Menjaga Anak dan Pemuda dari Paham Liberal dan Pluralisme

Menjaga Anak dan Pemuda dari Paham Liberal dan Pluralisme

Orang Tua, Engkau Mempunyai Tugas yang Berat

Tugas terbesar dan terberat orang tua bukanlah menjadikan anaknya semata-mata memiliki banyak harta dan berkedudukan tinggi, tetapi tugas terbesar orang tua adalah menjadikan anak tersebut dekat dengan Allah dan memiliki akidah yang baik dan benar.

Jika ada anak-anak dan pemuda yang memiliki akidah tidak benar, seperti mengarah kepada pemikiran liberal atau pluralisme, sebaiknya jangan menyalahkan mereka secara total, apalagi di-bully habis-habisan. Mereka adalah anak-anak dan pemuda yang sedang mencari jati diri dan lebih banyak butuh bimbingan daripada celaan atau cacian.

Bisa jadi ini adalah kesalahan dan kelalaian kita bersama terhadap pendidikan akidah dasar pada anak-anak dan remaja. Sebagai orang tua bahkan kita sendiripun kadang lalai mempelajari dan mendakwahkan cara beragama yang benar kepada mereka. Jangan sampai buku-buku dan bacaan akidah tersimpan rapi di rumah tetapi sangat jarang bahkan tidak pernah disentuh.

Orang Tua, Jangan Hanya Fokus Pada Pendidikan Dunia Saja

Bisa jadi sebagian orang tua hanya fokus pada pendidikan dunia semata, sedangkan pendidikan agama benar-benar lalai. Bahkan demi mengejar pendidikan dunia tersebut, orang tua sampai mendatangkan guru les matematika atau fisika ke rumah, akan tetapi guru ngaji dan guru agama tidak diperhatikan sama sekali.

Orang Tua, Sadarilah Bahaya Pemikiran Liberal dan Pluralisme pada Anak

Paham liberal dan pluralisme secara sederhana adalah suatu pemikiran yang bebas dalam menafsirkan agama. Mereka beranggapan bahwa semua agama itu sama dan tidak ada kebenaran mutlak pada satu agama. Paham ini tidak hanya menimpa orang dewasa saja, tetapi saat ini mulai memasuki pikiran anak-anak. Padahal  sangat jelas, ajaran Islam menolak dan bertentangan dengan paham ini. dalil-dalilnya sudah sangat jelas dan mudah didapatkan  di dalam ajaran dasar-dasar Islam. Ini bukti bahwa kita benar-benar mulai lalai akan pendidikan akidah dan agama bagi anak-anak dan para pemuda.

Orang Tua, Lebih Awaslah Terhadap Perilaku Anak di Sosial Media

Terlebih di zaman modern sekarang ini, berkembangnya internet dan sosial media akan semakin memudahkan anak dalam  mendapatkan akses berbagai informasi. Orang tua benar-benar harus memperhatikan akidah anak-anak dan para pemuda. Inilah yang dicontohkan oleh nabi Ya’qub, beliau benar-benar memastikan akidah dan agama anak-anak beliau.

Allah berfirman mengenai kisah nabi Ya’qub,

ﺃَﻡْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺷُﻬَﺪَﺍﺀَ ﺇِﺫْ ﺣَﻀَﺮَ ﻳَﻌْﻘُﻮﺏَ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕُ ﺇِﺫْ ﻗَﺎﻝَ ﻟِﺒَﻨِﻴﻪِ ﻣَﺎ ﺗَﻌْﺒُﺪُﻭﻥَ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِﻱ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻧَﻌْﺒُﺪُ ﺇِﻟَٰﻬَﻚَ ﻭَﺇِﻟَٰﻪَ ﺁﺑَﺎﺋِﻚَ ﺇِﺑْﺮَﺍﻫِﻴﻢَ ﻭَﺇِﺳْﻤَﺎﻋِﻴﻞَ ﻭَﺇِﺳْﺤَﺎﻕَ ﺇِﻟَٰﻬًﺎ ﻭَﺍﺣِﺪًﺍ ﻭَﻧَﺤْﻦُ ﻟَﻪُ ﻣُﺴْﻠِﻤُﻮﻥَ

“Adakah kamu hadir ketika Ya’kub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: ”Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab:”Kami akan menyembah Sesembahanmu dan Sesembahan nenek moyangmu; Ibrahim, Isma’il, dan Ishak, (yaitu) Sesembahan satu-satu-Nya yang Maha Esa dan kami hanya tunduk kepada-Nya”. (Al-Baqarah/2:133)

Dalam Tafsir Al-Baghawi dijelaskan bahwa nabi Ya’qub benar-benar ingin memastikan anak dan cucunya memiliki akidah yang baik. Beliau mengumpulkan semua anak dan cucunya menjelang kematiannya untuk memastikan hal ini. Al-Baghawi berkata,

ﻓﺠﻤﻊ ﻭﻟﺪﻩ ﻭﻭﻟﺪ ﻭﻟﺪﻩ ، ﻭﻗﺎﻝ ﻟﻬﻢ ﻗﺪ ﺣﻀﺮ ﺃﺟﻠﻲ ﻓﻤﺎ ﺗﻌﺒﺪﻭﻥ ﻣﻦ ﺑﻌﺪﻱ

“Nabi Ya’qub pun mengumpulkan anak  dan cucunya, kemudian bertanya kepada mereka tatkala akan datang ajalnya, apa yang akan mereka sembah setelah kematiannya.” (Lihat Tafsir Al-Baghawi)

Orang Tua, Contohlah Orang-Orang Shalih Terdahulu Dalam Mendidik Anaknya

Demikian juga orang-orang shalih sebelum kita, semisal Luqman yang menasehati anak-anaknya agar menjaga akidah dan agama mereka, jangan sekali-kali menyekutukan Allah atau berbuat syirik. Luqman berkata kepada anak-anaknya

ﻭَﺇِﺫْ ﻗَﺎﻝَ ﻟُﻘْﻤَﺎﻥُ ﻟِﺎﺑْﻨِﻪِ ﻭَﻫُﻮَ ﻳَﻌِﻈُﻪُ ﻳَﺎ ﺑُﻨَﻲَّ ﻟَﺎ ﺗُﺸْﺮِﻙْ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ۖ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﺸِّﺮْﻙَ ﻟَﻈُﻠْﻢٌ ﻋَﻈِﻴﻢٌ

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya : “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (Luqman: 13)

Orang Tua, Jangan Takut Menolak Paham Liberal dan Pluralisme

Untuk menolak dan membantah paham liberal dan pluralisme cukup mudah dan jelas, karena ada dalam pelajaran agama yang sangat mendasar. Jika sampai anak-anak dan pemuda kita tidak paham, berarti kita memang benar-benar lalai akan hal ini.

Misalnya untuk membantah paham mereka bahwa semua agama itu sama dan kebenaran pada satu agama itu tidaklah mutlak yang mereka kampanyekan dengan bertopeng toleransi, bijaksana dan merangkul/menyenangkan semua pihak. Sangat jelas bahwa dalam ajaran Islam, agama yang diridhai adalah Islam saja, sedangkan agama selain Islam tidak benar.

Yaitu firman Allah,

ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﺒْﺘَﻎِ ﻏَﻴْﺮَ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡِ ﺩِﻳﻨًﺎ ﻓَﻠَﻦْ ﻳُﻘْﺒَﻞَ ﻣِﻨْﻪُ ﻭَﻫُﻮَ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺂﺧِﺮَﺓِ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺨَﺎﺳِﺮِﻳﻦَ

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran: 85)

Orang Tua, Tanamkan Sejak Dini Bahwa Hanya Islam Agama yang Benar

Hanya Islam agama yang benar, sehingga untuk menyenangkan dan merangkul agama lain bukan dengan membuat pernyataan semua agama sama baiknya dan sama-sama benar, akan tetapi dengan menjelaskan bahwa Islam adalah agama yang adil dan indah, tidak memaksakan ajaran kepada orang lain serta larangan keras menzalimi agama lain tanpa uzur syariat. Oleh karena itu, sebagai bentuk kasih sayang kepada manusia, Islam mengajak agar manusia memeluk Islam.

Contohnya adalah perintah Allah agar adil meskipun kepada orang non-muslim sekalipun

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ.

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (Al-Mumtahanah: 8)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir  As-Sa’diy  rahimahullah menafsirkan,

لا ينهاكم الله عن البر والصلة، والمكافأة بالمعروف، والقسط للمشركين، من أقاربكم وغيرهم، حيث كانوا بحال لم ينتصبوا لقتالكم في الدين والإخراج من دياركم، فليس عليكم جناح أن تصلوهم، فإن صلتهم في هذه الحالة، لا محذور فيها ولا مفسدة

“Allah tidak melarang kalian untuk berbuat baik, menyambung silaturahmi, membalas kebaikan, berbuat adil kepada orang-orang musyrik, baik dari keluarga kalian dan orang lain. Selama mereka tidak memerangi kalian karena agama dan selama mereka tidak mengusir kalian dari negeri kalian, maka tidak mengapa kalian menjalin hubungan dengan mereka, karena menjalin hubungan dengan mereka dalam keadaan seperti ini tidak ada larangan dan tidak ada kerusakan.” [Taisir Karimir Rahmah hal. 819, Dar Ibnu Hazm]

Demikian juga dasar-dasar Islam lainnya. Satu-satunya kebenaran adalah dari nabi Muhammad shallallahualaihiwasallam dan Al-Qur’an yang diwahyukan kepadanya.

Nabi shallallahualaihiwasallam bersabda,

ﻭَﺍﻟَّﺬِﻱْ ﻧَﻔْﺲُ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺑِﻴَﺪِﻩِ ﻻَ ﻳِﺴْﻤَﻊُ ﺑِﻲْ ﺃَﺣَﺪٌ ﻣِﻦْ ﻫَﺬِﻩِ ﺍﻷُﻣَّﺔِ ﻳَﻬُﻮْﺩِﻱٌّ ﻭَﻻَ ﻧَﺼْﺮَﺍﻧِﻲٌّ ﺛُﻢَّ َﻳﻤُﻮْﺕُ ﻭَﻟَﻢْ ﻳُﺆْﻣِﻦْ ﺑِﺎﻟَّﺬِﻱْ ﺃُﺭْﺳِﻠْﺖُ ﺑِﻪِ ﺇِﻻَّ ﻛَﺎﻥَ ﻣِﻦْ ﺃَﺻْﺤَﺎﺏِ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ

“Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, tidak seorangpun dari umat manusia yang mendengarku; Yahudi maupun Nasrani, kemudian mati dan tidak beriman dengan ajaran yang aku bawa melainkan dia adalah penghuni neraka.” (HR Muslim)

Mari kita giatkan  kembali dakwah serta pelajaran akidah kepada anak-anak dan pemuda kita. Semoga Allah menjaga mereka dan kaum muslimin dari akidah dan pemahaman yang rusak seperti pemahaman liberal dan pluralisme.

Yogyakarta tercinta, dalam keheningan jaga malam

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

Sumber

Asma wa Sifat Allah

Asma wa Sifat Allah

Hakikat Iman Kepada Nama dan Sifat Allah

Beriman kepada nama dan sifat Allah adalah menetapkan apa yang Allah tetapkan pada diri-Nya di dalam al-Qur’an, atau di dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sesuai dengan yang layak bagi Allah, tanpa tahrif, ta’thil, takyif, dan tanpa tamtsil. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki asma’ul husna (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaul Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalah-artikan nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. al-A’raf: 180)

Allah juga berfirman,

وَلَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَى فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Dia memiliki sifat yang Maha Tinggi di langit dan di bumi. Dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. ar-Rum: 27)

Dan Allah juga berfirman,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. dan Dia Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS.  asy-Syura: 11)

Kelompok yang Menyimpang dalam Nama dan Sifat Allah

Dalam masalah ini, telah tersesat dua kelompok:

Pertama, al-Mu’aththilah yaitu mereka yang mengingkari nama-nama dan sifat-sifat Allah atau sebagiannya. Mereka mengklaim, jika kita menetapkan  nama-nama dan sifat-sifat Allah, maka kita melazimkan tasybih, yaitu menyerupakan Allah Ta’ala dengan makhluk-Nya.

Klaim ini batil pada beberapa sisi:

  1. Hal tersebut melazimkan kelaziman-kelaziman yang batil.
    Di antaranya, berarti ada kontradiksi dalam kalam Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena Allah Ta’ala telah menetapkan pada diri-Nya nama-nama dan sifat-sifat dan Allah menafikan bahwasanya ada sesuatu yang semisalnya. Andaikan menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah itu melazimkan tasybih, maka ini merupakan kontradiksi pada kalam Allah, dan berarti ayat-ayat al-Qur’an itu saling mendustakan.
  1. Kesamaan antara dua hal dalam sifat atau nama tidak berarti keduanya sama persis.
    Jika anda melihat dua orang yang mereka sama-sama manusia yang mendengar, melihat, berbicara, ini tidak berarti bahwa mereka sama persis dalam sifat-sifat manusiawinya,  pendengarannya, penglihatannya, dan perkataannya. Dan anda juga melihat hewan-hewan memiliki tangan, kaki, mata, itu tidak berarti hewan-hewan tersebut tangan-tangannya, kaki-kakinya, dan mata-matanya semuanya sama. Maka jika telah jelas perbedaan antara makhluk-makhluk dalam hal yang sama namanya maupun sifatnya, maka berbeda pula antara al-Khaliq (Maha Pencipta) dengan makhluk, dengan perbedaan yang lebih jelas dan lebih besar.

Kedua, al-Musyabbihah yaitu kelompok yang menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Mereka berdalih bahwasanya hal ini ditunjukkan oleh nash-nash yang ada. Karena  Allah Subhanahu wa Ta’ala berbicara kepada hamba-hamba dengan yang mereka pahami.

Dan dalih ini batil dalam beberapa sisi :

  1. Bahwasanya menyerupakan Allah dengan makhluk adalah perkara yang batil.
    Batil menurut akal dan syari’at. Dan tidak mungkin yang ditunjukkan oleh nash-nash al-Qur’an dan as-Sunnah adalah perkara yang batil.
  1. Sesungguhnya Allah berbicara dengan hamba-Nya dengan yang mereka pahami.
    Difahami dari sisi asal makna. Sedangkan dari sisi hakikatnya yang ditunjukkan makna tersebut adalah disesuaikan dengan yang layak bagi Allah Ta’ala, dan sesuai dengan ilmu Allah dalam hal yang terkait dengan dzat-Nya dan sifat-Nya.
    Jika Allah menetapkan pada diri-Nya bahwa Allah Maha Mendengar, maka sesungguhnya istilah as-sam’u (pendengaran) itu sudah diketahui dari makna asalnya (yaitu tersampaikannya suara). Akan tetapi, dari sisi hakikatnya, jika terkait dengan pendengaran Allah, maka tidak diketahui. Hal ini dikarenakan, hakikat dari pendengaran itu berbeda-beda. Bahkan berbeda-beda pada para makhluk, lebih jelas dan lebih besar perbedaannya. Jika Allah Ta’ala mengabarkan pada diri-Nya bahwasanya Allah istiwa diatas ‘arsy, maka sesungguhnya istiwa dilihat dari sisi makna asal yang telah diketahui maknanya. Akan tetapi, hakikat istiwa jika terkait dengan istiwa Allah di atas ‘arsy, maka tidak diketahui. Hal ini dikarenakan, hakikat dari istiwa itu pun berbeda-beda pada makhluk. Maka bukanlah istiwa itu menetap di atas kursi atau sebagaimana istiwa seseorang di atas pelana unta tunggangan. Jika pada makhluk saja berbeda, berbeda juga antara al-Khaliq dan makhluk dengan perbedaan yang lebih jelas dan lebih besar.

Keutamaan Iman Kepada Nama dan Sifat Allah

Beriman kepada Allah Ta’ala terhadap apa yang telah kami jelaskan membuahkan faidah yang agung kepada kaum mukminin, diantaranya:

  1. Menguatkan tauhid kepada Allah Ta’ala dari sisi tidak akan bergantung kepada selain-Nya, baik dalam raja’ (harap) maupun khauf (takut), dan tidak menyembah kepada selain-Nya.
  2. Kecintaan yang sempurna kepada Allah Ta’ala, dan mengagungkan-Nya dengan apa yang ditunjukkan oleh nama-nama-Nya yang husna dan sifat-sifat-Nya yang tinggi.
  3. Menguatkan penghambaan kepada-Nya dengan melakukan apa yang diperintahkan-Nya, dan meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh-Nya.

 

[Diterjemahkan dari Syarh Tsalatsatil Ushul Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin (hal. 59-60) Darul Kutub Ilmiyyah]

Penyusun: Ummu Sufyan Fera

Pemuraja’ah: Ustadz Raehanul Bahraen

Sumber

Ngalap Berkah pada Tubuh Orang Shalih

Ngalap Berkah pada Tubuh Orang Shalih

Sebagian kaum muslimin masih mencari (“ngalap”) berkah dengan cara mendatangi orang shalih dan mengambil berkah dari anggota tubuh mereka, seperti mengusap-usap ke badannya, memperebutkan keringat, rambut, dan bekas air wudhu mereka, atau meminum sisa minuman mereka, dan tindakan-tindakan lainnya.

Bolehkah tindakan semacam ini? Berikut ini kami sampaikan penjelasan dari Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh –hafidzahullahu Ta’ala-:

Telah berlalu penjelasan bahwa berkahnya anggota tubuh tidaklah ada kecuali bagi orang-orang yang telah Allah tegaskan adanya berkah dalam dzat (tubuh) mereka, seperti para Nabi dan Rasul. Adapun selain mereka, dari hamba Allah yang shalih, maka berkah mereka adalah berkah (yang berasal dari) amal perbuatan. Maksudnya adalah berkah yang muncul dari ilmu dan amal mereka, serta dengan mengikuti (meneladani) mereka, bukan berasal dari dzat (tubuh) mereka.

Di antara berkah orang shalih adalah mengajak manusia kepada kebaikan, doa manusia untuk mereka, dan manusia memberikan mereka manfaat dengan berbuat ihsan (kebaikan) kepada mereka dengan niat yang benar, dan hal semacam itu.

Di antara pengaruh berkah orang shalih adalah kebaikan yang Allah datangkan dengan sebab mereka dan Allah cegah datangnya hukuman dan adzab yang merata karena berkah keshalihan mereka. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَى بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ

“Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Huud [11]: 117)

Adapun meyakini bahwa anggota tubuh mereka mendatangkan berkah, kemudian mengusap-usap bagian tubuh mereka, meminum bekas air (sisa) mereka, atau mencium tangan mereka karena mencari (“ngalap”) berkah, maka hal semacam ini terlarang jika ditujukan kepada selain Nabi dengan beberapa alasan berikut ini:

  1. Tidak ada yang bisa mendekati level (keshalihan) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu bagaimana mungkin bisa disamakan dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal berkah dan keutamaan?
  2. Tidak terdapat dalil syar’i yang menunjukkan bahwa selain Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam semisal dengan beliau shallalahu ‘alaihi wa sallam berkaitan dengan mengambil berkah dari bagian tubuhnya. Maka mengambil berkah dari bagian tubuh adalah kekhususan bagi beliau shallalahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana beliau memiliki kekhususan yang lainnya.
  3. Apa yang disampaikan oleh Asy-Syathibi ketika membantah orang-orang yang menyamakan selain Nabi dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengambil berkah dengan dzat orang shalih karena adanya kesamaan sebagai wali (kekasih) Allah. Asy-Syathibi berkata dalam Al-I’tishom (2/6-7),Alasan qiyas itu bertabrakan dengan dalil yang jelas pasti kebenarannya meski membingungkan dalam penerapanny, bahwasannya tidak ada satu pun yang melakukan “ngalap berkah” semacam itu kepada para shahabat radhiyallahu ‘anhu. Karena tidaklah Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan setelahnya manusia yang lebih utama melebihi Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu –yang merupakan pemimpin (khalifah) mereka- dan tidak ada satu pun yang melakukan hal semacam itu (kepada Abu Bakar). Tidak pula (dilakukan) kepada Umar radhiyallahu ‘anhu, yang merupakan manusia terbaik setelah Abu Bakar. Demikian pula (tidak dilakukan kepada) ‘Utsman, Ali, dan seluruh shahabat –yang tidak ada orang lebih utama dibandingkan mereka dalam umat ini. Tidak terdapat riwayat yang shahih dari satu pun di antara mereka bahwa mereka mengambil berkah dengan dzat/badan seseorang atau semacam itu (yaitu dengan mengambil berkah dari keringat, rambut, dan bekas air wudhu mereka). Bahkan mereka membatasi diri dengan mengikuti perbuatan, perkataan, dan jalan yang dilalui oleh Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam. Maka hal ini seolah-olah kesepakatan mereka untuk meninggalkan hal-hal semacam itu”.Demikian pula tidaklah hal tersebut dilakukan kepada Al-Hasan dan Al-Husain –radhiyallahu ‘anhuma-, tidak pula kepada Fatimah radhiyallahu ‘anha. Maka berkah anggota badan tidaklah berpindah karena keturunan, tidak sebagaimana yang diyakini oleh orang-orang Syi’ah Rafidhah dan orang-orang yang mengikuti mereka.
  4. sadd dzari’ah (menutup jalan/sarana menuju keburukan) adalah salah satu di antara kaidah syariat yang penting. Kaidah ini memiliki dalil dari sejumlah ayat Al Qur’an dan hadits, hampir terdapat 100 hadits yang menjadi dalil dari kaidah ini. Oleh karena itu, agar ngalap berkah dengan badan orang shalih ini tidak melebar kepada semua orang shalih, maka hanya dikhususkan (dibolehkan) hanya untuk badan para Nabi saja.
  5. Bahwa perbuatan semacam ini –yaitu bertabarruk dengan selain dzat Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam– akan menjadi fitnah bagi mereka dan menyebabkan mereka bangga dengan diri mereka sendiri. Hal ini akan menyebabkan adanya rasa ‘ujub, sombong, riya’ dan memuji diri mereka sendiri, dan semua ini adalah amalan hati yang terlarang.

***

Diterjemahkan dari: Hadzihi Mafahimuna, karya Syaikh Shalih bin Abdul Aziz bin Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh, penerbit Idarotul Masajid wal Masyari’ Al-Khoiriyyah Riyadh, cetakan ke dua, tahun 1422, hal. 223-224 (Maktabah Syamilah).

Selesai disusun di Masjid Nasuha, Rotterdam, waktu isya’ 1 Shafar 1436.

Penulis: dr. Saifudin Hakim

Sumber

Cara Cepat Meningkatkan Keimanan – Bagian 2

Cara Cepat Meningkatkan Keimanan – Bagian 2

Al-Qur’an Al-Karim adalah Petunjuk, Rahmat, Cahaya, Kabar Gembira, dan Peringatan

Sobat, sesungguhnya di antara faktor paling besar yang menyebabkan meningkatnya keimanan kita adalah membaca Al-Qur`an dan mentadaburinya. Karena Allah Ta’ala menurunkan Al-Qur`an Al-Karim itu sebagai  petunjuk, rahmat, cahaya, kabar gembira, dan peringatan bagi orang yang mengingat Allah dengan baik. Allah Ta’ala berfirman dalam beberapa ayat-Nya tentang hal ini,

وَهَٰذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ مُصَدِّقُ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَلِتُنْذِرَ أُمَّ الْقُرَىٰ وَمَنْ حَوْلَهَا ۚ وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ يُؤْمِنُونَ بِهِ ۖ وَهُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ

Dan ini (Al-Qur’an) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; menyatakan benarnya kitab-kitab (Allah) yang (diturunkan) sebelumnya dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Mekah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya. Orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya (Al-Qur`an) dan mereka selalu memelihara shalatnya” (QS. Al-An’am: 92).

وَهَٰذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Dan Al-Qur’an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkahi, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat” (QS. Al-An’am: 155).

وَلَقَدْ جِئْنَاهُمْ بِكِتَابٍ فَصَّلْنَاهُ عَلَىٰ عِلْمٍ هُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al-Qur’an) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan (Kami); menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman” (QS. Al-A’raf: 52).

وَيَوْمَ نَبْعَثُ فِي كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيدًا عَلَيْهِمْ مِنْ أَنْفُسِهِمْ ۖ وَجِئْنَا بِكَ شَهِيدًا عَلَىٰ هَٰؤُلَاءِ ۚ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ

(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri” (QS. An-Nahl: 89).

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

Ini adalah sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran” (QS. Shad: 29).

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang paling lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal shaleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar” (QS. Al-Isra`: 9).

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang mengandung penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur`an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian” (QS. Al-Isra`: 82).

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati (untuk memahaminya) atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya” (QS. Qaf: 37).

Bersambung, Insyaa Allah

***

Penulis:

Sumber

Cara Cepat Meningkatkan Keimanan – Bagian 2

Cara Cepat Meningkatkan Keimanan

Membaca Al-Qur`an dan Mentadaburinya[1] adalah Cara Dahsyat untuk Meningkatkan Keimanan

Sobat, Anda Tahu kan bahwa Iman Itu Bisa Bertambah dan Berkurang?

Sudah dimaklumi banyak terdapat nash-nash Al-Qur`an dan As-Sunnah yang menjelaskan pertambahan iman dan pengurangannya. Menjelaskan pemilik iman yang bertingkat-tingkat sebagiannya lebih sempurna imannya dari yang lainnya. Ada di antara mereka yang disebut assaabiq bil khairaat (terdepan dalam kebaikan), al-Muqtashid (pertengahan) dan zhalim linafsihi (menzhalimi diri sendiri). Ada juga al-Muhsin, al-Mukmin dan al-Muslim. Semua ini menunjukkan mereka tidak berada dalam satu martabat. Ini menandakan bahwa iman itu bisa bertambah dan berkurang.[2] Oleh karena itu, saat Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullah menjelaskan tentang keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama’ah tentang iman, beliau mengatakan,

وَالْإِيمَانُ قَوْلٌ بِاللِّسَانِ، وَعَمَلٌ بِالْأَرْكَانِ وَعَقْدٌ بِالْجَنَانِ, يَزِيدُ بِالطَّاعَةِ, وَيَنْقُصُ بِالْعِصْيَانِ

Iman adalah ucapan dengan lisan, amal dengan anggota badan, keyakinan (dan amal) hati. Ia dapat bertambah dengan sebab ketaatan, dan berkurang dengan sebab kemaksiatanز”[3]

Siapa sih yang Gak Pengen Bertambah Keimanannya?

Sobat, perlu difahami bahwa suka perkara yang baik, cinta ketaatan, pengen iman bertambah adalah dambaan setiap orang yang benar keimanannya.

Dan suka keimanan merupakan anugerah dari Allah Ta’ala untuk hamba yang disayangi-Nya. Oleh karena itu, perbanyaklah  memohon kepada Allah Ta’ala agar Dia menghiasi keimanan dalam hati Anda, simaklah firman Allah Ta’ala berikut ini,

وَلَٰكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ

Tetapi Allah menjadikan kalian cinta kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hati kalian serta menjadikan kalian benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus” (QS. Al-Hujurat: 7).

Suka Iman Bertambah Saja Tidaklah cukup

Sobat, cukupkah anda suka makanan saja, tapi setiap hari tidak mau makan? Apakah cukup anda suka uang saja, tapi tidak mau bekerja? Anda ingin sembuh, tapi gak mau berobat? Tentu tidak bukan? Dalam agama kita, orang  yang ingin berjumpa dengan Allah dan melihat wajah-Nya diperintahkan untuk beramal shaleh.

Coba deh, simak Kalam Ilahi berikut ini,

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.”

Dengan demikian, tidak cukup seseorang hanya suka imannya bertambah, namun tidak mau berusaha menambah keimanannya.

Kalo mau bertakwa, ya laksanakan perintah Allah.

Mau iman naik? Ya lakukan ketaatan kepada Rabb Anda.

Cara Dahsyat Meningkatkan Keimanan

Syaikh Prof. Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah di dalam kitabnya Asbab Ziyadatil Iman wa Nuqshanihi menyebutkan setidaknya terdapat tiga cara dahsyat dalam meningkatkan keimanan.

  1. Mempelajari ilmu yang bermanfaat, di antaranya adalah membaca Al-Qur`an dan mentadaburinya, mempelajari nama dan sifat Allah Ta’ala, memperhatikan keindahan agama Islam, membaca sirah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan membaca sirah Salafush Shaleh.
  1. Memperhatikan ayat-ayat Allah yang kauniyyah.
  1. Bersungguh-sungguh dalam beramal shaleh, baik dengan hati, lisan, maupun anggota tubuh lahiriyah, termasuk berdakwah di jalan Allah Ta’ala dan menjauhi sebab-sebab yang mengurangi keimanan.

[Bersambung]

[1]. Tadabbur adalah memperhatikan (memikirkan) lafazh agar bisa memahami maknanya. [Ushulun fit Tafsir, Syaikh Al-Utsaimin, hal. 23]

[2]. Sumber: https://muslim.or.id/1993-iman-bisa-bertambah-dan-berkurang.html

[3]. Lum’ah Al-I’tiqad Al-Hadi ila Sabil Ar-Rasyad.

***

Penulis:

Sumber

Revolusi yang Tidak Diimpikan

Revolusi yang Tidak Diimpikan

Sejarah kehidupan umat manusia adalah sebaik-baik guru dan cerminan bagi setiap orang berakal dan berfikir.

Kata orang Arab:

لا تعجبن من هالك كيف هوى – بل فاعجبن من سالم كيف نجا

“Jangan kagum melihat orang yang jatuh binasa bagaimana ia terjatuh, tetapi belajarlah kepada orang yang selamat bagaimana ia selamat”.

Sejarah kejatuhan negeri Iran dari negeri Ahlus Sunnah menjadi negeri para Mullah dengan revolusi yang digulirkan “Imam Besar Spiritual Khumaini” adalah bukti sejarah dari kebenaran sabda Nabi kita yang Mulia dalam bersabar terhadap penguasa yang zalim.

Nabi mengetahui bahwa kelak akan muncul penguasa-penguasa yang dzolim atas rakyatnya, merampas hak-hak mereka dan mengebiri kebebasan mereka, agar ummat tidak tergelincir ke dalam jurang kebinasaan.

Beliau ingatkan kita dengan petuah yang tak ternilai harganya. Lebih indah dari “igauan orang-orang” yang tidak puas dengan warisan Nabinya, masih terpukau dengan wasiat warisan kaum yang telah menumpahkan darah Khalifah Ali bin Abu Thalib- khawarij-dan yang semisalnya.

Dari Alqamah bin Wa’il al-Hadrami dari Ayahnya ia berkata:” Salamah bin Yazid Al-Ju’fi bertanya kepada Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam-: “Wahai Nabi.. bagaimanakah pandangan tuan sekiranya datang pada kami para penguasa yang menuntut hak-haknya kepada kami, tetapi mengabaikan hak-hak kami atasnya, apakah kiranya titah tuan?. Pada kali ke tiga Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pun menjawab:

اسمعوا وأطيعوا فإنما عليهم ما حملوا وعليكم ما حملتم

dengarkan dan patuhi, sesungguhnya mereka akan ditanyakan tentang apa yang mereka emban dan kalian akan pula ditanyakan atas apa yang kalian emban” (HR. Muslim).

Lebih jelas lagi Nabi menggambarkan kelak kemunculan para penguasa berhati iblis dan berwajah manusia. Beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

يكون بعدي أئمة لا يهتدون بهداي ولا يستنون بسنتي،وسيقوم فيهم رجال قلوبهم قلوب الشياطين في جثمان إنس

Akan datang masanya kelak setelahku para penguasa yang tidak mengikuti petunjuk dan sunnahku, dan akan ada diantara mereka orang-orang yang berhati syetan dalam wujud manusia

Maka Hudzaifah bertanya:” apa yang harus ku lakukan dikala itu wahai Rasulullah sekiranya aku ada di masa itu”?

Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjawab:

تسمع وتطيع للأمير وإن ضرب ظهرك وأخذ مالك فاسمع وأطع

Dengar dan patuhi pemimpinmu sekalipun ia mempecut punggungmu dan mengambil hartamu, dengarkan dan patuhi” (HR. Muslim).

Dengan meninggalkan ajaran Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan mengikuti seruan musuh-musuh Islam, maka lenyaplah kekuasaan Ahlus Sunnah di Iran, dan hilang menara-menara yang menyerukan “hayya ‘alal falah” berganti dengan seruan “hayya ala khairil amal” (lafadz adzan ala syi’ah, ed).

Puji-pujian kepada para sahabat berganti dengan celaan dan sumpah serapah bahkan cacian dan makian.

Negeri yang pernah mengeluarkan generasi terbaik ummat semisal Salman Alfarisi dari generasi Sahabat, dan para ulama-ulama besar semisal Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit, Abu Hatim Ar-Razi, Abu Daud, Ibnu Majah, Abu Ja’far At -Thabari, Baihaqi, maupun ImamAl-Bukhari dll. berganti menjadi negeri yang mengeluarkan kaum Munafikun -Rafidhah- menjadi detonator pemicu pemberontakan di berbagai Negeri Islam.

Semua bermula dari sepak terjang penguasa tirani Syah Muhamad Reza Fahlevi yang menyengsarakan rakyatnya.

Hal tersebut menginspirasi rakyat untuk memberontak. Seluruh elemen dan kelompok-kelompok di masyarakat, apapun idiologi dan kecenderungannya, lintas mazhab, baik yang Syiah, Ahlus Sunnah bahkan Komunis bersatu padu menghadapi musuh bersama, diktator besar Syah Muhammad Reza Fahlevi.

Untuk mewujudkan mimpi mereka, harus dinobatkan orang yang paling berpengaruh dan paling membenci Syah Iran kala itu. Kesepakatan tegak untuk menobatkan Khomeini sebagai Imam Besar mereka, sebagai simbol perlawanan terhadap penguasa.

Khomeini disanjung setinggi langit sebagai tokoh agama yang zuhud, waro’ , ‘taqwa, tak butuh kekuasaan maupun gemerlap dunia. Seluruh media massa tak kalah menyiarkan berita kehebatannya dapat menyatukan berbagai garda para pejuang yang beraneka ragam.

Janji-janjipun diumbar bahwa ia akan menerapkan syariat Islam bila revolusinya berhasil.

Khomeini menang, Syah Tumbang dan dalam waktu singkat berubahlah haluan negeri Ahlus Sunnah itu menjadi negeri yang paling dzolim terhadap Ahlus Sunnah. Semua masjid, sekolah dan madrasah Ahlus sunnah dihilangkan. Para alim ulama mereka di teror dan dibunuh. Tinggalah Negeri Salman Al Farisi itu kenangan pahit yang tak terlupakan, menjadi tangisan sepanjang zaman atas kecerobohan mempercayai kaum Rafidah sebagai pimpinan, dan buah dari pemberontakan yang menjadi mimpi buruk para mujahidin yang tertipu.

Sejarah seperti di ataskah yang akan di tiru anak bangsa ini..?

Pemimpin spiritual yang seperti itukah yang menjadi impian anak bangsa ini?

Tak layak seorang muslim terperosok ke dalam lubang yang sama dua kali.

 

Penulis: Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan, Lc.

Sumber