Peran Pemuda Muslim di Zaman Milenial

 

Peran pemuda muslim di zaman sekarang (milenial) tidak terlepas dari tuntutan perubahan zaman yang sangat pesat perubahannya. Sebagai seorang muslim, semestinya mampu menyesuaikan dan membawa nilai agama yang syar’i pada tatanan kehidupan sekarang tanpa menodai syariat yang sudah dituliskan dalam Qur’an dan As-Sunnah. Ini merupakan nasihat penting bagi seorang pemuda yang hari ini hidup dalam kondisi penuh fitnah dan penuh syubhat dengan benturan peradaban dan kondisi zaman.

Berdasarkan penjelasan di atas, pemuda telah dijanjikan akan mendapatkan naungan dari Allah Ta’ala. Yakni, ia yang memiliki peran penting dalam mengambil posisi strategis, baik dalam hal keilmuan agama, disiplin ilmu, dan kebermanfaatan di lingkungan masyarakat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

«سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِى ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ … وَشَابٌّ نَشَأَ فِى عِبَادَةِ رَبِّهِ»

Ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi oleh Allah dalam naungan (Arsy-Nya) pada hari yang tidak ada naungan (sama sekali), kecuali naungan-Nya: … Dan seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah (ketaatan) kepada Allah.” (HR. Al-Bukhari no. 1357 dan Muslim no. 1031)

Hadis ini menunjukkan betapa besarnya perhatian Islam terhadap seorang pemuda muslim yang mampu mendatangkan kebaikan, sekaligus menjelaskan keutamaan bagi seorang muslim yang memiliki sifat yang alim (taat dalam ibadah) seperti dijelaskan dalam hadis tersebut.

Imam Abul ‘Ula Al-Mubarakfuri rahimahullah berkata, “(Dalam hadis ini), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengkhususkan (penyebutan) ‘seorang pemuda’ karena (usia) muda adalah (masa yang) berpotensi besar untuk didominasi oleh nafsu syahwat. Disebabkan kuatnya pendorong untuk mengikuti hawa nafsu pada diri seorang pemuda, maka dalam kondisi seperti ini untuk berkomitmen dalam ibadah (ketaatan) kepada Allah (tentu) lebih sulit dan ini menunjukkan kuatnya (nilai) ketakwaan (dalam diri orang tersebut).” (Tuhfatul Ahwadzi, 7: 57)

Dalam hadis lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

«إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَعْجَبُ مِنَ الشَّابِّ لَيْسَتْ لَهُ صَبْوَةٌ»

Sesungguhnya Allah Ta’ala benar-benar kagum terhadap seorang pemuda yang tidak memiliki shabwah.” (HR. Ahmad, 2:263, Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jamul Kabir, 17:309 dan lain-lain. Dinyatakan sahih dengan berbagai jalurnya oleh Syekh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 2843)

Yaitu, pemuda yang tidak memperturutkan hawa nafsunya, dia membiasakan dirinya untuk melakukan kebaikan, dan berusaha keras menjauhi berbagai macam keburukan

Inilah sosok pemuda muslim yang Allah Ta’ala cintai dan pandai dalam mensyukuri nikmat besar yang Allah Ta’ala anugerahkan kepadanya. Maka, beberapa hal yang sekiranya bisa kita lakukan sebagai seorang pemuda muslim saat ini adalah:

Pertama: Lakukan hal positif

Yaitu, dengan melakukan hal positif yang sesuai dengan syariat, tentunya apa yang sudah tertuang dalam ajaran islam, seperti halnya mencari ilmu, ikut agenda-agenda dakwah, mengikuti agenda yang bermanfaat, serta mengamalkan amalan saleh.

Kedua: Membentengi diri

Yaitu, dengan berbagai kondisi dan syubhat yang ada. Kita dianjurkan untuk senantiasa berhati-hati dan membentengi diri serta mempertebal keimanan kita untuk mengantisipasi berbagai hal yang dapat meracuni keimanan dan pemikiran.

Ketiga: Menjaga akhlaq

Menjadi pemuda yang berakhlak mulia dan beradab itu bagaikan buih di tengah lautan. Ia sulit ditemui dan sulit didapatkan. Maka, senantiasa berusaha untuk selalu ber-akhlakul karimah sebagaimana telah dicontohkan oleh teladan kita, yakni Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wassallam, seperti: tawadhu (rendah hati), lemah lembut, sabar, berbuat baik kepada orang lain, dan memaafkan kesalahan orang yang berbuat buruk pada kita dan membalasnya dengan kebaikan.

Keempat: Menjaga hubungan dengan keluarga

Patuh terhadap orang tua adalah bagian dari kita menjaga diri di era yang penuh ujian dan era penuh kerusakan saat ini. Yakni, sebagai rumah untuk pulang dan doa yang tidak tertolak oleh Allah Ta’ala. Ini menjadi kunci utama untuk kita agar senantiasa menerapkan birrul walidain dan meminta doa akan diberikan kemudahan dalam menjalankan syariat-Nya dan menjalani pahitnya hidup.

Kelima: Menjaga hubungan dengan masyarakat

Menjaga hubungan sosial tidak kalah penting, seperti halnya kita menjaga hubungan kita terhadap diri dan keluarga. Hubungan ini yang kemudian bisa menjaga kesalehan sosial kita. Hal ini juga sudah banyak dicontohkan oleh Rasulullah, bagaimana beliau bermuamalah dengan sahabatnya, dengan para pengikutnya, dan termasuk berbuat baik pada orang yang berbuat buruk padanya.

Semoga dari tulisan yang sedikit ini mampu mengalirkan keikhlasan dari penulis dan mengalirkan keberkahan dari Allah Ta’ala untuk kaum muslimin sekalian yang hari ini hidup di zaman penuh ujian. Semoga Allah menjaga kita, anak-anak kita, sanak saudara kita, dan orang di sekitar kita. Amin.

 

 

 


 

 

 

Penulis: Kiki Dwi Setiabudi S.Sos.

Sumber

You may also like...