Tuntunan Syariat dalam Menyikapi Perbedaan Akal Manusia

 

Di antara bentuk pemuliaan Allah Ta’ala terhadap umat manusia adalah Allah Ta’ala memberikan akal kepada mereka. Dan kadar akal yang Allah Ta’ala berikan kepada manusia itu berbeda-beda sebagai bentuk kasih sayang-Nya kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Sebagian manusia ada yang akalnya lebih sempurna dibanding sebagian yang lain (sebagaimana orang dewasa dengan anak-anak). Ada yang hilang akalnya seperti orang gila dan ada orang yang akalnya hilang sesaat semisal orang yang tidur, pingsan, atau orang sedang yang koma.

Perlakuan syariat terhadap berbagai perbedaan level (taraf) akal manusia tentu tidaklah sama. Orang yang mukalaf (terkena beban syariat) syaratnya harus berakal dan balig. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنِ الصَّبِىِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ وَعَنِ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ

Pena diangkat (dibebaskan) dari tiga golongan: (1) orang yang tidur sampai dia bangun, (2) anak kecil sampai mimpi basah (balig), dan (3) orang yang gila sampai ia kembali sadar (sembuh).(HR. Abu Daud. Syekh Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini sahih)

Berdasarkan hadis di atas, maka tidak diwajibkan ibadah seperti shalat, puasa, haji, jihad, atau ibadah lainnya bagi tiga golongan orang tersebut.

Sikap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menyikapi perbedaan akal

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memperlakukan orang-orang sesuai dengan kadar akal orang tersebut.

Pertama, Kisah diskusi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saat memboncengkan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu anhu.

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ كُنْتُ رِدْفَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلَى حِمَارٍ يُقَالُ لَهُ عُفَيْرٌ قَالَ فَقَالَ « يَا مُعَاذُ تَدْرِى مَا حَقُّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ ». قَالَ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ « فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوا اللَّهَ وَلاَ يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَحَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ لاَ يُعَذِّبَ مَنْ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا ». قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلاَ أُبَشِّرُ النَّاسَ قَالَ « لاَ تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوا »

Dari Mu’adz bin Jabal, ia berkata, “Aku pernah dibonceng oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di atas keledai yang diberi nama ‘Ufair.”

Mu’adz berkata, “Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Wahai Mu’adz, tahukah engkau apa hak Allah yang wajib ditunaikan oleh hamba dan apa hak hamba yang akan Allah tunaikan?’”

Mu’adz berkata, “Aku menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Hak Allah yang wajib ditunaikan oleh hamba, hendaklah ia menyembah Allah dan tidak berbuat syirik pada-Nya dengan sesuatu apa pun. Sedangkan hak hamba yang akan Allah tunaikan yaitu Allah tidak akan menyiksa orang yang tidak berbuat syirik kepada-Nya dengan sesuatu apa pun.’”

Mu’adz berkata, “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah aku boleh memberitahukan kabar gembira tersebut pada yang lain?’ Beliau menjawab, ‘Jangan kabari mereka. Nanti malah mereka malas beramal (mereka akan bersandar pada hal ini).’” (HR. Bukhari dan Muslim)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang Mu’adz bin Jabal menyampaikan hal demikian karena beliau khawatir jika orang lain salah (gagal) paham terkait hadis tersebut. Dikhawatirkan orang-orang saat itu hanya cukup bersyahadat tanpa melakukan ibadah, menggampangkan tuntunan syariat, bahkan bermaksiat.

Dari hadis di atas dapat kita ketahui pula bahwa tidak semua kebenaran harus disampaikan kepada semua orang. Selayaknya dalam menyampaikan ilmu kepada orang lain itu disesuaikan dengan tingkat pemahamannya. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu berkata,

حَدِّثُوا النَّاسَ، بما يَعْرِفُونَ

Bicaralah kepada orang lain sesuai dengan apa yang mereka pahami. (HR. Bukhari)

Kedua, Muamalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan anak kecil.

Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha,

أن أبا بكر رضي الله عنهما دخل عليها وعندها جاريتان في أيام منى تدففان وتضربان والنبي صلى الله عليه وسلم متغش بثوبه فانتهرهما أبو بكر فكشف النبي صلى الله عليه وسلم عن وجهه فقال دعهما يا أبا بكر فإنها أيام عيد وتلك الأيام أيام منى

Abu Bakar radhiallaahu anhuma masuk menemui Aisyah. Di sampingnya terdapat dua orang anak perempuan di hari Mina yang menabuh rebana. Nabi shallallahu alaihi wasallam ketika itu menutup wajahnya dengan bajunya. Ketika melihat hal tersebut, Abu Bakar membentak kedua anak perempuan tadi. Nabi shallallahu alaihi wasallam kemudian membuka bajunya yang menutup wajahnya dan berkata ‘Biarkan mereka wahai Abu Bakar, sesungguhnya hari ini adalah hari raya.’ Pada waktu itu adalah hari-hari Mina. (HR. Bukhari)

Dalam riwayat lain Aisyah radhiyallahu anha mengatakan,

كُنْتُ أَلْعَبُ بِالْبَنَاتِ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَكَانَ لِي صَوَاحِبُ يَلْعَبْنَ مَعِي؛ فَكَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم، إِذَا دَخَلَ يَتَقَمَّعْنَ مِنْهُ، فَيُسَرِّبُهُنَّ إِلَيَّ، فَيَلْعَبْنَ مَعِي

Dahulu aku sering bermain dengan boneka anak perempuan di sisi Nabi shallallahu alaihi wasallam. Dahulu aku juga memiliki teman-teman yang biasa bermain denganku. Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam masuk ke rumah, teman-temanku pun berlari sembunyi. Beliau shallallahu alaihi wasallam pun meminta mereka untuk keluar agar bermain lagi, maka mereka pun melanjutkan bermain bersamaku. (HR. Bukhari dan Muslim)

Abu Dawud juga meriwayatkan sebuah hadis dari Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu anha,

قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ غَزْوَةِ تَبُوكَ أَوْ خَيْبَرَ وَفِى سَهْوَتِهَا سِتْرٌ فَهَبَّتْ رِيحٌ فَكَشَفَتْ نَاحِيَةَ السِّتْرِ عَنْ بَنَاتٍ لِعَائِشَةَ لُعَبٍ فَقَالَ : مَا هَذَا يَا عَائِشَةُ. قَالَتْ بَنَاتِى. وَرَأَى بَيْنَهُنَّ فَرَسًا لَهُ جَنَاحَانِ مِنْ رِقَاعٍ فَقَالَ : مَا هَذَا الَّذِى أَرَى وَسْطَهُنَّ. قَالَتْ فَرَسٌ. قَالَ : وَمَا هَذَا الَّذِى عَلَيْهِ. قَالَتْ جَنَاحَانِ. قَالَ : فَرَسٌ لَهُ جَنَاحَانِ. قَالَتْ أَمَا سَمِعْتَ أَنَّ لِسُلَيْمَانَ خَيْلاً لَهَا أَجْنِحَةٌ قَالَتْ فَضَحِكَ حَتَّى رَأَيْتُ نَوَاجِذَهُ.

Suatu hari, Rasulullah pulang dari perang Tabuk atau perang Khaibar (perawi hadis ragu, pen.) sementara di kamar (‘Aisyah) ada kain penutup. Ketika angin bertiup, tersingkaplah boneka-boneka mainan ‘Aisyah. Lalu, Rasulullah bertanya, “Apa ini wahai ‘Aisyah?”

Dia (‘Aisyah) pun menjawab, “Boneka-boneka (mainan) milikku.”

Beliau melihat di antara boneka mainan itu ada boneka kuda yang punya dua sayap. Lantas beliau pun bertanya kepada ‘Aisyah, “Yang aku lihat di tengah-tengah itu apanya?”

‘Aisyah menjawab, “Kuda.”

Beliau bertanya lagi, “Apa itu yang ada pada bagian atasnya?.”

‘Aisyah menjawab, “Kedua sayapnya.”

Beliau menimpali, “Kuda punya dua sayap?”

‘Aisyah menjawab, “Tidakkah Engkau pernah mendengar bahwa Nabi Sulaiman mempunyai kuda yang memiliki sayap?” Beliau pun tertawa hingga aku (‘Aisyah) melihat gigi beliau. (HR. Abu Dawud no. 4934, hadis ini dinilai sahih oleh Al-Albani)

Beberapa hadis di atas menggambarkan bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyikapi anak-anak termasuk istri beliau yang masih kecil dengan perlakuan yang baik karena akal anak-anak yang masih terbatas dan suka bermain.

Ketiga, Dialog Nabi dengan wanita yang berpenyakit ayan (epilepsi).

Dari ‘Atha’ bin Abi Rabah ia berkata, Ibnu Abbas berkata kepadaku, Inginkah engkau aku tunjukkan seorang wanita penghuni surga? Aku pun menjawab, Tentu saja.

Ia berkata, “Wanita berkulit hitam ini (orangnya). Ia telah datang menemui Nabi shallallahu alaihi wasallam, lalu berkata, ‘Sesungguhnya aku berpenyakit ayan (epilepsi), yang bila kambuh, maka tanpa disadari auratku terbuka. Doakanlah supaya aku sembuh.’

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Jika engkau kuat bersabar, engkau akan memperoleh surga. Namun jika engkau ingin, aku akan berdoa kepada Allah agar Dia menyembuhkanmu.’ Maka, ia berkata, ‘Aku akan bersabar.’ Kemudian ia berkata, ‘Sesungguhnya aku (bila kambuh, maka tanpa disadari auratku) terbuka. Maka, mintakanlah kepada Allah supaya auratku tidak terbuka.’Maka, beliau shallallahu alaihi wasallam pun mendoakannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadist tersebut menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak meremehkan dan memandang rendah orang yang akalnya kurang. Hendaknya seseorang yang akalnya lebih sempurna tidak boleh merasa sombong dan merendahkan orang-orang yang akalnya belum sempurna (kurang akal).

 

 

 


 

 

 

Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya, S.Pd.

Sumber

You may also like...