Singgah Barang Sejenak

 

Bismillah. Wa bihi nasta’iinu.

Perjalanan hidup ini seringkali membuat orang lupa dan lalai mengenai hakikat dan makna kehidupan yang semestinya dia jalani. Banyak orang larut dalam angan-angan dan kepalsuan dengan mengatasnamakan mengejar kebahagiaan. Padahal, sejatinya yang mereka kejar adalah kesenangan semu dan fana.

Di dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala banyak memberikan peringatan kepada kaum beriman untuk tidak tertipu oleh kehidupan dunia. Kehidupan dunia ini bila dibandingkan dengan akhirat, maka tidak ada apa-apanya. Kesenangan yang dirasakan oleh para raja dan saudagar kaya raya tidak ada artinya dibandingkan dengan nikmatnya surga dan segala isi dan keindahannya.

Dalam hadist qudsi, Allah Ta’ala berfirman,

أعْدَدْتُ لِعِبادِي الصَّالِحِينَ، ما لا عَيْنٌ رَأَتْ، ولا أُذُنٌ سَمِعَتْ، ولا خَطَرَ علَى قَلْبِ بَشَرٍ

“Aku telah menyiapkan untuk hamba-hamba-Ku yang saleh suatu kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terbersit dalam hati manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ ۖ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا ۖ وَلَا يَغُرَّنَّكُم بِاللَّهِ الْغَرُورُ

“Wahai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah kalian tertipu oleh kehidupan dunia, dan janganlah tipu daya dari sang penipu/setan menipu kalian dari pengawasan Allah.” (QS. Fathir: 5)

Kehidupan dunia ini telah digambarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana orang yang menempuh perjalanan, kemudian singgah di bawah sebatang pohon untuk berteduh barang sejenak, lalu pergi meninggalkannya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مالي وللدنيا إنما مثلي ومثلُ الدُّنيا كراكبٍ استظلَّ تحت شجرةٍ ثم راحَ وتركها

“Ada apa gerangan antara diriku dengan dunia ini. Tidaklah perumpamaan aku dengan dunia, kecuali seperti seorang pengendara/ penempuh perjalanan yang berteduh di bawah sebatang pohon, lalu istirahat sejenak, dan kemudian meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi, disahihkan Al-Albani)

Apabila berbicara tentang kebebasan untuk melampiaskan keinginan, maka gambaran dunia ini tidak ubahnya seperti penjara. Itulah yang dijelaskan oleh Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wasallam,

الدُّنْيا سِجْنُ المُؤْمِنِ، وجَنَّةُ الكافِرِ

“Dunia adalah (seperti) penjara bagi orang beriman dan (menjadi) ‘surga’ bagi orang kafir.” (HR. Muslim)

Allah Ta’ala berfirman mengenai keadaan orang beriman yang berjuang untuk mengendalikan dan menaklukkan hawa nafsunya di bawah aturan Rabbul ‘alamin.

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ

“Dan orang yang takut akan kedudukan Rabbnya serta menahan dari melampiaskan segala keinginan hawa nafsunya ….” (QS. An-Nazi’at: 40)

Karena besarnya upaya dan perjuangan dalam mengendalikan hawa nafsu itulah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menggelari orang yang menjaga dirinya dari tenggelam dalam buaian nafsu dan keinginan terhadap yang haram sebagai seorang mujahid.

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

والمجاهدُ من جاهدَ نفسَهُ في طاعةِ اللَّهِ

“Dan (hakikat) seorang mujahid adalah setiap orang yang berjuang menundukkan diri dan hawa nafsunya dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah.” (HR. Ahmad)

Apabila demikian keadaannya, maka seorang muslim akan selalu waspada dan memperhatikan dampak dari amal dan perbuatannya di alam dunia. Karena akan ada hari pembalasan, hari dibangkitkannya manusia dari kuburnya, hari ditimbangnya amal-amal, hari perhitungan, dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari Allah Ta’ala.

Abu Nu’aim Al-Ashbahani rahimahullah menyebutkan dalam kitabnya Hilyatul Auliyaa’, Hasan al-Bashri rahimahullah berkata,

ابن آدم إنما أنت أيام ، كلما ذهب يوم ذهب بعضك

“Wahai anak Adam, sesungguhnya kamu adalah perjalanan hari demi hari. Setiap hari berlalu, maka itu artinya telah lenyap sebagian dari dirimu.”

Karena itulah, penting bagi setiap hamba untuk mengingat bahwa kematian pasti akan tiba dan mendatangi dirinya, cepat atau lambat, suka atau tidak suka. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَكثروا ذِكرَ هاذمِ اللَّذَّات يعني الموتَ

“Perbanyaklah mengingat sang pemutus kelezatan-kelezatan, yaitu kematian.” (HR. Tirmidzi, hasan sahih)

Dia harus selalu waspada agar imannya tidak luntur atau bahkan hancur lebur diterjang oleh kerasnya badai fitnah dan penyimpangan gaya hidup. Bahkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah berpesan kepada segenap kaum beriman,

إِنَّ الْإِيمَانَ لَيَخْلَقُ فِي جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلَقُ الثَّوْبُ الْخَلِقُ، فَاسْأَلُوا اللَّهَ أَنْ يُجَدِّدَ الْإِيمَانَ فِي قُلُوبِكُمْ

“Sesungguhnya iman benar-benar bisa luntur dalam rongga tubuh kalian sebagaimana pakaian yang luntur/menjadi usang. Oleh sebab itu, mintalah kepada Allah untuk selalu memperbaharui iman dalam hati kalian.” (HR. Thabarani, disahihkan Al-Albani)

Demikian, sedikit kumpulan tulisan dan faedah dari para ulama yang dapat kami sajikan dengan taufik dari Allah semata. Semoga bermanfaat bagi diri kami dan segenap pembaca. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wasallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

 

 

 


 

 

 

Penulis: Ari Wahyudi, S.Si.

Sumber

You may also like...