Pembuka Pintu Kebaikan – Bagian 2

Pembuka Pintu Kebaikan – Bagian 2

Tidak Cukup Sekedar Angan-Angan

Menjadi sosok pembuka pintu kebaikan dan penutup pintu keburukan memang cita-cita orang beriman, namun untuk bisa meraih cita-cita tersebut, tentulah butuh niat yang ikhlas, tawakal, memohon pertolongan kepada Allah, tekad yang kuat, serta usaha yang sungguh-sungguh. Jangan lupa, bahwa setiap cita-cita yang tinggi itu membutuhkan pengorbanan yang besar.

Di samping itu, menjadi sosok pembuka pintu kebaikan dan penutup pintu keburukan tentunya membutuhkan pemahaman yang benar terhadap kiat-kiat untuk meraihnya.

Oleh karena itulah, dalam serial artikel ini, dijelaskan secara ringkas sebab-sebab untuk bisa menjadi sosok pembuka pintu kebaikan dan penutup pintu keburukan.

Meyakini bahwa Allah adalah Al-Fattāḥ dan Melaksanakan Tuntutan Peribadahan darinya

Termasuk modal terbesar bagi seorang hamba dalam meraih kedudukan pembuka pintu kebaikan dan penutup pintu keburukan adalah keyakinan yang benar bahwa Allah adalah Al-Fattāḥ (Yang Maha Pembuka kebaikan dan Pemberi keputusan hukum). Dialah yang membuka semua pintu-pintu kebaikan bagi hamba-hamba-Nya. Al-Fattāḥ -sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh ‘Abdur Rahmân As-Sa’di raimahullāh- di samping mengandung pengertian al-ukmu, (menghukumi atau memutuskan) sebagaimana firman Allah,

قُلْ يَجْمَعُ بَيْنَنَا رَبُّنَا ثُمَّ يَفْتَحُ بَيْنَنَا بِالْحَقِّ وَهُوَ الْفَتَّاحُ الْعَلِيمُ

“Katakanlah: “Rabb kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar. Dan Dia-lah Maha Pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui” (QS. Saba`:26) juga mengandung makna lainnya, yaitu:

Dialah yang membuka semua pintu kebaikan bagi hamba-hamba-Nya, sebagaimana firman Allah,

مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا

“Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya” (QS. Fathir: 2).

Dia-lah Sang Pembuka pintu-pintu kebaikan dunia dan agama bagi hamba-hamba-Nya, dengan cara membuka hati-hati orang-orang yang dipilih-Nya dengan kelembutan dan perhatian-Nya, dan menghiasi hati mereka dengan tauhid dan keimanan kepada-Nya, yang semua itu akan menyempurnakan agama mereka dan menjadikan mereka istiqamah, tetap tegar di atas jalan yang lurus.

Allah juga membukakan bagi hamba-hamba-Nya pintu-pintu rezeki. Dia menganugerahkan kepada orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya lebih dari apa yang mereka minta dan harapkan, memudahkan bagi mereka mengatasi semua urusan yang sulit.

Keyakinan yang mulia ini akan melahirkan pada diri seorang hamba sikap tawakal hanya kepada Allah semata, mentauhidkan Allah dalam peribadahan, serta berdo’a, memohon pertolongan hanya kepada-Nya, demi tercapainya cita-cita dirinya menjadi pembuka pintu kebaikan dan penutup pintu keburukan.

Dengan menghayati kandungan nama Al-Fattāḥ, seorang hamba akan menyadari bahwa tidak mungkin ia sanggup memahami kebenaran dan memahamkan kebenaran kepada orang lain serta tidak mungkin ia sanggup mengamalkan suatu amal saleh dan mengajak orang lain untuk beramal saleh, kecuali jika Allah membukakan kebaikan tersebut baginya.

Oleh karena itulah, di antara sebab-sebab berikutnya yang akan disebutkan agar seseorang bisa menjadi sosok pembuka pintu kebaikan dan penutup pintu keburukan adalah tawakal dan berdo’a kepada Allah semata, inilah buah dari keyakinan bahwa Allah lah satu-satunya Al-Fattāḥ, Yang Maha Pembuka kebaikan dan Yang Maha Memutuskan hukum.

Referensi:

  1. Prof. DR. Syaikh Abdur Razzaq bin Abdil Muhsin Al-Badr hafizhahullah yang berjudul : “Kaifa takunu miftahan lilkhoir”.
  2. Halaman web: https://almanhaj.or.id/3605-Al-Fattah-Maha-Pembuka-kebaikan-dan-Pemberi-keputusan.html

Bersambung, insyaa Allah,
Penulis: Ustadz Sa’id Abu Ukasyah

Sumber: https://muslim.or.id/

Pembuka Pintu Kebaikan

Pembuka Pintu Kebaikan

Tulisan ini disarikan dari karya Prof. DR. Syaikh ‘Abdur Razzāq bin ‘Abdil Muḥsin Al-Badr yang berjudul Kaifa takūnu miftāḥan lilkhair (Bagaimana menjadi pembuka pintu kebaikan), dengan sedikit penambahan. Semoga Allah menjadikan tulisan ini bermanfaat besar bagi diri penulis, keluarga dan para pembacanya.

Pembuka Pintu Kebaikan dan Penutup Pintu Keburukan

Suatu saat Anas bin Malik raiyallāhu‘anhu meriwayatkan sebuah hadis dari rasulullah allallāhu‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda,

إِنَّ مِنْ النَّاسِ ناسا مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ ، وَ إِنَّ مِنْ النَّاسِ ناسا مَفَاتِيحَ لِلشَّرِّ مَغَالِيقَ لِلْخَيْرِ ، فَطُوبَى لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مفتاحَ الْخَيْرِ عَلَى يَدَيْهِ ، وَوَيْلٌ لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ  مفتاحَ الشَّرِّ عَلَى يَدَيْهِ

Sesungguhnya diantara manusia, ada orang yang menjadi pembuka pintu kebaikan dan penutup pintu keburukan, namun ada juga orang yang menjadi pembuka pintu keburukan dan penutup pintu kebaikan. Maka berbahagialah orang-orang yang Allah jadikan kunci kebaikan ada pada kedua tangannya. Dan celakalah orang-orang yang Allah jadikan kunci keburukan ada pada kedua tangannya” (HR Ibnu Majah, dan selainnya, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah).

Terdapat banyak hadis yang semakna dengan hadis yang agung ini. Hadis-hadis tersebut mendukung kandungannya, dan menguatkan maknanya, diantaranya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam sunannya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah raiyallāhu‘anhu bahwa Nabi allallāhu‘alaihi wa sallam melewati beberapa orang yang sedang duduk-duduk, kemudian beliau bersabda:

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِخَيْرِكُمْ مِنْ شَرِّكُمْ

“Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang orang yang terbaik diantara kalian, yang terbedakan dengan orang yang terburuk diantara kalian?”.

Terdiamlah mereka, lalu Nabi bertanya dengan pertanyaan itu tiga kali, lalu mereka berkata, “Ya, kami mau wahai rasulullah. Beritahukanlah kepada kami tentang orang yang terbaik diantara kami, yang terbedakan dengan orang yang terburuk diantara kami”.

Selanjutnya beliau allallāhu‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ وشركم من لا يرجى خيره ولا يؤمن شره

“Sebaik-sebaik kalian adalah orang yang diharapkan kebaikannya dan (orang lain merasa) aman dari keburukannya. Dan seburuk-buruk kalian adalah orang yang tidak diharapkan kebaikannya dan (orang lain tidak merasa) aman dari keburukannya” (HR. At-Tirmidzi dan selainnya,dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).

Tentulah seorang muslim yang baik, ketika membaca kedua hadis di atas dan hadis-hadis yang semisalnya, sangatlah menginginkan dirinya menjadi pembuka pintu kebaikan dan penutup pintu keburukan. Ia menginginkan dirinya termasuk orang yang mendapatkan kebahagiaan dan kehidupan yang baik.

Dirinyapun tidak suka kalau menjadi pembuka pintu keburukan dan penutup pintu kebaikan, sehingga mendapatkan celaka, kerugian besar, kebinasaan, serta iapun terancam siksa yang keras karenanya.

***

Referensi

  1. Prof. DR. Syaikh Abdur Razzaq bin Abdil Muhsin Al-Badr hafizhahullah yang berjudul : “Kaifa takunu miftahan lilkhoir”.
  2. Halaman web: https://muslim.or.id/8144-apakah-anda-termasuk-sebaik-baik-manusia.html
  3. Halaman web: https://muslim.or.id/14344-jadilah-kunci-kebaikan.html

Penulis: Ustadz Sa’id Abu Ukasyah

Sumber: https://muslim.or.id/

Bimbingan Islam untuk Si Kaya dan Si Miskin – Bagian 3

Bimbingan Islam untuk Si Kaya dan Si Miskin – Bagian 3

Kepada si miskin, Islam membimbing dalam berbagai hal berikut ini:

Pertama: Sabar dan ridha dengan ketetapan Allah Ta’ala

Syaikh Abdurrahman ibn Nashir As Sa’di rahimahullah menjelaskan,

وأما ما صنعه الدين الإسلامي مع الفقراء , فقد أمرهم وكل من لم يدرك محبوباته النفسية أن يصبروا ويرضوا بقضائه وتدبيره

“Adapun solusi bagi si miskin, maka agama Islam memerintahkan mereka yang tidak mempunyai segala kesenangan duniawi, agar bersabar, agar ridha dengan ketetapan yang telah Allah Ta’ala berikan”.

Syaikh Abdurrazzaq ibn Abdil Muhsin Al Badr hafizhahullah dalam penjelasan beliau atas risalah As Sa’di ini mengatakan,

“Islam membimbing si miskin untuk berhias dengan sikap sabar di kala tidak mempunyai kesenangan dunia, di kala menghadapi kemiskinan dan tidak memiliki sesuatu di tangannya. Inilah cobaan dan ujian dunia baginya, maka wajib baginya untuk bersabar. Tidak marah dan mudah mengeluh kecuali mengeluh pada Allah Ta’ala, bukan pada makhluk. Hakikat sabar ialah menahan diri dari rasa menyesal, mengeluh, marah. Maka apabila si miskin menghias diri dengan sifat ini, ia akan memperoleh ganjaran orang-orang yang sabar, dan kondisinya akan sama dengan si kaya yang bersyukur. Karena si kaya yang bersyukur dan si miskin yang bersabar apabila sama-sama bertaqwa pada Allah Ta’ala, maka derajat keduanya akan sama. Sebagaimana dinukil dari Ibnul Qayyim dalam ‘Uddatus Shabirin, perkataan Syaikhul Islam Ibn Taimiyah rahimahullah,

وقد قالت طائفة ثالثة ليس لأحدهما على الاخر فضيلة إلا بالتقوى ، فأيهما أعظم ايمانا وتقوى كان أفضل، فان استويا في ذلك ، استويا في الفضيلة

“Kelompok ketiga berpendapat bahwa tidak ada yang lebih utama salah satu dari keduanya (si kaya yang bersyukur atau si miskin yang bersabar) melainkan mana yang lebih bertaqwa. Maka siapa saja dari mereka yang paling besar iman dan taqwanya itulah yang paling utama. Maka apabila mereka setara dalam hal iman dan taqwa, setara pula keutamaan mereka”.

Kedua: Menyadari berbagai hikmah dan maslahat di balik kemiskinan. Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah menjelaskan,

وأن يعترفوا أن الله حكيم له في ذلك حكم , وفيه مصالح متنوعة فنظرهم هذا يذهب الحزن الذي يقع في القلوب فيحدث العجز والكسل

“Dan hendaklah si miskin menyadari bahwa Allah Al Hakiim Yang Maha Bijaksana dengan segala hikmahNya, dan dalam kondisi miskinnya itu pasti terdapat berbagai macam kemaslahatan. Apabila ia melihat hal ini maka niscaya hilanglah kesedihan dari hatinya”.

Syaikh Abdurrazzaq ibn Abdil Muhsin Al Badr hafizhahullah menjelaskan, “Terkadang dalam kondisi kemiskinan itu lebih baik dan lebih bermanfaat buat si miskin dalam hubungannya kepada Rabbnya. Apabila ia diberi harta yang banyak maka ia akan terfitnah, dan tidak ada yang dapat memperbaikinya kecuali kemiskinan. Maka miskinnya lebih baik baginya daripada kayanya. Itulah diantara rahasia firman Allah Ta’ala,

وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah : 216).

Terkadang si miskin membenci kemiskinan padahal itu baik baginya. Terkadang ia mencintai kekayaan padahal itu buruk baginya. Padahal diantara nikmat Allah Ta’ala adalah Allah jadikan ia dalam kondisi miskin. Karena apabila ada harta dalam genggamannya, ia akan terfitnah dan ia gunakan tidak untuk ketaatan pada Allah, beribadah, dan untuk kebaikan lainnya. Apabila seorang hamba menyadari hal ini, maka akan hilanglah kesedihan dari hatinya”.

Ketiga: Membimbing untuk tidak meminta-minta pada orang lain. Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah menjelaskan,

ثم أمرهم أن لا ينظروا في دفع فقرهم وحاجاتهم إلى المخلوقين , ولا يسألوهم إلا حيث لا مندوحة عن السؤال عند الضرورة إلى ذلك

“Kemudian Islam memerintahkan si miskin untuk tidak mengatasi kemiskinan dan kebutuhan hidupnya dengan meminta-minta pada sesama makhluk, kecuali meminta tolong dalam kebutuhan daruratnya”.

Meminta-minta tidak diperbolehkan dalam Islam kecuali dalam tiga perkara. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إن المسألة لا تحل لأحد إلا لثلاثة : رجل تحمل حمالة فحلت له المسألة حتى يصيبها ثم يمسك، ورجل أصابته جائحة اجتاحت ماله فحلت له المسألة حتى يصيب قواماً من عيش، ورجل أصابته فاقة فقال ثلاثة من ذوي الحجى من قومه لقدأصابت فلاناً فاقة، فحلت له المسألة حتى يصيب قواماً من عيش

Sesungguhnya meminta-minta itu tidak halal kecuali untuk salah satu dari tiga orang :

  1. orang yang menanggung kerugian dalam mendamaikan (dua kabilah yang berperang), maka boleh baginya meminta-minta hingga ia mendapatkan kecukupan untuk membayar semuanya.
  2. seseorang yang bangkrut, maka ia boleh meminta-minta hingga ia mendapatkan sesuatu yang mencukupi hidupnya.
  3. orang yang sangat fakir, dan disaksikan oleh tiga orang yang adil di kaumnya tersebut bahwa ia benar-benar orang fakir, maka ia boleh meminta-minta hingga mendapatkan kecukupan” (HR Muslim).
Keempat: Meminta pertolongan pada Allah, berdoa kepadaNya, ber-ta’awudz (memohon perlindungan) dari kemiskinan dan fitnah yang timbul akibat kemiskinan, memohon pada Allah Ta’ala akan berbagai keutamaanNya, dan bertawassul pada Allah dengan nama-namaNya seperti : Al-Wahhaab, Al-Muhsin, Al-Mannaan, Ar-Razzaaq, dan menggunakan nama-namaNya tersebut dalam doa kepadaNya.

Kelima: Mengerahkan segala kemampuan, bersungguh-sungguh dalam bekerja dan mencari rizki yang halal. Bertahap dalam bekerja dan berusaha, memulai usaha dari awal dengan sabar hingga menuai hasil. Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah menjelaskan,

وأن يطلبوا دفع فقرهم من الله وحده لا شريك له , بما جعله من الأسباب الدافعة للفقر الجالبة للغنى . وهي الأعمال والأسباب المتنوعة , كل واحد يشتغل بالسبب الذي يناسبه , ويليق بحاله , فيستفيد بذلك تحرره من رق المخلوقين وتمرنه على القوة والنشاط , ومحاربة الكسل والفتور

“Hendaknya si miskin mengatasi kemiskinannya dengan memohon pada Allah semata dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu pun. Dengan mengupayakan berbagai sebab untuk mengatasi kemiskinan dan meraih kekayaan dengan bekerja atau kesibukan lain yang sesuai”.

Keenam: Tidak hasad kepada orang-orang kaya. Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah menjelaskan,

ومع ذلك لا يقع في قلوبهم حسد للأغنياء على ما آتاهم الله من فضله

“Mencegah dalam hati timbulnya hasad dan dengki pada orang-orang kaya yang kepada mereka Allah berikan rizki”.

Si miskin hendaknya berhati-hati dari hasad kepada orang-orang kaya, karena harta yang ada di sisi orang kaya adalah karunia dari Allah semata.

وَلا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS. An Nisa : 32)

Ketujuh: Berhati-hati dengan harta yang haram. Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah menjelaskan,

وأمرهم أن ينصحوا في أعمالهم ومعاملاتهم وصناعاتهم , وأن لا يتعجلوا الرزق بالانغماس في المكاسب الدنيئة التي تذهب الدين والدنيا

“Islam memerintahkan untuk menasihati si miskin dalam pekerjaan mereka, muamalah mereka dan usaha mereka, agar tidak tergesa-gesa dalam mencari rizki dengan cara yang hina dan dapat menghilangkan agama dan dunia mereka”.

Kedelapan: Bersikap hemat dan qana’ah. Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah menjelaskan,

وأمرهم بأمرين يعينانهم على مشقة الفقر : الاقتصاد في تدبير المعاش , والاقتناع برزق الله ; فالرزق القليل مع الاقتصاد الحكيم يكون كثيرا , والقناعة كنز لا ينفد وغنى بلا مال

“Islam memerintahkan si miskin dengan dua hal yang dapat menolong mereka dari beratnya kemiskinan : (1) bersikap hemat dalam membelanjakan nafkah (2) memiliki sikap qana’ah (cukup) akan rizki dari Allah, karena rizki yang sedikit dan sikap hemat nan bijak niscaya harta akan menjadi banyak, dan sikap qana’ah adalah gudang yang tiada habisnya, kekayaan walaupun tanpa harta”.

Kesembilan: Senantiasa melihat mereka yang berada di bawah, bukan mereka yang ada di atas.

Syaikh Abdurrazzaq ibn Abdil Muhsin Al Badr hafizhahullah menjelaskan, “Jangan melihat pada mereka yang berada di atasmu (lebih kaya, lebih makmur, lebih sejahtera) karena itu hanya akan membuatmu lupa akan hakikat nikmat yang diberikan Allah berupa : nikmatnya Islam, nikmatnya sehat, nikmatnya masih bisa tinggal di rumah, nikmatnya keamanan, nikmat anak, dan masih banyak lagi. Namun lihatlah mereka yang ada di bawahmu, niscaya engkau akan selalu mengucapkan ‘Alhamdulillah’. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

انظروا إلى من هو أسفل منكم ، ولا تنظروا إلى من هو فوقكم ، فهو أجدر ألا تزدروا نعمة الله عليكم

Lihatlah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau lihat orang yang berada di atasmu. Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu” (HR Muslim).

Kesepuluh: Memperbanyak istighfar memohon ampun kepada Allah. Terakhir, perbanyak memohon ampun kepada Allah. Firman Allah Ta’ala,

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا

Maka aku berkata kepada mereka, ‘Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha Pengampun” (QS. Nuh : 10)

Diantara balasan duniawi yang disiapkan Allah Ta’ala bagi mereka yang beristighfar,

يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا

Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu” (QS. Nuh : 11-12)

Ibn Katsir rahimahullah menjelaskan tafsir ayat tersebut,

إذا تبتم إلى الله واستغفرتموه وأطعتموه ، كثر الرزق عليكم ، وأسقاكم من بركات السماء ، وأنبت لكم من بركات الأرض ، وأنبت لكم الزرع ، وأدر لكم الضرع ، وأمدكم بأموال وبنين ، أي : أعطاكم الأموال والأولاد ، وجعل لكم جنات فيها أنواع الثمار ، وخللها بالأنهار الجارية بينها

“Apabila kalian bertaubat kepada Allah, memohon ampun padaNya dan menaatiNya, maka rizki akan diperbanyak atas kalian, hujan akan tercurah dari langit pada kalian, tumbuh berbagai tanaman dari tanah yang berkah, tumbuh berbagai macam hasil pertanian tumbuh, tanah subur, mendapat anugerah berupa harta dan anak-anak, dan dijadikan bagi kalian kebun-kebun dengan berbagai buah-buahannya, dialiri dengan sungai yang mengalirinya”.

Demikianlah beberapa bimbingan bagi si kaya dan si miskin yang kiranya dapat menghilangkan jurang kesenjangan sosial yang semakin parah akhir-akhir ini. Semoga bermanfaat.

***

Penyusun: Yhouga Mopratama Ariesta

Sumber: https://muslim.or.id/

Bimbingan Islam untuk Si Kaya dan Si Miskin – Bagian 3

Bimbingan Islam untuk Si Kaya dan Si Miskin – Bagian 2

Adapun bagi si kaya, Islam mengatur dan memperhatikan beberapa hal berikut ini.

Pertama: Islam mewajibkan zakat bagi si kaya. Beliau rahimahullah menjelaskan,

ثم أوجب في أموال الأغنياء فرضا الزكاة , بحسب ما جاء في تفاصيلها الشرعية . وجعل مصرفها دفع حاجات المحتاجين , وحصول المصالح الدينية المقيمة لأمور الدنيا والدين

“Kemudian Allah wajibkan si kaya untuk menunaikan zakat dari hartanya, sesuai kadar apa yang telah dirinci oleh syariat. Allah juga telah menjadikan harta zakat tersalurkan kepada yang membutuhkan, maka dengan demikian tercapailah kemaslahatan dalam perkara agama dan juga dunia”.

Allah Ta’ala berfirman,

وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ

Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian” (QS. Adz Dzariyat : 19).

Kedua: anjuran bagi si kaya untuk berbuat ihsan di tiap situasi dan kondisi.

Ketiga: wajibnya mencegah bahaya, memberi makan yang kelaparan, memberi pakaian orang yang telanjang. Beliau rahimahullah menjelaskan,

وحث على الإحسان في كل وقت وفي كل مناسبة , وأوجب دفع ضرورة المضطرين , وإطعام الجائعين , وكسوة العارين , ودفع الضرورات عن المضطرين

“Kemudian Allah menganjurkan si kaya untuk berbuat ihsan di segala situasi dan kondisi. Juga wajib baginya untuk mencegah berbagai bahaya dengan memberi makan orang yang lapar, memberi pakaian bagi orang yang telanjang, dan bahaya lainnya.”

Keempat: Wajibnya memberi nafkah khususnya kepada istri dan anak.

وكذلك أوجب النفقات الخاصة للأهل والأولاد , وما يتصل بهم

“Begitu pula wajib untuk memberi nafkah khususnya bagi istri dan anak-anak, dan wajib pula melakukan segala hal demi tercapainya nafkah tersebut (bisa melalui bisnis, bekerja, menjual jasa, dan sebagainya)”.

Allah Ta’ala berfirman,

لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ

Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya” (QS. At Thalaq : 7).

Kelima: hendaknya si kaya menyadari hakikat hartanya.

Seorang yang telah dikaruniai oleh Allah Ta’ala kelebihan rizki berupa harta, tidak selayaknya menyandarkan sepenuhnya pada hasil kecerdasannya, kerja kerasnya, atau bahkan mengira bahwa semua hartanya adalah warisan turun temurun dari nenek moyangnya. Beliau rahimahullah menjelaskan,

وأمرهم مع ذلك أن لا يتكلوا في كسب الدنيا على حولهم وقوتهم , ولا ينظروا نظر استقرار وطمأنينة إلى ما عندهم . بل يكون نظرهم على الدوام إلى الله وإلى فضله , وتيسيره والاستعانة به . وأن يشكروه على ما تفضل به عليهم وميزهم به من الغنى والثروة

“Allah juga memerintahkan si kaya untuk tidak menyandarkan apa yang telah ia peroleh dari hasil usahanya di dunia dan kekuatannya semata, juga hendaknya tidak memandang harta di dunia dengan penuh ketenangan. Bahkan hendaklah si kaya selalu menyandarkan hasil usahanya pada Allah Ta’ala beserta seluruh keutamaannya, kemudahan dariNya, dan pertolonganNya semata. Hendaklah ia bersyukur atas keutamaan yang Allah Ta’ala berikan berupa kecukupan dan bahkan kelebihan harta”.

Allah Ta’ala berfirman,

يَعْرِفُونَ نِعْمَتَ اللَّهِ ثُمَّ يُنْكِرُونَهَا وَأَكْثَرُهُمُ الْكَافِرُونَ

Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir” (QS. An Nahl : 83).

Keenam: wajib untuk tidak melanggar batasan-batasan syariat dalam menggunakan harta dan tidak bersikap boros.

وأوجب عليهم أن يقفوا عند الحدود , فلا ينغمسوا في الترف والإسراف انغماسا يضر بأخلاقهم وأموالهم وجميع أحوالهم

“Allah mewajibkan bagi si kaya untuk berhenti pada batasan-batasan yang telah ditetapkan oleh syariat. Maka janganlah tenggelam dalam kekayaan dan bersikap boros yang dapat membahayakan akhlaq, harta, dan segala kondisi mereka”.

Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا

Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian” (QS. Al Furqaan : 67).

Ketujuh: wajibnya memperhatikan batasan syariat dalam memperoleh harta. Beliau mengatakan,

وأمرهم مع ذلك أن يكون طلبهم للغنى والدنيا طلبا شريفا نزيها , فلا يتلوثون بالمكاسب الخبيثة التي هي ما بين ربا أو قمار أو غرر أو غش أو خداع , بل يتقيدون بقيود الشرع العادلة في معاملاتهم , كما تقيدوا بذلك في عباداتهم

“Allah juga memerintahkan si kaya untuk mencari kecukupan harta di dunia dengan cara yang mulia dan bersih. Maka janganlah mengotori usaha melalui pekerjaan yang kotor yang bercampur riba, judi, pertaruhan, penipuan, pemalsuan, dan selainnya. Bahkan wajib untuk mengikatkan diri pada batasan syari’at yang penuh dengan nilai keadilan dalam muamalat, sebagaimana mereka mengikatkan diri dengannya dalam peribadatan mereka”

Kedelapan: Hendaknya senantiasa menyayangi si miskin. Beliau mengatakan,

وأمرهم أن ينظروا إلى الفقراء نظر الرحمة والإحسان , لا نظر القسوة والغلظة والأثرة والبطر والأشر والكبر

“Allah Ta’ala memerintahkan si kaya untuk selalu melihat fakir miskin dengan pandangan kasih sayang dan ihsan, tidak dengan pandangan yang keras, berat, egois, arogan, angkuh dan sombong”.

(bersambung)

***

Penyusun: Yhouga Mopratama Ariesta

Sumber: https://muslim.or.id/

Do’amu, Obsesimu

Do’amu, Obsesimu

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Sesungguhnya obsesi mausia tergambar dari do’anya. Untuk mengetahui apa obsesi seseorang, anda bisa perhatikan do’anya. Dalam al-Qur’an, Allah memuji sekelompok hamba-Nya karena doanya. Di dalam al-Qur’an pula, Allah mencela sebagian hamba-Nya karena do’anya.

Allah mencela manusia yang obesesinya hanya dunia,

فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ

Di antara manusia ada orang yang berdo’a: “Ya Tuhan Kami, berilah Kami (kebaikan) di dunia”, dan Tiada bagian (yang menyenangkan) baginya di akhirat” (QS. al-Baqarah: 200).

Allah juga mencela harapan orang yahudi yang rakus dunia,

وَلَتَجِدَنَّهُمْ أَحْرَصَ النَّاسِ عَلَى حَيَاةٍ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ أَلْفَ سَنَةٍ وَمَا هُوَ بِمُزَحْزِحِهِ مِنَ الْعَذَابِ أَنْ يُعَمَّرَ

Sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling rakus kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih rakus lagi) dari orang-orang musyrik. masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, Padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa” (QS. Al-Baqarah: 96).

Allah juga mencela para pengingkar nabi yang berharap akan diturunkan Malaikat kepada mereka, atau bisa melihat Tuhannya.

وَقَالَ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا لَوْلَا أُنْزِلَ عَلَيْنَا الْمَلَائِكَةُ أَوْ نَرَى رَبَّنَا لَقَدِ اسْتَكْبَرُوا فِي أَنْفُسِهِمْ وَعَتَوْا عُتُوًّا كَبِيرًا

Orang-orang yang tidak menanti-nanti pertemuan(nya) dengan Kami itu mengatakan, “Mengapakah tidak diturunkan kepada kita Malaikat atau (mengapa) kita (tidak) melihat Tuhan kita?” Sesungguhnya mereka memandang besar tentang diri mereka dan mereka benar-benar telah melampaui batas(dalam melakukan) kezaliman”” (QS. al-Furqan: 21).

Sebaliknya, Allah memuji beberapa hamba-Nya karena keindahan doanya. Karena doanya menunjukkan betapa indahnya obsesi dan cita-citanya. Allah memuji pasukan Thalut yang berdoa agar diberi kesabaran ketika perang,

وَلَمَّا بَرَزُوا لِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ قَالُوا رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Tatkala Jalut dan tentaranya telah nampak oleh mereka, merekapun (Thalut dan tentaranya) berdoa: “Ya Tuhan Kami, tuangkanlah kesabaran atas diri Kami, dan kokohkanlah pendirian Kami dan tolonglah Kami terhadap orang-orang kafir” (QS. Al-Baqarah: 250).

Allah memuji do’anya ulama yang memohon agar diberi hidayah dan kekuatan memegang ilmu agama,

وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

Orang-orang yang kokoh ilmunya mengatakan, “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. “Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau jadikan hati Kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada Kami, dan karuniakanlah kepada Kami rahmat dari sisi Engkau; karena Sesungguhnya Engkau-lah Maha pemberi (karunia)”” (QS. Ali Imran: 7 – 8).

Allah memuji doa ibadurrahman, yang berharap bisa menjadi pemimpin dalam masalah agama,

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

(diantara ciri ibadurrahman adalah) orang orang yang berdoa, “Ya Tuhan Kami, anugrahkanlah kepada Kami isteri-isteri Kami dan keturunan Kami sebagai penyenang hati (Kami), dan Jadikanlah Kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. al-Furqon: 74).

Perhatikanlah doamu, karena itu obsesimu.

Penulis: Ustadz Ammi Nur Baits, ST., BA.

Sumber: https://muslimah.or.id/

Memaknai Silaturahim

Memaknai Silaturahim

Makna Silaturahim

Silaturahim (صلة الرحم) terdiri dari dua kata: shilah (صلة) dan ar rahim (الرحم). Shilah artinya menyambung. Dalam Mu’jam Lughatil Fuqaha disebutkan:

وهو مصدر وصل الشيء بالشيء: ضمّه إليه وجمعه معه

shilah adalah isim mashdar. washala asy syai’u bisy syai’i artinya: menggabungkan ini dengan itu dan mengumpulkannya bersama” (dinukil dari Shilatul Arham, 5).

Sedangkan ar rahim yang dimaksud di sini adalah rahim wanita, yang merupakan konotasi untuk menyebutkan karib-kerabat. Ar Raghib Al Asfahani mengatakan:

الرحم رحم المرأة أي بيت منبت ولدها ووعاؤه ومنه استعير الرحم للقرابة لكونهم خارجين من رحم واحدة

“ar rahim yang dimaksud adalah rahim wanita, yaitu tempat dimana janin berkembang dan terlindungi (dalam perut wanita). Dan istilah ar rahim digunakan untuk menyebutkan karib-kerabat, karena mereka berasal dari satu rahim” (dinukil dari Ruhul Ma’ani, 9/142).

Dengan demikian yang dimaksud dengan silaturahim adalah menyambung hubungan dengan para karib-kerabat. An Nawawi rahimahullah menjelaskan:

وَأَمَّا صِلَةُ الرَّحِمِ فَهِيَ الْإِحْسَانُ إِلَى الْأَقَارِبِ عَلَى حَسَبِ حَالِ الْوَاصِلِ وَالْمَوْصُولِ فَتَارَةً تَكُونُ بِالْمَالِ وَتَارَةً بِالْخِدْمَةِ وَتَارَةً بِالزِّيَارَةِ وَالسَّلَامِ وَغَيْرِ ذَلِكَ

“adapun silaturahim, ia adalah berbuat baik kepada karib-kerabat sesuai dengan keadaan orang yang hendak menghubungkan dan keadaan orang yang hendak dihubungkan. Terkadang berupa kebaikan dalam hal harta, terkadang dengan memberi bantuan tenaga, terkadang dengan mengunjunginya, dengan memberi salam, dan cara lainnya” (Syarh Shahih Muslim, 2/201).

Ibnu Atsir menjelaskan:

تكرر في الحديث ذكر صلة الرحم: وهي كناية عن الإحسان إلى الأقربين من ذوي النسب، والأصهار، والتعطف عليهم، والرفق بهم، والرعاية لأحوالهم، وكذلك إن بَعُدُوا أو أساءوا, وقطعُ الرحم ضِدُّ ذلك كله

“Banyak hadits yang menyebutkan tentang silaturahim. Silaturahim adalah istilah untuk perbuatan baik kepada karib-kerabat yang memiliki hubungan nasab, atau kerabat karena hubungan pernikahan, serta berlemah-lembut, kasih sayang kepada mereka, memperhatikan keadaan mereka. Demikian juga andai mereka menjauhkan diri atau suka mengganggu. Dan memutus silaturahim adalah kebalikan dari hal itu semua” (An Nihayah fi Gharibil Hadits, 5/191-192, dinukil dari Shilatul Arham, 5).

Dengan demikian, perbuatan baik dan menyambung hubungan terhadap orang yang tidak memiliki hubungan kekerabatan dan nasab tidaklah termasuk silaturahim, dan tidak termasuk dalam ayat-ayat dan hadits-hadits mengenai perintah serta keutamaan silaturahim.

Salah kaprah memaknai silaturahim

Sebagian orang salah paham dalam memaknai silaturahim, dengan menganggap semua perbuatan menyambung hubungan dengan orang lain sebagai silaturahim. Jelas ini tidak tepat secara bahasa ataupun secara istilah syar’i. Dari kesalahan-pahaman ini muncul berbagai macam kesalahan lain yang sangat patut untuk kita koreksi. Diantaranya:

1. Menggunakan dalil-dalil tentang silaturahim pada perbuatan yang bukan silaturahim

Misalnya menggunakan dalil-dalil tentang silaturahim untuk mengajak orang mendatangi acara reuni sekolah, acara kumpul-kumpul rekan kerja, dan semisalnya. Lalu meyakini bahwa acara-acara ini memiliki keutamaan memanjangkan usia, meluaskan rezeki, menjadi sebab masuk surga, yang merupakan keutamaan-keutamaan silaturahim. Tentu ini tidak tepat.

2. Menggunakan dalih silaturahim untuk perbuatan yang dilarang agama

Misalnya menggunakan dalih silaturahmi untuk mengajak orang mendatangi acara karokean, merayakan ulang tahun seseorang, acara kumpul-kumpul bersama teman yang campur-baur antara lelaki dan wanita, dan sebagainya. Sehingga perbuatan-perbuatan yang dilarang agama tersebut disamarkan dengan nama silaturahmi yang merupakan kebaikan.

3. Menggunakan dalih silaturahim sehingga enggan meninggalkan keburukan

Misalnya enggan meninggalkan teman-teman yang buruk yang sering mengajak kepada maksiat dan hal-hal tidak bermanfaat dengan dalil tidak mau memutus tali silaturahim. Enggan berhenti berpacaran dengan dalil bahwa “putus” dengan pacar itu berarti memutus tali silaturahim. Enggan menolak ajakan teman untuk nongkrong tanpa manfaat dan berfoya-foya karena dalih takut memutus tali silaturahim.

Semua ini adalah kesalah-pahaman dalam memaknai dan mempraktekkan silaturahmi. Mereka mengira sedang ber-silaturahmi padahal bukan. Sehingga tidak berlaku perintah dan keutamaan-keutamaan silaturahim di dalamnya.

Selain itu, tidak dibenarkan mencampur-adukkan dan menyamarkan hal-hal yang batil dalih bahwa itu adalah perbuatan baik. Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ

dan janganlah kalian mencampur-adukkan kebenaran dengan kebatilan…” (QS. Al Baqarah: 42).

Silaturahim dalam bahasa Indonesia

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, silaturahim atau silaturahmi dimaknai:

silaturahmi/si·la·tu·rah·mi/ n tali persahabatan (persaudaraan)

Maka dari sini kita ketahui terdapat perbedaan makna antara silaturahim dalam bahasa Arab atau dalam istilah syariat dengan silaturahmi dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Indonesia, silaturahim dimaknai lebih luas kepada semua orang, tidak hanya kepada orang yang memiliki hubungan kekebaratan saja.

Tentu saja tidak terlarang menggunakan kata silaturahim dalam konteks makna silaturahim dalam bahasa Indonesia, yaitu bermakna: persahabatan dan persaudaraan. Namun hendaknya tidak mengaitkannya dengan perintah dan keutamaan silaturahim dalam istilah syariat. Karena keduanya adalah hal yang berbeda.

Wallahu ta’ala a’lam.

***

Referensi utama: Shilatul Arham, Syaikh Dr. Sa’id bin Wahf Al Qahthani
Penulis: Yulian Purnama

Sumber: https://muslim.or.id/28640-salah-kaprah-memaknai-silaturahim.html