Syukur di Kala Meraih Sukses

Syukur di Kala Meraih Sukses

Akui Setiap Nikmat Berasal dari-Nya

 Inilah yang harus diakui oleh setiap orang yang mendapatkan nikmat. Nikmat adalah segala apa yang diinginkan dan dicari-cari. Nikmat ini harus diakui bahwa semuanya berasal dari Allah Ta’ala dan jangan berlaku angkuh dengan menyatakan ini berasal dari usahanya semata atau ia memang pantas mendapatkannya. Coba kita renungkan firman Allah Ta’ala,

لا يَسْأَمُ الإنْسَانُ مِنْ دُعَاءِ الْخَيْرِ وَإِنْ مَسَّهُ الشَّرُّ فَيَئُوسٌ قَنُوطٌ

Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan.” (QS. Fushshilat: 49). Atau pada ayat lainnya,

وَإِذَا أَنْعَمْنَا عَلَى الْإِنْسَانِ أَعْرَضَ وَنَأَى بِجَانِبِهِ وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ فَذُو دُعَاءٍ عَرِيضٍ

Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka, maka ia banyak berdoa.” (QS. Fushshilat: 51)

Inilah tabiat manusia, yang selalu tidak sabar jika ditimpa kebaikan atau kejelekan. Ia akan selalu berdo’a pada Allah agar diberikan kekayaan, harta, anak keturunan, dan hal dunia lainnya yang ia cari-cari. Dirinya tidak bisa merasa puas dengan yang sedikit. Atau jika sudah diberi lebih pun, dirinya akan selalu menambah lebih. Ketika ia ditimpa malapetaka (sakit dan kefakiran), ia pun putus asa. Namun lihatlah bagaimana jika ia mendapatkan nikmat setelah itu? Bagaimana jika ia diberi kekayaan dan kesehatan setelah itu? Ia pun lalai dari bersyukur pada Allah, bahkan ia pun melampaui batas sampai menyatakan semua rahmat (sehat dan kekayaan) itu didapat karena ia memang pantas memperolehnya. Inilah yang diisyaratkan dalam firman Allah Ta’ala,

وَلَئِنْ أَذَقْنَاهُ رَحْمَةً مِنَّا مِنْ بَعْدِ ضَرَّاءَ مَسَّتْهُ لَيَقُولَنَّ هَذَا لِي

Dan jika Kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata: “Ini adalah hakku.”(QS. Fushshilat: 50)

Sifat orang beriman tentu saja jika ia diberi suatu nikmat dan kesuksesan yang ia idam-idamkan, ia pun bersyukur pada Allah. Bahkan ia pun khawatir jangan-jangan ini adalah istidroj (cobaan yang akan membuat ia semakin larut dalam kemaksiatan yang ia terjang). Sedangkan jika hamba tersebut tertimpa musibah pada harta dan anak keturunannya, ia pun bersabar dan berharap karunia Allah agar lepas dari kesulitan serta ia tidak berputus asa.[1]

Ucapkanlah “Tahmid”

Inilah realisasi berikutnya dari syukur yaitu menampakkan nikmat tersebut dengan ucapan tahmid (alhamdulillah) melalui lisan. Ini adalah sesuatu yang diperintahkan sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).” (QS. Adh Dhuha: 11)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

التَّحَدُّثُ بِنِعْمَةِ اللهِ شُكْرٌ ، وَتَرْكُهَا كُفْرٌ

Membicarakan nikmat Allah termasuk syukur, sedangkan meninggalkannya merupakan perbuatan kufur.” (HR. Ahmad, 4/278. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana dalam Shahih Al Jaami’ no. 3014).

Lihat pula bagaimana impian Nabi Ibrahim tercapai ketika ia memperoleh anak di usia senja. Ketika impian tersebut tercapai, beliau pun memperbanyak syukur pada Allah sebagaimana do’a beliau ketika itu,

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ

Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa. ” (QS. Ibrahim: 39).

Para ulama salaf ketika mereka merasakan nikmat Allah berupa kesehatan dan lainnya, lalu mereka ditanyakan, “Bagaimanakah keadaanmu di pagi ini?” Mereka pun menjawab, “Alhamdulillah (segala puji hanyalah bagi Allah).”[2]

Oleh karenanya, hendaklah seseorang memuji Allah dengan tahmid (alhamdulillah) atas nikmat yang diberikan tersebut. Ia menyebut-nyebut nikmat ini karena memang terdapat maslahat dan bukan karena ingin berbangga diri atau sombong. Jika ia malah melakukannya dengan sombong, maka ini adalah suatu hal yang tercela.[3]

Memanfaatkan Nikmat dalam Amal Ketaatan

Yang namanya syukur bukan hanya berhenti pada dua hal di atas yaitu mengakui nikmat tersebut pada Allah dalam hati dan menyebut-nyebutnya dalam lisan, namun hendaklah ditambah dengan yang satu ini yaitu nikmat tersebut hendaklah dimanfaatkan dalam ketaaatan pada Allah dan menjauhi maksiat.

Contohnya adalah jika Allah memberi nikmat dua mata. Hendaklah nikmat tersebut dimanfaatkan untuk membaca dan mentadaburi Al Qur’an, jangan sampai digunakan untuk mencari-cari aib orang lain dan disebar di tengah-tengah kaum muslimin. Begitu pula nikmat kedua telinga. Hendaklah nikmat tersebut dimanfaatkan untuk mendengarkan lantunan ayat suci, jangan sampai digunakan untuk mendengar lantunan yang sia-sia. Begitu pula jika seseorang diberi kesehatan badan, maka hendaklah ia memanfaatkannya untuk menjaga shalat lima waktu, bukan malah meninggalkannya. Jadi, jika nikmat yang diperoleh oleh seorang hamba malah dimanfaatkan untuk maksiat, maka ini bukan dinyatakan sebagai syukur.

Intinya, seseorang dinamakan bersyukur ketika ia memenuhi 3 rukun syukur: [1]  mengakui nikmat tersebut secara batin (dalam hati), [2] membicarakan nikmat tersebut secara zhohir (dalam lisan), dan [3] menggunakan nikmat tersebut pada tempat-tempat yang diridhoi Allah (dengan anggota badan).

Abul ‘Abbas Ibnu Taimiyah mengatakan,

وَأَنَّ الشُّكْرَ يَكُونُ بِالْقَلْبِ وَاللِّسَانِ وَالْجَوَارِحِ

Syukur haruslah dijalani dengan mengakui nikmat dalam hati, dalam lisan dan menggunakan nikmat tersebut dalam anggota badan.[4]

Merasa Puas dengan Rizki Yang Allah Beri

Karakter asal manusia adalah tidak puas dengan harta. Hal ini telah diisyaratkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berbagai haditsnya. Ibnu Az Zubair pernah berkhutab di Makkah, lalu ia mengatakan,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَقُولُ « لَوْ أَنَّ ابْنَ آدَمَ أُعْطِىَ وَادِيًا مَلأً مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ إِلَيْهِ ثَانِيًا ، وَلَوْ أُعْطِىَ ثَانِيًا أَحَبَّ إِلَيْهِ ثَالِثًا ، وَلاَ يَسُدُّ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ »

Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya manusia diberi lembah penuh dengan emas, maka ia masih menginginkan lembah yang kedua semisal itu. Jika diberi lembah kedua, ia pun masih menginginkan lembah ketiga. Perut manusia tidaklah akan penuh melainkan dengan tanah. Allah tentu menerima taubat bagi siapa saja yang bertaubat.” (HR. Bukhari no. 6438)

Inilah watak asal manusia. Sikap seorang hamba yang benar adalah selalu bersyukur dengan nikmat dan rizki yang Allah beri walaupun itu sedikit. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ

Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.” (HR. Ahmad, 4/278. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana dalam As Silsilah Ash Shohihah no. 667)

Dan juga mesti kita yakini bahwa rizki yang Allah beri tersebut adalah yang terbaik bagi kita karena seandainya Allah melebihkan atau mengurangi dari yang kita butuh, pasti kita akan melampaui batas dan bertindak kufur. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ

Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.(QS. Asy Syuraa: 27)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Seandainya Allah memberi hamba tersebut rizki lebih dari yang mereka butuh, tentu mereka akan melampaui batas, berlaku kurang ajar satu dan lainnya, serta akan bertingkah sombong.” Selanjutnya Ibnu Katsir menjelaskan, “Akan tetapi Allah memberi rizki pada mereka sesuai dengan pilihan-Nya dan Allah selalu melihat manakah yang maslahat untuk mereka. Allah tentu yang lebih mengetahui manakah yang terbaik untuk mereka. Allah-lah yang memberikan kekayaan bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya. Dan Allah-lah yang memberikan kefakiran bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya.”[5]

Patut diingat pula bahwa nikmat itu adalah segala apa yang diinginkan seseorang. Namun apakah nikmat dunia berupa harta dan lainnya adalah nikmat yang hakiki? Para ulama katakan, tidak demikian. Nikmat hakiki adalah kebahagiaan di negeri akhirat kelak. Tentu saja hal ini diperoleh dengan beramal sholih di dunia. Sedangkan nikmat dunia yang kita rasakan saat ini hanyalah nikmat sampingan semata. Semoga kita bisa benar-benar merenungkan hal ini.[6]

Jadilah Hamba yang Rajin Bersyukur

Pandai-pandailah mensyukuri nikmat Allah apa pun itu. Karena keutamaan orang yang bersyukur amat luar biasa. Allah Ta’ala berfirman,

وَسَنَجْزِي الشَّاكِرِينَ

Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imron: 145)

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.” (QS. Ibrahim: 7)

Ya Allah, anugerahkanlah kami sebagai hamba -Mu yang pandai bersyukur pada-Mu dan selalu merasa cukup dengan segala apa yang engkau beri.

 

Diselesaikan atas taufik Allah di Pangukan-Sleman, 23 Rabi’ul Akhir 1431 H

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal


[1] Lihat Taysir Al Karimir Rahman, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, hal. 752, Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1420 H dan Tafsir Al Jalalain, hal. 482, Maktabah Ash Shofaa.

[2] Lihat Mukhtashor Minhajil Qoshidin, Ibnu Qudamah Al Maqdisi, hal. 262, Darul Aqidah, cetakan pertama, tahun 1426 H.

[3] Lihat Tafsir Juz ‘Amma, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, hal. 202, Darul Kutub Al ‘Ilmiyah, cetakan tahun 1424 H.

[4] Majmu’ Al Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 11/135, Darul Wafa’, cetakan ketiga, 1426 H.

[5] Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 12/278, Muassasah Qurthubah.

[6] Lihat Mukhtashor Minhajil Qoshidin, hal. 266.

Sumber: https://rumaysho.com/

Faedah Surat An Naas, Berlindung dari Godaan Setan Yang Terkutuk

Faedah Surat An Naas, Berlindung dari Godaan Setan Yang Terkutuk

Begitu indahnya jika kita giat mengkaji Al Qur’anul Karim. Saat ini kami akan mengulas tafsir surat An Naas yang kami ambil dari Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim karya Ibnu Katsir rahimahullah. Semoga bermanfaat.

 Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ (1) مَلِكِ النَّاسِ (2) إِلَهِ النَّاسِ (3) مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ (4) الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ (5) مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ (6)

Artinya,

1. Katakanlah: “Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.

2. Raja manusia.

3. Sembahan manusia.

4. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi,

5. yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,

6. dari (golongan) jin dan manusia.

Sifat-Sifat Allah

Ayat-ayat ini menerangkan  mengenai sifat-sifat Rabb, yaitu: [1] sifat rububiyah (yang dimintai perlindungan karena dialah yang menguasai manusia), [2] sifat mulkiyah (yang Maha Merajai) dan [3] sifat ilahiyah (yang berhak diibadahi). Jadi, Allah-lah yang menjadi Rabb (yang mengatur) segala sesuatu, Dialah yang merajainya dan Dialah ilah (yang berhak diibadahi). Oleh karenanya segala sesuatu itu makhluk yang diatur, dikuasai dan sebagai hamba bagi-Nya.

Meminta Perlindungan dari Was-Was Syaithon

Dari sini, segala sesuatu yang ingin mencari perlindungan diperintahkan untuk meminta perlindungan pada Rabb  yang memiliki sifat yang mulia ini. Segala sesuatu tersebut diperintahkan untuk meminta perlindungan dari gangguan syaithon yang biasa memberikan was-was sedang mereka dalam keadaan tersembunyi[1]. Setan yang memberikan was-was inilah setan yang biasa menemani manusia. Karena setiap insan (manusia) tidak bisa lepas dari qorin (setan yang terus menemaninya tadi) lalu membisikkan agar ia melakukan perbuatan keji. Setan akan berusaha melalaikan manusia ketika ia lalai dari Allah. Yang selamat dari gangguannya adalah orang yang mendapatkan perlindungan dari Allah Ta’ala. Sebagaimana terdapat dalam hadits yang shahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ وَقَدْ وُكِّلَ بِهِ قَرِينُهُ مِنَ الْجِنِّ ». قَالُوا وَإِيَّاكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « وَإِيَّاىَ إِلاَّ أَنَّ اللَّهَ أَعَانَنِى عَلَيْهِ فَأَسْلَمَ فَلاَ يَأْمُرُنِى إِلاَّ بِخَيْرٍ ».

“Tidaklah seorang pun dari kalian melainkan dikuasai pendamping dari kalangan jin.” Mereka bertanya, “Apakah engkau juga, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Aku juga termasuk, hanya saja Allah membantuku mengalahkannya lalu ia masuk Islam. Ia hanya memerintahkan kebaikan padaku.” (HR. Muslim no. 2814, dari ‘Abdullah bin Mas’ud)

Begitu juga terdapat hadits shahih dari Anas mengenai kisah Shofiyah yang mengunjungi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan saat itu beliau sedang i’tikaf. Ketika itu beliau keluar bersama Shofiyah karena waktu itu malam hari untuk menemaninya ke rumahnya. Di tengah jalan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditemui oleh dua orang Anshor. Ketika mereka berdua melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka lantas berjalan dengan cepatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda,

« عَلَى رِسْلِكُمَا إِنَّهَا صَفِيَّةُ بِنْتُ حُيَىٍّ » . فَقَالاَ سُبْحَانَ اللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ . قَالَ « إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِى مِنَ الإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ ، وَإِنِّى خَشِيتُ أَنْ يَقْذِفَ فِى قُلُوبِكُمَا سُوءًا – أَوْ قَالَ – شَيْئًا »

“Hendaklah kalian pelan-pelan saja jalannya. Ini adalah Shofiyah binti Huyay (istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).” Mereka berdua pun lantas mengatakan, “Subhanallah (Maha Suci Allah), wahai Rasulullah.”  Beliau lantas bersabda, “Sesungguhnya syaithon mengalir dalam diri manusia di tempat mengalirnya darah. Aku sungguh khawatir jika kejelekan telah merasuk ke dalam hati-hati kalian.” (HR. Bukhari no. 3281 dan Muslim no. 2175, dari Shofiyah binti Huyay)

Setan pun bisa semakin bangga jika seseorang menjelek-jelekkannya. Jika kendaraan mogok, janganlah menjelek-jelekkan syaithan karena syaithan akan semakin besar kepala. Namun ucapkanlah basmalah (bacaan “bismillah”).

Dari Abul Malih dari seseorang, dia berkata, “Aku pernah diboncengi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu tunggangan yang kami naiki tergelincir. Kemudian aku pun mengatakan, “Celakalah syaithan”. Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyanggah ucapanku tadi,

لاَ تَقُلْ تَعِسَ الشَّيْطَانُ فَإِنَّكَ إِذَا قُلْتَ ذَلِكَ تَعَاظَمَ حَتَّى يَكُونَ مِثْلَ الْبَيْتِ وَيَقُولَ بِقُوَّتِى وَلَكِنْ قُلْ بِسْمِ اللَّهِ فَإِنَّكَ إِذَا قُلْتَ ذَلِكَ تَصَاغَرَ حَتَّى يَكُونَ مِثْلَ الذُّبَابِ

Janganlah engkau ucapkan ‘celakalah syaithan’, karena jika engkau mengucapkan demikian, setan akan semakin besar seperti rumah. Lalu setan pun dengan sombongnya mengatakan, ‘Itu semua terjadi karena kekuatanku’. Akan tetapi, yang tepat ucapkanlah “Bismillah”. Jika engkau mengatakan seperti ini, setan akan semakin kecil sampai-sampai dia akan seperti lalat.” (HR. Abu Daud no. 4982)[2]

Setan Akan Menggoda Di Saat Manusia Lalai

Yang dimaksud ayat,

مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ

Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi.”

Sebagian ulama mengatakan bahwa yang dimaksud “waswasil khonnas” adalah setan akan berdiam di hati manusia. Jika ia lalai, maka setan tersebut akan membuat lalai dan membuat was-was atau kerancuan (setan akan menggambarkan bahwa yang baik itu jelek atau sebaliknya[3]). Namun jika ia mengingat Allah, setan pun akan khonnas (bersembunyi).[4]

Yang Memberikan Was-was dalam Hati: Jin dan Manusia

Allah Ta’ala berfirman,

الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ (5) مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ (6)

Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.” (QS. An Naas: 5-6)

Yang selalu memberikan was-was (berbagai kerancuan) dalam hati manusia adalah setan dari kalangan jin dan manusia[5]. Sebagaimana hal ini dapat dilihat dalam ayat lainnya,

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (QS. Al An’am: 112)[6]

Puji Syukur pada Allah Di Kala Terlepas dari Godaan Syaithon

Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أُحَدِّثُ نَفْسِي بِالشَّيْءِ لَأَنْ أَخِرَّ مِنْ السَّمَاءِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَتَكَلَّمَ بِهِ

“Seseorang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Ya Rasulullah sesungguhnya terbersit di dalam hatiku sesuatu, sungguh aku terjatuh dari langit lebih aku sukai dari pada aku mengatakannya.”  Ibnu ‘Abbas berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي رَدَّ كَيَدَهُ إِلَى الْوَسْوَسَةِ

“ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR ALHAMDULILLAH yang dapat menolak tipu dayanya dari perasaan was-was.” (HR. Abu Daud no. 5112 dan Ahmad 1/235)[7]

Semoga Allah senantiasa memberi kita taufik untuk giat merenungkan ayat-ayat-Nya. Amin Yaa Mujibas Saa-ilin.

 

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: https://rumaysho.com/

Wajibkah Seorang Wanita Menafkahi Orang Tuanya?

Wajibkah Seorang Wanita Menafkahi Orang Tuanya?

Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin

Soal:

Pertanyaan saya mengenai gaji seorang anak perempuan, apakah wajib baginya untuk menyerahkannya kepada kepada orang tuanya? Dengan catatan, ayahnya itu masih punya pendapatan yang besar dan harta yang banyak, demikian juga ibunya. Apakah berdosa jika tidak menyerahkannya?

Jawab:

Nafkah itu diwajibkan bagi orang-orang yang berhak menjadi pemimpin rumah tangga, yaitu para ayah dan suami. Allah Ta’ala berfirman:

الرجال قوامون على النساء بما فضل الله بعضهم على بعض وبما أنفقوا من أموالهم

Para lelaki adalah pemimpin bagi para wanita, sesuai apa yang Allah karuniakan kepada mereka, dan karena mereka (diwajibkan) memberi nafkah dari harta mereka” (QS. An Nisa: 34).

Dan seorang istri pun tidak diwajibkan memberi nafkah pada anak dan suaminya, demikian juga anak perempuan. Yang wajib memberi nafkah adalah suami dan ayah. Suami dan ayah wajib memberi nafkah kepada istri dan anak perempuan mereka, walaupun istri dan anak perempuan mereka kaya raya.

Namun, tidak ada larangan bagi seorang anak perempuan memberikan nafkah kepada ayahnya atau seorang istri memberikan nafkah kepada suaminya sesuai dengan kemauan ia sendiri tanpa paksaan, dalam rangka saling tolong menolong dalam kebaikan.

Sumber: http://ar.islamway.net/fatwa/5668

 

Penerjemah: Yulian Purnama

 

Sumber: https://muslimah.or.id/

Antara Pola Makan Kita dengan Pola Makan ala Rasul

Antara Pola Makan Kita dengan Pola Makan ala Rasul

Penjelasan singkat tentang perbedaan ibadah dan adat

Hukum asal adat (kebiasaan, ed.) itu boleh sampai ada dalil yang melarangnya. Sedangkan hukum asal ibadah adalah haram sampai ada dalil yang membolehkannya. Perlu diketahui bahwa adat bisa menjadi ibadah dan bukan bid’ah ketika memenuhi salah satu dari dua syarat:

1. Dilakukan dengan niat dan tata cara yang benar.

Sesungguhnya engkau tidaklah menafkahkan suatu nafkah dalam rangka mengharap wajah Allah melainkan engkau akan dibalas karena usaha itu, sampai pun sesuap makanan yang engkau masukan dalam mulut istrimu.” (HR. Bukhari)

Di sini disebutkan dengan “niat ikhlas mengharap pahala di sisi Allah”, barulah perbuatan yang asalnya bukan ibadah berbuah pahala.

2. Sebagai wasilah (perantara) dan mendukung amal shalih.

ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ لاَ يُصِيبُهُمْ ظَمَأٌ وَلاَ نَصَبٌ وَلاَ مَخْمَصَةٌ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَلاَ يَطَؤُونَ مَوْطِئاً يَغِيظُ الْكُفَّارَ وَلاَ يَنَالُونَ مِنْ عَدُوٍّ نَّيْلاً إِلاَّ كُتِبَ لَهُم بِهِ عَمَلٌ صَالِحٌ

Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan, dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amanah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskan bagi mereka dengan yang demikian itu amal shalih.” (QS. At-Taubah:120)

Ayat ini menunjukkan bahwa wasilah (sarana) dan mendukung terwujudnya ketaatan dianggap sebagai ketaatan dan bernilai pahala.

Catatan penting: perkara non-ibadah itu dijadikan sebagai sarana dan bukan tujuan. Jangan sampai keliru dengan menjadikan perkara non-ibadah tersebut sebagai tujuan itu sendiri. Tidak ada ibadah yang bentuknya adat atau kebiasaan yang statusnya mubah. Melakukan ibadah dengan perkara mubah termasuk perbuatan bid’ah.

Kehati-hatian menyandarkan sesuatu pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Kehati-hatian menyandarkan sesuatu pada nabi, tidak terlepas dari benar tidaknya amalan yang dilakukan seorang hamba. Maka, amalan yang dilakukan seorang hamba akan benar bila sesuai pada enam hal, yaitu:

  1. Harus benar dan sesuai dengan syariat dalam hal “sebab”nya. Maka jika seseorang mensyari’atkan suatu ibadah karna suatu sebab yang tidak ditetapkan oleh syari’at maka ibadah itu tidak diterima.
  2. Sesuai dalam hal “jenis”nya.
  3. Sesuai dalam hal “takarannya” atau “ukurannya” atau “jumlahnya”.
  4. Sesuai dalam hal tata caranya, jika seseorang berpuasa dengan tata cara yang tidak pernah dilakukan Rasulullah dan para shahabatnya, maka puasanya tidak diterima.
  5. Sesuai dalam hal “waktunya”.
  6. Sesuai dengan syari’at dalam hal tempatnya.

Jadikanlah enam kaidah ini sebagai barometer kehati-hatian dalam menyandarkan sesuatu pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan timbanglah setiap amal yang kita lakukan dengan keenam hal tersebut.

Hadits-hadits tentang makanan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Salah satu yang sedang ramai di bicarakan saat ini tentang FC yang dikaitkan dengan sunnah Nabi yang konsekuensinya menjadikan FC sebagai amal ibadah yang berpahala.

FC — atau kita kenal dengan istilah “food combining” — adalah pola makan yang diselaraskan dengan ritme sirkardian (mekanisme alamiah tubuh manusia). Metode ini tidaklah membatasi jenis makanan tertentu, namun mengatur kombinasi makanan sehingga sesuai dengan kemampuan dan siklus pencernaan tubuh. Dengan menerapkan metode ini diharapkan beban pencernaan akan lebih ringan, tubuh dapat menyerap nutrisi secara sempurna, racun dapat dikeluarkan dari tubuh, dan sisa energi untuk pencernaan dapat disalurkan bagi perbaikan organ tubuh lainnya.

Dalam pola makan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita mengenal istilah “food balancing” (menyeimbangkan sifat yang berlebih dari suatu makanan dengan lawannya). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membatasi diri pada suatu makanan sehingga tidak makan selainnya. Ini artinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyantap berbagai varian makanan secara berimbang. Makanan yang dibatasi pada satu atau jenis makanan tertentu tidak baik dari sisi keseimbangan tubuh, yang dapat mengakibatkan tubuh kehilangan keseimbangan sehingga berujung pada rusaknya kesehatan. Jika salah satu makanan memerlukan penyeimbang (balancing) maka beliau akan makan penyeimbangnya (balancer), seperti panasnya kurma beliau seimbangkan dengan semangka atau mentimun yang bersifat dingin. (Imam Ibnul Qayim Al-Jauziyah dalam Zadul Ma’ad fi Hadyi Khayril ‘Ibad)

Beberapa faedah yang disebutkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Al-Qur’an dan as-sunnah:

1. Buah utruj, semacam jeruk (citron)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَثَلُ المُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ كَمَثَلِ الأُتْرُجَّةِ، رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ

Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al-Qur’an seperti limau, rasanya manis dan aromanya harum.” (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Semangka (biththikh)

Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau makan semangka dengan kurma muda seraya bersabda,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” يَأْكُلُ الْبِطِّيخَ بِالرُّطَبِ فَيَقُولُ: نَكْسِرُ حَرَّ هَذَا بِبَرْدِ هَذَا، وَبَرْدَ هَذَا بِحَرِّ هَذَا

Kami memecah panasnya ini (kurma muda) dengan dinginnya ini (semangka) dan dinginnya ini (semangka) dengan panasnya ini (kurma muda).” (Sunan Abu Dawud; dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani)

3. Mentimun (qitstsa)

Dari Abdullah bin Jafar,

رأيت النبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يأكل القثاء بالرطب

Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam makan mentimun dengan ruthab (kurma muda).” (HR. Bukhari dan Muslim)

4. ‘Ajwah (kurma ‘ajwa)

Dari Jabir dan Abu Said bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

العَجْوَةُ مِنَ الجَنَّةِ وَفِيهَا شِفَاءٌ مِنَ السُّمِّ، وَالكَمْأَةُ مِنَ المَنِّ وَمَاؤُهَا شِفَاءٌ لِلْعَيْنِ

Kurma ‘ajwah berasal dari surga, ia merupakan penangkal racun, daging buahnya manis, yang airnya merupakan obat mata.” (HR. An-Nasa’i dan Ibnu Majah)

5. Tin

وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ

Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun.” (QS. At-Tin:1)

6. Cuka (khall)

نِعْمَ الْإِدَامُ الْخَلُّ

Sebaik-baik lauk adalah cuka.” (HR. Muslim)

7. Delima (rumman)

فِيهِمَا فَاكِهَةٌ وَنَخْلٌ وَرُمَّانٌ

Di dalam keduanya (ada macam-macam) buah-buahan dan kurma serta delima.” (QS. Ar-Rahman:68)

8. Minyak zaitun

ائْتَدِمُوا بِالزَّيْتِ، وَادَّهِنُوا بِهِ، فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ

Berlauklah dengan minyak zaitun dan jadikanlah ia sebagai minyak oles, karena ia berasal dari pohon yan diberkahi.” (HR. Ibnu Majah)

9. Jahe (zanjabil)

وَيُسْقَوْنَ فِيهَا كَأْسًا كَانَ مِزَاجُهَا زَنْجَبِيلًا

Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe.” (QS. Al-Insan:17)

10. Ikan (samak)

أُحِلَّتْ لَكُمْ مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ، فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ، فَالْحُوتُ وَالْجَرَادُ، وَأَمَّا الدَّمَانِ، فَالْكَبِدُ وَالطِّحَالُ

Dihalalkan bagi kalian dua bangkai dan dua darah: ikan dan belalang, hati dan limpa.” (HR. Imam Ahmad dan Ibnu Majah)

11. Pisang

وَطَلْحٍ مَنْضُودٍ

Dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya).” (QS. Al-Waqi’ah:29)

12. Anggur

Disebutkan bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah makan anggur dan semangka. Anggur disebutkan di enam tempat dalam kitabullah, di antaranya Al-Baqarah ayat 266.

13. Daging
14. Sayur rebus (silqh)

Ummi Al-Mundzir berkata bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mampir ke rumahnya bersama Ali yang baru saja sembuh dari suatu penyakit. Maka mereka makan beberapa tandan kurma. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berkata kepada Ali, “Jangan, Ali! Engkau baru saja sembuh.” Ali berhenti makan. Kemudian Penulis membuatkan barli dengan silqh dan menghidangkannya kepada mereka. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Ali,

يَا عَلِيُّ أَصِبْ مِنْ هَذَا فَهُوَ أَنْفَعُ لَكَ

Wahai Ali, makanlah, karena ini lebih baik bagimu.” (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud)

15. Daging panggang (syawiyy)

Allah berfirman tentang kisah Nabi Ibrahim alaihis salam ketika menerima tamu,

فَمَا لَبِثَ أَنْ جَاءَ بِعِجْلٍ حَنِيذٍ

Dan ia (Ibrahim) bersegera melayani mereka dengan daging anak sapi yang dipanggang.” (QS. Hud:69)

Catatan penulis: masih terdapat beberapa makanan lainnya yang belum dicantumkan.

Antara kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan panduan dalam FC

  • Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya mengonsumsi sesuatu yang pada umumnya ada di derahnya. Beliau tidak pernah bersusah payah mencari sesuatu yang tidak ada di daerahnya. Adapun FC menghimbau untuk mengonsumsi makanan lokal, karena semakin dekat dengan tempat panen, maka semakin baik pula kondisi sayur/buah.
  • Salah satu cara nabi menjaga kesehatannya yaitu dengan mengonsumsi buah-buahan. Karena buah-buahan akan menjadi obat apabila dikonsumsi dengan semestinya. Allah telah menyiapkan buah-buahan yang cocok untuk daerah masing-masing. Nabi biasa makan buah-buahan hasil panen negerinya pada musimnya dan beliau tidak berpantang. Adapun FC menghimbau untuk mengonsumsi makanan lokal, karena semakin dekat dengan tempat panen, maka semakin baik pula kondisi sayur/buah.
  • Termasuk kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah makan buah-buahan di negerinya yang sedang musim. Hal itu termasuk memelihara kesehatan karena Allah melimpahkan suatu jenis buah-buahan dalam jumlah yang besar supaya bisa dikonsumsi dan bermafaat untuk hamba-Nya. (Zadul Ma’ad)
  • Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyukai dan minum madu, tetapi tidak setiap hari.
  • Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mencampur susu dengan daging. Perkataan Ibnul Qayyim dalam Ath-Thibbun Nabawi, hlm. 228—229, “Barang siapa yang mencermati tentang makanan dan segala sesuatu yang dimakan oleh Rasulullah, pasti dia akan mendapati bahwa Rasulullah tidak pernah menggabungkan antara susu dengan ikan atau antara susu dengan makanan masam. Bila susu bertemu dengan yang masam akan menyebabkan penggumpalan, pemicu iritasi pencernaan.” Adapun dalam juklak (petunjuk pelaksanaan) FC, susu dan daging bukanlah kombinasi serasi.
  • Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mencampurkan makanan yang sulit dicerna dengan yang mudah dicerna. Dalam FC, makanan yang mudah dicerna adalah buah-buahan (30 menit). Buah-buahan tidak serasi jika dikonsumsi dengan makanan lainnya yang sulit dicerna, misalnya karbohidrat (yang membutuhkan lebih dari 2 jam untuk dicerna), protein hewani (3 jam dan bahkan bisa lebih dari itu).
  • Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memakan makanan yang segardengan makanan yang diawetkan. Dalam FC pun demikian.
  • Tidak memakan susu dengan telur. Dalam FC, keduanya memang bukan kombinasi serasi.
  • Tidak memakan daging susu. Dalam FC, keduanya memang bukan kombinasi serasi.
  • Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak makan makanan yang dibusukkan dan digarami, misal: asaman, asinan, manisan (sejenis tape, manisan buah dll) karena makanan ini berbahaya dan elahirkan gangguan kesehatan atau merusak keseimbangan tubuh. Dalam FC, kedua jenis tersebut memang bukan kombinasi serasi.
Beberapa hal yang ditulis oleh Ibnu Mawasiah (Masuyah) dalam kitab Al-Mahadzir sangat baik untuk dinukil secara harfiah:
  1. Barang siapa memakan susu dengan jus buah sekaligus lalu terkena penyakit kusta atau encok, hendaklah ia menyalahkan dirinya sendiri.
  2. Barang siapa yang memakan telur rebus dingin lalu terkena asma, hendaklah menyalahkan dirinya sendiri.
  3. Jangan makan telur dan ikan asin bersamaan karena dapat menyebabkan mencret atau ambeien dan sakit gigi.
  4. Terlalu banyak makan telur dapat menimbulkan gatal-gatal pada wajah.
  5. Memakan yang asin-asin, ikan asin atau melakukan gurah sesudah mandi dapat menyebabkan panu dan eksim.
  6. Selalulah menjaga kesehatan dengan tidak malas bekerja dan tidak terlalu banyak makan dan minum.
  7. Barang siapa yang ingin sehat, hendaklah ia mengatur makanannya dengan baik.
Kesimpulan Penulis sejauh ini:
  1. Penulis setuju dengan konsep umum food combining selama hal itu tidak bertentangan dengan syari’at. Dan Penulis pribadi telah merasakan manfaatnya.
  2. Mau FC ataupun tidak, jangan sampai kita mengharamkan yang Allah halalkan, meskipun untuk diri sendiri.
  3. Sejauh pemahaman Penulis, kebiasaan-kebiasaan yang biasa dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ada yang dianjurkan untuk diikuti dan ada yang sebatas mubah (tidak ada anjuran untuk mengikutinya/tidak termasuk sunnah).
  4. Jangan sampai karena perbedaan sepele menyebabkan perpecahan yang tidak perlu.
  5. Untuk thibbun nabawi yang ada dalil khususnya, Penulis percaya 100% meskipun belum ada penelitian ilmiahnya.
  6. Penulis pribadi menjalankan FC (utamanya untuk ikhtiar menjaga kesehatan), tetapi kedudukan sunnah/syariat lebih utama. Jika ada juklak FC yang tidak sesuai dengan sunnah, tentu saja Penulis lebih memilih syariat. Tapi sampai sekarang, tidak menemukan kasus demikian. Wallahu alam.
  7. Dalam juklak FC memang ada beberapa yang mirip dengan pola makan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tapi Penulis tidak bisa menyamakan FC dengan sunnah apalagi dengan menjalankan FC = menjalankan sunnah. Bagi Penulis, sesuatu yang ada contohnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, insya Allah baik untuk kita semua.
  8. Menjalankan FC atau tidak, yang terpenting sebagai muslim kita harus menjaga adab makan dan minum seperti yang dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Referensi:
  • Food Combining: Kombinasi Makanan Serasi. Andang Gunawan. Gramedia.
  • Jamuan Makan dan Minum bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mahmud Nashar. Pustaka At-Tibyan.
  • Mengapa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Tidak Gampang Sakit. Asadullah Al-Faruq. As-Salam Publishing.
  • Mitos dan Fakta Kesehatan. Erikar Lebang. Penerbit Buku Kompas.
  • Praktek Kedokteran Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Penerbit Hikam Pustaka.
  • Shahih Thibbun Nabawi. Aiman bin Abdullah bin Abdul Fattah. Pustaka Imam Ahmad.
  • http://rumaysho.com/belajar-islam/jalan-kebenaran/4225-beda-antara-adat-dan-ibadah.html

*) Catatan Pemuraja’ah:

 

  • Dari artikel di atas, Penulis telah menyebutkan teori FC konvensional beserta contohnya (baik dalam bentuk juklak maupun jurnal), kemudian Penulis membandingkannya dengan tuntunan pola makan yang disebutkan dalam kitab-kitab para ulama.
  • Menjadikan hal mubah sebagai sarana ibadah tidak memerlukan dalil. Jika pelaksanaan FC mesti “menunggu” dalil berarti FC menjadi sebuah ibadah yang mengikuti sunnah, bukan lagi berstatus ibadah dengan sarana yang mubah.

Penulis : Oky Key Primela
Muraja’ah : Ustadz Ammi Nur Baits

Sumber: https://muslimah.or.id/

Mereka Iri, Mengapa Kita Malah Mengikuti?

Mereka Iri, Mengapa Kita Malah Mengikuti?

Bismillah wash-shalatu was-salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du …

Al-Qur’an telah memberitakan bahwa masyarakat ahli kitab telah mengetahui akan ada nabi terakhir yang mempimpin dunia serta mengalahkan berbagai macam suku dan golongan yang tidak mengetahui agamanya.

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ

Ingatlah ketika Isa Ibnu Maryam berkata, ‘Wahai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira dengan datangnya seorang rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).’ Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, ‘Ini adalah sihir yang nyata.’” (QS. Ash-Shaf:6)

Di ayat lain, Allah berfirman,

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ

(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar, menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk, serta membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an). Mereka Itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-A’raf:157)

Mereka juga memahami bahwa nabi terakhir ini akan tinggal di daerah yang memiliki banyak kebun kurma.

Karena alasan inilah, masyarakat Yahudi eksodus dari daerah asalnya di Syam menuju Yatsrib (nama asal kota Madinah), untuk menyambut kehadiran nabi terakhir. Dalam kitab Ar-Rahiq Al-Makhtum diterangkan tentang asal Yahudi di Madinah,

وكانوا في الحقيقة عبرانيين، ولكن بعد الانسحاب إلى الحجاز اصطبغوا بالصبغة العربية في الزى واللغة والحضارة، حتى صارت أسماؤهم وأسماء قبائلهم عربية، وحتى قامت بينهم وبين العرب علاقة الزواج والصهر، إلا أنهم احتفظوا بعصبيتهم الجنسية، ولم يندمجوا في العرب قطعًا، بل كانوا يفتخرون بجنسيتهم الإسرائيلية

“Aslinya mereka adalah Ibrani. Namun setelah mereka pindah ke daerah Hijaz (wilayah Madinah – Mekah), mereka melebur dengan kultur arab, mulai dari cara berpakaian, bahasa, sampai tradisi dan kebudayaan. Hingga nama mereka dan nama kabilah mereka menjadi kearab-araban. Sampai terjadi hubungan pernikahan antara Yahudi dengan masyarakat Arab. Hanya saja, mereka masih menjaga fanatisme kebangsaan dan tidak berasimilasi penuh dengan masyarakat Arab. Bahkan mereka membanggakan diri mereka sebagai keturunan Israil.” (Ar-Rahiq Al-Makhtum, hlm. 139)

Ancaman Yahudi kepada penduduk Madinah

Sikap fanatisme masyarakat Yahudi di Madinah mendorong mereka untuk berusaha merebut kota Madinah dari tangan penduduk Arab. Untuk mewujudkan tujuan ini, mereka berusaha mengadu domba antar-suku masyarakat Madinah, yang ketika itu terdiri dari dua suku besar: Aus dan Khazraj. Hingga terjadi perang besar antara dua suku ini, yang dikenal dengan perang Bu’ats.

Karena telah memiliki Taurat, dalam masalah keyakinan, masyarakat Yahudi merasa diri mereka lebih berperadaban dibandingkan penduduk Arab asli. Abul Aliyah menyebutkan bahwa di antara doa orang Yahudi itu,

اللهم ابعث هذا النبي الذي نجده مكتوبًا عندنا حتى نعذب المشركين ونقتلهم

Ya Allah, utuslah nabi yang telah disebutkan kisahnya dalam Taurat ini, sehingga kami bisa menghukum orang-orang musyrik itu, dan membantai mereka.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1:326)

Allah firmankan hal ini dalam Al-Qur’an,

وَلَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ وَكَانُوا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا

Dan setelah datang kepada mereka Al-Qur’an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah:89)

Akan tetapi, harapan mereka meleset. Para Yahudi itu berharap agar nabi terakhir diutus dari kalangan mereka, namun ternyata Allah utus dari kalangan orang Arab, suku Quraisy. Lebih dari itu, nabi terakhir ini tidak berpihak atas nama fanatisme keturunan Israil. Pupus sudah harapan besar mereka, hingga timbul hasad dan dengki kepada masyarakat Arab. Tidak ada pilihan lain bagi mereka, selain kufur terhadap nabi terakhir itu.

Di lanjutan ayat di atas, Allah berfirman,

فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَ ( ) بِئْسَمَا اشْتَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ أَنْ يَكْفُرُوا بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ بَغْيًا أَنْ يُنَزِّلَ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ عَلَى مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ

Ketika telah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu. Alangkah buruknya (hasil perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah, karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 89 – 90)

Ibnu Abbas menceritakan,

أن يَهود كانوا يستفتحون على الأوس والخزرج برسول الله صلى الله عليه وسلم قبل مبعثه. فلما بعثه الله من العرب كفروا به، وجحدوا ما كانوا يقولون فيه. فقال لهم معاذ بن جبل، وبشر بن البراء بن مَعْرُور، أخو بني سلمة: يا معشر يهود، اتقوا الله وأسلموا، فقد كنتم تستفتحون علينا بمحمد صلى الله عليه وسلم ونحن أهل شرك، وتخبروننا بأنه مبعوث، وتصفُونه لنا بصفته

“Sebelum diutusnya nabi, orang Yahudi berharap akan mengalahkan kaum Aus dan Khazraj dengan kehadiran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika Allah mengutus beliau dari suku Arab, mereka kufur kepadanya dan mengingkari ucapan yang dulu pernah mereka sampaikan. Hingga Muadz bin Jabal dan Bisyr bin Barra dari Bani Salamah menyampaikan kepada orang Yahudi, ‘Wahai orang Yahudi, bertakwalah kepada Allah dan masuklah ke dalam Islam! Dulu kalian ingin menghabisi kami dengan kehadiran Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika kami masih musyrik. Kalian sampaikan kepada kami bahwa beliau akan diutus dan kalian juga menceritakan sifat beliau kepada kami.’”

Namun pernyataan dua sahabat ini dibantah oleh Yahudi, melalui lidah Salam bin Misykam dari Bani Nadhir,

ما جاءنا بشيء نعرفه، وما هو بالذي كنا نذكر لكم

”Belum datang kepada kami nabi yang kami kenal, sama sekali. Dia (Muhammad) bukanlah orang yang pernah kami ceritakan kepada kalian.”

Dengan sebab ini, Allah turunkan surat Al-Baqarah ayat 89 dan 90 di atas.

Ahli kitab merasa iri dan dengki

Pelajaran penting yang juga perlu kita garis bawahi, sebab terbesar orang Yahudi itu kufur kepada ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah karena mereka iri dengan kita. Mereka dengki terhadap Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat.

Allah sampaikan dalam Al-Qur’an,

فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَ ( ) بِئْسَمَا اشْتَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ أَنْ يَكْفُرُوا بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ بَغْيًا أَنْ يُنَزِّلَ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ عَلَى مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ

Ketika telah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu. Alangkah buruknya (hasil perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah, karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 89 – 90)

Makna ”Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya” : Allah menurunkan kenabian terakhir kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Karena desakan sifat iri itu, mereka wujudkan dalam usaha memurtadkan kaum muslimin. Allah menceritakan,

وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ

Sebagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat menjadikan kalian kembali kafir setelah kalian beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran.” (QS. Al-Baqarah:109)

Anda bisa perhatikan, mereka iri dengan agama kita. Itu artinya ajaran agama kita jauh lebih sempurna dan lebih baik dari pada agama mereka, dan bahkan tidak bisa dibandingkan, karena ajaran agama mereka telah disimpangkan.

Jika si A iri kepada si B, mana yang lebih baik? Jelas jawabannya: si B lebih baik. Karena jika si A lebih baik daripada si B, untuk apa dia iri kepada si B?

Yahudi dan Nasrani, iri kepada Islam. Sekali lagi, karena ajaran Islam lebih baik dari pada ajaran mereka. Jika Islam jauh lebih baik daripada Nasrani dan Yahudi, lantas dengan alasan apa umat Islam mengucapkan “selamat natal” atau “selamat tahun baru”, padahal itu semua perayaan adalah agama usang yang seharusnya sudah ditinggalkan?

Namun sangat disayangkan, kehadiran generasi “muslim liberal” mewakili kelompok kaum muslimin yang rendah diri — bukan rendah hati. Mereka merasa hina di depan agama usang yang telah diselewengkan.

Allahu a’lam.

***

Artikel Muslimah.Or.Id

Penulis: Ustadz Ammi Nur Baits

Baca selengkapnya https://muslimah.or.id/4923-mereka-iri-mengapa-kita-malah-mengikuti.html