Salah satu akidah Ahlusuunah wal Jamaaah adalah kewajiban mencintai, menghormati, memuliakan, mengemukakan argumentasi untuk membela dan mengikuti para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, serta tidak boleh membenci seorang pun di antara mereka. Pasalnya, Allah subhaanahu wa ta’aala telah memuliakan mereka dengan hidup mereka bersama Rasul-Nya, jihad mereka bersama beliau demi menolong agama Islam, dan kesabaran mereka dalam menghadapi kaum musyrik dan munafik, serta hijrah mereka meninggalkan negeri dan harta mereka. Allah berfirman;

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ (١٠)

Dan orang orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar) mereka berdoa, “Yaa Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan jangan biarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Yaa Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang” (Qs. Al Hasyr: 10).

Ayat ini merupakan dalil wajibnya mencintai para sahabat karena mereka telah memberikan bagian fai’ terhadap generasi setelah mereka dengan segala rasa cinta, keberpihakan dan istighfar yang mereka ucapkan. Dan barangisapa yang mencaci-maki salah seorang di antara mereka atau berkeyakinan bahwa salah seorang di antara mereka itu buruk, maka ia tidak berhak mendapatkan harta fai’. Hal tersebut diriwayatkan Imam Malik dan lainnya. Imam Malik mengatakan, “Barangsiapa membenci salah satu dari sahabat-sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam atau di hatinya terdapat rasa benci, maka ia tidak berhak mendapatkan harta fai. “ Kemudian ia membaca ayat:

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar)”  (1).

Para pendahulu dan generasi akhir Ahlusunnah wal Jama’ah memahami ayat tersebut bahwa maksudnya adalah perintah mendoakan dan membaca istighfar bagi para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Muslim meriwayatkan yang sanadnya sampai hingga Hisyam bin Urwah dari ayahnya, ia bercerita: “Aisyah berkata kepadaku, Wahai keponakanku, mereka diperintahkan untuk membaca istighfar bagi sahabat-sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam namun mereka malah mencerca para sahabat“ (2).

Ibnu Bathah dan lainnnya meriwayatkan dari hadits Abu Badar, ia mengatakan, “Abdullah bin Zaid mengatakan kepada kami dari Thalhah bin Mutharaf, dari Mushab bin Sa’ad, dari Abu Waqash, ia mengatakan, ‘Manusia terdiri atas tiga tingkatan. Dua tingkatan sudah berlalu, dan tinggal satu tingkata. Maka, sebaik baik kalian adalah yang mendapatkan tingkatan yang tersisa ini’.

Kemudian ia membaca ayat (yang artinya): (Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan RasulNya. Mereka itulah orang orang yang benar. (Qs. Al Hasyr: 8). Mereka adalah kaum muhajirin dan tingkatan ini telah berlalu.

Kemudian ia membaca ayat; Dan orang orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) mencintai orang orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung” (Qs. Al-Hasyr: 9). Kemudian ia mengatakan, .Mereka adalah kaum Anshar, dan tingkatan ini telah berlalu’.

Kemudian ia membaca ayat; “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, ‘Yaa Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan jangan biarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Yaa Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang” (QS. Al Hasyr: 10). Dua tingkatan telah berlalu, dan tinggallah tingkatan ini saja yang tersisa, yaitu agar kalian memohon ampunan kepada Allah untuk mereka“ (3).

Orang yang berfikir sejenak saja pasti mengetahui bahwa Syiah Rafidhah tidak termasuk dari tingkatan yang terakhir ini karena mereka tidak menyayangi para sahabat dan tidak beristighfar bagi mereka, bahkan mereka mencerca mereka dan merasa dengki terhadap mereka. Maka orang-orang seperti ini diharamkan dari tingkatan tersebut hingga ajal menjemputnya (4).

Ibnu Taimiyah menandaskan:

“Ayat-ayat ini memuat pujian bagi kaum muhajirin dan Anshar serta generasi setelahnya yang membaca istighfar untuk mereka dan memohon kepada Allah agar tidak mendengki mereka. Ayat ini juga mencakup makna bahwa merekalah orang orang yang berhak mendapatkan fai’. Dan tidak diragukan lagi bahwa Syiah Rafidhah tidak termasuk dari ketiga tingkatan golongan ini karena mereka tidak membacakan istighfar untuk para pendahulu, dan di hati mereka pun masih ada rasa dengki. Ayat ini pun mengandung sanjungan bagi para sahabat dan golongan Ahlussunnah yang datang setelah mereka, sekaligus mengeluarkan Syiah Rafidhah dari golongan ini. Semua ini membantah pendapat Rafidhah.“ (5).

Wallahu a’lam.

 

Disadur dari Khawarij Dan Syiah Dalam Timbangan Ahlussunnah Wal Jama’ah karya DR. Ali Muhammad Ash-Shalabi (judul asli: Fikrul Khawaarij wa Syiah fii Miizaan Ahl Sunnah Wal Jamaa’ah). Penerbit: Pustaka Al Kautsar

Sumber: https://muslimah.or.id/