Select Page
Zuhud Meninggalkan Harta

Zuhud Meninggalkan Harta

Mungkin engkau beranggapan bahwa orang yang meninggalkan harta, maka dia adalah orang yang zuhud. Tidak selalu demikian. Meninggalkan harta dan menampakkan kemelaratan sangat mudah dilakukan orang yang ingin dipuji sebagai orang zuhud. Berapa banyak pendeta yang hanya berkutat di dalam biara dan makan sedikit, yang menjadikan mereka kuat melakukannya hanya karena ingin disanjung.

Zuhud harus menghindari harta dan kedudukan secara bersama-sama, agar zuhud bisa menjadi sempurna di dalam jiwa. Untuk mengetahui ciri zuhud yang pertama adalah bentuk-bentuknya.

Ibnul Mubarak berkata: “Zuhud yang paling utama adalah menyembunyikan kezuhudannya. Untuk itu harus memperhatikan tiga perkara dalam hal ini:

1. Tidak boleh menampakkan kegembiraan dengan apa yang ada (dimilikinya) dan tidak boleh menampakkan kesedihan karena tidak ada (hilang), sebagaimana firman Allah Ta’ala:

لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آَتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

(kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu…” (QS. Al-Hadid: 23).

2. Baginya, sama posisi orang yang memuji dan mencelanya. Ini merupakan tanda zuhud dalam kaitannya dengan kedudukan.

3. Kebersamaannya hanya dengan Allah. Biasanya, di dalam hatinya diliputi rasa senang untuk melakukan ketaatan.

Sedangkan cinta kepada dunia dan cinta kepada Allah yang bersemayam di dalam hati, maka ini ibarat air dan udara di dalam gelas. Jika air dimasukkan ke dalamnya, maka udaranya akan keluar. Keduanya tidak akan bisa berkumpul.

Sebagian orang salaf ditanya: “Apa tujuan mereka berlaku zuhud?” Dia menjawab: “Agar bisa bersama Allah.”

Yahya bin Mu’adz berkata: “Dunia ini laksana pengantin wanita. Siapa yang mencari dan menemukannya, maka ia akan lengket dengannya. Sedangkan orang zuhud adalah yang melumuri wajah pengantin itu dengan kotoran, mencabut rambutnya, dan merobek-robek pakaiannya. Sedangkan orang yang berilmu adalah yang menyibukkan diri bersama Allah daripada (sibuk) dengan dunia.”

———————————————

Diketik ulang dari buku Minhajul Qashidin karya Ibnu Qudamah al-Maqdisy

Sumber

Membalas Hadiah ketika Diberi Hadiah

Membalas Hadiah ketika Diberi Hadiah

Salah satu kemuliaan ajaran Islam adalah sunnah memberikan hadiah kepada orang lain. Hal ini akan menimbulkan rasa cinta dan kasih sayang serta menghilangkan perasaan yang dapat merusak persaudaraan seperti hasad, dengki, iri dan lain-lainnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَهَادُوا تَحَابُّوا

Hendaklah kalian saling memberi hadiah, Niscaya kalian akan saling mencintai“.[1]

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menjelaskan bahwa hadiah ini bisa menyebabkan persatuan dan saling cinta, bahkan terkadang memberikan hadiah lebih utama daripada sedekah pada keadaan tertentu. Beliau berkata,

ولأنها سبب للألفة والمودة. وكل ما كان سبباً للألفة والمودة بين المسلمين فإنه مطلوب؛ ولهذا يُروى عن النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم أنه قال: (تهادوا تحابوا)، وقد تكون أحياناً أفضل من الصدقة وقد تكون الصدقة أفضل منها

“Karena hadiah merupakan sebab persatuan dan rasa cinta. Apapun yang dapat menjadi sebab persatuan dan rasa cinta antar kaum muslimin, maka ini dianjurkan. Diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ‘“Hendaklah kalian saling memberi hadiah, Niscaya kalian akan saling mencintai’. Terkadang memberi hadiah itu lebih baik dan terkadang sedekah itu lebih baik (pada keadaan tertentu).”[2]

Ketika kita diberi hadiah, hendaknya kita menerima hadiah tersebut walaupun nilainya kecil, karena hakikat dari hadiah adalah ingin menunjukkan perhatian, menimbulkan persatuan dan rasa cinta sesama kaum muslimin.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَا نِسَاءَ الْمُسْلِمَاتِ لاَ تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا وَلَوْ فِرْسِنَ شَاةٍ

“Wahai kaum muslimah, janganlah sekali-kali seorang wanita meremehkan pemberian tetangganya walaupun hanya ujung kaki kambing.”[3]

Bahkan ada anjuran untuk tidak menolak saat diberikan hadiah karena bisa jadi akan menyakiti hati orang yang memberikan hadiah. Terima saja hadiah tersebut, jika kita tidak berkehendak kita bisa memberikan kepada yang lebih membutuhkan.

Rasulullahu shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَجِيبُوا الدَّاعِيَ، وَلَا تَرُدُّوا الْهَدِيَّةَ

“Hadirilah undangan dan jangan tolak hadiah!”[4]

Selain disunnahkan memberikan hadiah, Islam juga menganjurkan kita agar membalas memberikan hadiah ketika diberikan hadiah. Bisa membalas saat itu juga atau membalas selang beberapa hari atau pekan berikutnya ketika kita mampu memberi balasan hadiah tersebut.

‘Aisyah menceritakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقْبَلُ الْهَدِيَّةَ وَيُثِيبُ عَلَيْهَا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa menerima hadiah dan biasa pula membalasnya.”[5]

As-Shan’ani menjelaskan,

فيه دلالة على أن عادته يَةِ كانت جارية بقبول الهدية والمكافأة عليها

“Hadits ini menunjukan bahwa merupakan kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima hadiah kemudian beliau membalas memberikan hadiah.”[6]

 

Demikian semoga bermanfaat

Penyusun: Raehanul Bahraen

 

Catatan kaki:
[1] HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad
[2] sumber: http://www.ibnothaimeen.com/all/noor/article_6080.shtml
[3] HR.Bukhari dan Muslim
[4] HR. Ahmad. Arnauth menyatakan hadis ini jayyid
[5] HR. Bukhari
[6] Subulus salam, kitabul buyu’ hal. 174

Sumber

Memberikan Keteladanan dengan Amal Perbuatan

Memberikan Keteladanan dengan Amal Perbuatan

Mengamalkan ilmu agama dan memberikan keteladanan dengan amal perbuatan sesungguhnya lebih mengena kepada sasaran dakwah daripada sekedar bicara tanpa amal yang nyata. Sebagaimana firman Allah Ta’ala tentang Syu’aib,

وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَى مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ

“Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang.” (QS. Huud [11]: 88)

Malik bin Dinar rahimahullah berkata, “Sesungguhnya seseorang yang memiliki ilmu (‘alim) namun tidak mengamalkan ilmunya, maka nasihatnya akan tergelincir dari dalam hati, sebagaimana tetesan air hujan akan tergelincir dari atas batu yang licin.” [1]

Dari Ma’mun, beliau mengatakan,

نحن إلى أن نوعظ بالأعمال أحوج من أن نوعظ بالأقوال

“Kami lebih butuh nasihat dengan (contoh) amal perbuatan daripada nasihat dengan kata-kata.” [2]

Hal ini karena barangsiapa yang rutin atau rajin beramal, maka merutinkan amal itu sendiri pada hakikatnya adalah bentuk berdakwah. Dengan demikian, dia menjadi contoh teladan bagi masyarakat kaum muslimin. Allah Ta’ala berfirman,

وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan [25]: 74)

Tidaklah seseorang itu mencapai kedudukan tersebut kecuali jika terkumpul dalam dirinya berbagai sifat kebaikan, yaitu dia mengumpulkan antara ilmu dan amal sekaligus. Adapun jika yang diperbanyak hanyalah ilmu, dan tidak memiliki perhatian terhadap amal, maka ilmu tersebut menjadi tidak bermanfaat.

Yang sering kita saksikan, manusia terkadang sangat perhatian untuk memperbanyak ilmu, menghapal dan menghadiri berbagai majelis pengajian. Akan tetapi, dia sering terluput dari shalat, khususnya shalat subuh. Jika kewajiban yang agung ini saja terlupakan, padahal shalat adalah rukun terbesar setelah dua kalimat syahadat dan perkara yang pertama kali ditanyakan pada hari kiamat, lalu di manakah bekas dan pengaruh dari ilmu yang sudah dia dipelajari itu?

Sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

كنا إذا فقدنا الرجل في صلاة العشاء وصلاة الفجر أسأنا به الظن

“Kami (para sahabat) dahulu jika ada seorang laki-laki yang terluput dari shalat subuh dan shalat isya’, kami pun berburuk sangka kepadanya.” [3]

Dalam sebuah hadits disebutkan,

إِنَّ أَثْقَلَ صَلَاةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ، وَصَلَاةُ الْفَجْرِ

“Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat isya’ dan shalat subuh.” [4]

Di zaman kita ini, zaman begadang di setiap malam, banyak kita jumpai orang-orang yang terluput alias tidak mendirikan shalat subuh pada waktunya. Mereka begadang di sepanjang malam dalam rangka diskusi ilmiah dalam berbagai masalah ilmu atau topik lainnya, kemudian mereka pun tidur di akhir malam dan tidak mengerjakan shalat subuh. Jika seseorang menghidupkan malam dengan membaca dan menghapal Al-Qur’an, namun dengan mengorbankan shalat subuh, maka perbuatan tersebut haram, dan dia pun berdosa dengan begadangnya tersebut.

Padahal, shalat subuh adalah shalat yang paling utama, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَفْضَلُ الصَّلَوَاتِ عِنْدَ اللهِ صَلَاةُ الصُّبْحِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فِي جَمَاعَةٍ

“Shalat yang paling utama di sisi Allah adalah shalat subuh pada hari jum’at secara berjamaah.” [5]

Dan pada zaman ini, shalat shubuh berjamaah di hari Jum’at menjadi shalat yang paling banyak disepelakan, terutama di negeri yang menjadikan hari Jum’at sebagai hari libur.

Semoga Allah Ta’ala memperbaiki keadaan kaum muslimin, di mana pun mereka berada. [6]

 

***

Penulis: M. Saifudin Hakim

 

 

Catatan kaki:

[1] Diriwayatkan oleh Al-Khathib Al-Baghdadi dalam Al-Iqtidha’, hal. 97.
[2] Jaami’ Bayaan Al-‘Ilmi, hal. 1236.
[3] Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 12/271, Ibnu Khuzaimah no. 1405 dan Ibnu Hibban no. 2099.
[4] HR. Bukhari no. 657 dan Muslim no. 651.
[5] HR. Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’ (7/207). Dinilai shahih oleh Al-ALbani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 1566.
[6] Disarikan dari kitab Tsamaratul ‘Ilmi Al-‘Amalu, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr, hal. 35-39.

Sumber

Mendapat Adzab Kubur Karena Tangisan Keluarganya

Mendapat Adzab Kubur Karena Tangisan Keluarganya

Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin

Soal: 

Benarkah mayit mendapatkan adzab kubur karena tangisan keluarganya?

Jawab:

Itu benar, mayit mendapatkan adzab kubur karena tangisan keluarganya, karena hal ini shahih dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam[1]. Namun para ulama rahimahumullah berbeda pendapat mengenai maksud hadits tersebut.

  • Sebagian ulama memaknai bahwa yang dimaksud hadits adalah orang kafir.
  • Sebagian ulama juga memaknai bahwa maksudnya adalah orang yang mewasiatkan kepada keluarganya untuk menangisinya setelah wafat.
  • Sebagian ulama juga memaknai bahwa maksudnya adalah seorang yang mengetahui bahwa keluarganya akan meratapinya setelah wafatnya, namun ia tidak melarangnya dari perbuatan tersebut semasa hidupnya karena ia memang ridha untuk diratapi. Dan diamnya ia merupakan pertanya dari keridhaannya tersebut. Dan keridhaan terhadap perbuatan munkar itu semisal dengan perbuatan kemungkaran.

Inilah tiga tafsiran para ulama mengenai hadits ini.

Namun (menurutku) semua tafsiran ini tidak sesuai dengan zahir hadits. Karena dalam hadits tidak ada makna demikian. Zahir hadits menunjukkan bahwa setiap mayit diadzab dengan tangan keluarganya, namun bukan adzab berupa hukuman, karena ia dalam hal ini tidak melakukan suatu dosa sehingga patut dihukum. Namun adzab yang dirasakan merupakan penderitaan dan kesedihan hati karena tangisan tersebut. Penderitaan dan kesedihan hati tidak melazimkan hukuman.

Tidakkah engkau lihat sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam tentang safar:

أنه قطعة من العذاب

ia adalah sepotong adzab

Padahal safar bukanlah hukuman dan bukan pula adzab. Namun yang dimaksud adalah kegalauan, kesusahan dan kegelisahan jiwa.

Demikian juga adzab bagi mayit di kuburnya dalam hal ini termasuk jenis tersebut. Yaitu, mayit merasakan penderitaan dan kesusahan, walaupun itu bukan merupakan hukuman atas dosa yang ia lakukan.

***

Catatan kaki

[1] Yang dimaksud beliau adalah hadits:

إنَّ الميِّتَ يُعذَّبُ في قبرِه ببكاءِ أهلِه عليه

sesungguhnya mayit diadzab di dalam kuburnya karena tangisan keluarganya kepadanya” (HR. Bukhari – Muslim).

***

Sumber: http://islamancient.com
Penerjemah: Yulian Purnama

Sumber

Menghisap Diri Sejauh Mana Diri Ini Melangkah

Menghisap Diri Sejauh Mana Diri Ini Melangkah

Terkadang kita perlu untuk berhenti sejenak dari segala aktivitas pencapaian target yang telah kita rancang. Berhenti sejenak untuk mengevaluasi diri (muhasabatun nafsi) terhadap apa saja yang telah kita capai, kemudian hal-hal apa saja yang kiranya patut untuk kita jadikan bahan evaluasi atas diri kita. Karena diri ini masih belum selesai dengan permasalahannya, alangkah lebih baik jika kita mengoreksi diri dan sangatlah penting untuk me-re-charge semangat dan niat awal kita dalam menuntut ilmu.

Allah memerintahkan kita untuk mengevaluasi dan mencela diri atas kekurangan kita dalam melakukan ketaatan dan amal shalih. Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (Akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18).

Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat ini berkata, “Hisablah dirimu sebelum dihisab. Perhatikanlah apa yang kamu tabung untuk dirimu dari amal shalih untuk hari kebangkitanmu dan saat kamu dihadapkan kepada Rabb-mu.”

Sebagaimana yang dinukilkan dari Syadad bin Aus radhiallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda,

الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ المَوْتِ، وَالعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ

Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah Ta’ala“. (HR. Ahmad, Turmudzi, Ibn Majah – dhaif).

Maka dari itu, apabila muhasabah sedemikian pentingnya, maka berusahalah, wahai saudaraku! Bila anda terbaring di waktu malam untuk tidur, evaluasilah dirimu dengan penuh kejujuran dan tanyailah diri anda:

• Berapa ayat yang saya hafal hari ini?
• Apakah saya sudah membaca wirid Al-Qur’an secara sempurna?
• Berapa hadist yang saya hafal sepanjang hari ini?
• Berapa lembar yang saya baca dari kitab Fulan?
• Berapa permasalahan ilmiah yang saya hafal atau yang saya kaji sepanjang hari ini?
• Apakah hari ini saya menghadiri majelis keimanan atau majelis ilmu yang bermanfaat?
• Berapa…?. Apakah…? Kenapa…? Bagaimana…? Dan seterusnya.

Apabila seseorang setelah mengevaluasi dirinya dan mendapati dirinya dalam keadaan baik, maka hendaklah dia bersyukur kepada Allah dan memohon tambahan taufiq. Tetapi bila ia mendapatkan dirinya lalai dan kurang dalam belajar, maka hendaknya ia segera mengejar ketertinggalannya.

Mulailah lembaran baru dan penuhi dengan semangat mencari ilmu. Perhatikan apa yang memalingkanmu dari belajar sebelumya dan hendaklah kamu menjauhinya. Buatlah jadwal belajar yang pasti. Mintalah bantuan kepada rekan-rekan yang shalih untuk bisa mempraktikkannya. Dan, demi Allah! Inilah keuntungan yang sebenarnya!


 

Footnote:

[1] Tafsir Ibnu Katsir, 4/342.

***

Referensi: Buku 102 Kiat Agar Semangat Belajar Agama Membara karangan Abul Qa’qa Muhammad bin Shalih Alu Abdillah, Edisi Indonesia, Edisi Revisi, Pustaka eLBA, Surabaya, 1426 H, hlm. 220-221.

Penulis: Rezki F. Usemahu

Sumber

Sebuah Sikap Bijak dalam Menyikapi Hidup

Sebuah Sikap Bijak dalam Menyikapi Hidup

Kondisi seseorang berubah-ubah, adakalanya dia memperoleh kenikmatan duniawi yang melimpah, namun terkadang diterpa kemiskinan dan kepapaan, didera sakit, didekati usia senja dan dibuat tak berdaya di masa tuanya.

Kondisi sakit dapat mengubah perangai seseorang dari sikap bijak menjadi tak sanggup menahan kesusahan. Demikian juga dengan usia senja, dapat melemahkan mentalnya sebagaimana fisiknya yang semakin melemah. Begitu pula dengan kenikmatan berupa kekuasaan, yang mengubahnya menjadi lebih sering mengabaikan sahabat-sahabatnya. Sama juga dengan popularitas, terkadang menjadikan manusia bersikap angkuh.

Oleh karena itu, alangkah baiknya jika seorang telah memiliki mentalitas dan kemuliaan yang tinggi, berusaha memantapkan hatinya untuk bersikap sederhana dalam keadaan senang maupun susah. Imam Ibnu Qutaibah rahimahullah mengatakan: “Disebutkan dalam kitab Kaliilah wa Dimnah: ‘Orang yang bijak tidak menjadi sombong karena kedudukan dan kebesaran, bagaikan gunung yang diterpa angin kencang yang dahsyat. Sedangkan orang yang dungu menjadi sombong karena kedudukan yang paling rendah sekalipun, bagaikan rumput yang bergoyang meski hanya dihempus angin sepoi-sepoi’.

Seorang teladan dari kalangan bangsawan yaitu Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Diceritakan bahwa ketika menjabat sebagai khalifah, suatu hari beliau pergi menuju masjid pada waktu sahur dengan ditemani pengawal. Beliau melintasi seorang laki-laki yang sedang tidur di jalanan. Tanpa sengaja kaki beliau menyandung tubuh laki-laki tersebut sehingga secara spontan dia berseru “Kamu ini gila ya?”. Lantas beliau menjawab “Tidak”. Melihat kejadian itu, pengawal beliau ingin sekali menghajar laki-laki itu, namun khalifah segera berseru “Bersabarlah! Orang itu hanya bertanya kepadaku ‘kamu ini gila ya?’ dan sudah aku jawab ‘tidak’”.

Beliau seorang bangsawan, seorang pemimpin yang layak mendapatkan penghormatan, sanjungan, dan kemuliaan. Sedangkan perkataan yang seperti itu adalah bentuk perendahan yang sungguh tidak layak. Namun dengan kedudukannya, beliau lantas tak menjadi angkuh. Perkataan yang demikian itu beliau jawab dengan respon tanpa berlebihan.

Teladan lain, apabila kita menginginkan contoh yang paling mengesankan tentang sikap kesederhanaan pada saat senang maupun susah, maka telusurilah perjalanan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau tak pernah berpaling dari sikap zuhud terhadap dunia, walaupun seujung jari.

Begitu juga dengan kecekatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di jalan dakwah. Beliau terus menerus menyeru manusia ke jalan petunjuk dan agama yang benar sehingga mengalami berbagai gangguan dari kelompok yang berbuat aniaya, namun beliau tidak membalas dan malah memaafkannya.

Maka benarlah perkataan Ibnul Jauzi rahimahullah yang menyatakan, “Siapa saja yang memperhatikan lautan dunia dan mengetahui kiat menghadapi gelombangnya serta menyadari cara bersabar dalam mempertahankan hidup, niscaya dia tidak akan berkeluh kesah tatkala musibah menerpanya dan tidak pula terlalu gembira ketika nikmat menyapanya”.

Dari dua teladan tersebut, marilah kita memandang diri kita. Apa jabatan kita jika dibandingkan dengan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, dan apa kedudukan kita dibanding Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Pantaskah kita ketika dicela membalas dengan perkataan hina? Dan pantaskah kita ketika diperlakukan dengan kasar membalasnya dengan amarah? Tidak. Tidaklah pantas wahai saudariku.

Sikapilah segalanya dengan bijak. Sebagaimana sebuah hadits yang agung telah menyebutkan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ

Artinya, “Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Segala keadaan yang dialaminya sangat menakjubkan. Setiap takdir yang ditetapkan Allah bagi dirinya merupakan kebaikan. Apabila mengalami kebaikan dia bersyukur, dan hal itu merupakan kebaikan baginya. Dan apabila dia tertimpa keburukan maka dia bersabar, dan hal itu merupakan kebaikan bagi dirinya.” (HR.Muslim).

——
Dikutip dari Buku Mental Juara, 50 Faktor Pendukung Mentalitas Muslim Juara. (terjemah kitab Al Himmah Al ‘Aliyah) Karya Dr. Muhammad bin Ibrahim al Hamad. Penerbit Pustaka Imam Asy Syafii, Jakarta

Baca selengkapnya https://muslimah.or.id/7530-sebuah-sikap-bijak-dalam-kehidupan.html