Pengaruh Penjagaan Hati

 

Perilaku manusia bersumber dari hati karena hati merupakan poros dari setiap yang dilakukan oleh seseorang. Apabila hatinya baik, maka apa yang dilakukan dan diucapkan akan baik pula. Akan tetapi, apabila sebaliknya, ketika apa yang dilakukan, diucapkan, atau dipikirkan adalah sesuatu yang kotor atau kurang baik, maka bisa dipastikan itu adalah karena pengaruh hati yang sedang keruh.

Dari sinilah seorang yang bijak mengibaratkan hati itu bagaikan teko, ia akan mengeluarkan sesuatu yang ada di dalamnya. Apabila teko tersebut terisi air susu, maka yang akan keluar adalah air susu, tidak mungkin akan mengeluarkan kopi ataupun yang lainnya. Dan hal ini sebagaimana petuah bijak Arab yang menyebutkan,

كل إناء بما فيه ينضح

Setiap bejana hanya akan menumpahkan apa yang ditampungnya.

Penting sekali seseorang menjaga hati agar hati tersebut bisa tetap baik. Di antara cara untuk menjadikan hati tetap baik dan sehat yaitu dengan merawatnya dan menjaganya.

Sebagaimana badan memerlukan perawatan dan penjagaan dengan berbagai macam perlakuan, dari penjagaan pola hidup, pola makan, mengecek kesehatan dengan biaya yang tidak sedikit, maka perawatan hati dan penjagaan dari berbagai macam kerusakan harus lebih kita perhatikan dibandingkan badan.

Selain itu juga, untuk menstabilkan hati agar tetap sehat adalah dengan pen-tarbiyah-an. Hal ini perlu senantiasa dilakukan agar hati bisa stabil di atas jalan yang lurus, yaitu dengan terus memberikan nutrisi gizi yang baik dengan memperbanyak membaca Al-Qur’an, mentadaburi, serta mengamalkannya atau dengan mengikuti kajian-kajian yang mampu menjadi charge untuk hati. Sebagaimana hape memerlukan charge, maka hati pun memerlukan itu karena hati selalu naik dan turun. Perlu ada yang selalu mengingatkan, perlu ada yang terus membimbing ketika hati lalai dan lupa kepada Allah.

Barangsiapa yang selalu memperhatikan keadaan hatinya dengan merawat, menjaga, dan men-tarbiyah-nya, maka ia akan mudah istikamah dalam ber-taqarrub kepada Allah. Amalannya akan mencerminkan cahaya kebaikan, bahkan akan membuahkan kebahagiaan, kelapangan, serta kelezatan dalam menjalani kehidupan. Sebuah kebahagiaan yang tidak bisa diukur dan diungkapkan dengan kata-kata.

Ibnul Qayyim rahimahullah pernah bertutur terkait perkataan gurunya, yaitu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah,

من لم يدخلها لم يدخلها جنة الآخرة

Barangsiapa yang tidak memasuki (merasakan kebahagiaan) surga dunia, maka ia tak akan memasuki surga akhirat.

Adapun maksud surga dunia adalah kebahagiaan hati dalam ber-taqarrub dan menjalani hidup, yang mana hal ini tidak akan dapat diraih, kecuali dengan baik dan sehatnya hati. Wallahu a’lam bis-shawab

 

 

 


 

 

 

Penulis: Argiyansyah

Referensi: Intisari Muqaddimah Silsilah A’maal Qulub, Syekh Khalid Utsman As-Sabt

Sumber
Copyright © 2024 muslim.or.id

You may also like...