Ayah Aku Merindukanmu

 

Sosok suami ideal adalah lelaki yang seperti ayahku, demikian impian gadis belia yang tengah menanti pinangan lelaki salih.

Dan ternyata ayahnya adalah lelaki yang perhatian, super lembut, sabar mendengar curahan hatinya.

Lain cerita dengan gadis yang menginjak 10 tahun, di hari Jumat menjelang maghrib dia berdoa: “Ya Allah, berilah aku abi…”

Kerinduan mendalam tentang figur ayah yang sangat dicintainya terekam kuat dalam memori hatinya, ia merasa kehilangan cintanya ketika qadarullah ayahnya tiada.

Sementara seorang anak kecil usia PAUD lari tergopoh-gopoh menuju mobil yang melintas di hadapannya kemudian berteriak-teriak “abi…abi….” Sungguh pilu hatinya menanti sosok ayah yang akan mengajaknya jalan-jalan sebagaimana ayahnya dulu yang selalu membahagiakannya meski hanya sesaat.

Demikian gambaran kenangan indah sosok ayah yang sangat dicintai anak. Ayah yang penyayang serta setia membimbingnya untuk menjadi anak salih, ayah yang menggandeng tangannya ke surga. Semua kenangan indah akan senantiasa membuat anak ingin selalu merasakan cinta yang tulus dari ayahnya. Karena ayahnya mampu menjadi idola dalam kebaikan. Dan ini hanya dimiliki ayah yang paham agama dan selalu menjaga keluarganya dari siksa neraka.

Allah ta’ala berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka pada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka, dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS. At-Tahrim: 6).

Sahabat Ali bin Abu Thalib radhiyallahu’anhu berkata: “Ajarkanlah dirimu sendiri beserta keluargamu nilai-nilai kebaikan” (Hadits riwayat Al Hakim dalam Al Mustadrak (II/494), dia menshahihkan serta disetujui oleh Adz Dzahabi).

Menjadi ayah istimewa adalah impian mulia lelaki yang telah menikah agar anak-anaknya dekat secara hati dengan ayahnya. Anak akan mentransfer karakter positif sang ayah, sehingga ia memiliki rasa percaya diri dan bermental pejuang yang semakin kokoh imannya lantaran tempaan badai kehidupan. Ayah yang salih tentunya tidak akan melewatkan kesempatan emas untuk memberikan segala yang terbaik untuk buah hatinya.

Ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada para sahabatnya tentang raqub, “Siapa diantara kalian yang dianggap raqub?” Para sahabat menjawab, “Orang yang tidak memiliki anak.” Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mengoreksi jawaban dengan wahyu, “Orang seperti itu bukan raqub, akan tetapi raqub adalah seseorang yang tidak mempersembahkan sesuatu kepada anaknya.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya (I/382) Muslim dalam kitab shahihnya, Kitabul Birri Wa Shilah, bab: Orang yang Biasa Menguasai Dirinya Ketika Marah, hadist no.2608).

Dan terkadang seorang anak diuji Allah ta’ala dengan adanya ayah yang tidak dekat dan kurang mencintai anak-anaknya, bahkan sosok ayah yang buruk akhlaknya dan tidak mencerminkan pribadi teladan sebagai ayah yang bisa membawa bahtera rumah tangganya dalam kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. “Ummi, cerai saja dengan abi…”, curahan kesedihan hati karena ia merasa tidak mendapat limpahan kasih sayang karena ayahnya sibuk bekerja dan bisa jadi diperkuat dengan praktik poligaminya yang kurang adil.

Dan seorang istri yang seringkali mengelus dada dan merasa bersalah dengan dua anak lelakinya yang qadarullah sering mencontoh karakter buruk suaminya yang temperamental, kasar dan tidak mencerminkan akhlak agung sosok ayah yang bisa diteladani anaknya. Ingin rasanya ada kedekatan emosional antara anak dengan ayahnya, namun kesabaran sang ibu senantiasa diuji dengan watak dan sifat suaminya yang tak bisa akrab dan kaku dengan anak-anaknya.

Anaknya cenderung membuat jarak dengan sang ayah, karena didominasi dengan rasa takut daripada keinginan untuk bermanja-manja dengannya. Sungguh malang ayah yang tak dirindukan anak dan sungguh menderita batin seorang anak yang memiliki ayah yang cuek, tidak kooperatif dan tidak pandai bergaul dengan anaknya secara lembut. Ini peringatan penting agar ayah menyadari tanggungjawabnya yang besar dalam memimpin dan mendidik istri maupun anaknya.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

…أَلاَ كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ…وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Ketahuilah tiap-tiap kalian adalah pemimpin dan tiap-tiap kalian akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya… Dan seorang laki-laki adalah pemimpin keluarganya, dan kelak ia ditanya tentang mereka…” (HR. Al Bukhari dalam shahihnya no.893 dan Muslim no.4828).

Saatnya setiap kepala rumah tangga bisa memposisikan perannya dengan cerdas dalam berinteraksi aktif dengan anak, menjadi ayah yang selalu siap sedia membersamai mereka. Bijak bersikap ketika anak butuh dukungan, mendidiknya untuk menjadi pribadi bertakwa, dan banyak belajar dari petunjuk nabawi serta perikehidupan para salafuna salih dalam membimbing anak-anaknya.

Saatnya seorang ayah memantaskan diri menjadi pribadi salih agar bisa memberikan pendidikan Islam yang terbaik untuk anak. Dan seorang anak yang berbakti pada orang tua tentunya akan berupaya berdoa, dan semangat membersamai orang tua menuju jalan takwa. Dua kerinduan yang bisa saling bertemu untuk meraih surga. Merindukan saat-saat indah ketika ayah dan anak sejalan satu frekuensi menggapai ridha Allah ta’ala. Hingga tak ada sosok anak durhaka dan tak ada figur orang tua yang menyia-nyiakan anak-anaknya.

Semoga Allah ‘azza wa jalla mudahkan para orang tua dalam membimbing dan mendidik anak-anaknya, dan juga melembutkan hati anak-anak kita sehingga mereka mencintai dan merindukan kita karena mengharapkan cinta Allah ‘azza wa jalla.

 

 

 


 

 

 

Penulis: Isruwanti Ummu Nashifa

Referensi:

1. Cara Bijak Mendidik Anak (Terjemah) Muhammad bin Abdullah bin Shalih As Suhaimi, Pustaka Dhiya’ul Ilmi, Bekasi, 2019.

2. Mencetak Generasi Rabbani, Ummu Ihsan & Abu Ihsan Al Atsari, Pustaka Imam Asy Syafi’i, Jakarta, 2015.

Sumber

You may also like...