Timba Dari Langit

Timba Dari Langit

Tersebutlah seorang wanita bernama Ummu Syarik. Nama aslinya adalah Ghaziyah binti Jabir bin Hakim. Ia tergolong wanita bangsawan Quraisy. Ummu Syarik masuk Islam ketika berada di Mekkah. Setelah masuk Islam, ia bertekad untuk menyebarkan dakwah tauhid, meninggikan kalimat Allah ‘la ilaha illallah muhammadur rasulullah‘.

Mulailah Ummu Syarik mendakwahi wanita-wanita Quraisy secara sembunyi-sembunyi. Diajaklah mereka untuk masuk Islam.

Ia melakukannya dengan sabar, tanpa bosan dan jenuh. Lama-kelamaan, perbuatan Ummu Syarik diketahui oleh penduduk Mekkah. Penduduk Mekkah akhirnya menangkap Ummu Syarik. Penduduk Mekkah berkata, “Jika bukan karena kaummu, sunguh kami akan berbuat sesuatu kepadamu. Akan tetapi, kami akan kembalikan engkau kepada kaummu.” Ummu Syarik menjawab, “Keluarga suamiku telah mendatangiku.”

Penduduk Mekkah berkata, “Jangan-jangan engkau telah berada di atas agamanya?” Ummu Syarik menjawab, “Demi Allah! Aku memang berada di atas agamanya.” Penduduk Mekkah pun berkata, “Tidak, demi Allah, sungguh kami akan menyiksamu dengan siksaan yang pedih!”

Kemudian mereka membawa Ummu Syarik keluar dari rumahnya.

Dibawalah Ummu Syarik dengan dinaikkan ke atas seekor unta yang berjalan lambat. Unta yang dinaiki Ummu Syarik merupakan kendaraan yang paling jelek. Di tengah perjalanan, Ummu Syarik hanya diberi makan roti dan madu. Air minum tidak diberikan kepadanya walau setetes pun.

Hingga tiba waktu pertengahan hari ….

Saat itu matahari mulai panas. Turunlah orang-orang yang membawa Ummu syarik itu dari kendaraan mereka, lalu mereka menggelar kemah (untuk berteduh dari panas matahari), sedangkan Ummu Syarik dibiarkan kepanasan terkena terik matahari. Sampai-sampai, Ummu Syarik kehilangan kesadaran, pendengaran, dan penglihatannya. Seperti itulah mereka menyiksa Ummu Syarik selama tiga hari.

Pada hari ketiga, para pembawa Ummu Syarik itu berkata, “Tinggalkanlah keyakinanmu!” Ummu Syarik tidak mengerti ucapan mereka kecuali kata per kata. Ummu Syarik hanya bisa berisyarat dengan jari terlunjuknya mengarah ke langit –yang berarti tauhid– mengesakan Allah. Siksaan yang ia alami begitu berat.

Saat itulah keimanan Ummu Syarik sedang diuji. Suatu ketika, tiba-tiba muncul sebuah timba yang diletakkan di dadanya. Ummu Syarik mengambil ember itu dan meminum airnya dengan sekali napas. Kemudian timba itu terangkat menjauhi Ummu Syarik, dan Ummu Syarik memandangi timba yang terangkat itu. Lalu, timba itu tergantung di antara langit dan bumi.

Ummu Syarik tak mampu menjangkau timba tersebut (karena terlampau tinggi). Untuk kedua kalinya, timba itu diturunkan kepada Ummu Syarik sehingga ia bisa meminum airnya dengan satu tarikan napas. Timba itu lalu ditarik lagi ke atas, dan Ummu Syarik memandangi timba yang terangkat itu. Timba itu tergantung di antara langit dan bumi. Kemudian, untuk ketiga kalinya timba itu diturunkan kembali. Ummu Syarik meminum air di dalamnya hingga ia puas. Kemudian air dalam timba itu dituangkan di atas kepala, wajah, dan pakaian Ummu Syarik.

Orang-orang yang membawa Ummu Syarik akhirnya keluar dan melihat kejadian itu. Mereka berkata, “Darimana timba ini, wahai musuh Allah?” Ummu Syarik menjawab, “Sebenarnya musuh Allah itu bukanlah aku! Musuh Allah itu adalah orang yang menyimpang dari agama-Nya. Adapun pertanyaan kalian tentang asal timba ini maka ini adalah rezeki yang Allah berikan kepadaku.”

Karenanya, orang-orang itu beranjak menuju tempat air mereka. Mereka dapati tali tempat air mereka utuh dan tidak terlepas (artinya, air dalam timba Ummu Syarik tidak berasal dari tempat air mereka, ed.)

Kemudian orang-orang itu berkata, “Kami bersaksi bahwa sesungguhnya Rabbmu adalah Rabb kami. Sungguh Dzat yang telah memberimu rezeki adalah Dzat yang telah memberimu rezeki tersebut di tempat ini setelah kami menyiksamu. Dialah Dzat yang menurunkan syariat Islam.” Selanjutnya mereka masuk Islam dan berhijrah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Nisa’ haula Ar-Rasul wa Ar-Radd ‘ala Muftariyat Al-Musytasyriqin)

Dari Kisah-Kisah Pilihan untuk Anak Muslim Seri-4, karya Ummu Usamah ‘Aliyyah, Ummu Mu’adz Rofi’ah, dkk. Mei 2007. Penerbit Darul Ilmi, Yogyakarta.

Sumber: https://muslimah.or.id/2994-timba-dari-langit.html

Saatnya Kita Mengenal Nama Allah “asy-Syaafiy”

Saatnya Kita Mengenal Nama Allah “asy-Syaafiy”

Di antara nama dari nama-nama Allah yang paling baik adalah الشافي (asy-Syaafiy), yang biasa diartikan “Maha menyembuhkan”. Mengilmuinya dengan benar, dapat menjadikan seseorang lebih mengenal Rabb-nya Ta’ala, dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari; khususnya dewasa ini yang banyak tersebar penyakit, dan membutuhkan penyembuhan. Berikut ini, sedikit pembahasan-pembahasan terkait dengan nama tersebut.

Dalil Penetapan Nama “asy-Syaafiy”

Terdapat hadis dalam ash-Shahihain dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anhaa, bahwasanya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam biasa meminta perlindungan kepada Allah untuk sebagian keluarganya, dengan mengusapkan tangan kanan beliau, sambil berdoa,

اللهم رب الناس، أذهب الباس، واشفه وأنت الشافي، لا شفاء إلا شفاؤك، شفاء لا يغادر سقماً

Yaa Allah, Rabb seluruh manusia. Hilangkanlah penyakit ini, dan sembuhkanlah dia. Dan Engkaulah asy-Syaafiy, yang tidak ada kesembuhan melainkan hanya kesembuhan dari-Mu. (Sembuhkanlah dia) dengan kesembuhan yang tidak meninggalkan sedikitpun penyakit.” (HR. Bukhari 5351, dan Muslim 2191)

Makna “asy-Syaafiy”

Syaikh ‘Abdurrazzaaq bin ‘Abdul Muhsin al-Badr hafidzahullaah berkata,

ومعنى الشافي: الذي منه الشفاء، شفاء الصدور من الشبه والشكوك والحسد والحقد وغير ذلك من أمراض القلوب، وشفاء الأبدان من الأسقام والآفات، ولا يقدر على ذلك غيره، فلا شفاء إلا شفاؤه، ولا شافي إلا هو، كما قال إبراهيم الخليل عليه السلام: (وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ) [الشعراء: 180]، أي: هو وحده المتفرِّد بالشفاء لا شريك له

“Makna asy-Syaafiy adalah Dzat yang hanya dari-Nya segala kesembuhan. Baik berupa kesembuhan pada dada (hati) berupa syubhat, keraguan, hasad, kebencian, dan selainnya dari penyakit-penyakit hati; maupun kesembuhan pada badan berupa penyakit-penyakit dan cacat-cacat (di badan). Tidak ada yang mampu menyembuhkan kecuali Dia. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Nya. Tidak ada penyembuh kecuali Dia.

Hal ini sebagaimana ucapan Nabi Ibrahim al-Khaliil ‘alaihissalaam (yang Allah sebutkan dalam al-Quran),

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

(Apabila saya sakit, maka Dialah yang menyembuhkanku.)

Yaitu, hanya Dialah yang esa dalam kesembuhan, tidak ada sekutu pada-Nya.”

Kemudian beliau hafidzahullaah melanjutkan,

ولذ أوجب على كل مكلف أن يعتقد عقيدة جازمة أنه لا شافي إلا الله، وقد بين ذلك النبي صلى الله عليه وسلم بقوله: “لا شافي إلا أنت”

“Oleh karena itu, wajib atas setiap mukallaf untuk meyakini dengan keyakinan yang pasti (tanpa ada keraguan sedikitpun) bahwasanya tidak ada Penyembuh kecuali Allah. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan hal ini dalam sabdanya, “Tidak ada penyembuh kecuali Engkau.”  (Fiqhul Asmaail Husnaa hal. 321)

Bertawassul dengan Keesaan Allah dalam Mencari Kesembuhan

Di antara wasilah kepada Allah, dalam mencari kesembuhan dari penyakit adalah bertawassul kepada-Nya dengan keesaan rububiyyah-Nya. Dan sesungguhnya kesembuhan di tangan-Nya saja, dan tidak ada kesembuhan pada siapapun kecuali dengan izin-Nya. Segala urusan dan penciptaan merupakan hak Allah saja. Segala sesuatu adalah dengan pengaturan-Nya. Apa saja yang Dia kehendaki pasti terjadi; dan apa saja yang tidak Dia kehendaki, pasti tidak akan terjadi. Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan Allah.

Hal ini berdasarkan pada hadis di awal pembahasan, dimana Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bertawassul dengan rububiyah Allah sebelum memulai permintaan kesembuhan, dengan sabdanya,

اللهم رب الناس

Ya Allah, Rabb seluruh manusia.” (lihat selengkapnya di kitab Fiqhul Asmaail Husnaa hal. 322)

Perintah untuk Berobat

Keyakinan dan keimanan seorang hamba bahwasanya penyembuh hanyalah Allah saja, dan kesembuhan di tangan-Nya; bukanlah penghalang dari menempuh sebab-sebab yang bermanfaat, dengan berobat dan mencari kesembuhan, dan mengkonsumsi obat-obatan yang bermanfaat. Terdapat banyak hadis-hadis tentang perintah untuk berobat, dan penyebutan macam-macam obat-obatan yang bermanfaat. Hal itu tidak meniadakan tawakal kepada Allah, dan keyakinan bahwasanya kesembuhan di tangan-Nya.

Imam Bukhari telah meriwayatkan dalam kitab Shahih-nya, dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ما أنزل الله من داء إلا أنزل له شفاء

“Tidaklah Allah menurunkan penyakit apapun, kecuali Dia telah menurunkan baginya obat.” (HR. Bukhari 5354)

Dan dalam al-Musnad (Imam Ahmad), dari Usamah bin Syariik radhiyallaahu ‘anhu, dia mengatakan bahwasanya Rasulullah bersabda,

إن الله لم ينزل داء إلا أنزل له شفاء، علمه من علمه، وجهله من جهله

Sungguh, tidaklah Allah menurunkan penyakit, kecuali Dia menurunkan baginya obat. Sebagian orang mengetahui obat tersebut, dan sebagian lainnya tidak mengetahuinya.” (HR. Ahmad 4: 278, Abu Dawud 3855, Ibnu Hibban 486, al-Hakim 1: 121, dan selain mereka; dengan sanad yang shahih)

Kita memohon kepada Allah yang Maha Mulia, Rabb seluruh manusia, Penghilang penyakit. Maha Menyembuhkan, yang tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Nya; supaya Dia menyembuhkan orang-orang yang sakit di antara kita, dan orang-orang yang sakit dari kaum muslimin seluruhnya.

 

Penulis: Prasetyo Abu Ka’ab

Catatan kaki:

Disarikan dari kitab Fiqhul Asmaail Husnaa, Syaikh Abdurrazzaq al-Badr, Daarul ‘Aalamiyyah cet. 1.

Sumber: https://muslim.or.id/

Tentang Allah

Tentang Allah

Barang siapa yang mengenal Allah melalui nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya, pasti dia akan mencintai-Nya!” (Ibnul Qayyim, Al-Jawabul Kafi)

Allah adalah Al-Ilah

“Allah” adalah nama untuk Dzat Allah ‘Azza wa Jalla. Tidak ada yang memiliki nama tersebut selain Dia. Lafal “Allah” berasal dari tashrif أَلِهَ-يَأْلَهُ-أُلُوْهَةٌ-إِلاَهَةٌ-أُلُوْهِيَّةٌ . Selanjutnya, إِلاَهَةٌ (Ilahah) bemakna المألوه (Al-Ma’luh), sedangkan المألوه (Al-Ma’luh) bermakna المغبود (Al-Ma’bud), yaitu yang disembah karena rasa cinta dan pengagungan.

Ringkasnya, Allah = Al-Ilah (sesembahan) = Al-Ma’luh (yang disembah) = Al-Ma’bud (yang diibadahi)

Lafal jalalah ‘Allah’ adalah isim musytaq

Para ulama berbeda pendapat tentang asal lafal “Allah”; apakah lafal tersebut adalah isim jamid (bentuk tunggal/berdiri sendiri) atau isim musytaq (bentuk turunan).

  • Pendapat pertama: lafal jalalah ‘Allah’ merupakan isim jamid. Alasannya, kondisi musytaq (penurunan bentuk kata) mengharuskan isim tersebut memiliki penyusun sebelumnya, padahal nama Allah itu qadim (paling awal). Sesuatu yang qadim tidaklah memiliki unsur. Hal ini sebagaimana seluruh nama yang hanya sekadar nama namun tak memiliki hubungan dengan akar katanya. Contoh: seseorang bernama Nashir, namun belum tentu dia suka menolong; seseorang bernama Mahmud, namun belum tentu perangainya terpuji; seseorang bernama Syuja’, namun belum tentu dia pemberani.
  • Pendapat kedua: lafal jalalah ‘Allah’ merupakan isim musytaq. Dalilnya adalah firman Allah,

وَهُوَ اللّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ

Dan Dialah Allah (yang disembah), baik di langit maupun di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan.” (Q.s. Al-An’am: 3)

Penggalan kata فِي السَّمَاوَاتِ dikaitkan dengan lafal jalalah; maknanya:

وَهُوَ المألوه فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الأَرْضِ

“Dialah sesembahan di langit dan di bumi.”

Terkait makna lafal jalalah ‘Allah’, Ibnu ‘Abbas radhiallhu ‘anhuma menyebutkan,

الله ذو الألوهية والعبودية على خلقه أجمعين

”Allah adalah pemilik hak uluhiyyah (ketuhanan) dan ‘ubudiyyah (penghambaan) atas seluruh makhluk.”

Yang rajih dalam hal ini adalah pendapat bahwa lafal jalalah ‘Allah’ adalah isim musytaq. (Penjelasan ini terdapat dalam Syarh Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah, Syekh Muhammad Khalil Harash dan Syarh Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah, Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin)

Allah adalah Ar-Rabb

Ar-Rabb: Al-Murabbi (pemelihara) seluruh jagad raya beserta isinya. Segala sesuatu selain Allah adalah makhluk bagi-Nya. Dia melengkapi kehidupan makhluk-Nya dengan segala sarana dan prasarana. Dia curahkan nikmat berlimpah kepada mereka. Seandainya seluruh nikmat itu lenyap, niscaya makhluk-Nya tak ‘kan mampu bertahan hidup. Apa pun nikmat yang dirasakan (oleh setiap makhluk) maka itu datang hanya dari Allah. (Taisir Karimir Rahman)

Tarbiyah (pemeliharaan) Allah atas makhluk-Nya terdiri atas dua jenis:

  1. At-tarbiyah al-‘ammah (pemeliharaan umum), berupa mencipta makhluk-makhluk, memberi mereka rezeki, dan menunjuki jalan-jalan yang bermanfaat bagi kelangsungan hidup mereka di muka bumi.
  2. At-tarbiyah al-khashshah (pemeliharaan khusus), berupa penjagaan Allah terhadap para wali-Nya (orang yang dekat dengan-Nya). Allah memelihara mereka melalui karunia iman dan taufik. Allah pun menyempurnakan iman dan taufik itu bagi mereka. Allah juga menghilangkan penghambat dan penghalang antara diri mereka dan diri-Nya. Hakikat tarbiyah khusus ini adalah: (i) pemeliharaan di atas taufik menuju segala kebaikan; (ii) penjagaan dari segala keburukan. Barangkali ini adalah makna tersembunyi di balik sebagian besar doa para nabi yang menggunakan lafal “Ar-Rabb”; isi doa-doa mereka adalah meminta at-tarbiyah al-khashshah dari Allah. (Taisir Karimir Rahman)

Berhak disembah karena memiliki sifat rububiyyah

Yang mendapat keistimewaan hak uluhiyyah hanya Dzat yang memiliki sifat rububiyyah.

Yang berhak disembah hanya Dzat yang mampu mencipta jagad raya, seluruh makhluk hidup, gunung, laut, pohon, dan makhluk lainnya. Yang berhak disembah hanya Dzat yang mampu menurunkan hujan, mendatangkan kemarau berkepanjangan, menimpakan paceklik, mengguncangkan bumi dengan gempa, dan meluapkan air laut. Yang berhak disembah hanya Dzat yang mampu menerbitkan matahari di timur dan menenggelamkannya di barat.

Mustahil seseorang adalah tuhan sedangkan dirinya saja diciptakan. Tidak mungkin seseorang adalah tuhan jika dia tak mampu mendatangkan manfaat meski bagi dirinya sendiri. Tidak mungkin seseorang adalah tuhan jika dia sendiri tak bisa menyelamatkan dirinya dari bahaya. Tidak mungkin seseorang adalah tuhan jika dia tak bisa mengubah kondisi jagad raya dan isinya sekehendak dirinya.

Klaim tanpa bukti

Jika seseorang mengaku-aku sebagai tuhan yang berhak disembah maka cek dahulu apakah dia memiliki sifat rububiyyah.

Mari kita lihat kisah dua manusia biasa yang mengklaim dirinya sebagai tuhan. Sebuah klaim tanpa bukti nyata!

1. Raja Namrud yang hidup di masa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam.

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَآجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رِبِّهِ أَنْ آتَاهُ اللّهُ الْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّيَ الَّذِي يُحْيِـي وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا أُحْيِـي وَأُمِيتُ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan, ‘Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan.’ Orang itu berkata, ‘Saya dapat menghidupkan dan mematikan.’ Ibrahim berkata, ‘Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,’ maka terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim.” (Q.s. Al-Baqarah: 258)

Benarkah Namrud bisa menghidupkan dan mematikan?

Ternyata, maksud Namrud: dia mampu membiarkan seseorang tetap hidup dan dia mampu membunuhnya (mematikannya) jika dia ingin. Padahal yang dimaksud Nabi Ibrahim adalah kemampuan menciptakan makhluk hidup (dari tidak bernyawa menjadi bernyawa) dan mematikannya (dari bernyawa menjadi tidak bernyawa). Tampak sekali bahwa Namrud tak paham hakikat “menghidupkan dan mematikan”.

Untuk membungkam kesombongan Namrud, Nabi Ibrahim ‘alaihis salam menggunakan hujjah lain. Beliau menantang Namrud untuk menerbitkan matahari dari barat. Namrud tak memiliki sifat rububiyyah, maka bagaimana mungkin dia mampu mengubah letak matahari?

Akhirnya Namrud kalah telak. Betapa bodoh dan celakanya Namrud! (Penjelasan ini bisa disimak di Taisir Karimir Rahman)

2. Fir’aun yang hidup di masa Nabi Musa ‘alaihis salam

Inilah kisah Fir’aun. Si kafir yang mengklaim dirinya sebagai tuhan, padahal dia sama sekali tak memiliki sifat rububiyyah. Ketika laut yang dibelah oleh Allah akhirnya tertutup kembali, dia tak dapat menyelamatkan dirinya maupun bala tentaranya!

Fir’aun mengklaim sifat rubbubiyah pada dirinya padahal sifat itu tidak ada padanya.

فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَى

“Dia (Fir’aun) mengatakan: Saya Rab kalian yang paling tinggi.” (QS. An-Nazi’at: 24)

Ini terjadi ketika dia merasa sangat nyaman ketika disembah, kemudian kesombongannya bertambah. Akhirnya semakin parah dan mengaku sebagai Rab, yang artinya sang pemberi kehidupan bagi rakyatnya. Sehingga fir’aun mengklaim hak uluhiyah dan sekaligus sifat rububiyah. Sebagian ahli tafsir mengatakan, pengakuannya sebagai Rab dilakukan 40 tahun setelah dia minta disembah (mengaku sesembahan). Di awal kekuasaannya, fir’aun minta disembah, empat puluh tahun berikutnya, dia mengaku sang pemberi kehidupan mesir. (Aisar Tafasir, untuk ayat di atas).

وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ مَا عَلِمْتُ لَكُم مِّنْ إِلَهٍ غَيْرِي فَأَوْقِدْ لِي يَا هَامَانُ عَلَى الطِّينِ فَاجْعَل لِّي صَرْحاً لَّعَلِّي أَطَّلِعُ إِلَى إِلَهِ مُوسَى وَإِنِّي لَأَظُنُّهُ مِنَ الْكَاذِبِينَ

Dan Fir’aun berkata, ‘Wahai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk pendusta.’” (Q.s. Al-Qashash: 38)

وَاسْتَكْبَرَ هُوَ وَجُنُودُهُ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ إِلَيْنَا لَا يُرْجَعُونَ

Dan berlaku angkuhlah Fir’aun dan bala tentaranya di bumi (Mesir) tanpa alasan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka tidak akan dikembalikan kepada Kami.” (Q.s. Al-Qashash: 39)

فَأَخَذْنَاهُ وَجُنُودَهُ فَنَبَذْنَاهُمْ فِي الْيَمِّ فَانظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الظَّالِمِينَ

Maka Kami hukum Fir’aun dan bala tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut. Maka lihatlah akibat yang dirasakan oleh orang-orang zalim.” (Q.s. Al-Qashash: 40)

Di akhir hayatnya, Fir’aun mengaku bersalah. Namun penyesalannya terlambat sudah.

وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُ بَغْياً وَعَدْواً حَتَّى إِذَا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ آمَنتُ أَنَّهُ لا إِلِـهَ إِلاَّ الَّذِي آمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَاْ مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka). hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia, ‘Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).’” (Q.s. Yunus: 90)

Demikianlah dua orang kafir dari kalangan kaum terdahulu. Sungguh ini adalah kisah nyata, bukan dongeng atau hikayat khayalan. Tidak menutup kemungkinan masih ada juga orang yang minta dipertuhankan di masa ini.

Hendaknya orang-orang yang berakal mengambil pelajaran. Sungguh, hanya Allah Ar-Rabb Al-Ilah. Tiada tandingan bagi-Nya!

Maroji’:

  • Syarh Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah, Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, Dar Ibnul Jauzi.
  • Syarh Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah, Syekh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, Dar Ibnul Jauzi.
  • Syarh Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah, Syekh Muhammad Khalil Harash, Dar Ibnul Jauzi.
  • Taisir Karimir Rahman, Syekh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, Muassasah Ar-Risalah, Beirut.

Penulis: Athirah Ummu Asiyah
Muroja’ah: Ustadz Ammi Nur Baits

Sumber: https://muslimah.or.id/

Ruh Seorang Kafir

Ruh Seorang Kafir

Adapun seorang hamba yang kafir, jika ajal sedang menjemputnya menuju alam akhirat, maka turun kepadanya malaikat-malaikat dari langit yang hitam wajahnya. Mereka membawa kain yang kasar.

Lantas para malaikat itu duduk mengelilinginya sejauh mata memandang. Kemudian datanglah Malaikat Maut; dia duduk di dekat kepala orang itu dan dia berkata, “Wahai jiwa yang buruk, keluarlah engkau menuju kemurkaan Allah dan kemarahan-Nya!”

Kemudian ruh orang itu bercerai-berai dalam jasadnya, lalu dicabut oleh Malaikat Maut seperti mencabut tusukan daging yang terbuat dari besi, yang dicabut dari bulu domba yang basah. Kemudian ruhnya diambil. Setelah diambil oleh Malaikat Maut, para malaikat lainnya tidak membiarkan ruh itu berada di tangan Malaikat Maut walau sekejap mata pun, hingga mereka meletakkannya di kain yang kasar itu. Lalu keluarlah bau yang lebih busuk daripada bangkai yang ada di muka bumi.

Lantas para malaikat itu membawanya naik ke atas. Setiap mereka melewati sekumpulan malaikat, mereka ditanya, “Siapakah ruh yang busuk ini?” Maka para malaikat pembawa ruh itu menjawab, “Ruh Fulan bin Fulan,” dengan nama panggilan terjeleknya semasa dahulu di dunia.

Mereka meminta agar pintu langit dibukakan bagi ruh orang kafir tersebut. tetapi tidak dibukakan. Kemudian Allah berfirman, “Tulislah catatan amalnya di Sijjin! Di bumi yang paling bawah.” Maka ruh orang itu dilemparkan dengan sekali lemparan.

Lantas ruhnya dikembalikan ke jasadnya dan datanglah dua malaikat kepadanya. Kedua malaikat itu lalu mendudukkannya seraya berkata, “Siapakah Rabbmu?”

Dia menjawab, “Hah … hah … aku tidak tahu.”

Kedua malaikat itu bertanya lagi, “Apa agamamu?”

“Hah … hah … aku tidak tahu,” jawabnya.

“Siapa laki-laki yang telah diutus kepada kalian? Tanya dua malaikat itu.

“Hah … hah … aku tidak tahu,” jawabnya lagi.

Tiba-tiba terdengar seruan dari atas langit, “Hamba-Ku itu telah berdusta! Bentangkanlah hamparan dari api neraka baginya dan bukakanlah baginya satu pintu menuju neraka!”

Maka datang kepadanya angin panas yang berembus dari neraka, dan kuburnya dipersempit hingga tulang rusuknya bercerai-berai.

Lalu datang kepadanya seorang lelaki buruk rupa, berpakaian jelek, dan berbau busuk. Lelaki itu berkata, “Bergembiralah dengan segala sesuatu yang menyusahkanmu! Inilah hari yang dijanjikan kepadamu.”

Lantas mayat orang kafir itu bertanya kepada si lelaki buruk rupa, “Siapakah engkau? Wajahmu adalah wajah yang dayang membawa kejelekan.”

Lelaki itu menjawab, “Aku adalah amal jelekmu.”

Mayat orang kafir itu berkata, “Rabbku, janganlah engkau datangkan hari kiamat.” (Al-Jawabul Al-Kafi)

 

Hikmah di balik kisah ini:

  • Adanya azab kubur dan adanya nikmat kubur.
  • Adanya azab kubur maupun nikmat kubur dialami oleh ruh dan jasad orang yang meninggal.
  • Orang mukmin meninggal dengan cara yang mudah. Orang kafir meninggal dengan cara yang sulit dan menyakitkan.
  • Langit terdiri dari tujuh lapis, dan masing-masing lapisnya memiliki pintu yang dijaga oleh para malaikat.
  • Allah berada di atas langit.
  • Malaikat berjumlah sangat banyak; hanya Allah yang mengetahui jumlahnya secara pasti.
  • Malaikat Maut bertugas mencabut nyawa.
  • Ada dua malaikat yang bertugas menanyakan tiga perkara di alam kubur, yaitu Malaikat Al-Munkar dan Malaikat An-Nakir.
  • Di alam kubur, orang mukmin akan ditemani amal shalihnya yang berbentuk seorang lelkai yang tampan wajahnya, bagus pakaiannya, dan harum baunya.
  • Orang kafir di alam kubur akan ditemani amal jeleknya yang berbentuk lelaki buruk rupa, berpakaian jelek, dan berbau busuk.

 

Sumber: Kisah-Kisah Pilihan untuk Anak Muslim Seri-4, karya Ummu Usamah ‘Aliyyah, Ummu Mu’adz Rofi’ah, dkk. Mei 2007. Penerbit Darul Ilmi, Yogyakarta.

Sumber: https://muslimah.or.id/

Ruh Seorang Mukmin

Ruh Seorang Mukmin

Suatu ketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bercerita tentang ruh orang mukmin yang akan meninggal dunia dan ruh orang kafir yang akan meninggal dunia.

Jika seorang mukmin akan meninggal, malaikat-malaikat turun dari langit kepadanya dengan membawa kain kafan dari surga serta membawa wewangian dari surga. Lantas para malaikat itu duduk di sekeliling orang mukmin yang akan meninggal tadi.

Para malaikat duduk mengelilingi sang mukmin sepanjang mata memandang (saking banyaknya malaikat itu). Menyusul kemudian, datanglah Malaikat Maut duduk di dekat kepala sanga mukmin. Malaikat Maut berkata, “Wahai jiwa yang tenang, keluarlah menuju ampunan Allah dan keridhaan-Nya.”

Dengan demikian, keluarlah jiwa sang mukmin dari jasadnya bagaikan keluarnya tetesan air dari bibir tempat air.

Kemudian Malaikat Maut mengambilnya. Jika Malaikat Maut telah mengambil ruhnya maka para malaikat lainnya tidak membiarkan ruh itu berada di tangan Malaikat Maut sekejap mata pun hingga mereka mengambilnya.

Lalu mereka meletakkannya ke dalam kafan dan wewangian itu. Ruh itu keluar dengan aroma yang harum seperti minyak misik yang paling wangi di muka bumi. Mereka membawanya naik ke atas. Setiap kali mereka melewati para malaikat, mereka ditanya, “Siapakah ruh yang baik ini?”

Para malaikat yang membawa ruh itu menjawab, “Ini ruh Fulan bin Fulan,” dengan nama panggilan terbaiknya semasa dahulu di dunia.

Hingga mereka sampai ke langit. Mereka minta agar pintu langit dibukakan, maka dibukakanlah bagi mereka lalu diiringi oleh para malaikat dari seluruh penjuru langit hingga ke langit selanjutnya, sampai akhirnya ke langit yang ketujuh.

Lalu Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Tulislah catatan amal hamba-Ku di ‘Illiyyin, serta kembalikan ia ke bumi; karena sesungguhnya Aku menciptakan mereka (manusia) dari bumi (tanah), kepadanya juga akan Kukembalikan, dan dari sana akan Kukeluarkan mereka pada waktu yang lain.”

Kemudian ruh orang tersebut dikembalikann lagi ke jasadnya (di bumi). Lalu datang kepadanya dua malaikat.

Kedua malaikat itu mendudukkannya seraya berkata, “Siapakah Rabbmu?”

Orang itu pun menjawab, “Rabbku adalah Allah ‘Azza wa Jalla.”

Kedua malaikat itu bertanya lagi, “Apa agamamu?”

“Agamaku Islam,” jawabnya.

“Siapakah laki-laki yang telah diutus kepada kalian?” tanya dua malaikat itu lagi.

“Dia adalah Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,” jawabnya.

Dua malaikat itu berkata, “Darimana kamu tahu?”

Aku membaca kitab Allah ‘Azza wa Jalla kemudian aku mengimaninya dan membenarkannya,” jawabnya.

Lalu terdengarlah seruan dari atas langit, “Hamba-Ku itu benar. Karenanya, hamparkanlah baginya hamparan dari surga, pakaikanlah ia pakaian dari surga, dan bukakanlah satu pintu menuju surga baginya.”

Maka terciumlah olehnya angin surga dan aroma wanginya, serta diluaskanlah kuburnya seluas mata memandang. Lalu ia didatangi oleh seorang lelaki yang tampan wajahnya, bagus pakaiannya, dan harum baunya. Lelaki itu berkata, “Bergembiralah dengan segala hal yang menyenangkanmu! Ini adalah hari  yang dahulu dijanjikan kepadamu.”

Kemudian mayat orang mukmin itu berkata, “Siapakah engkau? Wajahmu adalah wajah yang datang dengan kebajikan.”

“Aku adalah amal shalihmu.”

Lalu mayat orang itu berkata, “Wahai Rabbku, datangkanlah segera hari kiamat …. Wahai Rabbku, datangkanlah segera hari kiamat, sehingga aku dapat kembali kepada keluargaku dan hartaku.” (Al-Jawabul Al-Kafi)

*

Hikmah di balik kisah ini:

  • Adanya azab kubur dan adanya nikmat kubur.
  • Adanya azab kubur maupun nikmat kubur dialami oleh ruh dan jasad orang yang meninggal.
  • Orang mukmin meninggal dengan cara yang mudah. Orang kafir meninggal dengan cara yang sulit dan menyakitkan.
  • Langit terdiri atas tujuh lapis; masing-masing lapisannya memiliki pintu yang dijaga oleh para malaikat.
  • Allah berada di atas langit.
  • Malaikat berjumlah sangat banyak; hanya Allah yang mengetahui jumlahnya secara pasti.
  • Malaikat Maut bertugas mencabut nyawa.
  • Ada dua malaikat yang bertugas menanyakan tiga perkara di alam kubur, yaitu Malaikat Al-Munkar dan Malaikat An-Nakir.
  • Di alam kubur, orang mukmin akan ditemani oleh amal shalihnya yang berbentuk seorang lelaki yang tampan wajahnya, bagus pakaiannya, dan harum baunya.
  • Orang kafir di alam kubur akan ditemani oleh amal jeleknya yang berbentuk lelaki buruk rupa, berpakaian jelek, dan berbau busuk.

Sumber: Kisah-Kisah Pilihan untuk Anak Muslim Seri-4, karya Ummu Usamah ‘Aliyyah, Ummu Mu’adz Rofi’ah, dkk. Mei 2007. Penerbit Darul Ilmi, Yogyakarta.

Sumber: https://muslimah.or.id/

 

Ruh Seorang Kafir

Alam Kubur

Pertanyaan,

“Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan. Penanya ini, Ibrahim dari Riyadh, bertanya, ‘Apakah akidah ahlus sunnah wal jama’ah dalam masalah kehidupan di alam barzakh?’”

Jawaban Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin,

“Akidah mereka (ahlus sunnah wal jama’ah, pent.) dalam masalah kehidupan di alam barzakh adalah berdasarkan dalil-dalil yang terdapat pada Al-Kitab (Al Quran, pent.) dan As-Sunnah, yaitu bahwa sesungguhnya manusia akan diazab atau diberi nikmat di dalam kuburnya sesuai dengan kondisi amalan mereka (sewaktu di dunia, pent.).

Allah tabaraka wa ta’ala berfirman tentang pengikut Fir’aun,

النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَاب

Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang, serta pada hari terjadinya kiamat. (Dikatakan kepada malaikat), ‘Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras.” (QS. Al-Mu’min:46)

Allah juga berfirman,

وَلَوْ تَرَى إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلائِكَةُ بَاسِطُو أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوا أَنْفُسَكُمُ الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ وَكُنْتُمْ عَنْ آيَاتِهِ تَسْتَكْبِرُونَ

Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat saat orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakaratul maut, sedangkan para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata), ‘Keluarkanlah nyawamu!’ Di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.‘ (QS. Al-An’am:93)

Allah tabaraka wa ta’ala berfirman,

فَلَوْلا إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ * وَأَنْتُمْ حِينَئِذٍ تَنْظُرُونَ * وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْكُمْ وَلَكِنْ لا تُبْصِرُونَ * فَلَوْلا إِنْ كُنْتُمْ غَيْرَ مَدِينِينَ * تَرْجِعُونَهَا إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ * فَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنَ الْمُقَرَّبِينَ * فَرَوْحٌ وَرَيْحَانٌ وَجَنَّتُ نَعِيمٍ * وَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ الْيَمِينِ * فَسَلامٌ لَكَ مِنْ أَصْحَابِ الْيَمِينِ * وَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنَ الْمُكَذِّبِينَ الضَّالِّينَ * فَنُزُلٌ مِنْ حَمِيمٍ * وَتَصْلِيَةُ جَحِيمٍ * إِنَّ هَذَا لَهُوَ حَقُّ الْيَقِينِ * فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ

‘Maka, mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, sementara ketika itu kalian menyaksikan, dan Kami berada lebih dekat kepadanya daripada kalian namun kalian tidak melihat hal itu?Maka, mengapa jika kalian tidak dikuasai (oleh Allah), kalian tidak mengembalikan nyawa itu (kepada tempatnya), jika kalian adalah orang-orang yang benar? Adapun jika dia (orang yang mati) termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), maka dia memperoleh ketenteraman, rezeki,dan SurgaAn-Na’im. Adapun jika termasuk golongan kanan, maka keselamatanlah bagimu karena kamu berasal dari golongan kanan. Adapun jika dia termasuk golongan yang mendustakan lagi sesat, maka dia mendapat hidangan air yang mendidih, dan dia dibakar di dalam jahanam. Sesungguhnya, (yang disebutkan ini) adalah suatu keyakinan yang benar. Oleh karena itu, bertasbihlah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang Mahabesar.’ (QS. Al-Waqi’ah:83–96).

Kehidupan tersebut, yang di dalamnya terdapat kenikmatan atau azab, merupakan kehidupan alam barzakh, tidak sama  dengan kehidupan dunia. Oleh karena itu, orang yang hidup di sana (alam barzakh, pent.) tidak memerlukan air, makanan, udara, tidak pula perlindungan dari rasa dingin dan panas. Itulah kehidupan yang tidak kita ketahui hakekat senyatanya. Semua itu merupakan perkara gaib, yang tidak seorang pun mengetahuinya kecuali Allah ‘azza wa jalla atau orang-orang yang telah tiba di kehidupan tersebut dan (mereka) telah merasakan kebenaran yang nyata itu. Kita senantiasa membaca dalam doa kita, ‘Aku berlindung dari azab jahanam, azab kubur, ujian kehidupan dan ujian kematian, serta ujian (ketika tibanya) Al-Masih Ad-Dajal.’”

Sumber: https://muslimah.or.id