Merasa Hina adalah Pintu yang Paling Luas untuk Menghadap Allah ‘Azza wa Jalla

 

Seorang muslim bahkan setiap manusia sewajibnya khusyuk atau merasa hina kepada Rabbnya karena ia adalah seorang hamba, adapun Allah tabaraka wa ta’ala adalah sesembahannya juga pemiliknya, Allah yang mengatur segala urusannya, Allah-lah yang menetapkan hukum dan aturan atas dirinya dan Allah Maha Agung Kekuasaan-Nya atas segala sesuatu.

Nabi Shallallahu‘alaihi wa sallam menceritakan kita tentang kisah dua orang Bani Israil yang bersahabat yang mana orang yang pertama adalah seorang ahli ibadah, seorang yang perhatian kepada Allah dan bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah. Dia curahkan dirinya untuk beribadah kepada tuhannya. Adapun orang yang kedua adalah orang yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri (ahli maksiat). Sang ahli ibadah selalu menasihati temannya yang ahli maksiat setiap kali melewatinya, memerintahkannya melakukan kebaikan dan melarangnya melakukan keburukan, namun sang ahli maksiat tidak memperdulikannya. Pada suatu hari sang ahli ibadah berkata kepada temannya yang ahli maksiat tatkala ia tidak mau menghentikan perbuatan dosanya,

وَاللهِ لَا يَغْفِرُ اللهُ لَكَ

Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni dosamu”.

قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: فَقَالَ اللهُ -جَلَّ وَعَلَا-: مَنْ هَذَا المُتَأَلِّي عَلَيَّ أَلَّا أَغْفِرَ لِفُلَانٍ؟! اِشْهَدُوا يَا مَلَائِكَتِي أَنَّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُ، وَأَحْبَطْتُ عَمَلَهُ

Rasulullah Shallalahu‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Maka Allah Jalla wa’ala berfirman, ‘Siapa ini orang yang berani-beraninya bersumpah atas nama-Ku dengan mengatakan bahwa Aku tidak akan mengampuni fulan? Saksikanlah wahai para malaikat-Ku, sungguh Aku telah mengampuni sang ahli maksiat dan Aku hapuskan amalan sang ahli ibadah’’.

Abu Hurairah radhiyallahu‘anhu mengomentari kisah sang ahli ibadah di atas,

قَالَ أَبُو هُرَيرَةَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: فَتَكَلَّمَ بِكَلِمَةٍ أَوْبَقَتْ دُنْيَاهُ وَآخِرَتَهُ

Abu Hurairah radhiyallahu‘anhu berkata, “Maka dia telah mengucapkan suatu kalimat yang menghancurkan dunia dan akhiratnya.” (HR. Abu Dawud di dalam Sunannya dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Dinilai shahih oleh Al Albani di dalam Shahihil Jami’)

Kisah dua orang Bani Israil selaras dengan sabda Nabi Shallallahu‘alaihi wa sallam,

تَكَلَّمَ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا؛ يَكْتُبُ اللهُ -جَلَّ وَعَلَا- عَلَيْهِ بِهَا سَخَطَهُ إِلَى يَوْمِ يَلْقَاهُ، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا، يُضْحِكُ بِهَا جُلَسَاءَهُ؛ يَهْوِي بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

Seorang hamba bisa jadi mengucapkan suatu kalimat yang Allah murkai, yang dia mengucapkan kalimat tersebut tanpa memberikan perhatian padanya, lantas Allah ‘Azza wa Jalla catat murka-Nya untuk orang tersebut sampai hari ia berjumpa dengan Allah. Dan seorang hamba ada yang berkata dengan suatu perkataan yang Allah murkai, yang ia tidak memberikan perhatian padanya dalam rangka membuat tertawa teman-teman duduknya, maka jatuhlah ia dengan sebab kata-kata tersebut ke dalam neraka dengan jarak yang lebih jauh daripada jarak antara langit dan bumi.” (HR. Bukhari)

Maka tidak ada pintu yang lebih luas dari pintu-pintu menghadap Allah dibandingkan pintu merasa hina di hadapan Allah Jalla wa’ala. Tidak merasa ujub dengan amal, tidak merasa bangga, berjasa dan berperan untuk agama Allah. Dan berkepingnya hati di hadapan Allah Tabaraka wa ta’ala adalah sebab Allah mengampuni suatu dosa dan Allah akan meninggikan derajat karenanya.
Oleh karena itu terdapat sebuah ungkapan,

وَرُبَّ ذَنْبٍ أَدْخَلَ صَاحِبَهُ الْجَنَّةَ، وَرُبَّ طَاعَةٍ أَدْخَلَتْ صَاحِبَهَا النَّارَ

Terkadang ada dosa yang menjadi sebab memasukkan pelakunya ke dalam surga, dan terkadang ada ketaatan yang menyebabkan pelakunya terjerumus ke dalam neraka.”

Mengapa hal ini bisa terjadi?

Seorang yang melakukan dosa, melampaui batas terhadap diri sendiri yang dia lakukan karena kejahilannya terhadap kekuasaan Allah Tabaraka wa ta’ala, bahwa Allah Maha Melihat segala sesuatu yang ia lakukan, namun ia bukanlah orang yang lancang, bukan orang yang berbangga di hadapan Allah Tabaraka wa ta’ala dengan maksiatnya. Maka tatkala ia terjerumus ke dalam dosa, dosa tersebuat membuahkan berkeping-keping hatinya, merasa hina di hadapan Rabbnya, dan muncul keinginan untuk kembali kepada Allah Rabb semesta alam. Maka jadilah dia seperti sifat mukmin bagaimanapun keadaannya. Sebagaimana yang telah dikabarkan oleh Nabi seorang manusia yang amanah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ المُؤْمِنَ يَرَى ذَنْبَهُ كَأَنَّهُ جَبَلٌ يُوشِكُ -أَوْ يَهُمُّ- أَنْ يَقَعَ عَلَيهِ

Seorang mukmin melihat dosa yang ia lakukan seakan ia sedang duduk di bawah gunung dan ia khawatir gunung tersebut akan menimpanya, sedangkan orang yang fajir (pengemar dosa) melihat dosanya bagaikan lalat yang terbang melintas di depan hidungnya.” (HR. Bukhari)

Orang yang fajir meremehkan dosanya, ia tidak merasa khawatir dengan dosa yang ia lakukan. Lain halnya dengan cara pandang orang yang jujur imannya kepada Allah, ia menganggap dosa sebagai suatu hal yang menakutkan dan membinasakan. Hal ini disebabkan ia tidak melihat kecilnya dosa yang ia perbuat melainkan kepada siapa ia melakukan dosa dan bermaksiat yaitu kepada Dzat yang demikian baik padanya, kepada Dzat yang setiap detik memberikan nikmat kepadanya.

Kemudian ada seorang yang mendapatkan taufik untuk taat namun ia tidak melihat siapakah yang memberikan taufik kepadanya, lalu ia menganggap besar amalnya tersebut di hadapan Allah Tabaraka wa ta’ala. Seorang jika merasa puas dengan amalnya dan dirinya untuk Rabbnya Tabaraka wa ta’ala maka ini merupakan tanda Allah tidak ridha dengannya. Adapun seorang jika ia mengetahui amalnya, menyadari amalnya dan apa yang meliputi amalnya berupa berbagai macam penyakit dan kekurangan dalam beramal, ketika seseorang telah menyadari siapakah dirinya, dan bagaimanakah keadaannya ketika sepi sendiri, bagaimanakah isi hatinya, dan dia mengetahui segala hal yang meliputi dirinya berupa kekurangan dan kehinaan, maka ia tidak akan merasa puas dengan amalnya, dia tidak akan merasa puas dengan keadaan diri juga hatinya, karena ia merasa banyak kekurangan dan kejelekan kemudian ia akan merasa hina di hadapan Allah Tabaraka wa ta’ala.

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

Sesungguhnya Allah hanyalah menerima amalan dari orang-orang yang bertakwa dalam amalnya.” (Q.S Al-Maidah: 28)

Ada seorang yang diberi taufik untuk taat maka ia lakukan ketaatan tersebut, kemudian mulailah ia bangga dan ujub atas amalnya bahkan ia merasa berjasa di hadapan Allah Rabb semesta alam, suka mengungkit-ngungkit ibadahnya sendiri. Maka ketaatannya membuahkan kesombongan dan ujub. Jika kesombongan dan ujub terus menerus ada pada dirinya, berkembang dalam hatinya maka inilah yang menyebabkan ia menjadi penghuni neraka dan inilah seburuk-buruk tempat kembali untuknya.

Kata ‘terkadang’ yang terdapat pada ungkapan,“Terkadang ada dosa yang menjadi sebab memasukkan pelakunya ke dalam surga, dan terkadang ada ketaatan yang menyebabkan pelakunya terjerumus ke dalam neraka”, maksudnya ialah hal ini jarang terjadi karena umumnya dosa membuahkan dosa setelahnya sebagaimana ketaatan membuka jalan ketaatan setelahnya.

Semoga Allah memudahkan kita semua untuk melaksanakan ketaatan pada-Nya dan menghindarkan kita dari memaksiati-Nya.

 

 


 

 

Referensi:

1. Wa Maadzaa Ba’da Ramadhaan hlm 7-9, Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Sa’id Ruslan hafizhahullah, Khutbah Jum’at 1 Syawal 1431 H/ 10 September 2010 M di Mesir (http://www.rslan.org/kotob/matha_baad_ramadan.pdf)

2. Rekaman Risalah Wamadzaa Ba’da Ramadhaan oleh ustadz Dr. Aris Munandar, S.S, M.P.I hafizhahullah Pertemuan ke-1 menit ke 27:09-46.28 (http://www.jogjamengaji.com/2019/02/risalah-wamaadza-bada-ramadhan-ustadz.html)

Penulis: Atma Beauty Muslimawati

Sumber

You may also like...