Hukum Menikahi Sepupu Dalam Islam

A. Pendahuluan

Bagaimanakah hukum menikahi sepupu dalam islam? Banyak dari kita yang mungkin bertanya-tanya tentang masalah yang satu ini. Hal tersebut dikarenakan kurangnya pemahaman dengan kurangnya referensi-referensi dari permasalahan tersebut untuk dijadikan rujukan. Oleh sebab itu, kami akan mencoba membantu teman-teman yang butuh penjelasan tentang masalah ini. Semoga, dengan adanya artikel kami ini, bisa bermanfaat bagi kita semua. Selamat membaca

B. Permasalahan.

Hukum menikahi sepupu dalam Islam.

Misan atau sepupu atau saudara sepupu (kakak maupun adik) adalah saudara senenek. Sepupu berasal dari kata “pupu” yang artinya nenek moyang. (wikipedia).

Untuk menjawab permasalahan ini, alangkah lebih baiknya bila kita lihat keterangan-keterangan di bawah ini yang menjelaskan tentang orang-orang yang haram untuk dinikahi.

Orang yang haram untuk dinikahi:

  • Ibu dan orang tua dari ibu dan seterusnya
  • Anak perempuan dan anaknya anak perempuan tersebut dan seterusnya
  • Saudara perempuan dari bapak atau ibu  maupun keduanya
  • Saudara perempuan ibu secara haqiqotan atau saudara perempuan ibunya bapak
  • Saudara perempuan dari bapak atau saudara perempuan dari bapaknya bapak
  • Anak perempuan dari saudara laki-laki
  • Anak perempuan dari saudara perempuan
  • Perempuan yang menyusuimu, walaupun ia bukan ibu kandungmu
  • Saudara perempuan sepersusuan. Jadi, perempuan yang satu sepersusuan denganmu adalah saudara perempuan sepersusuanmu, walaupun ia bukan saudara perempuan kandungmu
  • Ibu dari istri atau ibu dari ibunya istri, entah itu dari nasab atau satu sepersusuan. Hal ini berdasarkan surat An-Nisa’ ayat 23
  • Anak perempuan dari istri dengan catatan suami dan istri telah berhubungan suami istri. Hal ini berdasarkan keterangan dari surat An-Nisa’ ayat 23.
  • Istri dari anak, berdasarkan keterangan dari surat An-Nisa’ ayat 23

Keterangan di atas adalah orang-orang yang haram untuk dinikahi selamanya. Namun, ada juga orang yang haram untuk dinikahi, namun tidak haram untuk selamanya, hanya saja tidak boleh dinikahi semuanya dan hanya boleh dinikahi salah satunya saja. Agar lebih memahamkan contohnya adalah: Saudara perempuan dari istri. Saudara perempuan dari istri haram hukumnya untuk dinikahi, namun tidak bersifat selamanya, sehingga misalkan istri meninggal, sang suami boleh untuk menikahi saudara perempuan istrinya tersebut.

Orang yang haram dinikahi namun tidak untuk selamanya selain dari saudara perempuan istri ialah:

  • Saudara perempuan dari bapaknya istri
  • Saudara perempuan dari ibunya istri

Saudara perempuan dari bapak atau ibunya istri tersebut haram untuk dinikahi, namun tidak haram untuk selamanya, sehingga apabila misalkan istri meninggal, suami boleh menikahi saudara perempuan bapak atau ibunya istri tersebut.

C. Kesimpulan

Dari keterangan-keterangan di atas, dapat kita simpulkan bahwa hukum menikahi sepupu dalam islam adalah boleh (dalam keterangan tidak ada larangan untuk menikahi sepupu), bahkan dalam kitab Haasyiyyah Asy-Syiekh Ibraahiim Al-Bayjuriy dijelaskan secara langsung tentang masalah hukum menikahi saudara sepupu. Di situ dijelaskan bahwa: Orang yang diharamkan untuk dinikahi sebab adanya hubungan nasab ada dua, yang mana salah satunya adalah perempuannya saudara kecuali anak perempuannya saudara perempuan dari bapak atau saudara perempuan dari ibu.

(Referensi: Haasiyyah Asy-syiekh Ibraahiim Al-Baijury, cetakan Daarul kutub, Baerut Lebanon, Juz 2, halaman 205-215)

D. Penutup

Demikianlah pembahasan tentang seputar hukum menikahi sepupu dalam islam, semoga bermanfaat bagi kita semua. Komentar dan kritikan anda sangat kami butuhkan agar lebih baik kedepannya. Mohon share dengan memberikan Like, Tweet atau komentar anda di bawah ini agar dapat menjadi referensi bagi teman-teman jejaring sosial anda. Terima kasih.

https://hukum-islam.net/

LEAVE A REPLY