Kalau Anak Saya Berhijab Syar’i, Bagaimana Dia Akan Dapat Jodoh?

Kalau Anak Saya Berhijab Syar’i, Bagaimana Dia Akan Dapat Jodoh?

Tidak bisa dipungkiri, banyak orang tua yang punya kekhawatiran seperti ini. Memang secara kasat mata, hal tersebut tampak wajar, karena begitu rusaknya lingkungan masyarakat sekarang ini.

Kalau dahulu, muda-mudi malu bila ketahuan berpacaran. Sekarang keadaan menjadi terbalik, muda-mudi akan malu bila tidak punya pacar. Semoga Allah memperbaiki keadaan ini, dan melindungi keluarga kita dari perbuatan zina, amin.

Namun, bila kita lihat masalah ini dari kaca mata iman, maka sungguh tidak ada alasan bagi orang tua untuk khawatir, mari perhatikan beberapa poin berikut ini:

  1. Bahwa mendapatkan suami, merupakah bagian dari takdir Allah, dan Allah sudah menentukan takdir itu sebelum anak Anda dilahirkan. Sehingga apapun yang terjadi, memakai jilbab syar’i atau tidak, semuanya akan berjalan sebagaimana tulisan takdir Allah.
  2. Ingatlah, bahwa sebuah barang akan laris sesuai minat pembelinya. Anak yang baik dan taat berhijab, akan diminati oleh orang yang agamanya baik. Sebaliknya anak yang mengumbar aurat dan tidak peduli agama, dia akan diminati oleh pemuda yang buruk agamanya. Maka sebagai orang tua, anda bisa memilih manakah pangsa pasar yang Anda inginkan untuk putri kesayangan Anda.
  3. Pacaran adalah musibah yang sangat besar bagi muda mudi, yang paling kasihan adalah wanita. Seringkali kehormatan wanita dalam pacaran tidak dihargai sama sekali, bahkan seringkali pelacur lebih dihargai daripada wanita yang dipacari. Apalagi jika terjadi kehamilan, justru wanita dan keluarganya akan menanggung biaya yang besar, sekaligus rasa malu seumur hidupnya.
  4. Syariat Islam telah memberikan banyak solusi untuk mencarikan suami bagi putri kita, diantaranya:
    1. Orang tua yang mencarikan suami untuk putrinya. Sebagaimana Allah kisahkan dalam Al Quran, ketika calon mertua Nabi Musa menawarkan putrinya untuk dia pinang. Dan hal ini juga bisa dilakukan oleh saudaranya, atau teman wanitanya, atau orang lain yang bisa membantu dia mencarikan calon suami yang baik.
    2. Ketika seorang putri tertarik kepada seorang pemuda, maka tidak mengapa dia meminta kepada ayahnya untnk menawarkan dirinya kepada pemuda tersebut. Ini juga yang disebutkan oleh Allah dalam kisah Nabi Musa. Ternyata calon isterinyalah yang meminta ayahnya agar menawari Nabi Musa untuk mau meminangnya dengan syarat yang diajukan.
    3. Dibolehkan juga bagi seorang wanita utk menawarkan dirinya sendiri kepada seseorang yang dia inginkan, tentunya dengan syarat hal itu tidak menimbulkan fitnah dan keburukan.

Hal ini sebagaimana dilakukan oleh seorang sahabat wanita yang menawarkan dirinya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan beliau tidak mengingkari tindakannya tersebut. Ini menunjukkan bahwa hal itu boleh dilakukan.

Intinya, jilbab yang syar’i bukanlah penghalang bagi putri Anda mendapatkan suami. Bahkan sebaliknya, jilbab itulah yang menjadikan putri Anda pantas mendapatkan suami yang baik agamanya. Suami yang bisa menuntunnya menuju surga dan selalu berdoa untuk kebaikan Anda sebagai mertuanya.

Perlu juga diingat, bahwa seorang ortu haruslah sadar, bahwa termasuk diantara hak putrinya adalah dicarikan suami yang saleh, maka tunaikanlah hak ini, dan berusahalah sebaik mungkin utk putri Anda, karena dialah nantinya yang akan meneruskan tongkat estafet perjuangan Anda. Wallahu a’lam.

 

Penulis: Ustadz Musyaffa Ad Darini, Lc., MA.

Sumber: https://muslimah.or.id
.
Dilema Tahdzir Serampangan Merusak Dakwah Islam

Dilema Tahdzir Serampangan Merusak Dakwah Islam

Di dalam menjalankan kewajiban berdakwah menuju kepada jalan Allah Ta’ala, para ulama’ pasti akan senantiasa menghadapi berbagai tantangan dan aral  yang melintang. Dan diantara tantangan yang sering menghadang setiap derap langkah para dai kebenaran ialah adanya lawan dari sesama mereka, yaitu para pelaku kesesatan dan kebatilan. Dan karena hal ini adalah hal yang telah masyhur dan dirasakan oleh setiap dai yang menyerukan kebanaran, maka saya tidak merasa perlu untuk membuktikannya. Akan tetapi yang saya anggap perlu ialah mengingatkan diri saya dan kawan-kawan saya tentang hikmah dan manfaat adanya pertentangan ini. Sebab segala hal yang ada dan terjadi di dunia ini adalah bagian dari ciptaan Allah Ta’ala dan berjalan selaras dengan kehendak-Nya. Dengan demikian tidak mungkin semua itu terjadi dengan sia-sia, tanpa ada manfaat dan hikmahnya.

]وما خلقنا السماء والأرض وما بينهما لاعبين[ النبياء 16

“Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada diantara keduanya dengan bermain-main.” (Al Anbiya’ 16)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Ia menciptakan langit dan bumi dengan kebenaran, maksudnya dengan keadilan, agar Ia mengganjar orang yang berlaku buruk setimpal dengan apa yang mereka amalkan, dan membalas orang yang berlaku baik dengan balasan kebaikan pula. Sebagaimana Allah mengabarkan bahwa Ia tidaklah menciptakan semua itu dengan sia-sia dan juga tidak karena main-main.”([1])

Dan dalam ayat lain Allah berfirman:

]وما خلقنا السماء والأرض وما بينهما باطلا ذلك ظن الذين كفروا فويل للذين كفروا من النار[ ص 27

“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah (sia-sia). Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk ke dalam neraka.” (Shaad 27) Sehingga tidaklah layak bagi seorang mukmin apalagi seorang dai untuk berkecil hati bila pada suatu saat menghadapi tantangan atau hambatan dalam menjalankan dan memperjuangkan kebenaran. Dan hendaknya adanya tantangan tersebut semakin menambah keimanan dan keyakinan kita kepada apa yang kita yakini dan perjuangkan, karena ini merupakan bukti bahwa Allah Ta’ala telah merahmati kita, sehingga kita dapat memilih jalan kebenaran dan terhindar dari kesesatan..

] ولو شاء ربك لجعل الناس أمة واحدة ولا يزالون مختلفين إلا من رحم ربك ولذلك خلقهم وتمت كلمة ربك لأملأن جهنم من الجنة والناس أجمعين[ هود 118-119

“Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia ummat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat (keputusan) Tuhanmu telah ditetapkan: sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahnnam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.” (Hud 118-119). Adanya kekufuran dan keimanan di kehidupan dunia ini adalah salah satu bagian dari sunnatullah, sehingga dengan demikian akan terbukti bagi umat manusia bahwa Allah Ta’ala Maha Pengasih lagi Penyayang dan diwaktu yang sama Allah Maha pedih siksa-Nya.

Perseteruan antara kebenaran beserta pemeluknya melawan kebatilan beserta seluruh antek-anteknya bukanlah hal yang baru, akan tetapi merupakan sunnatullah yang telah dimulai semenjak manusia pertama yaitu Nabi Adam ‘alaihis salaam dan istrinya Hawa melawan nenek moyang pemuja kebatilan, yaitu Iblis la’natullah ‘alaihi :

]وقلنا اهبطوا بعضكم لبعض عدو[ البقرة 36.

“Turunlah kamu, sebahagian kamu menjadi musuh bagi yang lain”. (Al Baqarah 36). Sebagaimana Allah Ta’ala juga telah memperingatkan umat manusia agar senantiasa waspada dari tipu daya iblis dan pengikutnya:

] يا بني آدم لا يفتننكم الشيطان كما أخرج أبويكم من الجنة ينـزع عنهما لباسهما ليريهما سوءاتهما إنه يراكم هو وقبيله من حيث لا ترونهم إنا جعلنا الشياطين أولياء للذين لا يؤمنون[ الأعراف 27

“Wahai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat tertipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-peminpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” (Al A’araf 27).

Diantara metode yang diajarkan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya kepada kaum mukminin dalam menghadapi kesesatan dan para pelakunya ialah metode tahzir, yaitu menyebutkan kesalahan dan kesesatan mereka agar masyarakat menyadari akan kesalahan dan jati diri mereka, sehingga mereka tidak terpengaruh dan terpedaya oleh berbagai propaganda dan manisnya perkataan mereka.

Untuk sedikit memberikan penjelasan kepada para pembaca tentang metode ini, saya akan sedikit sebutkan tentang beberapa dalil dan keterangan ulama’ Ahlis sunnah seputar permasalahan ini.([2])

Dalil-dalil disyari’atkannya tahzir:

Dalil Global:

Dengan kita merujuk berbagai dalil, baik dari Al Qur’an atau As Sunnah dan juga keterangan ulama’ Ahlis Sunnah, kita dapatkan bahwa upaya melindungi agama masyarakat dengan cara menyebutkan kesalahan pelaku bid’ah atau kemungkaran yang dirasa akan mempengaruhi mereka adalah suatu hal yang dibolehkan, dan bahkan tindakan ini termasuk salah satu bentuk pengingkaran terhadap kemungkaran, yaitu pengingkaran dengan lisan.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Bila seseorang menampakkan perbuatan dosa, seperti tindak kelaliman, perbuatan keji, dan berbagai amalan bid’ah yang jelas-jelas menyelisihi As Sunah, bila ia berani menampakkan kemungkarannya, maka wajib untuk mengingkarinya sekuat kemampuan kita, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

(من رأى منكم منكرا فليغيره بيده فإن لم يستطع فبلسانه فإن لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف الإيمان)

“Barangsiapa diantara kalian melihat kemungkaran, maka hendaknya ia merubahnya dengan tangannya (kekuatannya), jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya, dan jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman.”, riwayat Muslim.“([3])

Dalil Khusus :

Banyak sekali dalil-dalil, baik dari Al Qur’an atau As Sunnah yang menjelaskan akan bolehnya menyebutkan kesalahan seseorang yang dirasa akan mempengaruhi orang lain atau masyarakat luas. Diantara dalil-dalil tersebut ialah hadits-hadits berikut:

عن عائشة رضي الله عنها أنها قالت: استأذن رجل على رسول الله صلى الله عليه والسلام فقال: (ائذنوا له بئس أخو العشيرة أو ابن العشيرة، فلما دخل ألان له الكلام). قلت: يا رسول الله قلت الذي قلت، ثم ألنت له الكلام؟ قال: (أي عائشة، إن شر الناس من تركه الناس –أو ودعه الناس- اتقاء فحشه) متفق عليه

“Dari sahabat ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, ia menuturkan: Ada seorang lelaki yang memohon izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliaupun bersabda: “Izinkanlah untuknya, ia adalah seburuk-buruk kerabat ialah dia, maka ketika ia telah masuk, beliau (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) bermanis kata kepadanya.” Akupun bertanya: Wahai Rasulullah, engkau telah mengatakan perkataanmu tadi, kemudian engkau bermanis kata kepadanya? Beliau menjawab: “Wahai ‘Aisyah sesungguhnya manusia paling buruk ialah orang yang dijauhi oleh orang lain karena mereka menghindari kata-katanya yang keji.” (Muttafaqun ‘alaih)

Al Qurthuby mengomentari hadits ini dengan berkata:

في الحديث جواز غيبة المعلن بالفسق أو الفحش ونحو ذلك من الجور في الحكم والدعاء إلى البدعة، مع جواز مداراتهم اتقاء شرهم ما لم يؤد ذلك إلى المداهنة في دين الله تعالى….. والفرق بين المدارة والمداهنة: أن المداراة بذل الدنيا لصلاح الدنيا أو الدين أو هما معا، وهي مباحة وربما استحبت، والمداهنة: ترك الدين لصلاح الدنيا. والنبي صلى الله عليه والسلام إنما بذل له من دنياه حسن عشرته والرفق في مكالمته ومع ذلك فلم يمدحه بقول فلم يناقض قوله فيه فعله.

“Pada hadits ini terdapat petunjuk bolehnya mengghibahi (menyebutkan kesalahan) orang yang menampakkan kefasikan atau perbuatan keji dan yang serupa dengannya berupa tindak kelaliman ketika memutuskan sesuatu, menyeru kepada perbuatan bid’ah. Sebagaimana ada petunjuk bolehnya bersikap mudaraah (mengambil simpati/sikap bijak) kepada mereka, guna menghindari kejahatannya, selama sikap bijak  tersebut tidak sampai menjerumuskan kita kepada sikap mudahanah (menjilat) dalam urusan agama Allah Ta’ala. Dan perbedaan antara sikap bijak dan menjilat ialah sikap bijak adalah mengorbankan sebagian kepentingan duniawi demi menjaga kemaslahatan duniawi lainnya atau kemaslahatan agama atau kedua-duanya, dan sikap ini adalah sikap yang dibolehkan, bahkan kadang kala dianjurkan. Sedangkan sikap menjilat adalah mengorbankan urusan agama demi mencapai kepentingan duniawi. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kisah ini hanya mengorbankan dari kepentingan duniawinya untuk orang tersebut berupa sambutan baik dan berlemah lembut ketika berbicara dengannya. Walaupun demikian beliau sama sekali tidak pernah memujinya dengan suatu ucapan apapun, sehingga tidak ada pertentangan antara ucapan beliau pertama dengan sikapnya.”([4])

Diantara dalil yang menunjukkan akan bolehnya menyebutkan kesalahan ahlil bid’ah atau pelaku kemaksiatan demi menjaga kemurnian agama masyarakat ialah kisah sahabat Fathimah binti Qaish ketika meminta nasehat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang siapakah orang yang paling layak menjadi suaminya? Yaitu ketika datang kepadanya (Fathimah binti Qaish) dua orang sahabat yang sama-sama melamarnya, mereka itu adalah: sahabat Mu’awiyyah bin Abi Sufyan dan Abu Jahem bin Huzaifah semoga Allah senantiasa meridhai keduanya. Menjawab pertanyaan sahabat Fathimah ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(أما أبو جهم فلا يضع عصاه عن عاتقه وأما معاوية فصعلوك لا مال له. انكحي أسامة بن زيد). رواه مسلم

“Adapun Abu Jahem maka ia tidak pernah menurunkan tongkatnya dari bahunya (suka memukul istrinya), dan adapun Mu’awiyyah maka ia adalah orang yang miskin tidak memiliki harta. Menikahlah dengan Usamah bin Zaid.” (Muslim)

Bila dalam hadits ini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan kekurangan sahabat Abu Jahem dan Mu’awiyyah kepada wanita yang mereka lamar, padahal kekurangan tersebut bukan berupa kemaksiatan atau perbuatan bid’ah yang pernah mereka lakukan. Maka ini merupakan dalil nyata dan amat kuat bagi dibolehkannya menyebutkan kesalahan pelamar yang berupa perbuatan kemaksiatan atau bid’ah.

Dan bila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan kekurangan keduanya demi kepentingan seorang wanita, maka ini merupakan dalil nyata nan kuat bagi dibolehkannya menyebutkan kemaksiatan atau bid’ah seseorang yang dirasa mengancam kemurnian agama masyarakat luas, sampai-sampai Syeikhul Islam Ibnu taimiyyah menyebutkan bahwa menjelaskan kesesatan ahlul bid’ah dan para penganut paham yang menyelisihi Al Qur’an dan As Sunnah adalah wajib hukumnya, dan ulama’ islam telah menyepakati akan kewajibannya.([5])

Imam An Nawawi rahmimahullah berkata: “Ketahuilah bahwa perbuatan ghibah dibolehkan bila ada tujuan yang dibenarkan secara syari’at dan tidak mungkin untuk dicapai melainkan dengan cara ghibah, tujuan yang dibenarkan itu ada enam hal:…..sebab kelima: bila ia menampakkan dengan terang-terangan kefasikan atau bid’ahnya, misalnya orang yang minum khamer dihapan umum, merampas harta orang, memungut pajak, menarik pungutan terhadap harta orang lain dengan cara lalim, melakukan berbagai kebathilan, maka dibolehkan untuk disebutkan perbuatan yang ia lakukan dengan terang-terang tersebut, dan tidak boleh untuk disebutkan aibnya yang lain, kecuali bila ada sebab lain yang membolehkan untuk disebutkan selain yang telah kami jelaskan.”([6])

Ini adalah sekelumit dalil dan keterangan ulama’ salaf tentang disyari’atkannya tahzir ahlil bid’ah. Dan sekali lagi, bagi yang ingin mendapatkan keterangan lebih luas dan jelas, silahkan membaca kedua kitab yang saya sebutkan di atas.

Dan saya yakin bahwa kebanyakan ikhwah slafiyyin atau yang pernah mengikuti pengajian-pengajian mereka sering dan sudah cukup banyak mendengarkan penjelasan para ustadz tentang hal ini. Oleh karena itu saya rasa, sudah tidak perlu untuk dijabarkan dengan panjang lebar. Akan tetapi yang saya rasa masih amat perlu untuk didudukkan dan dijelaskan kepada masyarakat, ialah permasalahan syarat dan ketentuan-ketentuan yang harus diindahkan dalam menjalankan syari’at ini (mentahzir pelaku kesalahan atau bid’ah). Sebab tidak setiap pelaku kesalahan harus di tahzir dan tidak setiap pelaku bid’ah harus ditahzir. Dengan kata lain:  tahzir bukanlah sebuah harga mati atau tujuan, akan tetapi lebih tepat sebagai salah satu sarana ingkarul mungkar, dan upaya prefentif dalam menjaga kemurnian agama masyarakat.

Syarat-syarat disyari’atkannya tahzir:

Sebagaimana telah diketahui dari penjelasan di atas bahwa tahzir adalah salah satu bentuk ingkarul mungkar yang diajarkan dalam syari’at islam, maka sudah barang tentu berbagai persyaratan yang telah dijelaskan oleh ulama’ dalam menjalankan ingkarul mungkar,  juga berlaku dalam menjalankan tahzir. Persyaratan tersebut ialah:

  1. Ikhlas.

Maksudnya, ketika seorang dai hendak menyebutkan kesalahan atau kemaksiatan seseorang, -baik ahli bid’ah atau lainnya yang dirasa akan mengancam kemurnian agama masyarakat- ia benar-benar sadar bahwa maksud dan tujuannya ialah menjalankan kewajiban nasehat kepada umat islam secara umum, agar mereka dapat terhindar dari kesalahan dan bid’ah orang tersebut, serta tidak terperdaya oleh berbagai propaganda pelakunya. Sebagaimana ia juga harus menyingkir jauh-jauh dari niatnya berbagai tujuan lain, baik kepentingan pribadi, dendam, kecemburuan sosial, ikut-ikutan, bumbu ngobrol dll. Karena sesunggunya tujuan-tujuan lain ini tidak dapat menjadikan harga diri pelaku kesalahan atau bid’ah halal untuk dibicarakan atau ditahzir, karena tujuan-tujuan ini tak lain hanyalah kepentingan pribadi, sehingga tindakannya tidak dapat dikatakan sebagai ingkarul mungkar atau nasehat untuk umat.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Kemudian orang yang menjalankan tahzir ahlil bid’ah, yang tindakannya itu ia dasari dengan ilmu, ia harus memiliki niat yang baik. Seandainya ia berbicara atas dasar ilmu, akan tetapi karena ingin berbuat kesombongan di muka bumi, atau kerusakan, maka ia bagaikan orang yang berjihad karena dendam golongan dan karena riya’ (ingin pujian). Dan bila ia berbicara benar-benar karena Allah Ta’ala, penuh dengan ikhlas, maka ia termasuk orang-orang yang berjuang di jalan Allah, penerus para Nabi dan Rasul.”([7])

Dan pada kesempatan lain beliau juga berkata: “Sebagian orang ada yang menyebutkan kesalahan orang, hanya karena ikut-ikutan dengan rekan semajlisnya, atau sahabatnya, atau keluarganya, padahal ia sendiri tahu bahwa orang yang ia bicarakan terlepas dari apa yang mereka sebut-sebut, atau mungkin saja padanya ada sebagian dari apa yang mereka sebut. Akan tetapi ia merasa bahwa seandainya ia mengingkari perilaku kawannya, niscaya sikapnya itu akan mengacaukan jalannya majlis, atau mereka akan marah dan menjauihinya. Oleh karena itu ia beranggapan bahwa ikut-ikutan dengan mereka adalah bagian dari tuntutan dari pergaulan yang baik, dan persahabatn yang mulia. Kadang kala mereka marah, maka iapun jadi  marah, karena mengikuti kemerahan mereka, sehingga iapun hanyut bersama mereka.

Dan diantara mereka ada yang mengemas perbuatan ghibahnya dengan berbagai kedok, kadang kala ada yang menampakkannya dalam bentuk kebaikan atau amal shaleh, sehingga ia berkata: Aku tidak biasa untuk menyebutkan seseorang kecuali dengan kebaikan, dan aku tidak suka dengan perbuatan ghibah juga perbuatan dusta, yang aku lakukan hanyalah mengabarkan kepada kalian jati diri orang tersebut, kemudian iapun berkata: Sungguh demi Allah dia itu kasihan sekali, atau orangnya baik, akan tetapi padanya ada hal demikian-demikian. Dan kadang kala ia berkata: Janganlah sebut-sebut dia, semoga Allah mengampuni kita dan dia. Padahal tujuannya hanyalah untuk meremehkan orang tersebut dan melecehkannya. Mereka mengemas perbuatan ghibah dalam bentuk amal shaleh dan perbuatan baik. (Yang terjadi sebenarnya adalah) mereka itu sedang berupaya mengelabuhi Allah, sebagaimana mereka sedang berupaya mengelabuhi manusia……..Dan diantara mereka ada yang mengemas perbuatan ghibahnya dalam bentuk kemarahan, ingkarul mungkar, sehingga dalam permasalahan ini muncul berbagai kata-kata indah nan manis, padahal maksudnya berbeda dengan apa yang ia nampakkan.”([8])

Saya yakin, bila kaum muslimin yang ada di negri kita Indonesia, dan salafiyyin secara khusus sudi untuk sedikit mawas diri, dan kembali mengoreksi niat masng-masing ketika hendak menyebutkan kesalahan dan kekhilafan saudaranya, niscaya kejadian yang terjadi dimasyarakat tidak seperti yang sekarang dikeluhkan oleh banyak pihak. Karena keimanan dan ketakwaan kita masih terlalu rendah dan lemah untuk bisa senantiasa ikhlas dalam setiap perbuatan dan ucapan, apalagi bila berkaitan dengan menyebutkan kesalahan orang yang tidak sepaham dengan kita, atau pernah berseberangan kepentingan dengan kita. Semoga Allah melimpahkan kerahmatan dan maghfirah-Nya kepada kita semua, dan semoga kita dibimbing Allah agar dapat ikhlas dalam setiap ucapan dan sikap yang kita lakukan.

  1. Kesalahan orang tersebut dilakukan dengan terang-terangan.

Bila pelaku kesalahan atau bid’ah melakukan bid’ahnya dengan sembunyi-sembunyi, maka tidak boleh ditahzir, atau dibongkar kesalahannya dihadapan umum. Karena tahzir adalah salah satu bentuk ingkarul mungkar, dan ingkarul mungkar dengan cara seperti ini tidaklah dilakukan kecuali bila kemungkarannya dilakukan dengan cara terang-terangan.

Imam Al Auza’i berkata: “Dan dahulu ulama’ salaf amat keras ucapannya terhadap ahlul bid’ah, dan hati mereka membencinya, serta mereka senantiasa memperingatkan masyarakat dari bid’ah mereka. Seandainya mereka melakukan bid’ahnya dengan sembunyi-sembunyi, maka tidak boleh bagi siapapun untuk menyingkap tabir yang menutupi mereka, atau menyebarkan aib mereka. Allah-lah yang berhak untuk menghukumi mereka atau mengampuni mereka. Adapun bila mereka telah berterang-terangan dengan bid’ahnya, gencar menyebarkan bid’ahnya, pengikutnyapun telah banyak, maka menebarkan ilmu adalah kehidupan, dan menyampaikan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kerahmatan, yang dengannya kita berlindung dari kejahatan setiap orang yang menyeleweng lagi nekad.”([9])

Ibnu Taimiyyah juga berkata: “Barang siapa  yang menampakkan kemungkaran, maka wajib untuk diingkari, dijauhi dan dicela karenanya. Dan inilah maksud dari ucapan ulama’:”Barang siapa telah mencampakkan jilbab rasa malu, maka tidak ada lagi ghibah baginya”, beda halnya dengan orang yang menutup-nutupi dosanya dan ia lakukan dengan bersembunyi, maka orang semacam ini harus ditutupi, akan tetapi tetap harus dinasehati dengan cara tersembunyi, dan hendaknya orang yang kenal dengannya, memboikotnya, hingga ia benar-benar bertaubat, dan perbuatannya tersebut disampaikan (kepada orang yang dapat menasehatainya) dengan cara yang selaras dengan maksud dari nasehat.”([10])

Sebagaimana telah berlalu nukilan dari ucapan Imam An Nawawi yang semakna dengan ucapan kedua ulama’ di atas.

Bila persyaratan ini kita terapkan pada berbagai kasus tahzir yang terjadi di negri kita Indonesia, maka saya rasa masih banyak dari saudara-saudara kita yang kurang mengindahkannya. Sebagai salah satu buktinya, sering kita mendengar ucapan yang terlalu jauh menembus batasan ghaib, sampai-sampai mulai membicarakan tentang niat dan tujuan orang lain. Misalnya ucapan sebagian dari kita yang mensifati sebagian saudaranya dengan ucapan: “menjilat para donatur”, “menggunting dalam lipatan”, hingga tuduhan kepada saudaranya sesama muslim, sebagai seorang munafiq, dan ucapan-ucapan yang serupa.

  1. Pelaku kesalahan tersebut masih hidup.

Bila pelaku bid’ah atau kesalahan telah meninggal dunia, maka tidak boleh bagi kita untuk mengungkit-ungkit kesalahannya, atau menyebut-nyebut amalan bid’ahnya, atau mencelanya, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

(لا تسبوا الأموات فإنهم قد أفضوا إلى ما قدموا) رواه البخاري

“Janganlah kamu mencela orang-orang yang telah meninggal dunia, karena mereka telah mendapatkan balasan apa yang telah mereka kerjakan.” (Bukhari) Hikmahnya ialah, orang yang telah meninggal dunia sudah tidak dikhawatirkan lagi akan dapat merusak agama masyarakat. Oleh karena itu bila seorang pelaku bid’ah meninggalkan kitab atau karya tulis yang dapat dibaca oleh orang lain atau pengikut yang menyebarkan ajarannya, maka kita tetap masih dibolehkan untuk menyebutkan kesalahannya, demi menjaga kemurnian agama masyarakat, dan agar mereka tidak terpengaruh oleh buku-bukunya atau pengikutnya yeng mengajarkan kebid’ahan yang pernah ia ajarkan.

Al Qarafi Al Maliky berkata: “Orang sesat yang telah meninggal dunia, sedangkan ia tidak meninggalkan pengikut yang mengagungkannya, juga tidak kitab-kitab yang dapat dibaca, juga tidak hal lain yang dikhawatirkan akan merusak agama orang lain, maka hendaknya ia ditutup-tutupi (tidak disebut-sebut kesalahannya) sebagaimana Allah Ta’ala telah menutupinya, dan hendaknya tidak pernah lagi disebut-sebut kesalahannya, sedangkan pertanggung jawaban atas amalannya adalah terserah kepada Allah.”([11])

  1. Jujur dan obyektif ketika menyebutkan kesalahan orang.

            Hendaknya ketika menjalankan tahzir, kita senantiasa bersikap adil dan obyektif, sehingga kesalahan yang disebutkan benar-benar ada pada orang yang sedang kita tahzir. Dan hendaknya tidaklah disebutkan kecuali kesalahan yang menjadikan orang lain menjauhinya. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala:

]يأيها الذين آمنوا كونوا قوامين لله شهداء بالقسط ولا يجرمنكم شنآن قوم على ألا تعدلوا اعدلوا هو أقرب للتقوى[ سورة المائدة 8

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada ketakwaan. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al Maidah 8).

Adapun menuduh ahlul bid’ah atau pelaku kesalahan dengan hal yang tidak ada padanya, baik perbuatan bid’ah lainnya atau kesalahan lainnya, maka perilaku ini termasuk perbuatan buhtan/kedustaan, sebagaimana disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

(إن لم يكن في أخيك ما تقول فقد بهته) رواه مسلم

“Bila apa yang engkau sebut tidak ada pada diri saudaramu, maka berarti engkau telah berdusta atas namanya.” (Muslim). Dan perbuatan dusta (buhtan) tidak pernah diizinkan dalam syari’at, baik berkenaan dengan ahlus sunnah ataupun ahlul bid’ah, karena perbuatan ini termasuk kelaliman dan kelaliman adalah perbuatan haram yang tidak pernah diizinkan apalagi dihalalkan, dalam keadaan apapun.

Persyaratan ini adalah salah satu persyaratan yang paling sering dilupakan oleh sebagian dari kita, sehingga sering kali kita mendengar ucapan yang berupa tuduhan kosong: “Fulan menerima dana dari yayasan tertentu, bahkan sampai berenang-renang di lautan dinar” padahal ketika ucapan ini ia ucapkan, ia hanya berdasarkan isu, sehingga ia tidak mampu mendatangkan buktinya. Ada lagi yang berkata: “Kebanyakan mahasiswa Madinah (Jami’ah Islamiyyah) terutama yang masuk program pasca sarjana, berhasil diterima di program tersebut adalah berkat bantuan hizbiyyun, sururiyyun dll”. Padahal saya yakin ini hanya  bualan dan mimpi di siang bolong belaka, dan pelakunya tidak akan mampu mendatangkan bukti otentik tentangnya.

Ada lagi yang berkata: “Fulan adalah seorang surury, harus dijauhi, dan tidak boleh ditimba ilmu darinya” atau bahkan: “fulan adalah termasuk da’i yang mengikuti hawa nafsu, karena mengajar di sekolahan tertentu”, akan tetapi ia tidak menyebutkan satu buktipun yang dapat dibenarkan.

Mungkin ada yang berseloroh dan berkata: Ah itu kan hanya terjadi pada beberapa orang saja, dan hanya beberapa kali saja!

Maka jawabannya: kejadian ini bukan hanya sekali, akan tetapi telah terulang berpuluh-puluh kali, dan menimpa berpuluh-puluh da’i.

Untuk sedikit membuktikan kepada pembaca, maka saya merasa perlu untuk mengungkit permasalahan yang telah mulai dikubur oleh para pelakunya, yaitu permasalahan jihad di Ambon, berapa banyak orang yang di tahzir, dan diklaim telah keluar dari manhaj salaf, karena tidak setuju mengatakan bahwa jihad di sana adalah fardhu ‘ain hukumnya? Akan tetapi setelah terbukti bagi para pelakunya, bahwa tindakan mereka tidak selaras dengan fatwa ulama’, termasuk fatwa ulama’ yang mewajibkan jihad di sana, adakah perubahan sikap terhadap da’i-da’i yang telah menjadi korban mereka?! Adakah pelurusan sikap terhadap kesalahan tahzir yang terlanjur mereka kumandangkan!? Adakah pengakuan bahwa tahzir yang di dasari perbedaan pendapat dalam hal jihad tersebut tidak benar? Apa lagi pengakuan bahwa sebagian dari mereka telah berbuat kejahatan besar, yaitu menyembunyikan fakta dan fatwa ulama’ lain yang jelas-jelas menyelisihi apa yang mereka amalkan.

Bukti selanjutnya: Berapa banyak da’i-da’i yang telah menjadi korban tahziran sebagian kita, akan tetapi ternyata di kemudian hari terbukti bahwa yang mentahzir dan yang ditahzir sama-sama tidak paham atau salah paham tentang manhaj ulama’ ahlis sunnah dalam hal tahzir, dan sama-sama hanya berdasarkan isu dan kabar burung.

Diantara buktinya: Betapa banyak ikhwah du’at yang ditahzir karena mereka mengambil dana yang disalurkan oleh sebagian yayasan sosial yang dipermasalahkan oleh sebagian ulama’. Akan tetapi giliran dana tersebut, dan dari sumber yang sama, mengalir kepada dirinya dan kelompoknya, maka ia bungkam seribu bahasa, bahkan bukan hanya dari yayasan islam yang bermasalah, akan tetapi dari dukun sekalipun tidak pernah ia dan para pendukungnya permasalahkan. Mungkinkah manhaj salaf  yang mereka anut dan yakini membenarkan standar ganda semacam ini?!

Dan masih banyak lagi kasus-kasus yang telah masyhur di masyarakat.

Dan sudah barang tentu ini adalah amat memilukan bagi seorang da’i yang mengaku bermanhaj salaf, apalagi sampai menobatkan dirinya sebagai ahlil jarh wat ta’dil. La haula wala quwwata illa billah.

ست خصال يعرف بها الجاهل: الغضب في غير شيء والكلام في غير نفع والعظة في غير موضعها وإفشاء السر والثقة بكل أحد ولا يعرف صديقه من عدوه. حلية الأولياء 10/217

“Ada enam perangai, yang dengannya kita dapat mengenali orang bodoh: marah tanpa sebab, berkata-kata yang tidak ada manfaatnya, menyampaikan peringatan tidak pada tempatnya, membocorkan rahasia, senantiasa percaya kepada setiap orang, dan tidak dapat mengenali kawan dari lawannya“.([12])

  1. Tahzir dilakukan seperlunya.

            Telah disampaikan di atas bahwa tujuan tahzir ialah melindungi kemurnian agama masyarakat dari pengaruh bid’ah atau kesalahan seseorang. Maka bila tujuan ini telah tercapai dengan cara menyebutkan sebagian dari kesalahan orang tersebut, dan dengannya masyarakat telah terlindungi, dan tidak ada yang terpengaruh dengannya, maka kita tidak boleh melampaui batasan tersebut, dengan cara menyebut-nyebut kesalahan-kesalahan lain yang tidak dirasa perlu. Sebab Hukum asal menyebutkan kesalahan orang lain ialah haram, karena itu termasuk perbuatan ghibah, akan tetapi dibolehkan karena adanya kepentingan dalam agama atau dunia dan dengan berbagai syarat di atas, maka bila kepentingan ini telah tercapai, maka selebihnya kembali kepada hukum asal yaitu haram. Hal ini berdasarkan kaidah dalam ilmu fiqih:

الضرورات تقدر بقدرها

“Suatu darurat itu harus diukur sesuai dengan kadarnya”.

            Dan sikap melampaui batas adalah salah satu hal yang diharamkan dalam syari’at islam, dan dibenci oleh Allah Ta’ala:

]ولا تعتدوا إن الله لا يحب المعتدين[ البقرة 190

Janganlah kamu melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al Baqarah 190).

Oleh karena itu Ibnu Taimiyyah berkata: “Hendaknya orang yang menunaikan nasehat itu tujuannya adalah agar Allah memberi petunjuk kepada orang tersebut, dan melindungi kaum muslimin dari gangguannya, baik dalam hal agama ataupun dunia mereka. Dan hendaknya tujuan ini  ditempuh melalui jalan termudah yang dapat dilakukan.”([13])

Oleh karena itu kita tidak dapatkan ulama’-ulama’ kita senantiasa membicarakan kesalahan ahlul bid’ah dalam setiap kesempatan dan majlis. Beda halnya dengan sebagian kita yang menjadikan pembicaraan ini sebagai bumbu majlis, dan pengajian, bahkan dengan cara-cara yang jelas-jelas melampaui batas, misalnya dengan melontarkan berbagai julukan-julukan yang tidak ada dasarnya, misal: julukan munafiq, pengkhianat, penjilat, tukang macul dll.

  1. Permasalahan yang menjadi penyebab ia ditahzir benar-benar kesalahan.

Sebagaimana yang telah disinggung di atas, bahwa hukum asal ghibah (menyebutkan kesalahan dan kekurangan) orang muslim adalah haram. Dan dibolehkan karena ada kepentingan dalam urusan agama atau dunia serta dengan berbagai syarat diatas. Oleh karena itu hukum asal dari perbuatan ini tidak akan berubah hanya karena kesalah pahaman atau perbedaan pendapat belaka. Atau perbedaan tempat belajar atau guru ngaji atau yang serupa.

Ibnu taimiyyah berkata: “Tidak dibenarkan bagi siapapun untuk menggantungkan pujian, celaan, rasa cinta, kebencian, loyal, permusuhan, doa, dan kutukan dengan selain nama-nama yang telah Allah gantungkan dengannya. Misalnya nama-nama kabilah, kota, mazhab, metode belajar yang dinisbatkan kepada para guru (syeikh) dan imam atau yang serupa yang tujuannya adalah untuk membedakan, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

] يأيها الناس إنا خلقناكم من ذكر وأنثى وجعلناكم شعوبا وقبائل لتعارفوا إن أكرمكم عند الله أتقاكم[ الحجرات 13

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang wanita, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa diantara kamu.” (Al Hujuraat 13). …..Oleh karena itu menyebutkan zaman, nama-nama keturunan, perwalian, negri, menisbatkan diri kepada seorang ulama’ atau syeikh tujuannya hanyalah untuk kenal mengenali, agar ia dapat dibedakan dari lainnya. Adapun pujian, celaan, kecintaan, kebencian, loyal, dan permusuhan, hanya boleh dilakukan karena hal-hal yang telah Allah jelaskan, dan penjelasan Allah adalah kitab-Nya. Sehingga barang siapa yang beriman, maka wajib untu diloyali, dari golongan manapun ia berasal, dan siapapun yang kufur, maka wajib untuk dimusuhi, dari golongan manapun ia berasal.”([14])

Hal ini tentu bertentangan dengan perilaku sebagian da’i yang mentahzir orang lain hanya karena ia berasal dari daerah tertentu, atau dari sekolahan tertentu, atau karena pernah belajar dengan ulama’ tertentu, atau sekolahan tertentu, tanpa melihat fakta dan kenyataan yang ada padanya. Sehingga hal ini membingungkan banyak kalangan, sampai-sampai banyak orang yang mengatakan: sebenarnya antara yang ditahzir dan yang mentahzir tidak ada perbedaan, yang diajarkan juga sama, dan ulama’ yang dijadikan panutan juga sama.

Diantara pengalaman yang pernah saya saksikan sendiri di hadapan Syeikh Muhammad bin Hadi Al Madkhali hafidhahullah, ketika ada beberapa asatidzah salafiyyin yang berkunjung ke rumah beliau, dan hadir pula di majlis tersebut beberapa mahasiswa Jami’ah Islamiyyah termasuk penulis sendiri juga hadir. Ketika Syeikh Muhammad mempertanyakan sebab terjadinya kerenggangan antara asatidzah yang datang dengan beberapa mahasiswa Jami’ah Islamiyyah, maka sebagian dari asatidzah tersebut menjawab: “Wahai syeikh, mereka ini, yaitu para mahasiswa yang masih belajar di Jami’ah Islamiyyah, ketika berlibur ke tanah air, tidak ada yang berkunjung ke rumah saya.” Mendengar jawaban ini, syeikh Muhammad Al Madkhaly terkejut dan bingung, apakah hanya karena permasalahan ziarah-menziarahi, antum saling tahzir dan saling memusuhi? Subhanallah.

Ini adalah salah satu contoh nyata yang pernah saya saksikan sendiri dan langsung dihadapan seorang syeikh salafy. Maka kejadian-kejadian serupa yang tak kalah serunya, saya yakin banyak terjadi, dan diantaranya:

Mungkin sebagian ikhwah ada yang masih ingat bahwa ada sebagian da’i yang ditahzir hanya karena perbedaan pendapat dalam metode menentukan awal bulan dalam islam, apakah harus mengikuti penentuan yang dilakukan oleh pemerintah Saudi Arabia (pendapat satu mathla’/tempat terbitnya bulan), ataukah boleh mengikuti penentuan pemerintah setempat? Padahal yang benar menurut seluruh ulama’ zaman sekarang ialah masing-masing masyarakat suatu negri harus mengikuti keputusan pemerintahnya, agar tidak menimbulkan perpecahan di masyarakat, walaupun menurut sebagian mereka: yang ideal adalah seluruh umat islam di seluruh belahan bumi berpuasa secara serempak dan bersamaan. Untuk membuktikan ucapan ini, silahkan baca Fatawa Al Lajnah Ad Daimah Kerajaan Saudi Arabia, dan juga Tamamul minnah oleh Syeikh Muhammad Nashiruddin Al Al Bany.

Yang lebih ironis, sikap membabi buta ini sampai-sampai menjadikan banyak da’i berusaha menutup-nutupi keterangan Syeikh Muhammad Nashiruddin Al Albani dalam kitabnya Tamamul minnah, yang menjelaskan kewajiban mengikuti keputusan pemerintah masing-masing.

Dan sebagian da’i ada yang menjadikan tempat belajar/sekolahan sebagai standar dalam mentahzir seseorang. Sehingga sebagian mereka sampai merasa perlu untuk mentahzir Islamic University of Madinah (Al Jami’ah Al Islamiyyah), yaitu dengan menyatakan bahwa Universitas ini telah dikuasai oleh ahlul bid’ah, sehingga sudah tidak layak lagi untuk menimba ilmu di sana. Ini adalah suatu amalan hina yang tidak pernah dilakukan oleh seorang ulama’pun, dan sebagai buktinya, hingga saat ini masih terlalu banyak ulama’ ahlis sunnah yang menjadi dosen dan tenaga pengajar di Universitas ini, sebagai contohnya: Syeikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad, Sholeh As Suhaimy, Muhammad bin Hadi Al Madkhaly, Dr. Ibrahim Ar Ruhaily dll.

Yang lebih ironis lagi bila yang melakukan tahziran ini adalah salah seorang alumni Al Jami’ah Al Islamiyyah itu sendiri, dan tahziran ini ia ucapkan tak lama dari kelulusannya dari Universitas tersebut. Kenyataan pahit ini, menjadikan sebagian orang bertanya-tanya: sebenarnya  tahzir itu apa? Apakah benar tahzir itu merupakan tuntutan dan bagian dari dakwah salaf, ataukah hanya sekedar tumbal seorang da’i yang sedang mencari sensasi, seperti dalam pepatah arab: (خالف تعرف/tampillah beda, niscaya engkau akan terkenal).

Dan diantara salah satu bentuk penyelewengan yang pernah terjadi ialah adanya seorang da’i yang mentahzir orang lain, dengan ucapannya: “fulan itu tukang macul (nyangkul)”. Subhanallah, layakkah suatu pekerjaan yang mulia dan halal dijadikan sebagai bahan memperolok-olokan orang lain, bahkan bahan untuk mentahzir seorang da’i?!

Karena kerancuan berfikir sebagian da’i tentang masalah ini, sehingga bila kita membaca daftar ustadz-ustadz yang ditahzir (harus dijauhi dan diwapadai) niscaya kita dapatkan bahwa alasan dimasukkannya mereka kedalam daftar tersebut hanyalah dakwaan: fulan adalah link/jaringan yayasan tertentu, atau berkawan dengan orang tertentu. Seakan-akan kesalahan yayasan tersebut atau orang tersebut merupakan suatu hal yang tidak dapat dipungkiri lagi, bak iblis atau Abu Jahel, atau Jahem bin Shofwan, tokoh ahli bid’ah lainnya, yang nyata-nyata sesat, dan telah disepakati kesesatannya. Ini mengisyaratkan bahwa sebenarnya penulis daftar kelam tersebut kekurangan atau bahkan mungkin tidak memiliki bukti yang autentik tentang kesalahan ustadz-ustadz tersebut (terkecuali sebagian kecil).

Semoga dari sekelumit penjelasan tentang manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah ini, saya mengharapkan para pembaca sedikit mendapatkan kejelasan dan keterangan, sehingga dapat membedakan antara tahzir yang merupakan tuntutan dakwah dari tahzir  yang merupakan tumbal sensasi seorang da’i. Dan semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua dan menjaga kita dari pengaruh godaan hawa nafsu dan berbagai fitnah.

اللهم ربَّ جبرائيلَ وميكائيلَ وإسرافيلَ فاطَر السَّماواتِ والأرضِ، عالمَ الغيبِ والشَّهادة، أنتَ تحْكُمُ بين عِبَادِك فيما كانوا فيه يَخْتَلِفُون، اهْدِنَا لِمَا اخْتُلِفَ فيه من الحق بإِذْنِكَ؛ إنَّك تَهْدِي من تَشَاء إلى صراط مستقيم. وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين. والله أعلم بالصَّواب، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين.

“Ya Allah, Tuhan malaikat Jibril, Mikail, Israfil, Dzat Yang telah Menciptakan langit dan bumi, Yang Mengetahui hal yang gaib dan yang nampak, Engkau mengadili antara hamba-hambamu dalam segala yang mereka perselisihkan. Tunjukilah kami –atas izin-Mu- kepada kebenaran  dalam setiap hal yang diperselisihkan, sesungguhnya Engkau-lah Yang menunjuki orang yang Engkau kehendaki menuju kepada jalan yang lurus. Shalawat dan salam dari Allah semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan seluruh sahabatnya. Dan Allah-lah Yang Lebih Mengetahui kebenaran, dan akhir dari setiap doa kami adalah: “segala puji hanya milik Allah, Tuhan semesta alam”.

Dr. Muhammad Arifin Baderi

Footnote:

[1] ) Tafsir Ibnu Katsir 3/174-175.

[2] ) Bagi yang ingin mendapatkan kejelasan lebih banyak dan lengkap, silahkan baca keterangan Syeikhul Islam Ibnu taimiyyah dalam Majmu’ fatawa jilid 28, dan kitab Mauqif Ahlis Sunnah wal Jama’ah min Ahlil Ahwa’ wal Bida’, oleh Dr Ibrahim bin ‘Amir Ar Ruhaily. Dan tulisan saya ini, saya sarikan dari kedua kitab ini.

[3] ) Majmu’ Fatawa  oleh Ibnu Taimiyyah 28/219.

[4] ) Dinukilkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 10/454.

[5] ) Lihat Majmu’ fatawa oleh Ibnu Taimiyyah 28/231.

[6] ) Riyadhus Shalihin oleh Imam An Nawawy, 529.

[7] ) Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah 28/235.

[8] ) Idem, 28/237-238.

[9] ) Diriwayatkan oleh Ibnu Waddhah dalam kitabnya Al Bida’ wan Nahyu ‘anha, dengan perantaraan kitab Mauqif Ahlis Sunnah, oleh Dr. Ibrahim Ar Ruhaily 2/507.

[10] ) Majmu’ Fatawa oleh Ibnu Taimiyyah 28/220.

[11] ) Al Furuq, oleh Al Qarafy, 4/208.

[12] ) Hilyatul Auliya’, oleh Abu Nu’aim Al Asbahani 10/217.

[13] ) Majmu’ fatawa oleh Ibnu taimiyyah 28/221.

[14] ) Idem, 28/227-228.

 

Sumber: https://arifinbadri.com

 

.

Keutamaan Kalimat Laa Ilaha Illallah

Keutamaan Kalimat Laa Ilaha Illallah

Ibnu Rajab dalam Kalimatul Ikhlas mengatakan,”Kalimat Tauhid (yaitu Laa Ilaha Illallah, pen) memiliki keutamaan yang sangat agung yang tidak mungkin bisa dihitung.” Lalu beliau rahimahullah menyebutkan beberapa keutamaan kalimat yang mulia ini. Di antara yang beliau sebutkan :

Kalimat ‘Laa Ilaha Illallah’ merupakan harga surga

Suatu saat Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mendengar muadzin mengucapkan ’Asyhadu alla ilaha illallah’. Lalu beliau mengatakan pada muadzin tadi,

« خَرَجْتَ مِنَ النَّارِ »

”Engkau terbebas dari neraka.” (HR. Muslim no. 873)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَ

”Barangsiapa yang akhir perkataannya sebelum meninggal dunia adalah ‘lailaha illallah’, maka dia akan masuk surga” (HR. Abu Daud. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashobih no. 1621)

Kalimat ‘Laa Ilaha Illallah’ adalah kebaikan yang paling utama

Abu Dzar berkata,

قُلْتُ ياَ رَسُوْلَ اللهِ كَلِّمْنِي بِعَمَلٍ يُقَرِّبُنِي مِنَ الجَنَّةِ وَيُبَاعِدُنِي مِنَ النَّارِ، قَالَ إِذاَ عَمَلْتَ سَيِّئَةً فَاعْمَلْ حَسَنَةً فَإِنَّهَا عَشْرَ أَمْثَالِهَا، قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مِنَ الْحَسَنَاتِ ، قَالَ هِيَ أَحْسَنُ الحَسَنَاتِ وَهِيَ تَمْحُوْ الذُّنُوْبَ وَالْخَطَايَا

Katakanlah padaku wahai Rasulullah, ajarilah aku amalan yang dapat mendekatkanku pada surga dan menjauhkanku dari neraka.” Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,”Apabila engkau melakukan kejelekan (dosa), maka lakukanlah kebaikan karena dengan melakukan kebaikan itu engkau akan mendapatkan sepuluh yang semisal.” Lalu Abu Dzar berkata lagi,”Wahai Rasulullah, apakah ’laa ilaha illallah’ merupakan kebaikan?” Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,”Kalimat itu (laa ilaha illallah, pen) merupakan kebaikan yang paling utama. Kalimat itu dapat menghapuskan berbagai dosa dan kesalahan.” (Dinilai hasan oleh Syaikh Al Albani dalam tahqiq beliau terhadap Kalimatul Ikhlas, 55)

Kalimat ‘Laa Ilaha Illallah’ adalah dzikir yang paling utama

Hal ini sebagaimana terdapat pada hadits yang disandarkan kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam (hadits marfu’),

أَفْضَلُ الذِّكْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ

Dzikir yang paling utama adalah bacaan ’laa ilaha illallah’.” (Dinilai hasan oleh Syaikh Al Albani dalam tahqiq beliau terhadap Kalimatul Ikhlas, 62)

Kalimat ‘Laa Ilaha Illallah’ adalah amal yang paling utama, paling banyak ganjarannya, menyamai pahala memerdekakan budak dan merupakan pelindung dari gangguan setan

Sebagaimana terdapat dalam shohihain (Bukhari-Muslim) dari Abu Hurairoh radhiyallahu ’anhu, dari Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, beliau bersabda,

« مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ ، لَهُ الْمُلْكُ ، وَلَهُ الْحَمْدُ ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ . فِى يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ ، كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ ، وَكُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ ، وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ ، وَكَانَتْ لَهُ حِرْزًا مِنَ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِىَ ، وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ ، إِلاَّ أَحَدٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ » .

Barangsiapa mengucapkan ’laa il aha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ’ala kulli syay-in qodiir’ [tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya kerajaan dan segala pujian. Dia-lah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu] dalam sehari sebanyak 100 kali, maka baginya sama dengan sepuluh budak (yang dimerdekakan, pen), dicatat baginya 100 kebaikan, dihapus darinya 100 kejelekan, dan dia akan terlindung dari setan pada siang hingga sore harinya, serta tidak ada yang lebih utama darinya kecuali orang yang membacanya lebih banyak dari itu.” (HR. Bukhari no. 3293 dan HR. Muslim no. 7018)

Kalimat ‘Laa Ilaha Illallah’ adalah Kunci 8 Pintu Surga, orang yang mengucapkannya bisa masuk lewat pintu mana saja yang dia sukai

Dari ’Ubadah bin Shomit radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَابْنُ أَمَتِهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ وَأَنَّ الْجَنَّةَ حَقٌّ وَأَنَّ النَّارَ حَقٌّ أَدْخَلَهُ اللَّهُ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةِ شَاءَ

Barangsiapa mengucapkan ’saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, dan (bersaksi) bahwa ’Isa adalah hamba Allah dan anak dari hamba-Nya, dan kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam serta Ruh dari-Nya, dan (bersaksi pula) bahwa surga adalah benar adanya dan neraka pun benar adanya, maka Allah pasti akan memasukkannya ke dalam surga dari delapan pintu surga yang mana saja yang dia kehendaki.” (HR. Muslim no. 149)

(Lihat Kalimatul Ikhlas, 52-66. Sebagian dalil yang ada sengaja ditakhrij sendiri semampu kami)

Inilah sebagian di antara keutamaan kalimat syahadat laa ilaha illallah dan masih banyak keutamaan yang lain. Namun, penjelasan ini bukanlah inti dari pembahasan kami kali ini. Setelah ini kami akan membahas mengenai syarat-syarat dari laa ilaha illallah. Karena kalimat tidaklah akan berguna melainkan dengan terpenuhi syarat-syaratnya. Nantikan artikel selanjutnya.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber : https://rumaysho.com/

.
Di Balik Kesulitan, Ada Kemudahan yang Begitu Dekat

Di Balik Kesulitan, Ada Kemudahan yang Begitu Dekat

Seringkali kita berputus asa tatkala mendapatkan kesulitan atau cobaan. Padahal Allah telah memberi janji bahwa di balik kesulitan, pasti ada jalan keluar yang begitu dekat.

Dalam surat Alam Nasyroh, Allah Ta’ala berfirman,

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 5)

Ayat ini pun diulang setelah itu,

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 6)

Mengenai ayat di atas, ada beberapa faedah yang bisa kita ambil:

Pertama: Di balik satu kesulitan, ada dua kemudahan

Kata “al ‘usr (kesulitan)” yang diulang dalam surat Alam Nasyroh hanyalah satu. Al ‘usr dalam ayat pertama sebenarnya sama dengan al ‘usr dalam ayat berikutnya karena keduanya menggunakan isim ma’rifah (seperti kata yang diawali alif lam). Sebagaimana kaedah dalam bahasa Arab, “Jika isim ma’rifah  diulang, maka kata yang kedua sama dengan kata yang pertama, terserah apakah isim ma’rifah tersebut menggunakan alif lam jinsi ataukah alif lam ‘ahdiyah.” Intinya, al ‘usr (kesulitan) pada ayat pertama sama dengan al ‘usr (kesulitan) pada ayat kedua.

Sedangkan kata “yusro (kemudahan)” dalam surat Alam Nasyroh itu ada dua. Yusro (kemudahan) pertama berbeda dengan yusro (kemudahan) kedua karena keduanya menggunakan isim nakiroh (seperti kata yang tidak diawali alif lam). Sebagaimana kaedah dalam bahasa Arab, “Secara umum, jika isim nakiroh itu diulang, maka kata yang kedua berbeda dengan kata yang pertama.” Dengan demikian, kemudahan itu ada dua karena berulang.[1] Ini berarti ada satu kesulitan dan ada dua kemudahan.

Dari sini, para ulama pun seringkali mengatakan, “Satu kesulitan tidak akan pernah mengalahkan dua kemudahan.” Asal perkataan ini dari hadits yang lemah, namun maknanya benar[2]. Jadi, di balik satu kesulitan ada dua kemudahan.

Note: Mungkin sebagian orang yang belum pernah mempelajari bahasa Arab kurang paham dengan istilah di atas. Namun itulah keunggulan orang yang paham bahasa Arab, dalam memahami ayat akan berbeda dengan orang yang tidak memahaminya. Oleh karena itu, setiap muslim hendaklah membekali diri dengan ilmu alat ini. Di antara manfaatnya, seseorang akan memahami Al Qur’an lebih mudah dan pemahamannya pun begitu berbeda dengan orang yang tidak paham bahasa Arab. Semoga Allah memberi kemudahan.

Kedua: Akhir berbagai kesulitan adalah kemudahan

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di mengatakan, “Kata al ‘usr (kesulitan) menggunakan alif-lam dan menunjukkan umum (istigroq) yaitu segala macam kesulitan. Hal ini menunjukkan bahwa bagaimana pun sulitnya, akhir dari setiap kesulitan adalah kemudahan.”[3] Dari sini, kita dapat mengambil pelajaran, “Badai pastilah berlalu (after a storm comes a calm), yaitu setelah ada kesulitan pasti ada jalan keluar.”

Ketiga: Di balik kesulitan, ada kemudahan yang begitu dekat

Dalam ayat  di atas, digunakan kata ma’a, yang asalnya bermakna “bersama”. Artinya, “kemudahan akan selalu menyertai kesulitan”. Oleh karena itu, para ulama seringkali mendeskripsikan, “Seandainya kesulitan itu memasuki lubang binatang dhob (yang berlika-liku dan sempit, pen), kemudahan akan turut serta memasuki lubang itu dan akan mengeluarkan kesulitan tersebut.”[4] Padahal lubang binatang dhob begitu sempit dan sulit untuk dilewati karena berlika-liku (zig-zag). Namun kemudahan akan terus menemani kesulitan, walaupun di medan yang sesulit apapun.

Allah Ta’ala berfirman,

سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا

Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (QS. Ath Tholaq: 7) Ibnul Jauziy, Asy Syaukani dan ahli tafsir lainnya mengatakan, “Setelah kesempitan dan kesulitan, akan ada kemudahan dan kelapangan.”[5] Ibnu Katsir mengatakan, ”Janji Allah itu pasti dan tidak mungkin Dia mengingkarinya.”[6]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً

Bersama kesulitan, ada kemudahan.[7] Oleh karena itu, masihkah ada keraguan dengan janji Allah dan Rasul-Nya ini?

Rahasia Mengapa di Balik Kesulitan, Ada Kemudahan yang Begitu Dekat

Ibnu Rajab telah mengisyaratkan hal ini. Beliau berkata, “Jika kesempitan itu semakin terasa sulit dan semakin berat, maka seorang hamba akan menjadi putus asa dan demikianlah keadaan makhluk yang tidak bisa keluar dari kesulitan. Akhirnya, ia pun menggantungkan hatinya pada Allah semata. Inilah hakekat tawakkal pada-Nya. Tawakkal inilah yang menjadi sebab terbesar keluar dari kesempitan yang ada. Karena Allah sendiri telah berjanji akan mencukupi orang yang bertawakkal pada-Nya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (QS. Ath Tholaq: 3).”[8] Inilah rahasia yang sebagian kita mungkin belum mengetahuinya. Jadi intinya, tawakkal lah yang menjadi sebab terbesar seseorang keluar dari kesulitan dan kesempitan.

Ya Allah, jadikanlah kami termasuk golongan orang yang sabar dalam menghadapi setiap ketentuan-Mu. Jadikanlah kami sebagai hamba-Mu yang selalu bertawakkal dan bergantung pada-Mu. Amin Ya Mujibas Saa-ilin.

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

Begitu nikmat setiap hari dapat menggali faedah dari sebuah ayat. Semoga hati ini tidak lalai dari mengingat-Nya

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel https://rumaysho.com

Diselesaikan selepas shalat Shubuh, 21 Dzulqo’dah 1430 H, Panggang, Gunung Kidul


[1] Dua kaedah bahasa Arab ini disebutkan oleh Asy Syaukani dalam kitab tafsirnya Fathul Qodir, 8/22, Mawqi’ At Tafasir.

[2] Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits tersebut adalah dho’if (lemah). Hadits tersebut termasuk hadits mursal dan mursal termasuk hadits dho’if (lemah). Lihat As Silsilah Ash Shohihah no. 4342

[3] Taisir Karimir Rahman, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, hal. 929, Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1423 H

[4] Asal perkataan ini adalah dari hadits yang dho’if (lemah), namun maknanya shahih (benar).

[5] Zaadul Masiir, Ibnul Jauziy, 6/42, Mawqi’ At Tafasir dan Fathul Qodir, Asy Syaukani, 7/247, Mawqi’ At Tafasir.

[6] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 8/154, Dar Thoyibah, cetakan kedua, tahun 1420 H.

[7] HR. Ahmad no. 2804. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih.

[8] Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hambali, hal. 238, Darul Muayyad, cetakan pertama, tahun 1424 H.

Sumber : https://rumaysho.com/

.
Mengenal Tingkatan Islam

Mengenal Tingkatan Islam

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanyakan apa itu Iman, Islam dan Ihsan. Ketiga perkara ini sendiri adalah Ad Diin yaitu agama Islam itu sendiri. (HR. Muslim no. 102)

Para pembaca yang semoga dimuliakan oleh Allah Ta’ala. Pada suatu hari, Jibril ‘alaihis salam mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan berambut hitam dan berpakaian putih, tidak tampak pada beliau bekas melakukan perjalanan jauh dan tidak ada sahabat pun yang mengenal malaikat Jibril dalam bentuk manusia seperti ini. Kemudian dia mendekati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil menyandarkan lututnya pada lutut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan kedua tangannya berada pada paha Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Jibril ‘alaihis salam memanggil ‘Ya Muhammad’ -sebagaimana orang-orang Arab badui memanggil beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan menanyakan beberapa perkara. Di antaranya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanyakan apa itu Iman, Islam dan Ihsan. Ketiga perkara ini sendiri adalah Ad Diin yaitu agama Islam itu sendiri. (HR. Muslim no. 102)

Hadits di atas dikenal dengan hadits Jibril dan induknya hadits. Dari hadits tersebut, para ulama mengatakan bahwa Islam memiliki tiga tingkatan, yaitu: (1) Islam, (2) Iman dan (3) Ihsan; masing-masing tingkatan ini memiliki rukun. Berikut ini adalah penjelasan secara singkat mengenai ketiga tingkatan tersebut.

Tingkatan Pertama : Islam

Dalam hadits Jibril, dikatakan bahwa Islam adalah (1) mengakui bahwa ‘Tidak ada sesembahan yang benar untuk disembah kecuali Allah dan mengakui Muhammad adalah utusan-Nya, (2) menegakkan shalat, (3) menunaikan zakat, (4) menunaikan puasa Ramadhan, dan (5) berhaji ke Baitullah bagi yang mampu. Jadi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa islam memiliki lima rukun.
Yang pertama, seorang muslim harus bersyahadat dengan lisan dan meyakini syahadat tersebut dalam hatinya. Dan perlu diperhatikan bahwa makna kalimat syahadat ‘laa ilaha illallah’ yang benar adalah tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah. Jika seseorang sudah mengucapkan dan meyakini demikian, maka tidak pantas baginya untuk menjadikan para Nabi, malaikat, para wali dan orang-orang sholih sebagai sesembahan semisal menjadikan mereka sebagai perantara dalam berdo’a. Karena apa saja yang disembah selain Allah adalah sesembahan yang bathil. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),”Yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah sesembahan yang benar dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang bathil.” (QS. Al Hajj [22] : 62).

Sebagai catatan penting, syahadat tidaklah cukup dengan diam (diucapkan dalam hati), namun harus diucapkan dan diumumkan (ditampakkan) pada orang lain kecuali jika ada alasan yang syar’i sehingga seseorang tidak bisa menampakkan syahadatnya.

Dalam hadits Jibril ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabungkan antara syahadat ‘laa ilaha illallah’ dengan syahadat ‘anna muhammadar rasulullah’ [Nabi Muhammad adalah utusan Allah] dalam satu rukun. Kenapa demikian? Karena ibadah tidaklah sempurna kecuali dengan dua hal : (1) ikhlas kepada Allah semata : hal ini terdapat dalam syahadat ‘laa ilaha illallah’; dan (2) mutaba’ah (mengikuti) Rasul : hal ini terdapat dalam syahadat ‘anna muhammadar rasulullah’.

Selain dengan bersyahadat, keislaman seseorang bisa sempurna dengan melaksanakan empat rukun yang lainnya –di mana penjelasan hal ini dapat dilihat dalam berbagai kitab fiqh-.
Namun, perlu diperhatikan bahwa walaupun kelima hal ini disebut rukun, bukan berarti jika salah satu dari rukun Islam ini tidak ditunaikan maka tidak disebut muslim lagi. Karena kadar wajib dalam rukun Islam adalah dengan bersyahadat dan mengerjakan shalat yang diwajibkan (shalat lima waktu). Jika seorang muslim tidak melaksanakan kedua rukun Islam ini, maka pada saat ini baru tidak disebut sebagai muslim.

Tingkatan Kedua : Iman

Iman secara bahasa berarti pembenaran (tashdiq). Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanyakan oleh Jibril ‘alaihis salam mengenai iman, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Iman adalah (1) engkau beriman kepada Allah, (2) kepada malaikat-Nya, (3) kepada kitab-kitab-Nya, (4) kepada rasul-rasul-Nya, (5) kepada hari akhir dan (6) beriman kepada takdir yang baik dan buruk.” Jadi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa iman memiliki enam rukun. Apabila salah satu rukun ini tidak dipenuhi maka tidak disebut orang beriman.

Namun, dalam rukun Iman di dalamnya ada kadar (batasan) wajib di mana keislaman seseorang tidaklah sah (baca : bisa kafir) kecuali dengan memenuhinya.

Batasan wajib dalam beriman kepada Allah adalah meyakini bahwa Allah adalah Rabb alam semesta, Allah adalah pencipta dan pengatur alam semesta; Allah-lah yang berhak ditujukan ibadah dan bukan selain-Nya; dan Allah memiliki nama dan sifat yang sempurna yang tidak boleh seseorang mensifati-Nya dengan makhluk-Nya, tidak boleh nama dan sifat tersebut ditolak keseluruhan atau pun sebagiannya setelah datang penjelasan mengenai hal ini.

Batasan wajib dalam beriman kepada malaikat adalah mengimani bahwa Allah memiliki makhluk yang disebut malaikat yang memiliki tugas tertentu, di antaranya adalah ada yang bertugas menyampaikan wahyu kepada para Nabi.

Batasan wajib dalam beriman kepada kitab-kitab Allah adalah meyakini bahwa Allah telah menurunkan kitab kepada para rasul yang dikehendaki-Nya; kitab tersebut adalah kalam-Nya (firman-Nya); dan di antara kitab-kitab tersebut adalah Al Qur’an dan juga merupakan kalam-Nya (firman-Nya).

Batasan wajib dalam beriman kepada para rasul adalah meyakini dengan yakin (tanpa ragu-ragu) bahwa Allah mengutus rasul kepada hamba-Nya; dan rasul terakhir adalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam, seseorang harus beriman kepadanya dan mengikuti petunjuknya.

Batasan wajib dalam beriman kepada hari akhir adalah meyakini bahwa Allah menjadikan suatu hari di mana manusia akan dihisab (diperhitungkan); mereka akan kembali, akan dibangkitkan dari kubur-kubur mereka, akan bertemu Rabb mereka dan setiap orang akan dibalas; di mana orang yang berbuat baik akan dibalas dengan surga sedangkan orang yang kufur akan dimasukkan dalam neraka.
Batasan wajib dan beriman kepada takdir yang baik dan buruk adalah meyakini bahwa Allah telah mengetahui segala sesuatu sebelum terjadi dan Allah telah mencatatnya di Lauhul Mahfuzh; meyakini pula bahwa apa yang Allah kehendaki pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi; dan meyakini bahwa segala sesuatu telah diciptakan-Nya termasuk perbuatan hamba.
Setiap muslim harus memiliki kadar keimanan yang wajib ini. Jika tidak memenuhi kadar keimanan yang wajib ini, maka dia tidak disebut seorang muslim.

Tingkatan Ketiga : Ihsan

Dalam hadits Jibril, tingkatan Islam yang ketiga ini memiliki satu rukun. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan mengenai ihsan yaitu ‘Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak mampu melihat-Nya, Allah akan melihatmu.’ Itulah pengertian ihsan dan rukunnya.

Dalam pengertian ihsan ini terdapat dua tingkatan. Tingkatan pertama disebut tingkatan musyahadah yaitu seseorang beribadah kepada Allah, seakan-akan dia melihat-Nya. Perlu ditekankan bahwa yang dimaksudkan di sini adalah bukan melihat zat Allah, namun melihat sifat-sifat-Nya. Apabila seorang hamba sudah memiliki ilmu dan keyakinan yang kuat terhadap sifat-sifat Allah, dia akan mengembalikan semua tanda kekuasaan Allah pada sifat-sifat-Nya. Dan inilah tingkatan tertinggi dalam derajat Ihsan.

Tingkatan kedua disebut dengan tingkatan muroqobah yaitu apabila seseorang tidak mampu memperhatikan sifat-sifat Allah, dia yakin Allah melihatnya. Dan tingkatan inilah yang banyak dilakukan oleh banyak orang. Apabila seseorang mengerjakan shalat, dia merasa Allah memperhatikan apa yang dia lakukan, lalu dia memperbagus shalatnya.

Dalam tingkatan ihsan ini ada juga kadar wajib yang harus ditunaikan oleh setiap muslim yang akan membuat keislamannya menjadi sah. Kadar yang wajib di sini adalah seseorang harus memperbagus amalannya dengan mengikhlaskannya kepada Allah dan harus mencocoki amalan tersebut dengan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun kadar yang disunnahkan (dianjurkan) adalah seseorang beramal pada tingkatan muroqobah atau musyahadah sebagaimana dijelaskan di atas.

Pelajaran Penting

Sesuatu yang perlu diperhatikan mengenai definisi Islam, Iman dan Ihsan. Jika Islam itu disebutkan secara bersendirian, yang dimaksudkan adalah seluruh ajaran agama ini baik keyakinan, perkataan maupun perbuatan. Contoh ini terdapat pada firman Allah (yang artinya),”Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali Imron [3] : 19). Namun, jika Islam disebutkan bergandengan dengan keimanan (i’tiqod) -sebagaimana yang terdapat dalam hadits Jibril ini-, maka yang dimaksudkan dengan Islam di sini adalah amal lahiriyah. Sebagaimana hal ini terdapat pada firman Allah (yang artinya),”Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman“. Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi katakanlah ‘kami telah berislam (tunduk)’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu. (QS. Al Hujuraat [49] : 14)

Begitu juga dengan iman. Jika iman itu disebutkan secara sendirian, maka yang dimaksudkan adalah agama Islam secara kesuluruhan. Namun, jika iman disebut bergandengan dengan Islam (amalan lahiriyah) -sebagaimana yang terdapat dalam hadits Jibril ini-, maka yang dimaksudkan dengan iman di sini adalah mencakup amal bathin. Hal ini dapat dicontohkan pada firman Allah (yang artinya),”Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang shaleh” (QS. An Nisa’ : 57). Maka yang dimaksudkan dengan orang yang beriman di sini adalah orang yang melakukan amalan bathin.
Sedangkan ihsan adalah memperbaiki amalan lahir maupun bathin. Gabungan dari ketiganya disebut dengan Ad Diin yaitu agama Islam itu sendiri.

Allahumanfa’ana bima ‘alamatana, wa ‘alimnaa maa yanfa’una wa zidna ‘ilmaa. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Sumber Rujukan : (1) Syarhul ‘Arbain An Nawawiyyah, Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin; (2) Syarhul ‘Arbain An Nawawiyyah, Syaikh Sholih Alu Syaikh; (3) Ma’arijul Qobul II, Al Hafizh Al Hakami

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

 

Sumber : https://rumaysho.com/

.
Ilmu adalah Pemimpin Amalan

Ilmu adalah Pemimpin Amalan

Ilmu adalah pemimpin amal dan amalan itu berada di belakang setelah adanya ilmu.” (Al Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Mungkar, hal. 15) 

Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi wa man tabi’ahum bi ihsaanin ilaa yaumid diin.

Mu’adz bin Jabal –radhiyallahu ‘anhu- mengatakan,

العِلْمُ إِمَامُ العَمَلِ وَالعَمَلُ تَابِعُهُ

Ilmu adalah pemimpin amal dan amalan itu berada di belakang setelah adanya ilmu.” (Al Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Mungkar, hal. 15)

Bukti Bahwa Ilmu Lebih Didahulukan daripada Amalan

Ulama hadits terkemuka, yakni Al Bukhari berkata, Al ‘Ilmu Qoblal Qouli Wal ‘Amali (Ilmu Sebelum Berkata dan Berbuat). Perkataan ini merupakan kesimpulan yang beliau ambil dari firman Allah ta’ala,

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ

“Maka ilmuilah (ketahuilah)! Bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu” (QS. Muhammad [47]: 19).

Dalam ayat ini, Allah memulai dengan ‘ilmuilah’ lalu mengatakan ‘mohonlah ampun’. Ilmuilah yang dimaksudkan adalah perintah untuk berilmu terlebih dahulu, sedangkan ‘mohonlah ampun’ adalah amalan. Ini pertanda bahwa ilmu hendaklah lebih dahulu sebelum amal perbuatan.

Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berdalil dengan ayat ini untuk menunjukkan keutamaan ilmu. Hal ini sebagaimana dikeluarkan oleh Abu Nu’aim dalam Al Hilyah ketika menjelaskan biografi Sufyan dari jalur Ar Robi’ bin Nafi’ darinya, bahwa Sufyan membaca ayat ini, lalu mengatakan, “Tidakkah engkau mendengar bahwa Allah memulai ayat ini dengan mengatakan ‘ilmuilah’, kemudian Allah memerintahkan untuk beramal?” (Fathul Bari, Ibnu Hajar, 1/108)

Al Muhallab rahimahullah mengatakan, “Amalan yang bermanfaat adalah amalan yang terlebih dahulu didahului dengan ilmu. Amalan yang di dalamnya tidak terdapat niat, ingin mengharap-harap ganjaran, dan merasa telah berbuat ikhlas, maka ini bukanlah amalan (karena tidak didahului dengan ilmu, pen). Sesungguhnya yang dilakukan hanyalah seperti amalannya orang gila yang pena diangkat dari dirinya.“ (Syarh Al Bukhari libni Baththol, 1/144)

Ibnul Munir rahimahullah berkata, “Yang dimaksudkan oleh Al Bukhari bahwa ilmu adalah syarat benarnya suatu perkataan dan perbuatan.  Suatu perkataan dan perbuatan itu tidak teranggap kecuali dengan ilmu terlebih dahulu. Oleh sebab itulah, ilmu didahulukan dari ucapan dan perbuatan, karena ilmu itu pelurus niat. Niat nantinya yang akan memperbaiki amalan.” (Fathul Bari, 1/108)

Keutamaan Luar Biasa Ilmu Syar’i

Setelah kita mengetahui hal di atas, hendaklah setiap orang lebih memusatkan perhatiannya untuk berilmu terlebih dahulu daripada beramal. Semoga dengan mengetahui faedah atau keutamaan ilmu syar’i berikut akan membuat kita lebih termotivasi dalam hal ini.

Pertama, Allah akan meninggikan derajat orang yang berilmu di akhirat dan di dunia

Di akhirat, Allah akan meninggikan derajat  orang yang berilmu beberapa derajat berbanding lurus dengan amal dan dakwah yang mereka lakukan.  Sedangkan di dunia, Allah meninggikan orang yang berilmu dari hamba-hamba yang lain sesuai dengan ilmu dan amalan yang dia lakukan.
Allah Ta’ala berfirman,

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS Al Mujadalah: 11)

Kedua, seorang yang berilmu adalah cahaya yang banyak dimanfaatkan manusia untuk urusan agama dan dunia meraka.

Dalilnya, satu hadits yang sangat terkenal bagi kita, kisah seorang laki-laki dari Bani Israil yang membunuh 99 nyawa. Kemudian dia ingin bertaubat dan dia bertanya siapakah di antara penduduk bumi yang paling berilmu, maka ditunjukkan kepadanya seorang ahli ibadah. Kemudian dia bertanya kepada si ahli ibadah, apakah ada taubat untuknya. Ahli ibadah menganggap bahwa dosanya sudah sangat besar sehingga dia mengatakan bahwa tidak ada pintu taubat bagi si pembunuh 99 nyawa. Maka dibunuhlah ahli ibadah sehigga genap 100 orang yang telah dibunuh oleh laki-laki dari Bani Israil tersebut.
Akhirnya dia masih ingin bertaubat lagi, kemudian dia bertanya siapakah orang yang paling berilmu, lalu ditunjukkan kepada seorang ulama. Dia bertanya kepada ulama tersebut, “Apakah masih ada pintu taubat untukku”. Maka ulama tersebut mengatakan bahwa masih ada pintu taubat untuknya dan tidak ada satupun yang menghalangi dirinya untuk bertaubat. Kemudian ulama tersebut menunjukkan kepadanya agar berpindah ke sebuah negeri yang penduduknya merupakan orang shalih, karena kampungnya merupakan kampung yang dia tinggal sekarang adalah kampung yang penuh kerusakan. Oleh karena itu, dia pun keluar meninggalkan kampung halamannya. Di tengah jalan sebelum sampai ke negeri yang dituju, dia sudah dijemput kematian. (HR. Bukhari dan Muslim). Kisah ini merupakan kisah yang sangat masyhur. Lihatlah perbedaan ahli ibadah dan ahli ilmu.

Ketiga, Ilmu adalah Warisan Para Nabi
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya, maka dia telah memperoleh keberuntungan yang banyak.” (HR Abu Dawud no. 3641 dan Tirmidzi no. 2682. Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abi Daud dan Shohih wa Dho’if  Sunan Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini shohih)
Keempat, Orang yang Berilmu yang Akan Mendapatkan Seluruh Kebaikan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ

“Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Setiap orang yang Allah menghendaki kebaikan padanya pasti akan diberi kepahaman dalam masalah agama. Sedangkan orang yang tidak diberikan kepahaman dalam agama, tentu Allah tidak menginginkan kebaikan dan bagusnya agama pada dirinya.” (Majmu’ Al Fatawa, 28/80)

Ilmu yang Wajib Dipelajari Lebih Dahulu

Ilmu yang wajib dipelajari bagi manusia adalah ilmu yang menuntut untuk diamalkan saat itu, adapun ketika amalan tersebut belum tertuntut untuk diamalkan maka belum wajib untuk dipelajari. Jadi ilmu mengenai tauhid, mengenai 2 kalimat syahadat, mengenai keimanan adalah ilmu yang wajib dipelajari ketika seseorang menjadi muslim, karena ilmu ini adalah dasar yang harus diketahui.

Kemudian ilmu mengenai shalat, hal-hal yang berkaitan dengan shalat, seperti bersuci dan lainnya, merupakan ilmu berikutnya yang harus dipelajari. Kemudian ilmu tentang hal-hal yang halal dan haram, ilmu tentang mualamalah dan seterusnya.

Contohnya seseorang yang saat ini belum mampu berhaji, maka ilmu tentang haji belum wajib untuk ia pelajari saat ini. Akan tetapi ketika ia telah mampu berhaji, ia wajib mengetahui ilmu tentang haji dan segala sesuatu yang berkaitan dengan haji. Adapun ilmu tentang tauhid, tentang keimanan, adalah hal pertama yang harus dipelajari karena setiap amalan yang ia lakukan tentunya berkaitan dengan niat. Kalau niatnya dalam melakukan ibadah karena Allah maka itulah amalan yang benar. Adapun kalau niatnya karena selain Allah maka itu adalah amalan syirik. Ini semua jika dilatarbelakangi dengan aqidah dan tauhid yang benar.

Penutup

Marilah kita awali setiap keyakinan dan amalan dengan ilmu agar luruslah niat kita dan tidak terjerumus dalam ibadah yang tidak ada tuntunan (alias bid’ah). Ingatlah bahwa suatu amalan yang dibangun tanpa dasar ilmu malah akan mendatangkan kerusakan dan bukan kebaikan.
‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz mengatakan,

من عبد الله بغير علم كان ما يفسد أكثر مما يصلح

Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka dia akan membuat banyak kerusakan daripada mendatangkan kebaikan.” (Al Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Mungkar, hal. 15)
Di samping itu pula, setiap ilmu hendaklah diamalkan agar tidak serupa dengan orang Yahudi. Sufyan bin ‘Uyainah –rahimahullah- mengatakan,

مَنْ فَسَدَ مِنْ عُلَمَائِنَا كَانَ فِيهِ شَبَهٌ مِنْ الْيَهُودِ وَمَنْ فَسَدَ مِنْ عِبَادِنَا كَانَ فِيهِ شَبَهٌ مِنْ النَّصَارَى

Orang berilmu yang rusak (karena tidak mengamalkan apa yang dia ilmui) memiliki keserupaan dengan orang Yahudi. Sedangkan ahli ibadah yang rusak (karena beribadah tanpa dasar ilmu) memiliki keserupaan dengan orang Nashrani.” (Majmu’ Al Fatawa, 16/567)

Semoga Allah senantiasa memberi kita bertaufik agar setiap amalan kita menjadi benar karena telah diawali dengan ilmu terdahulu. Semoga Allah memberikan kita ilmu yang bermanfaat, amal yang sholeh yang diterima, dan rizki yang thoyib.

Alhamdulilllahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

***
Disusun di Mediu-Jogja, 21 Jumadil Ula 1430 H

Al Faqir Ilallah: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber : https://rumaysho.com/

.