Guru Mendewasakan Murid

Guru Mendewasakan Murid

Kata orang, guru itu harus bisa digugu (dipercaya) dan ditiru. Apalagi guru agama. Alias ustadz, kyai, ajengan dan yang semisal. Sayangnya belakangan ini banyak guru yang belum bisa dijadikan panutan oleh murid-muridnya.

Syahdan ada seorang ahli hadits bernama Muhammad bin ‘Ala. Beliau biasa dipanggil Abu Kuraib. Karena satu dan lain hal, beliau mencela Imam Ahmad bin Hambal. Ulama besar Ahlus Sunnah yang tersohor itu.

Suatu hari ada serombongan santri yang pengin berguru kepada Imam Ahmad. Beliau bertanya, “Kalian barusan menghadiri kajian siapa?”.

“Kajiannya Syaikh Abu Kuraib” jawab mereka.

Imam Ahmad komen, “Tetaplah belajar kepada beliau. Sungguh beliau adalah guru yang berkompeten”.

“Tapi beliau kan mencelamu wahai imam?” tanya mereka keheranan.

“Gimana lagi? Beliau tetap guru yang berkompeten. Hanya saja beliau sedang diuji dengan diriku”.

Kisah ini dibawakan Imam adz-Dzahabiy dalam kitab beliau Siyar A’lam an-Nubala’ (XI/317).

Banyak pelajaran yang bisa diambil dari kisah menarik ini. Di antaranya, bagaimana seorang guru menunaikan tugas untuk mendidik muridnya.

Ustadz juga manusia. Sehingga kecemburuan dan perasaan iri bisa saja menjangkiti hatinya. Apalagi saat menyaksikan kenyataan bahwa ustadz lain lebih banyak jamaahnya.

Hal itu diperparah dengan keberadaan murid-murid pendukung yang fanatik. Punya hobi menukilkan kepada ustadnya tulisan terbaru postingan ustadz pesaingnya. Tidak jarang mereka juga berperan sebagai tukang sate. Ngipas-ngipasi emosi ustadznya, hingga panas bahkan gosong. Sehingga bantahan-bantahan yang dikeluarkan pun menggunakan beragam diksi yang tidak layak untuk disematkan kepada sesama ustadz.

Seharusnya kita berguru kepada Imam Ahmad. Bagaimana beliau berusaha mendewasakan murid-muridnya. Tidak mudah terpancing dengan nukilan berita. Bahkan berusaha mendinginkan suasana.

Juga melokalisir masalah. Permasalahan pribadi tidak usah diperlebar menjadi masalah manhaj. Baca: Mawa’izh ash-Shahabah, Dr. Umar al-Muqbil (hal. 80).

Bukan berarti tidak boleh membantah berbagai penyimpangan yang bersliweran di sekeliling kita. Asalkan proporsional.

Namun akhirnya kekuatan muroqobahlah yang berperan. Allah Mahatahu motivasi kita dalam menulis bantahan. Apakah benar-benar murni ikhlas dalam rangka membela agama Allah. Atau sejatinya berakar pada kecemburuan pribadi. Namun dipoles seakan itu adalah tahdzir syar’i.

Mari belajar dewasa dan mendewasakan murid-murid kita…

Pesantren Tunas Ilmu Purbalingga, 18 J Ula 1440 / 24 Januari 2018

Abdullah Zaen

 

Home

 

.

Kepala Batu

Kepala Batu

Entah siapa yang pertama kali membuat ungkapan ini. Kiasan tidak mau menuruti nasihat orang; tegar hati; keras kepala.

Kalau dalam al-Qur’an, ada istilah “hati yang lebih keras dari batu”. Allah ta’ala menceritakan kondisi Bani Israil, “Setelah itu hati kalian menjadi keras. Sehingga seperti batu. Bahkan lebih keras lagi”. QS. Al-Baqarah (2): 74.

Biasanya pemicu sulitnya seseorang untuk menerima nasehat adalah karena dorongan kesombongan. Keangkuhan. Besar kepala. Merasa paling anu dan itu. Sehingga memandang orang lain tidak ada apa-apanya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa kesombongan itu ada dua macam. Menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.

“الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ”

“Kesombongan adalah: menolak kebenaran dan meremehkan orang lain”. HR. Muslim.

Dua jenis kesombongan ini biasanya saling berkorelasi. Menolak kebenaran timbul karena meremehkan orang lain. Gara-gara meremehkan orang lain sehingga menolak kebenaran.

Parahnya lagi, kesombongan ini sering membuat seseorang lupa kekurangan dirinya sendiri. Sehingga sulit untuk memperbaiki diri. Akibat terlalu sibuk merendahkan orang lain. Ibarat kuman di seberang lautan tampak. Gajah di pelupuk mata tak tampak.

Jadi kerusakan yang diakibatkan kesombongan ini amat dahsyat. Maka jangan heran bila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan peringatan keras.

“لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ”

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada sifat sombong walaupun sebesar debu”. HR. Muslim.

Na’udzu billah min dzalik…

Ada orang yang merasa sikap keras kepalanya bukan masalah. Karena tidak menyadari bahwa sikap ini merusak.

“Memang saya keras kepala. So what?” begitu katanya.

Ada juga individu yang sedikit-banyak bangga dengan kekeraskepalaannya.

Malah berkomentar, ”Saya memang nekat. Tidak ada yang bisa mengatur saya. Saya bukan bawahan siapa-siapa”.

Untuk spesies manusia seperti ini, mungkin cukup didoakan agar mendapat hidayah. Atau terserah kehendak Allah saja. Barangkali lebih baik segera diwafatkan-Nya. Supaya tidak semakin banyak kerusakan yang ditimbulkan.

Wallahu a’lam…

Pesantren Tunas Ilmu Purbalingga, 23 J Ula 1440 / 29 Januari 2019
Abdullah Zaen

 

Sumber: https://tunasilmu.com

 

.

3 Rangkaian Dosa: Buruk Sangka, Tajassus dan Ghibah

3 Rangkaian Dosa: Buruk Sangka, Tajassus dan Ghibah

Allah Ta’ala mengingatkan kita tentang adanya tiga rangkaian dosa yang bisa jadi kita terjatuh di dalamnya tanpa sadar. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujuraat [49]: 12)

Renungkanlah ayat ini, ketika Allah Ta’ala menyebutkan tiga rangkaian dosa, yaitu su’udzan (buruk sangka tanpa dasar), tajassus (berusaha mencari-cari keburukan orang lain) dan ghibah (menggunjingkan orang lain).

Baca Juga: Membicarakan Keburukan Penguasa, Apakah termasuk Ghibah?

Orang yang memiliki sifat suka berburuk sangka kepada orang lain tanpa dasar, maka dia akan berusaha mencari-cari kesalahan dan keburukan saudaranya tersebut untuk mengecek dan membuktikan prasangkanya. Inilah yang disebut dengan tajassus. Sedangkan tajassus itu sendiri adalah pintu awal menuju dosa berikutnya, yaitu ghibah. Karena orang tersebut berusaha untuk menampakkan aib dan keburukan saudaranya yang berhasil dia cari-cari, meskipun dia berhasil mendapatkannya dengan susah payah.

Al-Qasimi rahimahullahu Ta’ala berkata,

“Ketika buah dari su’udzan adalah tajassus, hati seseorang tidak akan merasa puas dengan hanya ber-su’udzan saja. Maka dia akan mencari-cari bukti (aib saudaranya tersebut) dan akan sibuk dengan tajassus. Allah Ta’ala menyebutkan larangan tajassus setelah su’udzan. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), ‘Dan janganlah mencari-cari keburukan orang.’” (Mahaasin At-Ta’wiil, 9: 3690)

Sekali lagi, renungkanlah, ketika su’udzan tersebut diiringi dengan dua dosa besar lainnya, yaitu tajassus dan ghibah. Karena ketika seseorang sudah berburuk sangka kepada saudaranya, dia akan melakukan tajassus, yaitu dia mencari-cari bukti aib dan keburukan saudaranya tersebut untuk membuktikan prasangkanya. Dan jika dia sudah menemukannya, dia akan bersemangat untuk melakukan ghibah, alias menyebarkan keburukan saudaranya tersebut. Inilah urutan yang disebutkan dalam ayat di atas.

Baca Juga: Sikap Orang Beriman Saat Saudaranya Dighibahi

Syaikh ‘Abdurrahman bin Naashir As-Sa’di rahimahullahu Ta’ala berkata,

فإن بقاء ظن السوء بالقلب، لا يقتصر صاحبه على مجرد ذلك، بل لا يزال به، حتى يقول ما لا ينبغي، ويفعل ما لا ينبغي

“Sesungguhnya adanya su’udzan buruk sangka dalam hati tidak akan menyebabkan pelakunya tersebut akan berhenti di situ saja. Akan tetapi, buruk sangka tersebut akan terus-menerus ada sampai pelakunya tersebutberkata dan berbuat yang tidak sepatutnya.” (Taisiir Karimirrahman, hal. 801)

Maksud “berbuat yang tidak sepatutnya” adalah dengan melakukan tajassus, sedangkan maksud “berkata yang tidak sepatutnya” adalah dengan melakukan ghibah. Maka hal ini menjelaskan rahasia kerasnya syariat dalam melarang salah satu akhlak yang buruk ini, yaitu su’udzan (buruk sangka) kepada saudara sesama muslim.

Penulis: M. Saifudin Hakim

 

Referensi:

Disarikan dari kitab Husnudzan bin Naas, karya Syaikh ‘Abdul Malik bin Ahmad Ramadhani hafidzahullahu Ta’ala, hal. 27-28 (penerbit Daar Al-Imam Muslim, cetakan pertama tahun 1433)

Sumber: https://muslim.or.id/

.
Karakteristik Istri Sholihah

Karakteristik Istri Sholihah

Sesungguhnya banyak sifat-sifat yang merupakan ciri-ciri seorang istri sholihah. Semakin banyak sifat-sifat tersebut pada diri seorang wanita maka nilai kesholehannya semakin tinggi, akan tetapi demikian juga sebaliknya jika semakin sedikit maka semakin rendah pula nilai kesholehannya. Sebagian Sifat-sifat tersebut dengan tegas dijelaskan oleh Allah dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan sebagiannya lagi sesuai dengan penilaian ‘urf (adat). Karena pasangan suami istri diperintahkan untuk saling mempergauli dengan baik sesuai dengan urf.

Sifat-sifat tersebut diantaranya :

Pertama : Segera menyahut dan hadir apabila dipanggil oleh suami jika diajak untuk berhubungan.

Karena sifat ini sangat ditekankan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Nabi memerintahkan seorang istri untuk segera memenuhi hasrat seorang suami dalam kondisi bagaimanapun. Bahkan beliau bersabda “Jika seorang lelaki mengajak istrinya ke tempat tidur, lalu istri itu menolak. Kemudian, suami itu bermalam dalam keadaan marah, maka istrinya itu dilaknat oleh para malaikat hingga waktu pagi.”

Kedua : Tidak membantah perintah suami selagi tidak bertentangan dengan syariat. Allah berfirman :

فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ

Maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri[289] ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). (QS An-Nisaa : 34)

Qotadah rahimahullah berkata فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ “Yaitu wanita-wanita yang taat kepada Allah dan kepada suami-suami mereka” (Ad-Dur al-Mantsuur 4/386)

Terkadang pendapat suami bertentangan dengan pendapat istri, karena pendapat istri lebih baik. Seorang istri yang sholehah hendaknya ia menyampaikan pendapatnya tersebut kepada sang suami akan tetapi ia harus ingat bahwasanya segala keputusan berada di tangan suami, apapun keputusannya selama tidak bertentangan dengan syari’at.

Ketiga : Selalu tidak bermasam muka terhadap suami.

Keempat : Senantiasa berusaha memilih perkataan yang terbaik tatkala berbicara dengan suami.

Sifat ini sangat dibutuhkan dalam keutuhan rumah tangga, betapa terkadang perkataan yang lemah lembut lebih berharga di sisi suami dari banyak pelayanan. Dan sebaliknya betapa sering satu perkataan kasar yang keluar dari mulut istri membuat suami dongkol dan melupakan kebaikan-kebaikan istri.

Yang jadi masalah terkadang seorang istri tatkala berbicara dengan sahabat-sahabat wanitanya maka ia berusaha memilih kata-kata yang lembut, dan berusaha menjaga perasaan sahabat-sahabatnya tersebut namun tidak demikian jika dengan suaminya.

Kelima : Tidak memerintahkan suami untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan wanita, seperti memasak, mencuci, memandikan dan mencebok anak-anak.

Keenam : Keluar rumah hanya dengan izin suami.

Ketujuh : Berhias hanya untuk suami.

Tidak sebagaimana sebagian wanita yang hanya berhias tatkala mau keluar rumah sebagai hidangan santapan mata-mata nakal para lelaki.

Kedelapan : Tidak membenarkan orang yang tidak diizinkan suami masuk/bertamu ke dalam rumah.

Kesembilan : Menjaga waktu makan dan waktu istirahatnya kerana perut yang lapar akan membuatkan darah cepat naik. Tidur yang tidak cukup akan menimbulkan keletihan.

Kesepuluh : Menghormati mertua serta kerabat keluarga suami.

Terutama ibu mertua, yang sang suami sangat ditekankan oleh Allah untuk berbakti kepadanya. Seorang istri yang baik harus mengalah kepada ibu mertuanya, dan berusaha mengambil hati ibu mertuanya. Bukan malah menjadikan ibu mertuanya sebagai musuh, meskipun ibu mertuanya sering melakukan kesalahan kepadanya atau menyakiti hatinya. Paling tidak ibu mertua adalah orang yang sudah berusia lanjut dan juga ia adalah ibu suaminya.

Kesebelas : Berusaha menenangkan hati suami jika suami galau, bukan malah banyak menuntut kepada suami sehingga menambah beban suami

Kedua belas
: Segera minta maaf jika melakukan kesalahan kepada suami, dan tidak menunda-nundanya.

Nabi shallallahu ‘alaihi bersabda :

” أَلاَ أُخْبِرُكُمْ ….بِنِسَائِكُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟ الْوَدُوْدُ الْوَلُوْدُ الْعَؤُوْدُ عَلَى زَوْجِهَا الَّتِي إِذَا غَضِبَ جَاءَتْ حَتَّى تَضَعَ يَدَهَا فِي يَدِ زَوْجِهَا، وَتَقُوْلُ : لاَ أَذُوْقُ غُمْضًا حَتَّى تَرْضَى”

“Maukah aku kabarkan kepada kalian….tentang wanita-wanita kalian penduduk surga? Yaitu wanita yang penyayang (kepada suaminya), yang subur, yang selalu memberikan manfaat kepada suaminya, yang jika suaminya marah maka iapun mendatangi suaminya lantas meletakkan tangannya di tangan suaminya seraya berkata, “Aku tidak bisa tenteram tidur hingga engkau ridho kepadaku (Dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Sahihah no 287)

Karena sebagian wanita memiliki sifat angkuh, bahkan malah sebaliknya menunggu suami yang minta maaf kepadanya.

Ketiga belas : Mencium tangan suami tatkala suami hendak bekerja atau sepulang dari pekerjaan.

Keempat belas : Mau diajak oleh suami untuk sholat malam, bahkan bila perlu mengajak suami untuk sholat malam.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

رَحِمَ اللهُ رَجُلاً قَامَ مِنَ الّليْلِ فَصَلَّى وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَصَلَّتْ, فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِي وَجْهِهَا الْمَاءَ. وَ رَحِمَ اللهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنَ الّليْلِ فَصَلَّتْ وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا فَصَلَّى, فَإِنْ أَبَى نَضَحَت فِي وَجْهِهِ الْمَاءَ

“Semoga Allah merahmati seorang lelaki (suami) yang bangun di waktu malam lalu mengerjakan shalat dan ia membangunkan istrinya hingga istrinya pun shalat. Bila istrinya enggan, ia percikkan air ke wajahnya. Dan semoga Allah merahmati seorang wanita (istri) yang bangun di waktu malam lalu mengerjakan shalat dan ia membangunkan suaminya hingga suaminya pun shalat. Bila suaminya enggan, ia percikkan air ke wajahnya.” (HR Abu Dawud no 1308)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

إِذَا أَيْقَظَ الرَّجُلُ أَهْلَهُ مِنَ اللّيْلِ فَصَلَّيَا أَوْ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ جَمِيْعًا، كُتِبَا في الذَّاكِرِيْنَ وَالذَّاكِرَاتِ

“Apabila seorang lelaki (suami) membangunkan istrinya di waktu malam hingga keduanya mengerjakan shalat atau shalat dua rakaat semuanya, maka keduanya dicatat termasuk golongan laki-laki dan perempuan yang berzikir.”
(HR Abu Dawud no 1309)

Dalam riwayat yang dikeluarkan An-Nasa`i disebutkan dengan lafadz:

إِذَا اسْتَيْقَظَ الرَّجُلُ مِنَ اللّيْلِ وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَصَلَّيَا رَكْعَتَيْنِ, كُتِبَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ اللهَ كَثِيْرًا وَالذَّاكِرَاتِ

“Apabila seorang lelaki (suami) bangun di waktu malam dan ia membangunkan istrinya lalu keduanya mengerjakan shalat dua rakaat, maka keduanya dicatat termasuk golongan laki-laki dan perempuan yang banyak mengingat/berdzikir kepada Allah.”


Kelima belas
: Tidak menyebarkan rahasia keluarga terlebih lagi rahasia ranjang !!. Bahkan berusaha menutup aib-aib suami, serta memuji suami agar menambahkan rasa sayang dan cintanya.

Keenam belas : Tidak membentak atau mengeraskan suara di hadapan suami.

Ketujuh belas : Berusaha untuk bersifat qona’ah (nerimo) sehingga tidak banyak menuntut harta kepada suami.

Kedelapan belas : Tidak menunjukkan kesedihan tatkala suami sedang bergembira, dan sebaliknya tidak bergembira tatkala suami sedang bersedih, akan tetapi berusaha pandai mengikut suasana hatinya.

Kesembilan belas : Berusaha untuk memperhatikan kesukaan suami dan jangan sampai suami melihat sesuatu yang buruk dari dirinya atau mencium sesuatu yang tidak enak dari tubuhnya.

Kedua puluh
: Berusaha mengatur uang suami dengan sebaik-baiknya dan tidak boros, sehingga tidak membeli barang-barang yang tidak diperlukan.

Kedua puluh satu : Tidak menceritakan kecantikan dan sifat-sifat wanita yang lain kepada suaminya yang mengakibatkan suaminya bisa mengkhayalkan wanita tersebut, bahkan membanding-bandingkannya dengan wanita lain tersebut.

Kedua puluh dua : Berusaha menasehati suami dengan baik tatkala suami terjerumus dalam kemaksiatan, bukan malah ikut-ikutan suami bermaksiat kepada Allah, terutama di masa sekarang ini yang terlalu banyak kegemerlapan dunia yang melanggar syari’at Allah

Kedua puluh tiga : Menjaga pandangannya sehingga berusaha tidak melihat kecuali ketampanan suaminya, sehingga jadilah suaminya yang tertampan di hatinya dan kecintaannya tertumpu pada suaminya.

Tidak sebagaimana sebagian wanita yang suka membanding-bandingkan suaminya dengan para lelaki lain.

Kedua puluh empat : Lebih suka menetap di rumah, dan tidak suka sering keluar rumah.

Kedua puluh lima : Jika suami melakukan kesalahan maka tidak melupakan kebaikan-kebaikan suami selama ini. Bahkan sekali-kali tidak mengeluarkan perkataan yang mengisyaratkan akan hal ini. Karena sebab terbesar yang menyebabkan para wanita dipanggang di api neraka adalah tatkala suami berbuat kesalahan mereka melupakan dan mengingkari kebaikan-kebaikan suami mereka.

Setelah membaca dan memperhatikan sifat-sifat di atas, hendaknya seorang wanita benar-benar menimbang-nimbang dan menilai dirinya sendiri. Jika sebagian besar sifat-sifat tersebut tercermin dalam dirinya maka hendaknya ia bersyukur kepada Allah dan berusaha untuk menjadi yang terbaik dan terbaik.

Akan tetapi jika ternyata kebanyakan sifat-sifat tersebut kosong dari dirinya maka hendaknya ia ber-instrospeksi diri dan berusaha memperbaiki dirinya. Ingatlah bahwa surga berada di bawah telapak kaki suaminya !!!

Tentunya seorang suami yang baik menyadari bahwa istrinya bukanlah bidadari sebagaimana dirinya juga bukanlah malaikat. Sebagaimana dirinya tidak sempurna maka janganlah ia menuntut agar istrinya juga sempurna.

Akan tetapi sebagaimana perkataan penyair :

مَنْ ذَا الَّذِي تُرْضَي سَجَايَاه كُلُّهَا…كَفَى الْمَرْءَ نُبْلًا أَنَّ تُعَدَّ مَعَايِبُهُ

“Siapakah yang seluruh perangainya diridhoi/disukai…??

Cukuplah seseorang itu mulia jika aibnya/kekurangannya masih terhitung…”

 

Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 04-03-1433 H / 27 Januari 2011 M

Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja

Sumber: www.firanda.com

.

Jangan Hanya Bisa Menuntut

Jangan Hanya Bisa Menuntut

“Ingatlah wahai istriku, surgamu berada di bawah telapak kakiku….!!, kamu harus taat kepadaku…!!!”

Demikianlah ucapan yang mungkin terlontarkan dari mulut seorang suami yang menuntut istrinya agar menjadi seorang istri yang sholehah dan selalu nurut kepadanya. Ucapan yang dilontarkan suami tersebut adalah perkataan yang benar. Bukankah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا

“Kalau seandainya aku (boleh) memerintahkan seseorang untuk sujud kepada seorang yang lain maka akan aku perintahkan seorang wanita untuk sujud kepada suaminya” (HR AT-Thirmidzi no 1159, Ibnu Majah no 1853 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani (Lihat As-Shahihah no 3366)

Pernah ada seorang wanita yang datang menemui Nabi karena ada suatu keperluan, lantas Nabi berkata kepada wanita tersebut, هذه أذات بعل ؟ “Apakah engkau bersuami?”, wanita itu menjawab, “Iya”. Lantas Nabi bertanya lagi, كيف أنت له ؟”Bagaimana sikap engkau terhadap suamimu?, wanita itu berkata, ما آلوه إلا ما عجزت عنه “Aku berusaha keras untuk melayani dan taat kepadanya, kecuali pada perkara yang tidak aku mampui”. Nabi berkata, فانظري أين أنت منه ؟ فإنما هو جنتك ونارك “Lihatlah bagaimana engkau di sisinya, sesungguhnya suamimu itu surgamu dan nerakamu” (Hadits ini dishahihkan oleh Al-Hakim dan Al-Albani). Jika seorang wanita telah menikah maka surganya telah berpindah dari telapak kaki ibunya ke telapak kaki suaminya.

Akan tetapi kita bertanya kepada sang suami, apakah dia telah menunaikan seluruh tugas dan kewajibannya sebagai suami?, apakah dia sendiri adalah seorang suami yang sholeh dan berakhlak mulia? Apakah dia telah menunaikan hak-hak istrinya tersebut?
Kalau jawabannya adalah : “IYA”, maka jelas dia berhak untuk menuntut istrinya dengan kata-kata di atas.
Akan tetapi jika jawabannya : “TIDAK”, atau mungkin sang suami malu-malu untuk mengatakan tidak, sehingga dirubah jawabannya menjadi : “BELUM”, maka….sungguh sang suami ternyata hanya bisa menuntut.
Hendaknya sebelum dia menuntut dia bercermin terlebih dahulu…
Sebelum dia menununtut agar istrinya senantiasa berpenampilan ayu, apakah sang suami juga telah menjaga penampilannya dihadapan istrinya…??
Ataukah hanya menjaga penampilannya tatkala berhadapan dengan para sahabatnya??
Bukankah Allah berfirman

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ

Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. (QS Al Baqarah 228)

Syaikh Utsaimin rahimahullah berkata tatkala menafsirkan firman Allah
وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ (١)الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ (٢)وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ (٣)أَلا يَظُنُّ أُولَئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ (٤)لِيَوْمٍ عَظِيمٍ (٥)يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ (٦)
1. kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang
2. (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi,
3. dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.
4. tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa Sesungguhnya mereka akan dibangkitkan,
5. pada suatu hari yang besar,
6. (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?

“Permisalan ini yang Allah buat tentang ukuran dan timbangan adalah sebuah permisalan, dan permisalan ini bisa diqiaskan kepada perkara-perkara yang serupa dengannya. Setiap orang yang menuntut hak-haknya secara sempurna akan tetapi menunaikan tugasnya (tidak menunaikan hak orang lain) maka ia juga termasuk dalam ayat yang mulia ini.

Sebagai contoh seorang suami yang ingin agar istrinya menunaikan hak-haknya secara sempurna, dan agar sang istri perhatian dan tidak meremehkan hak-hak sang suami, akan tetapi sang suami sendiri meremehkan hak-hak istrinya, tidak memberikan hak-hak istrinya. Sungguh betapa banyak istri yang mengeluh dan mengadukan suami-suami yang semacam ini modelnya…

Demikian juga kita dapati sebagian orang menuntut agar anak-anaknya melaksanakan kewajibannya dengan sempurna sebagai anak terhadap orang tua, akan tetapi sang orang tua tidak menunaikan hak anak-anaknya dengan baik. Sang orang tua ingin agar anak-anaknya berbakti kepadanya dan melaksanakan tugas mereka sebagai anak di hadapan orang tua mereka, akan tetapi dia sang orang tua itu sendiri tidak memperhatikan anak-anaknya dengan baik, tidak menunaikan kewajibannya sebagai orang tua terhadap anak-anak. Orang yang seperti ini kita katakana juga sebagai Muthoffif (orang yang curang)” (lihat tafsir juz ‘amma)
Sebagaimana ayat ini merupakan ancaman keras yang berupa kecelakaan bagi para suami yang tidak menuaikan hak istri-istri mereka, demikian juga sebaliknya merupakan ancaman keras kepada para istri yang hanya bisa banyak menunutut kepada suami-suami mereka sementara mereka lupa untuk menunaikan hak-hak suami mereka yang sangat agung.

Sebagaimana perkataan Syaikh Utsaimin rahimahullah diatas bahwa yang termasuk dalam ayat ini adalah semua orang yang hanya bisa menuntut haknya namun tidak mau melaksanakan kewajibannya, dan tidak mau menunaikan hak orang lain. Kita dapati betapa banyak masyarakat yang menuntut agar negara bisa memberikan pelayanan dan fasilitas yang terbaik bagi masyarakat, bahkan hampir setiap kerusuhan dan kekacauan disandarkan kepada Negara –dan kita tidak tahu hakekat penyebab yang sebenarnya-, akan tetapi yang menjadi pertanyaan :”Apakah masyarakat para penuntut tersebut sudah melaksanakan keweajiban mereka sebagai warga Negara yang baik?, apakah mereka sudah menuaikan hak Negara (penguasa) dengan baik…?? Memang benar…, menuntut itu merupakan perkara yang mudah, anak kecilpun bisa melakukannya. Akan tetapi melaksanakan kewajiban dan menunaikan hak orang lain merupakan perkara yang tidak semudah dibayangkan.

Semoga Allah tidak menjadikan kita termasuk orang-orang yang curang yang terancam dengan kecelakaan. Aaamiiin

Sumber https://firanda.com/

.
Adab Berkendaraan

Adab Berkendaraan

Alhamdulilah, shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Dunia yang anda huni ini begitu luas. Di saat yang sama kebutuhan anda tidak terkumpul di satu tempat, namun tersebar di berbagai belahan bumi. Kondisi ini kadang menjadi sumber masalah tersendiri dalam kehidupan anda. Anda  terpaksa harus bepergian jauh agar dapat  memenuhi kebutuhan tersebut.

Coba anda bayangkan betapa susahnya nenek moyang anda ketika sebagian kebutuhan mereka hanya dapat dipenuhi di tempat yang jauh. Mereka harus bepergian, tentunya dengan moda transportasi yang sederhana. Bahkan tidak jarang mereka terpaksa harus bepergian tanpa sarana transportasi apapun. Perjalanan yang melelahkan dan menyedot banyak tenaga dan waktu. Ini membuktikan bahwa keberadaan moda transportasi sangat urgen bagi kehidupan anda.

Wajar bila Allah Ta’ala mengingatkan anda agar mensyukuri-Nya atas diciptakannya moda-moda transportasi bagi anda . Dengan demikian anda dapat berpindah dari satu tempat ke lainnya dengan mudah, cepat dan nyaman.

لَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلاً

“Sungguh Kami telah memuliakan anak keturunan Adam, dan membawa mereka di daratan dan di lautan. Kami memberi mereka rizki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas kebanyakan makhluq yang telah Kami ciptakan.”  Al Isra’ 70

Allah Ta’ala mengingatkan anda akan berbagai kenikmatan yang  telah Ia limpahkan kepada anda. Dimulai dari bentuk tubuh, akal pikiran, hingga berbagai kenikmatan yang melekat pada diri anda. Sebagaimana Allah juga telah menyiapkan berbagai tunggangan, baik ketika berjalan di daratan maupun di lautan.

Andai tiada hewan yang dapat anda tunggangi, lautan senantiasa bergelombang tinggi, atau tidak berombak, betapa susahnya hidup anda?.

Kendaraan Adalah Nikmat.

Kendaraan, baik yang klasik, semisal, kuda, pedati, andong atau yang moderen, motor, mobil, kapal, atau kereta adalah karunia Allah Ta’ala. Keimanan inilah yang membedakan anda dari para pengendara kendaran lainnya. Keimanan anda tentang kendaran ini, dapat dibuktikan pada beberapa hal berikut:

  1. Ikrar lisan.

Lisan anda adalah penerjemah bagi isi hati anda. Berbagai keyakinan dan juga perasaaan hati, berupa cinta, benci, dan sedih, biasanya anda utarakan melalui lisan anda. Bahkan menyimpan perasaan hati anda, dan tidak mengutarakannya adalah suatu pekerjaan sangat berat.

Wajar bila Islam mengajarkan kepada anda untuk mengespresikan iman anda tentang kendaraan anda dalam ucapan lisan. Allah Ta’ala berfirman:

وَالَّذِي خَلَقَ الْأَزْوَاجَ كُلَّهَا وَجَعَلَ لَكُم مِّنَ الْفُلْكِ وَالْأَنْعَامِ مَا تَرْكَبُونَ {12} لِتَسْتَوُوا عَلَى ظُهُورِهِ ثُمَّ تَذْكُرُوا نِعْمَةَ رَبِّكُمْ إِذَا اسْتَوَيْتُمْ عَلَيْهِ وَتَقُولُوا سُبْحانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ {13} وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنقَلِبُونَ

“Dan Yang telah menciptakan segala yang berpasang-pasang dan menjadikan untukmu kapal dan binatang ternak yang engkau tunggangi. Supaya engkau duduk di atas punggungnya kemudian engkau ingat nikmat Tuhanmu apabila kengkau telah duduk di atasnya, dan agar engkau mengucapkan : “Maha Suci Tuhan Yang telah menundukkan semua ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tiada menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami. Az Zukhruf  12-14

Ucapan lisan anda ini adalah bagian dari ekspresi syukur nikmat. Dengan demikian, ucapan lisan ini walau ringan dan mudah namun memiliki arti yang sangat penting, yaitu membedakan anda dari orang-orang yang kufur dan ingkar terhadap nikmat Allah Ta’ala.

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا خَلَقْنَا لَهُمْ مِمَّا عَمِلَتْ أَيْدِينَا أَنْعَامًا فَهُمْ لَهَا مَالِكُونَ {71} وَذَلَّلْنَاهَا لَهُمْ فَمِنْهَا رَكُوبُهُمْ وَمِنْهَا يَأْكُلُونَ {72} وَلَهُمْ فِيهَا مَنَافِعُ وَمَشَارِبُ أَفَلَا يَشْكُرُونَ

“Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakan binatang ternak untuk mereka, yaitu sebagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan  kekuasaan Kami sendiri, lalu mereka memilikinya. Dan Kami tundukkan binatang-binatang itu untuk kepentingan mereka, maka sebagiannya menjadi tunggangan mereka dan sebagiannya mereka makan. Padanya mereka memperoleh berbagai manfaat dan minuman. Maka mengapa mereka  tidak bersyukur.” Yasiin 71-73

Karena itu dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bila mengendarai kendaraan, beliau mencontohkan kita untuk mengucapkan:

سُبْحَانَ الَّذِى سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ ثُمَّ قَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ. ثَلاَثَ مَرَّاتٍ. ثُمَّ قَالَ: اللَّهُ أَكْبَرُ. ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ قَالَ: سُبْحَانَكَ إِنِّى ظَلَمْتُ نَفْسِى فَاغْفِرْ لِى فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ

“Maha suci Allah Yang telah menundukkan kendaraan ini untuk kami, padahal sebelumnya kami tiada menguasainya, dan kami pastilah akan kembali kepada Tuhan kami. Lalu beliau mengucapkan : Alhamdulillah 3 x, dilanjutkan dengan ucapan Allahu Akbar (takbir) 3 x,  dan ditutup dengan ucapan: “Maha Suci Engkau, sungguh aku telah banyak menzhalimi diriku sendiri, maka ampunilah hambamu ini, karena sesungguhnya tiada yang kuasa mengampuni dosa selain Engkau.” Riwayat Abu Dawud dan At Tirmizy.

  1. Menggunakan Kendaraan Pada Urusan Yang Baik.

Karena kendaraan andalah nikmat,maka sudah sepantasnya bila anda menggunakannya untuk urusan yang diridhai Allah. Layakkah bila anda menggunakan kenikmatan Allah untuk menjalankan kedurhakaan kepada-Nya?

لا تزول قدما عبد يوم القيامة حتى يسئل ……وعن ماله من أين اكتسبه وفيم أنفقه

“Kelak pada hari kiyamat, kedua kaki setiap hamba tidak akan bergeser hingga dimintai pertanggung jawaban tentang …… dan hartanya, dari mana ia memperolehnya dan kemana ia membelanjakannya.” Riwayat At Tirmizy

Kendaraan Adalah Sumber Kebanggaan.

Memiliki kendaraan, tentu mendatangkan kebahagian dan kebanggaan bagi anda, terlebih-lebih bila kendaran anda bagus. Allah Ta’ala berfirman:

وَالْخَيْلَ وَالْبِغَالَ وَالْحَمِيرَ لِتَرْكَبُوهَا وَزِينَةً وَيَخْلُقُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

“Dan kuda,  baghal (hewan hasil silang antara kudaa dan keledai), dan keledai untuk kalian tunggangi dan menjadi perhiasan bagimu. Dan Allah menciptakan apa (tunggangan-tunggangan lain) yang tidak kamu ketahui.” An Nahel 8.

Cermatilah saudaraku, bagaimana pada ayat ini, Allah mengutarakan bahwa kendaraan sebagai perhiasaan bagi anda. Ini mengisyaratkan bahwa ketika menunggangi kendaraan, anda semakin nampak tampan dan sempurna. Karena itu, sejak dahulu kala, umat manusia berbangga-bangga dengan kendaraan yang mereka miliki.

Fakta ini, tentu  rentan membangkitkan keangkuhan dan kesombongan pada diri anda. Terlebih-lebih ketika dengan kendaraan yang mewah anda melintasi orang yang lain yang sedang berjalan kaki. Bukankah demikian saudaraku?

Untuk mengikis habis kebanggaan dan keangkuhan yang tumbuh dalam hati anda, Islam mengajarkan anda untuk bersikap rendah hati. Kerendahan hati anda  dapat tercapai dengan beberapa hal:

  1. Mendahului pejalan kaki dengan ucapan salam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

)يُسَلِّمُ الرَّاكِبُ عَلَى الْمَاشِى ، وَالْمَاشِى عَلَى الْقَاعِدِ ، وَالْقَلِيلُ عَلَى الْكَثِيرِ(

“Hendaknya pengendara lebih dahulu mengucapkan salam kepada pejalan kaki, dan pejalan kaki labih dahulu mengucapkan salam kepada yang sedang duduk, dan yang berjumlah sedikit lebih dahuu mengucapkan salam kepada yang berjumlah banyak.” Muttafaqun ‘alaih

Ibnu Hajar Al Asqalani berkata: “Penunggang kendaraan dianjurkan untuk lebih dahulu mengucapkan salam, agar ia terhindar dari kesombongan karena kendaraan yang ia tunggangi. Dengan demikian ia dapat menjaga kerendahan hatinya.” (Fathul Bary 11/17).

Anda sedang berjalan kaki, dan tiba-tiba ada pengendara mobil mewah mengurangi kecepatan laju kendaraannya dan dengan suara yang santun mengucapkan salam kepada anda. Apa dan bagaimana kesan yang timbul dalam hati anda kala itu? Dan bagaimanakah perasaan anda bila orang lain dengan kendaraan mewahnya melintas dengan kecepatan tinggi. Terlebih bila pengendara tersebut adalah orang yang mengenal anda?

  1. Memboncengkan orang lain Yang membutuhkan.

Diantara bukti akan kerendahan hati anda ketika mengendarai kendaraan ialah dengan memboncengkan orang lain yang membutuhkannya. Terlebih-lebih bila tujuannya searah atau bedekatan dengan tempat tujuan anda.

Demikianlah dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melakukan dengan para sahabatnya ketika beliau menunggangi kendaraan. Diantaranya ketika beliau berkendaraan dari padang Arafah menuju Muzdalifah, beliau memboncengkan Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhu. Dan ketika esok harinya beliau memboncengkan sahabat Fadhel bin Abbas hingga tiba di mina. Dan pada lain kesempatan, beliau mengendari keledai dan memboncengkan sahabat Mu’ad bin Jabal di atasnya. Kedua kisah ini diriwayatkan oleh imam Bukhari dan Muslim

Syeikh Abdurrahman bin Hasan At Tamimi berkata: Pada kisah ini terdapat isyarat tentang kerendahan hati beliau. Beliau tidak merasa sungkan untuk mengendarai keledai dan memboncengkan orang lain . Tentu ini menyelisihi kebiasaan orang-orang yang bersifat angkuh lagi sombong. (Fathul Majid 47)

Kendaraan Dapat Menjadi Biang Petaka.

Di zaman kita, cerita tentang kecelakaan dan bencana karena kendaraan adalah sajian setiap hari. Dimulai dari pesawat jatuh, tabrakan kereta api, kendaran, hingga berbagai sial lainnya yang menimpa umat manusia akibat kendaraan . Ketika membaca apalagi menyaksikan kisah-kisah tersebut, anda menjadi merinding ketakutan dan menjadi mungkin juga gentar untuk mengendari kendaraan.

Kesadaran akan fenomena ini sudah barang tentu menuntut anda untuk bersikap waspada dan hati-hati ketika mengendarai kendaraan. Semua itu bertujuan agar kendaraan menjadi nikmat dan bukan sumber petaka.

Walau demikian, fakta telah membuktikan bahwa kesadaraan saja tidak cukup. Betapa banyak orang yang telah sadar akan hal tersebut, sehingga berlaku waspada, namun tetap saja menuai celaka dari kendaraannya. Kenyataan ini tentu menjadikan anda bertanya-tanya: mengapa semua ini dapat terjadi?

Jawabannya hanya ada satu: seluruh makhluq tunduk kepada kehendak Allah Ta’ala. Allah kuasa untuk menimpakan kecelakaan kepada siapa saja yang Ia kehendaki. Dan sebaliknya, Allah pun kuasa untuk menyelamatkan siapa saja yang ia kehendari. Betapa banyak orang yang megalami kecelakaan kendaraan, namun ia selamat tanpa mengelami luka sedikitpun.

Allah Ta’ala telah mengingatkan kita akan fenomena ini dalam firmannya:

(وَخَلَقْنَا لَهُم مِّن مِّثْلِهِ مَا يَرْكَبُونَ {42} وَإِن نَّشَأْ نُغْرِقْهُمْ فَلَا صَرِيخَ لَهُمْ وَلَا هُمْ يُنقَذُونَ {43} إِلَّا رَحْمَةً مِّنَّا وَمَتَاعًا إِلَى حِينٍ {44

“Dan Kami ciptakan untuk mereka apa yang dapat mereka kendarai seperti bahtera itu (bahtera nabi Nuh ‘alaihissalam). Dan jika Kami menghendaki, niscaya Kami tenggelamkan mereka, maka tiada yang kuasa menolong mereka, dan tidak pula mereka dapat diselamatkan. Tetapi (Kami selamatkan mereka) karena rahmat yang besar dari Kami dan untuk memberi kesenangan hidup hingga suatu waktu.”  Yasiin 42-44.

Dan pada ayat lain Allah berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ الْجَوَارِ فِي الْبَحْرِ كَالْأَعْلَامِ {32} إِن يَشَأْ يُسْكِنِ الرِّيحَ فَيَظْلَلْنَ رَوَاكِدَ عَلَى ظَهْرِهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ {33} أَوْ يُوبِقْهُنَّ بِمَا كَسَبُوا وَيَعْفُ عَن كَثِيرٍ

“Dan diantara tanda-tanda kekuasan-Nya ialah kapal-kapal yang berlayar di lautan yang menjulang bak gunung. Jika Dia kehendaki, maka Dia kuasa untuk menjadikan angin diam tidak berhembus, maka jadilah kapal-kapal itu terhenti di permukaan air laut. Sesungguhnya pada yang demikianitu terdapat tanda-tanda kekuasaan-Nya bagi setiap orang yang banyak bersabar dan banyak bersyukur. Atau Ia membinasakan kapal-kapal itu, akibat dari ulah mereka, dan Dia mengampuni sebagian besar dari mereka. As Syura 32-33.

Mungkin ini yang mendasari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  mengajarkan kita agar memohon perlindungan kepada Allah dari sial kendaraan.

إِذَا تَزَوَّجَ أَحَدُكُمُ امْرَأَةً أَوِ اشْتَرَى خَادِمًا فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَمِنْ شَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ وَإِذَا اشْتَرَى بَعِيرًا فَلْيَأْخُذْ بِذِرْوَةِ سَنَامِهِ وَلْيَقُلْ مِثْلَ ذَلِك.

“Bila engkau menikahi seornag wanita atau membeli seorang budak, hendaknya ia berdoa: “Ya Allah aku memohonn kepadamu untuk mendapatkan kebaikannya dan kebaikan perangai yang telah Engkau ciptakan padanya. Dan aku juga berlindung denganmu dari kejelekannya dan kejelekan perangai yang telah Engkau ciptakan padanya.  Dan bila engkau membeli seekor onta, hendaknya engkau memegang ujung punuknya, dan ucapkan doa yang serupa. Riwayat Abu Dawud.

Mengendarai Kendaraan Di Jalan Yang Lurus Dan Benar.

Untuk dapat tiba di tempat tujuan anda, tentu anda memilih kendaraan yang bagus dan berjalan di jalan yang benar. Bayangkan apa yang akan menimpa anda bila mengendarai kendaraan yang bobrok, berjalan di jalan yang buruk, ditambah lagi melanggar aturan lalu lintas. Celakalah yang akan anda alami.

Anda bersikap selektif dalam memilih kendaraan, mengindahkan rambu-rambu lalu lintas, dan menempuh jalan yang benar, guna mencapai tujuan anda di dunia ini. Padahal bila anda tersesat masih ada kesempatan untuk kembali dan mencari jalan alternatif.  Maka sikap yang sama sudah sepantasnya anda lakukan ketika anda melakukan perjalanan guna encapai tujuan anda di kehidupan akhirat.

Karena itu, seusai menyebutkan kendaraaan dunia, Allah mengingatkan anda tentang pentingnya memilih jalan yang benar agar sampai ke tujuan anda dalam kehidupan akhirat. Selektiflah dalam memilih jalan hidup akhirat sebagaimana anda selektif dalam memilih jalan ketika berkendaraan di dunia.

(وَعَلَى اللّهِ قَصْدُ السَّبِيلِ وَمِنْهَا جَآئِرٌ وَلَوْ شَاء لَهَدَاكُمْ أَجْمَعِينَ)

“Dan hanya hak Allah (menerangkan ) jalan yang lurus dan di antara jalan-lajan ada yang  bengkok. Dan jikalau Dia menghendaki , tentulah Dia membimbing kalian semua menujua jalan yang benar.” An Nahel 9.

(وَأَنَّ هَـذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُواْ السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ)

“Dan bahwa yang Kami perintah ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kemu mengikuti jalan-jalan lain, karena jalanjalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.”  Al An’am 153.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan hal yang sama:

عنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّ ثُمَّ قَالَ هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ هَذِهِ سُبُلٌ قَالَ يَزِيدُ مُتَفَرِّقَةٌ عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ

“Sahabat Ibnu Mas’ud mengisahkan: Pada suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat satu garis, lalu beliau bersabda: ini adalah (permisalan) jalan Allah. Selanjutnya beliau membuat beberapa garis dari sisi kanan dan kiri garis tersebut, lalu beliau bersabda: Inii adalah jalan-jalan yang bercerai berai, pada setiap jalan terdapat setan yang menyeru manusia kepadanya.  Riwayat Ahmad.

Karenanya selektiflah saudaraku dalam memilih jalan, sebagaimana anda selektif dalam memilih jalan ketika berkendara. Sikap asal ikut-ikutan orang lain dalam memilih jalan sering kali mencelakaan anda ketika berkendara di dunia, demikian juga halnya dengan jalan akhirat anda. Bila pengendara di depan anda ugal-ugalan, akankah anda mengikutinya, hanya kerena ia lebih mahir dalam mengendarai kendaraan? Demikian pula halnya dengan jalan akhirat, akankah anda mengikuti orang lain yang anda kira lebih mahir dalam beragama tanpa memikirkan alasan dan dalilnya?

 

Penutup:

Saudaraku! Berkendara adalah kenikmatan yang sepantasnya anda syukuri. Dan Kendaraan adalah sarana untuk anda guna memudahkan keperluaan anda. Namun apa guna kendaraan bila ternyata mencelakakan anda dan mendatangkan petaka? Karena itu berhati-hatilah, dan jadikanlah sikap anda ketika berkendaraan sebagai cerminan bagi sikap anda dalam beragama. Dengan demikian, anda sampai di tujuan yang anda dambakan, baik di dunia atau di akhirat. Semoga Allah memberkahi kendaraan anda dan menghantarkan anda tiba di tempat tujuan dengan lancar dan selamat. Wallahu a’alam bisshawab.

 

Sumber: https://arifinbadri.com

 

.