Hakikat Hasad

Hasad adalah sikap tidak suka dengan nikmat yang telah Allah berikan pada orang lain. Sikap hasad tidak harus disertai harapan agar nikmat tersebut hilang dari orang lain. Maka cukuplah seorang dikatakan hasad apabila dia memiliki rasa tidak suka terhadap nikmat yang ada pada orang lain, baik dia punya harapan nikmat tersebut hilang ataupun tetap ada. Demikianlah makna hasad yang disimpulkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah,

الحسد كراهة الانسان ما انعم الله به على غيره

“Hasad adalah sikap tidak suka dengan nikmat yang telah Allah berikan kepada orang lain.” (Dinukil dari Kitaabul ‘Ilmi)

10 Bahaya Hasad

Setidaknya hasad memiliki 10 bahaya sebagai berikut:
Pertama, Membenci segala sesuatu yang telah Allah takdirkan. Orang yang tidak suka dengan nikmat Allah yang ada pada orang lain berarti dia membenci takdir Allah dan menentang takdir Allah.

Kedua, Hasad akan menghapus kebaikan-kebaikan seperti api yang membakar habis kayu. Umumnya orang yang hasad akan berbuat zalim kepada orang yang tidak dia sukai dengan menyebut kejelekan-kejelekannya, mengajak orang lain untuk membencinya, merendahkan kehormatannya, dan perbuatan jelek lainnya. Ini semua merupakan di antara dosa besar yang bisa menghapus amal kebaikan.

Ketiga, Orang yang hasad di dalam hatinya akan dipenuhi penyesalan dan api yang berkobar melahap hatinya sehingga menimbulkan kesengsaraan batin. Setiap dia melihat nikmat Allah pada orang lain maka dia akan semakin sedih dan sempit dadanya. Dia akan selalui mengawasi orang yang tidak dia sukai dan setiap kali bertambah nikmat yang ada pada orang tersebut maka bertambah pula kesedihannya dan semakin sempit dadanya.

Keempat, Orang yang hasad menyerupai sifat orang Yahudi. Barangsiapa yang memiliki sifat orang kafir maka dia menjadi bagian dari mereka dalam sifat tersebut, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari mereka. (HR. Abu Daud, hasan)

Kelima, Sebesar apapun hasad seseorang terhadap orang lain, maka tidak mungkin akan bisa menghilangkan nikmat yang telah Allah Ta’ala berikan kepada orang tersebut. Jika kondisi tersebut tidak mungkin, mengapa masih ada hasad dalam hati?

Keenam, Hasad bertentangan dengan kesempurnaan iman, karena Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Salah seorang di antara kalian tidaklah akan beriman dengan sempurna hingga menginginkan untuk saudaranya hal-hal yang dia inginkan untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Konsekuensi dari hadits ini adalah semestinya engkau tidak suka apabila hilang nikmat Allah yang ada pada saudaramu. Jika engkau tidak merasa sedih dengan hilangnya nikmat Allah yang ada pada saudaramu, maka engkau belum menginginkan untuk saudaramu sebagiamana yang engkau inginkan untuk dirimu sendiri. Yang seperti ini bertentangan dengan kesempurnaan iman.

Ketujuh, Hasad menyebabkan seorang hamba meninggalkan berdoa kepada Allah. Engkau akan mendapatinya terus memikirkan nimat yang Allah karuniakan kepada orang lain. Pada akhirnya dia pun tidak meminta karunia kepada Allah, padahal Allah berfirman :

وَلاَ تَتَمَنَّوْاْ مَا فَضَّلَ اللّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِّلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِّمَّا اكْتَسَبُواْ وَلِلنِّسَاء نَصِيبٌ مِّمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُواْ اللّهَ مِن فَضْلِهِ

Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya.(QS. An Nisaa’:32)

Kedelapan, Hasad akan menyebabkan seseorang meremehkan nimat Allah yang ada pada dirinya sendiri. Orang yang hasad akan melihat bahwa dirinya tidak mendapat nikmat sedangkan orang yang dia benci mendapat nikmat yang lebih besar darinya. Maka ketika itu dia sedang merendahkan nikmat Allah yang ada pada dirinya dan tidak mensyukurinya.

Kesembilan, Hasad adalah akhlak tercela. Orang yang hasad akan menyelidiki nikmat Allah yang ada pada orang lain di lingkungan masyarakat sekitarnya. Dia akan berusaha menjauhkan antara orang yang dia benci dengan orang lain di sekitarnya dengan merendahkannya, meremehkan kebaikan yang dia lakukan, dan sebagainya.

Kesepuluh, Orang yang hasad pada umumnya akan menzalimi orang lain yang dia benci. Maka ketika itu orang yang dia benci akan mengambil kebaikan yang ada pada dirinya. Jika dia sudah tidak punya kebaikan, maka kejelekan orang yang dia benci akan diberikan kepadanya, kemudian dia pun dilemparkan masuk neraka.

Waspada Hasad Sesama Penuntut Ilmu

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menasihati kita semua, “Hasad adalah akhlak yang jelek. Sangat disayangkan hasad paling banyak justru terjadi di antara para ulama dan penuntut ilmu. Hasad bisa terjadi di antara sesama para pedagang. Hasad juga terjadi pada setiap profesi yang lain antar sesamanya. Akan tetapi sangat disayangkan hasad yang terjadi di antara sesama ulama dan sesama penuntut ilmu lebih parah. Padahal sepatutnya dan sepantasanya para ahli ilmu adalah orang yang jauh dari sikap hasad dan mereka semestinya adalah orang yang paling dekat dengan sifat-sifat akhlak mulia.” (Kitaabul ‘Ilmi)

Beliau juga menasehatkan, “Engkau wahai saudaraku, jika engkau melihat Allah memberikan nikmat kepada orang lain maka janganlah engkau membenci nikmat tersebut. Ucapkanlah semisal doa ini,

اللهم زده من فضلك أعطني أفضل منه

“Ya Allah, tambahkanlah kepadanya karunia-Mu, dan anugerahkan untukku yang lebih baik dari itu.”

Hasad sama sekali tidak akan mengubah keadaan, bahkan pada sifat hasad terdapat berbagai kerusakan dan bahaya, di antaranya 10 hal di atas. Barangkali barangsiapa merenungkannya akan mendapati bahaya hasad yang lebih dari itu.

Allahul musta’ann.

Demikan sekilas tentang hasad dan berbagai dampak buruknya. Semoga bermanfaat dan bisa menjadi bahan introspeksi bagi kita untuk menjauhi sifat jelek ini.

Penulis : Adika Mianoki

Referensi: Kitaabul ‘Ilmi karya Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah

Sumber: https://muslim.or.id/