Awas Setan Mengintai Rumah Anda

Awas Setan Mengintai Rumah Anda

Bismillah… Segala puji bagi Allah, sholawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah beserta keluarga, sahabat dan mereka yang membelanya… amma ba’du:

Yang akan kami sebutkan di sini adalah sebagian dari cara-cara yang sesuai dengan Syariat Islam, untuk membentengi rumah dan penghuninya dari gangguan setan, semoga  Alloh menjaga kita dari kejahatan dan tipu dayanya.

Berdoa ketika hendak masuk rumah dan makan

Diriwayatkan dari sahabat Jabir, ia mendengar Nabi -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Apabila seseorang hendak memasuki rumah, kemudian ia berdoa ketika masuk rumah dan berdoa ketika makan, maka setan mengatakan: ‘tidak ada tempat menginap dan makan malam untuk kalian’. Sebaliknya apabila ia memasuki rumah tanpa doa, maka setan mengatakan: ‘Ada tempat menginap bagi kalian’ , begitu pula apabila ia tidak do’a ketika makan malam, maka setan mengatakan: ‘Tersedian tempat menginap dan ada jatah makan malam untuk kalian”. (HR. Muslim)

Berdoa ketika masuk toilet

Sahabat anas berkata: dahulu Nabi –shollallohu alaihi wasallam– ketika hendak masuk toilet membaca doa:

“اللهم إني أعوذبك من الخبث والخبائث”

Artinya: semoga Alloh melindungiku dari setan laki-laki dan setan perempuan (Muttafaqun Alaih).

Membersihkan rumah dari anjing dan gambar

Diriwayatkan dari sahabat abu tholhah, bahwa Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Malaikat tidak akan masuk rumah yang ada anjing dan gambarnya. (Muttafaqun Alaih)

Nabi -shollallohu alaihi wasallam- juga bersabda: “Anjing hitam adalah setan” (HR. Muslim)

Akan tetapi ada keringanan untuk anjing pemburu dan anjing penjaga, sebagaimana sabda Rasululloh -shollallohu alaihi wasallam- : “Barangsiapa memelihara anjing –kecuali anjing pemburu dan anjing penjaga- maka pahalanya akan berkurang dua qiroth setiap harinya” (Muttafaqun Alaih)

Membersihkan rumah dari salib

Siti Aisyah mengatakan: “Nabi -shollallohu alaihi wasallam- tidak pernah membiarkan ada salib di dalam rumahnya, kecuali beliau merusaknya” (HR. Bukhori)

Membersihkan rumah dari lonceng

Lonceng di sini mencakup bel yang berbau musik, ataupun bel yang suaranya mirip lonceng gereja, karena Rasul -shollallohu alaihi wasallam- mensabdakan: “Lonceng adalah alunan setan” (HR. Muslim)

Menjauhkan rumah dari musik dan lagu

Lagu adalah suara dan alunan setan, Alloh ta’ala berfirman (ketika menyuruh setan) : “Perdayakanlah siapa saja -diantara mereka- yang kau (iblis) sanggupi dengan suaramu (yang memukau)” (al-Isro’:64)

Mujahid menerangkan bahwa yang dimaksud dengan suara setan di ayat ini adalah hiburan dan lagu.

Alloh ta’ala juga berfirman –yang artinya- : Diantara manusia (ada) orang yang mempergunakan lahwul hadits (perkataan kosong) untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah” (Luqman: 6) sahabat Ibnu Mas’ud mengatakan: maksud dari lahwul hadits adalah nyanyian

Membersihkan rumah dari gambar

Sebagaimana sabda Rasul -shollallohu alaihi wasallam- : “Para malaikat tidak akan masuk rumah yang ada gambarnya”. (HR. Muslim).

Menutup pintu, menutup wadah, dan memadamkan lentera.

Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Jabir ra: Rasululloh -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Tutuplah pintu-pintu, dan sebutlah nama Alloh, karena sesungguhnya setan tidak akan membuka pintu yang tertutup. Balikkanlah tempayan-tempayanmu dan sebutlah nama Alloh! tutuplah wadah-wadahmu dan sebutlah nama Alloh! agar tidak dimasukan apa-apa padanya, serta padamkanlah lentera-lenteramu!”. (HR. Muslim)

Memadamkan api sebelum tidur

Sebagaimana sabda Nabi -shollallohu alaihi wasallam- : “Jangan biarkan api menyala di rumah, ketika kalian sedang tidur!” (Muttafaqun Alaih)

Jangan tidur sampai pagi! (tapi bangunlah untuk sholat malam!)

Sahabat Ibnu Mas’ud t berkata: Nabi -shollallohu alaihi wasallam- pernah dilapori ada orang yang tidur malam sampai pagi (sehingga tidak sholat malam), maka beliau bersabda: “Itu adalah orang yang dikebiri setan di kedua telinganya” (Muttafaqun Alaih)

Jangan biarkan setan anda menjadi gemuk

Yaitu dengan menyia-nyiakan nikmat dan membuang makanan di sampah, karena sahabat Jabir  meriwayatkan bahwa Nabi -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Apabila suapanmu jatuh maka ambillah, singkirkan kotoran yang ada padanya kemudian makanlah, jangan sampai ia sisakan untuk makanan setan” (HR. Muslim)

Sholat sebagai pelindung dari gangguan setan

Sholat tersebut adalah sholat shubuh, karena sabda Rosul -shollallohu alaihi wasallam- : “Barangsiapa sholat shubuh maka ia dalam jaminan Alloh, maka jangan sampai Alloh menuntutmu karena kamu meninggalkan kewajiban! karena barangsiapa yang demikian, niscaya Alloh akan menemukannya dan menyungkurkan wajahnya ke dalam neraka jahannam.” (HR. Muslim)

Surat al-Baqoroh bisa mengusir setan dari rumah

Surat ini merupakan benteng yang kuat untuk mengusir setan dari rumah, sebagaimana keterangan Nabi -shollallohu alaihi wasallam- dalam sabdanya: “Janganlah kalian jadikan rumah-rumahmu seperti kuburan, karena sesungguhnya setan akan lari dari rumah yang dibacakan surat Al-baqoroh di dalamnya.” (HR. Muslim)

Rosul -shollallohu alaihi wasallam- juga bersabda: “Sesungguhnya Alloh taala telah menulis kitab-Nya sejak 2000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi, dan menurunkan dengannya dua ayat yang menjadi penutup surat Albaqoroh. Rumah yang dibacakan dua ayat tersebut tidak akan didekati oleh setan selama tiga hari.” (HR. Hakim, ia menshohihkannya dan disepakati oleh adz-dzahaby)

Membaca Ayat Kursi sebelum tidur

Barangsiapa yang membacanya (sebelum tidur) akan selalu dalam penjagaan malaikat Alloh, dan setan tidak akan mendekatinya hingga pagi tiba. (HR. Bukhori)

Perisai waktu petang

Sahabat Abu Hurairah meriwayatkan: “Pernah ada orang mendatangi Nabi -shollallohu alaihi wasallam- untuk mengadu: Wahai Rosululloh! tadi malam aku disengat kalajengking! Beliau menjawab: “Seandainya kamu di waktu sore membaca:

أعوذ بكلمات الله التامات من شر ما خلق

(aku berlindung dengan kalimat-kalimat Alloh yang sempurna dari segala keburukan yang ada) maka itu tidak akan membahayakanmu. (HR. Muslim)

Selesai di madinah, 20 11 08.
Alih bahasa oleh: Abu Abdillah Musyaffa’ Addariny
Tulisan asal oleh: bagian riset ilmiah Madarul Wathon
Mengajarkan Akidah Sejak Dini

Mengajarkan Akidah Sejak Dini

Alqamah rahimahullah berkata, “Segala sesuatu yang kuhafal sejak aku masih belia, maka sekarang seakan-akan aku melihatnya di atas kertas atau lembaran catatan.” (Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlih, I/30)

Usia dini adalah saat terpenting untuk penanaman pondasi akidah karena saat itu fitrah anak masih bersih. Ibarat memahat di atas kayu, begitulah saat mengajarkan ilmu di usia belia. Inilah tanggung jawab ayah ibu dan para guru agar anak tumbuh di atas fitrah yang lurus.

Akidah merupakan kunci kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Para nabi dan rasul pun telah menyeru kepada anak pada akidah yang lurus dengan menanamkan pemahaman akidah sejak dini.

Firman Allah,

وَوَصَّىٰ بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”.” (QS. Al-Baqarah : 132)

Jadi, akidah Islam adalah perkara yang wajib diajarkan terlebih dahulu.

Banyak faidah yang akan dirasakan​ anak ketika memiliki akidah shahihah. Ia akan terbiasa tawaduk dan selalu meminta pertolongan​ hanya kepada Allah terutama saat mengalami kesulitan. Ia akan menyandarkan kesuksesan dan kebahagiaan hidup dengan selalu bersyukur kepada Allah Ta’ala. Ia akan mampu menerima segala kejadian yang menimpanya, yang menyenangkan maupun sebaliknya karena semua adalah kehendak-takdir-Nya.

Ubaidah bin Shamit berkata kepada putranya,

يَا بُنَيَّ إِنَّكَ لَنْ تَجِدَ طَعْمَ حَقِيقَةِ الْإِيمَانِ حَتَّى تَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَمَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ فَقَالَ لَهُ اكْتُبْ قَالَ رَبِّ وَمَاذَا أَكْتُبُ قَالَ اكْتُبْ مَقَادِيرَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ يَا بُنَيَّ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ مَاتَ عَلَى غَيْرِ هَذَا فَلَيْسَ مِنِّي

“Wahai anakku, sesungguhnya engkau tidak akan dapat merasakan lezatnya iman hingga engkau bisa memahami bahwa apa yang ditakdirkan menjadi bagianmu tidak akan meleset darimu, dan apa yang tidak ditakdirkan untuk menjadi bagianmu tidak akan engkau dapatkan. Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Pertama kali yang Allah ciptakan adalah pena, lalu Allah berfirman kepadanya: “Tulislah!” pena itu menjawab, “Wahai Rabb, apa yang harus aku tulis?” Allah menjawab: “Tulislah semua takdir yang akan terjadi hingga datangnya hari kiamat.” Wahai anakku, aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa meninggal tidak di atas keyakinan seperti ini maka ia bukan dari golonganku.” (HR. Abu Dawud, Kitabus Sunnah, no. 4078, di-hasan-kan oleh Syu’aib al-Arnauth dalam Takhrij Sunah Abi Dawud no.4700)

Dengan landasan akidah yang kokoh di atas Al-Qur`an dan al-hadits, insya allah anak akan terjaga dan senantiasa dalam lindungan Allah. Praktik pengukuhan akidah perlu terus menerus dibiasakan agar anak merasakan manfaatnya dengan menjauhkan kisah-kisah atau cerita yang menodai ke-shahih-an akidah, termasuk film atau game yang menyimpang. Seperti halnya dalam tayangan-tayangan tersebut terdapat permohonan kepada dewa-dewa, peri, atau sosok lain yang dianggap memiliki kekeuatan layaknya Tuhan. Tak kalah pentingnya, menjauhkan anak dari pengaruh teman buruk agar fitrah anak tak tercemar. Maka tak sepantasnya para orang tua atau pendidik menakut-nakuti anak dengan hal-hal tahayul dan perkara lain yang dilarang syariat.

Ketika akidah telah tertancap kuat di sanubari anak, ia kan menjadi sosok orang beriman yang berkepribadian kuat, baik sikap dan perbuatannya karena selalu merasa dalam pengawasan Allah, serta meminimalisasi anak melakukan perbuatan buruk, seperti berkata kotor, menipu, dan lainnya. Orang tua akan memperoleh manfaat besar dengan keberadaan anak shalih. Namun, orang tua yang melalaikan pendidikan untuk buah hatinya, ia akan menuai kesengsaraan.

Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah berkata, “Siapa saja yang mengabaikan pendidikan anaknya dalam hal-hal yang berguna baginya, lalu dia membiarkan begitu saja, berarti dia telah berbuat kesalahan yang fatal. Mayoritas penyebab kerusakan anak adalah akibat orang tua mengabaikan mereka, serta tidak mengajarkan berbagai kewajiban dan ajaran agama. Orang tua yang menelantarkan anak-anaknya ketika mereka kecil telah membuat mereka tidak berfaedah bagi diri sendiri dan bagi orang tua ketika mereka telah dewasa. Ada orang tua yang mencela anaknya yang durjana, lalu anaknya berkata, “Ayah, engkau durjana kepadaku ketika kecil, maka aku pun durjana kepadamu setelah aku besar. Engkau menelantarkanku ketika kecil, maka aku pun menelantarkanmu ketika engkau tua renta.” (Tuhfah al-Maudud hlm. 125)

Wallahu a’lam.

Referensi:

  • Tahapan Mendidik Anak, Jamal Abdurrahman, Irsyad Baitus Salam, Bandung, 2005.
  • Mencetak Hafizh Cilik, Abu Raihan dan Ummu Raihan, Gazza Media, Surakarta, 2016.
  • Majalah al-Umm, edisi 01/tahun II.

Penulis: Isruwanti Ummu Nashifah

Muraja’ah: Ustadz Yulian Purnama

Seumber: https://muslimah.or.id/

.
Berbakti kepada Orang Tua

Berbakti kepada Orang Tua

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum,
Ustadz yang dirahmati Allah.
Saya memiliki seorang sahabat yang menceritakan pengalaman pahit pribadinya kepada saya. Sahabat saya ini memiliki hubungan yang sangat buruk dengan bapak kandungnya, bapaknya kerap berlaku kasar padanya dan ibunya sehingga menanamkan sifat dendam yang sangat mengakar di dalam diri sahabat saya ini, meski demikian ia sangat sayang pada ibunya dan rasa inilah yang menyebabkan ia masih bisa menganggap bapaknya.

Saat ia masih kecil, kakeknya (dari bapak) tinggal bersama mereka dan sahabat saya ini merasa keberadaan kakeknya menjadi salah satu penyebab kekasaran bapaknya. Sampai pada suatu ketika saat kakeknya menghadapi masa tua dengan sakit-sakitan, bahkan sampai-sampai hanya bisa terkulai/tergeletak di ranjang (dia dan ibunya merasa bahwa kondisi kakeknya itu merupakan adzab dunia dari Allah). Meski menyadari bahwa kakeknya sedang “diadzab” oleh Allah, kebenciannya pada bapaknya (dan juga keluarga bapaknya) yang sangat besar mendorongnya untuk membalas dendam.

Dalam kondisi kakeknya yang sakit parah itu dia justru menggunakannya sebagai ajang balas dendam dengan melakukan tindakan fisik yang sama seperti yang kerap dilakukan bapaknya kepadanya. Sampai akhirnya kakeknya itu kemudian meninggal dunia…

Kini, ia benar-benar menyesali semua perbuatannya itu. Ia ingin meminta maaf tapi tidak tahu harus berbuat apa. Dan dosa itu benar-benar menghantui hidupnya. Ia tidak pernah bercerita kepada seseorangpun sebelumnya, termasuk kepada kedua orang tuanya karena ia takut ibunya shock berat jika tahu sedangkan bapaknya pasti marah besar, mengamuk, bahkan… naudzubillah… saya pun takut untuk membayangkannya.

Demikian cerita dari sahabat saya, besar sekali harapan saya ustadz berkenan memberikan solusi, apa yang harus dilakukan sahabat saya. Sungguh, saya sangat tidak tega melihat hidupnya dihantui perasaan bersalah seumur hidupnya. Jazakallah Khairan Katsira.
Wassalamu’alaikum.

Jawaban Ustadz:

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga terlimpahkan kepada nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, sahabat dan seluruh orang yang mengamalkan sunnahnya hingga hari kiamat.

Langsung saja, saya dapat mengerti permasalahan yang dihadapi oleh kawan akhi Ahmad Rafi’e, dan betapa berat dan tertekannya perasaan akhi kita ini. Akan tetapi, apapun yang terjadi, yang jelas kejadian itu telah berlalu dan bagaikan dalam pepatah: Nasi telah menjadi bubur. Tapi saya sedikit lega ketika mengetahui bahwa kejadian ini terjadi ketika akhuna yang memiliki pengalaman ini masih kecil, (dan semoga saja belum baligh). Yang dapat dilakukan oleh akhuna ini adalah bertaubat dan menyesali perbuatannya tersebut. Dengan cara inilah dosa perbuatannya (bila ia ketika melakukan kesalahan itu telah baligh) dapat dihapuskan.

“Seorang yang bertaubat dari dosa, bagaikan orang yang tidak pernah berbuat dosa.” (Ibnu Majah, At Thabrani dan dihasankan oleh Al Albani)

Untuk semakin meyakinkan dan menenangkan hati antum, baca dan renungkanlah ayat 68-70 Surat Al Furqan.

Akhuna, semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada antum: Setelah Allah menyebutkan dalam Al Qur’an surat Al Furqan ayat 68 bahwa orang yang berbuat kesyirikan, membunuh jiwa yang diharamkan, dan berzina, akan mendapatkan balasan yang setimpal atas perbuatannya, yaitu dilipat gandakan atasnya azab, dan ia akan kekal di neraka, Allah berfirman:

“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman, dan beramal saleh, maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Furqan: 70)

Saya yakin dosa atau kesalahan yang pernah antum lakukan lebih ringan bila dibanding dengan kesalahan dan dosa yang disebutkan dalam ayat 68 surat Al Furqan, sehingga bila antum benar-benar bertaubat, saya yakin Allah akan mengampuni dosa antum, dan menggantikannya dengan kebajikan.

Akhi, bila Allah ta’ala mengampuni dosa Umar bin Khatthab, Khalid bin Walid, Abu Sufyan, yang dahulunya berbuat syirik, dan menentang Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, karena mereka bertaubat, yaitu dengan masuk islam, dan meninggalkan seluruh perbuatannya tersebut, maka percayalah bahwa bila antum benar-benar bertaubat, Allah pasti menerima taubat antum dan menggantikannya dengan kebajikan.

Dan mungkin sebagai salah satu bentuk taubat antum adalah dengan banyak-banyak mendoakan kakek antum tersebut, semoga Allah menghapuskan dosa-dosanya, dan meninggikan derajatnya di sisi Allah. Kemudian, hendaknya antum berbakti kepada kedua orang tua antum walaupun ayah antum berbuat tidak baik kepada antum, tetaplah bersabar, berupaya sekuat tenaga untuk berbakti kepada keduanya. Semoga Allah senantiasa melimpahkan kepada kita semua taufik dan hidayah-Nya, sehingga kita dapat berbakti kepada orang tua kita. Wallahu a’lam bishshowab.

***

Penanya: Ahmad Raf’ie
Dijawab Oleh: Ustadz Muahmmad Arifin Badri

Sumber: muslim.or.id

.

Menyelamatkan Generasi dari Samarnya Syirik “Jimat”

Menyelamatkan Generasi dari Samarnya Syirik “Jimat”

Anak adalah titipan Illahi. Ia merupakan sebuah amanat Allah yang diberikan kepada setiap orang tua. Oleh karena itu, sudah semestinya setiap orang tua benar-benar memperhatikan tentang pendidikan dan pembinaan bagi anak-anaknya. Orang tua hendaknya melindungi anak dari hal-hal yang dapat menjatuhkan anak dan dirinya sendiri dari hal-hal yang dapat mengundang kemurkaan Allah.

Wahai Ibu, ketahuilah bahwa dosa yang paling besar dan tidak akan Allah ampuni adalah dosa kesyirikan. Sehingga sebagai seorang pendidik, kita harus memprioritaskan pembinaan tauhid pada anak-anak kita daripada yang lain. Tapi bukan berarti pendidikan yang lainnya lalu kita abaikan.

Orang tua berkewajiban mentarbiyah anak-anaknya sejak usia dini untuk mentauhidkan Allah dan menjauhi kesyirikan. Sejak kecil hendaknya orang tua melindungi anak dari perbuatan-perbuatan kesyirikan. Misalnya adalah penggunaan jimat. Jimat, biasa digunakan untuk melindungi si pemilik jimat dari mara bahaya. Dalam masyarakat kita, masih sangat banyak para orang tua yang menggunakan jimat untuk melindungi anaknya dari kesialan, bahaya, serangan penyakit, dan lain-lain. Kita berlindung kepada Allah dari segala perbuatan yang mengantarkan kepada kesyirikan.

Hakikat Jimat

Jimat atau tamimah pada masa jahiliyah adalah sesuatu yang dikalungkan pada anak kecil atau binatang dengan maksud untuk menolak ‘ain. Namun hakikat jimat tidak terbatas pada bentuk dan kasus tertentu akan tetapi mencakup semua benda dari bahan apapun dan bagaimanapun cara pakainya. Ada yang terbuat dari bahan kain, benang, kerang maupun tulang baik dipakai dengan cara dikalungkan, digantungkan, dan sebagainya. Tempatnya pun bervariasi, baik di mobil, rumah, leher, kaki, dan sebagainya.

Contohnya seperti kalung, batu akik, cincin, sabuk (ikat pinggang), rajah (tulisan arab yang ditulis perhuruf dan kadang ditulis terbalik), selendang, keris, atau benda-benda yang digantungkan pada tempat-tempat tertentu, seperti di atas pintu kendaraan, di pintu depan rumah, diletakkan pada ikat pinggang atau sebagi ikat pinggang, sebagai susuk, atau ditulis di kertas, dibakar lalu diminum, dan lain-lain dengan maksud untuk menolak bahaya.

Hukum Jimat

Secara wujudnya, jimat terbagi menjadi dua macam:

Pertama, jimat yang tidak bersumber dari Al-Qur’an. Jimat jenis inilah yang dilarang oleh syariat Islam. Jika seseorang percaya bahwa jimat itu dapat berpengaruh tanpa kehendak Allah maka ia terjerumus dalam perbuatan syirik besar karena hatinya telah bersandar kepada selain Allah. Adapun jika seseorang meyakini bahwa jimat itu hanya sebagai sebab dan tidak memiliki kekuatan sendiri maka ia terjatuh dalam perbuatan syirik kecil.

Kedua, jimat yang bersumber dari Al-Qur’an. Dalam hal ini ulama berbeda pendapat, ada sebagian yang membolehkan dan ada yang melarangnya. Adapun pendapat yang paling kuat dalam hal ini adalah terlarang, meskipun hukumnya tidak syirik karena menggunakan Al-Qur’an disini berarti bersandar pada kalamullah bukan bersandar kepada makhluk. Mengapa dilarang? Karena keumuman dalil tentang keharaman jimat, tidak peduli jimat tersebut berupa Al-Qur’an ataupun bukan. Dengan membolehkan jimat yang berasal dari ayat Al-Qur’an, kita telah membuka peluang menyebarnya jimat yang bukan berasal dari Al-Qur’an yang jelas-jelas haram.

Maka, sarana yang dapat mengantar kepada perbuatan haram mempunyai hukum yang sama dengan perbuatan haram itu sendiri. Selain itu, pemakaian jimat dari Al-Qur’an juga mengandung unsur penghinaan terhadap Al-Qur’an, yaitu ketika dibawa tidur, buang hajat, atau sedang berkeringat dan semacamnya. Hal seperti ini tentu bertentangan dengan kesucian Al-Qur’an. Selain itu juga, jimat ini dapat pula dimanfaatkan oleh para pembuatnya untuk menyebarkan kemusyrikan dengan alasan jimat yang dibuatnya dari Al-Qur’an.

Dalil-Dalil Terlarangnya Jimat

Terdapat banyak dalil dari Al-Qur’an dan hadits yang memberitakan tentang pengharaman jimat. Beberapa dalil tersebut antara lain:

Allah berfirman, yang artinya, “Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka menjawab: “Allah”. Katakanlah: “Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?”. Katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku”. Kepada-Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri.” (Qs. Az-Zumar: 38)

Dari ayat di atas dapat kita renungkan bahwa berhala-berhala sesembahan orang musyrik tersebut tidak mampu memberikan manfaat atau menolak madharat bagi penyembahnya karena memang berhala bukan merupakan sebab untuk mencapai maksud penyembahnya. Begitu pula dengan para pengguna jimat yang telah mengambil sebab yang bukan merupakan sebab.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Barangsiapa menggantungkan jimat, maka ia telah melakukan syirik.” (HR. Ahmad, Hakim, dari Sahabat ‘Uqbah bin ‘Amir al-Juhani)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melihat seseorang yang memakai gelang kuningan di tangannya, maka beliau bertanya, “Apa ini?”

Orang itu menjawab, “Penangkal sakit.”

Nabipun bersabda, “Lepaskanlah, karena dia hanya akan menambah kelemahan pada dirimu. Jika kamu mati sedang gelang itu masih ada pada tubuhmu maka kamu tidak akan beruntung selama-lamanya.” (HR. Ahmad)

Wahai ibu, sebagai seorang muslim kita seharusnya meyakini dengan sepenuh hati bahwa manfaat dan mudharat itu ada di tangan Allah sehingga kita tidak boleh menggantungkan hati kepada selain Allah. Kita wajib bertawakkal hanya kepada Allah saja. Allah berfirman yang artinya,

“Dan hanya kepada Allah saja hendaklah orang-orang mukmin bertawakkal.” (Qs. Ibrahim: 11)

Ketahuilah, sesungguhnya jimat tidak dapat menolak dan menghilangkan apa yang telah Allah takdirkan. Hal inilah yang harus kita tanamkan pada diri anak-anak kita. Dengan menghindar dari kesyirikan ketika mentarbiyah anak, semoga menjadikan kita sebagai pendidik mulia yang dapat melahirkan generasi yang terlindungi dari kegelapan syirik. Waallahu a’lam.

Diringkas dari:

  1. Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Ustadz Yazid bin Abdul Qodir Jawas, Pustaka Imam Asy-Syafi’i.
  2. Jimat, Gaya Hidup Modern (Abu Abdirrahman), Buletin Dakwah At-Tauhid edisi no.34/ Thn 1

***
Sumber: muslimah.or.id

.

Agar Buah Hati Tak Lagi Takut Hantu

Agar Buah Hati Tak Lagi Takut Hantu

“Ummi, Ahmad pingin ke kamar mandi. Anterin ya Mi…”

Ummu Ahmad (bukan nama sebenarnya) kaget ketika suatu malam Ahmad, anaknya yang sudah berumur 10 tahun tiba-tiba minta diantarkan ke kamar mandi.

“Ahmad anak shalih… kok tumben minta diantar ke kamar mandi? Biasanya berani sendiri.”

“Ahmad takut ketemu hantu Mi…” kata Ahmad dengan wajah ketakutan.

Kisah ini mungkin sangat sering kita jumpai. Tak hanya anak kecil, bahkan banyak orang dewasa yang mengaku takut terhadap hantu. Masih banyaknya budaya dan kepercayaan terhadap hal-hal mistis yang bertentangan dengan syariat, ditambah lagi maraknya cerita maupun film-film misteri di tengah masyarakat semakin memperparah kerusakan dan mengikis keimanan.

Rasa takut anak kepada hantu, bagaimanapun harus mendapat perhatian khusus dari orang tua. Karena bila ketakutan sang anak tetap terpelihara, tak hanya membentuk mental penakut pada diri anak tetapi juga dapat mengurangi kesempurnaan tauhid yang sangat kita harapkan terbentuk pada diri sang anak.

Sekilas tentang Rasa Rakut (Khauf)

Sangat penting bagi orang tua untuk bisa melatih anak mengatur rasa takutnya. Bukan hanya sekedar agar anak menjadi pemberani, tetapi lebih karena rasa takut adalah bagian dari ibadah. Rasa takut adalah bagian dari rukun yang harus ada dalam ibadah, di samping rasa cinta dan harap.

Macam-macam takut

Ulama telah membagi rasa takut menjadi beberapa bagian, yaitu:
1. Takut ibadah atau disebut juga takut sirri (takut terhadap sesuatu yang ghaib).
Takut ibadah dibagi menjadi dua macam:

a. Takut kepada Allah, yaitu takut yang diiringi dengan merendahkan diri, pengagungan, dan ketundukan diri kepada Allah. Takut semacam inilah yang akan mendatangkan ketaqwaan dan ketaatan sepenuhnya kepada Allah. Oleh karena itu, rasa takut seperti ini hanya boleh ditujukan kepada Allah semata karena merupakan salah satu konsekuensi keimanan.

Allah berfirman, yang artinya, “Karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Ali Imran 175)

b. Takut kepada selain Allah, yaitu takut kepada selain Allah dalam hal sesuatu yang ditakuti itu sebenarnya tidak dapat melakukannya dan hanya Allah-lah yang dapat melakukannya. Takut semacam ini banyak terjadi pada berhala, takut pada orang mati, takutnya para penyembah kubur kepada walinya, dll. Rasa takut ini merupakan syirik akbar yang dapat mengeluarkan pelakunya dari keIslaman.

2. Takut yang haram, yaitu takut kepada selain Allah, yang bukan ibadah tetapi menyebabkan ia melakukan keharaman atau meninggalkan kewajiban. Takut semacam ini dapat mengurangi ketauhidan seseorang.

3. Takut thobi’i (normal). Yaitu takut pada hal-hal yang bisa mencelakakan kita (dengan izin dan kekuatan dari Allah). Misalnya, takut pada binatang buas, api, dll. Takut semacam ini wajar ada pada diri manusia dan dibolehkan selama tidak melampaui batas.

4. Takut wahm (khayalan), yaitu takut pada sesuatu yang sebabnya tidak jelas. Misalnya, takut pada hantu. Takut semacam ini tercela.

Seorang anak yang masih dalam fase pertumbuhan dan sedang mengalami masa belajar, ia mempunyai rasa ingin tahu yang besar dan kadang disertai pula daya imajinasi yang tinggi. Oleh karena itu, ketika ia mendengar cerita tentang berbagai macam hantu entah dari berbagai media massa, atau dari orang-orang di sekitarnya, hal tersebut bisa menimbulkan rasa takut yang berlebihan. Apalagi bila sang anak pernah mengalami trauma karena ditakut-takuti temannya atau karena pernah mengalami gangguan jin.

Rasa takut kepada hantu atau setan, bisa mengantarkan kepada syirik akbar. Jika sampai membawa pada peribadatan kepada selain Allah. Bentuknya bermacam-macam, ada yang memberi sesajian agar tidak diganggu, membaca berbagai mantera, datang kepada dukun untuk meminta jimat, dan sebagainya.

Pada anak, mungkin tak sampai separah itu. Namun tak jarang kita dapati, karena rasa takut kepada hantu atau semacamnya, anak menjadi takut keluar kamar untuk mengambil wudhu pada pagi hari. Sang anak menjadi menunda-nunda waktu shalat Subuhnya. Ini hanyalah salah satu contoh. Tetapi sekali lagi, hal ini dapat mengurangi kesempurnaan tauhid sang anak.

Ketakutan anak bisa diperparah jika orangtuanya pun tidak paham syariat sehingga demi mengatasi rasa takut anaknya sehingga membawa anak pada kesyirikan. Misalkan menggantungkan jimat pada anak sehingga sang anak terus bergantung pada jimat tersebut hingga ia dewasa.

Cara Mengatasi Rasa Takut Anak kepada Hantu

Bagi orang tua sangat penting mengetahui bagaimanakah cara mengatasi ketakutan anak dengan cara yang sesuai syariat. Antara lain:

1. Tanamkanlah pada anak tauhid dan aqidah yang benar.
Cobalah cari tahu apa yang sebenarnya ditakutkan oleh sang anak pada saat keadaannya tenang. Rangsanglah anak dengan beberapa pertanyaan. “Adik takut hantu ya? Memangnya hantu itu apa sih?”
Jika sang anak menjawab bahwa hantu adalah pocong, genderuwo, nyi loro kidul, kuntilanak, atau semacamnya, jelaskan bahwa hantu-hantu semacam itu tidak ada sama sekali sehingga tidak perlu ditakutkan. Jika yang ditakutkan anak adalah orang mati, maka jelaskanlah bahwa orang mati takkan bisa memberi manfaat maupun bahaya bagi orang yang masih hidup.

Adapun jika sang anak telah mengerti bahwa yang dimaksud orang-orang dengan hantu adalah penjelmaan dari setan atau jin yang hendak mengganggu manusia, maka orangtua haruslah menjelaskan kepada anak bahwa tidak ada kekuatan yang paling kuat kecuali kekuatan Allah. Seluruh makhluk, termasuk jin dan setan di bawah pengaturan Allah. Ajarkan pada anak meskipun seluruh jin dan manusia ingin mencelakakannya, akan tetapi Allah tidak menakdirkannya, maka ia takkan celaka. Begitu pula sebaliknya.

Sungguh indah contoh yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau menasehati Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu yang ketika itu masih kecil.Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata,

“Pada suatu hari saya pernah membonceng di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau bersabda, “Wahai anak muda, sesungguhnya akan kuajarkan kepadamu beberapa kalimat. Jagalah Allah, niscaya Ia juga akan menjagamu. Jagalah Allah niscaya engkau akan mendapati-Nya ada di hadapanmu. Apabila engkau meminta sesuatu, mintalah kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, andaikan saja umat seluruhnya berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu, mereka tidak akan bisa memberikan manfaat kepadamu kecuali sesuatu yang telah ditetapkan Allah untukmu. Dan andaikan saja mereka bersatu untuk menimpakan bahaya terhadapmu, mereka tidak akan bisa memberikan bahaya itu terhadapmu kecuali sesuatu yang Allah tetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan lembar catatan telah kering.” (HR. Tirmidzi)

Jelaskan pada anak pada hal apakah ia harus takut (yaitu takut kepada Allah), pada hal-hal apakah ia boleh takut tetapi tidak berlebihan dan hal-hal apa yang ia tidak boleh takut sama sekali. Hendaklah orang tua mengenalkan kepada anak-anaknya kepada Allah, nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Karena dengan pengenalan kepada Allah, seorang anak akan mengetahui keagungan Allah, keMahaKayaanNya, kekuasaan-Nya. Yang harus orang tua ingat, mengajarkan rasa takut kepada Allah juga harus disertai pengajaran rasa cinta dan harap kepada Allah. Sehingga hal ini menjadikan anak ikhlas dan giat dalam beramal serta tidak mudah putus asa.

2. Ajarkan wirid dan doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Ada banyak wirid dan doa yang bisa diajarkan pada anak. Misalnya, wirid pagi dan sore, doa sehari-hari seperti doa masuk WC, doa singgah di suatu tempat, doa hendak tidur, dll. Pilihlah bacaan wirid dan doa sesuai kapasitas kemampuan anak.

Tak hanya sekedar menghafal, tapi juga pahamkan mereka arti dari doa tersebut sehingga mereka mengamalkan doa-doa tersebut dengan penuh keyakinan akan manfaat doa bagi dirinya. Ajarkan pada anak bahwa doa dan wirid adalah senjata dan perisai bagi kaum mukmin. Karena itu, bila rasa takut menyerang, yang terbaik dilakukan adalah meminta perlindungan dan pertolongan Allah, Rabb seluruh makhluk. Sesekali ingatkan atau tanyakan pada anak arti dari doa tersebut. Sekaligus untuk mengetahui apakah sang anak sudah mengamalkan doa-doa tersebut ataukah belum.

3. Jauhkanlah anak dari hal-hal yang mendatangkan rasa takut kepada hantu.
Misalnya cerita misteri, patung dan lukisan makhluk bernyawa, dll. Cerita misteri atau berbau mistis kadang lebih menarik bagi anak karena imajinasi mereka yang tinggi dan masih belum terkontrol baik. Oleh karena itu, kenalkanlah anak dengan kisah-kisah para Nabi, sahabat-sahabat Rasulullah, maupun kisah shahih lain yang dapat mengajarkan anak keimanan, keberanian dan akhlaq yang baik. Jangan hanya sekedar menyediakannya buku/majalah, meskipun ini juga hal yang penting. Sesekali ceritakanlah langsung dengan lisan anda agar hikmah dan nilai kisah lebih mengena di hati anak. Ini juga akan lebih mendekatkan orang tua dengan sang buah hati.

4. Ajarkan pula pada anak untuk tidak menakut-nakuti temannya meski hanya bermaksud untuk bercanda. Pahamkan pada anak untuk bercanda dengan baik.

5. Bila orang tua ternyata adalah seorang penakut, berusahalah untuk tidak menampakkan hal tersebut di depan sang anak. Sebagaimana kita tidak ingin anak menjadi penakut, maka latihlah diri sendiri untuk tetap tenang dan menghilangkan sifat penakut dari diri kita.

Jika suatu ketika sifat penakut kita diketahui oleh sang anak, tak ada salahnya melibatkan anak dalam usaha menghilangkan sifat penakut kita. “Astagfirullah, tadi Ummi kok menjerit ya pas lampu mati? Menurut adik, Ummi harusnya gimana? Iya adik benar, harusnya tetap tenang dan minta perlindungan sama Allah. Lain kali kalau Ummi menjerit lagi, adik ingatin Ummi ya….” Hal ini juga akan mengajarkan pada anak bagaimana seharusnya ia bersikap ketika ada orang lain atau temannya yang ketakutan. Jangan pula menakut-nakuti anak dengan ancaman yang tak berdasar atau bertentangan dengan syariat. Misalnya, “Jangan main dekat sungai ya! Nanti diculik genderuwo penunggu sungai lho” Hal ini sering tanpa sadar dilakukan oleh para orang tua. Maka wahai para pendidik, bekalilah diri dengan ilmu syar’i dalam mendidik anak-anak kita.

6. Berdoalah untuk kebaikan anak
Hal yang sering luput dari orang tua adalah berdoa untuk anak-anaknya. Padahal doa merupakan salah satu pokok yang harus dipegang teguh orang tua. Doa orang tua bagi kebaikan anaknya adalah salah satu jenis doa yang dijanjikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan dikabulkan oleh Allah (HR. Baihaqi). Termasuk di antaranya, hendaknya orang tua mendoakan agar anak dilindungi dari gangguan setan.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata, “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memintakan perlindungan untuk Hasan dan Husain dengan mengucapkan,

“Aku memohon perlindungan untukmu berdua dengan kalimat Allah yang sempurna dari setiap setan dan binatang berbisa, dan juga dari setiap mata yang jahat.” Selanjutnya beliau bersabda “Adalah bapak kalian (yaitu Ibrahim) dahulu juga memohonkan perlindungan untuk kedua puteranya, Ismail dan Ishaq, dengan kalimat seperti ini.” (HR. Bukhari)

Inilah sebagian cara yang semoga bisa mengatasi rasa takut anak terhadap hantu. Orang tua hendaknya bersabar dalam membantu anak mengatasi rasa takutnya dengan tetap memprioritaskan pendidikan aqidah dan tauhid pada anak. Semoga kelak anak tumbuh menjadi sosok muslim-muslimah yang beraqidah lurus, beramal shalih dan mempunyai ketawakkalan tinggi kepada Allah. Wallahu Ta’ala a’lam. (Ummu Rumman)

Maraji’:
Bila Anak Anda Takut Hantu, Ummu Khaulah, Majalah As Sunnah Edisi 02/Tahun VIII/1424H/2004M
Mendidik Anak Bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Muhammad Suwaid, penerbit Pustaka Arafah
Mutiara Faidah Kitab Tauhid Syaikh Muhammad At Tamimi, Abu ‘Isa Abdullah bin Salam, penerbit Divisi Bimbingan Masyarakat LBI Al Atsary Yogyakarta
Syarah Tiga Landasan Utama, Syaikh Abdullah bin Shalih al Fauzan, Pustaka At Tibyan

***

Sumber: muslimah.or.id

.

Pahala Haji dan Umrah Untuk Mertua

Pahala Haji dan Umrah Untuk Mertua

Ibadah Haji dan Umrah Untuk Mertua

Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalamu ‘ala Rasulillah waba’du.

Pada dasarnya setiap orang mendapatkan pahala dari amalnya masing-masing. Kecuali beberapa ibadah yang dikecualian oleh dalil bahwa pahalanya dapat diteruskan kepada orang lain.

Allah berfirman,

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ

dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya, (QS.An-Najm : 39)

Dalam hadis shahih riwayat Imam Muslim dijelaskan,

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika manusia telah meninggal, maka seluruh amalannya terputus kecuali tiga amalan : sedekah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakan untuknya.” (HR. Muslim)

Diantara ibadah yang dikecualikan di sini adalah, umrah dan juga haji. Ada beberapa hadis yang menerangkan hal ini, diantaranya :

Pertama, hadis Abu Razin Al ‘Uqaili, dia mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam lalu bertanya:

يا رسول الله إن أبي شيخ كبير لا يستطيع الحج و لا العمرة و لا الظعن : قال ( حج عن أبيك واعتمر )

Wahai Rasulullah, ayahku sudah sangat tua, tidak mampu haji, umrah, dan perjalanan.

Beliau menjawab, “Hajikanlah ayahmu dan umrahkanlah.”

(HR. Ibnu Majah, Tirmidzi, Nasa’i dll)

Kedua, hadis Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma

أتى رجل النبي صلى الله عليه وسلم فقال له إن أختي نذرت أن تحج وإنها ماتت فقال النبي صلى الله عليه وسلم لو كان عليها دين أكنت قاضيه قال نعم قال فاقض الله فهو أحق بالقضاء

Seorang laki-laki menemui Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam lalu bertanya kepada beliau, “Sesungguhnya saudara perempuanku bernadzar untuk berhaji, tetapi ia meninggal dunia”.

Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Andaikata ia mempunyai hutang, bukankah engkau akan membayarnya ?”

“Iya”. Jawabnya

Beliau kemudian bersabda, ”Maka bayarlah hutang haji itu kepada Allah, sebab Allah lebih berhak untuk dibayar” (HR. Bukhari)

Dua hadis di atas sangat jelas menerangkan, bahwa haji dan umrah adalah diantara ibadah yang pahalanya dapat diteruskan untuk orang lain. Bukan berarti hanya orang yang dia niatkan yang mendapat pahala umrah atau haji, namun juga orang yang menghajikan atau mengumrahkan, juga mendapat pahala, tanpa sedikitpun dikurangi.

Apakah disyaratkan harus dari kerabat?

Mari simak penjelasan dalam Fatawa Syabakah Islamiyyah nomor 159553 berikut :

لا مانع من أداء العمرة عنها بشرط أن تكون قد أديت العمرة عن نفسك أولا، ولو لم تربطك بها صلة قرابة، لأنه لا يشترط لصحة إهداء ثواب العبادة وجود القرابة

“Tidak mengapa seorang mengumrahkan orang lain, asal dengan syarat dia sudah menunaikan ibadah umrah (atau haji) untuk dirinya dahulu. Mengumrahkan orang lain boleh meskipun dia tidak ada hubungan kekerabatan dengan anda. Karena dalam menghadiahkan pahala suatu ibadah, tidak disyaratkan harus ada hubungan kekerabatan.”

Jika yang tidak ada hubungan kekeluargaan saja sah mengumrahkan orang lain, apalagi yang ada hubungan ikatan kekeluargaan seperti mertua. Dan mertua adalah diantara orang yang sangat berhak mendapatkan bakti kita. Karena merekalah yang telah berjuang menyiapkan belahan jiwa kita; istri kita sehingga menjadi pasangan hidup penyejuk pandangan kita. Mengumrahkan mereka, adalah bagian dari terimakasih kita atas jasa besar ini.

Sementara Nabi shallallahu’alaihi wa sallam mengatakan,

مَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللَّهَ

“Siapa belum berterima kasih kepada manusia, maka ia belum bersyukur kepada Allah.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

Syarat Haji dan Umrah untuk Orang Lain

Namun, sebelum mengumrahkan atau menghajikan orang lain, perlu kita penuhi syarat berikut :

Pertama, yang mengumrahkan sudah pernah melakukan umrah/haji.

Jika seorang mengumrahkan/menghajikan orang lain, sementara dia sendiri belum pernah melaksanakannya sebelumnya, maka pahala umrah/haji itu tidak akan sampai kepada yang diumrahkan/dihajikan. Namun, pahala tersebut kembali kepada dia sendiri yang melakukannya.

Kedua, yang diumrahkan secara terus-menerus tidak mampu untuk melakukan ibadah haji/umrah sendiri.

“Terus-menerus” maksudnya ketidakmampuan yang tidak ada harapan hilang. Seperti : sakit menahun, tua renta atau bahkan sudah meninggal dunia.

Sumber: https://konsultasisyariah.com

.