Bismillah

Coretan ini dibuat sebagai materi pembelajaran pribadi khususnya. Mudah-mudahan ada pelajaran yang bisa dipetik oleh pembaca. Agar kita sama-sama bisa mengingat dan belajar kembali tentang beberapa etika yang sering terlupa ketika berkomentar dan menulis. Penulis persempit lagi dalam scope dunia maya, mengingat poin yang akan dibawakan banyak terkait dengan kehidupan dunia maya yang sarat dengan komunikasi tulisan.

1. Pentingnya klarifikasi pemahaman

Ketika berinteraksi dalam dunia maya, kita hanya banyak berkomunikasi dan berdialog lewat tulisan. Tulisan pada dasarnya merupakan representasi dari buah pikiran dan duta lidah, ketika lisan dalam artian sebenarnya tidak mungkin berkata.

Bagi pembaca:

Coba kita mengulangi membaca tulisan tersebut dengan benar, teliti dan seksama. Lalu mengendapkan maksud perkataan tersebut sehingga kita bisa menyelami alam pemikiran sang penulis. Seringkali kita terburu-buru baru membaca sekilas, atau bahkan sepotong-potong dan belum dapat menangkap makna keseluruhan yang dimaksud penulis, langsung membuat konklusi akhir dan mengultimatum “dar der dor” berkomentar. Baik kiranya jika kita berlatih membiasakan mengklarifikasikan ulang apa yang dimaksud oleh si pembuat tulisan dengan bertanya dan memenuhi segala adabnya. Di antara adabnya adalah tidak menghakimi; santun dan sopan, mengingat ranah tulisan sangat berpotensi membuka peluang perbedaan persepsi antara si pembuat tulisan dan pembaca. Bisa jadi si pembaca memiliki persepsi subyektif atas pemahaman pemikirannya yang ternyata sangat bertolak belakang dengan maksud yang dikehendaki oleh si pembuat tulisan, karena setiap orang memiliki tingkat pemahaman dan kualitas ilmu yang berbeda.

Baiklah, bisa jadi kita pemahaman kita sama dengan apa yang dimaksud penulis, atau mungkin Allah telah menganugrahkan kepada kita sebuah kecerdasan berupa mudahnya memahami dan menggali maksud perkataan orang lain. Akan tetapi, tidak ada salahnya kita mencoba mengulangi dan menanyakan kembali apakah memang demikian yang dimaksud penulis, terlebih pada perkara yang sensitif dan bisa memberikan pemahaman yang ambigu, baik itu tentang agama ataupun urusan dunia. Karena kita tidak selalu diharuskan menanyakan kembali untuk meyakinkan apa yang dimaksud penulis, jika memang mafhuum-nya sudah sedemikian gamblang dan jelas.

Maka sekali lagi, budayakanlah kebiasaan bertanyalah pada si pembuat tulisan tentang maksud yang dimaui oleh penulisnya (dengan santun dan tidak menghakimi tentunya). Semisal, “Apakah maksud Anda/ukhti/saudari begini?

Bagi penulis:

Berkaca dari realita, bahwa setiap manusia dengan berbagai latar belakang yang dimilikinya, memiliki kerangka pemahaman yang bisa jadi berbeda terhadap sesuatu. Oleh karena itu, akan jauh lebih baik jika kita ditanya tentang suatu perkara yang kita tulis, .bantulah si penanya dengan cara menjelaskan dengan baik (tanpa banyak menghakimi, merendahkan, menghina, apalagi berkata yang cukup sinis seolah-olah sedang “mencocok hidung” orang) kepadanya untuk memahami apa yang kurang jelas baginya.

2. Menghindari sikap mudah menghakimi

Janganlah kita bermudah-mudahan menjadi pribadi yang mudah mengkhakimi, yang mudah menjatuhkan “vonis” miring demikian dan demikian kepada orang lain. Mengapa kita tidak bermudah-mudahan berprasangka baik, membuat sebegitu banyak udzur dan membawa kelakuan dan perkataan orang lain ke pikiran positif dan kemungkinan terbaik? Selain itu membuahkan pahala, sesuai dengan syariat, tentu itu lebih menentramkan hati kita dan hati orang lain. Sebagaimana Anda tidak suka disudutkan demikian dan demikian kendati jika benar itu ada pada diri Anda (terlebih jika Anda tidak merasa demikian), maka janganlah berbuat begitu kepada orang lain.

‘Umar bin Khaththab berkata, “Jangan menyangka buruk terhadap saudaramu apabila masih mungkin dimaknai dengan makna yang baik”.

Imam Muhammad bin Sirin berkata, “Jika sampai kepadamu berita miring tentang saudaramu maka cobalah carikan uzur baginya. Jika tidak mendapartkan maka katakanlah mungkin ia memiliki alasan [yang belum kuketahui-ed]. Karena ketika kamu mencarikan alasan untuk saudaramu maka jiwamu akan terhaindar dari sikap buruk sangka dan dampak buruknya sehingga kamu tidak akan mencacinya” [1]

3. Meluruskan yang “bengkok” dengan lembut, santun, hikmah dan sabar

Meluruskan sesuatu, baik terkait dengan perkara dunia terlebih pada perkara din hendaknya dilakukan dengan lembut, santun, hikmah dan sabar, terlebih jika kita sudah menginjak pada stase berdakwah yang memang ada ketentuan adab dan metodenya di dalam syariat.

Sedikit menyinggung tentang metode berdakwah, tongkat ketegasan bahkan disertai sikap yang tidak lagi lembut dalam berdakwah seperti hajr (memboikot;mendiamkan) dan lain-lain, barulah digunakan ketika ada mashlahat yang diraih dengan cara demikian. Dahulu pun, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerapkan metode dakwah yang tidak lagi lembut seperti menegur dengan keras ketika Beliau marah dalam perkara agama, dan bahkan meng-hajr, itu ditujukan bagi sebagian sahabat dengan melihat kesalahan dan mashlahat yang ditimbulkan ketika diterapkan cara yang tidak lagi lemah lembut. Kita semua kiranya tahu bahwa hukum asal dakwah adalah dengan nasihat yang baik, perkataan lembut dan hikmah. Apalagi kita di sini adalah wanita, yang sesuai dengan fitrah adalah makhluk yang halus jiwanya. Maka diharapkan dakwah dengan lembut cenderung lebih disukai, lebih diterima dan membekas di dalam jiwa wanita.

Kebenaran itu pun sudah bersifat pahit dan berat bagi jiwa kebanyakan orang, apakah kita akan menambah pahit dan beratnya itu dengan sikap kita yang kasar, semena-mena dan tidak berbudi dalam berdakwah yang akan membuat orang lari dari dakwah salafiyyah?

4. Seni mengkritik

Setiap individu bisa jadi memiliki porsi karakter yang berbeda dengan lainnya. Oleh karena itu, cara menasihati dan mengkritik kesalahannya pun seringkali berbeda. Akan tetapi, terlepas dari tinjauan itu semua, kiranya akan jauh lebih baik apabila kita memberikan saran dan kritik yang membangun bagi orang lain, bukan malah menghancurkannya. Kita tidak menutup mata bahwa ada orang yang tidak mau dikritik bagaimanapun cara mengkritiknya, dan orang-orang yang enggan dikritik *malah meradang* itu , kita sisihkan sejenak dari pembahasan kita. Kebanyakan, jiwa lebih menyukai sesuatu yang diungkapkan dengan baik, lembut, hingga itu mengena di jiwanya. Kritikan yang membangun bukanlah semacam pelor yang kita muntahkan dari lisan kita, hingga kita bebas lepas membordardir seseorang dengan perkataan pedas yang kita berikan. Alih-alih berubah, malah bisa jadi dia tambah mengkeret dan tutup telinga karena jiwanya terlanjur begitu tersakiti, dan hatinya pun tersinggung akibat perkataan kita.

Sama halnya dengan berdakwah, mengkritik pun selayaknya dilakukan dengan santun dan tidak menjatuhkan harga diri yang dikritik.

5. Bertindak dengan ilmu

Point kelima ini, penulis lebih menitikberatkan pada hal agama, meskipun ini juga banyak terkait dengan ilmu yang lain, sehingga orang selayaknya tidak asal ceplos saja ketika menjabarkan sesuatu. Lain halnya ketika memang subjek pembicaraannya cenderung ringan dan tidak terkait dengan perkara agama atau perkara yang membutuhkan ilmu, hingga memungkinkan opini pribadi bahkan bersifat subyektif bermain di dalamnya.

Apabila kita memiliki ilmu agama, tentunya berdasarkan pemahaman As-Salaf Ash-Shalih, cukupkanlah saja untuk menyampaikan sekadar yang kita tahu dan jauhi berkata tentang agama tanpa ilmu. Terlebih jika kita sudah merambah ke hukum syariat. Tentunya kita takut dan senantiasa berlindung dari kesyirikan, dengan membuat atau merubah hukum syariat dan menjadikan Allah sebagai tandingan karena Allah adalah satu-satunya pembuat syariat. Wal’iyaadzubillaah. Oleh karena itu, sekali lagi hendaknya kita pertimbangkan dan filter lah dahulu komentar kita. Bukankah itu akan dihisab dan dipertanggungjawabkan nantinya?

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُوْلاَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya.” (Qs. Al-Isra’ : 36)

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَاْلإِثْمَ وَالْبَغْىَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُوا بِاللهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

Katakanlah: “Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa saja yang tidak kamu ketahui (berbicara tentang Allah tanpa ilmu)” (Qs. Al-A’raf:33)

Dari Sa’id bin Musayyab rahimahullah, bahwa ia melihat seseorang mengerjakan lebih dari dua rakaat shalat setelah terbit fajar. Lalu beliau melarangnya. Maka orang itu berkata, “Wahai Sa’id, apakah Allah akan menyiksa saya karena shalat?”, lalu Sa’id menjawab :”Tidak, tetapi Allah akan menyiksamu karena menyalahi sunnah”

(SHAHIH. HR Baihaqi dalam “As Sunan Al Kubra” II/466, Khatib Al Baghdadi dalam “Al Faqih wal mutafaqqih” I/147, Ad Darimi I/116)[3]

6. Si sen-C dan cenderung emosional

Kita memang wanita, yang secara kodrati penuh dengan kebengkokan, cenderung berpikir dan bertindak dengan emosi. Terlebih kalau nyatanya kita termasuk pribadi yang sensitif, yang seringkali memaknai perkataan dan tulisan orang lain atas dasar buah pemikiran kita sendiri. Kita pun masih dalam tahap belajar dalam segala aspek. Ya belajar mengilmui, belajar mengamalkan, mendakwahkan serta bersabar di atas semuanya itu. Maka, tidak bisa dibenarkan bahwa keadaan kodrat kita yang memang “bengkok” itu dijadikan tameng untuk bermudah-mudahan bertindak berdasarkan emosi kita.

Apabila nyatanya kita terpancing emosi lawan bicara kita,

  1. Tahan lidah kita untuk membalas perkataannya dengan cacian, hujatan, kecaman dan perkataan negatif lainnya. Jika kita tidak bisa mengatakan yang baik, maka diamlah saja.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam, barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia menghormati tetangganya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya” (HR.Bukhari dan Muslim)
  2. Bersikaplah tenang dan lakukanlah adab ketika marah
    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Ada seorang lelaki yang berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berikanlah wasiat kepadaku”, maka beliau bersabda, “Janganlah kamu marah”. Lalu dia mengulangi permintaannya beberapa kali, akan tetapi beliau tetap saja menjawab, “Janganlah kamu marah” (HR. Bukhari).Marah terbagi menjadi dua: Ada yang terpuji dan ada yang tercela. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pernah marah. Akan tetapi, Beliau marah karena Allah, bukan karena marah mudah terpancing emosi -terlebih akibat perkara dunia- seperti kita. 

    Allah Ta’ala berfirman (yang artinya)
    Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memberi maaf orang lain, dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Al Imran: 133-134)

    Apabila kita marah…ber-ta’awwudz saja, lalu wudhu, dan berganti posisi.[2]

  3. Hawa nafsu sebagai sesembahan?
    Sudah menjadi keharusan bagi kita untuk selalu berusaha mengenyahkan hawa nafsu kita dan berpegang teguh pada syariat. Di antara celah yang mungkin menggelincirkan wanita ke dalam jebakan setan dan menyeret dia ke siksa neraka, adalah lewat emosinya. Mengerikan sekali dan kita berlindung dari godaan syetan dan hawa nafsu, yang bisa menjerumuskan kita bahkan hingga tingkat ekstrim yakni menjadikan hawa nafsu sebagai sesembahan kita. Wal’iyaadzubillaah. Allah berfirman, 

    أَفَمَنْ كَانَ عَلَى? بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّهِ كَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُمْ

    Maka apakah orang yang berpegang dengan keterangan (hujjah yang datang dari Rabbnya sama dengan orang yang (setan) menjadikan dia memandang baik perbuatannya yang buruk itu dan mengikuti hawa nafsunya?” (Qs.Muhammad:14)

    Allah berfirman,

    أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَ?هَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى? عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى? سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى? بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّه . أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

    Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (Qs. Al-Jaatsiyah:23)

7. Masukan bagi siapapun yang akan menulis (penulis)

Pemahaman dan sudut pandang orang seringkali berbeda dalam menyikapi sebuah tulisan. Oleh karena itu, seyogyanya seorang penulis juga memperhatikan kondisi para pembaca. Ketika menulis, ada baiknya bertanya kepada diri sendiri, “Kira-kira kalau ada orang awam yang membaca begini, paham tidak ya maksudnya?“. Dengan begitu, dia akan berusaha mencari diksi kata untuk mendekatkan maksud apa yang dikehendaki sebisa mungkin, dan menghindarkan orang lain dari pemahaman yang keliru. Sikap seperti termasuk salah satu adab dalam berdakwah yakni berdakwah dengan memperhatikan kondisi obyek dakwah baik dari segi latar belakang agama, pendidikan atau yang lainnya. Sudah berusaha didekatkan saja, bahkan diulang, di bawahnya ditulis lagi agar tidak kontradikitif, untuk lebih menjelaskan, terkadang pembacanya belum bisa menyamakan persepsi dengan penulis.

Penulis juga mengharap terbukanya pintu maaf bagi orang-orang yang merasa poin-poin di atas pernah saya lakukan. Penulis sedang berusaha dan belajar. Jadi, mari kita sama-sama saling mengingatkan. Wallaahu a’lam.

***

Catatan kaki

[1] dua perkataan ini dicopas dari blog http://mukhtashar.wordpress.com/2010/07/22/tips-agar-bisa-berbaik-sangka-dan-contoh-dari-para-salaf-dalam-hal-ini/ yang merupakan ringkasan dari majalah Qiblati edisi Dzulhijjah 1427 H

[2] Untuk lebih lengkapnya tentang adab marah dan marah yang terpuji, silahkan baca artikel di:

[3] Perkataan Sa’id ibn Musayyab ini dicopas dari blognya Abu Ayaz di blogspot

 

Penulis: Ummu Yazid Fatihdaya Khoirani

 

Sumber: https://muslimah.or.id/