Kaidah Kaidah Penting untuk Memahami Asma dan Sifat Allah

Kaidah Kaidah Penting untuk Memahami Asma dan Sifat Allah

Kaidah Umum terkait nama dan sifat Allah

– Kewajiban kita terhadap nash-nash Al Quran dan As Sunnah yang membahas tentang asma dan sifat Allah.

Dalam memahami nash-nash Al Quran dan As Sunnah kita wajib untuk menetapkan maknanya apa adanya, berdasar dzahir nash dan tidak memalingkannya ke makna lain. Karena Allah menurunkan Al Quran dengan bahasa Arab, yang bahasa tersebut sudah jelas. Disamping itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamjuga berbicara dengan bahasa Arab, sehingga wajib bagi kita menetapkan makna kalam Allah dan perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sesuai dengan apa yang ditunjukkan secara makna bahasa tersebut. Merubahnya dari makna dzahir merupakan perbuatan terlarang, karena ini termasuk berkata tentang Allah tanpa dasar ilmu. Allah berfirman,

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالإثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لا تَعْلَمُونَ (٣٣)

“Katakanlah: ‘Rabbku mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun tersembunyi, perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan mengatakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui” (Al A’raf: 33)

Sebagai contoh, firman Allah ta’ala,

بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنْفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ

“(Tidak demikian), tetapi kedua tangan Allah terbentang. Dia menafkahkan sebagaimana dia kehendaki” ( QS. Al Ma’idah)

Secara dzahir, ayat ini menunjukkan bahwa Allah mempunyai dua tangan yang hakiki. Maka wajib menetapkan dua tangan Allah tersebut. Jika ada orang yang mengatakan kedua tangan tersebut maksudnya kekuatan, maka kita katakan : ini termasuk memalingkan makna Al Quran dari dzahirnya. Kita tidak boleh bekata demikian karena ini berati kita berkomentar tentang Allah tanpa dasar ilmu.

Kaidah Dalam Asma Allah

– Asma Allah seluruhnya husna (paling baik)

Dalam kebaikan Allahlah yang paling tinggi karena nama Allah mengandung sifat yang sempurna, tidak ada kekurangan di dalamnya dari segala sisi.

وَلِلَّهِ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى

“Dan bagi Allah asmaul husna” (Al A’raf: 180)

Contoh:
Ar Rahman adalah salah satu dari nama-nama Allah, menunjukkan atas sifat yang agung yaitu memiliki rahmat yang luas.

Berdasarkan penjelasan di atas, kita tahu bahwa ad dahr (waktu) bukan termasuk salah satu dari nama Allah karena tidak mengandung makna yang terpuji. Adapun sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

“Janganlah kalian menela dahr (masa) karena Allah adalah Dahr” (HR. Muslim)

Maka maknanya adalah Allah lah yang menguasai masa. Kita palingkan ke makna tersebut dengan dalil hadis,

“Di tangan-Ku lah segala urusan, Aku yang membolak-balikkan siang dan malam” (HR. Bukhari)

– Nama Allah tidak dibatasi pada bilangan tertentu

Kaidah ini didasari doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang masyhur,

“Ya Allah aku memohon kepada-Mu dengan setiap nama-Mu yang Engkau gunakan untuk diri-Mu, yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau Engkau ajarkan kepada salah seorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau rahasiakan untuk diri-Mu dalam ilmu ghaib di sisi-Mu” (HR. Ahmad, HR Ibnu Hibban)

Lalu bagaimana menggabungkan dengan hadits berikut,

“Sesngguhnya ada 99 nama milik Allah, barang siapa menjaganya akan masuk syurga”
(HR. Bukhari)

Makna hadits ini adalah: Diantara nama Allah ada 99 nama yang jika kita menjaganya kita akan masuk syurga. Dan tidaklah dimaksudkan disini membatasi nama Allah hanya 99. Kita bisa melihat hal ini dengan contoh perkataan “saya mempunyai 100 dirham untuk disedekahkan”. Maka pernyataan ini tidak menafikan kalau saya mempunyai dirham yang lain yang saya peruntukkan untuk selain sedekah.

– Nama Allah tidak dapat ditetapkan berdasarkan akal tetapi harus dengan dalil syar’i

Nama Allah adalah tauqifiyah, yaitu harus ditetapkan berdasarkan dalil syari’at, tidak boleh menambahnya dan tidak boleh menguranginya karena akal tidak mungkin mencapai semua yang menjadi hak Allah dari nama-nama-Nya. Maka dalam hal ini kita wajib untuk mencukupkan diri dengan dalil syar’i. Hal ini karena menamai Allah dengan nama yang tidak Allah namakan diri-Nya dengan nama tersebut atau mengingkari nama yang Allah menamai diri-Nya dengan nama tersebut merupakan pelanggaran terhadap hak Allah ta’ala. Kita wajib mempunyai adab yang baik kepada Allah ta’ala.

– Seluruh nama dari nama-nama Allah menunjukkan atas dzat Allah, sifat yang terkandung di dalam nama tersebut, dan adanya pengaruh yang dihasilkan jika nama tersebut adalah nama yang muta’adi (membutuhkan objek)

Dan tidak sempurna iman seseorang terhadap asma dan sifat Allah kecuali dengan menetapkan semua hal tersebut.

Contoh nama Allah yang bukan muta’adi: Al ‘Adzim (Yang Maha Agung)
Tidak sempurna mengimani nama ini sampai mengimani dengan menetapkan 2 hal:
a. Menetapkan Al Adzim sebagai nama Allah yang menunjukkan pada Dzat Allah
b. Menetapkan sifat yang terkandung dalam nama tersebut, yaitu Al ‘Udzmah (keagungan)

Contoh nama Allah yang muta’adi: Ar Rahman
Tidak sempurna mengimaninya sampai mengimani dengan menetapkan 3 hal:
a. Menetapkan Ar Rahman sebagai nama Allah yang menunjukkan pada dzat Allah
b. Menetapkan sifat yang terkandung dalam nama tersebut, yaitu Ar Rahmah ,
c. Menetapkan adanya pengaruh dari nama itu, yaitu merahmati siapa yang Allah kehendaki.

Kaidah dalam memahami sifat Allah

– Sifat Allah seluruhnya tinggi, sempurna, mengandung pujian, dan tidak ada kekurangan dari sisi mana pun.
Seperti Al Hayah (hidup), Al’ Ilmu (mengetahui), Al Qudrah (kehendak), As Sama (mendengar), Al Bashar (melihat), Al Hikmah, Ar Rahmah, Al Uluw (tinggi), dll. Allah berfirman,

وَلِلَّهِ الْمَثَلُ الأعْلَى

“Dan Allah mempunyai sifat yang maha tinggi” (Qs. An Nahl: 60)

Karena Allah adalah Rabb yang maha sempurna maka sifatnya harus sempurna.

– Jika suatu sifat menunjukkan kekurangan dan bukan kesempurnaan sama sekali maka mustahil sifat itu dimiliki Allah, seperti Al Maut (mati), Al Jahl (bodoh), Al Ajs (lemah), As Samam (tuli), Al ‘Ama (buta), dll. Oleh karena itu Allah membantah orang yang mensifati diri-Nya dengan kekurangan dan mensucikan diri-Nya dari kekurangan tersebut. Allah tidak mungkin mempunyai kekurangan karena hal itu akan mengurangi keberadaan-Nya sebagai Rab semesta alam.

– Jika sifat tersebut di satu sisi menunjukkan kesempurnaan sedangkan di sisi lain menunjukkan kekurangan maka sifat ini tidak dinisbatkan dan tidak dinafikan (ditolak) dari Allah secara mutlak akan tetapi perlu dirinci. Kita menetapkan sifat tersebut dalam keadaan yang menunjukkan kesempurnaan dan kita menolak sifat tersebut dalam keadaan yang menunjukkan kekurangan.
Contohnya sifat Al Makr, Al Kaid, Al Khida’ (makna ketiganya adalah tipu daya)
Sifat ini merupakan sifat yang sempurna jika dalam rangka menghadapi semisalnya (membalas orang yang berbuat tipu daya) Karena hal ini menunjukkan bahwa yang mempunyai sifat ini (Allah) tidak lemah menghadapi tipu daya musuh-musuh-Nya.
Dan sifat ini menupakan sifat yang kurang dalam keadaan selain diatas. Maka kita menetapkan sifat tersebut untuk Allah dalam keadaan yang pertama, bukan yang kedua.

Allah ta’ala berfirman,

وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

“Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (Qs. Al Anfal: 30)

إِنَّهُمْ يَكِيدُونَ كَيْدًا (١٥) وَأَكِيدُ كَيْدًا (١٦)

“Sesungguhnya orang kafir itu merencanakan tipu daya yang jahat dengan sebenar-benarnya. Aku pun membuat rencana (pula) dengan sebenar-benarnya.” (Qs. At Thariq: 15-16)

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka.” (Qs. An Nisa: 142)

Jika dikatakan Apakah Allah disifati dengan Al Makr? Maka jangan menjawab “ya” dan jangan pula menjawab “tidak”, akan tetapi kaakanlah “Allah berbuat makar terhadap orang yang pantas mendapatkannya” wallahu a’lam.

– Sifat Allah terbagi menjadi dua, yaitu tsubutiyah dan salbiyah

Tsubutiyah yaitu sifat yang ditetapkan Allah untuk diri-Nya seperti Al Hayah, Al Alim, Al Qudrah. Sifat ini wajib kita tetapkan pada Allah sesuai dengan keagungan-Nya karena Allah sendiri menetapkan sifat tersebut untuk diri-Nya dan Allah lebih mengetahui tentang sifat diri-Nya.

Salbiyah yaitu sifat yang Allah nafikan (tiadakan) untuk diri-Nya seperti dzalim. Sifat ini wajib kita nafikan pada Allah karena Allah telah menafikan sifat tersebut pada diri-Nya. Dan kita wajib untuk menetapkan pada Allah sifat yang merupakan lawannya yaitu sifat yang menunjukkan sifat kesempurnaan. Penafian tidak sempurna tanpa menetapkan kebalikannya.

Contohnya, Firman Allah ta’ala,

وَلا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا (٤٩,)

“Dan Rabmu tidak menganiaya seorang jua pun.” (Qs. Al Kahfi: 49)

Kita wajib menafikan sifat dzalim dari Allah disertai dengan keyakinan menetapkan sifat adil bagi Allah yang mana sifat adil tersebut dalam bentuk yang sempurna.

– Sifat tsubutiyah terbagi menjadi dua, yaitu sifat dzatiyah dan sifat fi’liyah

Sifat dzatiyah yaitu sifat yang terus-menerus ada (selalu melekat) pada diri Allah seperti sifat As Sama, Al Bashar

Sifat fi’liyah yaitu sifat yang terikat dengan kehendak Allah. Jika Allah menghendaki maka Dia melakukannya dan jika Allah tidak menghendaki maka Dia tidak melakukannya. Contohnya sifat istiwa’ di atas arsy, sifat maji’ (datang)

Dan ada beberapa sifat yang termasuk sifat dzatiyah sekaligus fi’liyah jika dilihat dari dua sisi. Contohnya sifat kalam (berbicara). Dilihat dari sisi asalnya sifat tersebut merupakan sifat dzatiyah karena Allah senantiasa berbicara. Tetapi jika dilihat dari sisi lain, kalam merupakan sifat fi’liyah karena Allah berbicara tergantung pada kehendak-Nya. Dia berbicara kapan dan bagaimana Dia kehendaki.

– Seluruh sifat Allah bisa menerima tiga pertayaan

1. Apakah sifat itu hakiki, mengapa?
2. Apakah boleh menanyakan kaifiyahnya (bagaimananya) (takyif)? Dan mengapa?
3. Apakah boleh menyerupakannya sengan makhluk (tamtsil)? Dan mengapa?

Jawaban dari pertanyaan tersebut adalah,

1. Benar, sifat Allah hakiki karena asal sebuah perkataan adalah mempunyai makna hakiki. Maka tidak boleh memalingkannya kecuali dengan dalil yang shahih.

2. Tidak boleh menanyakan kaifiyahnya karena firman Allah ta’ala,

وَلا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْمًا (١١٠)

“Sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya” (Qs. Thaha: 110)

Dan karena akal tidak mungkin mengetahui kaifiyah sifat Allah

3. Tidak boleh menyerupakan dengan sifat makhluk karena firman Allah ta’ala

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia” (Qs. As Syuura: 11)

Karena Allah sempurna, tidak ada puncak sifat kebaikan yang lebih tingi dari-Nya sehingga tidak mungkin diserupakan dengan makhluk karena makhluk itu penuh kekurangan.

Perbedaan antara tamtsil dan takyif yaitu:
Tamtsil berarti menyebutkan kaifiyah sifat Allah dengan mengaitkannya dengan sifat makhluk sedangkan takyif adalah Howdy, adminmenyebutkan kaifiyah sifat Allah tanpa mengaitkannya dengan makhluk.

Contoh tamtsil: Perkataan “tangan Allah itu seperti tangan manusia”
Contoh takyif: Membayangkan kaifiyah (bagaimana) tangan Allah dengan suatu gambaran tertentu dengan tidak menyerupakannya dengan tangan makhluk. Maka hal ini tidak boleh.

– Bagaimana membantah Mu’athilah

Mu’athilah adalah orang yang mengingkari atau menolak sebagian asma Allah atau sifat Allah dan memalingkan nash dari makna dzahirnya. Mereka jiga disebut muawwilah.

Kaidah umum dalam membantah mereka adalah kita katakan kepada mereka bahwa pendapat mereka menyelisihi dzahir nash, menyelisihi jalan para salaf dalam memahami asma dan sifat Allah, penyelisihan mereka tidak didasari dalil yang shahih dan pada beberapa sifat bisa disertai bantahan-bantahan khusus yang ke empat, atau lebih.

Sumber: Syarah Lum’atul I’tiqad, Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin (Pendahuluan Syaikh Utsaimin sebelum men-syarah)

***
Diterjemahkan oleh tim penerjemah muslimah.or.id
Murojaah: Ustadz Ammi Nur Baits

Sumber: https://muslimah.or.id/

.
Saudaraku Kenalilah Tuhanmu, Nabimu, dan Agamamu (bagian 3)

Saudaraku Kenalilah Tuhanmu, Nabimu, dan Agamamu (bagian 3)

Landasan Ketiga: Mengenal Agama Islam

Setelah membahas tentang pengenalan seorang hamba kepada Rabbnya dan kepada Nabinya, kini kami mengawali pembahasan selanjutnya, yaitu pengenalan seorang hamba atas agama Islam beserta dalil-dalilnya. Termasuk hal yang sangat penting bagi seseorang untuk beragama sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah agar seorang hamba benar-benar mendapatkan cahaya dan petunjuk serta penerang dari agamanya.

Memahami Islam dengan segala konsekuensinya

Agama Islam adalah agama yang dengannya Allah mengutus Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Dia menjadikan Islam sebagai agama terakhir, yang telah Dia sempurnakan untuk para hamba-Nya sekalian dan sebagai penyempurna nikmat-Nya kepada hamba. Hal ini sebagaimana firman Allah ta’ala:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

…Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu dan telah Aku cukupkan untukmu nikmat-Ku dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu…” (QS. Al-Ma’idah: 3)

Dalam surat yang lain Allah ta’ala juga berfirman:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

“Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam” (QS. Ali ‘Imran: 19)

Syaikh Muhammad At-Tamimi rahimahullah mendefinisikan Islam sebagai penyerahan diri, yaitu perasaan hina dan tunduk hanya kepada Allah ta’ala semata dengan mengesakannya secara penuh, yaitu menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan ibadah.

Akan tetapi patuh kepada Allah dengan ketaatan tidaklah cukup sekedar menyerahkan diri dan tunduk saja, tetapi harus disertai pula dengan kepatuhan kepada semua perintah Allah ta’ala dan Rasulnya shallallahu ‘alaihi wasallam dan menjauhi segala bentuk larangan, sebagai wujud ketaatan kepada Allah dan dalam rangka mencari keridhaan-Nya, mengejar apa yang ada di sisi-Nya, dan takut akan azab-Nya.

Berkaitan dengan Islam itu sendiri, terdapat hadits dari sahabat Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Jibril ‘alaihissalam bertanya tentang Islam, maka Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam menjawabnya,

الإسلام أن تشهد أن لا اله إلا الله وأن محمدا رسول الله، وتقيم الصلاة، وتؤتي الزكاة، وتصوم رمضان، وتحج البيت إن استطعت إليه سبيلا

…Islam itu adalah engkau bersaksi bahwa tidak ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, manunaikan zakat, mengerjakan hai ke Baitullah jika engkau mampu melakukan perjalanan menuju ke sana…” (HR. Muslim)

Agama Islam berdiri di atas tiga landasan:

  1. Tunduk kepada Allah dengan cara mentauhidkan-Nya.
  2. Patuh kepada Allah dengan mentaatinya.
  3. Berlepas diri dari kesyirikan dan pelakunya.

Agama Islam juga terdiri dari tiga tingkatan, yaitu islam, iman, dan ihsan, di mana masing-masing tingkatan ini memiliki rukun-rukun tersendiri. Akan tetapi penulis hanya menyebutkan rukun-rukunnya tanpa memberikan penjelasan untuk masing-masing rukun tersebut secara rinci.

Pertama: Rukun Islam yaitu bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwasanya Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan haji ke Baitullah.

Kedua: Iman. Yaitu pembenaran yang kuat terhadap semua perintah-perintah Allah ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang disertai dengan ikrar lisan dan amal perbuatan, yang merupakan wujud dari Islam. Iman memiliki lebih dari tujuh puluh cabang. Yang tertinggi adalah ucapan laa ilaaha illallah dan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan.

Rukun iman ada enam perkara, yaitu: beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, serta takdir Allah yang baik maupun yang buruk.

Ketiga: Ihsan. Rukun ihsan hanya ada satu, yaitu engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Namun jika engkau tidak melihat-Nya sesungguhnya Dia melihatmu.

Penutup

Demikianlah sedikit pembahasan tentang pengenalan seorang hamba kepada Rabbnya, nabinya, dan agamanya. Puji syukur senantiasa kami panjatkan kepada Allah Ta’ala atas segala kemudahan yang telah Dia berikan hingga risalah ini bisa terselesaikan.

Sesungguhnya tidak ada yang sempurna kecuali Allah. Begitupun tulisan ini. Untuk itu, jika ditemukan banyak sekali kesalahan di dalamnya, maka hal itu muncul karena kebodohan penulis dan karena godaan setan yang terkutuk. Adapun yang baik maka semua itu datangnya dari Allah ‘azza wa jalla semata.

Risalah ini secara khusus adalah nasihat untuk diri pribadi penulis agar lebih bersemangat untuk mempelajari dan mendalami hal-hal yang berkaitan dengan tiga landasan yang telah dibahas sebelumnya. Semoga risalah ini pun bisa bermanfaat untuk yang membacanya.

Betapa indahnya do’a Nabi shallallahu’alaihi wasallam:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ يَا مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

Wahat Dzat yang membolak-balikan hati, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu. Wahat Dzat yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami untuk selalu taat kepada-Mu.”

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla menetapkan hati kita di atas agama-Nya dan kita dianugerahi nikmat menjadi hamba yang bisa mengenal-Nya, mengenal Nabi-Nya dan agama-Nya. Shalawat dan salam semoga Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarganya, para sahabat, serta mereka yang istiqamah di atas sunnah beliau hingga akhir zaman. Alhamdulillahi rabbil ‘alamiin.

***

Penulis: Ummu Rumman Verawaty Lihawa
Muroja’ah: Ust. Ammi Baits

Daftar Pustaka

  • Hushulul Ma’mul Bi Syarhi Tsalatsatil Ushuul, Syaikh Abdullah bin Shalih Al-Fauzan, Maktabah Ar-Rusydi, thn. 1430 H.
  • Mutiara Faidah Kitab At-Tauhid Syaikh At-Tamimi, Al-Ustadz Abu Isa Abdullah bin Salam, Pustaka Muslim, thn. 1428 H.
  • Syarh Al-Ushul Tsalatsah, Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan, Daarul Imam Ahmad, thn. 1427 H.
  • Syarh Tsalatsatil Ushul, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Daar Ats-Tsurayya, thn. 1426 H.
  • Tanbiihaat Al-Mukhtasharah Syarh Al-Wajibaat Al-Mutahattimaat Al-Ma’rifah ‘alaa Kulli Muslim wa Muslimah, Syaikh Ibrahim bin Asy-Syaikh Shalih bin Ahmad Al-Khuraishi, Daar Ash-Shuma’i, thn. 1468 H.

Sumber: https://muslimah.or.id/

.
Saudaraku Kenalilah Tuhanmu, Nabimu, dan Agamamu (bagian 3)

Saudaraku, Kenalilah Tuhanmu, Nabimu, dan Agamamu (Bagian 2)

Landasan Kedua: Mengenal Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam

Mengenal Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam termasuk suatu kewajiban setelah seorang hamba mengenal Allah subhanahu wa ta’ala. Para ulama mengatakan wajib karena Rasulullah menjadi perantara seorang hamba dengan Rabbnya. Karena hanya melalui Nabi, kita bisa mengetahui dan mengenal syari’at dan hukum-hukum yang telah Allah tetapkan. Bahkan seorang hamba tidak akan mengetahui bagaimana cara beribadah yang benar kepada Allah kecuali melalui wahyu yang Allah turunkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ibadah itu sendiri bisa diterima jika telah memenuhi dua syarat, yaitu ikhlas karena Allah ta’ala dan mengikuti sunnah Rasulullah.

Nama dan nasab beliau shallallahu ‘alaihi wasallam

Beliau adalah Muhammad Bin Abdullah Bin Abdul Muthalib Bin Hasyim. Hasyim berasal dari suku Quraisy dari Arab. Negeri Arab sendiri berasal dari keturunan nabi Isma’il bin Ibrahim Al-Khalil ‘alaihima as-salam.
Selain Muhammad, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memiliki banyak nama lain, sebagaimana sabda beliau shallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits yang diriwayatkan dari Jubair Bin Muth’im.

إِنَّ لِى أَسْمَاءً ، أَنَا مُحَمَّد ، وَأَنَا أَحْمَدُ ، وَأَنَا الْمَاحِى الَّذِى يَمْحُو اللَّهُ بِىَ الْكُفْرَ ، وَأَنَا الْحَاشِرُ الَّذِى يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى قَدَمِى ، وَأَنَا الْعَاقِبُ

“Sesungguhnya aku memiliki beberapa nama. Aku Muhammad dan aku Ahmad, aku Al-Maahi (sang penghapus) karena Allah menghapuskan kekafiran dengan diriku. Aku adalah Al-Haasyir karena manusia digiring ke hadapanku dan aku adalah Al-‘Aaqib (sang penghujung).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Al-‘Aaqib adalah yang tiada lagi nabi setelah beliau. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat yang lain di shahih Bukhari.
Nabi shallallahu’alaihi wasallam dilahirkan di Makkah dan tinggal di sana selama 53 tahun, sebelum dan sesudah diutus menjadi nabi. Kemudian hijrah ke Madinah dan menetap selama 10 tahun di sana sampai beliau wafat pada tahun 11 Hijriah.

Turunnya wahyu pertama dan pengangkatan beliau menjadi nabi

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diangkat menjadi nabi pada usia 40 tahun dengan diturunkannya wahyu pertama yaitu firman Allah:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, bacalah dan Tuhanmu-lah yang Maha Pemurah. Yang mengajarkan manusia dengan perantara qalam (pena). Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 1-5)
Beliau shallallahu ’alaihi wasallam kemudian diangkat menjadi rasul dengan turunnya wahyu,

أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ (1) قُمْ فَأَنْذِرْ (2) وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ (3) وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ (4) وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ (5) وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ (6) وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ (7)

Wahai orang yang berselimut, bangunlah lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak, dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu bersabarlah.” (QS. Al-Muddatstsir: 1-7)
Sejak saat itu mulailah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdakwah dimulai dari lingkungan keluarganya hingga akhirnya dakwah beliau tersebar di kalangan masyarakat kota Makkah.
Selaiknya tugas rasul-rasul sebelumnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun diutus dengan membawa ajaran tauhid yaitu untuk mengesakan Allah serta membawa syari’at-Nya yang mencakup melaksanakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Beliau juga diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam untuk mengeluarkan manusia dari gelapnya kemusyrikan, kekafiran dan kebodohan kepada cahaya ilmu, iman dan tauhid, sehingga mereka mendapatkan pengampunan dan keridhaan Allah, selamat dari siksa dan azab-Nya serta aman dari kemurkaan-Nya.

Wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam

Setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hijrah ke Madinah serta menyebarkan dakwah tauhid di sana selama 10 tahun, dan tatkala Allah menyempurnakan agama Islam dan mencukupkan nikmat-Nya kepada orang-orang mukmin, beliau akhirnya dipanggil menghadap Allah subhanahu wa ta’ala. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mulai sakit di akhir bulan Shafar dan awal bulan Rabi’ul Awwal.
Suatu hari beliau shallallahu ‘alaihi wasallam keluar ke hadapan para sahabat dalam keadaan kepala dibalut lalu beliau naik mimbar. Setelah membaca syahadat, yang pertama kali beliau ucapkan adalah istighfar dan memohonkan ampunan bagi para syuhada perang Uhud, kemudian beliau bersabda:

إِنَّ اللَّهَ خَيَّرَ عَبْدًا بَيْنَ الدُّنْيَا وَبَيْنَ مَا عِنْدَهُ ، فَاخْتَارَ مَا عِنْدَ اللَّهِ

Sesungguhnya ada seorang hamba dari hamba-hamba Allah disuruh memilih di antara dunia dan apa yang ada di sisi Allah, maka ia memilih apa yang ada di sisi Allah.”
Abu Bakar radhiyallahu ’anhu langsung memahami maksud ucapan beliau sehingga Abu Bakar pun menangis dan berkata, “Bapak dan ibuku sebagai tebusan, aku jadikan bapak kami, ibu kami, anak-anak kami, jiwa kami dan harta kami sebagai tebusanmu.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

يَا أَبَا بَكْرٍ لاَ تَبْكِ ، إِنَّ أَمَنَّ النَّاسِ عَلَىَّ فِى صُحْبَتِهِ وَمَالِهِ أَبُو بَكْرٍ ، وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا خَلِيلاً مِنْ أُمَّتِى لاَتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ ، وَلَكِنْ أُخُوَّةُ الإِسْلاَمِ وَمَوَدَّتُهُ

Jangan menangis wahai Abu Bakar!” Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya orang-orang yang paling terpercaya dalam persahabatan dan hartanya bagiku adalah Abu Bakar. Seandainya aku bisa mengambil kekasih selain Tuhanku, maka aku akan menjadikan Abu Bakar (sebagai kekasihku), tetapi ia adalah kekasih dan teman karib dalam Islam.” (HR. Bukhari).

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian memerintahkan Abu Bakar untuk shalat mengimami kaum muslimin. Dan pada hari Senin, dua belas atau tiga belas Rabi’ul Awwal tahun kesebelas hijriah, panggilan Allah pun tiba. Beliau akhirnya meninggal pada hari itu. Kaum muslimin pun dilanda kegoncangan dan kegelisahan.
Abu Bakar kemudian naik mimbar lalu memuji Allah dan berkhutbah,

مَنْ كَانَ مِنْكُمْ يَعْبُدُ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ مَاتَ وَمَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللَّهَ فَإِنَّ اللَّهَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ

“Barangsiapa yang menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah mati. Dan barangsiapa yang menyembah Allah maka sesungguhnya Allah selalu hidup, tidak mengalami kematian.” Kemudian Abu Bakar pun membacakan ayat,

{ وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ إِلَى الشَّاكِرِينَ }

Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)?”(QS. Ali Imran: 144)

إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ

Sesungguhnya kamu akan mati, dan sesungguhnya mereka akan mati pula.” (QS. Az-Zumar: 30)
Maka tangis kaum muslimin semakin menjadi-jadi, karena mereka sadar bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wasallam benar-benar telah meninggal dunia. Jenazah beliau kemudian dimandikan bersama pakaian yang beliau kenakan untuk menghormatinya. Kemudian dikafani dengan tiga helai kain kafan putih suhuli tanpa disertakan di dalamnya baju dan sorbannya.

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dishalatkan tanpa imam dan dikuburkan pada hari Rabu setelah selesai pemilihan khalifah sebagai pengganti beliau. Semoga shalawat dan salam dari Allah tercurah kepada beliau.

bersambung insyaallah

***
muslimah.or.id
Penulis: Ummu Rumman Verawaty Lihawa
Muroja’ah: Ust. Ammi Baits

Daftar Pustaka

  • Hushulul Ma’mul Bi Syarhi Tsalatsatil Ushuul, Syaikh Abdullah bin Shalih Al-Fauzan, Maktabah Ar-Rusydi, thn. 1430 H.
  • Mutiara Faidah Kitab At-Tauhid Syaikh At-Tamimi, Al-Ustadz Abu Isa Abdullah bin Salam, Pustaka Muslim, thn. 1428 H.
  • Syarh Al-Ushul Tsalatsah, Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan, Daarul Imam Ahmad, thn. 1427 H.
  • Syarh Tsalatsatil Ushul, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Daar Ats-Tsurayya, thn. 1426 H.
  • Tanbiihaat Al-Mukhtasharah Syarh Al-Wajibaat Al-Mutahattimaat Al-Ma’rifah ‘alaa Kulli Muslim wa Muslimah, Syaikh Ibrahim bin Asy-Syaikh Shalih bin Ahmad Al-Khuraishi, Daar Ash-Shuma’i, thn. 1468 H.

Baca selengkapnya https://muslimah.or.id/2553-saudariku-kenalilah-tuhanmu-nabimu-dan-agamamu-2.html

Saudaraku.. Kenalilah Tuhanmu, Nabimu, dan Agamamu

Saudaraku.. Kenalilah Tuhanmu, Nabimu, dan Agamamu

Sebagian besar kaum muslimin mungkin tidak asing dengan pembahasan mengenai ‘Siapa Tuhanmu? Siapa Nabimu? Apa Agamamu?’ Banyak kajian-kajian keislaman yang selalu membahas masalah ini, karena ketiganya adalah tiga perkara pokok yang akan ditanyakan kepada seorang hamba ketika di alam kubur nanti. Barang siapa yang selamat darinya maka selamatlah dia dari siksa kubur. Namun bila tidak mampu menjawabnya, maka siksa kubur pun menantinya. Termasuk di manakah kita?

Mengetahui Tiga Landasan Pokok

Mengenal Allah, Nabi-Nya, dan agama Islam adalah tiga landasan pokok yang wajib diketahui seorang hamba. Jika seseorang mengetahui tiga hal ini serta melaksanakan segala konsekuensinya maka baginya keselamatan di dunia dan di akhirat kelak. Mengapa ini penting bagi seorang hamba? Sebab seorang hamba ketika di alam kubur akan ditanya, “siapa Rabbmu? siapa nabimu? dan apa agamamu?” Jika dia diberi taufik untuk menjawab tiga perkara di atas maka selamatlah dia dari siksa kubur di mana hal tersebut menjadi indikator keselamatannya di akhirat. Begitu pun sebaliknya, seorang hamba yang tidak bisa menjawab tiga perkara tersebut maka sengsaralah nasibnya di akhirat kelak. Wal-‘iyadzubillah.

Dalam pembahasan ini penulis hanya akan menyampaikan secara global masalah tiga landasan utama tanpa menjelaskannya secara terperinci. Berikut ini penjelasan ketiga landasan tersebut.

Landasan Pertama: Mengenal Allah Sebagai Rabb

Secara bahasa, kata Ar-Rabb bermakna pemelihara. Dari kata Ar-Rabb ini terkandung beberapa makna yang lain semisal Al-Malik (penguasa), Al-Mudabbir (pengatur), Al-Mutasharrif (pengatur)dan Al-Muta’ahhid (pemelihara). Penulis kitab Ushul Tsalatsah, Syaikh Muhammad At-Tamimi lebih memilih makna Ar-Rabb sebagai pemelihara. Sebagaimana beliau nyatakan dalam kitab beliau

ربي الله الذي رباني، وربى جميع العالمين بنعمه

“Rabbku adalah Allah yang memeliharaku dan memelihara seluruh alam semesta dengan nikmat-Nya…”

Kata Ar-Rabb juga bermakna ma’bud (sesembahan). Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai manusia, sembahlah Rabb-mu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.” QS. Al-Baqarah: 21)

Mengenai makna Rabb dari ayat di atas, Imam Ibnu Katsir mengatakan:

الخالقُ لهذه الأشياء هو المُسْتَحِقُّ للعبادةِ

“Sang Pencipta segala sesuatu adalah Dzat yang berhak disembah.” Hal ini selaras dengan tujuan diutusnya para Rasul yaitu untuk menyeru kaumnya agar hanya menyembah Allah saja dan tidak menyembah selain-Nya, sebagaimana yang difirmankan Allah ta’ala:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap ummat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu’” (QS. An-Nahl: 36)

Mengapa penting bagi kita untuk mengenal Allah sebagai Rabb? Seorang hamba harus mengenal Rabbnya yang Maha Suci lagi Maha Tinggi yang diperoleh melalui kitab-Nya dan sunnah Rasul-Nya, baik itu berupa keesaan, nama-nama, maupun sifat-sifat-Nya. Dia adalah Rabb dari segala sesuatu dan Penguasanya, tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Dia dan tidak ada Rabb yang berhak diibadahi, melainkan Dia semata. Oleh karena itu kita wajib mengetahuinya agar kita benar-benar bisa mengabdi kepada-Nya dan dengan pengetahuan yang benar.

Adapun mengenal Allah bisa ditempuh dengan memperhatikan ayat-ayat-Nya dan makhluk-makhluk-Nya. Dari segi bahasa al-aayah [arab: الأية ] memiliki banyak arti, di antaranya bermakna burhan [arab: برهان ] (keterangan) dan dalil. Ayat Allah sendiri dibagi dua macam:

1. Ayat-ayat syar’iyyah: maksudnya adalah wahyu yang dibawa para rasul, yang demikian itu adalah ayat-ayat Allah. Allah ta’ala berfirman:

هُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ عَلَى عَبْدِهِ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ

Dialah yang menurunkan kepada hamba-Nya ayat-ayat yang terang (Al-Qur’an)” (QS. Al-Hadid: 9)

Bagaimana wahyu bisa dijadikan dalil tentang keberadaannya Allah subhanahu wa ta’ala? Alasannya karena wahyu yang dibawa para rasul adalah wahyu yang sudah tersusun rapi dan sempurna serta tidak saling berlawanan. Allah menegaskan hal ini dalam Al-Qur’anul Karim:

وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

Kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapatkan adanya pertentangan yang banyak di dalamnya” (QS. An-Nisa’: 82)

Dengan demikian jelaslah bahwa Al-Qur’anul Karim merupakan dalil tentang adanya Rabb yang Maha Agung.

2. Ayat-ayat kauniyah: yaitu para makhluk, seperti langit, bumi, manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan lain-lain.

Memahami Tauhid Sebagai Perintah Allah Terbesar

Berkaitan dengan wajibnya seorang hamba mengenal Allah—yakni untuk bisa benar-benar beribadah dengan pemahaman yang benar—maka seorang hamba pun harus mengetahui ibadah apa yang sangat diperintahkan Allah ta’ala kepada hamba-Nya. Perkara tersebut adalah tauhid.

Syaikh At-Tamimi, penulis kitab Ushul Tsalatsah, mendefinisikan tauhid sebagai pengesaan Allah dalah hal ibadah. Makna tauhid sendiri secara umum adalah pengesaan Allah dalam rububiyah, uluhiyah, dan nama serta sifat-sifat Allah. Untuk itu sebagian ulama membagi tauhid menjadi tiga macam, yaitu tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah, dan tauhid asma’ wa shifat. Adapun penjelasan masing-masingnya adalah sebagai berikut:

  1. Tauhid rububiyah adalah keyakinan tentang keesaan Allah dalam perbuatan-perbuatan-Nya. Yaitu meyakini bahwa Allah Ta’ala sebagai satu-satunya Pencipta seluruh makhluk, Penguasa dan Pengatur segala urusan alam, Yang memuliakan dan menghinakan, Yang menghidupkan dan mematikan, Yang menjalankan malam dan siang, serta Yang maha kuasa atas segala sesuatu.
    Dengan demikian, tauhid rububiyah mencakup keimanan kepada tiga hal, yaitu: (1) beriman kepada perbuatan-perbuatan Allah Ta’ala secara umum, seperti menciptakan, memberikan rizki, menghidupkan, mematikan, dan lain-lain; (2) beriman kepada qadha dan qadar Allah Ta’ala; (3) beriman kepada keesaan Dzat-Nya.
  2. Tauhid uluhiyah adalah mengesakan Allah Ta’ala dalam tujuan perbuatan-perbuatan hamba yang dilakukan dalam rangka taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah. Seperti, berdo’a, bernadzar, menyembelih kurban, bertawakkal, bertaubat, dan lain-lain.
    Kemurnian tauhid uluhiyah hanya akan diperoleh dengan mewujudkan dua hal mendasar, yaitu: (1) seluruh ibadah hanya diperuntukkan kepada Allah Ta’ala saja, bukan kepada yang lainnya; (2) dalam pelaksanaan ibadah tersebut harus sesuai dengan syari’at Allah Ta’ala.
  3. Tauhid asma’ wa shifat adalah keyakinan tentang keesaan Allah dalam hal nama dan sifat-Nya yang terdapat di Al-Qur’an dan As-Sunnah, disertai dengan meingimani makna-makna dan hukum-hukumnya (konsekuens-konsekuensinya).
    Adapun hal-hal yang harus diperhatikan dalam tauhid asma’ wa shifat adalah sebagai berikut: (1) Harus menetapkan semua nama dan sifat Allah Ta’ala, tidak menafikan (meniadakan) dan tidak pula menolaknya; (2) tidak boleh melampaui batas dengan menamai dan mensifati Allah Ta’ala di luar nama dan sifat yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya; (3) tidak menyerupakan nama dan sifat Allah Ta’ala dengan nama dan sifat para makhluk-Nya; (4) tidak boleh (dan tidak memungkinkan) untuk mencari tahu kaifiyah (bagaimananya) dari sifat-sifat Allah tersebut; (5) beribadah kepada Allah Ta’ala sesuai dengan konsekuensi nama dan sifat-Nya.

Keimanan seseorang kepada Allah Ta’ala tidak akan utuh sehingga berkumpul pada diri-Nya ketiga macam tauhid di atas. Tauhid rububiyah seseorang tidak akan berguna sehingga dia ber-tauhid uluhiyah. Sedangkan tauhid uluhiyah seseorang tidak akan lurus sehingga dia bertauhid asma’ wa shifat. Singkatnya, mengenal Allah Ta’ala saja tidaklah cukup kecuali seseorang tersebut benar-benar beribadah hanya kepada-Nya. Sedangkan beribadah kepada Allah Ta’ala tidak akan terwujud dengan benar tanpa mengenal Allah Ta’ala.

bersambung insyaallah

***

Penulis: Ummu Rumman Verawaty Lihawa
Muroja’ah: Ust. Ammi Baits

Daftar Pustaka

  • Hushulul Ma’mul Bi Syarhi Tsalatsatil Ushuul, Syaikh Abdullah bin Shalih Al-Fauzan, Maktabah Ar-Rusydi, thn. 1430 H.
  • Mutiara Faidah Kitab At-Tauhid Syaikh At-Tamimi, Al-Ustadz Abu Isa Abdullah bin Salam, Pustaka Muslim, thn. 1428 H.
  • Syarh Al-Ushul Tsalatsah, Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan, Daarul Imam Ahmad, thn. 1427 H.
  • Syarh Tsalatsatil Ushul, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Daar Ats-Tsurayya, thn. 1426 H.
  • Tanbiihaat Al-Mukhtasharah Syarh Al-Wajibaat Al-Mutahattimaat Al-Ma’rifah ‘alaa Kulli Muslim wa Muslimah, Syaikh Ibrahim bin Asy-Syaikh Shalih bin Ahmad Al-Khuraishi, Daar Ash-Shuma’i, thn. 1468 H.

Sumber: https://muslimah.or.id/

.
Ngidam dalam Tinjauan Islam

Ngidam dalam Tinjauan Islam

Penjelasan Syaikh Muhammad Ali Farkus:

Ngidam (al-wahmu) sudah dikenal secara bahasa, yaitu sesuatu yang diinginkan oleh wanita yang sedang hamil. sebagaimana yang disebutkan al-Jauhari dalam kitab as-Shihah (5:2049), Ibn Atsir dalam an-Nihayah (5:162), dan Ibn Faris dalam Maqayis al-Lughah (6:93) serta beberapa pakar bahasa lainnya.

Akan tetapi, anggapan yang banyak tersebar di masyarakat kita saat ini bahwa wanita hamil yang menginginkan sesuatu, jika tidak dipenuhi keinginannya maka nantinya akan keluar bentuk tertentu dari badan anak yang dilahirkan sesuai dengan yang diinginkan ibunya, (atau anak ini akan menjadi anak yang kurang normal, karena suka mengeluarkan liur). Terkait keyakinan ini, saya belum mengetahui adanya keterangan apapun dalam syariat tentang hakekat ‘bentuk sesuatu yang keluar dari badan bayi’ sebagaimana yang disampaikan. demikian pula saya tidak tahu kebenaran anggapan ini melalui informasi yang sampai kepada saya.

Hanya saja, hal ini terkenal di kalangan para wanita. apabila kita menerima anggapan ini, bahwa jika tidak memenuhi keinginan wanita itu akan menimbulkan dampak buruk maka kita wajib mencegah terjadinya dampak buruk semacam ini, dengan berusaha mewujudkan apa yang diinginkan wanita hamil. ini dalam rangka mengamalkan kaidah:

“Menolak dampak buruk itu lebih diutamakan dari pada mewujudkan satu kemaslahatan.”

Akan tetapi, jika hal ini tidak memberikan dampat buruk maka tidak boleh kita nyatakan hukumnya wajib untuk memenuhi keinginan wanita yang ngidam, selain sebatas untuk mewujudkan rasa kasih sayang antar-suami istri. karena jika hal ini wajib, tentu akan ada dalil yang menjelaskannya dan tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan memberikan penjelasan yang jelas karena keterangan semacam ini dibutuhkan dan termasuk perkara yang tersebar di masyarakat. Sementara segala sesuatu yang menimbulkan dampak buruk kepada hamba, pasti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mengingatkannya. Karena beliau adalah orang yang telah menunaikan amanah dan menyampaikan risalah… (40 Sualan fi Ahkam al-Maulud, hal. 102 – 103).

Penjelasan Syaikh Munajid

Alhamdulillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah…

Pertama, ‘ngidam’ yang dialami oleh wanita yang sedang hamil, terutama di awal kehamilan merupakan fenomena yang diakui secara kedokteran, sebagai salah satu dampak kehamilan…. umumnya wanita yang hamil memiliki tabiat yang aneh di masa awal kehamilannya. Ada yang begitu suka dengan suami dan bau suami, dan ada yang sebaliknya, ada yang suka makan es, bahkan ada yang suka makan arang! Dan kondisi psikologis yang aneh lainnya, yang tidak mungkin bisa disebutkan semuanya… karena itu, selayaknya anggota keluarga memperhatikan keadaan orang hamil yang sedang ngidam, dengan berusaha meminimalisir segala kemungkinan yang akan menimbulkan masalah yang lebih besar.

Kasus ngidam yang terjadi pada wanita hamil ini telah membingungkan ahli medis. Ada berbagai macam komentar dan pendapat yang mereka sampaikan. Mereka kesulitan memahami fenomena semacam ini. Ada sebagian pakar kedokteran yang mnyebutkan bahwa diantara terapi yang mungkin bisa dilakukan adalah menghindari terlalu banyak berpikir atau menginginkan sesuatu.

Apapun itu, ngidam adalah perkara yang hakiki, dan tidak bisa diingkari hal ini terjadi pada kehidupan wanita hamil, juga tidak dinafikan secara medis. Karena itu, bagi anggota keluarga hendaknya memberikan penanganan yang sesuai untuk wanita hamil, dengan catatan, jangan sampai mengizinkan untuk makan makanan yang haram atau yang membahayakan, seperti arang, rambut. Kemudian bisa diarahkan untuk mengkonsumsi makanan yang lain, atau diarahkan untuk bisa dekat dengan suaminya dan anak-anaknya. Karena banyak terjadi perceraian di awal kehamilan, sebabnya adalah suami tidak memahami kondisi istrinya yang sedang ngidam atau tidak mampu memberikan penanganan yang sesuai bagi wanita ngidam.

Kedua, hal terbaik yang bisa kami nasehatkan untuk dijadikan terapi kondisi psikologis bagi wanita ngidam adalah al-Quran. Allah menjadikan al-Quran sebagai petunjuk dan obat. Allah berfirman:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآَنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَاراً

“Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman” (QS. Al-Isra’: 82)

Syaikh as-Sinqithi mengatakan:

Firman Allah dalam ayat ini : [مَا هُوَ شِفَآءٌ ] “menjadi obat”, mencakup semua fungsi obat, baik bagi penyakit hati, seperti keraguan, kemunafikan, dan yang lainnya, maupun untuk badan, dalam bentuk ruqyah. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat yang shahih tentang sahabat yang meruqyah orang yang tersengat binatang berbisa dengan membacakan surat al-Fatihah. (Adhwaul Bayan, 3: 253)

Allahu a’lam

Sumber: http://www.islamqa.com/ar/ref/108533/%D9%88%D8%AD%D9%85

Beberapa catatan penting yang bisa kita simpulkan dari dua keterangan di atas:

    1. Ngidam bagi wanita hamil bukan hayalan, bukan khurafat, bukan sekedar sugesti, tapi ada dan terbukti secara kenyataan.
    2. Proses ngidam diakui secara kedokteran sebagai reaksi dari awal kehamilan. Hanya saja, untuk sementara ini belum ada kesimpulan yang bisa dijadikan acuan untuk memahami hakekat ngidam.
    3. Islam tidaklah menolak realita. Meskipun tidak terdapat keterangan dari syariat tentang ngidam, bukan berarti bahwa islam menganggap hal itu tidak ada. Dengan demikian, meyakini kebenaran dan keberadaan ‘ngidam’ bukan keyakinan khurafat tanpa dasar. Karena itu, meyakini adanya ngidam tidak termasuk penyimpangan dalam pemahaman.
    4. Mengakaitkan ngidam dengan keinginan jabang bayi atau meyakini adanya dampak yang timbul ketika ngidam tidak dipenuhi, adalah anggapan yang perlu dikritisi. Karena kita tidak boleh meyakini sesuatu tanpa dasar. Meyakini sesuatu tanpa dasar, baik secara syariat, realita, mapun bukti ilmiyah adalah keyakinan khurafat yang terlarang.
    5. Yang lebih penting, hendaknya pihak keluarga, terutama suami memberikan perhatian yang terbaik untuk wanita yang sedang hamil. Terutama pada masa ngidam. Sikap cuek, tidak peduli, tidak perhatian, bisa jadi justru akan menimbulkan masalah baru.
    6. Kita yakin bahwa setan tidak tinggal diam dalam hal ini, mengingat semangat mereka untuk membinasakan anak Adam. Karena itu, bisa jadi ada wanita ngidam untuk hal yang bertolak belakang dengan syariat, seperti ingin makan makanan yang haram atau makanan yang berbahaya. Kewajiban keluarga adalah melarangnya dan tidak boleh dipenuhi. Sebagai solusi bisa diganti dengan sesuatu yang halal.
    7. Ngidam benci suami. Ini satu hal yang tidak diingkari. Karena itu, hendaknya masing-masing berusaha saling memahami dan mencari solusi terbaik.

Syaikh Muhammad al-Munajid ditanya wanita yang sangat benci anaknya ketika ngidam. Baliau mengatakan:

“Kami tidak heran dengan apa yang terjadi pada ibu terhadap putrinya. Karena itu, selayaknya pihak keluarga memberikan perhatian dan memberikan solusi yang tidak menimbulkan masalah bagi ibu atau menyebabkan hilangnya kasih sayang kepada putrinya atau si ibu menyakiti putrinya. Karena itu, sebagai solusi hendaknya keluarga mencarikan tempat yang sesuai untuk putrinya, selama masa ngidam ibunya.” (islamqa.com)

  1. Terapi dan pengobatan secara syar’i adalah dengan ruqyah.

Allahu a’lam

***
Sumber: muslimah.or.id
penyusun: Ustadz Ammi Nur Baits

.
Pembinaan Aqidah untuk Buah Hati

Pembinaan Aqidah untuk Buah Hati

Aqidah Islamiyah dengan enam pokok keimanan, yaitu beriman kepada Allah ‘azza wa jalla, para malaikatnya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, beriman kepada hari akhir dan beriman kepada qadha’ dan qadar yang baik maupun buruk, mempunyai keunikan bahwa kesemuanya itu merupakan perkara yang ghaib.

Seseorang akan menghadapi kebingungan bagaimana ia mesti menyampaikannya kepada anak dan bagaimana pula anak bisa berinteraksi dengan itu semua ? bagaimana cara menjelasakan dan memaparkannya? Di hadapan pertanyaan ini atau pertanyaan sejenis lainnya, kedua orangtua bisa kelabakan dan mencari tahu bagaimana caranya. Akan tetapi melalui penelaahan terhadap cara Nabi shalallahu’alaihi wassalam dalam bergaul dengan anak-anak, kita temukan ada lima pilar mendasar di dalam menananmkan aqidah ini.

1. Pendiktean kalimat tauhid kepada anak.

2. Mencintai Allah dan merasa diawasi oleh-Nya, memohon pertolongan kepadaNya, serta beriman kepada qadha’ dan qadar.

3. Mencintai Nabi dan keluarga beliau.

4. Mengajarkan Al-Qur’an kepada anak.

5. Menanamkan aqidah yang kuat dan kerelaan berkorban karenanya.

Pendiktean kalimat tauhid kepada anak

Dari ibnu ‘Abbas bahwa Nabi shalallahu’alaihi wassalam bersabda, “Ajarkan kalimat laailaha illallah kepada anak-anak kalian sebagai kalimat pertama dan tuntunkanlah mereka mengucapkan kalimat laa ilaha illallah ketika menjelang mati.” (HR. Hakim)

Abdurrazaq meriwayatkan bahwa para sahabat menyukai untuk mengajarkan kepada anak-anak mereka kalimat laa ilaha illallah sebagai kalimat yang pertama kali bisa mereka ucapkan secara fasih sampai tujuh kali, sehingga kalimat ini menjadi yang pertama-tama mereka ucapkan.

Ibnu Qayyim dalam kitab Ahkam Al-Maulud mengatakan, “Diawal waktu ketika anak-anak mulai bisa bicara, hendaknya mendiktekan kepada mereka kalimat laa ilaha illa llah muhammadurrasulullah, dan hendaknya sesuatu yang pertama kali didengar oleh telinga mereka adalah laa ilaha illallah (mengenal Allah) dan mentauhidkan-Nya. Juga diajarkan kepada mereka bahwa Allah bersemayam di atas singgasana-Nya yang senantiasa melihat dan mendengar perkataaan mereka, senantiasa bersama mereka dimanapun mereka berada.”

Oleh karena itu, wasiat Nabi shalallahu’alaihi wassalam kepada Mu’adz radhiyallahu’anhu sebagimanan yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Majah dan Bukhari dalam Adabul Mufrad, adalah, “Nafkahkanlah keluargamu sesuai dengan kemampuanmu. Janganlah kamu angkat tongkatmu di hadapan mereka dan tanamkanlah kepada mereka rasa takut kepada Allah.”

Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam sejak pertama kali mendapatkan risalah tidak pernah mengecualikan anak-anak dari target dakwah beliau. Beliau berangkat menemui Ali bin Ab Thalib yang ketika itu usianya belum genap sepuluh tahun. Beliu shalallahu’alaihi wassalam mengajaknya untuk beriman, yang akhirnya ajakan itu dipenuhinya. Ali bahkan menemani beliau dalam melaksanakan shalat secara sembunyi-sembunyi di lembah Mekkah sehingga tidak diketahui oleh keluarga dan ayahnya sekalipun.

Orang yang pertama-tama masuk Islam dari kalangan budak yang dimerdekakan adalah Zaid bin Haritsah. Di bawa oleh paman Khadijah, yaitu Hakim bin Hizam dari Syam sebagai tawanan, lalu ia diambil sebagai pembantu oleh Khadijah. Rasulullah kemudian memintanya dari Khadijah lalu memerdekakannya dan mengadopsinya sebagai anak dan mendidiknya ditengah-tengah mereka.

Demikianlah Rasulullah memulai dakwah beliau yang baru dalam menegakkan masyarakat Islam yang baru dengan memfokuskan perhatian terhadap anak-anak dengan cara memberikan proteksi dengan menyeru dan dengan mendo’akan sehingga akhirnya si anak ini (Ali bin Abi Thalib) kelak memperoleh kemuliaan sebagai tameng Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam dengan tidur di rumah beliau pada malam hijrah ke Madinah.

Ini merupakan buah pendidikan yang ditanamkan nabi kepada anak-anak yang sedang tumbuh berkembang agar menjadi pemimpin-pemimpin dimasa depan dan menjadi pendiri masyarakat Islam yang baru.

***

Diambil dari : Mendidik Anak Bersama Nabi, Muhammad Suwaid, Pustaka Arafah.

Sumber: https://muslimah.or.id/

.