Kita Semua Ingin Diterima

 

Terdapat sebuah teori yang mengatakan bahwa tingkatan kebutuhan manusia terdiri dari lima hal, yaitu kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan sosial, kebutuhan penghargaan, dan kebutuhan aktualisasi diri. Teori ini dikenal sebagai Teori Maslow.

Setelah kebutuhan fisiologis seperti makan dan minum terpenuhi, manusia tentu membutuhkan rasa aman. Setelah rasa aman terpenuhi, manusia butuh merasa disayang dan dicintai. Iya, kebutuhan sosial adalah kebutuhan untuk berkasih sayang dan merasa diterima. Namun, adakah diri kita ini sudah diterima oleh manusia di sekitar kita?

Entah sejak kapan, penerimaan seolah menjadi hal yang krusial di era ini. Era ketika kita dengan mudah mengakses kehidupan orang lain dan melihat update kehidupan mereka sehari-hari. Ada rasa sedih ketika kita tidak masuk ke circle tertentu. Pun juga ada rasa gelisah jika kita tidak dianggap sebagaimana yang lain.

Betapa banyak orang yang akhirnya depresi hanya karena merasa tidak diterima. Betapa banyak orang yang memaksakan diri mengikuti standar tertentu hanya agar diterima. Iya, konsep penerimaan menjadi hal yang bias dan sulit kita dudukkan jika patokannya adalah kelompok ini atau kelompok itu. Namun, tahukah engkau bahwa Islam telah mengajarkan satu resep agar kita dicintai dan diterima oleh manusia?

عَنْ سَهْلٍ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ: دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِيَ اللهُ وَأَحَبَّنِيَ النَّاسُ؟ فَقَالَ: «اِزْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللهُ، وَازْهَدْ فِيْمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبَّكَ النَّاسُ» حَدِيْثٌ حَسَنٌ رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ وَغَيْرُهُ بِأَسَانِيْدَ حَسَنَةٍ.

Dari Sahl bin Sa’ad As-Sa’idi radhiyallahuanhu berkata, “Ada seseorang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu amal yang apabila aku lakukan, Allah mencintaiku dan manusia juga mencintaiku.” Beliau menjawab, “Zuhudlah terhadap dunia, maka Allah akan mencintaimu. Begitu pula, zuhudlah dari apa yang ada di tangan manusia, maka manusia akan mencintaimu.” [HR. Ibnu Majah, no. 4102. Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 944 mengatakan bahwa hadits ini hasan]

Iya, menjadi zuhud terhadap apa yang dimiliki manusia adalah resepnya. Mengapa bisa demikian? Karena ketika kita zuhud terhadap apa yang dimiliki manusia, kita tidak ada keinginan untuk memiliki yang mereka miliki. Kita tidak ada hasrat untuk menyaingi mereka. Kita pun tidak punya tendensi untuk meminta-minta kepada mereka.

Sungguh manusia itu selain tidak suka dimintai, juga tidak suka disaingi. Sifat dasar manusia adalah tidak suka ketika ada orang yang lebih baik atau lebih hebat darinya. Pun juga tidak suka jika ada orang yang terus meminta kepadanya.

Ketika kita zuhud terhadap apa yang mereka miliki, hati kita tak punya keinginan untuk menonjolkan diri sendiri. Bukankah orang macam ini yang disukai manusia? Orang yang tidak show off, orang yang terlihat biasa-biasa saja hingga tak ada kesan kesombongan dalam dirinya.

Betapa banyak orang dimusuhi karena kegemarannya memamerkan kehebatan diri sendiri. Betapa banyak orang dibenci karena selalu tak ingin kalah dari orang lain. Bahkan tak jarang agar terlihat hebat, dia melebih-lebihkan hal yang sejatinya tak ada pada dirinya. Ia mengesankan dirinya sebagai orang yang begini dan begitu agar manusia menghargainya.

Padahal jika kita pikir kembali, menjadi zuhud terhadap apa yang dimiliki manusia akan membuat hati kita ringan. Kita tak ingin disanjung hingga tak terbesit pikiran untuk mengangkat diri sendiri. Betapa nyaman dan tentram bukan hidup seperti ini?

Oleh karena itu, saudariku, sikap zuhud ini, selain mendatangkan cinta Allah, insyaallah akan mendatangkan cinta manusia. Mari hiasi diri kita dengan sifat ini.

 

 

 


 

 

 

Penulis: Rahma Aziza Fitriana

Referensi:

Sumber

You may also like...