Di zaman Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, ada orang-orang yang ditugasi untuk memungut zakat dan mengumpulkannya. Dan ada juga yang ditugasi menjaga gudang hasil zakat. Diantara sahabat yang pernah menjaga gudang hasil zakat adalah Abu Hurairah radhiyallahu anhu.

Abu Hurairah radhiyallahu anhu bercerita :

وَكَّلَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِحِفْظِ زَكَاةِ رَمَضَانَ

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menugasi diriku untuk menjaga (hasil) zakat Ramadan. (Riwayat Bukhari).

Orang-orang yang menjadi petugas Amil zakat adalah orang-orang yang ditunjuk oleh pemerintah, bukan inisiatif sendiri, kelompok atau ormas.

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah :

وأما العاملون عليها : فهم الجباة والسعاة يستحقون منها قسطا على ذلك

Dan adapun Al ‘Aamilun ‘Alaiha, maka mereka adalah orang-orang yang ditugaskan menagih zakat dan mengumpulkannya: mereka mendapat hak dari sebagian zakat. (Tafsir Ibnu Katsir).

Berkata Syaukani rahimahullah :

“والعاملين عليها”: أي السعاة والجباة الذين يبعثهم الإمام لتحصيل الزكاة. أ.هـ من “فتح القدير” (2/531).

Dan para Amil zakat itu adalah petugas zakat yang diutus oleh imam (pemerintah) untuk menarik zakat. Mereka berhak mendapatkan jatah. (Fathul Qadir, 2/531). Sumber : https://www.tlsasah.com/2015/09/24/blog-post_24-23/

Berkata Syekh Bin Baaz rahimahullah :

العاملون عليها هم العمال الذين يوكلهم ولي الأمر في جبايتها والسفر إلى البلدان والمياه التي عليها أهل الأموال حتى يجبوها منهم ، فهم جباتها وحفاظها والقائمون عليها ، يُعطوْن منها بقدر عملهم وتعبهم على ما يراه ولي الأمر” انتهى باختصار يسير . “مجموع فتاوى ابن باز” (14/14) .

“Para pekerja zakat adalah para pekerja yang mewakli pemerintah dalam mengambil dan safar ke daerah-daerah dan pelosok desa dimana ada pemilik dana (uang) sampai diambil dari mereka. Mereka mengumpulkan, menjaga dan melaksanakan. Mereka diberi sesuai pekerjaan dan keletihannya sesuai pandangan pemerintah.” Selesai dengan diringkas. Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, (14/14). Sumber : https://www.tlsasah.com/2015/09/24/blog-post_24-23/

Berkata Syekh Utsaimin rahimahullah :

(وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا) هم الذين أقامهم الإمام أي ولي الأمر لقبض الزكاة وتفريقها فيهم ، وهم عاملون عليها ، أي : لهم ولاية عليها .

وأما الوكيل الخاص لصاحب المال الذي يقول له : يا فلان خذ زكاتي ووزعها على الفقراء فليس من العاملين عليها ؛ لأن هذا وكيل ، فهو عامل فيها ، وليس عاملاً عليها” انتهى . “فتاوى نور على الدرب” (206/29) .

Al ‘Amiluun Alaiha adalah yang mewakili imam atau pemerintah untuk mengambil zakat dan mendistribusikannya. Mereka adalah amil (pegawai zakat) maksudnya mereka mempunyai kekuasaan atasnya.

Sementara wakil khusus pemilik uang yang dikatakan kepadanya, “Wahai fulan, ambillah zakatku dan bagikan kepada orang fakir, itu tidak termasuk amil (pegawai zakat). Karena dia ada wakil, dia sebagai pegawai (pemilik uang) bukan pegawai (untuk mengambil zakat darinya).” Selesai ‘Fatawa Nurun ‘Ala Ad-Darbi, (206/29. Sumber : https://www.tlsasah.com/2015/09/24/blog-post_24-23/

Maka dengan ini disyariatkan untuk para muzakki untuk membayar zakat ke badan amil yang ditunjuk atau ditugasi oleh pemerintah.

Berkata Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu,

ادفعوا صدقاتكم إلى من ولاه الله أمركم، فمن بر فلنفسه، ومن أثم فعليها

“Serahkan zakat kalian kepada pemerintah kalian. Jika dia pemimpin yang baik, dia akan mendapatkan pahalanya dan jika dia pemimpin yang jahat, dosanya hanya akan menimpa dirinya. (Riwayat Baihaqi).

Lantas bagaimana dengan membayar zakat langsung kepada orang yang berhak menerima zakat, tidak melalui amil ?

Maka inipun diperbolehkan selama negara tidak melarang. Di zaman Rasulullah ada orang yang menyerahkan zakatnya langsung ke mustahiq, tanpa lewat amil, akan tetapi zakatnya tidak tepat sasaran.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

قَالَ رَجُلٌ لَأَتَصَدَّقَنَّ اللَّيْلَةَ بِصَدَقَةٍ، فَخَرَجَ بِصَدَقَتِهِ فَوَضَعَهَا فِي يَدِ زَانِيَةٍ، فَأَصْبَحُوا يَتَحَدَّثُونَ تُصُدِّقَ اللَّيْلَةَ عَلَى زَانِيَةٍ، قَالَ: اللهُمَّ، لَكَ الْحَمْدُ عَلَى زَانِيَةٍ، لَأَتَصَدَّقَنَّ بِصَدَقَةٍ، فَخَرَجَ بِصَدَقَتِهِ فَوَضَعَهَا فِي يَدِ غَنِيٍّ، فَأَصْبَحُوا يَتَحَدَّثُونَ: تُصُدِّقَ عَلَى غَنِيٍّ، قَالَ: اللهُمَّ، لَكَ الْحَمْدُ عَلَى غَنِيٍّ، لَأَتَصَدَّقَنَّ بِصَدَقَةٍ، فَخَرَجَ بِصَدَقَتِهِ فَوَضَعَهَا فِي يَدِ سَارِقٍ، فَأَصْبَحُوا يَتَحَدَّثُونَ: تُصُدِّقَ عَلَى سَارِقٍ، فَقَالَ: اللهُمَّ، لَكَ الْحَمْدُ عَلَى زَانِيَةٍ، وَعَلَى غَنِيٍّ، وَعَلَى سَارِقٍ، ….

Ada seseorang mengatakan, ‘Malam ini aku akan membayar zakat.’ Dia keluar rumah dengan membawa harta zakatnya. Kemudian dia berikan kepada wanita pelacur (karena tidak tahu). Pagi harinya, masyarakat membicarakan, tadi malam ada zakat yang diberikan wanita pelacur. Orang inipun bergumam: ‘Ya Allah, segala puji bagi-Mu. Zakatku jatuh ke tangan pelacur.’
‘Saya akan bayar zakat lagi.’ Ternyata malam itu dia memberikan zakatnya kepada orang kaya. Pagi harinya, masyarakat membicarakan, tadi malam ada zakat yang diberikan kepada orang kaya. Orang inipun bergumam: ‘Ya Allah, segala puji bagi-Mu. Zakatku jatuh ke tangan orang kaya.’
‘Saya akan zakat lagi.’ Malam itu, dia serahkan zakatnya kepada pencuri. Pagi harinya, masyarakat membicarakan, tadi malam ada zakat yang diberikan kepada pencuri. Orang inipun bergumam: ‘Ya Allah, segala puji bagi-Mu. Zakatku jatuh ke tangan pelacur, orang kaya, dan pencuri…” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Berkata Imam Syafii rahimahullah di dalam (fatwa) terbarunya,

يجوز للمزكي أن يفرق زكاة الأموال الظاهرة بنفسه كزكاة الباطن؛ لأنها زكاة، فجاز أن يفرقها بنفسه كزكاة المال الباطن. المهذب: 168/ 1.

Boleh untuk muzakki menyalurkan zakat harta yang tampak, secara langsung, seperti zakat harta yang tersembunyi, karena sesungguhnya dia itu zakat. Maka boleh menyalurkannya secara langsung, seperti zakat harta yang tampak. Al Madzhab 1/168. Sumber : http://www.marqoom.org/kotob/view/feqWaAdelatah/1908

Berkata Al Hanabilah :

يستحب للإنسان أن يلي تفرقة الزكاة بنفسه…..المغني: 641/ 2.

Dianjurkan bagi orang-orang mendatangi secara langsung untuk membagikan zakat. (Al Mughni 2/641). Sumber : http://www.marqoom.org/kotob/view/feqWaAdelatah/1908

Sumber: https://abufadhelmajalengka.blogspot.com