Betapa sering, anda kecewa dengan seorang muslim yang telah mengkhianati anda, atau tidak profesional dalam menjalankan amanah. Akibatnya, tanpa sadar anda bergumam: muslim kok gitu? Sudah ngaji kok gitu?

Sobat, sadarilah sejatinya kekecewaan semacam ini, bukan hanya anda yang mengalaminya, namun banyak orang juga telah merakan hak yang sama.

Saudara anda yang berkhianat sudah pasti berdosa, dan salah, namun bisa jadi anda juga turut andil dalam terjadinya kesalahan ini.

Barang kali anda belum mampu atau belum menyadari bahwa untuk urusan hak & kewajiban semisal urusan bisnis, sangat berbeda dengan sosial semisal dunia dakwah dan pendidikan. Sudah waktunya anda membuka mata dengan adanya perbedaan antara keduanya, sehingga tidak terjadi tumpang tindih sikap dan persepsi yang berakibat kurang baik.

Banyak orang mencampur adukkan antara sosial dakwah dan pendidikan dengan perniagaan. Sehingga sering kita beranggapan bahwa orang yang baik dalam dakwah dan pendidikan, pasti baik dalam perniagaan.

Kisah berikut dapat menjadi bahan renungan sekaligus menjadi contoh nyata bagi kita semua tentang adanya perbedaan antara kedua hal di atas, dan bagaimana seyognyanya kita menyikapinya.

رئى عبد الله بن جعفر يماكس في درهم فقيل له تماكس في درهم وأنت تجود من المال بكذا وكذا فقال ذاك مالي جدت به وهذا عقلي بخلت به.

“Pada suatu hari, Abdullah bin Ja’far (bin Abi Thalib)-yang terkanal kaya raya nan dermawan- didapatkan sedang menawar dengan gigih agar pembeli menurunkan harga barangnya sebesar satu dirham. Sepontan orang yang menyaksikan pemandangan ini berkata kepadanya: Wahai Abdullah bin Ja’far, engkau menawar dengan gigih satu dirham, padahal engkau rela bersedekah dengan sekian dan sekian (jumlah yang sangat banyak)?  Abdullah bin Ja’far menjawab: Sedekah itu adalah harta kekayaanku yang aku sedekahkan dengan suka rela, sedangkan ini adalah perniagaan yang padanya kecerdasanku berperan, sehingga aku menjadi pelit dengannya.” Tarikh Dimasq 27/294.

Demikianlah perbedaan antara keduanya: Dakwah didasari oleh kedermawanan dan perjuangan mengharapkan pahala dari Allah dengan mengorbankan segala yang dapat dikorbankan tanpa ada pamprih apapun, sedangkan perniagaan –biasanya- didasari oleh kelihaian dan kecerdasan dalam menjalankan proses negoisasi atau tawar-menawar.

Karena itu, bersikaplah secara proporsional, kenal di majlis ta’lim belum cukup menjad modal untuk menilai profesionalitas dan kapabilitas seseorang dalam urusan bisnis atau yang serupa.

Suatu hari ada seseorang yang merekomendasikan seorang saksi di hadapan Amirul Mukminin Umar bin Al Khatthab radhiallahu ‘anhu, dengan berkata: Sesungguhnya si fulan adalah orang yang jujur alias terpercaya. Mendengar rekomendasi ini sahabat Umar bin Al Khtatthab langsung bertanya kepadanya: Apakah engkau pernah safar bersama dengannya? Ia menjawab: Tidak, Kembali Sahabat Umar bertanya: Apakah pernah terjalin suatu perniagaan antaramu dengannya?  Orang itu kembali menjawab: Tidak. Sahabat Umar kembali bertanya: Pernahkan engkau mempercayakan kepadanya suatu amanat? Ia kembali menjawab: Tidak. Mendengar semua jwaban orang itu, sahabat Umar berkesimpulan dan berkata kepadanya: Bila demikian adanya, engkau belum mengenalnya dengan baik, aku kira engkau hanya menyaksikannya membungkak-bungkukkan kepalanya di masjid.” (Al Maqasid Al Hasanah oleh As Sakhawi 389)

Demikianlah teladan Khalifah Umar bin Al Khattab radhiallahu ‘anhu yang patut menjadi lentera bagi kita dalam bersikap. Bedakanlah dakwah, dan ibadah dari perniagaan. Fakta di lapangan, kedua hal ini berbeda asas dan metode, walaupun idealnya seorang yang rajin beribadah adalah orang yang paling bagus dalam menunaikan amanah. Orang yang paling getol dalam berdakwah adalah orang yang paling gigih dalam mengamalkan ilmu dan petuahnya. Ini adalah idealnya, akan tetapi antum tidak boleh menutup mata dari fakta, keduanya sering kali tidak sejalan. Wallahu Ta’ala a’alam bisshawab

 

.