Persaudaraan dan Persahabatan Sesuai Ajaran Islam

 

Ikatan persaudaraan dan persahabatan yang berlandaskan agama Islam merupakan ikatan yang paling dijaga dan dikuatkan oleh agama ini. Islam memiliki konsep yang berbeda dengan konsep orang-orang terdahulu. Kala itu, ikatan nasab dan suku sangatlah diunggulkan dari ikatan-ikatan selainnya. Barulah kemudian Islam datang dengan menjadikan ikatan persaudaraan berlandaskan agama unggul dan berada di atas ikatan-ikatan selainnya.

Ikatan persaudaraan dengan asas agama Islam ini bukanlah sekedar omong kosong yang tidak ada maknanya. Sungguh ia membawa makna yang sangat mulia. Dengan ikatan ini, seorang muslim dengan muslim lainnya akhirnya memiliki hak-hak dan kewajiban di antara mereka. Semuanya melaksanakan kewajiban dan memenuhi hak saudaranya dengan kerelaan dan tanpa paksaan. Karena Islam sejatinya tidak pernah membuat hukum dan syariat yang berlawanan dengan fitrah manusia.

Bahkan, syariat dan hukum terkait persaudaraan dan persahabatan ditegakkan karena melihat kebutuhan manusia. Di mana seseorang tidak dapat hidup, kecuali dengan adanya orang lain. Allah Ta’ala telah menciptakan manusia dengan sifat membutuhkan saudara dan teman. Anak kecil yang belum paham makna persaudaraan dan persahabatan saja fitrahnya akan akrab dengan saudara dan berteman dengan yang sebaya dengannya. Apalagi mereka yang sudah dewasa, tentu ia lebih memerlukan sahabat dan orang selainnya.

Besarnya kebutuhan seorang manusia terhadap temannya ini, sampai-sampai Allah Ta’ala jadikan ‘kawan atau sahabat’ sebagai salah satu anggota keluarga seseorang. Hal ini karena seringnya ia keluar masuk rumahnya dan seringnya ia bepergian bersamanya serta seringnya mereka saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. Allah Ta’ala berfirman,

لَيْسَ عَلَى الْاَعْمٰى حَرَجٌ وَّلَا عَلَى الْاَعْرَجِ حَرَجٌ وَّلَا عَلَى الْمَرِيْضِ حَرَجٌ وَّلَا عَلٰٓى اَنْفُسِكُمْ اَنْ تَأْكُلُوْا مِنْۢ بُيُوْتِكُمْ اَوْ بُيُوْتِ اٰبَاۤىِٕكُمْ اَوْ بُيُوْتِ اُمَّهٰتِكُمْ اَوْ بُيُوْتِ اِخْوَانِكُمْ اَوْ بُيُوْتِ اَخَوٰتِكُمْ اَوْ بُيُوْتِ اَعْمَامِكُمْ اَوْ بُيُوْتِ عَمّٰتِكُمْ اَوْ بُيُوْتِ اَخْوَالِكُمْ اَوْ بُيُوْتِ خٰلٰتِكُمْ اَوْ مَا مَلَكْتُمْ مَّفَاتِحَهٗٓ اَوْ صَدِيْقِكُمْۗ لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ اَنْ تَأْكُلُوْا جَمِيْعًا اَوْ اَشْتَاتًاۗ فَاِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوْتًا فَسَلِّمُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِّنْ عِنْدِ اللّٰهِ مُبٰرَكَةً طَيِّبَةً ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمُ الْاٰيٰتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُوْنَ ࣖ

“Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit, dan tidak (pula) bagi dirimu, makan (bersama-sama mereka) di rumah kamu atau di rumah bapak-bapakmu, di rumah ibu-ibumu, di rumah saudara-saudaramu yang laki-laki, di rumah saudara-saudaramu yang perempuan, di rumah saudara-saudara bapakmu yang laki-laki, di rumah saudara-saudara bapakmu yang perempuan, di rumah saudara-saudara ibumu yang laki-laki, di rumah saudara-saudara ibumu yang perempuan, (di rumah) yang kamu miliki kuncinya atau (di rumah) kawan-kawanmu. Tidak ada halangan bagi kamu makan bersama-sama mereka atau sendiri-sendiri. Apabila kamu memasuki rumah-rumah hendaklah kamu memberi salam (kepada penghuninya, yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, dengan salam yang penuh berkah dan baik dari sisi Allah. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat(Nya) bagimu, agar kamu mengerti.” (QS. An-Nur: 61)

Lihatlah bagaimana Allah Ta’ala menyebutkan kawan/ teman saat menyebutkan bapak dan ibu serta saudara-saudara lainnya. Karena seringnya mereka bersama kita, baik dalam kemudahan maupun dalam kesulitan, kebahagiaan maupun kesengsaraan, saat dalam kondisi sehat maupun sakit, sehingga mereka seakan-akan adalah saudara kita sendiri.

Kriteria sahabat yang sesuai dengan ajaran Islam

Selain memperhatikan pentingnya teman dalam kehidupan seseorang, Islam juga memperhatikan beberapa kriteria teman yang seharusnya kita perhatikan, sehingga kita lebih selektif di dalam memilih siapa yang akan kita jadikan sahabat dekat dan kawan kita.

Pertama: orang yang jujur

Allah Ta’ala berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah: 119)

Di dalam Tafsir As-Sa’di disebutkan,

“Dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”, dalam ucapan, perbuatan, dan keadaan mereka, orang-orang yang perkataannya adalah benar, perbuatannya dan keadaannya tidak lain kecuali benar, bebas dari kemalasan dan kelesuan, selamat dari maksud-maksud buruk, mengandung keikhlasan dan niat yang baik, karena kejujuran mengantarkan kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan kepada surga.”

Teman yang baik adalah teman yang membimbing dan menunjukkan kepada kebenaran dan kebaikan dan mengingatkan saat terjatuh ke dalam keburukan.

Kedua: Teman yang mencintai kita karena Allah Ta’ala bukan karena faktor yang lain

Karena hal ini menyebabkan kecintaan Allah Ta’ala kepada kita. Allah Ta’ala berfirman di dalam hadis qudsi,

وجبَتْ محبَّتي للمُتحابِّين فيَّ وللمُتجالسين فيَّ ، وللمُتباذلين فيَّ

“Kecintaan-Ku wajib bagi orang-orang yang saling mencintai karena Aku, orang-orang yang saling berteman karena Aku (orang-orang yang saling mengunjungi karena Aku), dan orang-orang yang saling berkorban karena Aku.” (HR. Ahmad no. 22030 dan Malik dalam Muwattha’-nya no. 2/953)

Di hadis yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan tentang 7 golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat. Di antaranya beliau bersabda,

ورَجُلَانِ تَحَابَّا في اللَّهِ اجْتَمعا عليه وتَفَرَّقَا عليه

“Dua orang yang saling mencintai di jalan Allah, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya.” (HR. Bukhari no. 660)

Indahnya persaudaraan dan persahabatan di atas agama Islam

Ketahuilah, bahwa hanya dengan masuk Islamnya seseorang, maka ia sudah menjadi salah satu saudara kita. Allah Ta’ala berfirman,

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 10)

Dalam persaudaraan Islam ini, secara umum ada beberapa hak dan kewajiban yang harus dijaga oleh seorang muslim. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menjelaskan,

لاَ تَحَاسَدُوْا، وَلاَتَنَاجَشُوْا، وَلاَ تَبَاغَضُوْا، وَلاَ تَدَابَرُوْا، وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخوَانَاً، الْمُسْلِمُ أَخُوْ الْمُسْلِمِ، لاَ يَظلِمُهُ، وَلاَ يَخْذُلُهُ، وَلاَ يَكْذِبُهُ، وَلايَحْقِرُهُ، التَّقْوَى هَاهُنَا – وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ – بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ

”Janganlah kalian saling dengki, melakukan najasy, saling membenci, saling membelakangi. Dan janganlah sebagian dari kalian berjual beli di atas jual beli saudaranya. Jadilah kalian semua hamba–hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, sehingga dia tidak boleh menzaliminya, menghinanya, mendustakannya, dan merendahkannya. Takwa itu letaknya di sini (sambil menunjuk ke dadanya sebanyak tiga kali). Cukuplah seseorang itu dalam kejelekan selama dia merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim terhadap muslim lainnya haram dan terjaga darah, harta, dan kehormatannya.” (HR. Muslim no. 2564)

Di hadis yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan,

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يُسْلِمُهُ، وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya disakiti. Barangsiapa yang membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan membantu kebutuhannya. Barangsiapa yang menghilangkan satu kesusahan seorang muslim, maka Allah menghilangkan satu kesusahan baginya dari kesusahan-kesusahan hari kiamat. Barangsiapa yang menutupi (aib) seorang muslim, maka Allah akan menutupi (aibnya) pada hari kiamat.” (HR. Muslim no. 2580)

Persahabatan dan persaudaraan di dalam Islam bukan hanya sekedar tentang bercengkerama dan bergembira saja. Sebagaimana yang disebutkan di dalam hadis, sebuah persahabatan dan persaudaraan harus diisi dengan saling menjalankan kewajiban dan pemenuhan hak-hak saudara serta sahabatnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang menjadi teladan dan panutan kita, sudah mempersaudarakan di antara kaum muhajirin sebelum hijrahnya ke kota Madinah. Beliau menjadikan untuk setiap individu kaum muslimin seorang saudara yang didasari oleh Islam. Kemudian setelah hijrahnya beliau ke Madinah, beliau kembali menjadikan untuk masing-masing individu muhajirin seorang saudara dari kalangan anshor.

Sungguh persaudaraan yang mereka amalkan merupakan pemandangan yang indah. Karena persaudaraan itu telah melampaui level cinta ‘mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri’ yang disebutkan di dalam hadis,

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

”Tidaklah salah seorang di antara kalian beriman (dengan keimanan yang sempurna) sampai dia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari no. 13 dan Muslim no. 45)

Mereka telah sampai pada level cinta ‘mendahulukan saudaranya daripada dirinya sendiri’. Cukuplah pujian Allah bagi mereka sebagai tanda kemuliaan dan keindahan persaudaraan tersebut,

وَالَّذِيْنَ تَبَوَّءُو الدَّارَ وَالْاِيْمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّوْنَ مَنْ هَاجَرَ اِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُوْنَ فِيْ صُدُوْرِهِمْ حَاجَةً مِّمَّآ اُوْتُوْا وَيُؤْثِرُوْنَ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۗوَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَۚ

“Dan orang-orang (Ansar) yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka mengutamakan (Muhajirin) atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)

Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga hubungan baik kita dengan saudara dan sahabat, menjadikan persaudaraan dan persahabatan ini berlandaskan agama Islam. Sungguh sahabat dan lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter seseorang sebagaimana yang disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

إِنَّما مثَلُ الجلِيس الصَّالِحِ وَجَلِيسِ السُّوءِ: كَحَامِلِ المِسْكِ، وَنَافِخِ الْكِيرِ، فَحامِلُ المِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ ريحًا طيِّبةً، ونَافِخُ الكِيرِ إِمَّا أَن يَحْرِقَ ثِيابَكَ، وإمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا مُنْتِنَةً

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk itu ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya. Dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu. Dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 2101 dan Muslim 2628)

Wallahu A’lam Bisshowaab.

 

 

 


 

 

 

Penulis: Muhammad Idris, Lc.

Sumber

You may also like...