Allah Ta’ala Memberkahi Para Penghafal Al-Qur’an

Allah Ta’ala Memberkahi Para Penghafal Al-Qur’an

Wahai saudaraku yang tercinta, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala memberkahi setiap waktu dan keperluan para penghafal Al-Qur’an. Tahukah Anda bahwa para penghafal Al-Qur’an adalah orang yang paling banyak kesibukannya? Tidakkah Anda mengetahui bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak menyia-nyiakan waktunya untuk hal yang tidak bermanfaat walau sejenak?

Saya katakan kepada Anda bahwa sesungguhnya ini adalah barokah Al-Qur’an. Ketika mereka sibuk dengan Al-Qur’an pada siang dan malam hari mereka, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberkahi waktu demi waktu yang mereka lalui, meskipun mereka sibuk dengan menghafal, membaca, dan muraja’ah (mengulang) Al-Qur’an.

Bersamaan dengan itu, sebagaimana sebelumnya bahwa mereka tidak bermalas-malasan dalam setiap kesempatan apa pun, dan hal ini tidak mudah bagi setiap orang.

Oleh karena itu, tidakkah Anda suka jika Allah Subhanahu wa Ta’ala memberkahi setap waktu yang Anda lalui? Apakah Anda juga ingin mengambil manfaat dari waktu Anda tanpa menyia-nyiakannya untuk hal yang tidak bermanfaat walaupun sejenak?

Saya nasihatkan kepada Anda, “Jagalah Al-Qur’an pada siang dan malam serta berdoalah, ‘Ya Rabb, aku memohon kepada-Mu kebaikan dan barakah dalam setiap waktu yang aku lalui.’”

Dikutip dari buku Revolusi Menghafal Al-Qur’an (Cetakan ke-2), karya Syaikh Yahya Abdul Fatah Az-Zawawi, 2010, Penerbit Insal Kamil, Solo.

Disertai sedikit pengeditan bahasa oleh Redaksi Muslimah.Or.Id

Sumber: https://muslimah.or.id/

Ringkasan Tentang Bulan Shofar

Ringkasan Tentang Bulan Shofar

Apakah bulan shofar ada kelebihan seperti bulan Muharam. Mohon penjelasan sekitar hal itu secara terperinci? Saya telah mendengar bahwa sebagian orang merasa sial (pesimis) di bulan ini kenapa?

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Rasulullah wa ba’du:

Bulan shofar adalah salah satu dari dua belas bulan hijriyah. Yaitu bulan setelah Muharam. Sebagian mengatakan, “Dinamakan hal itu kerena kekosongan Mekkah dari penduduknya (Maksudnya kosong dari penduduknya) ketika mereka bepergian. Dikatakan, dinamakan bulan shofar karena mereka para kabilah pergi berperang dan meninggalkan siapa yang ditemuinya barang bawaannya tanpa sisa (maksudnya merampas barang bawaannya sehingga tidak punya barang sama sekali). Silahkan melihat Lisanul Arab, karangan Ibnu Munzir juz/4 hal/462-463.

Pembahasan tentang bulan ini mencakup beberapa point berikut:

1.Apa yang ada menurut Arab Jahiliyah

2.Apa yang ada dalam syariat yang berbeda dengan penduduk jahiliyah

3.Apa yang ada dalam bulan ini berupa bid’ah, keyakinan sesat dari orang yang menyandarkan ke agama Islam

4.Kejadian pada bulan ini dari peperangan dan kejadian penting pada kehidupan Nabi sallallahu alaihi wa sallam

5.Hadits dusta yang ada di bulan Shofar

Pertama:

Apa yang ada menurut Arab Jahiliyah

Dahulu orang Arab pada bulan shofar dua kemungkaran besar, pertama mempermainkan di dalamnya mengedepankan dan mengakhirkan. Kedua, pesimis darinya

1.Telah diketahui bahwa Allah Ta’ala menciptakan setahun dan dua belas bulan. Allah telam menjadikan diantaranya empat bulan haram. Diharamkan di dalamnya peperangan untuk mengagungkannya. Bulan-bulan ini adalah Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharam dan Rajab. Yang membenarkan hal itu dalam kitab Allah dalam firmanNya:

إن عدة الشهور عند الله اثنا عشر شهراً في كتاب الله يوم خلق السموات والأرض منها أربعة حرم ذلك الدين القيم فلا تظلموا فيهن أنفسكم  (سورة التوبة: 36)

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At-Taubah: 36)

Orang-orang musyrik telah mengetahui akan hal itu. Akan tetapi mereka mengakhirkan dan memajukan sesuai hawa nafsunya. Di antaranya adalah mereka menjadikan bulan ‘Shofar’ pengganti dari bulan ‘Muharam’.

Mereka meyakini bahwa umrah pada bulan haji termasuk perilaku yang sangat jelek.

Ini di antara pendapat ahli ilmu akan hal itu:

A.Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma berkata,

كانوا يرون أن العمرة في أشهر الحج من أفجر الفجور في الأرض ، ويجعلون المحرَّم صفراً ، ويقولون : إذا برأ الدَّبر ، وعفا الأثر ، وانسلخ صفر : حلَّت العمرة لمن اعتمر (رواه البخاري، رقم 1489 ومسلم، رقم 1240)

 “Mereka dahulu berpendapat bahwa umrah di bulan Haji kedurhakaan paling besar  di muka bumi. Mereka menjadikan Muharam sebagai bulan Shofar. Mereka mengatakan: Jika onta jamaah haji telah kembali, bekas-bekas tapak kakinya telah hilang, bulan shofar telah habis, maka dihalalkan umrah bagi yang ingin menunaikan umrah.” (HR. Bukhari, no. 1489 dan Muslim, no. 1240).

B. Ibnul Arabi mengatakan, “Permasalahan kedua, tentang mengakhirkan,  itu ada tiga pendapat:

Pertama, dari Ibnu Abbas bahwa Junadah bin Auf bin Umayyah Al-Kinany biasanya menunaikan musim tiap tahun. Sambil memanggil, “Ketahuilah bahwa Abu Tsumamah tidak dicela dan tidak dijawab. Ketahuilah bahwa bulan shofar pada tahun pertama halal. Lalu kami haramkan pada tahun ini dan kita halalkan tahun berikutnya. Mereka bersama kabilah Hawazin, Gotofan dan Bani Salim.

Dalam redaksi lain, “Bahwa dia mengatakan,”Kita dahulukan Muharam dan akhirkan Safar. Kemudian ketika datang tahun kedua, dia mengatakan, “Kita jadikan bulan haram adalah bulan Shofar dan akhirkan Muharam. Maka inilah yang dimaksud mengakhirkan.

Kedua: menambah. Qatadah mengatakan, “Kaum ahli Dholal sengaja menambah Shofar dalam bulan Haram, maka pemimpin mereka berdiri waktu musim (haji) dan mengatakan, “Ketahuilah bahwa tuhan kalian pada tahun ini telah mengharamkan bulan Muharam, sehingga mereka mengharamkannya pada tahun itu. Kemudian pada tahun depan dia berdiri dan mengatakan, “Ketahuilah bahwa tuhan kalian mengharamkan bulan Shofar, maka mereka mengharamkannya pada tahun itu dan mereka menyebutnya dengan istilah ‘dua Shofar’. Diriwayatkan Ibnu Wahb, Ibnu Qasim dari Malik dan semisalnya mengatakan, “Dahulu penduduk jahiliyah menjadikan dua Shofar. Oleh karena itu Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada Shofar.” Begitu juga yang diriwayatkan dari Asyhab darinya.

Ketiga:  Mengganti haji, Mujahid mengatakan dengan sanad yang lain firman Allah:

إنما النسيء زيادة في الكفر

“Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran.” (QS. At-Taubah: 37).

Beliau mengatakan, “Mereka menunaikan haji pada bulan Dzulhijjah selama dua tahun. Kemudian menunaikan haji pada bulan Muharam selama dua tahun. Kemudian mereka menunaikan haji pada bulan Shofar selama dua tahun. Sehingga mereka menunaikan haji pada setiap tahun pada setiap bulan selama dua tahun. Sampai Abu Bakar menunaikan haji pada bulan Dzulhijjah.

Kemudian Nabi sallallahu alaihi wa sallam menunaikan pada bulan Dzulhijjah. Itulah ucapan Nabi sallallahu alaihi wa sallam dalam hadits shoheh dalaml khutbahnya, “Sesungguhnya waktu berputar seperti kondisi Allah hari Allah menciptakan langit dan bumi.’

Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dan lainnya dan dengan redaksina mengatakan, Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Wahai manusia, dengarkan perkataanku, sesungguhnya saya tidak tahu apakah saya akan bertemu dengan kalian semua lagi setelah hari ini, di tempat wukuf ini. Wahai manusia, sesungguhnya darah dan harta kalian terlindungi sampai hari engkau semua bertemu dengan tuhanmu (hari kiamat), sebagaimana kehormatan hari ini, di bulan ini, di negaramu ini. Sesungguhnya kamu kalian akan bertemu dengan tuhan kalian dan Dia akan menanyakan amal kamu semua. Sungguh saya telah menyampaikan. Siapa yang mempunyai amanah, hendaklah dia tunaikan kepada orang yang diamanahinya. Sesungguhnya setiap riba telah dihapus. Bagi kamu semua modal utamanya. Jangan mendholimi dan jangan didholimi. Allah telah memutuskan tidak ada riba. Sesungguhnya riba Abbas bin Abdul Mutolib telah dihapus semuanya. Semua bentuk darah waktu jahiliyah dihapus. Dan darah yang pertama kali saya hapus adalah darah Ibnu Robi’ah bin Harist bin Abdul Mutolib. Dahulu yang meminta dihapus ada di Bani Laits dan dibunuh oleh huzail. Dan ini yang pertama kali saya memulai dari darah Jahiliyah.

Amma baa’du, Wahai manusia sesungguhnya setan telah berputus asa disembah di tanah air kamu semua. Akan tetapi kalau dia mentaatinya dalam perkara selain dari itu berupa amal yang kamu anggap remehkan, maka dia akan rela. Maka jagalah wahai manusia agama kalian. “Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran.” Yang dapat menyesatkan orang-orang kafir dari perkataannya apa yang diharamkan oleh Allah. Sesungguhnya waktu berputar sejak saat Allah menciptakan langit dan bumi. Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Alah itu dua belas bulan. Empat bulan diantaranya adalah bulan haram. Tiga bulan berturut-turut dan Rajab Mudhor antara Jumadil Tsani dan Sya’ban. Kemudian disebutkan hadits secara keseluruhan.” Ahkamul Quran, (2/502-503).

2. Adapun sifat pesimis pada bulan Shofar, hal itu telah dikenal pada penduduk Jahiliyah dan hal itu masih tersisa kepada sebagian orang yang menyandarkan kepada Islam.

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu berkata, Rasulullah sallallahu alaihi wa sallalm bersabda,

لا عدوى ولا طيرة ولا هامَة ولا صَفَر وفر من المجذوم كما تفر من الأسد (رواه البخاري، رقم  5387 ومسلم، رقم 2220 ) .

“Tidak ada penyakit menular, thiyarah dan burung hantu dan shofar (yang dianggap membawa kesialan). Dan larilah dari penyakit kusta seperti engkau lari dari singa.” (HR. Bukhari, no. 5387 dan Muslim, no 2220).

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Shofar ditafsiri dengan banyak penafsiran:

Pertama, bahwa ia adalah bulan shofar yang dikenal dan orang arab pesimis dengannya

Kedua, ia adalah penyakit perut yang menyerang unta. Dan ia berpindah dari satu unta ke unta lainnya. Maka kata sambungnya mengikuti ‘Adwa (penyakit menular). Termasuk dalam bab menyebutkan perkara khusus kepada yang umum.

Ketiga, shofar, bulan shofar maksudnya adalah mengulur-ulur dimana orang kafir tersesat denganya. Mereka mengakhirkan pengharaman bulan muharam ke bulan Shofar, sehingga mereka menghalalkan setahun dan mengharamkan setahun.

Yang paling kuat adalah bahwa maksdunya disini adalah bulan Shofar, dimana orang Jahiliyah pesimis dengannya. Adapun waktu tidak ada pengaruhnya dalam takdir Allah Azza Wajalla. Ia dengan waktu lainnya sama saja, ditakdirkan di dalamnya kebaikan dan keburukan.

Sebagian manusia kalau selesai dari suatu amalan tertentu pada hari keduapuluh lima –contohnya- dari bulan Shofar, menulis tanggal pada hari itu dengan mengatakan, “Telah selesai tanggal duapuluh lima di bulan Shofar yang bagus. Ini termasuk mengobati bid’ah dengan bid’ah. Ia bukan bulan baik tidak juga bulan jelek. Oleh karena itu, sebagian ulama’ salaf mengingkari orang yang ketika mendengar suara burung hantu dia mengatakan, “Baik insyaalah. Jangan katakan baik dan buruk. Burung itu  hanya berkicau seperti kicauan burung lainya.”

Empat hal yang dinafikan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam menunjukkan kewajiban bertawakkal kepada Allah dan kesungguhan dalam niat kuat dan jangan lemah niat di depan perkara-perkara ini.

Kalau seorang muslim menemui perkara ini, dalam benaknya tidak lepas dari dua hal:

Pertama, kemungkinan dia mengikuti perasaannya apakah melanjutkan atau membatalkan. Maka waktu itu prilakunya digantungkan dengan sesuatu yang tidak ada hakekat (kenyataannya) sama sekali.

Kedua, tidak mengikuti dengan terus melanjutkan dan tidak memperdulikan. Akan tetapi dalam dirinya masih tersisa sedih dan gundah gulana. Hal ini meskipun lebih ringan dari yang pertama, akan tetapi seharusnya secara tegas menghalau perasaan ini. Hendaknya dia hanya bersandar kepada Allah Azza wa jalla.

Meniadakan empat perkara ini, bukan meniadakan keberadaannya. Karena semua itu memang ada. Akan tetapi meniadakan pengaruhnya. Sebab yang memberikan pengaruh adalah Allah. Jika perkaranya memiliki sebab yang diketahui, maka itu adalah sebab yang dibenarkan. Sementara kalau itu sebab yang tidak jelas, maka itu termasuk sebab batil. Maka, masalah meniadakan pengaruh itu masalah tersendiri adapun masalah sebab itu lain lagi.”  (Majmu’ Fatawa Syekh Ibnu Utsaimin, (2/113, 115).

Kedua:

Apa yang ada dalam syariat yang berbeda dengan kaum jahiliyah.

Telah ada tadi hadits shahih dari Abu Hurairah dalam kedua kitab shahih (Bukhiri dan Muslim), di dalamnya ada penjelasan bahwa keyakinan kaum jahiliyah dalam bulan Shofar itu tercela. Ia adalah bulan di antara bulan Allah, dia tidak memiliki kehendak, sesungguhnya dia berlalu atas kehendak Allah.

Ketiga:

Bid’ah dan keyakinan rusak yang terjadi pada bulan ini bagi orang yang menyandarkan kepada Islam.

1.Lajnah Daimah ditanya, “Sebagian ulama’ di negara kami menyangka bahwa dalam agama Islam ada shalat Sunnah yang dilakukan pada hari Rabu akhir bulan Shofar pada waktu shalat Dhuha empat rakaat dengan satu kali salam. Dibaca pada setiap rakaat, fatihatul kitab (surat Al-Fatihah), surat Al-Kautsar tujuh belas kali, surat Al-Ikhlas lima puluh kali, muawidzatain sekali sekali, malakukan hal itu pada setiap rakaat dan salam. Ketika salah dianjurkan membaca ayat :

الله غالب على أمره ولكن أكثر الناس لا يعلمون

“Allah yang akan mengalahkan urusannya akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. “ dibaca tigaratus enampuluh kali, membaca Jauharul kamal tiga kali, diakhiri dengan bacaan:

بسبحان ربك رب العزة عما يصفون ، وسلام على المرسلين ، والحمد لله رب العالمين .

“Maha Suci Tuhanmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam.” As-Shofaat: 180-182.

Dan bersedekah dengan sedikit roti kepada orang-orang fakir, khusus ayat ini, untuk menolak bencana yang turun pada hari rabu akhir di bulan Shofar.

Ungkapan mereka bahwa akan turun setiap tahun tigaratus duapuluh ribu bencana. Semua itu terjadi pada hari rabu akhir di bulan Shofar, sehingga hari itu termasuk hari tersulit dalam setahun. Siapa yang menunaikan shalat ini dengan cara tadi, maka Allah akan menjaga dengan kemulyaan-Nya dari semua bencana yang turun pada hari itu. Dan tidak terkena sekitarnya karena terhapus diminum orang yang belum mampu menunaikan cara seperti ini seperti anak-anak. Apakah hal seperti ini adalah suatu solusi?

Maka Ulama’ Lajnah menjawabnya, “Alhamdulillah, shalawat dan salam kepada Rasulullah, keluarga dan para shahabatnya, wa ba’du:

Shalat sunah yang disebutkan dalam pertanyaan, kami tidak tahu asalnya baik dari Kitab maupun sunah. Menurut kami tidak ada ketetapan satu orang pun dari ulama’ salaf umat ini dan orang-orang shaleh setelahnya mengamalkan shalat sunah ini. Bahkan ia termasuk bid’ah yang munkar.

Telah ada ketetapan dari Rasulullah sallallahu alaihi wa salalm beliau bersabda, “Siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintah dari kami, maka Ia tertolak,” dan beliau juga bersabda, “Siapa yang membuat suatu yang baru dalam perkara kami (agama) yang tidak ada darinya maka ia tertolak.”

Siapa yang menyandarkan shalat ini dan apa yang disebutkan bersamanya kepada Nabi sallallahu alaiahi wasallam atau kepada salah satu dari para shahabat radhiallahu anhum, maka sungguh termasuk kebohongan yang besar. Dan layak mendapatkan balasan dari Allah bagi orang-orang pembohong. “Fatawa Lajnah Daimah, (2/354).

2.Syekh Muhammad Abdus Salam Suqoiry mengatakan, “Orang-orang bodoh berkeyakinan dengan menulis ayat as-salam seperti سلام على نوح في العالمين “Semoga keselamatan terlimpahkan kepada Nuh di seluruh alam.” atau semisal itu di rabu akhir bulan Shofar, kemudian ditaruh di gelas dan mereka meminum serta mengambil barokahnya, juga saling memberi hadiah, mereka berkeyaknan bahwa hal ini dapat menghindari keburukan. Ini adalah keyakinan rusak, pesimis yang tercela. Serta prilaku bid’ah yang jelek, harus diingkari setiap orang yang melihatnya.” (As-Sunan Wal mubtadi’at, hal. 111, 112).

Keempat:

Peristiwa yang terjadi pada bulan ini baik peperangan maupun peristiwa penting yang terjadi pada kehidupan Nabi sallallahu alaihi wa sallam. Hal itu banyak, mungkin dipilih sebagiannya:

1.Ibnu Qoyyim mengatakan, “Kemudian beliau berperang sendiri dalm perang ‘Abwan’ atau dikenal dengan ‘Waddan’ yaitu perang yang pertama kali beliau ikut berperang sendiri. Terjadi pada bulan Shofar dua belas bulan dari peristiwa hijrah. Yang membawa bendera perang adalah Hamzah bin Abdul Mutholib dan berwana putih. Yang menggantikan di Madinah adalah Sa’ad bin Ubadah. Orang-orang Muhajirin keluar khusus untuk menghadang barang dagangan Quraisy. Mereka tidak mendapatkan tipu daya.

Dalam perang ini, beliau mengambil perjanjian Makhsyi bin Amr Ad-Dumari pemimpin Bani Dumar untuk  tidak akan menyerang Bani Dumar dan mereka tidak menyerang (kaum muslimin), tidak mengumpulkan (pasukan) dan tidak membantu musuh. Perdamaian itu ditulis antara dia dan mereka dalam suatu perjanjian. Dan hal itu yang menjadikan tidak kelihatan selama lima belas malam.” (Zadul Ma’ad, 3/164, 165).

2.Beliau juga berkata, “Ketika bulan Shofar (tahun ketiga Hijriyah). Kaum ‘Adhol dan Qorah’ datang, mereka menyebutkan di dalam (kaum) mereka ada yang masuk Islam. Sehingga mereka meminta agar diutus bersama mereka orang yang mengajarkan agama dan membacakan Qur’an. Sehingga diutus bersama mereka enam orang –menurut pendapat Ibnu Ishaq, sementara Bukhori mengatakan, “Mereka ada sepuluh, diangkat jadi pemimpinnya adalah Martsad bin Abi Martsad Al-Gonawi. Di dalamnya juga ada Khubaib bin Ady. Mereka pergi bersamanya, ketika sampai di Roji’ –yaitu mata air kepunyaan Huzail kea rah Hijaz- mereka berkhianat. Mereka minta tolong suku Huzail lalu mereka datang mengepungnya. Maka para sahabat hampir semuanya dibunuh sedangkan  Khubaib bin Ady dan Zaid bin Datsinah ditawan.  Keduanya dibawa dan dijual di Mekkah dan keduanya pernah membunuh pembesar (Mekkah) waktu perang Badar. (Zadul Ma’ad, 3/244).

3.Beliau menambahkan lagi, “Pada bulan ini yaitu bulan Shofar tahun keempat terjadi perang ‘Bi’r Ma’unah (Peristiwah Sumur Maunah). Ringkasnya adalah bahwa Abu Barra’ Amir bin Malik yang disebut ‘Pemain Kepala Tombak’ mendatangi Nabi sallallahu alaihi wa sallam, lalu dia diajak masuk Islam tapi dia tidak bersedia masuk Islam, namun juga tidak menjauh.

Dia megatakan, “Wahai Rasulullah, kirimlah sahabat-sahabatmu ke penduduk Najd mengajak ke agamamu. Saya harap mereka menerimanya.” Beliau mengatakan, “Saya khawatir keselamatan mereka dari penduduk Najd.” Abu Barra’ mengatakan, “Saya yang melindungi mereka.”

Maka beliau mengutus 40 orang menurut pendapat Ibnu Ishaq dan dalam riwayat shohih mereka 70 orang. Yang ada dalam riwayat shahih itu yang benar. Yang dijadiakn pimpinan adalah Munzir bin Amr salah seorang dari Bani Saidah yang dijuluki ‘Orang yang cepat untuk mati’ mereka termasuk orang pilihan dari kalangan umat Islam, yang terbaik, pemimpin dan ahli Al-Quran. Mereka berjalan sampai tiba di ‘Bi’ru Maunah’ yaitu tempat antara Bani Amir dan desa Bani Salim- . Mereka singgah di sana. Kemudian mereka mengutus Haram bin Milhan saudara Ummu Sulaim membawa surat Rasulullah kepada  musuh Allah Amir bin Tufail. Dia tak melihat lagi apa isi suatnya, tapi justeru memerintahkan seseorang untuk menikamnya dengan tombak dari belakang. Ketika dia ditolong, saat melihat darah dia berkata, “Sungguh saya telah menang, dan Demi Tuhan Ka’bah.

Kemudian musuh Allah mengajak Bani Amir untuk memerangi mereka dan membunuh sisanya. Akan tetapi mereka tidak menerimanya karena terikat perjanjian dengan  Abu Bara. Kemudian dia mengajak Bani Salim, dan ternyata direspon oleh kabilah Ashiyah, Ra’il dan Zakwan’. Lalu mereka datang mengepung shahabat Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam dan memeranginya sampai dibunuh yang terakhir kecuali Ka’b bin Zaid bin Najjar karena beliau diangkat saat terluka  di antara orang yang meninggal. Dan beliau masih hidup sampai terbunuh pada perang Khandaq.

Adapun Amr bin Umayyah Ad-Dhamari dan Munzir bin Uqbah bin Amir di antara umat Islam beliau melihat ada burung mengitari dalam satu tempat, kemudian Munzir bin Muhammad turun dan memerangi orang musyrik sampai beliau terbunuh bersama teman-temanya. Sementara Amr bin Umayyah Ad-Dhomari ditawan. Ketika diberitahu bahwa beliau dari Mudhor’, Amir mengerutkan dahinya dan memerdekakan budak untuk ibundanya. Lalu Amr bin Umayyah pulang, ketika beliau di Qorqrah di awal Qanat, beliau turun di naungan pohon. Kemudian ada dua orang datang dari Bani Kilab dan turun bersamanya. Ketika keduanya tertidur, Amr membunuhnya, beliau berpendapat telah membalas dendam dari teman-temannya. Ternyata keduanya telah memiliki perjanjian dari Rasulullah dan dia tidak mengetahuinya. Ketika beliau datang, beliau memberitahukan kepada Rasulullah apa yang telah dilakukannya, maka beliau mengatakan, “Sungguh anda telah membunuh dua orang, maka anda harus membayar diat (pengganti dari qisos dengan membayar sejumlah uang) untuk keduanya.

(Zadul Ma’ad, 3/246-248).

4.Ibnu Qoyyi berkata, “Sesungguhnya beliau berangkat (maksudnya ke Khaibar) di akhir bulan Muharam bukan di awalnya dan ditaklukkan pada bulan Shofar.” (Zadul Ma’ad, 3/339-340).

5.Beliau juga mengatakan, “Pasal, peristiwa pengiriman pasukan perang ‘Qutbah bin Amir bin Hadidah’ ke Khats’am. Pada bulan Shofar tahun kesembilan. Ibnu Sa’ad mengatakan, “Mereka mengatakan, ‘Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam mengirim Qutbah bin Amir dua puluh orang ke desa Khats’am ke arah Tibalah. Dia diperintahkan untuk menyerang dari segala penjuru. Mereka keluar dengan sepuluh unta yang dinaiki saling bergantian. Kemudian mereka menculik seseorang dan dinterogasi, akan tetapi dia membisu, kemudian orang itu berteriak untuk memperingatkan masyarkatnya, sehingga dia dibunuh. Mereka pun menunggu, lalu ketika penduduk itu  tertidur, mereka menyerbu dari segala penjuru sehingga terjadi peperangan hebat sampai banyak yang terluka pada kedua belah fihak. Qutbah bin Amir membunuh orang yang dapat dibunuh. Dan mereka merampas unta, wanita, dan kambing untuk dibawa ke Madinah. Dalam cerita tersebut, kaum tersebut berkumpul untuk mengejar mereka. Namun Allah mengirimkan kepada mereka air banjir yang besar sehingga menghalangi mereka dari kaum muslimin. Sehingga umat Islam dapat membawa unta, kambing dan tawanan. Sementara mereka hanya dapat melihat tidak dapat menyeberangnya sampai tidak terlihat.” (Zadul Ma’ad, 3/514)

6.Beliau mengatakan, “Ada utasan dari ‘Uzrah’ datang menghadap Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam pada bulan Shofar tahun kesembilan. Ada duabelas orang di antaranya ada Hamzah bin Nukman dan Rasulullah bertanya, “Siapa kaum ini? Juru bicaranya menjawab, “Orang yang tidak anda ingkari, kami dari Bani Uzrah. Saudara Qusay dari ibunya. Kami yang membantu Qusay, dan menolong dari daerah Mekkah kabilah Khuza’ah dan Bani Bakr. Kami mempunyai kerabat dan keluarga. Rasulullah mengatakan, “Selamat datang dan silahkan. Saya tidak mengetahui kalian. Kemudian mereka masuk Islam. Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam memberi kabar gembira dengan ditaklukkannya Syam, Heraklius kabur dari negaranya . Rasulullah juga melarang mereka meminta ke dukun, dan memakan sembelihan yang mereka sembelih. Beliau juga memberitahu kepada mereka bahwa tidak ada perintah (untuk menyembelih) untuk mereka selain berkurban. Mereka berdiam diri beberapa hari di Dar Ramlah kemudian mereka pulang setelah diberi izin.”  (Zadul Ma’ad, 3/657).

Kelima,

Terkait hadits palsu dalam bulan Shofar. Ibnu Qoyim mengatakan, “Pasal hadits-hadits terkait tanggal di masa depan.

Di antaranya: hadits tentang tanggal tertentu. Seperti ungkapan, kalau tahun ini dan itu, maka akan terjadi ini dan itu. Kalau bulan ini dan itu, maka akan terjadi ini dan itu.

Seperti ungkapan para pendusta lagi sombong, “Kalau bulan gerhana pada bulan Muharam, maka akan terjadi ‘harga-harga mahal, peperangan, pemerintahan sibuk. Kalau gerhana di bulan Shofar maka akan terjadi ini dan itu. Dan para pembohong akan terus (mengatakan kebohongannya) pada semua bulan. Semua hadits dalam bab ini adalah bohong dan dibuat-buat.” (Al-Manar Al-Munif, hal. 64)

Wallahu a’lam .

Ampuhnya Do’a Sapu Jagad

Ampuhnya Do’a Sapu Jagad

Banyak mungkin yang belum tahu bahwa do’a sapu jagad (Robbana aatina fid dunya hasanah …) mengandung makna yang luar biasa. Sampai-sampai dijelaskan bahwa do’a sapu jagad ini juga adalah do’a untuk mendapatkan wanita sholihah yang setiap orang menginginkannya. Coba kita renungkan baik-baik dalam artikel singkat berikut ini. Hanya Allah yang beri taufik.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Sangat Menyukai Do’a yang Singkat Namun Penuh Makna

 Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَحِبُّ الْجَوَامِعَ مِنْ الدُّعَاءِ وَيَدَعُ مَا سِوَى ذَلِكَ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyukai doa-doa yang singkat padat, dan meninggalkan selain itu.” (HR. Abu Daud no. 1482, dikatakan shahih oleh Syaikh Al Albani)

Hadits ini menunjukkan beberapa hal:

  1. Dianjurkannya do’a dengan lafadz yang ringkas namun mengandung banyak makna kebaikan.
  2. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah diberi keistimewaan dengan jawami’ul kalim, yaitu diberikan kalimat-kalimat yang ringkas ketika diucap namun mengandung banyak makna dalam hukum dan ilmu.
  3. Kalimat yang paling baik adalah kalimat yang sedikit (ringkas), namun syarat makna. Oleh karena itu, sangat dianjurkan seseorang menggapai maksud dari pembicaraan dengan kalimat yang mudah, namun sarat makna.

Di antara do’a ringkas, namun penuh makna adalah do’a sapu jagad:

اللَّهُمَّ آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً ، وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً ، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Allahumma (Robbana) aatina fid dunyaa hasanah, wa fil akhiroti hasanah, wa qinaa ‘adzaban naar.”

Dari Anas bin Malik, beliau mengatakan,

كَانَ أكثرُ دعاءِ النبيّ – صلى الله عليه وسلم – : (( اللَّهُمَّ آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً ، وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً ، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ )) متفقٌ عَلَيْهِ .

“Doa yang lebih sering diucapkan Rasulullah shallAllahu wa’alaihi wa sallam adalah Allahumma aatina fid dunyaa hasanah, wa fil akhiroti hasanah, wa qinaa ‘adzaban naar (Ya Allah, berikanlah kepada Kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah Kami dari adzab Neraka).” (HR. Bukhari no. 4522 dan Muslim no. 2690)

Muslim menambahkan,

إِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْعُوَ بِدَعْوَةٍ دَعَا بِهَا فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْعُوَ بِدُعَاءٍ دَعَا بِهَا فِيهِ.

“Jika Anas ingin menyeru dengan suatu seruan, beliau membaca do’a ini dan jika beliau ingin berdo’a dengan suatu do’a, beliau pun membaca do’a ini.”

Beberapa pelajaran dalam hadits ini:

  1. Dianjurkan untuk merutinkan do’a ini karena lafadznya begitu ringkas, namun mengandung permintaan kebaikan dunia dan akhirat.
  2. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam paling sering membaca do’a ini karena do’anya sungguh penuh makna yaitu mencakup tiga hal: [1] meminta kenikmatan di dunia, [2] meminta kenikmatan di akhirat, serta [3] agar terbebas dari api neraka. Semoga Allah menganugerahkan kita tiga hal ini.
  3. Permintaan kebaikan di dunia yang dimaksudkan dalam do’a ini mencakup nikmat sehat, rumah yang lapang, istri yang penuh dengan kebaikan, rizki yang luas, ilmu yang bermanfaat, amal sholih, kendaraan yang menyenangkan, pujian yang baik serta kebaikan-kebaikan lainnya dengan berbagai ungkapan dari pakar tafsir. Masya Allah … luar biasa cakupan do’a sapu jagad ini. Sampai-sampai meminta istri yang sholihah pun sudah tercakup di dalamnya.
  4. Adapun kebaikan di akhirat yang diminta dalam do’a ini tentu saja lebih tinggi dari kebaikan di dunia yaitu dimasukkannya ke dalam surga, dibebaskan dari rasa khawatir (takut) dan diberi kemudahan dalam hisab (perhitungan amalan) di akhirat.
  5. Adapun permintaan diselamatkan dari siksa neraka mengandung permintaan agar kita dibebaskan dari berbagai sebab yang menjerumuskan ke dalam neraka yaitu dengan dijauhkan dari berbagai perbuatan yang haram dan dosa, dan diberi petunjuk untuk meninggalkan hal-hal syubhat (yang masih samar/abu-abu) dan hal-hal yang haram. –Inilah penjelasan Ibnu Katsir rahimahullah yang kami sarikan dari kitab tafsirnya ketika menjelaskan surat Al Baqarah ayat 201-. Begitu luar biasa dan ampuhnya do’a sapu jagad ini, begitu ringkas, namun makna yang dikandung begitu mendalam. Itulah do’a yang seharusnya bisa kita rutinkan.
  6. Para sahabat begitu semangat dalam memperhatikan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga mereka pun begitu semangat dalam menjalani ajaran Allah dan Rasul-Nya.

Semoga yang sedikit ini bermanfaat.

Referensi:

Bahjatun Naazhirin Syarh Riyadhish Sholihin, Salim bin ‘Ied Al Hilali, cetakan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1430 H.

Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, Dar Thoyibah, cetakan kedua, tahun 1420 H.

Disusun di Wisma MTI dan disempurnakan di Panggang-GK, 24 Rabi’ul Akhir 1431 H (08/04/2010)

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/

Syukur di Kala Meraih Sukses

Syukur di Kala Meraih Sukses

Akui Setiap Nikmat Berasal dari-Nya

 Inilah yang harus diakui oleh setiap orang yang mendapatkan nikmat. Nikmat adalah segala apa yang diinginkan dan dicari-cari. Nikmat ini harus diakui bahwa semuanya berasal dari Allah Ta’ala dan jangan berlaku angkuh dengan menyatakan ini berasal dari usahanya semata atau ia memang pantas mendapatkannya. Coba kita renungkan firman Allah Ta’ala,

لا يَسْأَمُ الإنْسَانُ مِنْ دُعَاءِ الْخَيْرِ وَإِنْ مَسَّهُ الشَّرُّ فَيَئُوسٌ قَنُوطٌ

Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan.” (QS. Fushshilat: 49). Atau pada ayat lainnya,

وَإِذَا أَنْعَمْنَا عَلَى الْإِنْسَانِ أَعْرَضَ وَنَأَى بِجَانِبِهِ وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ فَذُو دُعَاءٍ عَرِيضٍ

Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka, maka ia banyak berdoa.” (QS. Fushshilat: 51)

Inilah tabiat manusia, yang selalu tidak sabar jika ditimpa kebaikan atau kejelekan. Ia akan selalu berdo’a pada Allah agar diberikan kekayaan, harta, anak keturunan, dan hal dunia lainnya yang ia cari-cari. Dirinya tidak bisa merasa puas dengan yang sedikit. Atau jika sudah diberi lebih pun, dirinya akan selalu menambah lebih. Ketika ia ditimpa malapetaka (sakit dan kefakiran), ia pun putus asa. Namun lihatlah bagaimana jika ia mendapatkan nikmat setelah itu? Bagaimana jika ia diberi kekayaan dan kesehatan setelah itu? Ia pun lalai dari bersyukur pada Allah, bahkan ia pun melampaui batas sampai menyatakan semua rahmat (sehat dan kekayaan) itu didapat karena ia memang pantas memperolehnya. Inilah yang diisyaratkan dalam firman Allah Ta’ala,

وَلَئِنْ أَذَقْنَاهُ رَحْمَةً مِنَّا مِنْ بَعْدِ ضَرَّاءَ مَسَّتْهُ لَيَقُولَنَّ هَذَا لِي

Dan jika Kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata: “Ini adalah hakku.”(QS. Fushshilat: 50)

Sifat orang beriman tentu saja jika ia diberi suatu nikmat dan kesuksesan yang ia idam-idamkan, ia pun bersyukur pada Allah. Bahkan ia pun khawatir jangan-jangan ini adalah istidroj (cobaan yang akan membuat ia semakin larut dalam kemaksiatan yang ia terjang). Sedangkan jika hamba tersebut tertimpa musibah pada harta dan anak keturunannya, ia pun bersabar dan berharap karunia Allah agar lepas dari kesulitan serta ia tidak berputus asa.[1]

Ucapkanlah “Tahmid”

Inilah realisasi berikutnya dari syukur yaitu menampakkan nikmat tersebut dengan ucapan tahmid (alhamdulillah) melalui lisan. Ini adalah sesuatu yang diperintahkan sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).” (QS. Adh Dhuha: 11)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

التَّحَدُّثُ بِنِعْمَةِ اللهِ شُكْرٌ ، وَتَرْكُهَا كُفْرٌ

Membicarakan nikmat Allah termasuk syukur, sedangkan meninggalkannya merupakan perbuatan kufur.” (HR. Ahmad, 4/278. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana dalam Shahih Al Jaami’ no. 3014).

Lihat pula bagaimana impian Nabi Ibrahim tercapai ketika ia memperoleh anak di usia senja. Ketika impian tersebut tercapai, beliau pun memperbanyak syukur pada Allah sebagaimana do’a beliau ketika itu,

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ

Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa. ” (QS. Ibrahim: 39).

Para ulama salaf ketika mereka merasakan nikmat Allah berupa kesehatan dan lainnya, lalu mereka ditanyakan, “Bagaimanakah keadaanmu di pagi ini?” Mereka pun menjawab, “Alhamdulillah (segala puji hanyalah bagi Allah).”[2]

Oleh karenanya, hendaklah seseorang memuji Allah dengan tahmid (alhamdulillah) atas nikmat yang diberikan tersebut. Ia menyebut-nyebut nikmat ini karena memang terdapat maslahat dan bukan karena ingin berbangga diri atau sombong. Jika ia malah melakukannya dengan sombong, maka ini adalah suatu hal yang tercela.[3]

Memanfaatkan Nikmat dalam Amal Ketaatan

Yang namanya syukur bukan hanya berhenti pada dua hal di atas yaitu mengakui nikmat tersebut pada Allah dalam hati dan menyebut-nyebutnya dalam lisan, namun hendaklah ditambah dengan yang satu ini yaitu nikmat tersebut hendaklah dimanfaatkan dalam ketaaatan pada Allah dan menjauhi maksiat.

Contohnya adalah jika Allah memberi nikmat dua mata. Hendaklah nikmat tersebut dimanfaatkan untuk membaca dan mentadaburi Al Qur’an, jangan sampai digunakan untuk mencari-cari aib orang lain dan disebar di tengah-tengah kaum muslimin. Begitu pula nikmat kedua telinga. Hendaklah nikmat tersebut dimanfaatkan untuk mendengarkan lantunan ayat suci, jangan sampai digunakan untuk mendengar lantunan yang sia-sia. Begitu pula jika seseorang diberi kesehatan badan, maka hendaklah ia memanfaatkannya untuk menjaga shalat lima waktu, bukan malah meninggalkannya. Jadi, jika nikmat yang diperoleh oleh seorang hamba malah dimanfaatkan untuk maksiat, maka ini bukan dinyatakan sebagai syukur.

Intinya, seseorang dinamakan bersyukur ketika ia memenuhi 3 rukun syukur: [1]  mengakui nikmat tersebut secara batin (dalam hati), [2] membicarakan nikmat tersebut secara zhohir (dalam lisan), dan [3] menggunakan nikmat tersebut pada tempat-tempat yang diridhoi Allah (dengan anggota badan).

Abul ‘Abbas Ibnu Taimiyah mengatakan,

وَأَنَّ الشُّكْرَ يَكُونُ بِالْقَلْبِ وَاللِّسَانِ وَالْجَوَارِحِ

Syukur haruslah dijalani dengan mengakui nikmat dalam hati, dalam lisan dan menggunakan nikmat tersebut dalam anggota badan.[4]

Merasa Puas dengan Rizki Yang Allah Beri

Karakter asal manusia adalah tidak puas dengan harta. Hal ini telah diisyaratkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berbagai haditsnya. Ibnu Az Zubair pernah berkhutab di Makkah, lalu ia mengatakan,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَقُولُ « لَوْ أَنَّ ابْنَ آدَمَ أُعْطِىَ وَادِيًا مَلأً مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ إِلَيْهِ ثَانِيًا ، وَلَوْ أُعْطِىَ ثَانِيًا أَحَبَّ إِلَيْهِ ثَالِثًا ، وَلاَ يَسُدُّ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ »

Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya manusia diberi lembah penuh dengan emas, maka ia masih menginginkan lembah yang kedua semisal itu. Jika diberi lembah kedua, ia pun masih menginginkan lembah ketiga. Perut manusia tidaklah akan penuh melainkan dengan tanah. Allah tentu menerima taubat bagi siapa saja yang bertaubat.” (HR. Bukhari no. 6438)

Inilah watak asal manusia. Sikap seorang hamba yang benar adalah selalu bersyukur dengan nikmat dan rizki yang Allah beri walaupun itu sedikit. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ

Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.” (HR. Ahmad, 4/278. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 667)

Dan juga mesti kita yakini bahwa rizki yang Allah beri tersebut adalah yang terbaik bagi kita karena seandainya Allah melebihkan atau mengurangi dari yang kita butuh, pasti kita akan melampaui batas dan bertindak kufur. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ

Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.(QS. Asy Syuraa: 27)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Seandainya Allah memberi hamba tersebut rizki lebih dari yang mereka butuh, tentu mereka akan melampaui batas, berlaku kurang ajar satu dan lainnya, serta akan bertingkah sombong.” Selanjutnya Ibnu Katsir menjelaskan, “Akan tetapi Allah memberi rizki pada mereka sesuai dengan pilihan-Nya dan Allah selalu melihat manakah yang maslahat untuk mereka. Allah tentu yang lebih mengetahui manakah yang terbaik untuk mereka. Allah-lah yang memberikan kekayaan bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya. Dan Allah-lah yang memberikan kefakiran bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya.”[5]

Patut diingat pula bahwa nikmat itu adalah segala apa yang diinginkan seseorang. Namun apakah nikmat dunia berupa harta dan lainnya adalah nikmat yang hakiki? Para ulama katakan, tidak demikian. Nikmat hakiki adalah kebahagiaan di negeri akhirat kelak. Tentu saja hal ini diperoleh dengan beramal sholih di dunia. Sedangkan nikmat dunia yang kita rasakan saat ini hanyalah nikmat sampingan semata. Semoga kita bisa benar-benar merenungkan hal ini.[6]

Jadilah Hamba yang Rajin Bersyukur

Pandai-pandailah mensyukuri nikmat Allah apa pun itu. Karena keutamaan orang yang bersyukur amat luar biasa. Allah Ta’ala berfirman,

وَسَنَجْزِي الشَّاكِرِينَ

Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imron: 145)

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.” (QS. Ibrahim: 7)

Ya Allah, anugerahkanlah kami sebagai hamba -Mu yang pandai bersyukur pada-Mu dan selalu merasa cukup dengan segala apa yang engkau beri.

 

Diselesaikan atas taufik Allah di Pangukan-Sleman, 23 Rabi’ul Akhir 1431 H

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal


[1] Lihat Taysir Al Karimir Rahman, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, hal. 752, Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1420 H dan Tafsir Al Jalalain, hal. 482, Maktabah Ash Shofaa.

[2] Lihat Mukhtashor Minhajil Qoshidin, Ibnu Qudamah Al Maqdisi, hal. 262, Darul Aqidah, cetakan pertama, tahun 1426 H.

[3] Lihat Tafsir Juz ‘Amma, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, hal. 202, Darul Kutub Al ‘Ilmiyah, cetakan tahun 1424 H.

[4] Majmu’ Al Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 11/135, Darul Wafa’, cetakan ketiga, 1426 H.

[5] Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 12/278, Muassasah Qurthubah.

[6] Lihat Mukhtashor Minhajil Qoshidin, hal. 266.

Sumber: https://rumaysho.com/

Kenalilah Siapa Dia : Tips Memilih Teman Akrab

Kenalilah Siapa Dia : Tips Memilih Teman Akrab

Dalam melewati lorong waktu hidupmu, menyusuri jalan yang penuh liku dan tipu daya, tak sedikit pula duri tajam dan bukit terjal yang siap meluluhlantakkan semangat mencari kebenaran ilahi. Tentunya ini tidak mudah engkau lalui sendiri; engkau butuh seorang teman. Bersamanya engkau bisa saling membantu, bahu-membahu menuju akhir perjalanan hidupmu. Namun tidak berhenti sampai di sini. Mengapa?

Teman itu layaknya cermin, jika engkau ingin mengetahui dirimu, lihatlah dengan siapa engkau berteman. Rasul shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

المؤمن مر آه (اخيه)المؤمن

Seorang mukmin merupakan cerminan saudaranya yang mukmin.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, no. 239; Abu Dawud, no.4918 [Ash-Shahihah, no. 926])

Memilih teman bukanlah perkara remeh, Islam memerintahkan kita untuk memilih siapa yang menjadi teman kita. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

المرء على دين خليله فلينظر احدكم من يخالل

Seseorang itu berada pada agama teman karibnya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat siapakah yang dia jadikan teman karibnya.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ahmad)

Ketahuilah bahwa tidak semua orang layak dijadikan teman karib. Karena itu, orang yang dijadikan teman karib harus memiliki sifat-sifat yang memang menunjang persahabatan:

1. Berakidah lurus dan bermanhaj ahlus sunnah wal jama’ah

Ini menjadi syarat mutlak memilih teman karib. Kita semua tahu kisah kematian Abu Thalib, paman Rasulullah ‘alaihish shalatu was salam. Dalam keadaan terbaring menghadapi kematiannya, ada tiga orang yang menyertainya, mereka adalah Rasulullah ‘alaihish shalatu was salam, Abu Jahl, dan Abdullah bin Abi Umayyah. Dua orang terakhir itu adalah tokoh kafir Quraisy.

Rasulullah mengatakan, “Paman, katakan ‘laa ilaha illa llah‘! Satu kalimat yang akan aku jadikan bahan pembelaan bagimu di hadapan Allah.”

Sedangkan dua tokoh kafir itu menimpali, “Abu Thalib, apakah kamu membenci agama Abdul Muthalib?”

Tanpa henti Rasul ‘alahi shalatu wa salam menawarkan kalimat itu, namun dua tokoh kafir pun terus mempengaruhi. Sampai akhirnya Abu Thalib enggan mengucap laa ilaha illallah dan tetap memilih agama Abdul Muthalib. Ia pun mati dalam kekufuran. (Lihat hadits riwayat Al-Bukhari, no.1360; Muslim, no.131; An-Nasai, no. 2034)

Cobalah lihat buruknya pengaruh orang-orang yang ada di sekitarnya! Padahal Abu Thalib sudah membenarkan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam hatinya.

2. Orang yang berakal

Karena akal/kepandaian merupakan modal yang utama. Tidak ada kebaikan bergaul dekat dengan orang bodoh, karena bisa saja dia hendak memberikan manfaat kepadamu tapi justru memberi madharat. Yang dimaksud “orang berakal” dalam konteks ini adalah orang yang mengetahui segala urusan sesuatu sesuai dengan proporsinya. Manfaat bisa diambil dari dirinya atau dari pemahaman yang diberikannya.

3. Baik akhlaknya

Ini merupakan keharusan sebab berapa banyak orang berakal yang dirinya lebih banyak dikuasai amarah dan nafsu, lalu dia tunduk padanya sehingga tidak ada manfaat bergaul dengannya.

4. Bukan orang fasik

Orang fasik tidak pernah merasa takut kepada Allah. Orang yang tak takut kepada Allah tentu sulit dipercaya. Selain itu, sewaktu-waktu orang lain tidak aman dari tipu dayanya.

5. Bukan ahli bid’ah

Persahabatan dengannya harus dihindari karena bid’ah yang dilakukannya.

6. Taat beribadah dan menjauhi perbuatan maksiat

واصبر نفسك مع الذين يدعون ربهم با الغداة والعشي يريدون وجحه

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di waktu pagi dan senja hari dengan mengharap keridhoannya.” (QS. Al-Kahfi : 28)

7. Banyak ilmu atau dapat berbagi ilmu dengannya

Berteman dekat dengan orang yang punya dan mengamalkan ilmu agama akan memberi pengaruh positif yang besar pada diri seseorang.

8. Tidak rakus dunia

Itulah sebagian sifat-sifat teman karib yang harus engkau perhatikan. Jangan sampai dirimu salah memilih sehingga engkau menyesal di dunia atau pun di akhirat.

الْأَخِلَّاء يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

Teman -teman akrab pada hari itu sebagian menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf : 67)

Rujukan:


*) Catatan dari penulis: Pengambilan hadits dari buku dan sumber lainnya, bukan dari kitab aslinya.

 

 

Penulis: Ike Purnama Dewi Yuli (Ummu Hanif Al-Fatih)
Murojaah: Ustadz Abu Hatim Sigit

Sumber: https://muslimah.or.id/

“Mikir” Ternyata Juga Ada Pahala dan Dosanya

“Mikir” Ternyata Juga Ada Pahala dan Dosanya

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّهُ فَكَّرَ وَقَدَّرَ (١٨)فَقُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ (١٩)ثُمَّ قُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ (٢٠)ثُمَّ نَظَرَ (٢١)ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ (٢٢)

Sesungguhnya dia telah memikirkan dan memutuskan. Celakalah dia! Bagaimana dia berani memutuskan? Kemudian celakalah dia! Bagaimanakah dia tetap memutuskan? Kemudian dia memikirkan. Sesudah itu dia bermasam muka dan merengut.” (QS. Al-Mudatstsir: 18 – 22)

Ayat ini berbicara tentang Walid bin Mughirah. Salah satu pemuka Quraisy dari suku Makhzum yang terkenal dengan kekayaan dan kehebatannya dalam bersyair. Dia adalah ayah Khalid bin Walid dan paman dari Abu Jahal bin Hisyam bin Mughirah.

Suatu ketika dia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mendengarkan Al-Quran.  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan beberapa ayat di surat Ghafir, hingga Walid merasa sangat tersentuh dengan bacaan beliau. Usai mendengarkan Al-Quran, si Walid mendatangi masyarakat Quraisy,

والله لقد سمعت من محمد آنفاً كلاماً ما هو من كلام الأنس ولا من كلام الجن إن له لحلاوة وإن عليه لطلاوة وإن أعلاه لمثمر وإن أسفله لمغدق وأنه يعلو وما يعلى عليه

Demi Allah, baru saja aku mendengar dari Muhammad sebuah ucapan yang bukan termasuk bahasa manusia, bukan pula bahasa jin. Sungguh sangat manis dan indah (untuk didengar). Bagian atasnya berbuah, bagian bawahnya sangat lebat. Ucapan yang sangat mulia dan tidak ada yang lebih mulia darinya.”

Berita ini pun sampai kepada Abu Jahal. Dia pun mendatangi Al-Walid untuk menghilangkan pengaruh kekaguman terhadap Al-Quran dari pamannya, ”Wahai pamanku, seluruh kaummu hendak mengumpulkan harta mereka untuk diserahkan kepadamu. Karena engkau telah mendatangi Muhammad untuk mendengarkan ucapannya.”

Walid pun marah, dan membantah, ”Bukankah semua orang Quraisy tahu bahwa aku adalah orang yang paling kaya dan dan paling banyak anaknya?”

”Tapi tolong sampaikan kepada masyarakat Quraisy bahwa engkau mengingkari ucapan Muhammad,” pinta Abu Jahal.

”Lalu apa komentar yang bisa aku berikan? Bukankah aku ini orang yang paling paham tentang syair?” Kemudian Walid memuji-muji Al-Quran yang telah dia dengar dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Pokoknya, Quraisy tidak bakalan ridha sampai engkau memberi komentar buruk untuk Al-Quran,” tegas Abu Jahal.

“Baik, tolong beri aku waktu untuk berpikir,” pinta Walid.

Dia pun berpikir. Berpikir, apa kira-kira komentar miring yang tepat untuk ucapan Muhammad. Dia terus berpikir. Berpikir untuk membuat makar, agar orang tidak lagi memberi simpati kepada ucapan Muhammad.

Sesungguhnya dia telah memikirkan dan memutuskan. Celakalah dia! Bagaimana dia berani memutuskan? Kemudian celakalah dia! Bagaimanakah dia tetap memutuskan? Kemudian dia memikirkan. Sesudah itu dia bermasam muka dan merengut.

Selagi dia belum menemukan jawabannya, dia selalu merenggut, bermuka masam. Hingga akhirnya dia menemukan kata yang tepat untuknya. Ketika itu, dia baru mulai merasa sombong, dan menolak kebenaran,

ثُمَّ أَدْبَرَ وَاسْتَكْبَرَ (٢٣)فَقَالَ إِنْ هَذَا إِلا سِحْرٌ يُؤْثَرُ (٢٤)إِنْ هَذَا إِلا قَوْلُ الْبَشَرِ (٢٥)

“Kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri. Lalu dia berkata, ‘(Al-Quran) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari tukang sihir terdahulu). Ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.’” (QS. Al-Mudatstsir: 23 – 25)

Dua kalimat kunci yang ditemukan si Walid untuk memberikan komentar miring terhadap Al-Quran:

  1. Al-Quran ini adalah sihir yang dipelajari Muhammad dari penyihir sebelumnya.
  2. Al-Quran ini hanya ucapan manusia, bukan wahyu.

Lihat bagaimana ancaman balasan yang Allah berikan untuk Walid,

سَأُصْلِيهِ سَقَرَ (٢٦)وَمَا أَدْرَاكَ مَا سَقَرُ (٢٧)لا تُبْقِي وَلا تَذَرُ (٢٨)لَوَّاحَةٌ لِلْبَشَرِ (٢٩)عَلَيْهَا تِسْعَةَ عَشَرَ (٣٠)

”Aku akan memasukkannya ke dalam (neraka) Saqar. Tahukah kamu, Apakah (neraka) Saqar itu? Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. (Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia. Dan di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga). (QS. Al-Mudatstsir: 26 – 30)

Upaya Al-Walid bin Mughirah dalam bentuk berpikir ternyata bukan amal sia-sia. Allah beri nilai amal ini dan Allah catat sebagai amal kejahatan.

Saat ini, ada jutaan kelompok yang berpikir, bagaimana bisa menumbangkan dakwah Islam yang benar. Berpikir bagaimana bisa menjauhkan masyarakat dari dakwah tauhid dan sunnah. Dibalutkan berbagai macam gelar dan julukan, yang jika kita perhatikan, itu bukan suatu kebetulan. Tapi sesuatu yang sudah direncanakan.

Ada juga yang berpikir menjauhkan remaja dari aturan Islam. Berpikir bagaimana mengajak mereka selalu happy dengan gaya glamor hedonis: hidup sekali, puas-puasin sekalian. Berpikir bagaimana agar bisa menelanjangi wanita dan para muslimah. Girls day out, girls free, girls … girls …. Semuanya bukan sesuatu yang bersifat kebetulan. Itu melalui proses berpikir.

Anda yang saat ini berpikir, bagaimana mengembangkan dakwah tauhid dan sunnah, jangan remehkan usaha ini. Sekalipun hanya berpikir, semuanya tidak sia-sia. Berpikir mengemas dakwah dalam format yang menawan. Berpikir mengajak orang berbuat baik dengan bentuk yang lebih elegan. Berpikir bagaimana cara mudah mengajak muslimah untuk sadar akan kehormatannya.

Ingat, semua itu bukan sesuatu yang hampa tanpa bekas. Karena berpikir pun ada dosa dan pahalanya.

Allahu a’lam.

Penulis: Ustadz Ammi Nur Baits

Sumber: https://muslimah.or.id/