Waktu Kita Dipergunakan untuk Apa?

 

Bismillah, wa bihi nasta’iinu.

Adalah para mahasiswa, sosok dan profil yang sering diharapkan untuk melanjutkan estafet kepemimpinan umat ini di masa depan. Baik mereka yang duduk di bangku kuliah umum maupun mereka yang berada di kuliah khusus agama. Mahasiswa muslim adalah harapan bagi masyarakat Islam di berbagai penjuru negeri.

Mungkin kita masih ingat bagaimana kerasnya perjuangan para pemuda perintis kemerdekaan bangsa ini dari belenggu penjajah. Mereka yang berjuang dengan bambu runcing hingga tetes darah penghabisan. Mereka yang meneriakkan takbir untuk menguatkan semangat jihad generasi muda dan pasukan pembela tanah air. Tidak dipungkiri bahwa kemerdekaan bangsa ini merupakan berkat rahmat Allah Tuhan Yang Maha Esa kepada segenap rakyat di negeri ini.

Apalagi jika kita tengok perjuangan generasi muda di masa keemasan Islam, yaitu di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya. Pengorbanan dan keberanian mereka dalam mempertahankan aqidah dan jalan hidup tentu tidak bisa diragukan. Keyakinan yang kuat, kebersihan hati, dan kedalaman ilmu, serta pemahaman tentang agama ini, itulah bekal mereka dalam menjalani hari demi hari perjuangan memberantas kezaliman di atas muka bumi.

Umar bin Khattab radhiyallahu ’anhu berpesan kepada kita, “Kami adalah suatu kaum yang telah dimuliakan oleh Allah dengan Islam ini. Maka, kapan saja kami berusaha mencari kemuliaan dengan selain cara Islam, pastilah kami akan dihinakan.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak)

Kaum muslimin ini menjadi mulia dan berjaya tatkala mereka berpegang teguh dengan nilai-nilai Al-Qur’an dan petunjuk Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بهذا الكِتَابِ أَقْوَامًا، وَيَضَعُ به آخَرِينَ

“Sesungguhnya Allah akan mengangkat sebagian kaum dengan Kitab ini (Al-Qur’an) dan akan merendahkan sebagian yang lain juga dengan sebab Kitab itu.” (HR. Muslim dari Umar bin Khattab radhiyallahu ’anhu). Orang yang dimuliakan adalah yang mengikuti Al-Qur’an sedangkan mereka yang direndahkan adalah yang berpaling dan mencampakkannya.

Saudaraku para pemuda muslim yang dirahmati Allah, negeri ini jelas membutuhkan ketangguhan para pemuda yang tidak hanya cerdas dalam ilmu-ilmu dunia, tetapi juga harus lurus akidah dan jalan hidupnya. Umat Islam adalah umat terbaik yang dikeluarkan oleh untuk segenap manusia. Mereka memerintahkan yang makruf dan melarang dari yang mungkar serta berpegang erat dengan ajaran tauhid dan keimanan.

Perkara makruf yang terbesar adalah tauhid dan kemungkaran yang terberat adalah syirik. Dari sinilah kita mengetahui bahwa sudah menjadi kewajiban para pemuda untuk lebih dekat mengenal ajaran agamanya, sebab inilah kunci kebaikan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah pahamkan dia dalam hal agama.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Mu’awiyah radhiyallahu ’anhu)

Bekal utama seorang pemuda

Memahami tauhid dan aqidah merupakan modal dasar dan bekal utama bagi setiap pemuda muslim. Sebab tauhid merupakan tujuan penciptaan jin dan manusia, dan akidah merupakan pondasi dan syarat diterimanya seluruh amal kebaikan. Allah berfirman,

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِیَعۡبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Allah Ta’ala juga berfirman,

وَلَوۡ أَشۡرَكُوا۟ لَحَبِطَ عَنۡهُم مَّا كَانُوا۟ یَعۡمَلُونَ

“Dan seandainya mereka itu berbuat syirik pasti akan lenyap semua amal yang dahulu pernah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 88)

Beribadah kepada Allah adalah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Beribadah kepada Allah adalah dengan melaksanakan apa-apa yang dicintai dan diridai oleh Allah, baik berupan ucapan maupun perbuatan yang lahir maupun batin. Demikianlah makna ibadah sebagaimana diterangkan oleh para ulama semacam Ibnu Taimiyah rahimahullah.

Ibnul Qayyim rahimahullah juga menerangkan bahwa ibadah itu dibangun di atas dua pokok: puncak perendahan diri dan puncak kecintaan kepada Allah. Segala bentuk ibadah itu harus dimurnikan untuk Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

فَإِنَّ حَقَّ اللّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوا اللّهِ وَلاَ يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئاً

“Hak Allah atas para hamba adalah mereka harus beribadah kepada-Nya dan tidak mempersekutukan dengan-Nya sesuatu apa pun.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ’anhu)

Gunakan waktu untuk kebaikan

Para pemuda muslim yang dirahmati Allah, perjalanan waktu ini begitu cepat. Hari demi hari kita lalui, bulan demi bulan kita lewati. Anda perlu ber-muhasabah dan berintrospeksi diri. Apakah selama ini anda telah memperhatikan agama anda? Apakah anda telah belajar Islam dengan sungguh-sungguh? Apakah anda sudah mengenali tauhid asas dalam agama ini?

Apabila belum, maka sadarilah bahwa agama ini merupakan kunci kebahagiaan hidup anda. Ia merupakan modal utama untuk meraih ketentraman dan kemuliaan. Bukan tumpukan harta, tingginya jabatan, luasnya kekuasaan, atau gemerlapnya perhiasan dunia. Fir’aun adalah sosok penguasa besar, tetapi ia tidak bisa bahagia dengan kekuasaannya. Qarun adalah seorang yang kaya raya, tetapi ia juga tidak bisa bahagia dengan hartanya. Akan tetapi, lihatlah sosok Bilal bin Rabah radhiyallahu ’anhu yang awalnya berstatus budak kemudian Allah muliakan dengan iman dan tauhid di dalam jiwanya. Lihatlah sosok para pemuda di kalangan para sahabat yang Allah muliakan dengan ilmu dan keteguhan imannya, bukan dengan kecanggihan teknologi yang mereka punya.

Hasan Al-Bashri rahimahullah memberikan nasihat, “Wahai anak Adam, sesungguhnya kamu ini adalah kumpulan hari demi hari. Setiap hari berlalu, maka hilanglah sebagian dari dirimu.” (lihat Ma’alim fi Thariq Thalab Al-‘Ilmi, hal. 35)

Oleh karena itulah, masa muda adalah waktu yang sangat berharga untuk anda dalam mencari kebaikan dan bekal untuk masa depan. Sebagaimana anda bersemangat untuk mencapai prestasi dalam hal dunia, maka seharusnya anda juga bersemangat untuk mengumpulkan bekal terbaik untuk hari akhirat yaitu takwa. Sementara takwa itu dibangun dengan ilmu dan pemahaman.

Para ulama kita juga mengingatkan bahwa ilmu itu dicari seiring dengan perjalanan siang dan malam. Barangsiapa yang menginginkan ilmu dengan cara yang instan/cepat, maka ia juga akan lenyap dengan cepat. Ilmu butuh kepada kesabaran dan perjuangan. Ilmu tidak akan diperoleh dengan badan yang selalu bersantai-santai apalagi bermalas-malasan.

Carilah lingkungan yang baik untuk mendukung kegiatan anda dalam beragama, belajar, dan beramal saleh. Carilah guru dalam ilmu agama yang benar-benar berkompeten dalam bidangnya dan memiliki akidah yang lurus. Ingatlah nasihat Ibnu Sirin rahimahullah,

إن هذا العلم دين فانظروا عمن تأخذون دينكم

“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, oleh sebab itu perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.” Disebutkan oleh Imam Muslim dalam mukadimah kitab Sahihnya.

Demikian sedikit catatan dan faedah semoga bermanfaat bagi orang-orang yang menyimpan iman di dalam hatinya. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

 

 

 


 

 

 

Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.

Sumber

You may also like...