuatan ghibah, akan tetapi dibolehkan karena adanya kepentingan dalam agama atau dunia dan dengan berbagai syarat di atas, maka bila kepentingan ini telah tercapai, maka selebihnya kembali kepada hukum asal yaitu haram. Hal ini berdasarkan kaidah dalam ilmu fiqih:

الضرورات تقدر بقدرها

“Suatu darurat itu harus diukur sesuai dengan kadarnya”.

            Dan sikap melampaui batas adalah salah satu hal yang diharamkan dalam syari’at islam, dan dibenci oleh Allah Ta’ala:

]ولا تعتدوا إن الله لا يحب المعتدين[ البقرة 190

Janganlah kamu melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al Baqarah 190).

Oleh karena itu Ibnu Taimiyyah berkata: “Hendaknya orang yang menunaikan nasehat itu tujuannya adalah agar Allah memberi petunjuk kepada orang tersebut, dan melindungi kaum muslimin dari gangguannya, baik dalam hal agama ataupun dunia mereka. Dan hendaknya tujuan ini  ditempuh melalui jalan termudah yang dapat dilakukan.”([13])

Oleh karena itu kita tidak dapatkan ulama’-ulama’ kita senantiasa membicarakan kesalahan ahlul bid’ah dalam setiap kesempatan dan majlis. Beda halnya dengan sebagian kita yang menjadikan pembicaraan ini sebagai bumbu majlis, dan pengajian, bahkan dengan cara-cara yang jelas-jelas melampaui batas, misalnya dengan melontarkan berbagai julukan-julukan yang tidak ada dasarnya, misal: julukan munafiq, pengkhianat, penjilat, tukang macul dll.

  1. Permasalahan yang menjadi penyebab ia ditahzir benar-benar kesalahan.

Sebagaimana yang telah disinggung di atas, bahwa hukum asal ghibah (menyebutkan kesalahan dan kekurangan) orang muslim adalah haram. Dan dibolehkan karena ada kepentingan dalam urusan agama atau dunia serta dengan berbagai syarat diatas. Oleh karena itu hukum asal dari perbuatan ini tidak akan berubah hanya karena kesalah pahaman atau perbedaan pendapat belaka. Atau perbedaan tempat belajar atau guru ngaji atau yang serupa.

Ibnu taimiyyah berkata: “Tidak dibenarkan bagi siapapun untuk menggantungkan pujian, celaan, rasa cinta, kebencian, loyal, permusuhan, doa, dan kutukan dengan selain nama-nama yang telah Allah gantungkan dengannya. Misalnya nama-nama kabilah, kota, mazhab, metode belajar yang dinisbatkan kepada para guru (syeikh) dan imam atau yang serupa yang tujuannya adalah untuk membedakan, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

] يأيها الناس إنا خلقناكم من ذكر وأنثى وجعلناكم شعوبا وقبائل لتعارفوا إن أكرمكم عند الله أتقاكم[ الحجرات 13

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang wanita, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa diantara kamu.” (Al Hujuraat 13). …..Oleh karena itu menyebutkan zaman, nama-nama keturunan, perwalian, negri, menisbatkan diri kepada seorang ulama’ atau syeikh tujuannya hanyalah untuk kenal mengenali, agar ia dapat dibedakan dari lainnya. Adapun pujian, celaan, kecintaan, kebencian, loyal, dan permusuhan, hanya boleh dilakukan karena hal-hal yang telah Allah jelaskan, dan penjelasan Allah adalah kitab-Nya. Sehingga barang siapa yang beriman, maka wajib untu diloyali, dari golongan manapun ia berasal, dan siapapun yang kufur, maka wajib untuk dimusuhi, dari golongan manapun ia berasal.”([14])

Hal ini tentu bertentangan dengan perilaku sebagian da’i yang mentahzir orang lain hanya karena ia berasal dari daerah tertentu, atau dari sekolahan tertentu, atau karena pernah belajar dengan ulama’ tertentu, atau sekolahan tertentu, tanpa melihat fakta dan kenyataan yang ada padanya. Sehingga hal ini membingungkan banyak kalangan, sampai-sampai banyak orang yang mengatakan: sebenarnya antara yang ditahzir dan yang mentahzir tidak ada perbedaan, yang diajarkan juga sama, dan ulama’ yang dijadikan panutan juga sama.

Diantara pengalaman yang pernah saya saksikan sendiri di hadapan Syeikh Muhammad bin Hadi Al Madkhali hafidhahullah, ketika ada beberapa asatidzah salafiyyin yang berkunjung ke rumah beliau, dan hadir pula di majlis tersebut beberapa mahasiswa Jami’ah Islamiyyah termasuk penulis sendiri juga hadir. Ketika Syeikh Muhammad mempertanyakan sebab terjadinya kerenggangan antara asatidzah yang datang dengan beberapa mahasiswa Jami’ah Islamiyyah, maka sebagian dari asatidzah tersebut menjawab: “Wahai syeikh, mereka ini, yaitu para mahasiswa yang masih belajar di Jami’ah Islamiyyah, ketika berlibur ke tanah air, tidak ada yang berkunjung ke rumah saya.” Mendengar jawaban ini, syeikh Muhammad Al Madkhaly terkejut dan bingung, apakah hanya karena permasalahan ziarah-menziarahi, antum saling tahzir dan saling memusuhi? Subhanallah.

Ini adalah salah satu contoh nyata yang pernah saya saksikan sendiri dan langsung dihadapan seorang syeikh salafy. Maka kejadian-kejadian serupa yang tak kalah serunya, saya yakin banyak terjadi, dan diantaranya:

Mungkin sebagian ikhwah ada yang masih ingat bahwa ada sebagian da’i yang ditahzir hanya karena perbedaan pendapat dalam metode menentukan awal bulan dalam islam, apakah harus mengikuti penentuan yang dilakukan oleh pemerintah Saudi Arabia (pendapat satu mathla’/tempat terbitnya bulan), ataukah boleh mengikuti penentuan pemerintah setempat? Padahal yang benar menurut seluruh ulama’ zaman sekarang ialah masing-masing masyarakat suatu negri harus mengikuti keputusan pemerintahnya, agar tidak menimbulkan perpecahan di masyarakat, walaupun menurut sebagian mereka: yang ideal adalah seluruh umat islam di seluruh belahan bumi berpuasa secara serempak dan bersamaan. Untuk membuktikan ucapan ini, silahkan baca Fatawa Al Lajnah Ad Daimah Kerajaan Saudi Arabia, dan juga Tamamul minnah oleh Syeikh Muhammad Nashiruddin Al Al Bany.

Yang lebih ironis, sikap membabi buta ini sampai-sampai menjadikan banyak da’i berusaha menutup-nutupi keterangan Syeikh Muhammad Nashiruddin Al Albani dalam kitabnya Tamamul minnah, yang menjelaskan kewajiban mengikuti keputusan pemerintah masing-masing.

Dan sebagian da’i ada yang menjadikan tempat belajar/sekolahan sebagai standar dalam mentahzir seseorang. Sehingga sebagian mereka sampai merasa perlu untuk mentahzir Islamic University of Madinah (Al Jami’ah Al Islamiyyah), yaitu dengan menyatakan bahwa Universitas ini telah dikuasai oleh ahlul bid’ah, sehingga sudah tidak layak lagi untuk menimba ilmu di sana. Ini adalah suatu amalan hina yang tidak pernah dilakukan oleh seorang ulama’pun, dan sebagai buktinya, hingga saat ini masih terlalu banyak ulama’ ahlis sunnah yang menjadi dosen dan tenaga pengajar di Universitas ini, sebagai contohnya: Syeikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad, Sholeh As Suhaimy, Muhammad bin Hadi Al Madkhaly, Dr. Ibrahim Ar Ruhaily dll.

Yang lebih ironis lagi bila yang melakukan tahziran ini adalah salah seorang alumni Al Jami’ah Al Islamiyyah itu sendiri, dan tahziran ini ia ucapkan tak lama dari kelulusannya dari Universitas tersebut. Kenyataan pahit ini, menjadikan sebagian orang bertanya-tanya: sebenarnya  tahzir itu apa? Apakah benar tahzir itu merupakan tuntutan dan bagian dari dakwah salaf, ataukah hanya sekedar tumbal seorang da’i yang sedang mencari sensasi, seperti dalam pepatah arab: (خالف تعرف/tampillah beda, niscaya engkau akan terkenal).

Dan diantara salah satu bentuk penyelewengan yang pernah terjadi ialah adanya seorang da’i yang mentahzir orang lain, dengan ucapannya: “fulan itu tukang macul (nyangkul)”. Subhanallah, layakkah suatu pekerjaan yang mulia dan halal dijadikan sebagai bahan memperolok-olokan orang lain, bahkan bahan untuk mentahzir seorang da’i?!

Karena kerancuan berfikir sebagian da’i tentang masalah ini, sehingga bila kita membaca daftar ustadz-ustadz yang ditahzir (harus dijauhi dan diwapadai) niscaya kita dapatkan bahwa alasan dimasukkannya mereka kedalam daftar tersebut hanyalah dakwaan: fulan adalah link/jaringan yayasan tertentu, atau berkawan dengan orang tertentu. Seakan-akan kesalahan yayasan tersebut atau orang tersebut merupakan suatu hal yang tidak dapat dipungkiri lagi, bak iblis atau Abu Jahel, atau Jahem bin Shofwan, tokoh ahli bid’ah lainnya, yang nyata-nyata sesat, dan telah disepakati kesesatannya. Ini mengisyaratkan bahwa sebenarnya penulis daftar kelam tersebut kekurangan atau bahkan mungkin tidak memiliki bukti yang autentik tentang kesalahan ustadz-ustadz tersebut (terkecuali sebagian kecil).

Semoga dari sekelumit penjelasan tentang manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah ini, saya mengharapkan para pembaca sedikit mendapatkan kejelasan dan keterangan, sehingga dapat membedakan antara tahzir yang merupakan tuntutan dakwah dari tahzir  yang merupakan tumbal sensasi seorang da’i. Dan semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua dan menjaga kita dari pengaruh godaan hawa nafsu dan berbagai fitnah.

اللهم ربَّ جبرائيلَ وميكائيلَ وإسرافيلَ فاطَر السَّماواتِ والأرضِ، عالمَ الغيبِ والشَّهادة، أنتَ تحْكُمُ بين عِبَادِك فيما كانوا فيه يَخْتَلِفُون، اهْدِنَا لِمَا اخْتُلِفَ فيه من الحق بإِذْنِكَ؛ إنَّك تَهْدِي من تَشَاء إلى صراط مستقيم. وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين. والله أعلم بالصَّواب، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين.

“Ya Allah, Tuhan malaikat Jibril, Mikail, Israfil, Dzat Yang telah Menciptakan langit dan bumi, Yang Mengetahui hal yang gaib dan yang nampak, Engkau mengadili antara hamba-hambamu dalam segala yang mereka perselisihkan. Tunjukilah kami –atas izin-Mu- kepada kebenaran  dalam setiap hal yang diperselisihkan, sesungguhnya Engkau-lah Yang menunjuki orang yang Engkau kehendaki menuju kepada jalan yang lurus. Shalawat dan salam dari Allah semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan seluruh sahabatnya. Dan Allah-lah Yang Lebih Mengetahui kebenaran, dan akhir dari setiap doa kami adalah: “segala puji hanya milik Allah, Tuhan semesta alam”.

Dr. Muhammad Arifin Baderi

Footnote:

[1] ) Tafsir Ibnu Katsir 3/174-175.

[2] ) Bagi yang ingin mendapatkan kejelasan lebih banyak dan lengkap, silahkan baca keterangan Syeikhul Islam Ibnu taimiyyah dalam Majmu’ fatawa jilid 28, dan kitab Mauqif Ahlis Sunnah wal Jama’ah min Ahlil Ahwa’ wal Bida’, oleh Dr Ibrahim bin ‘Amir Ar Ruhaily. Dan tulisan saya ini, saya sarikan dari kedua kitab ini.

[3] ) Majmu’ Fatawa  oleh Ibnu Taimiyyah 28/219.

[4] ) Dinukilkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 10/454.

[5] ) Lihat Majmu’ fatawa oleh Ibnu Taimiyyah 28/231.

[6] ) Riyadhus Shalihin oleh Imam An Nawawy, 529.

[7] ) Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah 28/235.

[8] ) Idem, 28/237-238.

[9] ) Diriwayatkan oleh Ibnu Waddhah dalam kitabnya Al Bida’ wan Nahyu ‘anha, dengan perantaraan kitab Mauqif Ahlis Sunnah, oleh Dr. Ibrahim Ar Ruhaily 2/507.

[10] ) Majmu’ Fatawa oleh Ibnu Taimiyyah 28/220.

[11] ) Al Furuq, oleh Al Qarafy, 4/208.

[12] ) Hilyatul Auliya’, oleh Abu Nu’aim Al Asbahani 10/217.

[13] ) Majmu’ fatawa oleh Ibnu taimiyyah 28/221.

[14] ) Idem, 28/227-228.

 

Sumber: https://arifinbadri.com

 

.

Peka Menangkap Pesan

Peka Menangkap Pesan

Karakter dan perilaku orang yang beriman seharusnya berbeda dengan orang yang tidak beriman. Sebab balasan yang akan Allah berikan kepada kedua golongan itu pun juga berbeda. Dalam sebuah ayat al-Qur’an diterangkan,

إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتِ النَّعِيمِ . أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ”

Artinya: “Sungguh, bagi orang-orang yang bertakwa (disediakan) surga yang penuh kenikmatan di sisi Rabb mereka. Apakah patut Kami memperlakukan orang-orang Islam itu seperti orang-orang jahat (orang kafir)?”. QS. Al-Qalam (68): 34-35.

Di antara ciri khas seorang mukmin yang tidak dimiliki orang kafir adalah: kepekaan dalam menangkap pesan dari Allah ta’ala. Cepat dan mudah memahaminya. Sebab mereka memiliki mati hati yang hidup dan aktif. Berbeda dengan kondisi orang kafir yang buta mata hatinya. Allah berfirman,

لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا

Artinya: “Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah)”. QS. Al-A’raf (7): 179.

Beragam Pesan Allah

Perlu diketahui bahwa pesan-pesan Allah itu ada yang tersurat dan ada pula yang tersirat. Ada yang tertulis dan ada pula yang terlihat. Ada yang berupa ayat-ayat syar’iyyah (al-Qur’an dan hadits), ada pula yang berupa ayat-ayat kauniyyah (alam semesta).

“إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ”

Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, juga pergantian malam dan siang, terdapat ayat-ayat (tanda-tanda kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal”. QS. Ali Imran (3): 190. 

Pahamilah Pesan Allah!

Berbagai kejadian di alam semesta ini, apalagi musibah dan bencana yang datang bertubi-tubi, adalah merupakan peringatan dari Penguasa alam semesta ini. Kita sebagai hamba-Nya, harus bersikap tanggap dalam mencerna peringatan tersebut.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan,

“(1) لَمْ تَظْهَرْ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا، إِلَّا فَشَا فِيهِمُ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمْ الَّذِينَ مَضَوْا. (2) وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ، إِلَّا أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَؤونَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ. (3) وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ، إِلَّا مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنْ السَّمَاءِ، وَلَوْلَا الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا. (4) وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللَّهِ وَعَهْدَ رَسُولِهِ، إِلَّا سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ، فَأَخَذُوا بَعْضَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ. (5) وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ، إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ“.

“(1). Apabila perbuatan zina dilakukan secara terang-terangan di suatu kaum, pasti akan merajalela di antara mereka penyakit tha’un (wabah penyakit menular) dan penyakit-penyakit yang sebelumnya tidak ada di zaman nenek moyang mereka.

(2). Apabila mereka terbiasa mengurangi takaran dan timbangan, pasti mereka akan dihukum dengan paceklik, sulitnya bahan makanan dan kezaliman penguasa.

(3). Apabila mereka menolak mengeluarkan zakat harta mereka, pasti hujan tidak akan diturunkan dari langit. Sekiranya bukan karena binatang ternak mereka tidak akan diberi hujan.

(4). Apabila mereka melanggar janji Allah dan Rasul-Nya, pasti Allah akan menjadikan musuh menguasai mereka. Sehingga musuh itu merampas sebagian yang mereka miliki.

(5). Apabila para pemimpin mereka tidak berhukum dengan Kitabullah dan tidak memilih apa yang diturunkan Allah, pasti Allah akan menimbulkan permusuhan ada di antara mereka.” HR. Ibn Majah dari Ibn Umar radhiyallahu ‘anhuma dan dinilai hasan oleh al-Albaniy.

Allah ta’ala juga mengingatkan,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Artinya: “Telah Nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka. Agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. QS. Ar-Rum (30): 41.

@  Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 16 Jumadal Ula 1439 H / 2 Februari 2018

Sumber: https://tunasilmu.com

.

Mengasah Mata Hati

Mengasah Mata Hati

Hati mana yang tak bersedih, saat orang yang sangat disayangi menderita sakit parah. Ayah, ibu, suami, istri, anak atau yang lainnya.

Bersedih adalah sesuatu yang manusiawi. Namun benteng keimanan akan menghalangi tumpulnya mata hati akibat kesedihan berlebih.

Mukmin sejati tetap bisa berfikir jernih, walau dirundung kesedihan.

Saat ujian datang menerpa, dia tetap bisa merasakan kemahabijaksanaan Allah ta’ala. Dia yakin betul bahwa sepahit apapun takdir yang menimpanya, Allah lah yang menetapkannya. Tidak ada takdir Allah yang kosong dari hikmah. Sebab Dialah al-Hakim; Yang Maha Bijaksana.

Mukmin hakiki berusaha menggali hikmah di balik musibah. Entah itu hikmah yang bersifat duniawi maupun ukhrawi.

Tidak sedikit orang yang bisa menikmati khusyu’nya munajat, justru saat ditimpa musibah. Meresapi indahnya kandungan redaksi doa-doa yang termaktub di al-Qur’an dan Hadits. Merasakan kerdilnya kemampuan manusia dan kebutuhan mutlak kepada pertolongan Allah.

Berbagai hikmah ukhrawi tadi, lebih mahal dari dunia seisinya.

Padahal, selain hikmah ukhrawi, masih ada hikmah duniawi di balik musibah.

Dalam kasus sakitnya keluarga tercinta misalnya. Kita bisa mengoreksi gaya hidup selama ini. Pola makan yang kurang sehat. Minimnya olahraga. Kebersihan tempat tinggal.

Pendek kata, seberat apapun ujian, jangan pernah melupakan kemahabijaksanaan Allah.

Dengan demikian, insyaAllah keimanan tetap terjaga, bahkan akan naik kelas!

Kota Gudeg, 9 Muharram 1440 H

 

Sumber: https://tunasilmu.com

.

Alam Kubur

Alam Kubur

Saudaraku! Anda pernah dengar pemakaman mewah yang dikembangkan oleh perusahaan Lippo Karawaci? Komplek pemakaman mewah itu diberi nama : San Diego Hills Memorial Park And Funeral Homes (SDH). Konon, untuk mengembangkan komplek pemakaman itu, Lippo harus merogoh kocek  dalam-dalam hingga mencapai 10 triliun. Mega Proyek ini “katanya” bertujuan merubah citra pemakaman, yang selama ini dikenal angker. Karenanya, komplek pemakaman ini dilengkapi dengan family center seperti danau seluas 8 hektare, kapel untuk upacara sebelum pemakaman, gedung pertemuan dengan kapasitas 250 kursi, restoran Italia, sarana olah raga seperti kolam renang, jogging track dan lain-lain. Pihak pengembang mengharapkan komplek pemakaman ini menjadi asri dan indah, sehingga dapat mejadi salah satu obyek wisata.

Benarkah dengan berbagai fasilitas mewah itu pemakaman dapat berubah menjadi asri dan indah, terlebih-lebih bagi para penghuninya?

Untuk dapat mengetahui jawabannya, anda haruslah mengetahui apa sebenarnya yang terjadi di alam kubur.

Saudaraku: Bila semasa hidup di dunia anda adalah orang yang beriman dan rajin beramal sholeh, maka setelah ruh anda berpisah dari raga, maka ruh anda akan di bawa ke langit menghadap kepada Allah.

حَتَّى يَنْتَهُوا بِهَا إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَسْتَفْتِحُونَ لَهُ فَيُفْتَحُ لَهُمْ فَيُشَيِّعُهُ مِنْ كُلِّ سَمَاءٍ مُقَرَّبُوهَا إِلَى السَّمَاءِ الَّتِى تَلِيهَا حَتَّى يُنْتَهَى بِهِ إِلَى السَّمَاءِ السَّابِعَةِ فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ اكْتُبُوا كِتَابَ عَبْدِى فِى عِلِّيِّينَ وَأَعِيدُوهُ إِلَى الأَرْضِ فَإِنِّى مِنْهَا خَلَقْتُهُمْ وَفِيهَا أُعِيدُهُمْ وَمِنْهَا أُخْرِجُهُمْ تَارَةً أُخْرَى فَتُعَادُ رُوحُهُ فِى جَسَدِهِ فَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ فَيَقُولاَنَ لَهُ مَنْ رَبُّكَ فَيَقُولُ رَبِّىَ اللَّهُ. فَيَقُولاَنِ لَهُ مَا دِينُكَ فَيَقُولُ دِينِىَ الإِسْلاَمُ. فَيَقُولاَنِ لَهُ مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِى بُعِثَ فِيكُمْ فَيَقُولُ هُوَ رَسُولُ اللَّهِ . فَيَقُولاَنِ لَهُ وَمَا عِلْمُكَ فَيَقُولُ قَرَأْتُ كِتَابَ اللَّهِ فَآمَنْتُ بِهِ وَصَدَّقْتُ . فَيُنَادِى مُنَادٍ فِى السَّمَاءِ أَنْ صَدَقَ عَبْدِى فَأَفْرِشُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ وَأَلْبِسُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ وَافْتَحُوا لَهُ بَاباً إِلَى الْجَنَّةِ – قَالَ – فَيَأْتِيهِ مِنْ رَوْحِهَا وَطِيبِهَا وَيُفْسَحُ لَهُ فِى قَبْرِهِ مَدَّ بَصَرِهِ – قَالَ – وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ حَسَنُ الْوَجْهِ حَسَنُ الثِّيَابِ طَيِّبُ الرِّيحِ فَيَقُولُ أَبْشِرْ بِالَّذِى يَسُرُّكَ هَذَا يَوْمُكَ الَّذِى كُنْتَ تُوعَدُ فَيَقُولُ لَهُ مَنْ أَنْتَ فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِىءُ بِالْخَيْرِ فَيَقُولُ أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ. فَيَقُولُ رَبِّ أَقِمِ السَّاعَةَ حَتَّى أَرْجِعَ إِلَى أَهْلِى وَمَالِى.

Setibanya di langit dunia, maka para malaikat pembawa ruh orang mukmin akan memintakan izin untuknya agar dibukakan pintu langit. Setelah pintu langit dibukakan, maka serta merta para pemuka Malaikat yang menghuni langit dunia akan mengiringi ruh orang mukmin itu menuju ke langit selanjutnya. Demikianlah seterusnya hingga ruhnya tiba di langit ke tujuh. Setibanya ruh orang mukmin itu di langit ke tujuh, Allah Azza wa Jalla akan berfirman kepada para Malaikat: Tuliskanlah catatan amal hamba-Ku di tempat yang tinggi nan mulia. Selanjutnya segera kembalikanlah ruhnya ke bumi, karena darinyalah Aku ciptakan mereka, dan kepadanya Aku kembalikan mereka dan darinya pula Aku bangkitkan mereka. Maka ruh orang mukmin itupun dikembalikan ke jasadnya.

Setelah ruh kembali ke jasad, datanglah dua malaikat , yang akan mendudukkan orang mukmin itu. Dan setelah ia duduk, keduanya bertanya:

Siapakah Tuhanmu?  Maka orang mukminpun menjawab:  Tuhanku adalah Allah.

Keduanya kembali bertanya : Apakah agamamu? Orang mukmin itupun menjawab: Agamaku adalah Islam.

Keduanya kembali bertanya : Siapakah sebenarnya orang yang telah dibangkitkan ditengah-tengah umatmu ? Orang mukmin itupun kembali menjawab: Dia adalah utusan Allah.

Keduanya kembali bertanya : Darimana engkau mengetahui jawabanmu itu? Orang mukmin itupun menjawab: Aku telah mempelajari Kitabullah, selanjutnya aku beriman dan mempercayainya.

Setelah orang mukmin itu menjawab seluruh pertanyaan kedua malaikat itu, terdengar seruan dari langit: ” Hamba-Ku telah menjawab dengar benar, maka hamparkanlah untuknya kasur dari surga, berilah ia pakaian dari surga, dan bukakanlah untuknya pintu menuju ke surga.” Sehingga orang mukmin itupun dapat merasakan hawa sejuk dan harumnya surga. Kuburannya diluaskan sejauh pandangan matanya. Selanjutnya akan datang seorang lelaki rupawan, berpakaian bagus, dan harum baunya yang berkata kepadanya: Bergembiralah dengan sesuatu yang pasti menjadikanmu senang, ini adalah hari yang sebelumnya telah dijanjikan kepadamu.

Menyaksikan lelaki rupawan itu, orang mukmin itupun segera bertanya kepadanya: Siapakah engkau, wajahmu menunjukkan engkau membawa kebaikan?

Lelaki rupawan itupun menjawab: Aku adalah amal sholehmu.

Mengetahui bahwa amal sholehnya telah diterima Allah: Orang mukmin itupun segera berdoa: “Wahai Tuhanku, segera bangkitkanlah hari Qiyamat, agar aku segera dapat berkumpul kembali dengan keluarga dan harta kekayaanku.”

Saudaraku, tentu anda bercita-cita untuk menjadi orang tersebut. Anda dapat menjawab pertanyaan kedua malaikat di alam kubur, sehingga mendapatkan kenikmatan kubur.

Akan tetapi andapun pasti menyadari siapakah sebenarnya jati diri anda? Benarkah anda adalah orang yang seperti disebutkan pada kisah di atas?

Coba sekali lagi anda membaca tanya jawab antara kedua malaikat dengan ruh di atas. Coba renungkan dengan baik tanya-jawab kedua malaikat dengan orang mukmin di atas: Darimana engkau mengetahui jawabanmu itu? Orang mukmin itupun menjawab: Aku telah mempelajari Kitabullah, selanjutnya aku beriman dan mempercayainya.

Benarkah anda telah mengenal Allah, agama islam dan nabi Muhammad r karena anda telah mempelajari Kitabullah? Ataukah anda mengenal ketiganya hanya karena terlahir di masyarakat islam, sedangkan anda tidak bisa membaca Al Qur’an apalagi mengkaji makna dan kandungannya?

Ada baiknya bila saudaraku kembali berpikir! Darimanakah saya mengenal Allah, agama islam dan nabi Muhammad r? Benarkah saya telah mengenal ketiganya karena telah mempelajari Al Qur’an dan kemudian mengimani dan mengamalkan kandungannya?

Jangan-jangan selama ini saudara mengenal ketiganya hanya karena membeo apa kata orang lain! Anda mendengar orang berkata sesuatu tentang ketiganya, lalu andapun menirunya. Bila ini yang terjadi pada diri anda, maka simaklah apa yang akan anda alami di alam kubur:

حَتَّى يُنْتَهَى بِهِ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيُسْتَفْتَحُ لَهُ فَلاَ يُفْتَحُ لَهُ ». ثُمَّ قَرَأَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم ]لاَ تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاء وَلاَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ[  فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: اكْتُبُوا كِتَابَهُ فِى سِجِّينٍ فِى الأَرْضِ السُّفْلَى فَتُطْرَحُ رُوحُهُ طَرْحاً. ثُمَّ قَرَأَ ]وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِى بِهِ الرِّيحُ فِى مَكَانٍ سَحِيقٍ[ « فَتُعَادُ رُوحُهُ فِى جَسَدِهِ وَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ فَيَقُولاَنِ لَهُ مَنْ رَبُّكَ فَيَقُولُ هَاهْ هَاهْ لاَ أَدْرِى. فَيَقُولاَنِ لَهُ مَا دِينُكَ فَيَقُولُ هَاهْ هَاهْ لاَ أَدْرِى. فَيَقُولاَنِ لَهُ مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِى بُعِثَ فِيكُمْ فَيَقُولُ هَاهْ هَاهْ لاَ أَدْرِى.

وفي رواية: لاَ أَدْرِى، كُنْتُ أَقُولُ مَا يَقُولُ النَّاسُ . فَيُقَالُ لاَ دَرَيْتَ وَلاَ تَلَيْتَ . وَيُضْرَبُ بِمَطَارِقَ مِنْ حَدِيدٍ ضَرْبَةً ، فَيَصِيحُ صَيْحَةً يَسْمَعُهَا مَنْ يَلِيهِ ، غَيْرَ الثَّقَلَيْن)، فَيُنَادِى مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ أَنْ كَذَبَ فَافْرِشُوا لَهُ مِنَ النَّارِ وَافْتَحُوا لَهُ بَاباً إِلَى النَّارِ فَيَأْتِيهِ مِنْ حَرِّهَا وَسَمُومِهَا وَيُضَيَّقُ عَلَيْهِ قَبْرُهُ حَتَّى تَخْتَلِفَ فِيهِ أَضْلاَعُهُ. وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ قَبِيحُ الْوَجْهِ قَبِيحُ الثِّيَابِ مُنْتِنُ الرِّيحِ فَيَقُولُ أَبْشِرْ بِالَّذِى يَسُوءُكَ هَذَا يَوْمُكَ الَّذِى كُنْتَ تُوعَدُ. فَيَقُولُ مَنْ أَنْتَ فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِىءُ بِالشَّرِّ فَيَقُولُ أَنَا عَمَلُكَ الْخَبِيثُ فَيَقُولُ رَبِّ لاَ تُقِمِ السَّاعَةَ ).

“Sesampainya di langit dunia, para malaikat pembawa ruh orang jahat itu meminta izin agar pintu langit dibukakan untuknya, akan tetapi pintu langit tidak dibukakan untuknya. Lalu Nabi r membaca firman Allah:

]لاَ تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاء وَلاَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ[

“Tidak akan dibukakan bagi mereka (orang-orang kafir) pintu-pintu langit, dan mereka tidak akan masuk surga, hingga ada unta masuk ke dalam lubang jarum .” (QS. Al-A’raf: 40).

Saat itu Allah Azza wa Jalla berfirman: “Tuliskanlah catatan amal di Sijjin di bumi paling bawah.” Kemudian ruh itu dicampakkan ke bumi dengan keras”. Selanjutnya nabi rkembali membaca firman Allah Ta’ala :

]وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِى بِهِ الرِّيحُ فِى مَكَانٍ سَحِيقٍ[

“Barangsiapa mempersekutukan Allah (dengan sesuatu), maka seolah-olah ia terjatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.”  Al Haj 31

Kemudian ruh orang jahat itu dikembalikan ke jasadnya. Setelah ruhnya kembali ke jasadnya, datanglah dua malaikat yang mendudukannya. Setelah ia duduk kedua malaikat itu bertanya kepadanya:

Siapakah Tuhanmu? Orang jahat itu kebingungan menjawabnya dan berkata : Hah, hah, aku tidak tahu.

Kedua malaikat itu kembali bertanya: Apakah agamamu? Orang jahat itu kembali kebingungan menjawabnya dan berkata: Hah, hah, aku tidak tahu.

Kedua malaikat itupun kembali bertanya: Siapakah sebenarnya orang yang telah dibangkitkan ditengah-tengah umatmu? Kembali orang jahat itu kebingungan menjawabnya, dan lagi-lagi ia berkata: Hah, hah, aku tidak tahu.

Dan pada sebagian riwayat orang jahat itu berkata: Aku tidak tahu, dahulu aku hanya membeo dengan apa yang dikatakan orang lain.

وفي رواية: لاَ أَدْرِى، كُنْتُ أَقُولُ مَا يَقُولُ النَّاسُ . فَيُقَالُ لاَ دَرَيْتَ وَلاَ تَلَيْتَ . وَيُضْرَبُ بِمَطَارِقَ مِنْ حَدِيدٍ ضَرْبَةً ، فَيَصِيحُ صَيْحَةً يَسْمَعُهَا مَنْ يَلِيهِ ، غَيْرَ الثَّقَلَيْنِ

Mendengar jawaban orang jahat itu, kedua malaikat tersebut menghardiknya dengan berkata: Engkau tidak tahu, dan tidak pula pernah membaca (belajar)? Selanjutnya ia dipukul dengan palu dari besi dengan sangat keras, sehingga iapun menjerit kesakitan. Begitu keras jeritannya, sampai-sampai dapat didengar oleh seluruh makhluk disekitarnya selain jin dan manusia.

Selanjutnya, terdengarlah seruan dari langit: “Sungguh Hamba-Ku telah berdusta! Hamparkan untuknya kasur dari api neraka, bukakan untuknya pintu ke neraka. Maka iapun merasakan hawa panas dan bau busuk neraka. Bukan hanya itu, kuburannyapun disempitkan hingga tulang rusuknya tercerai-berai.

Setelah kuburannya menyempit, datanglah seorang lelaki yang buruk raut wajahnya, buruk pakaiannya, dan busuk bau badannya, seraya berkata: Selamat menikmati sesuatu yang menyedihkanmu, inilah hari yang telah dijanjikan kepadamu. Orang jahat itu bertanya: Gerangan, siapakah engkau? Wajahmu menandakan engkau membawa kesialan!” Lelaki itupun menjawab: Aku adalah amal kejahatanmu. Karena menyesali perbuatannya, orang jahat itupun menyeru: Wahai Tuhanku, janganlah Engkau bangkitkan hari kiamat.

Kisah ini saya sarikan dari gabungan riwayat imam Bukhari dan Ahmad.

Saudaraku! Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengisahkan bahwa penduduk Syam bila hewan ternak mereka ditimpa sakit perut , segera mereka membawanya ke pekuburan orang-orang yahudi, atau nasrani atau, Majusi, atau orang-orang munafik para pengikut aliran Ismailiyah atau kebatinan. Yang demikian itu dikarenakan para penghuni kuburan itu disiksa, sehingga mereka menjerit-jerit kesakitan:

(إِنَّهُمْ يُعَذَّبُونَ عَذَابًا تَسْمَعُهُ الْبَهَائِمُ كُلُّهَا) متفق عليه

“Sesungguhnya penghuni kuburan (yang kafir atau jahat-pen) disiksa, dan siksanya itu dapat didengar oleh seluruh binatang ternak.”  Muttafaqun ‘alah.

Karena mendengar siksa penghuni kuburan itulah, hewan penduduk Syam menjadi ketakutan, dan akhirnya badannyapun menjadi panas, dan penyakit perutnyapun sirna. (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah 4/287)

Demikianlah kehidupan penduduk kubur wahai saudaraku! Karena begitu mengerikannya, sampai-sampai pada suatu hari Nabi r bersabda kepada para sahabatnya:

(فَلَوْلاَ أَنْ لاَ تَدَافَنُوا لَدَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُسْمِعَكُمْ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ الَّذِى أَسْمَعُ مِنْهُ) رواه مسلم

“Andailah kalo bukan karena kawatir kalian akan enggan menguburkan saudara kalian yang meninggal dunia, niscaya aku akan memohon kepada Allah agar ia memperdengarkan kepada kalian sebagian dari suara siksa alam kubur sebagaimana yang aku dengar.”  Riwayat Muslim.

Saudaraku, coba kembali anda mencermati jawaban orang jahat di atas terhadap pertanyan malaikat: Aku tidak tahu, dahulu aku hanya membeo dengan apa yang dikatakan orang lain.

Saudaraku! Karena dasar apakah anda beriman kepada Allah, beragama Islam dan mengamalkan ajaran Nabi Muhammad? Apakah saudara melakukan itu semua berdasarkan ilmu yang saudara peroleh dari mempelajari Al Qur’an, ataukah hanya sekedar ikut-ikutan dengan ucapan orang tua dan masyarakat sekitar? Hanya anda yang mengetahui jawabannya.

Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita semua dan juga karib kerabat kita termasuk dari orang-orang yang menjawab pertanyaan malaikat di alam kubur sebagaimana yang diucapkan oleh orang pertama dan bukan yang diucapkan oleh orang kedua.

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ ، وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ. آمين

“Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari azab kubur, dan azab neraka. Sebagaimana aku juga berlindung kepadamu dari godaan kehidupan dunia dan kematian serta dari godaan Al Masih Ad Dajjal.” Amiin

.

Muroqobatullah Tingkat Tinggi

Muroqobatullah Tingkat Tinggi

Al-Ihsaan menurut sebagian ulama adalah kondisi seseorang yang dituntut tatkala melaksanakan perkara-perkara Islam dan perkara-perkara Iman. Adapun mayoritas ulama berpendapat bahwasanya al-Ihsan merupakan tingkat tertinggi dalam agama, kedudukannya diraih setelah kedudukan Islam dan Iman, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Jibril yang masyhuur.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata tentang al-Ihsaan:

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ ، فَإِنَّهُ يَرَاكَ

“Al-Ihsan adalah engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihatNya, maka jika engkau tidak bisa melihatNya maka sesungguhnya Ia melihatmu” (HR Al-Bukhari no 50 dan Muslim no 8)

Orang yang telah mencapai derajat Ihsan adalah orang yang senantiasa murooqobah (merasa di awasi dan dilihat oleh Allah) dalam segala gerak-geriknya, terutama tatkala sedang beribadah. Terutama tatkala sedang beribadah kepada Allah.

 

Rahasia al-Ihsan adalah tingkatan tertinggi dalam agama

Terlalu sering kita mengeluh akan sulitnya meraih keikhlasan dan sulitnya menolak riyaa’, serta sulitnya meraih kehusyu’an. Diantara perkara yang sangat membantu seseorang untuk meraih keikhlasan dan menolak riyaa’ adalah dengan mempraktekan al-ihsaan, yaitu merasa diawasi/dilihat oleh Allah tatkala sedang beribadah.

Seseorang tatkala sedang sholat dan dia sadar bahwa ia sedang dishooting dan akan disiarkan secara langsung di stasiun-stasiun televisi di seluruh nusantara maka akan timbul riyaa’ dalam hatinya, dan ia akan berusaha untuk bisa sholat dengan sebaik-baiknya karena tentu para penonton akan memberikan penilaian mereka tentang sholatnya, dan ia yakin akan hal itu.

Hal inilah yang disinyalir oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya :

الشِّرْكٌ الْخَفِيُّ أَنْ يَقُوْمَ الرَّجُلَ يُصَلِّي فَيُزَيِّنُ صَلاَتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظْرِ رَجُلٍ

“Syirik yang samar yaitu seseorang berdiri dan mengerjakan sholat lalu ia menghias-hiasi (membagus-baguskan) sholatnya karena ia tahu ada orang lain yang melihatnya” (HR Ibnu Maajah no 4194 dan dihasankan oleh Al-Albani)

Demikian pula seseorang tatkala beribadah merasa diawasi dan dilihat serta dinilai oleh Allah maka ia akan berusaha untuk beribadah dengan sebaik-baiknya di hadapan Allah.

Allah berfirman kepada NabiNya :

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ (٢١٧) الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ (٢١٨) وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ (٢١٩) إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Dan bertawakkallah kepada (Allah) yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, Yang melihat kamu ketika kamu berdiri, dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud.  Sesungguhnya Dia adalah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui(QS Asy-Syu’aroo : 17-20)

Tatkala sedang sholat ia sadar bahwa berdirinya, ruku’nya, dan sujudnya sedang diawasi oleh Allah, maka tatkala itu ia akan lupa dengan pandangan dan penilaian manusia dan tidak mempedulikan penilaian mereka. Karenanya diantara definisi ikhlash yang disebutkan oleh para ulama adalah :

نِسْيَانُ رُؤْيَةِ الْخَلْقِ بِدَوَامِ النَّظْرِ إِلَى الْخَالِقِ

“Melupakan pengamatan manusia dengan selalu memandang kepada Pencipta”

Demikian juga tatkala ia merasa dilihat oleh Allah maka sholatnya akan menjadi lebih khusyuk karena hatinya terfokus dan konsentrasi kepada Allah.

Subhaanalaah….keikhlasan…, kekhusyu’an…, dan menolak riyaa’…semuanya bisa diraih dengan mempraktekan al-ihsaan dalam ibadah kita. Maka jelaslah kenapa al-ihsaan merupakan derajat yang tertinggi dalam agama.

Murooqobatullah (tingkat tinggi) terhadap gerak gerik hati

Seorang yang mencapai derajat al-ihsaan ia bukan saja hanya merasa di awasi oleh Allah dalam gerak-gerik tubuhnya…bukan hanya merasa diawasi dalam setiap kata yang diucapkannya…bukan hanya merasa diawasi dalam setiap pandangan dan lirikan matanya…bahkan lebih dari itu semua ia juga merasa diawasi oleh Allah dalam gerak-gerik hati dan niatnya.

Dia meyakini firman Allah :

يَعْلَمُ خَائِنَةَ الأعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ (١٩)

“Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati (QS Al-Mukmin : 19)

وَإِنَّ رَبَّكَ لَيَعْلَمُ مَا تُكِنُّ صُدُورُهُمْ وَمَا يُعْلِنُونَ (٧٤)

“Dan Sesungguhnya Robb-mu, benar-benar mengetahui apa yang disembunyikan hati mereka dan apa yang mereka nyatakan”
(QS An-Naml : 74)

وَرَبُّكَ يَعْلَمُ مَا تُكِنُّ صُدُورُهُمْ وَمَا يُعْلِنُونَ (٦٩)

Dan Robb-mu mengetahui apa yang disembunyikan (dalam) dada mereka dan apa yang mereka nyatakan”
(QS Al-Qosos : 69)

إِنَّ اللَّهَ عَالِمُ غَيْبِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ (٣٨)

“Sesungguhnya Allah mengetahui yang tersembunyi di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia Maha mengetahui segala isi hati
(QS Faathir : 38)

يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَيَعْلَمُ مَا تُسِرُّونَ وَمَا تُعْلِنُونَ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ (٤)

“Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi dan mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan yang kamu nyatakan. dan Allah Maha mengetahui segala isi hati
(QS At-Tagoobun : 4)

Karenanya sungguh menakjubkan cara pendalilan Imam An-Nawawi yang dalam kitabnya Riyaadlus Shoolihin dalam bab “al-ikhlaash” beliau membawakan firman Allah

قُلْ إِنْ تُخْفُوا مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللَّهُ (٢٩)

“Katakanlah: “Jika kamu Menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah Mengetahui” (QS Ali ‘Imroon : 29)

Karena barang siapa yang yakin bahwasanya Allah mengetahui gerak-gerik hatinya maka ia akan malu untuk berbuat riyaa’…karena ia tahu Allah sedang mengawasi hatinya.

Contoh yang sangat menakjubkan tentang merasa diawasi oleh Allah dalam gerak-gerik hati adalah kisah tentang tiga orang dari umat terdahulu yang terjebak dalam sebuah goa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

((Tiga orang (dari orang-orang terdahulu sebelum kalian) keluar berjalan lalu turunlah hujan menimpa mereka. Merekapun masuk ke dalam goa di sebuah gunung. Lalu jatuhlah sebuah batu (dari gunung hingga menutupi mulut goa), lalu sebagian mereka berkata kepada yang lainnya, “Berdoalah kepada Allah dengan amalan yang terbaik yang pernah kalian amalkan!” (lihatlah amalan-amalan kalian yang telah kalian lakukan ikhlaslah karena Allah maka berdoalah dengan amalan-amalan sholeh tersebut semoga Allah membuka batu besar tersebut dari kalian). Maka salah seorang diantara mereka berkata, “Ya Allah aku memiliki dua orangtuaku yang telah tua (dan aku memiliki anak-anak kecil), (pada sauatu waktu) aku keluar untuk menggembala lalu aku kembali, lalu aku memerah susu lalu aku datang membawa susu kepada mereka berdua lalu mereka berdua minum kemudian aku memberi minum anak-anakku, keluargaku, dan istriku. Pada suatu malam aku tertahan (terlambat) dan ternyata mereka berdua telah tertidur (maka akupun berdiri di dekat kepala mereka berdua aku tidak ingin membangunkan mereka berdua dan aku tidak ingin memberi minum anak-anakku), maka aku tidak ingin membangunkan mereka berdua padahal anak-anaku berteriak-teriak di kedua kakiku (dan aku tetap diam di tempat dan gelas berada di tanganku, aku menunggu mereka berdua bagnun dari tidur mereka) dan demikian keadaannya hingga terbit fajar. Ya Allah jika Engkau mengetahui bahwasanya aku melakukan hal itu karena mengharap wajahMu maka bukalah bagi kami celah hingga kami bisa melihat langit”, maka dibukakan bagi mereka sedikit celah akan tetapi mereka bertiga belum bisa untuk keluar.

Berkatalah orang yang kedua : “Yaa Allah aku memiliki seorang sepupu wanita (putri pamanku) yang sangat aku cintai, maka aku menghendaki dirinya akan tetapi ia menolak diriku. Hingga suatu ketika ia menghadapi kesulitan lalu iapun mendatangiku maka akupun memberinya 120 dinar dengan syarat agar ia membiarkan diriku untuk bersetubuh dengannya, ia pun setuju. Maka tatkala aku telah duduk diantara dua kakinya iapun berkata, “Bertakwalah kepada Allah, dan janganlah engkau membuka keperawanan kecuali dengan haknya”. Maka akupun berpaling meninggalkannya padahal ia sangat aku cintai, dan aku tinggalkan emas yang telah aku berikan kepadanya. Yaa Allah jika memang aku melakukan hal itu karena ikhlas mengharapkan wajahmu  maka hilangkanlah kesulitan yang sedang kami hadapi”. Maka terbukalah celah batu tersebut hanya saja mereka belum bisa keluar.

وَقَالَ الثَّالِثُ: اللَّهُمَّ اسْتَأْجَرْتُ أُجَرَاءَ وأَعْطَيْتُهُمْ أجْرَهُمْ غيرَ رَجُل واحدٍ تَرَكَ الَّذِي لَهُ وَذَهبَ، فَثمَّرْتُ أجْرَهُ حَتَّى كَثُرَتْ مِنهُ الأمْوَالُ، فَجَاءنِي بَعدَ حِينٍ، فَقالَ: يَا عبدَ اللهِ، أَدِّ إِلَيَّ أجْرِي، فَقُلْتُ: كُلُّ مَا تَرَى مِنْ أجْرِكَ: مِنَ الإبلِ وَالبَقَرِ والْغَنَمِ والرَّقيقِ، فقالَ: يَا عبدَ اللهِ، لا تَسْتَهْزِئْ بي! فَقُلْتُ: لا أسْتَهْزِئ بِكَ، فَأَخَذَهُ كُلَّهُ فاسْتَاقَهُ فَلَمْ يتْرُكْ مِنهُ شَيئًا. الَّلهُمَّ إنْ كُنتُ فَعَلْتُ ذلِكَ ابِتِغَاءَ وَجْهِكَ فافْرُجْ عَنَّا مَا نَحنُ فِيهِ، فانْفَرَجَتِ الصَّخْرَةُ فَخَرَجُوا يَمْشُونَ»

Berkata orang yang ketiga : “Yaa Allah aku telah mempekerjakan para pekerja dan aku telah memberikan gaji mereka seluruhnya kecuali satu orang yang telah pergi dan meninggalkan gajinya. Maka akupun mengembangkan gajinya tadi sehingga membuahkan banyak harta. Lalu setelah itu iapun datang kepadaku dan berkata, “Wahai Abdullah, barikanlah kepadaku gajiku”. Maka aku berkata, “Seluruh yang engkau lihat bagian dari gajimu, onta, sapi, kambing, dan budak-budak”. Iapun berkata, “Wahai Abdullah, janganlah engkau mengejekku !”. Aku berkata, “Aku tidak sedang mengejekmu”. Maka iapun mengambil seluruhnya lalu menggiringnya dan tidak meninggalkan sedikitpun. Yaa Allah jika memang aku melakukan hal ini karena mengharapkan wajahmu maka bebaskanlah kesulitan yang sedang kami hadapi. Maka terbukalah batu (yang menutup pintu goa) lalu keluarlah mereka bertiga” (HR Al-Bukhari no 2272 dan Muslim no 2743)

Ketiga orang ini benar-benar memiliki sifat murooqobah yang tinggi, karena tidaklah lelaki yang pertama kuat menunggu semalam suntuk sambil memegang gelas yang berisi susu menunggu terjaganya kedua orangtuanya dari tidurnya –sementara anak-anaknya menangis minta untuk minum susu- kecuali karena ia yakin Allah sedang melihatnya.

Demikian pula lelaki yang kedua, tidaklah mungkin ia mampu meninggalkan sang wanita yang sangat dia cintai –padahal jika ia berzina tidak ada orang lain yang melihat mereka berdua- kecuali karena keyakinannya bahwa Allah sedang melihatnya.

Akan tetapi yang lebih menakjubkan adalah sikap orang ketiga yang memiliki sifat amanah yang luar biasa. Dimana ia merasa niatnya diawasi oleh Allah. Bayangkan selama ia mengembangkan gaji sang pekerja niatnya adalah untuk menguntungkan sang pekerja. Tidak ada yang mengetahui niatnya kecuali Allah. Bahkan niatnya tetap ia jaga dan tidak berubah meskipun setelah gaji tersebut telah berkembang dan menjadi sangat banyak. Jika seandainya ia hanya memberi kepada sang pekerja gajinya saja maka ia tidak bersalah, karena memang yang berhak dimiliki oleh sang pekerja hanyalah gaji pokoknya saja. Akan tetapi ia yakin Allah mengetahui gerak-gerik hatinya…mengetahui niatnya tatkala mengembangkan gaji tersebut. Sungguh ini merupakan murooqobatullah tingkat tinggi !!!

Ibnu Hajar menjelaskan bahwasanya amalan yang paling bermanfaat di antara ketiga orang tersebut untuk menyelamatkan mereka bertiga adalah amalan orang yang ketiga yang sangat amanah, karena dengan doanyalah maka pintu goa akhirnya terbuka. (Lihat Fathul Baari 6/511)

Imam Ahmad mempraktekan murooqobatullah tingkat tinggi

Sholeh (putra Imam Ahmad) berkata, “Ayahku telah bertekad untuk (*bersafar dari Baghdad) ke Mekkah dalam rangka menunaikan ibadah haji Islam, dan iapun ditemani oleh Yahya bin Ma’iin. Ayahku (Imam Ahmad) berkata, “Kita berjalan menunju tanah suci lalu kita tunaikan haji kita, setelah itu kita bersafar menuju Abdurrozzaq di kota Son’aa (*di negeri Yaman), kita meriwayatkan hadits dari beliau”.

Yahya bin Ma’in telah mengenal Abdurrozzaq karena ia pernah mendengar/meriwayatkan hadits dari Abdurrozzaq. Yahya bin Ma’in berkata, “Kamipun tiba di Mekah, lalu kami melaksanakan thowaf qudum, tiba-tiba ternyata Abdurrozzaq juga sedang thowaf. Setelah thowaf Abdurrozzaq lalu sholat dua raka’at di belakang maqoom Ibrahim lalu beliau duduk. Kamipun menyelesaikan towaf kami lantas kami mendatangi Abdurrozzaq As-Shon’aaniy dan beliau sedang duduk di dekat maqoom Ibrahmi. Maka aku (Yahya bin Ma’in) berkata kepada Imam Ahmad,

هَذَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ قَدْ أَرَاحَكَ اللهُ مَسِيْرَةَ شَهْرٍ ذَاهِبًا وَجَائِيًا وَالنَّفَقَةَ

“Ini dia Abdurrozzak, sungguh Allah telah mengistirahatkamu sehingga tidak perlu engkau bersafar pulang pergi menempuh perjalanan selama sebulan dan penyediaan bekal perjalanan”

Imam Ahmad berkata,

مَا كَانَ اللهُ يَرَانِي وَقَدْ نَوَيْتُ نِيَّةً أُفْسِدُهَا وَلاَ أُتِمُّهَا

Tidak boleh Allah melihatku telah berniat lantas aku merusak/membatalkan niatku dan tidak aku sempurnakan niatku

(Tobaqoot Al-Hanaabilah 1/175 dan  Al-Maqshid Al-Arsyad fi dzikri Ashaab Al-Imaam Ahmad 1/445).

Allahu Akbar…sungguh luar biasa praktek murooqobah yang dilakukan Imam Ahmad. Benar-benar ia yakin bahwa Allah mengetahui isi hatinya. Beliau memilih untuk tetap menempuh perjalanan jauh dari Mekah menuju Son’aa di Yaman demi untuk menunaikan niatnya !!!

 

Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 19-02-1433 H / 13 Januari 2011 M

Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja

Sumber: https://firanda.com/

.
Sebuah Kalung Yang Mengingatkan Nabi Akan Cinta Pertamanya

Sebuah Kalung Yang Mengingatkan Nabi Akan Cinta Pertamanya

Cinta pertama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dialah….Khadijah binti Khuwailid radhiallahu ‘anhaa…

Bahkan Rasulullah pernah dengan bangganya berkata kepada Aisyah yang cemburu kepada Khadijah,

إِنِّي قَدْ رُزِقْتُ حُبَّهَا

“Sungguh Allah telah menganugrahkan kepadaku rasa cinta kepada Khadijah” (HR Muslim no 2435)

Imam An-Nawawi berkata, “Ini adalah isyarat bahwasanya mencintai Khadijah adalah kemuliaan” (Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim 15/201)

Dialah istri pertama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selama hidup bersamanya kurang lebih 25 tahun Nabi sama sekali tidak menikahi wanita yang lain.

Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Tidak ada perselisihan diantara para ulama bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berpoligami sejak menikah dengan Khadijah hingga wafatnya Khadijah. Dan ini merupakan dalil akan besarnya kedudukan Khadijah di sisi Nabi dan bertambahnya kemuliaan Khadijah. Karena Nabi mencukupkan dirinya dengan Khadijah sehingga tidak berpoligami….sehingga Rasulullah telah menjaga hati Khadijah dari kecemburuan dan kepayahan yang ditimbulkan oleh para madu” (Fathul Baari 7/137)

Seorang wanita cemburu kepada wanita lain yang telah meninggal ??!!

Aisyah -istri yang paling dicintai oleh Nabi- tidak pernah cemburu kepada istri-istri Nabi yang lain sebagaimana kecemburannya kepada Khadijah… Padahal Khadijah telah meninggal dunia…!!! Seorang wanita cemburu kepada wanita yang telah meninggal dunia…???. Semuanya tidak lain melainkan karena begitu cintanya Nabi shallallau ‘alaihi wa sallam kepada cinta pertamanya Khadijah meskipun telah tiada.

Aisyah radhiallahu ‘anhaa bertutur:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا ذَكَرَ خَدِيجَةَ أَثْنَى عَلَيْهَا فَأَحْسَنَ الثَّنَاءَ قَالَتْ فَغِرْتُ يَوْمًا فَقُلْتُ مَا أَكْثَرَ مَا تَذْكُرُهَا حَمْرَاءَ الشِّدْقِ قَدْ أَبْدَلَكَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهَا خَيْرًا مِنْهَا قَالَ مَا أَبْدَلَنِي اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ خَيْرًا مِنْهَا قَدْ آمَنَتْ بِي إِذْ كَفَرَ بِي النَّاسُ وَصَدَّقَتْنِي إِذْ كَذَّبَنِي النَّاسُ وَوَاسَتْنِي بِمَالِهَا إِذْ حَرَمَنِي النَّاسُ وَرَزَقَنِي اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَلَدَهَا إِذْ حَرَمَنِي أَوْلَادَ النِّسَاءِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jika menyebut tentang Khadijah maka iapun memujinya, dengan pujian yang sangat indah. Maka pada suatu hari akupun cemburu, maka aku berkata, “Terlalu sering engkau menyebut-nyebutnya, ia seorang wanita yang sudah tua. Allah telah menggantikannya buatmu dengan wanita yang lebih baik darinya”. Maka Nabi berkata, “Allah tidak menggantikannya dengan seorang wanitapun yang lebih baik darinya. Ia telah beriman kepadaku tatkala orang-orang kafir kepadaku, ia telah membenarkan aku tatkala orang-orang mendustakan aku, ia telah membantuku dengan hartanya tatkala orang-orang menahan hartanya tidak membantuku, dan Allah telah menganugerahkan darinya anak-anak tatkala Allah tidak menganugerahkan kepadaku anak-anak dari wanita-wanita yang lain” (HR Ahmad no 24864 dan dishahihkan oleh para pentahqiq Musnad Ahmad)

Kenapa Nabi sangat mencintai Khadijah?

Bukanlah perkara yang mengherankan jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat mencintai Khadijah. Hal ini dikarenakan banyak sebab diantaranya:

Pertama : Khadijah adalah cinta pertama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Tidak bisa dipungkiri bahwa memang cinta pertama sulit untuk dilupakan. Penyair berkata :

 

نَقِّلْ فُؤَادَكَ حَيْثُ شِئْتَ مِنَ الْهَوَى      فَماَ الْحُبُّ إِلاَّ لِلْحَبِيْبِ الْأَوَّلِ

وَكَمْ مَنْزِلٍ فِي الْأَرْضِ يَأْلَفُهُ الْفَتَى              وَحَنِيْنُهُ أبَدًا لِأَوَّلِ مَنْزِلِ

Pindahkanlah hatimu kepada siapa saja yang engkau mau……

Namun kecintaan (sejati) hanyalah untuk kekasih yang pertama

Betapa banyak tempat di bumi yang sudah biasa ditinggali seorang pemuda…..

Namun selamanya kerinduannya selalu kepada tempat yang pertama ia tinggali

Kedua : Khadijahlah yang telah memberikan keturunan kepadanya. Dari Khadijah Allah telah menganugrahkan kepada Nabi 2 orang putra (Abdullah dan Qoosim) dan 4 orang putri (Zainab, Ruqoyyah, Ummu Kaltsum, dan Fathimah)

Ketiga : Khodijah adalah orang pertama yang beriman kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disaat kebanyakan orang mendustakan beliau.

Ibnu Hajar berkata : “Diantara keistimewaan Khadijah adalah ia adalah wanita pertama umat ini yang beriman, dan dialah yang pertama kali mencontohkan hal ini bagi setiap orang yang beriman setelahnya, maka bagi Khadijah seperti pahala seluruh wanita sesudahnya. Karena dalam hadits “Barangsiapa yang mencontohkan sunnah yang baik maka baginya seperti pahala orang yang menjalankannya…”. Dan keistimewaan yang dimiliki oleh Khadijah ini juga dimiliki oleh Abu Bakar As-Shiddiiq berkaitan dengan pahala kaum pria yang beriman setelah Abu Bakar. Dan tidak ada yang mengetahui besarnya pahala yang diraih oleh Abu Bakar dan Khadijah karena keistimewaan ini kecuali Allah Azza wa Jalla” (Fathul Baari 7/137)

Keempat : Khadijahlah yang telah mengorbankan hartanya demi dakwah suaminya. Dialah yang ikut memikul beban dakwah yang dirasakan dan dipikul oleh sang suami. Tidak seperti sebagian wanita yang justru menghalangi suaminya untuk berdakwah…!!!

Kelima : Khodijah adalah seorang istri yang tatkala sang suami menghadapi kesulitan dan kegelisahan maka iapun bersegera menenangkan hatinya. Tidak sebagaimana sebagian istri yang semakin menambah beban sang suami yang sudah berat memikul beban kehidupan.

Tatkala Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam baru pertama kali menerima wahyu yang disampaikan oleh malaikat Jibril dengan bentuknya yang sangat dahsyat, maka Nabipun ketakutan dan segera turun dari gua Hiroo menuju rumah Khadijah, lantas ia berkata, لَقَدْ خَشِيْتُ عَلَى نَفْسِي “Aku mengkhawatirkan diriku”, maka Khadijah menenteramkan hati suaminya seraya berkata dengan perkataan yang indah yang terabadikan di buku-buku hadits,

كَلاَّ أَبْشِرْ فَوَاللهِ لاَ يُخْزِيْكَ اللهُ أَبَدًا فَوَاللهِ إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمِ وَتَصْدُقُ الْحَدِيْثَ وَتَحْمِلُ الْكَلَّ وَتَكْسِبُ الْمَعْدُوْمَ وَتَقْرِي الضَّيْفَ وَتُعِيْنُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ

“Sekali-kali tidak, bergembiralah !!!. Demi Allah sesungguhnya Allah selamanya tidak akan pernah menghinakanmu. Demi Allah sungguh engkau telah menyambung tali silaturahmi, jujur dalam berkata, membantu orang yang tidak bisa mandiri, engkau menolong orang miskin, memuliakan (menjamu) tamu, dan menolong orang-orang yang terkena musibah” (HR Al-Bukhari no 3 dan Muslim no 160)

Demikianlah sikap Khadijah yang mulia untuk menenangkan dan meyakinkan Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam. (silahkan baca kembali https://www.firanda.com/index.php/artikel/keluarga/119-suami-sejati-bag-2-qkehidupan-rasulullah-bersama-istri-istri-beliauq)

Keenam : Khadijah adalah seorang istri yang sangat taat kepada suaminya. Ia tidak pernah melelahkan suaminya…apalagi sampai membuat suaminya mengangkat suara, apalagi sampai mengangkat suaranya di hadapan suaminya. Serta ia adalah wanita yang sabar meskipun letih dalam mendidik anak-anaknya.

Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu berkata:

أَتَى جِبْرِيْلُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ : يَا رَسُوْلَ الله هَذِهِ خَدِيْجَةُ قَدْ أَتَتْ مَعَهَا إِنَاءٌ فِيْهِ إِدَامٌ أَوْ طَعَامٌ أَوْ شَرَابٌ فَإِذَا هِيَ أَتَتْكَ فَاقْرَأْ عَلَيْهَا السَّلاَمَ مِنْ رَبِّهَا وَمِنِّي وَبَشِّرْهَا بِبَيْتٍ فِي الْجَنَّةِ مِنْ قَصب لاَ صَخَبَ فِيْهِ وَلاَ نَصْبَ

“Jibril mendatangi Nabi shallalllahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Ya Rasulullah, Khadijah telah datang membawa tempayan berisi kuah daging atau makanan atau minuman, maka jika ia tiba sampaikanlah kepadanya salam dari Robnya dan dariku, serta kabarkanlah kepadanya dengan sebuah rumah di surga dari mutiara yang tidak ada suara keras (hiruk pikuk) di dalamnya dan juga tidak ada keletihan” (HR Al-Bukhari no 3820 dan Muslim no 2432)

Ganjaran pahala sesuai dengan perbuatan…, As-Suhaili berkata, “Tatkala Khadijah diseru oleh suaminya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk masuk Islam maka serta merta beliau taat dan tidak menolak sehingga tidak perlu menjadikan suaminya untuk mengangkat suaranya dan tidak perlu keletihan. Bahkan Khadijah telah menghilangkan seluruh keletihan dari suaminya dan telah menghilangkan rasa kesendirian suaminya bahkan meringankan seluruh kesulitan suaminya, maka sangat sesuai jika rumahnya di surga yang telah diberi kabar gembira oleh Allah memiliki sifat-sifat yang sesuai” (Fathul Baari 7/138)

Khadijah dijanjikan sebuah rumah di surga, yaitu istana di surga, karena Khadijah adalah yang pertama kali membangun rumah Islam, tatkala itu tidak ada satu rumah Islampun di atas muka bumi. (Lihat Faidhul Qodiir 2/241)

Sebagian ulama menyatakan bahwa Khadijah diberi balasan dengan istana di surga yang tidak ada rasa letih sama sekali karena beliau telah letih dalam mendidik anak-anak beliau, maka sesuai jika dibalas dengan surga yang penuh dengan istirahat tanpa kelelahan sedikitpun (Kasyful Musykil min hadits as-shahihaini 1/444)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terus mengenang Khadijah

Tiga tahun sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijroh ke Madinah, Khadijah wafat. Dan Nabi sangat bersedih atas wafatnya Khadijah, istri yang sangat dicintainya. Sampai-sampai para ahli sejarah menamakan tahun wafatnya Khadijah dengan tahun kesedihan bagi Nabi.

Setelah wafatnya Khadijah kecintaan Nabi tetap melekat di hati beliau. Beliau masih tetap sering menyebut-nyebut Khadijah…bahkan beliau memberikan hadiah kepada sahabat-sahabat Khadijah radhiallahu ‘anhaa, hingga seakan-akan sepertinya tidak ada wanita di dunia ini kecuali Khadijah. Aisyah bertutur :

مَا غِرْتُ عَلَى أَحَدٍ مِنْ نِسَاءِ النَّبِيِّ  صلى الله عليه وسلم  مَا غِرْتُ عَلَى خَدِيْجَةَ وَمَا رَأَيْتَهَا وَلَكِنْ كَانَ النبي صلى الله عليه وسلم يُكْثِرُ ذِكْرَهَا وَرُبَّمَا ذَبَحَ الشَّاةَ ثُمَّ يَقْطَعُهَا أَعْضَاءَ ثُمَّ يَبْعَثُهَا فِي صَدَائِقِ خَدِيْجَةَ فَرُبَّمَا قُلْتُ لَهُ كَأَنَّهُ لَمْ يَكُنْ فِي الدُّنْيَا امْرَأَةٌ إِلاَّ خَدِيْجَةُ فَيَقُوْلُ إِنَّهَا كَانَتْ وَكَانَتْ وَكَانَ لِي مِنْهَا وَلَدٌ

“Aku tidak pernah cemburu pada seorangpun dari istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti kecemburuanku pada Khadijah. Aku tidak pernah melihatnya akan tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu menyebut namanya. Terkadang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelih seekor kambing kemudian beliau memotong-motongnya lalu mengirimkannya kepada sahabat-sahabat Khadijah. Terkadang aku berkata kepadanya, “Seakan-akan di dunia ini tidak ada wanita yang lain kecuali Khadijah”, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Dia itu wanita yang demikian dan demikian dan aku memiliki anak-anak darinya….” (HR Al-Bukhari no 3907)

Kalung Sang Kekasih….

Ibnu Ishaaq rahimahullah berkata dalam sirohnya :

“Abul ‘Aash bin Ar-Robii’ adalah salah seorang dari penduduk kota Mekah yang dikenal dengan perdagangannya, hartanya yang banyak, serta terkenal dengan sifat amanah. Abul ‘Aash adalah keponakan Khadijah (karena Ibu Abul ‘Aash adalah Haalah binti Khuwailid, saudari perempuan Khodijah Binti Khuwailid radhiallahu ‘anhaa).

Khoodijahlah yang telah meminta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menikahkan Abul ‘Aaash dengan Zainab putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan Nabi tidak menyelisihi permintaan Khodiijah, maka Nabipun menikahkan putrinya Zainab dengan Abul ‘Aaash. Dan pernikahan ini terjadi sebelum turun wahyu (sebelum Nabi diangkat menjadi seorang Nabi). Bahkan Nabi menganggap Abul ‘Aash seperti anak senidiri.

Tatkala Allah memuliakan Nabi dengan wahyu kenabian maka berimanlah Khodijah serta seluruh putri-putrinya termasuk Zainab, akan tetapi Abul ‘Aash (suami Zainab) tetap dalam keadaan musyrik.

Nabi juga telah menikahkan salah seorang putrinya (Ruqooyah atau Ummu Kaltsuum) dengan putra Abu Lahab yaitu ‘Utbah bin Abi Lahab.

Tatkala  Nabi mendakwahkan perintah Allah dan menunjukkan permusuhan kepada kaum musyrikin maka mereka berkata, “Kalian telah menyantaikan Muhammad dari kesulitannya, kembalikanlah putri-putrinya agar ia tersibukkan dengan putri-putrinya !!”.

Merekapun mendatangi ‘Utbah putra Abu Lahab lalu berkata, “Ceraikanlah putri Muhammad, maka niscaya kami akan menikahkan engkau dengan wanita Quraisy mana saja yang kau kehendaki !!”. ‘Utbah berkata, “Aku akan menceraikannya dengan syarat kalian menikahkan aku dengan putrinya Sa’iid bin Al-‘Aash”. Maka merekapun menikahkan ‘Utbah dengan putri Sa’iid bin Al-‘Aaash dan Utbahpun menceraikah putri Nabi sebelum berhubungan tubuh dengannya. Dengan perceraian tersebut Allah telah memuliakan putri Nabi dan sebagai kehinaan bagi ‘Utbah. Setelah putri Nabi diceraikan oleh ‘Utbah maka dinikahi oleh ‘Utsmaan bin ‘Afaan radhiallahu ‘anhu.

Para pembesar-pembesar kafir Quraisypun mendatangi Abul ‘Aash lalu mereka berkata, “Ceraikanlah istrimu itu, kami akan menikahkan engkau dengan wanita mana saja yang engkau sukai dari Quraish !!”. Abul ‘Aash berkata, “Demi Allah aku tidak akan menceraikan istriku, dan aku tidak suka istriku diganti dengan wanita Qurasih mana saja” (Perkataan Ibnu Ishaaq ini dinukil oleh Ibnu Hisyaam dalam sirohnya 1/651-652 dan Ibnu Katsiir dalam Al-Bidaayah wa An-Nihaayah 3/379)

Khadijah radhiallahu ‘anhaa memiliki sebuah kalung yang dipakainya. Tatkala Zainab putrinya menikah dengan keponakan Khadija Abul ‘Aash maka Khadijah menghadiahkan kalung tersebut kepada Zainab untuk dikenakan oleh Zainab tatkala malam pengantin dengan Abul ‘Aaash.

Setelah Nabi diberi wahyu kenabian maka seluruh putri-putri Nabi masuk Islam. Adapun Abul ‘Aash suami Zainab tetap dalam kemusyrikannya.

Ibnu Ishaaq rahimahullah berkata, “Rasulullah tatkala di Mekah tidak bisa menghalalkan dan mengharamkan, beliau tidak berkuasa. Islam telah memisahkan antara Zainab dengan Abul ‘Aash bin Ar-Robii’, hanya saja Rasulullah tidak mampu untuk memisahkan mereka beruda. Maka Zainabpun tinggal bersama Abul ‘Aash yang dalam keadaan musyrik hingga Rasulullah berhijrah ke Madinah.

Tatkala terjadi perang Badar dan diantara pasukan Quraisy adalah Abul ‘Aash bin Ar-Robii’ yang akhirnya menjadi tawanan perang Badar, lalu dibawalah ia di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah” (Sebagaimana dinukil oleh Ibnu Hisyaam dalam sirohnya 1/252 dan Ibnu Katsiir dalam Al-Bidaayah wa An-Nihaayah 3/379-380)

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan kesempatan kepada penduduk Mekah yang mau membebaskan para tawanan perang Badar untuk membayar tebusan. Diantara mereka ada yang dibayar hingga 4000 dirham (sekitar 400 dinar, dan satu dinar kurang lebih 4 1/4 gram emas) seperti Abu Wadaa’ah, ada yang ditebus dengan 100 uqiyah (sekitar 3 kg emas, karena 1 uuqiyah sekitar 30 gram emas) seperti Al-Abbas bin Abdil Muttholib, dan ada yang hanya 40 uuqiyah seperti Al-‘Aqiil bin Abi Tholib. (Lihat As-Siiroh An-Nabawiyah fi Dhoi Al-Mashoodir Al-Ashliyah hal 359)

Kalung Yang Mengingatkan Nabi Kepada Cinta Pertamanya…

Tatkala Zainab yang berada di Mekah mendengar bahwa suaminya Abul ‘Aaash menjadi tawanan perang di Madinah maka iapun hendak menebus suaminya. Akan tetapi Zainab tidaklah memiliki apa-apa untuk menebus sang suami yang ia cintainya, kecuali hanya sedikit harta dan kalung pemberian ibunya Khadijah sebagai hadiah pernikahannya dengan suaminya.

Aisyah radhiallahu ‘anhaa berkata :

لَمَّا بَعَثَ أَهْلُ مَكَّةَ فِى فِدَاءِ أَسْرَاهُمْ بَعَثَتْ زَيْنَبُ فِى فِدَاءِ أَبِى الْعَاصِ بِمَالٍ وَبَعَثَتْ فِيهِ بِقِلاَدَةٍ لَهَا كَانَتْ عِنْدَ خَدِيجَةَ أَدْخَلَتْهَا بِهَا عَلَى أَبِى الْعَاصِ. قَالَتْ فَلَمَّا رَآهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- رَقَّ لَهَا رِقَّةً شَدِيدَةً وَقَالَ « إِنْ رَأَيْتُمْ أَنْ تُطْلِقُوا لَهَا أَسِيرَهَا وَتَرُدُّوا عَلَيْهَا الَّذِى لَهَا ». فَقَالُوا نَعَمْ. وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَخَذَ عَلَيْهِ أَوْ وَعَدَهُ أَنْ يُخَلِّىَ سَبِيلَ زَيْنَبَ إِلَيْهِ وَبَعَثَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- زَيْدَ بْنَ حَارِثَةَ وَرَجُلاً مِنَ الأَنْصَارِ فَقَالَ « كُونَا بِبَطْنِ يَأْجِجَ حَتَّى تَمُرَّ بِكُمَا زَيْنَبُ فَتَصْحَبَاهَا حَتَّى تَأْتِيَا بِهَا ».

“Tatkala penduduk Mekah mengirim harta untuk menebus para tawanan mereka, maka Zainabpun mengirim sejumlah harta untuk menebus suaminya Abul ‘Aash, dan Zainab mengirim bersama harta tersebut sebuah kalung yang dahulunya milik Khadijah, lalu Khadijah memberikan kalung tersebut kepada Zainab tatkala Zainab menikah dengan Abul ‘Aash.

Maka tatkala kalung tersebut dilihat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka Rasulullahpun sangat sedih kepada Zainab. Beliaupun berkata (kepada para sahabatnya), “Jika menurut kalian bisa untuk membebaskan tawanan Zainab dan kalian kembalikan lagi kalungnya  ??”. Maka para sahabat berkata, “Iya Rasulullah”. Akan tetapi Rasulullah shallallahu ‘alaih wa sallam mengambil janji dari Abul ‘Aaash agar membiarkan Zainab ke Madinah. Lalu Rasulullah mengirim Zaid bin Haaritsah dan seseorang dari Anshoor (untuk menjemput Zainab), dan beliau berkata kepada mereka berdua, “Hendaknya kalian berdua menunggu di lembah Ya’jij hingga Zainab melewati kalian berdua, lalu kalian berdua menemaninya hingga kalian membawanya di Madinah” (HR Abu Dawud no 2694 dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)

Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat kalung tersebut maka Nabipun sangat sedih karena mengingat kondisi putrinya Zainab yang bersendirian di Mekah, dan juga sangat sedih karena mengingat kembali cinta pertamanya Khadijah radhiallahu ‘anhaa dan bagaimana kesetiaan istrinya Khadijah, karena kalung tersebut dahulunya adalah milik Khadijah dan dipakai oleh Khadijah di lehernya radhiallahu ‘anhaa’ (Lihat ‘Auunul Ma’buud 7/254). Kalung tersebut mengingatkan beliau kepada Khadijah yang sangat dicintainya yang merupakan ibu dari anak-anaknya. (Lihat Al-Fath Ar-Robbaaniy 14/100-101). Hal inilah yang menjadikan Nabi membebaskan Abul ‘Aash suami putrinya Zainab dan sekaligus keponakan Istrinya Khodijah tanpa tebusan sama sekali.

 

Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 03-03-1433 H / 25 Januari 2011 M

Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja

Sumber: www.firanda.com

.