Kenalilah Siapa Dia : Tips Memilih Teman Akrab

Kenalilah Siapa Dia : Tips Memilih Teman Akrab

Dalam melewati lorong waktu hidupmu, menyusuri jalan yang penuh liku dan tipu daya, tak sedikit pula duri tajam dan bukit terjal yang siap meluluhlantakkan semangat mencari kebenaran ilahi. Tentunya ini tidak mudah engkau lalui sendiri; engkau butuh seorang teman. Bersamanya engkau bisa saling membantu, bahu-membahu menuju akhir perjalanan hidupmu. Namun tidak berhenti sampai di sini. Mengapa?

Teman itu layaknya cermin, jika engkau ingin mengetahui dirimu, lihatlah dengan siapa engkau berteman. Rasul shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

المؤمن مر آه (اخيه)المؤمن

Seorang mukmin merupakan cerminan saudaranya yang mukmin.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad, no. 239; Abu Dawud, no.4918 [Ash-Shahihah, no. 926])

Memilih teman bukanlah perkara remeh, Islam memerintahkan kita untuk memilih siapa yang menjadi teman kita. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

المرء على دين خليله فلينظر احدكم من يخالل

Seseorang itu berada pada agama teman karibnya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat siapakah yang dia jadikan teman karibnya.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ahmad)

Ketahuilah bahwa tidak semua orang layak dijadikan teman karib. Karena itu, orang yang dijadikan teman karib harus memiliki sifat-sifat yang memang menunjang persahabatan:

1. Berakidah lurus dan bermanhaj ahlus sunnah wal jama’ah

Ini menjadi syarat mutlak memilih teman karib. Kita semua tahu kisah kematian Abu Thalib, paman Rasulullah ‘alaihish shalatu was salam. Dalam keadaan terbaring menghadapi kematiannya, ada tiga orang yang menyertainya, mereka adalah Rasulullah ‘alaihish shalatu was salam, Abu Jahl, dan Abdullah bin Abi Umayyah. Dua orang terakhir itu adalah tokoh kafir Quraisy.

Rasulullah mengatakan, “Paman, katakan ‘laa ilaha illa llah‘! Satu kalimat yang akan aku jadikan bahan pembelaan bagimu di hadapan Allah.”

Sedangkan dua tokoh kafir itu menimpali, “Abu Thalib, apakah kamu membenci agama Abdul Muthalib?”

Tanpa henti Rasul ‘alahi shalatu wa salam menawarkan kalimat itu, namun dua tokoh kafir pun terus mempengaruhi. Sampai akhirnya Abu Thalib enggan mengucap laa ilaha illallah dan tetap memilih agama Abdul Muthalib. Ia pun mati dalam kekufuran. (Lihat hadits riwayat Al-Bukhari, no.1360; Muslim, no.131; An-Nasai, no. 2034)

Cobalah lihat buruknya pengaruh orang-orang yang ada di sekitarnya! Padahal Abu Thalib sudah membenarkan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam hatinya.

2. Orang yang berakal

Karena akal/kepandaian merupakan modal yang utama. Tidak ada kebaikan bergaul dekat dengan orang bodoh, karena bisa saja dia hendak memberikan manfaat kepadamu tapi justru memberi madharat. Yang dimaksud “orang berakal” dalam konteks ini adalah orang yang mengetahui segala urusan sesuatu sesuai dengan proporsinya. Manfaat bisa diambil dari dirinya atau dari pemahaman yang diberikannya.

3. Baik akhlaknya

Ini merupakan keharusan sebab berapa banyak orang berakal yang dirinya lebih banyak dikuasai amarah dan nafsu, lalu dia tunduk padanya sehingga tidak ada manfaat bergaul dengannya.

4. Bukan orang fasik

Orang fasik tidak pernah merasa takut kepada Allah. Orang yang tak takut kepada Allah tentu sulit dipercaya. Selain itu, sewaktu-waktu orang lain tidak aman dari tipu dayanya.

5. Bukan ahli bid’ah

Persahabatan dengannya harus dihindari karena bid’ah yang dilakukannya.

6. Taat beribadah dan menjauhi perbuatan maksiat

واصبر نفسك مع الذين يدعون ربهم با الغداة والعشي يريدون وجحه

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di waktu pagi dan senja hari dengan mengharap keridhoannya.” (QS. Al-Kahfi : 28)

7. Banyak ilmu atau dapat berbagi ilmu dengannya

Berteman dekat dengan orang yang punya dan mengamalkan ilmu agama akan memberi pengaruh positif yang besar pada diri seseorang.

8. Tidak rakus dunia

Itulah sebagian sifat-sifat teman karib yang harus engkau perhatikan. Jangan sampai dirimu salah memilih sehingga engkau menyesal di dunia atau pun di akhirat.

الْأَخِلَّاء يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

Teman -teman akrab pada hari itu sebagian menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf : 67)

Rujukan:


*) Catatan dari penulis: Pengambilan hadits dari buku dan sumber lainnya, bukan dari kitab aslinya.

 

 

Penulis: Ike Purnama Dewi Yuli (Ummu Hanif Al-Fatih)
Murojaah: Ustadz Abu Hatim Sigit

Sumber: https://muslimah.or.id/

Tuntunan agar Si Kecil Pandai Berinteraksi Sosial

Tuntunan agar Si Kecil Pandai Berinteraksi Sosial

Si kecil si buah hati hadir di tengah kita. Dari alam kesendirian ia datang ke dunia, untuk hidup dan berinteraksi dengan orang-orang yang ada di sekitarnya. Kita pasti mengharapkan buah hati kita bisa hidup dalam tatanan masyarakat secara serasi dan seimbang, pandai berhubungan dan berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya, jauh dari sikap individualistis dan mengasingkan diri dari pergaulan.

Agar si kecil pandai berinteraksi sosial, mari kita melihat petunjuk dan wejangan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, serta contoh dan teladan para shahabat radhiyallahu ‘anhum, yang mengajarkan kepada kita cara mendidik anak dalam bergaul di masyarakat.

1. Membawa anak menghadiri majelis orang dewasa

Di antara kebiasaan para shahabat radhiyallahu ‘anhum: seorang ayah membawa anaknya ke majelis Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Umar radhiyallahu ‘anhu menghadiri majelis Rasulullah bersama anaknya, Abdullah.

أَخْبِرُونِى بِشَجَرَةٍ مَثَلُهَا كمَثَلُ الْمُسْلِمِ، تُؤْتِى أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ، بِإِذْنِ رَبِّهَا، وَلا تَحُتُّ وَرَقَهَا. (قال ابن عمر) فَوَقَعَ فِى نَفْسِى أَنَّهَا النَّخْلَةُ، فَكَرِهْتُ أَنْ أَتَكَلَّمَ وَثَمَّ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ

Ibnu umar berkata, “Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Pohon apa yang perumpamaannya seperti seorang muslim; memberi manfaat kepada orang lain dan tidak gugur daun-daunnya?’” Ibnu Umar berkata, “Terbersit di hatiku bahwa pohon itu adalah pohon kurma. Tapi aku tidak senang berbicara mendahului Abu Bakar dan Umar.” (HR. Bukhari, no. 148)

Dengan membawa si kecil ke majelis orang tua, akan tampak kekurangan dan kebutuhan kita dalam mentarbiyah anak. Ini menjadi motivasi bagi orang tua untuk lebih meningkatkan usahanya dalam mencapai kesempurnaan.

Dengan hadirnya mereka di majelis, kita mendorong mereka ikut menjawab pertanyaan yang diberikan di majelis. Anak akan belajar cara berbicara setelah diizinkan dengan tenang dan penuh adab. Dengan demikian, pikirannya akan berkembang dan jiwanya pun beradab. Mereka belajar tentang pembicaraan orang dewasa sedikit demi sedikit, sampai akhirnya siap terjun ke masyarakat.

2. Menyuruhnya untuk suatu keperluan

Seorang anak yang kita beri kepercayaan untuk mengerjakan sesuatu akan merasa senang karena dihargai. Selain itu, rasa percaya dirinya akan tumbuh sejak kecil. Ia akan berkenalan dengan hal-hal yang semula tidak diketahuinya. Alhasil, pada masa mendatang ia sanggup melakukan tugas tersebut karena sudah mempunyai pengalaman sebelumnya semasa kecil.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Suatu hari saya membantu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, sampai pekerjaan itu selesai. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tidur sebentar, sehingga saya keluar ke tempat anak anak yang sedang bermain. Saya mendatangi mereka untuk melihat permainan mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dan memberi salam kepada anak-anak yang bermain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggilku dan mengutusku untuk suatu keperluan. Saya melaksanakan perintahnya.” (HR. Ahmad, no. 13022)

Contoh perintah yang bisa kita jadikan ajang latihan bagi anak adalah meletakkan makanan di meja. Hal ini agar mereka ikut berpartisipasi membantu orang tuanya dalam bekerja. Tugas-tugas yang kita berikan tidak akan pernah dilupakan si kecil dan dia akan bercerita tentangnya ketika mereka besar kelak.

Dengannya, mereka akan tumbuh menjadi sosok yang amanah dan peduli dengan orang lain. Apalagi jika mereka berhasil melaksanakan tugas dengan baik, kita memujinya sebagai bentuk penghargaan kita dan kasih sayang kita kepadanya.

3. Membiasakannya mengucapkan salam

Salam adalah tahiyat, yaitu salam penghormatan di antara kaum muslimin. Anak kita senantiasa bertemu dan bergaul dengan teman-temannya dari berbagai kalangan masyarakat. Hal ini menuntut kita untuk mengajarkan kepada mereka kata pembuka yang harus mereka ucapkan .

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan cara yang lembut dalam mengajarkan sunnah salam kepada anak-anak. Caranya, kita terlebih dulu yang memberikan salam kepada mereka sampai mereka terbiasa mendengarnya. Selanjutnya, mereka yang akan memulai duluan.

Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan bahwa shahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu melewati anak-anak. Dia mengucapkan salam kepada mereka. Dia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan hal itu.” (HR. Al-Bukhari, no. 17)

Imam Ibnu Baththal rahimahullah berkata, “Ucapan salam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada anak-anak menunjukkan ketawadhuan, akhlak yang agung, dan sifat beliau yang mulia. Hal tersebut juga merupakan pembiasaan terhadap sunnah dan melatih anak-anak dengan adab yang mulia, sehingga jika mereka baligh nanti akan mereka akan beradab dengan adab Islam.” (Syarah Shahih Al-Bukhari, 9:27)

4. Memilihkan teman pergaulan yang baik baginya

Sudah menjadi fitrah manusia hidup bercampur dengan manusia yang lain dan saling membutuhkan satu sama lain. Begitu pula halnya dengan seorang anak; ia butuh teman yang dekat dengannya, teman bermain, teman belajar, atau teman untuk melewati lika-liku masa kecil bersama.

Orang tua yang cerdik akan memilih teman terbaik buat anaknya, karena hakikatnya ia telah membuka pintu tarbiyah dalam memperbaiki anaknya. Seorang teman yang shalih akan membantu anaknya dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengajarkannya akhlak mulia.

Mari kita lihat kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bemain bersama teman-temannya semasa kecilnya, dan beliau melewati anak-anak yang sedang bermain sementara beliau adalah seorang rasul utusan Allah. Beliau mengucapkan salam kepada mereka, lembut kepada mereka, dan melihat mereka bermain bersama-sama, namun tidak mengusir dan tidak melarang mereka. Semua ini menunjukkan semangat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam agar seorang anak hidup bermasyarakat bersama anak lain serta menjauhi sikap individualistis.

5. Membawanya ke acara-acara yang tidak melanggar syariat

Di acara pesta akan berkumpul banyak orang, anak-anak akan berkumpul dan saling berkenalan. Mereka akan menyaksikan orang tua dan anak-anak bergembira bersama, mendengarkan pembicaraan mereka, dan menyaksikan acara pesta yang indah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat hadirnya anak-anak di acara pernikahan. Beliau membolehkannya serta menyambut kedatangan mereka, dan tidak mengingkarinya. Beliau mendoakan kebaikan untuk seluruh orang yang hadir, termasuk juga untuk anak-anak.

6. Bermalam di rumah kerabat yang shalih

Ketika anak keluar dari rumahnya menuju rumah sepupu atau paman atau kakeknya – yang merupakan keluarga islami – maka itu merupakan bentuk latihan bagi sang anak dalam bergaul dengan keluarga yang lain selain ibu, bapak, dan saudaranya. Mereka akan mengambil faedah dari keshalihan kerabatnya itu, berupa ilmu, ketakwaan, dan ibadah.

Hal ini akan menambah rasa cinta dengan keluarga serta membawa pengaruh yang baik jika si anak besar nanti. Anak tersebut akan mengingat masa bermalamnya bersama sang sepupu atau bersama sang kakek, dan ia diajak untuk beribadah bersama mereka.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Saya bermalam di rumah bibiku, Maimunah binti Al-Harits, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Al-Bukhari, no. 53)

Dalam riwayat ini, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu mengajarkan kepada para anak untuk bersemangat bemalam di rumah kerabatnya yang shalih serta mengambil faedah dari mereka. Wallahu a’lam.

Maraji’:

  • Syarah Shahih Al-Bukhari, Imam Ibnu Baththal.
  • At-Tarbiyah Nabawiyah lit Thifl, Muhammad bin Nur bin Abdul Hafizh.

 

Penulis : Annisaa Kumanireng (Ummu ‘Abdillah)
Murajaah : Ustadz Sanusin Muhammad Yusuf, M.A.

Sumber: https://muslimah.or.id/

Keutamaan Mendamaikan Anak-Anak Yang Berseteru

Keutamaan Mendamaikan Anak-Anak Yang Berseteru

Ditanyakan kepada Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah Ar Rajihi hafizhahullah, “apakah mendamaikan anak-anak yang saling berseteru itu termasuk mendapatkan keutamaan mendamaikan antara dua orang yang berselisih? Karena ketika mengajar di sekolah sering terjadi perselisihan antar para siswa”.

Beliau menjawab,

هذا يصح بين التلاميذ، أو بين العمال، أو بين الشرطة، أو بين أي متخاصمين. وفق الله الجميع، ورزق الجميع العلم النافع والعمل الصالح، صلى الله على محمد

“ya benar, keutamaan tersebut sah dalam mendamaikan perselisihan antar siswa, atau antar pegawai, atau antar polisi, atau siapa saja yang saling berselisih. Semoga Allah memberikan kepada kita semua ilmu yang bermanfaat dan amal yang shalih. Shallallahu ‘ala Muhammad” (Sumber: http://shrajhi.com/Fatawa/ID/470).

Mendamaikan dua orang yang berselisih adalah sedekah. Sebagaimana hadits:

كُلُّ سُلاَمَى مِنَ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ، كُلُّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيْهِ الشَّمْسُ تَعْدِلُ بَيْنَ اثْنَيْنِ صَدَقَةٌ، وَتُعِيْنُ الرَّجُلَ فِي دَابَّتِهِ فَتَحْمِلُهُ عَلَيْهَا أَوْ تَرْفَعُ لَهُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ، وَبِكُلِّ خُطْوَةٍ تَمْشِيْهَا إِلَى الصَّلاَةِ صَدَقَةٌ وَ تُمِيْطُ اْلأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ صَدَقَةٌ

”Setiap persendian manusia ada hak untuk dikeluarkan sedekahnya setiap hari, di mana matahari terbit di dalamnya. Engkau mendamaikan di antara dua orang yang berselisih itu adalah sedekah, engkau membantu seseorang untuk naik ke atas kendaraannya atau mengangkatkan barangnya di atasnya itu adalah sedekah, kalimat yang baik itu adalah sedekah, pada tiap-tiap langkah yang kamu tempuh menuju shalat itu adalah sedekah, dan engkau membuang gangguan dari jalan itu adalah sedekah” (HR. Al-Bukhari no.2989, Muslim no.1009).

Simak penjelasan lebih lengkap hadits ini, silakan simak di sini.

Penyusun: Yulian Purnama

Sumber: https://muslimah.or.id/

Memperhatikan Orang Lemah, Sebab Kemenangan

Memperhatikan Orang Lemah, Sebab Kemenangan

Dari Mush’ab bin Sa’ad, beliau berkata bahwa Sa’ad radhiyallahu’anhu memandang dirinya memiliki keutamaan di atas yang lainnya (dari para sahabat). Maka Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Bukankah kalian ditolong (dimenangkan) dan diberi rezeki melainkan dengan sebab orang-orang yang lemah di antara kalian?”.

Takhrij hadits

Hadits ini shahih, dikeluarkan olehal Imam Al Bukhari, di dalam Shahih-nya, Kitab al Jihad was-Siyar, Bab Man Ista’ana bidh- Dhu’afa-i wash Shalihina fil-Harbi, nomor (2896) dari jalan Muhammad bin Thalhah, dari Thalhah, dari Mush’ab bin Sa’ad.

Kosa kata

  • (رَأَى), yakni, melihat atau memandang. Maksudnya adalah ظَنَّ, yakni menyangka atau mengira. Sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat an Nasa-i.1
  • (عَلَى مَنْ دُونَهُ), yakni, di atas yang lainnya dari para sahabat Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, baik berupa keberaniannya, atau kelebihan hartanya, atau pun keutamaan lainnya secara umum.2

Penjelasan Hadits

Hadits ini, menjelaskan kepada kita bahwa orang-orang yang lemah merupakan sumber kebaikan, kekuatan dan kemenangan umat Islam. Hal ini dijelaskan juga dalam hadits shahih lainnya dari Abu ad-Darda’a, beliau berkata:

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ :ابْغُونِي الضُّعَفَاءَ فَإِنَّمَا تُرْزَقُونَ وَتُنْصَرُونَ بِضُعَفَائِكُمْ

Aku mendengar Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Carikan untukku orang-orang yang lemah, karena sesungguhnya kalian diberi rezeki dan ditolong (dimenangkan) dengan sebab orang-orang yang lemah (di antara) kalian”.3

Namun, satu hal yang perlu kita pahami dari hadits ini, bahwa tertolongnya dan menangnya kaum Muslimin bukanlah dengan sebab dzat dan kedudukan atau kehormatan orang-orang shalih yang lemah dan miskin dari kaum Muslimin semata. Namun hal itu karena doa, shalat, dan keikhlasan mereka dalam beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Al Hafizh Ibnu Hajar al ‘Asqalani rahimahullah berkata, “Ibnu Baththal berkata, penafsiran (makna) hadits ini adalah, orang-orang yang lemah itu jauh lebih ikhlas dalam berdoa (kepada Allah), dan mereka lebih khusyu’ dalam beribadah (kepada Allah). Karena tidak terdapat dalam hati mereka ketergantungan terhadap perhiasan dunia”.4

Syaikh al Albani rahimahullah berkata,”… Hadits ini (dengan lafazh yang dikeluarkan oleh al Imam an- Nasa-i) menjelaskan bahwa kemenangan yang dimaksud, hanyalah dengan sebab doa orang-orang yang shalih, bukan dengan sebab dzat dan kedudukan mereka … Sehingga, dengan demikian kita bisa mengetahui dan memahami bahwa maksud dari tertolongnya kaum Muslimin dengan orang-orang yang shalih adalah dengan sebab doa, shalat, dan keikhlasan mereka.”5

Al Imam Abdur-Ra’uf al Munawi rahimahullah berkata:

(Makna hadits ini) ialah, dengan sebab doa mereka dan keikhlasan mereka. Karena ibadah orang-orang yang lemah lebih ikhlas, dengan sebab kosongnya hati mereka dari ketergantungan terhadap dunia, juga dengan sebab bersihnya hati mereka dari apa-apa yang memutuskan hubungan mereka dengan Allah. Sehingga, tujuan dan konsentrasi mereka tertuju pada satu hal saja (dalam beribadah kepada Allah). Maka, sucilah amal-amal ibadah mereka, dan dikabulkanlah doa mereka. Adapun sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam “dengan sebab doa mereka“, hal ini sama sekali tidak berarti kelemahan dan kemiskinan menunjukkan tidak adanya kekuatan pada tubuh mereka. Juga tidak berarti kelemahan dan kemiskinan menunjukkan tidak adanya kekuatan untuk melakukan perintah-perintah Allah! Maka, hal ini sama sekali tidak bertentangan dengan hadits-hadits yang diterangkan di dalamnya pujian terhadap orang-orang yang kuat, tidak juga hadits yang menjelaskan bahwa “orang beriman yang kuat lebih dicintai Allah daripada orang beriman yang lemah“.

Beberapa Pelajaran dari Hadits ini.6

1. Orang-orang yang lemah merupakan sumber kebaikan umat Islam. Karena sesungguhnya, walaupun tubuh mereka lemah, namun keimanan mereka kuat. Demikian pula keyakinan dan kepercayaan mereka (kuat) kepada Rabb. Mereka pun tidak peduli terhadap kepentingan pribadi dan tujuan-tujuan keduniaan. Dengan sebab inilah, maka apabila mereka berdoa dengan ikhlas, Allah pun mengabulkan doa mereka. Allah juga memberi rezeki kerpada umat ini dengan sebab (doa) mereka.

2. Hadits ini mengandung anjuran untuk tawadhu’ (merendah hati) dan tidak sombong kepada orang lain.

3. Hadits ini mengandung (penjelasan) hikmah Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dalam merubah kemungkaran, melunakkan hati orang lain, dan mengarahkannya kepada apa-apa yang Allah cintai dan Allah ridhai.

Demikianlah, mudah-mudahan tulisan singkat ini bermanfaat, bisa menambah iman, ilmu, dan amal shalih kita semua. Amin.

Wallahu A’lam bish-Shawab.

Catatan kaki

1 Lihat Fat-hul Bari (6/89).

2 Lihat Fat-hul Bari (6/89),

3 Hadits shahih riwayat Abu Dawud (3/32 no. 2594), at-Tirmidzi (4/206 no. 1702), an-Nasa-i (6/45 no. 3179), Ahmad (5/198), dan lain-lain. Lihat pula as-Silsilah ash-Shahihah (2/408 no. 779).

4 Fat-hul Bari (6/89).

5 At-Tawassul, Anwa’uhu wa Ahkamuhu, halaman 114-115.

6 Lihat Bahjatun-Nazhirin Syarhu Riyadhish-Shalihin (1/355).

Penulis : Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.

Sumber: https://muslimah.or.id/

Wajah Ceria Saat Bertemu Suami

Wajah Ceria Saat Bertemu Suami

Saudariku, salah satu hal yang membuat suami merasa bahagia saat pulang ke rumah menemui istrinya adalah ketika istri itu menampilkan wajah yang ceria dan bahagia. Walaupun suami pergi dalam waktu yang singkat, tapi si istri bersikap perhatian penuh cinta dan rindu seakan suami telah pergi jauh darinya. Tak diragukan jika senyum yang manis dari seorang istri memiliki peran dan pengaruh besar dalam memberikan ketenangan batin suami. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

لا تحقرن من المعروف شيئاً ولو أن تلقى أخاك بوجه طليق

“Janganlah engkau menganggap remeh perbuatan baik sedikit pun, meskipun engkau berjumpa saudaramu dengan wajah berseri-seri” (HR. Muslim 6857)

Begitulah saudariku, percayalah bahwa keceriaan wajah dan senyummu akan mendapatkan balasan pahala yang berlimpah seperti yang telah disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

تَبَسُّمُكَ فِى وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ

“Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah” (Shahih Ibnu Hibban  475)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda

ثلاث يصفين لك ود أخيك أن تسلم عليه إذا لقيته وتوسع له في المجلس وتدعوه بأحب أسمائه إليه

“Ada tiga hal yang menunjukkan kasih sayangmu terhadap saudaramu, yaitu dengan mengucapkan salam saat engkau bertemu, meluaskan tempat duduk untuknya dan memanggilnya dengan panggilan yang paling disukainya.” (HR Thabrani dalam Mu’jamul Ausath 8604)

Saudariku, engkau telah mengetahui dari adab-adab Nabi yang mulia ini tentang bagaimana membahagiakan sang suami dan berwajah ceria saat bertemu dan bermuamalah dengannya. Dengan wajahmu yang manis, ceria, dan cantik jelita saat bertemu sang suami maka kau akan selalu terngiang-ngiang di hatinya.

Namun bukan berarti sang suami bebas menemui istrinya kapan pun. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seorang laki-laki yang dalam perjalanan lalu pulang mendatangi keluarga dan istrinya pada malam hari tanpa memberi tahu istrinya terlebih dahulu. Sebab dikhawatirkan sang suami akan bertemu dengan istrinya dalam keadaan yang belum siap dan tidak disukai oleh suami. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

حتى تمتشط الشعثة , وتستحد المغيبة

“Hingga ia (istri) sedang menyisir rambutnya yang berantakan dan menggunakan (sisir) besi (untuk meluruskannya).” (Shahih Ibnu Hibban 2769)

Saudariku, nasihat yang telah diberikan Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam ini menunjukkan betapa agama Islam menginginkan seorang istri selalu berada dalam penampilan yang paling cantik karena hal ini akan melahirkan ketenangan dan keyakinan bagi sang suami.

===

Diketik ulang dari buku Memikat Hati Suami (Judul Asli: Kaifa Tashilina ila Qalbi Zaujik?), Imad Al Hakim, Penerbit Insan Kamil

Sumber: https://muslimah.or.id/

Hati-hati dengan Lisan

Hati-hati dengan Lisan

Saudaraku, seringkali lisan ini tergelincir mengucapkan kata-kata kotor, mencela orang lain, membicarakan orang lain padahal dia tidak senang untuk diceritakan, bahkan seringkali lisan ini mengucapkan kata-kata yang mengandung kesyirikan dan kekufuran.

Harusnya setiap muslim mengoreksi diri dalam setiap tingkah lakunya, apalagi dalam perkara lisannya, yang begitu enteng mengucapkan sesuatu karena keluar dari lidah yang tak bertulang.

Ingatlah saudaraku, setiap yang kita ucapkan, mencakup perkataan yang baik, yang buruk juga yang sia-sia akan selalu dicatat oleh malaikat yang setiap saat mengawasi kita. Seharusnya kita selalu merenungkan ayat berikut agar tidak serampangan mengeluarkan kata-kata dari lisan ini. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), ”Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf [50] : 18). Ucapan dalam ayat ini bersifat umum. Oleh karena itu, bukan perkataan yang baik dan buruk saja yang akan dicatat oleh malaikat, tetapi termasuk juga kata-kata yang tidak bermanfaat atau sia-sia. (Lihat Tafsir Syaikh Ibnu Utsaimin pada Surat Qaaf)

Kita dapat melihat contoh ulama yang selalu menjaga lisannya bahkan sampai dalam keadaan sakit. Imam Ahmad pernah didatangi oleh seseorang dan beliau dalam keadaan sakit. Kemudian beliau merintih karena sakit yang dideritanya. Lalu ada yang berkata kepadanya (yaitu Thowus, seorang tabi’in yang terkenal), “Sesungguhnya rintihan sakit juga dicatat (oleh malaikat).” Setelah mendengar nasehat itu, Imam Ahmad langsung diam, tidak merintih. Beliau takut jika merintih sakit, rintihannya tersebut akan dicatat oleh malaikat. (Silsilah Liqo’at Al Bab Al Maftuh, 11/5)

Lihatlah saudaraku, bentuk rintihan seperti ini saja dicatat oleh malaikat, apalagi ketergelinciran lisan yang lebih dari itu.

Ibnu Mas’ud mengatakan, “Tidak ada yang lebih pantas dipenjara dalam waktu yang lama melainkan lisanku ini.” (Mukhtashor Minhajil Qoshidin, hal. 165, Maktabah Darul Bayan)

Di Antara Ketergilincaran Lisan

[Pertama] Mencela Makhluk yang Tidak Dapat Berbuat Apa-apa

Misalnya dengan mengatakan, ‘Bencana ini bisa terjadi karena bulan ini adalah bulan Suro’ atau mengatakan ‘Sialan! Gara-gara angin ribut ini, kita gagal panen’ atau dengan mengatakan pula, ‘Aduh!! hujan lagi, hujan lagi’.

Lidah ini begitu mudah mengucapkan perkataan seperti ini. Padahal makhluk yang kita cela tersebut tidak mampu berbuat apa-apa kecuali atas kehendak Allah. Mencaci waktu, angin, dan hujan, pada dasarnya telah mencaci, mengganggu dan menyakiti yang telah menciptakan dan mengatur mereka yaitu Allah Ta’ala.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman, ‘Manusia menyakiti Aku; dia mencaci maki masa (waktu), padahal Aku adalah pemilik dan pengatur masa. Aku-lah yang mengatur malam dan siang menjadi silih berganti.” (HR. Bukhari dan Muslim). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,”Janganlah kamu mencaci maki angin.” (HR. Tirmidzi, beliau mengatakan hasan shohih)

[Kedua] Seringnya Berdusta

Hal ini juga sering dilakukan oleh kita saat ini. Dalam mu’amalah saja seringkali seperti itu. Hanya ingin mendapat untung yang besar, seorang tukang bangunan rela berdusta. Harga semennya sebenarnya 30 ribu, namun tukang tersebut mengatakan pada juragannya bahwa harganya 40 ribu.

Begitu juga dalam mendidik anak, seringkali juga muncul perkataan dusta. Ketika seorang anak merengek, menangis terus-terusan. Untuk mendiamkannya, sang Ibu spontan mengatakan, “Iya, iya, nanti Mama akan belikan coklat di warung. Sekarang jangan nangis lagi.” Setelah anaknya diam, ibunya malah tidak memberikan dia apa-apa. Kelakuan ibu ini juga secara tidak langsung telah mengajarkan anaknya untuk berdusta. Jadi jangan salahkan anaknya, jika dewasa nanti, anaknya malah yang sering membohongi orang tuanya.

Saudaraku, bentuk pertama dan kedua ini sama-sama berkata dusta. Ingatlah bahwa perbuatan semacam ini termasuk ciri-ciri kemunafikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tanda orang munafik itu ada tiga : jika berkata, dia dusta; jika berjanji, dia menyelisinya; dan jika diberi amanat, dia berkhianat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Inilah di antara dua bentuk ketergelinciran lisan dan masih banyak sekali bentuk yang lainnya.

Berpikirlah Sebelum Berucap

Hendaklah seseorang berpikir dulu sebelum berbicara. Siapa tahu karena lisannya, dia akan dilempar ke neraka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya ada seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dipikirkan bahayanya terlebih dahulu, sehingga membuatnya dilempar ke neraka dengan jarak yang lebih jauh dari pada jarak antara timur dan barat.” (HR. Muslim)

Ulama besar Syafi’iyyah, An Nawawi rahimahullah dalam Syarh Muslim tatkala menjelaskan hadits ini mengatakan, ”Ini merupakan dalil yang mendorong setiap orang agar selalu menjaga lisannya sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, ‘Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik dan jika tidak maka diamlah.’ (HR. Bukhari dan Muslim). Oleh karena itu, selayaknya setiap orang yang berbicara dengan suatu perkataan atau kalimat, hendaknya merenungkan dalam dirinya sebelum berucap. Jika memang ada manfaatnya, maka dia baru berbicara. Namun jika tidak, hendaklah dia menahan lisannya.”
Itulah manusia, dia menganggap perkataannya seperti itu tidak apa-apa, namun di sisi Allah itu adalah suatu perkara yang bukan sepele. Allah Ta’ala berfirman, “Kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.” (QS. An Nur [24] : 15)

Dalam Tafsir Al Jalalain dikatakan bahwa orang-orang biasa menganggap perkara ini ringan. Namun, di sisi Allah perkara ini dosanya amatlah besar.

Dengan Lisan, Seseorang Bisa Ditinggikan Derajatnya

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya ada seorang hamba berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dia pikirkan lalu Allah mengangkat derajatnya disebabkan perkataannya itu.” (HR. Bukhari)

Ketinggian derajat di sini bisa diperoleh jika lisan selalu diarahkan pada perkara kebaikan, di antaranya dengan berdo’a, membaca Al Qur’an, berdakwah di jalan Allah, mengajarkan orang lain di majelis ilmu dan lain sebagainya. Atau dengan kata lain, ketinggian derajat tersebut bisa diperoleh dengan mengarahkan lisan pada perkara-perkara yang Allah ridhoi. (Lihat Nashihatu Linnisa’, hal. 20)

Semoga kita dimudahkan oleh Allah untuk menjaga lisan ini dan mengarahkannya kepada hal-hal yang dirihoi oleh Allah. Amin Ya Mujibad Da’awat. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihat.

 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/