Pesan Taqwa dalam Khutbatul Hajah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam

Pesan Taqwa dalam Khutbatul Hajah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam biasa membuka khutbah ataupun nasehatnya dan pelajarannya dengan mukadimah yang dikenal dengan istilah khutbatul hajah. Berikut ini teksnya: [1]

Segala puji bagi Allah , kepadaNya kita memuji, mohon pertolongan, mohon ampunan, dan mohon perlindungan dari bahaya diri kita dan buruknya amal-amal perbuatan kita. Barang siapa yang diberi petunjuk Allah ta’ala maka tiada yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa yang sesat maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk –kecuali dengan izin Allah-. Dan bahwasanya saya bersaksi tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah ta’ala semata, tiada sekutu bagiNya, dan saya bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusanNya.

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa kepadaNya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali imron: 102)

Wahai manusia! Bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (hawa) dari (diri)nya; dan dari keduanya Allah memperkembang-biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertaqwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu. “ (QS. An nisa’: 1)

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu  dan barangsiapa menaati Allah dan rasulNya maka sungguh dia menang dengan kemenangan yang agung.” (QS. Al ahzab: 70-71)

Adapun selanjutnya,

Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah kitab Allah (Al qur’an) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu’alaihiwasalam, dan seburuk-buruk perkara (dalam urusan agama) adalah yang diada-adakan, dan semua yang diada-adakan itu adalah bid’ah, dan semua bid’ah itu sesat, dan semua kesesatan tempatnya di neraka.

Demikian kalimat pembuka yang sering disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam khutbahn beliau.

Barang siapa merenungkan khutbah Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya ini, maka ia akan mendapati banyak penjelasan tentang petunjuk –sunnah- dan tauhid, penyebutan sifat-sifat Rabb yang Maha Tinggi, pokok-pokok iman seluruhnya, dakwah kepada Allah, penyebutan ketinggian Allah ta’ala yang menjadikan Dia mencintai Makhluk-Nya, hari kiamat yang menjadikan para sahabat takut keburukannya, perintah untuk mengingat-Nya bersyukur kepada-Nya  yang menjadikan para sahabat cintai kepada-Nya. Sehingga mereka –para sahabat- akan mengingat keagungan Allah dan sifat-sifat serta nama-nama-Nya yang menjadikan Dia cinta kepada makhluk-Nya, mengamalkan perintah untuk menta’ati-Nya bersyukur kepadaNya mengingatNya yang mana menjadikan mereka –para sahabat- cinta kepada Allah. Mereka mendengarkan sampai selesai kemudian pulang dan sungguh mereka mencintai Allah dan Allah mencintai para sahabat.

Keutamaan Taqwa dalam Ayat-ayat Al-Qur’an

“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa mendapat kemenangan” (QS. An naba’: 31)

“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman (syurga) dan mata air- mata air” (QS. Adz dzaariyat : 15)

“katakanlah: ‘apa (adzab) yang demikian itukah yang baik, atau surga yang kekal yang telah dijanjikan kepada orang-orang yang bertaqwa?’ Dia menjadi balasan dan tempat kembali bagi mereka?” (QS. Al furqon : 15)

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sesungguhnya kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS. Al an’am : 32)

“…bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa” (QS. At taubah: 123)

“Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu al-Furqan [2]. Dan kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (QS. Al anfaal: 29)

“…Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaqwa” (QS. At taubah: 4)

Ayat-ayat diatas sekaligus menunjukkan begitu pentingnya taqwa, sebagaimana pula dalam khutbatul hajah yang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sampaikan seperti pada pembukaan artikel ini, beliau mengingatkan tentang taqwa dengan tiga ayat Al qur’an. Maka perlu bagi kita untuk mengenal taqwa.

Taqwa itu Letaknya Didalam Hati

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata:”…taqwa itu disini, seraya menunjuk ke dadanya sebanyak tiga kali…”[3]

Imam Nawawi –rahimahullah– menjelaskan: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menunjuk ke dadanya, maksudnya hati. Dalam hadits Arba’in nawawi ke-6 Beliau menjelaskan ‘dalam jasad ada segumpal daging, jika baik maka baik seluruh jasad’

Ibnu Daqiq Al ‘id –rahimahullah– menjelaskan: makna dari hadits tersebut, dan dalam riwayat lain: ‘Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada jasad-jasad kalian dan rupa-rupa kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati-hati kalian’ maknanya, amalan dhohir  (yang tampak) belum tentu dapat menghasilkan ketaqwaan, namun ketaqwaan itu adalah apa yang terdapat di dalam hati dari pengagungan, khasy-yah (rasa takut yang disertai pengagungan), mendekatkan diri kepada Allah dan hati yang merasa diawasi Allah ta’ala yaitu dengan menyadari bahwa Allah melihat dan meliputi segala sesuatu. Dan makna melihat hati-hati kalian –wallahu a’lam– adalah melihat harapan dan persangkaan, dan hal itu semua dilakukan dengan hati.

Ibnu ‘Utsaimin –rahimahullah– mengatakan: “Taqwa kepada Allah ta’ala itu letaknya di hati, jika hatinya bertaqwa maka anggota badannya juga.”

Perintah Bertaqwa Hingga Maut Menjemput

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa kepadaNya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali imron: 102)

Syaikh As sa’di –rahimahullah– menjelaskan: “Ayat di atas merupakan perintah Allah untuk hamba-Nya yang beriman agar bertaqwa kepada-Nya dengan sebenar-benarnya taqwa dan tetap bertaqwa hingga akhir hayat. Barangsiapa bersungguh-sungguh terhadap sesuatu, maka ia akan menginggal di atas sesuatu itu. Maka barang siapa yang keadaannya, hidupnya dan keberadaannya terus menerus di atas taqwa kepada Rabbnya dan ketaatan kepada-Nya, kematian akan menimpanya di saat seperti itu. Allah ta’ala akan mengokohkan taqwa ketika kematiannya dan memberinya kematian khusnul khatimah. Taqwa kepada Allah itu –menurut Ibnu Mas’ud adalah menta’ati sehingga tidak bermaksiat, mengingat sehingga tidak melupakan, dan bersyukur sehingga tidak mengkufuri. Ayat ini menunjukkan penjelasan hak Allah ta’ala yaitu ketaqwaan hamba. Adapun kewajiban hamba terhadap taqwa ini, yaitu sesuai ayat: ‘bertaqwalah kepada Allah semampu kalian’ dan penjelasan tentang taqwa itu di dalam hati dan diaplikasikan anggota badan sangat banyak. Kesemuanya menjelaskan taqwa adalah mengerjakan perintah Allah dan menjauhi segala laranganNya”.

Penutup

Derajat ketaqwaan seseorang itu bertingkat tingkat. Ada yang sudah bisa sampai menjauhi hal – hal yang mubah karena takut syubhat, ada yang baru bisa sampai menjauhi hal – hal yang makruh. Yang paling rendah, menjauhi hal – hal yang haram, walaupun masih belum bisa menjauhi hal – hal yang makruh apalagi yang mubah. Maka bersyukurlah bagi yang telah mencapai tingkatan yang lebih tinggi dari yang lain dan bersungguh-sungguhlah untuk terus menjaga taqwa hingga ajal menjemput dengan minta pertolongan kepada Allah ta’ala.

Wallaahu a’lam bissawwaab

Penulis : Ummu Shalihah

Muraja’ah: Ustadz Ammi Nur Baits

Sumber: https://muslimah.or.id/

Faidah Tauhid

Faidah Tauhid

Bismillah. Wa bihi nasta’iinu.

Hakikat tauhid yang menjadi tujuan penciptaan manusia

Tauhid rububiyyah adalah mengesakan Allah Ta’ala dalam hal perbuatan-perbuatan-Nya. Misalnya, meyakini Allah sebagai satu-satunya pencipta, pemberi rezeki, penguasa, dan pemilik seluruh alam, yang memuliakan dan merendahkan, yang mahakuasa atas segala sesuatu, yang mengatur siang dan malam, dan yang menghidupkan dan mematikan. Allah Ta’ala telah menetapkan fitrah pada seluruh manusia untuk mengakui keesaan Allah Ta’ala dalam hal rububiyyah ini. Bahkan kaum musyrikin sekalipun yang melakukan ibadah kepada selain-Nya juga mengakui keesaan-Nya dalam hal rububiyyah [1].

Barangsiapa yang mengakui tauhid rububiyyah, maka wajib baginya untuk beribadah kepada Allah Ta’ala – semata – sebagai bentuk syukur kepada-Nya. Barangsiapa yang mengakui bahwa Allah Ta’ala adalah pencipta dirinya, pemberi rezeki baginya, dan yang mencurahkan kepadanya segala bentuk kenikmatan, maka wajib atasnya untuk bersyukur kepada Allah Ta’ala atas hal itu dengan cara beribadah kepada-Nya semata dan tidak kepada selain-Nya [2].

Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Bukanlah makna tauhid sebagaimana apa yang dikatakan oleh orang-orang jahil (bodoh) dan orang-orang sesat yang mengatakan bahwa tauhid adalah dengan Anda mengakui bahwa Allah lah sang pencipta dan pemberi rezeki, yang menghidupkan dan mematikan, dan yang mengatur segala urusan. Ini tidak cukup. Orang-orang musyrik dahulu telah mengakui perkara-perkara ini namun hal itu belum bisa memasukkan mereka ke dalam Islam …” [3].

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِيٓ إِلَيۡهِ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ ٢٥

“Tidaklah Kami mengutus sebelum kamu (Muhammad) seorang rasul pun melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tiada sesembahan (yang benar) selain Aku, maka sembahlah Aku saja.” (QS. Al-Anbiyaa: 25)

Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa dakwah para rasul ialah mengajak kepada tauhid dan meninggalkan syirik. Setiap rasul berkata kepada kaumnya,

قَالَ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥٓۖ إِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا مُفۡتَرُونَ ٥٠

“Wahai kaumku, sembahlah Allah (semata), tiada bagi kalian sesembahan selain-Nya.” (QS. Hud: 50)

Inilah kalimat yang diucapkan oleh Nuh, Hud, Shalih, Syu’aib, Ibrahim, Musa, ‘Isa, Muhammad, dan segenap rasul ‘alaihimush shalatu was salam [4].

Tauhid yang menjadi tujuan penciptaan dan hikmah diutusnya para rasul itu adalah tauhid uluhiyyah atau disebut juga tauhid al-qashd wa ath-thalab, yaitu mengesakan Allah dalam hal keinginan dan tuntutan, mengesakan Allah dalam beribadah. Maksudnya, beribadah kepada Allah semata dan meninggalkan sesembahan selain-Nya. Adapun tauhid rububiyyah dan tauhid asma’ wa shifat, disebut juga tauhid al-‘ilmi wal i’tiqad, maka kebanyakan umat manusia telah mengakuinya. Dalam hal tauhid uluhiyyah, atau tauhid ibadah, kebanyakan mereka menentangnya. Ketika rasul berkata kepada mereka,

قَالَ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥٓ

“(Hud berkata), “Sembahlah Allah saja, tidak ada bagi kalian sesembahan selain-Nya.” (QS. Al-A’raf: 65)

mereka (kaum Nabi Hud) berkata,

قَالُوٓاْ أَجِئۡتَنَا لِنَعۡبُدَ ٱللَّهَ وَحۡدَهُۥ وَنَذَرَ مَا كَانَ يَعۡبُدُ ءَابَآؤُنَا

“Mereka berkata, ‘Apakah kamu datang kepada kami agar kami hanya beribadah kepada Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami?’” (QS. Al-A’raf: 70)

Orang-orang musyrik Quraisy pun mengatakan,

أَجَعَلَ ٱلۡأٓلِهَةَ إِلَٰهٗا وَٰحِدًاۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيۡءٌ عُجَابٞ ٥

“Apakah dia (Muhammad) hendak menjadikan sesembahan yang banyak ini menjadi satu sesembahan saja. Sesungguhnya hal ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.” (QS. Shad: 5) [5]

Tauhid inilah jenis tauhid yang paling agung. Tauhid yang paling penting. Tauhid ini pun telah mencakup jenis-jenis tauhid yang lainnya (yaitu tauhid rububiyyah dan asma’ wa shifat, pent). Tauhid inilah yang menjadi tujuan penciptaan jin dan manusia serta misi dakwah para rasul. Tauhid inilah yang menjadi muatan pokok kitab-kitab yang diturunkan Allah. Di atas perkara tauhid inilah ditegakkan hisab kelak di akhirat. Disebabkan persoalan tauhid inilah orang akan masuk surga atau neraka. Dan dalam hal tauhid inilah, akan terjadi persengketaan antara para rasul dengan umat-umatnya kelak di hari kiamat [6].

 

Pembagian tauhid menjadi tiga 

Mentauhidkan Allah Ta’ala dalam hal rububiyyah maksudnya adalah meyakini bahwa Allah itu esa dalam hal perbuatan-perbuatan-Nya seperti mencipta, memberikan rezeki, menghidupkan, mematikan, dan mengatur segala urusan di alam semesta ini. Tidak ada sekutu bagi Allah dalam perkara-perkara ini [7].

Mentauhidkan Allah dalam hal uluhiyyah maksudnya adalah mengesakan Allah dengan perbuatan-perbuatan hamba seperti dalam berdoa, merasa takut, berharap, tawakal, isti’anah, isti’adzah, istighotsah, menyembelih, bernazar, dan sebagainya. Oleh sebab itu, ibadah-ibadah itu tidak boleh dipalingkan kepada selain-Nya siapa pun ia; apakah dia malaikat ataupun nabi, terlebih lagi selain mereka [7].

Mentauhidkan Allah Ta’ala dalam hal asma’ wa shifat maksudnya adalah menetapkan segala nama dan sifat Allah Ta’ala yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala sendiri atau oleh rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam sesuai dengan kesempurnaan dan kemuliaan-Nya tanpa melakukan takyif (membagaimanakan) dan tanpa tamtsil (menyerupakan), tanpa tahrif (menyelewengkan), tanpa ta’wil (menyimpangkan), dan tanpa ta’thil (menolak), serta menyucikan Allah Ta’ala dari segala hal yang tidak layak bagi-Nya [7].

Pembagian tauhid ini bisa diketahui dari hasil penelitian dan pengkajian secara komprehensif terhadap dalil-dalil Al-Kitab dan As-Sunnah [7]. Pembagian tauhid menjadi tiga semacam ini adalah perkara yang menjadi ketetapan dalam madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Maka barangsiapa menambahkan menjadi empat atau lima macam itu merupakan tambahan dari dirinya sendiri. Karena para ulama membagi tauhid menjadi tiga berdasarkan kesimpulan dari Al-Kitab dan As-Sunnah [8].

Semua ayat yang membicarakan tentang perbuatan-perbuatan Allah Ta’ala, maka itu tercakup dalam tauhid rububiyyah. Dan semua ayat yang membicarakan tentang ibadah, perintah untuk beribadah dan ajakan kepadanya, maka itu mengandung tauhid uluhiyyah. Dan semua ayat yang membicarakan tentang nama-nama dan sifat-sifat-Nya, maka itu mengandung tauhid asma’ wa shifat [9].

 

Hubungan (kaitan) antara ketiga macam tauhid tersebut di atas

Kaitan antara ketiga macam tauhid ini adalah; bahwa tauhid rububiyyah dan tauhid asma’ wa shifat mengonsekuensikan tauhid uluhiyyah. Adapun tauhid uluhiyyah mengandung keduanya. Artinya, barangsiapa yang mengakui keesaan Allah dalam hal uluhiyyah, maka secara otomatis dia pun mengakui keesaan Allah Ta’ala dalam hal rububiyyah dan asma’ wa shifat.

Orang yang meyakini bahwa Allah Ta’ala lah sesembahan yang benar (sehingga dia pun menujukan ibadah hanya kepada-Nya), maka dia tentu tidak akan mengingkari bahwa Allah lah Dzat yang menciptakan dan memberikan rezeki, yang menghidupkan dan mematikan, dan bahwasanya Allah memiliki nama-nama yang terindah dan sifat-sifat yang mulia [10].

Adapun orang yang mengakui tauhid rububiyyah dan tauhid asma’ wa shifat, maka wajib baginya untuk mentauhidkan Allah dalam hal ibadah (tauhid uluhiyyah). Orang-orang kafir yang didakwahi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengakui tauhid rububiyyah. Akan tetapi, pengakuan ini belum bisa memasukkan ke dalam Islam. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi mereka supaya mereka beribadah kepada Allah Ta’ala semata dan meninggalkan sesembahan selain-Nya. Oleh sebab itu, di dalam Al-Qur’an seringkali disebutkan penetapan tauhid rububiyyah sebagaimana yang telah diakui oleh orang-orang kafir dalam rangka mewajibkan mereka untuk mentauhidkan Allah Ta’ala dalam hal ibadah [10].

Di antara ketiga macam tauhid di atas, maka yang paling dituntut adalah tauhid uluhiyyah. Sebab itulah perkara yang menjadi muatan pokok dakwah para rasul dan sebab utama diturunkannya kitab-kitab, dan karena itu pula ditegakkan jihad fi sabilillah. Hal ini supaya hanya Allah Ta’ala yang disembah dan segala sesembahan selain-Nya ditinggalkan [9].

Seandainya tauhid rububiyyah itu sudah cukup, niscaya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak perlu memerangi orang-orang kafir di masa itu. Bahkan itu juga berarti tidak ada kebutuhan untuk diutusnya para rasul. Maka ini menunjukkan bahwa sesungguhnya yang paling dituntut dan paling pokok adalah tauhid uluhiyyah. Adapun tauhid rububiyyah, maka itu adalah dalil atau landasan untuknya [11].

 

Demikian sedikit catatan. Semoga bermanfaat.

Penulis: Ari Wahyudi

 

Catatan Kaki:

[1] Lihat keterangan Syaikh al-Fauzan dalam ‘Aqidatu at-Tauhid, hal. 22-24.

[2] Lihat keterangan Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz al-Jibrin dalam Tahdzib Tashil Al-‘Aqidah al-Islamiyah, hal. 27.

[3] Lihat At-Tauhid, Ya ‘Ibadallah, hal. 22.

[4] Lihat al-Irsyad ila Shahih al-I’tiqad, hal. 19.

[5] Lihat Qurratu ‘Uyunil Muwahhidin, hal. 4.

[6] Lihat It-hafu Dzawil ‘Uqul ar-Rasyidah, hal. 54.

[7] Lihat Kutub wa Rasa’il, Abdil Muhsin, 3: 28.

[8] Lihat keterangan Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah dalam at-Ta’liqat al-Mukhtasharah ‘alal ‘Aqidah ath-Thahawiyah, hal. 28.

[9] Lihat keterangan Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah dalam at-Ta’liqat al-Mukhtasharah ‘alal ‘Aqidah ath-Thahawiyah, hal. 29.

[10] Lihat Kutub wa Rasa’il, Abdil Muhsin, 3: 30-31.

[11] Lihat keterangan Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah dalam at-Ta’liqat al-Mukhtasharah ‘alal ‘Aqidah ath-Thahawiyah, hal. 30.

Sumber: https://muslim.or.id/

Kengerian Hari Kiamat

Kengerian Hari Kiamat

Huru – hara di jagat raya

Akan tiba saatnya malaikat Israfil meniup sangkakala. Bumi diguncangkan dengan sedahsyat – dahsyatnya. Gunung – gunung dihancurkan dan diterbangkan bagai bulu berhamburan, manusia berlarian bak belalang beterbangan. Lautan meluap dan menyala, langit terbelah dan merapuh, cahaya rembulan menghilang, bintang berjatuhan, matahari pun digulung.

اِذَا رُجَّتِ الْاَرْضُ رَجًّاۙ – ٤  وَّبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّاۙ – ٥ فَكَانَتْ هَبَاۤءً مُّنْۢبَثًّاۙ – ٦

“Apabila bumi diguncangkan sedahsyat-dahsyatnya, dan gunung-gunung dihancurluluhkan sehancur-hancurnya, maka jadilah ia debu yang beterbangan.” (QS. Al Waqi’ah: 4-6)

وَتَكُوْنُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوْشِۗ

“Dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan.” (QS. Al Qari’ah: 5)

خُشَّعًا اَبْصَارُهُمْ يَخْرُجُوْنَ مِنَ الْاَجْدَاثِ كَاَنَّهُمْ جَرَادٌ مُّنْتَشِرٌۙ

Pandangan mereka tertunduk, ketika mereka keluar dari kuburan, seakan-akan mereka belalang yang beterbangan.” (QS. Al Qomar: 7)

اِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْۖ – ١ وَاِذَا النُّجُوْمُ انْكَدَرَتْۖ – ٢  وَاِذَا الْجِبَالُ سُيِّرَتْۖ – ٣

“Apabila matahari digulung, bintang-bintang berjatuhan, dan gunung-gunung dihancurkan.” (QS. At Takwir: 1-3)

اِذَا السَّمَاۤءُ انْفَطَرَتْۙ – ١ وَاِذَا الْكَوَاكِبُ انْتَثَرَتْۙ – ٢ وَاِذَا الْبِحَارُ فُجِّرَتْۙ – ٣

“Apabila langit terbelah, bintang-bintang jatuh berserakan, dan lautan dijadikan meluap.” (QS. Al Infithar: 1-3)

وَانْشَقَّتِ السَّمَاۤءُ فَهِيَ يَوْمَىِٕذٍ وَّاهِيَةٌۙ

“Dan terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi rapuh.” (QS. Al Haaqqah: 16)

وَاِذَا الْبِحَارُ سُجِّرَتْۖ

“Dan apabila lautan dipanaskan.” (QS. At Takwir: 6)

Banyak mata terbelalak, wajah biru muram tertunduk terhina penuh penyesalan dan hati takut tak terkira. Hari itu ibu akan lalai dengan anak susuannya. Manusia berlari dari saudara, ibu-bapak, istri dan anak-anaknya. Manusia berlarian untuk dirinya masing – masing. [1]

فَاِذَا جَاۤءَتِ الصَّاۤخَّةُ ۖ – ٣٣ يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ اَخِيْهِۙ – ٣٤  وَاُمِّه وَاَبِيْهِۙ – ٣٥ وَصَاحِبَتِه وَبَنِيْهِۗ – ٣٦

“Maka apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua), pada hari itu manusia lari dari saudaranya, dan dari ibu dan bapaknya, dan dari istri dan anak-anaknya.” (QS. ‘Abasa: 33-37)

 

Keadaan manusia saat hari kebangkitan

Manusia dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan tanpa alas kaki, telanjang dan dalam keadaan tidak dikhitan. Manusia benar – benar akan dibangkitkan lagi sebagaimana dulu pernah diciptakan pertama kali, keluar dari rahim ibu dalam keadaan seperti itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلاً

“Manusia akan dikumpulkan pada hari kiamat dalam keadaan tidak beralas kaki, tidak berpakaian dan belum dikhitan.” (HR. Muslim no 2859)

Manusia dibangkitkan dalam keadaan yang bermacam – macam. Orang yang selama di dunia selalu meminta – minta kepada orang lain, dia akan dibangkitkan dalam keadaan berwajah tanpa daging. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِىَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِى وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْم

Seseorang yang selalu meminta-minta kepada orang lain, di hari kiamat ia akan menghadap Allah dalam keadaan tidak sekerat daging sama sekali di wajahnya.(HR. Bukhari no. 1474 dan Muslim no. 1040 )

Orang yang semasa di dunia senantiasa dalam kesombongan, dia akan dibangkitkan dalam keadaan berbadan sebesar semut. ‘Amr bin Syu’aib meriwayatkan dari ayahnya dari kakeknya dari Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Orang-orang yang sombong dikumpulkan pada hari kiamat seperti semut-semut kecil dalam bentuk manusia, diliputi oleh kehinaan dari segala arah, digiring ke penjara di Jahannam yang disebut Bulas, dilalap oleh api dan diberi minuman dari perasan penduduk neraka, thinatul khabal.(HR. Tirmidzi, dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Adabul Mufrad no. 434)

Laki – laki yang selama di dunia berpoligami namun tidak adil kepada istri – istrinya, maka akan dibangkitkan dalam keadaan berbadang miring. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَتْ لَهُ امْرَأَتَانِ فَمَالَ إِلَى إِحْدَاهُمَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَشِقُّهُ مَائِلٌ

“Siapa yang memiliki dua orang istri lalu ia cenderung kepada salah seorang di antara keduanya, maka ia datang pada hari kiamat dalam keadaan badannya miring.” (HR. Abu Dawud no. 2133, Ibnu Majah no. 1969, An Nasai no. 3942. Syaikh Al Albani menyatakan hadits tersebut shahih)

Para pelaku riba’ akan dibangkitkan dalam keadaan berjalan sempoyongan seperti orang gila. Allah Ta’ala berfirman,

اَلَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ الرِّبٰوا لَا يَقُوْمُوْنَ اِلَّا كَمَا يَقُوْمُ الَّذِيْ يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطٰنُ مِنَ الْمَسِّۗ

“Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila.” (QS. Al Baqarah: 275)

Orang – orang kafir akan berjalan di atas wajah – wajah mereka. Dari Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu, ada seorang berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, bagaimana bisa orang kafir digiring di atas wajah mereka pada hari Kiamat?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Bukankah Rabb yang membuat seseorang berjalan di atas kedua kakinya di dunia, mampu untuk membuatnya berjalan di atas wajahnya pada hari kiamat?!” (HR.Bukhari no. 4760 dan Muslim no. 2806)

 

Padang mahsyar yang mencekam

Bumi akan ditarik dan didatarkan. Manusia akan melanjutkan perjalanan menuju persidangan di hadapan kepada Dzat yang telah menciptakan dan membangkitkannya lagi. Semua akan dikumpulkan dalam dataran luas dan rata.[2] Matahari akan didekatkan 1 mil. Peluh bercucuran hingga ada yang tenggelam karenanya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pada hari kiamat, matahari didekatkan jaraknya terhadap makhluk hingga tinggal sejauh satu mil.”

Sulaim bin Amir (perawi hadits ini) berkata, “Demi Allah, aku tidak tahu apa yang dimaksud dengan mil. Apakah ukuran jarak perjalanan, atau alat yang dipakai untuk bercelak mata.”

Beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Manusia tersiksa di dalam keringatnya sesuai dengan kadar amal-amalnya. Di antara mereka ada yang keringatnya sampai kedua mata kakinya. Ada yang sampai kedua betisnya. Ada pula yang sampai pinggangnya. Ada juga yang keringatnya sungguh-sungguh menyiksanya.”

Perawi berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menunjuk dengan tangannya ke mulutnya.” (HR. Muslim no. 2864)

Di antara hal yang membuat mencekam adalah didatangkannya neraka pada masa – masa di padang mahsyar tersebut. Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يُؤْتَى بِجَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ لَهَا سَبْعُونَ أَلْفَ زَمَامٍ، مَعَ كُلِّ زَمَامٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ يَجُرُّونَهَا

“Didatangkan neraka di hari itu, dalam keadaan memiliki 70.000 tali kekang. Setiap tali kekang diseret oleh 70.000 malaikat.” (HR. Muslim no. 2842)

Masa penantian, sungguh hari – hari mengerikan dan menyakitkan.  Letih dan lelah menunggu dimulainya persidangan. Pergilah manusia kepada Nabi Adam ‘alaihissalaam meminta untuk memohonkan syafaat kepada Allah Ta’ala, namun Nabi Adam ‘alaihissalam menjawab, “Sungguh hari ini Rabbku sangat murka. Belum pernah Dia murka seperti ini sebelumnya dan Dia tidak akan murka seperti ini lagi setelahnya. Sungguh, Dia melarangku akan suatu pohon, tetapi saya berbuat maksiat. Saya juga butuh syafaat, saya juga butuh syafaat. Pergilah ke selain aku. Pergilah kepada Nabi Nuh ‘alaihis salaam.”

Mereka pun lantas mendatangi Nabi Nuh ‘alaihis salaam dan meminta supaya beliau memohonkan syafaat kepada Allah Ta’ala, namun beliau tidak mampu untuk mengabulkan permintaan itu. Kemudian mereka melanjutkan menuju Nabi Ibrahim, Nabi Musa, dan Nabi Isa ‘alaihimus salaam. Akan tetapi mereka semua tidak mampu, dan mengatakan perkataan yang kurang lebih sama, “Sungguh, hari ini Rabbku sangat murka. Belum pernah Dia murka seperti ini sebelumnya dan Dia tidak akan murka seperti ini lagi setelahnya.”

Akhirnya mereka mendatangi Nabi Muhammad shalallaahu ‘alaihi wa sallam dan meminta supaya beliau memohonkan syafaat kepada Allah. Beliau pun lantas berangkat hingga sampai di bawah Arsy. Beliau bersujud kepada Rabb. Kemudian Allah Ta’ala ajarkan pada beliau pujian-pujian kepada-Nya serta keindahan sanjungan terhadap-Nya yang belum pernah Dia ajarkan kepada selain beliau. Hingga akhirnya Allah Ta’ala pun mengabulkan doa Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam tersebut. [3]

 

Persidangan menegangkan

Allah Ta’ala datang, sedangkan malaikat berbaris berurutan. Tibalah hari persidangan. Manusia yang selama di dunia selalu mencaci-maki, menuduh, dan makan harta orang lain serta membunuh dan menyakiti orang lain, maka saat itulah manusia akan dituntut atas apa yang telah dilakukan di dunia.

Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tahukah kamu siapakah orang bangkrut itu?”

Para Sahabat radhiyallahu ’anhum menjawab, “Orang bangkrut menurut kami adalah orang yang tidak punya uang dan barang.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya orang bangkrut di kalangan umatku, (yaitu) orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa (pahala amalan) shalat, puasa, dan zakat. Tetapi dia juga mencaci maki si ini, menuduh si itu, memakan harta orang ini, menumpahkan darah orang ini, dan memukul orang ini. Maka orang ini diberi sebagian kebaikan-kebaikannya, dan orang ini diberi sebagian kebaikan-kebaikannya. Jika kebaikan-kebaikannya telah habis sebelum diselesaikan kewajibannya, kesalahan-kesalahan mereka diambil lalu ditimpakan padanya, kemudian dia dilemparkan di dalam neraka.” (HR. Muslim no. 2581)

Kemudian orang – orang yang akan binasa dihisab di depan banyak orang sehingga dia akan sangat malu dengan dosa – dosanya. Manusia akan diberikan catatan amalannya. Orang yang celaka akan menerima catatan amalnya dengan tangan kirinya. Dia berkata, “Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku. Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaanku daripadaku”. (Allah ta’ala berfirman): “Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala.”[4]

Kemudian tibalah hari penimbangan. Sekecil apapun amalan seseorang di dunia pasti akan Allah Ta’ala datangkan pada hari kiamat. Termasuk berbagai kemaksiatan dan dosa yang pernah dilakukan manusia semasa di dunia, meskipun tidak ada orang yang tahu dan meskipun semasa di dunia manusia telah melupakannya. Kemudian manusia akan dikelompok-kelompokkan. Orang zhalim akan dikelompokkan dengan orang zhalim, orang munafik dengan orang munafik dan lain sebagainya. Lantas Allah Ta’ala jadikan tempat tersebut gelap.

 

Bentangan di atas neraka Jahannam

Manusia akan melewati jembatan yang terbentang di atas neraka jahannam. Jembatan yang lebih halus dari rambut, lebih tajam dari pedang, licin, menggelincirkan, terdapat besi – besi pengait dan kawat berduri berujung bengkok. Banyak manusia akhirnya tergelincir dan terjatuh ke dalam panasnya neraka Jahannam, dan tidak ada yang menjamin kita kelak dapat melewatinya dengan selamat. Kita berdoa semoga kita termasuk orang – orang yang Allah Ta’ala beri keselamatan.

بَلَغَنِي أنَّ الجِسْرَ أدَقُّ مِنَ الشَّعْرَةِ، وأَحَدُّ مِنَ السَّيْفِ

“Telah sampai (berita) kepadaku bahwa shirath itu lebih halus dari rambut dan lebih tajam dari pedang … ” (HR. Muslim no. 183)

ثم يؤتى بالجسر فيجعل بين ظهري جهنم. قلنا: يا رسول الله، وما الجسر؟ قال: مدحضة مزلة، عليه خطاطيف وكلاليب، وحسكة مفلطحة لها شوكة عقيفاء، تكون بنجد، يقال لها: السعدان،

“Kemudian didatangkan jembatan lalu dibentangkan di atas permukaan neraka Jahannam.”

Kami (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana bentuk jembatan itu?”

Jawab beliau, “Licin dan mengelincirkan. Di atasnya terdapat besi-besi pengait dan kawat berduri yang ujungnya bengkok, ia bagaikan pohon berduri di Nejd, dikenal dengan pohon Sa’dan … ” (HR. Bukhari no. 7439 dan Muslim no. 183)

Sungguh, mungkin terkadang kita terlalu tersibukkan dengan dunia dan melupakan kengerian di hari kiamat. Padahal kehidupan yang abadi adalah kehidupan akhirat. Saat ini, hari – hari yang sedang kita jalani adalah kenyataan bagi kita dan hari kiamat itu masih dalam berita yang harus dipercaya. Kelak di hari kiamat nanti, hari kiamat adalah nyata dan hari ini tinggallah cerita yang akan disesali oleh banyak manusia.

 

Penulis Apt. Pridiyanto

Catatan kaki

[1] Lihat juga QS. Thaha: 102 dan QS. Al Hajj: 1-2, QS. ‘Abasa: 33-37

[2] Lum’atul I’tiqad syarah Syaikh Fauzan hal. 205

[3] Lihat selengkapnya di HR. Bukhari no. 7510 dan Muslim no. 193

[4] Lihat selengkapnya QS. Al Haqqah : 25 – 31

Sumber: https://muslim.or.id/59152-kengerian-di-hari-kiamat.html

Ujian dan Jalan Keluar Bagi Orang yang Bertakwa

Ujian dan Jalan Keluar Bagi Orang yang Bertakwa

Kita sedang berjalan di atas sebuah jalan kehidupan. Menyusuri waktu demi waktu. Tertoreh berbagai kisah dalam lembaran kita. Canda, tawa, tangis dan air mata mengisi di antara lipatan cerita. Kisah pilu hingga heroik mungkin pernah mewarnai hari – hari. Berbagai ujian datang menguji ketegaran dan keteguhan keimanan. Sekencang apapun kita berlari dan bersembunyi, ujian akan tiba di sebuah titik di jalan yang kita tak pernah tahu itu sebelumnya.

Jalan kita berbagai bentuk sesuai dengan ketentuan Nya. Ada kalanya jalan itu datar dan mulus, namun tak jarang pula jalan berkelok, berkerikil bahkan berduri. Namun, benarkah ada jalan buntu??

Ujian Pasti Datang

Allah ta’ala berfirman

كُلُّ نَفۡسٖ ذَآئِقَةُ ٱلۡمَوۡتِۗ وَنَبۡلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلۡخَيۡرِ فِتۡنَةٗۖ وَإِلَيۡنَا تُرۡجَعُونَ ٣٥

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.” (QS. Al Anbiya: 35)

Al Imam Ibnu Katsir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan” adalah Allah akan menguji manusia dengan musibah dan juga nikmat untuk melihat siapakah di antara hamba Nya yang bersyukur dan siapa yang kufur, siapa yang bersabar dan siapa yang berputus asa, sebagaimana perkataan ‘Ali bin Abi Thalhah, dari Ibnu ‘Abbas, beliau mengatakan bahwa Allah akan menguji dengan ujian kebaikan dan keburukan, kesempitan dan kelapangan, kesehatan dan rasa sakit, kekayaan dan kefakiran, halal dan haram, ketaatan dan kemaksiatan, petunjuk dan kesesatan, dan seterusnya. (Tafsir Ibnu Katsir, 5/342)

Saat jalan kita mulus, bukan berarti kita tak diuji. Kemudahan itu juga merupakan ujian. Apakah di saat jalan kita tanpa duri kita masih mengingat Allah ta’ala? Apakah kita mensyukuri nikmat dari Nya? Apakah kita memanfaatkan kenikmatan tersebut untuk ketaatan? Atau malah menggunakannya dalam berbagai kemaksiatan?

Begitu pula saat jalan kita berkelok dan banyak rintangan yang kita hadapi. Apakah kita akan bersabar? Mampukah kita ridho dengan ketentuan dari Nya? Akankah kita memohon ampun atas dosa yang pernah kita perbuat? Apakah kita lantas bersimpuh dan sujud kepada Nya? Ataukah kita malah berputus asa dan berprasangka buruk kepada Allah? Akankah kita malah semakin menjauh dari Allah ta’ala dan menambah kemaksiatan?

Jalan tanpa hambatan bukanlah tolok ukur keberhasilan seseorang dalam menjalani kehidupannya. Bukan pula parameter kebahagiaan  dalam kamus kehidupan. Lihatlah betapa terjal dan curamnya jalan yang harus dilalui oleh para Nabi dan Rasul, namun mereka adalah orang-orang yang paling berbahagia. Jadi, beban yang sedang kita pikul bukanlah alasan bagi kita untuk seolah menjadi orang yang paling sengsara di dunia ini.

Jalan Keluar Bagi Orang yang Bertakwa

Di saat semakin hari beban terasa semakin berat, pikiran terasa semakin penat, hujan kesedihan semakin lebat, dan jiwa terasa semakin terikat kuat, apakah saatnya kita bertekuk lutut dengan ini semua?? Tidak, karena Allah ta’ala telah berjanji :

فَإِذَا بَلَغۡنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمۡسِكُوهُنَّ بِمَعۡرُوفٍ أَوۡ فَارِقُوهُنَّ بِمَعۡرُوفٖ وَأَشۡهِدُواْ ذَوَيۡ عَدۡلٖ مِّنكُمۡ وَأَقِيمُواْ ٱلشَّهَٰدَةَ لِلَّهِۚ ذَٰلِكُمۡ يُوعَظُ بِهِۦ مَن كَانَ يُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۚ وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجٗا ٢  وَيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُۚ وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَٰلِغُ أَمۡرِهِۦۚ قَدۡ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَيۡءٖ قَدۡرٗا ٣

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS. Ath Thalaq : 2-3)

Selama seseorang istiqomah melaksanakan apa yang diperintah dan menjauhi apa yang dilarang Nya, Allah ta’ala pasti akan memberinya jalan keluar. Syaikh As Sa’di menjelaskan terkait ayat tersebut bahwa Allah akan membalas dengan kebaikan di dunia maupun di akhirat bagi orang yang bertakwa kepada Allah dan mengutamakan keridhaan Allah dalam semua keadaannya. Allah ta’ala akan memberikan kelapangan dan jalan keluar dari setiap kesulitan dan kesempitan. Dan sebaliknya, orang yang tidak bertakwa kepada Allah akan terjatuh ke dalam kesempitan, beban dan belenggu. (Tafsir As Sa’di : 869/1)

Jalan buntu Itu Tak Ada

“Benarkah ada jalan buntu??

Terjawab sudah pertanyaan tersebut. Tak ada jalan buntu selama kita bertakwa kepada Allah ta’ala. Allah ta’ala sendiri yang mengatakannya. Adakah perkataan yang lebih benar dibandingkan perkataan Dzat yang telah menciptakan alam semesta? Tentu tidak ada. Allah ta’ala yang menciptakan segala sesuatu, termasuk ujian itu, maka Dia pula yang paling tahu apa dan bagaimana jalan keluarnya.

Kita boleh bersedih, tapi jangan berlarut – larut dan jangan sampai berputus asa. Bisa saja kita merasa masalah kita sangat berat, tapi ingatlah bahwa ujian terberat adalah ujian yang dihadapi para Nabi dan Rasul. Semakin kuat iman seseorang maka semakin berat pula ujiannya. Namun pada realitanya, apakah Nabi dan Rasul pernah sampai stress?? Jawabannya ‘tidak’, karena mereka mengetahui ilmunya, mereka tahu bagaimana cara mengatasi permasalahan dan ujian.

Apakah mereka tidak bersedih? Tidak perlu ditanyakan, karena kita ingat betul bagaimana sedihnya Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam  saat terus ditentang dan disakiti kaum musyrikin di saat hatinya pilu dengan kematian Khadijah dan Ali bin Abi Thalib. Pun dengan kisah sedih yang pernah dialami Nabi dan Rasul lainnya. Sebagai pelipur lara pula, kita harus senantiasa ingat bahwa pahala bersabar itu tanpa batas. Di sinilah saat yang tepat bagi kita untuk mengamalkan ibadah ini.

إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجۡرَهُم بِغَيۡرِ حِسَابٖ ١٠

“Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” (QS. Az Zumar: 10)

Kita juga harus senantiasa ingat bahwa seberat apapun ujian yang kita hadapi saat ini, suatu saat ujian itu akan berlalu. Bukankah kita pernah dijejali dengan slogan “badai pasti berlalu”? Ya, di suatu hari nanti, hari – hari berat ini akan menjadi sejarah dan bukti seberapa teguh iman kita. Hari – hari ini hanyalah hari – hari pendek tempat mengumpulkan bekal. Oleh karenanya tetaplah bersemangat menjalani, memohon pertolongan kepada Allah ta’ala dan senantiasa berprasangka baik kepada Nya. Bilal bin Sa’ad rahimahullaahu berkata:

عِبَادَ اللهِ، إِعْلَمُوا أَنَّكُمْ تَعْلَمُوْنَ فِي أَيَّامٍ قِصَارٍ لِأَيَّامٍ طُوَالٍ، وَ فِي دَارِ زَوَالٍ لِدَارِ مَقَامٍ، وَفِي دَارِ نَصَبٍ وَ حُزْنٍ لِدَارِ نَعِيْمٍ وَ خُلْدٍ

“Wahai hamba Allah, ketahuilah sesungguhnya kalian hanya beramal pada hari – hari yang pendek untuk hari – hari yang panjang. Kalian hanya beramal di negeri yang akan lenyap untuk negeri yang menjadi tempat tinggal, di negeri penderitaan dan kesedihan untuk negeri kenikmatan dan keabadian.“ (Shifatu shafwah, 2/377)

Semoga Allah ta’ala memberi taufik. Semoga shalawat dan salam dari Allah tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

 

Penulis: Apt. Pridiyanto

Sumber: https://muslim.or.id/58806-ujian-dan-jalan-keluar-bagi-orang-yang-bertakwa.html

Memberi Nafkah kepada Anak-Istri adalah Ibadah yang Agung

Memberi Nafkah kepada Anak-Istri adalah Ibadah yang Agung

Sebagian dari suami ketika memberikan nafkah kepada anak dan istrinya, bisa jadi ia merasa tidak sedang melakukan amal ibadah kepada Allah. Padahal memberikan nafkah kepada anak dan istri adalah salah satu amal ibadah yang agung. Merupakan amal ibadah yang wajib bagi seorang suami sekaligus ayah. Amal ibadah yang wajib jauh lebih besar pahalanya daripada amal ibadah sunah.

Perhatikan nasihat dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berikut ini,

بعض الناس ينفق على أهله ، ولكنه لا يشعر بأنه يتقرب إلى الله بهذا الإنفاق و لو جاءه مسكين و أعطاه ريالا واحدا يشعر بأنه متقرب إلى الله بهذه الصدقة  و لكن الصدقة الواجبة على الأهل أفضل و أكثر أجرا

“Sebagian manusia ketika memberikan nafkah kepada keluarganya, ia tidak merasa bahwa ia sedang beribadah kepada Allah dengan nafkah ini. Ketika datang seorang yang miskin lalu ia memberikan satu rial, maka ia merasa sedang beribadah kepada Allah.” (Syarh Riyadhus Shalihin, 4: 389)

Kita perlu benar-benar memperhatikan nasihat ini. Yang perlu kita ketahui bahwa memberi nafkah kepada anak dan istri itu hukumnya wajib. Apabila ayah menyia-nyiakan hal ini, maka ia berdosa.

Allah Ta’ala berfirman,

وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا

“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. (QS. Al-Baqarah [2]: 233)

Harusnya kita lebih berbahagia dan lebih berharap pahala ketika memberi nafkah kepada anak dan istri, karena ini adalah ibadah wajib. Secara umum, ibadah wajib lebih Allah cintai dan lebih banyak pahalanya daripada ibadah sunah.

Perhatikanlah hadits berikut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهُِ

“Sesungguhnya Allah berfirman, ‘Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku telah mengobarkan peperangan dengannya. Dan tidaklah ada seorang hamba-Ku yang mendekatkan dirinya kepada-Ku, dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada amalan yang Aku wajibkan kepadanya’.” (HR. Bukhari no. 6502)

Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata ketika menjelaskan hadits ini,

فكانت الفرائض أكمل فلهذا كانت أحب إلى الله تعالى وأشد تقريبا

“Amalan-amalan yang wajib itu lebih sempurna. Oleh karena itu, lebih dicintai oleh Allah dan lebih mendekatkan diri (taqarrub).” (Fathul Baari, 11: 343, Darul Ma’rifah)

Sungguh ironis apabila ada seorang ayah pelit kepada anak-istri dan keluarga, sedangkan ia sangat baik kepada teman-temannya seperti sering mentraktir teman-temannya. Oleh karena itu, salah satu cara mengetahui akhlak yang sebenarnya pada seseorang adalah bagaimana sikap dia ketika bermuamalah dengan keluarganya. Dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan bahwa yang paling baik adalah mereka yang paling baik kepada keluarganya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan akulah yang paling baik di antara kalian dalam bermuamalah dengan keluargaku.” (HR. Tirmidzi)

 

Demikian, semoga bermanfaat.

@ Lombok, Pulau Seribu Masjid

Oleh: Raehanul Bahraen

Sumber https://muslim.or.id/58957-memberi-nafkah-kepada-anak-istri-juga-ibadah-yang-agung.html

Ketika Anak Bertanya tentang Mekanisme Kehamilan

Ketika Anak Bertanya tentang Mekanisme Kehamilan

Pertanyaan:

Anak saya berumur enam tahun, dan saat ini saya sedang hamil. Bagaimana cara menjelaskan kepadanya tentang asal-muasal pembentukan janin yang saya kandung ini? Dia berulang kali bertanya tapi saya tak tahu cara menjawabnya. Mohon bantu saya. Semoga Allah memberi Anda pahala.

Jawaban:

Salah satu pelajaran yang sangat penting, hendaknya orang tua menampakkan perhatian yang baik terhadap keingintahuan anak-anaknya, apa pun pandangan orang tua tentang jawaban pertanyaan itu. Juga, jangan sampai menampakkan bahwa pertanyaan-pertanyaan ini merupakan sikap tercela, agar tidak sampai muncul rasa penasaran tertentu terhadap tema yang ditanyakan.

Khususnya berkenaan dengan pertanyaan yang diajukan ini, si ibu bisa mengarahkan jawabannya kepada:

  • (Sifat-sifat) Allah Sang Pencipta dan kekuasaan-Nya;
  • Bagaimana Dia menghidupkan makhluk tak bernyawa;
  • Bagaimana Dia mencabut nyawa makhluk hidup;
  • Bagaimana Dia menciptakan Adam dari tanah;
  • Kemudian bagaimana Dia menciptakan anak keturunan Adam di dalam perut para ibu, setelah Dia menciptakan Adam tadi;
  • Bagaimana hebatnya kekuasaan Allah tampak pada penciptaan perut (rahim), padahal rahim bisa berisi manusia; sebuah tempat yang sesuai untuk tinggalnya si janin selama tempo tertentu;
  • Bagaimana si janin berubah-ubah, dari nuthfah (mani), kemudian berubah menjadi ‘alaqah (segumpal darah), selanjutnya berubah menjadi mudhghah (segumpal daging) yang sempurna maupun yang mengalami keguguran.

Demikian pula, si ibu bisa mengarahkan pembahasan kepada kekuasaan Allah, penciptaan-Nya, perhatian-Nya (kepada makhluk), serta hikmah-Nya. (Jelaskan juga) tentang rezeki dari Allah untuk (si janin) yang hidup di perut ibunya, padahal si janin tak punya kekuatan apa-apa, dan ibunya pun tidak bisa memberi rezeki kepadanya.

Si ibu juga bisa menjelaskan tentang ajal yang Allah tetapkan bagi si janin. Kemudian dengan kuasa Allah, Dia keluarkan si janin dari perut ibunya, sebagaimana Dia “mengeluarkan” anak ayam dari telur.

Demikianlah, bisa dengan penjelasan yang mungkin disampaikan oleh si ibu untuk menjawab pertanyaan buah hatinya pada usia-usia dini, dengan jawaban yang bersifat umum, yang bisa memuaskan anak yang mendengarnya, yaitu informasi- informasi yang benar, yang tidak ada keraguan di dalamnya.

Sangat bagus jika si ibu menguatkan jawabannya dengan ayat Al-Quran Al-Karim yang sesuai, sehingga ibu benar-benar mengarahkan pertanyaan si anak kepada sudut pandang yang berbeda. Supaya ibu tidak perlu malu dengan memberikan jawaban yang vulgar, dan tidak sampai memberikan jawaban yang tidak benar.

Wallohu a’lam.

Fatawa Sual wa Jawab (Diasuh oleh Syaikh Shalih Al-Munajjid)

Sumber: http://islamqa.info/ar/160348

Penerjemah: Tim Penerjemah Muslimah.Or.Id
Muroja’ah: Ustadz Ammi Nur Baits

Sumber: https://muslimah.or.id/