Dosa Besar dan Dosa Kecil

 

Definisi dosa

Dosa adalah sesuatu yang menyelisihi aturan syar’i dengan meninggalkan kewajiban atau melakukan keharaman.

Pembagian dosa ditinjau dari besar kecilnya

Ditinjau dari besar kecilnya, dosa terbagi menjadi dua, yaitu:

Dosa besar

Dosa besar adalah dosa yang dalam dalil disebut dengan hukuman (ancaman) khusus di dunia atau di akhirat, atau disebut sebagai dosa yang besar.

Maksud dari “hukuman (ancaman) khusus di dunia”, seperti: hukuman had, atau peniadaan iman, pelakunya disebut fasiq, dan membinasakan di dunia.

Maksud dari “ancaman (hukuman) khusus di akhirat”, seperti: neraka, laknat, murka Allah, tidak masuk surga, tidak mencium bau surga, dan membinasakan di akhirat.

Contoh dosa besar:

Syirik, sihir, mencela para nabi ‘alaihimush shalatu wassalam, meninggalkan salat wajib 5 waktu, durhaka kepada orang tua, zina, membunuh, minum minuman yang memabukkan, riba, makan harta anak yatim tanpa hak, dll.

Berikut ini kutipan ucapan ulama tentang dosa besar [1]:

Abu Abbas Al-Qurthubi rahimahullah berkata,

الصَّحيحُ إن شاء اللهُ تعالى: أنَّ كُلَّ ذَنبٍ أطلَقَ الشَّرعُ عليه أنَّه كبيرٌ أو عظيمٌ، أو أخبَرَ بشِدَّةِ العِقابِ عليه، أو عَلَّق عليه حَدًّا، أو شَدَّد النكيرَ عليه وغَلَّظه، وشَهِد بذلك كتابُ اللهِ أو سُنَّةٌ أو إجماعٌ: فهو كبيرةٌ

Pendapat yang benar insyaAllah Ta’ala bahwa setiap dosa yang dalam syari’at disifati dengan besar (kabir atau ‘azhim), atau dikabarkan bahwa hukuman bagi pelakunya itu keras, atau disebutkan had (hukuman khusus) bagi pelakunya, atau diingkari dengan keras dan kuat, serta hal tersebut disebutkan dalam Kitabullah, Sunnah, atau ijma’, maka ini adalah dosa besar.

Dan Abu Ya’la rahimahullah berkata, “Imam Ahmad rahimahullah telah mendefinisikan dosa besar dengan definisi,

بما يُوجِبُ حَدًّا في الدُّنيا، ووعيدًا في الآخرةِ

Dosa yang mengakibatkan had (hukuman khusus) di dunia dan diancam (dengan ancaman khusus) di akhirat.”

Sedangkan Syaikhul Islam rahimahullah menyebutkan bahwa dosa besar adalah dosa yang dihukum (pelakunya) dengan hukuman khusus.

Dalil jenis dosa besar:

Di antara dalil-dalil dosa besar adalah firman Allah Ta’ala,

اَلَّذِيْنَ يَجْتَنِبُوْنَ كَبٰۤىِٕرَ الْاِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ اِلَّا اللَّمَمَۙ اِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِۗ هُوَ اَعْلَمُ بِكُمْ اِذْ اَنْشَاَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ وَاِذْ اَنْتُمْ اَجِنَّةٌ فِيْ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْۗ فَلَا تُزَكُّوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقٰى

“(Yaitu) mereka yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji, kecuali dosa-dosa kecil. Sungguh, Tuhanmu Mahaluas ampunan-Nya. Dia mengetahui tentang kalian, sejak Dia menjadikan kalian dari tanah, lalu ketika kalian masih janin dalam perut ibu kalian. Maka, janganlah kalian menganggap diri suci. Dia mengetahui tentang orang yang bertakwa. (QS. An-Najm: 32)

Allah Ta’ala berfirman,

وَوُضِعَ الْكِتٰبُ فَتَرَى الْمُجْرِمِيْنَ مُشْفِقِيْنَ مِمَّا فِيْهِ وَيَقُوْلُوْنَ يٰوَيْلَتَنَا مَالِ هٰذَا الْكِتٰبِ لَا يُغَادِرُ صَغِيْرَةً وَّلَا كَبِيْرَةً اِلَّآ اَحْصٰىهَاۚ وَوَجَدُوْا مَا عَمِلُوْا حَاضِرًاۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ اَحَدًا

“Dan diletakkanlah kitab (catatan amal), lalu engkau akan melihat orang yang berdosa merasa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, ‘Betapa celaka kami, kitab apakah ini, tidak ada yang tertinggal dosa yang kecil maupun dosa yang besar, melainkan tercatat semuanya.’ dan mereka dapati (semua) apa yang telah mereka kerjakan (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menzalimi seorang jua pun.” (QS. Al-Kahfi : 49)

Allah Ta’ala berfirman,

وَكُلُّ صَغِيْرٍ وَّكَبِيْرٍ مُّسْتَطَرٌ

“Dan segala (dosa) yang kecil maupun yang besar (semuanya) tertulis.” (QS. Al-Qomar : 53)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ

Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan!

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah itu?”

Beliau pun menjawab,

الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَكْلُ الرِّبَا وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلَاتِ

Menyekutukan Allah (syirik), sihir, membunuh manusia yang Allah haramkan kecuali dengan alasan yang hak, makan harta riba, makan harta anak yatim, lari dari medan perang, dan menuduh berzina kepada wanita yang beriman, menjaga kehormatannya, lagi bersih dari perbuatan zina.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَلا أُنَبِّئُكُمْ بأَكْبَرِ الكَبائِرِ قُلْنا: بَلَى يا رَسولَ اللَّهِ، قالَ: الإشْراكُ باللَّهِ، وعُقُوقُ الوالِدَيْنِ، وكانَ مُتَّكِئًا فَجَلَسَ فقالَ: ألا وقَوْلُ الزُّورِ، وشَهادَةُ الزُّورِ، ألا وقَوْلُ الزُّورِ، وشَهادَةُ الزُّورِ فَما زالَ يقولُها، حتَّى قُلتُ: لا يَسْكُتُ

“Maukah aku beritahukan kepada kalian dosa terbesar dari dosa-dosa besar?” Kami menjawab, “Tentu mau, wahai Rasulullah.” Beliau pun bersabda, “Menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orangtua.” Ketika itu beliau sedang bersandar, lalu beliau duduk, melanjutkan sabdanya, “Hati-hati dengan perkataan batil dan persaksian batil, hati-hati dengan perkataan batil dan persaksian batil! [2]” Beliau terus mengulang-ulangi sampai aku bergumam, “Wah, beliau tidak berhenti-berhenti.” (HR. Bukhari)

Dosa kecil

Dosa kecil adalah dosa yang dalam dalil TIDAK ADA hukuman/ ancaman khusus di dunia atau di akhirat, atau tidak disebut sebagai dosa yang besar.

Contoh dosa kecil [3]:

Menghadapnya seseorang ke arah kiblat saat buang air kecil maupun buang air besar, sedangkan antara dia dengan kiblat tidak ada penghalang yang dekat.

Memotong habis jenggot, ini termasuk dosa kecil, kecuali jika terus menerus melakukannya atau disertai niat tasyabbuh dengan wanita atau orang fasiq, maka menjadi dosa besar. Ini adalah pendapat sebagian ulama, sebagaimana difatwakan oleh Syekh Shalih Al-‘Ushaimi hafizhahullah [4], dan fatwa yang mirip dengannya adalah fatwa Syekh Al-Utsaimin rahimahullah [5].

Dalil jenis dosa kecil:

Di antara dalil-dalil dosa kecil, selain ketiga dalil di atas, juga:

Dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إذا أتيتُم الغائِطَ فلا تستقبِلوا القِبلةَ، ولا تَستَدبِروها ببولٍ ولا غائِطٍ، ولكِن شرِّقوا أو غَرِّبوا

Jika kalian berada di tempat buang air, maka janganlah menghadap kiblat dan jangan membelakanginya saat buang air kecil maupun buang air besar, tetapi menghadaplah ke timur atau ke barat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

جزوا الشوارب، واعفوا اللحى، خالفوا المجوس

Cukurlah kumis, panjangkanlah jenggot, dan selisihilah orang-orang majusi.”

Dalam hadis Aisyah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan dari selain beliau, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَشْرٌ مِنَ الْفِطْرَةِ قَصُّ الشَّارِبِ وَإِعْفَاءُ اللِّحْيَةِ

Sepuluh hal yang termasuk fitrah, yaitu mencukur kumis dan memanjangkan jenggot.

Wallahu a’lam

الحمد لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ

 

 


 

 

Penulis: Sa’id Abu Ukkasyah

 

Catatan kaki:

[1]https://dorar.net/aqeeda/2646

[2]Seluruh perkataan batil, baik ucapan dusta, persaksian palsu, maupun selainnya.

[3] shorturl.at/hxCDI

[4] https://www.youtube.com/watch?v=QjvMlUb5zvQ

[5]https://shamela.ws/book/2300/1358

Sumber

You may also like...