Agar Tidak Bergantung Lagi dengan Jimat

 

Masyarakat Indonesia akrab dan identik dengan hal-hal yang berbau mistis dan klenik. Budaya dan adat istiadat yang tersebar masih banyak sekali yang bersinggungan dengan hal-hal tersebut. Tak terkecuali penggunaan jimat dengan berbagai macam bentuknya untuk mencapai berbagai tujuan dalam kehidupan sehari-hari.

Bukan hanya kalangan awam saja, kalangan terpelajar sekalipun masih banyak sekali yang mempercayai dan mengandalkan hal-hal tersebut. Tidak mengherankan apabila headline portal berita dan surat kabar banyak yang menyebutkan perihal peserta tes CPNS yang membawa jimat ke dalam ruang ujian. Tidak mengherankan juga jika ada seorang tokoh terkenal dan berpengaruh yang menggunakan jimat dengan tujuan melejitkan karir jabatannya. Belum lagi jimat-jimat yang mudah sekali kita jumpai di rumah-rumah dan aksesori-aksesori yang dipakaikan ke anak-anak kecil dengan anggapan bahwa hal tersebut akan menjadi penghalang dari malapetaka dan musibah yang akan menimpanya.

Mirisnya, banyak dari yang melakukan hal-hal di atas ternyata adalah muslim yang mengaku beriman kepada Allah Ta’ala. Seorang muslim yang seharusnya yakin dan percaya bahwa hanya Allah satu-satunya yang dapat menyelamatkannya dari malapetaka. Hanya Allah juga yang akan memberikan kemudahan dan jalan keluar atas setiap masalah yang sedang dihadapinya.

Ingat! Hati ini hanya boleh bergantung kepada Allah Ta’ala

Hati ini hanya boleh disandarkan dan digantungkan kepada Allah Ta’ala. Sehingga ketika hati ini bersandar dan bergantung kepada selain-Nya, seperti jimat penglaris, rajah, susuk, ataupun bentuk-bentuk jimat lainnya dengan harapan bisa mendatangkan manfaat ataupun mencegah mara bahaya, maka itu termasuk bentuk penyelewengan dan kezaliman kepada Allah Ta’ala.

Bergantungnya hati kepada jimat dan selainnya termasuk kesyirikan yang akan mengurangi kadar kesempurnaan tauhid dan keyakinan seorang hamba kepada Allah Ta’ala, bahkan boleh jadi menghilangkannya secara total. Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an,

قُلْ أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ ۚ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ ۖ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُون

“Katakanlah, ‘Maka, terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah! Jika Allah hendak mendatangkan mara bahaya kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan mara bahaya itu? Atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?’ Katakanlah, ‘Cukuplah Allah bagiku.’ Hanya kepada-Nyalah orang-orang yang berserah diri bertawakal.” (QS. Az-Zumar: 38)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah bersabda,

إنَّ الرُّقَى والتَمائِمَ والتِّوَلَةَ شِرْكٌ

“Sesungguhnya bacaan jampi-jampi untuk mengobati penyakit atau jimat-jimat yang digantungkan dan pelet-pelet adalah kesyirikan.” (HR. Ahmad no. 3615, Abu Dawud no. 3883, dan Ibnu Majah no. 3530)

Hanya saja, jenis kesyirikan dalam penggunaan jimat harus diperinci. Tidak semua penggunaan jimat otomatis menjadikan pelakunya dihukumi syirik besar yang akan membuatnya kekal di neraka. Berikut rinciannya:

Tergolong syirik kecil, jika jimat tersebut diyakini sebagai sebab saja dan bukan sumber sebuah keselamatan, dan penggunanya masih memegang keyakinan bahwa hanya Allah yang menakdirkan semua hal tersebut. Dia menganggap bahwa jimat merupakan salah satu sebab datangnya keselamatan bagi dirinya atau sebab datangnya keuntungan bagi usahanya, tanpa menafikan bahwa kesemuanya itu Allah Ta’ala yang menakdirkan.

Menjadi syirik besar, jika jimat tersebut diyakini sebagai sumber dan bukan sebagai sebab. Meyakini bahwa jimat itu berpengaruh dengan sendirinya, terlepas dari kehendak dan takdir Allah Ta’ala. Misalnya adalah keyakinan bahwa jimat itulah yang menyingkirkan mara bahaya dan bukan Allah. Hukumnya adalah syirik besar, karena menyakini ada selain Allah Ta’ala yang mampu memberi manfaat atau menolak mara bahaya dengan sendirinya.

Kiat agar hati tidak bergantung kepada jimat

Saudaraku, agar hati ini tidak bergantung kepada jimat dan yang semisalnya, maka kita harus melakukan beberapa hal:

Pertama: Menguatkan keimanan dan tauhid kita kepada Allah Ta’ala

Iman berkaitan erat dengan kadar tauhid seorang hamba. Iman yang ada pada diri manusia ini tidak diam dan bisa mengalami perubahan. Terkadang naik dan berada di atas, terkadang pula ia turun. Itulah mengapa banyak dari kaum muslimin ketika lemah dan turun imannya kepada Allah Ta’ala, ia mulai bergantung kepada selain-Nya, baik itu menggunakan jimat ataupun semisalnya.

Perbanyaklah berdoa semoga Allah Ta’ala agar senantiasa memperbaharui keimanan kita. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إن الإيمان ليَخْلَقُ فِى جَوفِ أَحَدِكمُ كَـمَا يَخْلَقُ الثَّوبُ فَاسْأَلُوا اللهَ أَنْ يُـجَدِّدَ الِإيمَانَ فِى قُلُوبِكُم

“Sesungguhnya iman itu bisa memudar pada hati kalian, sebagaimana kain bisa memudar. Karena itu, berdoalah kepada Allah untuk memperbarui iman di hati kalian.” (HR. Thabrani no. 14668 dan Al-Hakim no. 5, disahihkan oleh Al-Albani)

Kedua, Bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal

Ibnu Rajab rahimahullah dalam Jami’ul ‘Ulum wal Hikam mengatakan, “Tawakal adalah benarnya penyandaran hati kepada Allah ‘Azza wa Jalla untuk meraih berbagai kemaslahatan dan menghilangkan bahaya, baik dalam urusan dunia maupun akhirat. Menyerahkan semua urusan kepada-Nya serta meyakini dengan sebenar-benarnya bahwa tidak ada yang memberi, menghalangi, mendatangkan bahaya, dan mendatangkan manfaat, kecuali Allah semata.”

Saat seseorang telah benar-benar bertawakal kepada Allah Ta’ala, maka ia tidak butuh dengan jimat dan yang semisalnya tatkala membutuhkan perlindungan. Tidak perlu hal semacam itu juga tatkala menginginkan keuntungan lebih pada dagangannya. Karena ia yakin semua itu berada di bawah kekuasaan Allah Ta’ala dan bukan yang lain-Nya.

Ketiga, Sadar akan adanya ancaman keras bagi mereka yang memakai jimat

Mereka yang menggunakan jimat, maka mendapatkan ancaman yang begitu keras dari Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An Nisa’: 48)

Suatu hari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat seseorang mengenakan gelang sebagai jimat untuk menangkal penyakit, kemudian beliau memerintahkan untuk melepasnya seraya bersabda,

انْزَعْهَا فَإِنَّهَا لاَ تَزِيْدُكَ إِلاَّ وَهْنًا، فَإِنَّكَ لَوْ مِتَّ وَهِيَ عَلَيْكَ مَا أَفْلَحْتَ أَبَدًا

“Lepaskan gelang itu, karena sesungguhnya ia tidak akan menambah, kecuali kelemahan pada dirimu. Dan jika kamu mati sedangkan gelang ini masih ada pada tubuhmu, maka kamu tidak akan beruntung selama-lamanya.” (HR. Ahmad, 4: 445; Ibnu Hibban, 7: 628; dan Al-Hakim, 4: 216)

Di hadis yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

من تعلَّقَ تميمةً فلا أتمَّ اللَّهُ لَهُ، ومنْ تعلَّقَ ودَعةً فلا ودعَ اللَّهُ لَه

“Barangsiapa yang memakai jimat, maka Allah tidak akan mewujudkan keinginannya. Barangsiapa yang memakai jimat untuk penenang hati, maka Allah tidak akan menenangkannya.” (HR. Ahmad no. 17404, Abu Ya’la no. 1759, dan At-Thabrani dalam Musnad Asy-Syammiyyin no. 234)

Allah Ta’ala berikan kepada mereka yang mengenakan jimat kebalikan dari apa yang menjadi keyakinan dan anggapan mereka. Ketika mereka menganggap bahwa jimat tersebut akan menenangkan dan menghilangkan rasa takut pada dirinya, maka Allah Ta’ala akan memberikan kebalikannya. Hati orang tersebut justru semakin kalut, takut, dan berantakan.

Saudaraku, setelah mengetahui dari ayat dan hadis yang menjelaskan bahwa jimat, rajah, dan yang semisalnya termasuk kesyirikan, mengetahui juga tidak adanya manfaat dari menggunakannya dan menjadi lemahnya diri kita setelah menggunakannya, masihkan diri kita ini ingin bergantung kepadanya? Sungguh, tentu saja ini merupakan kedunguan dan kebodohan serta kesombongan terhadap syariat Allah Ta’ala dan firman-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي ءَايَاتِ اللهِ بِغَيْرِ سًلْطَانٍ أَتَاهُمْ إِن فِي صُدُورِهِمْ إِلاَّ كِبْرٌ مَّاهُم بِبَالِغِيهِ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai pada mereka, tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kesombongan yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Ghafir:56)

Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga diri kita dan keluarga kita dari terjatuh ke dalam perbuatan syirik kepada Allah Ta’ala. Semoga Allah senantiasa menguatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Ta’ala.

يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ

Wahai Zat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”

Wallahu A’lam bisshawab.

 

 

 


 

 

 

Penulis: Muhammad Idris, Lc.

Sumber

You may also like...