Select Page
Meninggalkan Perkara yang Tidak Bermanfaat

Meninggalkan Perkara yang Tidak Bermanfaat

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

( مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ )

“Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan perkara-perkara yang tidak bermanfaat baginya.” (Hadits hasan, diriwayatkan oleh At-Tirmidzi No. 2318 dan yang lainnya)

Kedudukan Hadits

Imam Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah berkata :

(هذا الحديث أصل عظيم من أصول الأدب )

“Hadits ini adalah landasan yang penting dalam masalah adab ”

Imam Abu ‘Amr Ibnu Shalah menceritakan perkataan Imam Abu Muhammad Ibn Abi Zaid, seorang Imam mazhab Maliki di zamannya, Beliau mengatakan, “Inti dan kunci dari adab yang baik terdapat dalam empat hadits Nabi berikut :

Pertama, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

( مَنْ كَانَ يُؤمنُ باللهِ واليومِ الآخر فليَقُلْ خيراً أو ليَصْمُتْ )

Barangsiapa yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya berkata yang baik atau diam” (H.R Bukhari dan Muslim)

Kedua, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

( مِنْ حُسْنِ إسلامِ المَرءِ تَركُهُ ما لا يَعْنِيهِ )

“Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan perkara-perkara yang tidak bermanfaat baginya.” (H.R Tirmidzi, hasan)

Ketiga, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

( لا تَغْضَبْ)

Sabda Nabi kepada seorang yang meminta wasiat kepada beliau, kemudian beliau memberi wasiat singkat, “Jangan marah” Beliau sampai mengulanginya sebanyak tiga kali. (H.R Bukhari)

Keempat, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

( المُؤْمِنُ يُحبُّ لأخيه ما يُحبُّ لنفسه )

Seorang mukmin itu menginginkan untuk saudaranya apa yang dia inginkan untuk dirinya sendiri” (H.R Bukhari dan Muslim). (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam)

Faidah Hadits

Hadits di atas mengandung beberapa faidah :

  1. Hadist ini termasuk di antara jawaami’ul kalim, yakni suatu kalimat yang ringkas namun padat makna.
  2. Hadits ini termasuk pokok dalam masalah adab Islami.
  3. Termasuk ciri baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat. Kata min dalam hadits di atas adalah min tab’idhiyyah yang menunjukkan makna sebagian. Artinya, mengamalkan hadits ini termasuk di antara ciri baiknya Islam seseorang, namun perkara-perkara yang menunjukkan kebaikan Islam seseorang tidak terbatas dengan mengamalkan hadits ini saja. (Lihat Syarh Arbain An Nawawiyyah li Syaikh Shalih Alu Syaikh)
  4. Perkara yang tidak bermanfaat meliputi perbuatan yang haram, perkara yang makruh, hal-hal yang mutasyabihat, serta berlebih-lebihan dalam perkara mubah yang tidak dibutuhkan. (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam).
  5. Meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat termasuk tanda baiknya Islam seseorang. Kebaikan Islam seseorang akan memberikan banyak kebaikan, dilipatgandakan pahalanya, dan dihapus dosa-dosanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    ذَا أَحْسَنَ أَحَدُكُمْ إِسْلامَهُ ، فَكُلُّ حَسَنَةٍ يَعْمَلُهَا تُكْتَبُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ ، وَكُلُّ سَيِّئَةٍ يَعْمَلُهَا تُكْتَبُ لَهُ بِمِثْلِهَا حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ

    “Jika Islam salah seorang dari kalian baik, maka setiap amal kebaikan yang ia lakukan akan dicatat (pahalanya) sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat dan setiap kejelekan yang dia lakukan hanya dicatat sebagai satu kejelekan. Hal ini berlaku sampai dia berjumpa dengan Allah ‘Azza wa Jalla (HR. Muslim ) (Qawaid wa Fawaid min Al Arba’in An Nawawiyah)

  6. Batasan suatu perkara yang tidak bermanfaat adalah dinilai berdasarkan tolak ukur syariat, bukan sesuai hawa nafsu. Sebagian orang keliru memahami hadits ini dengan meninggalkan perkara wajib ataupun sunnah yang dianggap tidak bermanfaat seperti meninggalkan memberi nasihat untuk orang lain dan berbuat amar ma’ruf nahi munkar. (Qawaid wa Fawaid min Al Arba’in An Nawawiyyah)
  7. Jika disebutkan Islam secara mutlak maka terkandung di dalamnya iman dan ihsan, yaitu seluruh syariat dalam agama baik yang lahir maupun yang batin. Seorang muslim berdasarkan status ke-Islamannya terbagi menjadi dua : yaitu yang baik Islamnya dan jelek Islamnya sebagaimana diisyaratkan dalam kandungan hadits di atas. Barangsiapa yang bisa melaksanakan Islam lahir dan batin maka dia seorang yang baik Islamnya. Allah Ta’ala berfirman :

    وَمَنْ أَحْسَنُ دِيناً مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لله وَهُوَ مُحْسِنٌ واتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفاً وَاتَّخَذَ اللّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلاً

    Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus ? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya “ (An Nisaa’:25) ( Bahjatu Quluubil Abrar )

  8. Hadits di atas menunjukkan bahwa ke-Islaman seseorang bertingkat-tingkat, tidak sama antara satu orang dengan orang yang lain.
  9. Barangsiapa yang tidak bisa meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat menunjukkan jeleknya status keislaman orang tersebut, misalnya dengan melanggar perkara haram dan makruh baik dengan perkataan maupun perbuatan. ( Bahjatul Quluubil Abrar )
  10. Motivasi untuk melakukan perkara yang bermanfaat dan mempergunakan waktu di dalam hal-hal yang mendatangkan manfaat bagi seorang hamba di dunia dan akhirat. Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

    احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ

    “ Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah” (H.R Muslim)

Semoga bermanfaat. Wa shallallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad.

 

Penyusun : Adika Mianoki (Almuni Ma’had Al ‘Ilmi)

Referensi :

  1. Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam karya Imam Ibnu Rajab Al Hambali.
  2. Qawaid wa Fawaid min Al Arba’in An Nawawiyyah karya Nadhim Muhammad Sulthon.
  3. Syarh Arbain An Nawawiyyah karya Syaikh Shalih bin ‘Abdil ‘Aziz Alu Syaikh.
  4. Bahjatu Quluubil Abrar wa Qurrati ‘Uyuunil Akhyaar Syarh Jawaami’il Akhbaar karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di.

Sumber

Sedekah Tak Sekedar Rupiah

Sedekah Tak Sekedar Rupiah

Bersedekah merupakan hal yang sangat dianjurkan oleh agama kita. Banyak sekali keutamaan bagi ‎orang-orang yang mau memberi sedekah. Allah telah menjanjikan balasan bagi mereka yang gemar ‎bersedekah yang terdapat pada hadist Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

‎ اليَدُ العُلْيَا خَيْرٌ مِنَ اليَدِ السُّفْلَى، فَاليَدُ العُلْيَا: هِيَ المُنْفِقَةُ، وَالسُّفْلَى: هِيَ السَّائِلَةُ

Tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah. Tangan di atas adalah orang yang ‎memberi dan tangan yang dibawah adalah orang yang meminta.” (HR. al-Bukhari no.1429 dan Muslim ‎no.1033).‎

Sedekah merupakan bukti kejujuran iman seseorang, karena sedekah identik dengan orang yang ‎pemurah dan suka memberi. Bagaimana bisa? Orang yang bersedekah akan rela memberikan ‎apa yang mereka punya serta mengikhlaskan apa yang mereka usahakan dengan tenaga dan ‎waktunya. Berkata Abu Malik al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,‎

‎وَالصَّلَاةُ نُورٌ، وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ، وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ

‎”Shalat adalah cahaya, sedekah merupakan bukti nyata, sabar itu sinar panas, sementara Al-Quran bisa ‎menjadi pembelamu atau sebaliknya, menjadi penuntutmu.” (HR. Muslim 223).‎

Sedekah tidak harus berupa ‎harta atau uang. Ada sedekah yang sangat mudah untuk kita lakukan, tanpa perlu banyak mengeluarkan ‎tenaga. Sedekah itu ialah “senyuman” Hanya dengan sedikit ‎saja menarik wajah dan bibir sehingga menciptakan sebuah senyuman yang indah dan manis. ‎Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‎تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ

‎“Senyummu terhadap wajah saudaramu adalah sedekah.” (HR. Tirmidzi 1956, ia berkata: “Hasan ‎gharib”. Dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih At Targhib).‎

Kalaupun kita sulit untuk memberikan senyuman, janganlah sampai menampakkan wajah yang masam ‎dan sinis. Tampilkan wajah yang indah, menyenangkan, dan menenangkan untuk dipandang, karena ‎menampakkan keceriaan wajah kepada saudara kita akan mendapatkan pahala sama seperti ‎pahala orang yang bersedekah. (Lihat kitab Tuhfatul ahwadzi 6/75-76). Rasulullah shallallahu ‘alaihi ‎wa sallam bersabda,‎

‎لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْق

‎“Janganlah engkau meremehkan kebaikan sekecil apapun, walaupun itu berupa cerahnya wajahmu ‎terhadap saudaramu.” (HR. Muslim no. 2626).‎

Selain memberikan senyuman, alangkah lebih indah dan mulia apabila dibarengi dengan ‎mengucapkan salam ketika bertemu sesama muslim. Ucapan salam merupakan sapaan terbaik ‎dari pada ucapan-ucapan yang lain, seperti ucapan yang dianggap lebih gaul dan yang lagi tren saat ‎ini. karena ucapan salam merupakan doa untuk orang lain. Dengan salam berarti kita mendoakan ‎keselamatan baginya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,‎

‎‎ لَا تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَفَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى أَمْرٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ

Tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Dan kalian tidak dikatakan beriman hingga kalian ‎saling mencintai. Maukah aku tunjukkan sesuatu yang jika dilakukan akan membuat kalian saling ‎mencintai? Sebarkan salam diantara kalian.” (HR. Muslim, no.54).‎

Ucapan salam selain mengandung doa juga akan memberikan banyak manfaat. Dengan ‎mengucapkan salam maka dapat menumbuhkan rasa cinta. Bukan cinta karena nafsu, ‎melainkan cinta karena agama dan cinta karena Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya),

‎‎“Sembahlah Ar-Rahman semata, berikanlah makan (kepada yang membutuhkan), tebarkanlah ‎salam, maka engkau akan masuk surga dengan selamat.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad 981, ‎Ibnu Majah 3694, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah,2/115).

Dengan begitu marilah kita lakukan dan mencontoh apa yang telah Rasulullah ajarkan kepada kita. Semoga amalan yang ringan ini dapat mengantarkan kita ke surga ‎yang indah dan di dalamnya penuh dengan kenikmatan-kenikmatan tiada tara. Allahu a’lam.

—–

Penulis: Ummu Shafiyyah Lia Wijayanti Wibowo

Pemuraja’ah: Ustadz Ammi Nur Baits

Sumber

Jenggot Bukan Ciri Teroris

Jenggot Bukan Ciri Teroris

Merebaknya aksi-aksi terorisme di tanah air, berujung pada munculnya stereotip-stereotip di tengah masyarakat tentang ciri teroris. Diantaranya bahwa lelaki berjenggot adalah ciri dari teroris. Karena diantara pelaku terorisme ternyata memang berjenggot. Maka dalam artikel ini perlu kami jelaskan bahwa berjenggot adalah ajaran Islam yang jauh sudah disyariatkan sebelum para teroris lahir.

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam Berjenggot Lebat

Ketahuilah bahwa manusia yang paling mulia, teladan dan junjungan kita semua, Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam, beliau berjenggot lebat. Dari Jabir radhiallahu’anhu beliau berkata:

كانَ رسولُ الله صلى الله عليه وسلم قد شَمِطَ مُقدَّمُ رأسِهِ ولحيتِهِ، فإذا ادَّهَنَ ومشَطَ لم يتبيَّنْ، وإذا َعِثَ رأسُهُ تَبَيَّنَ، وكانَ كَثِيرَ الشَّعرِ واللّحيةِ، فقالَ رجُلٌ: وَجهُهُ مِثْلُ السَّيْفِ؟ قال: لا، بلْ كانَ مِثْلَ الشَّمسِ والقَمَرِ مُسْتدِيراً؛ قال: ورأيتُ خَاتمهُ عِندَ كَتِفِهِ مِثْلَ بَيْضَةِ الحمامَةِ يُشْبِهُ جَسَدَهُ

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah ada sedikit uban di bagian depan rambut kepala dan jenggotnya. Jika beliau meminyaki dan menyisir rambutnya, uban itu tidak nampak. Tapi ketika rambutnya kering, uban itu nampak. Dan beliau adalah orang yang lebat rambut dan jenggotnya. Ada yang bertanya: ‘apakah wajah beliau seperti pedang?’. Jabir menjawab: ‘Tidak, justru wajahnya seperti matahari dan bulan yang bersinar’. Jabir juga mengatakan: ‘dan aku melihat tanda kenabian di pundak beliau, bentuknya seperti telur merpati yang warnanya hampir sama seperti warna kulit beliau‘” (HR. Muslim no. 2344).

Padahal beliau adalah suri teladan terbaik dan kita diperintahkan Allah untuk meneladani beliau. Allah ta’ala berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS. Al Ahzab: 21).

Maka bagaimana mungkin berjenggot dijadikan sebagai ciri teroris? Apakah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam adalah teroris?

Jenggot Adalah Sunnah Para Nabi dan Rasul

Ketahuilah bahwa para berjenggot adalah sunnah (kebiasaan) para Nabi dan Rasul terdahulu. Padahal kita ketahui bersama bahwa para Nabi dan Rasul tidak semua dari Jazirah Arab.

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam berjenggot. Berdasarkan sebuah hadits dari Jabir radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

ورأيتُ إبراهيمَ صلواتُ اللهِ عليه . فإذا أقربُ من رأيتُ به شبهًا صاحبُكم ( يعني نفسَه )

Aku pernah melihat Ibrahim shalawatullah ‘alaihi. Dan orang yang paling mirip dengannya adalah sahabat kalian (yaitu Nabi sendiri)” (HR. Muslim no. 167).

Hadits ini menunjukkan bahwa rupa Nabi Ibrahim ‘alahissalam itu mirip dengan Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam, dan beliau Shallallahu’alaihi Wasallam berjenggot.

Nabi Nuh ‘alaihissalam berjenggot. Dalam sebuah riwayat yang dikeluarkan Al Baihaqi dalam Dalail An Nubuwwah, dari Hisyam bin Al ‘Ash, bahwa Heraklius menggambarkan sifat-sifat para Nabi dan diantaranya ia mengatakan:

في صفة نوح – عليه الصلاة والسلام – انه كان حسن اللحية

Tentang sifat Nabi Nuh ‘alaihis shalatu was salam, ia memiliki jenggot yang bagus” (Al Baihaqi dalam Dalail An Nubuwwah, 1/385. Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya [3/484] mengatakan: “sanadnya laa ba’sa bihi”).

Nabi Harun ‘alaihissalam berjenggot. Lihatlah ketika Nabi Harun menjelaskan kepada Nabi Musa ‘alaihimassalam yang marah kepada beliau:

قَالَ يَا ابْنَ أُمَّ لَا تَأْخُذْ بِلِحْيَتِي وَلَا بِرَأْسِي إِنِّي خَشِيتُ أَن تَقُولَ فَرَّقْتَ بَيْنَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَمْ تَرْقُبْ قَوْلِي

Harun menjawab’ “Hai putera ibuku, janganlah kamu pegang jenggotku dan jangan (pula) kepalaku; sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku): “Kamu telah memecah antara Bani Israil dan kamu tidak memelihara amanatku“” (QS. Thaha: 94).

Kesimpulannya, berjenggot adalah sunnah para Nabi dan Rasul. Syaikh Hamud At Tuwajiri mengatakan:

وإذا علم إن إعفاء اللحية ثابت عن النبي – صلى الله عليه وسلم – من قوله وفعله وأنه من هديه الذي هو خير الهدي، فليعلم أيضًا أن إعفاءها من سنن الأنبياء والمرسلين وهديهم

“Jika telah diketahui bersama bahwa memanjangkan jenggot adalah sunnah yang shahih dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, dalam perintah beliau dan perbuatan beliau, dan beliau adalah orang petunjuknya adalah sebaik-baik petunjuk, maka ketahuilah bahwasanya memanjangkan jenggot itu juga sunnah para Nabi dan Rasul serta merupakan ajaran mereka” (Ar Radd ‘ala Man Ajaaza Tahdzibal Lihyah, 6).

Perintah Memelihara Jenggot

Banyak sekali dalil-dalil yang memerintahkan kaum lelaki untuk memelihara jenggot. Dan semuanya menggunakan gaya bahasa perintah.

Dari Ibnu Umar radhiallahu’anhuma, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ ، وَفِّرُوا اللِّحَى وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ

Bedakan diri kalian dengan orang-orang Musyrikin, lebatkanlah jenggot dan pendekkanlah kumis” (HR. Bukhari no. 5892, Muslim no. 259).

Dari Ibnu Umar radhiallahu’anhuma, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

انهكوا الشواربَ ، وأعفوا اللحى

Pendekkanlah kumis dan biarkanlah jenggot” (HR. Bukhari no. 5893, Muslim no. 259).

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

جُزُّوا الشَّوَارِبَ وَأَرْخُوا اللِّحَى ، خَالِفُوا الْمَجُوسَ

Pendekkanlah kumis dan panjangkanlah jenggot. Bedakan diri kalian dengan orang-orang Majusi” (HR. Muslim no. 260).

Lafadz yang lain:

جزُّوا الشَّواربَ، وأَرجوا– أو أَوفوا – اللِّحَى

Pendekkanlah kumis dan biarkanlah jenggot” (disebutkan Al Aini dalam Nukhabul Afkar [13/181]).

Dalam riwayat Ibnu Hibban :

إنَّ فطرةَ الإسلامِ الغُسلُ يومَ الجمعةِ والاستنانُ وأخْذُ الشَّاربِ وإعفاءُ اللِّحى فإنَّ المجوسَ تُعفي شواربَها وتُحفي لِحاها فخالِفوهم؛ حُدُّوا شواربَكم وأعْفُوا لحاكم

Fitrah Islam yaitu mandi di hari Jum’at, bersiwak, memangkas kumis, dan memanjangkan jenggot. Karena orang Majusi memanjangkan kumis mereka, dan memangkas jenggot mereka. Maka bedakanlah diri kalian dengan mereka. Pangkas kumis kalian dan panjangkanlah jenggot ” (HR. Ibnu Hibban no. 1221).

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu juga, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

وفِّروا اللِّحى ، و خذوا من الشواربِ

Lebatkanlah jenggot dan ambil sebagian kumis” (HR. Ath Thabrani dalam Al Ausath no. 5062, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami‘ no. 7113).

Demikian hadits-hadits perintah memanjangkan jenggot, semuanya menggunakan bentuk perintah dengan lima jenis lafadz:

  1. أوفُوا artinya perintah untuk menyempurnakan dan tidak mengurangi
  2. أرخُوا artinya perintah untuk memanjangkan
  3. أرجُوا artinya perintah untuk membiarkan
  4. وفِّرُوا artinya perintah untuk memanjangkan dan melebatkan
  5. أعفُوا artinya perintah untuk membiarkan

Maka jelas bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam memerintahkan para lelaki dengan perintah yang tegas untuk membiarkan dan memanjangkan jenggotnya. Maka bagaimana mungkin menaati perintah dan ajaran Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dijadikan sebagai ciri teroris?

Hukum Memangkas Jenggot

Kita telah mengetahui bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam memerintahkan untuk membiarkan dan memanjangkan jenggot. Maka memangkas jenggot berarti menyelisihi perintah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Beliau memerintahkan untuk membiarkan dan memanjangkan, sedangkan memotong atau menghabiskannya merupakan lawan dari perintah tersebut.

Oleh karena itu tidak diperbolehkan memangkas jenggot, hukumnya haram. Terlebih lagi memangkas habis jenggot, para ulama mutaqaddimin ijma (sepakat) tentang keharamannya.

Ibnu Hazm mengatakan;

واتَّفَقوا أنَّ حَلقَ جميعِ اللِّحيةِ مُثْلةٌ لا تجوزُ

“Para ulama sepakat bahwa memangkas habis jenggot adalah sebuah maksiat, tidak diperbolehkan” (Maratibul Ijma’, 120).

Ibnu Qathan mengatakan:

واتفقوا أن حلق اللحية : مُثْلَة ، لا تجوز

Ulama sepakat bahwa memangkas habis jenggot adalah maksiat, tidak diperbolehkan” (Al Iqna fi Masail Al Ijma‘, 2/3953).

Syaikh Ali Mahfuzh, ulama Al Azhar dalam kitab Al Ibda’ fi Madharil Ibtida’ mengatakan:

وقد اتفقت المذاهب الأربعة على وجوب توفير اللحية وحرمة حلقها

“Ulama madzhab yang empat sepakat tentang wajibnya memanjangkan jenggot dan haramnya memangkas habis jenggot” (dinukil dari Kasyful Bida’ war Radd ‘alal Luma‘, 119).

Demikian juga memangkas jenggot walaupun tidak sampai memangkas habis juga terlarang berdasarkan zahir nash dalil-dalil yang tegas memerintahkan untuk membiarkan dan memanjangkan jenggot. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

انهكوا الشواربَ ، وأعفوا اللحى

Pendekkanlah kumis dan biarkanlah jenggot” (HR. Bukhari no. 5893, Muslim no. 259).

Membiarkan artinya tidak menguranginya sama sekali. Ternukil pula ijma tentang haramnya memangkas jenggot walaupun tidak sampai habis. Ibnul Hammam mengatakan:

وأما الأخذ منها وهي دون ذلك – أي أقل من قبضة اليد –كما يفعله بعض المغاربة ومخنثة الرجال فلم يبحه أحد

“Adapun memangkas jenggot yang kurang dari satu genggaman tangan, sebagaimana dilakukan orang-orang barat dan banci, maka aku tidak mengetahui ada ulama yang membolehkannya” (dinukil dari Fathul Qadir, 2/352).

Jika para ulama sepakat akan wajibnya memanjangkan jenggot dan mengharamkan memangkasnya, maka apakah berjenggot itu malah jadi ciri teroris? Apakah berarti sebagian kaum Muslimin yang melanggar syariat dengan memangkas jenggot dan melanggar kesepakatan ulama justru benar dan baik?

Hukum Memangkas Jenggot Yang Lebih Dari Satu Genggam

Yang diperselisihkan para ulama adalah memangkas jenggot yang panjangnya melebihi satu genggaman. Karena terdapat riwayat dari Ibnu Umar radhiallahu’anhuma pernah memangkas jenggotnya yang melebihi satu genggam. Disebutkan dalam Shahih Al Bukhari:

كان ابنُ عمرَ : إذا حجَّ أو اعتمر قبض على لحيتِه ، فما فضل أخذَه

Ibnu Umar ketika berhaji dan umrah ia menggenggam jenggotnya. Yang melebihi genggaman ia pangkas” (HR. Bukhari no. 5892).

Dari atsar ini, jumhur ulama membolehkan memangkas jenggot yang melebihi satu genggam. Karena kita tahu bersama, yang meriwayatkan hadits-hadits perintah memanjangkan jenggot adalah Ibnu Umar sendiri dan Abu Hurairah radhiallahu’anhum. Mereka berargumen dengan kaidah:

الرَّاوي أدرى بما رَوى

“Perawi hadits lebih mengetahui tentang hadits yang ia riwayatkan”

Yang berpendapat demikian diantaranya imam Malik, imam Ahmad, ‘Atha, Ibnu Abdil Barr, Ibnu Taimiyah.

Namun sebagian ulama melarang secara mutlak memangkas jenggot, walaupun lebih dari satu genggaman. Mereka beralasan bahwa perbuatan Ibnu Umar adalah ijtihad beliau yang keliru. Kaidah mengatakan:

العِبرةُ بروايةِ الرَّاوي لا برأيِه

“Yang diambil adalah riwayat (hadits), bukan opini dari perawinya”.

Ibnu Hajar menukil perkataan Al Qurthubi:

قال الطبري: ذهبَ قومٌ إلى ظاهر الحديثِ فكَرِهوا تناوُلَ شيءٍ من اللِّحيةِ مِن طُولِها ومِن عَرضِها

“Al Qurthubi mengatakan: sebagian ulama berpegang pada zahir hadits. Hadits melarang memangkas sedikit pun dari jenggot, baik memotong di bawahnya ataupun di sampingnya” (Fathul Baari, 10/350).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin ketika membahas masalah ini beliau menyimpulkan:

لكِنَّ الأَولى الأخذُ بما دَلَّ عليه العمومُ في الأحاديثِ السَّابقةِ؛ فإنَّ النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم لم يستثنِ حالًا من حالٍ

“Namun yang lebih utama, tetap berpegang pada keumuman hadits-hadits yang telah lalu (yang memerintahkan untuk memanjangkan jenggot). Karena Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam tidak mengecualikan satu keadaan pun” (Majmu’ Al Fatawa Syaikh Ibnu Al Utsaimin, 11/85)

Para Teroris Berjenggot?

Andaikan fakta mengatakan para teroris umumnya berjenggot maka kita jawab dengan beberapa poin:

Pertama, berarti mereka telah melakukan hal yang baik dalam masalah penampilan lahiriyah, namun mereka menyimpang dalam akidah dan manhaj. Dan seorang Muslim harus baik dalam lahir dan batinnya. Rasulullah shallahu’alaihi wasallam bersabda:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik, seluruh tubuhnya akan baik. Jika ia rusak, seluruh tubuhnya akan rusak. Ketahuilah itu ialah hati..” (HR. Bukhari no. 1599, Muslim no. 52).

Hadits ini menunjukkan orang yang hatinya baik, maka penampilan lahiriyahnya juga baik. Walaupun, orang yang baik penampilan lahiriyahnya belum tentu baik hatinya, contohnya mereka para teroris. Namun, baiknya lahiriyah harus diusahakan. Diantaranya memanjangkan jenggot bagi laki-laki.

Kedua, orang-orang yang melakukan terorisme berkedok jihad, yang menghalalkan darah kaum Muslimin, mereka adalah kaum khawarij. Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa kaum Khawarij itu nampak shalih dan rajin beribadah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya :

يخَرُجُ قَوْمٌ مِنْ أُمَتيِ يَقْرَأُوْنَ الْقُرْآَنْ. لَيْسَ قِرَاءَتُكُمْ إِليَ قِرَاءَتِهِمْ بِشَيْءٍ. وَلاَ صَلاَتُكُمْ إِلىَ صَلاَتِهِمْ بِشَيْءٍ. وَلاَ صِيَامُكُمْ إِلىَ صِيَامِهِمْ بِشَيْءٍ

Akan muncul suatu kaum dari umatku yang membaca Al-Qur’an, yang bacaan kalian tidaklah sebanding bacaan mereka sedikitpun. Tidak pula shalat kalian sebanding dengan shalat mereka sedikitpun. Dan tidak pula puasa kalian sebanding dengan puasa mereka sedikitpun” (HR. Muslim no. 1064).

Maka mereka disifati sebagai orang-orang yang punya semangat dalam menerapkan ajaran agama, termasuk memelihara jenggot. Namun tentunya ajaran agama tidak bisa diidentikkan dengan kaum khawarij. Apakah dari hadits di atas kita akan menyimpulkan maka yang rajin membaca Al-Qur’an , rajin shalat dan rajin puasa maka ia adalah khawarij? Tentu tidak.

Ketiga, yang semestinya disematkan kepada para teroris khawarij adalah ciri-ciri dan sifat-sifat mereka yang bertentangan dengan ajaran Islam yang lurus. Bukan malah ajaran Islam yang shahih, dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan disepakati para ulama Islam, justru yang disematkan kepada mereka. Semisal perihal memelihara jenggot ini.

Diantara ciri-ciri dan sifat-sifat mereka yang bertentangan dengan ajaran Islam yang lurus adalah:

  • Mereka menghalalkan darah kaum Muslimin yang tidak sepemahaman dengan mereka
  • Mereka mudah mengkafirkan individu-individu kaum Muslimin yang tidak sepemahaman dengan mereka
  • Mereka mudah mengkafirkan pemimpin kaum Muslimin
  • Mereka membai’at pemimpin sendiri, dengan bai’at yang bid’ah
  • Melakukan atau mendukung bom bunuh diri
  • Dll.

 

Kesimpulan

Membiarkan dan memanjangkan jenggot bagi laki-laki adalah ajaran Islam yang dipraktekkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam dan para ulama sepakat mewajibkannya dan melarang mencukurnya habis jenggot. Maka tidak layak menjadikan jenggot sebagai ciri teroris.

Hanya kepada Allah lah tempat mengadu…

 

***

Penulis: Yulian Purnama

Sumber

Benarkah Istri Tidak Wajib Mengerjakan Pekerjaan Rumah Tangga

Benarkah Istri Tidak Wajib Mengerjakan Pekerjaan Rumah Tangga

Soal:

Apakah benar bahwasanya pekerjaan rumah seperti memasak dan mencuci dan selainnya bukan merupakan kewajiban atas seorang istri di rumah? Dan pelayanannya terhadap suaminya adalah semata-mata adalah karena perbuatan baiknya terhadap suami? Apakah seorang istri berdosa jika dia tidak mentaati suaminya jika ia menolak mengerjakan pekerjaan rumah tangganya?

Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.

Jawab:

Alhamdulillah, adapun yang disebutkan dalam pertanyaan, memang merupakan pendapat sebagian ahli fikih. Akan tetapi pendapat ini marjuh (lemah). Ini dikarenakan dua hal:

Pertama, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وعَاشِرُوْهُنَّ بِالمَعْرُوْف

Dan pergaulilah mereka (istri-istri kalian) dengan cara yang ma’ruf” (QS An Nisaa’:19)

Dan firman-Nya

وَلَهٌنَّ مِثْلُ الَّذِيْ عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوْف

Dan hak mereka semisal kewajiban mereka dengan cara yang ma’ruf” (QS Al Baqoroh: 228)

Dan yang dimaksud dengan ‘urf dalam ayat-ayat ini, adalah sesuatu yang dikenal dan berlaku di kebiasaan masyarakat muslimin dan tidak bertentangan dengan syariat Allah subhanahu wa ta’ala.

Maka wajib atas seorang istri untuk mempergauli suaminya sebagaimana yang berlaku dalam kebiasaan masyarakat selama tidak menyelisihi syariat Allah. Dan telah ada kebiasaan yang berlaku di masyarakat muslim dahulu dan sekarang bahwasanya istri melayani suaminya. Dan seorang wanita hanya dapat melayani suaminya dengan sempurna di dalam rumahnya.

Bagaimana bisa pergaulan suami istri bisa baik dan sesuai dengan ‘urf kecuali dengan pelayanan istri kepada suaminya?

Maka kedua ayat di atas adalah dalil yang menunjukkan bahwasanya wajib atas seorang istri wajib memperlakukan dan mempergauli suaminya dengan kebiasaan yang berlaku di masyarakat tanpa meremehkan atau berlebih-lebihan dalam perkara ini.

Dan telah kami sebutkan bahwasanya kebiasaan yang ada sejak zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga saat ini adalah seorang istri melayani suaminya.

Kedua, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para istri agar taat kepada suami mereka. Dan Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan hal ini dengan sabda Beliau,

لَوْ كٌنْتٌ آمِرُأَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ ِلِأَحَدٍ لَأَمَرْتٌ المَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا

andaikan aku dibolehkan untuk memerintahkan seseorang bersujud kepada orang lain, sungguh aku akan memerintahkan seorang wanita untuk bersujud kepada istrinya suaminya

Ini karena besarnya hak suami atas istrinya. Dan apabila suami memerintahkan sesuatu kepada istri dan sang istri menolaknya sehingga membuat marah sang suami, maka akan marah pula para malaikat rahmat. Maka jika suami memerintahkan kepada istri untuk melayaninya, wajib atas istri untuk menurutinya.

Ini merupakan hukum syar’i dan inilah pendapat mayoritas ulama dan inilah yang benar. Dan dikecualikan dari perkara ini satu kondisi di mana pada suatu adat kebiasaan masyarakat tertentu, yang disana biasanya istri tidak melayani para suami. Maka ini pengecualian.

Maka jika seorang wanita berasal dari suatu golongan yang dikenal dalam sebuah masyarakat bahwasanya wanita dari golongan ini disebabkan kedudukan dan kemuliaannya tidak perlu melayani suaminya, maka kasus ini keluar dari perkataan mayoritas ulama.

Lalu saya ingin berpesan, untuk setiap mereka yang berucap kepada orang-orang agar mereka paham bahwa tidak setiap yang diketahui itu disampaikan. Dan selayaknya atas mereka untuk berucap tentang hal-hal yang memperbaiki kehidupan mereka, menyebarkan kebahagiaan dalam keluarga-keluarga mereka. Karena kebahagiaan keluarga adalah suatu hal yang dicari-cari dan diidam-idamkan.

Bagaimana mungkin ada kebahagiaan antara suami dan istrinya jika sang istri mendengar dari orang yang berilmu atau nampak berilmu berkata pada dirinya “tidak wajib atas anda melayani suami Anda”. Sehingga saat sang suami minta makan (minta agar dimasakkan makanan) sang istri berkilah “Demi Allah, Syaikh/Ustadz bilang saya tidak wajib melayanimu wahai suamiku”?!?

Bagaimana mungkin terwujud rasa cinta kasih antara suami istri yang dijunjung syariat? Bagaimana terwujud pergaulan yang ma’ruf? Ini malah menyelisihi maksud-maksud syariat (maqoshid asy syari’ah).

Karena itu saudara-saudaraku, termasuk pemahaman yang baik dalam beragama, adalah tidak menyebarkan setiap yang kalian ketahui. Akan tetapi sebarkanlah sesuatu yang mewujudkan maksud-maksud syariat (maqoshid asy syari’ah). Sebagian orang –Allahul musta’an (Allah-lah tempat meminta pertolongan)– karena kedangkalan ilmunya atau kedangkalan fikihnya, mereka membaca kitab-kitab. Lalu ketika mereka menemukan sesuatu yang asing/unik mereka tampakkan dan sebarkan kepada orang-orang seraya mengatakan, “ini merupakan pendapat ulama”. Memang benar perkataan ini dikatakan oleh sebagian ulama, akan tetapi perkataan ini tidak membuahkan kebaikan di masyarakat.

Dan inilah perkara yang selalu saya ingatkan wahai saudaraku, jika seseorang hendak mengatakan sesuatu tentang agama maka wajib dia memperhatikan 3 hal yang harus dipenuhi sebelumnya:

  1. Perkataan tersebut benar. (bukan kepalsuan, pent) dan perkataan tersebut sesuai dengan dalil syariat yang valid. Dan tidak semua yang dikatakan para (sebagian) ulama itu benar dan sesuai dengan dalil.
  2. Niat dan maksud perkataan itu harus benar. Dia harus meniatkan apa yang ia katakan itu dalam rangka mengharap wajah Allah subhanahu wa ta’ala. Jangan sampai ia berkata-kata (dalam masalah agama) untuk mendapatkan wanita, atau dia berkeinginan untuk mendapatkan perhatian orang lain karena dia mendatangkan sesuatu yang asing sehingga orang-orang tertarik. Haruslah niatnya karena mengharap wajah Allah subhanahu wa ta’ala.
  3. Dampak dari perkataan itu benar. Sehingga perkataan tersebut membuahkan kebenaran, menyebarkan kebaikan, dan menuntun orang kepada kebaikan. Jika konsekuensi suatu perkataan itu lebih banyak keburukannya daripada kebaikannya, maka tidak boleh seseorang mengucapkannya dan menyebarkannya.

Perkara ini selayaknya dijelaskan kepada semua orang.

Wahai sekalian suami dan istri. Selayaknyalah pergaulan yang ma’ruf, kebahagiaan, dan ketenangan rumah tangga menjadi orientasi/dasar kalian. Demi Allah tidaklah hati menjadi tentram sampai rumah tangga itu tentram. Dan tidak akan tentram rumah tangga sampai keluarga bersatu di bawah naungan Kitabullah, sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, rasa cinta, dan pergaulan yang baik.

Dan saya memiliki dua risalah yang telah dicetak, yang pertama berjudul “asbabu sa’adatil usar” (sebab-sebab kebahagiaan keluarga), dan yang kedua berjudul “huququ azzawjayn” (hak dan kewajiban suami dan istri) yang keduanya saya tuliskan berdasarkan Alkitab dan AsSunnah. Dan saya berharap semoga dengan kedua tulisan saya memberikan kebaikan kepada keluarga kaum muslimin. Allahu a’lam

 

Sumber

Hakikat Kemuliaan di Sisi Allah

Hakikat Kemuliaan di Sisi Allah

Tidak perlu bangga karena kita keturunan bangsawan, berdarah biru, keturunan orang sholih, mempunyai jabatan tinggi. Karena semua ini tidak otomatis membuat seorang mulia di sisi Allah, tanpa takwa dan amal sholih.

Ingat… Ketika Iblis mendapat perintah untuk sujud kepada Adam. Dia menolak serambi beralasan: aku lebih mulia dari Adam. Katanya Adam tercipta dari tanah, sementara dia tercipta dari api. Buat apa saya sujud kepadanya, sementara saya tercipta dari zat yang lebih mulia.

أَأَسْجُدُ لِمَنْ خَلَقْتَ طِينًا

“Iblis berkata, “Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?” (QS. Al-Isra: 61)

قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ ۖ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

Iblis berkata: “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. Shod: 76)

Akan tetapi.. apakah alasan Iblis ini kemudian mengangkat kedudukannya di sisi Allah? Sebagaimana apa yang dia sangkakan?! Ia tercipta dari api; bahan yang lebih mulia dari tanah?! Apakah alasan ini kemudian membuatnya lebih mulia di sisi Allah?! hanya karena beralasan, saya berasal dari api; zat yang lebih mulia?!

Ternyata tidak…

Justru karena alasan itu membuatnya menjadi makhluk yang paling hina. Meski ia tercipta dari zat yang lebih mulia dari penciptaan Adam. Karena tidak adanya kepatuhan kepada Allah ‘azza wa jalla Sang Penciptanya. Maka tidak berguna di hadapan Allah, bila tidak ada takwa.

Kita lihat Malaikat…

Karena sebab apa mereka menjadi makhluk yang mulia? Karena kepatuhan mereka kepada Allah dan amalan mereka yang senantiasa sejalan dengan ridho Allah; mereka tidak pernah melanggar larangan Allah. Disebabkan inilah mereka menjadi makhluk yang mulia di sisi-Nya.

Allah berfirman tentang Malaikat,

لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Para malaikat itu tidak pernah mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)

***

27 Rabi’us Tsani 1436 H

Penulis: Ustadz Ahmad Anshori

Sumber

Shalat Sunnah Dua Raka’at di Malam Pertama Pengantin Baru

Shalat Sunnah Dua Raka’at di Malam Pertama Pengantin Baru

Bagi Anda yang akan menikah atau sebentar lagi akan menikah. Pernikahan adalah babak baru dari kehidupan, awal dari kebahagiaan dan kebersamaan. Hendaknya dua insan yang telah terikat dalam suatu janji pernikahan, mengawali bahtera hidupnya dengan kebaikan untuk memperoleh kebahagiaan yang hakiki. Kebahagiaan yang hakiki adalah semuanya didasarkan karena cinta kepada Allah hanya mengharapkan wajah-Nya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika pada suatu hari kamu menikah, maka hendaklah pertama kali yang harus ditegakkan bersama adalah taat kepada Allah.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir VII:209/1-2 dari Salman dan dari Ibnu ‘Abbas).

Salah satunya adalah shalat sunnah dua raka’at di malam pertama pengantin baru

Bagaimanakah hukumnya?

Syaikh Al Albani mengatakan dianjurkan bagi keduanya (suami isteri) agar melaksanakan shalat dua raka’at bersama, karena hal ini pernah dinukil dari salaf. Terdapat dua atsar yaitu:

Pertama, Dari Abu Sa’aid mantan budak Abu Usaid, beliau mengatakan,

Aku menikah dalam keadaan aku masih seorang budak, maka aku mengundang di hari pernikahanku sejumlah para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diantaranya ada Ibnu Mas’ud, Abu Dzar dan Hudzaifah. Abu Sa’id berkata: para sahabat radhiyallahu ‘anhum memberitahukanku dan mereka berkata,

إذا أدخل عليك أهلك فصل عليك ركعتين ، ثم سل الله تعالى من خير ما دخل عليك ، وتعوذ به من شره ، ثم شأنك وشأن أهلك

Jika kamu masuk menemui istrimu maka shalatlah dua raka’at, kemudian mohonlah kepada Allah kebaikan yang dimasukkan kepadamu, berlindunglah kepada Allah dari keburukannya, kemudian setelah itu terserah urusanmu dan istrimu.” (HR. Ibnu Abu Syuaibah dalam Al Mushannaf, 3/401. Dan ‘Abdurrazaq dalam Al-Mushannaf, 6/191. Syaikh Al Albani rahimahullahu berkomentar sanadnya shahih hingga Abu Sa’id dan beliau tertutupi periwayatannya).

Kedua, dari Syaqiq ia menceritakan, ada seorang laki-laki mendatangi ‘Abdullah bin Mas’ud, namanya Abu Jarir, ia mengadukan, ‘Aku menikahi seorang gadis belia yang masih perawan, aku takut pada akhirnya ia akan membenciku.’ Kemudian ‘Abdullah memberi nasehat,

إن الإلف من الله ، والفرك من الشيطان ، يريد أن يكره إليكم ما أحل الله لكم ، فإذا أتتك فمرها أن تصلي وراءك ركعتين

Sesungguhnya keharmonisan itu datangnya dari Allah dan benci itu datangnya dari setan. Setan ingin membuat kalian benci apa yang Allah halalkan bagi kalian. Karena itu, jika istrimu mendatangimu maka perintahkanlah ia agar shalat dua raka’at di belakangmu.” (Adab Az Zifaaf, hal 94-98).

يروى في ذلك بعض الآثار عن بعض الصحابة صلاة ركعتين قبل الدخول ولكن ليس فيها خبر يعتمد عليه من جهة الصحة، فإذا صلى ركعتين كما فعل بعض السلف فلا بأس وإن لم يفعل فلا بأس، والأمر في هذا واسع، ولا أعلم في هذا سنةً صحيحة يعتمد عليها.

Syaikh bin Baz rahimahullahu pun pernah ditanya mengenai perkara ini. Syaikh bin Baz rahimahullahu berpendapat, shalat sunnah dua raka’at sebelum melakukan hubungan badan pernah diriwayatkan oleh sebagian atsar dari sebagian sahabat akan tetapi tidak ada khabar (hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) yang bisa dipertanggung jawabkan keshahihannya. Apabila seseorang melaksanakan shalat dua raka’at sebagaimana yang telah dilakukan oleh sebagian ulama salaf maka tidaklah mengapa, dan tidak melakukannya pun juga tidak mengapa. Perkara ini longgar dan saya tidak mengetahui ada riwayat yang benar. (sumber: http://www.binbaz.org.sa/mat/15590)

Bagaimana Wanita yang Sedang Haid di Malam Pertama Pengantin Baru?

Selama istri sedang haid maka tidak diperbolehkan baginya untuk shalat ataupun berpuasa, dan apabila ia telah suci maka ia wajib mengqodho puasa yang wajib dan tidak wajib mengqodho shalat. Tidaklah mengapa jika suaminya mencumbui istrinya tanpa melakukan hubungan badan (jima’). Karena jima’ tidak boleh dilakukan ketika sedang haid. Akan tetapi ia boleh mencumbui istrinya dari selain kemaluannya dengan syarat ia mampu menahan dirinya dan ia tidak boleh berjima’ ketika sedang haid karena hal itu diharamkan oleh Allah. Jadi kami menasihati anda agar tidak berhubungan badan hingga istri suci dari haidnya.

Tidak diwajibkan suami istri di malam pengantin baru melaksanakan shalat sunnah dua raka’at akan tetapi dianjurkan. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani, Ibnu Abu Syuhaibah dari Ibnu Mas’ud. Jika seorang istri sedang haid, maka disyariatkan bagi suami agar shalat dua raka’at. Dan jika seorang istri dalam keadaan suci maka ia shalat bersama suaminya kemudian sang suami memberikan nasihat kepada istrinya dan berdoa dengan doa yang terkenal,

اَللَّهُمَّ إِنِي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ

Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan yang Engkau berikan kepadanya, dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan yang engkau berikan kepadanya.” (HR. Abu Daud, hasan). (Sumber: http://fatwa.islamweb.net)

Semoga bermanfaat.

Wallahu a’lam

——

Penyusun: Anita Rahmawati

Pemuraja’ah: Ustadz Ammi Nur Baits

Maraji’:

  • Adabuz Zifaaf Fis Sunnati wal Muthahharati (pdf), Syaikh Nashiruddin Al Albani, hal 94-98 penerbit Al-Maktabah Al-Islamiyah.
  • http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=29694
  • http://www.binbaz.org.sa/mat/15590
  • http://www.ajurry.com/vb/showthread.php?t=10112
  • http://islamhouse.com/ar/fatwa/417412/
  • http://islamqa.info/ar/147020

Baca selengkapnya https://muslimah.or.id/7037-shalat-sunnah-dua-rakaat-di-malam-pertama-pengantin-baru.html