Mengobati Hati yang Sakit

 

Hati seorang hamba tidak akan bisa bersih dan lurus di atas keimanan yang kuat, kecuali apabila selamat dari fitnah syubhat dan syahwat. Perlu kita ketahui bersama bahwa hati yang bersih dan selamat dari fitnah syahwat dan syubhat merupakan sebab datangnya kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Allah Ta’ala berfirman,

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“(Yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’ara’: 88-89)

Dalam ayat ini, Allah Ta’ala mengingatkan kita bahwa di hari kiamat nanti, harta benda dan anak-anak kita tidak akan berguna dan tidak akan mendatangkan kebahagiaan, kecuali apabila kita bertemu Allah Ta’ala dengan hati yang bersih.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga menyebutkan bahwa mereka yang memiliki hati yang bersih merupakan salah satu manusia yang paling utama. Diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin ‘Amru radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-: أَيُّ النَّاسِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: “كُلُّ مَخْمُومِ الْقَلْبِ، صَدُوقِ اللِّسَانِ”. قَالُوا: صَدُوقُ اللِّسَانِ نَعْرِفُهُ، فَمَا مَخْمُومُ الْقَلْبِ؟ قَالَ: “هُوَ التَّقِيُّ النَّقِيُّ، لَا إِثْمَ فِيهِ، وَلَا بَغْيَ، وَلَا غِلَّ، وَلَا حَسَدَ”

Ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Manusia bagaimanakah yang paling mulia?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Semua orang yang hatinya makhmum (disapu/dibersihkan) dan jujur dalam berucap.” Mereka (para sahabat) berkata, “Jujur dalam berucap telah kami ketahui, tetapi apakah maksud dari hati yang makhmum?” Beliau bersabda, “Yaitu, hati yang bertakwa dan bersih, tidak ada dosa, kezaliman, kedengkian, dan hasad di dalamnya.” (HR. Ibnu Majah no. 3416)

Berikut ini adalah beberapa cara efektif yang akan membantu kita di dalam menyembuhkan dan membersihkan hati kita yang dipenuhi oleh penyakit, baik penyakit syubhat maupun penyakit syahwat.

Pertama, rajin membaca Al-Qur’an, menghayati maknanya, mempelajari kandungannya, serta mengamalkan apa-apa yang ada di dalamnya

Seluruh manusia diperintahkan untuk beribadah hanya kepada Allah Ta’ala saja. Dengan menjalankan seluruh perintah Allah Ta’ala dan meninggalkan larangan-larangan-Nya. Kesemuanya itu tak akan terwujud, kecuali jika orang tersebut benar-benar telah menghayati dan mempelajari kandungan Al-Qur’an. Allah Ta’ala sendiri yang memerintahkan kita untuk menghayati Al-Qur’an. Allah berfirman,

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

“Maka, tidakkah mereka menghayati Al-Qur’an ataukah hati mereka sudah terkunci?” (QS. Muhammad: 24)

Tidak diragukan lagi, menelaah dan menghayati makna ayat-ayat Al-Qur’an merupakan obat paling ampuh untuk menyembuhkan hati yang sakit lagi kotor. Allah Ta’ala mengabarkan terkait hal ini dalam firman-Nya,

يَاأَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

“Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk, serta rahmat bagi orang yang beriman.” (QS. Yunus: 57)

Imam As-Sa’di rahimahullah berkata,

“Al-Qur’an merupakan obat penyembuh dari segala macam penyakit yang bersarang di hati, baik itu penyakit syahwat yang menghalangi seseorang dari ketundukan, maupun penyakit syubhat yang merusak keyakinan terdalam seseorang. Apa yang terdapat di dalamnya dari nasihat-nasihat, motivasi-motivasi, ancaman-ancaman, janji-janji, serta ancaman-ancaman, kesemuanya itu akan mempengaruhi rasa semangat seorang hamba dan rasa takutnya. Jika hati ini telah sembuh dari penyakit-penyakit dan dipenuhi dengan kesehatan yang sempurna, maka seluruh anggota badan yang lain pun akan ikut membaik dan menjadi sehat, karena sehatnya badan berasal dari sehatnya hati dan rusaknya badan pun berasal dari rusaknya hati.” (Tafsir As-Sa’di, hal. 367)

Kedua, senantiasa berdzikir dan mengingat Allah Ta’ala

Allah Ta’ala telah mengabarkan bahwa hati ini tak akan bisa tenang, kecuali jika ia senantiasa berzikir dan mengingat Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Allah Ta’ala juga memerintahkan kita untuk memperbanyak zikir. Allah Ta’ala berfirman,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah, dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Ahzab: 41)

Tidaklah Allah memerintahkan sebuah amalan wajib, kecuali pasti akan memberikan batas dan takarannya, dan Allah Ta’ala akan memaklumi hamba-Nya apabila ia memiliki uzur saat tidak melaksanakan kewajiban tersebut. Berbeda halnya dengan kewajiban berzikir, Allah Ta’ala tidak membatasi jumlahnya dan tidak pula memberikan uzur kepada orang yang meninggalkannya, kecuali jika karena sebab hilangnya akal. Allah Ta’ala berfirman,

فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ

“Ingatlah Allah ketika kamu berdiri, pada waktu duduk, dan ketika berbaring.” (QS. An-Nisa: 103)

Baik itu di siang hari, malam hari, saat dalam kondisi lapang maupun saat sedang mengalami kesulitan, saat sedang sehat maupun saat sedang sakit, maka kita diperintahkan untuk senantiasa berzikir dan mengingat Allah Ta’ala pada semua kondisi tersebut.

Ketiga, memperbanyak berdoa kepada Allah dan memohon kepada-Nya agar senantiasa diberikan hati yang sehat lagi bersih

Selalulah mengingat bahwa hati kita berada di dalam genggaman Allah Ta’ala. Oleh karenanya, seorang mukmin harus senantiasa memohon dan berdoa kepada Allah Ta’ala agar diberikan hati yang sehat dan bersih. Sebagaimana hal ini juga telah diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau berdoa,

يَا مُقَلِّبَ القُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“Wahai Rabb Yang Maha membolak balikkan hati, teguhkanlah hatiku pada agama-Mu.” (HR. Tirmidzi no. 3522 dan Ahmad no. 13696)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah saja senantiasa meminta kepada Rabbnya untuk diberikan keteguhan hati. Tentu saja kita yang jauh di bawah kedudukan Nabi lebih utama untuk meminta hal tersebut kepada Allah Ta’ala.

Keempat, menyembunyikan amal dan fokus menyendiri dalam beribadah kepada Allah Ta’ala

Hendaknya seorang mukmin memiliki waktu untuk menyendiri, waktu yang dia gunakan untuk ber-muhasabah, menghitung-hitung dosa yang telah ia lakukan, memperbaiki hatinya dan meminta ampunan kepada Allah Ta’ala. Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,

وَلَا بُدَّ لِلْعَبْدِ مِنْ أَوْقَاتٍ يَنْفَرِدُ بِهَا بِنَفْسِهِ فِي دُعَائِهِ وَذِكْرِهِ وَصَلَاتِهِ وَتَفَكُّرِهِ وَمُحَاسَبَةِ نَفْسِهِ وَإِصْلَاحِ قَلْبِهِ

“Seorang hamba harus memiliki saat-saat di mana dia sendirian dalam doanya, zikirnya, salatnya, refleksinya, perhitungan dirinya (dosa-dosa yang telah ia lakukan), dan saat-saat di mana ia sendirian untuk memperbaiki hatinya.” (Al-Fatawa Al-Kubraa, 2: 163)

Kelima, menjauhkan diri dari tempat-tempat maksiat dan penuh fitnah karena kesemuanya itu merusak hati

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah memperingatkan umatnya akan bahaya fitnah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا، أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

“Bersegeralah engkau sekalian untuk beramal (saleh dan baik) sebelum datangnya bermacam-macam fitnah layaknya malam yang gelap gulita. Pada pagi hari seseorang dalam keadaan beriman, dan menjadi kafir di sore harinya. Di sore hari seseorang dalam keadaan beriman, dan menjadi kafir pada pagi harinya. Dia menjual agamanya dengan harta dan kenikmatan dunia.” (HR. Muslim no. 108)

An-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Makna hadis ini adalah anjuran dan dorongan untuk bersegera melakukan amal kebajikan sebelum menjadi tidak mungkin dan teralihkan darinya. Karena apa yang terjadi dari fitnah yang menyibukkan, bertubi-tubi, dan datang bertumpuk-tumpuk layaknya tumpukan gelapnya malam yang tidak disinari rembulan.” (Syarh An-Nawawi ‘ala Shahih Muslim, 2: 133)

Keenam, mengagungkan syiar-syiar Allah Ta’ala

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

“Demikianlah (perintah Allah). Siapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah, sesungguhnya hal itu termasuk dalam ketakwaan hati.” (QS. Al-Haji: 32)

Sungguh tujuan utama seorang muslim adalah ketakwaan hati kepada Allah Ta’ala, beribadah hanya kepada Allah saja dan bukan ke selainnya. Dengan merealisasikan peribadahan hanya kepada Allah saja, maka ia akan sampai pada derajat mencintai dan ikhlas hanya untuk Allah Ta’ala saja. Kesemuanya ini menjelaskan bahwa ibadah hati merupakan sumber dan asal muasal segala sesuatu. Sebagaimana sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam yang tidak bosan-bosannya kita sebutkan,

أَلاَ وَإنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ketahuilah bahwa dalam tubuh manusia terdapat sepotong daging. Apabila daging tersebut baik, maka baik pula seluruh tubuhnya. Dan apabila daging tersebut rusak, maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah segumpal daging tersebut adalah hati.” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599)

Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga hati kita semua dari penyakit-penyakit yang dapat merusak dan mengotorinya. Semoga Allah Ta’ala memberikan kita keistikamahan berada di atas jalan kebenaran. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Wallahu a’lam bisshawab.

 

 

 


 

 

 

Penulis: Muhammad Idris, Lc.

 

Referensi:

Tafsir As-Sa’di karya Syekh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah.

Syarh An-Nawawi ‘alaa Shahih Muslim karya An-Nawawi rahimahullah.

Sumber

You may also like...