Sudah sepantasnya dalam beramal kita harus bermuhasabah, apakah amalan yang kita lakukan itu sudah benar ataukah tercampuri dengan hal yang lain? Muhasabah merupakan introspeksi diri sendiri setelah ia beramal, tentang kesalahan-kesalahan kita, dosa-dosa apa saja yang telah kita perbuat. Sedangkan muraqabah adalah merasa jiwa selalu diawasi oleh Allah. Ketika seorang hamba merasa diawasi oleh Allah, maka orang tersebut akan selalu bertakwa dimanapun ia berada.

Allah Ta’ala berfirman:

يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُحْضَرًا وَمَا عَمِلَتْ مِنْ سُوءٍ تَوَدُّ لَوْ أَنَّ بَيْنَهَا وَبَيْنَهُ أَمَدًا بَعِيدًا وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ

“(Ingatlah) pada hari (ketika) setiap jiwa mendapatkan (balasan) atas kebajikan yang telah dikerjakan dihadapkan kepadanya, (begitu juga balasan) atas kejahatan yang telah dia kerjakan. Dia berharap sekiranya ada jarak yang jauh antara dia dengan (hari) itu. Dan Allah memperingatkan kamu akan diri (siksa)-Nya.” (QS. Ali-Imran: 30)

وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِينَ

Dan Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari Kiamat, maka tidak seorang pun dirugikan walau sedikit; sekalipun hanya seberat biji sawi, pasti Kami mendatangkannya (apahal). Dan cukuplah Kami yang membuat perhitungan. (QS. Al-Anbiyaa’: 47)

وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

“Dan diletakkan kitab (catatan amal), lalu engkau akan melihat orang yang berdosa merasa ketakutan terahdap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, “Betapa celaka kami, kitab apakah ini, tidak ada yang tertinggal, yang kecil dan yang besar melainkan tercatat semuanya”, dan mereka dapati (semua) apa yang telah mereka kerjakan (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menzalimi seorang jua pun.”  (QS. Al-Kahfi: 49)

يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا لِيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ ( 6 ) فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ ( 7 ) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ ( 8)

“Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan berkelompok-kelompok, untuk diperlihatkan kepada mereka (balasan) semua perbuatannya. Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.  (QS. Az-Zilzaal: 6-8)

Ayat-ayat ini menunjukkan masalah yang sangat penting yaitu berhubungan dengan hisab di hari kiamat kelak.

Orang yang menggunakan akalnya dia akan berpikir bahwa tidak ada yang bisa menyelamatkan dia di hari kiamat kelak kecuali dengan melakukan muhasabah diri sendiri dulu di dunia ini.

Sebagaimana perkataan Umar bin Khattab radhiyallaahu ‘anhu:

حاسبوا أنفسكم قبل أن تحاسبوا

“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab kelak pada hari kiamat”.

Ketika kita mengetahui kesalahan-kesalahan kita, hisablah diri kita dan segera bertaubatlah kepada Allah selagi masih di dunia.  Siapa yang menghisab dirinya sendiri mengingat kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa di dunia, maka kelak dia akan diringankan hisabnya di hari kiamat, dan barangsiapa yang lalai menghisab dirinya di dunia, barangkali ia akan menyesal yang berkepanjangan di hari kiamat kelak. Orang yang menghisab dirinya maka ia akan sibuk dengan dosa-dosa dirinya sendiri. Maka dari itu, orang yang berakal ia tidak memikirkan dosa-dosa orang lain. Setiap jiwa akan ditanya dosanya sendiri masing-masing. Semenjak kita bangun tidur hingga kita akan tidur kembali. Dosa-dosa apa saja yang kita perbuat, kemudian segera beristighfar dan bertaubat kepada Allah. Hisablah sebelum ajal menjemput kita dan penyesalan akan datang jika kita tidak menghisab apa saja amalan yang telah kita perbuat.

Ketika mereka mengetahui bahwasanya tidak ada yang meyelamatkan dia di hari kiamat  kecuali ketaatan. Dan Allah ta’ala memerintahkan mereka untuk bersabar di atas ketaatan dan melakukan murabathah. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung. (QS. Ali-Imran: 200)

Demikian pula jiwapun harus dijaga tapal batasnya, karena setan akan selalu menjaga di tapal batas tersebut. Oleh karena itu, kita harus bersabar di dalam ketaatan. Menyabarkan diri kita untuk tetap berada di atas ketaatan dan menyabarkan diri ketika meninggalkan kemaksiatan sehingga itulah yang disebut dengan murabathah.

Kemudian ia segera melakukan ribath (murabathah) untuk dirinya sendiri  yaitu dengan melakukan 6 tingkatan yaitu:

  1. Musyarathah
  2. Muraqabah
  3. Muhasabah
  4. Mu’aqabah
  5. Mujahadah
  6. Mu’atabah

Tingkatan pertama, Al-Musyarathah.

Berasal dari kata syaaratha-yusyaarithu, artinya saling memberikan syarat.

Ketahuilah, seorang pedagang dia akan meminta bantuan kepada mitranya untuk melakukan perdagangan, tujuannya untuk mendapatkan keuntungan, dia akan memberikan syarat-syarat, dan dia akan selalu mengawasi. Demikian pula akal pun butuh kepada mitra, dan mitra itu adalah  jiwa kita. Akal pun memberikan tugas-tugas,  memberikan syarat-syarat, kepada jalan kebaikan, dan akal pun tidak boleh lalai untuk mengawasinya. Sebagaimana di dalam bisnis perdagangan, apabila mitra melakukan khianat maka ia akan merugi. Maka supaya kita tidak dikhianati dengan mitra-mitra kita, caranya yaitu dengan memberikan syarat-syarat yang jelas di atas kertas yang tegas sehingga diapun tidak macam-macam. Setelah itu kita awasi gerak-geriknya, dan berbagai macam tindak tanduknya supaya tidak merugikan usaha kita. Itulah kehidupan dunia perbisnisan.

Kitapun sedang berbisnis yaitu bisnis yang tidak akan merugi ia adalah bisnis akhirat, bisnis ini keuntungannya adalah surga. Di dalam dunia perdagangan butuh kepada partner agar usaha yang kita jalankan sukses. Ibarat akal adalah pedagang, maka jiwa dan hati kita adalah mitra kita.  Akal harus bermitra kepada jiwa. Akalpun harus memberikan syarat-syarat dan memberikan sanksi. Apabila partner berkhianat, kita tidak aman karena bisa rugi. Kita meminta agar si partner selalu melaksanakan tugasnya dan mengawasinya dengan baik. Perdagangan ini keuntungannya adalah Surga Firdaus yang paling tinggi. Kalau perbisnisan dunia keuntungannya adalah uang. Namun perbisnisan di akhirat keuntungannya adalah surga. Pengawasan kita yang paling ketat adalah kepada partner kita yaitu jiwa kita.

Orang  yang mempunyai kesungguhan terhadap akhirat kewajibannya adalah tidak melalaikan jiwa dan selalu mengawasi jiwa kita. Bersungguh-sungguhlah dalam menuju  kehidupan akhirat tersebut. Bersungguh-sungguh  dalam melakukan ketaatan, bersungguh-sungguh dalam mengawasi jiwa kita. Berusaha untuk memperketat gerakan-gerakan kita dan pikiran-pikiran kita.

Ibnul Qoyyim berkata: Bahwa asal dari kebaikan itu dari pikiran, dan asal dari keburukan itu berasal dari pikiran pula.

Ketika seseorang berpikir keburukan, maka akan menimbulkan niat-niat yangg buruk, dan kebalikannya apabila kita berpikir kebaikan, maka akan muncul niat-niat yang baik dan ingin beramal yang baik-baik.

 

***

Bersambung insyaallah

(Dikutip dari kitab Mukhtashor Minhajul Qasidin (pdf), karya Syaikh Ahmad bin ‘Abdirrahman bin Qudamah al-Maqdisi, disertai faedah  penjelasan dari  Ustadz Badrusalam, Lc rekaman kajian Mukhtashor Minhajul Qashidin Bab Muhasabah dan Muraqabah, halaman 370-377).

 

Disusun ulang oleh: Anita Rahmawati

Sumber: https://muslimah.or.id/