Bersama Orang Jujur

 

Bismillah.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kalian bersama orang-orang yang jujur.” (QS. At-Taubah: 119)

Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah membawakan riwayat di dalam tafsirnya. Dari Nafi’ mengenai maksud dari firman Allah ‘Bertakwalah kepada Allah dan bersamalah dengan orang-orang yang jujur’ bahwa artinya “Hendaklah kalian bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya.” (sumber: Tafsir Ath-Thabari surah At-Taubah ayat 119)

Beliau juga menukil penafsiran dari Sa’id bin Jubair bahwa yang dimaksud adalah hendaklah kalian bersama Abu Bakar dan Umar, semoga rahmat Allah tercurah kepada mereka berdua. (sumber: Tafsir Ath-Thabari surah At-Taubah ayat 119)

Sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu menafsirkan bahwa ayat ini mengandung larangan terhadap perbuatan dusta (kebohongan), baik dalam keadaan serius maupun ketika sedang bercanda. Beliau mengatakan, “Sesungguhnya kebohongan itu tidak halal, entah dalam keadaan serius ataupun sedang bercanda.” (sumber: Tafsir Ath-Thabari surah At-Taubah ayat 119)

Ayat di atas disebutkan oleh Allah di dalam Al-Qur’an setelah menceritakan kisah diterimanya tobat 3 orang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang tidak ikut berangkat berjihad dalam perang Tabuk. Salah satu di antara mereka adalah Ka’ab bin Malik radhiyallahu ’anhu yang membawakan kisah yang sangat mengharukan terkait peristiwa ini, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari rahimahullah di dalam Sahih-nya (lihat Sahih Bukhari Kitab Al-Maghazi, hadis no. 4418)

Di dalam ayat ini beserta kisah yang melatarbelakanginya terdapat pelajaran yang sangat berharga tentang sifat jujur dan keutamaannya bagi seorang muslim. Dengan bekal kejujuran inilah Ka’ab bin Malik bertobat dan mengakui kesalahannya di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau tidak mau mengarang cerita tentang alasan mengapa tidak ikut berangkat jihad, padahal ketika itu jihad diwajibkan atas mereka.

Setelah 50 hari para sahabat dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak berbicara (meng-hajr) Ka’ab bin Malik dan 2 orang temannya sebagai bentuk hukuman atas kesalahannya, maka tibalah waktu yang ditunggu-tunggu, yaitu turunnya ayat Allah yang mengabarkan bahwa Allah telah menerima tobat 3 orang tersebut. Setelah menerima kabar gembira itu, Ka’ab bin Malik radhiyallahu ’anhu berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah menyelamatkanku dengan sebab kejujuran, dan sesungguhnya sebagai bagian dari tobatku bahwa aku tidak akan berbicara, kecuali selalu jujur seumur hidupku.” (HR. Bukhari)

Kisah ini juga memberikan pelajaran bagi kita bahwa para sahabat Nabi (padahal mereka adalah generasi terbaik umat ini) adalah manusia-manusia yang juga bisa terjerumus dalam dosa dan kesalahan yang tidak ringan. Meskipun demikian, mereka adalah teladan bagi kita dalam mewujudkan tobat kepada Allah. Sebagaimana pernah disebutkan dalam hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa setiap anak Adam pasti punya banyak kesalahan dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang selalu bertobat.

Kisah ini juga mengandung pelajaran bahwa kejujuran merupakan kunci keselamatan dan jalan menuju segala bentuk kebaikan yang akan mengantarkan manusia ke dalam surga. Tidak lain karena jujur adalah bagian dari ketakwaan kepada Allah. Sebaliknya, kedustaan adalah sumber segala kerusakan dan kehancuran. Di antara bentuk kedustaan yang paling berat adalah perilaku orang munafik yang menampakkan keimanan, tetapi menyimpan kekafiran di dalam hatinya. Di dalam Al-Qur’an, Allah pun bersaksi bahwa orang-orang munafik adalah para pendusta.

Imam Bukhari rahimahullah juga meriwayatkan sebuah asar dari Ibnu Abi Mulaikah (seorang tabiin) bahwa beliau telah bertemu dengan 30 orang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan mereka semuanya khawatir dirinya terjangkit kemunafikan. Hal ini menunjukkan kepada kita betapa besar rasa takut para salaf terhadap penyakit kemunafikan. Mereka tidak merasa aman dari keburukan dan sifat yang tercela menimpa dirinya.

Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata,

إن المؤمن جمع إحسانا وشفقة ، وإن المنافق جمع إساءة وأمنا

“Sesungguhnya orang mukmin memadukan dalam dirinya antara berbuat baik (ihsan) dengan perasaan takut. Sedangkan orang munafik menggabungkan dalam dirinya antara perilaku buruk dengan merasa aman (baik-baik saja).” (disebutkan oleh Ibnul Mubarak dalam kitab Az-Zuhd)

Demikian sedikit kumpulan catatan yang Allah beri kemudahan bagi kami untuk menyusunnya, mudah-mudahan bermanfaat bagi penulis dan segenap pembaca. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wasallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

 

 

 

 


 

 

 

 

Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.

 

Referensi :

Tafsir Ath-Thabari Surah At-Taubah. Link: https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/tabary/sura9-aya119.html)

Sahih Bukhari, Kitab Al-Maghazi. Link: https://hadithprophet.com/hadith-35019.html

Mudawwanah Asy-Syaizhami. Link: https://shaydzmi.wordpress.com/2017/04/02/qissat-3/

Atsar wa Ta’liq Syaikh Abdurrazzaq Al-Badr. Link: https://al-badr.net/muqolat/3929

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Mu’minun. Link: http://quran.ksu.edu.sa/tafseer/katheer/sura23-aya57.html

Sumber

You may also like...