Di antara nama dari nama-nama Allah yang paling baik adalah الشافي (asy-Syaafiy), yang biasa diartikan “Maha menyembuhkan”. Mengilmuinya dengan benar, dapat menjadikan seseorang lebih mengenal Rabb-nya Ta’ala, dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari; khususnya dewasa ini yang banyak tersebar penyakit, dan membutuhkan penyembuhan. Berikut ini, sedikit pembahasan-pembahasan terkait dengan nama tersebut.

Dalil Penetapan Nama “asy-Syaafiy”

Terdapat hadis dalam ash-Shahihain dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anhaa, bahwasanya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam biasa meminta perlindungan kepada Allah untuk sebagian keluarganya, dengan mengusapkan tangan kanan beliau, sambil berdoa,

اللهم رب الناس، أذهب الباس، واشفه وأنت الشافي، لا شفاء إلا شفاؤك، شفاء لا يغادر سقماً

Yaa Allah, Rabb seluruh manusia. Hilangkanlah penyakit ini, dan sembuhkanlah dia. Dan Engkaulah asy-Syaafiy, yang tidak ada kesembuhan melainkan hanya kesembuhan dari-Mu. (Sembuhkanlah dia) dengan kesembuhan yang tidak meninggalkan sedikitpun penyakit.” (HR. Bukhari 5351, dan Muslim 2191)

Makna “asy-Syaafiy”

Syaikh ‘Abdurrazzaaq bin ‘Abdul Muhsin al-Badr hafidzahullaah berkata,

ومعنى الشافي: الذي منه الشفاء، شفاء الصدور من الشبه والشكوك والحسد والحقد وغير ذلك من أمراض القلوب، وشفاء الأبدان من الأسقام والآفات، ولا يقدر على ذلك غيره، فلا شفاء إلا شفاؤه، ولا شافي إلا هو، كما قال إبراهيم الخليل عليه السلام: (وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ) [الشعراء: 180]، أي: هو وحده المتفرِّد بالشفاء لا شريك له

“Makna asy-Syaafiy adalah Dzat yang hanya dari-Nya segala kesembuhan. Baik berupa kesembuhan pada dada (hati) berupa syubhat, keraguan, hasad, kebencian, dan selainnya dari penyakit-penyakit hati; maupun kesembuhan pada badan berupa penyakit-penyakit dan cacat-cacat (di badan). Tidak ada yang mampu menyembuhkan kecuali Dia. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Nya. Tidak ada penyembuh kecuali Dia.

Hal ini sebagaimana ucapan Nabi Ibrahim al-Khaliil ‘alaihissalaam (yang Allah sebutkan dalam al-Quran),

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

(Apabila saya sakit, maka Dialah yang menyembuhkanku.)

Yaitu, hanya Dialah yang esa dalam kesembuhan, tidak ada sekutu pada-Nya.”

Kemudian beliau hafidzahullaah melanjutkan,

ولذ أوجب على كل مكلف أن يعتقد عقيدة جازمة أنه لا شافي إلا الله، وقد بين ذلك النبي صلى الله عليه وسلم بقوله: “لا شافي إلا أنت”

“Oleh karena itu, wajib atas setiap mukallaf untuk meyakini dengan keyakinan yang pasti (tanpa ada keraguan sedikitpun) bahwasanya tidak ada Penyembuh kecuali Allah. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan hal ini dalam sabdanya, “Tidak ada penyembuh kecuali Engkau.”  (Fiqhul Asmaail Husnaa hal. 321)

Bertawassul dengan Keesaan Allah dalam Mencari Kesembuhan

Di antara wasilah kepada Allah, dalam mencari kesembuhan dari penyakit adalah bertawassul kepada-Nya dengan keesaan rububiyyah-Nya. Dan sesungguhnya kesembuhan di tangan-Nya saja, dan tidak ada kesembuhan pada siapapun kecuali dengan izin-Nya. Segala urusan dan penciptaan merupakan hak Allah saja. Segala sesuatu adalah dengan pengaturan-Nya. Apa saja yang Dia kehendaki pasti terjadi; dan apa saja yang tidak Dia kehendaki, pasti tidak akan terjadi. Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan Allah.

Hal ini berdasarkan pada hadis di awal pembahasan, dimana Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bertawassul dengan rububiyah Allah sebelum memulai permintaan kesembuhan, dengan sabdanya,

اللهم رب الناس

Ya Allah, Rabb seluruh manusia.” (lihat selengkapnya di kitab Fiqhul Asmaail Husnaa hal. 322)

Perintah untuk Berobat

Keyakinan dan keimanan seorang hamba bahwasanya penyembuh hanyalah Allah saja, dan kesembuhan di tangan-Nya; bukanlah penghalang dari menempuh sebab-sebab yang bermanfaat, dengan berobat dan mencari kesembuhan, dan mengkonsumsi obat-obatan yang bermanfaat. Terdapat banyak hadis-hadis tentang perintah untuk berobat, dan penyebutan macam-macam obat-obatan yang bermanfaat. Hal itu tidak meniadakan tawakal kepada Allah, dan keyakinan bahwasanya kesembuhan di tangan-Nya.

Imam Bukhari telah meriwayatkan dalam kitab Shahih-nya, dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ما أنزل الله من داء إلا أنزل له شفاء

“Tidaklah Allah menurunkan penyakit apapun, kecuali Dia telah menurunkan baginya obat.” (HR. Bukhari 5354)

Dan dalam al-Musnad (Imam Ahmad), dari Usamah bin Syariik radhiyallaahu ‘anhu, dia mengatakan bahwasanya Rasulullah bersabda,

إن الله لم ينزل داء إلا أنزل له شفاء، علمه من علمه، وجهله من جهله

Sungguh, tidaklah Allah menurunkan penyakit, kecuali Dia menurunkan baginya obat. Sebagian orang mengetahui obat tersebut, dan sebagian lainnya tidak mengetahuinya.” (HR. Ahmad 4: 278, Abu Dawud 3855, Ibnu Hibban 486, al-Hakim 1: 121, dan selain mereka; dengan sanad yang shahih)

Kita memohon kepada Allah yang Maha Mulia, Rabb seluruh manusia, Penghilang penyakit. Maha Menyembuhkan, yang tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Nya; supaya Dia menyembuhkan orang-orang yang sakit di antara kita, dan orang-orang yang sakit dari kaum muslimin seluruhnya.

 

Penulis: Prasetyo Abu Ka’ab

Catatan kaki:

Disarikan dari kitab Fiqhul Asmaail Husnaa, Syaikh Abdurrazzaq al-Badr, Daarul ‘Aalamiyyah cet. 1.

Sumber: https://muslim.or.id/