Saat Istri Berhenti Menua Sampai Tua

 

Begitulah saudara tunanetra kita yang sudah menikah memandang istrinya.

Saat wanita lain sibuk dengan skin dan rasa khawatir akan berperang dengan keriput dan wajah yang kusut. Istri kami cukup bermodalkan segelas jahe dan kunyit agar suaranya tidak serak.
Mudah bagi teman-teman tunanetra untuk jatuh cinta berkali-kali pada istri yang sudah tidak muda lagi.
Karena kecintaan mereka tidak tumbuh dari tunas cantiknya rupa tapi berakar dari baiknya akhlak dan agama.

Demikianlah curahan cinta seorang lelaki yang ditadirkan Allah ta’ala memiliki keterbatasan dalam penglihatan. Alhamdulilah beliau dipertemukan dengan sosok istri yang memiliki mata yang sehat, dan mereka berdua tengah berjuang mengawal dua buah hati mereka dalam merenda hari esok bersama indahnya Islam dalam manisnya iman. Keterbatasan fisik tak menghalanginya untuk selalu membersamai orang-orang yang dicintainya untuk lebih mentaati Allah ta’ala dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam sesuai pemahaman salafusshalih. Cinta karena Allah ta’ala telah menyatukan hati sejoli ini dalam mahligai indah pernikahan. Inilah takdir terindah yang membuat mereka tabah menggenggam asa cinta. Cinta kepada Allah ta’ala mengalahkan segala perbedaan karakter egoisme ambisi pribadi, dan pandangan negatif orang. Semua itu tidak mampu menggoyahkan buhul cinta keduanya.

Seorang penyair berkata:
“Cinta bukan karena keindahan dan yang tampak di mata
Tetapi karena yang menyatukan hati dan jiwa”
(Dikutip dari Taman Orang-Orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu, Ibnul Qoyyim al Jauziyyah, hal 51).

Pengaruh Besar Seorang Istri Salihah

Keberadaan sosok istri salihah sangat berperan dalam kokohnya bahtera pernikahan. Istri yang mengakui kepemimpinan suami sebagai figur yang harus ditaati meskipun dia bukanlah sosok sempurna secara fisik. Istri yang selalu memahami perasaan suami, dan mendukung tatkala pasangannya dalam situasi terpuruk. Pendamping yang bijak dan bisa bersikap arif ketika keadaan darurat yang selalu menjadi pejuang sejati di hadapan suami dan anak-anaknya. Semua ini butuh stok kesabaran tanpa tepi dan kuatnya keimanan pada Allah ta’ala.

Ibnu Araby Al-Maliky rahimahullah berkata: “Jika seorang lelaki tidak memiliki seorang istri yang salihah maka urusannya tidak akan mulus bersamanya kecuali akan hilang bagian dari agamanya dan hal tersebut disaksikan dan diketahui dengan kenyataan” (Ahkamul Qur’an I/536).

Tak setiap wanita berlapang dada menerima pinangan lelaki salih dengan keterbatasan fisik, dan faktor keimanan dan keyakinan kuatlah yang menggerakkan keinginannya untuk bersanding dengannya karena mereka juga memiliki sekian kelebihan yang mungkin tak dimiliki lelaki yang sempurna fisiknya. Bukankah yang dinilai di hadapan Allah ta’ala bukanlah fisiknya namun hati dan amal salihnya.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-  إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah shalallahu‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada rupa dan harta kalian. Namun yang Allah lihat adalah hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim no.2564).

Wanita atau istri salihah lebih tertarik dengan pesona takwa dan bagusnya akhlak daripada sekedar penampilan fisik yang memukau, namun minim ilmu agama. Faktor kesalihan merupakan standar utama dalam menerima pinangan lelaki salih karena dengan baiknya agama, dia yakin kehidupan rumah tangganya akan bahagia dunia akhirat.

Kekuatan keyakinan inilah pendorong terbesar seorang wanita perindu surga untuk bersegera menerima janji cinta pria yang bertekad membahagiakannya atas nama cinta kepada Allah ta’ala dan meneladani sunnah Rasulullah shalallahu‘alaihi wa sallam.

Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا أَتَاكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ خُلُقَهُ وَدِينَهُ فَزَوِّجُوهُ إِلَّا تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيضٌ

Apabila orang yang kalian ridhai akhlak dan agamanya mendatangi kalian maka nikahkanlah. Apabila tidak melakukannya, akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan besar. (HR. At-Tirmidzi No.1084, Ibnu Majah No.1967 dan dishahihkan Al Hakim dalam Al Mustadrak No.2695 dan dihasankan Al-Albani dalam Al Irwa’ No.1868).

 

Sehidup Sesurga

Jikalau pernikahan itu hanya mengejar kelezatan fisik, yang bernuansa duniawi semata tanpa menyertakan Allah ta’ala dalam memilih jodoh, tentunya secara umum wanita akan memilih lelaki yang tampan, kaya raya, memiliki jabatan, prestasi, dan sederet kriteria duniawi saja.

Namun secara realita tak sedikit pria bersanding mesra dengan wanita meski mereka memiliki banyak perbedaan, namun rumah tangganya tetap tenang dan damai. Sehidup sesurga inilah yang membuat mereka bertahan dalam setiap kepingan masalah dengan doa, syukur serta sabar ketika keikhlasan mereka diuji dengan realita yang tak seindah impian.

Keterbatasan “pandangan” tidaklah menghalangi seorang suami untuk meluapkan kecintaaan dengan untaian kata-kata indahya, dengan bahasa tubuh atau bentuk ekspresi lain yang disukai pasangan. Demikian pula seorang istri tidak akan mati gaya dalam mencurahkan luapan cinta kepada suaminya, justru ia akan lebih kreatif dan tertantang dalam menerjemahkan bentuk rasa sayang pada pasangan sesurganya. Ketidaksempurnaan fisik bukan penghalang bagi pasutri untuk meraih kebahagiaan sejati dalam menuju pelabuhan indah, sakinah, mawaddah, dan rahmat Allah ta’ala.

Dan kunci terbesar agar pernikahan sehidup dan sesurga adalah dengan iman dan amal salih sebagaimana yang diperintahkan syariat.

Allah ta’ala berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

Artinya: “Barangsiapa mengerjakan kebajikan baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97).

Semoga sekelumit kisah di atas mampu menginspirasi pasutri untuk lebih care, empati dan menjadikan pasangannya soulmate dalam segala suasana suka dan duka. Pasanganmu adalah warna hari-harimu yang harus disyukuri karena menikah bukan hanya tentang aku dan engkau namun tentang kita serta harus menjadikan Allah ta’ala sebagai tujuan hidup. Rasulullah shalallahu‘alaihi wa sallam sebagai teladan terdepan dan al-Qur’an sebagai pedoman hidup.

Wahai suami salih, tidakkah engkau terobsesi dengan kebesaran cinta saudara tunanetra kita di atas? Dan tidakkah para istri bisa bersabar sekaligus lapang dada menerima kekurangan pasangan sebagaimana rajutan tali kesabaran istri yang ditakdirkan memiliki suami yang tak bisa melihat indahnya perhiasan dunia.
Saatnya harus bersyukur agar Allah ta’ala berkahi rumah tangga kita hingga pasangan menua sampai tua, baiti jannati dunia hingga menetap ke surga.

 

 

 


 

 

 

Penulis: Isruwanti Ummu Nashifa

Referensi:
1. Majalah As Sunnah Edisi 02/Tahun XXVII/1444H
2. Taman Orang-Orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu (Terjemah), Ibnul Qayyim A Jauziyyah, Darul Falah, Jakarta 1423H
3. Rumaysho.com, Oktober 2011.

Sumber

You may also like...